Jump to ratings and reviews
Rate this book

Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi

Rate this book
Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

"Menikmati Akhir Pekan"


“Aan adalah salah seorang dari dua atau tiga penyair kita yang berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan atas keindahan dongengnya.“ -Sapardi Djoko Damono-

155 pages, Paperback

First published April 1, 2015

Loading interface...
Loading interface...

About the author

M. Aan Mansyur

34 books1,040 followers
Hujan Rintih-rintih (2005) | Perempuan, Rumah Kenangan (2007) | Aku Hendak Pindah Rumah (2008) | Cinta yang Marah (2009) | Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012) | Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012) | Kukila (2012) | Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014) | Melihat Api Bekerja (2015)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
679 (35%)
4 stars
805 (42%)
3 stars
312 (16%)
2 stars
54 (2%)
1 star
47 (2%)
Displaying 1 - 30 of 288 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
133 reviews73 followers
June 21, 2020
SAJAK-SAJAK TENTANG ORANG KOTA YANG TAK PUNYA WAKTU MEMBACA SAJAK

“The book to read is not the one that thinks for you but the one which makes you think.”─Harper Lee


DALAM menciptakan puisi, kata penyair Abdul Hadi, seorang pengarang yang lihai menggantungkan diri pada tiga hal dasar: “intelektualitasnya”, “pengetahuannya yang luas”, dan “ketrampilannya dalam bahasa”. Ada dua lagi yang penting setelah itu, yaitu “kontemplasi” dan “aksi”. Saat mengingat kembali soal itu, pada waktu yang hampir bersamaan, ingatan saya terpaut dengan puisi Bermain Petak Umpet dari buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja:

Kututup mataku di depan, atau
barangkali di belakang, pohon
mangga dan menghitung satu dua
tiga empat lambat hingga sepuluh.
Kubiarkan kau berlari, menemukan
jarak, dan tempat sembunyi. Ketika
kau sudah aman, kucari kau sambil
bernyanyi. Kutahu, di suatu tempat,
kau cemas menunggu.


Puisi di atas membuat saya bertanya, mungkin, untuk pembaca lainnya: apakah dengan sekali membaca (melalui media apa saja) orang lantas segera menyimpulkannya sebagai puisi, dan bukan cerita pendek, atau potongan sebuah novel?

Puisi modern sebagai salah satu jenis kesusastraan memang berbeda dengan drama, cerpen, atau novel. Tapi dalam perkembangannya, perbedaan itu semakin sulit dikenali. Apalagi dalam buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja karangan M. Aan Mansyur yang terbit tahun 2015. Orang-orang sampai mengatakan: puisi modern berhenti sebagai puisi ketika larik dan baitnya disusun sedemikian rupa sehingga tak bisa dibedakan dari berita koran, cerpen, atau potongan novel.

Seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono dalam kata pengantar buku, pendapat itu belum tentu benar. Dalam buku Melihat Api Bekerja, puisi seakan lepas dari pengkotakan yang mendasarkan bentuk puisi pada wujud visual (yang berbentuk bait) atau peraturan bunyi (seperti rima yang sama); dan tetap saja namanya puisi─puisi-puisi yang seperti cerita pendek, atau dongeng, atau hal serupa itu yang tetap bermakna dan meninggalkan kesan ketika dibaca.

●●●
Seperti terlihat dalam sajak berikut, puisi Aan adalah gabungan dari kontemplasi dan aksi dari kemahirannya berbahasa:

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuhi anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.


Puisi Menikmati Akhir Pekan yang bentuknya mirip prosa liris di atas telah menimbulkan “gangguan batin” (meminjam kata Hamsad Rangkuti) yang terus-menerus dalam pikiran saya. Kontemplasi-kontemplasinya mengerucut pada sikap keheranan terhadap orang-orang bahagia yang barangkali tidak sadar bahwa mereka tengah menipu diri mereka sendiri. Serupa dengan potongan puisi Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia, Aan seperti meyakinkan pada kita untuk “tidak percaya kepada orang-orang yang senang memamerkan kebahagiaan keluarga mereka”. Sebab dalam hidup ini selalu ada alasan untuk tidak terus tertawa. Hidup bukan lelucon, tulis Aan dalam Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam.

Pengulangan-pengulangan suasana untuk berhati-hati terhadap kebahagiaan dalam puisi-puisi itu membuat saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat kita tidak bisa selalu tertawa. Bukankah kehidupan sehari-hari kita adalah bangun pagi, mandi, memakai pakaian yang bagus, dan tidak keluar rumah untuk menyerahkan diri pada siksa peluru atau lain-lain yang tidak lucu?

