Jump to ratings and reviews
Rate this book

99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Rate this book
Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. "Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum," ungkap Marion akhirnya.

***

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar "Eropa"? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?

Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan saya, Islam.

Buku ini bercerita tentang perjalanan sebuah "pencarian". Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.

Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.

Pada akhirnya, di buku ini Anda akan menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum. Lebih... sungguh lebih daripada itu.

424 pages, Paperback

First published July 1, 2011

Loading interface...
Loading interface...

About the author

Hanum Salsabiela Rais

8 books370 followers
Hanum Salsabiela Rais, adalah putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karir menjadi jurnalis dan presenter di TRANS TV.

Hanum memulai petualangannya di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya Rangga Almahendra dan beke rja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.

Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3,037 (48%)
4 stars
2,028 (32%)
3 stars
857 (13%)
2 stars
179 (2%)
1 star
128 (2%)
Displaying 1 - 30 of 614 reviews
Profile Image for Tia.
4 reviews10 followers
December 4, 2013
Pertama kali liat judulnya, saya ngga tertarik.Tapi setelah liat yg kasi kata pengantar itu Pak Habibie, saya jadi tertarik liat isi bukunya. Baca sinopsis plus review-nya di Goodreads, buku ini bagus dan berhubung saya suka banget sama sejarah Eropa, saya beli deh bukunya.

Saya seorang muslim juga dan lewat buku ini saya berharap bisa nambah pengetahuan saya soal Islam dan sejarah islam di Eropa. But the book fails me.

Buku ini subyektif banget,cerita soal sejarah Islam di Eropa tapi kok dasarnya "katanya" dan bukan "faktanya". Buku ini kesannya "maksa" banget ya dengan "asumsi-asumsi" penulisnya. Ini novel?travelogue?atau cerita "katanya"? Sejarahnya juga ngga ada bukti-bukti sejarahnya sama sekali (cuma kronologis tahun di bagian akhir buku yang sama kaya wikipedia). Terus tokoh "Fatma" dibuku ini kok ganggu banget ya menurut saya. Semua berdasarkan "cerita dia" dan itu setengah buku sendiri loh. I feel like this is Fatma's memoir in Europe not Hanum's or Rangga's. Lalu ada tokoh Marion (ngga tau ini asli apa ngga) dan penjelasan soal huruf arab di veil-nya Maria dan "garis lurus bayangan" di Paris yang at the end itu cuma "katanya" atau "asumsi ini dan itu". Untuk novel seperti ini alangkah bagusnya kalau dilengkapi dengan fakta-fakta sejarah juga, jadi apa yg disampaikan Marion itu kesannya bukan "omong kosong".

Soal "Mezquita" di Cordoba, saya sedikit heran sama penulisnya.I'm a moslem too and I know the story about Al-Andaluz dan saya juga pernah mengunjungi "bekas" masjid di Toledo (kalau yang tau sejarah Islam di Al-Andaluz,pasti tau dong kalo Toledo itu termasuk pusat pemerintahan Islam dimasanya) dan Katedral Almudena di Madrid (dulu masjid Al-Mudayn di jaman pemerintahan islam), tapi saya ngga minta sholat dibangunan bekas "masjid" itu. Why? Karena saya tahu, saya tidak bisa mengubah sejarah dan saya ngga mau memaksakan keyakinan saya HARUS dituruti.Saya pilih untuk respek sama sejarah yang dimiliki bangsa itu karena kita cuma sekedar "tamu". Coba pikir deh, kalau dibalik kejadiannya di Indonesia, katedral diubah jadi masjid, saya 100 persen YAKIN kalau umat nasrani ngga boleh berdoa disitu.

Kejadian "permintaan sholat di Mezquita" menurut saya ngga sesuai banget sama quote buku ini (yang ditulis lebih dari 10x) "menjadi seorang agen muslim yang baik." Seorang agen muslim yg baik menurut saya tidak memaksakan kehendak dan pendapat kepada Sergio,Gomez, teman di kampus Wina, penjaga "mezquita" dan orang Algiers yg menjual babi untuk menerima keyakinan Anda. Kalau baca soal sejarah Al-Andaluz,pasti tau bahwa Islam di jaman Al-Andaluz itu adalah Islam yang penuh toleransi. Jaman Al- Andaluz adalah jaman dimana islam,yahudi dan nasrani hidup berdampingan dengan damai dan bertoleransi selama 500 tahun di tanah Iberia.

So, overall, buat yang pengen tau fakta aktual tentang peninggalan Islam di Eropa this book ngga "worth it" buat dibaca, mending baca wikipedia atau googling. Tapi buat yang pengen sekedar baca aja, yah boleh lah baca buku ini.

xoxo


Profile Image for Ra.
29 reviews12 followers
August 27, 2016

Banyak hal yang menganggu disini, pertama-tama, ini novel, memoir, travel writing atau apa sih?? Aku baca buku ini stelah menonton trailer-nya.

IMHO, adegan adzan di menara Eiffel menurut aku nggak penting banget. Di awal-awal, penulis menceritakan tentang bagaimana susahnya jadi orang islam berjilbab dengan keadaan Eropa sekarang. Islamophobia, yang bikin Fatma wanita berjilbab tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

Apa kita tidak bertanya, apa yang menyebabkan adanya islamophobia ini?? Adzan di menara Eiffel yang jelas-jelas bukan situs keagamaan dan islam hanya agama imigran di Eropa saat ini, maksudnya apa?? Coba kita posisikan diri kita sebagai sekelompok orang Eropa yg 'tidak menyukai' islam tatkala mereka melihat adegan ini?? Seolah-olah kita, muslim, berusaha mengislamisasikan Eropa kan. Provokatif.

Kesimpulan yang saya ambil disini, penulis mengatakan untuk menjadi agen muslim yang baik, tapi... semuanya hanya dari kacamata islam. Saya tidak suka cara pandang penulis yang sangat memojokan atheist dan agnostik, seolah-olah mereka sangat merugi. Dan mencari-cari argumen kuat agar mereka percaya tuhan.

Ada ribuan agama dan tuhan di dunia ini,mbak. Si penulis hanya kebetulan lahir di Indonesia, lalu beragama islam.. coba kalau penulis lahir di Jepang atau negara antah berantah lainnya, yang tidak mengenal konsep tuhan, neraka syorga seperti agama samawi.

Bagi orang Jepang, mereka sudah cukup bahagia dengan keyakinan mereka tanpa tuhan yang jelas, logika mereka; buat apa saya percaya dengan dongeng orang-orang di timur tengah.

Teman atheist Rangga terdengar seperti Atheist fundie, yang gak jauh beda dengan religious fundie. Apes juga nasib Rangga, bisa bertemu dengan atheist fundie, karena aku punya banyak teman atheist/agnostic dari berbagai negara hampir gak ada satupun dari mereka yang menyerang keyakinan ku, muslim.

Tapi kalau seandainya, diserang yaah gak perlu diperdebatkan, aku akan bilang... tiap orang punya kepala yang beda, background yang beda... budaya yang beda, dunia ini mungkin akan membosankan kalau isinya muslim aja... apa susahnya kita bisa hidup berdampingan satu sama lain, atheist, islam, christian. Debat kusir tentang agama itu gak penting, ibaratnya bagi kita bau durian itu nikmat sedangkan bagi bangsa lain, bau duren itu memuakkan.

Mungkin buku ini mendapat ilham dari gaya Dan Brown. Si Fatma/Marion menjadi tokoh Robert Langdon-nya.

Tapi tokoh Fatma disini keliatan lebay, bagi aku terisak-isak di museum didepan lukisan kakek buyut agak maksa, jadi seperti sinetron. (h.78)

Di halaman 89, ketika Hanum bertemu teman-teman Fatma yang berjilbab, disini aku menemukan kejengkelan di buku ini. Terkesan seperti teman-teman di pengajian, yang menyindir-nyindir wanita muslim tidak berjilbab untuk berjilbab. Seolah-olah pemakai jilbab bagi mereka yang sudah mendapat Hidayah. Aduh, kita gak bisa memaksakan dresscode ke orang lain, apalagi dengan sindiran. Bagi aku adegan ini memuakkan. Karena di kehidupan nyata, aku pernah ngalamin hal ini, dikerubuti wanita-wanita berjilbab dan mereka merasa kita yang non hijaber masih 'tersesat' dibanding mereka. Tentunya gak semua hijaber begini, tapi banyak. Jadi, banyak dari kita yang berjilbab karena peer-pressure. Jadi ingat ustad mualaf yg getol sama ke khilafahan ituh.

Di Bab 40 tentang Mezquita, bagian paling lebay diantara puluhan adegan lebay disini, sampai acara bergulir airmata demi hasrat untuk sholat ditempat bersejarah yang sudah berubah fungsi sebagai gereja, dimana letak agen muslim yang baik. Di mata penjaga Eropa, kita akan dinilai sebagai turis islam yang gak tau diri.

Hal; 291. setelah berdebat tentang konsep tuhan dengan seorang agnostic
"Tiba-tiba kami begitu mensyukuri kehidupan yg kami jalani sekarang ini. bersyukur karena kami masih bisa berpikir untuk mempercayai tuhan dan menjalani melalui islam" ---> Saya muslim, saya gak akan pernah memaksakan teman atheist dan agnostic saya untuk meyakini keyakinan saya, dan sebaliknya.

Semakin kebelakang, semakin subjective banget deh. Menurut si penulis dia beruntung masih menjadi seorang theist, apa gak bertanya mungkin si atheist malah gak merasa rugi. Mereka yakin, kalau agama hanya karangan budaya dan peradaban dari masa ke masa, cobalah posisikan diri kita ke diri orang lain, di awal buku, Eko Patrio menulis endorse kalau buku ini sangat objective. Setelah saya baca sangat subjective.

Rata-rata, para atheist gak percaya agama samawi karena bagi mereka kepercayaan samawi seperti nakut-nakutin anak kecil, seolah-olah kita berbuat kebaikan hanya untuk pahala dan imbalan syorga.

Sedangkan, banyak para atheist/agnostic yang menjadikan humanity agamanya. Mereka berbuat kebaikan atas sense of humanity, tanpa peduli imbalan syorga, jadi kalau saya mau objective, berbuat kebaikan karena rasa kemanusian lebih mulia dibanding berbuat kebaikan demi iming-iming pahala dan syorga.

Sembari baca buku ini saya baru nyadar ada perbedaan cerita antara film dan buku, di film anak Fatma sudah lumayan gede, di buku anak fatma berumur 3 tahun dan meninggal karena Leukemia. Aduuh, saya bingung.. jadi ini sebenarnya fakta atau fiksi sih???

Di Istanbul, Fatma menunjukan sebuah print out email dari bule-bule berbahasa Inggris yang mengolok-olokan islam, lalu sebagai agen muslim yang baik malah Fatma membalas dengan mentraktir mereka, tak lupa meninggalkan secarik kertas, alamat email dan nama.

Bunyi email si bule gini; we're really looking forward to treat you back.

Ooops, grammarnya salah mbak Fatma. Yang benar,- we're really looking forward to treatING you. (hal. 370)

*semoga bule ini bukan english native speaker, it's simple grammar error*

Diatas eiffel hanum berdoa, "ya allah, semoga cahaya islam kembali menyinari Eropa??" --->>> Agen muslim yang baik?? Gak heran Geert Wilder politikus di Belanda berniat mendeportasi imigran Indonesia yang muslim. Saya hanya bisa menghela nafas, seolah-olah penulis tidak up to date dengan current issues di Eropa. Tahun 2011, terjadi pembantaian di pulau Utoya, Norwegia, alasan si penembak, karena dia benci dengan muslim yang semakin banyak di Eropa, dan mereka berniat mengubah Eropa menjadi islam.

Ingat, kita dinegara orang, harusnya kita yang menyesuaikan diri, bukan tuan rumah yang menuruti mau kita.

Terakhir,
"ibadah haji adalah perjalanan spesial, HANYA ORANG-ORANG YANG BENAR "DIUNDANG" ALLAH YANG BISA MEWUJUDKANNYA(hal. 379)

one word for this statement; lebay.

Yang banyak duit & punya waktu banyak bisa naik haji, kata diundang allah terlalu berlebihan. Terdengar seperti ucapan dari super moral person.

Profile Image for Arini Rusda.
20 reviews5 followers
January 2, 2014
Apa yang muncul dalam pikiranmu ketika seseorang mengatakan Andalusia?

Buku ini bener-bener bikin nagih untuk segera diselesaikan!

