Jump to ratings and reviews
Rate this book

2

Rate this book
Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia, dimana impian dibawa ke dunia nyata, tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita, remaja yang 'kelebihannya' adalah keterbatasannya. Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang dengan bermain bulutangkis terus kandas.

Suatu malam sebuah kenyataan pahit datang untuknya, sebuah kenyataan tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya, kenyataan yang berbicara lantang kalau bermimpi saja tidak akan pernah cukup.

Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.

Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani…

418 pages, Paperback

First published January 1, 2011

Loading interface...
Loading interface...

About the author

Donny Dhirgantoro

5 books284 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
492 (24%)
4 stars
529 (26%)
3 stars
663 (32%)
2 stars
249 (12%)
1 star
78 (3%)
Displaying 1 - 30 of 188 reviews
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
July 12, 2011
kesan awal membaca buku ini adalah... berlebihan.

jika dilihat dari opening na aja dah berlebihan banget. mungkin image 5 cm sudah melekat di rhe dari karya donny ini sehingga ketika baca 2 rasa na seakan penulis inngin mengubah tulisan na menjadi lebih... apa ya istilah na, lebih remaja kali ya. bahasa yang digunakan pun serasa ingin menggunakan bahasa-bahasa yang menghibur, tapi yang ada malah kesan berlebihan. apa karena cerita na tentang 'kelebihan' ya?

kalau si papa di bab pertama dah pengen ngelempar si dokter, si rhe pengen ngelempar buku ini ke penulis na. woi... kuk ga berasa masuk akal ya? apa karena penulis besar trus fokus ke tema yang besar maka na dia ga memperhatikan detail-detail kecil na? dari tahun dan sebangsa na.

pertama, liat aja di tahun 1998 saat gusni kelas 6 sd dan terjadi kerusuhan di bulan mei, 2 bulan kemudian kan juli ya? kenapa gusni na tetep sekolah, bukan na itu saat na EBTANAS (saat itu) dan berpindah ke seolah baru, dalma hal ini masuk smp.

kedua, khatulistiwa terbuka. ga tau apakah ini sama dengan piala khatulistiwa atau istilah fiktif yang dibuat si penulis karena sejauh pengetahuan rhe, piala khatulistiwa itu untuk olahraga tenis.

ketiga di potongan tahun terakhir, 2004. kuk berasa tahun ini ga habis-habis ja. coba aja buat alur waktu na (kalau lagi iseng) maka akan berasa ada yang ga klop dengan kalender yang ada. sengaja ga nampilin di sini nanti spoiler.

hanya saja, apakah ini bisa dibilang penulis besar? karena biasa na penulis besar akan terhambat dengan karya-karya sebelum na. berhubung 5cm bobm dengan tema isnpirasi, maka di sini pun ga jauh-jauh dari itu. kalau dulu perjuangan sekelompok sahabat untuk menaklukan ketakutan na akan puncak mahameru. sekarang perjuangan seorang perempuan menaklukkan penyakit na. dan apa yang didapat dari kisah ini.

seperti kutipan kata-kata seorang ibu kepada anak na:

kamu perempuan, kalau kamu nangis, nangis aja, tapi kamu harus punya alasan yang kuat untuk itu (hlm. 114)

dibagian ini rhe milai merindukan ibu, keluarga, sahabat dan siapapun itu yang selalu ada untuk mendukung rhe. yang ada di belakang rhe untuk bisa sampai di tempat sekarang ini. suatu perjuangan dengan banyak tangis dan tawa. saat pertama menaklukan puncak (lawu, saat itu), berapa orang yang terus mengoceh untuk rhe bisa sampai ke atas dan turun lagi dalam pendakian pertama na, dan sukses. saat ujian skripsi, sahabat-sahabat yang memilih nungguin di luar daripada ikut masuk ke ruang ujian karena tau setelah na... bahwa rhe akan keluar dengan keadaan menangis. pelukan-pelukan itu yang ga akan pernah bisa terlupakan.

mungkin kadang manusia harus kembali menjejakkan kaki na di atastanah tempat ia berdiri sekedar untuk menghitung jejak dan langkah kaki na, sejauh mana ia telah berjalan dengan langkah na (hlm. 232)

mungkin ketika membaca buku ini rhe kembali diingatkan. akan perjuangan-perjuangan yang ada dan akan teman-teman berbadan besar. teringat seorang teman yang pernah menetapkan kriteria cewe' na adalah cewe' berbadan besar, padahal dia sendiri adalah cowo' kurus walau tidak kering.

latar belakang (berasa penelitian) otong yang lebih nyaman dengan cewe' besar adalah karena mereka relatif lebih sabar dibanding sahabat na (tunjuk diri sendiri) yang kurus ini. hehehe...

dan ternyata hal itu terasa dalam aplikasi na kemudian. ternyata bersahabat dengan orang-orang gendut itu menyenangkan. komo, anak babi, n lung-lung. ntah kenapa nyaman banget bersama orang-orang ini (yang kadang bisa dimanfaatkan sebagai bantal atau bahkan kasur :D). jadi jangan remehkan mereka, karena tuhan sekalipun tidak pernah. sebab...

dengan impian dan kerja keras manusia bisa (hlm. 323)

cukup itu. dan sat ini rhe belum ngerasa terlalul bekerja keras untuk mewujudkan impian yanga da. jadi... saat na kerja keras untuk mencapai impian itu :)

-53-
Profile Image for Muhammad Ridwan.
192 reviews41 followers
July 21, 2013
Kesan pertama baca buku ini: ALAY!

Sumpah! Ini novel berlebihan, lebay, lebay, lebay, dan alay banget dari awal. Setelah mencoba untuk terus melanjutkan membaca, ternyata saya memang gak sanggup buat meneruskannya. 50 halaman sudah cukup membuatku stress.

Ini hasil keanehan dari halaman 1-50.
1. Kalau usaha pembuatan kok-nya cuma pakai alat tradisional dan gak punya pegawai (karena cuma 1 alatnya), kenapa bisa beli mobil? Apalagi saat itu kok sedang tidak laku karena produk Malaysia?
2. Segampang itukah prosedur buat operasi caesar? Tiba-tiba saja operasi begitu :/ . Lagian, percakapan gak penting yang aneh bin lebay dengan dokter tua itu. Duh! Bikin mules bacanya.
3. Bayi kembar? Suara jantung dari bayi yang tiba-tiba sudah diletakkan di inkubator? Nama yang tiba-tiba diberikan di tempat? Biasanya nih, orang tua itu bingung ngasih nama anaknya. Bahkan kadang, yang udah disiapin jauh-jauh hari pun minta saran/pendapat sama yang lain.
4. Banyak lagi... Males...

Memang, selera orang berbeda-beda.
Profile Image for Truly.
2,230 reviews
July 14, 2011
Jangan pernah meremehkan kekuatan seseorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah.
Citius, Altius, Fortius
Faster, Higher, Stronger

SAYA TIDAK SALAH PILIH!

Terus terang buku ini awalnya saya pilih dengan harapan bisa ikut mengembalikan saya ke alam produktif. Belakangan entah kenapa, saya merasa jenuh. Buktinya terlihat jelas, hingga nyaris tengah bulan baru 3 buku yang saya baca. Bukan salah buku-buku tapi konsentrasi yang terbagi membuat saya cepat merasa lelah dan jenuh.

Saat mencari buku untuk dibaca di kereta api dalam rangka tour of duty kemarin, mata saya segera tertuju pada buku ini. Secara pribadi saya menaruh harapan besar pada buku ini. Donny yang saya kenal di kampus dan klub foto selalu punya ide sederhana tapi spektakuler hasilnya.Sepasang sepatu di Musholla misalnya, bukanlah sebuah pemandangan yang luar biasa. Wajar jika banyak sepatu yang diletakkan di depan Mushollah. Tapi D****h (panggilan mesranya) bisa mengabadikannya menjadi sebuah foto yang unik dan mampu bercerita banyak. Saya yakin buku ini bisa menawarkan sesuatu yang berbeda.
Lihat saja kovernya. Hanya tulisan angka 2 dengan warna yang sungguh kontras. Tipe huruf yang digunakan, jika kita perhatikan akan bersinggungan dengan kisah yang ada. Tidak hanya tipe huruf sebenarnya, tapi juga latar belakang kover yang berwarna merah serta warna angka dua. Semuanya merupakan simbol dari kisah yang ada. Bukan latah menerbitkan buku dengan judul bernuansa angka, namun saat membaca buku ini, terutama mulai halaman 410, pembaca akan mengerti kenapa buku ini diberi judul 2.

