Suryadi's Blog

April 13, 2015

Nabi Baroe di Padang. Menoeroet Sum. Bode ada soeatoe hari diwaktoe pagi berkoempoel-koempoellah banjak orang disoeatoe tempat di Pasar Kampoeng Djawa di Padang. Seorang Melajoe bernama S. berbitjara kepada orang banjak dan memberitahoekan bahwa ia seorang Nabi jang mendapat perintah dari Toehan berbitjara kepada kaoem Islam. Orang2 Islam jang ta’ pertjaja kepadanja - kata Nabi baroe itoe - tentoe akan mendapat hoekoeman dari Toehan.


Oléh politie orang jang mengakoe mendjadi nabi itoe laloe ditahan. Ternjata ia orang Padang djoega. Ia roepanja akan diserahkan kepada keloearganja dengan permintaan soepaja diamat-amati dengan baik.”


***



Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 80, Tahoen VIII, 7 October 1930, hlm. 1276, tentang seorang Minangkabau yang berkhotbah di depan khalayak di Pasar Kampung Jawa Padang yang mengaku sebagai seorang nabi utusan Tuhan. Rupanya fenomena munculnya nabi-nabi palsu sudah sejak dulu ada dalam masyarakat kita. Akan tetapi boleh jadi juga, di antara milyaran manusia di bumi Allah ini, mungkin ada satu dua orang yang dikaruniai Allah dengan hidayahNya, pelanjut perjuangan para nabi da rasul di zaman lampau



Suryadi - Leiden University, Belanda | Padang Ekspres, Minggu, 12 April 2015

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 13, 2015 05:00 • 102 views

April 12, 2015

4f500343924f7e7f7f6bb2875db550fd_vfdxg



Penulis prolifik Hasril Chaniago mengirimi saya kisah hidup tokoh yang kita apungkan dalam rubrik Minang saisuak kali ini: M. Rasjid Manggis Dt. Radjo Panghulu. Hasril mengatakan bahwa Rasjid adalah salah seorang jasawan pejuang Bukittinggi yang pantas diberi penghargaan. Kiranya hal itu sudah pada tempatnya, jika kita melihat kiprah Rasjid Manggis semasa hidupnya.


Muhammad Rasjid Manggis dilahirkan di Kampung Manggis, Kurai, Bukittinggi tahun 1901. Di masa kanak-kanak, ia adalah teman sepermainan Mohammad Hatta. (Hatta lahir di Aur Tajungkang tahun 1902). Mula-mula Rasjid masuk HIS, kemudian lanjut ke Kweekschool Fort de Kock. Sementara Hatta masuk MULO di Padang.


“Seperti halnya Hatta”, demikian Hasril, “Rasjid Manggis juga mengisi usia mudanya dengan belajar, menimba ilmu pengetahuan sampai ke mancanegara dan sudah menjadi aktivis politik pergerakan sejak usia belasan tahun, saat keduanya terdaftar sebagai anggota Jong Sumatranen Bond (JIB)” yang didirikan di Batavia tahun 1917.


Karier Rasjid dimulai tahun 1920-an sebagai guru di Sekolah Adabiah Padang, Budi Setia, Kweekschool, MULO IVOORSA, dan Direktur SMA Pemuda - semuanya sekolah swasta. Bakat sebagai ‘organisator’ yang dimiliknya membawanya menjadi pengetua sejumlah organisasi, misalnya sebagai Komisaris PGHB Kweekschoolbon (organisasi alumni Sekolah Raja Bukittinggi) se-Tanah Air (1928). Rasjid juga punya bakat di dunia seni pertujukan drama dan film. Sepanjang hidupnya, ia sudah menulis beberapa naskah sandiwara, menyutradarai beberapa pementasan drama, dan bermain dalam beberapa film. Drama-drama yang pernah dipentaskannya antara lain “Cindua Mato” (Bukittingi, 1924), “Sabai Nan Aluih” (Padang, 1928), dan “Bebasari” (Selat Panjang, 1930)


Rasjid Manggis ke Belanda tahun 1932. Saat itu Hatta sudah siap-siap untuk pulang ke tanah air. Semasa belajar di Belanda Rasjid menjadi Ketua Perkumpulan Islam Nederland di Den Haag (1932-1936).


Di sela-sela masa belajar di Belanda itu ia tiba pula di Kairo, Mesir, di mana ia menjadi penasehat Djami’ah Chairiyah Indonesia-Semenanjung, suatu organisasi pelajar Indonesia-Melayu di Mesir (1934). Di Mesir, ia mementaskan sandiwara “Boven Digoel”, suatu cara untuk membangkitkan semangat nasionalisme pemuda Indonesia di Mesir.


