" Oya, yang suka komik, monggo dateng ke acara komik kita dengan CCCL. Pembukaan hari Jumat, 25 Februari 2011, pk. 16.00. Ada pemutaran animasi dan pelu...moreOya, yang suka komik, monggo dateng ke acara komik kita dengan CCCL. Pembukaan hari Jumat, 25 Februari 2011, pk. 16.00. Ada pemutaran animasi dan peluncuran komik 101 Hantu Nusantara bersama Pak Waw :D.
[image]
Detil acaranya, lihat: http://cergamboree.wordpress.com/events/(less)"
|
" Buat yang kebingungan arah ke C2O, silahkan lihat petanya di: http://c2o-library.net/about/address-ope...
Sampai ketemu!"
|
|
|
Mengundang kerabat untuk diskusi buku (dilakukan dalam bahasa Inggris) “Mati, Bertahun yang Lalu.” Mari melatih bahasa Inggris sambil membahas novel!
[image]
Senin, 3 Januari, 2011, 15.00 WIB. Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20, Surabaya 60264 (Jalan k...moreMengundang kerabat untuk diskusi buku (dilakukan dalam bahasa Inggris) “Mati, Bertahun yang Lalu.” Mari melatih bahasa Inggris sambil membahas novel!
[image]
Senin, 3 Januari, 2011, 15.00 WIB. Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20, Surabaya 60264 (Jalan kecil seberang konjen Amerika, lihat peta di sini)
Tentang Penulis Soe Tjen Marching adalah seorang Indonesianis, penulis, dan komponis. Ia memperoleh gelar Ph.D.nya dari Universitas Monash, Australia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa. Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne – Australia.
Moderator Dr. Angus Nicholls adalah dosen dalam sastra komparasi di Queen Mary University of London. Beberapa bukunya telah diterbitkan oleh Camden Press dan Cambridge University Press. Angus saat ini juga menjabat sebagai Acting Director di departemennya. http://www.sllf.qmul.ac.uk/staff/nicholl...
INFO: Email: c2o.library@yahoo.com Web: http://c2o-library.net/ Facebook: http://facebook.com/c2o.library Twitter: http://twitter.com/c2o_library(less)
|
|
|
An incestuous relationship between a pair of Greek siblings (adorable yia yia and pou pou!) consummated on a ship fleeing to the US from the Turkish raid at the beginning of the century, resulting in a pair of recessive genes finally reunited in a he...moreAn incestuous relationship between a pair of Greek siblings (adorable yia yia and pou pou!) consummated on a ship fleeing to the US from the Turkish raid at the beginning of the century, resulting in a pair of recessive genes finally reunited in a hermaphrodite of a grandchild (with a science geek turned John Lennon wannabe for an older brother). I'm not generally too fond of coming-of-age story (the tired self-absorbed, holier-than-thou attitudes and the overblown status of The Catcher in the Ryes of the world left me cold to the so-called teenage tribulation).
Unlike, say, T.C. Boyle's The Inner Circle with its fictionalised portrayal of Kinsey's research (too Jackie Collins-esque) or Michel Houellebecq's Atomised or Platform (too much name dropping and hatred of the world dripping from every page), partly based on real events, Eugenides (or perhaps the narrator, Cal) wrote sympathetic and humane portrayals of a tumultuous century, of three generations of immigrants, of the so-called multiculturalism and gender diversities (and the politics of sexology), of people and their flaws.
