Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Tak Ada Nasi Lain” as Want to Read:
Tak Ada Nasi Lain
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Tak Ada Nasi Lain

3.60  ·  Rating details ·  20 ratings  ·  9 reviews
Saptono lahir dan tumbuh bersama kesengsaraan bangsa pada masa penjajahan bala tentara Dai Nippon. Ia ikut kelaparan saat kota Solo menjadi ajang pergulatan paham komunis, yang disusul dengan konflik kaum pejuang kemerdekaan dengan pasukan Belanda-NICA. Dalam ketaksempurnaannya, Saptono punya tanggung jawab sebagai pembimbing bangsa dan keluarga. Sebagai penyandang cacat l ...more
Paperback, 548 pages
Published May 2013 by Penerbit Buku Kompas
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Tak Ada Nasi Lain, please sign up.

Be the first to ask a question about Tak Ada Nasi Lain

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

Showing 1-35
Average rating 3.60  · 
Rating details
 ·  20 ratings  ·  9 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Tak Ada Nasi Lain
mahatmanto
Oct 04, 2013 rated it liked it
tema buku ini kuat: ingin menggambarkan posisi orang yang terpinggirkan oleh jaman. suatu proses peminggiran yang dialami sepanjang hidupnya, melewati berbagai perubahan era politik, atau sering diungkapkan orang dengan "berbagai jaman".
jadilah novel ini mengikuti kisah hidup saptono, sejak kecil hingga dewasa mandiri dan menemukan jatidirinya. setting ditetapkan di surakarta, tepatnya di gajahan, sebuah kalurahan yang sampai sekarang masih meninggalkan rumah besar yang agaknya dipakai untuk are
...more
Mandewi
Dec 22, 2017 rated it really liked it
Cerita hidupnya mungkin biasa saja, tapi yang membuat novel ini menarik adalah setingnya. Kota Solo tahun 1940an-1960an. Deskripsi soal kondisi Solo ketika Jepang mulai masuk, pengumuman kemerdekaan, agresi militer, gerilya. Semuanya dari sudut pandang rakyat biasa, bukan pahlawan sebagaimana buku-buku sejarah. Menarik bagi yang suka cerita tempo dulu.
Alfa Anggraini
Jun 11, 2018 rated it really liked it
Andai saja buku ini dijadikan sebagai buku pelajaran sekolah, pembacanya pasti dapat lebih memaknai peristiwa betapa masa peralihan antara penjajahan dengan kemerdekaan Indonesia tidak serta merta mampu mengubah keadaan sebagian rakyatnya menjadi lebih baik. Buku ini ditulis oleh anak nomor delapan dari pasangan Raden Suratman Bratatanaya dengan Raden Ayu Jembarwati.

Tak Ada Nasi Lain mengisahkan tentang asam garam kehidupan tokoh utama bernama Saptono yang dirasakannya pada jaman feodal, jaman b
...more
Jordan Elang
Nov 08, 2019 rated it liked it
Recommended to Jordan by: Bambang
Izinkan saya membuka review ini dengan misuh-misuh.
Jancuk! Suparto Brata melalui Tak Ada Nasi Lain, mampu membawa naik-turunnya emosi pembaca dengan cara sentimentil. Tak lain karena cara nya menjalin emosi dengan pembaca melalui tokoh Saptono berjalan dengan sangat baik. Anda akan tertawa, ikut berduka, menangis, dan mempertanyakan eksistensi manusia sepanjang anda membaca buku ini.

Saptono. Sosok paradoks, keturunan bangsawan Jawa, tapi tak memiliki keistimewaan tersebut, justru lebih mirip den
...more
Alifia
Aug 19, 2017 rated it it was amazing
I've never been feeling so sad after finishing a historical fiction, but here I am, crying over a fictional character.

It captured so well. Bagaimana seseorang yang lahir di jaman feodal, lalu tumbuh di masa penjajahan Jepang, dan dewasa bersama kemerdekaan yang masih muda umurnya. "Tak ada nasi lain" hanya metamorfrasa dari ketiadaan pilihan dalam hidup, setidaknya dalam pandang Saptono, yang meski berdarah ningrat namun hidup melarat
Itus Tacam
Nov 21, 2016 rated it really liked it
Penulisnya asli wong Suroboyo.

Jika Tuhan kau anggap hilang, tidak demikian dengan berkatnya.

Tak ada nasi lain adalah representatif keadaan rakyat Indonesia antara tahun 40-an hingga pasca kemerdekaan tahun 70-an.