Membuka lembar awal, kedua alis saya sempat bertemu. Ceritanya kok….Tapi kian kebelakang alis saya kembali ke posisinya masing-masing. Yang terdengar justrui tawa lepas saya. Sampai saya mendapat tepukan halus plus peringatan dari mama yang duduk di sebelah, “hush… ini kereta api yah bukan kamar kamu. Mbok yah dikecilkan sedikit ketawanya, anak perempuan jiee” Duh si mama segini masih saja disebut anak. Tapi yah begitulah seberapa umur saya, buat beliau saya tetap anak kok he he he.

Buku ini berkisah mengenai kehidupan seorang anak yang tegar, bersemangat , gemar berolah raga dan pantang menyerah. Kisahnya dimulai dari sebuah keluarga harmonis yang sedang menunggu kelahiran anak kedua. Kedua orang tua mereka dipanggil Papa Gita dan Mama Gita. Panggilan itu terasa wajar mengingat Gita merupakan anak pertama mereka, dan masyarakat kita sering memanggil orang tua berdasarkan nama anak pertama.

Kehamilan sang mama berjalan dengan normal. Namun saat melahirkan baru diketahui ada sesuatu yang berbeda dengan sang bayi. Bayi yang lahir super jombo itu diberi nama Gusni Annisa Puspita. Di sini Donny mulai memainkan emosi pembacanya. Pembaca dibuat bertanya-tanya kenapa Gusti begitu berbeda dibandingkan kakaknya. Apa perbedaannya dan apa yang menyebabkan perbedaan itu.

Perbedaan yang terlihat jelas pada awal kisah adalah Gina menjadi pemain bulutangkis profesional sementara Gusni harus puas dengan mengayunkan raket nyamuk dimana saja. Nyaris sampai setengah buku pembaca baru mendapat jawaban dimana dan apa yang menyebabkan Gusti berbeda dengan kakaknya, Gina.

Sebagai bumbu, Donny juga memasukan sebuah kisah cinta yang jauh dari menye-menye. Kisah cinta yang dimulai dari sepotong kue onde-onde dan restoran bakmi. Saat kecil hanya Harry yang mau bersahabat dengan Gusti si anak perempuan. Saat usia SD hal ini jelas dianggap aneh. Setiap anak laki-laki memiliki anggapan yang nyeleneh soal anak perempuan. Menurut anak laki-laki, anak perempuan itu acak-acakan-tidak jelas maunya. Anak perempuan itu cerewet, galak tapi cengeng, nenek sihir, tukang ngadu. Hem tunggu sampai mereka besar sedikit pasti anggapannya berbeda. Keduanya memiliki kesamaan sangat menggemari onde-onde dan bakmi plus ukuran tubuh yang super jumbo.

Kisah cinta antara Harry dan Gusti tidak hanya dibumbui dengan romantisme ala remaja namun juga dengan rangkaian kebersamaan yang membuat mereka saling menguatkan satu dengan yang lain. Melalui Harry, Gusni mengerti apa itu cita-cita. Cita-cita menurut Harry adalah sesuatu yang baik buat diri kita sendiri, sesuatu yang membuat diri kita senang kalau melakukannya. Tertular semangat Gusni, Harry terpicu untuk mengembalikan cita-cita masa kecilnya. Gusni mampu tegar karena ada Harry disisinya.

Sosok kedua orang tua Gusni juga terlihat sangat mendukung kedua anaknya tanpa membedakan apakah Gusni membutuhkan perhatian khusus atau tidak. Keduanya mendapat perhatian yang seimbang. Sang Mama selalu memberikan petuah yang menyejukkan. Beliau selalu memberikan dorongan dan semangat bagi Gusti. ”Kamu perempuan Gus, harus berani, Mama mau kamu kuat dan berani, Gus... kamu berani mencintai dan kamu mencintai dengan berani”

Dibandingkan dengan buku-buku lain, buku ini memiliki keunikan pada setting dan tema cerita. Setting peristiwa dalam buku ini beragam, antara lain saat kerusuhan 1998 yang lalu. Donny mampu membuat saya merasakan ketakutan yang sama seperti saat itu. Bayangkan saja, rumah sakit tempat saya melahirkan ditimpuki batu karena dianggap berhubungan erat dengan rezim Orde Baru. Saya sampai menyusun semacam rencana penyelamatan diri dengan rekan sekamar yang juga baru melahirkan, sekedar mengantisipasi jika terjadi kerusuhan. Ketakutan yang dialami Harry dan Gusni membuat saya juga teringat bagaimana khawatirnya saya pada nasib keluarga dari pihak sana. Mengingat mereka memiliki darah China

Tema cerita seputar seseorang yang bersemangat menghadapi hidup ini walau divonis berumur pendek sepertinya bukan tema baru. Tapi Donny membuatnya berbeda dengan membentuk sosok Gusni sebagai seorang atlit bulutangkis. Kisah bagaimana ia berusaha sekian tahun guna mencapai cita-citanya sungguh mengharukan. Apalagi ditambah dengan semangat hidupnya. Dijadikannya cita-cita masa kecilnya sebagai semangat hidup, sebagai pemberi kekuatan dalam menjalani sisa kehidupan yang entah sampai kapan.

Saya tertawa membayangkan betapa semangatnya Gusni mengayunkan raket nyamuknya. Saat orang memuja sang kakak, Gita sebagai pemain bulutangkis, Gusni justru terkenal dengan raket nyamuknya. Tawa saya kian keras saat membaca bagaimana Gusni berhadapan dengan para preman menggunakan raket nyamuk. Aduhhhhhhhhhhhh sakit perut saya gara-gara tertawa.

Tapi…, saya ikut meringis saat membaca bagaimana sedihnya Gusti kehilangan Harry sahabatnya saat SD. Bagaimana Gusti nyaris tak mau memakan onde-onde, kue kegemaran mereka berdua. Atau saat Gusni mendatangi taman tempat mereka dahulu sering duduk-duduk. Juga saat membaca bagaimana restoran bakmi milik keluarga Harry habis dibakar saat kerusuhan.

Selain mengisahkan semangat Gusni, ada juga kisah mengenai pelatih yang tak pernah pantang mundur dan bersemangat membagi ilmunya. Selama melatih ia....duhhh sebaiknya saya berhenti disini jangan sampai nanti jadi spoiler.

Secara keseluruhan buku ini menarik, menghibur dan memberi motivasi. Hanya ada hal yang ingin saya tanyakan kepada penulis sebenarnya. Misalnya saat restoran bakmi milik keluarga Harry diamuk massa, maka Harry dan sekeluarga pindah rumah dan sekolah. Tapi seingat saya keluarga Gusni tidak pindah, lalu kenapa Harry tidak berusaha menggubungi Gusni ? Dalam kisah ini tidak disebutkan Harry pindah keluar kota, bahkan mereka sempat berselisih jalan saat mengunjungi puing restoran bakmi Seolah-olah mereka terpisah jarak yang sangat jauh hingga tidak bisa berkomunikasi. Baru saat reuni mereka bertemu, atau ada penjelasan tapi kejenuhan membuat saya kurang memperhatikan?

Jika disimak lebih dalam, kisah ini memberikan banyak asupan moral. Pertama, bagaimana pun juga keadaan kita, janganlah pernah menyerah. Berjuanglah mencapai impian, karena hidup tanpa impian akan membuat hidup kita berjalan tanpa arah. Ada harapan disetiap keterbatasan.

