What do you think?


Sri Sumarah and Other Stories
Esta novela nos ofrece un gran panorama de la vida de una mujer javanesa, una viuda que lucha por su hija y su nieta. Un trastorno político evidencia los contrastes entre la educación tradicional y los acelerados cambios en la sociedad, que Sri afronta con la fuerza que le confiere su nombre, sumarah, "resignación". Sin embargo, Umar Kayam no sólo habla sobre la cultura, el pensamiento y la situación sociopolítica en Indonesia en las décadas de 1960 y 1970, sino ofrece una reflexión de una Indonesia confrontada por la modernidad.
191 pages
First published January 1, 1975
About the author
Umar Kayam
39 books146 followersMany predicate have been given to Umar Kayam. He was a writer, lecturer, bigscreen artist. Most of his time was spended as a lecturer at Gadjah Mada University, Yogyakarta.
Bibliography:
* Sri Sumarah (Pustaka Jaya, 1975)
* Para Priyayi (Pustaka Jaya, 1992)
* Jalan Menikung/Para Priyayi 2 (Pustaka Jaya, 2002)
Bibliography:
* Sri Sumarah (Pustaka Jaya, 1975)
* Para Priyayi (Pustaka Jaya, 1992)
* Jalan Menikung/Para Priyayi 2 (Pustaka Jaya, 2002)
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Read
December 1, 2012Ini salah satu karya Umar Kayam kedua yang saya baca setelah "para priyayi". Semestinya saya baca buku "Sri Sumarah" ini dulu baru ke "Para..." tapi jadinya malah terbalik.
Buku ini saya temukan teronggok rapi bersama ratusan karya-karya sastra lain, dalam satu pameran buku ulangtahun kampus sastra UI, kira-kira tahun 1996. Cover buku-nya sederhana banget. Tapi isinya tidak se-sederhana cover-nya. Akhirnya kejadian juga saya baca cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan" yang tersohor itu! dan memang kisahnya bagus, menjiwai. Ini tentang orang kampung asal Indonesia yang ada di Manhattan dan punya pacar asli perempuan New York.
Beberapa cerpen, termasuk Sri Sumarah, berlatarbelakang peristiwa 1965. Umar Kayam menulisnya dengan mengalir apa adanya tanpa penghakiman apa-apa.
Sejauh yang saya ketahui, Umar Kayam adalah satu-satunya cerpenis yang menulis kisah 1965 tanpa keberpihakan atau motif-motif politik. Kisahnya betul-betul menggambarkan apa yang terjadi bukan pada peristiwanya, tetapi emosi dan motivasi setiap personal yang terlibat; apakah dia seorang sarjana cendekia, politisi, rakyat biasa, pegawai negeri alias ambtenaar, satu istilah yang beken kala itu.
Caranya berkisah juga gampang dipahami bahasanya. Padahal umumnya sastrawan ngetop itu seringkali punya gaya bahasa yang sulit dipahami, karena begitu menjaga nilai-nilainya susastra-nya. Dia tidak. Mungkin karena pak Kayam juga dosen sosiologi ya, jadi tulisannya jelas dan lebih kepada perspektif sosiologis peristiwa 65 itu, ketimbang dilihat dari sudut pandang politik yang orang-orang lain sudah garap.
Berbeda dengan karya-karya Pramudya, karya Umar Kayam soal 1965 lebih 'fun to read', 'understandable'. Selalu ada nilai-nilai humornya meskipun kala itu indonesia miskinnya bukan main! Pram selalu serius dan di beberapa bagian sedih banget, meskipun juga HEROIK. Saya kagum pada keduanya, juga kepada penulis-penulis lain pada masa itu.
Terakhir, yang saya kagum dari Umar Kayam adalah meskipun dia lahir dan besar sebagai seorang Jawa, namun cara bertuturnya jauh dari kesan Jawa. Dia lebih keliatan seperti orang Sumatera, karena blak-blakan.
sayang, sebelum saya sempat bertemu dan mewawancarai beliau, Pak Kayam sudah keburu berpulang. Pastilah menyenangkan jika sempat berbincang dengan dia :-)
Buku ini saya temukan teronggok rapi bersama ratusan karya-karya sastra lain, dalam satu pameran buku ulangtahun kampus sastra UI, kira-kira tahun 1996. Cover buku-nya sederhana banget. Tapi isinya tidak se-sederhana cover-nya. Akhirnya kejadian juga saya baca cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan" yang tersohor itu! dan memang kisahnya bagus, menjiwai. Ini tentang orang kampung asal Indonesia yang ada di Manhattan dan punya pacar asli perempuan New York.
Beberapa cerpen, termasuk Sri Sumarah, berlatarbelakang peristiwa 1965. Umar Kayam menulisnya dengan mengalir apa adanya tanpa penghakiman apa-apa.
Sejauh yang saya ketahui, Umar Kayam adalah satu-satunya cerpenis yang menulis kisah 1965 tanpa keberpihakan atau motif-motif politik. Kisahnya betul-betul menggambarkan apa yang terjadi bukan pada peristiwanya, tetapi emosi dan motivasi setiap personal yang terlibat; apakah dia seorang sarjana cendekia, politisi, rakyat biasa, pegawai negeri alias ambtenaar, satu istilah yang beken kala itu.
Caranya berkisah juga gampang dipahami bahasanya. Padahal umumnya sastrawan ngetop itu seringkali punya gaya bahasa yang sulit dipahami, karena begitu menjaga nilai-nilainya susastra-nya. Dia tidak. Mungkin karena pak Kayam juga dosen sosiologi ya, jadi tulisannya jelas dan lebih kepada perspektif sosiologis peristiwa 65 itu, ketimbang dilihat dari sudut pandang politik yang orang-orang lain sudah garap.
Berbeda dengan karya-karya Pramudya, karya Umar Kayam soal 1965 lebih 'fun to read', 'understandable'. Selalu ada nilai-nilai humornya meskipun kala itu indonesia miskinnya bukan main! Pram selalu serius dan di beberapa bagian sedih banget, meskipun juga HEROIK. Saya kagum pada keduanya, juga kepada penulis-penulis lain pada masa itu.
Terakhir, yang saya kagum dari Umar Kayam adalah meskipun dia lahir dan besar sebagai seorang Jawa, namun cara bertuturnya jauh dari kesan Jawa. Dia lebih keliatan seperti orang Sumatera, karena blak-blakan.
sayang, sebelum saya sempat bertemu dan mewawancarai beliau, Pak Kayam sudah keburu berpulang. Pastilah menyenangkan jika sempat berbincang dengan dia :-)
November 22, 2024
Estamos frente a una novela cuyo autor proviene de la isla de Java, en Indonesia. En las pocas páginas el autor logra plasmar una historia que atrae al lector, y que puede tocarle el corazón.
Sri Sumarah es una mujer que fue criada por su abuela, quién intentó apoyarla lo mejor que pudo para que viviera grandes experiencias mientras fuera joven. Aunque el autor no ahonda demasiado en esta parte de la vida de su protagonista, sí deja claro que las enseñanzas de su abuela la siguieron de por vida.
Pasado el tiempo Sri se casará y formará una familia, sin embargo, la felicidad no le durará mucho tiempo, y debido a diversas situaciones se verá viviendo en casa de su propia hija (ya casa también), donde Sri formará parte del núcleo familiar de su nieta. Pero el contexto social de Indonesia le cambiará su modo de vida, pues perderá a algunos personajes cercanos y se volverá la “madre” de su nieta.
De esta manera, en este breve libro el autor nos mostrará como Indonesia fue cambiando con el tiempo, impactando hasta en los pequeños poblados y en la vida de personas sencillas como Sri Sumarah, quien deberá ver por su nieta, tal como su abuela hizo con ella en el pasado.