Bagi Aan, jawabannya cukup banyak. Orang hanya menjadi bahagia karena atau ketika mereka tengah tidak peduli pada yang lain: pada orang-orang yang pergi dan tak pernah pulang lagi, pada derita orang yang terusir dari rumah sendiri, atau barangkali, misalnya, pada bayi-bayi yatim piatu. Dengan kata lain, kumpulan puisi Melihat Api Bekerja menampakkan adanya pergumulan antara “aku” dan “yang lain” yang menderita. “Aku” dalam diri Aan “merasuk dan merasakan dada” orang lain atau miliknya sendiri dan bergelut dalam puisi. Saya kira semangat semacam itu sudah ada semenjak awal ketika Aan mengutip kalimat Pramoedya Ananta Toer, Mahmoud Darwish, dan Milan Kundera yang bermuara pada sikap hati-hati terhadap kesenangan dan kebahagiaan di halaman sebelum kata pengantar.

●●●
Di hadapan puisi Aan, saya tidak merasa asing. Mengapa?

Barangkali karena pergumulan dalam sajak-sajak Aan adalah pergumulan orang kota. Seperti dapat kita lihat, sebagian puisi-puisi Aan adalah bait-bait kegelisahan seorang penyair yang mengacu pada pengalaman konkrit kehidupan manusia di kota. Ia menyampaikan obyek kegelisahannya dengan tidak langsung menyatakan latar kota, tapi juga tidak terlalu rumit dipahami untuk mengenalinya sebagai kota: ruang bermain yang hilang, pagar-pagar tinggi rumah tetangga yang menandakan kecurigaan terhadap sekitar (dalam Melihat Api Bekerja), kemacetan (Menjadi Kemacetan), atau hari-hari kerja yang tak kenal pagi dan malam (Memimpikan Hari Libur).

Puisi-puisi yang menggambarkan perasaan batin seseorang yang pahit atau tersiksa pun mengambil latar kota. Kita bisa menilainya dari pemakaian kata “kafe” untuk seseorang yang tengah patah hati dalam Menyimak Musik di Kafe, kata “jas” dalam Seorang Lelaki dan Binatang-binatang yang Hidup dalam Jasnya, atau kata “tinggal di kota” dalam puisi Surat Pendek buat Ibu di Kampung yang menggambarkan seseorang tersiksa di dalam perantauannya (ia menuliskan bahwa tinggal di kota adalah “hukuman”).

Dengan demikian, sajak-sajak Aan sebagiannya adalah sajak tentang orang-orang kota yang seringkali “tak punya waktu membaca sajak”.

●●●
Yang juga menarik adalah bahwa puisi-puisi Aan memperlihatkan sikap membiarkan atau menikmati kesedihan. Kesedihan bukanlah kesalahan atau dosa. Puisi Aku Menunggu di Kantukmu, misalnya, menunjukkan gambaran simpati terhadap “kelelahan”, “kesedihan”, “kesepian”, dan “kecemasan”. Hal-hal seperti patah hati (Menyimak Musik di Kafe, Kau Membakarku Berkali-kali), sakit (Jika Aku Sakit), dan rindu (Surat Pendek buat Ibu di Kampung, Pulang ke Dapur Ibu) tidak perlu dihindari. Bahkan di tangan Aan semuanya terkendali.

Ada pesan bahwa manusia kota berusaha bertahan dari segala kesulitan, menyelaminya, atau terus menyala seperti api: kita boleh kalah, tapi tidak boleh menyerah. Kesedihan, patah hati, rindu yang menyiksa, bukanlah lawan dari kehidupan─justru itulah kehidupan. Penderitaan-penderitaan itu, kalau kita masih bisa menyebutnya begitu, memberi ketajaman dan kesegaran terhadap hidup. Saya kutip sajak Memastikan Kematian:

Akan selalu kutemukan diriku
bersedih dan jatuh cinta kepada laut
yang memisahkan diri dari puisi dan
orang-orang kota yang gemar
berlibur. Aku mengajari diriku
berenang dan menjadi kuat.


Mungkin sajak tidak akan menjadi jalan keluar semua kesedihan dan kecemasan manusia. Toh, Aan sudah mengatakan pada kita bahwa puisi tidak bisa menghindarkan kita dari kemacetan kota, atau menjadi senjata untuk membunuh atasan kita yang rewel. Puisi, meminjam bait dalam Menyunting Sajak Untukmu, bahkan “tidak tahu cara menjatuhkan negara yang paling lemah sekalipun”. Mungkin yang indah dari puisi adalah, misalnya, bahwa ia bisa memaknai pengalaman cinta yang melukai kita berkali-kali sebagai sebuah kebahagiaan.