Setelah setahun di Mesir, Rasjid balik ke Belanda. Di sana ia menyalurkan bakatnya menjadi bintang film lara lebar. Ia bergabung dengan perusahaan film “Majestic Film Company” di Amsterdam, dan membintangi beberapa film produksi perusahaan itu, seperti Suikerfreude dan Rubber yang menceritakan kehidupan buruh industri gula dan perkebunan di Hindia-Belanda.


Rasjid kemudian pindah ke Berlin, Jerman. Di sana ia dipercaya menjadi pengurus ‘Die Moschee (Dewan Mesjid) Jerman (1937-1939), di samping bekerja sebagai Lektor Bahasa Melayu di Ausland-Hochschule am der Universitat Berlin. Ketika PD II pecah di Eropa (1939), Rasjid Manggis menyingkir ke New York. Di sana ia menjadi anggota luar biasa INCODEM (Indonesian Committee for Democarcy). Pada awal 1940 ia menyelenggarakan pertunjukkan kesenian Indonesia dalam Festival Devi Jass Dance World Tour di 23 kota besar di Amerika Serikat.


Tahun 1940 Rasjid kembali ke tanah air, tetapi memilih tinggal di Penang dan Singapura dan sekali-sekali ke Batavia (Jakarta). Ia tetap aktif di lapangan kesenian, khususnya teater dan film. Tahun 1946 ia kembali ke Bukittinggi. Ia terus aktif di bidang politik dan kebudayaan dan banyak menulis buku dan artikel seputar sejarah dan adat Minangkabau.


Demikian ringkasan dari catatan Hasril Chaniago tentang tokoh kita i ni. Rasjid Manggis menghabiskan masa tuanya di Bukittinggi. Menurut Hasril Chaniago, beliau wafat sekitar 1991. Kita berharap Pemerintah Kota Bukittinggi akan memberi penghagaan selayaknya kepada salah seorang putranya yang menonjol ini.



Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 12 April 2015


(Sumber foto: buku Rasjid Manggis: Minangkabau: Sejarah ringkas dan adatnya, 1971).

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 12, 2015 23:00 • 127 views

April 6, 2015

1. “Lari dari tempat pengasingan di Digoel. Aneta mewartakan kabarnja beberapa boelan jl. [jang laloe] ada beberapa orang boeangan jang lari meninggalkan tempatnja di Digoel. Meréka ialah dari golongan orang-orang kominis jang ta’ dapat didamaikan. Mereka menghilir sepandjang soengai Digoel, kemoedian sampai dipoelau Thursday. Disana meréka tertangkap lagi laloe dinaikkan kekapal Goebernement.


Doea minggoe jbl. [jang baroe laloe] ada lagi beberapa orang boeangan jang lari. Meréka lari ketimoer melaloei hoetan besar-besar. Sebagian dari meréka itoe dibawa kembali ketempat pemboeangan oléh bangsa Papoea. Badannja penoeh loeka-loeka karena panah dll. Kominis Dachlan jang toeroet pada salah satoe golongan orang-orang jang lari itoe roepanja oléh teman-temannja ditinggalkan dihoetan, karena ta koeat berdjalan lagi. Segolongan lain lagi roepanja masih ada didekat soengai Fly didjadjahan Inggeris.”



2. “Kominis Dachlan. Menoeroet kawat Aneta dari Padang, keloearga toean Dachlan, kominis jang diasingkan ke Digoel, telah menerima kabar jang menjatakan tidak benarnja warta t. Da[c]hlan ditinggalkan dalam hoetan-hoetan besar oléh teman-temannja jang lari bersama-sama meninggalkan tempat pemboeangan itoe.”



***


Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 12, Tahoen VIII, 11 Februari 1930, hlm. 190 dan Pandji Poestaka, No. 15, Tahoen VIII, 21 Februari 1930, hlm. 237, tentang usaha seorang komunis asal Sumatera Barat yang yang radikal bernama Dachlan yang mencoba melarikan diri dengan teman-temannya dari kamp pembuangan Digoel. Semula diberitakan bahwa Dachlan ditinggalkan oleh teman-temannya dalam keadaan letih dan terluka di hutan belantara Papua, tetapi kemudian berita itu dibantah oleh keluarganya di Sumatera Barat. Sayang sekali, tidak ada maklumat dari nagari mana digoelis Dachlan ini berasal.