Wina - Paris - Codoba - Granada - Istanbul

Menyusuri Eropa dengan jejak sejarah Islam dibalik cerita. Buku ini membawa kita jadi ikutan excited dengan bagaimana pengaruh Islam di masa jayanya yang membawa cahaya di era kegelapan Eropa, juga ikutan mencelos membayangkan sebuah masjid besar yang menjadi saksi kejayaan Islam pada masanya telah beralih fungsi menjadi gereja.

Buku ini memotivasi kita tentang pentingnya untuk menjadi agen muslim yang baik dimana pun kita berada.
Terang saja, karena dunia ini sudah terlalu banyak agen muslim gadungan yang membajak nama agama dengan teror dan penghasutan. Sekarang ini dibutuhkan mendesak agen muslim yang menebar kebaikan dan sikap positif. Yang kuat menahan diri, mengalah bukan karena kalah, tetapi mengalah karena sudah memetik kemenangan hakiki.

A very highly recommended book! 5 stars worth :)
Profile Image for Hanum Rais.
13 reviews64 followers
August 14, 2011
This is my second book.... Why I have to star this five stars? Cos this book at some points also gives me shocking facts about Islam in Euroland... This will make you prouder and more firm that there's no other pride in this life but being a real muslim....!
Profile Image for Amanda Sastri.
137 reviews12 followers
August 11, 2012
Wow.

Wow.

*masih nyusut air mata* #woi

Ok. Gw masih ga bisa berkata-kata. Gw terlalu banyak gasp, narik napas, sambil bertanya-tanya, KOK-BISA?! Kok bisa?! Yeps, kok bisa apa?!

Baiklah, gw akan sharing. Lucu, lucu bagaimana sebelum Ramadhan ini gw ditemukan sama sebuah kejadian yang membuat gw ga bisa berhenti menyalahkan diri sendiri karena gw ngerasa gw bodoh sekali. Terus karena kejadian itu gw langsung bertekad untuk mengkhusyukan diri pada Bulan Ramadhan tahun ini. Alasan lain, tiga tahun ke belakang ini Ramadhan gw terganggu sama aktivitas duniawi, jadi gw bertekad kalau GW-HARUS-KHUSYUK dan memaknai Ramadhan dengan baik dan benar.

But, sekarang udah nyaris selese, gw masih ngerasa gw belum melakukannya dengan benar. Tahun ini gw bertekad untuk i'tikaf, sampe akhirnya... BOOM, I'M BLEEDING =)) I'tikaf ga ada, utang shaum gw tahun ini nambah, dan gw ngomong ke diri gw sendiri, "Yaaa, dua puluh hari ini juga ibadah lo masih belum maksimal, Mand. Belum ditakdirin kali untuk i'tikaf." Walaupun gw masih berharap gw punya kesempatan i'tikaf tahun ini.

Itu satu, yang kedua... lucu juga, gw dikenalkan oleh seseorang di dunia maya dari sebuah forum RP, yang TEPAT SEBELUM RAMADHAN dia ngasih gw pertanyaan yang bikin gw tercengang *ok gw baru nelusurin arsip* Kira-kira gini pertanyaannya, "Kenapa Barat dengan pemikiran mereka yang terbuka bisa maju banget, padahal mereka ga percaya Islam. Ok lah Islam itu kepercayaan sempurna, but?"

Gw langsung diem, gw jawab sekenanya aja, walaupun gw tau jawaban gw ga akan memuaskan, ilmu gw masih cetek man. Dan setelah itu gw nanya ke mama, jawaban mama juga masih belum buat gw puas. Terus pas gw bukber bareng Wimba dan Gilang, gw diskusi ma mereka, dan tetep aja ada yang kurang. Dan kadang pertanyaan itu masih gw tanyain ke coworkers gw, tetep aja masih kurang. Sampe akhirnya gw mikir simple, so simple saja lah, terima aja deh. Hahaha.

And then... kemaren sih tepatnya, gw ke kantor dengan semangat membara, nyetir dengan jumawa, udah yakin ga akan telat, pas sampe Pasupati, MACET! Gw marah-marah sama diri gw sendiri dan gw inget otak gw membatin... ga-ga penting gw ngebatin apa. Dan siangnya, mama nge-BBM gw, "Ki, punya buku 99 Cahaya di Langit Eropa?" dan percakapan BBM berakhir dengan, "Ok, ntar sore aku mampir ke Toga Mas deh Ma, beliin." Then, ga perlu lah gw ceritain perjalanan berdarah-darah gw kemaren, pokoknya malemnya gw baca itu dan...

KOK. BISA?

See, kenapa di awal gw bisa bertanya KOK BISA?!

It was like... gw dikasih pertanyaan sama temen gw itu dan tiba-tiba gw ga bisa berhenti baca buku itu karena gw berasa dituntun untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan dia itu. See? SEE?

Lucunya lagi kemaren-kemaren mama bilang gini, "Kamu akan terkaget-kaget dengan kekuatan pikiranmu." Karena gw kaget sendiri bok, selama baca gw kaget. Ok, gw ga akan mengkultuskan lah, tapi gw ngerasa ini kayak... ya emang Allah kayak nyodorin buku ini untuk gw baca sehingga gw mendapatkan jawaban itu. And riiiiggghhhtttt, this book is sooo mee. It makes me fall in love more and MORE with Islam. Seakan hati gw ditambatkan dalam keyakinan gw itu semakin dalam. Dan pertanyaan seputar bagaimana Barat yang terus maju, bagaimana kita harus bersikap pada para agnostik dan atheist, terus bagaimana harus bersikap dengan para non-Muslim, soal perbedaan, soal pemaknaan tentang Islam... and this... menjadi Muslim sejati seperti yang gw tulis di profile Twitter gw... bagaimana menjadi agen Muslim sejati itu. Ya Allah, gw masih ga percaya bok.

Yeps, barusan gw suruh temen gw ini baca. Entah deh dia bakalan baca atau engga, dia pernah bilang soal not forcing anyone with your own faith, so I won't force him. Tapi gw berharap dia bakalan baca juga.

Karena itu kan inti dari buku ini, Bacalah! Jika semua Muslim berpikir seperti itu, menelaah kehidupan dan memaknai setiap sisinya, kejayaan Islam itu akan bangkit lagi.

Then I realize something juga lho, gw sebenernya lebih mudah terguncang sama buku begini daripada baca Al-Qur'an. Dan itu buat gw sadar, sebenernya kalau gw memaknai Al-Qur'an dengan lebih, goncangan yang gw dapatkan akan lebih dari ini.

So I will start to read Al-Qur'an dan memaknainya.

And... please, take me to Europe!
Profile Image for Alien.
254 reviews30 followers
January 1, 2014
Buku yang "lumayan". Sudah lama rasanya tidak baca novel Indonesia yang cukup informatif dan buku ini masuk lah dalam kategori novel informatif.
Sayangnya, penulis buku ini tidak mengakui kalau mereka menulis sebuah karya fiksi. Mereka malah berusaha mengaburkan pandangan pembaca dengan menuliskan prolog yang seperti menggambarkan bahwa buku ini adalah buku non-fiksi, lebih tepatnya buku catatan perjalanan/kehidupan mereka selama di Eropa. Kalau penulis buku ini memaksa untuk memasukkan karnyanya ke dalam buku non-fiksi, saya tarik lagi dua bintang yang saya berikan sebagai penilaian saya ini. Kalau buku ini masuk ke dalam kategori buku non-fiksi, menurut saya buku ini hanya pantas mendapat satu bintang (yang artinya: "I did not like it").
Intinya, penilaian saya akan buku ini berdasar atas asumsi saya bahwa buku ini adalah sebuah karya fiksi berupa novel.

Secara garis besar, menurut saya penulisan buku ini bagus. Tidak seperti novel-novel islami lainnya, terlihat bahwa penulis memang bekerja sebagai penulis dan sudah terbiasa menulis. Kalimat-kalimatnya tidak canggung dan cukup mengalir.
Selain itu, beberapa fakta yang diungkap di buku ini, seperti yang saya bilang, informatif. Seperti contohnya cerita soal jalur kemenangan di Paris yang dibangun setelah Napoleon Bonaparte menang perang. Banyak orang Indonesia yang tidak tahu fakta tersebut, sehingga sangat informatif. Sayangnya, cerita-cerita tentang Islam yang di'temukan' di Louvre atau di tempat-tempat lain itu banyak yang tidak jelas sumbernya dan bukan pengetahuan umum yang kebanyakan orang tahu. Saat membaca bagian-bagian yang janggal mengenai cerita-cerita islami tersebut, saya jadi berpikir, seberapa banyak karya Dan Brown menginspirasi si penulis buku ini? Apakah tujuannya ingin menumpang keberhasilan karya Dan Brown? Bedanya, Dan Brown dengan tegas mengatakan bahwa karyanya adalah karya fiksi, sebuah novel, walaupun banyak orang yang memperdebatkan bahwa apa yang ditulis olehnya itu adalah kisah nyata.

Hal lain yang juga sangat mengganggu saya, terutama bila si penulis memaksakan bahwa karyanya ini adalah karya non-fiksi, adalah berbagai macam drama yang diselipkan dengan berbagai cara. Maksa shalat di Mezquita di Cordoba lah, menangisi lukisan seorang panglima Turki di museum lah, dan masih banyak lagi. Ada adegan-adegan drama begini dan masih mau mengaku kalau ini karya non-fiksi? Coba deh pikir sekali lagi.
Deskripsi situasi dan tempat-tempat yang digambarkan di buku ini cukup bagus. Bisa lah membantu orang-orang Indonesia yang belum pernah ke Eropa untuk membayangkan bagaimana situasi dan kondisi Eropa. Tapi ya itu tadi, kalau tidak lebay, pasti akan jauh lebih bagus.

Setelah saya selesai membaca buku ini, akhirnya saya memutuskan bahwa memang selera saya akan buku-buku bagus saja yang 'ketinggian'. Saat saya menutup buku ini, pikiran saya langsung terbang ke dua sinetron 'bernuansa islami' yang diputar di RCTI setiap malam, yang juga kesukaan mama saya. Dua sinetron tersebut tidak memiliki inti cerita apa-apa dan sangat digemari oleh banyak sekali penduduk Indonesia. Sama saja dengan buku ini: tidak ada plot cerita yang jelas, tidak ada klimaks dan anti klimaks, yang dijual hanya drama, tokoh-tokohnya tidak memiliki karakter yang kuat, sungguh standar. Saya jadi menyimpulkan bahwa buku ini bisa laris manis karena penulis mengerti betul pasar pembaca Indonesia, yang perlu disajikan hanya karya yang gak pake mikir, dan saya salut akan hal itu. Saya jadi ingin bisa menulis seperti itu, mengerti pasar, jadi bisa dapat banyak uang, kemudian bukunya dijadikan film, sehingga bisa dapat makin banyak uang.

Terakhir, ada satu hal yang sungguh sangat menggelitik pikiran saya sejak awal saya membaca buku ini. Ini penulisnya umur berapa sih? Saya seperti membaca tulisan sambil menyelami pemikiran orang tua saya. Ketakutan akan makanan haram tapi protes kalau dikasih makanan vegetarian, tidak berpikiran terbuka saat mengobrol dengan orang ateis malah berusaha berkhutbah, ketakutan sama orang-orang penyuka sesama jenis, dan lain-lain. Ini penulisnya berusaha beradaptasi dengan kehidupan di Eropa gak sih selama tinggal disana 3 tahun itu? Kok malah udah tinggal di luar negeri selama lebih dari 3 tahun tapi makin gak terbuka wawasannya dan rasa empatinya? Menurut saya sih sungguh sayang sekali kalau hal ini benar-benar terjadi pada si penulis.
Tapi kembali lagi ke asumsi saya diawal, mungkin kesan 'close-minded'-nya si penulis saya dapatkan ini hanyalah hasil karya si penulis sendiri - toh, buku ini kan buku fiksi, jadi saya tidak boleh percaya apa-apa yang ada di dalamnya.

Secara garis besar, buku ini pantas dibaca oleh orang-orang yang kurang berpendidikan dan kurang piknik. Bagi orang-orang yang berpendidikan, yah kalau mau hiburan seperti nonton sinetron sekali-kali, silakan coba deh.
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 13 books163 followers
August 24, 2011
Dalam lintasan sejarah, selalu ada sekelompok manusia yang merasa lebih baik, lebih unggul, lebih superior dari manusia lain, yang kemudian melahirkan istilah rasisme. Rasisme juga yang jadi salah satu faktor pendorong diskriminasi, kekerasan sosial, bahkan yang lebih parah: genosida--pembantaian/pemusnahan sebuah kelompok/suku bangsa oleh kelompok lain. Sebut misalnya yang dilakukan Julius Caesar terhadap bangsa Helvetia. Bangsa Anglo Saxon terhadap suku Keltik. Nazi terhadap kaum Yahudi dan Slavia. Khmer Merah terhadap rakyat Kamboja. Hingga pembantaian bangsa Bosnia oleh Serbia dan suku Hutu terhadap Tutsi,di Afrika.

