Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film

Rate this book
Orde Baru sukses dalam memelintir sejarah kiri di Indonesia untuk mencitrakannya sebagai ideologi iblis yang menjadi ancaman terbesar bagi negara. Terbukti, jauh sesudah Orde Baru jatuh, anti-komunisme tetap bercokol kuat dalam masyarakat Indonesia. Buku ini menjelajahi kembali faktor-faktor yang membentuk dan memelihara ideologi anti-komunis itu, bukan saja sebagai hasil dari kampanye politik, melainkan juga hasil dari agresi kebudayaan, terutama melalui pembenaran atas kekerasan yang dialami oleh anggota dan simpatisan komunis pada 1965-1966.

Buku ini menganalisis upaya pemerintah Orde Baru beserta agen-agen kebudayaannya dalam memanfaatkan produk-produk budaya untuk melegitimasi pembantaian 1965-1966. Dengan bukti-bukti empiris ditunjukkan bahwa intervensi langsung CIA kepada para penulis dan budayawan liberal Indonesia untuk membentuk ideologi anti-komunisme bukanlah isapan jempol belaka. Siapa saja penulis yang terlibat? Bagaimana metodenya? Sebagai tambahan, buku ini juga menganalisis perlawanan kelompok-kelompok kebudayaan Indonesia kontemporer terhadap warisan anti-komunisme Orde Baru itu.



The fall of Indonesia's New Order in 1998 was not followed by the demise of anti-communist ideology. On the contrary anti-communism remains strong within the community. This book traces some of the determinant factors which contributed to the establishment and the survival of anti-communism in Indonesia. This book argues that the survival of anti-communist ideology was not only a result of political campaigning but also and more importantly cultural aggression against communism, particularly through the justification of the violence experienced by the alleged communist members in 1965-1966.The justification of the 1965-1966 violence which was carried out by the New Order government and its cultural agents through cultural products fundamentally underpinned the viewpoint of communism as the ultimate enemy of the nation. This book also argues that the legitimisation of the 1965-1966 violence was no less brutal than the act of violence itself.By focusing on the discussion of how the New Order government and its cultural agents utilised cultural products in legitimating violence against communists, this book attempts to explore the ways in which the 1965-1966 violence was normalised.

333 pages, Paperback

First published August 12, 2011

Loading interface...
Loading interface...

About the author

Wijaya Herlambang

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
136 (49%)
4 stars
104 (38%)
3 stars
22 (8%)
2 stars
5 (1%)
1 star
6 (2%)
Displaying 1 - 30 of 51 reviews
Profile Image for Alberta Vania.
48 reviews1 follower
March 31, 2023
Kajian komprehensif dari disertasi Wijaya Herlambang. Karya ini membuat saya gak bisa lagi melihat kumcer terbitan Horison dengan pandangan yang sama. Dari buku ini juga saya banyak mendapat informasi baru tentang jejaring kebudayaan dan kaitannya dengan peristiwa ‘65 di Indonesia.