Suryadi - Leiden, Belanda | Padang Ekspres, Minggu, 5 April 2015

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 06, 2015 05:00 • 63 views

April 5, 2015

Taher Marah Soetan (1890-1953): Goodfather-nya Kaoem Pergerakan


67342ed2e2d14ee8ff88bfd71891bb40_vxdfhb



“Tokoh yang satu ini bolehlah disebut sebagai goodfather-nya kaum pergerakan di Padang pada awal Abad ke-20″, tulis Hasril Chaniago dalam bukunya 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (Padang: Citra Budaya, 2010:493). Sebagaimana dicatat oleh Hasril (hlm. 493-497), kisah hidup Taher, ayah mantan menteri agama Tamizi Taher ini, penuh dengan dedikasi dan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya, yang mayoritas tetap menjadi warga kelas paling bawah dalam susunan masyarakat kolonial di Hindia Belanda.



Taher lahir di Padang Panjang tahun 1890 dari pasangan Syekh “Babulu Lidah”, seorang ulama Naqsyabanbdiyah di Tanah Datar, dan Saridah yang berasal dari Pariaman, tapi sudah lama menetap di Padang Panjang. Taher merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 dari 5 tahun sekolah dasar. Selebihnya, ia menimba berbagai macam pengetahuan secara otodidak.



Hampir sepanjang usianya, Taher tinggal di Padang, di mana ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, dan dunia intelektual dan pergerakan. Hal itu sudah dimulainya semenjak ia berusia 28 tahun. Sambil bekerja di perusahaan agen perkapalan di Teluk Bayur (Emmahaven), Taher menerajui Sjarikat Oesaha (SO), sebuah organisasi yang dibentuknya dengan beberapa intelektual pribumi lainnya pada tahun 1914 yang bertujuan untuk menggalang aksi sosial, memajukan pendidikan pribumi, dan sebagai wadah pertemuan para intelektual pribumi/kaum pergerakan untuk saling bertukar pikiran dan mencari berbagai ikhtiar untuk memajukan bangsanya. Dalam SO, Taher merupakan primus inter pares sekaligus sebagai mentor bagi kalangan kaum muda yang berikhtiar memajukan diri dan bangsanya. Sejarah telah mencatat bahwa Taherlah yang memfasilitasi berdirinya Jong Sumatranen Bond (JSB) cabang Padang pada 1918 yang kemudian diorganisir oleh Hatta, Bahder Djohan, dan lain-lain. (Tugu peringatan kongres pertama JSB di Padang itu masih ada sampai sekarang di dekat Taman Melati, Padang).



Salah satu warisan dari usaha nyata Taher di bidang pendidikan yang masih dapat dilihat sampai hari ini adalah Perguruan Adabiah (Adabiahschool) di Padang. SO yang dipimpin oleh Taher mendirikan sekolah partikulir ini tahun 1915, yang kemudian sejak 1916 berdiri secara resmi dan diberi subsidi penuh oleh Pemerintah. Parada Harahap yang mengunjungi sekolah ini mencatat: “[W]aktoe pemboekaan sekolah itoe tahun 1916, moeridnja tjoema 90 orang, dalam mana ada 75 laki[-laki] dan 15 perempoean.” Tapi pada tahun 1925, saat ia mengunjungi sekolah ini, sudah berkembang menjadi “3 sekolah, jaitoe Adabiah I boeat H.I.S., Adabiah II H.I.S. dan satoe lagi Frobelschool.” Jumlah muridnya sudah mencapai 750 orang yang diajar oleh 4 guru Eropa (yang punya hoofdacte) dan 12 guru pribumi (7 lelaki, 2 perempuan). Parada begitu terkesan dengan kerapian administrasi sekolah ini dan dedikasi dan wibawa Taher yang begitu tinggi di kalangan guru-guru Adabiahschool dan intelektual pribumi di Padang pada umumnya (Parada Harahap, Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October - Dec. 1925 dan Maart - April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij ‘Bintang Hindia’, 1926, hlm.103-4). Taher juga berjasa memperjuangkan diterimanya pengajaran agama Islam di sekolah MULO milik Pemerintah (Chaniago, 2010:495-6).



