Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan” as Want to Read:
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan

4.06  ·  Rating details ·  484 ratings  ·  68 reviews
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
*
Sabda sudah menjadi saya.
Saya akan dipecah-pecah menjadi ribuan kata dan suara.
*
Tubuhku kenangan yang sedang menyembuhkan lukanya sendiri.
*
Menggigil adalah menghafal rute menuju ibu kota tubuhmu.
*
Lupa: mata waktu yang tidur sementara.
*
Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku.
*
...more
Paperback, 212 pages
Published June 2016 by Gramedia Pustaka Utama
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, please sign up.

Be the first to ask a question about Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Community Reviews

Showing 1-30
Average rating 4.06  · 
Rating details
 ·  484 ratings  ·  68 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan
Arief Bakhtiar D.
Jul 17, 2016 rated it really liked it
JOKO PINURBO DAN PECAHAN HIDUP SEHARI-HARI

JIKA hidup sehari-hari ingin memecah diri menjadi puisi, mereka akan memilih Joko Pinurbo sebagai penggubahnya. Itulah yang mungkin terjadi ketika kita membaca puisi-puisi pilihan dalam buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karangan Joko Pinurbo.

Kita akan menemukan dengan mudah pada sajak-sajaknya keberanian menggunakan kata-kata dari bahasa percakapan sehari-hari, seperti "duh", "ya", "kok", "Ah", "Hai", "Ha-ha-ha...", "Maaasss...", "pangling", sampai ba
...more
Iman Danial Hakim
Jan 26, 2018 rated it it was amazing
Jokpin menggunakan bahasa percakapan seharian di dalam puisinya. Beliau mengambil hujan, orang tua, masa, senja, darah, tubuh, kamar mandi, jenazah, celana dan objek-objek yang kurang diberi perhatian sebagai subjek puisi.

Membaca dialog yang dimasukkan ke dalam puisi kadang menyebabkan kita lupa; Aku sedang membaca cerpen atau sajak? Cerita-puisinya lengkap dengan pengenalan, perkembangan, konflik dan peleraian (seperti plot cerpen/novel)
Dion Yulianto
Feb 26, 2017 rated it really liked it
Membaca puisi-puisi Jok Pin adalah membaca keistimewaan dalam kesederhanaan. Tanpa kata-kata tinggi yang tak tersentuh awam, Jok Pin selalu berhasil membuai pembaca lewat puisi-puisinya yang bercerita. Ini masih ditambah dengan permainan bunyi-bunyian dalam kata-kata pilihan, menjadikan deretan kata-kata biasa terasa lebih istimewa lewat puisi-puisinya. Kelebihan ini masih ditambah dengan ending yang seperti mempermainkan pembaca, tetapi dengan cara yang menyenangkan. Rasanya, selalu ada yang la ...more
omnivoreader
Jul 04, 2016 rated it liked it
Di Atas Meja

Di atas meja kecil ini
masih tercium harum darahmu
di halaman-halaman buku.

Sabda sudah menjadi saya.
Saya akan dipecah-pecah
menjadi ribuan kata dan suara.

(1990)
Mobyskine
Jan 18, 2017 rated it it was amazing
Shelves: favorites
Poetically spooky, oh can i say this? Jokpin is so much Jokpin-- hal kuburan, perihal jenazah, ranjang yang terbakar, malam yang larut dan kamar mandi yang menakutkan. Ini kumpulan puisinya dari awal tahun 1989 ke tahun 2012. Beberapa sudahpun saya baca di buku-buku puisi Jokpin yang lain. Masih belum puas, masih juga tidak bosan.

Ia seperti melihat perkembangan puisi seorang tukang puisi. Kisah-kisah pendek yang menyamar dalam bait-bait puisi. Satu-satu aksara dalam kisah-kisah seharian, merump
...more
Pauline Destinugrainy
Dalam buku ini ada lebih banyak puisi, namanya juga lagi beribadah. Jadinya mereka berkumpul menjadi satu. Ada beberapa puisi yang pernah saya baca. Rangkaian kalimat yang disusun oleh Joko Pinurbo memang selalu menghanyutkan.
Teguh
Jul 16, 2016 rated it really liked it
Buku ini adalah kumpulan puisi-puisi Jokpin yang dipilih dari beberapa buku puisi terdahulu. Sangat terasa perubahan dari masa-masa kepenulisan Jokpin. Celana dan hal-hal sepele memang mendominasi buku puisi ini. Tapi sepertinya puisi Celana Ibu, Asu akan tetap dibicarakan karena hal-hal lucu, dan yang tak ditemukan oleh penyair lain....

