Kastil Fantasi discussion

note: This topic has been closed to new comments.
85 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Agustus '12)

Comments (showing 1-35 of 35) (35 new)    post a comment »
dateDown_arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (last edited Aug 27, 2012 10:50AM) (new)

Fredrik (fredriknael) | 1965 comments Mod
Merdekaaa~!!!


“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Agustus 2012”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, bereksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, untuk teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai aja, jadi gak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan, dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat diharapkan.

Dan sebagai bonusnya, setiap bulan akan dipilih 1 pemenang yang berhak untuk mendapatkan buku pilihan sebagai hadiah!

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain tentunya dilarang.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan kalau ceritanya sedang dilombakan di sini dan disertai link ke group Kastil Fantasi.

4) Panjang cerita maksimal dua post, yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di MSWord dan Goodreads bisa berbeda, misalnya tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh (misalnya dibuat cerpen atau novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Pengomentaran cerita tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan di-delete oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapihan.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.


======


Soal untuk bulan ini berkaitan dengan warna. ^^

Buatlah cerita yang mengandung unsur/elemen cerita yang berwarna merah dan berwarna putih.
Unsur/elemen cerita berwarna merah dan putih tersebut harus memiliki porsi penting dalam cerita dan tidak hanya muncul sebagai tempelan.

Sebagai catatan tambahan:

1. Unsur/elemen ceritanya bisa berupa apa saja (benda, karakter, tempat, ide, dan sebagainya)
2. Unsur/elemen ceritanya boleh hanya satu (misalnya bendera berwarna merah-putih; jadinya sekaligus) atau lebih dari satu (misalnya ada kelompok berwarna merah dan ada kelompok lain yang berwarna putih)

Seperti biasa, ceritanya boleh dikembangkan dengan sebebas-bebasnya selama masih berkaitan dengan tema soal.


Timeline lomba:

Periode posting cerita: 16 Agustus – 08 September 2012
Periode penilaian: 09 – 23 September 2012
Pengumuman pemenang: 24 September 2012


Daftar hadiah yang bisa dipilih pemenang (pilih satu paket/nomor):

1. Di Tepi Sungai Ordelahr - R.D. Villam
2. Sang Penantang Takdir - Ardani Persada + Takdir Elir - Hans J. Gumulia
3. Hailstorm - Fachrul R.U.N. + Kristalisasi - Tim Vandaria Saga
4. Fantasy Fiesta 2010/2011 - Para Penulis Kastil Fantasi + Tales of the Deities - Riesling, Farid Abdul, Shou Jinbei
5. Zauri: Legenda Sang Amigdalus - Dian K + Akkadia: Gerbang Sungai Tigris - R.D. Villam
6. Misteri di Skeleton Island/Kapal Hantu di Perairan Whincoster - Bobby Tan
7. Domitor Leo #1: Pulihkan Segel Waktu + Domitor Leo #2: Air Mata Dewi Kebebasan - Kushima Michie (light novel; terjemahan oleh Oyabun Shiki ^^)
8. The Sword In The Stone - T.H. White (terjemahan) + The Boy Sherlock Holmes: Eye of the Crow - Shane Peacock (terjemahan)
9. Falcon Quinn and the Black Mirror - Jennifer Finney Boylan (terjemahan) + Avalon: Jalinan Sihir #2 - Rachel Roberts (terjemahan)
10. Blood Red Road - Moira Young (terjemahan)
11. Warm Bodies - Isaac Marion (terjemahan)
12. Fragile Things - Neil Gaiman (bahasa Inggris; edisi mass-market paperback) + Swordbird - Nancy Yi Fan (bahasa Inggris; edisi paperback)
13. Clockwork Angel - Cassandra Clare (bahasa Inggris; edisi paperback)
14. Brisingr - Christopher Paolini (bahasa Inggris; edisi hardcover)
15. Harry Potter and the Deathly Hallows - J.K. Rowling (bahasa Inggris; edisi hardcover)
16. Manga: Step By Step - Ikari Studio (buku panduan; bahasa Inggris; edisi art paper paperback)

Di Tepi Sungai Ordelahr (Estarath  Seri Hikayat Orang Utara, #1) by R.D. Villam Sang Penantang Takdir (Vandaria Saga) by Ardani Persada Subagio Hailstorm (Vandaria Saga) by Fachrul R.U.N. Fantasy Fiesta 2011  Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2011 by R.D. Villam Tales of the Deities by Riesling Zauri  Legenda Sang Amigdalus by Klaudiani Nine Dragon Warriors  Kapal Hantu di Perairan Whincoster by Bobby Tan The Sword in the Stone by T.H. White Eye of the Crow (Boy Sherlock Holmes, #1) by Shane Peacock Falcon Quinn and the Black Mirror by Jennifer Finney Boylan All That Glitters (Avalon  Web of Magic #2) by Rachel Roberts Blood Red Road (Dust Lands, #1) by Moira Young Warm Bodies by Isaac Marion Fragile Things by Neil Gaiman Swordbird by Nancy Yi Fan Clockwork Angel (The Infernal Devices, #1) by Cassandra Clare Brisingr (Inheritance, #3) by Christopher Paolini Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter, #7) by J.K. Rowling

Mari menulis fantasi!
;)


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Sep 25, 2012 07:32PM) (new)

Fredrik (fredriknael) | 1965 comments Mod
Daftar Cerita:


1. Merah dan Putih dan Simbol dan Darah by Daff
2. Blanche Adnet by Fenny Wong
3. Dua Sisi by Manikmaya
4. Pocong Merah vs Pocong Putih: Episode Berebut Kuburan by Orinthia Lee
5. Jagad Naraisvara dan Remang Rembulan Merah by Hazuki Auryn
6. KROMA by Mahfud Asa
7. Akai by Narita Amalia
8. Punca Kala by Cha
9. Dongeng Tanah Surga by Cygnus Peterschild
10. REVENGE by Psychothroller
11. Mercu Suar Bertopan Oblivian Pada Malam Kutukan Manunggal by Dini Afiandri
12. Lahirnya Irghi by Stezsen
13. Love in the Time of Cholera Lamb by Aad Uncu
14. Warna Sebenarnya by d3pi
15. (Kisah Lain) Bawang Merah dan Bawang Putih by Kristiyana
16. BP by Anindito
17. It's Just A Dream.. by Blanches Jeanne
18. Asylluminoid by Dini Afiandri
19. SPARK by Katherin
20. Urat Naga by Ardani Subagio
21. Tentang Kami by Shelly Fw
22. E L I by Jovyanca

~

Pengumuman pemenang: Pemenang CerBul Agustus '12


Daff | 17 comments Merah dan Putih dan Simbol dan Darah

Karya: DAFF

Menghormat pada bendera? Hah! Memang ini zaman apa? Siapa yang sudi mengormat ke bendera negara sial ini. Lebih baik aku makan di kantin atau ngegodain cewek di kelas. Tak ada kerjaan. Guru-guru brengsek itu memang tak ada kerjaan.

Jadi, meski sekarang aku pura-pura menghormat dengan tegak, memasukkan seragamku seperti anak culun, begitu mereka berbalik, aku akan menghilang, kabur ke alam kebebasan.

Sialnya taktikku sudah terbaca. Mereka tidak berbalik. Mereka mengobrol di sana, di bawah atap ruang guru yang teduh sambil mengawasiku. Sial, sial, sial. Ini panas, bangsat!

Menatap bendera yang berkibar dilatarbelakangi langit biru, bertanya-tanya aku, memang apanya yang pantas dihormati dari negara sial ini? Bahkan para guru juga cuma sok pura-pura patriotis. Buktinya, ada yang nyogok saat nemnya tak cukup buat masuk ke sekolah ini, diterima juga. Aku tahu karena itu aku.

Berapa? Lima juta kalau aku tidak salah. Dan sekarang aku diharuskan menghormat pada bendera. Bendera! Oh, merah putih yang agung, betapa leceknya dirimu. Tak adakah yang sudi membelikan bendera yang lebih bagus, yang baru, yang lebih pantas untuk aku, sang pemuda Indonesia, memberikan penghormatan?

Cih.

Aku bosan.

Berapa lama aku harus melakukan hal tolol seperti ini?

"Lagipula apa pentingnya bendera ini?"

"Menurutmu?"

Aku terlonjak. Seorang guru entah sejak kapan berdiri di belakangku.

"Er... Tidak. Bukan apa-apa."

"Tidak, tidak," katanya. "Lanjutkan saja keluhanmu."

Aku menatap guru itu dengan ujung mataku. Dia menghisap rokoknya. Tampak santai.

Aku memutar bola mataku. Oke, oke, kita lihat seperti apa reaksinya.

"Menurutku ini sampah," kataku. "Apa pentingnya seperti ini? Tidak seperti aku jadi menghargai bendera sial itu hanya karena dipaksa menghormat."

"Tepat sekali." Dia menghembuskan asap rokoknya.

Wow, jadi mereka tahu ini percuma tapi mereka masih saja melakukannya? Jenius sekali.

"Hey, nak," katanya. "Bendera itu hanya simbol saat ini, tapi di masa lalu maknanya lebih dari itu. Ini adalah harapan mereka. Ini adalah hidup mereka. Ini adalah keluarga mereka. Ini adalah teman mereka. Ini adalah segalanya bagi mereka."

Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah, terserah.

"Kau tahu cerita di balik warna bendera itu?" katanya. "Bendera pertama awalnya adalah kain hitam. Kain yang melambangkan pemiliknya sebagai pemimpin. Setiap kali mereka terbunuh dalam pertempuran, darah mereka membasahi kain itu. Hingga menjadi merah.

"Sedangkan bagian putih itu adalah darah seseorang yang istimewa. Dikatakan dialah pembawa kemerdekaan yang sesungguhnya. Dia mati. Namun namanya tak pernah tertulis dalam sejarah. Yang dia tinggalkan hanya separuh warna putih di bendera itu."

"Mana ada orang yang darahnya putih." Aku mendengus.

"Bagaimana kau bisa yakin? Pernah mengecek satu-satu?"

Cih.

Dan bagaimana dia bisa tahu jika tak pernah tercatat sejarah?

Oke, mari kita pura-pura percaya omong kosong itu benar.

"Lalu?" kataku. "Kenapa aku harus peduli? Yeah, mereka berkorban banyak, yeah, itu aneh, tapi itu tidak membuatku jadi peduli, 'kan?"

"Tentu," katanya. "Tidak penting apa yang ada di balik bendera itu, pengorbanan seperti apa, mereka hanya mati. Terserah. Kau tidak kenal mereka, kau tidak peduli. Tapi itulah maksudnya."

"Apa?"

"Kau bukan bocah SD, 'kan? Berpikir."

Dan dia pergi.

Apa-apaan?

END


Fenny Wong (fennywong) | 365 comments Blanche Adnet


-----------------


Adnet sering berkata, tidak ada yang sesempurna diriku.

Pria yang paling kusayangi itu mengatakannya setiap kali aku terbangun di atas ranjang operasinya. Saat-saat seperti itu, ia akan merengkuhku dan melompat kegirangan, karena ia berhasil menanamkan pisau di sela buku-buku jariku. Atau racun di belakang bibirku.

Ia berkata karena kesempurnaan itu, aku dipinangnya. Tidak ada yang lebih cocok daripada diriku untuk menjadi istrinya. Ia membawaku ke kapel yang ia bilang menyaingi indahnya Notre Dame, mengucap sumpahnya untukku. Lalu pada hari-hari awal pernikahan kami, ia membawaku berjalan-jalan setiap akhir pekan. Pagi hari, ketika trotoar Paris baru disinari matahari terbit. Atau siang, ketika ia terduduk di depan puing-puing Eiffel, berkata ketika Adnet muda, beratus-ratus tahun yang lalu, menara itu pernah berdiri tegap. Kemudian malam hari, ketika ia membawaku pulang, namun tidak sebelum membelikanku kue — manisan dari telur dan terigu. Adnet berkata seleraku mahal dan kuno; namun ia tidak pernah mengomel.

Namun hari-hari terakhir, Adnet lebih sering berada di ruangan putihnya di bawah tanah. Ketika aku memanggilnya, mengingatkannya atas pil keabadian yang tidak boleh lupa ia minum, ia menghardikku kasar. Ia mengusirku. Ia berkata aku mengganggu penelitiannya.

Gadis setengah telanjang terbaring di atas ranjangnya. Kabel-kabel masuk dan keluar dari tubuhnya. Dan gadis itu bukan aku.

Saat seperti itu aku terduduk di kamarku, merenung. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, Adnet adalah yang harus kulindungi, yang harus kucintai. Entah mengapa aku berpikir seperti itu sedari awal. Bahkan, ketika aku tahu ia membawa gadis-gadis ke lantai bawah tanahnya, aku tidak pernah protes.

Gadis-gadis itu semua sama sepertiku. Kulitnya seputih salju, bibirnya semerah mawar. Tipe kesukaan Adnet tidak pernah berubah.

Cintaku pada Adnet selalu ada. Hingga pada suatu hari, ia memanggilku untuk turun ke ruang putihnya. Ia memintaku untuk mengenakan gaun terbaikku, dengan tatanan rambut terindahku. Ia berkata hari itu adalah perayaan terbesar. Ia telah berhasil menemukan seseorang yang baru, yang lebih sempurna dariku. Dan aku, istrinya, harus ikut bersuka ria bersamanya.


Kegeraman memenuhi hatiku. Ruang putih itu penuh dengan ranjang-ranjang, gadis-gadis tengah bermimpi di atasnya. Ada sepuluh, dua puluh, tiga puluh... lima puluh, aku menghitung dalam hati. Semuanya cantik, seperti diriku. Namun di tengah-tengah ruangan, keluar dari barisan, sebuah ranjang disambungkan dengan berbagai kabel ke panel komputer Adnet. Gadis terbarunya. Kulitnya seputih salju, bibirnya semerah mawar. Ia mirip dengan diriku.

Pandanganku dikaburkan air mata. Aku melihat dari pantulan kacamata Adnet. Mataku putih, kini ditutup merah. Aku penuh kalut.

Adnet tahu, lalu menggenggam bahuku. Ia bergerak dan menenangkanku, walau aku tahu semangat masih ada di dalam dirinya. Langkahnya berat, dan kini aku sadar mengapa. Kabel-kabel dari panel komputernya juga menyambung pada dirinya.

Blanche, panggilnya padaku berulang-ulang, seakan aku sedang melamun, dan ia berusaha menyadarkanku. Dengan antusias Adnet berkata padaku, percobaannya telah berhasil. Lima puluh satu yang telah ia buat, dan semuanya kini menyambung pada dirinya. Pada jiwanya. Kini Adnet bisa menjalankan mereka, menguasai Paris, Perancis, dunia tanpa ada yang bisa menghentikannya. Karena ia telah menemukan cara agar semua gadis itu patuh padanya.

Adnet berkata, jiwanya menyatu dengan milik mereka.

Ia meracau tentang bagaimana satu percobaan awalnya memberikan ide untuk itu. Tapi ia tidak menyangka ini akan berhasil. Gadis-gadis buatannya takkan memberontak lagi kini, setelah mereka merasakan cinta padanya.

Aku mengepalkan tanganku. Pisau muncul dari buku-buku jariku. Aku menarik Adnet, dagingnya terkoyak ketika ia terjatuh ke arahku. Mendekapnya erat, aku menciumnya. Racun dari bibirku. Jika Adnet mati, maka gadis-gadis itu pun akan mati. Itulah yang kuinginkan. Jika membunuh Adnet adalah satu-satunya cara untukku memilikinya seorang diri, maka itulah yang akan kulakukan.

Mata Adnet menatapku nanar. Ia terjatuh ke atas lantai linoleum di bawahnya, tangannya berusaha menggapai-gapai ke arahku. Merahnya darah, pada putih jasnya.

Aku menatapnya penuh kepuasan sementara Adnet menutup kelopak matanya. Pil keabadian yang ia telan tidak bisa menghindarkan kematian semacam ini. Keriput memenuhi Adnet, tua memakannya. Ia perlahan-lahan berubah menjadi kerontang, lalu menjadi mayat yang termakan usia.

Tapi sebelum aku bisa melihat putih tulangnya, aku pun merasakan kelopakku menutup. Ada suara ceklikan pelan sebelum seluruh tubuhku lemas. Aku terjatuh pada lututku, membuat luka pada kulitku. Alumunium di dalamnya menimbulkan suara desisan. Energiku serasa dikuras, dan aku dipaksa untuk diam.

Mungkin untuk sekarang, mungkin untuk selamanya. Sebelum segalanya berubah menjadi hitam, aku pun sadar. Sesuatu tentang diriku, sesuatu tentang Adnet-ku.

Selama ini, ternyata aku juga salah satu dari gadisnya.


message 5: by Manikmaya (last edited Sep 04, 2012 11:44PM) (new)

Manikmaya | 828 comments Dua Sisi
Bedebah yang sudah lupa akan penderitaan rakyatnya, lebih baik mati saja.
(SEER- C. Suryo Laksono)


Alam Semesta Versigi, Jakarta, Ibukota Republik Indonesia Serikat, 16 Agustus 2008
(Sanjaya)
Aku mengambil sebuah binokular dari dashboard mobilku. Kuletakkan mataku di corong binokular itu, dan kuamat-amati lalu lalang para prajurit Paspampres tampak sibuk berjaga di seputaran Istana Negara. Di sisi lain aku melihat sekelompok remaja berseragam putih-putih menghentak-hentakkan kakinya dalam ritme yang teratur – PASKIBRAKA.

Derap-derap langkah pasukan pengibar bendera dan pasukan-pasukan militer yang akan turut dalam upacara kemerdekaan terdengar membahana sampai ke luar gerbang istana. Yah… aku harus jujur bahwa barisan-barisan pasukan itu amat tertata dengan apik. Sungguh agung dan megah, salah satu dari sedikit hal yang membuat aku masih bangga menjadi bagian dari sebuah negara bernama Indonesia. Tak banyak negara yang memiliki PASKIBRA sedisiplin ini.

Tapi di sisi lain negeri ini adalah negeri yang dikuasai para bedebah, yang hanya peduli pada persoalan perut mereka semata. Yang menutup mata atas kematian sia-sia rakyatnya, yang menutup telinga atas segala keluh kesah rakyatnya, dan yang gemar menari-narikan lidahnya di atas panggung kebohongan.

“Elang Hitam! Laporkan Kondisi! Ganti!” suara seorang pria terdengar dari walkie talkie yang kupegang.

“Kondisi aman terkendali! Ganti!” jawabku.

“Diterima Elang Hitam! Tetap waspada! Ganti!”

“Dimengerti Komandan!”

Oh yah, semua orang tampak tegang di sini. Polisi, koki, dekorator panggung, floris, dan Paspampres seluruhnya tampak tegang. Adanya surat ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada Sang Presiden dan Sang Perdana Menteri membuat dua insan paranoid itu menjadi lebih paranoid lagi.

Sudah sejak 3 hari ini para kuli tinta tidak diperbolehkan lagi berlalu lalang di Istana Negara. Para petinggi-petinggi negara yang sudah mabuk akan air anggur ini tidak bakal mau para kuli tinta itu menulis artikel-artikel yang bisa mengacaukan kondisi mental Sang Presiden dan Sang Perdana Menteri (yang sebenarnya sudah kacau seperti desa yang diterjang banjir). Selain itu dewan menteri pasti juga sedang sibuk mencari jurus-jurus baru untuk mempertahankan posisi mereka dalam beberapa tahun ke depan, baik dengan cara politis biasa maupun cara-cara yang lebih tak bermoral. Ah! Negeri ini tengah menuju kehancurannya. Harus ada yang merubahnya.

Alam Semesta Versigi, Jakarta, Ibukota Republik Indonesia Serikat, 17 Agustus 2008
(Sanjaya)


Aku membawa kakiku ini menaiki anak-anak tangga menuju tingkat 7 sebuah gedung bertingkat berjarak 450 meter dari Istana Negara. Aku tiba di puncak gedung, yang berangin kencang dan sepi-lengang. Aku berjalan dengan membawa sebuah kotak hitam panjang. Ketika tiba di tempat tujuanku aku meletakkan kotak itu di lantai semen.

Aku membuka kotak di sampingku ini, di dalamnya terdapat sebuah sniper rifle berwarna hitam metalik. Segera kurakit komponen-komponen senapan ini hingga membentuk sebuah senapan yang utuh. Aku mengisikan peluru ke dalam senapan ini dan perlahan kubidikkan senapan itu ke arah tempat duduk Sang Perdana Menteri.

Masih ada waktu 10 menit sebelum amanat pembina upacara dimulai dan kurasakan ada seorang yang hadir di belakangku. Kupalingkan wajahku ke arah belakang dan kulihat dia. Seorang wanita bertudung merah. Seorang yang aku kenal di masa lalu, seorang Kadhara yang telah lama aku kenal.

“Mau apa kau kemari?” tanyaku pada sang Kadhara.

“Kau serius hendak melakukannya, Sanjaya?” tanya wanita itu datar.

“Oh, pernahkah aku bergurau dengan ucapanku?”

“Tidakkah sebaiknya kau pikirkan lagi perbuatanmu Sanjaya?”

“Aku telah memikirkan perbuatanku ini masak-masak, Santi. Ucapanmu tak akan bisa hentikan aku.”

