Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film” as Want to Read:
Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film

4.30  ·  Rating details ·  240 ratings  ·  47 reviews
Orde Baru sukses dalam memelintir sejarah kiri di Indonesia untuk mencitrakannya sebagai ideologi iblis yang menjadi ancaman terbesar bagi negara. Terbukti, jauh sesudah Orde Baru jatuh, anti-komunisme tetap bercokol kuat dalam masyarakat Indonesia. Buku ini menjelajahi kembali faktor-faktor yang membentuk dan memelihara ideologi anti-komunis itu, bukan saja sebagai hasil ...more
Paperback, 1st ed., 333 pages
Published November 2013 by Marjin Kiri (first published August 12th 2011)
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Kekerasan Budaya Pasca 1965, please sign up.

Be the first to ask a question about Kekerasan Budaya Pasca 1965

Community Reviews

Showing 1-30
Average rating 4.30  · 
Rating details
 ·  240 ratings  ·  47 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film
Cintya Faliana
Feb 07, 2021 rated it it was amazing
Buku ini seperti judulnya membahas soal bagaimana Orde Baru berusaha mematenkan stigma terhadap gerakan/aktivis/paham kekirian sekaligus memberangus ide-idenya. Namun, bagian menarik selain membeberkan analisis soal kekerasan budaya yang dilakukan Orde Baru, Herlambang benar-benar menawarkan perspektif jauh lebih luas dari sekadar perdebatan Humaisme Universal vs Realisme Sosialis yang selama ini hanya kuketahui dari permukaan saja. Bagaimana infiltrasi agen-agen Barat, khususnya Amerika Serikat ...more
Delasyahma
Aug 22, 2020 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku bagus gini, wajib baca.
Kahfi Ananda
Jul 28, 2017 rated it it was amazing
Siapa bilang peristiwa kup 1965 hanya soal politik dan perebutan kekuasaan semata? Terlalu sempit menyimpulkan peristiwa kup tersebut hanya dalam paradigma politik, buku ini menghadirkan perspektif baru nan segar mengenai interpretasi peristiwa barbar tersebut. Melalui pendekatan sosio-budaya ternyata tragedi tersebut bisa dibedah.
Buku ini juga menawarkan pandangan oposan mengenai definisi kekerasan, memaksa pembaca untuk melakukan redefinisi mengenai kekerasan yang tak menyasar fisik semata.
Op
Jun 28, 2019 rated it really liked it  ·  review of another edition
berlamat-lamat dan puas membacanya.
Andre
Oct 28, 2015 rated it really liked it  ·  review of another edition
Inti dari isi buku ini adalah, mendefinisikan bentuk kekerasan lain selain kekerasan fisik. Yaitu kekerasan yg dilakukan melalui "Propaganda" melalui produk produk budaya,seni, didaktik, dan sejenisnya yang tidak melukai langsung serta dapat mengakibatkan dampak sosial yang sangat besar (terhadap suatu grup/seseorang tertentu. Dengan merujuk pd teori Johann Galtung, Structural Violence (Kejahatan Struktural), Sang Penulis mengambil sample sejarah modern Indonesia pasca pembantaian komunis yang d ...more
Ursula Florene
Oct 07, 2016 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku ini adalah satu karya yang wajib dibaca, terutama bagi bangsa yang selalu dilanda rasa takut akan bangkitnya komunisme.

Wijaya Herlambang menulis buku ini dengan format kajian ilmiah tentang karya-karya bertema G30S/PKI. Pertama adalah film dan novel berjudul sama, dan novel September . Meski memiliki tema besar yang sama, namun sudut pandangnya berbeda. Lewat dua (atau tiga?) karya ini, ia menjabarkan bagaimana pemerintah dan aktor intelektual zaman Orde Baru membangun kesan orang-orang ko
...more
Novitasari Amira
Feb 27, 2017 rated it really liked it
Ada banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya tahu atau mungkin sedikit saya tahu, menjadi saya ketahui melalui buku ini. Terlepas dari fakta-fakta yang tak mungkin terekspos seutuhnya dan sebenar-benarnya. Makanya diadakanlah penelitian. Dan buku ini merupakan salah satu hasil dari penelitian-penelitian yang membahas obyek senada yang dilakukan oleh para peneliti pendahulu, yaitu kekerasan terhadap PKI. Di mana fokus utama buku ini terletak pada kekerasan budaya.
Bagaimana cara kerja kekerasa
...more
Nonna
Sep 14, 2014 rated it really liked it
Saya adalah generasi yang tumbuh dalam doktin orba di bidang pendidikan dan kebudayaan, dimana tiap tahunnya diwajibkan menonton film G30S. Generasi dimana pelajaran sejarah "diatur".