Buku ini emas, sama halnya dengan Metode Jakarta - Vincent Bevins. Ini kudu dibaca sama semua orang. Solid five stars.
Profile Image for Cintya Faliana.
29 reviews2 followers
February 8, 2021
Buku ini seperti judulnya membahas soal bagaimana Orde Baru berusaha mematenkan stigma terhadap gerakan/aktivis/paham kekirian sekaligus memberangus ide-idenya. Namun, bagian menarik selain membeberkan analisis soal kekerasan budaya yang dilakukan Orde Baru, Herlambang benar-benar menawarkan perspektif jauh lebih luas dari sekadar perdebatan Humaisme Universal vs Realisme Sosialis yang selama ini hanya kuketahui dari permukaan saja. Bagaimana infiltrasi agen-agen Barat, khususnya Amerika Serikat, dalam mengokohkan paham liberalisme dalam kebudayaan (Indonesia) untuk kepentingan jangka panjang AS di bidang ekonomi-politik. Bagaimana budayawan Indonesia juga menjadi agen penting yang secara sadar ikut mengarahkan kebudayaan dan kasusastran Indonesia pada kepentingan-kepentingan Barat yang difasilitasi lembaga-lembaga donor besar seperti Ford Foudation, Asia Foundation, dan bahkan pada waktu lampau, CIA. Termasuk, bagian yang membuat paling tertegun tentu saja, bagaimana Goenawan Mohamad membangun legacynya hingga saat ini dengan perpanjangan tangan para donor. Kudos, Wijaya Herlambang. Senang punya kesempatan membaca buku bagus dengan khidmat dan memaknainya dengan sungguh-sungguh.
Profile Image for Kahfi.
139 reviews6 followers
July 29, 2017
Siapa bilang peristiwa kup 1965 hanya soal politik dan perebutan kekuasaan semata? Terlalu sempit menyimpulkan peristiwa kup tersebut hanya dalam paradigma politik, buku ini menghadirkan perspektif baru nan segar mengenai interpretasi peristiwa barbar tersebut. Melalui pendekatan sosio-budaya ternyata tragedi tersebut bisa dibedah.
Buku ini juga menawarkan pandangan oposan mengenai definisi kekerasan, memaksa pembaca untuk melakukan redefinisi mengenai kekerasan yang tak menyasar fisik semata.
Profile Image for raflyfaridh.
30 reviews1 follower
December 28, 2022
Sebuah sajian komperhensif tentang bagaimana pemerintah orde baru mengukuhkan hegemoni kekuasaan melalui media dengan tujuan mengubah cara pandang masyarakat indonesia dimasa itu. Munculnya institusi kebudayaan liberal yang didanai oleh negara barat memulai siasat pemerintah orde baru dalam menguatkan narasi anti komunisme di indonesia.
Profile Image for Op.
346 reviews124 followers
June 28, 2019
berlamat-lamat dan puas membacanya.
Profile Image for Andre.
6 reviews6 followers
July 13, 2017
Inti dari isi buku ini adalah, mendefinisikan bentuk kekerasan lain selain kekerasan fisik. Yaitu kekerasan yg dilakukan melalui "Propaganda" melalui produk produk budaya,seni, didaktik, dan sejenisnya yang tidak melukai langsung serta dapat mengakibatkan dampak sosial yang sangat besar (terhadap suatu grup/seseorang tertentu. Dengan merujuk pd teori Johann Galtung, Structural Violence (Kejahatan Struktural), Sang Penulis mengambil sample sejarah modern Indonesia pasca pembantaian komunis yang dilakukan Angkatan Darat dan sekutunya di tahun 1965. Kali ini bukan tugas "Helm Besi" lagi untuk mencabut komunis sampai ke akar akarnya, melainkan merekalah para Budayawan, Jurnalis, Novelist yg mendapat bantuan dana cukup besar dari korporasi dunia Ford and Rockefeller Foundation dan CCF (Congres for Cultural Freedom) dgn perantara para sarjana2 lulusan USA untuk mempublikasikan atau menyusupkan Ideologi Liberalisme/Humanisme Universal dalam karya karya seni dan pemikiran utk mengucilkan kaum komunis. Legitimasi kekerasan Struktural lewat seni budaya dan pendidikan itu sukses, sampai jauh setelah kejadian tsb anggota keluarga komunis atau non komunis/simpatisan mengalami peristiwa sosial yg menyakitkan, mereka di kucilkan di masyarakat, dipersulit urusan birokrasi nya dan menanggung dosa orang tua nya. Padahal pada dasarnya mereka tidak tahu apa apa tentang politik bahkan!

Sejarah G30SPKI masih penuh kontroversi, masih banyak masyarakat yg belum bisa menerima bahwa PKI adalah korban keganasan rezim OrBa, walaupun sudah banyak bukti dan penulis2 asing yang membuktikan bahwa aksi itu adalah Coup d'etat dan termasuk kebijakkan USA selama perang dingin untuk menggulingkan President Soekarno yang cenderung ke arah Kiri. Hal ini juga tergantung pemerintah, apakah pemerintah mau jujur mengungkap halaman sejarah yang hitam ini atau tidak.
Selain itu perlu dicatat, bahwa Bahasa, Seni dan Sastra mempunyai peran yg sangat krusial dalam perubahan nilai nilai moral dan sudut pandang perorangan, masyarakat, maupun bangsa. George Orwell dalam novelnya 1984 menceritakan kehidupan dibawah sistem otoriter totalitarian dgn sangat baik, bagaimana pemerintah Eurasia merubah segala aspek dari bahasa, pemalsuan sejarah/koran/dokumen/ penipuan melalui media berulangkali dll.

Buku ini jg menyajikan sebuah analisis kritis terhadap peran superstructure yang menghipnotis dikala itu, yg sampai kpd konteks hari ini masih relevan.
Profile Image for Ursula.
218 reviews12 followers
October 7, 2016
Buku ini adalah satu karya yang wajib dibaca, terutama bagi bangsa yang selalu dilanda rasa takut akan bangkitnya komunisme.

Wijaya Herlambang menulis buku ini dengan format kajian ilmiah tentang karya-karya bertema G30S/PKI. Pertama adalah film dan novel berjudul sama, dan novel September . Meski memiliki tema besar yang sama, namun sudut pandangnya berbeda. Lewat dua (atau tiga?) karya ini, ia menjabarkan bagaimana pemerintah dan aktor intelektual zaman Orde Baru membangun kesan orang-orang komunis, yang berakar hingga saat ini.

Menurut dia, pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto sengaja menjadikan orang-orang komunis ini sebagai 'tumbal' baginya untuk memperoleh kekuasaan. Jutaan orang ditahan dan diasingkan tanpa diadili. Ada pula yang dibantai tanpa tahu apa salahnya.

Perlu diakui, masih banyak orang yang tidak tahu alasan mengapa Partai Komunis Indonesia (PKI) diberikan kesan begitu menakutkan. Perempuan-perempuannya yang tergabung dalam onderbouw Gerwani ditampilkan amoral dan sadistik. Sementara pria-prianya haus darah dan tak beragama. Tindak 'nyata' mereka digambarkan lewat pembunuhan 7 orang jenderal yang kelak menjadi kisah Lubang Buaya.

