Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)” as Want to Read:
Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)

4.23  ·  Rating details ·  535 Ratings  ·  71 Reviews
Hanya satu kata, Lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenal ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. (Munir, Alm)
Paperback, 223 pages
Published 2004 by Indonesiatera (first published June 2000)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Aku Ingin Jadi Peluru, please sign up.

Be the first to ask a question about Aku Ingin Jadi Peluru

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
gieb
Feb 05, 2008 rated it it was amazing  ·  review of another edition
bila disuruh memilih; perempuan telanjang dan buku ini. niscaya aku pilih buku ini. tapi tetap perempuan telanjang jadi pilihan nomor dua. tabik.

semalam saya menerima sms dari kawan saya. kira-kira isinya begini: gieb, ingat sophia latjuba? kalau ingat masa-masa itu aku jadi tertawa sendiri. juga kalau dengerin reza dan syaharani harus sembunyi-sembunyi. gara-garanya sederhana: biar cap marxisnya tidak hilang.

demikianlah. saya dan beberapa kawan, pada tahun 90-an harus sembunyi-sembunyi demi men
...more
Harun Harahap
Apr 13, 2010 rated it it was amazing
Recommended to Harun Harahap by: Roos
Shelves: pinjam, indonesian, puisi
Wiji Thukul berpuisi dengan bahasa yang lugas dan tegas. Kata-kata sederhana membentuk sebuah kalimat yang begitu kaya. Merasa kecil dan terasing, Beliau mempertanyakan keadilan di negerinya sendiri. Berjuang lewat puisi untuk dirinya sendiri yang secara tak langsung mewakili ‘Wiji Thukul-Wiji Thukul’ lainnya untuk melawan ketidakadilan. Namun, sayang di Negara para penguasa ini, Wiji Thukul adalah seorang penghalang yang harus dienyahkan.

Puisi yang paling saya suka adalah puisi:

Di Bawah Selimu
...more
Roos
Aug 13, 2007 rated it it was amazing
Recommends it for: the one who loves poetry
Shelves: puisiku
Paling suka puisi :

AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup

aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

( 18
...more
Ramok Lakoro
Jul 19, 2007 rated it it was amazing
Recommends it for: poemlova
Buku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang tidak pernah absen bicara untuk corong kaum terinjak, masuk dalam daftar orang yang hilang di masa demo. Si pengantar, Cak Munir adalah aktivis HAM yang dihilangkan nyawanya dan kasusnya masih remang samapai sekarang. Jika masih hidup dan duduk satu meja, aku yakin keduanya akan saling melontar salut. Cak Munir nampak sangat terkesan dengan bentuk ...more
danies
Nov 27, 2007 rated it it was amazing
Shelves: 800, favorites
"Apa guna punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli

Apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu"
phazleeanna
Jujurnya, saya hanya mendengar cerita tentang hebatnya Wiji Thukul. Saya tidak begitu mengenali beliau, dan saya tidak pernah membaca karya-karyanya.

Sebelum buku ini dijamah, saya terlebih dahulu membaca tentang kisah pemuisinya. The fact yang beliau merupakan salah seorang individu yang terlibat dalam 'Involuntary Disappearances' kerana hasil tulisannya, sudah cukup untuk membuat saya tertanya-tanya apakah yang sudah ditulis oleh seorang lelaki kecil yang wajahnya biasa-aman-tenang ini yang ma
...more
Haifa Balkis
Jun 30, 2016 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: puisi
Wiji Thukul, seorang aktivis dan penyajak lantang yang menghasilkan karya-karya kritikan ke atas kerajaan korup di zaman beliau. Diangkat sebagai pahlawan bangsa yang memperjuangkan kebebasan dan keadilan status sosial, puisi-puisi beliau meneriakkan kebenaran menakutkan bagi mereka yang berkhianat kepada bangsanya sendiri.

Antara sajak kegemaran saya ialah Peringatan, Kidung Di Kala Sedih, Puisi Menolak Patuh, dan Aku Masih Utuh Dan Kata-Kata Belum Binasa.