“Sebegitu bencikah dirimu pada negeri ini? Sampai-sampai kau hendak tumpahkan darah seseorang di kala negeri ini sedang larut dalam dirgahayunya?”

Aku terdiam sejenak dan ia melanjutkan kata-katanya, “Meskipun banyak hal yang mencoreng bangsa ini, namun jangan lupa di sinilah kita berpijak, di sinilah lahir dan mati kita, maka kita harus tetap cinta.”

“Aku melakukan ini semua atas dasar cinta pada negeri ini, Santi.”

“Cinta? Kau mencintai negeri ini dengan menumpahkan darah?” nada suaranya sedikit meninggi.

“Santi, merah adalah gelora keberanian, tapi jangan lupa bahwa merah itu warna darah. Itu artinya aku akan tumpahkan darah. Putih adalah kesucian, tapi jangan lupa kesucian berarti terus berjalan lurus dalam jalan Tuhan. Kesucian itu menentang adanya pertumpahan darah sesama manusia. Aku merah dan kau putih, bersama-sama kita membangun negeri ini. Aku adalah tindakan sementara dirimu adalah gagasan.”

Ia kini terdiam sehingga aku bisa melanjutkan kata-kataku setelah sejenak menghela nafas, “Tapi kita telah melupakan makna warna biru pada bendera Belanda itu. Aku dengar biru adalah berkat Tuhan. Apakah menurutmu… negeri ini tidak lagi diberkati oleh Tuhan?”

“Sang Maina tidak memihak sebuah negeri. Negeri manapun itu,” jawabnya.

“Jika Tuhan tidak memihak sebuah negeri manapun. Maka kita harus membangun sebuah negeri dengan tangan kita sendiri.”

“Tapi jika kau membunuh Presiden dan Perdana Menteri maka dirimu tak akan pernah mencapai Ahura Mazda.”

“Itulah bedanya dirimu dan dirimu, Santi. Kau selalu takut akan neraka, sementara aku? Aku sudah lupakan segala bentuk janji-janji dari Sang Maina.”

“Kau tenggelam dalam merahnya darah dan semangat yang merah membara sehingga dirimu sampai lupa daratan, Sanjaya.”

“Salahkah aku berpikiran seperti itu sebagai manusia?”

“Salah!”

“Menurut siapa? Menurut kitab suci? Menurut hukum? Menurut Sang Maina?”

“Menurut….,” ia terdiam.

“Percayakah kau atas segala hal yang tertulis?”

“Jika kita tak mempercayai kesucian ayat dan sabda maka apa yang dapat kita jadikan pegangan?”

“Pembuktian empiris, Santi. Negeri ini sudah kacau. Dikacaukan oleh sekumpulan orang bejat. Negeri ini dibangun di atas darah-darah merah para pahlawan serta niat-niat tulus yang putih seputih awan dari segenap rakyatnya. Tapi zaman sudah berubah, para bedebah-bedebah pengkhianat negeri itu kini bangkit mencengkeram negeri ini, merenggutnya dari tangan orang-orang benar. ”

“Dan siapa yang memberimu hak mencabut nyawa manusia?”

“Kita sudah diberi hak oleh alam, Santi. Namanya hukum alam. Ada pemburu dan ada buruan. Kita diberi tangan dan kaki untuk menaklukkan dunia.”

“Kita diberi dunia untuk diolah, bukan ditaklukkan!”

“Kalau begitu tangan dan kaki ini akan menjaga dunia. Tapi pertama-tama, tangan dan kaki ini akan menjaga segenap rakyat Indonesia dari bedebah ini. Bedebah yang sudah lupa akan penderitaan rakyatnya, lebih baik mati saja.”

“Stop, Sanjaya!” tangan Santi bergerak sedikit dan kurasakan tanganku kaku, tak bisa kugerakkan.

“Kau gunakan sihir pembelenggumu untuk menghambat langkahku, Santi?”

“Aku tak bisa membiarkan kau menumpahkan darah seorang manusia.”

“Lepaskan aku, Santi. Aku adalah manusia yang bebas berkehendak. Biarlah aku yang dibakar gelora api yang merah membara ini melaksanakan niatku!”

“Aku tak akan bisa biarkan dirimu lakukan itu. Aku sebagai pemilik nurani yang berjalan di atas cahaya putih tidak akan bisa membiarkanmu menumpahkan darah orang lain!”

“Meski itu darah seorang bedebah?”

“Meskipun itu darah seorang yang sebenarnya tak layak nikmati hidup!”

“Tapi sayang kekuatanmu tak bisa menahanku, Santi!” aku menghentakkan tangan kiriku sekuat tenaga, lalu mencabut sebuah revolver yang terselip di kaus kaki kiriku dan menembaknya.

Ia jatuh tersungkur ke atas lantai aspal yang keras dan kasar. Mati? Jangan khawatir. Dia tidak mati, hanya pingsan. Aku gunakan peluru bius untuk pistol ini.

“Nah, tidurlah dengan tenang di pulau-pulau awan dalam mimpimu, Santi,” ujarku sembari mengkokang senapanku.

Sang Pembina Upacara – Sang Presiden telah berdiri di podium dan mulai meracau akan segala gagasan-gagasan ideal yang tak pernah ia wujudkan dalam dunia nyata. Di belakangnya, Sang Perdana Menteri berdiri di tengah-tengah belasan pengawal berseragam militer.

Ah, bahkan Julius Caesar pun menolak untuk diberi pengawal. Tapi mereka, bedebah-bedebah yang bahkan tidak bisa melakukan separuh apa yang dilakukan Caesar, kini dikelilingi oleh para pengawal yang siap serahkan nyawa demi keselamatan mereka. Bedebah-bedebah ini jauh lebih buruk daripada Caesar, tapi mereka berlagak lebih hebat daripada Caesar.

“Oh yah, kalian berdua adalah adalah Caesar dan aku adalah Brutus. Dan kau tahu sendiri Brutus datang menghampiri Caesar untuk menuntut nyawa. Begitupun aku, yang datang kemari untuk menuntut nyawa!” gumamku dalam hati.

Aku bidikkan senapan ini dengan hati-hati ke arah pelipis kanan Sang Presiden, kuremas-remas jari-jari tanganku sejenak dan… DOR!

Pelatuk senapanku telah kutekan. Sebuah peluru melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Sang Presiden, menembus pelipis kanannya dan bersaran di dalam otaknya. Sosok Sang Presiden yang berwibawa itu pun akhirnya jatuh bersimbah darah di atas karpet merah. Terjadilah kepanikan, para Paspampres dengan cepat berkumpul mengelilingi jenazah Sang Presiden, beberapa dari mereka turut pula mengelilingi Sang Perdana Menteri.

Aku mengambil sebuah walkie talkie dan berbicara dengan seseorang, “Vox Populi, Vox Dei! Suara rakyat adalah suara Tuhan!”

Masih aku membidikkan teropongku ke arah Sang Perdana Menteri yang tengah dikawal menuju tempat yang aman. Salah satu Paspampres menatap ke arahku, menyunggingkan seulas senyum lalu menarik sebuah revolver dari saku jasnya dan menembak jatuh keempat rekan Paspamresnya. Kontan saja para Paspamres yang tersisa segera memberondongi dia dengan tembakan beruntun sehingga dirinya rubuh ke tanah. Darah seorang anak manusia lagi kembali tertumpah di atas tanah Nusantara, tapi kali ini demi kebaikan banyak orang.

“Jangan khawatir Saudaraku, darahmu yang tertumpah ini tidak akan sia-sia!” ujarku sembari melepaskan kembali sebutir peluru yang mengenai dahi Sang Perdana Menteri dengan telak. Tubuh itu akhirnya limbung dan terjatuh menghantam bumi. Kembali kepanikan terjadi, para peserta upacara berlarian, mencoba menyelamatkan hidup mereka yang rata-rata menyedihkan itu lari dari jangkauan tembak. PASKIBRAKA ditarik mundur ke sudut lapangan. Barisan prajurit yang gagah berani dalam seragam-seragam militer mereka segera berbaris, berisap dalam posisi tempur.

“Misi selesai!” ujarku di hadapan sebuah walkie-talkie. Kukemasi senapanku dan cepat-cepat aku turun, setelah sebelumnya menyandarkan tubuh Santi yang lemah terkulai ke sebuah dinding.


message 6: by Manikmaya (last edited Sep 04, 2012 11:44PM) (new)

Manikmaya | 828 comments Alam Semesta Versigi, Surabaya, Ibukota Region Jawa, Republik Indonesia Serikat, 21 Agustus 2012
(Santi)


“Kau benar, Sanjaya! Warna putih tidak akan bisa meluruhkan warna merah. Alih-alih justru warna putih yang perlahan memerah karena terkena lunturan warna merah. Ya, aku mengerti jalan pikiranmu Sanjaya. Kau telah menempuh jalan penuh darah demi negerimu dan hasratmu. Tapi kau lupa… bahwa tanpa warna putih, merah akan membabi buta seperti banteng gila,” ujarku pada semilir-semilir angin di hadapan sebuah nisan.

Dan di nisan itu tertulis sebuah nama:

TEGUH HARIMURTI SANJAYA
Lahir : Bogor, 21 Januari 1984
Wafat : Surabaya, 12 Agustus 2010

“Ah, tapi putih tanpa merah juga akan hancur,” jawab sebuah suara yang berasal dari belakangku.

Aku menoleh ke belakang dan kudapati seorang pria berkepala botak datang mendekatiku sembari membawa seikat bunga.

“Masih berdebat soal itu dengan Sanjaya, Santi?”

“Masih. Dengan segala kebodohannya itu ia pantas untuk diganggu dengan sebuah topik yang usang ini,” jawabku sambil tersenyum getir.

“Meskipun itu akan mengganggu tidurnya?” tanya sang pria.

“Oh kau tidak tahu perasaanku, Calya!”

“Aku tahu, kalian sepasang kekasih yang memutuskan untuk menjaga ikatan kasih sebatas teman. Ia mencintaimu tapi sama sekali tidak berniat menikahimu yah? Tapi di sisi lain kau tak mampu mencintai pria lain. Maka dari itu kau memutuskan menjadi Khadara, walau kau tahu bahwa dirimu pasti akan berakhir sebagai perawan tua.”

“Dari mana kau tahu soal itu?” aku mendelik.

“Dari isi kepalanya,” jawab Calya santai.

“Kau! Kau yang mengirimkan dia ke alam sana bukan, Iblis?” ujarku geram.

“Oh ya. Benar sekali. Ia maju dengan gagah berani, menantang diriku dengan segala kefanaannya,” jawabnya sambil menyeringai.

“Kau!” aku menghunus sebuah belati perak dari balik jubahku dan menusukkannya ke dada Calya, tapi ia sama sekali tidak bergeming. Ia mencabut pisau itu dengan tenangnya dan tiada satu pun tetes darah yang aku lihat merembes di pakaiannya.

“Negeri ini adalah negeri merah dan putih yang tengah dicat oleh warna hitam. Kau… sang putih telah tergerus oleh merah, dan tak lama lagi warna hitam akan menutupi warna putih itu. Aku sendirilah… yang akan mewarnai negeri ini dengan warna hitam sekelam malam,” pria itu menudingkan jarinya dengan seulas seringai ke arahku.

“Tapi jangan kau pikir merah akan membiarkanmu menelan putih. Kau tidak tahu ikatan apa yang ada antara merah dan putih.”

“Merah akan tertelan pula oleh hitam, Santi. Hanya tinggal menunggu waktu. Tiada yang bisa menghentikannya, Santi. Tidak dirimu, tidak dengan para pengikut Paravandaah. Sang Maina-mu tak akan menurunkan barang satu makhluk langit pun untuk menghalangi kami. Kalian sudah kalah. ”

“Putih adalah cahaya! Ia akan mampu menembus hitamnya kegelapan!”

“Tidak, putih adalah warna yang rentan tersaput oleh seluruh warna! Jika ia ternoda oleh warna merah maka ia akan turut beringas. Jika ia ternoda oleh hitam maka ia akan musnah.”

“Kita lihat saja nanti,” ujarku sambil beranjak pergi.

Tapi sebelum aku sempat berjalan cukup jauh, sayup-sayup kudengar sebuah suara.

“Selamat tidur Sanjaya. Tidurlah dengan tenang dalam istirahat abadimu, walau aku ragukan jika kau tidur nyenyak di alam sana,” ujar Calya sambil meletakkan bunga di atas makam itu.

Aku menoleh sejenak ke arah Calya, memberinya sebuah tatapan tajam dan berapi-api lalu kembali pergi meninggalkan area makam itu.

"Jangan khawatir Sanjaya. Akan kusatukan merah dan putih untuk hadapi hitam! Tak akan kubiarkan hitam menutupi merah dan putih negeri ini!" janjiku dalam hati.

==TAMAT==


Penjelasan :
Versigi adalah sebuah dunia paralel yang memiliki 80% kemiripan dengan dunia kita. Di Versigi, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tidak pernah dikeluarkan sehingga Indonesia tetap berbentuk Negara Serikat. Kepala negara tetaplah Presiden tapi kepala pemerintahannya adalah Perdana Menteri. Kepercayaan di semesta ini hanya ada 2, Paravandaah yang memuja Maina dan Abaravand yang bisa disetarakan dengan kaum atheis.

Paravandaah dipimpin oleh Patriakh (pendeta pria) dan Matriakh (pendeta wanita). Calon pendetanya disebut Khadara. Baik Patriakh maupun Matriakh dilarang untuk menikah.



message 7: by Orinthia (last edited Sep 03, 2012 09:18AM) (new)

Orinthia Lee (orinthia_lee) | 145 comments Pocong Merah vs Pocong Putih: Episode Berebut Kuburan
Cerita ini ditulis dengan kerandoman maksima. Harap maklum.
---------------------

"LONGSOOOOR!!"

Jeritan bersahut-sahutan di taman makam Poci-Poci yang letaknya agak tersembunyi di Desa Pokori. Desa Pokori adalah sebuah desa kecil yang angker dan sepi. Penduduknya tidak sampai seribu jiwa. Pelancong pun nyaris tidak pernah ada. Hanya kadang-kadang tim dari rumah produksi datang untuk syuting film horor di Poci-Poci.

Oh, ya... jangan salah, teriakan bersahut-sahutan tadi asalnya dari para penghuni taman makam yang sudah mati dan hobi gentayangan malam-malam. Jadi takkan ada manusia hidup yang mendengarnya kecuali manusia itu punya kelebihan untuk menguping percakapan dunia orang mati.

Sebenarnya tidak ada jaminan juga, sih. Buktinya Desa Pokori dicap angker, kan? Malah kadang-kadang, ada pelayat yang tak sengaja melihat penghuni Poci-Poci lalu lari tunggang-langgang. Dan kalau bicara soal penghuni, Poci-Poci punya beragam. Mulai dari pocong, suster ngesot, kuntilanak, hantu janda beranak tiga, tuyul, siluman kelelawar sampai peri-peri kurang kerjaan... ADA.

Puput si pocong putih mengintip dari sobekan di bagian depan kain pembungkusnya, mencari tahu siapa korban longsor kali ini.

Belakangan, cuaca di Desa Pokori sangat buruk, terlalu sering hujan sehingga tanah di Poci-Poci jadi lembab dan lembek. Sudah ada tiga kuburan yang terkena longsor di Poci-Poci sehingga beberapa penghuninya terpaksa harus mengungsi ke kuburan tetangga yang berbaik hati memberikan tumpangan sampai penjaga kuburan menyingkirkan tanah yang menimbun kuburan si korban.

Sedih memang. Sudah mati masih saja terkena bencana. Tapi di Poci-Poci, apa pun bisa terjadi.

Korban kali ini adalah Pome si pocong merah. Bingung kenapa bisa ada pocong merah dan pocong putih? Ceritanya begini... di Poci-Poci hanya ada dua pocong. Karena kedua pocong itu terlalu mirip satu sama lain, hantu janda beranak tiga yang seluruh tubuhnya berdarah-darah memberikan solusi dengan memberikan pelukan erat pada salah satunya. Pelukan itu membuat darah di tubuh si hantu janda beranak tiga menempel di kain pembungkus pocong tersebut. Nah, sejak itu, pocong yang mendapat cetakan darah hantu janda beranak tiga dipanggil dengan nama Pome alias pocong merah dan pocong yang kainnya bersih dipanggil Puput alias pocong putih. Puput ogah dipanggil Poput karena katanya kurang girly.

Mari kita kembali ke cerita sebenarnya.

Pome sedang menangis tersedu-sedu ketika Puput tiba di tempat kejadian bencana. Para penghuni Poci-Poci sudah berkumpul mengerumuninya. Maklum, gerakan pocong tidak secepat hantu-hantu lainnya. Pocong harus melompat-lompat dengan penuh dedikasi, menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh dan menjaga emosi agar mampu bersabar dengan segala keterbatasan tersebut. Kalau disandingkan dengan zombie di negara barat sana, pocong tak kalah kok kerennya. Sama-sama orang mati yang keluar dari kuburannya, kan? Istilah kerennya, mayat hidup mau eksis.

"Pome, jangan nangis," hibur Anita si suster ngesot yang minggu lalu jadi korban longsor. "Kalau si bapak penjaga kuburan sudah bekerja, dalam tiga hari kuburan ente bakal layak huni lagi, kok."

"Ahuhuhuhu... Pome kagak demen, dah kalau kejadiannye kayak begindang, Anita darling.... ahuhuhu.... Pome selalu ngejaga kuburan Pome biar selalu bersih, apik, teratur dan wangi. Ahuhuhu... kenape mesti kuburan Pome yang kena dilongsorin? Kenape ya owo...," tangis Pome yang konon semasa hidup adalah tukang gunting rambut yang diragukan kejantanannya.

"Namanya juga nasib, Pom. Siapa suruh kuburan elo posisinya kurang strategis," kata Drako yang adalah siluman kelelawar sambil mengorek jigong di taringnya. Nama kerennya di kancah internasional adalah drakula. Sayang Drako kurang beken, nasibnya tak seberuntung saudaranya di Amerika sana. Itu, tuh, Edward Cullun. "Kayak gue, dong. Bisa tidur menggelantung di dahan pohon mana saja. Aman dari longsor. Aman dari hujan juga kalau pohonnya cukup rindang."

Puput geleng-geleng kepala. Kasihan melihat nasib Pome tapi sebal juga mendengar tangisannya. Cowok kok cengeng banget.

"Pome mesti tidur dimenong... ahuhuhu.... Pome kagak demen sumpaah... numpang-numpang di kuburan orang," rengek Pome. "Pome kagak biasa nempel-nempelan. Cukup sekali aje Pome didekep erat sama si janda beranak tiga itu. Badan Pome abis itu gatal-gatal kagak karuaaan... ahuhuhuhu."

Tuh, kan. Sudah tahu butuh bantuan tapi malah mengucapkan kata-kata yang membuat Puput serta hantu-hantu dan makhluk-makhluk magis lain kehilangan rasa ibanya. Padahal tadinya Puput mau menawarkan Pome tidur di kuburannya meskipun sempit. Lihat, hantu-hantu dan makhluk-makhluk magis jadi bubar semua. Termasuk Drako dan Anita yang sepertinya memilih untuk kencan diam-diam. Tinggal Puput sendiri yang berdiri di depan Pome, gerah mendengar sedu-sedannya.

"Tahu dirilah, Pome!" bentak Puput. Pocong putih ini memang terkenal paling galak di Poci-Poci. Padahal wajah di balik kain pembungkus itu cantik jelita untuk ukuran mayat hidup. "Elo mau nangis sambil kayang juga kuburan elo tetep aja ketimbun. Kalau emang nggak sudi tidur numpang di kuburan lain, sana tidur di tanah. Hujan-hujanan. Sukurin kalau ada petir yang nyamber elo sampai gosong. Gue bakal ketawa paling kenceng."

"Ih, kok ente gitu banget sama Pome, Put? Padahal kita sama-sama pocong, seharusnya ente dan Pome saling memahami," kata Pome tak terima. "Kalau Pome kesamber petir sampai gosong, nanti Pome bukan pocong merah lagi, tau. Ente juga jadi kehilangan temen kalau Pome sampe mati."

"Emangnya gue peduli?" balas Puput ketus. Lagian mana ada orang mati bisa mati lagi, pikirnya.

Tiba-tiba saja Pome sudah melompat-lompat meninggalkan Puput. Tidak berkata apa-apa apalagi pamitan. Tapi dari lompatannya, Puput bisa menebak kalau Pome sangat buru-buru.

Tunggu.

"Arah itu, kan...."

Puput melotot. Menyadari Pome sedang menuju ke kuburannya. Tidak tahu kenapa, feeling-nya berkata Pome berniat merebut kuburan Puput!

"Heeeei!!" Puput menjerit dan buru-buru melompat-lompat mengejar Pome. "Elo mau ngapain, Pome!?"

Pome tidak menjawab, malah melompat lebih cepat lagi.

"Wah, dasar pocong kurang ajar....!"

Teriakan Puput mengundang perhatian, beberapa penghuni Poci-Poci mengeluarkan kepala mereka dari dalam kubur untuk mengintip. Drako dan Anita diam-diam menggeleng-geleng melihat kelakuan Pome dari balik bayang-bayang pohon beringin. Keduanya memberikan dukungan dalam hati untuk Puput.

"POMEEEE!! BERHENTI!!"

"OGAAAAH!!"

