Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Lajar Terkembang” as Want to Read:
Lajar Terkembang
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Lajar Terkembang

3.65  ·  Rating details ·  1,389 Ratings  ·  110 Reviews
Selagi Maria dan Yusuf menjalin percintaan yang mans, Tuti bergelut dengan dirinya sendiri; apakah akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya hanya karena alasan usianya yang semakin bertambah, atau tetap memegang prinsip: lebih baik tidak menikah daripada mendapatkan suami yang tidak sepandangan dan tidak sepaham.

Hubungan Maria dan Yusuf makin mendalam, ketika tiba-
...more
Paperback, 6th ed., 208 pages
Published 1956 by Balai Pustaka (first published 1936)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Lajar Terkembang, please sign up.

Recent Questions

This question contains spoilers… (view spoiler)
This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
nyTa
Aug 29, 2012 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang.

Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah T
...more
Nuke
Jan 23, 2008 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: sudah-dibaca
Meski, aku gak punya koleksi buku ini, karena dahulu itu minjem di perpus SMU, tapi buku ini bener2 berkesan. Setidaknya, aku ingat sewaktu aku membaca buku ini, aku merasa dilempar jauh ke masa Indonesia tempo doeloe, dan rasanya sejuk! (sambil ngeliat foto2 jaman nenek-kakek masih muda).

Tokoh Tuti (bener gak sih :(( ) adalah sosok feminis yang aku suka. Ketika pada akhirnya, pengarang "superstar" kita ini -ST TAKDIR ALISJAHBANA- menyandingkannya dengan calon suami adiknya (yang meninggal), pu
...more
Noni
Yusuf, Maria, dan Tuti. Tiga tokoh inilah sentral cerita novel ini. Saya baca zaman dahulu kala, jauuuuh sebelum kenal GR hehe... Jadi sepintas kesan yang saya ingat dan terngiang-ngiang pada novel ini adalah sebuah review yang saya baca (zaman dahulu kala juga) yaitu sebuah pertanyaan (kritik?), kenapa Yusuf dengan begitu gampang memindahkan cintanya pada Tuti setelah Maria meninggal? Padahal sifat Maria dan Tuti jauh berbeda meskipun mereka berdua bersaudara.
Tapi novel ini penting pada zamanny
...more
Septi
Apr 23, 2017 rated it really liked it  ·  review of another edition
Sepertinya mulai harus menambahi koleksi karya sastra klasik Indonesia. Walaupun ceritanya sebenarnya sederhana,banyak juga yang masih relevan dengan masa sekarang. Belum lagi bahasanya yang indah membuat kita belajar lagi bagaimana betutur kata dengan baik
Lilia Zuhara
Oct 21, 2013 rated it really liked it  ·  review of another edition
Layar terkembang merupakan buku yang muncul pada era sebelum perang dunia kedua. Dalam buku ini dikisahkan dua kakak beradik, Maria dan Tuti. Maria, sang adik, bertemu dengan pria yang akhirnya menjadi tunangannya, yaitu Yusuf. Namun akhirnya Maria sakit dan menyebabkan munculnya kisah yang mungkin akan sulit untuk dipahami di masa sekarang.

Kekuatan buku ini terletak pada penggambaran karakter yang melambangkan dua karakter perempuan yang sama-sama kuat. Maria digambarkan sebagai wanita lemah le
...more
Chicha
Dec 28, 2007 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: semuanya dech
Aduh mak...
dimana lagi cari koleksinya? sudah diterbitkan lagi apa belum ya..
waktu gue SMP nich gue bacanya waktu itu jadi wajib baca saat pelajaran bhs indonesia. sekarang gue pengin punya bisa dibeli dimana ye...
chicha
Kristian Adi nugroho
Salah satu karya legendaris angkatan Pujangga Baru, karya sastra bacaan wajib waktu sekolah.
Meskipun dari sisi alur dan tata bahasa sangatlah oldschool, tapi pesannya masih relevan sampai saat ini mengenai pilihan hidup.
Afdhaliya
Baca buku ini waktu jaman SMP, minjam dari nyokap yang juga minjam dari perpusda :D