Some of the coincidences described were rather too incredulous, and the narrative does get uneven sometimes. The drama can get a bit too much. Neither is the transition from female to male accorded enough attention. But all things considered, it's quite a fun coming of age book.(less)
|
|
|
Asia Tenggara telah lama dikenal memiliki, mengakui, dan melegitimasi tradisi gender dan seksualitas yang lebih beragam dan pluralistik daripada belahan dunia lainnya. Bukti-bukti sejarah dan etnografis menunjukkan bahwa praktik-praktik dan identita...moreAsia Tenggara telah lama dikenal memiliki, mengakui, dan melegitimasi tradisi gender dan seksualitas yang lebih beragam dan pluralistik daripada belahan dunia lainnya. Bukti-bukti sejarah dan etnografis menunjukkan bahwa praktik-praktik dan identitas transgender, serta berbagai macam seksualitas non-heteronormatif, mempunyai sejarah yang panjang dan terhormat di Asia Tenggara dan wilayah Asia Pasifik secara keseluruhan. Namun dalam tiga hingga empat abad terakhir, pluralisme gender ini mengalami banyak penyempitan dan erosi legitimasi.
Gender Pluralism: Southeast Asia Since Early Modern Times secara khusus menyajikan dan mengulas sejarah dan dinamika pluralisme gender dan seksualitas di Asia Tenggara sejak zaman modern awal (sekitar abad ke-15-16) hingga awal abad ke-21. Dibagi menjadi lima bab dengan tambahan epilog, di bab pertama Peletz memberi pengantar latar belakang, metodologi, dan susunan buku, sementara bab-bab berikutnya ditata berdasarkan periode kronologis untuk menjabarkan bagaimana pluralisme gender mengalami perkembangan atau penyempitan, serta situasi dan kondisi seperti apa yang mendukung proses-prosesnya. Wilayah Asia Tenggara di sini dibatasi berdasarkan perbatasan geopolitis zaman sekarang (kecuali Irian Jaya), ditambah dengan sedikit membahas studi kasus diaspora dan transnasional orang-orang Asia Tenggara di Amerika dalam bab penutup. Sebagai kerangka interpretasi, Peletz menggunakan peran transgender sebagai lensa kritis untuk menganalisa pluralisme gender. Menurutnya, perubahan-perubahan situasi dan kondisi transgenderisme menandai proses dalam berbagai domain analitik dan budaya yang saling berkaitan di Asia Tenggara.(less)
|
|
|
|
|
|
Dengan latar belakang Bandung di tahun 1930-1952—kota di mana penulis dibesarkan, Only a Girl menceritakan kehidupan dan pergulatan tiga generasi perempuan Tionghoa. Nanna yang berusaha mempertahankan dan menanamkan nilai-nilai tradisional Tionghoa ...moreDengan latar belakang Bandung di tahun 1930-1952—kota di mana penulis dibesarkan, Only a Girl menceritakan kehidupan dan pergulatan tiga generasi perempuan Tionghoa. Nanna yang berusaha mempertahankan dan menanamkan nilai-nilai tradisional Tionghoa sementara anak-anaknya lebih memilih mengikuti cara hidup berbaur dengan masyarakat kolonial Belanda. Carolien, putri bungsunya yang menjunjung nilai Belanda, dengan berani menentang keluarganya untuk menikah dengan lelaki yang “sepadan dengannya” sekedar demi mencari kemapanan hidup. Pilihan Carolien ini pun diakhiri dengan perceraian karena sang suami, Po Han, meskipun simpatik dan lembut hati, tidak dapat menghidupi keluarganya karena obsesinya kepada fotografi. Namun, di sini perceraian tidak menjadi sesuatu yang salah, tapi menjadi pilihan. Mereka semua, bersama Jenny, putri Carolien yang dibesarkan dalam gaya hidup Belanda, berhadapan dengan berbagai tantangan setelah Belanda jatuh dan tidak lagi dipandang pasca-kemerdekaan.