"Ayo, kejar, Put!! Kejar!!" satu demi satu hantu-hantu menyorakkan dukungan. Tuyul-tuyul kecil berkulit keunguan ikut berlari-lari girang di belakang Puput. Babi ngepet mendengkur malas merasa terganggu. Lalu tiba-tiba Pome jatuh tengkurap sehingga Puput bisa menyusulnya. Rupanya Anita yang menyengkat Pome dengan kakinya.

"SUKURIN!" ejek Puput seraya melompat menginjak-injak punggung Pome sebelum masuk ke dalam kuburnya. Nyaris saja Pome yang kurang ajar itu merebut kuburan Puput.

"Yaaah... Pome tidur dimenong, dong?" rengek pocong merah lagi.

Baik Puput maupun penghuni kubur-kubur yang ada di taman makam itu menggeleng-gelengkan kepala lalu masuk ke dalam kubur mereka masing-masing. Drako dan Anita kembali asyik dengan dunia mereka sendiri. Tidak ada yang mau peduli lagi pada tangisan Pome yang memecah kesunyian malam, yang membangunkan siluman serigala dan burung-burung hantu pencari roh nyasar.

Lebih sial lagi, ternyata penjaga kuburan juga sedang pulang kampung. Hihi. Sukurin. Makanya Pome bertobat, dong.

-TAMAT-


message 8: by Hazuki (last edited Sep 03, 2012 08:21PM) (new)

Hazuki Auryn (Hazuki_Auryn) | 250 comments (1)Jagad Naraisvara dan Remang Rembulan Merah


• Tu Ban, Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Paitmaja.


“Kakang yakin, mau menghadap susuhunan esok pagi?”



“Kakang Lawe…?”

“Yakin, Yayi. Raja sudah (2)keblinger, termakan oleh hasutan Mahapati yang licik dan culas.”

“Tapi Mahapati adalah orang yang paling dipercayai Baginda. Akan sulit bagi Kakang untuk meyakinkan Yang Mulia.”

“Tekadku sudah bulat, Yayi. Daripada aku terus hidup dengan menanggung tekanan batin seperti ini, aku lebih rela dianggap (3)makar demi mempertahankan kebenaran yang ku yakini.”

“Setidaknya, tunggulah hingga hari (4)esri untuk (5)seba ke istana.”

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Yayi. Tidak bisa ku biarkan ketidak-adilan ini berlarut-larut.”

“Esok hari (6)duka, Kakang. Sangat mungkin nanti Kakang akan mendapat murka Yang Mulia.”

“Hari baik, hari buruk, bagiku sama saja, Yayi. Tidak ada beda antara hari baik maupun hari buruk untuk menghadap Raja yang telah terlanjur terhasut oleh wajah penuh topeng dan lidah bercabang Mahapati.”

“Jika itu sudah menjadi ketetapan hati Kakang, Yayi-mu ini hanya bisa mendo’akan keselamatan Kakang.”

~~~

(tiga hari sebelumnya)

• Songe Neb, wilayah kekuasaan Kerajaan Paitmaja yang terletak di ujung timur Ja Wa Dwipa.


“Sedang memperhatikan (7)sasadara, Ki?”



“Rembulan malam ini lebih merah dari biasanya…”

“Ya. Sudah sejak beberapa hari ini, rembulan itu selalu membara kemerahan.”

“Bukankah ini suatu pertanda? Ku dengar rembulan merah mampu memanggil (8)kalabedhu…”

“Terlalu banyak darah, terlalu banyak amarah.”

“Maksud Ki Wira?”

“Lawe, putraku.”

“Ah…”



~~~

• Bangsal Keprajuritan Kadipaten Tu Ban


“Hei, Rangga Lawe berderap cepat sekali di atas punggung kudanya.”

“Jaga bicaramu, Mahisa. Beliau sudah bukan Rangga lagi, tapi seorang Adipati kini.”

“Tidak perlu kaku begitu, Tosan. Tidak salah kalau Mahisa memanggil Adi Lawe dengan sebutan Rangga, karena memang Adi Lawe lebih senang disebut Rangga.”

“Yah, kau ini terlalu kaku, Tosan. Benar kata Kakang Raina, Ki Rangga memang lebih menyukai menjadi Rangga Lawe daripada Adipate Lawe. Tapi aku penasaran, mau ke mana Ki Rangga pagi-pagi begini…?”

“Ah, bukankah Kakang Raina masih berkerabat dengan Adipati? Semestinya Kakang tahu…”

“Aku tidak tahu, Tosan. Aku tidak tahu…”

“Bukankah ini karena pengangkatan Nambi sebagai Rakryan Patih? Ku dengar Ki Rangga tidak terima karena menganggap Mpu Sora yang lebih pantas menjadi Rakryan Patih.”

“Aku dengar beberapa waktu lalu Mahapati menemui Adipati. Apa manusia berlidah ular itu, yang menghasut Adipati untuk (9)mbalela?”

“Tentu tidak. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, saat Ki Rangga mengusir Mahapati dengan wajah memerah karena berang. Pasti Ki Rangga sudah mengetahui niat busuk Mahapati.”

“Bagaimana menurutmu, Kakang Raina?”

“Mahapati yah… Mahapati itu manusia yang licik, culas, memiliki seribu topeng. Lidahnya bercabang dan bisa menjerat erat siapapun yang terlena oleh hasutannya. Dia bisa (10)membalik yang putih menjadi merah, mengubah merah menjadi putih. Pada akhirnya, siapa yang tahu siapa yang benar?”





“Hanya ada satu hal yang tercatat dalam sejarah nantinya; Rangga Lawe makar. Rangga Lawe durhaka terhadap Raja.”

~~~

• (11)Indraloka


“Istanamu yang biasanya bertabur cahaya putih, kini menjadi semuram bayang-bayang darah, hei Indra…”

“Duh, Dewa yang Paling Ditinggikan di Seluruh Langit, sudah berhari-hari Yamuna menebar tembang kematian, hingga istana yang biasanya bergelimang cahaya putih ini kini semuram temaram darah…”

“Bukankah istana Yamuna berada di Batas Senja?”

“Benar, wahai Dewa yang Paling Ditinggikan di Seluruh Langit.”

“Sampai ke sini juga dendang maut yang dijalinnya… Aku ke sini karena aku ingin mengutusmu untuk turun ke Jagad Naraisvara, hei Dewa Penguasa Malam.”

“Jagad Naraisvara?”

“Benar. Seorang ksatria jujur dan gagah berani, telah termakan oleh bara amarahnya hingga berniat untuk membunuh raja junjungannya.”

“Ah, itukah sebabnya Yamuna menebar tembang kematian yang begitu kuat ini? Karena seorang pemimpin dan seorang ksatria?”

“Dewa Perenggut Nyawa itu sangat berhasrat untuk membawa keduanya, sedang aku hanya berkenan menerima salah satu di antara mereka. Maka ku sabdakan padamu, hei Dewa Penguasa Malam, untuk menyelamatkan salah satunya.”

“Duh, Dewa yang Paling Ditinggikan di Seluruh Langit, betapa berat tugas yang hamba terima. Indra si Dewa Malam ini tak mampu menerka, siapa di antara keduanya yang harus hamba bela.”

“Aku memilihmu, karena ini berkaitan dengan Indraloka. Jika kau salah memilih, selamanya istana ini akan terselimuti pijar Yamuna. Kau harus segera turun ke Naraisvara, karena ksatria itu telah sedang berada dalam perjalanan menuju istana kediaman raja junjungannya; Paitmaja.”


~~~


“Ha, baru kali ini ku lihat seorang Dewa Malam yang biasanya terang benderang bertabur cahaya putih kini berwajah semuram mendung tanpa hujan.”

“Jangan tertawa, Yamuna. Bukankah kau yang menyebabkan kekacauan ini? Apa susahnya mengambil hanya satu saja dari mereka, dan membiarkan yang lainnya tetap hidup?”

“Bukan salahku, Indra… Dewa yang Paling Ditinggikan di Seluruh Langit telah mendatangi istanaku, men-sabdakan padaku untuk memilih sendiri salah satu di antara mereka berdua. Bukankah lebih baik jika ku ambil saja keduanya, daripada aku salah memilih?”

“Jadi… Dewa yang Paling Ditinggikan di Seluruh Langit yang telah mengutusmu?”

“Kau tidak tahu, Indra? Ha, semua ini adalah permainan-Nya. Kita hanyalah pelaku, yang membawakan lakon yang didhalangi pula oleh-Nya.”

“Jaga bicaramu, Yamuna. Jangan seperti itu membicarakan Dewa yang Paling Ditinggikan di Seluruh Langit.”

“Ha, kau takut, Indra?”



“Baiklah, tak akan lagi ku ungkit akar masalah ini. Jadi, kau sudah memutuskan siapa yang hendak kau selamatkan?”

“Aku tidak tahu, Yamuna. Aku tidak tahu… Bukankah kau, sebagai Perenggut Nyawa, sepatutnya mengetahui siapa yang lebih pantas untuk kau bawa dan siapa yang boleh melanjutkan hidup?”

“Ha, tidak semudah itu, Indra. Tidak semudah itu…”

“Apa sulitnya? Adalah wajar jika aku tidak tahu, karena memang aku tidak bertugas mengawasi setiap manusia yang ada di Jagad Naraisvara. Tapi, sebagai Perenggut Nyawa, adalah tugasmu untuk mengamati dan menimbang.”

“Ha, kau pikir tugasku ini semudah menimbang kapas? Bagaimana jika aku bawa kau menuju masa lalu ksatria itu dan juga raja yang hendak dibunuhnya, agar kau tahu?”

“Mungkinkah masih ada cukup waktu?”

“Ha, aku Yamuna saudara kembar Yama, Indra. Apa kau lupa?”




~~~


Siti Inggil Istana Paitmaja

“Lawe, kendalikan amarahmu, Ngger. Jangan membuat Raja makin murka. Tak pantas bagi (12)kawula alit seperti kita ini, menentang kehendak Raja. Aku pun setuju dengan Baginda. Sudah cukup bagiku mengabdi pada negriku ini, tanpa harus merisaukan kedudukan apapun.”

“Aku tidak bisa menerimanya, Paman. Sebab aku tahu, yang paling pantas menjadi Rakryan Patih adalah Sora, bukan Nambi yang terus bersembunyi di ketiak wanita-nya saat kita berjuang melawan Raja Gelang-Gelang, pun ketika kita menggempur pasukan Tar-Tar.”

“Apa kau hendak menentang (13)Ingsun, Lawe?”

“Ya, jika itu diperlukan. Melawan Raja sekalipun tidak akan gentar Lawe ini, karena Lawe benar.”

“Kau mau bilang kalau Ingsun telah salah? Kurang ajar sekali kau Lawe. Sudah Ingsun pahami kalau sifatmu memang selalu berterus-terang dan meledak-ledak. Tapi menentang kehendak Ingsun bisa disebut makar, durhaka terhadap Raja. Dan hanya satu hukuman yang pantas untuk para pendurhaka.”

“Melawan Jayakatwang yang licik pun Lawe tak takut. Mengusir pasukan Tar-Tar Lawe tak gentar. Untuk apa harus menunduk pada Raja yang keblinger jika Lawe memang benar? (14)Kalau ada yang tanya kenapa Lawe durhaka, jawabnya adalah karena Raja tidak adil. Lawe datang menuntut keadilan, tapi justru dikepung bagai bromocorah pesakitan yang hendak membunuh Raja. Lalu kenapa tidak sekalian saja Lawe membunuh Raja yang tidak adil itu, biar negri ini dipimpin oleh orang yang lebih pantas menjadi Raja?”

“(15)Klelegen klerak kamu, Lawe. Kalian semua yang ada di sini sudah mendengar sendiri ucapannya. Jika kalian masih setia pada Ingsun, maka Ingsun perintahkan kalian untuk menghukum pendurhaka itu.”


~~~


“Apa kita sudah memilih dengan benar?”

“Aku tidak tahu, Indra. Aku tidak tahu...”