Tanpa bermaksud menafikan rasisme yang juga banyak terjadi pada agama lain, sepertinya abad ini Islam (dan kaum muslim) menjadi sorotan utama dan dalam banyak kasus mengalami berbagai diskriminasi. Peristiwa 911 (tampaknya kejadian ini harus selalu disebut) seperti menjadi faktor penguat Islam vis a vis Barat (baca Amerika dan Eropa). Meski kecurigaan-kecurigaan selalu ada di kedua belah pihak, banyak pihak berusaha mengubah stigma "berhadap-hadapan" tersebut, menjadi stigma "saling menguatkan" (kutipan endorsement Anies Baswedan). Salah satunya buku ini.

Bertutur gaya fiksi, dengan bernas--dan dalam banyak sisi menguras emosi--penulis menyampaikan jejak dan pertautan Islam dengan Eropa melalui perjalanannya menapaki beberapa kota di Eropa, antara lain; Wina, Paris, Cordoba, Granada, dan Istanbul. Sekali duduk saja saya membaca buku setebal hampir 400 halaman ini. Penuturan penulis sangat lancar, tak bergenit diksi, tapi tetap meninggalkan rasa sastra yang cukup dalam. Pesan-pesan bertaburan, tapi tersampaikan dengan cantik. Tentang peradaban Islam yang (pernah) memukau, tentang keagungan tokoh-tokoh muslim masa lalu--sekaligus kesalahan besar yang pernah dilakukan, juga tentang "kekalahan" kaum muslim.

Melalui tokoh Fatma misalnya, penulis menyampaikan pesan dakwah yang cantik, membalas perlakukan buruk non muslim dengan kebaikan. Jujur saya iri dengan Fatma, muslimah "biasa" imigran dari Turki yang dengan cerdas menjadi agen Islam.

Melalui tokoh Marion, kita diajak menelusuri "rahasia-rahasia" yang mungkin tak banyak kita ketahui dari Museum Louvre dan Arc de Triomphe yang berkenaan dengan Islam.

Melalui Der Wiener Deewan, sebuah restoran berkonsep All you can eat, pay as wish di Wina, kita diajak menyelami makna ikhlas.

Dan masih banyak keping-keping perjalanan penulis yang akan menyadarkan kita, betapa Islam begitu mulia, begitu agung, tapi seringkali umatnya lah yang membuat jelek imej Islam. Seperti kisah Kara Mustafa Pasha, yang disampaikan dengan begitu menyayat hati.

Setelah Selimut Debu dan Garis Batas, buku ini adalah buku traveling tak biasa yang saya suka. Semoga lekas hadir buku berikutnya dari penulis :)
Profile Image for Amalia Shalihah.
24 reviews
May 20, 2013
Buku ini benar-benar mampu menyeret anda kedalam kemasyuran Eropa dari sudut pandang baru. Eropa yang biasanya identik dengan paris, roma beserta ikon kebesarannya. Tapi pernahkah anda mendengar Cordoba! Istanbul! Mungkin tempat-tempat ini hanya pernah anda dengar dari pelajaran sejarah di bangku sekolah dulu, ya sejarah islam. Buku ini menapak tilas kejayaan islam di Eropa melalui kunjungan sang tokoh utama ke tempat bersejarah tersebut. Penuturan mendetail mengenai suasana perjalanan, deskripsi arsitektur dan alur sejarah benar-benar membuat anda seakan berada disana! Intinya buku ini menceritakan banyak pemikiran mengenai islam yang seharusnya berjihad dengan cara menyebar intelektualitas bukan dengan jalan saling menumpahkan darah.
Gaya bahasa yang lugas mengenai sudut pandang penulis terhadap kemasyuran islam patut diacungi jempol. Namun asumsi-asumsi yang diceritakan saya harap ada bukti konkretnya, seperti benarkah napoleon bonaparte itu seorang muslim? Atau benarkah kaligrafi arab yang terpasang pada mantel raja roger?
Profile Image for Andrea Ika.
423 reviews22 followers
March 21, 2013
Perjalanan bukan sekedar menikmati keindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Perjalanan bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat2 unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Tapi perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yg lebih tinggi, memperluas wawasan dan menambah keimanan

” Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.” Hal.8

Mengutip kata-kata George Santayana: “Those who don’t learn from history are doomed to repeat it.” Barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya.

Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah Kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.


Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Juli 2011
Tebal : x + 412 halaman


Review
Dalam novel ini Hanum menceritakan pengalaman-pengalamannya selama tinggal di Eropa dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Eropa. Di buku ini diceritakan mengenai tempat2 bersejarah Islam di 4 Kota. Wina (Austria), Paris (Perancis), Cordoba - Granada (Spanyol) dan Istanbul (Turki).Di setiap tempat yang dikunjungi, penulis menyisipkan sisipan sejarah kebudayaan Islam di tempat tersebut.
Kuliner yang terkenal di Eropa yang ada hubungannya dengan Islam juga dibahas di buku ini. Katanya, asal roti Croissant bukanlah dari Prancis, melainkan diciptakan di Wina untuk merayakan kekalahan pasukan Turki.
Cappucino konon juga bukan berasal dari Italia, melainkan dari biji-biji kopi Turki yang tertinggal di medan perang Pertempuran Wina.

Kelebihan
Cerita dalam buku ini dikemas apik sehingga para pembaca mampu membayangkan apa yang dilihat oleh Hanum dan Rangga ketika mereka berada di Eropa. Rute perjalanan mereka bermula di Wina berlanjut ke Paris, Cordoba, Granada hingga Istanbul Turki. Dalam buku ini diuraikan pula bukti-bukti kejayaan Islam yang tertuang secara detail mulai dari bangunan, lukisan Kara Mustafa Pasha hingga mantel Raja Roger II yang berkaligrafi arab sehingga tidak terbantahkan bahwa Islam pernah cahaya di langit Eropa.

Ada banyak hal yang bisa dipetik dari buku ini. Mulai dari misi menjadi agen muslim yang baik, membuktikan bahwa Islam adalah rahmat untuk alam semesta hingga pemahaman bahwa ilmu pengetahuan dan agama seharusnya saling mendukung dan bukan dipertentangkan. Bukankah Al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk “membaca” dan ada hadits yang menyatakan bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan?

Kita diajarkan bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan jalan damai. Tidak peduli kita berada dipihak yang menang ataupun kalah, yang penting kita bisa bangkit dan bisa mengambil pelajaran dari masa lalu.

Kekurangan
saya merasa cara bercerita Hanum menjadi agak monoton ketika memasuki cerita Cordoba dan Istanbul.

Reading level : dewasa muda

Rating : empat setengah bintang

Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books66 followers
September 1, 2011
Saya putuskan 5 bintang untuk 99 Cahaya Di Langit Eropa. Dari halaman-halaman awal buku ini sudah memikat, bahkan sampai halaman terakhir sekalipun. Awalnya saya tidak mengira isinya akan sebagus ini, mengingat saya yang suka kurang peduli dengan tulisan-tulisan berbau sejarah. Namun ternyata saya salah besar. Buku ini keren sekali!
Menceritakan bagaimana perjalanan penulis ke berbagai negara di Eropa untuk menemukan eksistensi Islam pada masa kejayaannya di sana. Totally, merubah persepsi saya tentang Eropa yang jauh dari kesan Islami. Nyatanya, dulu justru peradaban Islam sangat kental di benua ini. Pernik-pernik fakta menarik yang tidak semua orang tahu menjadi nilai tambah. Penulis juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat menggiring pembaca kepada perspektif baru akan suatu kepercayaan dan perbedaan.

Ketulusan penulis untuk membagikan experiences nya saya yakin akan mengingatkan dan menumbuhkan kembali rasa bangga menjadi seorang Muslim dan betapa indahnya agama Islam disaat persepsi-persepsi negatif bermunculan.

bacalah!:)
Profile Image for ijul (yuliyono).
549 reviews949 followers
November 13, 2011
Melacak jejak Islam di Eropa

Sebagian teman, termasuk saya, masih mencantumkan Eropa dalam daftar tempat yang menjadi tempat favorit tujuan traveling. Tidak sekadar traveling, Eropa juga menjadi salah satu tempat yang paling diincar ketika ada tawaran beasiswa belajar di luar negeri. Tentu, dengan segudang alasan masing-masing. Bagi saya, simple saja, saya ingin merasakan nuansa Harry Potter-nya. Saya ingin ke stasiun King's Cross di London, hahahaha...

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya pasangan suami istri, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, ini dilabeli “Novel Islami – Best Seller” yang entah apa maksudnya. Memang ada sepenggal nuansa fiksi di bagian overture, namun ke belakang ini tampak non-fiksi banget bagi saya. Memang sih, buku ini terasa sekali nuansa novelisasinya, tapi bahkan si penulisnya sendiri bilang bahwa buku ini merupakan sekelumit catatan perjalanannya di Eropa dalam napak-tilas kedigdayaan Islam di masa silam. Jadi, label tersebut saya rasa kurang pas untuk disematkan pada buku ini. Soal ‘best-seller’, no comment deh, meskipun faktanya buku yang saya pegang-baca ini memang sudah cetakan ketiga juga sih.

Gaya penulisannya bagus. Diksinya juga pas. Singkatnya, buku ini enak untuk dibaca. Jarang saya temukan bagian-bagian yang membuat saya mogok karena kalimat yang sulit dicerna atau janggal. Persoalan saya yang terlalu lama menyelesaikan baca, itu murni kemalasan saya, hahaha. Pengetahuan tarikh saya tak begitu bagus, jadi ketika membaca ‘Eropa�� saya pikir penulis akan menuliskan cerita perjalanan mengurai Islam di (hampir) seluruh Eropa. Ternyata kisahnya hanya terjadi di empat kota di empat negara berbeda yang mungkin pernah kita dengar sewaktu pelajaran sejarah Islam di sekolahan dulu. Ahhh, harusnya ndak boleh protes, lha wong di sampulnya sudah jelas kok. Cuman ada empat gedung (bersejarah) yang ada di empat tempat tersebut.

Jujur, pada beberapa bagian saya ikut merinding membacanya. Saya benar-benar (serasa) digiring untuk ikut larut bersama perasaan Hanum dan Rangga ketika berkunjung pada tiap-tiap situs bersejarah Islam yang dikunjungi oleh mereka, dan mau tak mau membuat saya menjadi bercita-cita untuk dapat turut serta berkunjung ke sana. Semoga saja ada kesempatan yang digariskan dalam buku takdir saya. Amiinnn. Termasuk ke Mekkah. Sebagaimana disebut Hanum sebagai titik awal seluruh perjalanan dimulai. Betapa pun sudah menjelajah ke seluruh penjuru dunia, Mekkah selalu menempati posisi teratas dalam daftar tempat yang WAJIB untuk dikunjungi.

Saya menyukai buku traveling yang menyajikan begitu banyak warna budaya lokal di masing-masing tempat yang dituju. Tales from the Road-nya Matatita, Life Traveler-nya Windy Ariestanty, Kedai 1001 Mimpi-nya Valiant Budi, adalah sederet buku tentang perjalanan penulisnya yang kaya dengan taburan unsur lokal. Buku ini tak terkecuali, meskipun dari kacamata Hanum, ia memang mencari unsur Islam masa silam yang mungkin masih terselip di tiap tempat yang dikunjunginya. Ia mengkritisi beberapa hal dan saya bisa memakluminya.

Bagian paling kurang penjelasan, bagi saya, adalah overture. Meskipun, begitu kelar membaca, saya dapat menyimpulkan mengenai siapa dan peristiwa apa yang digambarkan dalam overture tersebut. Te-ta-pi...menurut saya, sebaiknya diberikan saja sedikit penjelasan sehingga bagian itu tidak seperti sedang berdiri sendiri di celah-celah gedung bersejarah yang bercerita. Terlalu terpisah, dan bagi saya, itu tidak bagus.

Ketika sampai di bagian Ka’bah, saya terhanyut pada filosofi yang dituliskan Hanum. Sepenggal saja, seperti ini:
Bentuknya demikian sederhana, namun begitu sempurna. Tak perlu membuatnya beraneka warna, tak perlu membentuknya aneka rupa. Hitam saja. Kubus saja.
...budaya barat mengidentikkan hitam dengan kematian, namun aku lebih suka mengasosiasikannya dengan pencapaian puncak. Bukankah dalam seni bela diri, sabuk hitam adalah pencapaian paling tinggi? Demikian juga dalam pencapaian gelar akademis; toga berwarna hitam.

