Aku bekerja keras memulihkan badan dan otak, menelusuri semiliar kenangan demi kewarasan, tapi terlalu banyak ingatan yang malah melumpuhkan.
Namaku Arka. Aku terserang strok pada usia 28 tahun. Semenjak itu, menggali ingatan masa lalu adalah hal yang sulit bagiku—apalagi mimpi-mimpi aneh yang kerap menghampiri.
Bagiku, butuh waktu tak sebentar untuk pulih. Namun, seiring ingatan yang kian memulih, aku merasa kembali utuh. Strok lambat laun justru membuatku tahu siapa diriku yang sebenarnya.
Aku akan membuat bekas luka di kepalaku ini tidak sia-sia, malah aku akan merayakannya. Kesempatan perpanjangan hidup ini akan kumanfaatkan sebaik-baiknya. Aku berterima kasih pada kenangan, baik ataupun buruk.
Aku tak akan membiarkan kenangan pahit menghancurkanku, juga tak akan terlena dengan kenangan manis.
2,5 untuk warna yang terlupakan. Sejujurnya saya berharap kisah yang disajikan dalam buku ini adalah kisah yang ringan. Ternyata membutuhkan imajinasi, dan kemampuan mencerna yang tinggi. Setidaknya untuk saya begitulah rasanya. Tapi saya suka bagaimana semua hal tentang otak-strok-khayalan ini dibawa ke ending seperti itu.
seandainya apa yang terjadi di ending diberi lebih banyak petunjuk di bab-bab awal, saya akan menambah 1 bintang lagi.
perubahan plot dari arka terkena strok menuju ke penyelesaian ceritanya berbelok terlalu menukik, kurang petunjuk dari awal kalau ini ternyata konfliknya tentang itu--kecuali hantu-hantu di pohon beringin yang ditulisa di awal.
Forgotten Colors adalah salah satu buku yang aku tunggu kelahirannya tahun ini. Yeayy, akhirnya bang Vabyo kembali. Buku ini menjadi karya ketiga dari bang Vabyo yang kubaca, setelah Joker dan Kedai 1001mimpi. Dan lagi-lagi aku jatuh suka, terasa renyah dan segar. Rasa hangat menyelimuti begitu aku membaca, karena terasa begitu personal seperti mencerikan tentang penulis sendiri. Seperti yang diketahui, bang Vabyo pernah mengalami apa yang Arka alami. Aku menyukai sosok Arka yang pantang menyerah. Begitu berjuang untuk pulih. Terlebih sosok Gelia. Ya Tuhan, terpujilah apabila sosok Gelia itu nyata. Aku suka bangettt sama gadis satu ini. Selalu ada di sisi orang yang ia kasihi, meskipun ngga sama lagi. Interaksi Arka-Gelia sangat menyenangkan, chemistrynya pun ngga perlu diragukan lagi. Ada beberapa bagian yang bikin haru, terlebih di Bangku 16 dan Bangku 23. Mataku seketika memanas. Ah, ngga perlu mikir lagi, aku fans pasangan ideal ini. . Banyak info yang aku tahu dari buku ini. Tentang tanaman pengganti gula garam, bagaimana cara membuat telur dadar tanpa telur, serta apa itu Tidur Mimpi dan Tidur Lelap. Perihal ending, aku suka sekali. Cukup menjawab semua pertanyaan. Kamu kamu kamu wajib baca buku ini. Karya yang indah, bang. Selamat.~ . Surga adalah otakmu. Kita bisa menciptakan banyak kebahagiaan di sana. -hal. 209-
Forgotten Colors memperlihatkan bagaimana otak adalah salah satu organ vital pada manusia. Saat otak mengalami "korslet", tak ayal manusia dapat menjadi mayat hidup. Arka mengalaminya, seketika tubuhnya limbung akibat strok yang menimpanya saat dia berpidato setelah aksinya melukis 1000 bangku. .
Kondisi ini menciptakan bayangan imajinasi dalam kepalanya yang tiba-tiba bisa mengubah warna dalam mimpinya. Satu lagi gambaran kehebatan dari otak manusia yang dapat dengan bebas menciptakan sesuatu. Keabsurdan cerita dimulai dengan munculnya para raksasa, perempuan cadel, dan ibu berpayudara satu. .
