4/5
Pertama tama, yang paling ingin saya sampaikan adalah buku ini baru bisa dinikmati keseruannya di beberapa bab terakhir.
..
Jadi, ini adalah buku ke 13 dari series bumi. Yang sudah di jelaskan sejak buku yang lalu bahwa buku SagaraS ini akan membahas tentang orang tua Ali—yang selama ini selalu menjadi misteri. Maka, ekspetasi saya cukup tinggi di buku ini walaupun sempat kecewa dengan beberapa buku sebelum ini. Klan baru, klan yang entah darimana tidak bisa dilewati melalui portal biasa. Klan dimana Ali berasal.
Yah, Ali. Si anak berantakan yang jenius tiada ampun. Tbh, sebenarnya jeniusnya itu kadang sangat diluar nalar, tetapi mengingat ini buku fantasi jadi saya maklum alias yaudahlah ya. Awal saya ingin membaca series ini pun karena buku Matahari yang mengdeskripsikan bahwa Ali adalah orang jenius yang harusnya tingkat pendidikannya tidak lagi di bangku SMA ((saya tertarik dengan cerita orang yang pintar)). Yah walaupun begitu saya masih sering berpikir bahwa untuk umur segitu seharusnya tidak sejenius itu. Tapi toh, saya selalu mengingatman diri sendiri kalau ini hanyalah fiksi.
Tetapi, walaupun saya tertarik dengan series ini karena Ali, Ali bukan tokoh favorit saya. Saya memang suka dengan orang yang cerdas, tetapi saya tidak suka dengan orang yang semaunya sendiri. Previllege Ali sangat banyak salah satunya berada dan jenius, itu cukup sekali untuk membuat hidupnya tetap aman walaupun berulah semaunya sendiri di sekolah dan dengan sifat seperti itu. Saya tidak dapat membayangkan mempunyai teman sekolah yang tukang bolos, suka bertengkar, berantakan, ulangan sering jelek dan ttp dipertahankan tpi si anak tidak ada perubahan((walaupun sy tau dia pintar)) suka menjawab sekenanya, tidak mendengarkan ucapan kebanyakan guru—mungkin saya akan tetap kagum dengan kecerdasannya—tetapi saya kemungkinan besar akan menghindari orang itu. Tetapi lagi lagi karena ini fiksi jadi saya yaudah lah ya. Dan ya kalau membahas karena dia tumbuh tanpa ortu, saya tetap iba dan merasa mungkin itulah yang menjadi alasan Ali menjadi seperti itu, tetapi saya tidak membenarkan kelakuannya. Saya berpikir kalau orang biasa, tidak mungkin hidupnya akan berjalan lancar.
Ali adalah orang yang berprevillege harta serta otak. Itu sangat menolongnya walaupun kelakuannya seperti itu. Yah lagi lagi, previllege orang kaya dan otak pintar memang sangat berpengaruh. Saya sendiri kagum dengan kecerdasannya. Dan tidak hanya saya, bukan?
Tetapi terkadang, ketika di series ini Raib dan Seli mulai bertanya tentang “mengapa” “bagaimana” “kenapa” atau pertanyaan sejenis 5w 1h lainnya, Ali dengan cepat membalas seperti itu adalah hal yang biasa dan kemudian buku itu tidak menjelaskan sendiri. Kita hanya berbekal dengan jawaban Ali untuk mengetahui kondisi latar buku tsb. Itu hal yang mengganjal di saya, itu membuat cerita seperti berjalan terburu-buru serta kesan yang diberikan sang penulis malas menjelaskannya tentang hal itu. Itu tidak hanya berjalan sekali, tetapi berulang kali hingga membuat saya “ni author nya males apa bgmn dh njelasinnya” dan ini sudah saya alami hampir si setiap buku series ini.
Oke back to this book. Alasan mengapa Ali bisa banyak melakukan percobaan dan tahu banyak hal, sudah terjawab. Dia menemukan basemen di rumahnya yg berisi barang barang canggih dri klan lain milik ortunya. Tidak heran dia yg memang sudah jenius itu mengotak atik dan menemukan banyak pertanyaan serta kebenaran. Yang membuat dia seperti tahu segalanya, walaupun terkesan bukunya males menjelaskan situasi. Dan ya lagi lagi saya kesal dengan karakter ini ketika dia tidak sekolah padahal sudah di tegur berkali kali. Astaga saya beneran pengen nampol kalo jadi Raib atau Seli.
