Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Arsitektur Yang Lain: Sebuah Kritik Arsitektur” as Want to Read:
Arsitektur Yang Lain: Sebuah Kritik Arsitektur
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Arsitektur Yang Lain: Sebuah Kritik Arsitektur

4.23  ·  Rating details ·  262 ratings  ·  36 reviews
Paperback, 245 pages
Published July 2011 by Gramedia Pustaka Utama
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Arsitektur Yang Lain, please sign up.

Be the first to ask a question about Arsitektur Yang Lain

Community Reviews

Showing 1-30
4.23  · 
Rating details
 ·  262 ratings  ·  36 reviews


More filters
 | 
Sort order
rully
Nov 20, 2011 rated it really liked it
Jika saja buku ini terbit di awal 2000-an mungkin saya tidak akan di cap sebagai orang aneh atau orang yang berpikiran rumit oleh beberapa teman - teman, yang sebagian mereka bahkan adalah mahasiswa arsitektur.
Saya sempat mengkritik Palembang dengan mengatakan palembang sedang melakukan pembangunan yang tidak berkepribadian menjelang PON XVI tahun 2004, di buku ini Avianti menulis essai dengan judul "sembarang kota". Avianti mengkritik pembangunan di beberapa kota seperti Bandung, Cirebon dan P
...more
Johan Radzi
Mar 23, 2013 rated it liked it
Fuhh, baru saja selesai tamatkan buku ini sampai diiringi kopi O dan bayu malam yang sedikit dingin. Ini adalah buku yang ditulis oleh seorang arsitek Indonesia, tentang bagaimana dia cuba mencamtumkan titik-titik Arsitektur dengan hal-hal substans yang mendalam.

Dalam bab "Rumah Tuhan", Avianti menceritakan bagaimana tukang bina memperhalusi Cahaya supaya ia terang diatas dan mewakili 'Tuhan' dirumah ibadat. "Arsitektur Yang Lain" pula memperihalkan seorang arsitek yang cuba dengan upaya memban
...more
eti
May 08, 2012 rated it really liked it
#2 - 2014

membaca ini, saya menemukan pemahaman bahwa ketika kita merancang atau membangun sesuatu (rumah atau apapun), hendaknya bersinergi dengan alam sekitar kita. saya jadi teringat dengan dosen arsitektur Unika Semarang, dia mempunyai rumah di daerah Simongan, yang kontur tanahnya bertebing sehingga rawan longsor. Dengan kemampuan arsitektur yang dia miliki, dia mempraktekkan apa yang dia pahami dalam membangun rumahnya itu. rumahnya benar-benar ramah lingkungan, materi yang digunakan kebany
...more
Reynaldi Arnosti
Terimakasih.
Indri Juwono
Jan 18, 2012 rated it it was amazing
Kita telah lama jadi penghuni "waktu".
Sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar "ruang transit".


Arsitektur itu bicara ruang, bukan sekadar bangunan. Ruang yang berfungsi sebagai tempat berkegiatan manusia dan ruang yang (sayangnya) hanya untuk dipamerkan. Pertama ia menyinggung soal rumah, yang tak lagi sebagai ruang bertinggal, namun hanya sebagai tempat singgah di malam hari. Membuatku bertanya-tanya, jadi mana yang bisa kita sebut sebagai tempat bertinggal itu apabila lebih dari 50% ha
...more
Cepi Sabre
Jun 02, 2012 rated it liked it
Shelves: arsitektur
arsitektur yang lain; sebuah kritik arsitektur


"mari kembali ke zaman ketika hanya ada tuhan dan empat manusia: adam, hawa, kain, dan habil."

percaya atau tidak, kalimat di atas adalah kalimat pembuka dari sebuah buku arsitektur, judulnya: 'arsitektur yang lain; sebuah kritik arsitektur', penulisnya: avianti armand. kalimat yang saya kutip itu bukan satu-satunya kalimat yang terdengar puitis-filosofis di dalam buku tersebut, akan lebih banyak lagi. bahkan saya ingin bilang bahwa buku ini sangat
...more
Bimana Novantara
Jul 29, 2018 rated it really liked it
Ketertarikan saya pada buku ini bermula dari perkiraan bahwa sepertinya isinya akan banyak membicarakan hal-hal tentang Jakarta yang luput dari perhatian sehari-hari yang dibahas melalui sudut pandang arsitektur. Saya membayangkannya seperti kumpulan esai Affair: Obrolan Tentang Jakarta karya Seno Gumira Ajidarma yang memang khusus membahas segala macam hal tentang Jakarta. Perkiraan saya tidak sepenuhnya salah. Ada nuansa Jakarta yang kuat di esai-esai dalam buku ini. Selain lewat nama-nama tem ...more
Adek
Jan 25, 2017 rated it really liked it
Shelves: nonfiksi
Dalam bukunya, To Have or to Be, psikoanalis Erich Fromm, mempertanyakan kesejatian manusia modern. Manusia berhenti menjadi manusia ketika dia dikuasai oleh keinginan untuk memiliki dan menguasai benda-benda, yang pada akhirnya berbalik memperbudaknya. Begitu akutnya kondisi tersebut sehingga ia menyatakan bahwa di abad ke-20, manusia telah mati. (Hal. 221)