...

~~~~~~~~~~~~~~~akhir?

Catatan:

1. Jagad Naraisvara (baca “Naraisworo” atau “Naresworo”) adalah sebuah alam semesta, yang secara umum identik dengan Bumi ini.

2. Keblinger : salah jalan

3. Makar : memberontak; durhaka terhadap pimpinan/raja

4. Esri : hari baik untuk menghadap orang agung; esri: indah, bagus

5. Seba : menghadap (baca “sebo”)

6. Duka : hari buruk untuk menghadap seseorang yang agung; duka (baca “duko”): amarah

7. Sasadara : sebutan lain untuk rembulan (baca “sasodoro”)

8. Kalabedhu : malapetaka

9. Mbalela : menentang, memberontak, durhaka (baca “mbalelo”)

10. “membalik yang putih menjadi merah, mengubah merah menjadi putih” : suatu idiom, “merah” diartikan sebagai yang bersalah dan “putih” diartikan yang benar

11. Indraloka : istana Dewa Indra, di Jagad Naraisvara, Indraloka terlihat sebagai rembulan di langit malam hari

12. Kawula alit : rakyat biasa, bukan berasal dari trah raja (baca “kawulo”)

13. Ingsun : secara harfiah berarti “aku”; hanya Raja (atau Pangeran Pati yang nantinya menjadi Raja) yang diperbolehkan menyebut diri sendiri dengan “Ingsun”.

14. “Kalau ada yang tanya kenapa Lawe durhaka, jawabnya adalah karena Raja tidak adil” : sebuah kalimat yang dikutip dari kalimat yang diucapkan oleh Hang Jebat dalam film berjudul Hikayat Hang Tu’ah yang diproduksi pada tahun 60’an; redaksi aslinya adalah “Kalau ada yang tanya kenapa Jebat durhaka, jawabnya adalah karena Raja tidak adil!”

15. Klelegen klerak : “klelegen” berarti “tidak sengaja menelan”; “klerak” adalah suatu bijian tanaman yang digunakan untuk mencuci karena menghasilkan buih/busa; sangat beracun.

Tambahan catatan:

Sebagai Perenggut Nyawa, Yamuna memiliki kemampuan membalik waktu, mengubah akhir, maupun menghapus ingatan dan memanipulasinya. Sedangkan saudara kembarnya, Yama, adalah Penguasa Alam Bawah.
^^


message 9: by Mahfudz (last edited Sep 04, 2012 08:35AM) (new)

Mahfudz Asa (mahfud_asa) | 212 comments KROMA

Sebuah ketukan di kaleng tempatku tinggal memaksaku untuk bangun dari kubangan Sari Warna—oh manusia sering menyebutnya cat. Tampaknya aku juga akan memakai istilah itu untuk alasan kepraktisan—yang menyenangkan ini. Sebenarnya aku malas untuk keluar dari kaleng ini, tapi tak ada pilihan lain. Jika aku tak segera keluar, ketukan demi ketukan akan terus terdengar, bahkan intensitasnya akan semakin sering. Dan itu sangat mengganggu.

Akhirnya, sedikit kuangkat tutup kaleng. Mengintip, satu-satunya manusia yang bisa melihat bangsaku tengah menatap ke arahku: Pictor, seorang pelukis amatiran yang kadang menyebalkan. Sampai sekarang aku belum tahu ilmu apa yang dimiliki pria berambut berantakan itu sehingga ia memiliki keistimewaan dapat melihat kami.

Kami adalah bangsa Kroma. Sebuah makhluk yang sering tinggal di sanggar-sanggar lukis manusia. Kami adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan warna dari cat, sehingga campuran dari setiap warnanya akan pas. Aku Rufus, sang kroma merah. Selain diriku, ada empat kroma lagi di sanggar ini. Albi si kroma putih, Ater si kroma hitam, Flavis si kroma kuning, dan Caerula si Kroma Biru.

“Ayolah, keluarkan tubuh bulatmu itu,” ujar Pictor agak berbisik. Satu dari sekian hal yang tak kusukai dari pria itu adalah caranya menyebut kami: Makhluk Bulat. Memang sih tubuh kami membulat agak mengerucut. Pictor pernah membandingkan kami dengan buah Alpukat. Untung kami punya tangan dan kaki, yang walau bentuknya sangat sederhana, tapi cukup untuk membedakan tubuh kami dengan buah itu. Oke aku akui panggilan itu memang agak pas dengan kami, tapi tak perlulah sampai memperjelas seperti itu. Cukup panggil kami dengan kroma atau dengan nama kami. Itu jauh lebih menyenangkan. “Ada hal yang ingin aku tunjukkan padamu.”

Aku memperlebar bukaan tutup kaleng, melirik ke sana-kemari. Tak ada yang aneh. Suasana sanggar masih sama. Easel, kanvas-kanvas kosong, tube-tube cat, kaleng, palet, kuas-kuas berbagai ukuran, lukisan setengah jadi, lukisan-lukisan di dinding, tak ada yang berubah.

“Ada apa?” tanyaku agak ketus.

“Keluarlah,” pintanya lagi. Ia membuka telapak tangannya di dekat kaleng.

Akhirnya aku bangkit dan memanjat sisi kaleng, sebelum akhirnya aku mendarat di tangan Pictor. Tetesan-tetesan cat warna merah dari tubuhku, sisa dari berkubang di dalam kaleng mengotori tangannya, tapi tampaknya ia tak mempedulikannya. Setelah ia membantuku duduk di telapak tangannya, ia hendak membawaku pergi keluar sanggar.

“Tunggu,” ujarku tiba-tiba. “Kau hanya mengajakku?”

Ia mengangguk. “Memang kau pikir ini acara keluarga?”

“Memangnya ada apa?” tanyaku sangat penasaran. “Dan kenapa aku?”

“Karena aku percaya padamu,” jawabnya sangat mengejutkanku. Satu lagi keanehan Pictor. Betapa pun aku selalu menunjukkan rasa tidak sukaku padanya, tapi ia selalu menanggapi rasa benciku dengan senyum lebar. Pria bodoh. “Dan karena kaulah Kroma yang paling dekat dengan Albi.”

“Albi?” tanyaku kembali terkejut. “Kenapa dengannya?”

“Akan aku beritahukan sebentar lagi,” jawabnya. “Karena itu diamlah.”

“Oke. Aku akan diam sampai kau memintaku bicara.”

Dan aku sangat tepat janji. Sampai di tempat yang dituju Pictor, tak ada seperempat patah kata pun keluar dari mulutku.

“Inilah yang ingin aku tunjukkan padamu,” ujarnya padaku.

Aku masih tak menjawab. Ia belum memintaku bicara. Aku tepat janji.

“Oke, bicaralah,” ujarnya kesal setelah cukup lama kami saling diam.

“Kau membawaku ke gudang?” tanyaku tak yakin apa yang ingin ia tunjukkan padaku. Lagi pula apa hubungannya gudang dengan Albi. Apakah Albi meminta pada Pictor untuk menjadikan gudang ini menjadi rumah barunya? Tidak mungkin. Aku tahu Albi memang manja, tapi tak mungkin ia sampai meminta hal seperti itu. Memangnya apa asyiknya tinggal diantara tumpukan lukisan using dan rusak ini?

Ia berjongkok, memungut sebuah lukisan yang coreng moreng oleh cat putih. “Aku khawatir ada yang tidak beres dengan Albi.”

“Apa maksudmu?” tanyaku belum benar-benar bisa menebak apa maksudnya.

“Pagi tadi, aku menemukan semua lukisan di sanggar dalam keadaan seperti ini,” ujarnya. “Semuanya tercoreng oleh cat putih. Tapi semuanya sudah aku ganti dengan lukisan lain dari koleksiku.”

Aku tahu apa maksudnya. “Apa kau sedang tidak mengadu domba kami? Tak mungkin Albi melakukan hal itu.”

“Rufus, untuk apa aku mengadu domba kalian,” sangkalnya. “Selama ini kalian sudah sangat membantuku. Jadi tak ada alasan untukku sampai membenci kalian. Justru aku ingin sebaliknya. Aku ingin semuanya berjalan seperti biasa, seperti tak pernah ada masalah. Untuk itulah aku butuh bantuanmu.”

“Tepatnya?” tanyaku belum mau luluh dengan kata-kata manisnya.

“Aku ingin kau mencari Albi,” jawabnya.

“Mencari?” Kali ini keterkejutanku berada di tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. “Jangan bilang kalau Albi menghilang.”

“Sayangnya seperti itu,” jawabnya tak senang. “Aku telah mengecek kalengnya, tapi ia tak ada di sana.”

“Baiklah,” jawabku menyetujui. Bagaimanapun aku harus mencari Albi. “Dari mana aku harus mulai mencari?”

“Aku sudah mengikuti jejak cat putihnya sampai gang utara,” katanya memberitahu. “Jejak itu menghilang di sana.”

“Bawa aku ke sana,” perintahku. “Tapi sebelumnya aku ingin melihat kaleng Albi.”

“Tak masalah,” jawabnya. Ia bangkit. Sedikit menyembunyikanku, ia membawaku untuk melihat kaleng Albi. Dan ia benar, Albi memang tak ada.

“Satu lagi,” kataku saat ia hendak pergi. “Bekali aku dengan cat dari kubangan di kaleng Albi.”

“Untuk apa?”

“Lakukan saja,” perintahku.

“Baiklah,” jawabnya pasrah. Kemudian ia memasukkan cairan putih itu ke dalam tabung kecil, yang cukup kecil untuk aku bawa.

Setelah urusan perbekalan beres, ia membawaku ke gang yang jaraknya tak lebih dari 100 meter ke arah utara dari sanggar. Sepanjang perjalanan menuju gang, aku melihat jejak-jejak bulat kecil berwarna putih di trotoar. Aku sangat yakin itu jejak kaki Albi.

“Turunkan aku,” pintaku setelah mencapai gang yang dimaksud. Di sana jejak kaki Albi sudah tak ada.

Ia menurunkanku.

“Rufus,” panggilnya saat aku hendak melangkah. Aku menoleh padanya. “Tinggalkan jejak untuk kuikuti. Aku akan menyusulmu tak lama lagi setelah aku mengurus saudaramu yang lain.”

“Baiklah,” jawabku berbalik. “Sebisa mungkin, jangan sampai kroma lain tahu masalah ini.”

***

Setiap kroma sebenarnya memiliki kemampuan khusus, tapi masing-masing dari kami tak pernah tahu kemampuan yang lain, kecuali kemampuan Albi. Aku telah mengetahui kemampuannya. Ia bisa menyerap kemapuan kroma lain. Kau bisa menganggapnya senjata rahasia.

Dan kelebihanku adalah mampu mengetahui di mana kroma lain berada dengan menyerap cat mereka. Tapi kemampuan ini berresiko. Cat itu berdampak seperti racun yang melemahkan di setiap tetesnya. Jika aku terlalu banyak menyerap cat kroma lain, maka aku bisa saja mati.

Untuk itu, aku sangat hati-hati dalam menggunakan kemampuan ini. Aku sudah menyerap cat dari tabung bekalku sebanyak enam kali, dan sudah berjalan entah berapa ratus meter saat keberadaan Albi tiba-tiba terdeteksi oleh diriku. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana rasanya, tapi yang jelas seperti ada yang menarikku untuk mendekat.

Kuikuti dorongan itu, dan akhirnya aku berdiri di sebuah ruangan agak gelap yang tak menyenangkan. Barang-barang tak berguna berserakan di mana-mana. Ada keinginan untuk pergi dari tempat ini, tapi keinginan untuk menemukan Albi lebih besar. Sehingga dengan keyakinan yang tak penuh, aku terus melangkah.

“Albi?” panggilku pelan sambil terus berjalan. “Keluarlah.” Tak ada jawaban. “Ini aku, Rufus. Aku tahu kau di sini. Keluarlah.”

Aku terus mendekati sumber dorongan yang membawaku ke sini, yang tampaknya muncul dari kaleng berkarat di sudut ruangan. “Albi ayolah. Kau bisa membicarakan masalah ini denganku.”

“Tidak!” teriak sebuah suara tiba-tiba. Itu suara Albi. “Pergilah!”

“Albi, pulanglah,” bujukku. Aku semakin mempercepat jalanku ke kaleng itu. “Aku, Pictor, dan saudara kita yang lain ingin kau pulang.”

“Aku tak bisa,” teriaknya lagi, nada suaranya terdengar bergetar. “Aku tak bisa pulang. Kalian pasti akan membenciku. Aku tak lagi dibutuhkan.”

“Apa maksudmu?” tanyaku, aku khawatir masalahnya di sini lebih dari sekedar kabur dari rumah. “Kami selalu membutuhkanmu.”

Ia terdiam.

“Apa kau tak lagi mempercayaiku?” tanyaku dengan nada sedikit lebih rendah. Yah, aku akui ada sedikit sandiwara di sini. Menunggu, masih tak ada jawaban. “Baiklah, kalau memang kau sudah tak percaya lagi padaku. Aku biarkan kau tetap di sini.” Kuberi jeda dramatis di sini. “Selamat tinggal Albi. Aku akan sangat merindukan Albi yang dulu.”

Aku berbalik, berjalan lambat. Kuhentakkan kakiku cukup keras untuk di dengarnya, berharap ia akan muncul tiba-tiba dan memanggilku. Ah, tapi tampaknya ini hanya sebuah harapan. Setelah puluhan langkah, ia tetap tak memanggilku. Semakin kuperlambat langkahku, berharap ia hanya sedang meyakinkan diri untuk memanggilku. Ayolah Albi.

“Rufus,” panggilnya tiba-tiba. Suara Albi terdengar lemah dan putus asa. Tapi selemah apa pun suara itu, dalam ruangan sesepi ini, juga dalam keadaanku yang siap-siaga untuk menangkap suaranya, suara itu membuatku terlonjak.

Seketika itu aku berbalik, dan melihat Albi tengah mengintip dari kalengnya. Tunggu! Apakah ini hanya karena pencahayaannya yang kurang atau apa, tapi aku merasa Albi sedikit… menggelap.

“Albi,” panggilku sambil berlari menghampirinya.

“Rufus, berhenti,” pintanya masih dengan nada selemah tadi. Aku berhenti seketika. “Ada hal yang ingin aku perlihatkan kepadamu.”

“Tentang?” tanyaku khawatir.

“Diriku.” Ia memanjat kalengnya dengan cukup cekatan, lebih cekatan dari yang biasa aku lihat. Melompat, ia mendarat di lantai dengan kelincahan yang tampak bukan dirinya, lalu ia membentangkan tangan. “Inilah yang ingin aku beritahukan padamu. Aku bukan diriku lagi.”

Aku hampir saja berteriak melihat penampilan Albi saat ini. Ternyata apa yang aku lihat tadi bukanlah tipuan cahaya, tapi benar. Tubuhnya kini agak gelap, keabu-abuan. “Apa yang terjadi padamu?”

“Aku menyerap kekuatan Ater,” jawabnya tiba-tiba tertunduk lesu. “Dan….”

Tiba-tiba sesuatu menghantam tubuhnya, membuatnya terpental dan membentur kaleng di belakangnya.

“Ternyata kau memang tak bisa menyimpan rahasia,” kata sebuah suara yang sudah sangat aku kenal. Menoleh, aku melihat Ater tengah menunjukkan tangannya ke arah Albi. “Padahal sedikit lagi.”

“Ater?” panggilku sedikit tak yakin itu dirinya. Bukankah ia di sanggar? Lalu sejak kapan ia berada di sini.

“Oh, Rufus,” sapanya menyebalkan. “Ternyata kau cerdik juga.”

“Apa sebenarnya yang tengah kau rencanakan?” teriakku pada Ater. Aku berlari menghampiri Albi yang sudah mulai bangun. Membantunya berdiri kembali.

“Hanya membuang pesaing terkuat,” jawab Ater santai, tapi bukan dari tempatnya berdiri saat ini. Suaranya seperti berasal dari sisi lain tempatnya berada. Aku menoleh ke sumber suara itu, dan menemukan Ater yang lain tengah menyeringai licik padaku.

“Kau?” aku tak percaya ada dua Ater di sini. “Bagaimana…?”

“Tak perlu seterkejut itu,” jawabnya memotong pertanyaanku. “Akui saja kalau kemampuan bayanganku memang luar biasa.”


message 10: by Mahfudz (last edited Sep 04, 2012 10:03AM) (new)

Mahfudz Asa (mahfud_asa) | 212 comments Kemampuan? Jadi ini kemampuan Ater. Membuat bayangan dirinya. Aku memandang ke sekeliling ruangan, mencari apakah ada Ater-Ater yang lain. Sedikt lega, aku tak menemukan yang lain. Dua saja mungkin akan merepotkan.

Aku dan Albi berhasil berdiri. Tapi seketika itu kami langsung ditodong dengan tangan yang siap menyemburkan cat oleh Ater-Ater itu.

“Tunggu,” cegahku sebelum mereka benar-benar menyemburkan senjatanya. Berharap ada sedikit waktu untuk menyusun rencana. “Setidaknya maukah kau memberitahuku apa maksudmu dengan menyingkirkan saingan terberat?”

“Perlukah?” tanyanya retoris.

“Sangat,” jawabku, masih kebingungan mencari cara keluar dari masalah ini.

“Oke, mungkin tidak penting juga bagimu,” ujarnya memulai. “Tapi hanya ini yang bisa aku katakan padamu. Di mana pun, cahaya selalu bisa mengalahkan gelap. Cukup dapat menyimpulkan?”

Sangat. Sangat jelas. Ater ingin menyingkirkan Albi. Itulah kesimpulannya, tapi kenapa? Bukankah selama ini Albi tak pernah mencoba menyingkirkan Ater, atau mencoba melakukan hal semacam itu?

“Aku menuntut penjelasan darimu,” bisikku pada Albi yang berdiri di sampingku. “Tentu saja jika kita berhasil keluar dari masalah ini.

“Aku benar-benar menyesal,” jawab Albi berbisik. “Maafkan aku.”

“Tak perlu. Yang penting untuk saat ini, apakah kau cukup mampu untuk melawan?” Ia mengangguk. “Baiklah, kalau begitu kau lawan Ater yang kedua.”

Kami beralih posisi saling memunggungi. Aku menghadap Ater pertama, dan Albi menghadap Ater kedua.

“Oh, jadi kalian yakin mampu melawanku, ya?” ujar Ater sok unggul.

“Bukan begitu,” jawabku. “Sebenarnya aku berpikir tak perlu seperti ini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Bagaimanapun kita sudah lama hidup bersama. Apa kau tak pernah menganggap kami sebagai saudara?”

“Saudara?” Cengiran menyebalkan muncul di wajahnya. “Lupakah kau bahwa bangsa kita tak pernah memiliki konsep itu? Itu konsep para manusia. Jangan-jangan tak lama lagi kau akan mendeklarasikan diri telah berjenis kelamin? Sadarlah, kau sudah terlalu teracuni oleh pikiran mereka.”

“Baiklah kalau memang ini maumu,” jawabku sambil memasang kuda-kuda. Aku menyadari Albi juga melakukan hal yang sama denganku.

Tanpa peringatan, tiba-tiba Albi menyemburkan cat ke Ater lawannya. Seketika itu juga, seakan menjadi tanda memulai serangan, masing-masing dari kami menyemburkan senjata kami dari tangan. Seranganku dengan cekatan dihindari Ater, tapi dengan sial aku tertembak. Aku terpental, dan cairan kental berwarna hitam melumuri ‘pinggang’. Cairan hitam itu dengan cepat meresap, membuat warna tubuhku berubah sedikit menua, juga sedikit melemahkan tubuhku yang memang sudah melemah sedari tadi.

Aku bangkit secekatan mungkin, mencari perlindungan, dan mulai menyerang. Serangan demi serang kulancarkan. Serangan pertama bertumbukan dengan serangannya. Serangan kedua mampu ia hindari dengan cukup mudah, dan pada serangan ketiga semburanku telak mengenainya. Sementara itu diriku aman di balik sebuah balok kayu.

Melirik ke Albi, aku langsung dibuat terkejut oleh dua Albi yang tengah menyerang Ater lawannya. Bagaimana Albi bisa melakukan itu? Oh, iya. Tadi, Albi mengatakan padaku bahwa ia telah menyerap kemampuan Ater. Pasti ini salah satu efeknya.

Harus aku akui kalau pertarungan mereka jelas-jelas jauh lebih seru. Dua Albi dan satu Ater dengan sama gesitnya saling menyerang. Kilasan-kilasan tembakan cat putih dan hitam silih berganti, berseliweran di udara hanya untuk pecah di dinding atau lantai pada akhirnya. Sebenarnya masih banyak hal menarik lain yang bisa aku gambarkan pada kalian, tapi maaf. Aku di sini bukan sekedar pengamat, tapi aku juga punya lawan yang harus aku taklukan.

Kembali mengintip ke Ater lawanku, aku langsung dibuat terkejut dan kebingungan karena ia sudah tak nampak lagi di tempatnya semula. Mataku nyalang mencari ke sepenjuru ruangan, yang sayangnya banyak area gelapnya. Sehingga memungkinkan Ater untuk bersembunyi dengan sempurna.

Kupertajam penglihatanku untuk menyibak area gelap itu, tapi mataku tak cukup mampu untuk menguak keberadaan bentuk apa pun di sana. Akhirnya, hanya ada satu cara yang bisa kugunakan untuk mengetahui di mana Ater berada.

Di dekatku, kutemukan kubangan cat hitam hasil tembakan tak tepat sasaran Ater. Kuserap sedikit dengan ujung tanganku. Seketika itu, keletihan langsung menderaku. Tapi di balik rasa lelah itu, kusadari adanya suatu dorongan yang memaksaku seperti yang aku rasakan saat mencari Albi tadi. Dorongan itu datang dari dua arah. Pertama dari belakangku. Dorongan ini pasti berasal dari Ater yang tengah dilawan oleh Albi. Sedangkan dorongan yang lain datang dari tempat gelap tak jauh dari tempat Ater tadi berada.

Aku tak buru-buru menyerang. Aku masih ingin memastikan di mana tepatnya ia berada. Sekali lagi, kuserap cairan itu dan aku langsung mengetahui ke mana aku harus melancarkan serangan. Kupersiapkan seranganku. Kali ini bukan serangan biasa, tapi serangan bertubi-tubi yang mungkin akan membuatku terlalu kelelahan hanya untuk berdiri. Tapi kupikir akan sangat sulit untuk melakukan serangan itu dari balik perlindungan, sehingga aku harus maju menyerangnya.

Secara tiba-tiba aku muncul dari perlindunganku, dan mulai menyerang.

Serangan pertama, kedua, ketiga… aku harap seranganku benar-benar tepat mengenainya. Erangan tertahan terdengar, dan aku yakin Ater tertembak seranganku. Serangan keempat, kelima, keenam… dua tembakan balasan menghantamku. Membuatku sedikit limbung, tapi aku terus bertahan. Serangan ketujuh, kedelapan, kesembilan… aku sudah sangat kelelahan, aku seperti tak lagi menguasai tubuhku sepenuhnya. Serangan kesepuluh… dua tembakan lagi menghantamku. Serangan kesebelas… aku seperti melihat sekelebat warna kuning di gegelapan, mengiringi tembakanku. Serangan keduabelas, kupikir aku berhalusinasi. Aku seperti mendengar suara Caerula, Flavis, juga Pictor memanggilku. Dan… aku tak yakin serangan ketigabelas berhasil kulancarkan. Aku benar-benar tak tahu, karena sebelum aku sempat menyadarinya aku sudah jatuh tak sadarkan diri.

***

Kupikir aku masih berhalusinasi saat suara saudara-saudaraku memasuki pendengaranku. Tapi begitu aku membuka mata, aku sadar itu benar-benar mereka.