(hlm. 382)

Sebagaimana banyak pengalaman para traveler, traveling menjadi semakin lengkap ketika traveler bertemu dengan banyak orang dan bahkan menjalin persahabatan dengan traveler lain yang ditemui di lokasi. Hanum dan Rangga juga ‘beruntung’ bertemu dengan orang-orang yang memberikan warna indah dalam perjalanan mereka. Sebut saja Fatma, Marion, Sergio, dan Ranti. Dari merekalah sejatinya perjalanan Hanum dan Rangga menjadi demikian syahdu. Dan, tentu saja, ini tentang napak-tilas sejarah Islam, sehingga unsur religi Islam tak dapat lepas pada setiap langkah pasangan muda ini. Unsur religi inilah yang membuat saya ikut tergetar, di waktu-waktu tertentu.

Namun, seperti kata pepatah, sealu tak ada gading yang tak retak. Setelah terbuai dengan diksi dan gaya penulisan yang menawan, typo justru mulai bertebaran di bagian tengah ke belakang. Seperti yang saya temukan ini:
(hlm. 293) menaklukan [padahal di halaman yang sama sudah benar tertulis menaklukkan]
(hlm. 293) penderitan [penderitaan]
(hlm. 294) ditaklukan [ditaklukkan]
(hlm. 305) keindan [keindahan]
(hlm. 345) membat [membuat]
(hlm. 367) kebahagiannya [kebahagiaannya]
(hlm. 371) berbicang [berbincang]

Overall, saya suka buku ini. Sampulnya yang setipe dengan Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi memang agak mengganggu, tapi saya sendiri menyukai gedung-gedung tinggi sih, so no biggie.

Hmm, saya berharap Hanum bisa menuliskan kisahnya yang lain. Tiga tahun di Eropa, masak cuman di empat negara tersebut, kan? Apalagi ia juga bilang sendiri telah berkunjung ke banyak tempat. Yang terpenting sih, aku suka gaya menulisnya.

Selamat membaca.
Profile Image for Noph.
3 reviews
January 28, 2012
Buku adalah jendela dunia.

Buku berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum SA dan Rangga A adalah salah satunya yang mampu membuatku termangu dan terpesona sekaligus. Buku yang sejak awal kusangsikan mampu bisa membuatku terhanyut ketika membacanya, tapi ternyata aku salah. Dan aku sangat bersyukur telah membelinya minggu lalu dan baru sempat ku baca hari ini. Jujur saja, aku baru menggapai halaman 95 saat tulisan ini dibuat, entah mengapa tangisku sudah berderai dan rasanya ingin segera menuangkan opiniku dalam laman ini mengenainya. Buku yang semakin lama ditiap-tiap halamannya mampu membuat ku tergugah akan arti Islam sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil’alamin. Islam pembawa rahmat bagi kehidupan manusia. Ah kawan, kau juga harus turut membacanya agar mengerti apa yg aku maksud. Bagaimana sang penulis begitu cerdas memadu padankan kata-kata menjadi rentetan kalimat yang mudah dan ringan dibaca, walaupun buku ini banyak sekali menggambarkan sejarah Islam di Eropa pada masa lampau, yang disampaikan melalui bahasa dan percakapan sehari-hari.
Aku sangat haus dengan buku-buku seperti ini. Buku yang mampu membuatku mendalami dan menyelami agamaku dengan kisah-kisah nyata sejarah Islam masa lampau dan kisah nyata manusia – manusianya masa kini tanpa harus berkhotbah dan menggurui panjang lebar yang bisa membuat mengantuk dan bosan. Ingin sekali aku bertemu dengan mereka yang selalu membawa berkah dan kebaikan bagi dunia akhiratku, seperti kisah penulis dalam buku ini. Allah merancang sedemikian indah guratan pengalaman dalam kanvas kehidupan seseorang, bagi siapa saja yang berbudi luhur, memiliki niat dan kemauan untuk menggali agamanya, menunjukkan dan menumbuhkan semangat dengan mempertemuakan mereka dengan hamba-hambaNya yang lain, yang memiliki semangat juang yang sama, berdakwah dalam damai dalam tingkah laku, ucapan dan perbuatan, sesuatu yang konkrit, mempertontokan islam yang sesungguhnya sebagai minoritas namun berkualitas.

Ah kawan...sekali lagi, kau memang harus turut membacanya.

“Aku yakin, sebagian besar manusia yang berpindah agama untuk memeluk Islam bukanlah mereka yang terpengaruh debat dan diskusi antar agama. Bukan karena terpaksa karena menikah dengan pasangan. Bukan karena mereka mendengarkan ceramah agama Islam yang berat dan tak terjamah oleh pikiran awam manusia. Bukan karena semua itu. Sebagaimana Ezra yang tadinya apatis pada agama, dia jatuh cinta kepada Islam karena pesona umat pemeluknya. Seperti Latife yang selalu mengumbar senyumnya. Seperti Fatma yang membalas perlakuan para turis bule di Kahlenberg dengan traktiran dan memberikan alamat untuk membuka perkenalan. Seperti Natalie yang percaya restoran ikhlasnya bisa merekahkan kebahagiaan para pelanggan. Saat itu aku yakin, orang-orang ini memahami dan mengerjakan tuntunan Islam secara kafah. Mereka paham bahwa dengan mengucap syahadah, melekat kewajiban sebagai manusia yang harus terus memancarkan cahaya Islam sepanjang zaman dengan keteduhan dan kasih sayang. Bagiku, orang-orang seperti ini tadinya too good to be true, tapi aku berani berkata : they are truly true.”
(99 Cahaya di Langit Eropa, page 94 – 95)
Profile Image for Wulida Nadhila.
10 reviews3 followers
July 22, 2015
Buku ini tergolong buku non fiksi catatan perjalanan, namun saya merasa penulis memaksa memasukkan karyanya dalam kategori non-fiksi. Bagaimana tidak? Beberapa scane dibuku ini drama sekali. Seperti menangis di depan lukisan Kara Mustafa Pasha, menitikkan air mata karena hasrat yang begitu besar untuk sholat di Mezquita yang telah berganti fungsi menjadi gereja, berdebat dengan seorang agnostic tentang konsep tuhan dan masih banyak lagi. Mungkin jika penulis memasukkan buku ini dalam kategori fiksi saya akan menaikkan bintang yang saya berikan.

Di awal-awal halaman saya "mulai tertarik" dengan kisah yang dibawakan penulis. Cukup informatif. Namun, semakin saya membalik halaman kesan informatif sayng saya berikan mulai tergantikan dengan kesan subjektif. Seperti yang saya katakan diawal buku ini membahas tentang sejarah islam di Eropa, tapi dasar yang di gunakan hanya "katanya" dan "asumsi orang". Tidak ada bukti-bukti sejarah, penulis hanya memberikan kronologis tahun di akhir buku yang sama dengan wikipedia, bahkan saya lebih memilih membaca kronologis tahun di buku pelajaran sejarah karena lebih mengasikkan.

Saya bertanya-tanya kenapa buku ini memakai format rata kiri, semua buku yang saya baca memaikai forman rata kiri-kanan. Apa ini kelalaian editor atau memang di sengaja seperti ini? Membaca buku dengan format rata kiri terasa cukup aneh untuk saya, terkesan tidak rapi.

Namun, selain kekurangan-kekurangan itu novel ini juga memiliki kelebihan. Salah satunya adalah kita sebagai pembaca akan merasakan seolah-olah sedang mengelilingi eropa dengan berbagai model pendeskripsian dari penulis.
Profile Image for Wardah.
834 reviews158 followers
February 12, 2016
Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendar berhasil menciptakan perasaan ingin tahu yang besar dalam diri pembaca dari sinopsis di kover belakangan novel nofiksi ini. Sepenggal paragraf yang membuat pembaca akan berbisik tidak percaya. Bagaimana tidak, Hanum dan Rangga dalam karya ini sudah menyuguhkan suatu pengetahuan tentang lukisan Bunda Maria berhiaskan kalimat tauhid.

Dalam paragraf selanjutnya, pasangan suami-istri ini menekankan bahwa buku yang Anda pegang adalah sebuah buku pencarian, perncarian jejak Islam di benua Eropa. Dan memang begitulah adanya. 99 Cahaya di Langit Eropa adalah sebuah novel perjalanan yang dikemas dengan cara yang tidak biasa, unik, dan berfokus pada perjalanan spiritual.

Dibuka dengan sebuah prolog yang menyimpulkan semua data perjalanan sang pengarang sebelum dilanjutkan dengan sepenggal kisah masa lalu tentang tempat yang didiami pengarang, Wina. Perjalanan pencarian dalam novel ini bermula dari Wina, ibukota Austria.

Meskipun buku ini merupakan nonfiksi dan novel travelling, Hanum dan Rangga menyajikannya dalam balutan kalimat sastra. Untaian perjalanan mereka dituliskan selayaknya sebuah novel, penyajian yang unik dari sebuah buku travelling. Pengarang yang juga melakoni sebagai tokoh utama dalam karya ini menceritakan perjalanannya dalam alur selayaknya sebuah novel, meski jelas saja tidak ada konflik yang dalam seperti novel-novel pada umumnya.

Perjalanan Hanum menyusuri jejak Islam di tanah Eropa bermula dari pertemua dengan Fatma, seoarang muslim Turki, di kelas les bahasa Jerman, di Wina. Perkenalan dengan Fatmalah yang melatari kisah dalam buku ini sebagai sebuah perjalan spiritual Hanum dan Rangga sebagai muslim, perjalannya yang memikat dan membuat pengarang semakin mencintai Islam.

Wina - Paris - Cordoba - Granada – Istanbul

Dalam buku ini, pengarang memberikan informasi tentang keagungan Islam pada masa silam serta masa kini. Hanum bercerita tentang Wina, tentang masa lalu Islam di Austria, tempatnya menetap. Juga tentang betapa Fatma, saudara seimannya di sana sudah membuka hatinya tentang menjadi agen muslim yang baik di negeri minoritas.

Selanjutnya perjalanan mereka berlanjut ke Paris, di mana sebuah kenyataan mengejutkan terungkap. Bahwasanya banyak inkripsi kalimat-kalimat Allah menghiasi artefak sejarah di Musim Louvre Paris. Cordoba dengan Mezquita dan Granada dengan Al-Hambra adalah destinasi selanjutnya. Melewati padang-padang Andalusia dan rumah-rumah yang memamerkan daging babi, pengarang menelaah peninggalan kejayaan Islam di masa lampau.

Dan perjalanan tersebut ditutup dengan kisah di Istanbul, Turki. Tentang sejarah serta kisah yang terkandung dalam bangunan-bangunan Hagia Sophia, Blue Mosque, dan Topkapi Palace. Sebelum akhirnya, Hanum menutup kisah perjalanannya dengan perjalanan ke tanah suci Mekah, tempat di mana ia menemukan destinasi perjalanannya, tempat ia menemukan jawabannya akan perjalan yang ia lakukan di tanah Eropa. Tempat Hanum menemukan kebenaran abadi.

Buku ini bukan menekankan pada perjalanan sang pengarang, tidak seperti buku perjalan lain yang mengungkapkan kisah suka-duka travelling atau semacam laporan perjalanan. Tidak. Hanum dan Rangga mengemasnya dalam balutan sastra novel, membuat kisah perjalan mereka seperti sebuah kisah novel fiksi. Dan semua kisah perjalanan yang mereka tuturkan lebih berfokus pada pencarian spiritual yang mereka lakukan.

Tentang perspektif atheis dan sekuler yang hidup di tanah Eropa sejak lembaran hitam yang ditawarkan agama, sejak kepedihan dan luka masa lalu atas perang antaragama. Pengarang menceritakan bagaimana luka yang ditimbulkan itu tidak bisa sembuh dan melahirkan luka-luka baru. Hikmah besar yang terkandung dalam novel ini adalah: Jadilah Agen Muslim yang Baik.
Bahwa agama mana pun mengajarkan kedamaian, sebagaimana kondisi Eropa—khususnya Cordoba—beberapa abad silam. Dan bahwa perbedaanlah yang membuat hidup itu indah. Hanum dan Rangga juga menyiratkan dalam buku ini tentang pentingnya memaafkan, pentingnya belajar dari sejarah masa lalu, dan pentingnya tidak fanatik atas sesuatu—bahkan agama.

