Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Senyum Karyamin” as Want to Read:
Senyum Karyamin
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Senyum Karyamin

3.97  ·  Rating details ·  776 ratings  ·  153 reviews
Editor: Maman S. Mahayana
Kata Penutup: Sapardi Djoko Damono

Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “t
...more
Paperback, 73 pages
Published 1989 by Gramedia Pusataka Utama
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Senyum Karyamin, please sign up.

Be the first to ask a question about Senyum Karyamin

Community Reviews

Showing 1-30
Average rating 3.97  · 
Rating details
 ·  776 ratings  ·  153 reviews


More filters
 | 
Sort order
Start your review of Senyum Karyamin
Indri Juwono
Mar 07, 2011 rated it really liked it
#2011-36

Karyamin.
Sampir.
Sanwirya.
Waras.
Minem.
Kasdu.
Suing.
Kimin.
Blokeng.
Sutabawor.
Masgepuk.
Kenthus.
Dawet.
Samin.
Sulam.


Nama-nama pilihan Ahmad Tohari ini dalam kumpulan cerpen yang menyiratkan kesederhanaan, nama yang 'ndeso' sesuai dengan latar tempat penceritaan beliau, tempat desa dengan orang-orang yang tidak memikirkan menimbun harta, melainkan makan apa kita hari ini?
Mungkin mereka memikirkan apalah arti sebuah nama, dan nama itu yang dipakai sebagai pengingat kejadian saat anaknya lahir.

Ta
...more
Arief Bakhtiar D.
Oct 11, 2013 rated it really liked it  ·  review of another edition
SASTRA TENTANG ORANG-ORANG DESA

AHMAD Tohari rasa-rasanya tidak akan melepaskan pikirannya dari satu lapisan masyarakat yang kian terpinggirkan: orang-orang desa.

Kita tahu dalam Ronggeng Dukuh Paruk, Tohari membangun latar di satu dusun kecil Dukuh Paruh. Di dusun itu muncul Srintil, gadis kenes yang suka menari dan digadang-gadang kakeknya menjadi ronggeng terkenal, dan Rasus, pemuda yang menyukai Srintil tapi akhirnya menyingkir dan memilih bekerja sebagai pengupas ketela di pasar. Dalam memba
...more
Wahyu Novian
Dec 26, 2019 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Novel-novelnya Ahmad Tohari memang bagus-bagus. Tapi saya kira cerita-cerita pendeknya lebih kuat lagi. Masih berbicara tentang manusia-manusia desa yang sahaja dan sederhana, juga berbicara tentang moral dan baik buruk, tapi dengan kalimat-kalimat efektifnya, berhasil membuat lebih menohok. Apalagi akhirnya yang kebanyakan bukan melulu soal ceramah. Akhirnya kadang membuat pembaca mengangan dan hanya bisa tersenyum sembari mengernyit dan mengelus dada. Seperti di akhir Senyum Karyamin.
cindy
Kumcer ini sangat tipis, net hanya 66 hal saja, dan terbagi dalam 13 cerpen. Taaapii... isi tiap cerpennya kuat menyindir dan tajam menampar bbgai hal yg tjd di dlm masyarakat. Meski ditulis di era 70-80an, persoalannya msh cukup relevan untuk jaman skrg.