Tapi, benarkah kalau PKI yang membunuh mereka? Wijaya berpendapat lain, pembunuhan sadistik tersebut hanyalah rekayasa semata yang ditampilkan lewat novel, film, serta narasi sepihak dari pihak pemerintah. Salah seorang dokter yang melakukan otopsi terhadap mayat-mayat para jenderal mengatakan tidak ada bekas luka sayatan ataupun tusukan seperti yang dikisahkan; ketujuhnya mati ditembak. Sekian.

Buku ini sangat menarik, sungguh. Meski penuturannya sangat ilmiah dan panjang sehingga agak membosankan. Saya butuh waktu cukup lama, sekitar sepekan untuk bisa menghabiskannya. Normalnya, buku setebal ini cukup saya lahap dalam 3 hari saja.

Saya tak ingin membocorkan isi buku ini seluruhnya, karena terlalu panjang dan tentu menghilangkan rasa penasaran Anda sekalian. Intinya, jangan mudah percaya pada kisah atau dongeng yang tidak didukung fakta sejarah. Apalagi kebencian yang hanya didasarkan isu semata.

Itu konyol. Tapi, menjadi bodoh ataupun tercerahkan, itu hak masing-masing orang.

Kalau anda mau tercerahkan, buku ini bisa membantu Anda melihat lebih luas tentang sejarah negeri ini yang kelam dan penuh kebohongan.
Profile Image for Novitasari Amira.
31 reviews2 followers
February 27, 2017
Ada banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya tahu atau mungkin sedikit saya tahu, menjadi saya ketahui melalui buku ini. Terlepas dari fakta-fakta yang tak mungkin terekspos seutuhnya dan sebenar-benarnya. Makanya diadakanlah penelitian. Dan buku ini merupakan salah satu hasil dari penelitian-penelitian yang membahas obyek senada yang dilakukan oleh para peneliti pendahulu, yaitu kekerasan terhadap PKI. Di mana fokus utama buku ini terletak pada kekerasan budaya.
Bagaimana cara kerja kekerasan budaya? Produksi hasil kebudayaan yang secara gamblang maupun halus melegitimasi kekerasan itu sendiri, yang sebagaimana didasarkan penjelasan Galtung merupakan salah satu bentuk kekerasan itu pula.
Balik ke paragraf awal, hal-hal yang saya maksud jadi saya ketahui sejak membaca buku ini, yang jujur saja sebelumnya (dan juga sekarang) masih sangat gelap bagi saya yang hanya mengikuti arus informasi melalui media kilat, adalah terkait dominasi-dominasi aliran kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi dari dulu hingga sekarang, yakni komunisme dan liberalisme. Saya benar-benar buta sejarah.
Memang saya sering mendengar tentang kudeta, kekerasan PKI, kekerasan Orde Baru, manipulasi sejarah, dan semacamnya. Tapi saya tak pernah begitu tertarik untuk membaca literatur berhubungan dengan itu, apalagi buku yang (menurut saya) cukup tebal semacam ini. Saya merasa cukup dengan membaca artikel maupun menonton dokumenter. Dan membaca ini menghentakkan ketidakacuhan saya tersebut, bahwasanya memahami sejarah itu penting, bukan sekadar menghafalkan tanggal-tanggal bersejarah. Setidaknya saya berharap buku ini dapat memantik semangat pribadi untuk rajin membaca literatur terkait lainnya.
Tak berlebihan jika saya menganggap bahwa buku ini layaknya suatu alternatif bacaan sejarah yang runtut dan komprehensif dalam pembahasannya, yang sebenarnya tidak hanya memfokuskan pada satu titik (kebudayaan), tapi turut menjelaskan titik-titik lainnya yang menjadi penunjang bagi titik utamanya tersebut, seperti sosial, politik, dan ekonomi yang juga merupakan bagian dari pengaruh komunisme maupun liberalisme. Bagaimana sekat dari kedua aliran ini menimbulkan begitu banyak dampak dalam kehidupan masyarakat dan negara ini, sebagai akibat dari Perang Dingin untuk mendominasi kekuatan politik. Dan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam tak lepas dari permainan itu.
Buku ini mengkritik tajam banyak hal yang diperkaya dengan data primer maupun sekunder, karena pada dasarnya buku ini merupakan hasil disertasi penulisnya sendiri, Wijaya Herlambang. Kritik-kritik itu melingkupi hegemoni kebudayaan, para budayawan, hasil-hasil kebudayaan yang intinya bertujuan untuk melegitimasi praktik kekerasan melalui penyalahgunaan konsep liberalisme (yang juga disebut humanisme universal) terhadap komunisme (PKI, anggotanya, serta simpatisannya). Sehingga komunisme dapat diberantas setuntas-tuntasnya. Bahkan sampai sekarang pun, warisan anti-komunis tersebut masih sangat melekat pada masyarakat Indonesia. Bukti betapa kuatnya pengaruh pembenaran melalui produk kebudayaan tersebut.
Produk kebudayaan yang macam mana? Diawali dari narasi utama pemerintah Orde Baru melalui sejarawan militer Nugroho Notosusanto, cerpen-cerpen di majalah Horison dan Sastra dari pihak Manifes Kebudayaan (Mochtar Lubis, Taufik Ismail, dkk), film Pengkhianatan G30S/PKI karya Sutradara Arifin C. Noer, pun novel dengan judul yang sama karya Arswendo Atmowiloto untuk semakin memperteguh “kebiadaban” PKI, dan produk-produk kebudayaan lainnya yang pada intinya mensahkan segala penumpasan terhadap anggota dan mereka yang dianggap simpatisan PKI. Kalaupun cerpen-cerpen dari para pihak yang menganggap diri mereka pro-liberal tersebut bernada simpati, tapi penulis buku ini menunjukkan bagaimana simpati itu hanya merupakan ilusi “humanisme universal” semata, karena simpati itu lebih ditujukan pada konflik psikologis tokoh-tokoh utamanya, bukannya terhadap tragedi yang menimpa PKI.
Yang menurut saya juga menarik dari buku ini ialah sorotan penulis terhadap salah satu intelektuil yang sangat berpengaruh di negeri ini, Gunawan Mohamad, dan perkembangan politiknya. Dimana Gunawan sejak awal diposisikan sebagai penulis liberal yang ikut menandatangani Manifes Kebudayaan (sebagai perlawanan terhadap LEKRA), yang juga merupakan bagian dari sejarah awal Orde Baru yang sangat anti komunis, hingga kemudian berganti haluan menentang Orde Baru yang ternyata sangat mengekang kebebasan ekspresi yang sangat dibela oleh Gunawan tersebut, sehingga ia bergandeng tangan dengan “orang-orang” kiri untuk meruntuhkan rezim Orde Baru. Namun, pada akhirnya, setelah runtuhnya Orde Baru pun, tetap konsisten dengan keyakinan liberalnya. Ia tetap setia menerima aliran-aliran dana dari luar negeri untuk membangun “imperium” kebudayaannya.
Saya pribadi melihat karakter Gunawan Mohamad ini sebagai tipe seseorang yang (sejauh ini) selalu bertahan dalam situasi politik bagaimana pun, entah itu yang anteng maupun yang panas sekalipun. Ia tetap bisa mempertahankan diri, bahkan semakin memperkuat eksistensinya dalam kancah politik-kebudayaan di Indonesia. Saya tak yakin apa dia bisa disebut tidak konsisten juga munafik atau justru cerdas dalam mengambil langkah-langkah politiknya yang terbilang selalu aman, demi kepentingannya di luar dan dalam negeri. Tapi perlu dicatat ini sekadar pandangan dangkal saya melalui pembacaan buku ini.
Di sisi lain, buku ini juga memperkenalkan pembaca pada novel “September” (serta menganalisisnya) yang dianggap sebagai karya fiksi pertama yang menentang narasi utama Orde Baru, dengan nama-nama tokoh, tempat yang tidak memakai nama sebenarnya, melainkan lewat anagram-anagram dan kode-kode yang merujuk pada peristiwa 30 September 1965. Novel “September” ini sendiri ditulis oleh Noorca Massardi yang bahkan bukan budayawan dari kubu kiri (LEKRA) atau kanan (Manikebu), sebagaimana dinyatakan oleh penulis, melainkan seseorang yang prihatin terhadap manipulasi sejarah Orde Baru, sehingga membentuk karyanya sendiri. Walaupun konteks buku ini adalah fiksi (fantasi). Ini pula yang menjadi kritik Wijaya Herlambang terhadap komunitas-komunitas kiri yang dianggap hanya memperdebatkan masalah ideologi bukannya menghasilkan bentuk nyata (karya ilmiah) terkait itu.
Dan saya anggap buku ini adalah bentuk nyata tersebut.
Profile Image for Nonna.
134 reviews3 followers
September 14, 2014
Saya adalah generasi yang tumbuh dalam doktin orba di bidang pendidikan dan kebudayaan, dimana tiap tahunnya diwajibkan menonton film G30S. Generasi dimana pelajaran sejarah "diatur".