Kedua, cinta bisa kadang kapan saja, dimana saja dan dalam wujud yang beraneka ragam. Kisah cinta Gusni dan Harry justru dimulai dari kue onde-onde. Kisah cinta dimulai dari persahabatan sekian lama. Ketiga, jangan pernah meremehkan kekuatan seseorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah. Gusti justru mampu berjuang disaat ia merasa lemah. Saat semua orang mengasihaninya, Gusti justru membuktikan ia sangat tidak layak untuk dikasihani.

Di tanah air Bulutangkis atau badminton bisa dianggap olah raga rakyat. Olah raga ini sering dimainkan di kampung-kampung dan dilombakan saat acara menyambut Hut RI. Mirip dengan tenis, bulu tangkis bertujuan memukul bola permainan yang dikenal dengan istilah kok (berasal dari shuttlecock) melewati jaring agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah ditentukan dan berusaha mencegah lawan melakukan hal yang sama. Olah raga ini dimainka 2 orang untuk tunggal dan empat orang untuk ganda.

Bulutangkis memiliki sejarah unik. Bulutangkis atau badminton mendapat namanya dari Badminton House di Gloucestershire, Rumah dari Duke of Beaufort, dimana olahraga ini dimainkan di abad terakhir. Sebelum Badminton House, ada sebuah permainan yang disebut poona (permainan yang dimainkan oleh petugas stationed tentara Inggris di India).

Lalu apa hubungannya Gusni dengan olah raga bulutangkis?
Bagaimana nasib hubungannya dengan Harry?
Siapa sosok yang selalu berlari setiap jam 05.00 WIB?
Dibaca saja yah he he he he

Sebait kalimat Mama Gita sepertinya layak untuk menutup repiu ini, ” Aku adalah seorang wanita, aku adalah kekuatan, aku adalah kelembutan, aku adalah ibu dari cinta.”
Profile Image for AmaLia.
16 reviews
October 3, 2011
Agak kecewa sebenarnya.. Mungkin karena udah terLaLu 'mentok' sama 5 cm. Mungkin karena gwe sendiri udah berubah, jadi udah ga mempan 'diceramahi' panjang Lebar - biarpun tetep ada beberapa quotes yang inspiratif, tapi makin ke beLakang makin susah masuk ke kepaLa, mungkin karena udah terLanjur bosan. Tapi seenggaknya gwe dan Gusni sama-sama berjuang.. Gusni berjuang meLawan segaLa keterbatasannya, dan gwe berjuang mengkhatamkan buku ini.
Profile Image for macrogasm.
5 reviews1 follower
February 16, 2014
I only gave 1 out 6 to this novel, just trying to be honest that in my opinion this novel is "agak maksa".
Saya belum pernah baca 5 cm yang katanya masterpiecenya Pak Donny banget, saya nonton sih filmnya (dan kurang suka, cuma suka cinematography dan fedi nuril nya doang). Jadi saya gak bisa bandingin 5 cm dan 2, tapi ga perlu dibandingin aja menurut saya novel 2 ini udah 1 out 6 banget.
Saya tertarik awalnya karena rekomendasi teman, katanya lucu dan unik. Memang humornya lumayan menghibur dan ceritanya tidak biasa : wanita muda obesitas yang beruasaha jadi juara bulu tangkis tingkat dunia. But it still don't make any sense. Dan ceritanya terlalu terfokus ke tokoh utama, Gusni. Gusni dan masa kecilnya, Gusni dan kekuatan pergelangan tangannya, Gusni dan beratnya... Terlalu fokus ke tokoh sampai-sampai cerita yang seharusnya lebih dikedepankan malah menjadi tercecer sia-sia.
Saya kira mungkin sang penulis kurang melalukan research yang dalam untuk novel ini. Ide yang kuat tapi fondasi cerita yang kurang logis sama saja dengan agar-agar panas yang baru beku permukaan : gampang hancur. Ehm, maaf terlalu "jujur"
Sekian, semoga bisa jadi masukan positif kedepannya.
Profile Image for Agustina Masito.
20 reviews2 followers
January 22, 2014
Saya adalah salah satu orang yang menunggu dengan gak sabar munculnya buku kedua donny, tetapi setelah muncul saya termasuk orang yang kecewa. Buku ini terlalu bertele-tele dan ketebalannya seperti kesia-siaan. Donny mencoba mengeluarkan kritik sosialnya di sini, tetapi menurut saya terlalu ringan dan hanya menyentuh kulit.


Buku ini menceritakan tentang bulutangkis indonesia. Dony jelas punya visi ingin membangkitkan kembali prestasi bulutangkis indonesia, minimal membangkitkan kembali euforia masyarakat indonesia trhadap cabang olahraga itu. Tetapi kisah ini terlalu dramatis dan dibuat-buat.

Idenya tentang selalu membawa raket karena dikerubungi nyamuk buat saya terlalu memaksakan.

Semoga buku selanjutnya bisa sebagus 5 cm.

salam
-just
Profile Image for Mikochin.
133 reviews21 followers
August 22, 2012
Sebenarnya buku ini menarik. Masih tidak jauh dengan 5cm, penulis sepertinya berusaha menyampaikan dan memberikan motivasi bagi para pembacanya, baik dalam menjalankan hidup, termasuk pula menaruh harapan besar pada dunia perbulutangkisan Indonesia.

Hanya saja saya agak kurang sreg sama gaya menulisnya. Entahlah, terlalu banyak kalimat yang tidak perlu, diulang-ulang hingga monoton, dan sebagainya. Dan terus terang saya termasuk pembaca yang cenderung menjudge suatu buku dari gaya menulisnya, sehingga karena sedari awal sudah tidak nyaman dengan penulisannya, akhirnya untuk menghabiskan membaca buku ini rasanya saya harus bersusah payah :/
Profile Image for Marina.
2,001 reviews310 followers
July 3, 2016
** Books 171 - 2016 **

3,1 dari 5 bintang

Saya sebenarnya suka dengan konsep kegigihan Gusni yang memiliki penyakit mematikan tetapi ia tidak mau menyerah dengan keadaan tetap berlatih bulutangkis sampai ia benar2 bisa berhasil

Sayangnya saya kurang menyukai gaya penulisan buku 2 ini apa terlalu banyak kalimat yang lebay ya. Banyak juga kata "berlebihan" didalam novel ini yang saya lihat rajin berseliweran didalam novel ini. Saya masih merasa lebih suka dengan tulisan mas donny di 5 cm yang lebih natural dan apa adanya.

Terimakasih iJak untuk peminjaman bukunya

• Brebes, 3 Juli 2016 •
Profile Image for Ajeng.
47 reviews6 followers
December 4, 2011
Reading 2 by @Donny5cm Big book, skipped most parts because it's boring.BUT this is an important book maybe for Indonesian children-teenager, in terms of teaching kids to work hard and dream. The storyline is in the calibre of children stories, not comparable to high quality contempary work such as Laskar Pelangi. I will save this book and lend it to someone much younger, a school kid maybe, while regretting the fact that I had a curiosity to buy it in the first place. If you're a literature reader, don't bother reading this book.
Profile Image for Laras.
11 reviews
April 19, 2015
Saya membutuhkan kerja keras buat menyelesaikan buku ini (pret).

Sebenernya bahasa yang dipakai nggak menyulitkan, malah cenderung nge-pop.
Tapi, hmmm...

Oh iya, ini bakalan banyak spoilernya.

Sebelumnya, saya mau kasi pujian dulu buat buku ini. Angkat topi buat covernya yang bagus banget, mulai dari desainnya, warnanya, font yang dipake, saya sukaaa! Saya juga suka judul-judul yang dipakai penulis untuk buku-buku yang dikarangnya. Judul yang dia pakai itu singkat tapi bikin kita jadi nanya-nanya.

Tapi selain covernya, enggak ada lagi yang saya sukain dari buku ini. Entah barangkali memang bukunya yang aneh atau sayanya yang aneh, tapi buku ini bener-bener bikin saya pengen ngomel-ngomel hahaha. Lagian saya maksain baca sampai habis gara-gara ada badmintonnya. Tapi ternyata bagian badmintonnya juga super ngeselin.


