Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Saksi Mata” as Want to Read:
Saksi Mata
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Saksi Mata

(Trilogi Insiden)

3.94  ·  Rating details ·  760 ratings  ·  65 reviews
Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.
Paperback, 2nd ed., 166 pages
Published February 2002 by Yayasan Bentang Budaya (first published 1994)
More Details... Edit Details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Saksi Mata, please sign up.

Be the first to ask a question about Saksi Mata

Community Reviews

Showing 1-30
3.94  · 
Rating details
 ·  760 ratings  ·  65 reviews


More filters
 | 
Sort order
mei
Jul 27, 2017 rated it really liked it
baca ini saat pulang kerja sambil lewat daerah sekitaran istana negara pas ada acara kamisan kemarin. trus abis itu gak bisa baca buku ini dengan tenang.

jadi terbayang2 hhh

***

hampir semua cerpen di buku ini saya suka dan sayangnya pula, hampir setengah dari isi buku ini sudah pernah saya baca di buku kumpulan cerita yang lain. yang belum saya baca kayaknya cuma 2 dari 16 cerita yang ada.

tapi tetap, meski sudah pernah dibaca di buku lain, feelingnya masih dapet.

masih bikin ngilu dan mumet

kutipan
...more
Kamalia Ramlan
Kumpulan cerpen yang memuatkan tentang kekejaman tentera di Timor-Timur pada 12 November 1991, bersaman tarikh kelahiran aku yang ke-4. Ia digelar Insiden Dili atau The Santa Cruz Masacre. Waktu itu Timor-Timur masih lagi sebahagian daripada Indonesia.

Cerpen kegemaran aku ialah 'Telinga'. Nampaknya aku kena baca sejarah pembantaian ini. Baca cerpen-cerpennya sudah ngeri.
nur'aini  tri wahyuni
Aug 24, 2018 rated it really liked it
degdegan baca bukunya. kepengen searching Dili Massacre tapi keburu takut setelah selesai baca. this is to deep. kemasannya mungkin terlalu nyastra jadi suka berhenti dulu bacanya buat mencerna maksudnya.
Mimi Hitam
Saksi Mata is my first SGA's book.
I read it when I was 17 (1997). Being a naive girl I was, I was bewildered and enchanted by the short stories which mostly speak about state violence through militarism.

My favorite piece is Telinga (ear). And through this story - and other stories in the book - SGA able to deliver the fear, injustices, yet light enough for a 17 year old me to comprehend.

I am addicted to all SGA's books ever since.

Sayekti Ardiyani
Sep 26, 2016 rated it really liked it
Cerpen-cerpen dalam buku ini adalah upaya melawan lupa. Pembaca diajak melihat bagaimana kekejaman militer pada masa panas di Timor-Timur.
Launa Rissadia
Rating: ★★★✩

"Kita seringkali cepat mengerti sorotan mata orang yang hidup, tetapi kita tidak bisa memastikan apa yang dimaksudkan oleh sorot mata orang yang sudah mati. Apakah mata itu memancarkan sesuatu dari dunia ini ataukah dari dunia orang-orang mati? Apakah mata itu bisa berkisah tentang apa yang dialami pemiliknya?" (Cerpen Kepala di Pagar Da Silva hlm. 132)

Saya suka delapan dari enam belas cerpen yang ada, yaitu Saksi Mata, Telinga, Manuel, Maria, Rosario, Pelajaran Sejarah, Misteri Kota
...more
Dina Layinah Putri
Aug 31, 2018 rated it really liked it
Di setiap lembaran ceritanya, hanya ada konflik berdarah tak berkesudahan, teror, kegetiran, kemalangan dan kepahitan hidup disitu. Situasi konflik Timor Timur-lah yang melatar-belakangi SGA dalam pembuatan Saksi Mata. Timor Timur/Timor Portugis, sebuah negara jajahan Portugal yang mempunyai sejarah berdarah dalam memerdekakan dirinya. Diawali dari konflik internal sesama partai di dalamnya, pelanggaran HAM, sampai invasi Indonesia dan penyebaran media secara luas sehingga membuat geger berita d ...more
Leonart
Saya baru tau ternyata SGA punya selera humor yang bagus juga waktu nulis cerpen, sebelum baca buku ini saya baca dua buku SGA yang lain yaitu Negeri Senja dan Jazz, Parfum dan Insiden yang merupakan kelanjutan dari Saksi Mata dan merupakan bagian dari Trilogi Insiden...di dua novel yang saya baca itu, selera humor SGA sama sekali tak kentara, tapi di kumpulan cerpen ini luar biasa menurutku...