Sejauh ini, proses penyembuhan Arka agak membingungkan, mungkin karena bagian mimpi dan imajinasi Arka sangat dominan sehingga membuat proses kesembuhan alurnya patah-patah, misalnya tiba-tiba Arka sudah bisa menurunkan kaki dari tempat tidur, atau lancar berjalan padahal sebelumnya kudu pakai tongkat. .
Celetukan-celetukan Arka dan Gelia, cukup menghibur di sela-sela kerutan dahi saya yang tercipta sepanjang membaca kebingungan Arka dalam menentukan mana yang nyata dan imajinasi. Tapi, tidak dipungkiri, saya penasaran sangat dengan asal usul yang menyebabkan munculnya imajinasi Arka. .
Saat membaca #CerminMuslihat saya dibuat penasaran dengan bagaimana isi otak atau ingatan bisa diutak-atik. Nah, #ForgottenColors lebih banyak menyinggung tentang hal-hal teknis tentang otak dan ingatan, meski tetap ada bagian-bagian yang membingungkan. .
Arka masih terus linglung dengan isi kepalanya, antara yang nyata dan imajinasi. Hingga kesadaran mulai hadir dan semakin terang dengan pertemuannya kembali dengan Si Ibu Berpayudara Satu (aku masih bingung dengan makna panggilan ini). .
Obat dan Si Lelaki Gemuk Merah memegang pengaruh keabsurdan ingatan Arka, yang kemudian mengarahkan ingatan saya pada mantan penguasa yang memiliki istri dengan pengaruh yang tak kalah kuat. .
Segala imajinasi, penyakit strok, dan tokoh-tokoh absurd Arka merefleksikan kritik- kritik sosial. Meski dibuat bingung, ujungnya pembaca dibikin berpikir, (atau ini juga termasuk proses cuci otak?) hehehe... Tapi, keren sih, gak kebayang akhirnya akan begini. .
"Kini mereka tak perlu repot menculik warga satu per satu, cukup lewat berbagai raksasa media. Mereka rajin berpropaganda. Mereka tak butuh ruang cuci otak lagi, cukup lewat gadget yang ada di setiap genggaman."
Arka seorang lelaki yang tengah berada pada masa produktifnya. Dia senang melukis dan terbesit keinginan untuk bertindak 'nakal' lagi menguntungkan yaitu melukis bangku taman. Sebelumnya kegiatan ini sempat membuatnya hampir tertangkap petugas keamanan. Namun, kelihaian Arka bersembunyi membuatnya bebas.
Tapi, lukisan pada bangku taman tersebut justru menjadi awal sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan dan membingungkan. Ketika seorang petugas memaksa Arka ikut dengan mereka kemudian menawari sebuah proyek untuk melukis 1000 bangku taman. Sebuah tawaran yang cukup menggiurkan memang, tapi Arka malah merasa tidak nyaman. Karena dia lebih senang melukis bangku taman secara diam-diam.
Bagi Arka ketika melukis tanpa diketahui oleh orang lain serta merasakan adanya kondisi yang tidak memungkinkan, itu membangkitkan adrenalinnya yang membuatnya merasa bertambah semangat. Sayangnya memang demikian ketika melukis bangku taman menjadi pekerjaan yang dipaksakan sehingga hasil karyanya kurang optimal. Tidak sama seperti ketika dia melukis untuk kesenangannya sendiri.
Tidak lama usai proyek melukis bangku taman selesai, mulailah dia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang mencengkram tengkuknya serta menusuk-nusuk kepalanya. Sampai suatu ketika dia tumbang dan saat bangun ternyata dirinya tengah berada di rumah sakit. Dokter mendiagnosa Arka teserang strok.