Demikianlah sekelumit kisah hidup Taher Marah Soetan, seorang intelektual Minangkabau yang, seperti halnya Dr. Abdoel Rivai, tidak pernah merasa minder berhadapan dengan white ruling class orang Belanda. Seperti dicatat Chaniago, Taher biasa ikut dalam pertemuan-pertemuan di rumah bola (societeit) dan memiliki kuda pacuan, bahkan juga memiliki mobil pribadi, sesuatu yang jarang terjadi di kalangan orang pribumi di zamannya. Taher diangkat pula menjadi anggota Gemeente Raad Padang. Pada Zaman Jepang, ia ditangkap karena disangka pro Belanda, tapi kemudian dibebaskan. Di awal kemerdekaan, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) (Chaniago, ibid.: 496-7).



Mendekati akhir hayatnya, Taher menderita sakit parah. Hatta dan Yamin sempat membezuknya sebelum mentor kaum muda Minangkabau itu wafat pada 4 Juni 1953 di Padang (Chaniago, ibid.: 496-7).



Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 5 April 2015


(Sumber foto: Parada Harahap, Dari pantai ke pantai.., di muka hlm. 104).

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 05, 2015 21:55 • 106 views

March 29, 2015

Kepada Distrik Kelas I Lubuk Sikaping: Tuanku Sultan Syair Alam Syah (1929)


84420800b63d4ef6a9c5901ea9584fe5_minang-saisuak-sgl-minggu-29-maret-2015-kepada-distrik-kelas-i-lubuk-sikaping



Lubuk Sikaping menjadi penting dalam peta politik dan ekonomi Hindia Belanda di Sumatera Barat setelah Bonjol, pusat gerakan Paderi, ditaklukkan Belanda pada 1837. Tiga tahun setelah Bonjol takluk, wilayah Sumatera Barat bagian utara dimekarkan lagi menjadi beberapa distrik untuk mengontrol daerah-daerah baru baru diambil alih oleh Belanda dari kaum Paderi. Maka dibentuklah distrik-distrik baru yaitu Priaman, Tikoe en de Danau Districten. Pada masa-masa sesudahnya daerah Lubuk Sikaping dan sekitarnya dijadikan pula menjadi satu ditrik. Kepala distriknya berkedudukan di Lubuk Sikaping.



Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto ‘DISTRICTHOOFD 1e KL. LOEBOEKSIKAPING’ (Kepala Distrik Kelas 1 Lubuk Sikaping (dan wilayah taklukannya)) ‘Toeankoe Sulthan Sjair ‘Alam Sjah Daulat jang dipertoean Padang-noenang Rau (Rao)’. Dalam repertoir lisan wilayah pesisir Sumatera Barat bagian utara, Daulat Yang Dipertuan Padang Nunang sering disebut-sebut, misalnya dalam teks ‘Jalan Kuliliang Bilang Nagari’ yang didendangkan dalam kesenian rabab Pariaman.



Sulthan Sjair ‘Alam Syah merintis kariernya dari bawah. Mula-mula dia bekerja sebagai ‘leerling Menteri‘, kemudian berturut-turut naik menjadi ‘Controle Menteri‘ dan ‘wd. Larashoofd‘. Setelah terjadinya perubahan administrasi yang menghapuskan jabatan Larashoofd, dia diangkat menjadi Districthoofd. Pada bulan April 1929 dia dipromosikan menjadi ‘Districthoofd 1e kl.‘ yang berkedudukan di Lubuk Sikaping. Banyak pembesar, baik Belanda maupun pribumi, hadir saat perhelatan pengangkatannya menduduki jabatan yang baru ini.



Belum diperoleh informasi lebih lanjut mengenai tanggal/tempat lahir, riwayat pendidikan yang lebih lengkap, dan tarikh/tempat wafatnya Toeankoe Sulthan Sjair ‘Alam Sjah. Namun, setidaknya informasi ini menambah lagi perbendaharaan pengetahuan kita tentang masa lalu Minangkabau.



Seperti sudah saya katakan dalam rubrik ini pada minggu-minggu sebelumnya, adalah sangat mungkin untuk menyusun sebuah buku tentang kehidupan para elit lokal Minangkabau yang berafiliasi dengan administrasi kolonial Belanda pada paroh kedua abad ke-19 dan paroh pertama abad 20. Banyak data berserakan di sana sini yang dapat dikumpulkan untuk membuat sebuah kajian yang mendalam dan bermutu. Mudah-mudahan ada sejarawan kita atau mahasiswa yang cerdas di Sumatera Barat yang berminat menelitinya.



Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 29 Maret 2015 | (Sumber foto: Pandji Poestaka No. 45, Th. VII, 4 Juni 1929: 706).