Bagi saya, Aan telah berhasil menyatukan yang “sedih dan menarik” sekaligus ke dalam puisi, menjadikannya puisi yang ”halus dan berbahaya seperti masa lalu di benak pendendam”.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews19 followers
December 26, 2015
"Dia meninggalkanmu agar bisa selalu mengingatmu. Dia akan pulang untuk membuktikan mana yang lebih kuat, langit atau matamu." - Menenangkan Rindu.

"Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal, lakukan seperti matahari tenggelam," kataku kepada diri sendiri.

Sampai ketemu besok pagi. Lagi.
" - Kepada Kesedihan.

"Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri." - Menikmati Akhir Pekan

"Jika aku sakit, tersenyumlah. Tidak ada yang cukup di dunia ini-tapi senyuman tidak pernah kurang." - Jika Aku Sakit.

***

Empat larik puisi di atas menjadi kegemaran dari buku ini. Kebiasaan saya dari membaca buku kumpulan puisi, adalah memilah larik mana yang paling mengesankan. Walaupun sebenarnya, saya mengalami kesulitan mencerna apa yang sesungguhnya hendak disampaikan penulis. Ini berbeda ketika membaca kumpulan cerita dari penulis yang sama.

Bagaimana pun, saya tuntas menyelesaikan buku ini setelah lewat berminggu-minggu. Butuh waktu yang tak menentu supaya bisa menemukan ketenangan membacanya. Ah, dan ilustrasi untuk tiap-tiap puisi, kau harus buktikan sendiri keindahannya.
Profile Image for Mobyskine.
874 reviews106 followers
October 23, 2015
Barangkali hal patah hati, sepi dan rindu itu agak indah di mata penulis-- orang yang patah hati itu jujur (dan berbahaya), katanya. Kisah-kisah dongeng dalam nada bermetafora, seakan menonton drama di hujung minggu.

Banyak sekali kata-kata penulis yang saya gemar--

"Cintaku kepadanya melampaui jangkauan kata. Aku cuma mampu mengecupkannya dengan mata."

"Aku ingin diam-diam mencintainya seperti benda kecil yang sengaja menjatuhkan diri dan berharap tidak pernah ditemukan."

"Jika mimpi datang, aku ingin jadi jendela yang luas untuk langit, buku-buku, dan kau."

Naskah Aan yang paling saya suka. Merangkumi segala, ilustrasi sephia-nya sahaja seakan berkata-berkata sehingga saya terkagum-kagum sendiri-- seperti mimpi yang dicetak.

Rak kegemaran, tentunya.
Profile Image for Aso.
214 reviews41 followers
February 28, 2016
Masih ingat kan sama konsep tekanan yang kita pelajari di fisika waktu SMP?. Tekana berbanding lurus dengan gaya dan berbanding terbalik dengan luas bidang permukaan yang dikenai gaya tersebut. Nah, makin sempit luas bidang permukaan yang menderita gaya, maka semakin besar tekanannya.

Entah mengapa teori tentang tekanan itu melintas di fikiran saya saat membaca puisi-puisi dalam buku ini. Saya merasakan 'gaya' yang kuat ketika membaca puisi-puisi yang pendek, yang hanya terdiri dua tiga bait. Bag saya, makin pendek puisinya, makin tajam pesan yang disampaikan. Bukannya saya tidak menyukai puisi yang panjang, tapi tekanan paling besar berada pada puisi yang memiliki 'bidang sentuh' yang sempit.

Dan bisakah saya memberi 5 bintang hanya untuk semua ilustrasi yang ada dalam buku ini. Jujur saja, alasan saya membeli buku ini adalah karena ilustrasinya. Setiap ilustrasi adalah 'puisi' tersendiri dalam buku ini. Dikala saya kurang mengerti makna kalimat-kalimat dalam puisi Aan, saya menggeser pandangan saya sejenak untuk menikmati ilustrasi yang memanjakan mata. Semua ilustrasi begitu indah dan mampu berbicara kepada pembaca. Favorit saya adalah ilustrasi pada puisi Jendela Perpustakaan (hal. 65) dan Menikmati Akhir Pekan (hal. 125).

