Jimmy Navy's Reviews > Veronika Decides to Die

Veronika Decides to Die by Paulo Coelho
Rate this book
Clear rating

by
1161178
's review
Aug 04, 2008

really liked it
bookshelves: ingin-punya
Read in September, 2008

Belajar Menghargai Hidup

Berapakah nilai dari sebuah hidup? Seorang pasien di sebuah rumah sakit, yang masih ingin hidup lebih lama, terpaksa harus dibantu dengan alat pernafasan yang terhubung ke tabung oksigen karena dia kesulitan untuk bernafas. Bernafas! Manusia yang hidup ditandai dengan bernafas, entah itu bernafas secara alami ataupun dengan bantuan alat-alat pernafasan. Bernafas berarti menghidup udara, menghirup oksigen. Harga satu tabung oksigen cukup mahal. Bisa dibayangkan, berapa ratus ribu rupiah atau mungkin berapa juta rupiah yang harus dirogoh pasien tersebut dari sakunya untuk membayar oksigen, membayar udara yang seharusnya gratis untuk dihirup. Dia rela membayar semahal apapun itu agar dia bisa tetap hidup, tetap bernafas, tetap menghirup udara. Kalau diperhitungkan dengan orang sehat yang sejak lahir sudah menghirup udara gratis, entah sudah menghirup beratus-ratus atau mungkin berjuta-juta tabung oksigen, jadi berapakah nilai sebuah hidup? Tubuh seorang teman yang sedang digerogoti kanker, harus rela tersiksa untuk menjalani kemoterapi, terapi-terapi pengobatan lainnya, serta mengkonsumsi obat yang malah membuat perutnya mual setiap hari, hanya karena ingin hidup lebih lama. Dia ingin hidup lebih lama karena ingin berkarya lebih banyak lagi ditengah masyarakat, karena buat dia hidup terlalu berharga untuk diserahkan begitu saja kepada sang maut, karena hidup entah seperti apapun kondisinya sangat pantas untuk diperjuangkan.

Seorang pemuda dengan nekat memanjat menara listrik tegangan tinggi, dan tentunya ingin terjun bebas dari atas untuk bunuh diri. Alasannya sederhana: diputus cinta oleh sang kekasih. Seorang pelajar perempuan nekat gantung diri karena dia merasa malu tidak punya cukup biaya untuk bisa mengikuti gaya hidup dan pergaulan teman-teman sekolahnya. Ahhh,,,kesenjangan sosial. Penduduk di daerah Gunung Kidul bisa terpicu untuk melakukan bunuh diri jika melihat seberkas sinar yang oleh penduduk setempat bisa disebut “Pulung Gantung”, karena dianggap sebagai tanda kiamat. Dan ini membuat daerah ini menjadi daerah dengan tingkat angka bunuh diri tertinggi di Indonesia yakni 184 kasus dalam 5 tahun terakhir atau sekitar 3 kasus bunuh diri per bulan. Selama tahun 2007, sebanyak 121 personil Angkatan Darat Amerika Serikat melakukan bunuh diri karena mengalami stress di medan perang. Di Jepang, pada periode Januari-Mei 2008, telah terjadi 520 kasus bunuh diri dengan berbagai alasan, yaitu: depresi, terlilit hutang, masalah keluarga, dan masalah kesehatan. Memang, berbagai alasan menjadi pemicu orang untuk melakukan bunuh diri. Bisakah mereka dikatakan sebagai orang-orang yang tidak menghargai hidup?

