Nadia Fadhillah's Reviews > Through a Glass, Darkly

Through a Glass, Darkly by Jostein Gaarder
Rate this book
Clear rating

by
7485405
's review
May 16, 2012

liked it
bookshelves: owned
Read in May, 2012

Bahagia adalah kupu-kupu
Mengepak lemah, rendah dekat tanah,
Tapi nestapa adalah rajawali
Dengan dua sayap hitam raksasa nan perkasa.
Ia mengangkatmu tinggi di atas kehidupan.
Yang merekah di bawah sana, di hangat surya dan pertumbuhan.
Rajawali nestapa tinggi terbang.
Ke negri para malaikat yang setia menjaga
Sarang kematian.

Edith Sodergran (1892-1923) hal.5

Buku ini adalah sebuah dialog panjang pengantar kematian bagi seorang gadis kecil bernama Cecilia dengan seorang malaikat kecil bernama Ariel yang bertugas menjaganya. Cecilia menderita penyakit parah yang membuatnya harus hampir selalu berbaring. Berbulan-bulan.

Ceritanya sederhana, dialog seorang anak kecil dan malaikat kecil yang membicarakan kehidupan dengan cara menyenangkan. Bagaimana rasanya dingin itu? Bagaimana caranya melihat? Bagaimana caranya mendengar? Bagaimana bermimpi? Bisakah memilih apa yang akan dimimpikan malam ini? Bisakah memilih untuk mengingat atau melupakan sesuatu? Hal-hal semacam itu.

Bahasan anak-anak ini bahkan terlalu cepat buatku sendiri. Cecilia dasarnya adalah gadis yang sangat cerdas, dia tahu banyak hal tentang bebatuan dan meteor karena menghabiskan waktunya membaca tumpukan majalah sains, ia juga suka mengatur-atur, tipikal anak gadis yang ceriwis. Malaikat Ariel pun malaikat yang suka bertanya. Karakter mereka hampir sama satu dan yang lain yang membuat agak sulit mengidentifikasi siapa diantara mereka yang sedang mengajukan pertanyaan atau menjawabnya bila tidak ada keterangan nama. Selain mereka berdua, karakter lain sebagai pendukung adalah keluarga Cecilia. Keluarga yang indah sekali hingga membuat menangis.

Mungkin kita sedih ketika merasakan keindahan karena kita tahu itu tidak akan berlangsung selamanya. -Hal.20

Anak-anak ini pun menyimpulkan, manusia memang terlahir dalam tubuh yang terdiri dari darah dan daging yang mudah hancur karena terbuat dari tanah.

Di dalam badan itu, darah dan daging bergejolak, yang berarti hidupmu tidak abadi. -Hal.51

Tapi ruh manusia akan abadi selamanya, tidak akan hancur. Begitu pula manusia dapat terbang di dalam mimpinya hingga dapat menjelajahi dunia dalam imajinasinya sendiri.

Dalam pikiran mereka, manusia dapat melakukan semua hal yang dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. -Hal.141

Kalau mimpi itu indah dan berlangsung selamanya, kurasa aku lebih suka memilih mimpi. -Hal.166

Seperti yang mudah diduga, pada akhirnya pun Cecilia meninggal, dengan cara yang tidak terasa menyakitkan untungnya. Dengan indah.

Yogya, 12 Mei 2012
2 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Through a Glass, Darkly.
Sign In »

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

Zulfy Rahendra Saya lg baca buku ini. Khas Jostein Gaarder! Filosofis bgt ya? ;)


Nadia Fadhillah ia mba, kalo yang ini agak berat sih dibanding yang lain. yang sebenernya bisa diungkap lebih ringan.


back to top