“Albi?” panggilku lemah. Kulihat Albi sudah seputih dan sebersih sebelumnya, entah apa yang terjadi padanya. “Apa kau tak apa-apa?”

“Oh, hai Rufus,” sapa Caerula padaku. “Bukannya pertanyaan itu seharusnya keluar dari mulut kami? Di sini, kaulah yang terluka.”

Menggerakkan semua angota tubuh, aku merasakan tubuhku. Tampaknya tak terlalu buruk. “Aku merasa cukup segar,” jawabku sembari bangkit.

“Baguslah,” jawab Flavis yang entah tengah melakukan apa terhadap Ater yang kini berbaring tak sadarkan diri. “Untungnya kami datang tepat waktu.”

“Kami?”

“Ya, kami,” jawab Caerula. “Aku, Flavis, dan Pictor.”

“Jadi itu benar-benar kalian?” mereka mengangguk. “Emm… ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan, Flavis?”

“Aku tengah menyerap warna pencemar dari tubuhnya,” jawabnya. “Untuk menundukkannya, kami terpaksa menyerangnya bersama-sama. Jadi, yah, dia menyerap warna kita semua.”

“Jadi…?”

“Ya,” jawab Albi memotong pertanyaanku. “Inilah kemampuan Flavis. Ia bisa mengeluarkan pencemar dari tubuh kita.”

Aku menatap Albi, dan tiba-tiba teringat sesuatu. “Kau berhutang penjelasan padaku,” tagihku padanya. “Juga pada yang lain.”

Albi tak langsung menjawab. Seperti ada rasa sedih yang sangat besar yang menghambatnya berkata-kata. Tapi akhirnya ia bisa memulai penjelasannya. “Rasa iri pada kalian benar-benar membuatku gelap mata saat itu.”

Kami semua memandangnya dengan tatapan bingung. Lalu aku bertanya, “Iri? Iri kenapa?”

Ia menunjuk sebuah lukisan di dinding. Sebuah lukisan sebuah apel merah yang berlatarbelakang warna putih polos. “Itulah yang membuatku iri pada kalian,” katanya melanjutkan. “Kalian lihat. Di lukisan itu warnaku memang yang paling dominan, tapi bukan warnaku yang menjadi objek pencuri perhatian di dalamnya. Melainkan dirimu, Rufus.” Ia berhenti memandangku. “Lihat lukisan pantai itu. Di sana, Caerulalah bintangnya. Sedangkan aku hanya menjadi saputan awan tak penting, juga busa ombak yang tak pernah diperhatikan. Juga di lukisan lain, aku tak penah nampak penting.”

Ia berhenti sesaat. Kulihat matanya berkaca-kaca. “Kemudian pada saat itu Ater mendatangiku, menawarkan bantuan padaku dan memberiku ide untuk menghancurkan sanggar ini,” lanjutnya. “Ia juga meminjamkan kemapuannya padaku dengan sukarela. Dengan nafsu yang tengah membara, aku menerima sarannya tanpa berpikir. Dan terjadilah itu semua. Aku sungguh menyesal telah melakukan hal itu.”

Aku merangkulnya. Merasa iba dengannya, “Kau tahu. Tanpamu, lukisan-lukisan itu tak akan terlihat indah. Saat kita bekerja bersama-sama, kita akan menghasilkan sesuatu yang indah.”

“Oke, Albi,” seru Flavis tiba-tiba. Sepertinya ia dengan sengaja memecah kecanggungan ini. “Sekarang giliranmu.”

“Giliran apa?” tanyaku.

“Menetralkan sedikit kepekatan kemapuan Ater agar tak terlalu bebahaya,” jawab Albi sambil berjalan mendekati Ater yang masih belum sadar.

Jongkok, ia langsung meneteskan beberapa tetes cat putih pada Ater. Seketika itu, pekatnya hitam pada tubuh Ater sedikit memudar.

“Jangan terlalu banyak,” saran Caerula. “Jangan sampai kepribadiannya berubah. Itu akan mempengaruhi keseimbangan warna dunia.”

“Aku tahu,” jawab Albi.

Aku memperhatikan Albi dengan seksama. Diam-diam aku kagum padanya. Juga pada yang lain.

“Hai teman-teman,” seru Pictor. Aku langsung berbalik memandangnya yang kini tengah berdiri memandangi kami. Di tangannya terdapat sebuah barang yang dari bentuknya bisa aku tebak: lukisan, tentu saja. Itu kan pekerjaannya. Lukisan itu tertutup oleh selembar kain putih bersih. “Aku punya hadiah untuk kalian.”

“Hadiah?” ujar kami semua terkejut, hampir bersamaan. Dengan antusias, kami mendekati Pictor. Albi yang belum selesai dengan pekerjaannya, sampai-sampai menunda pekerjaannya hanya untuk bangkit mendekati Pictor.

“Kalian siap?” tanya Pictor menggoda.

“Ya,” jawab kami dengan antusiasme yang belum surut.

Setelah tersenyum jahil, Pictor menyibak kain penutupnya. Kain tersibak menampilkan sebuah lukisan sederhana yang menampilkan kami berlima, para kroma dengan pose yang sangat ‘kami’. Dalam lukisan itu, kami berlima berjajar dengan pose kami masing-masing. Aku berdiri membelakangi Albi yang tengah ceria memandang Caerula. Dengan wajah bosan, Caerula mengabaikan Albi mau pun Flavis yang tengah heboh mengusilinya. Sementara itu Ater berdiri membelakangi yang lain. Persis seperti diriku. Hanya saja ia berada di sisi yang lain dariku.

Aku tak bisa tak mengagumi lukisan itu. Bukan karena keindahannya, tapi karena ketepatan waktunya. Lukisan itu seperti menjawab kesedihan Albi selama ini.

Aku mendekati Albi yang masih terkagum-kagum pada lukisan itu, dan berbisik ceria padanya. “Sekarang kita semualah bintangnya.”

~Selesai~


message 11: by Narita (last edited Sep 05, 2012 04:07AM) (new)

Narita | 279 comments Akai


Seorang wanita memakai kimono berwarna putih duduk di tengah padang rumput yang luas. Di sekitarnya berserakan lampion kertas berwarna merah. Sekitar 1000 lampion mengitari sekitar tubuhnya. Tangan kirinya memegang kayu panjang yang pada ujungnya terdapat lidah api yang tak bisa padam jika ia tidak menghendakinya. Ia pun mulai menyalakan satu per satu lampion.

Setiap lampion merah yang dinyalakannya terbang menghiasi langit malam, sebuah ingatan muncul bergantian mengungkap masa lalunya yang menyedihkan.

“Aku kembali teringat, saat pertama bertemu denganmu hari itu. Pakaian yang kugunakan tidak berbeda dengan apa yang kupakai saat ini. Warna putih, pada hari kematian seluruh keluargaku. Aku benci warna hitam yang kelam itu, biarkan semua sirna seperti warna putih yang kupakai saat ini.”

Matahari mulai terbenam, cahaya berwarna merah bercampur dengan potongan daun tua di musim gugur. Matanya memandang kosong ke langit petang itu. “Warna merah pekat yang berbau amis.. mengapa hanya aku yang selamat? Ini tidak adil.. aku belum bisa mengurus semuanya sendirian.” Dia berjongkok lalu bersandar pada batang pohon di dekatnya sambil memeluk erat kedua lututnya.

“Keluargaku merupakan bangsawan yang masih termasuk dalam lingkaran naga penjaga kaisar. Banyak pihak yang tidak menyukai kami karena kami memiliki kekuasaan mencakup hampir setengah kota Jyuuryu. Namun tidak kusangka akan berakhir tragis seperti ini.”

“Malam itu begitu cerah, aku bahkan dapat melihat gugusan bintang dengan mata telanjang. Angin menerpa dengan lembut, tak ada tanda-tanda musuh akan menyerang. Tapi justru saat tenang itulah, badai tengah menanti untuk menerpa kami..”

Sebuah suara menarikku kembali ke dunia nyata. “Nona Kaguya, sudah saatnya anda kembali ke rumah utama. Para tetua menanti anda..”

Kaguya masih membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang kurus. “Seharusnya kau biarkan saja aku di sana..”

“Nona..”

“Kemana mereka saat aku membutuhkan.. bukan.. saat keluargaku membutuhkan mereka..?” Tanyanya dengan suara berat.

Kaguya mengangkat wajahnya yang telah basah dengan airmata. “Kemana mereka semua?! Kenapa baru saat ini?! Dimana kesetiaan mereka?! Tunjukkan padaku!!” Bentak Hitsu histeris.

“Nona Kaguya Hitsu, bukan, Hitsu chan.. sebagai teman masa kecilmu aku dapat mengerti apa yang kau rasakan. Tapi tetua kolot itu tidak akan mempedulikan perasaanmu saat ini. mereka menanti pemimpin baru pemegang kunci keluarga Kaguya. Makanya.. ”

Kaguya mengusap airmata yang membasahi wajahnya. Ia terlihat lebih tegar dari sebelumnya. “Hiroshi, jika mereka menginginkan pemimpin, akan kuberikan!” Rambut panjang Kaguya yang terurai mengalun mengikuti hembusan angin.

***

“Nona Kaguya, anda memiliki 2 pilihan. Menjadi pemimpin yang baru atau mati mengorbankan dirimu sendiri..”

“Nenek Koga.. itu terlalu..” Hiroshi menyela perkataan Nenek Koga begitu mendengar ucapannya yang ketus.

Wajah Kaguya berubah dingin. “Tidak apa, saya akan menerima jabatan tersebut. Atas nama kaisar, mulai saat ini sayalah kepala keluarga Kaguya yang baru.” Kaguya berdiri, pandangan matanya meruncing. “Akan kucari pengkhianat yang melawan keluargaku, aku tidak peduli dari klan mana dia berasal. Ganjaran bagi pengkhianat hanyalah kematian!” Kaguya berlalu dari ruang utama, sambil menyeret sebuah jubah bergambar naga berwarna putih di punggung.

Para tetua hanya berbisik-bisik dari telinga yang satu ke telinga yang lain. Isi pembicaraan mereka ada yang melecehkan kemampuan Kaguya, mengarapkan kematiannya bahkan sebuah kutukan. Klan lain tidak menyukai kehadiran keluarga Kaguya, bahkan mereka berharap keturunan terakhir keluarga itu pun ikut mati. Sebab jika mereka telah lenyap, kekuasaan dan kekayaan material yang dimiliki keluarga Kaguya tentu akan kembali ke kaisar. Dengan begitu, kaisar akan memilih kembali pemimpin berikutnya yang akan menguasai wilayah lahan tambang emas itu.

***

Kaguya sadar, jiwanya semakin terancam dengan mengambil keputusan untuk mengemban kewajiban keluarganya. Ditambah, ia belum memiliki cukup pengaruh dimana pun termasuk di kalangan tetua. Malam itu, waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. ia sendirian bersandar di salah satu pohon yang tumbuh di halaman rumahnya. Tentu saja dengan pengwasan Hiroshi dari tempat yang tidak begitu jauh darinya. Hanya Hiroshi yang merupakan pelayan setia di rumah itu, makanya Kaguya harus segera membangun kembali pondasi kekuasaan milik keluarganya secepat mungkin.

“Hanya dengan kekuatanmu saja, kamu tidak akan sanggup melakukan apapun.”

Suara meisterius itu menyadarkan Kaguya dari lamunannya. “Siapa? Siapa di sana?” Kaguya segera bengkit dari sandarannya dan memeriksa sekelilingnya. “Hiroshi! Hiroshi!”

Makhluk itu pun menampakkan dirinya. Seekor iblis bersayap kelelawar dan berekor duduk di atas ranting pohon tempat Kaguya bersandar. “Percuma, dia sudah kubuat tidur agar kita dapat berbincang-bincang seperti ini.”

“Apa maumu?” Tanya Kaguya tegas.

“Nona, aku dapat mengabulkan semua keinginanmu hanya dengan 1 syarat..” Iblis itu tersenyum picik.

“Aku tidak peduli dengan syarat yang kau pinta jika kamu dapat mengabulkan apapun keinginanku!” Bentak Kaguya.

“Jiwamu yang dipenuhi kegelapan, itu saja kuinginkan. Tidak sulit kan? Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kekuatan, kekuasaan, dan hukuman bagi pengkhianat yang merusak hidupku!” Kaguya menjawab tanpa ada keraguan sedikit pun.

“Kontrak perjanjian telah disepakati. Anda dapat memanggil saya Belphegor, nona muda..”

***

Sejak hari itu, Kaguya berubah menjadi manusia yang ambisius terhadap kekuasaan dan kekuatan. Ia menggunakan segala cara demi meraih keinginannya. Dan anehnya Kaguya selalu selamat dalam tiap percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Akhirnya banyak klan yang takut dan ikut merapat ke dalam barisan sekutu di bawah pimpinan tangan besi Kaguya. Sosok Kaguya menjadi begitu ditakuti dengan cara tersebut.

Satu per satu pengkhianat yang bersembunyi di balik jubah kaisar terkuak. Mereka mati mengenaskan tanpa diketahui pelaku pembunuhnya. Namun yang jelas, sebuah dokumen yang mencatat kebusukan mereka selalu berada di lokasi kejadian seakan menunjukkan kebenaran yang terpendam.

Kasus pembunuhan itu kemudian disebut dewa kematian merah, sebab ruangan tempat korban berada dipenuhi dengan darah. Banyak yang beranggapan kejadian tersebut merupakan perbuatan Kaguya, namun tidak ada yang dapat menunjukkan bukti apapun untuk menjatuhkan Kaguya.

Nama Kaguya semakin terbang, karena di bawah kekuasaannya, tindak kriminalitas semakin menurun dan kesejahteraan masyarakat di zaman itu semakin membaik. Hal itu lantas memperluas pengaruh Kaguya di berbagai aspek.

Hiroshi sendiri merasa ada yang tidak beres dengan semua kesuksesan Kaguya yang terkesan instan. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara dengan Kaguya. “Saya.. ingin berbicara sebagai seorang teman bukan bawahan anda, Nona Kaguya..”

“Silakan Hiroshi kun,” Kaguya tersenyum menyambut keinginan Hiroshi.

“Sudah cukup, hentikan semua kegilaan ini, Hitsu chan.” Kaguya terperanjat kaget mendengar omongan Hiroshi. “Apa maksudmu berkata seperti itu Hiroshi?! Seharusnya kamu ikut mendukungku menghancurkan orang-orang yang menindas dan memporak-porakkan keluargaku! Kenapa kamu malah berbalik melawanku?!” Bentak Kaguya tida percaya.

“Dengan sikapmu yang seperti ini, justru pertumpahan darah akan semakin banyak. Aku mengerti perasaanmu, karena aku pun telah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri. Tapi ini sudah keterlaluan, Hitsu chan..” Hiroshi berusaha untuk membujuk Kaguya.

“Ini bukan salahku! Mereka yang memulai duluan perang ini! ini semua kesalahan mereka!” Airmata mulai membasahi kedua pipi Kaguya. “Merekalah yang menodai kesucian naga putih! Pengkhianat pantas mati untuk membayar dosa mereka!”

“Seharusnya dari awal aku tidak menaruh harapan padamu Hitsu chan..” Hiroshi menarik samurai dari dalam sarungnya.

Raut wajah Kaguya berubah. “Apa maksudmu Hiroshi kun?”

“Ayahmu pun mengatakan hal yang sama. Seharusnya kamu dapat terlepas dari belenggu dendam yang selama ini mengikat kalian. Bukankah menatap masa depan lebih baik daripada mengorek luka lama..?”

“Apa maksudmu Hiroshi?!”

“Pembunuhan itu, akulah yang merencanakannya. Keluargamu sudah melewati batas Hitsu chan. Tadinya aku menaruh harapan padamu untuk membangun ulang semuanya dengan harapan dan kasih sayang. Tapi sepertinya aku salah.” Hiroshi berdiri. “Bersiaplah Kaguya!!” Dia segera berlari sambil mengacungkan pedangnya ke arah Kaguya.

“Hiroshi, tunggu sebentar!! Jangan mendekat!! Hentikaaan!!!!” Kaguya berusah menghentikan Hiroshi, namun ia telah terlambat. Belphegor terlebih dulu membunuhnya dengan cara yang sama ia lakukan pada korban yang sebelumnya. Ruangan itu pun berlumuran darah segar tak terkecuali Kaguya.

Kaguya berjalan mendekati Hiroshi yang sekarat, ia duduk bersimpu lalu meletakkan kepala Hiroshi di atas pangkuannya. “Hitsu chan.. maaf.. seandainya waktu itu.. aku bilang yang sebenarnya.. mungkin tidak akan jadi begini..”

“Aku.. tidak tahu harus mengatakan apa, Hiroshi kun.. semuanya bercampur aduk, membuatku bingung.. tapi saat ini hanya kamu yang paling berarti dalam hidupku. Jangan mati..” Kaguya menundukkan kepalanya.

“Maaf ya.. Hitsu chan..” Itulah kata terakhir yang diucapkan Hiroshi. Wajahnya justru membuat Kaguya bersalah dengan apa yang dilakukannya. Dia tidak tahu harus melakukan apa, entah mengapa semua terasa salah.

“Belphegor!” Sosok itupun muncul sesuai dengan panggilan tuannya yang tengah dalam kondisi labil.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Itu merupakan hukuman bagi pengkianat yang menghancurkan hidup anda, Nona Muda..”

“Kau! Jangan-jangan sejak awal kau sudah tahu!”

Belphegor hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang pemegang kontrak. “Sesuai perjanjian, saya telah memberikan anda kekuatan, kekuasaan dan memusnahkan para pengkhianat. Sekarang waktunya mengakhiri semua ini, Nona Muda..”

“Tidak, bukan seperti ini!! Bukaaaann!!” Kaguya mengambil samurai di tangan Hiroshi lalu menghunuskannya ke dada kiri.

“Cih! Sial! Makananku!” Belphegor berjongkok memperhatikan tubuh Kaguya yang telah kaku. “Aku tidak bisa menikmati jiwanya.. sangat sial sekali kali ini. Yah.. walaupun kau bunuh diri, jiwamu hanya akan berkeliaran di padang hampa.” Belphegor tertawa kesal. Ia lalu menjentikkan jarinya. Dan ruangan itu pun kini terbakar dalam lautan api kemarahan Belphegor.

***

Wanita berkimono putih itu terus menyalakan lampion yang ada di sekitarnya, hingga langit malam itu dipenuhi oleh 1000 lampion merah. Ia sangat menyesali tindakannya yang bodoh hingga akhirnya terdampar di padang hampa tanpa siapapun. Ia hanya dapat membakar lampion-lampion ingatan yang tersisa dalam benaknya hingga waktu benar-benar berhenti dan berharap dapat membawanya ke tempat yang berbeda.

Fin


message 12: by Ryan (last edited Sep 05, 2012 06:19PM) (new)

Ryan Dachna | 24 comments Punca Kala

Pantang Dakar sudah tidak sabar untuk meluruhkan bulu-bulu putih miliknya. Sebagai seorang anak Avviar yang menetas dari kumpulan telur Induk Rani, ia yakin setiap pasang mata anggota sukunya akan terpaku padanya saat bulu-bulu dewasanya tumbuh besok lusa. Bagi Pantang Dakar hanya satu warna yang bisa diterimanya, warna merah.

Tidak seperti kebanyakan makhluk di Buana, warna bulu para Avviar bukanlah tergantung dari apa warna bulu orangtua mereka. Semua anak Avviar yang baru menetas bulunya berwarna putih. Bulu-bulu lembut mereka akan diganti dengan bulu-bulu yang lebih mantap untuk terbang dalam dua tahun tapi warnanya tetap putih. Pada hari terakhir masa kanak-kanak mereka, yang disebut Hari Punca Kala, mereka akan mendapat warna bulu dewasa mereka. Warna bulu ini juga yang nantinya menentukan peran mereka dalam masyarakat.

Pada Hari Punca Kala, para Avviar muda akan dilepas untuk membuat sebuah sarang baru. Sarang itu harus bisa memuat semua anak Avviar yang ikut Punca Kala (dalam satu suku minimal enam telur menetas sekaligus) dan harus ada makanan di dalamnya untuk mereka selama satu minggu. Pembangunan sarang dilakukan pada pagi hari dan sebelum mentari terbenam mereka sudah harus selesai. Esoknya mereka akan dikumpulkan dan ritual penumbuhan bulu dewasa dimulai. Ritual itu sangat magis dan para Avviar sendiri tidak tahu bagaimana cara kerjanya, mereka hanya menerima saja hal itu dengan sendirinya. Para tetua akan menyanyikan lagu kuno yang mereka telah pelajari turun temurun lalu para Avviar muda akan menari. Di tengah ritual tiap bulu putih mereka akan rontok dan diganti dengan bulu baru yang berwarna.

Pantang Dakar sudah menginginkan bulu merah semenjak ia mengerti tentang Punca Kala. Para Avviar muda dibesarkan oleh lebih dari satu betina sekaligus dan dari cerita-cerita merekalah Pantang Dakar mengerti tentang para Avviar yang mempunyai sayap merah. Dalam setiap Punca Kala, tidak peduli berapa jumlah pesertanya, hanya satu Avviar yang bulunya berubah merah. Mereka adalah Avviar yang berhasil membawa buruan terbaik: makhluk apapun yang bisa dimakan namun susah diburu, entah karena buas atau sangat-sangat lincah. Pantang Dakar tahu hanya satu makhluk yang tergolong buruan terbaik di daerah sukunya yaitu kadal gurun. Mereka ganas dan kulitnya susah ditembus. Benar-benar tantangan yang sesuai untuk seorang calon sayap merah.

"Ngelamun apa lu?" Dakar disapa seorang anak Avviar lain. "Mbayangin Patera Gembil ya?" Tawa mengiringi sapaan anak Avviar itu. Dakar membalik badannya melihat Desir Tiam dan teman-teman seumuran menertawakannya. Mereka gemar mengoloknya karena sifat penyendiri Avviar itu.

"Halah! Ganggu aja! Pergi sana!" usirnya. Mereka hanya tertawa, sama sekali tidak segan kepadanya.

"Kalo bukan mikirin Gembil dia pasti mbayangin dapet bulu merah," Avviar lain berkomentar. Tiam dan teman-teman menimpali dengan koor "ooooooh" yang sangat mengejek.

"Heeeeh! Udah pergi sana! Kaya ga ada yang lebih penting aja," Avviar lain muncul dari lubang dari langit-langit untuk membela Dakar. Badi Kilat selalu membela Dakar karena ia juga dari kumpulan telur Induk Rani. Tiam dan teman-teman dengan segan mengalah, Kilat lebih besar dari mereka semua. Suku mereka yakin dialah yang nantinya akan mendapat bulu merah.

"Kamu ga perlu bela aku," kata Dakar setelah Tiam dan teman-temannya menghilang terbang entah ke mana.

"Kamu kalo memang mau bulu merah harus mulai ngintai posisi-posisi buruan mulai dari sekarang. Juga harus latihan lempar lembing," kata Kilat. Ia mengambil tiga buah lembing – senjata pilihan pemburu Avviar – dan meletakkannya di dekat Dakar. "Pake ini ni. Lembing latihan. Ujungnya ga bengkok setelah nancep. Gih."

