Amang Suramang's Blog - Posts Tagged "puisi"

: Wakil Rakyat

Aku menyebutnya kiamat. Bukan karena bungkam mulut atau pena penulis patah. Bukan pula karena sunyi mesin ketik atau laptop tak lagi terjamah. Atau gerak mesin cetak di tempat-tempat percetakan terhenti, lalu jadi tugu peringatan pencerahan manusia.

Kiamat itu adalah saat kata kata menjadi mati tak berarti untuk menggapai hatimu, menorehkan kesan atau menitipkan pesan kami padamu. Tak sepatah kata pun, bahkan bisikan hatimu sendiri.

Padamu ada balok besar mengganjal lubang telinga, tembok batu menutup mata, dan kotak kayu jati menyimpan gemerlap harta duniawi menutup hati.

Ruh-ruh seperti Rendra, Widji Tukul, bahkan Chairil hanya berpuas menjadi teks-teks mati. Kata-kata mati di mulut kritikus itu sendiri. Lalu Seno Gumira membungkam sastranya, melarangnya bicara karena telah percuma. Apalagi jurnalisme.

Yang tersisa hanya bau kata-kata yang bertumpuk mati. Setiap hari dihadirkan pada kita di pintu-pintu. Di jalan-jalan. Di televisi. Di radio. Bahkan facebook dan twitter. Kata-kata tak ubahnya pengemis meminta-minta, mengetuk-ngetuk kaca jendela, berubah menjadi mimpi-mimpi, untuk kemudian naik terbang sirna ditiup derasnya angin.

Demikian potret kata-kata yang telah mati ditinggalkan. Setiap hari hadir dan berganti, tanpa sekalipun pernah berarti. Ia mati, dan kuyakin di hari ketiga ia tak akan bangkit laiknya Isa.


April 2011
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 18, 2011 06:52 • 44 views • Tags: dpr, kata, politik, puisi
Kutenggak pertanyaan yang kau lontarkan tentang hubungan kita. Kali ini aku malas untuk mengulumnya lama-lama di mulut. Kubiarkan saja semua itu tertelan dan bermalam di perutku yang kosong karena lupa makan. Perih. Aku lupa kalau punya maag, tapi biarlah. Itu sepenuhnya salahku. Bukan karena menenggaknya. Tapi karena aku terlalu lama membiarkan sebotol minuman dalam gelas menanti jawaban atas ribuan pertanyaan.

Kepalaku mulai berat. Mataku sayu memandangmu. Juga yang lain. Dalam samar kulihat langit terbelah. Setan tertawa melihatku yang terkapar. Malaikat melihat jijik seperti melihat lintah sawah. Tak kulihat tuhan. Mungkin ia sedang merumuskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan manusia. Jawaban-jawaban besar yang ia lukiskan di alam, ia jabarkan lewat nabi, untuk kita terjemahkan. Aku selalu melihatnya, tapi tak pernah mampu menerjemahkan. Mungkin karena kebodohanku sendiri. Sama seperti membiarkan sebotol minuman dalam gelas menanti jawaban atas ribuan pertanyaan.

Ada sebotol minuman dalam gelas menanti jawaban atas ribuan pertanyaan. Tapi aku keburu menghilang dalam senyap malam.
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 30, 2011 23:33 • 51 views • Tags: bir, jawaban, minuman, puisi
Genangan kenangan itu milik siapa bila bukan punya kita, bila bukan punyamu, bila bukan punyaku. Kerenyahan tawa, keriuhan canda, keseriusan tanya, kutipan jawaban, rangkaian kata sepakat dari semangat tanpa padam itu, siapa lagi pemiliknya selain kita, dirimu, dan aku.
Tubuh ini bukan lagi aku, kamu, melainkan kita. Darah dan dagingnya adalah kita. Deru nafasnya dan setiap jengkal langkahnya adalah kita. Kita dan hanya kita, kamu dan aku.

Bagaimana hendak kuberpisah dan menghentak diri untuk pergi, mencabut jantung dan memeras darah, untuk menjauh. Bagaimana mencerai anak dari ibunya. Gibran pun tak akan melakukannya pada Yusif El-Fakri. Ataupun Pramoedya pada Nyai Ontosoroh. Alpha tak ada artinya tanpa Omega. Yang pertama selalu memerlukan yang terakhir. Tidak, sekali kali tidak akan pernah dan jangan pernah berpisah.

Namun perpisahan sudah di depan mata. Niscaya dicegah. Ia hadir tak peduli, menengarai semua. Menjauhkan pantai dari ombak lautan. Menahan bulan dari gelap malam. Meredupkan api dari lentera.

