Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi” as Want to Read:
Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi

3.79  ·  Rating details ·  396 ratings  ·  63 reviews
Paperback, 155 pages
Published June 20th 2016 by Gramedia Pustaka Utama
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Buku Tentang Ruang, please sign up.

Be the first to ask a question about Buku Tentang Ruang

Community Reviews

Showing 1-30
Average rating 3.79  · 
Rating details
 ·  396 ratings  ·  63 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi
Arief Bakhtiar D.
Jul 10, 2016 rated it it was amazing
RUANG ADALAH...

BAGI Avianti Armand, ruang bukanlah sesuatu yang memiliki pusat. Ruang bukanlah ruang dengan batas-batas beku seperti yang kerap kita pahami. Ruang bukan sesuatu yang benar-benar terpisah, antara "di luar" atau "di dalam". Kita tak lagi percaya ada sesuatu yang menjepit, atau mengkotak-kotakkan, di antara batas. Saya kutip sebagian sajak Paviliun:

Realitas telah menyembunyikan luar dari dalam dan dalam dari luar. Lalu pohon-pohon kau letakkan begitu saja dalam kotak-kotak kaca aga
...more
omnivoreader
Jul 17, 2016 rated it really liked it
Shelves: favorites
"Kata mereka, cuma ada satu matahari.
Kataku, itu milikku.
Dan aku tak mau berbagi.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Entahlah. Mungkin cinta memang begitu."

*

"Seperti biasa,
kita terdampar lagi
pada chorus terakhir sebuah karusel
dan satu malam sepia."

*

4.5
Jessica Huwae
Selalu jatuh cinta dengan eksekusi akhir dari buku Avianti Armand, terutama buku-buku puisi dan esai-nya (karena kumcer Avianti yang Kereta Tidur gambarnya beli di bank image hehehe...). Selalu apik dan cantik, mungkin karena sang penulis punya latar belakang arsitektur yang sehari-hari larut dalam estetika. Puisi-puisi Avianti cenderung gelap dan bitter, namun juga menimbulkan after taste yang bikin nagih. Utopis, muram dan kontemplatif rasanya sangat pas menggambarkan puisi-puisi di buku ini. ...more
Teguh
Jul 16, 2016 rated it really liked it
Sepertinya buku ini adalah buku puisi ter-awesome sepanjang 2016. Saya memang bukan pandai membaca puisi/mengkritisi/apalgi menyibak makna di dalam puisi. Tetapi buku puisi ini terasa kompak dan padu dengan konsep cover, ilustrasi, dan pilihan-pilihan kata yang ada di dalamnya.

Kesan bahwa teks-teks yang sepi, sendiri, dan gloomy memang cocok dengan cover serba putih dan ilsutrasi yang mirip sketsa ruang. Suka. dan Suka.
miaaa
Jul 22, 2016 rated it really liked it
Shelves: indonesian, poems
Reading poems is never easy for me. Enter Avianti Armand.
And I always have these similar eerie feelings of helplessness, haunted, yet always mesmerised.

I certainly love this:

"Mungkin aku somnambulis."

Di balik gaun malam
dan mata yang terpejam, bukan tidur
yang meminta mimpi,
tapi kehilangan
yang mencari tuan.
ABO
Nov 10, 2016 added it
Shelves: bacaan-2016
Entah saya yang lemot, atau bukunya emang terlalu absurd. Saya nggak ngerti puisi-puisi di buku ini. Maap.

p.s.: saya belum berani nge-rate deh, mungkin nanti, setelah saya baca ulang lagi.
Aya  Canina
Oct 18, 2020 rated it really liked it
Laki-laki: Kamu bisa merasakan tanganku?
Perempuan: Ya.
Laki-laki: Kamu tahu kalau ini aku?
Perempuan: Tidak.
Laki-laki: Sekarang kamu mengerti maksudku.


(dalam puisi "Tentang Sebuah Rumah")

Puisi-puisi dalam buku ini lembut, putih, beruas-ruas. Entah karena desain sampul dan ilustrasi-ilustraso minimalis di dalamnya, adegan demi adegan yang dibangun terasa lamban dan tenang. Persis seperti hidup itu sendiri. Jika puisi-puisi pada "Perempuan yang Dihapus Namanya" memiliki efek menyayat, "Buku Tentang
...more
Yunia Damayanti
Aku bukan penggemar puisi/sastra. Tetapi, puisi ini cukup membuat aku betah untuk membacanya sampai habis.