Buku ini membantu saya membuka pelan-pelan sejarah yang "diatur" tadi. Termasuk kisah kelam sastra & budaya kontemporer yg sedikit saya geluti. Bagaimana produk budaya populer bisa menjadi senjata melakukan kekerasan.

Dan pada bab terakhir, buku ini membahas tentang novel September sebagai jawaban atas doktrin, mendobrak versi resmi G30S. Novel yg juga melakukan kekerasan budaya..
Profile Image for rekasakti.
25 reviews8 followers
August 5, 2016
Buku ini, jika boleh saya sederhanakan, membahas peristiwa 65 dari sudut pandang budaya. Menjadi perhatian, dijelaskan bahwa kekerasan budaya menyebabkan kekerasan langsung dan struktural terlihat, bahkan terasa, lumrah, dan benar. Selain itu, "sangat menyenangkan" bagi saya untuk mengetahui dinamika kebudayaan dan kesusastraan Indonesia kontemporer yang belum pernah saya sentuh sebelumnya.
Profile Image for rasya swarnasta.
82 reviews20 followers
August 26, 2020
(Entahlah apakah ini akan menjadi salah satu dari "rating bintang lima menggebu-gebu" lainnya, karena makin ke sini saya tergoda untuk menurunkan satu tingkat pada beberapa buku yang telanjur saya kasih lima bintang, tapi baiklah, mari sepakati bahwa relevansi dari apa yang saya tulis di What do you think?, dengan apa yang saya pikirkan di kemudian hari, memanglah tidak berumur panjang.)