Aku suka sekali sisi pak AT yg tampil di kumcer ini, terasa muda, ironis dan sinis, seakan mencibir pada keangkuhan strata sosial yg ada dan kemapanannya. Sesuatu yg pada tulisan2 beliau di tahun2 selanjutnya sedikit terlembutkan dan terhaluska
...more
Sausan Atika
May 13, 2018 rated it really liked it  ·  review of another edition
Dunia pedesaan adalah dunia rekaan khas Tohari. Konflik yang menimpa tokoh-tokoh lapisan bawah di dunia ini sederhana, tetapi sebetulnya masih relevan bagi siapapun yang duduk di berbagai lapisan sosial. Karena inti dari konflik-konflik di sini semata-mata menyinggung soal toleransi, kepedulian, harga diri, dan berbagai persoalan lainnya yang bisa disingkat menjadi satu kata saja: realita kemanusiaan.
Evan Kanigara
Mar 13, 2019 rated it really liked it
Tohari berhasil menarasikan dengan baik, penderitaan-penderitaan di sekitar kita yang justru saat ini terkesan liyan dan asing. Mengutip Sapardi di kata penutup, "cerpen-cerpen yang terkumpul dalam 'Senyum Karyamin' ini menunjukkan kecermatan pengamatan Ahmad Tohari terhadap berbagai masalah yang sering tidak kita sadari adanya." ...more
eti
Oct 23, 2012 rated it really liked it
judul yang sederhana. nama tokoh-tokohnya yang sederhana. konfliknya yang sederhana. dan sesederhana saya menikmatinya :D
Kiky
Jul 20, 2011 marked it as to-read
my computer
Endah
Oct 06, 2008 rated it liked it
Sebenarnya, “Kata Penutup” dari Sapardi Djoko Damono sudah cukup mewakili untuk membicarakan kumpulan cerpen Ahmad Tohari ini. Cerpen-cerpen yang dipublikasikan sepanjang tahun 80-an ini menciptakan sebuah dunia yang terasa asing bagi orang-orang yang telah lebur menjadi bagian dari kota besar. Tohari, menurut Damono, rupanya memiliki sesuatu yang penting yang harus disampaikan kepada kita. Beberapa contoh masalah dalam masyarakat, yang diangkat dalam cerpen-cerpennya, kadang berfungsi sebagai l ...more
Nindya Chitra
Jun 28, 2018 rated it really liked it
Mulai suka karya Ahmad Tohari sejak membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Kekhasan tulisan beliau terletak pada pemilihan desa sebagai latar tempat dengan suasana tahun '90an. Biasanya, beliau akan detail sekali menjelaskan tingkah polah flora dan fauna. Bahkan daun yang digesek angin pun beliau akan terangkan sampai ke detail terkecil. Memang menambah pengetahuan. Tapi kadang cukup menjenuhkan. Dalam cerpen, agaknya penuturan beliau lebih terkesan lugas dan tak terlalu mengusung detail berlebih. Favori ...more
Nike Andaru
41 - 2019

Sulit untuk tidak menyukai buku ini, semua cerita dalam buku ini menurut saya adalah juara. Walau ceritanya benar-benar cerita pendek, tapi hampir semua ceritanya penuh makna khas Tohari.

Seperti kata eyang Sapardi Djoko Damono sebagai penutup dalam buku ini, di tengah cerita gemerlap saat ini, cerita-cerita Ahmad Tohari tetap dengan gaya pedesaan dengan nama-nama kampung tapi isu-isu sosial sangat lekat, terangkat dan di situlah menariknya.

Cerita yang paling saya suka yaitu Blokeng dan
...more
Zomi
Dec 30, 2020 rated it liked it  ·  review of another edition
Ahmad Tohari memang pandai sekali mengajak pembaca untuk membumi. Menelusuri budaya lokal melalui masyarakat lapisan bawah yang ditampilkannya dalam karyanya ini. Ceritanya begitu kaya dengan deskripsi alam desa yang sederhana Dan bersahaja. Melalui tokoh-tokoh wong cilik, dia menampilkan ironi dan menyampaikan pesan mengenai Indonesia yang sesungguhnya. Berkunjung ke pedesaan mengingatkan kita bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki di negeri ini.
Hestia Istiviani
Jun 20, 2015 rated it really liked it  ·  review of another edition
Alhamdulillah, terpaan pengerjaan skripsi sudah berakhir (tinggal sidangnya saja sih. Mohon doanya!) sehingga sebagai bentuk perayaan atas pencapaian ini, aku "mentraktir" diriku sendiri buku bacaan (padahal di kamar ada entah berapa buah buku yang belum terjamah). Begitu tahu ada buku karya Tohari yang diterbitkan ulang oleh GPU dan harganya sangat terjangkau, tentu saja aku membelinya.