RUANG. PERPISAHAN. HARAPAN. EROTIKA.
Berbagai hal yang termasuk ke dalam puisi ini membuat aku lebih mengetahui tentang dunia literasi dan sastra. Memang butuh berbagai praktek supaya bisa mengerti isi keseluruhan puisi yang saya baca,
Alvina Djoened
Dec 14, 2016 rated it really liked it
Shelves: thumbs-up
(4.5 stars)

Kumpulan puisi yang cocok dibaca untuk teman sepi.

Saya masih pemula di dunia puisi ini. Mungkin karena itu saya menganggap bahasa yang digunakan oleh Avianti Armand ini cukup susah, hampir sesusah tulisan Pak Sapardi Djoko Damono.

Judul buku puisi ini, menurut saya, sangat eksplisit menggambarkan puisi-puisi yang ada di dalamnya. Si penulis menggunakan banyak pengandaian yang benar-benar "tentang ruang". Karakter tulisan Mbak Avianti ini sangat menggambarkan pekerjaan aslinya, yaitu ar
...more
Nura
Aug 28, 2018 rated it liked it
Shelves: poetic
Sebuah ruang bukan selalu tentang batas.
Tak pula tentang waktu selintas.
Ruang adalah tentang aku.
Tentang kamu.
Tentang kita.
Pada suatu ketika.

***

Puisi favoritku:

Cinta adalah tentang waktu.
Tak baik bertemu orang yang tepat
terlalu cepat atau terlambat.

Tapi hujan telah mengubah wajahmu semacam cermin
yang mengganti namaku menjadi Biru.


Ruang yang Jauh



#courtesy of iPusnas
Susyi Illona
Sep 19, 2016 rated it it was amazing
ini buku puisi yang membuat saya nahan napas tiap kali membuka lembar demi lembar halamannya. sangat suka. meski aku gagal menyelesaikan kumcer dari Mba Avianti karena merasa terlalu "berat" tapi di buku ini aku cuma bisa bilang. kece. keren. suka!!
Alifa Imama
Oct 10, 2018 rated it did not like it
Shelves: poetry
Saya suka puisi. Tapi kenapa ya saya ga paham puisi-puisi yg ingin disampaikan di buku ini. Rasanya tidak ada penarik dalam cerita-ceritanya. Mungkin harus coba baca ulang lagi nanti.
e.c.h.a
Jul 27, 2016 rated it really liked it
selepas denting, dalam gelas bunyi menunggu
Aqmarina Andira
Jan 19, 2017 rated it liked it
Menggabungkan arsitektur dan puisi. Menangkap ruang dan batas dalam kata dan makna. Ternyata bisa. Ternyata.

Buku keempat di 2017.
Raafi
Jul 21, 2016 rated it liked it
Shelves: 2016, indonesia
Ada banyak hal yang sepertinya penulis kemukakan namun tak dapat kutangkap. Mungkin memang aku tidak ditakdirkan untuk menikmati buku puisi.
Nike Andaru
35 - 2019

Buku ketiga dari Avianti Armand yang saya baca bulan ini.
Kali ini tentang ruang, dan saya merasa suka sama buku kali ini. Kalo kesan 'dark' terasa dalam buku Museum Masa Kecil dan Perempuan Yang Dihapus Namanya, kali ini kesan itu gak ada, tetap menyenangkan saja membacanya. Dilengkapi dengan gambar sketsa yang sederhana tapi tetap bagus aja gitu.

Banyak yang saya suka, bagian Ruang Tunggu terutama.

Kekasih,
jika saja kita bisa menghindari kontak mata, kita tentu bisa bertahan.

Kekasih,
k
...more
Nabila Alifia
May 03, 2019 rated it liked it
Akhirnya diberi kesempatan juga membaca buku ini. Ruang selalu memiliki makna dan cerita entah itu pertemuan, konflik maupun perpisahan. Rasa menghantui mengakar terus di dalam perasaan setelah membaca buku ini setiap puisinya memberikan rasa penasaran dan keinginan untuk memahami puisi itu sekali lagi. Mungkin kalau baca buku ini harus berulang ulang kali.
Jihan Suweleh
Apr 29, 2020 rated it it was amazing
"Tak ada yang pernah tuntas
mengukur panjang
kesepian."