Buku puisi keren!
Santi S. Aisyah
Dec 22, 2018 rated it liked it
I've finally finished reading this book.. it took so long, but it doesn't mean i don't like it or it's bad. It's just the book needs to be read in your leisure time, since it mixes up the way you think and how you feel.. i think i need to meet the author in the real life 🙂 ...more
Widia Kharis
Apr 27, 2019 rated it it was amazing
Shelves: terbaik, puisi
celana, kamar mandi, becak, anjing, jenazah, hujan, ibu, waktu... hal-hal sederhana yang oleh jokpin disulap menjadi puisi dengan demikian indah. suka sekali!
Astrid Ramadhanti
Aug 22, 2020 rated it it was amazing
Shelves: ipusnas
Puisi-puisi dari pak Jokpin ini nggak pernah mengecewakan. Saya selalu dibuat terkagum-kagum, jadi sulit untuk tidak menyukai karya-karyanya.
Karyanya selalu mudah untuk disukai karena ia memilih diksi-diksi yang sederhana namun tetap saja melalui puisinya ia selalu berhasil menyampaikan makna-makna.
Karena diksi yang ia gunakan sederhana, pembaca jadi bisa lebih leluasa untuk menginterpretasikannya, sehingga pembaca bisa meresapi maknanya dengan baik.
Ditambah lagi, puisi-puisinya nggak monoton. T
...more
Biondy
Oct 05, 2017 rated it liked it
Shelves: poem
Ampun, saya mulai baca di Agustus 2016 dan baru selesai di Oktober 2017.

Buku yang berisi kumpulan puisinya Joko Pinurbo dari tahun 1989 sampai 2012. Di sini pembaca bisa melihat evolusi tema tulisan Jokpin. Mulai dari tubuh, celana, bulan, hujan, hingga permainan kata.
Nike Andaru
30 - 2019

Buku puisi ke 7 dari Joko Pinurbo yang saya baca bulan ini.
Tapi dalam buku ini banyak puisi sudah saya baca di buku lainnya. Walau begitu tetap menarik sih dibaca, tetap masih enak dinikmati.
Favorit saya berjudul Selamat Ulang Tahun, Buku dan Liburan Sekolah.
mei
Dec 15, 2016 rated it it was amazing
Shelves: kesukaan
tubuh pinjaman

tubuh
yang mulai akrab
dengan saya ini
sebenarnya mayat
yang saya pinjam
dari seorang korban tak dikenal
yang tergeletak di pinggir jalan
Pada mulanya ia curiga
dan saya juga kurang berselera
karena ukuran dan modelnya
kurang pas untuk saya
Tapi lama-lama kami bisa saling
menyesuaikan diri dan dapat memahami
kekurangan serta kelebihan kami
sampai sekarang belum ada
yang mencari-cari dan memintanya
kecuali seorang petugas yang menanyakan status
ideologi, agama dan harta kekayaan

Tubuh yang mulai manj
...more
Ratih
May 10, 2018 rated it really liked it
pak jokpin nih selera humornya edun ya, aku bacanya sambil ketawa2 mulu :DDD
Nura
Feb 10, 2018 rated it liked it
My fave is

Gambar Hati versi Penyair

Seperti dua koma bertangkupan.
Dua koma dari dua kamus yang berbeda
dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi.

(2007)


#courtesy of iPusnas
Daniel
Apr 10, 2020 rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: 8, poetry
Joko Pinurbo
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan
Gramedia Pustaka Utama
260 halaman
8.0
Indah Threez Lestari
Oct 19, 2016 rated it really liked it
Shelves: indonesian, punya
756 - 2016
jessie monika
Oct 05, 2016 rated it really liked it
Jika puisi-puisi Sapardi banyak yang berkaca dengan alam, Jokpin berkaca pada aktifitas atau hidup sehari-hari. Kata-kata benda yang banyak bertebaran di puisi-puisi Jokpin antara lain: celana, ranjang, ayah, ibu, baju, rumah, gadis, keranda, asu.

