Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pemburu Kota

Rate this book
Kuala Terengganu tidak pernah berjanji, suatu hari nanti akan lahir kuntuman puisi buatnya. Kota yang menyanyikan sayu-lara nelayan dilambung ombak Seberang Takir dan derita penarik beca beringsut di Jalan Paya Bunga, mendewasakan seorang penghuni-nya, yang apabila menjangkau usianya tujuh belas tahun, mula mengangkat pena menyuarakan gelora Kuala Terengganu, kota kelahirannya.

Tarikan Kuala Lumpur kemudiannya mengajak penyair ini meninggalkan kota kelahirannya, memperjudi nasib di kota yang lebih besar dan mencabar dengan gumpalan suaranya yang lebih bising dan keras: membaurkan segala macam 'kejahatan' dam 'kesombongan'.

Antara dua kota inilah yang selalu diburu oleh T. Alias Taib, dalam mencari kekuatan diri sebagai seorang penyair.

73 pages, Paperback

First published January 1, 1978

Loading interface...
Loading interface...

About the author

T. Alias Taib

15 books65 followers
Tengku Alias Taib (lebih dikenali sebagai penyair T. Alias Taib), anak Terengganu tulen, didewasakan oleh angin Laut China Selatan, nasi dagang, dan keropok. Semenjak mengangkat pena pada 1960, dia tidak menoleh ke belakang lagi dan terus menulis sehingga akhir hayatnya. Beliau menulis puisi, cerpen, esei, pantun, renungan (quotation), dan terjemahan. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit ialah Laut Tak Biru Di Seberang Takir (1972), Pemburu Kota (1978), Seberkas Kunci (1985), Opera (1988), Piramid (1990), Petang Condong (1996), dan Pasar Pengalaman (2004).

Selama 43 tahun T. Alias Taib meneruskan langkahnya dengan penuh tanggungjawab, sabar, dan yakin; mencari makna hidup di luar dan dalam dirinya, melebarkan cakerawala pengalaman dan pemikirannya di dalam dan luar tanahair. Pada 1986, T. Alias menghadiri Seoul Asian Poets Conference di Seoul, Korea Selatan; pada 1989 dia mengikuti penataran sastera anjuran Dewan Bahasa dan Pustaka di Jakarta, Indonesia; pada 1994 dan 1995, dia mengikuti delegasi Persatuan Penulis Nasional (PENA) ke London, Paris, Frankfurt, Istanbul, Amman, dan Kaherah. Pada 2001, beliau dilantik writer-in-residence di Taipei, Taiwan, dan sekali gus mewakili Malaysia dalam Taipei 2001 International Poetry Festival (Festival Puisi Antarabangsa Taipei 2001).

Tanggapan dan pemikiran T. Alias Taib tentang kehidupan sering dikaitkan dengan puisi. Keakraban dan kesebatian penyair prolifik ini dengan puisi sudah lama diketahui umum. Tidak ramai yang tahu beliau juga menghasilkan tulisan berbentuk kreatif dan bukan kreatif yang lain: esei, cerpen, puisi, dan madah. Bentuk tulisan yang rencam ini jelas memperlihatkan keupayaan penyair ini mempertahankan disiplin, komitmen, serta kesungguhannya memperluaskan pengucapan.

Karya terbaru beliau yang sedanga diproses untuk terbitan ialah Kumpulan Pantun dan Renungan dan Selected Poems (kumpulan puisi pilihan yang diterjemahkan ke bahasa Inggeris oleh Eddin Khoo).

–– Diadaptasi dari kulit belakang buku Di Sisi Pelita Minyak Tanah (Zebra Editions, 2003) yang merupakan koleksi esei, cerpen, puisi, dan madah tulisan T. Alias Taib. (Besar kemungkinan versi asalnya ditulis oleh T. Alias sendiri).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (23%)
4 stars
18 (46%)
3 stars
10 (25%)
2 stars
2 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Abdullah Hussaini.
Author 12 books55 followers
September 23, 2017
Pawer giler doh buku ni. Cuma satu sajak dia je, satu je, yang buat aku buka mata tentang kepaduan sajak dan mula mencerahkan kefahaman aku tentang estetika satu2 tulisan yang didakwa 'sajak'.

Trima kasih T.Alias Taib, dan penerbitnya.
Profile Image for Iman Hakim.
Author 7 books285 followers
October 27, 2018
Bagi saya karya-karya awal memang kurang menyengat - bertepatan dengan usia dan pengalaman yang masih hijau. Pemburu Kota memperlihatkan percubaan TAT untuk menjadi seorang T Alias Taib.
Profile Image for Hani.
Author 4 books22 followers
October 13, 2014
Pada saya bukanlah kumpulan puisi terbaik TAT tapi masih rasa puas membacanya. Menawarkan puisi-puisi awal TAT dan menjadi kumpulan kedua setelah "Laut Tak Biru Di Seberang Takir".
Profile Image for Muhamad Fahmi.
125 reviews19 followers
March 7, 2022
Buku ini menghimpunkan karya-karya awal T. Alias Taib (TAT) dan terbahagi kepada dua bahagian,

Kota kelahiranku dan gumpalan rasa.

