|
June 29
|
|
Tyas
marked as to-read:
Gerhana (Paperback)
by
A.A. Navis
bookshelves:
indonesian,
literature-culture,
to-read
|
my rating:
|
| |
|
|
Tyas
read and liked
Ayu Palar's
review of Little Dorrit (Wordsworth Classics):
"People may say that I am such a huge fan of Charles Dickens. Yes, I am, but at the same time I also have to be objective in reading and criticizing his works. This year I have gained back my love for Dickens’ novels. It started with The Mystery of ...more
People may say that I am such a huge fan of Charles Dickens. Yes, I am, but at the same time I also have to be objective in reading and criticizing his works. This year I have gained back my love for Dickens’ novels. It started with The Mystery of Edwin Drood. With its bleak atmosphere, it has brought me back to the world of Dickens. Finishing it, I wanted some more of Dickens. Bleak House and Our Mutual Friend then charmed me with their own significant way. However, Little Dorrit does not do the same thing to me. Nope, it is not a bad piece of writing. It’s just lack of spells to bewitch me.
Little Dorrit opens with such a dark scene, which is two people talking in a prison. From the very beginning, we are introduced to the villain of the novel, Blandois, and I kept asking what the hell this man’s gonna do. And that became my problem with the novel. Until the end of the novel, I didn’t find the clear answer of what Blandois has done and what the motive is. Perhaps I missed something in this case, so can anyone be so kind to explain it to me? From his appearance (his terrific moustache and nose), Blandois has the potential to be a remarkable villain, but since I do not clearly understand his motive, I cannot find him outstanding. Another thing that I do not understand is the function of Tattycoram to the whole plot. Yes she’s an emotional girl, then what does it have to do with the main plot?
Thankfully, readers, we have Arthur Clennam. After Pip and Nicholas Nickleby, he is the Dickens’ hero that I find adorable (Well, Bradley Headstone is unforgettable but not because he’s adorable, right?). As a 40 year old man coming home from China, Clennam feels quite isolated in England either culturally or personally. I like how Dickens delivers the personal conflict in Clennam’s heart: his distance with his mother, his supressed feeling for Pet, and finally his love to Little Dorrit. And yes, Orwell is right. He once wrote that once Dickens describes something, you will not forget it maybe for the rest of your life. A scene that is really memorable is when Clennam gives up Pet for another man. The paragraph goes like this:
When he walked on the river’s brink in the peaceful moonlight for some half an hour, he put his hand in his breast, and tenderly took out the handful of roses. Perhaps he put them to his heart, perhaps he put them to his lips, but certainly he went down on the shore, and gently launched them on the flowing river. Pale and unreal in the moonlight, the river floated them away
That happens when Clennam finds out that Pet is going to marry another man, and Dickens shows that Clennam is willing to let Pet go through the launching of roses to the river by Clennam. The roses, of course, are given by Pet before. Such a great symbolization.
How about our Little Dorrit? At first I thought that she’s the typical of an ideal Victorian woman (motherly and feminine), but as the story went, I started to consider her motherly characteristic as a strength, not as a sign of submissiveness. When her father and Clennam have to face the bad situation, it is Little Dorrit who becomes tough and can support the two men. She might be known as Little Dorrit, yet she got this HUGE character, I believe.
Oh, I also fall in love with Young John Chivery’s character. As Little Dorrit’s childhood friend, he’s been in love with her since then. What is interesting about Young John is that everytime he gets a new experience, either it is good or bad, he always imagines what’s gonna written on his tomb. His character may invite you to laugh but in the end, we’re going to see how this funny character has such a big heart. I cannot wait to see how Russel Tovey (The History Boys) portrays Young John’s character :).
With two strong main characters and other memorable characters, it is disappointing that Little Dorrit doesn’t really give me enough explanation about the major conflict. Or I may say, the web isn’t tangled really well. So, Chuck, I am sorry. Three stars, not more than that.
(less)
"
|
|
Tyas
gave to:
Remarkable Creatures: Epic Adventures in the Search for the Origins of Species (Paperback)
by
Sean B. Carroll
bookshelves:
biology
|
my rating:
|
| |
read in June, 2009
Tyas said:
"Stories of scientists and adventurers always excite me. Thank you Mbak Nurul for lending me this book :)
And the photographs astonished me. What a work to retouch those old pics so that they come out as clear as modern ones!