Oya, biasanya pada saat Paskah, saya sering menerima salah satu penggalan puisi Jokpin yang berjudul: "Celana Ibu". Tapi sesungguhnya, puisi Jokpin yang paling menohok saya adalah yang berjudul: "Di Perjamuan".

Begini bunyinya:
Aku tak akan minta anggur
...more
Gloria Fransisca Katharina
Aug 11, 2016 rated it it was amazing
Masa kecil kau rayakan dengan membaca.

Kepalamu berambutkan kata-kata.

Pernah aku bertanya, “Kenapa waktumu kau sia-siakan dengan membaca?”

Kau jawab ringan, “Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan yang tak terhingga banyaknya.”
Andika Pratama
Aug 14, 2020 rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: puisi
Hal-hal sederhana di dalam rumah mungkin tumpah ruah di dalam buku kumpulan puisi ini. Jokpin dengan handal memainkan diksi-diksi sederhana, hal-hal yang mudah dan lumrah kita temukan di sekitar kita. Jenis puisinya yang bercerita memberikan kita sedikit tanya "apakah ini puisi atau cerita pendek?" namun demikian, bahasa puitik yang digunakannya sudah memberikan penjelasan singkat bahwa yang ada di dalamnya adalah benar puisi. Puisi-puisinya hadir dengan plot, karakter, dan dialog yang sifatnya ...more
Joy Agustian
Jan 20, 2020 rated it really liked it
Tidak sulit memaknai puisi JokPin yang sarat akan metafora dan diksinya yang jauh dari kesan menye-menye.

Pada puisi Penumpang Terakhir, beberapa orang mungkin beranggapan kalimat 'Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya' mengacu pada laju becak. Akan tetapi, jika ditelusuri lebih hati-hati dan saksama, kalimat ini mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh si tukang becak dan penumpang becak tsb.

'Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkan di atas makam nenek moyangku atau
...more
Hëb
Jan 07, 2021 rated it liked it
"Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hati yang sebentar lagi tanggal,
hangatkan hati yang tetap tinggal."
-Desember, hlm 4

Barangkali cuplikan bait di atas yang menggambarkan hal yang kusukai dari Jokpin, yaitu permainan rima dalam kata -seperti yang ia tulis di "Kamus Kecil". Sayangnya, gaya seperti itu tidak terlalu menonjol di sini. Aku malah menemukan bahwa dalam buku ini, Jokpin hobi menggunakan kata 'ranjang' dan 'celana' yang diaplikasikan dalam beragam bait. Mungkin ke
...more
asih simanis
May 16, 2021 rated it liked it
Kalau sudah menyangkut puisi, semuanya adalah tentang selera, dan harus dengan berat hati kuakui: Joko Pinurbo bukan porsiku. Seandainya ia nasi campur, walaupun enak, tapi di lidahku kurang pas—dan sambil mengunyah aku terbengong-bengong, ini apa? Apa maksudnya?

Tentunya kumpulan puisi ini bukan tanpa bait yang tidak bisa kunikmati.

Beberapa diantara puisi yang ada, terutama yang terkait Celana dan Kunang-kunang sangat menggugah hatiku, dan mungkin di banyak kesempatan akan ku senandungkan. Bahka
...more
Rizky Arya
Mar 16, 2021 rated it really liked it
Setelah sebelumnya dibawa masuk ke jalinan cinta kasih antara ibu dan anak-anaknya dalam buku ‘Kekasihku’, lalu mendapat banyak pesan kritik sosial dengan kata-kata yang sederhana namun menggelitik dan membuat ngikik dalam buku ‘Perjamuan Khong Guan’, sampailah aku dibuat tertegun dan khidmat menunaikan ibadah membaca puisi-puisi dalam buku ini.

"Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku."
-Joko Pinurbo

Aku termasuk pengagum tulisan-tulisan Jokpin yang khas dengan kata-kata terangkai
...more
Galih Khumaeni
Feb 14, 2018 rated it really liked it
Shelves: poetry
Puisi Jokpin adalah puisi yang ringan, jenaka dan cerdas, walau ada beberapa yang cukup abstrak juga. Lalu entah kenapa banyak sekali puisi tentang celana, kamar tidur, kasur, dan kamar mandi. Contohnya adalah puisi Celana Ibu yang juga menjadi favorit saya

Maria sangat sedih
menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati,
pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa
celana yang
...more
Alistya Dewi Esty
Aug 29, 2018 rated it really liked it
Jokpin selalu mampu mengangkat tema dan menuliskan hal-hal yang bahkan tak terpikirkan oleh saya. Banyak dari puisinya di sini mampu membuat senyum-senyum sendiri, bahkan tertawa. Secara garis besar, kumpulan puisi yang bisa dibilang tebal ini sudah cukup mampu membuat pembaca mengenali sosok Jokpin yang memang sangat berbeda dibanding penulis-penulis lainnya; ia begitu unik dan sederhana.
Alfiana Noni
Jun 16, 2017 rated it really liked it
Saya ga begitu ngerti puisi jadi merating buku ini berdasarkan kenyamanan baca aja. Saya suka bahasanya lugas dan di beberapa puisi, maknanya (terasa) kuat. Tapi kadang saya kerasa berjarak sama puisinya. Entahlah.
Ahmad
Feb 23, 2018 rated it it was amazing
Shelves: puisi-terbaik
Selalu menyenangkan membaca puisi-puisi Joko Pinurbo. Jokpin, panggilan akrabnya, berhasil membuktikan bahwa puisi bukan hanya tentang bahasa yang setinggi langit, melainkan juga adalah bahasa sehari-hari di mana makna itu ada.
Aisyah Firlinda
Apr 26, 2018 rated it really liked it
Kenapa kurang satu bintang saat aku jatuh hati dengan puisi itu? Karena beberapa puisi masih harus kubaca berulang kali, ini sih bukan faktor penulis atau tulisannya. Tapi memang aku yang masih perlu banyak belajar. Tapi secara keseluruhan aku suka puisi yang judulnya "Dengan Kata Lain" ...more
Eka Fajar Suprayitno
Jun 23, 2017 rated it really liked it
" Memang lebih mudah baca novel daripada baca puisi." Itu adalah kesimpulan saya saat menyelesaikan buku ini. Buku puisi ini bagus. Tapi saya masih saja kebingungan dengan maksud dari beberapa puisi pak jokpin. ...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi
  • Tidak Ada New York Hari Ini
  • Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi
  • Aku Ini Binatang Jalang
  • Filosofi Teras
  • Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
  • Laut Bercerita
  • Gadis Kretek
  • Man Tiger
  • Kolam: Buku Puisi
  • Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
  • The Book of Forbidden Feelings
  • Hujan Bulan Juni
  • The Book of Invisible Questions
  • Semua Untuk Hindia
  • Pasung Jiwa
  • Corat Coret di Toilet
  • Pulang
See similar books…
289 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Ing ...more

Related Articles

This June, as we observe LGBTQ Pride—the annual celebration of the lesbian, gay, bisexual, transgender, and queer/questioning communities—we...
212 likes · 72 comments
“Uang, berilah aku rumah yang murah saja,
yang cukup nyaman buat berteduh
senja-senjaku, yang jendelanya
hijau menganga seperti jendela mataku.

Sabar ya, aku harus menabung dulu.
Menabung laparmu, menabung mimpimu.
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu.

Uang, berilah aku ranjang yang lugu saja,
yang cukup hangat buat merawat
encok-encokku, yang kakinya
lentur dan liat seperti kaki masa kecilku.

Kepada Uang”
1 likes
“Pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah lupa.
Tidak butuh kecerdasan. Tidak perlu pendidikan.
Hanya perlu sedikit berpikir. Itulah sebabnya, banyak
orang tidak suka kalender, jam , dan tulisan.
Menghambat lupa. Padahal lupa itu enak.
Membebaskan. Sementara.

Lupa”
1 likes
More quotes…