Yaudalah, saya udah kebanyakan ngomel buat buku ini, padahal saya juga belum ada karya apa-apa. Maaf kalo bahasanya menyinggung, ini hanya pendapat jujur (dan lumayan subjektip juga) dari saya. Anyway, ini cuma masalah selera. Toh buku ini termasuk best seller.

Thanks
Profile Image for htanzil.
379 reviews137 followers
September 7, 2011
Setiap manusia memiliki cita-cita namun terkadang apa yang dicita-citakannya itu terhalang oleh keterbatasaan dan ketidaksempurnan hidup. Untuk itulah kita perlu memiliki mimpi sebagai api penyulutnya, namun mimpi saja tidaklah cukup karena harus ada perjuangan dan kerja keras untuk menggapai mimpi kita.

Itulah juga yang dialami Gusni, seorang perempuan yang berjuang untuk mimpinya, ia mencintai hidupnya di tengah segala keterbatasan dan waktu sigkat yang dimilikinya. Semenjak lahir Gusni memiliki kelebihan yang sekaligus akan menjadi keterbatasannya. Ia terlahir dengan berat badan 6 kg!, dua kali lipat dari berat badan bayi-bayi normal.

Rupanya kelebihan berat badan yang dialami Gusni disebabkan adanya masalah dengan sistem pembakaran lemak di tubuhnya, penyebabnya adalah kelainan genetis dari keluarganya dimana kakek buyut dan kakeknya pun pernah mengalami hal yang sama. Kelainan ini menyebabkan bobot tubuh Gusni tidak akan pernah bisa turun melainkan terus bertambah seiring bertambahnya usia, malangnya kelainan ini tidak bisa disembuhkan sehingga apapun pengobatan dan usaha yang dilakukan untuk membuat berat badannya normal adalah hal yang sia-sia.

Semakin besar Gusni semakin gemuk, untungnya ia tak pernah minder dengan bobot tubuhnya, walau sering menerima ejekan dari teman-temannya ia tetap ceria dan percaya diri, ia juga memiliki keyakinan bahwa orang yang gemuk itu memiliki ‘hati’ yang lebih besar dibanding orang yang kurus. Beruntung karena Gusni juga dibesarkan di tengah keluarga yang mengasihinya, sehingga walau memiliki ‘kelainan’ ia diperlakukan secara normal seperti kakak perempuannya yang adalah seorang atlit bulu tangkis nasional.

Karena Gusni sering melihat kakaknya bermain bulu tangkis di TV dan bagaimana bahagianya orang tuanya setiap melihat kakak perempuannya berlaga dan memenangkan pertandingan membuat Gusni ingin menjadi atlit bulu tangkis seperti kakaknya agar iapun dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

Tentunya dengan bobot tubuh yang saat itu sudah lebih dari 100 kg bukan hal yang mudah untuk menjadi atlit bulu tangkis. Awalnya kedua orang tuanya ragu-ragu untuk mengabulkan permintaan Gusni karena ‘kelainan’ yang dideritanya. Saat itu Gusni memang belum diberitahu tentang penyakitnya itu karena penyakit itu ternyata menyimpan ‘bom waktu’ yang tak diketahui dengan pasti kapan akan ‘meledak’kannya.

Ketika akhirnya Gusni mengetahui bahwa bobot tubuhnya merupakan kelainan yang disebabkan oleh faktor genetis, hal ini tak menyebabkan ia mundur dari cita-citanya, ia malah memantapkan tekadnya untuk berjuang melawan penyakitnya dan meraih mimpinya menjadi atlet bulutangkis. Dengan bulutangkis Gusni mencoba melawan penyakitnya dan membahagiakan orang tuanya.

Kisah dalam novel ini memang merekam seluruh perjuangan Gusni untuk meraih mimpinya mulai dari lahir hingga usianya beranjak dewasa dan mencoba meraih mimpinya untuk menjadi atlet bulutangkis nasional yang ketika itu berat badannya telah mencapai 125 kg. Satu hal yang tampaknya mustahil karena bukankah seorang atlet bulutangkis biasanya memiliki postur tubuh yang ramping karena diperlukan kelenturan tubuh dan kelincahan dalam mengejar dan megembalikan kok dari lawan tandingnya?

Walau inti kisahnya adalah memotivasi pembacanya untuk berjuang meraih mimpi, namun novel ini ditulis dengan ringan sehingga mudah dipahami pembacanya. Paruh pertama novel ini ditulis dengan diselipi humor-humor gaya anak muda masa kini. Mungkin maksudnya untuk menghibur pembacanya, namun saya merasa humor-humor yang dihadirkan terlalu berlebihan alias ‘lebay’ sehingga saya kurang bisa menikmati paruh pertama dari novel ini. Di paruh kedua barulah novel ini menjadi sedikit lebih serius terutama ketika memasuki bab-bab perjuangan Gusni menaklukkan kelebihan berat badannya dan perjuangannya meraih mimpinya.

Pada akhirnya novel ini bisa dikatakan novel yang memotivasi dan menggugah pembacanya untuk memiliki mimpi dan meraihnya, selain itu novel ini juga juga membangkitkan semangat nasionalisme pembacanya melalui bulutangkis . Jika di novel sebelumnya (5 cm) penulis menghadirkan olah raga mendaki gunung, kini Bulutangkis dijadikan sebagai kendaraan oleh penulisnya untuk menyampaikan misinya mengenai persahabatan, mimpi, cinta, keluarga, kerja keras, dan semangat nasionalisme.

Pilihan penulisnya untuk memakai bulutangkis dalam novelnya ini saya rasa cukup berani, disaat Indonesia mengalami euforia terhadap timnas sepakbola Indonesia sampai-sampai Andrea Hirata menyempatkan diri untuk menulis novel 11 Patriot tentang sepak bola, Donny Dhirgantoro justru menghadirkan bulu tangkis sebagai latar dalam novel terbarunya ini.

Pilihan yang bagus karena di saat demam sepakbola melanda Indonesia, setidaknya novel ini akan mengingatkan kita bahwa bulu tangkis adalah olah raga yang pernah mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia namun yang kini sedang terpuruk nyaris tanpa prestasi yang membanggakan.

Melalui bulutangkis persoalan harga diri bangsa adalah hal yang dijadikan point utama di novel ini, hal itu tercermin ketika novel ini menceritakan bagaimana tim putri Indonesi harus berhadapan dengan tim putri Singapura yang sebagian pemain-pemainnya adalah mantan atlit Indonesia yang hijrah karena menerima bayaran yang lebih besar.

Atau bagaimana ketika akhirnya di final tim putri Indonesia berhadapan dengan Malaysia. Seperti kita ketahui beberaap tahun belakangan ini Malaysia selalu ‘mengusik’ harga diri rakyat Indonesia dengan mengklaim beberapa budaya Indonesia sebagai miliknya. Melalui novel ini harga diri bangsa Indonesia kembali diangkat melalui bulutangkis.

Di bagian-bagian akhir, penulis juga mendeskripsikan suasana pertandingan antara tim putri Indonesia dengan lawan-lawannya hingga ke final. Perjuangan tim putri Indonesia poin demi poin dikisahkan dengan menawan sehingga kita seakan sedang menyaksikan langsung ketegangan yang berlangsung di lapangan.

Pada akhirnya melalui tokoh Gusni yang berjuang melawan penyakitnya dan kerja kerasnya meraih mimpi untuk membahagiakan orang tuanya melalui bulutangkis , Gusni memberi kita sebuah kalimat penutup untuk direnungkan,

“Seperti hidup yang tidak sempurna. Kamu tidak akan menyerah. Cintai impianmu. Cintai kerja kerasmu. Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan berputus asa.” (hal 415)

@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com

Nb :
Satu hal lagi yang menarik adalah misteri angka ‘2’ yang dijadikan judul novel ini. Apa maksudnya? Pembaca tampaknya dibiarkan bertanya-tanya dan menafsirkan sendiri apa arti dari judul, jawabannya baru diberikan di tersebut di lembar-lembar terakhir novel ini. Kalau anda belum membaca novelnya, sebenarnya makna angka ‘2’ itu sudah saya berikan dalam review ini. Silahkan mencari sendiri jawabannya :)
Profile Image for Hasbi Ash.
8 reviews2 followers
June 15, 2012
Buku 2 dari Donny Dhirgantoro ini menceritakan seorang perempuan yang
terlahir dengan masa depan yang tidak sempurna, perempuan tersebut
bernama Gusni. Gusni terlahir dengan badan yang besar dan karena kelainan
genetika maka badannya tidak akan pernah turun dan malah akan terus
membesar sepanjang usianya. Kelainan genetika ini dipengaruhi juga oleh
garis keturunannya, karena kakek buyutnya juga seperti itu dan mereka
tidak pernah bisa hidup sampai umur 25 tahun. Beruntung gusni mempunyai
keluarga yang sangat menyayanginya, papa, mama dan kakaknya Gita.