Sebagai tulisan akademis, buku ini mudah dibaca dan diceritakan dengan mengalir. Keren. Saya iri dan pengin bisa menyusun tulisan akademis seperti ini juga. Buku ini memberikan gambaran yang runtut mengenai perkembangan kebudayaan selama era Sukarno, Suharto, dan awal tahun 2000-an. Banyak informasi yang baru saya ketahui di sana, terutama hal-hal yang selama ini ingin saya ketahui tapi tidak punya energi yang cukup untuk mencarinya satu-satu, seperti pemetaan perpolitikan tokoh-tokoh yang terlibat dalam Lekra, Horison, penanda tangan Manifesto Kebudayaan, anggota CCF, PSI, PKI ... hingga di mana Amerika(-Inggris), di mana Rusia, kala itu.

Menyelesaikan buku ini adalah roller coaster emosi. Sangat mungkin disebabkan karena saya nggak tahu banyak soal konteks dalam peristiwa 30 September 1965 sebelumnya. Saat membaca perkembangan CCF di Indonesia yang mendapat sokongan bantuan dana dari CIA, itu rasanya hampa betul. Membaca analisis sastra dari cerpen-cerpen di Horison dengan latar G30S yang adalah bentuk legitimasi kekerasan, bikin mind-blown :')

Lalu, bahasan film dan novel Pengkhianatan G30S/PKI dan latar belakang "proses kreatif"-nya sungguh emosional; atau tepatnya, menyebalkan. Bab selanjutnya yang membahas bagaimana membangun kerangka cerita antikomunisme di balik kebangkitan Orde Baru, itu sangat, sangat WTF. Terima kasih telah menambahkan daftar nama orang-orang yang perlu saya kutuk dalam doa-doa saya.

Bab selanjutnya yang membahas lembaga kebudayaan Indonesia kontemporer itu menyajikan informasi yang bermanfaat sekali bagi saya. Bagaimana nama-nama lembaga yang dekat dan familier sebenarnya masih menyisakan bekas-bekas jejak Orde Baru. Selama ini saya praktis menyingkirkan sentimen itu (dan menyingkirkan keingintahuan saya pula) dan menganggap nama-nama tokoh kebudayaan jauh dari politik, atau kalaupun mereka membawa muatan politik dalam produk kreatifnya, itu tidak berarti banyak dan bisa saya kesampingkan. Tentu saja dengan anggapan ini, saya telah melewatkan banyak hal. Buku ini menjadi tamparan bagi saya untuk itu.

(Ah, ya, buku ini diberikan untuk ulang tahun saya, hehe. Dari seorang teman baik.)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Riar.
293 reviews16 followers
October 10, 2017
Really amazing read. Although I have several notes:

- Albeit lacks on literature resource but the conspiracy between CCF (Congress for Cultural Freedom) and Manikebu gang is always worth to follow. This also escalate my curiosity on Camus and his hatred towards Sartre when he somehow became a fellow for communist party.

- Partai Sosialis Indonesia involvement in developing anti-communist discourse on cultural aspect is no surprise. Allegedly they are perhaps the earlier agent of liberalism in Indonesia.

- On some level, somehow this book quite repetitive. Too many sentences being repeated.

- Interesting to see a little scoop of critics on formalism in literature is written in this book. Wijaya Herlambang use both post modern approach and Marxist theory to dissect linguistic violence.

- This theory on how Sumitro and Soedjatmoko supported by Ford Foundation to travel to US as 'intellectual' to promoting investment in Indonesia is eye opening. Most of the scholarship for Indonesian student at that time is intended to investing knowledge of liberal economy system. Perhaps this is what makes most of Univesity in Indonesia are distant with critical theory or left political science.

- At some level, quite baffled somehow by how Wijaya shapes his ideology in this book. His view somehow too vague—or maybe too impose. I think not all anti-communist is right winger. Some of them perhaps left leaning but couldn't position themselves as communist patronage. This become problem if one draw something in single stroke. This dichotomy for me become too reductive.

- DN Aidit feared of emerging military power as non-party entity is relevant in our situation today.

- An interesting historical fact on Nugroho Notosutanto—the guy who fabricated the 65 coup history. Also note, this guy is an academics from prominent institution in Indonesia.

- Pre reformation era drama of how independent left leaning cultural institution started to contest the liberal one is fascinating. This becomes so striking when Wijaya states that all of these dramas is in fact overlook the grand problem: that this 'humanism universal' cultural advocate is in a way repressing the social-realism and communism.