Lalu tentang penggambaran teknik. Wow sekali… saya sepertinya selalu membaca “tingkat tinggi” tanpa henti tetapi ujungnya saya hanya berekspresi dan berkata “oh… oke… tingkat tinggi ya…” seakan dibuat bahwa itu wah sekali (walaupun beberapa memang iya) tetapi kdang bbrp hal (sering) tidak setinggi itu. Dan sptinya “tingkat tinggi” memang kata kata favorit sang penulis saya rasa. Terlalu meninggikan sesuatu padahal itu biasa saja, penggambaran yang cukup berlebih dan terlalu banyak pengulangan ((keseringan)).
Untuk penggambaran musuh seperti gurita dan lautannya. Ketika mencari gerbang sagaras, saya akui itu keren. Seperti diterjang lautan, saya teringat film bajak laut favorit saya. Tetapi yah beberapa kondisi cukup membuat otak saya berkata “canggih banget Ily beserta otak Tuannya” karena itu keren sekali mengingat dia masih anak sma. Memang sangat jenius dan ‘fantasi’.
Ketika masuk ke dalam lautan dan bertemu gurita, saya jadi teringat pertarungan di buku sebelumnya. Petualangan akan lebih berasa apabila kita benar benat membayangkan gurita yang besar ((yg besarnya dijelaskan)), walaupun agak membuat riwuh jg alias gede amat dh itu apa kagak langsung di hap tu ily. Ternyata beneran di hap yah dan lagi lagi pertarungan yang cukup intens itu mereka semangat dan berhasil melewati hingga gerbang di kedalaman laut yang sgt dalam, saya sempat berpikir… benar benar previllege karakter utama. Sangat amat petualangan persahabatan ala remaja polos ((mengingat bagaimana Ali yang tetap ingin mencari apapun yg terjadi serta apapun taruhannya dan Raib Seli yg ttp menemani) astaga sejujurnya saya ingin nampol mereka “adekkk, petualangan tak selamanya indah dekkk” atau ga “adekkk, petualangan tak selamanya pasti selamat dekkk” tapi ingat lagi ini adalah novel remaja yg isinya anak naif dan bertekad DAN JUGA mereka memang karakter utama. Banyak menangnya. Apadeh yang kalian harapkan?? Haduhhh kalau saya sih sempet berharap mereka kesandung realita yg tak seindah itu xixixi.
Lalu mereka sampai pada gerbang dan akhirnya makan. Saya ikut lega mereka akhirnya makan walaupun mi instan. Karena saya sendiri kalau disana trs pertarungan kek gt mah udah banyak sambat ndang makan.
Dan baru sampai di gerbang di suguhkan penjaga yg menghadang. Lalu mereka yang seperti template ala petualangan, tidak ingin kembali dan akan masuk bagaimana pun juga. Mana isi rombongannya pun remaja—yang dapat dipastikan bakal keras kepala—Batozar tdk ikut hitungan krn dia sendiri pun pengen pulang.
Oke lalu yang agak mengesalkan adalah kita datang ke klan baru tetapi hanya ruangan putih. Saya bayangin kalau disana mual kayaknya, karena hanya ada ruangan putih. Bisa stress saya spti yg ada di salah satu film superhero. Diluar saya bayangin berada di tempat itu, saya sedikit kecewa dengan hanya ruangan putih dan bukan pemandangan indah atau unik spti klan lainnya. Tetapi, mungkin memang inilah yang di inginkan oleh penulis. Klan baru dengan tatanan baru dengan ciri khas baru. Nanoteknologi. Khas bumi sekali rasanya mengingat memang nanoteknologi ini sedang ramai dibincangkan dan menarik untuk dikembangkan. Jadi menurut saya masuk akal ketika SagaraS sang penduduk asli klan bumi sudah menggunakan teknologi itu terlebih dahulu. Dan saya merasa lebih masuk akal jika menggunakan nanoteknologi, belum lagi kekuatan para ksatria nya yang memang menggunakan teknologi yang masih dapat kita bayangkan. Lebih terasa khas buminya.
Oke kembali ke gaya cerita. Ketika bertemu dengan ksatria SagaraS dan di tantang lalu dengan jelas memberi tahu bahwa akan ada 5 pos pertarungan, saya langsung menghela nafas jenuh. Saya dapat membayangkan betapa inginnya saya untuk masuk kedalam dan berpetualangan di klan SagaraS, tpi harus bertarung dulu seakan hidup dan mati. Bukan. Bukan masalah saya tidak suka dengan bertarungnya yang membuat kita terhambat menjelajah klan SagaraS. Saya tidak suka bagaimana kita di spoilerin kalau akan ada 5 pertarungan tiap pos—dan saya tau tiap pos nya biasanya pertarungan akan berjalan sangat lamaaa dan spti khas pertarungan series ini pasti penuh splash splah bumm ctarr ctarr gtgt—dan saya sudah dapat membayangkan akan betapa lamanya menuju akhir. Saya sudah jenuh duluan.