Keluarganya yang sangat menyukai olahraga badminton atau bulutangkis
akhirnya membuat Gusni bercita-cita ingin bermain bulutangkis
walaupun keadaan dirinya tidak memungkinkan, dengan kesungguhan dan
orang tuanya yang sangat menyayanginya akhirnya Gusni diperbolehkan
bermain bulutangkis dan berlatih bulutangkis seperti kakaknya Gita
yang sudah duluan dan telah menjadi juara bulutangkis nasional.

Tak diduga, walaupun dengan badan yang sangat besar Gusni akhirnya
dapat bermain dan berlatih bulutangkis, tidak sampai disitu saja
Gusni bisa menjadi pemain timnas nasional Indonesia dan berhak ikut
dalam kejuaraan Internasional yang disaksikan seluruh bangsa bersama
kakaknya Gita. Dengan bulutangkis jugalah ia mencoba bertahan hidup
terus dari penyakit yang ada pada dirinya. Di dalam perjalanan hidupnya
juga gusni menemukan kembali pria yang sangat disayanginya, pria yang
sewaktu ia kecil sukai dengan kesamaan-kesamaan yang ada dalam diri
mereka masing-masing.

Buku 2 Donny Dhirgantoro ini masih seperti buku buku pertamanya 5cm,
masih meceritakan tentang Impian, Cita-cita, Cinta dan perjuangan.
Namun jika di 5cm lebih bertemakan persahabatan ataupun pertemanan
maka di buku 2 ini lebih ke keluarga dan anak. Nasionalisme yang ada
pada buku 5cm juga ada pada buku 2, namun lebih kuat dan menonjol
dengan bulutangkisnya maka tak salah kalau buku 2 ini juga bertemakan
badminton atau bulutangkis.

Dalam buku ini juga kita bisa dibuat tertawa dengan cerita masa SD
Gusni yang sepertinya memang kita semua lakukan dan alami. Lalu juga
tak ketinggalan kita juga akan termotivasi dengan cerita perjuangan
Gusni melawan penyakitnya, papa dan mama yang berusaha menjadi
orangtua yang hebat bagi anak-anaknya dan Gita dengan kesungguhannya.

Dalam buku 2 ini juga Donny Dhirgantoro juga menyelipkan beberapa
potongan kalimat atau quote yang hebat, contohnya seperti “Lebih enak
jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar”, “kamu
perempuan, kalau kamu mau nangis, nangis aja. tapi menangislah untuk
sesuatu yang baik, bukan sesuatu yang sia-sia”, dan masih ada beberapa
lagi yang bisa membuat kita menuliskannya di jejaring sosial. Buku
ini saya prediksikan juga akan sukses dan menjadi buku most best seller
seperti buku pertama 5cm.

Demikianlah sekilas info kali ini yang mengulas tentang buku 2 dari
Donny Dhirgantoro. Ibarat hotel buku ini adalah hotel bintang 5,
bukannya lebay tapi memang seperti itu adanya, nggak percaya… ya
silahkan dibaca bukunya, dijamin muantabs. Sampai disini dulu sekilas
info sampai bertemu di info-info selanjutnya. Selamat membaca!
Profile Image for Muhammad Edwin.
261 reviews13 followers
September 24, 2020
Berlebihan. Cringe. Ngelucu tapi gak lucu.

Gak kuat lanjutinnya. Cuma sampai halaman 110/418.
Profile Image for Ayu Larasati.
15 reviews2 followers
January 5, 2013
Dimulai dari kelahiran bayi perempuan yang bernama Gusni Annisa Puspita yang lahir dengan berat yang luar biasa 6,25 kilogram dan panjang 59 centimeter. Gusni lahir dalam keluarga bahagia. Semua orang takjub melihat ukuran bayi Gusni yang amat besar itu, tapi tidak bagi sang Kakek, ia mengetahui sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi Gusni dan tidak bisa dihindari oleh Gusni.
Kehidupan Gusni yang bertubuh besar itu berlanjut hingga ia duduk dibangku sekolah dasar. Ia memiliki sahabat yang bernama Nuni dan Ani, mereka sama-sama bertubuh besar seperti Gusni. Waktu yang paling ia sukai adalah waktu istirahat, karena ia dapat membeli jajanan kesukaannya terutama Onde-Onde. Karena kesukaannya pada Onde-Onde ia kenal dengan Harry, seorang laki-laki yang bertubuh sama dengan Gusni. Mereka pun menjalin persahabatan yang bermula dengan Onde-Onde. Mereka membuat panggilan khusus yaitu Gusni-Gusni dan Harry-Harry.
Persahabatan mereka berlanjut dengan obrolan-obrolan mereka di kolam ikan tentang cita-cita mereka, Harry ingin mempunyai restoran Bakmi seperti kedua orang tuanya, Gusni ingin menjadi pemain bulu tangkis demi membahagiakan kedua orang tuanya. Tetapi masa kelam itu datang pada tahun 1998, kerusuhan yang menghancurkan kehidupan banyak orang. Keluarga Harry adalah salah satu korbannya. Restoran Bakmi sekaligus rumah mereka terbakar habis. Sejak itu, Gusni kehilangan Harry, Harry dan keluarganya pergi setelah kejadian itu. Gusni mengetahui sesuatu; Harry telah kehilangan senyum lebarnya.
Sejak kenangan pahit itu, Gusni berubah. Ia selalu murung dan tak seceria biasanya. Oleh karena itu, Ayah Gusni membiarkan Gusni untuk mengikuti pelatihan bulu tangkis; hal yang sudah Gusni inginkan sejak dulu. Namun, Ia belum mendapatkan persetujuan dari orang tuanya. Saat itu, di mulailah perjuangan Gusni untuk menjadi atlet bulu tangkis. Akan tetapi, hal buruk kembali terjadi. Saat ketiga Gusni harus mengetahui takdir hidupnya yang mebuat hidupnya tidak sempurna sekaligus tidak bisa dihindari lagi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Stefanie Sugia.
704 reviews167 followers
May 14, 2012
I want to give all the thumbs up I could give to this book :) An absolute masterpiece, in my opinion :')
----------------------------------------------------------------------------------------------------

"Karena tadi pagi saya melihat ia berlari... seakan ia berkata ke saya... bahwa tidak ada hidup yang sempurna, hanya seorang pengecut yang menginginkan hidupnya sempurna..."

Kisah ini dimulai dari kelahiran seorang Gusni Annisa Puspita; yang lahir pada tahun 1986 dengan berat luar biasa 6.25 kilo dan panjang 59 cm. Gusni lahir dalam keluarga bahagia Papa, Mama, dan kakak perempuannya - Gita. Semua orang berdecak takjub melihat ukuran bayi Gusni yang amat besar itu; akan tetapi tidak bagi sang Kakek, yang mengetahui sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh cucunya suatu hari nanti. Takdir kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh Gusni di kemudian hari.

Kehidupan Gusni yang bertubuh besar itu pun berlanjut. Dengan tubuh besarnya, ia pun bersahabat dengan Nuni dan Ani, yang notabene berukuran tubuh sama seperti Gusni. Ketika ia duduk di bangku SD, waktu yang paling ia sukai adalah jam istirahat; ketika ia bisa membeli berbagai macam jajan kesukaannya: terutama Onde-Onde. Dan karena kesukaannya terhadap Onde-Onde itulah, Gusni mengenal sosok Harry: seorang anak lelaki yang bertubuh kurang lebih sama dengan Gusni. Sejak saat keduanya berbagi Onde-Onde itulah persahabatan mereka bermulai. Mereka bahkan mempunyai panggilan khusus untuk satu sama lain: Harry-Harry dan Gusni-Gusni.