Sri Sumarah es una mujer que fue criada por su abuela, quién intentó apoyarla lo mejor que pudo para que viviera grandes experiencias mientras fuera joven. Aunque el autor no ahonda demasiado en esta parte de la vida de su protagonista, sí deja claro que las enseñanzas de su abuela la siguieron de por vida.
Pasado el tiempo Sri se casará y formará una familia, sin embargo, la felicidad no le durará mucho tiempo, y debido a diversas situaciones se verá viviendo en casa de su propia hija (ya casa también), donde Sri formará parte del núcleo familiar de su nieta. Pero el contexto social de Indonesia le cambiará su modo de vida, pues perderá a algunos personajes cercanos y se volverá la “madre” de su nieta.
De esta manera, en este breve libro el autor nos mostrará como Indonesia fue cambiando con el tiempo, impactando hasta en los pequeños poblados y en la vida de personas sencillas como Sri Sumarah, quien deberá ver por su nieta, tal como su abuela hizo con ella en el pasado.
January 15, 2018
Sri Sumarah adalah himpunan dua kumpulan cerpen Umar Kayam: Sri Sumarah dan Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Terdapat juga dua buah cerpen yang belum dibukukan (setakat tahun 1981) yang dihimpunkan sekali di dalam buku ini.
Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini dikarang pada zaman 1960an hingga 1970an, ketika penulis berada di Amerika Syarikat untuk pengajian pascasiswazah, dan juga ketika beliau sendiri menyaksikan peristiwa 30 September 1965 sekembalinya beliau ke Indonesia. Oleh itu, tidak hairanlah cerpen-cerpennya mengambil latar di Amerika Syarikat atau di Indonesia pada zaman gelodak politik.
Watak-watak di dalam kesemua cerpen itu diperlihatkan sebagai seseorang yang terperangkap dalam kondisi sejarahnya. Dan ada yang melawan kondisi ini, dan ada juga yang menyerah. Tetapi, apapun tindakan mereka, hasilnya hampir seragam: mereka tetap kalah.
Dalam cerpen-cerpen dari buku Seribu Kunang, kebanyakan wataknya ialah warga Amerika yang terperangkap dalam kondisi masyarakatnya yang asing lagi mengasingkan. Kehidupan telah diatomisasi oleh sistem kapitalisme lanjut (late capitalism) yang telah berjaya menjajah ruang kehidupan peribadi demi kepentingan golongan tertentu. Akibatnya, sifat kemasyarakatan sudah terlupus, dan anggotanya dipenjara dalam kesepian dan keterasingan. Atau sekurang-kurangnya itulah yang digambarkan oleh Umar Kayam sebagai Amerika yang dikenalinya.
Atas perasaan kesepian ini, watak-watak Amerika ciptaan pengarang seringkali memberontak kondisi sejarah mereka dengan cara-cara tersendirinya yang pelik (tiada solidariti atau usaha kolektif kerana lemahnya sistem kemasyarakatan). Antaranya, Madame Schlitz – dari cerpen ‘Isteriku, Madame Schlitz dan Sang Raksasa’ – cuba menjadi seseorang yang lain dari identiti asalnya, seperti bercakap dalam telor Austria dan cuba berjinak-jinak dengan apa yang ditakrifnya sebagai ‘Timur’ dengan mengamalkan Yoga. Tidak dilupakan juga si orang tua dari cerpen ‘Chief Sitting Bull’ yang, setelah tiada lagi berguna kepada sistem ekonomi dan tampaknya tidak mampu untuk menyumbang kepada komunitinya, menghabiskan sisa-sisa harinya bermain sebagai seorang kanak-kanak di taman permainan. Selain dari keanehan-keanehan yang tidak berbahaya ini, ada juga yang membawa kemudaratan. Contohnya perbuatan watak ‘Sybil’ dari cerpen senama. Sybil merupakan anak dari sebuah keluarga dysfunctional – hasil penjagaan ibu tunggal yang tiada masa untuk menjaganya dan malah, terang-terang melakukan hubungan sulit dengan suami orang di hadapan Sybil. Kemudian, Sybil diamanahkan menjaga anak perempuan kekasih ibunya setelah ibunya keluar. Apa yang berlaku di akhir cerita menggambarkan sejenis keruntuhan (ataupun kekosongan?) moral yang dibilang Umar Kayam sebagai salah satu ciri masyarakat angkatnya.
Cerpen ‘Sri Sumarah’ dan ‘Bawuk’ pula bertempat di Indonesia, dan kedua-duanya mempertengahkan perempuan sebagai tokoh utama. Sri Sumarah dan Bawuk mempunyai persamaan dalam hal penyerahan terhadap kondisi sejarah juga, biarpun dari aspek yang berbeza. Sri Sumarah menyerah kepada fungsinya sebagai seorang wanita feudal yang setia kepada suaminya, neneknya dan juga tuntutan masyarakat terhadapnya. Dia tidak pernah melawan, apalagi berkeras, kerana kemahuannya telah diserasikan kemahuan masyarakat tradisionalnya. Segala peristiwa yang menimpanya diterima dengan pasrah, sama ada pemberhentian persekolahannya untuk berkahwin, mahupun keterlibatan anaknya dalam gerakan komunis. Tidak dinyatakan secara jelas sikap mudah menyerah Sri Sumarah sebagai satu sikap yang positif atau negatif. Ia boleh dikatakan positif kerana perkahwinannya bahagia sahaja, walaupun ia akhirnya dipotong singkat oleh kematian suaminya. Juga sikap pasrahnya menjadikan dirinya seorang yang realis dalam menyesuaikan diri menurut tuntutan suasana sekeliling; sebagai contoh, setelah tanahnya disita oleh pemerintah, dia menggunakan kepakarannya sebagai tukang picit untuk mencari nafkah, dan dia bekerja untuk sesiapa sahaja, termasuklah (dan kebanyakannya) agen-agen pemerintah yang bersekongkol dalam perampasan tanahnya. Keakrabannya dengan puak pemerintah juga memudahkan dirinya meraih simpati oleh mereka, biarpun dia ibu seorang aktivis kiri. Dengan duit upahnya jugalah dia mampu menziarah anaknya di penjara (yang menyerah setelah dipujuknya untuk berserah sahaja sepertinya kepada keadaan sekeliling.) Namun, ironinya sikap pasrah Sri Sumarah yang dikatakan sebagai rukun utama perempuan Timur telah juga menjadi punca dia melanggar tatanan rukun yang sama. Dia menyerah sahaja kepada nafsunya setelah dipujuk, dan digoda, oleh seorang tauke muda yang mahu dia melakukan sesuatu yang bukan sekadar memicit tubuhnya. Sikap mudah menyerah Sri Sumarah, walaupun menyelamatkan dirinya dari kebinasaan fizikal dalam zaman kegawatan politik, telah memudahkan dirinya melanggar tatanan moral yang dipegangnya dari kecil.
