Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi” as Want to Read:
Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi

3.95  ·  Rating details ·  170 Ratings  ·  18 Reviews
Kumpulan puisi Taufiq Ismail tahun 1960 - 1966.
Paperback, 171 pages
Published 1993 by Yayasan Ananda
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Tirani dan Benteng, please sign up.

Be the first to ask a question about Tirani dan Benteng

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
nanto
Sep 14, 2007 rated it really liked it
Puisi dan sejarah yang berkelindan. Semangat 66 ada di buku ini. Semangat pun sampai ketika 98 merebak sebagai tahun perubahan rejim.

Ingin membacanya lagi. Ingin mengingat seorang kawan yang senang sekali membacakan puisi di bawah ini:

Kita adalah Pemilik Sah Republik ini

Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
D
...more
Tyas
Aug 22, 2008 rated it it was amazing
Shelves: poetry, indonesian
I read this anthology when I was in junior high; and New Order government was gripping our country with iron hands. But these poems, written by Taufik Ismail during the chaotic days in 1966 - and are a good reminiscence of them, made me decide that I have to keep on helping the poor people out there. We don't have the New Order anymore, but the people in need are still out there in their shabby clothes and shanty houses, waiting for a change. Waiting for justice.
The language is simple, but deep
...more
za
Sep 02, 2007 rated it it was amazing
Buku ini aku beli di Palasari Bandung. Sungguh, aku kagum akan coretan-coretan kata Taufiq Ismail. Ia adalah penyair favorit ku sampai saat ini. Sayang aku belum pernah bertemu dengannya langsung.

Buku ini merupakan kumpulan puisi-puisi Taufiq Ismail. Seperti judulnya, buku ini gabungan dari "Tirani" dan "Benteng". Tak rugi menghabiskan waktu untuk membaca ulang buku ini.

Satu buku lainnya yang ingin aku miliki adalah, MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesia).
Lili
Oct 18, 2012 rated it really liked it
It's my favourite poem

Arithmetik Sederhana

Selama ini kita selalu
Ragu ragu

Dan berkata:
Dua tambah dua
mudah-mudahan sama dengan empat
Chaniago
Dec 26, 2009 rated it really liked it
Recommends it for: Pencinta Puisi
Saay selalu suka puisi Pak Taufik. Gayanya khas, iramanya khusus, menarik, memesona! Temanya yang paling saya suka adalah tentang kehidupan...
Leo
Aug 20, 2008 rated it it was amazing
one of my favorite, kumpulan puisi Pak Taufiq Ismail seputar kejatuhan orde lama dan pastinya PKI..

salah satu line yang gw inget "ketika beatles gondrong dipersetankan dan matinya gusti Allah dipentaskan"..
Bening Pertiwi
Feb 17, 2014 rated it it was amazing
stlh baca 'aku'
sy pun kepincut buku ini
dan alhasil, sy jadi berburu buku taufik ismail yg lainnya
Asep Sambodja
Oct 23, 2007 rated it it was amazing
Taufiq Ismail muncul pada 1966 (ketika Soekarno jatuh), dan juga pada 1998 (ketika Soeharto jatuh). Buku ini menarik karena memperlihatkan semangat zaman pada 1965-1966.
Arief Bakhtiar D.
Jul 16, 2014 rated it it was amazing
SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA

TADI siang ada yang mati, Bu, dan yang mengantar banyak sekali, kata seorang tukang rambutan pada istrinya, seperti dikisahkan satu puisi 31 baris Taufik Ismail dalam Tirani dan Benteng di tahun 1966.