"Kamu dikatain Gendut ya?" Gusni mengangguk. Harry menatap Gusni tulus dan bertutur lembut. "Kata Mama Harry... lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar."....

Baca review selengkapnya di:
http://thebookielooker.blogspot.com/2...
Profile Image for Bunga Mawar.
1,244 reviews43 followers
November 14, 2011
Mmm... saya belum baca "5 Cm", jadi buku yang ini lumayanlah buat saya. OK, gitu.

Bahasa yang tidak kaku, lumayan mengalir dan mudah dipahami oleh remaja yang sudah terlebih dahulu ngefans pada "5 cm", bisa jadi menjadikan pesan buku ini sampai ke pembaca, yaitu berusalah sekuat tenaga mewujudkan impian, kalau benar2 ingin berhasil. Tidak usah peduli pada pandangan orang yang meremehkan keterbatasan kita.

Eh, tapi di sisi lain saya sendiri setuju dengan pendapat rhe a.k.a na tentang ke-lebay-an bahasa yang dipakai pengarang. Mungkin kami yang tidak cocok, memang bukan remaja lagi. Ga papa kan?

Kalau pun ada ganjalan yang bikin saya ga bisa jadikan buku ini berbintang 3 adalah... lubang tentang penyakit Gusni dan para kerabat pendahulunya yang sama2 bertubuh ekstrabesar dan tidak berusia panjang.

Kalo ga salah sih, para penderita gigantisme yang memang tidak berumur panjang. Tapi penyakit Gusni ini bukan gigantisme, tapi kelebihan bobot badan. Mungkin ada juga penyakit seperti itu, sayangnya pengarang novel ini tidak menyebutkannya, sedangkan saya malas googling. Alhasil, dalam bayangan saya, pengarang novel ini memang mengada2 saja tentang penyakit ini.

Juga, lubang tentang "siapa" orangtua Gita dan Gusni, wa bil khusus ibunya. Tidak banyak yang diceritakan pengarang, sehingga kesan saya, si Mama ini hanya ibu rumahtangga biasa, dengan latar belakang yang biasa pula. Namun filosofinya saat mengajarkan Gusni dan gengnya berdandan menggunakan alat2 bantu kecantikan... wah, berat juga. Seharusnya ada yang tidak biasa. Mungkin pengarang yang lupa memberitahu pembaca siapa si Mama ini dulunya.

Demikianlah.

Ayo para atlet Indonesia! Raih juara umum SEA Games 2011!
Ayo bangsa Indonesia, dukung perjuangan para patriot bangsa!!! *heboh sendiri*

Profile Image for Rian Widagdo.
Author 1 book18 followers
June 5, 2017
Judul : 3/5
Sampul : 2/5
Pembuka : 1/5
Cerita : 1/5
Bahasa : 1/5
Penutup : 1/5
Level Rekomendasi: 1/5

Total : 1/5

Catatan:
Buku ini salah satu yang ingin tidak saya selesaikan. Selain membosankan, banyak hal yang bagi saya kurang logis (terutama pada bagian bulutangkisnya). Dosis motivasinya juga terlalu 'over', malah menjadi racun. Satu kata untuk novel ini: BERLEBIHAN 'also known as' LEBAY.
Profile Image for Sa`ad Ahyat Hasan.
101 reviews18 followers
September 30, 2011
Lumayan sih. Tapi lagi-lagi seperti 11 Patriot, saya merasa olahraga kurang cocok diangkat menjadi tema sebuah novel.

Kisahnya sederhana, sesederhana pesan yang ingin disampaikan oleh Mas Donny kepada para pembacanya.
3 reviews
April 6, 2020
Checklist buku ini:
Perjuangan
Keluarga
Sahabat
Tresna
Bersyukur
Olahraga
Kesehatan
Makanan
Bela Indonesia

Buku ini keren banget sampe bikin diri yang rapuh ini sempat menangis wkwk. Walaupun sampe sekarang aku gak tau sebenarnya kondisi apa yang membuat tokoh utama seperti itu, tapi perjuangannya melawan kondisinya tersebut benar-benar patut dicontoh.

Novel ini juga mengajarkan tentang bersyukur dengan keadaan yang kita punya, sesulit apapun itu. Dari syukur itulah kita dapat menciptakan kebahagiaan dari setiap keadaan, bukan karena keadaan yang "baik" baru kita bahagia. Bela negara yang dibawa novel ini juga sangat baik: kita berjuang gak cuma untuk diri sendiri, tapi juga keluarga, dan negara

Pembawaan buku ini memang terlalu berlebihan, tapi aku sih menjadikan "berlebihannya" itu jadi hal yang lucu wkwk. Istilah-istilah olahraga yang gak dijelaskan juga sebenarnya cukup mengganggu karena gak semua orang paham istilah yang dipake dalam bulu tangkis kan._.? (tapi ini bisa diselesaikan dengan short googling). Kisah yang terlalu bertele-tele dan dramatis juga menyebabkan bukunya jadi cukup tebal.

Well, ambil aja yang baik-baiknya hehe. Toh gak ada karya yang sempurna.
Profile Image for Angie.
155 reviews4 followers
August 17, 2021
Ada banyak pesan inspiratif di novel ini, bertebaran dari awal sampai akhir. Selain mendorong pembaca untuk berkerja keras meraih mimpi juga mengajarkan tidak apa-apa punya bentuk tubuh di luar rata-rata. Belajar menerima dan mendorong keterbatasan diri menjadi pesan utama.
Tapi, ada beberapa kelemahan juga. Terlalu banyak menggunakan "efek suara" sehingga baca novel seperti baca komik. Dari awal hingga akhir saya penasaran dengan nama penyakit langka yang melekat pada Gusni, tapi tidak dijelaskan. Terakhir, dan mungkin yang paling mengecewakan, di antara semua pesan positif di atas, anak perempuan tetap diajarkan bahwa memakai makeup itu untuk menarik perhatian laki-laki, bukan untuk dirinya sendiri.
Profile Image for Arial Ratih.
20 reviews1 follower
March 24, 2018
Arah ceritanya jelas, nggak melebar ke mana-mana. Penulis fokus sama lingkup tema cita-cita, impian, dan harapan.

Banyak dialog berbobot. Misalnya dialog antara papanya Gusni dengan Pak Pelatih, dialog Gusni dengan Harry. Dialog-dialog mereka sukses menghidupkan hampir semua indera pembaca. Pokoknya bener-bener hidup dan membuat pembaca nggak sadar ngomong dalam hati, "Iya juga ya, kok aku nggak mikir sampai situ".

Alurnya rapi. Mulai dari Gusni lahir sampai usia remaja, penulis menyampaikannya dalam tiap chapter tanpa ada kejanggalan satu pun. Dan aku jatuh cinta sama semua quotes-nya.
Profile Image for Novita Della.
9 reviews
February 9, 2022
Aku gak percaya pernah selesai membaca buku ini dalam 3 hari. Waktu SMP, dimana gak ada hal lain yang harus dilakukan selain membaca buku.

Buku ini seperti slow music yang diputar loop. Membahas hal yang sama, berputar itu itu aja. Jenuh, tebal, dan kosong? Hanya tebal saja.

