Js Saputra's Reviews > Kemarau

Kemarau by A.A. Navis
Rate this book
Clear rating

by
4009486
's review
Dec 21, 2011

it was amazing

Haji Ali Akbar Navis dilahirkan di Kampung Jawa, Padang, 17 November 1924. Meninggal dalam usia 78 tahun, 22 Maret 2003. Merupakan sastrawan dan budayawan ‘papan atas’ dalam khazanah sastra dan budaya Indonesia. “Robohnya Surau Kami” (1955)merupakan karya monumental yang mengangkat A.A. Navis dalam pentas sastra-budaya Indonesia. Begitu tajam-jernih-tulus, dalam Robohnya Surau Kami, A.A. Navis mengekspos keprihatinan ‘robohnya kerinduan hakiki manusia’ pada asal dan tujuan hidup: Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Kemarau, 1967, memotret skemata manusia-manusia Indonesia yang malas dan menyerah pada ‘sang nasib’. Kemarau yang menjadi latar peristiwa-peristiwa dan konflik adalah simbolisasi kegersangan jiwa-hati-pikiran manusia dalam menaklukkan kesulitan, tantangan, penderitaan hidup. Manusia tidak berdaya berhadapan dengan “kemarau jiwa-hati-pikiran”. Berjudi dalam hidup alias berspekulasi dan menunggu ‘nasib baik’ menghapiri adalah skema mental kepasrahan hidup yang bersifat fatalis.
Sutan Duano adalah tokoh utama, dalam Kemarau, yang tidak mau menyerah pada keadaan. Tidak mau dijajah oleh “sang nasib”. Duduk bertopang dagu menunggu hari keberuntungan yakni musim penghujan untuk bercocok tanam. Dengan niat baik untuk mengubah nasib dan keluar dari kesulitan hidup, Sutan Duano, menaklukkan jarak danau dan lahan pertaniannya. Ia angkut air tanpa mengenal lelah, hingga tanaman padi di sawahnya bersyukur dan membalas budi.
Kerja keras Sutan Duano menarik perhatian Acin, anak janda cantik yang bernama Gundam. Acin pun rajin membantu ‘menaklukkan sang nasib’. Cekatan mengangkut air dari sebuah danau dan dibawa ke sawah menghidupan tanaman padi. Tentu, keakraban Sutan Duano dan Acin merebakkan gossip. Masyarakat mendapat santapan baru. Menuduh Sutan Duano munafik. Ada udang di balik kerja kerasnya dengan mengajak Acin.
Sutan Duano pun gelisah. Ketulusan jiwa-hati-pikiran berubah menjadi cibiran. Itulah sebabnya, ia memilih mengunjungi anaknya di Surabaya. Bukan ketenangan dan kedamaian yang ia dapatkan, tetapi malapetaka. Ia bertemu dengan mantan istrinya, yang tak lain adalah mertua anaknya. Sutan Duano meradang, Bersikeras untuk memisahkan pasangan haram karena sedarah-sedaging.
Usahanya pun berhasil meski harus ditebus dengan kematian mantan istrinya. Namun, ia bangga dapat meluruskan jalan sesat anak-anaknya. Sutan Duano pun kembali ke tanah kelahirannya. Kembali menggarap sawah dengan menggunakan air danau. Alhasil, warga kampong mengikuti jejak Sutan Duano. Mereka tidak lagi dikuasai ‘ganasnya kemarau’ tetapi ‘kemarau telah dikalahkan dengan kerja keras’. Mereka mampu mengubah nasibnya. Sutan Duano pun lebih dekat dengan Acin karena berhasil memperistri ibu Acin.
Novel yang memikat untuk dijadikan bahan refleksi. Betapa, A.A. Navis, berkemampuan mennembus sang waktu. Sebab, 54 tahun yang lalu, ia telah menyebarkan ‘virus kerja keras’ dengan menundukkan ganasnya kemarau. Buku yang layak menjadi bacaan wajib anak-anak SMA sederajat hingga mampu menginternalisasikan nilai-nilai kedisiplinan, ketegasan, dan kerja keras.

flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Kemarau.
Sign In »

Comments (showing 1-1)




dateUp arrow    newest »

message 1: by Js (new) - rated it 5 stars

Js Saputra Haji Ali Akbar Navis dilahirkan di Kampung Jawa, Padang, 17 November 1924. Meninggal dalam usia 78 tahun, 22 Maret 2003. Merupakan sastrawan dan budayawan ‘papan atas’ dalam khazanah sastra dan budaya Indonesia. “Robohnya Surau Kami” (1955)merupakan karya monumental yang mengangkat A.A. Navis dalam pentas sastra-budaya Indonesia. Begitu tajam-jernih-tulus, dalam Robohnya Surau Kami, A.A. Navis mengekspos keprihatinan ‘robohnya kerinduan hakiki manusia’ pada asal dan tujuan hidup: Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Kemarau, 1967, memotret skemata manusia-manusia Indonesia yang malas dan menyerah pada ‘sang nasib’. Kemarau yang menjadi latar peristiwa-peristiwa dan konflik adalah simbolisasi kegersangan jiwa-hati-pikiran manusia dalam menaklukkan kesulitan, tantangan, penderitaan hidup. Manusia tidak berdaya berhadapan dengan “kemarau jiwa-hati-pikiran”. Berjudi dalam hidup alias berspekulasi dan menunggu ‘nasib baik’ menghapiri adalah skema mental kepasrahan hidup yang bersifat fatalis.
Sutan Duano adalah tokoh utama, dalam Kemarau, yang tidak mau menyerah pada keadaan. Tidak mau dijajah oleh “sang nasib”. Duduk bertopang dagu menunggu hari keberuntungan yakni musim penghujan untuk bercocok tanam. Dengan niat baik untuk mengubah nasib dan keluar dari kesulitan hidup, Sutan Duano, menaklukkan jarak danau dan lahan pertaniannya. Ia angkut air tanpa mengenal lelah, hingga tanaman padi di sawahnya bersyukur dan membalas budi.
Kerja keras Sutan Duano menarik perhatian Acin, anak janda cantik yang bernama Gundam. Acin pun rajin membantu ‘menaklukkan sang nasib’. Cekatan mengangkut air dari sebuah danau dan dibawa ke sawah menghidupan tanaman padi. Tentu, keakraban Sutan Duano dan Acin merebakkan gossip. Masyarakat mendapat santapan baru. Menuduh Sutan Duano munafik. Ada udang di balik kerja kerasnya dengan mengajak Acin.
Sutan Duano pun gelisah. Ketulusan jiwa-hati-pikiran berubah menjadi cibiran. Itulah sebabnya, ia memilih mengunjungi anaknya di Surabaya. Bukan ketenangan dan kedamaian yang ia dapatkan, tetapi malapetaka. Ia bertemu dengan mantan istrinya, yang tak lain adalah mertua anaknya. Sutan Duano meradang, Bersikeras untuk memisahkan pasangan haram karena sedarah-sedaging.
Usahanya pun berhasil meski harus ditebus dengan kematian mantan istrinya. Namun, ia bangga dapat meluruskan jalan sesat anak-anaknya. Sutan Duano pun kembali ke tanah kelahirannya. Kembali menggarap sawah dengan menggunakan air danau. Alhasil, warga kampong mengikuti jejak Sutan Duano. Mereka tidak lagi dikuasai ‘ganasnya kemarau’ tetapi ‘kemarau telah dikalahkan dengan kerja keras’. Mereka mampu mengubah nasibnya. Sutan Duano pun lebih dekat dengan Acin karena berhasil memperistri ibu Acin.
Novel yang memikat untuk dijadikan bahan refleksi. Betapa, A.A. Navis, berkemampuan mennembus sang waktu. Sebab, 54 tahun yang lalu, ia telah menyebarkan ‘virus kerja keras’ dengan menundukkan ganasnya kemarau. Buku yang layak menjadi bacaan wajib anak-anak SMA sederajat hingga mampu menginternalisasikan nilai-nilai kedisiplinan, ketegasan, dan kerja keras.


back to top