Bawuk juga ialah seorang perempuan yang berserah terhadap peranannya dengan caranya yang tersendiri. Dalam cerpen ‘Bawuk’, kita ketahui bahawa watak utama itu merupakan seorang yang kanak-kanak yang periang dan sering menggembirakan seisi keluarga dengan aura positifnya. Tetapi, hal ini berubah setelah dia mengahwini seorang tokoh kiri yang mahsyur. Mahu tidak mahu, dia terjerumus dalam intrig politik pembangkang kerana hubungannya dengan suaminya. Dan keterlibatannya makin aktif setelah berlakunya peristiwa Gestapu yang menyebabkan pembantaian kaum komunis di seluruh Indonesia. Dia terpaksa hidup dalam pelarian bersama anak-anaknya, di samping menjadi utusan untuk menyampaikan maklumat sulit antara sel-sel komunis yang masih terselamat dari pembantaian. Demi keselamatan anak-anaknya, Bawuk membawa mereka pulang ke kampung untuk dijaga ibunya. Adik-beradiknya masing-masing memujuk agar dia meninggalkan suaminya dan politiknya. Di sinilah Bawuk memperlihatkan sikap pasrahnya. Biarpun dia bukanlah anggota kiri yang beriman kepada ideologinya, dia tetap mahu kembali ke bawah tanah semata-mata untuk menunggu suaminya. Sekali lagi, adanya ironi yang boleh kelihatan di sini – kerana Bawuk, walaupun dia terlibat secara langsung dalam gerakan yang memperjuangkan idea progresif untuk kaum wanita, tetap memainkan peranan seorang isteri yang setia bersama suaminya, walaupun ia bakal membawa kemudaratan. Tidak diperincikan secara jelas sama ada dia masih bercinta atau tidak kepada suaminya, namun dia sendiri telah menyatakan, bahawa setelah dia mengahwini suaminya, dia mengahwini dunianya. Biarpun dia bukan seorang anggota rasmi parti komunis, dia terpaksa mendokong usaha suaminya yang menjadi pemuka utama partinya. Dia terpaksa meninggalkan keselesaan lama (sebagai seorang kanak-kanak dari keluarga bangsawan) untuk menemani suaminya dalam dunia revolusioner yang “penuh asap dan mesiu. Penuh pengejaran dan pelarian.” Bawuk, secara paradoksnya memainkan peranan sebagai seorang pemberontak sejarah (sebagai aktivis kiri) dan juga sebagai hambanya (isteri yang setia membuta-tuli).
Cerpen ‘Musim Gugur Kembali di Connecticut’ dan ‘Kimono Biru buat Isteri’ juga memaparkan watak yang terperangkap dalam kondisi sejarahnya. Tokoh-tokoh utama dari kedua cerpen ini, Tono dari ‘Musim Gugur’ dan Mus dari ‘Kimono Biru’ merupakan idealis-idealis yang gagal merealisasikan idealisme mereka keranan tuntutan sejarah. Tono, seorang penulis berfahaman humanis yang berjaya dipujuk menyertai gerakan kiri, terpaksa menulis karya-karya propanganda yang dangkal. Keterlibatannya dalam gerakan kiri juga menyebabkan dirinya ditahan sekali oleh puak pemerintah sebaik meledaknya insiden 30 September. Setelah dibebaskan dari penjara, dia berupaya jua menulis karya yang jujur dengan jiwanya, jauh dari tuntutan kepartian yang mengongkong. Malangnya, di penghujung cerita, impian ini tampaknya tidak kesampaian, kerana sejarah menjenguknya lagi, kali ini dalam bentuk uniform tentera pemerintah, untuk menahannya kembali. Dia tetap seorang mangsa sejarah. Idealisme humanisnya terbantut apabila ia baru hendak mekar. Begitulah juga dengan Mus dalam ‘Kimono’. Kali ini, wataknya bukanlah seorang tahanan penjara, dan malah, dia bebas menjelajah ke luar negara kerana dia sebahagian daripada status kuo. Namun, di sebalik kebebasan relatifnya, dia masih terperangkap dalam kondisi sejarahnya yang tersendiri. Gajinya sebagai seorang sarjana tidak cukup untuk membeli kimono biru yang dipesan isterinya apabila dia berada di Jepun. Dia tiada kuasa wang. Makanya, dia membayangkan dirinya sebagai seorang jeneral perang zaman revolusi, yang memperhitung strategi-strategi untuk menawan kubu musuh. Kemudian, dia bertemu Wandi, rakan seperjuang dari Zaman Revolusi. Wandi seorang ahli perniagaan berjaya yang telah mengumpul modal yang banyak untuk menjadikannya seorang yang cukup berpengaruh. Ada sekali dalam pertemuan mereka, mereka berbalah tentang kepentingan ‘nasi bungkus’, atau wang, dalam menggerakkan dunia. Mus masih percaya dengan idealismenya dari zaman Revolusi, yang dihancurkan Wandi dengan mudahnya apabila dia menunjukkan ketidakserasian antara idealismenya dengan perbuatannya sekarang (berfoya-foya dengan perempuan, hidup bergantung kepada duit). Jelaslah, dunia yang digambarkan Umar Kayam dalam kedua-dua cerpen dikuasai sejarah yang asing lagi mengasingkan, dan betapa banyak idealisme yang terbantut perkembangannya kerana tuntutan sejarah yang memusuhi kemahuan individu-individu kerdil.
Ada beberapa hal yang boleh dikritik. Antaranya adalah cara penulis menggambarkan watak-watak Amerikanya. Saya sendiri tidak pernah berada di Amerika, apatah lagi hidup pada zaman 60an di sana. Namun, gambaran yang saya dapati daripada cerpen-cerpen Amerikanya seolah-olah menunjukkan bahawa negara itu merupakan satu hospital bahagia nan gergasi. Penghuni-penghuninya masing-masing mempunyai penyakit jiwa yang paling selamatnya bersifat lucu, atau paling bahayanya bersifat mudarat. Hanya watak-watak Indonesia di dalam cerpen-cerpen itu yang kelihatan ‘normal’ (sekaligus membosankan, kalau dibandingkan dengan keanehan perilaku watak-watak Amerikanya). Saya pasti gambaran ini didokong oleh pengamatan secara langsung Umar Kayam sendiri, dan juga berdasarkan pembacaannya dari karya-karya moden Amerika ketika itu, seperti tulisan J.D. Salinger dan Carson McCullers (yang sering memaparkan watak-watak pinggiran yang berperilakuan ganjil). Walau bagaimanapun, lakarannya terhadap Amerika bagi saya tidak adil, kerana watak-wataknya seakan-akan pameran aneh sarkas yang tidak perlu diketahui sejarahnya dan kemanusiaannya. Berbeza sekali dengan watak-watak dalam cerpen-cerpen Indonesianya, yang dipersembahkan sebagai manusia menyeluruh yang mempunyai sejarah tersendiri, yang memiliki keperibadian yang utuh.Tidak tahulah sama ada penulis telah mengenali tesis One-Dimensional Man Herbert Marcuse, atau idea-idea seumpamanya, yang mencadangkan bahawa peradaban Barat telah menjadikan manusia bersifat satu dimensi, demi memenuhi tuntutan ekonomi kapitalisme yang asing lagi mengasingkan terhadap kepentingan umum.
Satu lagi perkara yang menganggu saya adalah konsepsi kondisi sejarah yang ditonjolkan penulis. Sebagai seorang ahli sosiologi yang terlatih, selamat untuk diperkatakan bahawa penulis cuba menggambarkan watak-wataknya sebagai manusia yang terperangkap dalam kondisi masyarakatnya. Tiada tindakan manusia yang bertempat dalam vakum. Segalanya mempunyai akar dalam kondisi sejarah. Tetapi, perlu diingati, sejarah bukan suatu monolith yang keseluruhannya bersifat abadi. Ada yang boleh diubah, dan ada yang tidak boleh. Sistem yang zalim, contohnya, boleh sahaja diubah – dan bukan manusialah kita sekiranya kita enggan dan sentiasa pasrah dengan keadaan yang zalim. Fitrah manusia pula, tidak boleh. Namun, inipun boleh diperdebatkan sekiranya kita memperhalusi persoalan apakah fitrah sebenar, dan apakah fitrah palsu, dan bagaimana cara untuk mengasingkan kedua-duanya. Malangnya, di dalam cerpen-cerpen Sri Sumarah, sejarah dipersembahkan sebagai raksasa yang kuasanya bersifat sehala. Dan manusia-manusia hanyalah watak kerdil yang hanya mampu memberi perlawanan kecil dan tidak efektif. Malah, pergerakan kolektif yang tersusun untuk mencorak sejarah, seperti gerakan kiri yang dipaparkan dalam cerpen-cerpennya, digambarkan sebagai gerakan orang gila yang pasti gagal dalam usaha mereka.
