Mbah's Comments (member since Nov 19, 2011)


Mbah's comments from the Pembaca Buku Pramoedya group.

Showing 1-1 of 1

Nov 19, 2011 05:14AM

442 Permisi kawan-kawan, numpang nimbrung dan nyimak.

MENGAPA BUKU PRAMOEDYA SULIT DITEMUKAN?
dan ISI BUKU "PRAM MELAWAN"

Mengenai isi buku "Pram Melawan"

WAWANCARA Pramoedya Ananta Toer dengan trio penulis buku "Pram Melawan" pada halaman 62-63, 300-302, dan juga antara Astuti Ananta Toer dengan para penulis di atas pada halaman 494-495, materi isinya yang disangkutkan dengan Joesoef Isak/Hasta Mitra tidak valid sama sekali [http://www.hastamitra.org/2011/11/pra...]. Antara lain dalam wawancara antara penulis "Pram Melawan" dengan Pramoedya/Astuti Ananta Toer membicarakan soal yang ada kaitan dengan "uang" honorarium, "uang" royalti, "uang" dari Yahudi Amerika, dan "uang" lainnya.
Mengapa saya berani mengatakan isi buku "Pram Melawan" tidak valid? karena setahu saya (Mbah Syubali) orang-orang yang bekerja di penerbit Hasta Mitra itu bersahaja sekali hidupnya. Contoh kecil bersahajanya Hasta Mitra dalam membayar gaji beberapa karyawan dengan nilai per orang hanya setengah UMR kadang telat melulu. Pimpinan Hasta Mitra nyatanya tak punya rumah semewah Rumah Pramoedya di Bojonggede. Dia (pimpinan Hasta Mitra) juga tak punya kendaraan roda empat buatan Jepang atau Eropah, dan tak punya benda mewah lainnya dalam bentuk apapun.

MENGAPA BUKU PRAMOEDYA SULIT DITEMUKAN?

Hasta Mitra yang bertahun-tahun mengelola puluhan naskah Pram dan mengeditnya, mulai editing sedang hingga editing berat, bahkan naskah "Gadis Pantai" 30 persen cacat, naskah Bumi Manusia asli terdapat kesalahan dalam menafsirkan sistem hukum Hindia-Belanda. Dan begitulah yang terjadi dengan naskah Pramoedya lainnya, akan tetapi mengenai kekurangan dalam tiap naskahnya itu sudah diakui sendiri oleh Pramoedya. Katanya, "Saya menulis naskah itu langsung sekali jadi dan final, tak pernah saya mau membaca kembali naskah yang sudah saya selesaikan tersebut."
Pada kesempatan lain dia menyambung ucapannya sendiri di atas ini, "Kalau naskah tersebut saya baca ulang, wah bisa jadi saya akan merombak lagi seluruhnya..."
Dari puluhan naskah Pramoedya itu Hasta Mitra untuk persiapan menyerahkan ke percetakan tentu saja membikin file-file digital untuk hampir seluruh buku Pram. Dalam keadaan hampir seluruh buku Pram sudah dalam bentuk digital (file/document)tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba Hasta Mitra dihentikan kegiatannya mengelola buku Pramoedya sekaligus "karya digital" Hasta Mitra tersebut dibajak oleh Penerbit Lentera Dipantara melalui tangan personel distributor dan percetakan yang turut hijrah bersama file "karya digital" Hasta Mitra tersebut. (sumber: hasil wawancara antara pimpinan HM dengan pimpinan distributor A).
Hasta Mitra tak dapat penghasilan sama sekali dari buku Pramoedya, karena Hasta Mitra cuma mendesain buku saja sampai "siap cetak", urusan percetakan dan distribusi ditangani oleh pihak lain, yang ditunjuk atas sepengetahuan Pram Sendiri selaku penulis. (Lihat halaman 4 romawi dari tetralogi atau buku lainnya ada yang tercantum lisensor publikasi/distributor) ADIPURA/JALASUTRA).
Kenapa buku Pramoedya tidak beredar di pasaran atau belum dicetak ulang? Jawabannya ya, kebetulan judul buku tersebut file-file nya masih belum berhasil didapatkan oleh Lentera Dipantara dari tangan Hasta Mitra.***

Menimpali Bung Pandasura,
Saya sependapat bahwa tumpukan buku yang gambarnya dipajang oleh bung Pandasura itu bajakan, dilihat dari cover punggung buku yang terlihat tidak rapi, yakni ada lipatan hasil penjilidan dengan lem murahan yang kurang sempurna. Cetakan Hasta Mitra cukup mulus di bagian punggung dari beberapa buku itu.

Menimpali bung Alisyah,
Cetakan Hasta Mitra tetralogi Buru yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, sejak pertama kali 1980 hingga 2001-an semuanya versi tebal dan cukup berkwalitas, dengan kertas hvs 70/80 gram, hardcover dan softcover. Tidak ada cetakan tetralogi versi murah alias dengan kertas merang/koran, apalagi super tipis cuma 100 halaman. Jadi bisa bung Alisyah simpulkan sendiri, status buku yang ditawarkan penjual tersebut.

Menimpali Bung Sunardi,
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid satu dan dua diterbitkan oleh Hasta Mitra, dengan pencetak dan distributor ACC Grafika Jakarta/Surabaya (direkomendasikan oleh Pramoedya Ananta Toer sendiri, karena pemilik ACC yang juga adalah sahabat bung Pram). Jadi untuk mencetak ulang kedua buku tersebut Lentera Dipantara masih harus ngetik dari awal lagi. Dan itu membutuhkan biaya besar.

Menimpali Bung Gieb,
The three musketeers (joesoef isak, hasyim rachman, pramoedya ananta toer) secara bisnis memang terjadi kesalahpahaman di antara mereka bertiga, wajarlah karena buku-buku Pramoedya Ananta Toer antara lain Tetralogi Buru mendapatkan penghargaan dari Kejaksaan Agung berupa pembreidelan bertubi-tubi, dan semua kerugian hanya ditanggung oleh penerbit, sementara itu - dalam kondisi karya bung Pram dilarang - kepada si penulis (bung Pram) terlanjur dibayarkan royaltinya oleh penerbit Hasta Mitra.
Akan tetapi mereka bertiga secara politik dan persahabatan mereka tetaplah berada dalam satu kubu, koridor, dan tujuan yang sama, yakni menjadi musuh yang die hard bagi Orde Baru. (lihat 80 tahun Joesoef Isak, Sebuah Liber Amicorum).

Menimpali Indri
Mengenai pebreidelan buku Pramoedya tidak akan terjadi lagi, karena buku-buku tersebut statusnya masih resmi dilarang oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia,dan itu artinya buku Tetralogi dan lainnya dilarang beredar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi untuk selanjutnya tidak ada pelarangan secara hukum untuk kasus yang sama (larangan beredar buku Pramoedya) untuk kedua kalinya. Yang mungkin terjadi ialah operasi penegakan hukum atas keputusan kejaksaan agung di masa lalu.
Hasta Mitra pada 2000-an telah membebaskan diri dengan menerbitkan Tetralogi Buru versi EDISI PEMBEBASAN, yakni Hasta Mitra tak mau menunggu pelarangan terhadap karya Pramoedya secara resmi dicabut oleh yang berwenang, akan tetapi Hasta Mitra mendahului merebut momen perjuangan dengan cara membebaskan diri sendiri. (lihat pengantar edisi pembebasan, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)