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 29, 2015 23:00 • 86 views

“Sekolah-sekolah Islam di Soematera. Baroe ini perkoempelan “Sumatra Thawalib”, ja’ni sematjam perkoempoelan Moehamadijah di Djawa, mengadakan congres di Fort de Kock seminggoe lamanja. Jang teroetama dibitjarakan ialah pendirian sekolah2 Islam. Di Soematera Barat perkoempoelan tsb. Mempoenjai beriboe-riboe orang anggota dan telah mendirikan beberapa sekolah-sekolah Islam, misalnja di Padang-Pandjang. Djoemlah moerid sekolah2 Islam di Padang-Pandjang ada 1000 orang lebih. Congres itoe boléh dianggap sebagai reactive dari congres Moehamadijah, jang beloem antara lama ini diadakan di Fort de Kock.”



***



Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 45/46, Tahoen VIII, 6 Juni 1930, hlm. 733, tentang kongres para anggota dan pelajar Sumatra Thawalib di Fort dek Kock (Bukittinggi). Kongres tersebut diadakan tgl 23-28 Mei 1930. Selama kongres terjadi 14 kali persidangan: 1 kali resepsi untuk semua utusan, 6 kali sidang tertutup, 2 kali sidang umum untuk kaum laki-laki, 1 kali sidang umum untuk kaum wanita, 1 kali sidang bagi anggota Sumatra Thawalib, 1 kali pertemuan pandu, 1 kali pertemuan murid-murid, dan 1 kali pertemuan penutup . Pada waktu itu Sumatra Thawalib dipimpin oleh Ali Imran Djamil. Kongres itu dihadiri tak kurang dari 3000 orang. Kongres tersebut memutuskan penggantian nama Sumatra Thawalib menjadi Persatoean Moeslim Indonesia (disingkat P.M.I.). Disebutkan bahwa tujuan penggantian nama itu tiada lain untuk memfasilitasi tujuan Sumatra Thawalib yang lebih luas, yaitu untuk menjayakan bangsa. (Disarikan dari ‘Kongres Sumatra Thawalib Jang Pertama di Boekit Tinggi’, Pandji Poestaka, No. 47, Th. VIII, 13 Juni 1930:740-41)



(Suryadi - Leiden, Belanda) | Minggu, 29 Maret 2015

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 29, 2015 22:57 • 72 views

March 23, 2015

Si ‘penguntit’ Hatta dkk. di Belanda meninggal


“Toean L.C. Westenenk wafat. ’s Gravenhage, 3 Mei (Aneta). Toean L.C. Westenenk, bekas lid Raad van Indië telah wafat diroemah sakit. Katholiek dikota tsb., ja’ni 14 hari sesoedah dibelék dan karena penjakit paroe-paroe jang diperoléhnja sesoedah dibelék itoe.


Seperti pembatja ma’loem, t[uan] L.C. Westenenk seorang ambtenaar jang terkenal namanja. Sebeloem mendjadi lid Raad van Indië beliau telah mendjabat pangkat Goebernoer di Soem[atra] Barat dan Soem[atra] Timoer. Atas djasanja sebagai kontroleur Soem[atra] Barat pada tahoen 1908 ja’ni waktoe timboel kesoekaran-kesoekaran padjak disana beliau mendapat anoegrah bintang Militaire Willemsorde. Waktoe hidoepnja beliau mendjadi adviseur bagi pemoeda-pemoeda Bp. [bumiputra] jang menoentoet peladjaran dinegeri Belanda.”



Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 37, Tahoen VIII, 9 Mei 1930, hlm. 600-601, tentang meninggalnya Louis Constant Westenenk, pemadam pemberontakan Perang Kamang (1908), di Den Haag pada 2 Mei 1930. Westenenk lahir di Semarang pada 2 Februari 1872. Selama bertugas di darek , dia banyak melakukan perubahan, tapi karena sifat kerasnya, dia juga dibenci oleh banyak orang Minangkabau. Dia banyak menulis tentang budaya dan masyarakat Minangkabau dan sekitarnya, antara lain De Minangkabausche nagari (Padang: Bamer & Co., 1913). Setelah pensiun dan kembali ke Negeri Belanda, Westenenk menjadi penasehat untuk mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda. Tapi karena arogansinya juga, kemudian timbul konflik dengan mahasiswa kita, termasuk dalam peristiwa penangkapan Mohammad Hatta dan kawan-kawannya pada 1927 di Belanda. Abdul Rivai dalam kumpulan artikelnya Student Indonesia di Europa (Weltevreden: Bintang Timoer, 1928) mengecam tindakan Westenenk yang dituduhnya kolonial karena mematai-matai aktivitas mahasiswa Indonesia di Belanda.