Sebagai karya yang merakam kondisi zamannya, pada hemat saya, Sri Sumarah telah berjaya dengan cemerlangnya. Ia menginsafkan kita terhadap kekerdilan manusia yang mudah dibentuk kondisi masyarakatnya, dan keterasingan individu dari kondisi sejarah untuk mengubahnya. Namun, sebagai karya yang memberi inspirasi untuk tindakan seterusnya, Sri Sumarah kurang menyerlah, malah mudah mengalah, dengan membawa usul yang meskipun kelihatan realist, berbaur defeatist dan pesimis. Lagipun, bukankah realisme juga beerti adanya harapan kemenangan untuk insan-insan kerdil dalam melawan ketidakdilan kondisi sejarah?
p/s: Sebenarnya saya ada tulis resensi yang lebih panjang dan terperinci. Namun, ruang resensi Goodreads tak cukup besar untuk menampungnya. Terpaksa saya menghidupkan blog lama yang tak aktif.
Kalau berkelapangan, jemputlah baca di sini (Amaran: Spoiler Alert): https://shafiqrazajan.wordpress.com/
Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini dikarang pada zaman 1960an hingga 1970an, ketika penulis berada di Amerika Syarikat untuk pengajian pascasiswazah, dan juga ketika beliau sendiri menyaksikan peristiwa 30 September 1965 sekembalinya beliau ke Indonesia. Oleh itu, tidak hairanlah cerpen-cerpennya mengambil latar di Amerika Syarikat atau di Indonesia pada zaman gelodak politik.
Watak-watak di dalam kesemua cerpen itu diperlihatkan sebagai seseorang yang terperangkap dalam kondisi sejarahnya. Dan ada yang melawan kondisi ini, dan ada juga yang menyerah. Tetapi, apapun tindakan mereka, hasilnya hampir seragam: mereka tetap kalah.
Dalam cerpen-cerpen dari buku Seribu Kunang, kebanyakan wataknya ialah warga Amerika yang terperangkap dalam kondisi masyarakatnya yang asing lagi mengasingkan. Kehidupan telah diatomisasi oleh sistem kapitalisme lanjut (late capitalism) yang telah berjaya menjajah ruang kehidupan peribadi demi kepentingan golongan tertentu. Akibatnya, sifat kemasyarakatan sudah terlupus, dan anggotanya dipenjara dalam kesepian dan keterasingan. Atau sekurang-kurangnya itulah yang digambarkan oleh Umar Kayam sebagai Amerika yang dikenalinya.
Atas perasaan kesepian ini, watak-watak Amerika ciptaan pengarang seringkali memberontak kondisi sejarah mereka dengan cara-cara tersendirinya yang pelik (tiada solidariti atau usaha kolektif kerana lemahnya sistem kemasyarakatan). Antaranya, Madame Schlitz – dari cerpen ‘Isteriku, Madame Schlitz dan Sang Raksasa’ – cuba menjadi seseorang yang lain dari identiti asalnya, seperti bercakap dalam telor Austria dan cuba berjinak-jinak dengan apa yang ditakrifnya sebagai ‘Timur’ dengan mengamalkan Yoga. Tidak dilupakan juga si orang tua dari cerpen ‘Chief Sitting Bull’ yang, setelah tiada lagi berguna kepada sistem ekonomi dan tampaknya tidak mampu untuk menyumbang kepada komunitinya, menghabiskan sisa-sisa harinya bermain sebagai seorang kanak-kanak di taman permainan. Selain dari keanehan-keanehan yang tidak berbahaya ini, ada juga yang membawa kemudaratan. Contohnya perbuatan watak ‘Sybil’ dari cerpen senama. Sybil merupakan anak dari sebuah keluarga dysfunctional – hasil penjagaan ibu tunggal yang tiada masa untuk menjaganya dan malah, terang-terang melakukan hubungan sulit dengan suami orang di hadapan Sybil. Kemudian, Sybil diamanahkan menjaga anak perempuan kekasih ibunya setelah ibunya keluar. Apa yang berlaku di akhir cerita menggambarkan sejenis keruntuhan (ataupun kekosongan?) moral yang dibilang Umar Kayam sebagai salah satu ciri masyarakat angkatnya.
Cerpen ‘Sri Sumarah’ dan ‘Bawuk’ pula bertempat di Indonesia, dan kedua-duanya mempertengahkan perempuan sebagai tokoh utama. Sri Sumarah dan Bawuk mempunyai persamaan dalam hal penyerahan terhadap kondisi sejarah juga, biarpun dari aspek yang berbeza. Sri Sumarah menyerah kepada fungsinya sebagai seorang wanita feudal yang setia kepada suaminya, neneknya dan juga tuntutan masyarakat terhadapnya. Dia tidak pernah melawan, apalagi berkeras, kerana kemahuannya telah diserasikan kemahuan masyarakat tradisionalnya. Segala peristiwa yang menimpanya diterima dengan pasrah, sama ada pemberhentian persekolahannya untuk berkahwin, mahupun keterlibatan anaknya dalam gerakan komunis. Tidak dinyatakan secara jelas sikap mudah menyerah Sri Sumarah sebagai satu sikap yang positif atau negatif. Ia boleh dikatakan positif kerana perkahwinannya bahagia sahaja, walaupun ia akhirnya dipotong singkat oleh kematian suaminya. Juga sikap pasrahnya menjadikan dirinya seorang yang realis dalam menyesuaikan diri menurut tuntutan suasana sekeliling; sebagai contoh, setelah tanahnya disita oleh pemerintah, dia menggunakan kepakarannya sebagai tukang picit untuk mencari nafkah, dan dia bekerja untuk sesiapa sahaja, termasuklah (dan kebanyakannya) agen-agen pemerintah yang bersekongkol dalam perampasan tanahnya. Keakrabannya dengan puak pemerintah juga memudahkan dirinya meraih simpati oleh mereka, biarpun dia ibu seorang aktivis kiri. Dengan duit upahnya jugalah dia mampu menziarah anaknya di penjara (yang menyerah setelah dipujuknya untuk berserah sahaja sepertinya kepada keadaan sekeliling.) Namun, ironinya sikap pasrah Sri Sumarah yang dikatakan sebagai rukun utama perempuan Timur telah juga menjadi punca dia melanggar tatanan rukun yang sama. Dia menyerah sahaja kepada nafsunya setelah dipujuk, dan digoda, oleh seorang tauke muda yang mahu dia melakukan sesuatu yang bukan sekadar memicit tubuhnya. Sikap mudah menyerah Sri Sumarah, walaupun menyelamatkan dirinya dari kebinasaan fizikal dalam zaman kegawatan politik, telah memudahkan dirinya melanggar tatanan moral yang dipegangnya dari kecil.