ceritanya..?!?! wah, udah rada2 ga ingat :D
Willy Akhdes
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Paundria Dwijastuti
Terakhir baca buku ini jaman SMP, sekarang rindu rasanya pengen baca lagi. Awalnya sedikit bingung dengan tutur bahasanya karena masih menggunakan bahasa Melayu tempo dulu. Ini salah satu buku klasik Indonesia yang sangat direkomendasikan untuk pecinta novel klasik. Buku ini membawa saya ke jaman Indonesia tempo doeloe, menceritakan kisah cinta Maria dan Yusuf, juga Tuti. Disini, saya suka dengan karakter Tuti, seorang feminist pada masanya, kukira. Meskipun tokoh Maria juga tak kalah menarik.
Rahmadi Fajar Himawan
Walau saya lahir bukan di tahun di mana novel ringkas ini diwajibkan untuk dibaca, saya menemukannya di suatu rak perpustakaan, yang menggoda saya untuk mengambilnya.
Kisah cinta anak manusia, Maria dan Yusuf,yang memulai pertemuan mereka di suatu rumah akuarium ikan di Jakarta Utara. Tuti dan Maria merupakan kakak beradik yang berbeda sifat. Tuti selalu bertindak sesuai nalar, dapat mengendalikan diri, dan berfikiran realistis, selalu memutuskan terlebih dahulu apa yang akan diperbuatnya. Berbe
...more
Edy
Aug 15, 2012 rated it liked it  ·  review of another edition
Buku ini bercerita tentang kakak beradik Tuti dan Maria, yang merupakan putri wedana Raden Wiriaatmaja, dengan setting sekitar 1930-an. Tuti sang kakak merupakan seorang guru HIS dan juga aktivis organisasi Perempuan Sedar yang memperjuangkan emansipasi perempuan (ata cenderung feminisme?). Maria, si adik merupakan siswi HBS. Dari sisi karakter, Tuti terkesan serius dan formal. Sedangkan Maria lebih bersifat jenaka, informal dan aktif.

Suatu saat Maria berkenalan dengan Yusuf seorang mahasiswa Se
...more
Randhy Nugroho
Seperti layaknya buku sastra Indonesia yang terbit era Pujangga Baru (1930-1942), buku ini lebih tepat dikatakan sebagai esai yang dibungkus dalam sebuah roman. Yang penuh dengan metafora.

Layar Terkembang memiliki banyak pemikiran-pemikiran yang identik dengan pemikiran yang terungkap di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Hamka) serta Belenggu (Armijn Pane) dimana tokoh wanita ditempatkan sebagai subjek yang memiliki benturan keras dengan adat di-zamannya dan berkutat untuk melepas kekangan terse
...more
Uthie
Jun 21, 2015 rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: favorites
Buku adalah salah satu benda yang membuat saya menyadari kalau waktu sudah berlalu begitu cepat.

Pertama kali saya membaca buku ini saat saya duduk di bangku SMP. Saya termasuk murid yang beruntung mempunyai perpustakaan sekolah yang cukup lengkap dengan buku-buku cerita, salah satu yang menjadi favorit saya waktu itu adalah buku ini. Saat masih duduk di bangku SMP perasaan saya membaca buku ini adalah biasa saja. Tidak ada pengertian tentang keadaan Tuti, Maria dan Yusuf, maupun tentang hubungan
...more
Maliki Putra
Sebuah roman klasik karya STA yang membuat saya terkenang akan masa sekolah dulu. Buku ini memuat kisah dua orang kakak beradik berbeda watak, Tuti dan Maria, dan Yusuf, pemuda asal Sumatera, yang mengukir cerita tentang persahabatan, cinta, sekaligus perjuangan bersama.
Yang menarik buat saya adalah bagaimana STA mencoba memunculkan konflik antara idealisme perjuangan dan kekosongan jiwa yang dialami Tuti. Jujur, buat saya ini jauh lebih menarik dibanding soal kemesraan jalinan kasih antara Yusu
...more
Blekenping
May 09, 2016 rated it really liked it  ·  review of another edition
Layar Terkembang merupakan salah satu roman karya S. Takdir Alisyahbana yang populer pada angkatan Pujangga Baru. Roman ini mengisahkan dua bersaudara yang memiliki sifat sangat berbeda. Tuti, sebagai kakak dan wanita yang aktif dalam organisasi, memiliki sifat tegas, berpikir maju dan logis. Maria adalah adik Tuti yang selalu ceria dan penuh cinta. Kedua tokoh ini merupakan pemeran utama Layar Terkembang. Maria dengan kisah cintanya bersama Yusuf, Tuti dengan segala pemikiran dan usahanya dalam ...more
Henny
Jun 15, 2016 rated it liked it  ·  review of another edition
Shelves: fiction, borrowed
Udah lupa bahwa pernah baca, apalagi kapan baca pertama kalinya - beneran tdk ingat - tapi baru berasa dejavu pas re-read beberapa hari yg lalu. Oh ternyata saya pernah baca. Tapi lagi-lagi belum berhasil ingat, dulu bacanya pas kapan. Mungkin di tahun 1998.