Dan aku masih gak percaya bisa selesai baca buku ini
Profile Image for Arystha.
211 reviews5 followers
August 6, 2021
Ceritanya mengangkat keseharian Indonesia, mulai dari keluarga sampai lingkungan sekolah, tetapi juga menyelipkan cerita Jakarta zaman Orde Baru di sudut pandang orang ketiga sampai tahun 2000an. Intinya pada bulutangkis. Lumayan bisa dinikmati.
Profile Image for jana.
16 reviews1 follower
July 31, 2021
ketika penulis menggambarkan suasana di lapangan, sangat terasa sekali. ada beberapa part yang over namun tetap keren dan memotivasi diri saya 👍🏻 berkali-kali baca dan belum saja bosan
Profile Image for Annisa Anggiana.
277 reviews49 followers
August 24, 2011
“Mungkin semuanya menjadi berbeda saat kamu melangkah dan menginjak tanah tempat kamu berdiri, mungkin kadang manusia harus kembali menjejakkan kakinya diatas tanah tempat ia berdiri sekadar untuk menghitung jejak dan langkah kakinya, sejauh mana ia telah berjalan dengan langkahnya. Sejauh mana masa lalu ada untuknya, sejauh mana ia akan meninggalkan masa lalunya untuk melangkah maju, melangkah lebih cepat lagi dalam hidupnya? Setiap manusia akan menjalani takdir baiknya, setiap manusia akan selalu mempunyai kekuatan untuk bangkit kembali setelah ia jatuh. Tetapi pertanyaannya, seberapa cepat ia bangkit lagi dari jatuhnya? Seberapa cepat ia melangkah lagi.. Ia pasti bangkit, tetapi seberapa cepat ia bangkit??”

Kalimat Gusni ketika mempertanyakan dirinya dalam buku ini sangat mewakili pertanyaan yang terngiang-ngiang di telinga saya beberapa bulan terakhir ini. Hmmm.

Anyway.. Sudah lama banget nih saya menunggu buku barunya Donny Dhirgantoro setelah 5 cm. Saya cukup suka dengan 5 cm namun menurut pendapat saya “2” ini lebih keren. Pertama karena ceritanyanya unik tapi idenya sederhana, Donny Dhirgantoro meramunya secara pas sehingga beberapa bagian yang di kehidupan nyata mungkin too good to be true tergambar secara wajar dan “ngga sinetron”. Kedua karena cara penggambarannya yang komikal tetapi dibeberapa bagian puitis juga sehingga sama sekali ngga bikin bosen. Kadang kita dibuat tertawa, kadang kita dibuat berkaca-kaca dan bahkan di beberapa bagian membakar semangat.

“Jangan coba-coba bekerja keras tapi tanpa impian, tanpa impian yang membakar diri dan benak kamu setiap hari, berkeringat, lelah, tapi tanpa makna.. Melangkah tapi tanpa tujuan, bangun di pagi hari menyesali apa yang kamu lakukan. Bekerja keras tanpa impian, buat saya kamu hanyalah pembual nomor satu bagi dunia.”

*Jleb, Jleb, Jleb*

Bercerita tentang anak perempuan kedua dari sebuah keluarga kecil yang bahagia. Anak perempuan itu bernama Gusni. Gusni terlahir dengan berat badan 6 kg, Gusni terlahir besar. Papa dan Mana Gusni telah mengetahui alasan mengapa Gusni terlahir begitu besar, namun mereka memutuskan untuk memberitahunya kelak, ketika Gusni telah cukup dewasa.

Maka Gusni menerima kekurangan sebagai kelebihannya secara alami. Gusni tumbuh menjadi anak periang yang suka sekali dengan onde-onde ^_^. Sewaktu kelas 6 SD, Gusni menemui “lawan yang setimpal”, seorang anak laki-laki bernama Harry yang juga berbadan besar namun memiliki senyum yang hangat. Akibat pertemuan pertama mereka yang melibatkan Onde-onde dan Choki-Choki (Aku juga suka banget snack ini waktu zaman SD!!) , maka mereka saling memanggil Gusni-Gusni dan Harry-Harry dan menjadi sahabat yang sangat baik.

Saat terjadi kerusuhan pada tahun 1998, Warung Bakmi Nusantara milik keluarga Harry ikut terbakar. Harry dan keluarganya terpaksa pindah. Harry dan Gusni pun terpisah tanpa saling memberi kabar lagi.

Gusni memutuskan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pemain bulutangkis. Sesuatu yang bisa dianggap mustahil untuk seorang remaja seberat 125 kg. Kakaknya Gita, telah terlebih dahulu menjadi atlet bulutangkis nasional. Ketika berumur 17 tahun, nasib mempertemukan kembali Gusni dan Harry. Gusni pun merasakan manisnya cinta pertama. Namun tidak lama kemudian Gusni akhirnya mengetahui mengapa semenjak lahir beratnya tidak pernah turun dan selalu beranjak naik dan apa konsekuensi yang harus dihadapinya kelak.

Gusni tentu saja merasa sangat kaget dan sedih. Namun ia akhirnya memutuskan untuk bangki dan melawan. Bangkit dan melawan takdir yang harus ia hadapi dengan mengejar cita-citanya. Menjadi seorang pemain bulutangkis.

Mungkin untuk pembaca lain kisah utama dari cerita ini adalah tentang bulutangkis Indonesia. Namun buat saya cerita ini adalah cerita Gusni yang super pemberani dalam menjalani hidupnya. Dan satu lagi yang saya sangat suka dari buku ini adalah relasi yang terbentuk antara anggota keluarga Gusni.

Pandangan Papa Gusni atas Mama Gusni

“Mama, yang seperti kebanyakan perempuan Indonesia, ada ketabahan dan kekuatan di raut wajah mama. Ketabahan dan kekuatan yang sampai saat ini tidak pernah hilang dalam pandangan Papa. Tabah dan kuat, bukan pasrah, bukan pula lemah.”

Atau ketika berulang kali Mama Gusni membangkitkan semangatnya ketika Gusni diejek oleh anak-anak lain.

“Gus, ingat kamu perempuan, kalau kamu mau nangis, nangis saja.. Tapi kamu harus punya alasan kuat untuk itu, banyak perempuan yang menangis untuk sesuatu yang sia-sia, kamu perempuan Gus, kalau kamu mau nangis, nangis aja.. Tapi menangislah untuk sesuatu yang baik, bukan sesuatu yang sia-sia..”

Pokoknya buku ini Top Markotop deh. Sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Buku yang bisa menggambarkan harapan dan membangkitkan semangat pembacanya.

“Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia karena Tuhan sedikitpun tidak pernah!”
Profile Image for Dani Noviandi.
229 reviews14 followers
July 14, 2013
Out of the box! Sempat bertanya-tanya, apakah buku berjudul “2” ini akan serupa dan segenre dengan karya Donny sebelumnya, “5 cm”. Ternyata sangat berbeda jauh, sangat mengejutkan ketika Donny mengangkat tema olahraga secara penuh dalam buku keduanya ini. Bulutangkis, olahraga paling berprestasi di Indonesia inilah yang coba diangkat oleh Donny dalam buku keduanya ini. Seingat saya, inilah buku Indonesia pertama yang saya baca yang bertema olahraga, unik, hanya itulah yang bisa saya katakan.

Tak hanya mengangkat bulutangkis, tema kekeluargaan dan sedikit bumbu percintaan pun coba Donny angkat dalam buku setebal 417 halaman ini. Bercerita tentang seorang anak yang “berbeda” bernama Gusni. Gusni ini diceritakan semenjak kelahirannya hingga masa ia dewasa. Bisa dibilang, ini adalah biografi Gusni secara tidak resmi. Mengapa Gusni dibilang anak yang “berbeda”? Bayangkan saja, ia terlahir sebagai bayi raksasa, dengan berat mencapai 6,25 kg pada saat kelahirannya. Masalahnya, ia terlahir dari keluarga dengan ukuran badan yang normal, bahkan kakaknya, Gita, pun normal.

Bagian awal buku terbitan Grasindo ini menceritakan tentang proses kelahiran Gusni. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sini, terutama bagi saya. Bagaimana memberi pengertian pada sang kakak bahwa adiknya akan lahir dan bagaimana memberi pengertian ketika perhatian yang tadinya tercurah kepada sang kakak akan terbagi seiring kelahiran sang adik. Entah, saya merasa bagian ini sangat menyentuh.