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Aku setuju dengan apa yang dituliskan pada verso kaver ini. Disinggung
...more
Bernard Batubara
Aug 23, 2013 rated it really liked it
Selesai membaca "Senyum Karyamin", kumpulan cerpen Ahmad Tohari. Saya sudah sering dengar nama Ahmad Tohari diperbincangkan beserta karya-karyanya. Tapi (dasar pemalas) saya baru baca buku Senyum Karyamin ini, itu pun karena kumpulan cerpen, jadi tidak terlalu menghabiskan banyak waktu ketimbang membaca novel-novelnya.

Cerpen-cerpen Ahmad Tohari berbicara perihal rakyat bawah. Kemiskinan, desas-desus kampung, kriminalitas yang terjadi karena kesulitan hidup, dan seterusnya. Bisa dikatakan, permas
...more
Ryan
Jan 28, 2016 rated it really liked it
Meskipun hanya beberapa halaman, tapi buku ini sarat cerpen yang cukup dalam. Ahmad Tohari yang dikenal menghasilkan cerita berlatar kaum menengah ke bawah, berhasil menarik pembaca dari segala lapisan masyarakat. Senyum Karyamin, tentu saja, menjadi cerpen paling kuat dalam buku ini. Ironi yang disuguhkan dalam cerita itu membuatnya tampil paling menarik. Sebenarnya hampir semua cerita dalam buku ini saya suka.
Khusnulia Lia
Aug 20, 2015 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Merasa kurang dengan kumcer ini, karena tipis memang bukunya.
Ada judul Wangon Jatilawang, judulnya menarik, bercerita seseorang yang hidupnya antara Pasar Wangon dan Pasar Jatilawang.
Kesukaan saya cerpen yang berjudul Rumah yang Terang.

Buku ini ada versi berbahasa Inggris, belum baca sih, tapi ko' sayang beli ya, soalnya karya Ahmad Tohari indah dalam bahasa Indonesianya yang khas.
...more
Kuncz Arock
Nov 05, 2009 rated it really liked it
Kumpulan Cerpen (cerita pendek).
Raafi
Jan 04, 2018 rated it really liked it  ·  review of another edition
lokalitasnya lebih kental ketimbang "Mata yang Enak Dipandang". Cerita-cerita di dalamnya semakin membuat rindu kampung halaman. Amat sangat dekat dengan saya. ...more
Anna Fillaah
May 16, 2019 rated it really liked it
Sejauh ini saya baru membaca kumpulan cerpen yang ditulis Ahmad Tohari dan merasa menemukan kenyamanan dan keasyikan dalam merunut kisah yanh diramu sedemikan rupa dengan gaya bahada yang khas dalam baris-baris kalimat. Kemudian saya berencana untuk meneruskan membaca karya tohari lainnya yang lebih panjang, novel-novelnya yang populer. Senyum karyamin berisi 13 cerpen yang mengangkat kisah hidup rakyat kecil di desa. Semua mengandung makna tersmbunyi di balik alur cerita yang tampak sederhana d ...more
Mentari
Jan 22, 2021 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Authentic, touching, and outstanding.
Jaka
Feb 16, 2014 rated it really liked it  ·  review of another edition
Senyum Karyamin merupakan kumcer karya Ahmad Tohari. Gaya bahasa beliau yang sarkastik sangat kental di setiap cerita-cerita di buku ini. Banyak pesan tersurat yang ingin disampaikan kepada para pembaca yang telah terbuai dalam kehidupan yang fana, yang sudah melupakan hal-hal remeh yang terjadi di sekitar kita. (ceilah)

Saya begitu menikmati pesan-pesan tersebut, kadang membuat saya tertawa setelah membaca satu cerita, apalagi cerita Blokeng, seorang wanita yang hamil di luar nikah. Spoiler sih,
...more
Awanama
Jul 13, 2016 rated it liked it
Senyum Karyamin diwarnai ekspektasi-ekspektasi kalangan bawah, sindiran terhadap kalangan tertentu, kebiasaan menggunjing, dan adegan-adegan kematian.