Padam.
Perpisahan itu memang kejam.
Itu sebabnya surat ini tertulis dengan tangis dan darah.
Lalu tubuh malang ini melenggang hilang di kelengangan.
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 30, 2011 23:42 • 57 views • Tags: goodreaders, perpisahan, puisi
kita memang pernah berjanji untuk mengopi
entah untuk menyaksikan aroma yang menguar darinya
entah untuk mendekap kehangatannya
entah untuk menyesap nikmat rasanya
atau hanya untuk bertukar sapa semata
sebelum aku terlalu sepi karena mengopi sendiri.
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 18, 2011 06:54 • 50 views • Tags: aroma, kopi, puisi
Sebetulnya di hadap kita menunggu secangkir kopi hangat. Namun kita sama-sama enggan memulai, pun sama-sama enggan menyudahi. Kita memang sama-sama keras kepala. Rela membiarkan waktu melantur sendirian. Cukup bertukar keteduhan lewat pandangan mata, seolah mengkritik kata yang lebih kerap jadi senjata. Kita memang sepakat untuk tetap duduk berdua, menanti jeda yang nantinya akan memisahkan kita. Mungkin bila tanpa jeda itu, kita bisa duduk berdua sampai selamanya, begitu setia. Meski untuk itu, secangkir kopi itu akan menjadi dingin dan basi. Tapi tak mengapa.
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 18, 2011 06:54 • 69 views • Tags: basi, kopi, puisi
Siapa yang menanam batang sungai di matamu?
hingga tak surut air mata mengalir setiap hari
tak pernah lelah untuk mengering
mili sampai ke ujung-ujung kaki
mengalir deras hingga membentuk kubang di halaman rumah

entah siapa yang menanam batang sungai itu
kini telah ada kubang di sana
di hadapan semua yang menganggapnya cuma bencana

kau maju lalu menundukkan kepala
sepenggal kenang terjatuh masuk ke dalamnya
kotor bercampur lumpur dan berak ternak
tapi air mata tetap mengalir
meski kaki telah terbenam semakin dalam
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on September 16, 2010 09:06 • 55 views • Tags: air-mata, puisi, sungai
Seketika aku benci kemarau. Pada jejak-jejak retak yang ditinggalkan pada padang ilalang. Pada sungai yang kehilangan airnya. Rontokan daun jati melarak di sepanjang jalan. Terkulai. Pasrah dalam sakratul maut. Bumi yang kerontang.

Kesadaran yang meleleh. Meninggalkan rasa takut berkepanjangan akan sebuah musim. Paceklik panjang. Tanpa tanda-tanda kapan kelak akan berakhir. Terpaku pada ramalan yang tak pernah tepat memastikan. Hanya kematian yang selalu datang tepat, seperti waktu.
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on September 16, 2010 09:00 • 48 views • Tags: benci, kemarau, puisi
Sedih sekali, ini malam hujan tak datang
puisi pun enggan menghampiri
dan sepi seperti tak sudi bermain lagi
begitu kosong, mengundang tanya

Jadi kuantar lelahku untuk tidur
setelah ia sibuk mengotak-atik kata
dengan perkakas aksara yang ada

Kubentangkan selimut dari perca
lalu kunyanyi lullaby nina bobo
"Lelah bobo, o lelah bobo,
kalau tidak bobo, kau kan diterkam waktu"

Tidur pulas lelahku di sofa
mendengkur dalam sukacita
sementara aku masih berjaga-jaga
sembari mencoba memetik kata dari angkasa

Sedih sekali, ini malam hujan tak datang!
Begitu kosong
bahkan kata pun tak mau berbunyi
yang ada hanya sebuah koma
dari hamparan aksara.

Jakarta, 2010
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 13, 2010 08:44 • 60 views • Tags: lelah, puisi, tidur
Serupa awan, rindu berarak-arak penuh semarak di kejauhan. Tak perlu menunggu lama pastilah rintiknya membasahi ladang pematang. Susuri setiap petakan sawah hati yang terlampau lama dilanda kemarau sepi berkepanjangan.

Aku berdiri tak jauh dari sebatang pohon. Diam saja. Sudah lama aku begitu. Menyesap setiap serpihan senyap dalam udara yang gerah, menatap ke langit dengan penuh harap, seakan hendak menguji teori tentang kerinduan hujan pada bumi. Jika pada saatnya nanti hujan merintik ke bumi, terbukti sudah sebuah setia yang niscaya.

Bersama sorak yang kupekikan, tetes demi tetes berpacu lomba jatuh. Kutadahkan tangan. Menari dalam tetabuhan tambur hati. Sesuka hati. Merayakan sebuah setia yang niscaya hingga tetes terakhirnya.

Meski selepas hujan berhenti, aku kembali berteori
: akankah hujan kan kembali?
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 10, 2010 08:42 • 59 views • Tags: hujan, puisi, teori
Kupanggil kau matahari, ibu, karena sinarmu selalu menerangi petak jalanku. Saat muncul akar pada benih dan dahan-dahan kecilku mulai menggapai langit, ke arahmu sebenarnya aku tumbuh. Cabang-cabangku mungkin merambah ke mana-mana, tetapi kiblatku tetap pada terang cahayamu.

Itulah sebab redupmu di saat senja, ibu, membuatku kuyup layu. Senja, yang biasanya demikian indah dengan semburat srengenge, kini tak ubahnya pintu ke kegelapan kehidupan. Sesaat aku takut ibu, jerih hati pada kesendirian.

Hendak kugebah kabut gelisahmu yang pekatnya menyaingi rambut putihmu, ibu. Hendak kunyanyikan lagu girang pada senja-senja masa datang, ibu. Agar setiap detik dalam petakan jalan menjadi penuh arti dan setiap memandang matahari saat senja, ibu selalu tahu aku sayang padamu.

Mei 2011
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on May 19, 2011 04:02 • 76 views • Tags: arsitektur, ibu, kematian, matahari, puisi

Amang Suramang's Blog

Amang Suramang
Amang Suramang isn't a Goodreads Author (yet), but he does have a blog, so here are some recent posts imported from his feed.
Follow Amang Suramang's blog with rss.