***



(Suryadi - Leiden, Belanda), | Padang Ekspres, Minggu, 22 Maret 2015

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 23, 2015 04:21 • 74 views

March 22, 2015

4b6f632fc6c922777076fcbd1aeef046_minang-saisuak-sgl-minggu-22-maret-2015-bus-ans-chevrolet-1970-an



Kodak klasik bus ANS trayek Bukittinggi - Sawahlunto ini muncul dalam FB group Sumatera Barat Tempo Dulu. Para penanggap tampaknya larut dalam nostalgia. Tak dapat disangkal bahwa teknologi Facebook telah membuat banyak orang dapat ‘menyelam’ kembali ke masa lampau.



Ini adalah “CHEVROLET Division ‘74″, kata penanggap Adria Logand. Sementara penanggap Daniel In-tan menulis: “Oto ko model 70 ka ateh, sangat dikenal dengan sebutan ‘C goreh’ karano typenyo C/50, kalau jenis pick up, atau ukuran 1/2 ton, serinyo C/10.” (Mobil ini model 1970 ke atas, sangat dikenal dengan sebutan ‘C gores’, karena tipenya C/150 , kalau jenis pick up atau ukuran ton, serinya C/10).



Ini adalah masa ketika klakson mobil di Minangkabau berbunyi mendayu-dayu, yang dikenal dengan istilah ‘kalason oto’. Marc Perlman dalam makalahnya ‘Music technology and cultural memory’ (International Conference on Performance and Mediatization, Leiden University, 1-5 December 1998) membahas aspek budaya merantau dalam ‘kalason oto’ yang sangat populer di Minangkabau tahun 1970-an dan 80-an itu. Dan tentu saja kita jadi ingat pula lagu “Sinar Riau” yang dipopulerkan oleh Cik Uniang Elly Kasim.



Naik oto Chevrolet gedang ini tentu suatu prestise di masa itu. Lihatlah refleksinya dalam penampilan orang-orang yang terlihat dalam foto ini: baju dan pantalonnya necis, anak-anak pakai sepatu dan kaos kaki. Foto ini adalah data visual yang menarik untuk mengkaji dinamika modernity dalam masyarakat lokal Indonesia.



Transportasi publik di Minangkabau ternasuk paling maju di bagian Barat Indonesia. Hal itu sudah tampak sejak akhir zaman kolonial. Apa yang kita kenal sekarang sebagai ‘oto travel’ sudah sejak dulu ada. Dan “tahoekah pembatja, auto apa jang banjak dipakai djadi auto sewa’an [di Sumatra Barat?]“, kata Parada Harahap dalam bukunya Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October - Dec. 1925 dan Maart - April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij ‘Bintang Hindia’, 1926, hlm.106. “Chevrolet, itoelah merk auto jang dikenal orang betoel disana, disamping auto Ford jang memang dimana-mana dan boeat siapa poen lakoe poela.”



Menurut Parada, ongkos oto-oto sewaan alias mobil-mobil travel itu cukup murah. Mereka biasanya menunggu para penumpang di depan-depan stasiun kereta api seperti di Padang, Fort de Kock, dan Payakumbuh. “[A]ntara Padang dengan Padang Pandjang jang jaoehnja 55 K. M. lebih, auto Chevrolet jang baroe dan bagoes……. soedah dapat dinaiki dengan bajar f 10 satoe auto“, kata Parada lagi (h.107). Dia berkata, orang juga bisa naik bersama-sama dengan saling berkongsi ongkos.



Dan… jika kini banyak travel liar beroperasi di Sumatera Barat, tak usah heran benarlah kita. Arketipnya ternyata sudah ada sejak zaman dulu, sejak tahun ketumbar.



Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 22 Maret 2015


(Sumber foto: Facebook group Sumatera Barat Tempo Dulu, kiriman Gampo Alam).

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 22, 2015 23:00 • 3,019 views

March 17, 2015

Dr. M. Amir



Suatu bangsa tiada dapat meminjam perasaian (sejarah) bangsa lain. WILSON



Dalam surat kabar-surat kabar Indonesia saya baca bahwa niat Pemerintah akan mendirikan Sidang-Minangkabau (Minangkabauraad) serta dengan girang hati kita dengar Tuan Koerkamp menyambung permintaan Saudara Abdul Muis di Padang Panjang tahun lalu [1923] di gedung Volksraad [Batavia]. Sebetulnyalah patut nyaring suara penduduk Sumatera Tengah memintak vertegenwoordigend lichaam sendiri, seperti Minahasa-raad di puncak Pulau Selebes.