TAT bertindak sebagai perakam waktu pada tempat kelahirannya mencakupi sosiobudaya, ekonomi serta landskap Kuala Trengganu.

selamat pagi seberang takir

selamat pagi ikan
apa yang kau perlu ialah
sepasang kaki di perutmu
agar dapat merangkak
ke dalam hutan
dan dua sayap di tubuhmu
agar dapat mengepak
ke hitam awan

selamat pagi nelayan
malam tadi kudengar
hujan dan angin berkejaran
di dapurmu
guntur dan kilat berkeliaran
di kamartidurmu
aku sedar
air matamu telah membanting
benteng laut cina

selamat pagi gubuktua
kalau suatu hari
mentari dan bulan tersungkur
di atapmu
labah-labah akan gugur
di lantaimu

selamat pagi nyiurmuda
airmu yang kuminum
adalah susu gadis remaja

selamat pagi jm aziz
bersuaralah dengan
suara paraumu
kerana ingin kulihat
ombak demi ombak
sajak demi sajak
melompat
dari kelopak matamu
ke telapak tanganmu

selamat pagi laut
baringlah aku
di dadamu
supaya kudapat ketenangan
yang tersembunyi di celah
bulu camar-camar

selamat pagi siput
datanglah berteduh di rumpun serai
di kala gelora hujung tahun.

1972

Gumpalan rasa pula sempat menyelitkan beberapa keprihatinan dan ketajaman pemerhatian TAT pada masyarakat Kuala Lumpur yang sedang pesat membangun ketika beliau berkelana di kota itu.

kuala lumpur

1
dalam keriuhan dan kesibukanmu
kutemui kehancuran
di wajah seorang tua
tertidur di kakilima
kulihat bunga sebuah impian
tak berwarna
pecah dan layu
terkulai di bibirnya
kudengar suara sebuah tangisan
tak berirama
resah dan sayu
berderai di kalbunya

2
di sini ada pagi
tapi tak kutau
di mana mentari terbit
di sini ada senja
tapi tak kutau
bila mentari tenggelam
di sini ada malam
kutau
ia telah tempuh
ratusan dosa
antara gedung-gedung tinggi
dan lorong-lorong sunyi

3
di tumit bangunan-bangunan raksasamu
kutemui kesombongan
kelaparan dan kejahatan
berbaur di jalan raya
kemiskinan adalah sungaimu
yang kian kurus
keruh dan coklat
di atas dadamu
kesengsaraan adalah penghunimu
yang kian kecil
dan kemudian menghilang
di balik matamu

1974

*cuplikan dua buah puisi yang membekas bagi saya.
Profile Image for Fadillah.
655 reviews46 followers
January 23, 2022
“Aku ini pemburu Kota,
Yang Kehilangan Peta,
Meraba malam dari sebuah lorong,
dari sebuah ruang kosong.
Aku ini pemburu kota, mencari jalan pulang.
Aku ini pemburu kota, mimpikan hutan tenang.”
- Pemburu Kota by T. Alias Taib
.
.
‘Pemburu Kota’ is a second poetry book by T. Alias taib. This time, he brought us readers into his hometown, Kuala Terengganu. His poems is so nostalgic. You can tell that he really cherished everything about his hometown especially when he wrote 4 poems dedicated to Kuala Terengganu. When he left his hometown and migrated to Kuala Lumpur, he penned what he observed here. He pointed out there is a stark difference between these 2 cities, Kuala Terengganu and Kuala Lumpur (KL) . KL, for him, a city that never sleeps, proud but polluted, divided by its own agenda, Noisy but yet lonely. We can see how he penned it in ‘Kuala Lumpur’ poem - “di tumit bangunan-bangunan raksasamu, ku temui kesombongan, kelaparan dan kejahatan, berbaur di jalan raya, kemiskinan adalah sungaimu, yang kian kurus, keruh dan coklat di atas dadamu, kesengsarssn adalah penghunimu yang kian kecil dan kemudian menghilang dibalik matamu”. As for Kuala Terengganu , he described it as full of colors yet calm and denoted that life is much simpler there as stated in ‘Kuala Terengganu III’. He wrote : “Inilah senjahari di kotaku : mentari limau dan lautan tenang, Langit batik dan nelayan pulang, Pasir Perak dan Camar terbang, angin sate dan perawan riang, inilah kotaku senjahari yang ku nyanyikan untuk mu. Whether you agree or not with his observation, most of his poems based on sentimentality and acute observation of those who or what are around him. For example, in ‘Langit Kuala Lumpur’, he wrote that while KL might be developed compared to other cities in Malaysia, its ambiance is pretty much dead - “ada setompok awan tak berlayar, ada sepotong mentari tak bersinar, ada segaris angin tak berpusar”. Overall, I felt like the second book is much more stronger collectively. I wish i could quote all the lines that i like from this book but it will be such a pain in the ass to type all of it. I cant wait to read his next books after finishing this one!
Profile Image for Fur Abid.
199 reviews6 followers
March 24, 2021
Pemburu Kota merupakan karya T. Alias Taib yang pertama saya membaca. Beliau tersohor dengan puisi beliau yang sangat puitis. Tetapi, bagi saya agak kurang sedikit menepati rasa di hati sendiri.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.