Dakar menolak, mengatakan bahwa berburu bukan hanya masalah melempar lembing tapi masalah menunggu, mengumpan, membuat perangkap dan lain sebagainya.

"Tapi pada akhirnya toh kamu perlu ngelempar lembingmu juga," komentar Kilat dengan malas. "Lemparanmu itu kurang kuat! Kalo memang mau nembus kulit kadal gurun kamu harus latihan ngelempar sambil nukik. Nukik turun cepat-cepat, genggam lembing pake kaki, salto di udara, trus... wuuus!" Kilat mengembangkan sayap lalu memotong udara secara horisontal untuk menggambarkan sebuah lembing melesat cepat. Ia melipatnya lagi lalu mengangkat satu jari telunjuk, "Satu lembing yang akan menentukan apakah kau bulu merah atau coklat."

Dakar malas berdebat jadi ia mengambil tiga lembing itu lalu terbang keluar. Ia menghabiskan pagi dan siang berlatih melempar lembing. Semua Avviar yang berada di tempat latihan menganggap Avviar itu tidak tahu apa yang dilakukannya tapi Dakar sendiri merasa kemampuannya bertambah. Sorenya ia menghadiri pengarahan dari tetua tentang Punca Kala yang tidak benar-benar diperhatikannya. Baginya yang penting adalah bagaimana cara mendapatkan bulu merah. Malamnya ia tidur memimpikan terbang dengan sayap-sayap merahnya yang gagah.

Sebelum mentari sempat muncul di timur, para Avviar muda termasuk Dakar sudah bangun. Mereka tidak sabar untuk memulai Punca Kala mereka. Para tetua tersenyum dan bersiul-siul bahagia melihat antusiasme mereka yang masih muda. Para peserta dikumpulkan untuk sarapan dan pemberkatan oleh para tetua lalu masing-masing dipersilahkan untuk memilih alat yang akan mereka gunakan nanti untuk ritual mereka. Dakar mengambil lembing, begitu juga beberapa Avviar lain termasuk Tiam dan Kilat. Lembing mereka didoakan oleh para tetua sesuai dengan ajaran kuno mereka lalu diberi tanda yang berbeda-beda menggunakan pewarna dari ekstrak tumbuhan.

"Ingat anak-anak, lakukanlah apa yang harus kalian lakukan dengan hati-hati dan konsentrasi penuh. Selamat bekerja," kata tetua yang menandai peralatan mereka. "Terbanglah!"

Kita tinggal di atas tebing batu yang tinggi jadi mungkin kata "terjunlah" lebih cocok daripada "terbanglah", pikir Dakar. Ia menjatuhkan dirinya dan menukik sebentar sebelum merentangkan sayapnya untuk terbang. Tujuannya ke utara, ke sebuah mata air yang ia tahu sering dikunjungi oleh kadal gurun. Ia melihat kanan kiri mencari Tiam ataupun Kilat tapi mereka tidak bersamanya.

"Serang saja dari jauh, serang saja dari jauh, serang saja dari jauh," Dakar mengingatkan dirinya sendiri. "Tidak perlu mendarat dan melempar lembing menggunakan tangan. Tetap di udara dan serang dari jauh. Lebih aman dan lembingku pasti lebih cepat." Ia tiba-tiba ingat kalau ia hanya membawa enam lembing. "Dan pastikan kau sudah membunuh makhluk terkutuk itu dengan enam lembing."

Tempat yang ditujunya agak jauh dan mentari sudah setengah jalan menuju titik tertingginya ketika Dakar melihat mata air itu di ujung cakrawala. Ia mengitarinya sambil memperhatikan tempat itu dengan cermat. Beberapa rusa padang rumput yang biasa diburu para Avviar berhambur ke segala arah saat melihatnya. "Betul! Takutilah aku! Aku adalah sayap merah!" katanya bersemangat. Di saat itu juga ia melihat seekor kadal baring dengan malas di pinggir mata air. Mereka jarang sekali diburu Avviar jadi hewan itu tidak takut dengan keberadaan Dakar.

Ia langsung menukik, angin menyapu wajahnya namun bentuknya yang aerodinamis membuatnya tetap lurus. Satu lembing sudah siap di kakinya. Seperti saat latihan, ia salto di udara lalu melepas proyektil tajam itu sambil berteriak.

Kruuaaaaaa!

Meleset. Lembingnya menancap di tanah dan ujungnya langsung bengkok sehingga tidak bisa dipakai lagi.

Si kadal sekarang menganggapnya sebagai ancaman dan mencoba menjatuhkan Dakar dengan lidahnya yang panjang. Ia masih terlalu tinggi jadi ia tidak gentar. Lembing kedua diambilnya lalu ia menukik lagi. Lalu salto. Lepas!

Yang ini malah lebih menyimpang dari lembing pertamanya. "Aku kurang rendah!" gumamnya. Untuk percobaan ketiga ia memberanikan diri untuk terbang lebih rendah.

Salto, lepas! Kena! Tapi lembing itu memantul tak berbahaya di punggung si kadal. Ditambah lagi lidahnya sekarang hampir mengenai Dakar. Seandainya ia tidak menghindar, ia mungkin sudah digigit-gigit oleh makhluk berkulit tebal itu.

"Tidak boleh menyerah!" Dakar kembali menyemangati diri.

Ia melepas lembing keempatnya. Meleset! Lembing kelima, mantul lagi di kulit si kadal.

"Ayo lembing terakhir! Jangan mengecewakanku!"

Dalam serangan terakhirnya, Dakar menukik hampir tegak lurus dengan tanah. Ia turun begitu cepat sehingga serangan terakhirnya dapat menembus pertahanan si kadal.

Jraaaahp!

"Berhasil! Buset, kuat banget tu kadal!"

Sayangnya satu lembing tidak pernah cukup untuk membunuh seekor kadal gurun. Dakar cepat-cepat terbang pulang ke sukunya.

Mentari sudah sepertiga jalan di langit ketika Dakar tiba di rumah. Ia dapat melihat sarang yang dibuat para peserta Punca Kala sudah mulai terlihat bentuknya. Avviar muda yang mengincar bulu hijau membentuk sarang mereka seperti sebuah menara manusia yang tinggal di benua di barat jauh. Dakar dapat melihat Gembil menghiasi bagian luar sarang dengan motif dedaunan sesuai namanya. Avviar betina itu tersenyum padanya.

"Kehabisan lembing ya? Tetua yang bagi peralatan ada di sana tu! Cepetan, Kar! Tiam sudah dapet dua rusa yang bagus-bagus, lembingnya tepat nembus mata mereka," kata Patera Gembil. Dakar tidak mau menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang jadi ia langsung ke tetua penyedia alat, mengambil enam buah lembing (tidak boleh membawa lebih), menunggu lembingnya ditandai dan diberkati, lalu langsung mengudara lagi.


Ryan Dachna | 24 comments "Rusa... Pah!" Dakar mendesis.

Ia tiba lagi di mata airnya tadi dan mentari sudah bertakhta di titik tertingginya. Ia tidak beruntung. Kadalnya menghilang. Ia mendarat dulu berharap ada ceceran darah yang dapat diikutinya tapi ia tidak menemukan bercak merah di antara rumput tipis, debu dan batu di sekitar mata air. Putus asa mulai memenuhi hatinya yang menimbang apakah bulu coklat akan terlihat sama gagahnya. Dakar geleng-geleng. Ia berlari lalu mengudara lagi. Di saat itulah ia mendengar lenguhan khas kadal gurun dari sebelah timur.

Dari udara ia melihat sebuah karavan manusia yang diporak-poranda seekor kadal gurun yang mengamuk. Manusia-manusia bersenjata tombak mencoba menakut-nakuti makhluk itu tanpa hasil. Beberapa orang manusia sudah memutuskan untuk melarikan diri sementara tiga rekan mereka mengepung makhluk buas itu. Salah seorang manusia itu mempunyai senjata yang unik. Benda itu tampak seperti busur mereka namun didudukkan di atas kayu lain sehingga terbaring horisontal. Senjata itu melepaskan proyektil dengan begitu kuat kulit si kadal dapat ditembus dengan mudah. Kadal itu kesakitan dan Dakar dapat melihat sudah tiga proyektil dari senjata aneh manusia menancap pada tubuhnya. Makhluk itu mengigit apapun sesuatu dari dalam kereta manusia yang ditinggal lalu melarikan diri. Manusia yang ditinggalnya bersorak girang.

"Kesempatan!" gumam Dakar. "Pemburu yang pintar tentu harus oportunis!"

Ia membuntuti kadal itu dari udara. Binatang itu memilih untuk bersembunyi di sebuah formasi bebatuan. Di mata Dakar, makhluk itu terlihat lelah.

Kruaaaaaaa!

Dakar melengking bersemangat sambil menukik. Lembing sudah siap di kaki. Memastikan ia lurus dengan sasaran, Avviar itu salto dan melepaskan serangan mautnya.

Jraaahp!

Lembingnya tembus. Si kadal sama sekali tidak menyangka apa yang terjadi. Makhluk itu menggelepar-gelepar lalu mencoba bersembunyi lebih dalam di antar bebatuan. Taktik yang efektif karena serangan kedua dan ketiga Dakar hanya mengenai batu.

"Sial!" umpatnya kala mendarat. Ia dapat mendengar nafas si kadal di antara bebatuan dan iapun mendekat. Tak disangkanya makhluk yang merasa terpojok itu memutuskan menyerang. Si kadal keluar dengan mulut menganga dan mencoba menggigit Dakar. Dengan kaget ia melompati kadal itu dan melempar lembing keempatnya.

Kurang kuat. Lembing itu mengenai kadal tapi kulit tebal makhluk itu menempisnya. Si kadal memutar dan menjulurkan lidah, tangan kiri Dakar ditangkapnya. Dengan panik Avviar itu mengambil lembing kelimanya dan diarahkan ke mulut si kadal ketika makhluk itu menariknya. Menyadari bahaya yang mengancamnya si kadal menutup mulutnya sehingga lembing Dakar mengenai moncongnya. Ujung lembing itu bengkok namun tangan Dakar juga terlepas. Ia menendang si kadal ke arah mata menggunakan tajinya namun makhluk itu menghindar. Avviar itu menggunakan kesempatan yang ada untuk berlari dan mengudara, menghindar tepat waktu ketika si kadal menjulurkan lidahnya lagi.

Dakar frustasi, ia mengumpat tanpa henti di udara. Kadal buruannya masih terlihat dan sekarang makhluk itu tidak lagi takut. Ia menunggu Dakar sambil menikmati daging yang dicolongnya dari karavan para manusia tadi. Dakar tambah jengkel. Ia tahu sebentar lagi sore dan Punca Kala akan berakhir. Ia harus mencari cara untuk membunuh makhluk itu dengan satu lembingnya yang tersisa.

"Cundang ungu! Aku tadi melihatnya di mata air!" kata Dakar. Iapun melesat ke sana secepat yang ia mampu dengan tubuh yang penuh rasa sakit.

Cundang ungu adalah tanaman umbi-umbian yang aneh. Bunganya sedap dimakan dan beraroma khas, tapi akarnya sangat beracun bila tidak diolah dengan benar. Avviar memanfaatkan tumbuhan itu untuk obat maupun racun untuk membunuh predator yang kuat. Para pemburu tidak pernah menggunakannya karena daging hewan yang diburu menggunakan cairan dari umbi cundang ungu akan mengandung racunnya. Berhubung hasil buruan para peserta Punca Kala akan diolah dengan baik, Dakar yakin mereka tidak akan mempermasalahkannya.

Ia mendarat dekat mata air dan menemukan tanaman yang dicarinya. Ia mencabutnya lalu dengan hati-hati menusuk-nusuk umbi tanaman itu menggunakan lembing terakhirnya. Cairan ungu yang pekat menutupi lembing itu dan oleh Dakar dibiarkan mengering sebentar di cahaya mentari. Ia kembali mengudara. Jantungnya berdebar tidak karuan karena ketidakpastian yang menunggu. Untung baginya kadal sial itu masih belum jauh dari tempatnya tadi, ia bahkan sekarang di tempat terbuka.

"Jangan teriak!" Dakar mengingatkan diri sendiri. Ia mengukur jaraknya dengan pas lalu mulai menukik.

Tiga.

Dua.

Satu.

Salto!

Jraaaaaahp!

Lembingnya menembus kulit si kadal. Makhluk itu meronta-ronta beringas. Dakar tidak mau mengambil resiko dan tetap berputar-putar di udara sampai akhirnya kadal itu melemas. Dua putaran kecil kemudian makhluk itu tidak lagi bergerak.

"Krrruuaaaaaa!" Dakar melengking penuh kemenangan.


Pesta penutupan Punca Kala luar biasa meriah. Para Avviar menyoraki para pemburu-pemburu baru mereka yang telah membawa daging-daging yang luar biasa untuk suku tersebut. Di atas perapian utama adalah tangkapan Dakar, kadal gurun gemuk yang sebagian dagingnya harus dibuang karena terlalu beracun sehingga tidak dapat dimakan. Ia menuai banyak ucapan selamat dan tepukan punggung malam itu tapi Dakar tidak bahagia. Menurut para tetua, apa yang dilakukannya itu tidak akan mendapatkannya bulu merah, mereka sangat yakin. Mereka berusaha sebisa mereka untuk menyemangatinya dengan mengatakan setiap Avviar mempunyai peran sendiri-sendiri dan mereka harus bangga akan hal tersebut. Tapi Dakar, dari kecil ia hanya menginginkan bulu merah para pemburu. Sekarang setelah mengetahui ia tidak akan mendapat bulu itu selamanya menyerap semua semangat dari Avviar muda itu.

"Ayo Avviar-Avviar muda. Berkumpulah! Kita mulai peluruhan bulu kalian!" panggil para tetua

"Krrruuuaaaa!" para Avviar membalas dengan bersemangat, semua kecuali Dakar yang hanya mampu menghasilkan sebuah senyuman.

Para peserta Punca Kala memulai tarian mereka dengan berjalan mengelilingi perapian utama sambil menghentak-hentakkan kaki. Para tetua mengiringi mereka dengan sebuah lagu yang menghanyutkan, yang menghadirkan sebuah hutan lebat penuh kehidupan di dalam benak tiap Avviar. Terus lagu itu dialunkan sampai para peserta Punca Kala bak kesurupan, tidak lagi mempunyai kuasa atas tubuh mereka. Mereka hanya mendengarkan lagu dan mengitari api unggu. Bulu-bulu putih tubuh mereka rontok satu persatu dan dengan segera digantikan dengan bulu dewasa mereka yang berwarna.

Badi Kilat adalah sayap merah pada Punca Kala kali ini. Ia menangkap dua ekor kerbau air yang terkenal ganas namun dagingnya lezat dan awet disimpan, tangkapan terbaik. Desir Tiam berubah menjadi Avviar coklat yang setiap hari bertugas mengumpulkan makanan bagi suku itu, ia terlihat cukup puas. Setidaknya ia akan melakukan apa yang selalu ingin dilakukannya. Para Avviar yang mengumpulkan bahan sarang dan mengolahnya semua menjadi Avviar hijau sementara Patera Gembil mendapatkan bulu biru yang selalu diinginkannya. Para Avviar bersorak girang namun kaget saat melihat perubahan pada Dakar. Ia berubah kuning.

"Lah? Apa tugasku?" tanyanya bingung. Avviar lainnya tertawa.

"Kau peracik ramuan, Nak. Makanya lain kali kalau diberi arahan itu didengarkan," kata seorang tetua. Tawa para Avviar tambah panjang. Dakar menunduk malu.

"Tidak ada satu warna yang superior," kata seorang Avviar betina kemudian. Suaranya lembut dan merdu. Para tetua menunduk hormat kepada Induk Rani mereka. "Jangan anggap karena sekarang bulu kalian berwarna maka tugas kalian berakhir, bahwa kalian bisa bekerja dengan santai. Warna bulu tidak menentukan siapa yang terbaik dari kita. Yang terbaik dari kita adalah mereka yang selalu mencoba untuk memperbaiki keadaan. Bersenanglah pada malam ini, Avviar muda. Besok kalian akan berkarya."

Induk Rani mengambil piring kayu dan mengambil sepotong daging kadal gurun tangkapan Dakar. "Tangkapan yang bagus," katanya. Dakar tersenyum bangga, terlebih lagi saat melihat bulu kuning milik Induk Rani-nya.

Tamat.


Cygnus Peterschild | 107 comments Dongeng Tanah Surga

Alkisah pada suatu zaman, berdirilah sebuah negeri. Negeri itu berada tepat di antara Garis Musim Panas, yang membuatnya mengalami musim panas abadi. Negeri itu juga terletak di dekat Garis Dunia, yang membuat para penduduknya mendapatkan sinar mentari terlebih dahulu ketimbang negeri lain. Tidak hanya itu, negeri itu juga sangat indah dan kaya. Hutannya subur meluas, buah-buahan membesar matang di ladang, kebun bunga merekah indah, bongkahan emas menggunung berkilauan. Sampai-sampai banyak orang menjuluki negeri itu Tanah Surga.

Di sebuah sudut di negeri itu, hiduplah seorang pemuda yang tinggal sebatang kara. Meskipun ia tak tahu di mana kedua orang tuanya berada, hidupnya sangat berkecukupan seperti penduduk lain. Ia tak pernah merintih kelaparan karena setiap ia melemparkan sebatang tongkat, sepotong kayu atau sebongkah batu di halaman rumahnya, benda-benda itu akan berubah menjadi tanaman dengan buah yang besar dan mengenyangkan. Atau jika ia bosan dengan makanan yang sama, ia tinggal membawa kail dan jala ke sungai terdekat, maka ikan dan udang akan langsung mengikutinya pulang.

Suatu hari, ia pergi ke sebuah sungai di dekat rumahnya. Tak lama setelahnya, ia pulang ditemani oleh tujuh ekor ikan dan tujuh ekor udang yang gemuk.

“Apakah kau mengetahui sesuatu, wahai pemuda?” tanya salah satu ikan yang berjalan di sampingnya.

“Apa itu?” si pemuda bertanya balik.

“Apakah kau pernah pergi ke pusat negeri? Di sana ada sebuah kolam,” kata ikan itu.

“Sebuah kolam?” si pemuda bertanya dengan bingung.

“Ya, itu Kolam Susu! Kolam itu memberi kebahagiaan pada semua orang,” jawab ikan kedua dengan riang disertai sorak gembira ikan dan udang yang lain.

“Apakah kolam itu benar-benar ada?” tanya si pemuda.

“Tentu saja!” jawab mereka serempak.

Si pemuda pun teringat. Sewaktu kecil, neneknya pernah bercerita kepadanya bahwa ada sebuah kolam berair seputih susu di negerinya ini. Orang-orang selalu pergi ke sana setiap pagi dengan tangan kosong dan pulang setiap sore sambil membawa sebotol penuh susu serta perut yang kenyang. Ia mengira itu hanya dongeng saja, ternyata sungguh benar-benar ada.

Maka, setelah si pemuda sampai di rumah dan makan dengan lahap, ia pun bertekat akan pergi ke pusat negeri untuk mencari Kolam Susu.

Setelah malam yang tenang itu berlalu, tibalah sang surya dengan sinarnya menghangatkan pagi yang sejuk itu. Si pemuda sudah bersiap-siap akan meninggalkan rumahnya. Ia membawa beberapa batang kayu dan beberapa buah batu untuk perbekalan di perjalanan, sehingga jika ia lapar, ia tinggal melemparnya satu di tanah. Setelah semuanya siap, ia pun berangkat.

Si pemuda akhirnya sampai di pusat negeri setelah berjalan selama beberapa hari. Di sini tidak jauh berbeda dengan tempat tinggalnya, hanya saja penduduknya lebih padat dan ramai. Ia juga menemukan banyak emas batangan yang berserakan di jalanan, tetapi tidak ada seorang pun yang mengambilnya. Wajah-wajah penduduknya juga ceria, sama seperti di tempat tinggalnya. Ia berpikir sejenak, kemudian memutuskan bahwa seluruh penduduk negeri ini memang berwajah ceria.

Perjalanan si pemuda pun membuahkan hasil. Ia telah sampai di Kolam Susu itu. Ternyata benar, banyak sekali yang mengunjungi kolam itu untuk mengambil airnya, meminumnya dan bahkan berendam di dalamnya. Meski demikian, kemurniannya tidak berubah sama sekali. Kolam itu juga tidak menyurut seliter pun. Si pemuda akhirnya ikut berendam dan meminum airnya hingga larut sore. Karena malam akan segera tiba, si pemuda pun memutuskan untuk bermalam di sebuah penginapan terdekat.

Hari demi hari berlalu, tak terasa berganti bulan. Si pemuda kini memiliki sebuah rumah di pusat negeri. Hari-harinya berlangsung dengan indah. Ia pun sangat bahagia.

Hingga suatu saat, seorang raja menggantikan takhta raja sebelumnya. Sejak raja yang baru itu menduduki singgasananya, perlahan kehidupan negeri itu mulai berubah. Si pemuda juga mulai menyadarinya. Oleh sang raja serta menteri kerajaan, emas yang berserakan di jalan mulai dibersihkan dan diangkut ke istana dengan berbagai alasan. Entah mengapa, tongkat, kayu dan batu juga sedikit demi sedikit berkurang mutunya hingga hanya bisa menumbuhkan rerumputan. Para penduduk mulai kehilangan wajah ceria mereka.

Keadaan itu semakin diperparah dengan kedatangan saudagar kaya dari negeri seberang. Saudagar itu berniat ingin membuka sebuah usaha dengan bahan baku dari air Kolam Susu. Tak ayal lagi, di sekeliling kolam itu pun dibangun sebuah pagar yang tinggi sehingga tidak sembarang orang bisa menikmati kolam itu lagi. Lambat laun tempat usaha sang saudagar itu pun semakin besar karena kesuksesannya berkat kolam itu. Agar tidak menumpuk banyak kotoran, sampah usahanya pun dibuang ke sungai-sungai. Akibatnya banyak ikan dan udang yang mati.

“Kami lapar! Kami haus!”
Si pemuda mendengar kata-kata itu setiap harinya dari mulut-mulut penduduk yang mengaisi tanah berumput. Ketika itu, ia melihat seorang ibu menggendong anaknya yang sedang menangis keras-keras. Ibu itu melemparkan tongkat besar yang ia bawa, tetapi di tanah itu hanya tumbuh rumput ilalang yang kering. Sang ibu pun menunduk pasrah dan mencoba menenangkan buah hatinya.

“Apakah kau tahu sesuatu, wahai pemuda?” tanya seorang pria berwajah garang yang ia temui pada suatu saat.

“Apa itu?” si pemuda bertanya balik.

“Aku tahu sebuah tempat yang dapat menghilangkan rasa lapar dan dahagamu,” jawab pria itu.