Puisi : 4 bintang
Ilustrasi : 5 bintang
Profile Image for Regina Ibrahim.
Author 20 books102 followers
June 8, 2017
sempat ketemu Aan sewaktu minum pagi...aku harus masuk ke ruang merokok. nah itu dia Aan yang santai bersahaja. Orang kuat MIWF 2016 anak lokal yang aku kagum. Aku jadi terfikir gimana sih dia bisa ketemu ayat ayat kayak gitu...it's a poem but it's not, it;s a prose yet it's sounds poetic.
jelasnya aku kagum banget!!!
foreword dari penyajak veteran itu juga sangt mengagumkan. Ianya seolah olah kelas mini 'bagaimanana menulis sajak telus".
All the best Aan Masyur...more to come from you setelah Tidak Ada New York hari ini....syabas.
Profile Image for Hestia Istiviani.
873 reviews1,356 followers
January 20, 2016
Aku bukanlah tipikal orang yang bisa membaca dan memaknai puisi. Aku percaya kalau indahnya puisi terletak pada apa yang tersirat, bukan yang tersurat. Namun, yang namanya rasa penasaran ternyata tidak bisa dibendung juga. Nama Aan Mansyur belakangan menjadi ramai diperbincangkan karena didapuk menjadi penulis puisi untuk sekuel Ada Apa Dengan Cinta.

resensi lengkap

Aku tidak bisa memberi saran kali ini. Harga bukunya memang tidak mahal. Nama Aan pun aku rasa sudah bisa menjadi jaminan akan kualitas tulisannya. Namun, lagi-lagi aku kembalikan kepada kalian. Kalau memang ingin tahu bagaimana tulisan Aan, kumpulan puisi ini bisa menjadi opsi (selain buku-bukunya yang sudah terlebih dahulu terbit ya).
Profile Image for Raf.
213 reviews11 followers
August 11, 2020
8/10

Bahasanya cantik, namun memang sepertinya mengandung unsur-unsur sentimental dari penulisnya sendiri, yang mungkin agak sulit dimengerti oleh kepala orang lain. Formatnya sedikit panjang dibanding kumpulan puisi biasanya. Yang paling kusuka adalah artworknya, sangat cantik... Mesmerizing artworks
Profile Image for Arif Syahertian.
70 reviews5 followers
July 14, 2021
Aku dêmên nd��lok geni nyambut gawé! Saya jadi teringat Linkin Park. Chester Bennnington melantunkan: Api butuh ruang untuk bisa membakar. Embusan nafas untuk membangun cahaya. Karena, kadang-kadang, kamu tidak akan menyadari apa yang telah kamu dapatkan, sampai semuanya pergi, atau "dilahap api".

Mengamati api melahap onggokan sampah yang saya bakar pada tong-semen-bundar di halaman rumah saya merupakan kesukaan saya. Betapa hemat ruang! Sampah berubah jadi abu.
Membaca buku ini, mengingatkan saya akan hal itu.
Tapi saya tidak bi(a)sa menikmati puisi modern. Ilustrasinya menarik! Dan saya suka puisi berjudul "Mengamati Lampu Jalan." Dan "Melihat Api Bekerja" itu sendiri.

-A.S.
Profile Image for Utami Pratiwi.
75 reviews7 followers
October 11, 2016
aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. mereka tahu apa yang mereka cari. mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri. (menikmati akhir pekan, hlm. 125)

suka sama kata-kata dan (yang jelas) gambar di dalamnya.

perlu waktu lama untuk "menemukan" lagi buku ini, dengan dalih "pernah dipinjam seseorang yang belum sempat saya tanyakan cintakah aku padamu".
Profile Image for Jenny Faurine.
Author 18 books177 followers
February 14, 2016
Yang paling kusuka: Menenangkan Rindu, Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam, Menikmati Akhir Pekan, Menyimak Musik di Kafe, dan Melihat Api Bekerja. :D

Terima kasih untuk untaian katanya yang indah.
Hm, dan terima kasih juga untuk kamu.
Iya, kamu.
Profile Image for Nur Aimuni.
31 reviews
January 3, 2017
Puisi-puisi yang baik dan indah. Prosa kegemaranku - "Aku tidak percaya kepada orang-orang yang senang memamerkan kebahagiaan keluarga mereka. Hiburan dan liburan. Pakaian dan kota-kota asing. Senyuman, pelukan dan berlembar-lembar foto keluarga. Mereka kaca buram yang mudah pecah. Buah-buahan yang tidak dikupas. Barang-barang mewah yang takut ketinggian. Ketika kesedihan menyentuh hidup mereka, semesta adalah kesalahan"
Profile Image for Alvina.
703 reviews106 followers
December 23, 2015
Puisi ibarat kumpulan udara yang menyesakkan paru-parumu hingga meluap. Meledak dan memenuhimu dengan euforia dan ketenangan yang maha hebat. Sama seperti membaca tulisan-tulisan Aan di sini, membuat saya merindu sekaligus takut kehabisan waktu menikmati tiap kalimatnya.
Profile Image for Editanainggolan.
282 reviews11 followers
January 29, 2019
Melihat Api Bekerja, kumpulan puisi karya Aan Mansyur / 2015
Terbitan @bukugpu , cetakan keenam: Oktober 2017, 160 halaman.
ISBN : 978-602-03-1557-7
Rate dariku : 3.7⭐

Puisi ini termasuk puisi modern, dimana sajak-sajaknya tidak terikat lagi dengan aturan puisi yang selama ini kita kenal dalam puisi, pemilihan kata yang indah, terikat dengan unsur irama, ritma, diksi dan gaya bahasa.