"Penjara sekalipun tak bakal mampu mendi
...more
Aini Akmalia
Jun 04, 2015 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Nama Wiji Thukul bukanlah suatu nama yang asing di kalangan pembaca di Indonesia. Namanya cukup dikenali sebagai antara barisan penyair kontroversi, malah kisah hidupnya juga banyak yang misteri. Aku Ingin Jadi Peluru merupakan kumpulan puisi pertama beliau yang saya pernah baca. Memang padanlah puisi-puisi Wiji Thukul dikatakan kontroversi. Puisinya sangat membakar, dan membangkitkan semangat revolusi dan demonstrasi.
Hana Ahmad
Sep 05, 2012 rated it liked it
Tentang 'perlawanan' yang ditulis oleh orang yang kini sudah hilang.
Biondy
Jul 18, 2014 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: asli-indonesia, poem
Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penulis: Wiji Thukul
Penerbit: Indonesia Tera
Halaman: 176 halaman
Terbitan: Juni 2000

Tidak sengaja bertemu buku ini di salah satu tempat saya pinjam buku. Sempat lihat buku ini beberapa kali di Goodreads. Akhirnya berjodoh juga dengan "Aku Ingin Jadi Peluru" ini.

Bahasanya mudah dipahami dan puisi-puisinya sarat akan perlawanan terhadap penindasan oleh pemerintah.

Beberapa puisinya yang saya suka:

Ucapkan Kata-Katamu

Bila kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan
...more
kinu triatmojo
Jul 29, 2007 rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: poésie, indonesian
Kalau hidupmu tidak mudah, keras, penuh tekanan, kejam dan hampir-hampir kau tak tahu harus berbuat bagaimana, maka menulislah puisi.

Kalau hidupmu terjepit, kau dikejar-kejar, kau bersembunyi, kau berganti kaos, celana, sandal bahkan nama, sampai-sampai kau nyaris alpa dirimu sendiri, maka menulislah puisi.

Puisi apa yang kau tulis?Apa pun itu, puisi akan melembutkan pikiranmu, setidaknya jemarimu sendiri.

Membaca Aku Ingin Jadi Peluru adalah membaca dunia Thukul dalam bahasa sehari-hari yang muda
...more
Fiza M.
Nov 04, 2015 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: favorites
Tulisan-tulisan Wiji buat saya sukakan puisi dan sajak-sajak. Seniman dan aktivis yang mengangkat maruah dan hak dalam bahasa puisi yang tegas. Banyak yang saya suka di buku ini-- barangkali kesemuanya. Puisi-puisi Wiji banyak mengajar hal menuntut keadilan, kata semangat dan kebangkitan jiwa-jiwa yang teraniaya kerana kurang ajar penguasa.

Bagaimana Wiji mampu menulis berpuluh-puluh puisi dan kata-kata, melontar ide dan harapan serta membangkang kelahapan politik di zamannya adalah sesuatu yang
...more
Hasanuddin
Jun 30, 2008 rated it really liked it
Shelves: poem
Kumpulan puisi Wiji Thukul, menggunakan bahasa yang ringan, jarang menggunakan kiasan personifikasi. Karena bahasa yang dipakai adalah bahasa sehari-hari dan merakyat. Wiji Thukul, mungkin juga W. S. Rendra, Taufik Ismail hingga pemusik Iwan Fals, di era 80an hingga 90an banyak mengungkap kritik sosial. Ketidakadilan penguasa, kebijakan yang prematur, kemiskinan dan derita kaum terpinggirkan berbaur dengan kelaparan dan hukum yang tidak jelas penerapan kerap disinggung. Dan tema ini sebenarnya t ...more
Paman
Aug 31, 2011 rated it really liked it
Penyair haruslah berjiwa 'bebas dan aktif'. bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya. maka belajar terus-menerus adalah mutlak, memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya. dan fanatik gaya atau tema bisa dihindarkan sehingga proses kreatif tak terganggu. belajar tidak harus di bangku kampus atau sekolah tetapi bisa dimana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkun ...more
Dian
Sep 20, 2007 rated it it was amazing
Recommends it for: Everyone
WT adalah Sang Maestro, sang Penggagas kata-kata lugas.
Tak perlu mengerutkan kening membaca lontaran makna puisinya.
Tanpa perlu mencaci memaki, kita terseret dalam pusaran arus emosi bara.... bertalu-talu, sekian kali, sekian ribu kati.
WT menampilkan dan merefleksikan sekian banyak kejadian, keadaan, dan tektek bengek dalam puisinya. Menyadarkan kita pada kebengisan, penguasaan ***** dalam suatu tirani. Dan dia yang tak tergoyahkan. WT adalah cerminan kebebasan yang menuntut hak akan pencarian
...more
Stephany Efflina
May 19, 2015 rated it really liked it
Puisi yang paling aku suka :