Buku ini membantu saya membuka pelan-pelan sejarah yang "diatur" tadi. Termasuk kisah kelam sastra & budaya kontemporer yg sedikit saya geluti. Bagaimana produk budaya populer bisa menjadi senjata melakukan kekerasan.

Dan pada bab terakhir, buku ini membahas tentang novel September sebagai jawaban atas doktrin, mendo
...more
rekasakti
Aug 03, 2016 rated it liked it
Shelves: desktop
Buku ini, jika boleh saya sederhanakan, membahas peristiwa 65 dari sudut pandang budaya. Menjadi perhatian, dijelaskan bahwa kekerasan budaya menyebabkan kekerasan langsung dan struktural terlihat, bahkan terasa, lumrah, dan benar. Selain itu, "sangat menyenangkan" bagi saya untuk mengetahui dinamika kebudayaan dan kesusastraan Indonesia kontemporer yang belum pernah saya sentuh sebelumnya. ...more
rasya swarnasta
Aug 25, 2020 rated it it was amazing  ·  review of another edition
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Riar
Oct 10, 2017 rated it really liked it  ·  review of another edition
Really amazing read. Although I have several notes:

- Albeit lacks on literature resource but the conspiracy between CCF (Congress for Cultural Freedom) and Manikebu gang is always worth to follow. This also escalate my curiosity on Camus and his hatred towards Sartre when he somehow became a fellow for communist party.

- Partai Sosialis Indonesia involvement in developing anti-communist discourse on cultural aspect is no surprise. Allegedly they are perhaps the earlier agent of liberalism in Indo
...more
Odla
Nov 08, 2018 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: review
Saya rasa banyak penduduk Indonesia yang masih belom tau tentang kebenaran dari kejadian tahun 1965 (G30S/PKI). Masih banyak kita jumpai orang-orang yang koar-koar tentang kembali munculnya komunisme di Indonesia. Entah itu ketakutan yang berasal dari diri sendiri atau hasil dari "cuci otak" orde baru. sebelum membaca buku ini saya juga pernah membaca buku dari André Vltchek yang berjudul Indonesia: Archipelago of Fear. Di buku itu penulisnya menceritakan bagaimana zaman orde baru mempengaruhi k ...more
Arman Dhani
Oct 12, 2020 rated it it was amazing
Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 adalah upaya untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana kuasa dominasi hegemoni kultural, bisa masuk melalu elemen-elemen paling tak terduga dalam hidup Bahwa pada akhirnya upaya mengendalikan masyarakat tidak lagi efektif dilakukan dengan cara-cara kekerasan, tapi dengan kekuatan halus tak kasat mata seperti karya sastra dan film. Di sini represi dan tirani pemerintah merupakan elemen kecil dari sebuah narasi besar untuk melegalkan dan membenarkan kekerasan terha ...more
Sandys Ramadhan
Apr 06, 2021 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: owned
Membahas peristiwa 65 dengan menggunakan pendekatan sosio-budaya termasuk produk kebudayaan seperti sastra dan film. Yang tentunya menjadi bahasan bab paling menarik bagi saya. Mulai dari bagaimana pemerintah orde baru membuat narasi resmi terhadap peristiwa 65, siapa saja aktor yang turut serta sampai hadirnya sebuah karya sastra berjudul "September" yang digunakan sebagai narasi tandingan dan ditulis oleh Noorca M. Massardi.
Kemudian banyak tokoh-tokoh yang saya kenal (sebatas tau/pernah dengar
...more
Willy Alfarius
Feb 03, 2021 rated it really liked it
Perburuan dan pembantaian terhadap orang-orang komunis maupun yang sekadar dituduh pada 1965-1966 dilakukan tidak hanya melalui propaganda di surat kabar milik Angkatan Darat. Pada tahun-tahun setelahnya ia perlu dilegitimasi melalui produk-produk kebudayaan seperti sastra dan film. Inilah yang jadi poin utama dari buku Wijaya Herlambang yang mulanya adalah disertasi di University of Queensland, Australia. Tidak hanya sastra dan film, tulisan sejarah tentu menjadi produk kebudayaan lain yang iku ...more
Agung Widiyantoro
Oct 22, 2017 rated it really liked it
Pembabakan sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan ditandai dari tahun 1945-1964 (Fase Revolusi Fisik, Pergolakan antar Partai dalam sistem Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin) hingga fase pasca 64, dengan meletusnya peristiwa September berdarah pada tahun 1965 dan masa-masa sesudahnya. Tak hanya kekerasan fisik, kekerasan dalam wilayah budaya, lebih spesifik dalam bidang sastra dan perfilman juga terpengaruh oleh propaganda sebuah rezim yang berdiri diatas militerisme terhadap mereka yang kom ...more
jessie monika
May 12, 2021 rated it it was amazing
“… bahwa Orde Baru telah menciptakan luka yang tidak dapat dihapuskan dari sejarah Indonesia modern.”

