Terdiri dari tiga kisah yang pernah dimuat di majalah Humor pada tahun 1991, yaitu: 1. Orang di belakang J.P. Coen 2. Tenaga Kerja Inlander 3. Divide et Sawungkampret
Konon Portugis masih kepingin menguasai Hindia Belanda. Konon zaman VOC sudah ada bisnis TKI. Konon VOC takut kepada keberadaan Sawung dan Na'ip. Itu kisah tiga potong konon...
Dwi Koendoro Brotoatmodjo (Dwi Koen) lahir di Banjar, Jawa Barat pada 13 Mei 1947.
Sekolah Rakyat di Bandung, Sekolah Menengah Pertama disambung di Surabaya, Jawa Timur.
Pada 1957 membuat komik strip pertama di majalah Teratai - Jakarta. Mulai tahun 1961, sambil kuliah di STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) ASRI Yogyakarta banyak membuat strip kartun dan ilustrasi di harian Kedaulatan Rakyat dan mingguan Minggu Pagi Yogyakarta.
Hear my words: Indonesia butuh banyak komikus yang mengcover peristiwa-peristiwa historis. Selain karya-karya dari Mas Aji Santoso, karyanya Pak Dwi Koen (almarhum) ini juga membantuku membayangkan situasi (yang kerap dibungkus dengan humoris) pertemuan budaya antar bangsa melayu jawa, sunda, tionghoa, hingga belanda dan portugis yang terjadi di seputaran Batavia abad ke-17.
Kalo dulu aku belajar tentang Romawi, Galia, dan kawasan sekitarnya pada abad ke-1 SM dari komik Asterix, aku juga ikut belajar tentang kondisi Batavia dan sekitaran Jakarta Raya lewat komik Sawung Kampret, dulu sewaktu aku masih kelas 4 SD.
Aku suka penggambaran kostum, situasi, bangunan, serta bahasa dan tutur karakternya masing-masing yang berbeda-beda. Kita sebagai pembaca jadi mudah membayangkan situasi pada abad 17, masa-masa di mana Batavia dan sekelilingnya masih berupa hutan belantara. Memudahkan kita untuk imersif gitu sama latar belakang ceritanya.
owalahh... 3 episode di sini sukses bikin saya ngakak sendiri keras-karas. Sawung dan Naip itu asli lugu apa emang gak mau tau seeegh. empat bintang khusus buat episode Devide et Sawungkampret.