Kalangan bawah ini meliputi pengumpul batu, penyadap kayu, pawang kerbau, perantau Jakarta, penadah buntut tikus, dan seorang menantu. Ekspektasi orang-orang kalangan bawah ini dirubuhkan oleh kenyataan yang dihadapinya.

Orang-orang menggunjing di dalam kumpulan cerpen ini. Gunjingan ini menjadi sarana cerita penting karena mengandung petunjuk penti
...more
Perkutut Manggung
Apr 13, 2012 rated it really liked it
Ahmad Tohari never stops to impress me when he tells the stories about people that he knows the most: the villagers. Some characters like Minem, Blokeng, Kenthus, Sanwirya, have the power to be some kind of media that brought us to understand what it's like to live in problematics and underestimated conditions like Indonesian village.

My favorites are Jasa-jasa buat Sanwirya and Minem Beranak Bayi. These two stories giving a very ironic picture of Indonesian people living in remote villages. Mine
...more
Ayu
Sep 10, 2015 rated it liked it  ·  review of another edition
Ahmad Tohari selalu berhasil menghibur penggemarnya dengan memberikan cerita yang menghibur sekaligus membuat iba. Gaya berceritanya yang sederhana dan apa adanya masih menjadi senjaata yang digunakan oleh penulis, juga masyarakat pedesaan yang cenderung lugas dan bodoh. Baca resensi tentang cerita lainnya di sini ...more
Damar hening Sunyiaji
Oct 06, 2012 rated it really liked it
Favorit saya pengemis dan shalawat badar, selain karna setingnya di cirebon thoh ini cerita paling keren. Bercerita mengenai di aku di dalam bus perjalanan entah menuju ke mana dari stasiun cirebon, merasa suntuk dan tiba tiba ada pengamen yang menggunakan shalawat badar sambil menadah tangan. Dalam hatinya berkata : wah, shalawat kan pujian rasul kenapa dipakai ngemis?
Endingnya twist banget.
Dodi Prananda
Kesederhanaan atau kebersahajaan kadang rasanya mahal sekali didapatkan dalam hidup yang begitu rumit. Saat menyelsaikan buku Ahmad Tohari semalam, saya merasakan kesederhanaan itu. Rasanya, saya begitu haus, lalu Pak Tohari datang membawa seteguk air.
Alluna
Nov 09, 2013 rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: wishlist-books
aku selalu merasa cocok dengan karya2 Ahmad Tohari. Di tengah banyaknya novel yang mengambil setting kehidupan hedon, atau tema roman2 picisan.. karya Ahmad Tohari selalu bisa membawaku kembali ke bumi.
Echa
Jul 31, 2015 rated it it was amazing  ·  review of another edition
Ciri khas tulisan Ahmad Tohari adalah ironi. Mungkin dimaksudkan untuk "menyentil" hati pembacanya agar selalu ingat dimana harus berpijak, apa yg benar dan salah. Setuju dgn kata penutup dr Sapardi Djoko Damono bahwa karya Ahmad Tohari "tidak ada kecenderungan yg disengaja untuk menjadi populer". ...more
Fazrin Khairulsaleh
Aug 06, 2016 rated it liked it
ulasannya sama dengan apa yang dibilang Sapardi
Indah Threez Lestari
Aug 15, 2012 rated it liked it
Shelves: indonesian, punya
776 - 2012
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Corat Coret di Toilet
  • Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
  • Laut Bercerita
  • Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen
  • Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
  • Man Tiger
  • Gadis Kretek
  • Beauty Is a Wound
  • Resign!
  • Perjamuan Khong Guan
  • Pulang
  • Re:
  • Dua Alasan untuk Tidak Jatuh Cinta
  • Filosofi Teras
  • Ganjil-Genap
  • Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura
  • Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
  • I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
See similar books…
374 followers
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.

His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Du
...more

News & Interviews

Oh hey, we're nearly halfway through 2021! We can't really believe it either... Traditionally, this is the time when the Goodreads editorial...
79 likes · 11 comments
“Tak ada manusia yang lebih puas daripada dia yang baru saja berhasil menerangkan arti keberadaannya.” 1 likes
More quotes…