A.J. Susmana's Blog

February 20, 2018


Datuk,Dari kotamu: Padang Panjang yang sejukKau tak tunduk pada penakluk:Kabut yang menyerbu tak membutakan matamu pada penindasan dan penghisapan manusia atas manusiaDengan Pemandangan Islam, kau luaskan cakrawala hingga tak perlu takut pada hantu-hantu kuminih: sebab  “…haram menghisap darah yang mengalir?!”Dengan ilmu kuminih, lantas kau kobarkan jiwa yang berani Kau yakin suatu hari janji Allah dipenuhi: Kaum tertindas menjadi pemimpin dan pewaris bumiasal saja kaum itu mau bekerjaCita-citamu yang berbahaya membawamu pada perjalanan entah:Padang, Timor, Alor, Digul Papua, Australia, kota-kota di Jawa….Hujan yang kau rasakan, hutan yang kau lewati dan gunung yang kau dakiMembawamu pada kota yang selalu kau rindukan:Padang Panjang!

Banten, 18 Februari 2018
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on February 20, 2018 18:29 • 3 views
...........
Omong kosong kita mencintai rasa religiositas kita bila juga tak ada wujud keadilan sosial. Omong kosong kita mencintai rasa kemanusiaan bila toh kemanusiaan kita terbatas pada golongan dan kaumnya sendiriOmong kosong kita mencintai persatuan Indonesia bila tak juga menghargai kebhinekaan: suku, agama, kepercayaan, ras dan golongan. Omong kosong kita mencintai demokrasi politik atau musyawarah-mufakat kita bila tak juga ada demokrasi ekonomi alias kesejahteraan sosial.
...................

Tangerang, 8 Februari 2018
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on February 20, 2018 18:21 • 2 views

January 3, 2018


“Tahun Baru! Selamat Tahun Baru!” Riuh rendah di luar gerbang pabrik. Bulan terang. Langit cerah. Janji-janji dipahatkan:Di antara dentuman petasan dan pijar-pijar api warna-warniAmin. Amin. Amin.Ditambah kuasa Tuhan yang diyakini.
Seorang Pekerja Tua keluar pabrik menuju jalan raya yang ramai“Ini tahun baruku yang terakhir di dalam pabrik!” teriaknya melompat: “Yeah!”“Selamat tahun baru, Pak Tua!” balas seorang pekerja muda.Pak Tua tak menyahut. Melangkah sunyi; tak larut dalam kegembiraan kota.Ia ingin segera pulang: memeluk cucu, anak bungsu dan isteri di rumah yang mungkin tak akan lunas tanpa pertolongan ayah-bunda
“Tiga puluh tahun ditambah sepuluh tahun merayakan tahun baru di pabrik apanya yang baru?”Pak Tua bertanya pada diri sendiri; diiringi deru motor lalu lalang yang di atasnya pasangan berpelukan erat: entah lelaki entah perempuan. Entahlah.Ia lihat: sepasang muda-mudi berciuman mesra di trotoar; entah ciuman perjumpaan atau perpisahan?“Kampret!” ia mengumpat, “Enam lima sudah.”
Ia terus mempercepat langkah kaki: barangkali juga masih tersisa ikan bakar-an warga kampung di balai warga yang dibeli dari iuran warga yang tak ingin ketinggalan pesta.“Aih..tahun baru tak ada yang baru bagi kelas pekerja,” pikirannya tak mau berhenti. “Time is moneyhanya berlaku bagi kapitalis yang mengambil laba dari waktu kerja lebih. Sementara pekerja belum mampu mengambil keuntungan dari waktu kerja lebih. Untuk semua itu kekerasan terus berlangsung bersamaan dengan tuntutan keadilan atas waktu kerja dan upah yang pantas bagi kelas pekerja. Sampai kapan? Adakah kompromi untuk kemajuan bangsa? Imperialis musuh kita!”
Ia pun terkenang lagu ayahnya:
Tanggal 1 Mei 
Perayaan kitaDi seluruh duniaKaum kelas pekerjaProletariat! Proletariat!Kaum Pahlawan kitaProletariat! Proletariat!Kaum Pahlawan kita!
….dan berangsur-angsur langit pun mulai sepi dari doa-doa  dan harapan yang diteriakkan lewat petasan kembang api.
Di rumah, semua sudah terlelap meninggalkan tahun yang silam.

Selamat Tahun Baru!