"
|
|
Tyas
read and liked
Amang Suramang's
review of Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme:
"Raden Saleh dipercaya—dan dari sebagian besar data yang ada—lahir tahun 1807. Ia tercatat lahir di daerah Terboyo, Semarang, Jawa Tengah. Adalah pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Paijen, yang menjadi guru lukis Raden Saleh. Ia sebenarnya bertugas ...more
Raden Saleh dipercaya—dan dari sebagian besar data yang ada—lahir tahun 1807. Ia tercatat lahir di daerah Terboyo, Semarang, Jawa Tengah. Adalah pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Paijen, yang menjadi guru lukis Raden Saleh. Ia sebenarnya bertugas melukis pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Setelah tertarik pada bakat Raden Saleh, Paijen berinisiatif memberikan bimbingan.
Paijen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh menyelami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Paijen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Paijen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Konon usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819 – 1826), setelah ia melihat karya “ajaib” Raden Saleh. Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, bahasa Jawa, dan bahasa Melayu.
Barulah kemudian Raden Saleh melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, menjadi pelukis istana Kerajaan Belanda hingga pelukis yang dikenal luas di daratan Eropa.
Lebih dari 200 tahun sosok Raden Saleh menjadi legenda, baik oleh karena dirinya maupun karena lukisan yang dihasilkannya. Salah satu lukisannya yang berukuran besar, "Berburu Rusa", pada tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie’s Singapura seharga Rp 5,5 miliar. Fantastis bukan?
Lebih dari 200 tahun juga sosoknya dibanggakan oleh bangsa Indonesia karena hanya dirinya seoranglah yang mampu menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Prancis. Kala itu, pertengahan abad XIX, dunia seni lukis atau seni gambar para bumiputera umumnya masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah, dan sebagian terbesar menyimpan potensi dekoratif. Misalnya lukisan Bali, Jawa, ornamen di Toraja atau Kalimantan.
Hanya Raden Saleh seorang yang berkibar dengan gaya lukis fotografis, gaya seni lukis Barat. Raden Saleh tampil berbeda dari seni lukis Indonesia, yang oleh
masyarakat Barat dinilai berunsur “religius-kontemplatif-abstrak”, bersifat keagamaan, bersemedi, lepas dari kebendaan. Berbeda dengan mereka, lewat lukisan-lukisannya, Raden Saleh banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa. Dirinyalah yang dianggap pencetus aliran lukisan "Mooi Indie" (Hindia Molek) yang amat digemari oleh banyak orang, termasuk oleh Soekarno, dan aliran itu masih berpengaruh hingga saat ini.
Masyarakat umum menjadikannya ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Oleh peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia.
Bukan hanya itu: pada tahun 1969, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberi Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Dan bahkan Alwi Shahab dalam esai panjang yang ditulisnya di harian Republika, 22 Desember 2002 menyatakan demikian tentang lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro yang dilukis Raden Saleh, "Itu merupakan sebuah karya lukis yang revolusioner dan antipenjajahan". Bahkan akhirnya Raden Saleh ditempatkan di awal barisan panjang dari orang-orang Indonesia moderen dan figur proto-nasionalis.
Posisi demikian seolah makin disahihkan dalam Pameran Seni Visual - 200 Tahun Raden Saleh bertema "Ilusi-Ilusi Nasionalisme" di JogJa Gallery, tanggal 18 Agustus-9 September 2007, terutama yang selalu dirujuk adalah lukisan Raden Saleh berjudul "A Historisches Tableau: Die Gefangennahmen des Javanischen Häuptling Diepo Negoro" (Lukisan historis: Penangkapan Diponegoro).
Selama lebih dari 200 tahun juga, seringkali diungkap kedekatan Raden Saleh dengan Diponegoro. Raden Saleh yang berasal dari keluarga Syarif Bustaman dikaitkan dengan dua sepupunya, yaitu Raden Sukur (yang mengambil nama Raden Panji Adi Negara, lahir pada tahun 1803) dan juga kakaknya yang bernama Raden Saleh (alias Arya Natadiningrat, lahir pada tahun 1801) yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro. Oleh karena masih bersaudara, maka mereka sama-sama nasionalis. (Coba lihat http://www.bkpm.org/radensalehba.htm)
Tapi buku ini berbicara lain. Demitologi Raden Saleh -- inilah tema sentral buku ini. Buku ini seolah diterbitkan sebagai antitesis nasionalisme Raden Saleh. Ia melawan arus besar pemikiran banyak orang akan diri dan kiprah Raden Saleh, keterkaitannya jiwa nasionalismenya dengan Diponegoro yang disebut-sebut masih saudaranya, dan hasil karya lukisannya yang dirujuk sebagai bentuk nasionalisme dalam gambar.