Cerpen yang paling saya suka "Saksi Mata", "Listrik" dan "Telinga"...tiga cerpen ini bikin saya ngakak
...more
Nurhanifah Tampubolon
Jun 30, 2019 rated it it was amazing
Bukan SGA rasanya kalau tidak membuat pembacanya takjub.
Cerita pertama saja sudah membuat kita merinding.
Setting yang ditampilkan selalu di luar nalar.
Jalan cerita seakan fakta sejarah tetapi ini fiksi.
Ini fiksi atau fakta yang merasuk halus ke dalam fiksi.
Bagaimana pun aku selalu bersyukur sebab SGA tidak dibatasi untuk terus berkarya, walaupun karyanya sangat berani menguak sejarah yang dicoba ditutup-tutupi.
Selalu takjub dengan karya fiksi yang ditulis oleh seorang jurnalis.
Ini fiksi atau fa
...more
Nike Andaru
Sep 06, 2019 rated it liked it
177 - 2019

Buku ini adalah kumpulan cerita yang merupakan bagian dari Trilogi Insiden.
Cerita dalam buku ini mengisahkan kejadian seputar insiden di Dili, Timor Timur. Tentu saja buku ini ditulis pada saat orde baru masih berkuasa.
Membaca judul demi judul dalam buku ini langsung terasa gelap, perang, banyak kematian dan sungguh SGA menceritakannya dengan berdarah-darah, mengajak kita tertawa tapi rasanya miris sedih.

Cerpen favorit saya :
- Saksi Mata
- Telinga
- Misteri Kota Ningi
- Pelajaran Sejarah
Ferina M
May 21, 2018 rated it it was amazing
Buku kumpulan cerpen "Saksi Mata" karya Seno Gumira Ajidarma ini sangat monumental bagi saya. Melalui buku ini--pertama kalinya dalam hidup saya--menggugah saya untuk tekun membaca dan menulis karya sastra. Karya yang memiliki dampak besar bagi pembacanya untuk kritis dan membangun kepedulian dan kemanusiaan terhadap sesama. Anda wajib baca buku ini!
Nurlina Maharani
Jan 10, 2018 rated it really liked it
Seperti karya SGA kebanyakan, bernafaskan isu politik yang dikemas dari sisi masyarakat. Metafora masy dlm bernegara & ber-negosiasi thd sgl bentuk kebijakan disajikan dgn cara khas. Saya menikmati cara bertutur SGA ttg political issue tnp jidat mengkerut.
Hanisa
May 15, 2018 rated it really liked it
good
Iva Farida
Apr 12, 2019 rated it it was amazing
Cara bacanya gimana ya? Saya nggak tau maaf. Ini untuk resensi tugas. Tolong bantu saya
Hendro
Nov 01, 2018 rated it it was amazing
i need read this book
Faiza Putri Aisya
Jul 01, 2017 rated it really liked it
Favorites: "Telinga" , "Pelajaran Sejarah" , dan "Klandestin".
Khairul Muhammad
Jan 16, 2017 rated it really liked it
Awalnya sadis. Tengah-tengahnya asyik. Hujungnya ada rasa mahu ulang semula.
Fatia Maulidiyanti
Feb 19, 2017 rated it really liked it
Di dalam buku kumpulan cerpen ini mengingatkan kita akan bagaimana kejamnya pembantaian-pembantaian yang terjadi dengan metafora dan setting latar cerita yang jauh dari keseharian di Indonesia namun dapat direfleksikan dengan kondisi di negeri ini. Dimana sebuah kekuatan represif dapat terus mengelabui pemikiran dan kehidupan manusia di suatu negeri.
Bayu Kurnia
Feb 21, 2017 rated it really liked it
Serasa nonton thriller dalam imajinasi saya.
Fertina N M
Apr 19, 2013 rated it it was ok
Isi buku ini cocok sekali dengan covernya, suram dan monocrome tapi ada pusat perhatiannya dibagian merah judulnya. Merah berarti darah dan sekaligus berarti keberanian. Seperti tema besar dalam buku kumpulan cerita pendek ini. Buku ini menjadi saksi bisu sekaligus pembuktian betapa kejamnya sebuah sejarah.

