Menjadi D ubes Republik Indonesia di Irak dan berpulang saat menjalankan tugas negara


Pada tahun 1950, Dahlan diangkat oleh Presiden Sukarno menjadi Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia Serikat untuk Kerajaan Irak, Syria, dan Trans-Jordania yang berkedudukan di Bagdad, Irak. Beliau berangkat menuju Irak tgl 27 Maret 1950 (lihat :Java-Bode, 21-2 dan 23-3-1950; DeLocomotief, 23-3-1950; Het Nieuwsbladvoor Sumatra, 25-3-1950).


d8da1e926934cf063bb11173af971bf3_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-05




Namun Tuhan berkendak lain. Dahlan hanya sempat menjalankan tugas sebagai Duta Besar RI selama 3 bulan saja. Beliau wafat pada tanggal 12 Mei 1950 di Bagdad setelah mendapat serangan jantung. Menurut keterangan keluarga, sebelumnya beliau memang juga sudah mengidap gejala gangguan jantung. Kepergian beliau selamanya tidak sempat disaksikan oleh istri dan beberapa anak beliau yang waktu itu masih berada di Jakarta. Jenazah Dahlan kemudian dimakamkan dengan upacara kebesaran di Mesjid Syekh Abdul Qadir Jailani di Bagdad (lihat: Het Nieuwsbladvoor Sumatra, 15-5-1950). Tembakan salvo mengiringi jenazah beliau ke liang lahat. Menurut anak-anak beliau, keputusan untuk memakamkan jenazah Bagindo Dahlan Abdullah di Bagdad adalah atas nasehat dan saran dari Haji Agus Salim. Diplomat senior orang awak itu berkata bahwa almarhum akan dikenang lama jika dimakamkan di situ, dan akan menjadi simbol tali persahabatan Indonesia dan Irak.



Di kemudian hari, makam Bagindo Dahlan Abdullah, putra Pariaman penjuang kemerdekaan Indonesia yang jasadnya terbaring jauh di negeri orang, di Bangdad, Irak, memang telah menjadi simbol persahabaran Indonesia - Irak. Makan beliau di komplek pemakaman Syekh Abdul Kadir Jailani sering dikunjungi oleh para diplomat Indonesia yang baru ditempatkan di Irak atau yang berkunjung ke negara tersebut.


3cc979ec8d1705dc2fde6fbecbd2cf53_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-06


519eb96287e29054040eeb18f4331058_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-07


Semasa hidupnya, H. Bagindo Dahlan Abdullah adalah pribadi yang hangat dan oleh karena itu beliau mempunyai banyak teman. ‘Papa’, demikian beliau dipanggil oleh anak-anaknya, ‘berteman dengan banyak orang yang sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia’, demikian kenangan Gandasari terhadap ayahnya. Gandasari mengatakan ayahnya adalah orang yang periang dan suka tertawa, sehingga beliau diberi gelar dalam Bahasa Belanda ‘Lach Dan’, dari namanya sendiri, Dahlan. Beliau juga pribadi yang suka menolong sesama dan dalam hidupnya selalu memakaikan adat Minangkabau “anak dipangku, kemenakan dibimbing”. ‘Banyak kemenenakan Papa dan anak-anak dunsanaknya yang datang dari Pariaman ditempatkan dirumah kami [...] di Jalan Persatuan Guru, Jakarta’, kenang Gandasari (email, 7-12-2013).



fea1807cb77724f5759b221646a808a5_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-08


‘Papa dan St. Moh. Zain, ayah dari Mantan Gubernur Harun Zain, dan orang Pariaman lainnya mendirikan satu organisasi, “Minang Saiyo”. Mereka berhasil mengumpulkan uang untuk membeli perahu buat nelayan-nelayan di Pariaman’, kata Gandasari. Di Jakarta H. Bagindo Dahlan Abdullah tampaknya juga aktif dalam organisasi yang bernama Roemah Piatoe Moeslimin yang membantu anak-anak yatim piatu (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 5-5-1934). Dahlan bersama beberapa intelektual lainnya yang berasal dari Sumatra, seperti Parada Harahap, M. Soengkoepon, Rasjid Dt. Toemanggoeng, dll. juga aktif dalam panitia pencari bantuan untuk para korban gempa bumi di Sumatra Selatan pada tahun 1933 (lihat: De Indische Courant, 17-7-1933; Het Nieuws van den Dagvoor Nederlandsch-Indie, 14-7-1933). Beliau juga aktif dalam satu organisasi yang disebut Komite Penolong Korban Perang yang membantu orang-orang yang sakit dan menderita karena perang dan mengurus penguburan korban-korban yang meninggal (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 17-1-1942).



Ikatan dengan kampung halaman: Yayasan H. Bgd. Dahlan Abdullah & Istri



Untuk mengenang H. Bagindo Dahlan Abdullah, keturunan beliau mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan H. Bgd. Dahlan Abdullah. Yayasan itu didirikan pada tahun 2006 dan didukung sepenuhnya oleh putra-putri dan cucu-cucu H. Bagindo Dahlan Abdullah sebagai dedikasi kepada beliau atas sumbangsih beliau dalam perjuangan mencapaikemerdekaan Indonesia. Tujuan utama Yayasan ini adalah untuk membantu memajukan ekonomi rakyat dan pendidikan murid-murid dari keluarga kurang mampu di Pariaman dan Sungai Limau.



Setiap tahun Yayasan memberikan bantuan keperluan sekolah kepada murid-murid SD dari keluarga yang kurang mampu. Murid-murid tersebut juga diberikan bibit pohon untuk menolong keluarga mereka. Yayasan juga mengirim relawan dari Amerika untuk mengajar Bahasa Inggris di sekolah-sekolah tingkat lanjutan di Pariaman. Beberapa tahun terakhir, Yayasan juga memberikan pelajaran komputer untuk murid-murid SMA dan tamatan SMA. H. Iqbal Alan Abdullah Datuk Rajo Ameh, anggota DPR RI, salah satu donatur Yayasan, juga memberikan sumbangan komputer untuk beberapa SMP di kota Pariaman. Yayasan juga memberikan sumbangan ke Universitas Islam Indonesia di Jogyakara untuk mendirikan laboratorium Bahasa Inggris.



Bersambung…



Suryadi | Leiden-Pariaman, 11 Februari 2014 (dibacakan oleh Iqbal Alan Abdullah pada ceramah ‘Mengenang Kepahlawanan Putra Pariaman: H. Bagindo Dahlan Abdullah’ yang difasilitasi oleh Pemkot Pariaman, Pariaman, 15 Februari 2014.

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on February 18, 2014 04:30 • 397 views

No comments have been added yet.



Suryadi's Blog

Suryadi
Suryadi isn't a Goodreads Author (yet), but he does have a blog, so here are some recent posts imported from his feed.
Follow Suryadi's blog with rss.