Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Puya ke Puya” as Want to Read:
Puya ke Puya
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Puya ke Puya

by
3.96  ·  Rating details ·  266 ratings  ·  92 reviews
Surga diciptakan karena...

Setelah puluhan tahun kau menunggu, kini kau telah berjalan ke surga. Ketika hampir tiba, ketika kutanyakan 'kenapa surga diciptakan?' kau hanya bisa diam. Untuk apa kau berjalan? Kau juga tidak tahu. Dasar manusia!
Kau hidup hanya untuk mati? Jika seperti itu, betapa kasihan kau, saya dan leluhur kau yang lain, tentu sangat kecewa. Tak pantas kau
...more
Paperback, 230 pages
Published October 15th 2015 by Kepustakaan Populer Gramedia
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Puya ke Puya, please sign up.

Be the first to ask a question about Puya ke Puya

Community Reviews

Showing 1-30
Average rating 3.96  · 
Rating details
 ·  266 ratings  ·  92 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Puya ke Puya
ucha (enthalpybooks)
Jun 22, 2018 rated it really liked it
Lebih dari setahun lalu saya pernah menonton dokumenter dari VICE Indonesia berjudul Royal Blood : Uang, Darah dan Kematian di Toraja. Liputan yang cukup lengkap untuk memahami proses upacara terpenting dalam adat Toraja yaitu upacara kematian yang dinamai Rambu Solo.

Pengetahuan akan budaya ini kembali menemui konteksnya ketika kita membaca karya sastra. Ini bisa ditemui dalam novel 'Puya ke Puya'. Jika saja belum baca profil penulisnya, saya tak akan percaya karya ini ditulis oleh seorang yang
...more
Teguh Affandi
Oct 11, 2015 rated it really liked it
Saya masih mengingat betul betapa goosebump saat Faisal Oddang diumumkan sebagai cerpen terbaik Kompas Juni 2015 lalu.Saya merinding karena di usianya yang sangat muda, prestasi dan dedikasi sastranya perlu diacungi jempol. Benar-benar generasi sastra muda yang menjadi masa depan cerah Indonesia. (Saya jadiingat Linda Christanty, yang di usia 19 tahun, cerpennya menjuarai lomba cerpen KOMPAS dan dimuat di harian yang sama)

Sekarang, saya berhasil membaca novel Puya ke Puya yang menjadi juara ke-4
...more
ABO
Oct 07, 2015 rated it it was amazing
4.5/5

Sengaja dikurangi 0.5 bintang gegara typo-nya yang bertebaran :(

Review lengkap (yang cukup panjang) bisa dibaca di sini: http://ariansyahabo.blogspot.co.id/20...
...more
Pauline Destinugrainy
Setiap satu ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi seklaigus menuju pulang. Orang-orang hidup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat. Dan Tuhan menciptakan surge bagi para pejalan. Entah karena apa…

Rante Ralla meninggal dunia. Sebagai seorang tetua adat dan bangsawan di Kampung Kete Kesu Toraja, maka dia harus dimakamkan dengan adat Rambu Solo’. Hanya saja biayanya tidak sedikit. Dibutuhkan 24 kerbau dan ratusan babi untuk mengantarnya ke
...more
Gin Teguh
Dec 20, 2015 rated it liked it
Jarang saya menemui cerita yang menarik perhatian di sepanjang tahun 2015 ini. Dan "Puya ke Puya" rupanya membetot perhatian saya selama dua hari penuh ketika membacanya.

Dari awal ketika membuka halaman demi halaman, saya mencoba menurunkan ekspektasi. Yah, karena beberapa kali saya terjebak overrated buku-buku yang dikatakan 'bagus'. Tapi, tidak untuk "Puya ke Puya". Saya sudah jatuh cinta semenjak di halaman pertama hingga halaman-halaman berikutnya yang selalu bikin saya terkejut beberapa ka
...more
Muhammad Rajab
Oct 07, 2015 rated it liked it
aku akui Faisal Oddang menulis dengan bagus sekali. dan hal ini juga yang menyebabkan aku hendak memberi nilai lebih untuk novel ini. barangkali empat bintang. terutama oleh cara bercerita Faisal yang benar-benar enak dan bagus. pergantian tokoh melalui sudut pandang orang pertama dari tiga orang: Rante Ralla, Allu Ralla, dan Maria Ralla masing-masing disuarakan berbeda. tentunya hal ini membuat aku takjub. kemampuan menulis Faisal--yang masih seumuran aku--sudah hebat begitu. aku paling suka ke ...more
Amal Bastian
Jul 17, 2017 rated it liked it
Menggigit. Tragis. Komunikatif. Eksploratif. Dengan gaya bahasa dan cara bertutur pada penokohan yang tak biasa, membuat karya terbaik DKJ ini sedap dinikmati. Menggiring pembaca ke jalur terdalam satu budaya Toraja yang tidak banyak diketahui orang. Jika non-Toraja hanya menikmati hasil suatu budaya, merekam dalam mata dan ingatan, tapi tidak dalam karya ini. Kita dipaksa menjadi seorang Torajan yang berdiri pada lini tengah yang diapit dua lapis kehidupan: mempertahankan adat dan berjalan seir ...more
Jonas Vysma
Mar 17, 2020 rated it really liked it