Pemotongan kuping,pencokelan mata, penculikan, penyiksaan, pembantaian dan pembunuhan menjadi warna dalam buku ini. Nyawa dipertaruhkan, terpaksa berpisah dari keluarga. Mungkin sebentar, mak
...more
Gumilang Reza Andika
Feb 10, 2013 rated it really liked it
Kelam. Bahkan bisa dibilang mengerikan. Tapi terkadang, hal semengerikan itu memang terjadi di dunia nyata. Dan betapa kengerian dalam cerita takkan melampaui atau sekadar menyamai kengerian di dunia nyata.
Narasi pada cerita pendek dalam buku ini seringkali memunculkan ketidaknyamanan pada pembacanya. Penuh dengan darah, kekejaman, penindasan, teror, rasa kesepian, serta perjuangan keras yang mengikutinya. Jika sekadar membaca cerita saja sudah demikian rasanya, sungguh benar jika perjuangan unt
...more
P
Nov 09, 2010 rated it liked it
“Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio. Sejarah itu juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak.”

Pelajaran Sejarah, Seno Gumira Adjidarma

Membaca kumpulan cerpen ini membuat kepala saya yang sudah mumet akhir-akhir ini (gara-gara kebanyakan ‘main catur’) semakin tambah mumet saja.

Entahlah, mungkin terbawa suasana kelam atmosfer cerita dalam kumpulan cerpen ini, yang memang berlatarbelakang sejarah kelam Timor-Timur.
Yah, memang ke
...more
Septian Hung
Jul 05, 2016 rated it really liked it
Shelves: fiksi
Bukunya keren, karena cerita-cerita yang ditulis mengusung tema yang tidak biasa. Tentang perlawanan, kemerdekaan, pembungkaman orang-orang yang dianggap pemberontak, penculikan misterius yang dulu pernah terjadi di masa orde baru.

Tapi saya hanya memberi empat bintang, karena ada satu cerita berjudul seruling kesunyian yang terasa begitu mengganggu. Serupa dengan Pak Yusi Avianto Pareanom dalam cerpen yang mengisahkan tentang Petruk, cerpen ini ditulis dengan kalimat-kalimat super panjang yang
...more
Rose Gold Unicorn
Sep 21, 2013 rated it it was ok
Shelves: indonesia, pinjam, kumcer
ya, hanya 2 bintang
bukan karena jelek atau ga pantas dibaca
sebenarnya ini buku bagus. mungkin
hanya saja saya ga merasa enjoy ketika membacanya. keseringan skimming.
katakanlah saya terlalu mainstream untuk baca buku dengan kejeniusan sastra seperti dalam kuncer ini. sulit sekali mengerti pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis

yang jelas, dari 16 cerpen yang terdapat di dalamnya menjelaskan issue sosial, politik, dan sebagainya. rumit bagi saya, kau tahu.

yang unik, judul-judul cerpen
...more
Riani Rilanda
Feb 24, 2008 rated it it was amazing
Saksi mata berisi kumpulan cerita yang berlatarkan kejadian2 yang ada di timor leste *kalo gak salah ya* pas jaman orde baru,, jadi bisa dibayangkan, isinya penuh dengan kekejaman kesadisan jaman orde baru.