Really recommended to anyone!
22 reviews2 followers
November 9, 2018
Saya rasa banyak penduduk Indonesia yang masih belom tau tentang kebenaran dari kejadian tahun 1965 (G30S/PKI). Masih banyak kita jumpai orang-orang yang koar-koar tentang kembali munculnya komunisme di Indonesia. Entah itu ketakutan yang berasal dari diri sendiri atau hasil dari "cuci otak" orde baru. sebelum membaca buku ini saya juga pernah membaca buku dari André Vltchek yang berjudul Indonesia: Archipelago of Fear. Di buku itu penulisnya menceritakan bagaimana zaman orde baru mempengaruhi keadaan Indonesia modern baik itu secara politik maupun hal lainnya. Jadi saya sudah memiliki gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan G30S/PKI. Dan baru pada bulan ini saya membaca buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 yang membuat semakin tau kebenaran yang terjadi dibalik peristiwa kelam yang ada di Indonesia. Buku ini membahas dengan sangat baik bagaimana pemerintah pada masa itu menggunakan budaya sebagai alat untuk mempengaruhi penduduk Indonesia untuk menjadi anti-komunis. Sesuai dengan judulnya, buku ini memang hanya membahas dari sisi budaya yang ada termasuk dari sisi film dan novel yang mencerikan tentang kejadian tahun 1965. Bahasa yang digunakan masih ringan dan mudah untuk dimengerti. Penulis mencoba untuk melihat peristiwa 1965 dari sisi "narasi orde baru" dan kemudian bagaimana para pemikir-pemikir kritis berusaha untuk membongkar semua rahasia kejadian tahun tersebut. Melihat peristiwa dari 2 sisi yang bertolak belakang untuk memastikan pembaca mendapatkan gambaran, teori dan data yang benar dan tepat tentang peristiwa 1965. Apa yang ditulis di buku ini pun berdasarkan data-data yang jelas dan dari wawancara yang dilakukan oleh penulis buku sendiri. Saya rasa buku ini harus dibaca oleh semua penduduk Indonesia disemua kalangan usia. Menarik sekali untuk didiskusikan bersama teman ataupun keluarga. Ada kutipan yang saya ambil dari sang penulis di bagian kesimpulan yaitu "kajian dan penelitian-penelitian terhadapt warisan anti-komunisme orde baru serta producksi-produksi kebudayaan dan kesusastraan yang menyentuh sejarah kekerasan di masa orde baru, khususnya 1965-66, masih sangat dibutuhkan untuk dibongkar kenyataan bahwa order baru telang menciptakan luka yang tidak dapat dihapuskan dari sejarah Indonesia modern".
Profile Image for Arman Dhani.
37 reviews18 followers
October 12, 2020
Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 adalah upaya untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana kuasa dominasi hegemoni kultural, bisa masuk melalu elemen-elemen paling tak terduga dalam hidup Bahwa pada akhirnya upaya mengendalikan masyarakat tidak lagi efektif dilakukan dengan cara-cara kekerasan, tapi dengan kekuatan halus tak kasat mata seperti karya sastra dan film. Di sini represi dan tirani pemerintah merupakan elemen kecil dari sebuah narasi besar untuk melegalkan dan membenarkan kekerasan terhadap mereka yang tertuduh terlibat pada coup 65.

Wijaya lantas melakukan sebuah penelitian ala detektif untuk meneliti agen-agen yang dibayar dan dibiayai untuk melanggengkan kekerasan secara kultural terhadap komunisme. Banyak nama-nama besar dalam kebudayaan modern Indonesia yang disasar. Seperti Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan kaitanannya dengan agen CIA Ivan Kats. Wijaya secara dingin berusaha membuktikan apa yang selama ini hanya sekedar gunjing pasar, menjadi sebuah penelitian empiris yang dapat dipertanggungjawabkan isinya.

Saya mengklaim bahwa buku ini wajib dibaca bagi mereka yang ingin paham sejarah polemik kebudayaan di Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana sosok budayawan yang dianggap suci dan seolah berpihak pada humanisme universal, ternyata bagian dari satu sistem besar jagal yang menyudutkan korban 65. Barangkali beberapa nama yang disebutkan dalam buku ini telah cuci tangan dengan membuka dukungan terhadap upaya rekonsiliasi, tapi bukan berarti mereka bisa lepas dari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilanggengkan.
Profile Image for Sandys Ramadhan.
87 reviews
April 7, 2021
Membahas peristiwa 65 dengan menggunakan pendekatan sosio-budaya termasuk produk kebudayaan seperti sastra dan film. Yang tentunya menjadi bahasan bab paling menarik bagi saya. Mulai dari bagaimana pemerintah orde baru membuat narasi resmi terhadap peristiwa 65, siapa saja aktor yang turut serta sampai hadirnya sebuah karya sastra berjudul "September" yang digunakan sebagai narasi tandingan dan ditulis oleh Noorca M. Massardi.
Kemudian banyak tokoh-tokoh yang saya kenal (sebatas tau/pernah dengar) yang ikut andil atau pasif dalam melegitimasi kekerasan budaya terhadap para korban 65. Ditambah adanya keterlibatan pihak luar yang memberikan bantuan dana kepada pihak lokal seperti Rand Corporation, Ford Foundation, Asia Foundation, CCF sampai CIA sehingga membuat kepala saya pening karena tidak tahu apa-apa soal institusi tadi.