Seperti novel-novel yang pernah saya baca, saya masih harus meraba untuk menemukan dan memegang alur cerita. Beberapa halaman setelahnya, saya baru mulai setel untuk mengikuti cerita. Bahkan, dalam beberapa novel, mata saya hanyut mengikuti emosi yang dibangun. Dan Puya ke Puya adalah salah satunya. Ya, saya hanyut, seperti diajak oleh orang ketiga serba tahu ke ruang & waktu saat kejadian. Ketika sedang menulis ini, kembali saya melihat novel ini yang berada di samping kiri, tersenyum simpul &
...more
Nurul  Fadhilah
Sep 20, 2016 rated it liked it
Buku ini bercerita dari sudut pandang empat pencerita: Arwah Leluhur, (Arwah) Rante Ralla, Allu Ralla, serta (Arwah) Maria Ralla (adik Allu yang meninggal saat umur 5 bulan, sekitar 17 tahun yang lalu). Puya ke Puya menceritakan bagaimana seorang anak yang mau terbebas dari adat yang ditasa membelenggunya, tetapi dilema karena sang ayah adalah seorang tetua adat yang tentunya memegang teguh adat yang dijunjung. Belum lagi keluarga yang menentang putusannya untuk memakamkan sang ayah secara 'norm ...more
Rido Arbain
Oct 11, 2015 rated it really liked it
Sepertinya baru kali ini aku membaca novel bertema lokalitas budaya daerah yang konfliknya begitu kompleks. Salut dengan Faisal Oddang yang bisa menjalin cerita semenarik ini. Aku suka cara bertuturnya yang unik dengan penggunaan tanda * dan kurung () untuk membagi sudut pandang Rante Ralla, Allu Ralla, dan Maria Ralla. Semua porsinya pas, dengan napas bercerita yang berbeda dari masing-masing tokoh.

Menurutku, Fai berhasil menyajikan sebuah paradoks lewat rasionalitas Allu Ralla yang kadang kera
...more
Sutresna
Nov 09, 2015 rated it it was amazing
Buku ini parah gila.

Saya pernah nonton si penulis membacakan karyanya yang lain di suatu kesempatan, dan saya takjub akan pembacaan waktu itu. Waktu itu saya belum baca ini, dan emosi yang sama juga melanda saya saat membaca ini. Gila.

Cerita ttg Tanah Toraja dan kematian ini sungguh menyajikan beraneka ragam imajinasi. Cara berceritanya juga dalam kecepatan yang saya sukai.

Dan si penulis lebih muda dari saya. Haha
A.A. Muizz
Feb 02, 2016 rated it really liked it
Jujur, saya tak begitu menikmati cerpen Fai yang dinobatkan menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2014. Namun, meski tema yang diangkat sama, Puya ke Puya jauh lebih asyik. Gaya berceritanya pun asyik. Kita akan diajak menyelami adat Toraja, dan memahami bagaimana adat bermanfaat bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Pergantian PoV yang menurut saya unik, karena saya belum pernah membaca yang semacam ini. Sayangnya, typo bertebaran di mana-mana. Ini cukup mengganggu.
Adek
Feb 01, 2017 rated it liked it
Overall, bagus, tapi ada satu hal yang sangat mengganggu saya di bab terakhir saat pembalasan dendam kepada Malena yang dilakukan Allu dengan mendeskripsikan perkosaan begitu sadis. Semoga penulis bisa sedikit merevisinya di edisi terbaru nanti.
Dian Hartati
Dec 14, 2015 rated it really liked it
Shelves: novel
Seperti membaca "Upacara" milik Korrie, kuat berkarakter. Hingga saya marah kepada penulisnya mengapa menciptakan Siti dengan tabiat yang begitu.
Sadam Faisal
May 25, 2017 rated it liked it
Biaya pemakaman yang berharga mahal, adat istiadat vs modernisme, idealisme yang terpaksa digadaikan, pengkhianatan atas cinta, dendam yang memakan banyak korban.
Jadi, kenapa surga diciptakan?
Alien
May 06, 2020 rated it liked it
Sudah lama saya tidak merasa bingung - apakah saya suka atau tidak suka pada buku ini?