Mungkin inilah yang dimaksudkan secara implisit oleh J.J. Rizal, sejarawan yang berada di balik terbitnya buku ini. Ia mengangkat kembali persoalan pokok mengenai figur Raden Saleh, justru tepat di perayaan ke-200 kelahiran Radeh Saleh, dengan mengangkat tiga tulisan dari sejarawan yang berbeda: Prof. Harsja W. Bachtiar yang termasuk sejarawan pertama yang menentang nasionalisme Raden Saleh, sejarawan Peter Carey yang sudah lebih dari satu dekade menghabiskan hidupnya untuk meneliti Diponegoro, dan Onghokham, sejarawan yang mengugat "Mooi Indie".
Prof. Harsja W. Bachtiar, seorang yang berpendidikan Amerika ahli di bidang sejarah Indonesia, yang termasuk dalam generasi pertama dari cendekiawan Indonesia, menganggap bahwa lukisan tersebut sebagai tidak nasionalis. Dia menulis: ”Wafatnya Diponegoro memberi inspirasi kepada Saleh, yang telah melihat banyak lukisan sejarah ketika di Eropa, untuk melukis apa yang dia sebut sebagai lukisan bersejarah 'A Historisches Tableau: Die Gefangennahmen des Javanischen Häuptling Diepo Negoro', yang dilukis untuk Raja Belanda menunjukkan sikap yang tidak nasionalis, namun sangat sesuai dengan hubungan yang menunjukkan rasa terimakasih seorang seniman terhadap aristokratik pelindungnya”.
Harsja W. Bachtiar melandaskan sikap ilmiahnya ini atas banyak catatan tentang Raden Saleh, terutama pada pernyataan kesetiaannya sesaat setelah dituduh ikut terlibat mendukung Peristiwa Tambun, Bekasi (1869).
Peter Carey lewat tulisannya yang mengupas khusus lukisan Raden Saleh atas penangkapan Diponegoro mengawali narasi dengan fakta bahwa ada pertentangan antara data-data kisah penangkapan Diponegoro baik dari cerita sisi Belanda yang diwakili de Kock maupun dari sisi Diponegoro sendiri.
Fakta bahwa pada saat pecah Perang Jawa (Java Oorlog) di tahun 1825, Raden Saleh masih berumur 14 tahun dan tinggal di Bandung atau Bogor, jauh dari lokasi perang itu sendiri merupakan fakta yang susah dikesampingkan.
Raden Saleh meninggalkan Batavia pada tahun 1829 untuk pergi ke Belanda. Ketika Diponegoro ditangkap di Magelang pada tanggal 28 March 1830, Raden Saleh sudah menjadi siswa dari pelukis potret Belanda Cornelis Kruseman di Den Haag. Ketika beberapa tahun kemudian, Raden Saleh pindah ke Paris, seorang wartawan surat kabar melaporkan adanya perlakuan yang buruk dari Belanda terhadap Pangeran Diponegoro. Berita ini mengakibatkan terjadinya reaksi di The Hague. Bahkan pemerintah Perancis pun melayangkan protes resmi kepada pemerintah Belanda.
Pemerintah Belanda ingin sekali tahu siapa yang telah menyebarluaskan berita memalukan ini. Peter Carey yakin bahwa Raden Salehlah yang menjadi sumber di belakang artikel ini. Apa motifnya, Peter Carey masih belum mau memastikan.
Yang pasti, Raden Saleh akhirnya melukis versi lukisan yang mirip lukisan yang dikerjakan Nicolaas Pieneman, sebuah lukisan minyak di atas kanvas, 77x100 cm, berjudul "De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal De Kock" tanggal 28 Maret 1830, yang disimpan di Rijksmuseum Amsterdam.
Raden Saleh pasti pernah melihat lukisan Pieneman atau bahkan pernah melihat beberapa lukisan Pieneman yang lain di Batavia. Mungkin pula Raden Saleh membuat salinan dari lukisan Pieneman di Belanda. Ketika dia membuat sketsa pertama sebelum membuat lukisannya di tahun 1856, sketsa tersebut masih tampak dipengaruhi oleh komposisi Pieneman walaupun terlihat bahwa hubungan antara De Kock dan Diponegoro sudah semakin tegang. Raut muka De Kock tampak tegang demikian pula halnya dengan Diponegoro. Raden Saleh melukis dengan teknik lukisan minyak di atas kanvas, 112x178 cm, memperlihatkan adanya beberapa komposisi dan kualitas emosional yang tercampur dengan baik. Diponegoro yang terlihat marah menjadi pusat pandang di tengah lukisan. Dia berjuang untuk mengatasi perasaannya – ciri khas budaya Jawa -. Wajahnya menunjukkan sikap yang provokatif dan ekspresi menantang dan pejabat Belanda menunjukkan sikap yang kaku dan menghindari tatapan pandangan mata. Begitu pula, Raden Saleh merevisi keberadaan tumpukan senjata yang ada, dan sebaliknya memperlihatkan Diponegoro dan pengikutnya sama sekali tidak bersenjata.