Ada begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari karya ini. Sungguh, ini karya yang luar biasa! Membuka mata kita—sebagai muslim—untuk tidak menyerah dan berusaha maju. Bukankah Islam pernah mengalami masa gemilang? Lalu, kenapa Islam tidak bisa menjadi gemilang lagi?

Kekurangan buku ini bagi saya pribadi adalah pengarang terlalu menceritakan dengan detail hal yang sebenarnya tidak perlu. Selain itu gaya bahasa yang dipakai sederhana dan sedikit mooton, sehingga kesan itu semakin terlihat jelas. Itulah alasan kenapa saya baru menamatkan buku ini setelah sekian lama terpajang di rak buku.

Namun, bagian menjelang akhir buku ini sungguh membuat saya merinding. Karya yang luar biasa!
Profile Image for Yuliza.
31 reviews
January 14, 2013
99 Cahaya di Langit Eropa (99 CDLE) dengan sub tittle "Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa" pada awalnya aku pikir berisi 99 situs bukti kejayaan Islam di Eropa pada masa lampau. Ternyata aku keliru. Setelah membacanya aku menyimpulkan bahwa 99 Cahaya yang dimaksud Hanum mungkin adalah 99 Asmaul Husna. Yaa.. Lebih tepatnya Cahaya Allah, Nur Allah yang pernah menerangi Eropa pada masa itu.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika aku mondok di pesantren, akupun disuguhi dengan mata pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Aku ingat bagaimana aku dan teman2ku sering mengeluh susahnya menghapal silsilah para raja baik dari Dinasti Usmaniyah dan Abbasiyah, susahnya menghapal tahun2 dimana peristiwa penaklukan konstantinopel, perang salib, dan kejadian2 lainnya yang terjadi pada masa itu. Itulah sejarah yang diajarkan kepada kami waktu itu. Tapi 99 CDLE ini berbeda. Hanum menyampaikan sejarah dengan cara yang berbeda. Seperti dongeng pengantar tidur. Tiap bagian cerita baik itu petualangannya di Wina, Paris, Cordoba, Granada, dan Turki dalam mencari bukti akan kejayaan Islam ratusan tahun lalu membekas dalam ingatan. Semuanya seolah hadir kembali seperti sebuah film yang diputar ulang, dan aku tiba2 menjadi saksi bagaimana Islam bisa berjaya lalu kemudian karena hati yang penuh dengan keserakahan para pemimpinnya Islam harus takluk dalam peperangan..

Itulah sejarah..
Meski meninggalkan perih, tetap ada ibrah yang bisa diambil dari sejarah.. dan Hanum berhasil menyampaikan semua pesan2 itu dalam bahasa yang indah..

Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari cerita Hanum ini. Salah satunya belajar menjadi agen muslim baik. Dan bukti2 kejayaan Islam seperti mezquita, hagha sophia, mesjid biru semuanya mengajariku bagaimana indahnya hidup damai dalam sebuah toleransi, meski selalu meninggalkan air mata setiap mengingat cerita dibalik bangunan2 itu.

Perjalan terakhir Hanum, perjalanan spiritualnya ke Mekkah dalam rangka berhaji menjadi puncak totalitas hamba dalam mencari kemahabesaranNya. Dan Hanum berhasil membuatku meneteskan air mata di bagian ini. Menyadari bagaima kecilnya aku dan betapa Maha Besarnya DIA..

A recommended book, a must read!

http://www.zasachi.blogspot.com/2011/...
1 review
December 14, 2013
Saya nonton film 99 cahaya di bioskop karena saya lihat pak SBY juga nonton.
Menurut saya film in lebih lebih ke arah provokator bahwa seakan akan agama islam dibenci di negara eropa.
Cerita tentang perjalanan hanum menurut saya menarik sebagai cerita drama saja. Masalah sejarah islam, harusnya dikemas dengan lebih halus, bukan nya malah menjadikan agama islam sebagai "minority" dalam seolah dalam keadaan tidak dihargai di eropa.
Saya menghabiskan waktu 5 tahun study di negara barat, tidak merasa ada diskriminasi semacam di film ini secara bertubi2. Dan yang tidak menyenangkan dari film ini, kita sebagai tamu di negeri orang, tetapi minta perlakuan istimewa. Sangat kontras dengan keadaan di negeri sendiri. Memalukan.
Profile Image for Nor.
Author 6 books75 followers
October 27, 2015
Isi buku ini sangat baik untuk memberi gambaran tentang Islam di beberapa negara yang sempat dilawati oleh penulis.
Namun saya kurang meminati cara ia disampaikan, mungkin juga kerana faktor bahasa sedikit mengganggu keasyikan membaca.
Selain itu, buku yang dibeli di Jalan Palasari, Bandung ini mempunyai kualiti yang sangat kurang menarik dari sudut percetakannya menyebabkan tulisan dan fotonya kabur dan tidak dapat dinikmati. Emm...buku murah, kualitinya juga kurang.
Justeru, belilah yang original.
Profile Image for FinChu Harefa.
22 reviews17 followers
December 8, 2013
Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penulis : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra
Kategori : Novel Islami
Terbit: Juli 2011
Isi: 392 halaman

99 Cahaya di langit Eropa adalah sebuah novel perjalanan ditulis oleh putri Amien Rais yang bernama Hanum Salsabiela Rais bersama teman perjalanan sekaligus suaminya, Rangga Almahendra. Hanum yang lahir dan menempuh pendidikan di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM ini memulai petualangan di Eropa selama tinggal di Austria menemani sang suami, lulusan cumlaude di ITB Bandung dan UGM (S2), menempuh beasiswa S3 dari Pemerintah Austria di WU Vienna.

Sepintas lalu, novel ini seperti novel travelling kebanyakan yang mencoba menceritakan tempat-tempat dan bangunan indah pun menarik perhatian seantero dunia, namun setelah dibaca lebih lanjut ternyata novel perjalanan ini menguak hal-hal yang mungkin selama ini tidak pernah kita, sebagai muslim, bayangkan dan duga sebelumnya ada di ranah Eropa. Dengan kata lain, novel ini mencoba menunjukkan bahwa Eropa menyimpan misteri peradaban luhur sejarah Islam, tak hanya terbatas pada Eiffel atau Colosseum belaka.

Novel ini bercerita tentang perjalanan Hanum menjelajah Eropa yang terbagi dalam 4 bagian besar tempat-tempat yang dikunjungi Hanum, yaitu Vienna (Wina) – Austria, Paris, Cordoba – Granada, dan Istanbul. Terselibnya cerita pertemuan dan persahabatan Hanum dengan saudara-saudara muslim di tempat itu seakan mengajak pembaca untuk turut merasakan persahabatan pun kebersamaan selama perjalanan spiritual ini.

Wina

Magst du Schokolade

Maukah kau coklat ini?

Pada waktu itu Hanum mencoba cara yang lebih menarik dalam berkenalan dengan seorang muslimah asal Turki yang bernama Fatma Pasha dalam kelas bahasa Jermannya di Austria. Karena perasaan sesama muslimah itulah yang makin mendekatkan mereka dalam persahabatan di negara mayoritas non muslim tersebut.

Perjalanan pertama Hanum berkeliling Wina adalah karena ajakan Fatma untuk melihat keindahan kota Wina dari atas bukit Kahlenberg. Dari atas bukit ini, Hanum dapat melihat dengan jelas Kota Wina seutuhnya, termasuk sebuah sungai terkenal, Donau atau Danube, yang membelah dua Kota Wina. Tanpa dinyana oleh Hanum, ternyata di tepi Sungai Danube itu berdiri sebuah bangunan berwarna hijau dengan kubah blenduk dan minaret, Masjid Vienna Islamic Center – Pusat Peribadatan umat Islam terbesar di Wina.

Di bukti inilah Hanum pertama kali belajar memahami konsep Fatma tentang bagaimana menjadi agen muslim yang baik di Eropa. Selain itu juga mengetahui sejarah Islam bahwa Turki pernah hampir menguasai Eropa Barat sebelum akhirnya dipukul mundur oleh gabungan Jerman dan Polandia di atas bukit Kahlenberg.

Bersama Fatma, Hanum merencanakan mengunjungi beberapa tempat peradaban Islam di Eropa. Namun kemudian, Fatma menghilang secara tiba-tiba sehingga rencana tersebut sulit diwujudkan.

Paris

“Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat Laa Ilaaha Illallah”

Perjalanan Hanum di Paris dilakukan bersama mualaf Muslimah Prancis, Marion Latimer, lulusan Studi Islam Abad Pertengahan dari Universitas Sorbornne. Bersama Marion, Hanum menjelajahi Museum Louvre dengan koleksinya yang terlengkap di dunia mencakup hasil karya maestro-maestro dunia dan tentu saja lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci yang sangat tersohor. Di Museum ini jualah terdapat lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus dengan “penemuan” yang mengejutkan.

Tak kalah menarik adalah misteri Axe Historique, garis lurus imajiner yang tepat membelah kota Paris dimana bangunan-bangunan penting Paris tepat berdiri di garis tersebut (monument Obelisk Luxor Mesir, Jalan Champs – Elysses, dan berujung di Monumen Arc de Triomphe de l’Etoile) dalam kaitannya dengan arah Kiblat di Mekkah. Di Paris ini juga Hanum mendapat kesempatan menunaikan ibadah sebagai seorang muslim di Masjid Besar Paris, Le Grande Mosquee de Paris serta mengetahui sejarah Islam lainnya di Eropa.

Cordoba dan Granada

“yang lebih penting kau harus mengunjungi 2 tempat spesial di Eropa”

The true city of lights. Kota seribu cahaya, Cordoba. Di kota ini kita diajak oleh Hanum dan Rangga mengunjungi The Mosque Cathedral yang berarti masjid atau Mesquita dalam bahasa Spanyol, namun bangunan ini kini telah dialih fungsi menjadi gereja. Dalam perjalanannya mengelilingi Mesquita dengan dipandu oleh pensiunan tour guide mesquita, kita diajak untuk memahami lebih dalam betapa Cordoba pernah menorehkan masa keemasan Islam.

Perjalanan dilanjutkan ke Istana Al Hambra dengan latar belakang Pegunungan Sierra Nevada yang berwarna putih salju di Gordoba. Istana yang diserahkan oleh Mohammad Boabdil (sultan terakhir di Granada) kepada Isabella dan Ferdinand, the royal couple yang menorehkan sejarah kelam bagi Islam di Spanyol.

Sebuah istana dengan tiga ruangan berbeda yaitu benteng pertahanan Alcazaba, Pertamanan Generalife dan istana utama The Nasrid Palace. Nasrid Palace lah yang menjadi daya tarik Al Hambra karena menyuguhkan sebuah pemandangan menakjubkan berupa ukiran-ukiran kalligrafi Qur’ani kayu dan dinding yang menyerupai helai-helai kain berbordir halus dan berbelit-belit.

Istanbul

Disini, Hanum mengajak kita untuk melihat lebih dekat tentang Hagia Sophia, sebuah bangunan yang bernasib hampir sama dengan Mezquita di Spanyol. Musem yang pada awalnya adalah sebuah gereja namun dialih fungsi sebagai masjid setelah kejatuhan Byzantium ke tangan Turki Ottoman. Dilanjutkan dengan Blue Mosque, Masjid Sultan Ahmed yang berdiri tepat di depan Hagia Sophia.

Di Istanbul pulalah, Hanum akhirnya bertemu kembali dengan Fatma yang mengajak mereka mengunjungi Topkapi Palace. Istana ini menggambarkan kesedarhanaan kehidupan sultan-sultan Turki serta bangunan-bangunan asimetris yang tidak lazim dijumpai.

“Karena, menurut Sultan, kesempurnaan itu hanya milik Allah” (hlm 350)

Perjalanan dengan Hanum, Rangga dan Fatma di Istanbul menorehkan filosofi dan pengetahuan baru mengenai peradaban Islam di Turki dan menguak beberapa hal yang akan membuat kita, umat muslim, merasa bangga.

Kelebihan

Cerita yang disampaikan begitu santai dengan bahasa yang lugas dan sederhana sehingga seakan mengajak pembaca turut serta dalam perjalanan spiritual yang dilakukan.

Manfaat

Memberikan gambaran baru tentang Eropa selain keindahan dan kemegahan bangunan yang masyur di seantero dunia.

Dengan membaca novel ini kita dapat mengetahui perkembangan Islam di Eropa sehingga dapat menjadi agenda wajib apabila kita diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki kesana.