Ucapkan Kata-Katamu

Bila kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perb
...more
nanto
Perkenalan saya dengan puisi Widji Thukul pertama kali adalah melalui Majalah HAI. Sesudah membaca puisi itu baru kenal puisi yang paling populer, "Hanya ada satu kata: Lawan!" Tapi saya suka puisi "cinta" Widji thukul untuk istrinya. Baju Bekas kado untuk istrinya. Romansa ala Widji Thukul.
Agoes
Mar 20, 2010 rated it liked it
Shelves: puisi
Ternyata saya memang buta puisi.
Nadia Fadhillah
Nov 30, 2012 rated it it was amazing
Buku Puisi Terbaik Indonesia Sepanjang Masa.

Meski aku baru sedikit baca buku puisi, bagiku ini yang terbaik. Dan kehebatannya akan jadi standarku membaca buku puisi kedepannya.
Pipitta
Apr 23, 2008 rated it really liked it  ·  review of another edition
Buku ini jadi koleksi gw yang terbaru. Ada 5 sub bagian kumpulan puisi di sini, masing-masing: Lingkungan Kita Si Mulut Besar; Ketika Rakyat Pergi; Darman Dan Lain-lain; Puisi Pelo, and Baju Loak Sobek Pundaknya.

Tiga puisi yang paling gw suka: Aku Menuntut Perubahan, Bunga dan Tembok, and Peringatan. Puisi ini khas Thukul, terdiri dari kalimat-kalimat pendek yang tajam dan sarat makna. Bahasanya nggak berbunga-bunga, dan sangat mencerminkan realitas sosial. Tapi puisi-puisi yang ada di bagian D
...more
Nugie
Jul 07, 2013 rated it really liked it
buku ini merupakan salah satu dokumentasi penting era reformasi , apalagi seperti yang disampaikan oleh penerbitnya bahwa bukan merupakan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan semua puisi Wiji Thukul ( yang pada umumnya tersebar) dan menghimpunnya menjadi satu buku.

Menjadi penting karena Wiji Thukul sendiri kurang dikenal dibanding dengan beberapa politikus / aktivis alumni reformasi 1998, padahal jauh sebelum itu dia sudah melakukan perlawanannya, perlawanan wong cilik seperti tema utama keseluruh
...more
Abdul Wahid Muhaemin
Meskipun keberadaan penulis masih menjadi misteri hingga kini, namun sajak-sajak dalam buku ini amatlah jelas menunjukan goresan kata-kata yang amat tajam, setajam peluru yang diarahkan pada rezim otoriter orde baru. Imbasnya dengan perangkat lunak "subversif" yang dioperasikan pemerintahan Soeharto, ia (di)hilang(kan) bersama 12 aktivis lainnya karena dianggap mengancam kestabilan politik nasional. Apalagi Wiji tidak hanya menulis sajak-sajak, tetapi juga ikut turun ke jalan bersama kelompok ma ...more
Rhesa
Mar 31, 2009 rated it really liked it
Shelves: literature
Wiji Thukul is an Indonesian political poet, he involuntarily disappeared during the transition of Soeharto's regime to the "reformasi order", nobody knows where he is now. His poetic style is socialist-realist in Marxian literary genre.