Kota Seribu Industri, 1 Januari 2018
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on January 03, 2018 20:40

December 28, 2017

Kesultanan Banten adalah tinggalan dari Sunan Gunung Jati ketika pengislaman di Jawa bagian barat dimulai; juga merupakan strategi Kesultanan Demak untuk mencegah terjalinnya kerjasama antara Kerajaan Hindu Pajajaran dengan Portugis yang mulai berjaya di Malaka.Untuk menjalankan misi ini,  pada 1528, Sultan Trenggana memerintahkan membuat meriam besar di Demak yang diberi nama Ki Jimat dan kemudian dikirim ke Banten. Sunan Gunung Jati berkuasa di Banten hingga 1552.  Ia lalu ke Cirebon  dan menyerahkan kuasa Banten kepada anaknya, Hasanuddin ( 1552-1570) yang telah meluaskan wilayah kekuasaan di kedua sisi  Selat Sunda. Yusup, cucu Sunan Gunung Jati, kemudian menaklukkan Pakuan, ibu kota kerajaan Pajajaran, 1579. Tinggalan Sunan Gunung Jati ini terus menuju puncak kejayaan.Kejayaan Kesultanan Banten tentu bukanlah dongeng. Tome Pires berkisah bila kapal-kapal Banten pun sudah berlayar hingga ke Maladewa; sementara Pyrard de Laval di 1609, sebagaimana dikutip Denys Lombard mengatakan: “Banten adalah kota besar yang cukup padat penduduknya…Kota itu dikelilingi tembok bata yang tidak lebih dari dua kaki tebalnya. Setiap seratus langkah, di dekat tembok, ada rumah-rumah yang tinggi benar, yang dibangun di atas tiang-tiang layar kapal dan dipakai untuk pertahanan kota, baik sebagai tempat pengintaian maupun untuk memukul musuh dari tempat yang lebih tinggi…Ada lima lapangan, luas benar, yang setiap hari menampung pasar segala macam barang dagangan dan makanan yang dapat dibeli dengan murah, hingga hidup di sana terasa sangat enak…Di luar tembok ada sejumlah rumah untuk orang asing.”Kesultanan Banten pun mengalami puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, 1650-1682. Di bawah kuasanya, Sultan Cirebon menyatakan takluk pada tahun 1677.  Tak hanya itu sebagaimana dicatat Denys Lombard (2008) Sultan Ageng  “… merangsang perniagaan, melaksanakan perkerjaan besar di bidang kanalisasi dan pengairan, membangun istana baru dan terutama tak henti-hentinya menyerang bangsa Belanda di daerah Tangerang dan Angke.”Walau demikian tak dapat disangkal bahwa kejayaan Banten adalah akibat dari kejatuhan Malaka oleh Portugis di tahun 1511. Pires pun masih bisa bersaksi bahwa kedudukan pelabuhan Banten masih kalah dengan pelabuhan Sunda Kelapa. (Baru) setelah Banten menduduki Sunda Kelapa pada tahun 1527, pelabuhan Banten menjadi pusat perhatian dunia: berbagai negeri pedagang datang berebut belanja lada yang melimpah ruah. Lada-lada itu terutama datang dari bagian selatan Lampung. Sunda Kelapa baru dapat menyaingi Banten ketika Belanda mengambil-alih di tahun 1619 dan mengubahnya menjadi Batavia. Pada tahun 1682, Batavia pun menggungguli Banten bahkan menangkap Sultan Ageng Tirtayasa yang selalu mengancam Batavia dan menjadikan Sultan-Sultan Banten berikutnya sebagai boneka Batavia.***Kini kenangan akan kisah kejayaan Banten di masa dahulu itu masih tersisa di hari ini di antara kisah-kisah keterpurukan Banten yang berlangsung pada hari ini. Keraton Surosowan, disebut juga Gedong Kedaton Pakuwon, tempat tinggal para sultan Banten itu masih punya cerita dan kenangan yang tak akan dilupakan. Surosowan yang dahulu jaya, kini memang hanyalah puing-puing belaka. Itu pun tak mengurangi banyak orang untuk datang. Begitulah kami, para penyair, di antara agenda perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) X di Banten yang berlangsung dari tanggal 15 – 17 Desember 2017, mengunjungi Surosowan. Kami datang di pagi hari yang cerah pada 16 Desember; memasuki kompleks Surosowan setelah gagal memasuki Museum yang masih tutup tapi masih sempat menyaksikan Meriam yang tampak gagah dan seakan selalu bersiap mengamuk pada siapa saja yang mengganggu ketenangan Surosowan. Orang Belanda menyebutnya Fort Diamant atau Kota Intan.Menurut Babad Banten, Keraton Surosowan dibangun oleh Raja Banten pertama yaitu Maulana Hasanuddin (1526-1570). Pada masa pemerintahan Sultan Haji (1672-1687), keempat sudut keraton Surosowan diubah bentuknya menjadi bastion dan dilakukan penguatan tembok keliling dengan menempelkan batu karang di bagian luar tembok keliling. Perubahan ini dilakukan setelah Keraton Surosowan mengalami kehancuran akibat perang yang terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC. Arsiteknya seorang berkebangsaan Belanda bernama Lucas Cardeel. Pada tahun 1808, lagi Keraton Surosowan dihancurkan; kali atas perintah Gubernur Jendral  Belanda Herman Daendels yang marah. Surosowan sebagai lambang kejayaan Kesultanan Banten, yang telah berlangsung sekitar tiga abad itu porak-poranda karena kemarahan Daendels yang tak terkendali. Daendels meratakan bangunan Surosowan seluas sekitar 3,8 hektar itu. Sebagaimana kita tahu, Daendels yang sedang bersiap menghadapi serangan Inggris berjibaku dan memaksa rakyat untuk bekerja membangun jalan raya pos pertahanan. Tapi melihat kesengsaraan rakyat, permintaan lagi  untuk tenaga membangun jalan pertahanan di barat itu  ditolak bahkah utusan Daendels:  Komandan Du Puy,  pada bulan November 1808,  dijatuhi hukuman mati pun pasukan Garnisun di benteng  Benteng Speelwijk dibantai.Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin alias Sultan Ishaq  barangkali melihat peluang bahwa Belanda, kompeni di bawah Daendels sedang berhadapan dengan Inggris. Tapi sayang, Inggris tak datang membantu justru Daendels datang dengan bala tentara lengkap kira-kira seribu orang: mengobrak-abrik, menghancurkan kota dan menduduki takhta Sultan sambil berkata: “Mulai sekarang, akulah Sultan Banten”. Sultan Ishaq sendiri ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Tetapi sejarah Kesultanan Banten tidak diakhiri oleh Belanda di bawah Daendels tetapi justru ditutup oleh Inggris, di bawah Raffles bersamaan dengan diberlakukannya sistem landrent yang mencakup wilayah Banten. Pada  tahun 1813 itu  Raffles sebagai Gubernur Jendral mewakili Pemerintahan kolonial Inggris melucuti  Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dan memaksanya turun takhta. Sementara itu di masa kemerdekaan, Kesultanan Banten tak juga dipulihkan di bawah Republik Indonesia hingga pada hari ini. Pasca penghancuran Daendels itu, penghancuran Surosowan sebenarnya juga terus berlangsung  yaitu dengan mengambil bahan bangunan Keraton Surosowan untuk membangun bangunan-bangunan Belanda lainnya hingga hanya menyisakan tembok-tembok istana, lantai-lantai istana, bekas kolam renang….., yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini.Surosowan kini mau tak mau menjadi tugu peringatan bahwa segala sesuatu bisa datang dan pergi, bisa jaya dan jatuh. Pun bisa bangkit kembali walau seandainya kebangkitan itu hanya sebatas imajinasi akan kejayaan masa lalu. Kalau kita akan memasuki Surosowan, kita barangkali sebentar akan terpaku pada situs Watu Gilang. Pada papan yang menerangkan keberadaan situs tersebut kita mengerti bahwa “Menurut Babad Banten …watu gigilang dipergunakan sebagai tempat pentasbihan atau penobatan raja-raja di Kesultanan Banten. Dahulu ketika pendirian Kota Surosowan sebagai ibukota Kerajaan Banten, atas petunjuk dan nasehat Sunan Gunung Jati kepada putranya Maulana Hasanuddin, Watu Gilang yang berada di tengah kota tidak boleh digeser, karena pergeseran akan menyebabkan keruntuhan kerajaan.”Aku sendiri tidak tahu apakah keruntuhan Kerajaan Banten dan hancurnya Kota Surosowan didahului dengan digesernya Batu Gilang ini sehingga kebenaran yang diramalkan Sunan Gunung Jati terbukti? Atau Batu Gilang itu tak pernah bergeser dari tempatnya semula? Bukan soal ini yang menjadi kegelisahan betul sehingga harus dicarikan jawabnya segera tetapi justru pada bagaimana masyarakat, atau barangkali ahli waris atau Pemerintah Daerah Banten memperlakukan situs Watu Gilang yang tampak begitu penting ini. Situs Watu Gilang ini terkesan tidak terawat, kumuh, berada di tempat yang becek bahkan ayam-ayam pun leluasa bermain dan memberikan aroma tak sedap sebagai “bentuk penghormatan” sebab manusia tak menjadikannya tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk  sejenak singgah. Sementara itu jalan menuju situs Surosowan juga kumuh dan becek. Tata kelola para pedagang yang ramai mengais rejeki dari nilai sejarah Surosowan seakan tidak diperhatikan agar mampu mendukung keindahan situs;  padahal situs Keraton Surosowan yang terletak di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui  Keputusan Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M1998 dan Keputusan Bupati Serang Nomor 430/Kep 459-Huk/2006.Surosowan, menurut kamus Jawa Kuna, yang disusun Zoetmulder bisa diartikan sebagai tempat berlabuhnya (pelabuhan) orang-orang yang gagah-berani berwatak pejuang dan berjiwa pahlawan. Sejarah yang mengiringi pendirian dan kehancuran Surosowan sudah memberikan bukti itu semua bagaimana para pejuang yang gagah berani berjiwa pahlawan menjadi bagian dari Surosowan. Tapi hari-hari ini tak terawatnya Situs Watu Gilang sewajarnya sebenarnya adalah juga bagian dari proses “penghancuran” nilai-nilai  Surosowan itu sendiri.AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)http://www.berdikarionline.com/surosowan-kisah-kejayaan-dan-penghancuran/
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on December 28, 2017 01:38 • 3 views

