Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Jalan Tak Ada Ujung” as Want to Read:
Jalan Tak Ada Ujung
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Jalan Tak Ada Ujung

3.91  ·  Rating details ·  971 ratings  ·  101 reviews
Jakarta selama bulan-bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, adalah kota yang dicekam ketegangan. Ketegangan antara kelompok pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan dengan berbagai kesatuan tentara Jepang yang menunggu-nunggu kedatangan tentara sekutu, karena pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan sedang asik mengumpulkan persenjataan dari pasukan-pasu ...more
Paperback, 167 pages
Published 1992 by Yayasan Obor Indonesia (first published 1952)
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Jalan Tak Ada Ujung, please sign up.

Be the first to ask a question about Jalan Tak Ada Ujung

Community Reviews

Showing 1-30
Average rating 3.91  · 
Rating details
 ·  971 ratings  ·  101 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Jalan Tak Ada Ujung
Azarine Arinta
Secara gamblang dari awal Mochtar Lubis telah mengenalkan pembaca dengan tema utama dari buku ini: ketakutan manusia. Dalam pembukanya, Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romains: ‘Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?’

Tema ini semakin dipertegas dengan paragraf pembuka dari buku yang menggambarkan suasana mencekam di Ibu Kota Jakarta selepas proklamasi kemerdekaan. Mengambil latar belakang kota Jakarta di tahun 1946, Mochtar Lubis menggambarkan kekacauaan yang
...more
Rido Arbain
Mar 07, 2019 rated it really liked it
Perjuangan menuju kemerdekaan ternyata bukanlah akhir dari tujuan. Sebab setelah kemerdekaan itu diraih, masih ada jalan lain yang harus dituju. Jalan tak ada ujung.⁣

Lewat novel klasik yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 ini, Mochtar Lubis ingin memaparkan kisah perjalanan kemanusiaan seorang guru yang senantiasa hidup dalam tekanan dan ketakutan pada masa revolusi sepanjang tahun 1946-1947.⁣

Namanya Guru Isa. Sosok plegmatis, yang sesaat setelah proklamasi dikumandangkan, ia tetap ha
...more
Sandra dewi
Jan 14, 2010 rated it it was amazing
waaah. gw bener2 ga tahu kalo novel ini pernah masuk dalam pelajaran b. indonesia qta jaman sekolah dulu (b. indonesia termasuk pelajaran yg tidak menyenangkan pada saat itu). secara nggak sengaja ketemu buku ini dan iseng2 dibaca aja karena dari nama pengarangnya cukup dikenal. rasa bergidik, sedih dan takjub menjadi satu ketika baca buku ini. sebenarnya nggak pernah ngerasain suasana perang tapi novel ini tanpa mengumbar dengan kata2 yang kasar, tetap bisa bikin qta ikut merasakan suasananya.. ...more
Endah
Oct 24, 2008 rated it really liked it
Apakah judul novel yang tokoh utamanya bernama Guru Isa? Siapakah pengarangnya?
Masih ingat nggak pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang sering diajukan oleh guru-guru bahasa Indonesia kita sewaktu di SMP atau di SMA dulu? Lalu kita menjawabnya bahwa buku itu adalah Jalan Tak Ada Ujung. Pengarangnya : Mochtar Lubis. Apakah kita mengetahui jawaban tersebut karena kita telah membaca novel itu? Atau sekadar menghapalnya saja? Kalau saya sih tahunya karena menghapal. Novel itu sendiri baru saya tama
...more
Hafizz Nasri
Mar 23, 2015 rated it really liked it
Buku kedua penulis yang saya baca selepas 'Perempuan'. Penulisan-nya sentiasa menarik hati saya-- tidak jemu walau berkait hal perang (tidak secara keseluruhan) dan perjuangan.

Gemar dengan penceritaan kisah Guru Isa dari awal hingga akhir walau saya sedikit terkesan dengan ending-nya yang begitu saja-- sekurangnya saya berharap ada sedikit closure tentang hubungan Guru Isa dan Fatimah namun saya akur barangkali ending yang begitu lebih adil bagi buku ini.

4 bintang ya!
Rural Soul
Apr 18, 2019 rated it really liked it  ·  review of another edition
Road With No End is far better novel than my rating. I have read something about Mochtar Lubis after finishing this novel. I just have a feeling that in Hazil, Lubis created a character which holds so much of his ownself.
Hazil is young, thoughtful, brave and of course just like Lubis raised in better environment of His aristocratic family.
When I look at Guru Isa, I think it's integral part of Lubis as well. I think these both characters aren't seperate but reflection of a single human being. So
...more
Ikram
Jun 24, 2007 rated it it was ok  ·  review of another edition
Pada titik tertentu, orang bisa berubah. Yang semula penakut menjadi pemberani.
Evan Kanigara
Kebetulan sekali saya membaca buku karya Mochtar Lubis ini setelah karya Iksaka Banu. Keduanya memiliki spirit yang paralel meskipun eksekusinya berbeda. Buku Lubis dan (beberapa) cerpen Banu sama-sama berlatar Indonesia pasca penjajahan. Kali ini, ‘Jalan tak Ada Ujung’ berlatar di Jakarta, berbulan-bulan setelah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pasukan NICA dan Belanda masih berusaha meredam kembali semangat laskar untuk benar-benar memerdekakan Indonesia.