(Cafe Muller - hlm. 149)
Fahrul Khakim
Feb 25, 2017 rated it really liked it
Paling suka puisi 'Buku Harian' yang pernah dimuat Kompas. Narasinya begitu personal dan liris.
Lourdes
Mar 06, 2017 rated it really liked it
Melalui buku ini, saya lihat penulis menyimpan sesuatu. Setidaknya ada keyakinan terhadap sebuah ketiadaan yang dijadikan mengada. Pun sebaliknya. Terlepas masuk akal atau tidak, ia tetap menulisnya dan meruntuhkan ruang yang ada dengan kata.
Indah Threez Lestari
Oct 14, 2016 rated it liked it
Shelves: indonesian, punya
744 - 2016
Yuli Hasmaliah
Nov 12, 2017 rated it really liked it
Satu Matahari.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Setahun yang lalu aku telah melihat sesuatu yang tak seharusnya kulihat.
Mereka bilang: matahari.
Mataku menangkap: Dia.
Tubuhku seketika mengerang oleh cahaya yang terlalu terang. Dan terlalu gelap.
Lalu dia bergantian mendenyutkan ingin yang akut - seperti desah dalam lipatan daging
Terang - gelap - terang - gelap.
Cadar ini terlalu tipis untuk menyembunyikan rasa.

Apa yang kau lihat di jalan itu?
Genangan air yang jadi hijau?
Merah,
...more
Aufa Shofi Iskarimah
Nov 26, 2017 rated it it was ok
Shelves: indonesia
"Cinta," katamu,
"lebih baik tidak diucapkan.
Atau dia akan
lenyap."

Seperti biasa,
kita akan segera lupa
bahwa kita selalu pulang
pada luka
yang sama.

(Seperti Biasa)

Hmm. Jelas bukan puisi untuk saya. Terlalu sulit untuk saya mengerti (memang gak pandai baca puisi juga sih.) Tapi beberapa bait terasa sangat indah dan mengena. Suka juga dengan gambar dan tampilan bukunya yang sangat bersih dan rapi.
Ega Abdi  Satrio
Oct 25, 2019 rated it liked it
Shelves: poems
Hmm nggak ngerti sebagian besar apa yang dimaksudkan puisi-puisi ini, terutama di halaman-halaman awal. Puisi pendeknya lebih bagus dari puisi-puisi panjangnya. Memang rasanya saya nggak cocok dengan tipikal puisi-puisi seperti ini.
ayu amaradipta
Dec 09, 2019 rated it really liked it
Shelves: poetry, indonesia
Ruang digambarkan dengan makna ganda, internal dan eksternal, terukur dan tak terukur, fisikal dan filosofis. Penuh personifikasi, tapi tetap runut, apapun maksud isi si pencerita, jadi secara ga langsung ini jadi media refleksi diri juga.
asih simanis
Dec 09, 2018 rated it really liked it
This book was a delight. Avianti has such a sarcastic, lyrical , yet quiet voice that it will probably be interesting to see her work mature in the future. She definitely has the potential in being one of the great poets of Indonesian literature —says me, the amateur poetry lover.
Dhia Awanis
Jun 11, 2018 rated it really liked it
Kumpulan puisi yang cerdas, lugas, dan memiliki makna ambiguitas—yang menurut saya justru adalah bagian terkuat dari buku ini. Pembacanya dipbolehkan untuk memaknai tiap kata rangkaian puisi sesuai dengan perspektifnya masing-masing.
shain
Feb 21, 2020 rated it really liked it
awesome.
mid
Jun 08, 2020 rated it it was amazing
Really love how this portray about space in human term
Jean
Dec 20, 2017 rated it liked it
Bagi yang suka puisi, MUNGKIN akan suka.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • The Book of Forbidden Feelings
  • The Book of Invisible Questions
  • Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita: Buku Puisi
  • Laut Bercerita
  • Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi
  • Cinta yang Marah
  • Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi
  • Tidak Ada New York Hari Ini
  • Di Hadapan Rahasia
  • Aku Ini Binatang Jalang
  • Cinta Tak Ada Mati
  • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan
  • Perihal Gendis
  • Perjamuan Khong Guan
  • Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi
  • Namaku Sita
  • Beauty Is a Wound
  • Perahu Kertas
See similar books…
145 followers
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Ra ...more

News & Interviews

Need another excuse to treat yourself to a new book this week? We've got you covered with the buzziest new releases of the day. To create our...
29 likes · 15 comments