Yang saya suka:
1. Gaya menulisnya yang cukup inovatif.
Menurut saya, ada 4 perspektif yang bercerita dalam buku ini dan keempatnya bergantian dengan baik. Cara mengganti perspektif dengan menggunakan (*) juga baru bagi saya. Saya belum pernah lihat sebelumnya.
2. Plot twists
Ada beberapa kali saya melontarkan suara "hah?!" saat membaca. Banyak plot twists yang membuat saya kagum pada kreativitas penulis - walaupu
...more
Nike Andaru
Jun 28, 2020 rated it really liked it
Shelves: fiksi, sastra
93 - 2020

Saya sudah membaca buku-buku puisi karya Faisal Oddang, tapi baru kali ini membaca novelnya.

Buku ini kental soal budaya Toraja khususnya upacara kematian. Di banyak daerah kematian memang hal yang tidak mudah dan murah bagi keluarga yang ditinggalkan, dibutuhkan merogoh kocek yang tak sedikit jumlahnya apalagi bagi bangsawan adat.

Ini juga yang terjadi pada keluarga Ralla. Rante Ralla meninggal, lantas Allu Ralla sebagai anak laki-lakinya harus bertanggung jawab untuk melakukan upacara r
...more
Hapudin
Feb 12, 2017 rated it really liked it
Resensi lengkapnya: http://bukuhapudin.blogspot.co.id/201...

Penilaian bagus terhadap novel Puya Ke Puya ini, sudah saya tahu dari lama. Selain membawa rasa lokal, masyarakat Toraja, novel ini menggali banyak sisi kehidupan. Berangkat dari kematian Rante Ralla yang mengharuskan anak sulungnya, Allu Ralla, menggelar upacara kematian, cerita digiring ke berbagai lini. Puya sendiri maknanya alam tempat menemui Tuhan (hal.3).

Upacara kematian atau yang disebut Rambu Solo, bisa menelan ratusan juta unt
...more
Yulia Windayani
Jun 05, 2017 rated it really liked it
Direkomendasikan oleh Dwika, sebenarnya saya tidak berharap apapun terhadap novel ini. Malah pikir saya pasti mati bosan membacanya karena saya curiga bahasanya bakal terlalu "nyastra".

Eng ing eng...
Saya jatuh cinta, saya marah, saya jijik, dan saya sedih karena novel ini.

Jatuh cinta pada pengorbanan Tina Ralla yang berusaha sekuat tenaga menjaga persatuan keluarganya, marah pada Tina karena "diam" yang dia anggap menyelamatkan keluarganya justru menjadi bom waktu pada akhirnya, dan sedih ketika
...more
Awal Hidayat
Pada saatnya tiba nanti, kita tak lagi mampu saling mengindrai. Sebelum semuanya terjadi, mari menuntaskan pertemuan. Biar rindu tak perlu mengusik. Atau, bila kau memang senang menjadi perindu, kita tak usah bertemu. Paling penting, yang fana adalah waktu, kita abadi. Dukamu juga.

Tapi, tunggu, surga diciptakan karena... ? Jangan bertanya kenapa sebab saya pun tak tahu apa jawabnya.

***

Gila betul Faisal Oddang ini. Setelah sukses di MIWF, Sea-Write Award, Cerpen Kompas, Sayembara DKJ, baru-baru
...more
Pringadi Abdi
Oct 29, 2015 rated it liked it
Sambil berpilek ria, saya bisa menyelesaikan buku ini semalam. Dan menyadari betapa Faisal Oddang adalah penjahit yang ulung.

Saya membaca Rain dan Tears dan berbisik di dalam hati, dia berubah banyak dan entah bagaimana kerja kerasnya, kegigihannya untuk mencapai level setinggi ini.

Sastra bagiku selalu mengenai invensi dan konvensi. Sebagai suatu penemuan, Oddang mengajariku karena Puya ke Puya adalah penemuannya yang berhasil. Ini adalah tema yang baru, segar, setidaknya buatku.

Cara menulisnya
...more
Dion Yulianto
Mar 06, 2016 rated it really liked it
Buku sastra yang baik adalah tentang manusia dan menggambarkan kepada kita sejatinya manusia. Dari situ, kita lalu belajar menjadi manusia. Kalau pun belum bisa menjadi manusia yang sempurna, paling tidak kita bergerak menjadi manusia yang lebih baik. Memang layak kalau novel ini menjadi juara IV Sayembara Penulisan Novel DKJ.

Ulasan di http://dionyulianto.blogspot.co.id/20...
...more
Natanael Christianto
Nov 19, 2015 rated it really liked it
Salah satu novel terbaik di tahun 2015. Dengan membaca novel ini, saya jadi lebih tahu mengenai kebudayaan dan cara pemakaman orang Toraja. Selain unsur budaya, Faisal Oddang juga memasukkan percintaan dan keanehan yang bisa kita jumpai di dunia modern seperti sekarang ini.
niduviras
Dec 22, 2016 rated it liked it
Bagus. Lokalitasnya kental. *Babang faisal am yours
Reyhan Ismail
May 07, 2018 rated it liked it
Shelves: makassar, budaya
"Setiap satu ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi sekaligus menuju pulang. Orang-orang hdup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat. Dan Tuhan menciptakan surga bagi para pejalan. Entah karena apa..."