Nasi sumber harapan yang menumbuhkan ketabahan. Semenjak lumpuhnya sistem kerajaan, berangsur angsur kekuasaan bangsa ini melemah, tunduk oleh perintah siapa pun yang menguasai. Ketundukan yang dibarengi dengan janji dan gempuran sepatu lars serta bedil canggih. Ketundukan yang harus dig
...more
Miranti Wirawan
Jan 22, 2016 rated it it was amazing
Lebih lengkapnya tentang buku ini bisa disimak di link http://www.pitoyo.com/pitoyoamrih/ind...
pada momen itu saya juga hadir, dan ikut mengantre tanda tangan pak Brata. Beliau saat ini sudah wafat, tepatnya 11 September 2015 lalu.

Sebuah buku sejarah yang amat apik, novel sejarah yang sangat menyentuh. Di tahun 2016 ini saya membaca kembali dan reviewnya inshaAllah akan saya posting di blog saya: arabicmirantikejer.blogspot.com
...more
Marina
Dec 26, 2016 marked it as to-read
Shelves: i-owned-a-copy, scoop
Thanks a lot Scoop for the 70% discount from IDR 70.000 into IDR 21.000! Happy Harbolnas!
Niki
Sep 13, 2014 rated it liked it
Terlalu banyak peristiwa yang dikenang berkali-kali.
Fauzi Nur
rated it it was amazing
Aug 23, 2016
Septian Widianto
rated it really liked it
Apr 01, 2020
Nefesy
rated it really liked it
May 01, 2017
Kireina Enno
rated it really liked it
Apr 20, 2018
Dewi Nurma
rated it liked it
Jan 10, 2016
Asri Aini
rated it liked it
Jul 21, 2014
Aminudin Zuhri
rated it really liked it
Feb 02, 2018
Fifa
rated it liked it
Aug 05, 2016
Sisca Mudyastuti
rated it liked it
Nov 11, 2014
M Teguh A Suandi
rated it liked it
Jan 10, 2014
Nina
rated it liked it
Feb 21, 2014
Indah Rahma
rated it it was ok
May 18, 2015
Z
marked it as to-read
Mar 21, 2014
Fredy
is currently reading it
Nov 25, 2014
Argo Prasetyo
marked it as to-read
Jan 31, 2015
R Fansuri
is currently reading it
Apr 09, 2015
Teguh Berkah
marked it as to-read
Jul 12, 2015
Monica Ayp
marked it as to-read
Oct 18, 2015
Sayekti Ardiyani
is currently reading it
Jan 18, 2016
Pra
added it
Jul 31, 2016
Larasati Nuraini
is currently reading it
Aug 07, 2016
Resha
marked it as to-read
Aug 25, 2016
Radinal W
marked it as to-read
Nov 20, 2016
Sekar Risqiana
marked it as to-read
Feb 19, 2017
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
  • Who Rules the World?
  • Pokok-pokok Filsafat hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia
  • Salah Asuhan
  • Society Without God: What the Least Religious Nations Can Tell Us about Contentment
  • Numero zero
  • The Grand Design
See similar books…
10 followers
Suparto Brata lahir di Surabaya, Jawa Timur, 27 Februari 1932. Ia anak nomor delapan dari pasangan Raden Suratman Bratatanaya dengan Raden Ayu Jembawati. Waktu Suparto lahir, ayahnya menganggur, sementara ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Masa kecil ia habiskan dengan mengikuti ibunya yang berpindah-pindah tempat kerja dari satu kota ke kota lain.

Setelah ibunya tak lagi menjadi pembant
...more

News & Interviews

Need another excuse to treat yourself to a new book this week? We've got you covered with the buzziest new releases of the day. To create our lis...
21 likes · 9 comments
“Perempuan membutuhkan waktu lama mempersiapkan diri untuk bepergian ke luar rumah. Bepergian ke luar rumah, bagi seorang perempuan itu sama dengan maju perang. Sebab di jalanan luar rumahnya, dia pasti dilihat orang, diincer jadi sasaran pandang, ditafsir cantik tidaknya. Agar dipelototi laki-laki yang akhirnya ditafsir sebagai perempuan cantik, senjata perempuan adalah berdandan.” 0 likes
“Aku pakai parfum, hihik! Jangan gusar, ya? Kamu menyukainya juga, kan?"
"Aku suka baumu dan baunya. Aku suka baumu, sekalipun tanpa baunya.”
0 likes
More quotes…