Propaganda berhasil terbentuk tidak hanya dari inisiator, supporter dan silent crowds aja, tapi juga produk-produk seni yang ‘dianggap’ tidak berbahaya seperti sastra dan film. Membaca buku ini bikin saya berpikir betapa bangsatnya rezim yang memaksa saya nonton film Pengkhianatan G30SPKI di bioskop. Tiap tahun kami diingat-ingatkan terus bahwa PKI adalah sebuah masalah negara yang harus diberant
...more
Rhemawati Wijaya
Jan 12, 2018 rated it it was amazing
KEREN BANGET. Ini salah satu buku yang bisa bikin saya lebih paham peristiwa 1965 dan juga "insider information" tentang propaganda yang membuatnya jadi kampanye yang masif dan terstruktur.

Meskipun di beberapa bab agak-agak membosankan (karena memang buku ini awalnya adalah disertasi Wijaya Herlambang), tetapi cara dia mengupas satu demi satu mulai dari teori tentang kekerasan budaya hingga mengaitkannya dengan temuan-temuannya yang (at least for me) cukup sensasional dan bikin ternganga2 bikin
...more
Muhammad Respati
Sep 23, 2017 rated it really liked it
Saya sudah tuntas membaca buku ini beberapa bulan yang lalu, namun saya ingin memberi rating karena akhir-akhir ini film "Penumpasan Pemberontakan G30S/PKI" mulai terkenal lagi. Buku ini menunjukkan bagaimana "kesuksesan" Orde Baru dalam menggilas komunisme melalui sastra dan film, tentu saja selain dengan menggunakan kekuatan fisik. Buku ini juga bisa digunakan sebagai pendamping dalam memahami konteks pembuatan film "Penumpasan Pemberontakan G30S/PKI" yang acara nonton barengnya disambut denga ...more
Dompyy Books
Jan 28, 2021 rated it it was amazing
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Tari
Dec 02, 2020 rated it really liked it
Buku ini membahas mengenai faktor budaya yang dilakukan oleh pemerintahan orba dalam melanggengkan wacana anti-komunisme. Dengan adanya pendekatan kultural tersebut, membuat pemerintah dapat memenangkan legitimasi terhadap berbagai tindakan kekerasan struktural maupun langsung. Dimensi kebudayaan memang sesuatu hal yang sulit diukur akan tetapi membentuk kesadaran seseorang dengan mentransformasikan nilai-nilai.

