Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata

Rate this book
Judul Novel : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
Penulis : Pitoyo Amrih
Tebal Halaman : 476 halaman
Ukuran Halaman : 14 x 21 cm
Penerbit : DIVAPress
ISBN : 978-602-955-737-4


Ketika tahta Hastinapura yang menjadi haknya, dilepaskannya. Ketika dia bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura... Apalagi tujuan hidup yang tersisa, yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.

Cerita tentang pengabdian yang bisa menjadi cermin kehidupan kita.

476 pages, Paperback

First published January 1, 2008

Loading interface...
Loading interface...

About the author

Pitoyo Amrih

16 books42 followers
Membaca, membuatnya tergerak untuk juga menuangkan ide, pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sejak tahun 1997 dia banyak menulis artikel yang lebih banyak bertema pemberdayaan diri terutama dalam lingkup diri dan keluarga.
Sejak tahun 2006, Pitoyo mulai menulis buku yang mengangkat kembali falsafah dan nilai kearifan budaya Jawa yang tersalut dalam kisah-kisah Dunia Wayang.... profil selengkapnya

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
46 (51%)
4 stars
28 (31%)
3 stars
11 (12%)
2 stars
4 (4%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Tomo.
2 reviews4 followers
August 8, 2010
Sebernarnya saia bacanya dalam bentuk novel ndak tau klo itu sudah ada dalam versi e-booknya ( nyesel beli_). Kemarin waktu beli buku di gramedia tak dinyana ada bedah bukunya mbak Ayu Utami ( kecewa_udah tua) yang klo ga salah judulnya manjali & cakrabirawa. Tapi saia kok ga' tertarik yo, pas ada sesi tanya jawab tetapi eh kok malah kt hati saia pengin pergi muter2 ngubek2 buku,majalah dan komik. Nah bingung milih buku, kemudian liat buku dengan gambar sosok Bima dengan bawakeris gede. Judulnya " Bisma", langsung saia jatuh hati dan tak dinyana pengarangnya Pitoyoh Amrih salah satu penulis kesukaan saia kerana tulisannya enak, alurnya ngalir trus pilihan katanya sederhana.

Awalnya saia kira Bisma=Bima namun eh salah sangka ternyata Bima cucunya Bisma. Eyang Pandawa-Kurawa inilah yang sebernarnya putra raja Hastina anak raja Sentanu dari dewi Jahnawi. Beliau sebetulnya yang berhak atas tahta kerajaan tetapi niatnya terhalangi oleh sumpahnya sendiri. Karena terlalu sayang kepada Ibu susuhan beliau waktu ibu susuhan sekaligus ibu tirinya dewi Durgandini meminta adik tirinya yang menjadi raja untuk menggantikan raja Sentanu, beliau memilih bersumpah untuk tidak menikah supaya kelak tidak ada keturunanya yang menuntut hak Kerajaan. Namun dia tetap mencintai kerajaannya dengan sepenuh hati hingga bersedia menjadi panglima dan penasehat kerajaan. Beliau selalu membimbing adik-adiknya yang silih berganti bertahta dari Citrangganda,Wicitrawirya dan Ambiyasa. Kelak Abiyasa mempunyai garis keturunan yang akan mengubah sejarah Dunia Pewayangan. Anaknya yaitu Pandu,Destarata dan Widura mempunyai cacat sejak kelahirannya dari Pandu yang berkulit albino, Destarata matanya buta sampai Wirata yang kakinya pangjang sebelah. Namun akhirnya putra mahkota utama pada anak keduanya Pandu. Hingga akhirnya terjadi perebutan kekuasaan antara Pandawa putra Pandu versus Kurawa putra Destarata yang kecewa atas keputusan Ayahnya.

Peran dari Eyang Bisma untuk mendamaikan keduanya tidak berhasil. Hingga suatu ketika dia begitu marah saat Pandawa diusir keluar istana karena kelicikan kurawa mengajak Samiaji ( puta mahkota pewaris Pandu) bermain dadu dengan taruhan Kerajaan. Kejadian itu berulang kali saat Kurawa kembali mebuat tipu muslihat mengajak memainkan dadu lagi saat meraka ingin merebut Kerjaan Amarta yang didirikan Pandawa saat pengusiran terdahulu. Singkat cerita,perjanjian untuk meninggalkan Amarta selama 13 tahun tanpa harus diketahui pihak Kurawa dan jika diketaui maka akan diulang dari awal lagi dipenuhi.