Inilah salah satu daya tarik buku ini. Sebagai sisa-sisa larangan menyinggung SARA dari era Orde Baru, di Indonesia jarang sekali kita jumpai novel tentang Tionghoa, apalagi yang pro-Belanda. Kalaupun ada, hampir semuanya merujuk ke tradisi Tiongkok. Di sini kita bisa melihat keanekaragaman masyarakat Tionghoa di Indonesia—ada yang pro-Belanda, pro-Cina, pro-pribumi, dengan segala permasalahan dan pergulatannya. Dari gaya hidup, bahasa, nama, dan kebiasaan yang muncul dalam novel ini, kita bisa melihat berbagai campur aduk perasaan, ideologi, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang kerap terabaikan, seiring dengan pergeseran-pergeserannya. Sebagai contoh, jika pemaksaan pergantian nama Tionghoa menjadi nama Indonesia kerap dibahas setelah jatuhnya Orba, kita jarang mendengar mengenai masyarakat Tionghoa yang mengubah namanya menjadi nama Barat demi akses ke “modernitas”.
Ulasan lengkapnya, bersama reportase peluncuran bersama penulis, bisa dibaca di: http://c2o-library.net/2010/10/only-a-gi...(less)
|
|
|
Lebih dari separuh wilayah Indonesia terdiri dari laut, tapi sayangnya studi sejarah kita terlalu mementingkan daratan. Istilah bahari, menurut Kamus Umum, berarti zaman purba kala, dahulu kala. Dengan kata lain, pengertian bahari dan zaman dahulu ...moreLebih dari separuh wilayah Indonesia terdiri dari laut, tapi sayangnya studi sejarah kita terlalu mementingkan daratan. Istilah bahari, menurut Kamus Umum, berarti zaman purba kala, dahulu kala. Dengan kata lain, pengertian bahari dan zaman dahulu kala sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat dekat sampai-sampai dianggap sebagai suatu sinonim. Perhatikan pula bahwa istilah kepulauan dalam bahasa Inggris, archipelago, berasal dari bahasa Yunani arch (besar, utama), dan pelagos (laut). “Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut.”
Begitulah Adrian B. Lapian, ahli sejarah maritim, mengingatkan kita melalui karya klasiknya ini, “Jangan lupa lautan.” Demi fokus yang lebih mendalam dan karena keterbatasan sumber tulisan, Lapian memilih untuk membatasi penelitian ini pada kawasan Sulawesi di abad XIX. Dibagi menjadi enam bab termasuk pendahuluan dan penutup, dengan komprehensif dan bertahap Lapian memberi uraian mengenai keadaan fisik dan penduduk kawasan Sulawesi, sebelum kemudian secara spesifik membahas masyarakatnya berdasarkan tiga tipe ideal: orang laut, bajak laut, dan raja laut.
Tipologi ini dibuat untuk memudahkan deskripsi masalah yang begitu kompleks, karena kategori ‘bajak laut’ telah dengan terlalu kabur digunakan untuk pihak ‘lain’ yang melakukan tindakan kekerasan di kawasan laut. Lapian mengingatkan kita untuk melihat apa yang disebut sebagai pemberantasan ‘bajak laut’ (di abad XIX) dalam kaitannya dengan politik imperialisme di Asia Tenggara, dan alasan untuk mengadakan intervensi dalam pemerintahan setempat.
Sebagai tipe ideal, Orang Laut, berdasarkan tipologi sederhana ini, dimaksudkan Lapian sebagai semua kelompok masyarakat yang belum atau tidak mengenal bentuk organisasi kerajaan atau negara, umumnya hidup berkelompok dalam perkampungan perahu dengan sifat mobile (hingga kerap disebut sea-nomads atau sea-gypsies). Raja Laut dimaksudkan sebagai “kapal dan perahu yang merupakan kekuatan laut raja-raja di Asia Tenggara yang melakukan tugasnya sebagai pemayar di perairan kerajaan,” dan mempunyai semacam “wenang-wenang” untuk melakukan kekerasan terhadap siapa saja yang memasuki wilayahnya. Kekuatan Barat pun, sebenarnya dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk khusus dari tipe Raja Laut karena posisi dominan mereka di Asia Tenggara. Sementara Bajak Laut adalah “kelompok pelaut yang melakukan kekerasan, tetapi … tidak bertugas sebagai pemayar kerajaan pribumi atau kekuatan kolonial, lagi pula bukan merupakan anggota masyarakat kelompok etnis yang masuk kategori Orang Laut,” dengan motif-motif tersendiri yang tidak jarang mendapat simpati masyarakat setempat, atau sebaliknya dimusuhi dan ditakuti (atau semuanya). Mereka juga bisa menjadi bentuk lain perang maritim, pelaku gerilya bahari sebagai perantara Raja Laut.