“Di manakah itu?” tanya si pemuda penasaran.

“Kolam Darah, ada di pinggiran pusat negeri.” jawab pria itu.

“Maukah Anda mengantarkan saya ke sana?” mohon si pemuda.

“Tapi satu yang harus kau ingat, kolam itu akan memberi sifat jahat dan serakah bagi siapapun yang meminum airnya,” jelas pria itu.

Karena rasa lapar dan haus yang luarbiasa, si pemuda pun memutuskan untuk pergi ke sana tanpa berpikir panjang. Saat itu juga, ia pergi ke pinggiran pusat negeri bersama pria itu.

Malam pun tiba ketika si pemuda sampai di tempat tujuannya. Tempat itu sangat berbeda dari tempat lain yang pernah ia kunjungi. Rumah-rumah di sana sangat kotor dan kumuh. Banyak penduduk yang bergerombol di salah satu teras rumah untuk bermain judi. Orang-orang yang mabuk berlalu-lalang di jalanan.

“Lihatlah, apa yang telah dilakukan raja lalim itu kepada kami. Sebelumnya kami tidak pernah seburuk ini,” kata pria itu pada si pemuda sambil mereka terus berjalan.

Akhirnya, mereka sampai di Kolam Darah. Kolam itu memiliki air semerah darah. Kolam itu juga sangat ramai dengan oleh orang-orang sepertinya berperilaku kurang baik. Sebagian dari mereka meminum airnya dan sebagian lagi berendam di dalamnya. Tanpa ditunda lagi, si pemuda pun segera berendam sambil meminum air kolam itu.

Semenjak ia masuk ke dalam Kolam Darah, kehidupan si pemuda pun lambat laun berubah. Ia menjadi suka melakukan perbuatan tercela. Setiap hari ia mabuk-mabukan; terkadang juga bermain judi. Ia melupakan rumahnya di pusat negeri serta di tempat tinggalnya yang dulu, dan tinggal di pinggiran pusat negeri yang kumuh itu. Karena tidak mempunyai rumah, pria yang pernah ia temui dulu menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Ia dan pemuda pemudi lain yang juga tinggal di sana pun dididik untuk menjadi pencopet dan perampok ulung.

Suatu hari, si pemuda beserta kelompok kecilnya berencana untuk merampok Istana Negeri. Mereka telah mengatur siasat dan taktik yang jitu. Ketika malam tiba, mereka pun berangkat.

Istana Negeri itu berdiri sangat megah diantara rumah-rumah penduduk yang mulai reyot. Raja yang baru beserta antek-anteknya itu tampaknya tidak mempedulikan rakyatnya lagi. Mereka hanya mempermewah istana mereka.

Gerombolan pencuri itu mulai menyebar ke berbagai penjuru istana. Mereka memanjati dinding istana itu dengan peralatan yang mereka bawa. Jika mereka beruntung, mereka akan berhasil melewati dinding tanpa bertemu para prajurit penjaga. Jika tidak, mereka akan melumpuhkannya tanpa membuat kericuhan.

Sebelum masuk ke dalam istana, si pemuda diam sejenak. Ia melihat sebuah bendera merah-putih di halaman depan istana yang berkibar lemah. Ia pun menyeringai. Meskipun ia tak tahu apa makna bendera itu, ia menyimpulkannya sendiri.

“Kebaikan dan kejahatan serta kemakmuran dan kemiskinan akan selalu berjalan berdampingan di negeri ini.”


throller | 49 comments REVENGE

PART 1 (Michael Side)

Bukan, bukan penampilan fisiknya yang membuatku jijik. Gadis di hadapanku ini bahkan mempunyai kemasan yang cantik. Seluruh bagian tubuhnya sempurna. Lihat saja hidungnya yang mancung, atau matanya yang indah, apalagi bibirnya, tipis dan merah muda, benar-benar sangat menggoda. Tidak akan ada satu lelakipun(termasuk aku) yang merasa ingin meludah tepat di depan hidungnya. Ah, namun segala sesuatu tidak bisa dinilai seluruhnya hanya dengan melihat tampilan luarnya saja(setidaknya bagi gadis ini berlaku). Di balik sampul gadis ini yang menawan, terdapat makhluk yang bahkan lebih menjijikan daripada, entahlah, sampah?

***

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Sebuah video berdurasi sepuluh menit benar-benar membuat mata dan hatiku perih. Yang tidak dapat kupercaya lagi, orang-orang gila itu mengupload video menjijikan ini ke AmTube. Entah apa yang mereka rasakan, puas ataukah Bangga? Aku tidak mengerti. Yang jelas video yang tengah kulihat dengan mata kepalaku saat ini benar-benar bejat. Tidak mengundang rasa bangga sedikitpun.

***

“Aku membawanya!” seru seseorang di balik telepon. Tanganku semakin keras menggenggam gagang telepon yang mulai basah. Tampaknya tanganku mulai berkeringat.

Tanpa membuang waktu, aku beranjak menuju tempat yang disebutkan oleh si penelepon. Dia adalah adikku, Robert, seorang manusia golongan putih. Bagi kalian yang belum tahu(dan aku yakin kalian semua belum) apa itu golongan putih, biar kujelaskan. Golongan putih, nightwalker, si wajah pucat, atau apalah namanya adalah sebuah bentuk lain dari ras manusia. Kami tidak dapat berjalan di bawah sinar matahari langsung. Hal itu membuat kami harus memakai gel pelindung matahari setiap bepergian ke luar ruangan. Warna kulit kami putih dan pucat, hingga tidak ada bedanya dengan penampilan orang yang sakit. Aku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Penyakit atau mutasi? Yang jelas manusia golongan putih sering menerima perlakuan diskriminatif dari manusia golongan merah(manusia normal). Seperti yang dialami putriku, Emma.

***

Aku memandang gadis di hadapanku dengan perasaan marah berkali-kali lipat dibandingkan saat aku menyaksikan video di AmTube dua hari yang lalu. Kilasan video tak beradab itu muncul dan hilang di dalam benakku. Dapat kulihat dengan jelas saat gadis ini menghadiahkan tendangan dan pukulannya di wajah dan perut putriku. Dapat kudengar rintihan memohon yang keluar dari mulut putriku yang malang. Dapat kulihat pula darah yang menetes dari mulut, hidung dan bagian-bagian lain dari tubuh putriku. Bayangan-bayangan mengerikan itu berhasil menumpuk amarahku. Hinggakepalaku tidak dapat lagi menampungnya. Aku siap mengeluarkannya, meledakannya. Kepada gadis ini tentunya.

Gadis menjijikan ini menangis. Dapat kudengar rintihan keluar dari mulutnya yang dibekap erat. Namun hal itu tidak mengundang rasa simpatiku sedikitpun. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang dirasakan gadis ini sekarang. Rasa marah telah membuatku lupa segalanya. Yang aku inginkan saat ini hanyalah membuatnya merasakan apa yang putriku rasakan.

Gadis cantik nan biadab ini kini telah berada di dalam genggamanku. Aku tidak akan lagi melihatnya sebagai seorang manusia. Dia kini telah menjadi bonekaku. Aku bebas melakukan apapun yang aku mau terhadapnya. Tidak sedikitpun aku merasa peduli atas dampak perlakuanku terhadapnya nanti.

***

Aku membawa gadis ini ke dalam rumahku. Membuatnya duduk manis di atas kursi kayu di dapurku. Mulutnya masih tetap dalam bekapan. Tangan serta kakinya terikat erat. Hanya matanya saja yang bebas melirik ke segala arah. Membuatnya tidak hanya dapat merasakan perlakuanku terhadap tubuhnya, namun dia juga dapat menyaksiakannya.

“Kau kira kau makhluk yang lebih baik dari kami?“ tanyaku. Aku benar-benar berbicara tepat di depan hidung gadis ini. “Apa yang salah dengan golongan putih? Kenapa kau melakukan hal yang menjijikan itu hah? Apa kau tidak mempunyai hati. Apa perasaanmu telah hilang?“ Aku terus memberondongnya dengan pertanyaan. Walaupun aku tahu dia tidak akan menjawabnya karena mulutnya dibekap. Namun aku menikmatinya.Aku menikmati saat dia meronta, mencoba melepaskan dirinya. Aku menikmati setiap rintihan dan erangan yang dia keluarkan. Aku menikmati setiap sorot ketakutan yang keluar dari kedua matanya. Aku menikmati penderitaannya. Aku menikmati ketidakberdayaannya.

Aku berjalan beberapa langkah menuju meja dapur. Kuraih pisau yang biasa kugunakan untuk memotong daging ayam. Mencucinya sejenak, lalu kembali ke hadapan bonekaku. Mata gadis di hadapanku memerah, rupanya dia terlalu banyak mengeluarkan air mata. Dia tidak berhenti menangis semenjak Robert menyerahkannya kepadaku. Dan aku penasaran, sampai kapan air mata itu akan membasahi matanya. Aku selalu ingin tahu, apakah istilah ‘air mata telah kering‘ memang benar-benar harafiah.
Tanpa ragu kuacungkan pisau pemotong ayamku di hadapan wajahnya. Matanya yang merah bergetar ketakutan.

“Oh aku mempunyai ide!“ bisikku. “Mungkin karena darah kita, benarkan? Mungkin darah kita memang berbeda. Kau tahu? banyak orang dibeda-bedakan karena darah mereka. Ah, orang ini keturunan seorang bangsawan. Karena di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan. Kita harus hormat kepadanya.“ Aku sudah gila. “Apa kau pernah merasa jika kau keturunan orang-orang terpandang? Para bangsawan? Hmm.. mungkin memanng itu yang membuatmu merasa jauh lebih baik daripada putriku. Putriku yang malang.“ Benar-benar gila. “Ayo kita buktikan bersama! Oke,“ seruku antusias.

Aku menempelkan mata pisau ayamku tepat di ujung jari telunjukku. menekannya sedikit hingga masuk ke dalam kulitku dan menusuk dagingku. Darah merah segar mulai keluar melewati luka yang kubuat. Entah setan apa yang merasukiku saat ini. Yang jelas, aku tidak merasakan sakit sedikitpun.

“Lihat ini! Darah segar. Kau melihatnya?“ wajah gadis ini meringis. Dia menutup matanya.
“Hei!“ bisikku sembari mengelus pipi putih gadis ini. Dia masih menutup matanya. “Lihat aku gadis cantik!“ Tegasku. Aku meraih dagu lancip gadis ini dan membuatnya menoleh ke arah tanganku yang berdarah. Namun dia masih tetap menutup matanya.
Aku meraih rambut pirangnya. “Hei, hei, LIHAT AKU GADIS BODOH!“ perintahku. Kugenggam rambutnya lebih erat. Aku menjambak rambutnya hingga kepala gadis ini menengadah. Matanya terbuka dengan paksa.
“Ah, gadis pintar,“ bualku. “Kau melihatnyakan? Darahku, merah, benar-benar tidak istimewa. Darah seorang golongan putih. Darah manusia hina. Aku tidak pernah mengerti kenapa kami menjadi golongan putih. Padahal darah kita sama-sama berwarna merah. Apa kau punya pendapat? Aku yakin kau punya. Kau seorang golongan merah. Manusia normal. Benarkan?“ aku benar-benar menikmatinya. “oh ya, sekarang giliranmu menunjukkan darahmu. Mungkin kita akan menemukan jawabannya.“

“jadi bagian tubuhmu yang mana yang mempunyai darah yang istimewa?“ aku menggodanya. Kogoyang-goyangkan mata pisauku tepat di depan mukanya. Gadis ini meringis, tersedu-sedu, dia benar-benar tidak berdaya.

***

Entah sebatas apa penderitaan yang dirasakan putriku saat itu. Namun, sebanyak apapun air mata yang dikeluarkan gadis ini, sesakit apapun penderitaan yang dirasakannya, semua itu tidak akan cukup untuk menebusnya. Aku tidak akan mengakhirinya dengan cepat.

“Ah, di sebelah sini,” bisikku. Aku menempelkan ujung mata pisauku tepat di belahan dada gadis ini. Dia memang hanya menggunakan tanktop dan celana mini di atas lutut.

Kumainkan pisauku ke atas dan ke bawah. Tanpa menyentuh kulitnya yang putih itu. Sengaja? Ya. Aku memberinya waktu untuk merasakan ketakutan. Aku membiarkannya membayangkan sendiri sakitnya mata pisau ini jika menusuk kulitnya. Ah, anggap saja ini sebagai pemanasan. Sebelum memasuki bagian yang paling menyenangkan(untukku).

Aku sudah puas mempermainkan pisauku di atas permukaan kulitnya yang mulus. Sekarang, kutempelkan ujung mata pisauku. Belum, masih belum menembus kulitnya.Kugerakkan pisau itu seperti menggerakan pensil di atas kertas. Aku dapat melihat dari ekspresi mukanya. Dia benar-benar ketakutan. Aku tahu dia ingin menangis. Namun sayang, mulutnya masih tertahan. Aku hanya bisa mendengar erangan dari balik selotip yang menutup mulutnya. Benar-benar gadis malang.
Cih...

***

“Tolonglah, jangan keluarkan aku dari pekerjaan ini. Ini hidupku satu-satunya.“ Lelaki kurus berambut keriting di hadapanku memohon. Aku dapat melihat matanya yang memelas dengan jelas.
“Kau tidak akan dikeluarkan. Kau hanya akan dipindahkan dari posisimu saat ini.“ Aku bukanlah tipe orang dermawan. Belas kasihan tidak diperlukan di dalam pekerjaanku. Namun, tidak salahnya kali ini aku berbuat baik. Tidak ada ruginya untukku.
“Tolonglah, jangan pindahkan aku dari posisiku saat ini. Aku benar-benar hidup dari pekerjaanku sekarang. Kau seharusnya tahu itu.....“ Perkataan pria ini selanjutnya tidak sampai di telingaku. Aku tahu apa yang akan dia katakan. Hal-hal bodoh mengenai anak dan istrinya, hal-hal bodoh untuk menarik simpatiku. Aku tahu itu.
“Sadarlah. Kesalahan yang kau buat pantas menerima ganjaran yang lebih besar daripada ini. Kau seharusnya masih bisa bersyukur.“ Aku beranjak dari kursiku. Meninggalkan pria ini dalam kekecewaan.

***

Darah itu mulai keluar mengikuti alur sayatan yang kubuat. Dia meringis, menangis dan menggeliat. Jadi apa jawabannya?. Mengapa mereka merasa lebih tinggi dari kita?. Darahnya dan darahku, merah, cair, tidak ada yang berbeda. Jadi kenapa kita tidak pernah bisa berjalan setara?. Mmm...bukan, pertanyaan itu tidak tepat. Pertanyaan yang lebih tepat adalah, kenapa mereka tidak pernah mau berjalan setara dengan golonganku?.

Namun gadis ini masih membuka mata. Masih ada bagian dari dirinya yang masih belum aku telusuri. Sampai kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahu.
***


throller | 49 comments PART 2 (Robert Side)

Aku mulai bertanya-tanya tujuan Robert melakukan semua hal ini. Dia telah menjawabnya. Dan seperti yang sudah aku duga. Dendam adalah pemicu utamanya.

“Dia telah menghancurkan hidupku. Berkeping-keping. Dan aku ingin membangunnya kembali,“ jawab pria berambut keriting di hadapanku ini.

“Dengan menghancurkan apa yang dia miliki?“ tanyaku.

“Apa kau pernah mendengar kalimat, jika kau ingin membangun sesuatu, maka kau harus menghancurkan sesuatu terlebih dulu. Aku mengartikannya sesuai pemikiranku. Dan ini adalah perwujudannya,“ jawabnya.

Semua yang aku dengar hari ini mengerucut kepada satu hal, dua kata, balas dendam. Dendam memang seperti racun, dapat membutakan mata dan hati. Di dalam tubuh pria di hadapanku ini, mengalir darah yang sama dengan pria yang tengah bersama gadis itu. Namun tidak ada lagi benang penghubung di antara mereka berdua. Betapa tajam dan brbahayanya sebuah dendam, hingga dapat memutus hubungan saudara antara Robert dan pria itu.

***

Aku telah bersama dengan Robert selama tiga tahun. Aku memang gadis yang mungkin terlalu muda untuknya. Umurku baru menginjak usia sembilan belas tahun. Terpaut dua puluh empat tahun dengan umur Robert. Namun aku tidaklah peduli. Aku juga bukanlah seorang golongan putih, namun aku tidak melihat Robert dari sudut pandang seorang golongan merah. Aku melihatnya berdasarkan rasa kasih sayangnya terhadapku.

Dia datang saat aku terpuruk dulu. Dan aku jugalah yang berada di sampingnya saat dia tengah merasa terjatuh. Kita saling menguatkan, melengkapi, dan menutupi kelemahan satu dengan yang lainnya.
Rencana ini telah dipendam Robert selama satu tahun. Keinginan untuk menghancurkan kakak lelakinya sepertinya telah mengendap menjadi penyakit di dalam hatinya. Hingga dia tidak dapat menahannya lagi. Sebagai seorang yang peduli terhadapnya, aku dapat mengerti kenapa dia sangat ingin menghancurkan saudaranya itu. Setahun yang lalu, posisinya di dalam pekerjaannya di geser oleh pria yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu. Dampaknya tentu bukan hanya kepada Robert semata. Namun juga keluarga harmonisnya. Dia dan istrinya berpisah sesaat setelah Robert kehilangan posisinya. Bukan hanya kehilangan istrinya, namun juga putrinya. Dia tentu sangan kesakitan. Dan tampaknya obat satu-satunya untuk menyembuhkan rasa sakit itu hanyalah satu, yaitu balas dendam.

***

Aku dan Robert tengah berada di sebuah labolatorium bersama dengan seorang ilmuwan. Di hadapanku terdapat sebuah meja yang terbuat dari besi. Di atas meja itu terdapat sebuah tabung yang biasa digunakan untuk menyimpan mayat binatang. Di dalam tabung itu, mengapung di dalam cairan pengawet. Terdapat sesuatu yang membuat mataku tidak betah untuk menatapnya lama. Sebuah kulit berbentuk wajah manusia, tepatnya wajah seorang gadis.

Ya, itu adalah wajah Emma. Putri satu-satunya dari Michael, kakak kandung Robert. Ilmuwan yang tengah berada di ruangan ini bersamaku dan Robert, telah dengan gilanya menukar wajah Emma dengan gadis lain. seperti halnya topeng karet, dia dapat dengan mudahnya melepas wajah seseorang, untuk di tempelkan di muka orang lain. Menjijikan.

“Orang macam apa yang ingin membuat seorang lelaki membunuh putri kandungnya sendiri?“ ucap ilmuwan di hadapanku. Dia terkekeh.

“Aku,“ jawab Robert dingin.

“Kau telah benar-benar menjadi monster,“ kata ilmuwan itu.

“Yeah, dan orang itu(Michael) yang telah melepaskanku.“

Ya, Emma memang belumlah tewas seperti yang tergambar di dalam video itu. Itu hanyalah orang lain. Gadis lain yang memakai wajah Emma. Emma mungkin saat ini masih bernafas. Mungkin? Ya mungkin. Karena saat ini dia sedang bersama dengan ayahnya. Semua ini adalah rencana Robert. Dia sengaja menukar wajah Emma dengan wajah si penyiksa di dalam video itu. Dan selanjutnya, kau tahu sendiri.

***

Ironis, dia bahkan tidak mengenali mata anak kandungnya sendiri. Dia telah buta.
-END-


Dini Afiandri (Dresco_Alcione) | 314 comments "MERCU SUAR BERTOPAN OBLIVIAN PADA MALAM KUTUKAN MANUNGGAL"

=(Desire Purify Loki)=

“Ramona, perlu bantuan?” “Nggak makasih, Lionel. Aku bisa mengatasinya sendiri. Seperti yang kamu lihat, aku sudah kenyang makan malam tadi. Ini sih paling sebentar juga beres. Membetulkan saklar itu mudah kok. Percaya deh sama aku!” Begitulah Ramona si putri cantik berujar suatu malam ketika lampu mercu suar di teluk mereka mati lagi. Lionel mengangguk, meletakkan Zanbatou-nya di pojok dinding menara, lalu melepaskan tudung capuchon-nya. Rambut emasnya tersibak. Ramona melirik. Dia selalu mengagumi sosok ksatria itu. Lionel adalah jendralnya yang paling setia. Dia tidak sebuas anak buahnya yang lain, tapi juga tidak akan pengecut seperti perempuan dalam pertempuran. Banyak orang yang menganggap Lionel jahat karena dosanya di masa lalu, membunuh dan menebas ratusan kepala. Hanya Ramona yang tahu rahasia pria pirang itu. Dengan seulas senyum tersungging, Ramona menaikkan sikring itu. Dalam sekejap lampu mercu suar mereka menyala, juga radio di ruang pengintaian. Di kamar itu ada kawan mereka yang lain, laki-laki juga, yang berjaga-jaga untuk badai.
Lionel duduk di kursi kayu. Ramona memijati bahu dan tengkuknya dari belakang, sebelum meletakkan pipinya di ubun-ubun Lion. Lion menghembuskan napas yang panjang sekali. Wajarlah, dia pasti lelah karena datang dari jauh. Ramona akhirnya ikut duduk di depannya. Blip blip blip blip, teleponnya berbunyi. Sebuah SMS masuk. Dia cuek. Lionel menatap gadis itu empat mata.
“Aku mau bicara denganmu. Berdua saja. Tak kusangka secepat ini.”
Gadis itu tersenyum hingga gigi-giginya tampak, termasuk taringnya. Giwangnya berkilat setajam matanya yang hijau tosca. Apakah dia harus mengaku saja kalau malam setenang dan seindah ini cocoknya untuk urusan cinta mencinta ya? Dia menggigit lidahnya agar tawanya tak tersembur keluar. Lionel memperhatikan saja. Dia tahu dari mimik muka gadis itu kalau dia gembira, jadi dia tertawa pelan. Sebuah tawa yang disamarkan untuk menyembunyikan batuknya. Ya, Lionel memang penderita asma sejak kecil. Ginjalnya pernah kena tikam. Saat itu, kalau tidak ada Gertrude si penyembuh, barangkali nasibnya sudah tamat. Walhasil, fisiknya lemah sebetulnya. Hanya raungan singa Aslan mungkin yang bisa mengganggu tidurnya yang memang suka ngorok. Hehehehe.
Tawa itu gagal. Lionel merinding. Capuchonnya memang masih basah. Giginya gemeretuk antara dingin dan lapar. Ramona tersadar dari lamunannya yang ngaco itu, langsung bangkit, lalu mengusap dahi pria itu. Dia kaget sekali ketika merasakan panas tinggi. Dia demam! Dan menyembunyikannya entah dari kapan tahu! Langsung dilepaskannya jaket basah itu, juga syal di baliknya yang ternyata tebal tapi basah kuyup oleh keringat. Lionel berusaha mencegah, tapi terlambat. Sebuah luka berdarah parah tampak di sisi kiri perutnya. Sebuah sayatan yang cukup dalam. Gadis itu memekik.