Perjalanan berlanjut ketika Gusni bersekolah di SD. Perseteruan-perseteruan masa kecil di sekolah dasar antara cowok dan cewek secara apik Donny ceritakan disini, begitu klasik. Contohnya saja, bagaimana cewek menganggap cowok itu makhluk yang bau, dekil dan jorok, juga sebaliknya, bagaimana cowok menganggap cewek itu makhluk yang cengeng dan sangat mendewakan tempat pensil berwarna pink. Gusni, yang berbadan ekstra besar semula berpikiran serupa seperti itu, apalagi dengan dukungan dari teman se-gengnya yang mempunyai ukuran tubuh yang sama, Nuni dan Ani. Pemikiran Gusni berubah perlahan, apalagi ketika ia bertemu Harry, cowok yang bertubuh serupa pula dan mempunyai makanan favorit yang sama, onde-onde dan choki-choki! Bersama Harry, Gusni saling mencurahkan isi hati, juga berbagi impian dan cita-cita apabila sudah besar nanti, sampai pada tahun 1998, restoran Bakmi Nusantara milik ayah Harry yang juga menjadi impian dan cita-cita Harry hancur akibat kerusuhan yang menimpa Indonesia, dan Harry pun menghilang.

Kehidupan terus berlanjut bagi Gusni, dan disinilah bulutangkis mulai merasuk kedalam jiwa Gusni. Menjadi atlit bulutangkis, itulah impian Gusni sewaktu kecil. Apalagi, Gita merupakan atlit bulutangkis nasional, semakin kuatlah cita-cita Gusni untuk mengikuti jejak kakaknya. Sementara berat badan Gusni tidak juga beranjak turun, akhirnya Gusni mulai berlatih kembali bulutangkis. Sebenarnya, ketika kecil Gusni telah berlatih bulutangkis, namun semua terpaksa berhenti ketika tiba-tiba Gusni pingsan ketika latihan. Disinilah ketegangan buku bercover merah ini dimulai. Serunya pertandingan bulutangkis diceritakan secara apik oleh Donny, walaupun saya sempat bertanya-tanya, apakah bakal sepanjang buku pertandingan ini berlangsung? Syukurnya, hal ini tidak terjadi, karena banyak kejutan yang diselipkan Donny pada bagian-bagian ini, membuat buku ini menjadi agak sulit untuk ditebak. Di bagian ini pun terungkap mengapa Gusni berbeda daripada keluarga lainnya, yang sesungguhnya inilah motivasi terbesar Gusni dalam bermain bulutangkis.

Tidak ada yang sempurna. Itu pulalah yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Saya merasa buku ini agak nanggung. Bagian-bagian awal saya merasa buku ini cenderung komedi, bagaimana keluguan ayah dari Gusni menggambarkan hal ini. Juga banyaknya kata-kata yang ber-italic, cukup mengganggu karena terkadang bagian ini tidak terlalu penting. Juga ada kesalahan fatal menyangkut angka di dalam buku ini. Pembaca yang telah membaca buku ini pasti juga mengalaminya pada saat bagian 130 kg dan 125 kg, sebuah paradoks yang mungkin terlewatkan oleh Donny dan editor buku ini.

Tiga bintang untuk buku yang mempunyai kutipan sangat memotivasi ini: “Jangan pernah meremehkan kekuatan manusia, karena Tuhan sedikit pun tak pernah”. Juga sangat direkomendasikan bagi para pecinta bulutangkis, pecinta nasionalisme serta para pencari motivasi yang ingin belajar tentang semangat dan kekuatan hidup dari seorang Gusni.
Profile Image for Lona Yulianni.
237 reviews17 followers
February 12, 2013
Gusni Annisa Puspita, lahir sebagai seorang perempuan yang harus menderita penyakit genetis yang membuat tubuhnya terus membesar dan berat tubuhnya terus naik. Gusni kecil yang suka sekali makan onde-onde dan choki-choki, suatu ketika harus merelakan onde-onde yang ada di kantin karena habis diborong "saingannya". Dari situlah Gusni bertemu Harry, anak laki-laki yang juga bertubuh tambun. Awalnya Gusni menganggap Harry menyebalkan karena onde-onde di kantin habis olehnya. Pandangan Gusni berubah ketika Harry menyelamatkannya dan kedua sahabatnya, Nuni dan Ani yang dikerjai teman laki-laki yang nakal.

"Kata Mama Harry, lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar"

Sejak saat itu, Gusni berteman dengan Harry.

"...cuma kamu yang boleh panggil aku Gusni-Gusni..."
"... cuma kamu yang boleh panggil aku Harry-Harry"

Gusni bercita-cita menjadi pemain bulutangkis sejak ia bersama keluarganya menonton pertandingan final Olimpiade 1992 kala Susi Susanti memenangkan medali emas pertama bagi Indonesia. Namun hanya Gita Annisa Srikandi, kakak kandung Gusni yang cita-citanya tersampaikan. Selalu saja Papa Gusni mengulur-ulur waktu ketika Gusni kecil bertanya kapankah ia boleh berlatih bulutangkis.
Peristiwa pahit menghampiri keluarga Harry. Tragedi Mei 1998 yang merupakan sejarah kelam Indonesia ikut membuat usaha keluarganya hancur ketika restoran bakmi yang didirikan Papa Harry diamuk massa. Harry-pun harus meninggalkan Gusni dan ikut dengan keluarganya demi mencari kehidupan yang baru.

Gusni remaja akhirnya bertemu lagi dengan sahabatnya, Harry. Namun tak lagi perasaan sebagai sahabat yang menghampiri Gusni, melainkan ketertarikan lain yang membuat Gusni selalu bahagia dan nyaman dikala dekat dengan Harry. Namun, kenyataan pahit harus kembali ditelan Gusni. Ia harus menerima bahwa dirinya menderita penyakit genetis yang diderita kakek buyut dan kakak dari kakek buyutnya. Mereka tidak bisa hidup lebih dari 25 tahun, dan sempat membuat Gusni down. Tidak lama-lama terpuruk dalam perasaan sedihnya, ia berkonsultasi dengan dokter untuk mencari cara melawan penyakitnya. Ia tidak mau dipandang sebagai orang penyakitan.

Harapan Gusni menjadi pemain bulutangkis perlahan-lahan terkabul. Pertahanan luar biasa yang ditampilkan Gusni di depan Pak Pelatih akhirnya membuat Gusni dipanggil masuk ke klub dan akhirnya perlahan tapi pasti, langkahnya menyamai langkah kakaknya yang sudah lebih dulu masuk Pelatnas...

"Kamu perempuan Gus, kalau kamu mau nangis, nangis aja. Tapi menangislah untuk sesuatu yang baik, bukan untuk sesuatu yang sia-sia..."

"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak pernah!"

"Saya harus percaya cita-cita saya, harapan saya, impian saya, kalau tidak untuk apa saya hidup? Kalau tidak, untuk apa saya pergi nantinya kalau waktu saya tiba?"

"...bahwa tidak ada hidup yang sempurna. Hanya seorang pengecut yang menginginkan hidupnya sempurna..."

Itu hanya sebagian quote yang ada di novel yang bagi saya penuh dengan quote-quote berharga. Awal ketertarikan saya akan novel ini jelas karena covernya yang unik, berwarna merah terang dengan angka 2 besar berwarna putih. Setelah saya tahu isi novel itu sebagian besar mengenai bulutangkis, saya semakin menginginkan novel itu karena saya adalah penggemar berat olahraga tepok bulu ini. Novel yang entah kenapa pas banget saya baca sekarang, mengingat Olimpiade 2012 hanya tinggal 21 hari lagi. Sensasinya hebat banget buat diri saya, banyak pesan-pesan pantang menyerah yang tercetus dari kata-kata Gusni. Saya juga hampir menangis ketika Gusni meminta putus dari Harry karena penyakitnya dan kembali pengen menangis ketika Harry berusaha balikan dengan Gusni dengan menerima Gusni dengan segala cita-cita dan penyakitnya. How sweet they are!

Yang pasti, karena novel ini saya makin mencintai bulutangkis Indonesia dan kembali berdoa supaya Indonesia bisa kembali ke tempat tertingginya. Yang pasti saya jadi makin pengen ngerasain sensasi luar biasa yang ada di Istora Senayan ketika ada pertandingan bulutangkis! Wish me!

"Ini Bulutangkis, dan ini Indonesia!"
Displaying 1 - 30 of 188 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.