Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Larasati” as Want to Read:
Larasati
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Larasati

3.61  ·  Rating details ·  1,303 Ratings  ·  122 Reviews
LARASATI – sebuah roman revolusi semasa perjuangan bersenjata 1945-1950. Kisah tentang pemuda-pemuda Indonesia yang rela membaktikan jiwa raga demi proklamasi kemerdekaan, kisah-kisah tentang para pahlawan sejati dan pahlawan munafik, pertarungan di daerah republik dan daerah pendudukan Belanda – antara yang setia dan yang menyeberang, antara uang ORI dan uang Nica, dengan ...more
Paperback, 180 pages
Published July 2003 by Lentera Dipantara (first published April 2nd 1960)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Larasati, please sign up.

Be the first to ask a question about Larasati

Community Reviews

(showing 1-10)
Rating details
Sort: Default
|
Filter
Helvry Sinaga
Apr 10, 2011 rated it really liked it
Cover buku ini menarik. Warna cerah oranye dengan dengan covergirl seorang perempuan seperti wajah di Majalah Anita Cemerlang. Novel ini ditulis dalam suasana awal kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar Tahun 1950. Pada masa itu, sedang masa peralihan antara kemerdekaan RI yang seutuhnya dan agresi militer Belanda yang masih tidak rela kehilangan Indonesia sebagai jajahan terbesarnya.

Instablitas politik dan keamanan menjadi isu penting. Tidak menjadi soal bagaimana para pemimpin negara bekerja
...more
Nenangs
Apr 27, 2008 rated it liked it
novel larasati bertutur tentang sulitnya hidup bagi rakyat pro kemerdekaan di masa-masa paska proklamasi – pendudukan (kembali) oleh Belanda – hingga KMB & pengakuan kedaulatan RIS oleh Belanda, bahkan bagi seorang aktris panggung & bintang film (merangkap pelacur?) seterkenal larasati.

diceritakan, larasati yang berpindah dari yogya (dikuasai Indonesia) ke jakarta (dikuasai Belanda) dengan tujuan untuk kembali bermain film dan mencari ibunya yang hidup terpisah setahun lamanya, mengalami
...more
Aveline Agrippina
Jan 10, 2009 rated it liked it
Shelves: sastra
Revolusioner Larasati

Pramoedya. Tentulah hampir semua orang tahu siapa dia. Namanya menjulang di dalam dunia sastra Indonesia setelah Tetralogi Buru lahir dan namanya sempat terdaftar sebagai calon penerima Nobel Sastra. Satu-satunya orang Indonesia yang pernah dinominasikan di dalam penerima Nobel Sastra. Tetralogi Buru sendiri sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Kali ini Pram bercerita tentang kehidupan Larasati. Larasati adalah seorang aktris yang hidup di Yogyakarta yang kemud
...more
nat
Apr 24, 2011 rated it liked it
Ada beberapa alasan aku bisa membaca dengan cepat:
1. Bukunya sangat menarik, hingga tak ingin berhenti membacanya.
2. Bukunya sangat tidak menarik, sehingga skimming menuntaskannya hingga halaman terakhir karena ingin terlepas dari jalinan ceritanya.
3. Lagi banyak waktu untuk baca, misalkan liburan, karena kurang kerjaan ya membaca saja.
4. Bukunya tipis, jadi mau nggak mau ya cepat selesai.

Alasannya bisa memuat lebih dari 1 poin di atas. Nah, untuk buku satu ini, paling tidak poin no 1,3,4 memenu
...more
Harun Harahap
Aug 02, 2010 rated it really liked it
Shelves: punya, fiksi, indonesian
Larasati memang hanya artis sandiwara
Larasati memang hanya pelacur
Larasati bukan orang suci
Tapi Larasati seorang Republiken..

