|
May 16
|
|
Ancilla
gave to:
Mala: Tetralogi Dangdut (Paperback)
by
Putu Wijaya
|
my rating:
|
| |
read in May, 2009
Ancilla said:
"As a sequel, Putu Wijaya keeps the reader's curiosity to a certain level. He lets the reader to be patiently read how this will be ended. Like previously, He makes the flow to be not in an order. I personally think that he makes the book just like wh...more
As a sequel, Putu Wijaya keeps the reader's curiosity to a certain level. He lets the reader to be patiently read how this will be ended. Like previously, He makes the flow to be not in an order. I personally think that he makes the book just like what I see in daily life. The cases couldn't be solved directly. Any social situation is much more complex than we thought, it is simply not a black or white. For instance, we couldn't really put sex workers much under the ex-head of militant. Or, a becak rider under the police officer. Or a convict under the director of mass media. And so on... Yes, we have strata in our society which is usually be defined by financial condition. But then, as a human could we really put people differently? Or more, under the law of morality, it would not be as easy as we assumed.
Money plays important role in society. It seems that people might do anything in the name of wealthy. Not only virginity that can be bought, but also dignity! Yes, human dignity! What a poor creature!
This book, as so the three others, I believe, will be good sketch of the community. We can "see" a lot!
These is the paragraph that I really like in this book:
"Mungkinkah agama hanya dipakai sebagai atribut, bukan penyelarasan jiwa sebagai makhluk beradab, yang seharusnya sadar pada apa yang pantas dan tidak? Manusia diajak memikirkan kehidupan sesudah mati secara mendalam, tapi melupakan kehidupan yang sedang dijalani. Orang berlomba-lomba mendekatkan dirinya pada Tuhan, tetapi sambil menginjak sesamanya. Seakan-akan moral, tuntunan, etika, agama, dan sebagainya itu bukan mendamaikan, tetapi menyulut permusuhan..." (p.223).
The free translation of that paragraph is as follow:
"Is it possible that religion being used as an attribute, not to maintain the balance of soul as civilized creature, who have to aware what are proper or not? Human has been pushed to think deeply about life after death, but forgotten the life itself. People urge themselves to get closer to GOD, meanwhile, they step on their fellows. It seems that moral, guidance, ethic, religion and others are not make peace, but being triggers of enmity..."
(less)
"
|
|
Ancilla
made a comment on Jassie's profile:
|
|
April 13
|
|
Ancilla
is currently reading:
Kevin's Questions (Hardcover)
by
Miles Roston
bookshelves:
currently-reading
|
my rating:
|
| |
read in April, 2009
|
|
|
|
|
|
February 03
|
|
Ancilla
gave to:
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
by
Pramoedya Ananta Toer
|
my rating:
|
| |
Ancilla said:
"Hal yang paling utama dalam buku ini adalah gotong royong yang tentunya terkait dengan kekeluargaan. Sangat ditekankan bahwa dengan aspek kerjasama yang walaupun sudah lama ada, namun tetap aplikatif untuk masa apa pun juga, termasuk saat ini. Gotong...more
Hal yang paling utama dalam buku ini adalah gotong royong yang tentunya terkait dengan kekeluargaan. Sangat ditekankan bahwa dengan aspek kerjasama yang walaupun sudah lama ada, namun tetap aplikatif untuk masa apa pun juga, termasuk saat ini. Gotong royong tidak hanya berisikan bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan suatu tugas, namun juga aspek musyawarah-mufakat, toleransi dan kesediaan untuk "meletakan" ego masing-masing untuk kepentingan masyarakat banyak.
Topik bahwa pimpinan bukan berarti tidak boleh menerima pendapat dari bawahan. Bahwa pendapat dari bawahan, yang seringkali dianggap lebih bodoh dan segala hal minor lainnya, tidak berarti omong kosong. Walaupun, ada kalanya pimpinan-pimpinan memang tidak memungkinkan untuk duduk bersama para bawahan, Presiden misalnya. Akan tetapi, aspek mendengarkan ini sebenarnya dapat dilakukan dengan banyak cara. Sebagai individu pada umumnya dan pimpinan khususnya, seharusnya memang memiliki berbagai sumber.
