Primadonna's Reviews > Ranah 3 Warna

Ranah 3 Warna by Ahmad Fuadi
Rate this book
Clear rating

by
87942
's review
Mar 15, 2012

it was ok

** spoiler alert ** Seharusnya buku ini menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Sarat pelajaran hidup dan "mantra" untuk membakar semangat hidup.

Entahlah ada apa pada buku ini yang membuatku kurang sreg.

Dari segi penulisan, buku ini jauh lebih bagus daripada buku pertamanya. Pemaparan lebih lugas, itu jelas. Namun karena seolah ini biografi Alif, ya begitu-begitu saja. Cerita mengalir dengan konflik sana-sini yang menurutku tidak perlu. Kadang seolah Alif hobi banget membuat dirinya stres dengan berbagai hal yang menurutku, tidak perlu. Bukankah dia sudah punya mantra man jadda wajada dan man shabara zhafira? Mengapa kesannya di PM dia berjaya, tapi di dunia nyata semangatnya mudah melempem?

Lagi-lagi aku kurang sreg dengan karakter utamanya. Alif dan Alif dan Alif saja. Memang sudut pandang orang pertama, tapi aku sebagai pembaca juga tertarik lho, mengetahui lebih dalam mengenai teman2nya yang lain.

Aku merasa Alif bukan sahabat yang baik. Lihat saja caranya memperlakukan Randai, caranya menggunakan fasilitas dari Randai seolah aji mumpung, kemudian saat persahabatan mereka renggang, seolah Alif tidak benar-benar berusaha merajutnya kembali. Malah kala ia punya kesempatan berjaya di luar negeri, ia seolah memanas-manasi Randai dengan menulisinya surat tentang segala pencapaiannya.

Alif juga belum apa-apa seolah mencap Rob sombong, padahal kenal pun tidak, impresi sekilas, dan meski sudah dijelaskan Rusdi bahwa Rob ini begitu-begini, tetap saja Alif masih menganggap Rob sok dan harus dikalahkan. Ini aku tidak paham, memang sih kompetisi ke arah kebaikan itu tidak apa-apa, tapi mengapa seolah memberi justifikasi "habis dia bule sombong sih". Padahal bagiku sebagai pembaca, tindakan Rob masih normal, Alif saja yang reaksinya berlebihan.

Agak aneh juga, kesannya di PM Alif fasih berbahasa Inggris, mengapa begitu di Kanada ada kesan seolah ia perlu memperlancar bahasa Inggrisnya? Kemudian saat ia hendak protes ketika ditempatkan di panti jompo itu, nggak banget deh. Dengan latar belakang Alif harusnya dia bisa protes (kalau mau) dengan lebih elegan.

Lalu aku merasa Alif tidak benar-benar sedih berpisah dengan teman-teman Kanadanya. Kok kayaknya dia lebih sedih berpisah dengan teman-teman Indonesia-nya. Adegan perpisahan dengan Franc... ya begitu saja, dan akhirnya teman-teman Kanada kecuali orangtua angkatnya tak lagi disebut-sebut.

Kemudian, lha tahu-tahu Alif digambarkan sudah beristri? Siapa dia? Tak dijelaskan. Tahu-tahu saja kesannya Alif sudah makmur dan sejahtera. Apa akan dijelaskan di buku ketiga? Semoga demikian.

Lagi-lagi aku merasa karakter2 di sekitar Alif itu hanya sekadar tempelan, Raisa, salah satunya. Semoga di buku ketiganya nanti karakter2 dari buku pertama muncul kembali dan pendalaman karakternya lebih mantap.
1 like · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Ranah 3 Warna.
Sign In »

Comments (showing 1-3 of 3) (3 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by [deleted user] (new)

Wah berarti kamu kurang suka tetralogi Laskar Pelangi dong? Soalnya itu juga mirip. Hehehe.

Kalau saya sih berpendapat bahwa nilai yang coba mau disampaikan itu dua prinsip itu, khususnya "Man Jadda Wajadda". Coba deh kamu baca sekali lagi dan bacanya waktu kamu sedang mencoba meraih impian kamu. Saya berani jamin kamu akan termotivasi dengan perjuangannya Alif meraih mimpinya.

Oya, kamu harus ingat lho. Novel dengan POV 'saya' biasanya memang lebih menggali tokoh utamanya. Mungkin ada diceritakan tokoh-tokoh lain, tapi fokusnya tetap si tokoh utama.


message 2: by Evi (new) - rated it 4 stars

Evi Rezeki Beberapa poin dari Mba Dona saya setuju :)


Haris Aryo Aku juga merasakan hal yang berubah semakin menuju bab2 akhir. Kebanyakan cerita terkesan dipercepat dan menjadi agak "cheesy".


back to top