What I like the most about his poems is his "pride" of being a marginalized man in growing capitalist society like Jakarta.

He finds that by being a poor & politically incorrect man, he can gain access to authentic life, which is a life positioned on the edg
...more
Pandasurya
Pernah jadi buku baca bareng di GRI.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:

http://www.goodreads.com/topic/show/1...

Salah satu kumpulan buku puisi terhebat favorit saya sepanjang masa.
Wiji Thukul penyair hebat, salah satu yang terbaik yang pernah ada di negeri ini. Puisi-puisinya lugas, menghentak, apa adanya, dan tentunya berkarakter perlawanan.

Nama dan karyanya akan abadi sepanjang masa, akan tercatat dalam ingatan kemanusiaan meski jasadnya tak pernah ditemukan, tak jelas rimbanya.

Pada akh
...more
Farah Rizki
Feb 14, 2016 rated it really liked it
Biasanya menemukan petikan-petikan puisinya tercecer tak beraturan dari bermacam-macam sumber. Entah menjadi kutipan yang diambil untuk melengkapi opini orang lain, pernah menjadi bahan musikalisasi puisi. Cukup telat menikmati tulisannya secara utuh, bukan berarti tidak mencari tulisan-tulisannya yang lain. Sekali membaca puisinya, saya pun jatuh cinta dengan puisi-puisi lainnya. Setiap kali membaca ulang, rasanya seperti baru membaca untuk pertama kali. Saya rasa saya akan menjadikannya salah ...more
leii
Nov 18, 2008 rated it it was amazing  ·  review of another edition
murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. tapi tidak menyerah dan kalah. upaya perlawanan dilakukan dengan membuat simbol -juga metafora, untuk menjangkau keluar dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. gerak dari ruh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu bahasa. maka bahasa pun bergerak. ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran, atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau cob ...more
Syamsul Fikri
Oct 31, 2012 rated it it was amazing
Sosok mitologi Wiji Thukul perlahan mulai dipahami dalam "Aku Ingin Jadi Peluru" ini. Kumpulan sajaknya begitu dekat dengan perjuangan, penderitaan, dan kezaliman sebuah rezim. Setiap katanya menenggelamkan kita ke dalam dirinya. Aku juga ingin jadi peluru.
Christine
Aug 29, 2007 rated it it was amazing
Belum sempat baca. Baru saja dapet kemarin, thanks to roos! Kemarin, saya langsung ke Gramedia Plangi, sesuai usulmu.. dan I found it! Masih banyak malah... hehe.. tx yah Roos. Pamit undur diri, mau baca... :p
belajarjadimanusia
Jan 28, 2010 rated it it was amazing
Shelves: puisi
Saya suka hampir semua puisi dalam buku ini. Hampir semuanya kuat dan istimewa. Istimewa karena puisi-puisi di sini, dalam nadanya yg paling keras sekalipun, tetap indah. Tidak banyak kumpulan puisi yang membuat saya jatuh cinta kepadanya. Buku Wiji Thukul ini salah satu dari yg sedikit itu.
Lisa Febriyanti
Dec 24, 2008 rated it really liked it
salut untuk perjuangan Wiji Thukul. Yang paling saya ingat darinya adalah ketika dalam mimbar-mibar bebas, Wiji Thukul membacakan puisinya sembari membunyikan alat-alat, sehingga seperti melagukan puisi
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
topics  posts  views  last activity   
aku ingin menjadi peluru 4 103 Oct 25, 2015 12:31AM  
  • Sadjak-Sadjak Sepatu Tua
  • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
  • Sajak-sajak Lengkap, 1961-2001
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2
  • Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi
  • Hujan Bulan Juni
  • Negeri Senja
  • Aku Ini Binatang Jalang
  • O Amuk Kapak
  • Rara Mendut: Sebuah Trilogi
  • Arsitektur Hujan
  • Orang-Orang Bloomington
672218
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.

Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan ya
...more
More about Wiji Thukul...

Share This Book

“Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu”
89 likes
“Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!” 34 likes
More quotes…