Puya ke Puya bercerita dengan empat sudut pandang. Narator (leluhur), Rante Ralla (bangsawan Toraja yang baru meninggal), Allu Ralla (anak dari Rante Ralla yang masih hidup), dan Maria Ralla (adik Allu Ralla yang bermukim di passiliran, poho
...more
Fitri Wahyuningsih
Oct 16, 2017 rated it really liked it
buku ini tandas saya baca dalam sehari. luar biasa memang sihir yang diberikan oleh Faisal Oddang dalam Puya Ke Puya. saya tak menyangka budaya Toraja yg sebenarnya tak begitu asing bagi saya, diramu menjadi begitu keren nan indahnya oleh Faisal Oddang hingga saya tak sadar telah tiba di lembar akhir.
Banyak diantara Anda pasti telah mengetahui bahwa suku Toraja memiliki tradisi unik dalam memperlakukan kerabat yang berpulang. Dalam buku Puya Ke Puya ini, Faisal Oddang memberikan kita gambaran k
...more
Jihan  Mawaddah
Jan 30, 2020 rated it really liked it
Puya ke Puya menceritakan tentang kematian seseorang dan berbagai peristiwa yang terjadi dibalik kematian tersebut. Kematian menjadi hal yang menyedihkan memang, namun kita masih beruntung jika kematian itu tidak ikut membawa keluarga kita pada jurang kehancuran. Seperti kehancuran organ dalam tubuh kita di hari ketiga pasca penguburan. Seperti kehancuran kulit, rambut dan beberapa tulang rawan kita setelah beberapa minggu dihuni oleh belatung. Tentu kita tidak menginginkan kehancuran macam itu ...more
nawir nawir
Jun 23, 2020 rated it really liked it
Mengikuti perjalanan hidup Allu Ralla di buku ini begitu berwarna-warni. Tapi satu yang tidak hilang adalah warna kematian.

Tapi kompleksitasnya saya suka sekali.

Dari semua yang saya pernah baca, pergulatan batinnya mengingatkan dengan Raskolnikov.

Pria malang baik hati yang salah mengambil pilihan kemudian melakukan tindak kejahatan.

Keresahan batinnya mirip. Penyesalannya mirip.

Tentu saja tidak ada penjara dingin Siberia di akhir cerita karangan Faisal Oddang ini.

Bagaimana Allu yang pernah melak
...more
Clarissa Putri
Oct 18, 2019 rated it it was amazing
Kenapa surga diciptakan Tuhan?
.
.
.
Ini adalah buku kedua dari Faisal Oddang yang saya baca, setelah Tiba Sebelum Berangkat.

Dibuka dengan pertanyaan singkat yang menggelitik, bukan hanya membuat saya tertarik membaca novel ini, tapi juga membuat saya pribadi merenung.
Untuk apa, ya, Tuhan menciptakan surga?

Tapi tak usah membahas pertanyaan itu dulu, saya mau membahas buku ini yang habis hanya dalam satu minggu di tangan saya.

Unik.
Mungkin menjadi kata yang mampu menggambarkan kisah ini.
Seperti
...more
Vanda Kemala
Dec 11, 2018 rated it it was amazing
Walaupun dibuka lewat sebuah cerita kematian, Faisal Oddang sangat apik menuliskan novel dengan tema lokalitas budaya daerah Toraja, secara detail dan kompleks dengan segala permasalahannya. Hal-hal berbau adat, yang dianggap kaku jika disandingkan dengan kehidupan di zaman modern, berhasil dikupas dengan baik dan paripurna jadi pemicu seluruh konflik yang ada di novel ini.

Pergantian PoV juga cukup unik dengan memberikan tanda * dan kurung (), yang sekalipun baru sekali ini ditemui, cukup memban
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Laut Bercerita
  • Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
  • Orang-Orang Oetimu
  • Pulang
  • Jatisaba
  • Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi
  • Dawuk: Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu
  • Tidak Ada New York Hari Ini
  • Semua Untuk Hindia
  • Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura
  • Man Tiger
  • CADL: Sebuah Novel Tanpa Huruf E
  • Bumi Manusia
  • Rumah Kopi Singa Tertawa
  • Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
  • Tanah Tabu
  • Barefoot Gen, Volume Six: Writing the Truth
  • Harimau! Harimau!
See similar books…
75 followers


Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya
...more

News & Interviews

The young adult genre continues to lead literature in embracing new voices, championing all types of diversity, and, well, just really app...
83 likes · 39 comments
No trivia or quizzes yet. Add some now »