Nikki's Reviews > Oeroeg

Oeroeg by Hella S. Haasse
Rate this book
Clear rating

by
3263288
's review
Feb 09, 2012

really liked it
bookshelves: novel-fiksi-terbaik

Saya lebih ingat buku ini karena pernah menonton sepotong - potong film serinya yang pernah diputar di tv nasional dahulu. Semenjak kecil saya memang menyukai tema2 sejarah. Sampai suatu ketika barulah saya tahu bahwa film Oeroeg berasal dari novel.

saya cari buku edisi Bahasa Indonesia kemana - mana sampai saya menemukannya di rak buku obral di suatu hypermarket. Kalau tidak salah saya lihat di pemesanan online Gramedia harganya 33ribu namun di obralan itu saya cuma dapat harga 10ribu saja.

Terus terang karena saya pernah lihat filmnya terlebih dahulu, akhirnya imajinasi saya selalu tergambar akan gambaran film itu.

Haase dengan teliti dan indahnya menggambarkan alam tanah Priangan yang bila diimajikan oleh anak negeri pasti juga akan sangat indah. Kenangan kita bisa terrekontruksi dengan baik oleh detail kalimatnya. Perjalanan kisah dua anak yang bersahabat ini digambarkan dengan runtut dalam semua fase kehidupannya. Meluncur begitu adanya walau dengan kisah - kisah kehidupan yang tragis. Cerita terus meluncur dalam dunia "aku" si anak londo. Kita akan nampak seperti membaca buku harian seseorang. Tentu semuanya dengan sudut pandang si "aku". Orang lain selain aku dan oeroeg hanya semacam figuran dalam cerita yang sekelumit saja dikisahkan.

Cerita ini memang nampak seperti kisah kerinduan akan seorang Londo yang lahir, hidup dan dibesarkan lantas harus melupakan semuanya dan menyimpannya dalam ingatan saja. Rasanya ini menggambarkan perasaan semua orang Belanda yang terusir dari koloninya di Hindia. Disini juga menggambarkan bagaimana perasaan orang orang Belanda yang besar pada akhir masa kolonial, dimana sebenarnya mereka sudah hampir tercabut dari budaya Eropanya dan hampir menjadi manusia Indonesia. Boleh dikata mereka adalah manusia pribumi "setengah jadi" atau yang sering kita sebut indo, walau mereka juga lahir dari bapak dan ibu eropa. Jiwa memang sering berlainan dengan fisik. Boleh dikata mereka - mereka ini sebenarnya juga tidak banyak memperdulikan lagi sekat - sekat apartheid atau kasta dalam kehidupan, antara inlander dan kulit putih.

Namun nasib zaman siapa yang tahu. Semua kenangan indah berubah oleh jaman yang diawali zaman pergerakan, yang banyak merubah watak bangsa Inlander atau cikal bakal Indonesia. Aku, begitu kebingungan akan perubahan2 yang terjadi begitu cepat. Pandangannya yang lugu akan perubahan dunia turut membawanya dalam kebingungan.

Memang film terkadang tidak harus sama dengan novelnya. Bila dalam film banyak memberi ruang mengekplorasi zaman pergerakan dan zaman revolusi, maka dalam novel sebenarnya hanya diceritakan dalam halaman - halaman akhir saja. Perpisahan akhir antara Aku dan Oeroeg yang dalam film dikisahkan di Jembatan Kereta api maka dalam novel dikisahkan di Telaga Hitam dimana semua konflik kisah ini diawali dan diakhiri. Di dalam novel pun, tokoh aku dibuat tidak yakin apakah itu Oeroeg atau bukan yang ditemuinya di Telaga Hitam. Ini seakan menggambarkan bahwa Bangsa Belanda pada jaman revolusi seperti terheran - heran dengan bekas bangsa koloninya yang dahulu penurut dan polos lantas begitu cepat berubah menjadi pemberontak.

Overall, karya oeroeg ini melengkapi rasa penasaran saya pada masa kecil akan keseluruhan kisah ini. Karya ini juga bisa menjadi penggambaran akan perasaan bangsa belanda yang pernah ada di tanah Hindia.
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Oeroeg.
Sign In »

No comments have been added yet.