Awalnya saya ingin sekali membuang buku ini di bab-bab awal. Bagaimana tidak? Ini buku anak-anak dan saya mempunyai pemikiran sebagai berikut.
Kalau saya punya anak dan membaca buku ini kemudian dia mengikuti jejak kenakalan Karlsson, saya takkan habis pikir. Semisal pada saat anak saya merusak mainannya atau hampir membakar seluruh rumah, anak saya akan beralasan yang melakukan adalah Karlsson (atau bisa saja kelak bernama lain, tergantung khayalan anak-anak saya kelak), atau menjawab seperti Karlsson “Itu semua hanya barang duniawi, tidak apa-apa”. Well, rasanya saya bisa gila. Membayangkan punya anak seperti itu saja saya sudah sangat gusar. Hahaha...
Ada juga tentang kelicikan Karlsson dalam hal bertaruh. Karlsson terus-menerus menipu Lillebror, tapi pada akhirnya Lillebror berhasil juga makan sebuah permen karamel. #ikutsenang =)) Yang paling saya suka itu bab yang menceritakan petualangan Lillebror dan Karlsson di atas atap. Seru sekali, soalnya mengingatkan saya yang sampai usia 20-an masih suka main ke atap. :p Di sini, kebencian saya pada Karlsson agak berkurang. :D
Apa pun bentuk kenakalan dan kelicikan Karlsson, akhirnya semua termaafkan oleh saya (loh, kok saya yang maafin? yah, karena Lillebror sudah memaafkan Karlsson tanpa syarat sejak awal :D). Suatu hari datang dua pencuri ke rumah Lillebror dan berhasil diusir oleh Karlsson yang sedang bermain hantu-hantuan. Apa sih arti beberapa kantong permen karamel dibandingkan dengan uang belanja ibu, bros ibu yang diberi oleh nenek, juga peralatan makan yang terbuat dari perak? #kokkesannyaperhitunganyah? =))
Saya lebih sedih saat Lillebror dijahili kedua kakaknya dibanding saat Lillebror diperdaya oleh Karlsson, mungkin karena saya yang sama-sama anak bungsu seperti Lillebror mengerti bagaimana rasanya. :p Di sini Lindgren berhasil bikin saya mengenang kecengengan saya semasa kecil dulu. #sekarangmasihpadahal :p
Dari segi cara bercerita saya suka cara Lindgren menyisipkan pesan moral yang ringan untuk anak-anak. Tentang kesopanan, tentang kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, entah bagaimana, Lindgren berhasil membuat saya tetap nyaman membacanya meski sesekali mengulang-ulang beberapa kalimat untuk menegaskan isi pesan tersebut. Beberapa kalimat di bawah ini saya kutip yang menyiratkan pesan moral dan yang membuat saya tergelitik ketika membacanya. :D
“Ibu tutup mata sebentar saja!” kata Lillebror ketika Ibu selesai meletakkan baki kopi di meja kecil di samping perapian.
“Kenapa aku harus menutup mata?”
“Ya, karena Ibu pernah bilang tidak mau melihatku makan gula dan sekarang aku ingin mengambil satu,” kata Lillebror sambil mengambil satu kubus gula. p.34
Seandainya saja semudah itu bicara sama ibu saya dulu. Hahaha..
“Jangan bertopang dagu di meja makan. Itu tidak sopan, tahu?” kata Bettan.
“Urus saja dirimu sendiri,” jawab Lillebror.
“Turunkan sikumu, Lillebror!” kata ibu. “Apa kau mau tambah kembang kol lagi?”
“Tidak, lebih baik aku mati daripada harus makan kembang kol lagi,” kata Lillebror.
“Huss, jangan menjawab seperti itu,” kata Ayah. “Akan lebih baik bila kau menjawab, ‘Tidak, terima kasih’, begitu!”
Apakah begini caranya memerintah anak bernilai seratus ribu juta kronor? pikir Lillebror dalam hati.
“Kalau aku bilang ‘lebih baik mati’ bukankah kalian sudah tahu yang aku maksud ‘Tidak, terima kasih’?”
“Tetapi orang yang punya sopan santun tidak akan bilang begitu,” kata Ayah. “Kau pasti ingin jadi orang yang sopan, kan?”
“Tidak mau ah, aku pilih jadi seperti Ayah saja,” kata Lillebror.
Ibu, Bosse, dan Bettan tertawa mendengarnya. Lillebror tidak tahu sebabnya, tetapi ia tahu mereka menertawakan Ayah, dan ia tidak suka itu.
“Aku ingin menjadi seperti Ayah karena Ayah baik hati,” jawabnya sambil memberi Ayah tatapan sayang.
“Terima kasih, Sayang,” kata Ayah. “Jadi bagaimana? Kau mau tambah kembang kol lagi, tidak?”
“Tidak, lebih baik mati,” kata Lillebror. p.99-p.100
Bwahahahaha... #gedubrak Lindgren cerdas sekali di sini. Mampu memberi pesan moral di antara lelucon. Saya benar-benar tertawa puas dibuatnya. =)) #lanjutngakak
Tadinya saya beri 3 bintang. Tapi setelah dipikir-pikir, kecerdasan Lindgren tidak layak dinilai sebagai sekadar suka, jadi saya naikkan jadi 4 bintang. #laluhilangdisulapKarlsson