Bawuk juga ialah seorang perempuan yang berserah terhadap peranannya dengan caranya yang tersendiri. Dalam cerpen ‘Bawuk’, kita ketahui bahawa watak utama itu merupakan seorang yang kanak-kanak yang periang dan sering menggembirakan seisi keluarga dengan aura positifnya. Tetapi, hal ini berubah setelah dia mengahwini seorang tokoh kiri yang mahsyur. Mahu tidak mahu, dia terjerumus dalam intrig politik pembangkang kerana hubungannya dengan suaminya. Dan keterlibatannya makin aktif setelah berlakunya peristiwa Gestapu yang menyebabkan pembantaian kaum komunis di seluruh Indonesia. Dia terpaksa hidup dalam pelarian bersama anak-anaknya, di samping menjadi utusan untuk menyampaikan maklumat sulit antara sel-sel komunis yang masih terselamat dari pembantaian. Demi keselamatan anak-anaknya, Bawuk membawa mereka pulang ke kampung untuk dijaga ibunya. Adik-beradiknya masing-masing memujuk agar dia meninggalkan suaminya dan politiknya. Di sinilah Bawuk memperlihatkan sikap pasrahnya. Biarpun dia bukanlah anggota kiri yang beriman kepada ideologinya, dia tetap mahu kembali ke bawah tanah semata-mata untuk menunggu suaminya. Sekali lagi, adanya ironi yang boleh kelihatan di sini – kerana Bawuk, walaupun dia terlibat secara langsung dalam gerakan yang memperjuangkan idea progresif untuk kaum wanita, tetap memainkan peranan seorang isteri yang setia bersama suaminya, walaupun ia bakal membawa kemudaratan. Tidak diperincikan secara jelas sama ada dia masih bercinta atau tidak kepada suaminya, namun dia sendiri telah menyatakan, bahawa setelah dia mengahwini suaminya, dia mengahwini dunianya. Biarpun dia bukan seorang anggota rasmi parti komunis, dia terpaksa mendokong usaha suaminya yang menjadi pemuka utama partinya. Dia terpaksa meninggalkan keselesaan lama (sebagai seorang kanak-kanak dari keluarga bangsawan) untuk menemani suaminya dalam dunia revolusioner yang “penuh asap dan mesiu. Penuh pengejaran dan pelarian.” Bawuk, secara paradoksnya memainkan peranan sebagai seorang pemberontak sejarah (sebagai aktivis kiri) dan juga sebagai hambanya (isteri yang setia membuta-tuli).
Cerpen ‘Musim Gugur Kembali di Connecticut’ dan ‘Kimono Biru buat Isteri’ juga memaparkan watak yang terperangkap dalam kondisi sejarahnya. Tokoh-tokoh utama dari kedua cerpen ini, Tono dari ‘Musim Gugur’ dan Mus dari ‘Kimono Biru’ merupakan idealis-idealis yang gagal merealisasikan idealisme mereka keranan tuntutan sejarah. Tono, seorang penulis berfahaman humanis yang berjaya dipujuk menyertai gerakan kiri, terpaksa menulis karya-karya propanganda yang dangkal. Keterlibatannya dalam gerakan kiri juga menyebabkan dirinya ditahan sekali oleh puak pemerintah sebaik meledaknya insiden 30 September. Setelah dibebaskan dari penjara, dia berupaya jua menulis karya yang jujur dengan jiwanya, jauh dari tuntutan kepartian yang mengongkong. Malangnya, di penghujung cerita, impian ini tampaknya tidak kesampaian, kerana sejarah menjenguknya lagi, kali ini dalam bentuk uniform tentera pemerintah, untuk menahannya kembali. Dia tetap seorang mangsa sejarah. Idealisme humanisnya terbantut apabila ia baru hendak mekar. Begitulah juga dengan Mus dalam ‘Kimono’. Kali ini, wataknya bukanlah seorang tahanan penjara, dan malah, dia bebas menjelajah ke luar negara kerana dia sebahagian daripada status kuo. Namun, di sebalik kebebasan relatifnya, dia masih terperangkap dalam kondisi sejarahnya yang tersendiri. Gajinya sebagai seorang sarjana tidak cukup untuk membeli kimono biru yang dipesan isterinya apabila dia berada di Jepun. Dia tiada kuasa wang. Makanya, dia membayangkan dirinya sebagai seorang jeneral perang zaman revolusi, yang memperhitung strategi-strategi untuk menawan kubu musuh. Kemudian, dia bertemu Wandi, rakan seperjuang dari Zaman Revolusi. Wandi seorang ahli perniagaan berjaya yang telah mengumpul modal yang banyak untuk menjadikannya seorang yang cukup berpengaruh. Ada sekali dalam pertemuan mereka, mereka berbalah tentang kepentingan ‘nasi bungkus’, atau wang, dalam menggerakkan dunia. Mus masih percaya dengan idealismenya dari zaman Revolusi, yang dihancurkan Wandi dengan mudahnya apabila dia menunjukkan ketidakserasian antara idealismenya dengan perbuatannya sekarang (berfoya-foya dengan perempuan, hidup bergantung kepada duit). Jelaslah, dunia yang digambarkan Umar Kayam dalam kedua-dua cerpen dikuasai sejarah yang asing lagi mengasingkan, dan betapa banyak idealisme yang terbantut perkembangannya kerana tuntutan sejarah yang memusuhi kemahuan individu-individu kerdil.
Ada beberapa hal yang boleh dikritik. Antaranya adalah cara penulis menggambarkan watak-watak Amerikanya. Saya sendiri tidak pernah berada di Amerika, apatah lagi hidup pada zaman 60an di sana. Namun, gambaran yang saya dapati daripada cerpen-cerpen Amerikanya seolah-olah menunjukkan bahawa negara itu merupakan satu hospital bahagia nan gergasi. Penghuni-penghuninya masing-masing mempunyai penyakit jiwa yang paling selamatnya bersifat lucu, atau paling bahayanya bersifat mudarat. Hanya watak-watak Indonesia di dalam cerpen-cerpen itu yang kelihatan ‘normal’ (sekaligus membosankan, kalau dibandingkan dengan keanehan perilaku watak-watak Amerikanya). Saya pasti gambaran ini didokong oleh pengamatan secara langsung Umar Kayam sendiri, dan juga berdasarkan pembacaannya dari karya-karya moden Amerika ketika itu, seperti tulisan J.D. Salinger dan Carson McCullers (yang sering memaparkan watak-watak pinggiran yang berperilakuan ganjil). Walau bagaimanapun, lakarannya terhadap Amerika bagi saya tidak adil, kerana watak-wataknya seakan-akan pameran aneh sarkas yang tidak perlu diketahui sejarahnya dan kemanusiaannya. Berbeza sekali dengan watak-watak dalam cerpen-cerpen Indonesianya, yang dipersembahkan sebagai manusia menyeluruh yang mempunyai sejarah tersendiri, yang memiliki keperibadian yang utuh.Tidak tahulah sama ada penulis telah mengenali tesis One-Dimensional Man Herbert Marcuse, atau idea-idea seumpamanya, yang mencadangkan bahawa peradaban Barat telah menjadikan manusia bersifat satu dimensi, demi memenuhi tuntutan ekonomi kapitalisme yang asing lagi mengasingkan terhadap kepentingan umum.
Satu lagi perkara yang menganggu saya adalah konsepsi kondisi sejarah yang ditonjolkan penulis. Sebagai seorang ahli sosiologi yang terlatih, selamat untuk diperkatakan bahawa penulis cuba menggambarkan watak-wataknya sebagai manusia yang terperangkap dalam kondisi masyarakatnya. Tiada tindakan manusia yang bertempat dalam vakum. Segalanya mempunyai akar dalam kondisi sejarah. Tetapi, perlu diingati, sejarah bukan suatu monolith yang keseluruhannya bersifat abadi. Ada yang boleh diubah, dan ada yang tidak boleh. Sistem yang zalim, contohnya, boleh sahaja diubah – dan bukan manusialah kita sekiranya kita enggan dan sentiasa pasrah dengan keadaan yang zalim. Fitrah manusia pula, tidak boleh. Namun, inipun boleh diperdebatkan sekiranya kita memperhalusi persoalan apakah fitrah sebenar, dan apakah fitrah palsu, dan bagaimana cara untuk mengasingkan kedua-duanya. Malangnya, di dalam cerpen-cerpen Sri Sumarah, sejarah dipersembahkan sebagai raksasa yang kuasanya bersifat sehala. Dan manusia-manusia hanyalah watak kerdil yang hanya mampu memberi perlawanan kecil dan tidak efektif. Malah, pergerakan kolektif yang tersusun untuk mencorak sejarah, seperti gerakan kiri yang dipaparkan dalam cerpen-cerpennya, digambarkan sebagai gerakan orang gila yang pasti gagal dalam usaha mereka.