Sebab jarang terdapat di muka bumi ini sebidang tanah yang begitu subur untuk ditanami dengan perasaan dan aturan demokrasi. Ketika Presiden Wilson berteriak dari gedung Kapitol di Washington, menyiarkan ke sekeliling dunia bahwa niat beliau - idealist utama - to make the world save democracy, teriak[an] ini menggeletarkan udara di Asia Timur, dari muara Sungai Indus sampai ke pantai tanah Korea, serta menggeletarkan juga udara di [se]keliling Gunung Singgalang dan Merapi. Putra Minang merasa dan mengetahui bahwa segala peraturan negerinya yang asali dan kuno semata-mata berdasar[kan] demokrasi semua.


Demokrasi atau pemerintahan rakyat bukanlah perkataan yang kosong saja di daerah Minang[kabau], melainkan telah jadi darah daging pada penduduknya. Ujud leider-leider dari Pemberontakan Besar di tanah Perancis merebut “kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan” telah berabad-abad berlaku di Minangkabau. Tidakkah Marsden, sobat dari Sir Stamford Raffless, menuliskan dalam bukunya yang masyhur: The history of Sumatra:


“Nama-nama yang harum dalam sejarah bangsa Melayu ialah Mansoer Sjah Sultan Malaka dan Mahkota Alam Sultan Aceh. Akan tetapi pekerjaan politik yang sebaik-baiknya di antara bangsa Melayu ialah [yang] dilakukan di negeri yang kecil-kecil, yang tiada ternama dalam sejarah, yaitu negeri-negeri yang beradat kemenakan (matriarchaat) di tanah-tanah tinggi di Sumatera dan di lembah-lembah Negeri Sembilan”.


Sebetulnyalah, negeri Minangkabau ada pula mempunyai “gouden eeuw”, zaman [e]mas seperti semasa raja Frederik Hendrik di Holland, yaitu di bawah pemerintahan kaisar Adityawarman (1340-1375). Sebelum raja Kertanegara mengirimkan expeditie ke Ma{34}layu-bumi (Jambi-Minangkabau), yaitu dalam tahun 1275, tanah Minangkabau ini sudah mempunyai aturan negeri yang rapi berdasar matriarchaat dan demokrasi (kata mufakat), berdasar cultuur sendiri. Minangkabau seolah-olah satu kumpulan republik kecil-kecil (= nagari) yang dipagar oleh adat lembaga yang sama. Yang dinamakan “kaisar” Minangkabau itu sebenarnya satu symbol (tamsil, tanda) persatuan republik-republik kecil itu. Keizer itu bukan bersimaharajalela seperti Czaar-Czaar di Rusland [Rusia] atau setengahnya Cesar-Cesar di tanah Romawi, melainkan terikat oleh adat dan aturan negeri. Kuasa raja dikandung oleh “Rajo Nan Tigo Selo”, yaitu Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat (agama) di Sumpur Kudus, satu-satunya memegang “departemen” masing-masing, dibantu oleh satu kabinet yang terdiri atas empat minister (Basa Ampek Balai), yaitu Bandaro, Kadi, Makudum dan Indomo. Satu di antaranya menjadi menteri jajahan untuk rantau Negeri Sembilan dsb.


Beberapa famili menjadi satu suku.


Beberapa suku menjadi satu nagari.


Beberapa nagari menjadi satu luhak.


Beberapa luhak (tiga) menjadi satu Staat:


Negeri Minangkabau.


Dalam aturan ini keperluan sendiri-sendiri berhubung dengan serta takluk kepada keperluan bersama, dan suara Minangkabau sendiri atas suara seluruh rakyat, kecil besar, tua muda.


Begitulah, bangsa Minangkabau telah berabad-abad lamanya biasa memakai dasar demokrasi, memakai aturan memerintah diri sendiri atau mengurusi rumah tangga sendiri.


Niat Pemerintah, akan memberi semacam “autonomie” pada “locale raden” di kampung-kampung, adalah sesuai sekali dengan haluan politik nasional Minangkabau.