Jika perjuangan la
...more
Azia
Nov 22, 2007 rated it really liked it
“Saya sudah tahu –semenjak semula—bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali ...more
Jusmalia Oktaviani
Apr 28, 2013 rated it it was amazing
Kemerdekaan, rupanya adalah sebuah awal, bukan sebuah tujuan semata. Begitu memilih jalan perjuangan untuk menuju kemerdekaan, maka jalan itu akan berupa jalan yang tak ada ujung. Takkan ada habis-habisnya, bahkan setelah kemerdekaan itu sendiri diraih.

Itulah salah satu pesan yang saya tangkap dari buku karangan Mochtar Lubis ini. Guru Isa, tokoh utama dalam buku ini merupakan pecinta damai, yang tidak mau melakukan kekerasan meski sedikit. Rasa kemanusiaannya begitu halus, sehingga baginya kek
...more
Gita
Hujan gerimis menambah senja lekas menggelap. Guntur menghempas-hempas di ujung langit, dan cahaya kilat memancar-mancar. Terang yang ditimbulkannya amat cepat diganti oleh gelap yang lebih pekat. Jalan-jalan kosong dan sepi. Beberapa orang bergegas lari dari hujan. Dan lari dari ancaman yang telah lama memeluk seluruh kota. (hlm 1)

Suasana mencekam akan membawamu hingga halaman terakhir buku ini. Ketakutan yang dirasakan oleh tokoh utama, Guru Isa tidak hanya tentang dentuman bom dan gencatan se
...more
Jaka
Nov 04, 2014 rated it really liked it
Buku ini menggambarkan ketika masa perjuangan setelah kemerdaan Indonesia 1945-194x. Walau telah merdeka, rakyat masih merasa terancam hidupnya.

Buku ini menceritakan salah seorang yang biasa saja, Isa namanya. Dia bukan tentara, bukan seorang idealis, hanya orang biasa yang ketakutan dan ketakutan sepanjang hidupnya. Kejadian demi kejadian terjadi pada Guru Isa, kejadian yang membuat dirinnya semakin larut dalam ketakutan hidup.

Bahasa yang digunakan Mochtar Lubis menggunakan dialog khas masa i
...more
Nok Asna
Apr 26, 2019 rated it liked it
Sempat kesel dengan guru Isa, tapi ternyata akhirnya...

Banyak typo di buku ini yg versi Obor. Please, fix it...
Nursyafiqah Wai
May 30, 2016 rated it really liked it
Kenapa? Kenapa aku ada perasaan yang masih belum usai setelah habis membaca buku ni. Mungkin sebab pengakhirannya agak begitu sahaja walaupun sangat mengesankan.
Rossa Imaniar
Jul 06, 2020 rated it really liked it

“Saya tidak pernah ragu, dari mulai. Saya sudah tahu—semenjak mula—bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Di mana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka i
...more
Martin Kurniadi
Jul 12, 2020 rated it it was amazing
Shelves: literature
This is the first time I read Indonesian literature, in Indonesian, by an author I recognize more or less from high school.

I have to say that Indonesian history is interesting but I never really have the urge to find out. When I found this book, inside an old box filled with college scripts and presentation papers, it was already yellowing and its papers are giving me a fiendish look. This is the literature I've been told to read in high school, and yet this is the time that I felt strong urge t
...more
Hanan Salsabila
Dec 23, 2018 rated it liked it
Berlatar belakang di Jakarta pada masa setelah proklamasi kemerdekaan, buku ini berpusat pada Guru Isa, tokoh utama dari cerita.

"Guru Isa ingat jalan tidak ada ujung. Sekali dijalani harus dijalani terus, tiada habis-habisnya. Terutama sekali ketakutannya sendiri. Dia takut ikut dengan mereka yang memperolok-olok maut ini. Dan lebih takut lagi untuk tidak ikut."
(Kutipan pada halaman 92)

Revolusi diibaratkan sebagai sebuah jalan. Sebuah jalan yang telah masyarakat pilih untuk menjadi bangsa yang
...more
Stefani Gifta Ganda
Jun 08, 2020 rated it it was amazing
[April 2018] Perlawanan pada masa revolusi, kekejaman peperangan, ketakutan, pengendalian diri, perjuangan mengalahkan rasa takut, semangat para pejuang, kelembutan hati, percintaan, kesetiakawanan, kemiskinan, kekayaan, musik, persahabatan, perjuangan mencari kebahagiaan, arti hidup, pandangan hidup, arti jalan tak berujung… Semua itu dapat ditemukan dalam novel ini.