Ada mahasiswa-mahasiswa, ada anak-anak sekolah, pokoknya banyak. Saya tak tahu benar, Bu, kenapa di terik siang begini mereka bersedia berjalan bersama, berpanas-panasan. Tapi yang jelas mereka itulah yang dulu menggelar spanduk, berdiri di depan senapan dan tank
...more
Aini Dandelion
Dec 01, 2012 rated it really liked it
Yang paling mnyentuh itu ada kalimat yang kurang lebih bunyinya begini "Saat itu terkenal lah nama Dewi, yang menyelipkan kertas di nasi bungkus bertuliskan 'selamat berjuang kakak-kakak'. "

Saya juga paling suka dengan puisi berjudul Seorang Tukang Rambutan Kepada Istrinya. Puisi ini menceritakan seorang tukang rambutan yang bercerita pada istrinya bahwa tadi ia melemparkan seikat rambutan dagangannya ke truk mahasiswa yang sedang demonstrasi. Disini saya sangat terharu. Bukan cuma mengajarkan t
...more
Farra Taqeyya
Jan 09, 2014 rated it really liked it
Sebuah realita yang dibalut apik melalui diksi dan metafora yang sederhana, lugas, dan menggugah jiwa. Karya yang patut diapresiasi. Melalui puisi tersebut, kita bisa kembali ke masa lalu dan introspeksi mengenai keadaan Indonesia dan pemuda saat ini. Para pemuda dan Indonesia yang tersesat dalam kebebasan tak berbatas dengan tanda tanya besar mengenai hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya.
Ayu Palar
Sep 03, 2008 rated it really liked it
Shelves: poetry
I read this collection of poems in Pangkalan Brandan when I was still in fifth grade of elementary school. What did I know about good poems at that time? Yet I love Taufiq Ismail's poems so much I read this book more than once. And I am glad I got a chance to have Mr. Taufik Ismal during my graduation ceremony.
miaaa
Aug 17, 2009 rated it liked it
Shelves: poems
Sulit memahami puisi-puisinya Taufiq Ismail, tapi ada satu dua puisi yang menurutku bagus sekali :D
Pandasurya
Jun 22, 2009 rated it really liked it
Pernah jadi buku baca bareng di GRI.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:

http://www.goodreads.com/topic/show/1...
Bening Tirta Muhammad
Mar 23, 2014 rated it really liked it
Perjuangan...

*argh,,, ini review murahan dari saya*

Some parts are burning the platform. Struggle aint finished! *ikat kepala*
Tezar Yulianto
Feb 19, 2011 rated it liked it
Shelves: pinjem-perpus, puisi
Paling suka, dengan puisi tentang Pak Rambutan. Kumpulan puisi perjuangan angkatan 66, yang sangat heroik.
Tikah Kumala
Waktu SMA pernah baca
Tea
rated it it was ok
Mar 08, 2015
Aisyah
rated it really liked it
May 19, 2015
Dewi
rated it really liked it
Oct 01, 2010
Helvy
rated it really liked it
Jan 23, 2008
Zulfa Tania
rated it it was amazing
Oct 18, 2012
Abdus Saleim
rated it did not like it
Oct 08, 2015
Indira Devi
rated it it was amazing
Jul 30, 2015
Atieka
rated it liked it
Mar 25, 2012
Adhi Nugroho
rated it liked it
Feb 01, 2012
Dominique Suraya
rated it liked it
Jun 09, 2016
Akmal
rated it liked it
Nov 24, 2009
Anis Suraatmadja
rated it really liked it
Mar 23, 2010
« previous 1 3 4 5 6 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Sajak-sajak Lengkap, 1961-2001
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
  • Potret Pembangunan dalam Puisi
  • Deru Campur Debu
  • Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil
  • Duka-Mu Abadi
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Nyanyi Sunyi
  • Puisi Mbeling
  • Mencari Telur Garuda
  • Negeri Senja
  • O Amuk Kapak
  • Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa
  • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
  • Mata Ketiga Cinta
  • Orang-Orang Bloomington
717519
Taufik Ismail was born in Bukittinggi West Sumatera on June 25, 1935. He was prominent Indonesian writer and made influence in Indonesian literature the post-Sukarno regime. He was one of pioneer Generation of '66. He was complated his education in FKHP University of Indonesia. Before active as a writer, he taught in Institut Pertanian Bogor. In 1964, he assigned Manifesto Kebudayaan and consequen ...more
More about Taufiq Ismail...

Share This Book