Perlu diingat bahwa tipologi ini tidak dibuat pada tingkat individu dan tidak dapati dilihat sebagai tingkat-tingkat dalam arti evolusionis, selain juga karena ada banyak tumpang tindih dan interdependensi dalam kegiatan ketiganya. Orang Laut dan Bajak Laut bekerja sama dengan sesama anggota kelompok masing-masing atau kelompok lain, sedangkan Raja Laut harus memiliki rakyat pengikut yang bisa terdiri dari Orang Laut atau Bajak Laut. Didukung oleh argumentasi yang kokoh dan segudang literatur dalam berbagai bahasa yang dikumpulkannya dengan tekun dari berbagai negara, Lapian dengan jernih menjabarkan sejarah kawasan ini dalam kerangka konseptual yang ia siapkan, sambil tak jemu-jemunya tiap kali mengingatkan kita untuk berhati-hati mengenai permasalahan sumber sejarah. Satu buku sejarah yang wajib dibaca; ditulis dengan penulisan yang segar, dan ketekunan dan dedikasi yang luar biasa.
Diulas di: http://c2o-library.net/2010/09/orang-lau...(less)
|
|
|
Sor Juana (1648-1695), satu figur soliter penuh kontradiksi di Meksiko abad ke-17: Biarawati dan enigma erotika; wanita yang handal dalam budaya, politik dan bisnis; penulis, pujangga dan intelektual otodidak yang selalu haus pengetahuan; pejuang kes...moreSor Juana (1648-1695), satu figur soliter penuh kontradiksi di Meksiko abad ke-17: Biarawati dan enigma erotika; wanita yang handal dalam budaya, politik dan bisnis; penulis, pujangga dan intelektual otodidak yang selalu haus pengetahuan; pejuang kesetaraan hak wanita dan kebebasan berpikir kritis di bawah perlindungan sekaligus pengawasan gereja.
Terlahir di luar nikah, karena kecerdasannya ia menjadi favorit Vicereine, bergaul di lingkungan kerajaan dan menerima berbagai courtship. Tiba-tiba dia memilih kehidupan dalam biara: mengubah sel kamarnya menjadi ruang studi penuh berisi buku, karya seni, instrumen ilmiah, dan mengubah lokasi biara menjadi semacam ruang publik (salon) yang hidup dengan diskusi sastra dan intelektual. Dia menulis puisi roman, syair dan irama lagu, komedi profan, puisi sakral, esai teologi, dan argumen hak-hak perempuan untuk belajar dan berkembang. Karya-karyanya dipentaskan dan diterbitkan di hampir seluruh daerah dominasi Spanyol—separuh dari dunia Barat saat itu.
Buku ini adalah hasil usaha Octavio Paz dalam memadukan sejarah dan puisi, dan Paz melengkapinya dengan informasi komprehensif mengenai proses penggalian dan penulisan sejarah Sor Juana selama ini, informasi sumber-sumber yang ada—keterbatasan dan tendensi-tendensi obskuritasnya, surat Response dari Sor Juana terhadap pembisuannya, serta istilah sastra Spanyol yang digunakan. Sangat direkomendasikan.
Ulasan lengkapnya: http://c2o-library.net/2010/07/sor-juana...
Terima kasih kepada Ismail Ilmi, kawan kami di Bali, atas bukunya :)(less)
|