Karena saya berasa sudah tau akan lama dan yahhh pasti akan menang bukan?? Dengan backingan apapun itu entah kekuatan rahasia tumbuh atau ‘kerasukan’ atau apapun itu ((astaga saya tidak suka sekali yang spti ini krn kurang realistis dan kurang pas aja gitu, karena kalah bentar terus langsung op. Astaga template sekali???)). Saya lebih suka tipe yang kita benar benar tidak tahu akan ada apa di depan. Memang sih, kita tahu bakal ada pertempuran, tetapi kita tidak tahu kapan. Jadinya kita seakan antusias dan diberi kejutan tersendiri. Seperti petualangan ketika sedang menjadi buron di klan bintang atau buron pasukan tanpa mahkota yang sedang melarikan diri di klan bintang.
Lagipula sistem pos ini membuat saya teringat dengan salah satu anime yang saya akui seru tpi saya sendiri suka skip skip agar bagian itu segera berlalu. Sepertinya memang ini bukan tipe pertarungan yang saya sukai. Tetapi, beberapa dari pertarungan di pos itu membuat saya terhibur dan terkesima. Dan beberapa yang lain terasa biasa saja karena polanya sama🙃
IYA, POLA ALUR BERTARUNG DI SERIES INI SELALU SAJA SAMA
Saya yakin ini tidak hanya pendapat saya.
Kalau tidak si raib mendapatkan kekuatan baru yg op, ya Seli yang sekarat mendekati maut lalu mendapatkan kekuatan besar, Ali yang dengan otak jenius nya selalu menemukan solusi yang kadang menurut saya “tidak pas” dan menjadi “kurang menantang” lalu, solusinya itu lagi lagi berdampak besar (op juga) dan itu terjadi sangat singkat DAN pola ini selalu digunakan di series ini.
Tetapi walaupun dengan pola yang sama (template) seperti itu selama ini, saya tetap menikmati beberapa pertarungan.
Pertarungan Seli yang selalu mengancam nyawa—di series ini Seli memang selalu terancam mati sih—tetapi karena dia petarung klan matahari dia selalu bisa melawannya. Seli memang bener bener hebat. Yah, sebenernya mereka bertiga hebat semua sih. Tetapi dengan sifat Seli yang lembut tetapi kekuatan yang seperti itu menurut saya itu hanya tidak terduga dan yah… keren. Saya suka. Walaupun memang sangat terlihat sekali plot armor Seli (mereka bertiga sebenernya sih) ini kuat sekali. Dan ya, saya kagum dengan bayangan Seli ketika sudah berumur tiga tahun. Jujur, saya lebih bisa membayangkan Seli yang sudah berumur 30 tahun daripada Seli yang masih SMA padahal saya sudah membaca belasan series ini dan selalu bersama Seli yang SMA. Yah, mungkin lebih tepatnya gambaran Seli ketik 30 tahun ini menarik dan berkesan di mata saya, belum lagi kekuatannya. Terlihat kuat sekali. Apa kata Raib itu? Yeah bad ass wkwk.
Dan saya juga suka karakter Kakek Ban yang membuat nyaman. Astaga dia memang sudah seperti keluarga Ali—bahkan dari jaman ibunya. Ban yang kuat dan perhatian. Yang membimbing Eli dan merawat Ali juga. Sungguh ini mengharukan. Saya mengerti mengapa Ban tegas pada hukum SagaraS, tetapi dia juga menaruh simpati. Dia keras tetapi dia juga tahu batas dan tetap berusaha mengerti. Dan pertemuan Eli dan Ali. Sungguh mengharukan. Akhirnya, setelah sekian lama. Saya lega ketika membacanya, yah walaupun Ali dalam kondisi teler habis pingsan. Cukup mengharukan tetapi lagi lagi itu hanyalah penggambaran singkat dan kita dialihkan dengan bahasan yang lain membuat tidak terlalu terharu lagi.
Yah tetapi yang disayangkan adalah kita tidak bisa terlalu menjajah wilayah SagaraS. Kita lebih banyak di ruangan kotak putih. Dan selalu bertarung.
Jangan lupa ditutup dengan moment Bibi Gill bersama duo Ceros dan Tanpa Mahkota dan moment Ksatria berkuda di ruangan Master Ox yang menutup buku ini dengan tawa.