Kesimpulan yang dapat diambil dari keseluruhan isi cerita, yaitu bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan melalui jalan yang tak m
...more
Anisa Fitriana Kusuma
Jan 20, 2020 rated it it was amazing
Sebuah cerita yang menceritakan permasalahan utama manusia dalam menjalani kehidupan; ketakutan. Menceritakan bagaimana tokoh utamanya, yaitu Guru Isa dalam menjalani kehidupannya dengan penuh ketakutan, namun penulis memberikan makna-makna tersirat yang dapat dipahami bahwa ketakutan pada diri manusia hanyalah ada dalam pikiran. Ketakutan manusia bagaikan bayang-bayang yang selalu mengikuti kemanapun, padahal bayang-bayang tersebut adalah kita sendiri.

Kisah suami istri antara Guru Isa dan Fatim
...more
Ummu Amalia M
May 25, 2020 rated it it was amazing
Karakter Guru Isa dalam cerita ini sejak semula digambarkan menjadi sosok yang lemah dan kadangkala saya juga sebagai perempuan jadi mengerti perasaan isitrinya, Fatimah. Bahkan sampai saat Fatimah melakukan kesalahan bersama Hazil.

Tapi Guru Isa mendapatkan “Character Development” yang menbuatnya tumbuh dan menjadi yang terkuat di akhir cerita. Tentu setelah ia mengerti bahwa ketakutan akan selalu ada dan menjadi bagian dari diri manusia.
Amalia
Aug 27, 2017 rated it really liked it  ·  review of another edition
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Hanaya Atiya
Jul 19, 2020 rated it liked it
Dulu dihadiahkan buku ini oleh seorang kawan saat ultah ke-19, ucapannya "Semoga menjadi titik balik dalam perjalanan lu menjadi manusia yang lebih sempurna."

Buku ini baru selesai saya baca di umur ke-23, tapi saya rasa ucapan tersebut masih tetap relevan. Di buku ini saya menyaksikan bagaimana Guru Isa, sang tokoh utama, mencapai titik balik dalam hidupnya dengan berhadapan dengan ketakutannya dan berdamai dengan diri sendiri.
Ricky
Jul 30, 2020 rated it it was amazing
My favorite Mochtar Lubis' book. Mochtar Lubis illustrated how fear can affect someone through Isa really well. It is also a Historical Fiction book about how chaotic it was in Jakarta days after Indonesian independence day. Totally recommended for everyone 5/5
Arfan Putra
Apr 14, 2018 rated it liked it
Secara gamblang dari awal Mochtar Lubis telah mengenalkan pembaca dengan tema utama dari buku ini: ketakutan manusia. Dalam pembukanya, Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romains: ‘Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?’
Qwerty Chaniago
Sep 01, 2020 rated it liked it
men suckkkkk assssss (And dicks)
Kent
May 01, 2020 rated it really liked it
.
nia kirana
Jul 03, 2020 rated it really liked it
memang perjuangan adalah jalan tak ada ujung, bak berjuang untuk merdeka atau berjuang untuk sekadar hidup
Rotua Damanik
Oct 01, 2018 rated it liked it
Shelves: history, novel
Banyak typo nih yg versi OBOR ini.
Indah Threez Lestari
70 - 2020

Aku bersyukur buku-buku terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia sekarang termasuk yang bisa kupinjam di GD Premium.
Asdar Munandar
Jan 04, 2020 rated it really liked it
Tentang Guru Isa, Hazil dan Fatimah.
Tentang ketakutan, kemerdekaan dan idealisme semu.
Tentang kesetiaan dan integritas ketika harus berbenturan dengan realitas
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
topics  posts  views  last activity   
damai dengan ketakutan=kelaki-lakiannya muncul kembali 1 5 Jan 17, 2014 12:05PM  

Readers also enjoyed

  • Ronggeng Dukuh Paruk
  • Man Tiger
  • Beauty Is a Wound
  • Orang-Orang Oetimu
  • Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
  • Saman
  • Olenka
  • Atheis
  • Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
  • Child of All Nations (Buru Quartet, #2)
  • Orang-orang Proyek
  • Wesel Pos
  • Merahnya Merah
  • Pulang
  • Laut Bercerita
  • Robohnya Surau Kami
  • Bumi Manusia
  • Woman at Point Zero
See similar books…
145 followers
Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers, Ha ...more

Related Articles

Let’s face it, 2020 is making us long for other timelines. Luckily, these 32 novels are ready to sweep you away to vastly different eras and...
159 likes · 134 comments
“Saya sudah tahu -- semenjak semula -- bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.” 29 likes
More quotes…