Satu kalimat Hanum yang begitu close to home buat saya:

“Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari itu. Perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan.” (hlm 6-7)

Gegara buku ini, saya ingin sekali melihat keindahan Eropa dari sisi sebuah perjalanan seperti yang diungkapkan Mbak Hanum.
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews10 followers
March 11, 2012
“Kok udah epilog lagi?” – Saya, beberapa saat yang lalu
***
Saya kayanya ga akan ngeriview isi bukunya gimana dan ga akan sebagus Irma dalm beropini. Karena saya yakin, baca sendiri lebih asik :) #tetep gapapa ya, nis! hehe
***
Kalo waktu SD, pas waktu istirahat, saya dan teman-teman suka ke perpustakaan. Perpustakaannya bagus loh! Lesehan, berkarpet, dan dindingnya bukan cat biasa, tapi lukisan! Lukisan itu bikinan A Dana. Cozy banget ^^ Suka lomba-lombaan sama temen minjem serial lima sekawan, sapta siaga, buku FLP, apapun deh yang ada di perpus. Terus bangga gitu besoknya udah tamat dan bisa minjem buku yang baru (ketauan pulang sekolah lain belajar, malah baca novel). Terus jamannya baca Harry Potter. Sampe hapal dialog, mantra-mantra, bab, nama orangnya.. haha segitunya.

Waktu SMP, hampir setiap hari ke Gramed merdeka da sekalian pulang atau ke Tri-A. Tidak lain dan tidak bukan untuk baca komik, novel, atau teenlit. Gitu-gitu lah standar SMP bacaannya. Yang paling berkesan ya pas baca Lukisan Hujan, Sitta Karina. Sampe-sampe mamah saya saat ini juga penikmat tulisan Sitta Karina. Berawal dari sini nih.

Di SMA, saya mulai dikenalkan sama bacaan yang lebih berkualitas. Maksudnya, saya tahu buku apa yang emang butuh saya baca dan buku apa yang ingin saya baca. Kadang seringkali, buku yang butuh saya baca ga semenarik buku yang ingin saya baca.

Intinya mah, dari SD sampe sekarang, saya hobi baca buku (syarat dan ketentuan berlaku). Setiap minggu pasti ada list tambahan buku yang harus dibaca. Dan saya semangat banget untuk memperpendek list yang udah saya buat. List buku wajib baca, list buku wajib beli, nabung. Indah banget :) Ini sebenernya yang agak hilang akhir-akhir ini. Jadi jarang baca buku. Satu buku masa bacanya satu bulan, plis lah -__-“ Malah ada yang ga tamat-tamat.

Daaaan, semua berubah saat negara api menyerang saya baca postingan Irma tentang buku ini.

Saya udah pernah liat nih bukunya di Gramed. Udah masuk list, tapi bukan yang prioritas. Mau langsung beli, tapi mahal nyaris 70ribu, ga punya duit. Ntar deh di BBC atau Rumah Buku. Ntar-ntar aja deh nabung dulu. Lagian pengen beli Rumah Cokelat juga.

Tapi, semua berubah saat negara api menyerang saya baca postingan Irma tentang buku ini.

Saya jadi ngotot banget pengen baca dan beli juga. Juan nawarin. Katany di FISIP senin ntar dijual dengan harga 55ribu. Cukup menarik. Tapi itu masih hari senin! Saya nyoba jalan lain. Ngajakin Irma, Mirnov, Ai ke ganyang, ke bang Irfan. Ada! Harga? 55ribu. Kata Irma dia belinya 48ribu di rumah buku. *ga mau rugi* Saya akhirnya ke rumah buku dan memang kenyataannya demikian. Sampe 31 Maret nanti, buku-buku terbitan Gramedia dan Elex diskon 30%! Alhamdulillah :)

Dan terjadilah, saya tenggelam sama kisah-kisahnya. Dalam sehari beres sudah.

Saya emang suka banget sama tipe buku sejarah yang bukan sejarah. Ini perpaduan laporan perjalanan dengan sejarah dengan renungan pribadi sang penulis. Apalagi ini tentang eropa dan Islam. Hmm mantep banget.

Saya baru tau fakta bahwa Croissant itu aslinya dari Wina, Cappucino itu dari Turki, Tulip itu dari Attonia Turki yang dikembangkan oleh Belanda, relief-relief dan bordiran di lukisan-lukisan yang ada di museum itu apa, ya dari buku ini.

Jadi makin pengen keliling eropa kan kan kan. Terus pengen guidenya macem Fatma dan Marion. Juga semakin terbayang. Kalo sering baca TL kang Hafidz, ya inilah wajah eropa sekarang. Dimana sebagian besar penduduknya kalo ga atheis, paling banter ya agnostik, sebagian besar loh ya, bukan semua.

Saya sebenernya ingin bertanya:
1. Kenapa judulnya 99 cahaya? Apa biar menarik atau ada arti khusus?
2. Karena sebenernya ini novel tapi bukan novel juga, apa tempat dan sejarah yang dituliskan disini memang benar sesuai fakta? (berhubung kalo kuliah cuma boleh pake literatur terpercaya). Tapi sebenernya mah, berarti saya yang harus nyari tahu lebih banyak ya.
3. Kok jarang dokumentasi pribadi ya? Padahal banyak kalimat yang menyatakan mas Rangga atau mbak Hanum motret sana-sini. Ternyata terjawab di akhir, hard disk tempat nyimpen datanya jatuh, sodara-sodara! :( Sayang sekali. Tapi tak apa. Malah bikin imajinasi saya semakin liar dan penasaran pengen nyaksiin sendiri. Terus so sweet kata mas Rangganya yang kira-kira, “Meski sebagian foto tak terselamatkan, tapi kita masih bisa menyelamatkannya dengan menuliskannya.” :3 Ha! Travel writer!

Ada lagi pertanyaan ga penting tapi agak annoying karena selalu menghantui sampe akhir, “Kenapa alignmentnya ga justify aja?”

Profile Image for Pera.
230 reviews37 followers
April 7, 2012
Dalam museum Louvre, Paris, di salah satu lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus, di bagian hijabnya, terdapat inskripsi arab yang bertuliskan "la ila ha Ilallah.


Axe historique...garis imajiner yang membelah kota Paris bernama lain "voie triomphale" yang berarti jalan kemenangan dibuat Napoleon, mengarah Mekkah / kiblat.

Dua informasi tersebut dalam novel ini cukup mengagetkan bagiku. Dan masih banyak informasi baru yang kudapat di dalam novel ini. Misteri peradaban Islam yang pernah mencoba mencapai seluruh eropa. Inilah bagian yang menjadi daya tarik novel ini,dan membuat rasa ingin tahu lebih banyak lagi untuk menyingkap misteri tersebut.
Novel yang membuat ingin tahu.


Hmm...kalau disebut novel, sebenarnya kurang tepat. Alurnya datar sekali. Konfliknya hanya ketika secara mendadak hubungan si penulis Hanum dan temannya fatma terputus. Perjalanan novel ini dilatari oleh cita-cita bersama Fatma dan Hanum mengunjungi jejak sejarah Islam di eropa. Namun kenyataan berkehendak lain. Hanya Hanum yang akhirnya mendapatkan kesempatan dan kemudian menuliskan kisah ini.

Novel perjalanan, ini sebenarnya seperti kisah di blog. Mungkin sengaja di kemas seperti novel agar lebih ringan dan menarik untuk menyampaikan pesan penulis, daripada dikemas dalam bentuk kisah perjalanan semata. Atau mungkin si penulis lebih nyaman menuliskannya dalam bentuk novel.

Saya suka novel ini. Pasalnya belakangan ini ada kecenderungan kelompok tertentu dalam Islam yang getol mengungkit-ungkit sejarah perang salib. Dan kecenderungan pengungkitan sejarah itu adalah untuk tujuan membangkitkan rasa perih luka dan dendam. Provokatif. Saya menyebutnya Islam Kebencian. Syukurlah dengan hadirnya novel ini paling tidak menjadi penyeimbang informasi sejarah. Toh sejarah bukanlah untuk menentukan siapa yang salah dan benar, tapi mengutip hikmah dan semangat pembelajaran untuk menjadi lebih baik.

Ada pemikiranku yang semakin hadir setelah membaca novel ini. Perang salib terjadi dimana ada perbedaan tingkat peradaban yang cukup mencolok. Islam pada masa kegemilangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan Eropa dalam zaman kegelapan. Zaman kegelapan yaitu dimana doktrin agama dipahami secara taklid buta. Ilmu pengetahuan tak dapat berkembang. Surga jadi alat tukar lembaga agama,dijadikan jaminan jika mati dalam membunuh muslim.

Nah....kondisi yang sebaliknya justru sedang terjadi. Dalam Islam juga ada janji imbalan 70 bidadari di surga jika mati dalam perang. Beberapa kali terucap dalam rekaman video pelaku bom bunuh diri di negeri ini. Perang cenderung ditafsirkan sebagai perang melawan agama/suku lain, dan bukannya perang melawan hawa nafsu.
Hawa nafsu kekuasaan, amarah, sakit hati masa lalu di kobar-kobarkan dan dipoles dengan topeng suci bernama "Jihad". Doktrin jihad yang bekal utama memahami Al-Quran. Kelompok tertentu malah melarang membaca buku, kecuali buku golongannya sendiri. Karena inilah menurutku, Umat Islam sedang dalam jaman kegelapannya. Dan perang salib wajah baru sedang berulang kembali. Dengan posisi peradaban yang sebaliknya.

Takluk menaklukkan itu tidak pernah ada kaitannya dengan kesucian agama. Perang Salib sesungguhnya adalah perang penaklukan daerah, bukan perang agama. Karenanya, meskipun perang, tetapi tetap terjadi interaksi pertukaran budaya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan selama perang ini terjadi dan kemudian memberikan terhadap kebudayaan selanjutnya. Sayangnya, hingga saat ini permusuhan antar agama tetap langgeng sebagai efek daya jual perang ini.

Perjalanan Hanum ternyata kemudian mengantarkannya bertamu ke Baitullah, Mekkah di akhir novel ini. Seolah novel ini menyampaikan ada pesan yang tersirat, Hidup adalah perjalanan menuju sang Pencipta. Sudahkah pencarian kita dalam hidup ini telah menemukan jalan tersebut?. Menemukan Sirhotol Mustaqim?. Semoga...Amien.
Profile Image for inas.
312 reviews37 followers
January 5, 2017
Banyak kata nggak baku yang bertebaran, kayak shalat, faham, mengelabuhi, terhenyak, menghadang sama typo kayak berbondong-bonding. Ada tanda titik yang dikasih spasi; cuma satu sih, but still. Tanda koma sebelum manggil nama orang juga banyak yang ilang, entah disengaja atau nggak. Padahal yang nulis jurnalis lho, dan ini udah cetakan kesembilan belas. Mungkin penulis mikir licentia poetica is licentia poetica. Hmm.

Beberapa kontennya lumayan. Aku suka pas ngebahas sejarah sama kalimat motivasi dari Kufac yang diterjemahin Marion. Cuman, informasi kayak bangunan-bangunan dan sebagainya terlalu ditumpahin jadi satu. Kadang sampe bingung satu bab ini ngebahas apa.

Ajaran Islam di sini juga terlalu flattering. Misal, pas Fatma nraktir bule-bule di Wina, Hanum bilang caranya ngebales ejekan tuh elegan lah, elok, dan sebagainya. Padahal menurutku biasa aja. Kayak, harus ya muji sesuatu yang katanya didasarkan kebaikan? Atau itu semua emang ada tendensi tertentu? Dunno, mungkin aku yang terlalu narrow minded.

Kalo nggak flattering, pasti ngalay. Kayak pas Rangga ditanyain Stefan tentang keberadaan Tuhan, Rangga langsung sok sakit hati kayak nggak terima. Padahal dia sendiri sebenernya percaya Tuhan, kan. Terus ngapain bereaksi kayak gitu? Buang-buang energi aja. Toh Stefan cuma tanya, nggak minta dia mengingkari agamanya sendiri. Cuma tanya, for shark shake!

Setiap kali dateng ke situs sejarah tertentu, Hanum pengin bangunan itu jadi masjid, jadi masjid. Sama kayak pas di Mezquita. Nggak tahu kenapa Hanum ngeyel banget mau salat di sana. Gara-gara kelakuannya ini, aku jadi mikirin dua kemungkinan: 1) Hanum nggak percaya takdir Mezquita untuk jadi gereja (tapi dia kan agen muslim yang baik; ya pasti percaya takdir lah ya), 2) Hanum rajin salat lima waktu ke Masjid tiap hari pas masih di Indonesia, bisa jadi masjidnya nggak cuma satu tapi banyak; jadi pas lihat peninggalan bersejarah yang bukan masjid kayak ekspektasinya, reaksinya agak di luar kendali.