Perbedaan dari buku ini dengan buku2 jurnalistik sastra lainnya adalah gaya penceritaan seno gumira yang bisa membuat seorang rindang membaca *katakanlah* buku bernuansakan politik *yaik..*. :P

What I learned from this book : My favorite book writer is Seno Gumira Ajidarma ;))



--
sebuah buku yang
...more
Wella Madjid
Dec 05, 2012 rated it really liked it
"Ketika jurnalistik dibungkam, sastra harus bicara", kata Seno Gumira Ajidarma. Maka terbitlah SAKSI MATA, yang menjadi 'mata' kita menyaksikan kekejaman aparat saat itu kepada warga sipil Timor Leste. Pertama kali baca masih SMA juga, terus saya ingat pada saat peluncuran buku ini ada pembacaan cerpen oleh beberapa aktor dan aktris di TIM. termasuk Mas Seno yang kebagian membacakan cerpen 'SALAZAR'

Pada saat sutradara Mamang membacakan 'SAKSI MATA' saya sampai merinding, apalagi Mamang bisa beru
...more
Rima Muryantina
Dec 18, 2010 rated it it was amazing
The best of Seno Gumira Ajidarma. I think in this short story collection, he has shown some excellence that is hardly exceeded by other writers in Indonesia. The issue he brought up was serious, the conflict in East Timor during the New Orders. Of course it tells you about human rights' violation but the absurdity in Seno's way of writing makes it beautiful and touching instead of sadistic and irritating. Recommended short stories: "Darah Itu Merah Jenderal, Misteri Kota Ningi, and Saksi Mata."
Nia Janiar
Dec 19, 2016 rated it it was amazing
Buku yang sangat powerful! Buku ini bercerita tentang terinspirasi dari fenomena insiden di Timor Leste tahun 1991. Penuh rasa sedih dari keluarga yang ditinggalkan, rasa semangat perlawanan, dan juga kemarahan. SGA betul-betul bisa menuliskan dengan tajam. Cerpen yang sangat berkesan buat saya adalah Kepala di Pagar Da Silva. Ending akhir cerpen ini begitu menyimpulkan kekejaman tentara saat itu.

Sangat direkomendasikan.
Lee
Oct 25, 2008 rated it it was ok
Recommended to Lee by: Kitsune
Shelves: unfinished, perhaps
lagi lagi, ini buku hadiah ulangtahun yang belum sempet aku selesaikan.
hee.. mudah2an review ini gak dibaca sama yang ngasih *celingak celinguk*

Meskipun aku cukup kagum dengan SGA sebagai wartawan, tapi bukan fans-nya Seno Gumira, dan tidak terlalu mengerti tulisan-tulisannya
beberapa imaji yang ada di buku ini membuatku sedikit tidak nyaman--nightmarish.
Sakinah Mariz
Dec 26, 2014 rated it it was amazing
Kita tentu masih ingat tentang bagaimana Indonesia mencekam di awal masa revolusi tahun 90an akhir. Rezim pemerintahan yang sadis dan suasana politik yang mati suri, juga tentang banyaknya orang-orang yang lenyapkan atau dibungkam.

Seno Gumira yang juga seorang wartawan, menuangkannya dalam kisah-kisah pendek "saksi mata". Tragedi!
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »

Readers also enjoyed

  • Arus Balik
  • Kuda Terbang Maria Pinto
  • Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir
  • Seribu Kunang-kunang di Manhattan
  • Jantera Bianglala
  • Orang-Orang Bloomington
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Rumah Kopi Singa Tertawa
  • Catatan Pinggir 3
  • Tanah Tabu
  • Jalan Tak Ada Ujung
  • Setangkai Melati di Sayap Jibril
  • Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?
  • Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen
  • Bidadari yang Mengembara
See similar books…
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Benta
...more

Other books in the series

Trilogi Insiden (3 books)
  • Jazz, Parfum, dan Insiden
  • Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
No trivia or quizzes yet. Add some now »