Selain itu, ada aspek keadilan. Juragan Musa yang ternyata "maling" dan pengkhianat tetap harus menerima ganjarannya, akan tetapi sang istri yang memang tidak tahu menahu, tidak diasingkan. Sang Nyonya tetap dilindungi dan didengar pendapatnya. Keadilan ini juga terkait dengan aspek memaafkan. Berbagai tindakan Juragan Musa yang keterlaluan kepada masyarakat kecil termasuk Ranta, sangat mungkin untuk diadili secara sepihak terutama ketika Ranta menjadi Lurah. Sangat mungkin untuk terjadinya pembalasan dendam. Tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Juragan Musa tetap diadili berdasarkan hukum yang berlaku.
Lantas, aspek peranan perempuan dalam masyarakat. Pendapat perempuan seringkali dianggap tidak ada. Bahkan ada suatu anggapan bahwa perempuan tidak boleh lebih pintar daripada laki-laki, terutama di jaman tokoh-tokoh dalam buku ini. Padahal perempuan secara kodrat lebih memiliki empati terhadap kelangsungan kehidupan generasi selanjutnya. Memang, hanya boleh ada satu nakhoda dalam suatu kapal. Tapi tidak berarti peranan tukang dayung dapat diabaikan. Semuanya merupakan sinergi yang berkesinambungan.
(less)
"
|
|
February 02
|
|
Ancilla
gave to:
Bukan Pasar Malam
by
Pramoedya Ananta Toer
|
my rating:
|
| |
read in February, 2009
Ancilla said:
"Sangat mudah untuk memahami konflik yang dialami oleh karakter-karakter utama dalam buku ini, sang Ayah dan Aku.
Relasi antara orang tua dan anak memang selalu menjadi topik yang menarik untuk diceritakan. Konflik yang terjadi diantaranya ...more
Sangat mudah untuk memahami konflik yang dialami oleh karakter-karakter utama dalam buku ini, sang Ayah dan Aku.
Relasi antara orang tua dan anak memang selalu menjadi topik yang menarik untuk diceritakan. Konflik yang terjadi diantaranya seringkali terjadi tanpa maksud menyakiti pihak lainnya, namun yang terjadi sebaliknya. Alhasil banyak sekali tindakan-tindakan yang dilakukan untuk "menebus dosa".
Seperti halnya, ketika sang Ayah yang sedang di ujung hidupnya secara terus menerus meminta es yang sebenarnya dilarang secara medis, sang anak akan terus mengupayakannya. Atau ketika sang Ayah yang merelakan anak sulungnya untuk kembali bekerja yang berarti meninggalkannya lagi.
Bagaimana manusia ini hidup dipenuhi dengan berbagai konflik peran. Sang Aku di buku ini harus menjadi seorang anak, kakak, keponakan, suami sekaligus pekerja yang baik.
Bagaimana hidup manusia ini seakan hanya terdiri dari rentetan ketidakpuasan. Sehingga, untuk menjadi manusia yang bahagia, kita harus menerima ketidakpuasan tersebut dan bukan menggumulkannya sebagai kisah tanpa ujung.
Dan bahwa teman atau lawan tidaklah mudah didefinisikan. Sang Ayah bekerja dengan Belanda namun sekaligus menjadi pimpinan gerilya. Sang tetangga yang meminta dan menerima bantuan, namun sekaligus menginginkan kejatuhan sang penolong. Sang idealis yang menjadi kapitalis karena tergiur kekuasaan...
Lantas, kehidupan dan kematian yang sebenarnya hanyalah siklus alami yang harus dialami setiap manusia. Lahir sendiri dan meninggal sendiri. Abu menjadi Abu.(less)
"
|