Aku juga heran sama Hanum-Rangga pas Sergio bilang, Mezquita mending jadi museum aja (sama tentang agama yang dijadiin alasan peperangan). Mereka nggak setuju blablabla, tapi pas Fatma di Istanbul bilang Hagia Sophia jadi museum aja, mereka langsung main iya-iya. Sampe bilang kalo kekayaan perspektif Fatma ngasih semacam pemahaman baru buat mereka, untuk menilai segala hal dengan bijak oh too much flattering. Padahal, pendapat Sergio dan Fatma sebenernya sama. Harus ya orang muslim dulu yang bilang, baru setuju? Tapi nggak mungkin; Rangga sama Hanum kan agen muslim yang baik. Pasti ngerti lah yang namanya toleransi.

Terakhir, soal poster penyanyi/idola di kamar-kamar remaja; ngapain sih dipermasalahin? Toh itu kamar ya kamar mereka, nggak nempel di kamar anak Rangga-Hanum. Lagian poster ya poster. Cuma benda mati. Beda sama manusia yang pasti bisa ngendaliin diri sendiri, milih keimanan sendiri, bahkan otak mereka pun bisa dikendaliin. Tapi Hanum sama Rangga kan agen muslim yang baik; pasti ngerti lah ya mana yang Tuhan mana yang benda mati.

But then again, aku belajar sesuatu dari sini. Bahwa untuk menghargai sejarah, hargai juga Allah yang udah mengizinkan semua peristiwa itu terjadi, termasuk peristiwa-peristiwa yang mengikuti setelahnya.

"Pada dasarnya manusia tidak pernah benar-benar membela agamanya. Apalagi sampai mau mati. Mereka hanya membela ego mereka sendiri." —hlm. 286

Dan ternyata yang Mahabaik dan Mahabenar cuma Allah.
Profile Image for Sita.
167 reviews12 followers
July 12, 2012
Saya gak tau kenapa buku ini masuk di bagian novel karena menurut saya ini travelogue, catatan perjalanan jadi semacam memoir gitu deh. But never mind. Yang pasti buku ini sukses bikin saya mewek :) dan ga banyak buku yang bisa bikin saya menitikan air mata.

Hanum menulis dengan hati, dan pikiran. Perpaduan hati dan pikiran ini yang seringkali dibahas di buku ini seiring dengan penjelajahannya keliling Eropa, mengunjungi peninggalan2 Islam disana. Membaca pengalaman Hanum membuat saya sedikit menyesal, kenapa buku ini baru ada sekarang, bukan waktu saya masih ada disana? Kan jadi ikutan penasaran lagi ;) meskipun pada waktu berkunjung ke beberapa tempat yang disebutkan kami mendapatkan tour guide yang handal, tetapi mengetahui bahwa sesungguhnya masih tersisa peninggalan Islam disana...ah tentu kami akan berusaha mencermati dengan lebih teliti. Tak apalah, apabila memang Allah mengizinkan mudah2an diberi kesempatan kesana lagi.

Singkat kata, kalau mau ke Austria, Spanyol, Perancis dan Turki, serta tertarik dengan sejarah Islam, baca buku ini dulu deh sebagai intro ke beberapa tempat peninggalan Islam tersebut.

Profile Image for Cahyo Sukaryo.
21 reviews9 followers
September 19, 2011
Beberapa kali melihat buku ini terpajang di rak2 buku berbagai toko buku terkemuka, gue cuma mikir, "..ah, not another Travelling book.." Bosaaaannn.. walau sebenarnya hati sempat tergerak akibat cover nya yg cerah.

Untunglah saat libur Lebaran 2011, adik ipar gue meninggalkan buku ini di rumah; jadi gue sempat baca, dan lantas mengagumi isi buku ini yg sungguh kayak akan pengetahuan tambahan (misal: bahwa Austro-Honggaria pernah menjadi negara super power dunia di masanya), kehidupan sehari2 di suatu sudut Eropa (yg masih termimpi2 mau kesana, haha), berbagai teladan hidup yg inspiratif & menggugah (restoran all you can eat dg niat pemiliknya utk bersedekah), dan masih banyak lagi.

Sayang, berlawanan dg beberapa rekan di sini, justru semakin membaliki helai demi helai tulisan buku ini, semakin gue merasa bahwa tulisan ini sungguh 'lebay', dan penilaian untuknya terpaksa kembali jatuh terpuruk. Kali ini ke kategori, "another religion book". Proses pembacaan buku pun gue hentikan, dan bintang 5 yg sempat tersemat, dikoreksi menjadi 1 bintang saja.

Not recommended.
Profile Image for Hesa Kaswanda.
21 reviews21 followers
August 8, 2012
Buku ini adalah satu dari sedikit buku yang dapat membuat saya menganga kaget sekaligus takjub. Membayangkan ada jejak-jejak kebesaran Islam di Eropa, benar-benar menjadikan saya sangat hormat pada umat muslim yang berada disana sekaligus menambah rasa cinta saya pada Islam. Setelah membaca Ranah 3 Warna yang menjadikan saya ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri, 99 Cahaya di Langit Eropa telah mengukuhkan Eropa sebagai destinasi saya untuk kuliah.

Saya sangat memimpikan dapat merengkuh begitu banyak kearifan dalam agama yang sering disalah artikan banyak orang. Sama seperti yang dialami Hanum dan suaminya. Melalui perjalanan dari satu situs ke situs lainnya, masjid ke masjid, hingga bertemu dengan orang yang dapat menjadikan semuanya terang. Bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil Alamin.

Membaca buku ini akan membuat anda jatuh cinta pada Islam, bermimpi ke Eropa, dan kembali menelusuri ulang apa yang telah dijejaki Hanum sebelumnya. Great work!
Profile Image for Aries Setiadi.
Author 2 books7 followers
November 1, 2011
Sebuah buku yang awalnya say apikir akan membosankan, mengingat sudah cukup banyak buku dengan latar belakang "perjalanan hidup di luar negeri." Perjuangan mencari beasiswa, berangkat dari desa ke nergi orang, dan lain sebagainya. Namun ternyata buku ini berbeda. Perjalanan langsung di mulai di daratan Eropa, meski ada sedikit bagian yang menceritakan Indonesia atau masa sekolah di Yogyakarta. SSatu demi satu perjalanan diceritakan dengan mengalir dan asyik. Terkadang terasa lucu, kadang juga mengharukan, dan ada sedikit bagian yang cukup menggangu -- misal menceritakan korupsi di Indonesia (Aduh! Saya sedang asyik membaca buku dan sangat ingin jauh dari topik semerawutnya bangsa he he he).
Profile Image for Sekutu Buku.
13 reviews2 followers
February 23, 2015
Ketika pertama kali membaca buku ini, saya mengira ini adalah kisah nyata. Dan hal itu membuat saya takjub. Keren sekali memiliki kisah nyata seperti ini. Bertemu tokoh2 menarik.

But too good to be true.

Ternyata setelah mempelajari, membandingkan, dan meneliti lebih lanjut. Tampaknya ini bukan kisah nyata 100% ataupun catatan perjalanan yang berdasarkan real event. Yang saya akui nyata hanya beberapa catatan sejarah, impresi pribadi atas kunjungan2 ke museum dan kesimpulan pribadi juga dari melihat, mendengar percakapan, kata A, kata B, kata C. Bahkan saya mulai, maaf, menyangsikan apakah Marion, ahli sejarah dari Prancis itu benar2 nyata, dan apa yang ia katakan benar2 berdasarkan keilmuwan yang dia pelajari, memiliki bukti2 tertulis, atau hanya merupakan kepercayaan belaka.


Ini seperti mencoba membuat kisah fiksi sejarah Dan Brown yang lagi trend, Hanum dan Rangga mencoba bercerita ala Robert Langdon dan partner wanita, berdua menjelajahi mahakarya dengan misteri2 terselubung peninggalan peradaban Islam yang belum diketahui oleh (umumnya) pembaca Indonesia. Bedanya dengan Dan Brown, di awal2 halaman ditulis kisahnya adalah fiksi belaka. Sementara 99 Cahaya seolah tidak mau terjun ke kategori manapun murni catatan perjalanan, kisah nyata, atau fiksi. Seperti yang ditulis di Prolog : "Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian." Catatan perjalanan = non fiksi, bukan novel. Penulis juga saya lihat di webnya tidak (belum?) menjawab pertanyaan2 pembaca yang menanyakan soal realitas salam novel ini seperti, apakah Fatma Pasha itu sungguhan ada? Yang saya herankan, kenapa tidak terus terang saja bila banyak yang fiksi dan menyebut ini novel ketimbang catatan perjalanan?


Sebagai contoh adalah soal Napoleon kemungkinan masuk Islam. Sebuah tuduhan yang mungkin banyak kita temukan bertebaran di dunia maya, seperti tentang artis masuk Islam. Napoleon Kaisar Perancis adalah seorang conqueror, penakluk yang terinspirasi Caesar, Alexander The Great, dan dia memang sengaja melakukan pendekatan religius dengan penduduk setempat demi penaklukkan di Mesir (berdasarkan memoirs dan otobiografi Kaisar, ada yang dia sendiri yang mendiktekan kepada penulis). Dia juga menarik Pope di Roma untuk memahkotai dirinya sendiri walaupun mengaku tidak religius, demi memenangkan hati raja2 Eropa. Saya akan berpikir dua kali bila menjadikan Napoleon sebagai agen muslim dalam sejarah hehehe. Dari mana pernyataan ini sesungguhnya berasal? Beranikah dia mempertanggungjawabkan ucapannya? Bagian yang saya setuju soal arti Mesir, memang spesial bagi Napoleon dan itu jelas tertulis dalam memoirnya.

Pernyataan tentang axe historique yang seolah hanya dibangun oleh Napoleon dengan maksud tersembunyi (!), sementara jalan itu sendiri sudah melalui banyak pondasi dari jaman2 sebelumnya. Dan menuju Mekkah? Saya masih ingat, penyuka konsep satu garis lurus itu juga si Raja Matahari Louis IV, yang ingin menyimbolkan pusat kekuatannya dari Versailles, l'etat c'est moi. Sayang penulis tidak mengajukan bukti2 tulisan dan penelitian yang mendukung teori2nya ini. Dalam appendix 99 Cahaya juga tidak ada bibliografi bahwa pernyataan ini diambil dari sumber apa saja. Hanya catatan kronologis yang dengan mudah bisa kita cari di Wikipedia atau buku2 sejarah.


Berarti sumbernya, berasal dari "kata orang..." *gedubrak*


Cukup banyak pernyataan lain yang membuat kening saya berkerut. Kalau saya kupas lagi nanti kepanjangan. Seperti masalah rasisme kepada penganut muslim, seingat saya penduduk negara2 Eropa Barat, saat itu, sikapnya masih netral2 dan respek. Mungkin ada trauma pada imigran2 tertentu yang tidak mau berbaur tapi juga seringkali oknum2nya menimbulkan keresahan.

Dan pernyataan2 sejarah di buku ini jelas cukup kontroversial bagi bangsa lain. Tapi tentu saja mereka tidak akan mau menerima sebuah analisa dari bangsa asing yang menyatakan sebuah kasus tanpa menunjukkan bukti2 sahih. Buku ini mudah sekali diserang dari berbagai sisi.

Intinya, atas nama membuat umat muslim Indonesia menganga apakah kita perlu melebih2kan segala sesuatu?

Kalau begitu semua ini fiksi? Saya hanya bisa bilang, saya tidak tahu mana yang benar, mana yang tidak (imajinatif). Daripada pusing, tidak mau hanyut dalam ambiguitas, saya sebut saja novel. Tapi nggak semuanya fiksi kan? Iya, Monalisa, Louvre, dan sejarah2 lain dalam novel Dan Brown juga aslinya ada, kok. Bukan berarti kita akan bilang bahwa event di The Da Vinci Code itu semua masuk kisah nyata kan? *Karena pendeta Gereja Saint Sulpice saja sampai pusing menjelaskan ke turis bahwa "garis mawar" imajiner yang bermuasal dari sana itu cuma khayalan belaka*

Seperti halnya semua novel religi, tentu akan berjalan di sebuah tali bernama kepercayaan religius. Novel ini mengungkapkan hal patut di puji seperti menjadi "agen muslim" yang baik. Agen muslim disini artinya seperti mempromosikan agama dalam bentuk kesantunan dan budi pekerti yang baik. Karena bila anda adalah minoritas beragama di sebuah negeri sekuler, anda benar2 seorang "alien" dalam artian sebenarnya. Dimana kebebasan menjadi sesuatu yang diagungkan, dan aturan2 keagamaan dianggap sebagai penghambat, hal yang berasal dari abad kegelapan.

