Delisa sahim's Reviews > Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil

Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil by Lusiwulan
Rate this book
Clear rating

by
5003094
's review
Apr 02, 2012

liked it
Read in April, 2012

Dia adalah lelaki yang hidup bersamaku selama tiga belas tahun. Well, aku pikir dia siapa ? Rupanya suami-nya.

Di novel ini menceritakan kisah pertentangan batin seorang wanita. Bukan maksudnya menjadi spoiler tetapi sedikit ceritanya aja,ya.

Menceritakan seorang wanita yang belum ingin mendapatkan seorang anak padahal kehidupan rumah tangganya berjalan 4 tahun. Antara ketetapan hati dan kompromi dengan pasangan hidup.

di novel ini sangat berbeda dari karya Lusiwulan yang biasanya. Dari karya sebelumnya Lusiwulan selalu menampilkan karya yang humoris. Di sini berbeda, Lusi mengambarkan bahwa dia sedang berubah menjadi dewasa. Mulai dari gaya bahasanya, tutur katanya, konsep yang diangkat dan "isi"-nya.
Itu yang aku rasakan dalam membaca novel ini.

Aku suka cara pandangnya bahwa tidak semua wanita menikah dan langsung ingin mempunyai anak. Adakalanya wanita tak memiliki naluri seorang ibu, entah karena trauma atau karena hal yang lain.

Membaca novel ini menginggatkan aku kepada sebuah percakapan dengan seseorang wanita. (Maaf gak akan disebutkan siapa wanita itu) :)
Aku lagi di kosannya wanita itu, ada urusan sekaligus main. Kami berbincang tentang topik pernikahan. Wanita itu berkata lebih kurangnya begini "saat menikah nanti, gue gak mau kalau gue yang harus kerja di rumah, kalau gue nyapu rumah laki gue juga harus nyapu rumah"
Sepertinya novel ini sama seperti yang wanita itu harapkan :)
Saling berbagi selayaknya sahabat.
Sama seperti wanita itu bilang " bahwa menikah bukan hanya cinta tetapi persahabatan. Karena sahabat paling tahu kelebihan dan kelemahan kita juga rasa berbagi kemudian pernikahan bukan untuk sesaat yang dimana apabila cinta hilang hilang juga sebuah pernikahan"

Kalimat-kalimat itu yang aku tangkap dari pembicaraan kami tentang pernikahan. Terlebih saat wanita itu bilang kalau dia tidak ingin memiliki anak. Itu hak-nya dan aku tidak mencelanya. Semua tergantung pilihan kita.
Sama sepertiku yang berfikir, ingin memiliki anak tanpa harus menikah. Lucu memang tapi itu hanya pemikiran yang gila menurut logika-ku. Dan semua itu kembali dalam realita, pilihan dan jalan yang ditempuh dalam kehidupan.

Itulah sepenggal pembicaraanku dengan wanita itu. Yang terpenting wanita itu bahagia sama seperti novel ini.

Suami dan istri yang saling berpengertian dan berkompromi.

Trims :)
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil.
Sign In »

No comments have been added yet.