Veronika, seorang gadis muda berusia dua puluhan, mempunyai pekerjaan tetap, dan menjalani hidup yang nyaman dan berkecukupan secara ekonomi. Dia juga mempunyai keluarga yang peduli padanya. Kalau bisa dibilang, dia sudah menemukan area nyaman (comfort zone) dan hidup di dalamnya. Namun, hidup dalam “comfort zone” ternyata telah membuat hidupnya terasa hambar dan tidak bermakna. Karena itu, dia pun sudah berkali-kali merencanakan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang “bersih”. Sempat terpikir untuk melompat dari gedung tinggi, tapi akhirnya dibatalkan karena dia tidak mau meninggalkan kesan dan bekas-bekas yang dapat mempermalukan keluarganya. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk meminum obat tidur sebanyak empat bungkus, dengan harapan dia akan meninggal karena kelebihan dosis (over dosage). Tapi dia pasti merasa sangat tidak beruntung, karena ternyata obat tidur tersebut tidak cukup ampuh untuk membunuhnya. Obat itu hanya mampu mengirimkan dia ke sebuah rumah sakit jiwa serta menimbulkan kerusakan pada sistem kerja jantungnya.
Ironis memang, ketika sebagian besar orang melakukan bunuh diri dalam jebakan tekanan dan kesulitan hidup yang semakin membelenggu, ternyata ada juga yang bunuh diri dalam kenyamanan hidup. Yang manakah yang lebih menghargai hidup?

Ketika Veronika sedang menunggu saat-saat kematian datang menjemput setelah meminum obat tidur, dia sempat membaca sebuah kalimat dalam sebuah majalah. Kalimat itu adalah “Nothing in this world happens by chance”, ya…, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Setiap kejadian ada maknanya, ada maksudnya, ada efeknya. Bahkan satu kepakan sayap kupu-kupu dapat memicu terjadi badai (butterfly effect). Tanpa direncanakan sebelumnya, keberadaan Veronika di rumah sakit jiwa itu membawa pencerahan bagi beberapa pasien lainnya. Pasien-pasien yang sudah merasa nyaman tinggal di rumah sakit jiwa itu akhirnya bisa melihat bahwa masih ada kehidupan yang bisa diperjuangkan di luar sana. Hal ini membuat Mari, Zedka, dan Edward memutuskan untuk keluar dari sumah sakit jiwa itu untuk melanjutkan dan memperjuangkan hidupnya.

Veronika tanpa sadar telah memberikan efek positif kepada orang lain untuk memperjuangkan hidupnya. Masihkah kita menganggap pelaku-pelaku bunuh diri di atas adalah sekelompok orang bodoh yang tidak menghargai hidup atau apakah kita bisa mengambil pelajaran dari tindakan mereka? Pelajaran bahwa bunuh diri bukanlah solusi yang tepat, bahwa bunuh diri hanyalah sebuah tindakan lari dari masalah dan mewariskan masalah itu ke keluarga dan orang-orang terdekatnya. Hmm…jadi siapakah sebenarnya yang bodoh dan tidak menghargai hidup: mereka yang bunuh diri atau kita yang tidak bisa belajar dari tindakan bunuh diri mereka? Memang tidak ada sesuatupun yang terjadi di dunia ini secara kebetulan, tapi masalahnya adalah bisakah kita belajar menghargai hidup dari kejadian itu?
7 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Veronika Decides to Die.
Sign In »

Comments (showing 1-3 of 3) (3 new)

dateDown arrow    newest »

Jimmy Navy Hehe...thank you, Amang.
Cuman pertanyaan "iseng" aja kok
Soalnya kata orang-orang jaman baheula, orang iseng disayang Tuhan :p


message 2: by Nanny (new)

Nanny SA jimmyneutronwannabe wrote:

Soalnya kata orang-orang jaman baheula, orang iseng disayang Tuhan :p"


mungkin kl isengnya menimbulkan efek baik buat sekitar..:D


Jimmy Navy @bubub
Syukurlah loe ga jadi bunuh diri, sehingga loe masih punya kesempatan kenal GRI :P

Benar, orang terdekat (keluarga/teman dekat) diharapkan bisa lebih tanggap.

@Nanny
Tapi seringnya, perbuatan iseng malah menyebabkan orang kesal sama kita :D

*soalnya gua kalo iseng suka lebay*


back to top