Inilah yang dikritik oleh Peter Carey. Babad Diponegoro versi Menado maupun catatan pribadi De Kock yang diterbitkan memperlihatkan bahwa Diponegoro pada waktu penangkapan memang bersikap pasrah seolah-olah sudah tahu dirinya akan ditangkap dan ada banyak senjata yang disita dari para pengikut Diponegoro terdiri dari 87 tombak, sejumlah keris, dan lain-lain.
Onghokham yang hadir di bagian akhir buku ini, menghadirkan tulisan untuk menggugat "Mooi Indie" yang diusung oleh Raden Saleh sebagai dampak dari Orientalisme, yang istilahnya diperkenalkan oleh Edward Said. Mooi Indie membuat salah penggambaran tentang Indonesia dan lebih lanjut lagi memberi pengaruh pada cara penulisan ilmiah. Onghokham takut bahwa Mooi Indie diteruskan menjadi Mooi Indonesia dan aliran ini terus hidup untuk menggerogoti gambaran yang sebenarnya akan Indonesia karena seolah-olah semua serba damai, serba harmonis, serba seimbang.
Buku ini secara menarik juga menyajikan kisahan tentang rumah milik Raden Saleh di Batavia. Adanya di daerah Cikini dan sempat dikagumi oleh seorang jurnalis yang menyebutkan bahwa istana Raden Saleh adalah yang paling indah.
Istana itu dirancangnya sendiri dengan gaya Indisch Empire dan begitu mirip dengan satu istana kecil di Jerman, yakni Istana Callenburg, lalu ia mempunyai kebun binatang yang kemudian menjadi Taman Ismail Marzuki. Sementara istananya sendiri kini menjadi RS DGI Cikini di Jl. Raden Saleh, Jakarta.
Oya, makam Raden Saleh ada di Jl. Pahlawan, Bogor. Sesuai dengan tempat tinggalnya terakhir setelah bercerai dari istri pertamanya yang orang Belanda. Rumah keduanya memang berada di Buitenzorg, dan di sana ia tinggal bersama istri keduanya sampai akhir hayatnya tahun 1880.
(less)
"
|
|
|
|
Tyas
gave to:
King Of The Middle March (Horn Book Fanfare List (Awards))
by
Kevin Crossley-Holland
bookshelves:
arthurian,
children-fantasy
|
my rating:
|
| |
Tyas said:
"Now Arthur de Gornatore has joined the English troops sent to wage a crusade against 'the Saracens' to recapture Jerusalem.
Or at least, they were meant to head for Jerusalem.
The crusaders are stuck in Venice, being unable to pay for...more
Now Arthur de Gornatore has joined the English troops sent to wage a crusade against 'the Saracens' to recapture Jerusalem.
Or at least, they were meant to head for Jerusalem.
The crusaders are stuck in Venice, being unable to pay for the ships they have ordered to the Venetian Doge. The Doge said that he would reconsider their debts if the crusaders would help the Venetians recapture Zara, a Christian city across the Adriatic. Arthur begins to doubt the real intention of people who say that they willingly join or support the Crusade.
Arthur, now knighted, has to face the grim truth of war(crusaders throwing a little Christian Zaran boy over the wall to his death just because he annoy them? What in the name of Jesus?), the Crusade (he meets some Saracens and they're as human as he is), his personal affairs (his blood-father still as mean as he has always been, Lord Stephen who to him is like a real father gets trouble because he tried to help Arthur to find his mother), and the parallels of his life with King Arthur's in his seeing stone (I still dislike Lancelot, a lot).
I like the way the books in this series are made in the form of Arthur's diary. The chapters are short, the content concise (how can you write so much when you're in the middle of a campaign?) How this ends is also rather unusual - you'll expect Arthur and his friends reach Jerusalem, have battles with the Saracens, and in the midst of the war the main character realises what being a human is, you know, the usual plot - but I will say no more. You need to read the book to understand why it is such a good one.
And I'm still wondering what happens to Gatty. I think I must buy the companion book about Gatty, yes?(less)
"
|
|
Tyas
marked as to-read:
Ular Keempat
by
Gus tf Sakai
bookshelves:
indonesian,
to-read
|
my rating:
|
| |
|
|
|
|
Tyas
is currently reading:
Jilbab
by
M. Quraish Shihab
bookshelves:
currently-reading,
religion
|
my rating:
|
| |
|