"Apalah yang tidak ajaib di muka bumi ini, Maneka?"
Saya sempat terseok-seok menamatkan buku ini. Bukan karena plot atau cara bercerita, tetapi karena ada perasaan ingin pelan-pelan melumat ceritanya. Nah, siap-siap, saya buat catatan panjang lebar, meski tetap belum berhasil mencakup semuanya, tentang pengalaman membaca buku ini.
Boleh dibilang, ada dua sudut pandang cerita yang saling bertaut. Pertama dari kisah Ramayana dengan tokoh utama Sita dan Rama. Kedua dari kisah penulis sendiri dengan tokoh utama Maneka dan Satya.
Kedua kisah terutama direkatkan dengan bantuan tokoh Hanuman dan Valmiki. Selain itu, tokoh dari cita Ramayana banyak juga yang hilir mudik dalam cerita kedua, membuatnya jadi dua dunia paralel yang, pada satu titik, berhasil beririsan. Penulis sendiri sempat menyinggung ada tiga dunia dalam cerita ini--dunia manusia, dunia dongeng, dan dunia siluman.
Selain alur cerita yang seru untuk diikuti, apalagi yang menarik?
- tema cinta yang diangkat. Kisah cinta dalam Ramayana sesungguhnya memang menyebalkan, timpang dan tendesius. Sejak pertama kali mengetahui bahwa Sita harus melompat ke api untuk membuktikan kesuciannya, saya sudah malas. Kemudian buku ini, yang diwakili sudut pandang tokoh Sita, menambah terang betapa cerita itu merugikan bagi perempuan. Poinnya, hindarkan diri dari pasangan yang maunya menang dan dihargai sendiri, yang susah melihat bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama berharga.
- pemimpin yang salah akan membawa petaka. Rama yang tantrum akibat egonya sendiri setelah kehilangan Sita malah melakukan persembahan kuda. Poinnya, pilihlah pemimpin bijaksana, bukan hanya yang sekadar gagah perkasa, titisan dewa sekalipun.
- hidupmu, nasibmu ada di tanganmu. Jawaban Valmiki atas gugatan Maneka terhadapnya yang Maneka yakini telah menuliskan garis takdirnya tidak disangka-sangka, tetapi masuk akal. 'Selepas alur diceritakan, para tokohnya bebas melanjutkan hidup' seakan mengingatkan, 'selepas engkau dilahirkan, engkau bebas membentuk hidupmu sendiri.' Poinnya, jangan lantas menyerah dengan keadaan yang tidak menguntungkan. Selama napas dikandung badan, "Segalanya mungkin" (meminjam kata-kata Maneka sendiri kepada Satya).
- ilmu daripada harta. Satya dan Maneka mengajarkan asyiknya bertualang mencari ilmu. Saya iri dengan perjalanan keduanya, yang bisa dengan bijaksana mengubah posisi harta menjadi sebatas pelengkap hidup saja, justru ilmulah yang harusnya dikejar-kejar sampai ke ujung dunia. Poinnya, ada hal lain yang layak diperjuangkan dan bisa jadi lebih berharga dalam hidup ini, selain harta, dan tahta.
Bagi saya, dunia yang dibangun penulis dalam buku ini begitu padu dan meyakinkan. Akan tetapi bukan hanya itu yang membuat jatuh hati, melainkan berhasilnya buku ini menjadi, "buku bagus harus mengedukasi" lewat topik-topik yang diangkat. Hampir masing-masing tokoh yang muncul pun punya setidaknya satu pengalaman yang perlu menjadi pelajaran--meski sekadar menunjukkan mana hal baik, mana yang buruk.
Jangan lupa, cara bercerita penulis luar biasa memikat. Dialog para tokoh lancar disampaikan tanpa jeda yang tak perlu; pilihan kata dalam penggambaran latar menambah seru, tegang saat ada adegan peperangan atau penculikan, misterius ketika menceritakan dunia siluman, lembut ketika menggambarkan adegan penuh kasih sayang. Empat ratus empat puluh empat halaman yang sangat memanjakan pembaca. Kalau belum puas, pembaca juga bisa menelusuri buku-buku lain di daftar 'Sekadar Bacaan' yang dicantumkan penulis di akhir buku. Novel dengan daftar pustaka.
Semua itu membuat buku ini jadi buku cerita yang ingin sekali saya rekomendasikan kepada anak cucu nanti. Makanya, tanpa ragu, saya beri lima bintang.
"Manusia itu sungguh lemah, terlalu mudah merasa tidak enak. Tidak pernah merasa puas, tidak pernah merasa cukup, dan selalu menginginkan sesuatu. Tapi mereka yang bisa mengatasi kelemahannya, bisa mempertemukan kenyataan dengan kemampuannya, akan merasa bahagia. Siluman tidak pernah tahu itu."