Sebagai karya yang merakam kondisi zamannya, pada hemat saya, Sri Sumarah telah berjaya dengan cemerlangnya. Ia menginsafkan kita terhadap kekerdilan manusia yang mudah dibentuk kondisi masyarakatnya, dan keterasingan individu dari kondisi sejarah untuk mengubahnya. Namun, sebagai karya yang memberi inspirasi untuk tindakan seterusnya, Sri Sumarah kurang menyerlah, malah mudah mengalah, dengan membawa usul yang meskipun kelihatan realist, berbaur defeatist dan pesimis. Lagipun, bukankah realisme juga beerti adanya harapan kemenangan untuk insan-insan kerdil dalam melawan ketidakdilan kondisi sejarah?
p/s: Sebenarnya saya ada tulis resensi yang lebih panjang dan terperinci. Namun, ruang resensi Goodreads tak cukup besar untuk menampungnya. Terpaksa saya menghidupkan blog lama yang tak aktif.
Kalau berkelapangan, jemputlah baca di sini (Amaran: Spoiler Alert): https://shafiqrazajan.wordpress.com/
July 5, 2021
*📖 Review Buku 📖*
📗 *Judul :* _Sri Sumarah_
🖊️ *Penulis:* Umar Kayam
🖨️ *Penerbit :* PT Pustaka Utama Grafiti
📆 *Tahun :* Cetakan III (Edisi Khusus), Agustus 2004
📚 *Tebal :* 272 halaman
🛡️ *ISBN:* 979-444-428-6
🧕 *Reviewer :* *Fionna Christabella*
🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵
Umar Kayam, seorang penulis, mantan Dirjen Departemen Penerangan tahun 1966-1969, serta akademisi bergelar _Doctor of Philosophy_ dari Cornell University mulai menulis karya sastra terutama cerita pendek sejak tahun 60-an. Cerpennya _Seribu Kunang-kunang di Manhattan_ yang dimuat di Majalah Horison terpilih sebagai cerpen terbaik tahun 1968 versi majalah tersebut dan dicetak sebagai buku tersendiri dengan memuat 7 cerpen lainnya juga yaitu "Istriku, Madam Schlitz, dan Sang Raksasa," "Sybil," "Secangkir Kopi dan Sepotong Donat," "Chief Sitting Bull," "There Goes Tatum," "Musim Gugur Kembali di Connecticut," dan "Kimono Biru buat Istri." Di buku edisi khusus yang baru saja saya baca ini tujuh cerpen tersebut ditambah dari buku lainnya berjudul _Sri Sumarah_ yang memuat "Bawuk" dan "Sri Sumarah." Keuntungan bagi saya bisa membaca sekalian dua buku.
Buku kumcer _Seribu Kunang - Kunang di Mahanttan" serta 7 cerita lainnya secara garis besar berkisah tentang orang - orang Indonesia yang hidup di Amerika yaitu Manhattan dan New York. Bagaimana mereka menghadapi _shock culture_ (gegar budaya) di negara lain. Seperti halnya Marno yang melihat "lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang - kunang yang suka bertabur malam - malam di sawah embahnya di desa" (hal. 5). Suatu romantisme yang dikelola dari suasana kota besar Manhattan dengan suasana desa. Alegori perjalanan hidup yang membawa Marto jauh dari kampung halaman tetapi kemudian ia menemukan sepotong ingatan akan kunang - kunang pada lampu - lampu yang berkelipan.
Pada kumcer "Sri Sumarah" dan "Bawuk" keduanya berkisah tentang dua perempuan yaitu bernama Bawuk dan Sri Sumarah yang hidup saat revolusi tahun 60 an. Bawuk, seorang anak bangsawan yang memilih menikah dengan Hassan - laki - laki pemimpin pergerakan PKI.
"Hidup adalah pilihan dan kitalah yang menanggung konsekuensinya." Betapa pepatah lama tersebut mendapatkan gambaran nyata dalam hidup Bawuk. Sebagai istri Hassan, ia pun hidup sebagai pelarian, menaati visi dan misi partai, jauh dari kemewahan yang pernah didapatnya saat kecil dan hidup terpisah dari anak - anaknya meski Bawuk sendiri tidak pernah mengakui bahwa ia adalah komunis.
Sedangkan, "Sri Sumarah" adalah cerpen berdasar nama dari tokoh utamanya. Sebuah kisah perjalanan Sri yang Sumarah menjadi "guru pijat," sebuah istilah yg serta merta dilekatkan karena almarhum suaminya seorang guru kacamatan, dan hidup membawanya menjadi juru pijat panggilan. Sumarah yang dalam bahasa Jawa berarti sabar menerima, menjadi pedoman bagi dirinya menghadapi kematian suaminya, kehamilan anaknya di usia muda dan terusir dari rumah, tanah kelahirannya karena revolusi tahun 60an. "Nama adalah doa," demikian pula Sumarah pada nama Sri Sumarah, kesabaran adalah doa sepanjang hidupnya.
🍂🌾☘️🍂🌾☘️🍂🌾☘️🍂🌾☘️
📗 *Judul :* _Sri Sumarah_
🖊️ *Penulis:* Umar Kayam
🖨️ *Penerbit :* PT Pustaka Utama Grafiti
📆 *Tahun :* Cetakan III (Edisi Khusus), Agustus 2004
📚 *Tebal :* 272 halaman
🛡️ *ISBN:* 979-444-428-6
🧕 *Reviewer :* *Fionna Christabella*
🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵
Umar Kayam, seorang penulis, mantan Dirjen Departemen Penerangan tahun 1966-1969, serta akademisi bergelar _Doctor of Philosophy_ dari Cornell University mulai menulis karya sastra terutama cerita pendek sejak tahun 60-an. Cerpennya _Seribu Kunang-kunang di Manhattan_ yang dimuat di Majalah Horison terpilih sebagai cerpen terbaik tahun 1968 versi majalah tersebut dan dicetak sebagai buku tersendiri dengan memuat 7 cerpen lainnya juga yaitu "Istriku, Madam Schlitz, dan Sang Raksasa," "Sybil," "Secangkir Kopi dan Sepotong Donat," "Chief Sitting Bull," "There Goes Tatum," "Musim Gugur Kembali di Connecticut," dan "Kimono Biru buat Istri." Di buku edisi khusus yang baru saja saya baca ini tujuh cerpen tersebut ditambah dari buku lainnya berjudul _Sri Sumarah_ yang memuat "Bawuk" dan "Sri Sumarah." Keuntungan bagi saya bisa membaca sekalian dua buku.
Buku kumcer _Seribu Kunang - Kunang di Mahanttan" serta 7 cerita lainnya secara garis besar berkisah tentang orang - orang Indonesia yang hidup di Amerika yaitu Manhattan dan New York. Bagaimana mereka menghadapi _shock culture_ (gegar budaya) di negara lain. Seperti halnya Marno yang melihat "lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang - kunang yang suka bertabur malam - malam di sawah embahnya di desa" (hal. 5). Suatu romantisme yang dikelola dari suasana kota besar Manhattan dengan suasana desa. Alegori perjalanan hidup yang membawa Marto jauh dari kampung halaman tetapi kemudian ia menemukan sepotong ingatan akan kunang - kunang pada lampu - lampu yang berkelipan.