Akhir cerita terjadi perang saudara yang terkenal dengan Perang Bratayuda di Padang Kurusetra selama hampir 6 warsa. Perang perebutan kekuasaan karena hak Pandawa atas separuh kerjaan Hastina dirampas Kurawa. Disinilah arti sesungguhnya dalam peran Bisma dimana beliau bimbang memilih kedua Kubu. Keduanya sama-sama cucunya dari Keturunan adiknya Abiasa. Namun dengan teguh dia tetap berpegang pada Sumpahnya dulunya untuk melindungi dan mempertahankan negara Hastina. Walaupun dipihak yang secara sadar salah namun perang ini menurutnya bukan membela kebenaran kedua kubu tetapi lebih menyandarkan bahawa pentingnya sebuah Kehormatan atas sumpah dalam membela tanah air. Bahkan ketika mati ditangan Srikandi istri Arjuna yang merupakan titisan dewi Amba,-wanita yang pernah dicintainya hingga tidak sengaja membunuhnya karena berpegang teguh pada Sumpahnya untuk tidak menikah-menyadarkan bahwa itulah jalan hidup yang memang harus ditempunya. Beliaulah satu-satu orang yang dicintai oleh kedua belah pihak dari Pandawa dan Kurawa. Hormat setingginya telah disematkan oleh warganegara kedua kubu atas contoh sejati seorang kesatria. Seorang yang mempunyai jiwa yang besar dan lapang atas garis hidupnya.

Saya berpendapat bahwa Bismalah yang sesungguhnya arti seorang raja. Beliaulah contoh raja tanpa mahkota dengan jiwa lapangnya melepas haknya atas kedudukanya hingga mengayomi penerus tahtah kerajaan ayahnya. Sosok yang menurut hemat saya sungguh mulia dan patut dijadikan guru hidup. Guru dalam arti sebenarnya DIGUGU dan DITIRU dalam makna dicamkan dan diamalkan.

Sempat merinding saia membaca sumpahnya! Namun apakah sebuah kebetulan ternyata ada yang mengamalkannya dalam dunia nyata bukan dunia pewayangan. Mungkin ada ingat sebuah nama penyatu Nusantara. Benar, beliaulah Patih Gajahmada! Nama yang menurut saya dapat disejajarkan dengan Bisma. Tak taulah mungkin dulunya sempat janjian lewat SmS aji Pameling ( Pameling=ajian telepati lintas ruang dan waktu).

Buku yang bagi saya sumpah cukup melelahkan dalam membacanya namun tidak perlu terlalu kawatir anda akan dimanjakan oleh alur dan diksi ceritanya. Saia tanpa ragu untuk merekomendasikan buku ini untuk anda dan untuk untuk juga dibaca. [:]
1 review
April 7, 2021
Kisah novel ini diangkat dari cerita wayang, agak berbeda dengan cerita Mahabaratha versi R. Rajagopalachari. Namun karakter seorang Bisma tidaklah berubah, seorang ksatria yang gagah, disiplin, disegani orang-orang,kesaktiannya, sumpahnya dan kisah pertemuannya dengan Dewi Amba hingga kematiannya yang melibatkan Srikandi.

Alur cerita campuran (biasa saya sebut maju-mundur maju-mundur) buat saya tidaklah terlalu mengganggu, hanya kasihan sama tokoh Raden Antasena sepertinya dimunculkan untuk membuat alur maju-mundur. hehehehe….

Dalam menggambarkan situasi, penulis seperti terus menerus mengulang gaya kalimat2 yg sama, sampai enek males bacanya. Mungkin penulis ini ingin menggambarkan tokoh yang muncul sebagai tokoh yang gagah patut dipuja, tapi saya kok rasa malah terlalu diagung2kan ya?

Dalam menggambarkan situasi, penulis seperti terus menerus mengulang gaya kalimat2 yg sama, sampai enek males bacanya. Mungkin penulis ini ingin menggambarkan tokoh yang muncul sebagai tokoh yang gagah patut dipuja, tapi saya kok rasa malah terlalu diagung2kan ya?

(review buku ini juga saya post di blog saya
Profile Image for Ana Indriyani.
87 reviews18 followers
July 3, 2018
kisah yang begitu mengispirasi. penuh emosi dan juga pengorbanan dalam memaknai pengabdian.
istilah untuk saat ini adalah nasionalisme tinggi. benar2 menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi.
saya terharu, begitu banyak air mata yang tumpah.
Profile Image for Aprianto Nugraha.
89 reviews1 follower
April 6, 2019
Aga berbeda dengan cerita yang saya baca waktu saya masih kanak - kanak. Sepertinya ini mengadopsi perwayangan jawa, karena para punakawan tidak ada di kitab asli Mahabharata. Tapi masih sangat bagus dan inspirasional. Seandainya saya bisa seteguh Bhisma dalam bertutur dan berlaku.
Profile Image for Sigit Utomo.
11 reviews4 followers
June 3, 2016
Sudah lumayan tidak terlalu melebar kemana-kemana, tapi ya masih tetap melebar. Haha. Usaha untuk "melepaskan" kan diri dari pakem penokohan Bisma, tapi terasa masih kurang tegas. Yang paling bikin geregetan adalah pengulangan materi cerita dari buku sebelumnya yang juga membahas tentang pewayangan. Sisi baiknya, yah membaca jadi lebih cepat karena ceritanya sama saja. Haha
1 review
Read
September 29, 2011
Bagaimana sunyinya bisma ketika negeri yang jadi haknya sebagai jalan kehancuran anak cucunya.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.