Di berbagai bab, 99 Cahaya menghindari jatuh ke bagian yang dinamakan ego religius. Tapi sempat gagal di bagian ketika penulis seolah larut mencoba sholat di Mezquita (kalau di filmnya adzan di Eiffel). Tentu saja itu hak anda kalau mau, tapi kurang pada tempatnya saja, menurut saya. Dan tidak memikirkan perasaan penduduk setempat. Alih-alih jadi agen Islam, malah dianggap orang aneh..hehe..

Bagaimanapun novel ini termasuk terobosan baru, berhasil meledak karena unsur "jalan2", "Eropa" dan "religi" nya. Selama ini dalam Islam yang namanya religi identik dengan bau Timur Tengah, belum ada yang mengkaitkan itu dengan Eropa, kareyna Eropa dianggap sebagai wisata sejarah kaum Nasrani (Lourdes dsb). Wisata sejarah dari kota ke kota berdasarkan sudut pandang religius di narasikan dengan menarik, jauh lebih menarik daripada kisah2 fiksi lainnya, saya bilang. Mungkin mengingat bahwa latar belakang pekerjaan salah seorang penulis adalah jurnalis.

Sedikit peringatan, bila memang anda adalah seorang muslim dan berminat mempelajari sejarah di buku ini, anda wajib mempelajari sendiri dari berbagai sumber, entah buku, dsb, kalau perlu kupas sampai ke dasar sumur. Apapun hasilnya, yakinlah itu tidak akan menggoyahkan kepercayaan anda karena yang anda temukan adalah murni catatan perjalanan umat manusia. Ketimbang hanya mendapat masukan separuh-separuh dan dari kabar2 belaka, bila ternyata tidak terbukti benar anda merasa kecewa dan keimanan menjadi goyah. Padahal bukan salah siapa2, salah kita sendiri, karena manusia diciptakan dengan akal dan harus menggunakannya itu juga sudah dituliskan ber-ulang2 dalam Al Qur'an.! Iqra! Bacalah! Pelajari! Bukan dari kata si A, si B, si C.

Jadi 99 Cahaya di Langit Eropa sebetulnya sebuah kesempatan bagus anda untuk mencoba mengupas sendiri satu2 kebenaran sejarah umat Islam, untuk kemudian silahkan anda simpulkan sendiri. Sampaikan kebenaran walaupun itu pahit. Bukan masalah percaya, atau tidak. Itu akan menjadikan buku ini punya makna lebih, dalam hal menjembatani sebuah keingintahuan religius.

Profile Image for RK Awan.
4 reviews
March 8, 2019
Not my cup of tea. Membaca buku (dengan genre seperti)ini tidak membuat saya tertarik untuk membaca seri selanjutnya. Ya, secara keseluruhan, saya tidak menemukan sesuatu yang menakjubkan, dan jujur saja memancing saya berkomentar dalam hati, "begini saja? dugaan-dugaan saja? kenapa tidak diinformasikan yang lain?"

Banyak yang bilang ini adalah buku yang dibuat untuk membawa pesan atau dakwah dari si penulis. Bagi saya sih terserah penulis saja. Tapi bila menyinggung “cahaya” dalam pengertian peradaban, menurut saya ada yang kurang disampaikan dari novel ini.

Banyak "diduga" atau "katanya" yang dikisahkan buku ini. Banyak yang bilang menemukan “wow” dari novel ini. Tapi bagi saya sendiri, saya tidak menemukan sesuatu yang “wow”. Mungkin jika saya boleh menambah atau mengedit novel ini, saya bisa menambahkan sesuatu yang lebih “wow”. :) Selain itu ada beberapa hal yang menggelitik saya.
Tentang “wow” dan hal yang menggelitik saya mungkin bisa saya tuliskan dalam beberapa poin:
-Tentang Mezquita –sudah dituliskan juga oleh beberapa reviewer lain. Haruskah? Apa faedahnya? Entah mengapa saya berpikir mungkin umat Orthodox ada yang berpikir sama dengan penulis kalau melihat Hagia Sophia. Atau, dengan konteks yang mungkin berbeda, seorang Belanda yang berkeinginan bendera negaranya berkibar di atas Lawang Sewu.
-Tentang Kara Musthafa Pasha(KMP) dan Francois Menou(FM). CMIIW. Di awal-awal, si penulis berpendapat “bukan begini caranya Pasha”, dalam pengertian si penulis tidak setuju dengan jalan bertempur yang diambil KMP. Tapi saat membahas FM, saya hanya menangkap rasa bangga dari penulis, tidak tertulis, “bukan begini caranya Menou”. Agak menggelitik bagi saya, bukankah mereka sama-sama prajurit? Apa mungkin karena KMP adalah pihak yang kalah sedangkan FM adalah pihak yang memperoleh kemenangan? Sehingga “bukan begini caranya Pasha” tidak berlaku untuk Francis Menou?
-Tentang kuffic, tidak aneh bila itu ada seiring seringnya interaksi Eropa dengan Timur Tengah waktu abad pertengahan. Mungkin saya bisa menambahkan tentang Templar yang salah pemahaman dengan “Baphomet?” :)
-Saat adegan bicara dengan tokoh atheis/agnostik, sayangnya tidak ada kisah tentang Muhammad bin Zakariya al-Razi, pemikiran-pemikirannya, juga polemiknya dengan Ibnu Sina dan Al-Biruni
-Saat menyebut Ibnu Rushd, sayangnya tidak disinggung Tahafut at Tahafut dan polemik Ibnu Rushd dengan Ibnu Sina dan Al-Ghazali. Mungkin juga kisah beliau yang pernah diasingkan dan buku-bukunya dibakar pada masa Sultan Abu Yusuf Ya’qub, karena pemikiran-pemikiran Ibnu Rushd tidak selalu disukai dan kadang dianggap membahayakan.
-Saat membahas Voltaire yang diduga menerima Tuhan, sayangnya tidak dibahas KeTuhanan Voltaire, hanya disampaikan dugaan dan seolah membuat begitu bangga. Mungkin KeTuhanan Voltaire berbeda dengan masyarakat kebanyakan? Seperti Ibnu Sina dan Al-Ghazali, sama-sama menerima Tuhan tapi KeTuhanan mereka berbeda
-Saat membahas Andalusia, sayangnya tidak dibahas Ibnu Thufail yang menulis karya bagus Hayy bin Yaqdzon. Saya pikir itu salah satu contoh karya tulis yang "wow". :) Review buku tersebut bisa dibaca di sini: https://rk-awan.blogspot.com/2017/11/...

-Menurut saya, “berkelakuan baik” yang ditulis di buku ini adalah suatu hal yang pantas diusahakan. Tapi bila bicara tentang “cahaya peradaban”, bagi saya ada yang harus disampaikan: hal itu tidak akan didapat (lagi) bila kelompok pemikir atau filsuf (macam Ibnu Rushd, Ibnu Sina, Ibnu Al-Haytham, dkk ataupun kelompok semacam Mu’tazilah) tidak diteruskan pemikiran-pemikirannya dan tidak mendapat penghormatan oleh masyarakat. NOTE: (Sekali lagi) pemikiran-pemikiran mereka bisa jadi asing dan dianggap berbahaya oleh masyarakat sekarang :)


2 bintang untuk penulisan yang lancar dan nyaman dibaca.

Sekian coretan review saya :)
________________________________
**Saya turunkan menjadi 1 bintang. Melihat tentang kejadian "operasi" dan "ambulan", menjadi membuat saya berpikir ulang tentang kisah di buku ini.
Profile Image for Husna Musa.
66 reviews
March 4, 2017
Membaca naskhah ini membuatkan aku terasa seperti bersama-sama penulis ke segenap kota Vienna, Paris, Cordova, Granada, Istanbul dan Mekah.

Meskipun sudah aku tonton adaptasi filemnya, ternyata tulisan asal Hanum Salsabiela ini lebih menyentuh dan terasa dekat sehingga ada bahagian yang bisa menerbitkan airmata.

Sebuah perkongsian pengalaman penuh fakta yang sangat menyentuh dan bermakna dalam menjejak sejarah peradaban Islam di bumi Eropah.

Ini benar-benar membuakkan rasa untuk menjejakkan kaki ke sana. Bukan sekadar berjalan mengagungkan binaan dan kemajuannya, tetapi untuk melihat sendiri bukti tinggalan sejarah khususnya sejarah Islam yang sudah berabad lama menapak di sana.
November 14, 2013
Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa)
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: PT. Gramedia, Jakarta
Terbit: Juli 2011
Isi: 392 halaman
Buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra memiliki tema menapak jejak islam di Eropa. Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan kedua penulis selama berada di Eropa. Hanum dan Rangga tinggal selama 3 tahun di Eropa saat Rangga mendapat beasiswa program doktoral di Universitas di Austria. keduanya berkesempatan menjelajahi eropa dan menemukan keindahan eropa yang tidak sekadar hanya Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Namun, mereka menemukan keindahan lain dari Eropa, mereka menjelajah sejarah dan menemukan bahwa Islam pernah berjaya di tanah itu. Eropa dan islam pernah menjadi pasangan serasi. Namun, ketamakan manusia membuat dinasti itu runtuh. melalui buku ini, penuli ingin menceritakan tentang beberapa tempat dimana Islam mempunyai kisah yang cukup menarik didalamnya. kisah-kisah dari beberapa tempat didalamnya yang bisa membuat penulis dan pembaca enggan untuk melakukan kesalahan yang sama. tempat itu antara lain Wina (austria), Paris (Perancis), Granada dan Cordoba (andalusia/Spanyol), dan Istanbul (turki).
Ditulis dengan gaya bertutur personal, buku yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais dan sang suami tercinta, Rangga Almahendra ini akan membawa kita ke dalam lingkungan hidup yang riil. Penuh dengan nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam maupun pada saat ini. Cara penyampaiannya pun sangat jelas dan ringan. Lewat kisah menarik ini juga, penulis akan membuka mata kita akan pernak-pernik kehidupan Islam di Eropa dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan.
Berbeda dari buku-buku traveling sebelumnya, akhir dari perjalanan penulis selama 3 tahun di Eropa ini justru mengantarkannya pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan diri pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna, Allah SWT.
Profile Image for Sharulnizam Yusof.
Author 1 book78 followers
November 15, 2015
Sudah lama memerap buku ini di almari. Bukan tidak mahu membaca, tetapi mahu menunggu sehingga ketiga-tiga buku penulis ini lengkap dalam koleksi.

Usai membaca buki pertama, nyata ianya berbaloi.

Aku tidak pasti apakah genre sebenar buku ini, fiksi atau non-fiksi. Watak-watak seperti Fatma dan Marion agak diragui keaslian kewujudannya. Namun ini sama sekali tidak mencacatkan perjalanan penceritaan. Hanum menggarap watak-watak ini dengan baik sekali.

Pengembaraan Hanum dan suaminya Rangga ke beberapa negara di Eropah, mungkin biasa sahaja kalau dilihat sekali imbas. Ya, kebelakangan ini ramai sahaja orang di keliling kita mengembara ke negara-negara empat musim itu. Cuma ianya menjadi terlalu biasa. Selalunya, mereka ini hanya melancong. Melihat dan melawat tempat-tempat terkenal, bergambar dan kemudian membeli-belah. Tidak ada nikmat mengembara. Sampai satu waktu, aku fikir Eropah (barat) itu membosankan!

Tetapi Hanum membuka lembaran baru dalam catatan seorang pengembara. Mengisahkan sejarah Islam di bumi Eropah. Ceritanya pendek, tidak berjela dan tidak terperinci. Tetapi sangat jelas dan mudah difahami.

Dan sangat menginsafkan!

Bagaimana langkah kerajaan Ottoman tersekat di Austria, bagaimana Isabella yang pembelit mengusir Islam di Sepanyol, dan bagaimana keruntuhan kerajaan Ottoman bermula dengan pemimpin yang alpa dengan duniawi. Kau juga akan faham, kenapa Eropah hari ini menganggap agama itu menyusahkan lalu memilih menjadi atheis, walhal satu ketika Eropah adalah pusat Kristian dunia. Kenapa ianya berlaku, sedikit sebanyak akan menimbulkan rasa takut. Betul. Kerana simtom-simtomnya sudah mula jelas di kalangan negara Islam.

Dalam keadaan dunia hari ini yang "menindas" Islam, kita seharusnya bangkit dengan cara yang lebih berkompromi. Aku suka dengan azam Fatma yang mahu menjadikan dirinya sebagai ejen Islam yang baik. Buktikan dengan perlakuan!

Buku ini aku pastikan menjadi koleksi kekal di almari!
Displaying 1 - 30 of 614 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.