Terima kasih, Mbak Avianti, buku ini mengenalkan saya pada sosok-sosok yang luar biasa-Romo Mangun dan Kang Achmad Tardiyana, sekaligus memb
...more
Syifa Kamilia
Dec 14, 2017 rated it really liked it
Sekumpulan abstraksi dari hasil observasi yang tentu tidak hanya menggunakan visual, namun seluruh indera yang manusia miliki. Narasi kritik arsitektur yang dipaparkan membuat pembaca memanggil kembali sisi humanis dari dalam diri. Yang mungkin telah tertutup oleh kesibukan dalam hal pragmatis. Bahasa yang begitu puitis, walau bukan hal yang biasa saya nikmati, namun tetap dapat diresapi kontennya menjadi bahan kontemplasi.
An Nasaie
Mar 06, 2018 rated it really liked it
Seperti membaca kumpulan cerpen Negeri para peri, seperti itu jugalah membaca buku ini, sederhana. Cara bercerita dan pandangannya yang sederhana terutama dalam berbicara tentang rumah tuhan dan simbolik-simbolik yang wujud, tentang pengalaman ruang, Jakarta yang sibuk. Esei yang bersifat bercerita begini senang untuk dihadam seolah-olah saya dan Avianti ada di sebuah ruang yang sensorik sentuhan Zumthor sambik menikmati kopi panas yang menyegarkan.
Husein Hamzah
Dec 18, 2018 rated it it was amazing
In this book Avianti Armand are generally spoke about the "forgotten aspect" that have a major influence in contemporary architecture. It's an easy to read book, most of the part are short, but it has very deep and personal meaning. Something that I personally, working as professional architect, could relate. This book is highly recommended for architects that need to re-positioning themselves in this ultra-hectic world.
Hadi Yanuar
Feb 03, 2019 rated it it was amazing
Sangat cocok dibaca oleh mahasiswa Arsitektur. Buku ini bisa jadi sebuah pengantar untuk memahami ruang dan fungsi arsitektur sebagai shelter bagi manusia. Sangat menarik dan enak dibaca di kala waktu senggang sambil ditemani dengan secangkir teh hangat :)
Muhammad Rajab
Jun 18, 2018 rated it really liked it
Salah satu yang membuat senang membaca karya penulis satu ini adalah gaya menulisnya. Selain itu kepiawaiannya mengusung sebuah tema untuk disampaikan pada pembaca juga patut diapresiasi.
Yuramia Oksilasari
Mar 07, 2017 rated it really liked it
Well, I'm an architecture student, trapped in a standard form of architecture for almost 4 years. No, I didn't say I'm in a wrong study or system (because in the study of architecture, we really need to push ourselves to learn about everything technical, for sure) but sometimes in my architecture journey, I asked myself about those essential questions; like what really is architecture, how big is the scope of architecture, can't we talk architecture in a simpler and subtler way? Then I got this ...more
Nonna
Aug 23, 2012 rated it really liked it
Ini adalah benar-benar buku tentang sebuah kritik terhadap arsitektur. Lewat bukunya, Avianty berusaha mengajak saya untuk kembali ke jaman sebelum masehi, tentang sebuah definisi rumah sebagai space of staying bukan stay of going. Saya suka istilah itu. Karena pada dasarnya, arsitektur adalah sebuah keseimbangan. Keseimbangan antara kepala, badan, dan kaki.