Banyak insight dan perspektif baru yang didapatkan setelah selesai membaca buku ini. Sarat akan data dan referensi melalui buku, jurnal, tesis, wawancara dan sumber-sumber lainnya melengkapi kajian buku ini. Saya rasa wajib hukumnya membaca buku ini, meskipun pada prosesnya saya cukup lama untuk menuntaskannya bahkan sempat berhenti membacanya. Alhasil sehabis dari buku ini kiranya saya bakal mencari dan membaca karya lain yang sejenis dan serupa untuk memuaskan rasa ingin tahu saya.
Profile Image for Willy Alfarius.
69 reviews
February 4, 2021
Perburuan dan pembantaian terhadap orang-orang komunis maupun yang sekadar dituduh pada 1965-1966 dilakukan tidak hanya melalui propaganda di surat kabar milik Angkatan Darat. Pada tahun-tahun setelahnya ia perlu dilegitimasi melalui produk-produk kebudayaan seperti sastra dan film. Inilah yang jadi poin utama dari buku Wijaya Herlambang yang mulanya adalah disertasi di University of Queensland, Australia. Tidak hanya sastra dan film, tulisan sejarah tentu menjadi produk kebudayaan lain yang ikut menjustifikasi dan tentu saja mewajarkan perburuan serta pembantaian mengerikan itu terjadi.

Menariknya adalah Wijaya kemudian menemukan jaringan internasional yang mendanai beberapa kegiatan kebudayaan yang melegitimasi anti-komunisme itu. Ia menyoroti CCF yang kemudian menyokong para sastrawan yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan untuk melakukan agendanya memberangus unsur-unsur kebudayaan kiri. Tentu saja CIA disebut-sebut sebagai yang utama dalam mengalirkan dana bagi aktivitas ini. Temuan ini semakin mengukuhkan kenyataan bahwa Amerika Serikat adalah salah satu biang kerok paling dominan dalam Tragedi 1965, baik melalui sokongannya pada pihak militer maupun unsur-unsur anti-kiri lainnya.
Profile Image for Agung Widiyantoro.
4 reviews2 followers
October 22, 2017
Pembabakan sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan ditandai dari tahun 1945-1964 (Fase Revolusi Fisik, Pergolakan antar Partai dalam sistem Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin) hingga fase pasca 64, dengan meletusnya peristiwa September berdarah pada tahun 1965 dan masa-masa sesudahnya. Tak hanya kekerasan fisik, kekerasan dalam wilayah budaya, lebih spesifik dalam bidang sastra dan perfilman juga terpengaruh oleh propaganda sebuah rezim yang berdiri diatas militerisme terhadap mereka yang komunis dan dituduh komunis.

Wijaya Herlambang, mengulang-ulang dengan bahasa yang sangat jelas bahwa kekerasan kebudayaan tak kalah menyeramkan dibanding kekerasan fisik. Bahkan hingga hari ini, dominasi pola pikir dari represi kebudayan ini masih menjadi warisan turun temurun.
Profile Image for jessie.
126 reviews8 followers
May 12, 2021
“… bahwa Orde Baru telah menciptakan luka yang tidak dapat dihapuskan dari sejarah Indonesia modern.”

Propaganda berhasil terbentuk tidak hanya dari inisiator, supporter dan silent crowds aja, tapi juga produk-produk seni yang ‘dianggap’ tidak berbahaya seperti sastra dan film. Membaca buku ini bikin saya berpikir betapa bangsatnya rezim yang memaksa saya nonton film Pengkhianatan G30SPKI di bioskop. Tiap tahun kami diingat-ingatkan terus bahwa PKI adalah sebuah masalah negara yang harus diberantas dan karenanya kekerasan pun dipermaklumkan. Pelajaran sejarah yang penuh tipu di sana-sini.

Buku ini bikin saya beli buku lain: September. Berharap suatu saat Indonesia mengakui tragedi kemanusiaan yang turut membentuk negara ini dan sampai sekarang masih diabaikan.
Profile Image for Muhammad Respati.
11 reviews1 follower
September 23, 2017
Saya sudah tuntas membaca buku ini beberapa bulan yang lalu, namun saya ingin memberi rating karena akhir-akhir ini film "Penumpasan Pemberontakan G30S/PKI" mulai terkenal lagi. Buku ini menunjukkan bagaimana "kesuksesan" Orde Baru dalam menggilas komunisme melalui sastra dan film, tentu saja selain dengan menggunakan kekuatan fisik. Buku ini juga bisa digunakan sebagai pendamping dalam memahami konteks pembuatan film "Penumpasan Pemberontakan G30S/PKI" yang acara nonton barengnya disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat, bahkan antusiasmenya tidak kalah dari nonton bareng pertandingan final Liga Champions Eropa.
January 12, 2018
KEREN BANGET. Ini salah satu buku yang bisa bikin saya lebih paham peristiwa 1965 dan juga "insider information" tentang propaganda yang membuatnya jadi kampanye yang masif dan terstruktur.