Karya Aan Mansyur ini lebih bebas.
Mengutip kata Eyang Sapardi Djoko Damono dalam Kata Pengantar: Mendengar Larik-larik Aan Mansyur: "Berbeda dengan yang kita baca dalam sajak Chairil (sajak Chairul Anwar sebagai pembanding), sajak ini sama sekali bukan hasil usaha mengatasi luapan emosi dengan bentuk visual dan auditori yang ketat tetapi justru dengan lintasan-lintasan pikiran yang tampaknya susul-menyusul muncul begitu saja tanpa tatanan yang dirapikan oleh aksara. Persis seperti kalau kita mendengarkan dongeng yang disampaikan secara lisan."

Yup, setuju Eyang. Inilah sepertinya yang membuat aku betah membacanya. Mengingat buku ini adalah buku puisi pertama yang kubaca.

Ada 54 puisi (aku suka 10 diantaranya) di dukung ilustrasi pada tiap puisi karya Muhammad Taufiq yang lebih dikenal dengan nama Emte (aku betah berlama-lama memandang ilustrasi-ilustrasi itu. Walau agak ngilu dibeberapa gambar 😂👍)

"Seluruh yang kaumiliki bukan
yang kaumau. Seluru yang
kaumau bukan yang kaubutuh.
Seluruh yang kaubutuh bukan
yang mampu kaujangkau. Seluruh
yang mampu kaujangkau luruh
dan sia-sia belaka."
--- Mengingat Pesan Ibu, hal. 80
Profile Image for Riski Oktavian.
297 reviews
September 16, 2021
Sejujurnya aku jarang banget baca puisi bahkan bisa dibilang gak (terlalu) suka baca puisi. Namun di buku ini beda.

Entah kenapa aku bisa ngerasain puisinya ngena di aku dan sering kali membahas persoalan yang memang terjadi di sekeliling kita. Aku suka sama sajaknya yang terkesan menjadi "milik" penulis dari gayanya merangkai kata-katanya.

Gak ketinggalan ilustrasinya yang ngebikin suasana dalam puisi ini makin didukung. Ilustrasinya keren parah dan absurd dan artistik.

Beberapa puisi di sini yang aku suka pake banget:
Telanjang di Depan Cermin,
Menjatuhkan Bintang-Bintang,
Perihal Tokoh Utama Komik,
Melihat Peta, Memimpikan Hari Libur,
Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam,
Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia,
Memastikan Kematian,
Mengingat Pesan Ibu,
Menyaksikan Pagi Dari Beranda,
Menyunting Sajak Untukmu,
Menikmati Akhir Pekan,
Menyimak Musik di Kafe,
Melihat Api Bekerja,
Jika Aku Sakit,
Sajak Buat Seseorang yang Tak Punya Waktu Membaca Sajak,
Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir ini Sebagai Dirinya.
Profile Image for Asmar Shah.
Author 20 books124 followers
August 20, 2017
Aku lebih suka dengan buku puisi M. Aan Mansyur ini berbanding buku yang sebelum.

Puisi-puisi yang ditulis terasa senang duduk di celah hati. Ada beberapa puisi yang buat hati terjentik. Tambahan lagi dengan lukisan-lukisan yang diletak-sama di dalam naskah ini, menambahkan lagi mood untuk mendalami perasaan buku ini.

Owhh ya, aku juga ada ketemu dengan M. Aan Mansyur sewaktu PBAKL yang lalu. *sila cemburu!*

Pendek kata, aku suka dengan buku ni.

Titik!
Profile Image for Ikhsan Saputra.
17 reviews7 followers
February 6, 2018
Sialan kau Aan Mansyur ! Sialan !

Membaca puisi-puisinya membuat saya merasa begitu pedih. Pedih ! Tapi pedih ini membahagiakan. Entahlah. Tapi memang begitu.
Setiap kali hendak membaca satu bait, saya menarik nafas dalam-dalam. Siap-siap ditikam. Siap-siap dikoyak sajak-sajaknya. Dan meski sudah bersiap-siap, tetap saja saya harus berkali-kali memegangi dada lagi dan lagi.