Dengan berdirinya Raad Minangkabau, tentu negeri yang indah ini mendapat semacam parlemen sendiri, tempat memperbincangkan keperluan bangsa dan tanah air, tempat wakil-wakil rakyat menjaga keamanan umum dan membela peradaban bangsa, seperti adat, agama, bahasa dan ilmu kepandaian. Moga-moga kepandaian “politik yang dipuji oleh Marsden dalam [suku] bangsa Minangkabau, akan timbul kembali, memberi bahagia pada segala putri dan putra Minangkabau”.



Holland, 3 Sept. 24 (Hindia Baroe) {35}



***


* Sumber: Dr. M. Amir, Boenga Rampai: Himpoenan karangan jang terbit diantara tahoen 1923 dan 1939, dipilih dengan persetoedjoean penoelis. Medan: Centrale Courant en Boekhandel, 1940, hlm. 34-35. Artikel ini mula-mula terbit dalam surat kabar Hindia Baru, 1924. Ejaan disesuaikan; angka dalam tanda { } merujuk pada halaman asli bukunya; bagian kalimat dalam tanda [ ] merupakan tambahan dari penyalin; foto ilustrasi: image sampul luar buku yang memuat tulisan ini.



Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 17, 2015 02:17 • 187 views

March 16, 2015

1. Pendodoek Digoel jang boléh kembali kenegerinja. Menoeroet beslit Goebernemént tanggal 2 April jl. ja’ni berhoboeng dengan hal bahwa meréka menoeroet pertimbangan politik ta’ mengchawatirkan lagi, ditjaboetlah beslit pemboeangan atas orang-orang jang terseboet di bawah ini:


Soewarti boléh ke Djawa Barat, Moehamad Moesa ke Koedoes, M. Soediman ke Djawa Barat, M. Darso alias Dirdjodidjojo ke Semarang, Salimin alias Marto Soedarmo ke Semarang, Djojosantoso alias Djojokasoer ke Blitar, Djamaloedin gelar Malin Boengsoe ke Soem[atra] Barat, Moeroedin bin Abdoel Rahim ke Ternatédan Joenoes bin Maana ke Ternaté.”(cetak miring oleh Suryadi).



2.Penangkapan [se]orang kominis. Sinar Sumatra mewartakan penangkapan seorang kominis, jang terda’wa toeroet tjampoer dalam perkara pemberontakan dalam boelan November 1926 antara lain-lain seperti berikoet: Saroen, bekas moerid sekolah Normaal di Fort de Kock, ja’ni sesoedah tammat peladjarannja, laloe mendjadi goeroe sekolah ra’jat di Sawah Loento dan mendjadi propagandist P.K.I. jang amat gembira. Waktoe di Siloengkang timboel pemberontakan, datanglah beslit dari departement Onderwijs bahwa ia diangkat mendjadi goeroe sekolah disana, tetapi ia telah lari bersama-sama dengan orang-orang kominis lainnja.


Kira-kira doea boelan jbl. Saroen dapat ditangkap oléh penghoeloe dan kepala negeri dibilangan Solok dihoetan Soemandian dengan ta; melawan. [...].”



***


Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 28, Tahoen VIII, 8 April 1930, hlm. 452 (No. 1) dan Pandji Poestaka, No. 37, Tahoen VIII, 9 Mei 1930, hlm. 600 (2), tentang dua orang komunis yang berasal dari Minangkabau. Laporan nomor 1 mencatat beberapa orang komunis yang dibuang ke Digoel dikembalikan ke daerah asalnya karena dianggap tidak berbahaya lagi. Di antaranya adalah Djamaloedin gelar Malin Boengsoe yang, sayang sekali, tidak disebutkan nagari asalnya di Sumatra Barat. Berita nomor 2 melaporkan seorang propagandis komunis bernama Saroen yang baru berhasil ditangkap empat tahun setelah pemberontakan Silungkang (1926). Sedikit latar belakang Saroen diceritakan dalam laporan ini. Label ‘komunis’ pada waktu itu cepat sekali dilekatkan pada para penjuang pribumi yang kritis dan berusaha melawan penjajah Belanda. Keadaannya berbeda dengan politik kaum komunis tahun 1960-an yang berakhir tragis dengan Peristiwa G.30 September itu.



Suryadi Leiden, Belanda | Padang Ekspres, Minggu, 15 Maret 2015

 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 16, 2015 05:00 • 82 views

Suryadi's Blog

Suryadi
Suryadi isn't a Goodreads Author (yet), but he does have a blog, so here are some recent posts imported from his feed.
Follow Suryadi's blog with rss.