Larasati berkata:
"Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak!Negara pun tidak!Rakyat apa lagi!Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain. Orang lain takkan rugi karenanya."(hal.44)

Dari Yogya, Ia berangkat ke Jakarta. Bukan untuk membantu pendudukan NICA tapi melihat tegaknya Revolusi. Saat Yogya jatuh, ia pun mengaduh. Bagaimana mungkin Rev
...more
Edy
Feb 28, 2009 rated it liked it
Pramoedya memang luar biasa…Beliau mempunyai visi yang menerawang sangat jauh. Ketika tahun 1960an beliau sudah banyak berbicara mengenai emansipasi perempuan, padahal isu itu belum menyeruak di banyak kepala.

Larasati, seorang perempuan yang berprofesi sebagai bintang film dan pelacur-pun bisa berbuat sesuatu untuk mengisi revolusi. Dia masih mempunyai harga diri dan kebanggaan sebagai anak bangsa Indonesia.

Sungguh ironis dengan kelakuan banyak orang saat ini, tampilannya banyak yang perlente
...more
Tezar Yulianto
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Mikochin
Apr 29, 2011 rated it liked it
Awalnya saya pikir novel Larasati akan menceritakan perjuangan Larasati, atau Ara, sebagai seorang pejuang Revolusi lewat profesinya yaitu seorang bintang film ternama. Agak sedikit kecewa, pada awalnya, namun tetap saja membaca perjuangan anak-anak bangsa merebut kemerdekaan dari tangan Belanda dan NICA merupakan pengalihan perhatian yang sangat sebanding.
Rating yang saya berikan tersendat di bintang ketiga dikarenakan endingnya yang terasa kurang menggigit dan membuat saya agak heran, "Sudah s
...more
Francisca Todi
Jan 03, 2013 rated it liked it
Shelves: general-fiction, indo
3.5

Awalnya saya ngerasa cape juga baca buku ini, soalnya bahasa dan cara memenggal kalimat/paragrafnya suka agak aneh, sampai2 suka bingung, ini yang ngomong siapa sih?

Tapi setelah mulai ke tengah, saya jadi bisa lebih apresiasi bagaimana Pram menceritakan revolusi dari sudut pandang Ara, bahkan jatuh-bangunnya revolusi itu juga paralel dengan kehidupan Ara sendiri.

Singkat kata, menarik, tragis sekaligus mengharukan. Dan pas selesai baca, rasanya saya jadi sangat berterima kasih kepada para pa
...more
Margareth
Jan 04, 2008 rated it it was ok
Shelves: anotherfiction
The 2nd book of Pramoedya I ever read. I think "Gadis Pantai" much better than this one.
Menurutku isinya sedikit aga maksa, terlalu banyak pernyataan Ara (Larasati) yang berapi2 tentang Revolusi, tapi action-nya untuk mendukung revolusi ga banyak. Not Action Talking only, menurutku. Kata2nya terlalu memaksa pembaca memasuki Revolusi, kurang smooth dan kurang berhasil baik membawa pembaca ke haru biru suasana revolusi maupun membangkitkan patriotisme pembaca. (jika itu memang tujuannya)

Akhirnya,
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
topics  posts  views  last activity   
Berdasar kisah nyata atau murni fiksi? 3 27 Apr 27, 2011 05:27AM  
  • Bekisar Merah
  • Mantra Pejinak Ular
  • Pohon Pohon Sesawi
  • Harimau! Harimau!
  • Kitab Omong Kosong
  • Tanah Tabu
  • Amba: Sebuah Novel
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Olenka
  • Namaku Hiroko
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • 9 dari Nadira
  • Atheis
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
“Apa gunanya memaki? Mereka memang anjing. Mereka memang binatang. Dulu bisa mengadu, dulu ada pengadilan. Dulu ada polisi, kalau duit kita dicolong tetangga kita. Apa sekarang? Hakim-hakim, jaksa-jaksa yang sekarang juga nyolong kita punya. Siapa mesti mengadili kalau hakim dan jaksanya sendiri pencuri?” 10 likes
“Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.” 9 likes
More quotes…