Ketika mendengar kabar tersebut, dirinya memberontak dalam hati. Ribuan tanya kenapa dan kenapa memenuhi kepalanya. Apalagi dia tidak merokok, tidak begitu candu pada kopi dan tampaknya dia masih sehat. Dan segala hal yang menjadi pembelaannya serta alasan mengapa dan mengapa dirinya terserang strok di usia yang masih muda.
mungkin penilaian saya terhadap buku ini akan terkesan subyektif. namun, percayalah, Forgotten Colors pasti terasa berbeda jika ditulis menggunakan pov orang pertama.
sebelumnya saya sudah pernah membaca beberapa buku Kang Vabyo, seperti Kedai 1001/1002 Mimpi, duet bersama Kak Windy di Kala Kali, lalu buku ini sendiri. dan kesemuanya itu ditulis dengan sudut pandang 'aku' sebagai si pencerita. dan karakter tokoh utamanya selalu berhasil tersampaikan ke imajinasi para pembaca. Vibi yang ceriwis, Keni Arladi yang mellow namun bisa berubah pecicilan, dan Arka sendiri yang sebenarnya jenius sekaligus jayus.
saya sempat berpikir bahwa tokoh-tokoh utama tersebut tak lain dan tak bukan adalah diri Kang Vabyo sendiri.
well, cukup dengan penilaian tersebut, sekarang kita review kembali buku ini dari segi objektif.
peristiwa buruk yang menimpa Arka di bagian awal bab memang sempat mengundang teka-teki dan pertanyaan tak berkesudahan. saya sempat memberontak, mengapa harus terjadi secepat itu? pada dasarnya memang cerita yang dituliskan Kang Vabyo ini sangat sederhana. akan tetapi, butuh imajinasi yang tinggi untuk mencerna setiap proses mimpi, aneka khayalan dan ilusi, yang banyak terjadi pada masa stroke yang dialami oleh Arka itu sendiri. ditambah lagi, di beberapa bab terdapat aneka kisah yang menurut saya cenderung mengarah ke 'fairy tale' atau 'folklore' ketimbang modern fiction.
pada bab pertengahan sampai ke akhir, barulah teka-teki mengenai penyakit stroke pada diri Arka perlahan-lahan terjawab. itulah yang membuat saya harus memberi tiga bintang lantaran alurnya terlalu berbelat-belit, padahal sangat simpel.
saya tak akan memaparkan penyebab dari petaka tersebut di kolom review ini. tetapi saya menganjurkan teman-teman semua untuk menikmati setiap dongeng berbalut romansa ringan yang disajikan oleh Vabyo.
Pria kurus berambut gondrong sebahu dengan warna kulit layaknya bambu itu bernama Arka. Dia mempunyai hobi baru yang berawal dari jatuhnya tahi burung di bangku taman tempat biasa dia menghabiskan waktu. Di Taman Setan. Dengan bantuan pena jarum, pena bulu, pensil, pulpen sampai digital stylus, dia menyulap bangku taman menjadi indah. Sebut saja dia Si Pelukis Bangku Taman. Proses melukis bangku dilakukannya secara sembunyi pada dini hari. Ada kegembiraan dan kepuasaan yang dirasakannya jika dia bisa menyelesaikannya tanpa ketahuan oleh orang lain, terlebih patroli keamanan taman. Namun rupanya, hal itu tidak berlangsung lama.
Pada suatu dini hari, Arka tertangkap oleh Si Lelaki Buaya, orang yang mengaku bagian dari pemerintahan Kota Ini. Orang tersebut mengancam akan memenjarakan Arka dengan tuduhan merusak fasilitas publik karena telah ‘mencemari’ bangku-bangku yang ada di Taman Setan dengan lukisannya, jika Arka menolak bergabung dalam proyek yang akan Kota Ini selenggarakan. Proyek melukis seribu bangku. Awalnya Arka tak menaruh minat, karena pikirnya, ini adalah proyek ambisius dari walikota Kota Ini yang ingin menampilkan ‘kesan berbeda’ saat pelaksanaan Konferensi Piknik Bareng Walikota Seluruh Dunia.
Buku pertama yang saya lahap di tahun 2018. Waktu membaca blurb dan tagline-nya, saya kira isinya bakal dramatis (pemikiran mainstream, memang :v).