Meskipun di beberapa bab agak-agak membosankan (karena memang buku ini awalnya adalah disertasi Wijaya Herlambang), tetapi cara dia mengupas satu demi satu mulai dari teori tentang kekerasan budaya hingga mengaitkannya dengan temuan-temuannya yang (at least for me) cukup sensasional dan bikin ternganga2 bikin saya terkagum2. Sebagai praktisi komunikasi, Wijaya Herlambang membuat saya kepikiran banyak hal untuk membuat kampanye-kampanye sosial yang memiliki pengaruh yang luar biasa.
Profile Image for Dompyy Books.
2 reviews
January 29, 2021
Menelisik bagaimana kekerasan budaya yang tidak kasat mata diproduksi untuk melegitimasikan perihal ideologis. Perebutan pengaruh masa perang dingin menghantam budaya kiri begitu keras tanpa perlawanan kecuali pasca orde baru. Agen kebudayaan kanan dengan humanisme universal dipengaruhi oleh CCF, dan pengaruh blok kiri dalam kebudayaan kiri kalau boleh saya menambahkan Pramoedya dan Sitor, Pramoedya terutama dengan perjalanannya ke Tiongkok, terpesona pada budaya dan sastra Tiongkok pada 1956 dan 1958, mentranformasinya menjadi seorang realisme sosialis. Simpulannya perebutan kuasa politik mempengaruhi budaya dan produknya seperti sastra dan film.
This entire review has been hidden because of spoilers.
15 reviews
December 2, 2020
Buku ini membahas mengenai faktor budaya yang dilakukan oleh pemerintahan orba dalam melanggengkan wacana anti-komunisme. Dengan adanya pendekatan kultural tersebut, membuat pemerintah dapat memenangkan legitimasi terhadap berbagai tindakan kekerasan struktural maupun langsung. Dimensi kebudayaan memang sesuatu hal yang sulit diukur akan tetapi membentuk kesadaran seseorang dengan mentransformasikan nilai-nilai.

Menurut saya, pokok pembahasan di buku ini masih luas. Belum fokus pada kekerasan budaya atau pada perlawanan agen kebudayaan kiri terhadap hal yang bersangkutan.
Profile Image for Ahmad Rajiv.
97 reviews2 followers
January 26, 2018
Buku ini akan membuka mata siapa saja yang membacanya. Buku ini menunjukkan dengan rapi bahwa kita sebenarnya selama ini bukan korban konspirasi, namun secara tidak sadar menjadi bagian dari konspirasi itu sendiri. Apa-apa yang dipaparkan di dalam buku ini adalah prespektif yang menyadarkan kita bahwa ada tindakan manipulatif, baik yang disengaja maupun tidak, yang digerakkan untuk membentuk opini publik sepenuhnya mengarahkan kebencian mereka kepada sesuatu dan sekelompok orang.
Profile Image for nawir nawir.
57 reviews46 followers
July 8, 2019
Sekarang saya paham secara garis besar bagaimana seni dalam hal ini sastra diperalat untuk menjadi pelanggeng kekuasaan, memanipulasi kesadaran masyarakat luas lewat cerita-cerita yang memutarbalikkan pemikiran bahwa penderitaan yang dialami korban pembersihan hantu komunisme oleh Theo Rosa dengan menggiring opini pembaca ke arah 'pelaku juga punya rasa bersalah', dan tentu saja perselisihan di kalangan elit-elit sastra nasional.
Profile Image for Lidya.
3 reviews11 followers
April 12, 2018
Satu kata kunci yang mewakili buku ini adalah: depolitisasi. Seni dan kebudayaan dihilangkan kekuatan revolusionernya sehingga seakan-akan mewakili nilai kemanusiaan universal yang bebas. Ideologi yang mendasarinya disebut sebagai "humanisme universal", berakar dari liberalisme yang katanya menjamin kebebasan berekspresi. Tentu kebebasan itu hanyalah bagi mereka yang menguasai kapital.
Profile Image for Restutama.
5 reviews
February 22, 2022
Dari banyaknya informasi yang diberikan oleh Pak Wijaya, melalui buku ini, saya jadi sedikit mengerti bagaimana cerita di belakang layar tentang pembantaian massal 1965 oleh militer, dan bagaimana wacana anti-komunisme terpelihara sampai sekarang melalui agen-agen kebudayaan liberal dan jargon kebebasan yang sedari awal digaungkan, sudah dimanipulasi untuk kepentingan pemilik modal.
Profile Image for Ginanjar Jatnika.
10 reviews2 followers
June 5, 2019
Alm. Wijaya Herlambang memperkenalkan istilah 'Kekerasan Budaya' dengan mengambil contoh dari salah satu sejarah kelam Indonesia yang transparansinya seakan masih disembunyikan oleh beberapa pihak. Salah satu stigmatisasi paling menakutkan di Indonesia.
Profile Image for Nanas Firmansyah.
74 reviews10 followers
June 21, 2020
Buku ini mengupas suatu fakta bahwa yang hancur tidak hanya nyawa maupun tatanan saja. Tapi sekaligus budaya di masyarakat.
Buku ini juga membuka mata, betapa suksesnya rezim saat itu memporak porandakan paradigma kita sendiri
Profile Image for Wiwien Chan.
20 reviews1 follower
August 21, 2020
Brutal! Kekerasan kebudayaan ini khususnya mengenai sastra, mencabik cabik pondasi pemahaman saya, bahwa ternyata para sastrawan terkenal pun bisa dimanipulasi oleh asing ataupun dibayar untuk tujuan-tujuan politis.
Displaying 1 - 30 of 51 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.