Gaya bahasa di buku ini masih menggunakan bahasa Indonesia bercampur unsur Melayu Sumatra. Juga susunan subjek predikat, kata benda dan kata sifat, kadang terbalik kalau dibandingkan dengan bahasa Indonesia modern. Jadi untuk benar-benar mema
...more
Intan Mashayu
Buku ini menjadi salah satu bahan bacaan saat pelajaran Bahasa Indonesia di bangku SMP, bersama dengan novel sastra lain seperti Salah Asuhan dan Sitti Nurbaya. Namun membacanya kembali saat ini tetap menjadi hal yang menyenangkan karena topik yang dibawakan menarik, yaitu tentang pemberdayaan wanita dan keinginan untuk mengubah kondisi sosial budaya masyarakat pada masa itu.

Dalam buku ini, pesan dari penulis yang menarik untuk saya adalah sebagai berikut:
1. Bahwa wanita harus melaksanakan tangg
...more
Anastasia Ervina
Buku ini pertama kali saya baca pas duduk di bangku SMP! :D
Suka, suka, dan sukaaa banget dengan cerita buku ini! Ini awal ketertarikan saya membaca kisah roman jaman dulu. Kata-katanya khas seorang pujangga, puitis dan indah. Penuh majas.
Kisah tentang bagaimana dua gadis bersaudara--Tuti (yang sulung) dan Maria(yang bungsu)--dengan sifat yang bertolakbelakang. Tuti yang pendiam, tegas dan aktif dalam kongres-kongres pemuda sedangkan Maria sangat periang dan suka berbicara. Sampai akhirnya merek
...more
Fidelis Satriastanti
I forgot whether I have read this book or just hearing a review from my literature teacher. Yet, this is truly a MUST READ for any Indonesians who claim they love to read books. It has progressive ideas which are still relevant until today for Indonesia.
I was stunned on how STA positioned Tuti, one of the protagonist, as a feminist. I am not even sure that the thought of women should be able to determine their own lives back in 1930s was even consiedered 'sane'. But, STA was fired up on his idea
...more
Dian
Jan 11, 2015 rated it liked it  ·  review of another edition
Gaya bertutur STA dalam novel ini indah mendayu-dayu. Dalam menggambarkan tokoh, tempat atau suasana hati tokohnya, STA menggambarkannya dengan detail sehingga pembaca bisa memiliki gambaran yang jelas tentang hal yang diulas.

Layar Terkembang tak mengekspos banyak tokoh. Hingga akhir STA lebih banyak fokus pada konflik tiga tokoh utamanya: Tuti, Maria dan Yusuf. STA menggambarkan bagaimana pada masa itu modernitas telah mulai menyentuh kaum perempuan, khususnya yang tinggal di Pulau Jawa, lebih
...more
Nura
Reading Challenge #15: A Classic Romance

It could be considered Indonesian classic romance, since it was one of those books published in Balai Pustaka period. Just a warning, don’t read the foreword if you don’t want a spoiler. It’s a great reading, actually. You could catch a glimpse of early Indonesian women movement, although limited to public meetings only.

It also gives prime importance about how women who had joint a movement will have to carry on a burden that doubled than men in the same
...more
Tomi Pakei
Semangat yang berujung pada tradisi
Tuti praktis, senang berpikir logis. Maria romantis, suka akan keindahan (seni). Dari dua kakak-beradik inilah STA mengajak kita untuk melihat dunia dari kacamata kaum muda--semangat, gejolak, harapan, dan kekhawatiran mereka.