Di awal cerita, saya masih bingung ini kisah arahnya ke mana, tapi pelan-pelan saya mulai menemukan alurnya. Sampai pada tengah buku, saya merasa ini seperti cerita fantasi (The power of Arka sepertinya :D). Saya menikmati 'dua dunia' yang dialami Arka, termasuk saat harus menebak-nebak siapa sebenarnya 'tokoh-tokoh aneh' yang diberi sebutan khusus oleh Arka.
Andai di halaman 189 tidak ada kebocoran tentang siapa 'Si Perempuan Cadel' yang suka berkeliaran di 'alam lain' Arka, mungkin akan lebih bikin gregetan.
Secara keseluruhan, saya suka kisah Arka. Dan tokoh favorit saya sudah pasti Gelia yang suka ajaib! :D
jujur saya, saat saya membeli buku ini saya tidak sadar kalau buku ini adalah sebuah novel. saya pikir, ini buku nonfiksi seperti Kedai 1001 dan 1002 mimpi. saya follow @vabyo di twitter sudah lama, jadi saya tahu beliau sempat kena stroke. dan begitu tau beliau membuat buku tentang kisah ini, saya tidak sabar untuk membaca. jujur sempet agak kecewa karna ternyata ini novel. tapi wow, di luar ekspektasi saya, saya suka ceritanya! worth to have, banget. terimakasih, kak Vabyo, untuk ceritanya.
Buku yang konsepnya unik dan menarik, cerita tentang orang pasca stroke hemoragik (based on true story si penulis yang beneran kena stroke di umur 28!!), diceritakan dalam bentuk novel yang ringan --tapi perlu daya imajinasi tinggi-- apa yang terjadi dan dirasakan orang stroke, perjalanan pulih fisik dan mental. antara halusinasi, memproses kenyataan, mengembalikan kenangan-kenangan yang hilang. wows. mind blowing.
"siapa yang sangka gelap jadi penanda terang harapan baru kami"
Awal-awal baca saya kira ini hanya tentang Arka, Gelia, dan percintaan mereka, ternyata saya salah, ada hal-hal yang lebih besar dan mengerikan dari pada itu. Sudah lama saya merindukan perasaan puas setelah membaca buku, dan kali ini saya dapatkan dari buku ini
Tentang berusaha mengingat pada saat kita dipaksa untuk melupakan. Dan selalu suka sama sindiran-sindiran halus khas Kak Vabyo, bagaimana opini kita digiring untuk selalu mengikuti mau "sang empunya kerajaan", sampai kita lupa rasanya berjalan mengikuti kata hati. Baca lalu temukan bagaimana tenggelam dalam ingatan :)
Seperti biasa, Vabyo menghadirkan cerita unik bin ajaib. Kali ini melalui Arka, penggila gambar yang terkena stroke, pembaca dibawa menelusuri imajinasi Arka yang rumit.
Tulisannya sedikit terkesan lompat-lompat, tetapi untungnya tertolong dengan interaksi Arka dan pacarnya yang aneh, Gelia. Pokoknya, best part dari novel ini adalah "Gelia dan dunia anehnya" =D
Wow! Ini BUKAN BUKU BIASA! Campuran antara Sci-Fi, Drama, Thriller, Mystery dan Medis! Seger aja gitu bacanya, jarang jarang ada novel Indonesia jenis gini. Beruntung dapat edisi TTD nya. Langsung 2 jam habis! Ceritanya sangat unik dan memikat!
Sudah lama gak baca tulisan-tulisannya Vabyo, dan ini termasuk yang ditunggu karena ini novel pertama pasca Vabyo terkena stroke. I love this novel, baca ini seperti belajar medis in a 'fun' and easy way. Tambah pemahaman soal stroke juga. Ketika baca buku ini, secara emosi jadi terbawa haha. Dari ngerasa capek karena berasa seperti Arka yang beursaha mengingat-ingat masa lalu, penasaran dengan arti mimpinya sendiri, sampai menitikkan air mata di akhir-akhir bab novel ini
Banyak pelajaran hidup juga yang bisa diambil dari novel ini (and good quotes too :p) Thank you for sharing your stories through this novel :)