Menurut saya, pokok pembahasan di buku ini masih luas. Belum fokus pada kekerasan bud
...more
nawir nawir
Jul 08, 2019 rated it it was amazing
Shelves: 2019
Sekarang saya paham secara garis besar bagaimana seni dalam hal ini sastra diperalat untuk menjadi pelanggeng kekuasaan, memanipulasi kesadaran masyarakat luas lewat cerita-cerita yang memutarbalikkan pemikiran bahwa penderitaan yang dialami korban pembersihan hantu komunisme oleh Theo Rosa dengan menggiring opini pembaca ke arah 'pelaku juga punya rasa bersalah', dan tentu saja perselisihan di kalangan elit-elit sastra nasional. ...more
Ahmad
Jan 25, 2018 rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: pengetahuan-umum
Buku ini akan membuka mata siapa saja yang membacanya. Buku ini menunjukkan dengan rapi bahwa kita sebenarnya selama ini bukan korban konspirasi, namun secara tidak sadar menjadi bagian dari konspirasi itu sendiri. Apa-apa yang dipaparkan di dalam buku ini adalah prespektif yang menyadarkan kita bahwa ada tindakan manipulatif, baik yang disengaja maupun tidak, yang digerakkan untuk membentuk opini publik sepenuhnya mengarahkan kebencian mereka kepada sesuatu dan sekelompok orang.
Lidya
Apr 12, 2018 rated it it was amazing
Satu kata kunci yang mewakili buku ini adalah: depolitisasi. Seni dan kebudayaan dihilangkan kekuatan revolusionernya sehingga seakan-akan mewakili nilai kemanusiaan universal yang bebas. Ideologi yang mendasarinya disebut sebagai "humanisme universal", berakar dari liberalisme yang katanya menjamin kebebasan berekspresi. Tentu kebebasan itu hanyalah bagi mereka yang menguasai kapital. ...more
Nanas Hassan
Jun 21, 2020 rated it really liked it
Buku ini mengupas suatu fakta bahwa yang hancur tidak hanya nyawa maupun tatanan saja. Tapi sekaligus budaya di masyarakat.
Buku ini juga membuka mata, betapa suksesnya rezim saat itu memporak porandakan paradigma kita sendiri
Wiwien Chan
Aug 20, 2020 rated it it was amazing
Brutal! Kekerasan kebudayaan ini khususnya mengenai sastra, mencabik cabik pondasi pemahaman saya, bahwa ternyata para sastrawan terkenal pun bisa dimanipulasi oleh asing ataupun dibayar untuk tujuan-tujuan politis.
Ginanjar Jatnika
Jun 04, 2019 rated it it was amazing
Alm. Wijaya Herlambang memperkenalkan istilah 'Kekerasan Budaya' dengan mengambil contoh dari salah satu sejarah kelam Indonesia yang transparansinya seakan masih disembunyikan oleh beberapa pihak. Salah satu stigmatisasi paling menakutkan di Indonesia. ...more
Annabiel
Feb 22, 2021 rated it it was amazing
Bisa saya anggap sebagai kunci untuk membuka perpetaan siapa saja yang turut andil dalam mengabsahkan dan membenarkan "Pembantaian Kaum Komunis". ...more
Timothy
May 29, 2018 rated it it was amazing
Buku yang bagus
« previous 1 3 4 5 6 7 8 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Dari Dalam Kubur
  • Bumi Manusia
  • The Story of a Seagull and the Cat Who Taught Her to Fly
  • Orang-Orang Oetimu
  • The Old Man Who Read Love Stories
  • Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura
  • The Wild Geese
  • Senja di Jakarta
  • Identity and Violence: The Illusion of Destiny
  • Penguin Island
  • Bukan Pasar Malam
  • Man Tiger
  • Filosofi Teras
  • Bidadari yang Mengembara
  • Beauty Is a Wound
  • Aib dan Nasib
  • Olenka
  • Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru
See similar books…

Related Articles

Juneteenth, observed on June 19th each year, is an American holiday commemorating the day in 1865 when the last enslaved people in Galveston,...
53 likes · 8 comments