Problem utama 'pembaca masa kini' (yang terbiasa dengan 'bahasa instan') terhadap buku tahun-tahun ini umumnya adalah soal bahasa. Jadi sepertiga awal buku (yang terbit tahun 1936 ini) mungkin akan terasa 'berat'. Akan tetapi jika dibaca t
...more
Dwiasty
Aug 16, 2016 rated it really liked it  ·  review of another edition
Sejak SD selalu lihat buku ini dalam kutipan-kutipan di buku pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak pernah tertarik untuk membacanya meskipun ada bertumpuk-tumpuk di perpustakaan.
Tapi saya tidak menyesal. Saya pikir membaca buku ini sekarang ini, juga merupakan waktu yang tepat. Di mana saya sudah dapat membangun jalan pikir saya sendiri dan meresapi dalam-dalam pikiran-pikiran dan cara pandang Tuti tentang sikap perempuan Indonesia.
Saya pikir buku ini masih sangat relevan hingga saat ini. Bagaiman
...more
Ruth
Oct 22, 2014 rated it liked it  ·  review of another edition
Novel roman klasik yang diramu Sutan Takdir Alisjahbana dengan apik. Ya, namanya juga klasik, aku sendiri gak merasa kesulitan menebak akhirnya seperti apa -- ditambah dengan sinopsis cerita yang beliau tulis.

Ada beberapa bab yang sengaja Pak Alisjahbana tulis untuk mendeskripsikan tokohnya, seperti di cerita Bagian 1 bab 4 yang menjabarkan detail sosok Tuti. Bagian itu jadi modal awal aku memahami seperti apa si Tuti ini.

Bagian mengharukan dari cerita Layar Terkembang yang aku suka banget ada
...more
Amira Khanifah
Oct 09, 2014 rated it really liked it  ·  review of another edition
tertarik untuk baca ulang novel ini karena pas sekolah dulu dibaca karena dipaksa :)
Semua review rata-rata hampir sama: what's so amazing about this book adalah semangat empowerment, terutama untuk wanita, agar bisa menjadi apapun yang dia mau.
Secara keseluruhan, buku ini spektakuler. Apalagi kalau melihat novel-novel hasil karya anak Indonesia belakangan ini yang mostly isinya chicklit, teenlit, yang poorly edited dengan vocabulary yang berantakan.
Dari sisi cerita, ada satu hal yang cukup mengg
...more
Maria  Lalita
Jun 16, 2016 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: mine
Ini novel Balai Pustaka pertama yang saya baca. Berawal dari niat iseng bongkar2 lemari buku punya bapak saya, saya nemu buku super usang tapi dengan cover hijau yang sama sekali nggak eye-catching.
.
Well, don't judge the book by its cover mungkin memang pepatah yang benar untuk saya yg sering ngejudge buku2 sebelum saya baca isinya. Buku ini......... Ehm. Ternyata bagus juga. Saya jadi ngerasa berdosa sama S. Takdir karena udah ngejudge karyanya.
.
kisah cinta antara Maria, Tuti dan Yusuf. Tentang
...more
Danar Pramesti
Aug 27, 2008 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: indonesian lovers
Recommended to Danar by: no one, i just happened to find it at home.
Shelves: indonesiaku, history
i read this book over and over again. i personally love stories with old jakarta's setting and this book just got me. i felt attached with the story as well, because it was about 2 sisters which was like me and my sis. the oldest sis was just almost described me best and the youngest sis was just slightly like my sis. at the time it was written, i guess this is one of the most provocative story. it's like a message for all nationalists but smoothly covered with romance. the sad- but- indeed -hap ...more
Iirdadangitbm15ssyme SACHIRWANDA45
Apr 28, 2009 marked it as to-read  ·  review of another edition
Recommends it for: APRESISI SENI ITB PSIK-GASITB1977
Recommended to Iirdadangitbm15ssyme by: DR.LABERTOMORAVIA1978BUKUPUTIHHERRYAKHMADI.
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Salah Asuhan
  • Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai
  • Sengsara Membawa Nikmat
  • Belenggu
  • Pada Sebuah Kapal
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Merahnya Merah
  • Atheis
  • Burung-Burung Manyar
  • Harimau! Harimau!
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Azab dan Sengsara
  • Lintang Kemukus Dini Hari
  • Robohnya Surau Kami
  • Di Bawah Lindungan Ka'bah
714628
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4.

Pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan
...more
More about Sutan Takdir Alisjahbana...

Share This Book