Kesepian Quotes

Quotes tagged as "kesepian" (showing 1-6 of 6)
Sapardi Djoko Damono
“Kesepian adalah benang-benang halus ulat sutera yang perlahan-lahan, lembar demi lembar, mengurung orang sehingga ulat yang ada di dalamnya ingin segera melepaskan diri menjadi wujud yang sama sekali berbeda, yang bisa saja tidak diingat lagi asal-usulnya. Hanya ulat busuk yang tidak ingin menjadi kupu-kupu. (81)”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

“Di taman itu, bau laut tertutupi aroma daun-daun yang gugur dan mati. Kalian tahu, kematian selalu membuatku memikirkan Kesepian. Ketika Nenek mati, aku merasa ribuan Kesepian mendatangi pemakaman. Satu per satu dari mereka meminta untuk menumpang di rumahku, tidur di tempat tidurku. Ketika aku melarang, mereka justru menentang. Mereka kemudian mengambil alih singgasana secara paksa. Bertahun-tahun mereka menguasai rumahku. Sampai akhirnya aku lari ke sini.

Namun, dengan orang ini aku tahu Kesepian akan segera memerah, menguning, mencokelat, dan akhirnya tanggal pelan-pelan, seperti daun-daun. Mungkin aku tak akan bertemu para Kesepian itu lagi. Mungkin angin akan membawa mereka terbang jauh. Mungkin juga jauh sekali. Semoga mereka tidak mendarat di halaman rumah seseorang yang sebatang kara. Semoga.”
Norman Erikson Pasaribu, Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu

Puthut EA
“Kereta datang. Melompat malas. Mencari kursi dalam gerbong yang nyaris kosong. Senja mulai tua, mendung menambah tua cuaca. Gerimis turun di luar. Dari jendela muram itu bayang-bayang berkelebat. Kota-kota mulai bersolek dengan lampu. Hujan menderas di luar. Kereta semakin cepat. Naik kereta api untuk bisa menangis sendirian. Tangisan sepi.”
Puthut EA

Sam Haidy
“Aku tertawan
Tanpa gerak
Lalu tertawa
Tanpa gelak

Aku dan sepi
Seredup semati”
Sam Haidy, Nocturnal Journal

Sam Haidy
“Di satu sisi
Aku semestinya kesepian
Sudah sepantasnya gila
Memamah kesendirian

Di lain sisi
Aku punya kamu”
Sam Haidy, Nocturnal Journal

“Jika kesepian, marah bisa terasa seperti murka. Sedih rasanya seperti amat merana.”
Tia Widiana