Pada bab Rumah Tuhan, Avianty mengkritisi tentang sebuah religious architecture, dimana sebagian orang mengidentifikasikan mesjid hanya seba
...more
Annisa Saumi
Jan 02, 2016 rated it really liked it
Shelves: read-and-think, esai
Buku ini menungkap sisi lain dan kritik pada arsitektur, buku yang bisa dibaca semua orang tanpa harus ada latar belakang pendidikan arsitektur. Awal-awal membaca buku ini, gaya esai Avianti mengingatkan saya pada gaya menulis Goenawan Mohamad. Indah, tapi akan sulit dimengerti oleh orang yang jarang membaca. Avianti membahas arsitektur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari manusia, arsitektur bukanlah sesuatu yang mesti ditinggikan dan eksklusif. Arsitektur bisa dijadikan sebagai penolong s ...more
Roliandi Bagas
Sep 11, 2013 rated it really liked it
bagi saya pribadi, Arsi Yang Lain termasuk bacaan yang mempengaruhi identitas serta tujuan desain saya dalam proses. dari buku ini saya mengenal arsitek seperti Zumthor, dan kerap mempertanyakan substansi dan definisi utuh dari desain bergaya modern, urban, dan isu recycle sebagai alat branding desainer perseorangan. standarnya kasat.

darinya Arsi-Interior bukan sekedar dinding identitas dan entitas dalam ruang, namun lebih. publik berhak bicara banyak, sementara praktisi wajib mengerti.
helmymuhammad
Sep 23, 2013 rated it really liked it
Satu ulasan menarik mengenai arsitektur..Membincangkan perihal reka bentuk masjid,bangunan,rumah ibadat,dan juga kamar mandi..Avianti Armand sangat melankolik,terutamanya bila dia menceritakan perihal kubah yang sering menghantui orang islam yang mengkehendaki bahawa cuma masjid sahaja yang wajib ada kubah..

Mengenai ruang dan waktu,bagi aku,itu ulasan yang mendatar sahaja kerana kita sebagai manusia tahu bahawa 'rumah' sebenar bukannya rumah yang kita duduki,tetapi,waktu..
Willy
Mar 28, 2012 rated it really liked it
Shelves: architecture
Lewat 26 essai Avianti Armand menjelajahi dan menggali dunia arsitektur (Indonesia) yang sejati yang sekarang sering terabaikan oleh baik pembina, perencana, maupun pengguna lingkungan binaan lewat tutur katanya yang menggugah hati.
Regita Gideon
Mar 13, 2019 rated it it was amazing  ·  review of another edition
👍👍👍👍
Kristoporus Primeloka
Jun 05, 2016 rated it really liked it
Kalau ada sastra arsitektur Indonesia yang based on daily life, mungkin ini yang pertama.
Dian Nafi
Aug 28, 2011 rated it really liked it
keren bangets. avianti mengkritik arsitektur dengan kacamatanya dengan cara yang sangat nyastra dan indah
Jessica Huwae
Jun 23, 2015 rated it really liked it
An interesting approach on architecture. A nice read, indeed.
aldo zirsov
Mar 22, 2013 rated it really liked it
Shelves: essays, architecture
3.75 of 5
kenapa selalu remang, gelap, kelam dan muram? apa karena kau berdiri di sisi terang, sehingga rindu sisi gelap yang justru tak jauh dari diri, yakni kesendirian...
Masfufatul Yuliarti
Feb 20, 2014 rated it really liked it
bahasa yang unik. mampu membuka sisi lain dari Arsitektur
Anis
Aug 11, 2012 rated it really liked it
saya tidak bisa menahan untuk tidak mengatakan bahwa saya jatuh cinta pada buku ini!
Robin Hartanto
Dec 29, 2011 rated it really liked it
Fragmented as a book, but brilliantly written. I really like the author's style of writing.
Adin
Apr 12, 2013 rated it really liked it
Kembali berkutat pada saru pertanyaan : Apa itu Arsitektur ?
Indah Threez Lestari
May 07, 2014 rated it liked it
Shelves: indonesian, punya
477 - 2014
Rizky Suleman
Apr 08, 2012 rated it really liked it
Shelves: architecture
tulisan yang menarik. pembahasan isu-isu arsitektural dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh khalayak umum
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Wastu Citra
  • Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi
  • Laki-laki Pemanggul Goni: Cerpen Pilihan KOMPAS 2012
  • The Sexes
  • Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
  • Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara
  • Mencari Bening Mata Air
  • Bukavu
  • Tiada Ojek di Paris: Obrolan Urban
  • Dari Datuk ke Sakura Emas
  • Red Rose, White Rose
  • Lalita
  • Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • The Heights: Anatomy of a Skyscraper
  • Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination
  • Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture
  • Rumah Kopi Singa Tertawa
See similar books…
135 followers
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Ra ...more
“KIta memang tak bisa percaya pada ingatan. Jika ada yang lebih tak pasti daripada masa depan, ia adalah masa lalu.” 9 likes
“Kita tetap suka mengenang, walau tak pernah benar-benar tahu apa guna sejarah bagi kita. Mungkin karena kita tak bisa menyangkal bahwa apa yang kita mengerti sekarang tak bisa lepas dari hal-hal yang kita alami pada masa lalu dan proyeksi kita untuk masa depan.” 7 likes
More quotes…