Pada kumcer "Sri Sumarah" dan "Bawuk" keduanya berkisah tentang dua perempuan yaitu bernama Bawuk dan Sri Sumarah yang hidup saat revolusi tahun 60 an. Bawuk, seorang anak bangsawan yang memilih menikah dengan Hassan - laki - laki pemimpin pergerakan PKI.
"Hidup adalah pilihan dan kitalah yang menanggung konsekuensinya." Betapa pepatah lama tersebut mendapatkan gambaran nyata dalam hidup Bawuk. Sebagai istri Hassan, ia pun hidup sebagai pelarian, menaati visi dan misi partai, jauh dari kemewahan yang pernah didapatnya saat kecil dan hidup terpisah dari anak - anaknya meski Bawuk sendiri tidak pernah mengakui bahwa ia adalah komunis.
Sedangkan, "Sri Sumarah" adalah cerpen berdasar nama dari tokoh utamanya. Sebuah kisah perjalanan Sri yang Sumarah menjadi "guru pijat," sebuah istilah yg serta merta dilekatkan karena almarhum suaminya seorang guru kacamatan, dan hidup membawanya menjadi juru pijat panggilan. Sumarah yang dalam bahasa Jawa berarti sabar menerima, menjadi pedoman bagi dirinya menghadapi kematian suaminya, kehamilan anaknya di usia muda dan terusir dari rumah, tanah kelahirannya karena revolusi tahun 60an. "Nama adalah doa," demikian pula Sumarah pada nama Sri Sumarah, kesabaran adalah doa sepanjang hidupnya.
🍂🌾☘️🍂🌾☘️🍂🌾☘️🍂🌾☘️
October 24, 2007
Cerpen "Sri Sumarah" tak akan pernah terlupakan seumur hidup...
August 27, 2023
Judul: Sri Sumarah
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Jaya
Dimensi: 260 hlm, cetakan ketiga 1995
ISBN: 9794191329
Jika melihat nama penulis, yang terbayang pasti "Seribu kunang-kunang di Manhattan" dan #cerpen itu memang ada di #kumcer ini. Namun, bagi saya "Sri Sumarah" tetap yang paling memikat. Kalimat pertama hingga deskripsi dan endingnya begitu menarik dan tak membosankan. Sisanya biasa saja. Terutama cerpen "Chief Sitting Bull", "Musim gugur kembali di Connecticut", dan "Kimono biru untuk istri" yang endingnya agak gantung dan saya kurang paham budaya serta latar waktu di 3 cerpen tsb.
Menilik 10 cerpen di dalam #buku ini, terlihat sekali penulis banyak menjelajah serta deskripsi latarnya begitu bagus. Saya bisa bayangkan zaman itu sebagaimana yang disampaikan penulis. Hanya satu konflik utama, selalu tentang gerakan kiri/komunis.
Mungkin sebab cetakan lama, fontnya agak buat mengantuk dan kertasnya kurang bagus. Sudah hampir lepas dan terburai jilidnya.
Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.
"Kalau ada yang tidak pernah mau mengalah menunggu, itu adalah usia namanya." (H.61)
"Kalau Nyonya kawin dengan seseorang yang Nyonya kagumi dan cintai betul, Nyonya akan mengambil oper semua kebiasaannya menjadi kebiasaan Nyonya." (H.142)
Meta morfillah
#1hari1tulisan #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #umarkayam
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Jaya
Dimensi: 260 hlm, cetakan ketiga 1995
ISBN: 9794191329
Jika melihat nama penulis, yang terbayang pasti "Seribu kunang-kunang di Manhattan" dan #cerpen itu memang ada di #kumcer ini. Namun, bagi saya "Sri Sumarah" tetap yang paling memikat. Kalimat pertama hingga deskripsi dan endingnya begitu menarik dan tak membosankan. Sisanya biasa saja. Terutama cerpen "Chief Sitting Bull", "Musim gugur kembali di Connecticut", dan "Kimono biru untuk istri" yang endingnya agak gantung dan saya kurang paham budaya serta latar waktu di 3 cerpen tsb.
Menilik 10 cerpen di dalam #buku ini, terlihat sekali penulis banyak menjelajah serta deskripsi latarnya begitu bagus. Saya bisa bayangkan zaman itu sebagaimana yang disampaikan penulis. Hanya satu konflik utama, selalu tentang gerakan kiri/komunis.
Mungkin sebab cetakan lama, fontnya agak buat mengantuk dan kertasnya kurang bagus. Sudah hampir lepas dan terburai jilidnya.
Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.
"Kalau ada yang tidak pernah mau mengalah menunggu, itu adalah usia namanya." (H.61)
"Kalau Nyonya kawin dengan seseorang yang Nyonya kagumi dan cintai betul, Nyonya akan mengambil oper semua kebiasaannya menjadi kebiasaan Nyonya." (H.142)
Meta morfillah
#1hari1tulisan #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #umarkayam
August 12, 2025
Buku ini memuatkan empat kumpulan cerpen; hanya tiga cerpen pertama yang saya faham, manakala cerpen yang terakhir, saya langsung tidak mengerti apa yang Umar Kayam ingin sampaikan. Dinyatakan pada kulit belakang buku ini, “ditulis sebagai upayanya untuk memahami siapa yang “harus” dan “tidak harus” menjadi korban atas datangnya suatu orde di Indonesia pada tahun 1965.”
Namun, pada hemat peribadi saya, hanya cerpen yang kedua, “Bawuk” sahaja yang berupaya menggendong harapan penulis ini. Diakui bahawa cerpen-cerpen yang terkandung dalam buku ini ada menyentuh perihal PKI, GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh atau G-30S/PKI) dan politik sekitar tahun 1965, namun ia tidak berupaya membongkar dan menayangkan secara terperinci keadaan yang wujud pada ketika itu. Tapi, membaca berkenaan watak-watak yang menjadi pelarian sebenarnya sudah memadai untuk menyentuh hati nurani. Betapa kejamnya mereka yang berkuasa.
Cerpen yang pertama pula, “Sri Sumarah”—saya diperlihatkan dengan keteguhan wanita Jawa dalam menghadapi kehidupan, terutamanya apabila anaknya menghadapi kemelut politik kerana dituduh sebagai komunis. Menghadapi dua zaman yang berbeza bukanlah mudah; terpaksa membaca persekitaran dengan cermat dan setiap langkah yang dibuat pula perlulah berhati-hati.
Antara kesemua cerpen dalam buku ini, saya sangat gemar dengan cerpen “Sri Sumarah” dan “Bawuk”.
Namun, pada hemat peribadi saya, hanya cerpen yang kedua, “Bawuk” sahaja yang berupaya menggendong harapan penulis ini. Diakui bahawa cerpen-cerpen yang terkandung dalam buku ini ada menyentuh perihal PKI, GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh atau G-30S/PKI) dan politik sekitar tahun 1965, namun ia tidak berupaya membongkar dan menayangkan secara terperinci keadaan yang wujud pada ketika itu. Tapi, membaca berkenaan watak-watak yang menjadi pelarian sebenarnya sudah memadai untuk menyentuh hati nurani. Betapa kejamnya mereka yang berkuasa.
Cerpen yang pertama pula, “Sri Sumarah”—saya diperlihatkan dengan keteguhan wanita Jawa dalam menghadapi kehidupan, terutamanya apabila anaknya menghadapi kemelut politik kerana dituduh sebagai komunis. Menghadapi dua zaman yang berbeza bukanlah mudah; terpaksa membaca persekitaran dengan cermat dan setiap langkah yang dibuat pula perlulah berhati-hati.
Antara kesemua cerpen dalam buku ini, saya sangat gemar dengan cerpen “Sri Sumarah” dan “Bawuk”.
February 10, 2025
This book is drenched in pain and sorrow, offering a perspective on the 1965 tragedy that is rarely explored, not from the government’s or the Communist Party’s point of view, but from the perspective of the families caught in between.
