Bahtiar HS's Reviews > Sang Pemimpi

Sang Pemimpi by Andrea Hirata
Rate this book
Clear rating

by
91201
's review
Jan 24, 2008

it was amazing
bookshelves: adventure
Read in December, 2007

Bermimpi atau Mati!

Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka Yogyakarta
Edisi 1 : Juli 2006
Hal : x + 292 halaman

“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati ….”
~Arai

Mungkin kalimat pendobrak itulah inti dari buku memoar Andrea kedua dari tetralogi Laskar Pelangi ini. Sebagai lanjutan dari Laskar Pelangi, buku pertamanya, Sang Pemimpi bercerita bagaimana kehidupan SMA Ikal. Dan panggung cerita terfokus pada tiga serangkai tokoh utamanya ini: Arai, Jimbron, dan Ikal alias Andrea Hirata sendiri.

Inilah tiga serangkai yang kontras. Arai adalah saudara Ikal yang sudah sebatang kara. Masih selalu terbayang di pelupuk mata Ikal, bagaimana saat anak itu ditinggal mati ayahnya, satu-satunya keluarga daging darahnya yang tersisa. Jadilah dia Simpai Keramat, seorang terakhir dari sebuah klan keluarga yang tak punya siapa-siapa lagi. Waktu dia dan ayahnya menjemput Arai, anak itu begitu mengenaskan: menunggu di tangga gubugnya dengan karung kecampang di ketiaknya (berisi hartanya yang tersisa), sendirian di tengah belantara ladang tebu tak terurus. Dia seorang yang berandal banyak akal, kadang tak masuk akal, tak tertebak, tetapi hatinya begitu lembut. Dialah guru Ikal dalam banyak hal. Arailah orang yang membuat hidupnya bersemangat dan tak lepas cita-cita. Simpai Keramat itulah yang membuatnya masih terus punya mimpi.

Lain lagi dengan Jimbron yang juga sebatang kara. Ia punya penyakit gagap yang kambuh jika sedang bersemangat. Ia memiliki obsesi yang kompulsif terhadap kuda. Segala jenis kuda, yang bahkan tak pernah dikenal di Belitong. Ia bahkan menabung uang yang dimilikinya pada dua buah celengan kuda. Hitam dan putih. Ia baby face, tetapi begitu baik pada Ikal dan Arai. Dan begitu dekat.

Karena bersekolah di SMA yang sama di Bagai, sama-sama dari keluarga melarat, maka ketiganya menyewa sebuah tempat kos yang sama dan bekerja sebagai kuli ngambat yang sama. Setiap pukul dua pagi, mereka sudah mengangkut ikan berbagai jenis dari dermaga ke pasar ikan. Pukul tujuh, ketiganya setelah mandi seadanya langsung berangkat ke sekolah dengan bau serupa ikan pari. Tapi meski begitu, ketiganya menggantungkan sebuah cita-cita, mimpi tepatnya, yang sangat tinggi.

“Jelajahi kemegahan Eropa hingga Afrika yang eksotik! Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montequieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban ...." (hal 13)

Mimpi itulah yang bagai hantu membayang terus dalam kehidupan mereka. Mendorong terus semangat mereka untuk terus berusaha tanpa lelah untuk suatu saat, entah kapan, meraih cita-cita itu.

Maka begitulah setelah SMA usai, mereka sudah berencana merantau ke Jawa. Mau tidak mau, demi mimpi itu. Meski dengan sangu pas-pasan hanya untuk beberapa bulan. Bukan untuk kuliah, tetapi bekerja mengumpulkan uang untuk suatu saat kuliah. Dan saat itulah, Jimbron datang menyerahkan dua celengan kudanya kepada Ikal dan Arai. Sumbangan untuk meraih mimpi itu, karena ia sendiri memilih mengurus kuda di peternakan seorang Capo di Belitong. Diiringi oleh sekalian orang-orang yang mereka cintai, dengan menumpang sebuah kapal barang dan upah mengepel WC dan memasak untuk para ABK, mereka berangkat ke Jakarta. “Jangan pernah pulang sebelum jadi sarjana,” pesan Bu Muslimah, guru tercinta mereka di SD dulu (hal 219).

Tujuan mereka adalah Ciputat. Tetapi bis yang mereka tumpangi menurunkan keduanya hingga di terminal Bogor. Jadilah mereka kos dan mengais rezeki di belakang kampus IPB. Menjadi door to door salesman, tukang di pabrik tali, tukang foto copy. Suatu hari hidup mereka berubah ketika membaca pengumuman pegawai pos. Mereka melamar dan Ikal diterima sebagai tukang sortir surat. Sementara Arai gagal. Anak itu lalu merantau ke Kalimantan tanpa jejak.

Bertahun kemudian nasib mempertemukan mereka kembali. Ikal sudah lulus dari Fakultas Ekonomi UI dan Arai Jurusan Biologi Universitas Mulawarman. Keduanya sedang mengajukan beasiswa S2 keluar negeri. Keduanya diuji pada tempat yang sama, yang mempertemukan mereka lagi. Dan mereka sama-sama diterima di perguruan tinggi yang sama. Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Cita-cita mereka!

Membaca Sang Pemimpi memompa semangat kita bahwa ingin berhasil, maka mimpi adalah wajib disamping jangan pernah mendahului nasib! Maka, hilanglah rasa pesimistis, introvert, inferior, dan segala pikiran negatif.

Buku memoar ini cocok sekali dibaca oleh mereka yang punya penyakit orang gagal. Cocok juga dibaca mereka yang merasa begitu banyak penghalang dan kesulitan hidup yang dia miliki. Bagaimana tidak? Arai dan Ikal berhasil mendobrak hegemoni bahwa kesuksesan ternyata bisa diraih dengan kerja keras dan tak lelah berusaha.

Dan lebih dari itu, Sang Pemimpi wajib dibaca oleh para pendidik bagaimana seorang murid diperlakukan, bagaimana memberi mereka dorongan untuk terus memiliki mimpi yang harus dikejar. Juga wajib dibaca oleh orang tua, termasuk seorang ayah, karena kali ini untuk seorang ayahlah buku ini didedikasikan. Tidak lain ayah Ikal sendiri, Seman Said Harun, yang dijulukinya sebagai “Ayah juara satu seluruh dunia.”

Selamat membaca!
18 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Sang Pemimpi.
Sign In »

Reading Progress

02/12 marked as: read

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

Ryan Nice to meet you Mr. Bahtiar.
So, what's your opinion about Andrea's 4th book : Maryamah Karpov. Can't wait for it.



message 2: by Nurudin (new)

Nurudin sepertinya buku ini bisa dijadikan rujukan bagaimana agar mimpiku bisa tetap kurasa manakala mata ini terjaga.


back to top