December 8, 2017

Mengenang  HS anggota PGRI Non-Vaksentral
Guru adalah cerita kesedihanPahlawan tanpa tanda jasaDikenang dalam panggilanMencerdaskan bangsaSampai kapan?
Guru adalah dongeng pencerahanDi malam gulitaTanpa obor pengetahuanDi mata pemburuYang tak puas pada pembungkaman
Guru adalah sejarahYang mengajarkan perubahanPada waktu  yang dipercayaAkan kemilau di matanya


Sang Hyang, 8 Desember 2017
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on December 08, 2017 07:47

November 24, 2017

Puisi ini bukanlah puisi kalau tak menjadi nasi

Waduk Sermo,  24 November 2017
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on November 24, 2017 07:18 • 5 views

November 11, 2017

Pahlawanku!Tak ada pengorbanan yang sia-siaWalau disia-siakan jaman
Kulihat  monumen-monumen  tak bernamaPuisi-puisi tak dibacaKarena penguasaPenguasa!
Angin  berbisik membawa kabar:Di sana ada monumen-monumen pembebasanDan  bunga-bunga persembahanDi sini ada puisi-puisi terindahDan   musik yang menggerakkan
Pahlawanku!Tak ada yang sia-siaSia-sialah  penguasa yang melupakanmuKamu menjadi dongeng dan legendaMenemani rakyat yang terhina dan lapar
Lalu hadir dalam mimpi-mimpi tak diharap:Pesta  telah berakhirTelah direndahkan mereka yang  berkuasaYang disia-siakan menemukan penghiburan!


Sang Hyang, 11 November 2017
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on November 11, 2017 10:31 • 3 views

October 30, 2017


 Aku percaya bahwa persatuan tidak mungkin dibangun di atas landasan persatean:                        Tumpukan mayat tanpa mantra dan doa-doa                        Anak-anak hilang tanpa kerelaan                        Tangisan ibu pertiwi tanpa penghiburan                        Ratapan gadis yang jadi penghiburan
Aku percaya bahwa kemakmuran dan kebahagiaan tidak mungkin dicapai dengan menebar kebencian pada kemanusiaan: Atas nama ideologi, agama, ras, suku, golongan, jenis kelamin Orientasi seksual….
Aku percaya bahwa keadilan hanyalah bualan pemerintah  selama ketidakadilan di bumi dipercaya sebagai kutukan nasib:                        Putaran roda kehidupan sambil terus mendiamkan dan menonton                        Penindasan dan penghisapan manusia atas manusia terus berlangsung                        Di atas bumi
Aku percaya bahwa kebebasan adalah ibu pengetahuan yang menuntun manusia menemukan:                        Jalan persatuan, kemakmuran, kebahagiaan  dan keadilan                        Di atas bumi


Tangerang, 31 Oktober 2017
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on October 30, 2017 21:49 • 2 views

October 17, 2017


Puisiku adalah jalanBeraspalkan  luka dan deritaDikeraskan oleh penindasanDihaluskan oleh penghisapanDidera api perlawanan
Aku mendakiAku menurunDalam perjuangan menggapai bahagia
Di jalan bertabur debuDeru tak berkesudahanMalam dan siangAda matahari atau bulanTerang bintang atau hujanTerik atau berawanDalam fajar atau  senjaLagu-lagu tetap dinyanyikanPuisi-puisi diserukan Tanpa perlu ijin dewi keindahan
Puisiku adalah jalanDikeraskan oleh  harapanDihaluskan oleh pengetahuanDiyakinkan oleh mimpi-mimpiGunung atau lembahSelalu ada danau perhentianYang tak perlu disesaliOleh kaki-kaki yang tak henti menuntut langkah


Jakarta-tangerang, 16 Oktober 2017
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on October 17, 2017 05:54 • 5 views

August 20, 2017

untuk g 30 s

.......................................


dan semuanya
berbalik 180 derajat



Jakarta, 17 Agustus 2017


 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on August 20, 2017 07:13 • 28 views