The Sri Sumarah chapter really resonated with me, teaching the essence of surrender (legowo), accepting fate while continuing to work hard, even in the face of uncertainty. Sri Sumarah’s quiet endurance, as she waits for news of her daughter and son in law who are being hunted, is deeply moving. Meanwhile, Bawuk tells the story of a woman who must let go of her children and live as a fugitive due to her determination to find her missing PKI-affiliated husband. Both stories paint a heartbreaking yet important picture of the human cost of the era.
For anyone wanting to explore another perspective on this tragedy, I’d recommend Laut Bercerita by Chudori as well, it fills in another side of the story, reminding us that history is often a puzzle with many missing pieces.
I don’t know what else to say. The hollow aftertaste this book leaves is something I don’t particularly like, but maybe that’s the point.
The Sri Sumarah chapter really resonated with me, teaching the essence of surrender (legowo), accepting fate while continuing to work hard, even in the face of uncertainty. Sri Sumarah’s quiet endurance, as she waits for news of her daughter and son in law who are being hunted, is deeply moving. Meanwhile, Bawuk tells the story of a woman who must let go of her children and live as a fugitive due to her determination to find her missing PKI-affiliated husband. Both stories paint a heartbreaking yet important picture of the human cost of the era.
For anyone wanting to explore another perspective on this tragedy, I’d recommend Laut Bercerita by Chudori as well, it fills in another side of the story, reminding us that history is often a puzzle with many missing pieces.
I don’t know what else to say. The hollow aftertaste this book leaves is something I don’t particularly like, but maybe that’s the point.
May 9, 2023
Good
This entire review has been hidden because of spoilers.
April 20, 2023
Sebelum ini, saya membaca buku 'Para Priyayi'. Buku ini dan 'Para Priyayi' memiliki kesamaan, yaitu pengaruh budaya dalam perilaku para tokohnya. 'Para Priyayi' lebih mendalamdengan ekplorasi terhadap topik budaya dan perilaku masyarakat pada waktunya yang diceritakan dalam sebuah novel. Buku 'Siti Sumarah', adalah kumpulan cerita pendek. Setiap kisah dituangkan dalam lembar yang padat, cepat, dan tanpa akhir yang definitif.
Sebagai salah satu dari kumpulan cerita, kisah 'Siti Sumarah' memiliki kesan yang lebih mendalam, mudah diingat, dan dramatis. Kisat berpusat pada Siti Sumarah yang dididik sejak kecil sebagai perempuan Jawa: patuh, setia, berserah pada nasib, dll. Sepanjang hidupnya, ia mmenjalani nilai-nilai kultural, sampai akhirnya dari nilai yang dianutnya tersebut ia menemukan konflik maupun solusi.
Selebihnya, cerita pendek pada buku ini menggambarkan sudah sedemikian kosmpolit orang-orang Indonesia (baca; Jawa) paska kemerdekaan. Para tokoh ini tinggal di luar negeri, bepergian ke negara lain, beradaptasi, dan berinteraksi dengan berbagai budaya asing tanpa merasa canggung. Indonesia seakan digambarkan tengah menjalani suatu proses perubahan politik dan budaya yang lebih cepat. SIlahkan simak cerita terakhir dari buku ini 'Kimono Baru buat Istri'. Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca.
Sebagai salah satu dari kumpulan cerita, kisah 'Siti Sumarah' memiliki kesan yang lebih mendalam, mudah diingat, dan dramatis. Kisat berpusat pada Siti Sumarah yang dididik sejak kecil sebagai perempuan Jawa: patuh, setia, berserah pada nasib, dll. Sepanjang hidupnya, ia mmenjalani nilai-nilai kultural, sampai akhirnya dari nilai yang dianutnya tersebut ia menemukan konflik maupun solusi.
Selebihnya, cerita pendek pada buku ini menggambarkan sudah sedemikian kosmpolit orang-orang Indonesia (baca; Jawa) paska kemerdekaan. Para tokoh ini tinggal di luar negeri, bepergian ke negara lain, beradaptasi, dan berinteraksi dengan berbagai budaya asing tanpa merasa canggung. Indonesia seakan digambarkan tengah menjalani suatu proses perubahan politik dan budaya yang lebih cepat. SIlahkan simak cerita terakhir dari buku ini 'Kimono Baru buat Istri'. Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca.
October 21, 2012
Baru saja dapat buku ini. Jujur, aku kurang suka dengan cerita Sri Sumarah. Menurutku, Umar Kayam bingung membentuk pribadi Sumarah seperti apa. terlalu banyak metamorfosa pribadi Sumarah. Awal membaca, Sri Sumarah adalah gadis pintar penurut, kemudian istri setia, kemudian single parents perkasa-kemudian nenek dari cucu seorang PKI, kemudian menjadi pemijat kemudian pelacur.
pertanyaanku sebagai pembaca: "Mau dibawa kemana lagi Sri Sumarah?"
tapi cerita Sri Sumarah memberi gambaran padaku bagaimana keadaan politik pada saat itu, khususnya yang dialami oleh keluarga PKI dengan istri Gerwani yang berpindah2 tempat seperti teroris.
Daripada Sri Sumarah, aku lebih suka cerita ala Amerika berjudul "Sybill" dan " Aku, Istriku dan Madame Scaultz"(mqaf kalau salah ketik), alurnya menarik meskipun konflik nya sederhana, disertai gaya percakapan ala Amrik
pertanyaanku sebagai pembaca: "Mau dibawa kemana lagi Sri Sumarah?"
tapi cerita Sri Sumarah memberi gambaran padaku bagaimana keadaan politik pada saat itu, khususnya yang dialami oleh keluarga PKI dengan istri Gerwani yang berpindah2 tempat seperti teroris.
Daripada Sri Sumarah, aku lebih suka cerita ala Amerika berjudul "Sybill" dan " Aku, Istriku dan Madame Scaultz"(mqaf kalau salah ketik), alurnya menarik meskipun konflik nya sederhana, disertai gaya percakapan ala Amrik
September 7, 2014
Baca saat kelas 2 SMA (kalau ingatan ini beres). Yang paling berkesan adalah cerpen Bawuk (iya, ini nama tokohnya) di bagian akhir. Saat itu saya mengira komunis = ateis dan endingnya buat terenyuh. Adegan anak-anaknya dibimbing membaca Al Qur'an oleh ibu Bawuk. Kemanapun dan menjadi apapun manusia, pada Tuhan akhirnya mereka berharap.
Secara keseluruhan ini tentang manusia Indonesia dan prasangka-prasangka mereka.
Secara keseluruhan ini tentang manusia Indonesia dan prasangka-prasangka mereka.
April 1, 2008
setelah sekian lama mencari akhirnya saya dapatkan juga buku ini (salaupun foto kopian dari perpustakaan) muter mencari di pasar johar notabene pasar segala buku bekas tidak ketemu. bagus ceritanya. hanya itu yang bisa saya tulis
January 30, 2019
umar kayam selalu bisa membawa pembacanya di level imajinasi yang berbeda. semua cerpennya selalu memiliki ciri khas dan membuat saya terheran heran bagaimana umar kayam bisa membawa masa lampau kembali begitu hidup
August 29, 2007
khususnya sumarah, so pathetic!
kumpulan cerpen kayam yang menunjukkan
kelasnya sebagai budayawan.
kumpulan cerpen kayam yang menunjukkan
kelasnya sebagai budayawan.
April 17, 2013
Getir, namun hidup harus berjalan, ngelakoni urip, menjalankan hidup, salah satu akar budaya jawa.
December 28, 2017
Versi yang kubaca beda, tapi adanya ini.
December 13, 2015
enrich literature
Displaying 1 - 18 of 18 reviews