Membuat diri sendiri sedih ternyata sangat menyenangkan. Kurang ajar kau Aan Mansyur. Kurang Ajar !

Sebetulnya bukunya tipis. Hanya berisi sekitar 155 halaman. Itupun tidak semua penuh dengan tulisan. Setiap puisi dihiasi dengan gambar ilustrasi dari Muhammad Taufiq (Saya baca di halaman belakang buku). Jadi setiap lembar nya terisi penuh dengan gambar dan puisi. Desainnya juga indah. Cocok dengan tulisan Aan.

Saya rekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang suka membaca puisi atau sajak-sajak, atau apapun itulah sejenisnya. Dan saya ucapkan selamat bersenang-senang dengan kepedihan kalian.

Salam !
Profile Image for Johan Radzi.
138 reviews193 followers
January 6, 2017
Buku Aan yang kedua saya baca selepas Kepalaku: Kantor paling sibuk di dunia. Kali ini, puisi-puisi Aan tampil berbeza daripada yang lepas, berbentuk seakan-akan prosa (atau mungkin prosa-puisi?) selain daripada susunan yang kemas dan grafik, saya menyukai judul-judul puisi yang disertakan. Namanya cukup romantis: Langit dan Laut di Timor, Sejam sebelum matahari tidak jadi tenggelam, Jalan yang berkali-kali kau tempuh, Kau membakarku berkali-kali, dll.

Saya bukanlah peminat puisi, jadi saya agak sukar untuk menghukum baik-buruk. Tetapi ada puisi-puisi yang saya senang hati membacanya. Puisi-puisi ini termasuk yang saya senaraikan di atas: termasuk Surat Pendek Buat Ibu di Kampung, Melihat Api Bekerja, dan Ketidakmampuan. Saya lampirkan secebis daripada akhir itu:

Aku tidak ingin mencintai
pahlawan - mereka yang
pandai dan mampu mengubah
penderitaan orang lain jadi
senyuman. Aku tidak mau melihat
orang yang kucintai berubah jadi
patung di taman kota atau poster
di dindin sekolah dan diabaikan.

Cantik, bukan?

Profile Image for Muhammad Rajab.
Author 1 book15 followers
May 1, 2015
bila aku bisa terlahir kembali, aku ingin terlahir sebagai puisi di halaman-halaman buku ini. barangkali sebagian diriku menjadi ilustrasi-ilustrasi indah yang mendampingi puisi-puisi itu.

Aan Mansyur menyihir dengan puisi yang bukan seperti Sapardi, bukan pula seperti penyair angkatan 45, tetapi ia penyair yang lahir di era kebahagian adalah kebohongan, kebohongan adalah kebodohan membunuh anak kecil dalam dirimu sendiri, sendiri adalah lagu paling sedih, sedih adalah guratan takdirmu dan ibumu, ibumu adalah pencipta kebahagian yang paling abadi.

ada dua puisi indah setelah puisi-puisi istimewanya tentang ibu yang menjadi kesukaanku: (1) Menonton Film, (2) Seekor Kucing dan Sepasang Burung.

dalam buku ini aku benar-benar melihat bagaimana api bekerja dalam semangat Aan - sang penyair, eMTe - sang ilustrator, dan Gramedia Pustaka Utama - sang penerbit. banyak pencinta sajak dan tukang merayakan kata-kata benar-benar menyukainya.
Profile Image for Sulin.
236 reviews56 followers
January 2, 2018
Buku pertama di dua kosong satu delapan
Mungkin manusia penuh logika
memang tidak berbakat dalam menerjemahkan puisi dan prosa

Semakin dibaca semakin kesal pula
hati ini tiada mengerti apa yang mau disampaikan dan kau kata
Mas Aan?

Apakah ini alegori?
Apakah ini kiasan?
Apakah ini hanya percikan ketidakjelasan yang acapkali mengacau kepala lalu engkau berpena?
Apakah semua ini punya makna?

Sekuat pikiran saya mengaitkan, namun satupun tak ada yang menyangkut.
Antara kata satu dan lainnya,
kalimat satu dan sebelahnya,
bait satu dan lainnya,
isi dengan judulnya.

Oh papa Sutardji,
bantu aku pahami puisi modern ini
yang sepertinya asbun saja
Atau memang ada hal tercipta tak untuk dipahami
melainkan hanya memperindah dunia?
Dan memanjakan mata remaja?

Jangan marah ya,
toh saya juga punya selera.
kasih bintang satu saja
eh tapi karena ilustrasinya
bolehlah bintang dua
Profile Image for Nisrina.
48 reviews18 followers
May 1, 2015
Beberapa orang bilang: "Buku yang bagus adalah buku yang bisa membuatmu berpikir dan ingin menulis." Dalam syarat semacam itu, buku ini benar-benar bagus menurut saya.
Barangkali karena sudah terlampau lama tidak membaca kata-kata berima, saya kesulitan mencerna isi buku ini. Atau juga karena saya terlalu banyak berpikir (tentang maksud buku ini) hingga lupa menikmati puisinya. Yang jelas, ini adalah buku Aan Mansyur pertama yang saya baca dan saya menikmati tiap cerita dalam puisi-puisinya. Ilustrasi di dalam buku begitu manis dan saling melengkapi. Tapi jujur, sedikit terganggu dengan objek ilustrasi yang kebanyakan perempuan. Padahal tidak semua puisi disini melulu perempuan.
Profile Image for ABO.
414 reviews45 followers
February 27, 2016
Bacanya udah lama banget, lupa di-rate di sini :D

Saya bukan penikmat puisi, bacanya pun kadang cuma buat gaya-gayaan :p malah saya pernah diledek temen saya yang penggila puisi & sastra, pas tau saya beli Hujan Bulan Juni cuma buat pamer di socmed x))
Tapi saya akui kalau puisi-puisi di dalam buku ini feels-nya nyampe ke saya, meski banyak juga yang bikin dahi saya berkerut.
Yang terfavorit, puisi yang berjudul Menikmati Akhir Pekan.
Profile Image for Nadia Fadhillah.
Author 2 books39 followers
March 14, 2016
indah sekali buku puisi ini.
puisinya, hurufnya, gambarnya, tata letaknya, warnanya.
mengingatkanku pada semua-semuanya.
membuatku resah entah pada lelaki yang mana. hahaha.

May 23, 2016
ga terlalu suka puisi sih. jadi cuma mau kasih 3,5 bintang. tapii sekalian 4 aja deh buat ilustrasinya yg kece badai :))
Profile Image for Ratih.
174 reviews16 followers
July 13, 2016
Membaca Melihat Api Bekerja karya M. Aan Mansyur serasa membaca kumpulan cerita yang dipuisikan, dengan kalimat-kalimat serta kata-kata sambung yang sering kali dipecah-pecah secara sembarangan demi memunculkan rima yang teratur. Dalam setiap puisinya, Aan menarasikan bukan hanya perenungan dan perasaan, tetapi juga kritik dan sindiran terhadap hal-hal yang bisa jadi kita anggap “biasa saja” dan tidak perlu dipermasalahkan. Layaknya buah karya seniman pada umumnya, Melihat Api Bekerja, jika boleh dinilai, merupakan perwujudan diri Aan secara hati dan pikiran.

Membaca Melihat Api Bekerja juga merupakan tantangan besar, karena dari 54 puisi yang tersaji, tak banyak yang gampang dimengerti. Beberapa memang mudah dipahami, namun banyak yang lainnya menggunakan kiasan yang teramat kental serta gaya stream of consciousness yang sulit diikuti ujung pangkalnya sehingga dibaca sampai berulang kali pun tidaklah cukup. Di antara yang sulit “ditangkap maknanya” tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah salah satu bait dari puisi Mengunjungi Ambon:

“Menjadi diri sendiri adalah filsafat
yang sekarat dan alat kontrasepsi
yang sudah bocor sebelum
dimasukkan ke kemasan dan
dijajakan sembarangan.”

Jika dibaca terpisah dari bait-bait lainnya, maka potongan puisi di atas dapat menimbulkan efek cengang dan memicu perenungan. Pertama-tama, apa yang dimaksud dengan “menjadi diri sendiri adalah filsafat yang sekarat”? Apakah, sebagai sebuah pandangan hidup, menjadi diri sendiri sangatlah sulit dilakukan? Begitu sulitnya hingga tak banyak orang yang mau menerapkan lantas ditinggalkan begitu saja menjadi filsafat yang terlantar, nyaris tak bernyawa dan hampir tanpa napas? Lalu, apa pula maksudnya “menjadi diri sendiri adalah alat kontrasepsi yang sudah bocor sebelum dimasukkan ke kemasan dan dijajakan sembarangan”? Apakah menjadi diri sendiri dianggap sebagai alat pelindung diri yang tidak berguna? Karena merupakan alat yang “bocor”, yang menguak bagian kita secara gamblang, prinsip tersebut hanya sia-sia belaka karena memang tak bisa digunakan untuk “melindungi diri”? Begitu pelikkah menjadi diri sendiri di dunia ini? Mungkin demikianlah yang ingin disampaikan bait tersebut.

Jika diperhatikan, Aan banyak berbicara tentang cinta dan kepedihan dalam kumpulan puisinya ini. Banyak sekali kiasan yang digunakan untuk menggambarkan cinta, seperti “Cinta adalah hidangan di atas meja, pelan-pelan dingin dan kau tidak lagi lapar” (dalam Tentang Sepasang Kekasih); “Mereka tidak tahu jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda” (dalam Melihat Api Bekerja); “Cintaku kepadanya melampaui jangkauan kata. Aku cuma mampu mengecupkannya dengan mata” (dalam Barangkali); dan “[...] cinta juga bisa membunuhku. Berkali-kali dan berkali-kali lebih perih” (dalam Kau Membakarku Berkali-kali). Dari kutipan-kutipan puisi tersebut, mungkin dapat diambil kesimpulan bahwa bagi Aan cinta tak lain adalah kepedihan yang bertubi-tubi: jauh, dingin, dan menyakitkan. Apalagi jika dilihat dari puisi berjudul Mengisahkan Kebohongan, di mana kata-kata cinta bisa jadi cuma omong kosong belaka. Atau dalam puisi Menikmati Akhir Pekan, di mana Aan berkata bahwa ia lebih suka berada di antara orang-orang yang patah hati, yaitu orang-orang yang jujur dan berbahaya (jika memang jujur itu berbahaya). Mungkin, bagi Aan, orang-orang yang biasanya bermesraan di akhir pekan bukanlah orang-orang yang sejujurnya bahagia, meski punya pasangan dan cinta.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, selain perenungan dan perasaan, Aan Mansyur juga secara “sembunyi-sembunyi” melayangkan kritik dan sindiran kepada pihak maupun suatu hal tertentu. Seperti yang jelas-jelas ia layangkan kepada sosok-sosok terkenal dalam puisi Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia, juga seperti yang tersirat dalam puisi Kepada Kesedihan, di mana pada salah satu baitnya ia berkata, “Memejamkan mata berarti menjadi politikus”. Di sini Aan seolah menyindir kaum politikus yang selalu menutup mata terhadap apa pun, termasuk dan terutama terhadap kebenaran. Atau bisa jadi Aan sebenarnya ingin mengatakan bahwa dengan “menutup mata” terhadap kebenaran, berarti kita telah menjadi seperti para politikus: busuk. Karena itulah di akhir bait tersebut ia menambahkan, “Aku memilih hidup sebagai penjahat yang ceroboh—cuma tahu melukai hidup sendiri”.

Secara keseluruhan, Melihat Api Bekerja merupakan kumpulan puisi yang kompleks: mengusung berbagai tema, menerapkan berbagai bentuk, menceritakan berbagai hal, dan menggunakan rima-rima yang mengandung berbagai jebakan baca. Namun justru itulah yang membuat Melihat Api Bekerja menjadi sebuah karya yang kaya. Ditambah lagi, puisi-puisi Aan Mansyur juga ditemani ilustrasi-ilustrasi hasil guratan Muhammad Taufiq yang sangat luar biasa, yang berperan merepresentasikan hasil tulisan Aan tersebut dalam bentuk gambar. Bisa dibilang, selain kompleks, Melihat Api Bekerja juga merupakan karya yang komplit.

Saya akan menutup resensi ini dengan salah satu bait dalam puisi yang berjudul Menyunting Sajak Untukmu, yang sedikit banyak mewakili kompleksnya isi dan makna puisi-puisi Aan yang terkumpul dalam buku ini serta kesulitan saya dalam mencernanya:

“Singkirkan semua yang cuma kata.
Baca dan baca lagi hingga hilang
maksudku menuliskan sajak ini.
Apakah kau sudah merasakan hal
yang sejak mula kupikirkan? Baiklah,
akan kuhapus dan memulainya lagi.”

@erdeaka
Profile Image for Melda.
3 reviews2 followers
March 12, 2018
Lagu itu belum berhenti.
Rasa sakit tumbuh seperti kalimat-kalimat indah Sylvia Plath.
Aku mencintaimu dan
mencintai kehilanganku atasmu.

Di kafe itu,
orang-orang berbahagia
demi menghibur kesedihan mereka.
Aku berbahagia karena
selalu bisa sedih pernah memiliki.

Menyimak Musik di Kafe.
126

===

Setiap bagian Puisi punya getarannya masing-masing.
dan saya, selalu menikmati semua bagian dibuku ini.
Displaying 1 - 30 of 288 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.