“Siapa yang menusukmu! Ya Tuhan Li, kenapa nggak bilang dari tadi! Keterlaluan kamu!” Panik, Mona langsung berlari ke dinding, membuka kotak obat, lalu langsung membawa obat antiseptik dan kain kasa. Lionel mengernyit, dan langsung muntah. Tidak ada darah di muntahannya, syukurlah. Hanya cairan kekuningan. “KHALED! Cepat ke sini! Aku perlu bantuan!” Mona menjerit sejadi-jadinya. Terdengar langkah tergesa di tangga berputar, dan seorang anak kecil dengan telinga runcing masuk.
“Ya Baginda? Lho! Waduh! Jendral? Celaka tilu welas!”
Tubuh perkasa itu jatuh ke depan, nyaris pingsan. Ramona langsung memeluk tubuh besar itu, dan membaringkannya di lantai batu. “Tidak usah…” Lionel merintih. “Tolong hubungi isteriku.” Bisik Lionel di telinga putri Ramona. Ramona meraih ponselnya, mengecup bibir yang asin dan masam itu, lalu melepaskan pelukannya dan lari keluar pintu. Khaled menyelimuti pria malang itu, lalu mencoba memberinya minum dengan vodka di botol mungilnya. Malam yang kalut, kacrut, dan membuat hati siapa pun surut. Seperti pasang air laut yang akan terjadi sejam dari sekarang.

+++++
“Mae, cepat ke sini! Ini tentang suamimu!”
“Kenapa memangnya?”
“Pake tanya kenapa, lagi!!! Lionel baru saja tiba ke sini dalam keadaan yang amat parah, dan kamu nanya kenapa?? Tugasmu seharusnya merawat Lee (Panggilan sayang untuk Lionel yang hanya diketahui oleh puteri serta kalangan bangsawan)! Aku akan kirimkan bala bantuan! Perut dia berdarah; dasar kau istri tak tahu diuntung!” Mona berteriak sejadi-jadinya, menumpahkan amarah serta kepanikannya kepada wanita jalang itu pada hapenya.
Sambungan sinyal semakin memburuk. Suara ponselnya menjadi gemerisik, lalu terdengar nada putus ketika itu, justru di saat yang paling tidak tepat!. Ramona melemparkan gadget sialan itu ke laut. Dia sedang berdiri di luar, dan laut mengganas, makin lama makin cepat. Dia bersiul nyaring. Ada seekor lumba-lumba yang mendengarnya, kemudian muncul di tepian batu hitam. “Percy! Tolong sampaikan pada semua penghuni laut detik ini juga bahwa situasi sedang amat gawat!” Ujar Mona, sambil menyuapkan ikan kembung kepada si lumba-lumba berhati baik itu. Ikan itu hilang ditelannya, kemudian lumba-lumba itu berceloteh, dan menyelam ke laut. Mona memandangi kepergian makhluk menakjubkan itu. Andai saja sekarang semudah itu, pastilah polusi dan rumput laut akan melimpah. Sayangnya ini bukan di Indonesia.
Kembali lagi ke dalam kamar, Lionel sedang meregang nyawa. Dia berada di antara batas sadar dan tidak. Seluruh tubuhnya kaku. Khaled menawarinya makanan, tapi dia hanya menggeleng. Khaled keluar akhirnya, setelah melepaskan semua pakaian Lee dan membiarkannya telanjang bulat, hanya berselimutkan selimut merah marun bergambar Liong, naga yang konon adalah sumber rejeki bagi orang etnis Tiong Hoa.
Sebuah mimpi menjemputnya. Lionel melihat seorang pria. Siapa ya dia? Kelihatannya begitu mirip dengannya. Hanya saja rambutnya cokelat keperakan. Lionel mengangkat tangan, memeluk tangan pria itu, dan langsung merasakan kepalanya tersambar halilintar. Bayangan itu memudar. Berganti dari berbagai kilas benaknya semasa kecil. Ayahnya yang tlah lama tiada. Burung Elang di Amerika, dan sebuah sabana yang hijau sekali, harum rerumputan, dan ada bulan separuh di atas kepalanya. Entahlah. Akhirnya lelap kuasainya setelah Lionel sadar, Tuhan sedang mengujinya dengan kilasan memori tak berkesudahan. Pria itu adalah reinkarnasi masa lalunya, bernama Troy Leonidas Marvollo.

  




Mae, yang tergesa menaiki kereta kudanya malam itu, lekas-lekas menyelimuti Ava bayinya, lalu langsung naik kereta dari London menuju stasiun tempat kawan lamanya menunggu. Mae Trapwood sebenarnya tidak jahat. Dia memang ‘kecelakaan’ dalam hal malam pertama, tapi jelas sudah bukan, bahwa dia ibu yang menyayangi Dragonia Avalonia Martell? Mae langsung menangis ketika melihat kompartemennya kosong. Ada penjual makanan yang lewat, tapi Mae membenamkan mukanya dan menyandarkan rambut ikalnya ke kaca jendela yang buram. Apa artinya dia ini?
Sementara itu, Percy sudah berenang sekuat tenaga. Sebuah kapal pesiar menyerempet siripnya. Tapi dia terus berjuang melawan ombak. Akhirnya, darahnya tercium hiu. Percy menghindar, tapi apa boleh buat, hanya Naga Air Cassidy yang mendengar. Naga itu membuka matanya dari dalam gua, mendongak, lalu meredakan semua gelombang pasang dengan kesaktiannya. Pancaran usaha dewa laut itu membuahkan hasil. Selimut Lionel Martell bersinar, dan dengan demikian, dia meninggal.
Pintu menderit terbuka. “Jendral, aku—“ Khaled . Z. Yamanaka berhenti, lalu melihat cahaya itu, dia menutup pintu kembali. Dia memang pemabuk di usia sedini itu, 10 tahun, tapi dia juga sudah biasa dengan kematian. Khaled turun lalu menatap lautan dari jendela kecil. Dia melihat matahari sudah terbit. Ramona juga tidak ada. Khaled menceburkan dirinya ke laut lepas, membiarkan dirinya hanyut. Ternyata Ramona ada di kamar pengintaian. Dia sadar cinta pertamanya sudah tidak ada di dunia, jadi dia turun, menangis sedikit, lalu begitu tiba di kamar tua itu, dia mengusap mata yang tertutup itu. Lionel Martell tewas dalam keadaan tersenyum. Mokshanya sempurna mengantarnya ke Nirwana. Dengan benaknya, Mae juga sadar, tapi dia, yang mengabdi kepada suaminya, menjerit histeris dan menjambak rambutnya. Ada Gertrude si tabib yang memeluknya. “Let him go.” Arnold Frederik Nielsen, panglima terhandal urusan Tombak, membuka topi hitamnya, membantu mengebumikan Jendral hebat itu. Semua tidak ada yang tidak menangis. Pengecualiannya memang hanya Khaled. Dia memeluk kaki Ramona Coolinianne.
“Aku jadi teringat ayahmu, Puteri.”
‘”Iya. Leopold dulu begini juga.” Ramona menebarkan seluruh bunga di tangannya ke atas pusara kecil di atas bukit pasir putih itu. “Setidaknya, Lee tidak idiot seperti seorang homoseksual, si Btara Surya itu. Semua orang memang gugur. Persiapkan diri kalian, kawan, perjuangan belumlah usai. Ada perang menunggu sesudah ini di sebuah negara kepulauan. Letaknya rahasia, sih. Kid mencuri petanya.”. Ramona mendaki, mendaki, mendaki, hingga tiba di puncak Tebing Oblivian. Di puncaknya, dia melemparkan sepotong ikan asin. Satu sosok panjang warna biru langsung melahapnya. Itu Cassidy, tentu saja. Semua orang di bawah beralih ke pesta pora di belakang mercu suar. Cassidy membuka mulutnya, memperlihatkan anak tekaknya dan mutiara Naga Geni Windu di dalamnya. Ramona tertawa-tawa riang. “Bergabunglah kalau mau, Bu. Lautan melimpah kan ya, dan semua makhluk mistis termasuk dinosaurus sekarang sudah punah. Nanti biar Seno, Simon, dan Sarah yang memanggangnya. Jangan sodorkan Obormu itu! Nanti kepalaku yang gosong!” Naga itu menggeram dan tertawa, lalu terbang naik ke langit lepas.
Untuk terakhir kalinya, semua orang di dalam mercu suar Oblivian mengangkat gelas kayu mereka, bersama kapak, tombak, pedang, keris, mustika pada mahkota, hingga mereka serempak bersuara: “Semoga Buana, Lazuardi, Samudera, Bayu, dan Api memberkati Lionel Martell! Toast!”
Dan demikian, satu putaran kehidupan berakhir sudah. Avalonia tumbuh dewasa, semua kesedihan sirna, dan sisa abu kremasi semua dilempar ke perapian, udara, dan dengan demikian, tiada lagi yang berduka hanya demi sebuah kepastian akan Selamat Tinggal.

TAMAT

Pesan untuk para moderator, ini sudah aku unggah ya, saya mengincar Neil Gaiman dan 1 Buku Lagi yang judulnya apa ya? Lupa. Pokoknya sebelum saya salah kamar OOT, enjoy the reading to the most! Thanks all. May The Force be With You All. Wassalamualaikum.

;;)


Stezsen | 237 comments oke, saia nyoba bikin puisi naratif buat entry cerbul ini, tapi ternyata susah banget dan jadinya ancur. met dicabe XD

---------------------------------------------
LAHIRNYA IRGHI


Eked Bato Sang Tetua Agung
Tinggi, di langit ia berdiam
Besar sungguh kuasanya,
Raja Cakrawala Barat.

Tujuh putrinya, Para Abadi:
Taamar istri Mentari
Khaiya, Ehuelag - Si Kembar
Di angkasa mereka bekerja
Dan Parta, Dolu, Irid - bertiga
Jelita peninta bumi
Dan Ahuel, Gadis Lentera.
Ketujuh rona, wewarnya merah.

Senja turun dan Tetua Agung
Meninggi tongkat menutup hari.
Lamat ke perteduhan berjalan
Sang Surya pada tenda istrinya,
Sedang di padang awan beriring
Si Kembar menggiring kambing.
Dan Parta mencurah susu
Ke sungai elok, padang manusia.
Dolu dan Irid bergandeng tangan
Meninta pohon serta bebatu,
Sedang Ahuel menyala pelita
Di batutunggal ia berjaga.

Maka kayalah warna-warni dunia.

Hari itu, ketika Ahuel turun berjaga
Di bilik puncak batutunggal raksasa
Maka datanglah dia, putih jubahnya
Cakap rupawan sang pemuda, busur di pinggang.
Kepada dia Ahuel memandang
Dan dia kepada Sang Jelita
Dan keduanya terkunci hening.

Hari berlalu secepat panah
Tetua Agung lagi meninggi tongkat
Ke batutunggal Ahuel turun berjaga
Dan, lihat! dia masih di sana.
Bersandar batu, pemuda berjubah putih
Ketika dilihatnya Jelita Abadi
Bersegeralah bangkit menghatur hormat.
Sang Jelita tersenyum membalas sapa.
Namun mereka diam, tiada kata.

Maka tersebutlah hari-hari itu
Ketika batutunggal gilang-gemilang
Empat puluh senja, genaplah lamanya
Kala dunia muda dan musim satu.

Ketika petang Ahuel berseri
Sebab kasihnya duduk menanti.
Ketika pagi Ahuel kembali
Namun hatinya engganlah pergi.

Ia muram dan gelisah
dan Bundanya menaruh curiga.
Namun tak satupun kata
Yang sampai kepada Sang Tetua.

Pada senja keempat puluh satu Ahuel pun turun
Namun tiada dilihatnya pemuda itu.
Pada senja keempat puluh dua ia kembali
Sepi sendiri dalam bilik, ia menanti.

Tiba-tiba didengarnya seorang bernyanyi
Dan dari balik hutan keluarlah dia
Sang pemuda lagi berdendang, busur di tangan:

"O, andai aku putera Angin.
Bahkan jika kupunya kuda terbaik
Tetap tak cepat berlari pergi."

"Katakanlah jika kau ingin
Ku dapat memberi kaki-kaki angin."

Dan Ahuel melayang turun pada pemuda
Dan ketika jemari bertemu, lenyaplah
Ahuel Sang Jelita Lentera
Dan dia yang putih jubahnya.

Dan lihat! di tempat tadi mereka berdiri
Kini gagah seekor Kuda, putih metah tubuhnya
Menyala bulu tengkuknya, bagai Lentera
Dan ringkiknya menggetar langit. Ia pun mencongklang lari
Ketika api batutunggal meredup mati.

Maka gemparlah angkasa raya
Tetua murka mengerah laskar.
Selaksa orang berkuda angin
Menangkap Kuda di ujung bumi.

Lihat bagaimana ia digelandang
Menuju hadirat Sang Tetua berang.
Para Saudari datang bersujud
Juga Sang Bunda memohon ampun.

Namun besarlah murka Tetua Agung
Sebab pelanggaran ini tiada ampun.
"Bagaimana mungkin seorang Abadi
bersatu dengan yang fana? Sungguh mustahil!"

Maka sujud sembah sang terhukum:
"Biarlah kami tiada lagi
Namun ibalah kepada bayi
Sebab ia tak tahu-menahu."

Dan menangislah para Jelita Abadi
Memohon ampun bagi terhukum ini.
Maka trenyuhlah hati Tetua Agung.
Dihantarnya Sang Kuda ke batutunggal
Untuk bersalin, memuntahkan sang bayi.
Ternyatalah dia seorang lelaki
Dan Sang Tetua memberinya nama:
Irghi. Dan dialah ayah Atla,
ayah Rahuemer, penguasa Padang.

Tatkala sang bayi lahir dan menapak
Di lantai bilik batutunggal raksasa
Meluruhlah seluruh warnanya, menjadi gelap
Dan warna itu kini dikenal dengan namanya.

Dan Eked Bato membawa Sang Kuda
Kembali ke tempatnya di angkasa.
Karena lentera Ahuel berhenti menyala
Dan Kereta Musim Sang Mentari menjadi empat
Maka Sang Kuda menghamba diri
Untuk menarik Kereta Musim
Siang dan malam. Tiada henti.


Konon sejak itulah bumi bermusim empat, karena Merepatla Yang Tertua membagi kuasa atas empat putranya. Eked Bato sang sulung menjadi penguasa atas senja dan musim gugur. Dan ketika keturunan Irghi menjadi besar dan Rahuemer mendirikan bangsa, orang-orag berkata bahwa Tetua Agung sejati para manusia haruslah ia yang pernah melihat Sang Kuda. Dan sampai sekarang ini orang-orang Rahuemer masih memakai tongkat berjumbai bulu merah dan putih sebagai tanda ampun, sedang bola bulu merah-putih sering dianggap tanda cinta.


Catatan Canssar, Cendekia Perpustakaan Gunung Sen, penerjemah:

Taamar, Khaiya, Ehuelag, Parta, Dolu, Irid, Ahuel, dan Irghi: semuanya ialah warna-warni merah. Kata umum merah dalam bahasa orang-orang Padang Rumput ialah Eked - yang juga berarti senja. Anehnya mereka hanya memiliki satu kata untuk warna putih: Huan.


Disadur dari: Tambahan untuk Kisah-kisah Bangsa Padang Rumput

------------------------------------------------
yak monggo dibantai :v


Aad (aad_uncu) | 11 comments Love in the Time of Cholera Lamb

Ini putih keempatratus. Setiap sesapnya akan membawa kembali semua tentangmu. Kau akan bersama merahmu yang seakan mengagumi setengah dirinya yang kosong dengan ragu, sementara putihku akan mengkonstruksi ruang kosongnya untuk bisa diisi lagi. Kuingat lagi awal saat aku--yang menurutmu putih yang berbeda dari putih--menemukanmu serupa sesuatu merah di tengah subtansi putih yang membungkus kota dengan perlahan. Semua tentang kita baru kusadari semuanya tentang pertemuan dua warna, merah dan putih, dan kita saling bergradasi meleburkan setiap bintik diri untuk saling menyisipi.

*

Kubuka jendela pagi itu, pemandangan yang seharusnya bangunan berlantai tiga dengan dua pohon di sisi kiri, jalanan hitam dengan atribut tidak penting berupa mobil, motor dan pejalan kaki di sisi-sisinya, taman kecil, semuanya menghilang. Setidaknya menurut mataku yang masih mengantuk. Semuanya menjadi putih. Semuanya tertutup kabut. Sebenarnya untuk kota kecil di tepi laut hal itu sudah biasa tapi pagi ini kabut benar-benar tebal.

Aku segera mandi dan melakukan ritual kegilaan yang dilakukan setengah penduduk dunia saat pagi:menggosok gigi. Setelah itu aku membiarkan semuanya diurus oleh kedua tanganku yang bertugas dengan otomatis dan luar biasa hebatnya:memakai pakaian sambil membuat sarapan, lalu memasukkan sarapan itu ke mulutku untuk menghilangkan jejak bahwa roti itu kekurangan selai dan sialnya mulutku bersekongkol dengan menelannya cepat-cepat.

Pagi yang cerah, semuanya berwarna putih. Aku berangkat kerja dengan riang.

Menelusuri jalanan di kotaku yang berliku-liku, sebuah ciri khas kota di tepi laut, aku harus berjalan hati-hati karena jarak pandang yang berkurang, bahkan kakikupun terlihat samar. Saat berjalan aku teringat sebuah film tentang dua orang aneh yang tinggal di rumah yang akan di gusur. Kedua orang itu mempunyai keinginan supaya dunia hilang. Dan harapan mereka terkabul. Dunia hilang dan menjadi hamparan putih menyisakan rumah dan mereka berdua. Mereka bahagia tapi setelah itu mereka saling bertengkar dan menggunakan harapan-menghilangkan-sesuatu, yang selalu terkabul, supaya apa yang disukai oleh temannya menghilang. Di akhir film tinggal dua kepala mereka yang memantul-mantul di hamparan putih. Aku merasakan kengerian kalau hal itu terjadi, dunia hilang dan tinggal aku saja. Sebuah horor yang paling menyeramkan, tidak ada apa-apa, tidak terjadi apa-apa, sendirian. Aku bergidik.

Sebentar lagi aku akan sampai, tentu saja tepat waktu. Melintasi toko baju yang etalasenya menampilkan manikin-manikin berpakain terbaru dan selalu membuatku berpikir bahwa kita adalah mahluk pemakai baju bekas manikin, kulihat ada seseorang berada di depan etalase toko baju itu, dia mendongak ke atas, matanya terpejam dan dia menarik napas pelan-pelan, berulang kali. Dia seorang wanita, memakai jaket merah, ada syal hitam membungkus lehernya. Wajah wanita itu tenang bahkan mendekati damai. Matanya terpenjam, membuatku tak bisa menyimpulkan apakah matanya sipit atau besar, tiba-tiba aku berharap dia bermata sedikit sipit. Kulit wajahnya terlihat sangat bersih, terlihat kenyal dan bercahaya. Hidungnya berukuran sedang dan menghembuskan napas hangat pelan yang berubah menjadi uap putih yang menghilang di kabut pagi. Bibir wanita itu mempunyai warna cerah alami, tanpa pewarna bibir. Ujung bibir itu bergerak-gerak sedikit, seakan membisikkan sesuatu kepada angin. Aku terus memandangi warna indah bibir itu dan di kepalaku terbayang buah strowberi merah berembun saat dipetik pagi hari.

Wanita itu menundukkan kepala, membuka matanya dan langsung menoleh ke arahku. Dia membalikkan badan dan berjalan mendekatiku. Wajahnya sedikit tengadah ke arah wajahku dan kemudian dia tersenyum, sebuah senyum yang sangat indah, sebuah warna merah menawan di tengah padang putih kabut pagi. Dia kemudian mengangkat tangan, jari telunjukknya ditempelkan ke keningku.

Ada buah ceri di kepalamu, suaranya lembut dan sedikit berirama di akhir kalimatnya.

Bukan. Itu strowberi, jawabku. Sial, aku terlalu jujur.

Dia menarik tangannya dan berlalu, hilang di antara kabut. Yang tertinggal hanya partikel-partikel parfumnya yang beraroma rumput muda berembun saat dipangkas pagi hari dan tentu saja diriku yang menghirup setiap partikel yang tersisa sampai habis.

Aku bergegas ke tempat kerjaku yang mempunyai misi sangat mulia:membuat sesuatu yang tidak menarik menjadi menarik dan membuat orang akhirnya tertarik. Seperti itulah perusahaan periklanan. Hari ini aku bekerja tidak terlalu tenang, senyum wanita itu selalu membentuk kurva indah di kepalaku. Untuk urusan iklan aku pernah menjadi bintang iklan, setidaknya sebagian tubuhku. Waktu itu sebuah produk baru memilihku, lebih tepatnya memilih tanganku yang menurut mereka menarik untuk menjadi bintang iklan produk sabun cuci tangan. Aku masih menyimpan iklan itu. Tanganku bergerak-gerak dengan indahnya saat tercemari busa sabun dan menyisakan aroma yang tidak kusuka. Untunglah sabun itu tidak ada lagi di pasaran.

Kabut yang seharusnya sudah menghilang ternyata masih ada dan bertambah tebal menjelang malam. Aku berjalan pulang dengan hati-hati dan sukses beberapa kali bertabrakan dengan orang lain. Aku berharap bisa bertemu dengan wanita tadi pagi. Harapan itu kandas saat kumasuki pintu rumahku. Tapi masih ada hari esok, masih ada harapan, mendadak aku menjadi orang yang optimis.

Setelah mandi dan makan malam aku segera ke kamar mandi seperti yang dilakukan setengah penduduk dunia, mengulangi kegilaan saat pagi:gosok gigi.

Saat malam aku tak bisa tidur, senyum wanita tadi pagi yang terus terbayang di kepalaku ternyata lebih ampuh dari pada kafein secangkir kopi. Aku beranjak dari tempat tidur menuju jendela, kubuka tirai dan duduk di kursi. Kunikmati pemandangan indah yang ditampilkan jendela malam ini:kabut.

Terbayang lagi senyum wanita itu, kali ini aku berusaha membekukannya saat dia tersenyum. Kubuat bingkai imajiner di sekeliling tubuhnya, menampilkan badan bagian atasnya. Kubuat dinding abstrak dan kugantung bingkai imajiner itu di sana. Aku terus mengamati senyum itu, kuhitung berapa derajat kemiringannya, kukalkulasi berapa jumlah otot yang mengkonstruksinya, kukira-kira berapa volume lengkung bibirnya mengabil tempat di wajahnya.

Terasa sebuah tangan tak nyata menepuk pundakku. Aku menoleh, di belakangku berdiri si tua Duchenne dengan senyumnya yang telah menyebar keseluruh dunia.

Menurut analisamu bagaimana menurutmu senyum itu? Aku beruntung bertanya pada orang yang tepat.

Duchenne meneliti wajah di dinding sambil mengelus-elus dagunya, dia mendekati foto itu. Otot sebelah sini, sini, sini, sini, sini, dia berkata sambil menunjuk beberapa titik di wajah wanita di foto. Tidak salah lagi, itu adalah senyum bahagia dan dia merasa nyaman, ada sedikit harapan, mungkin bisa dibilang dia sedang jatuh cinta.

Duchenne kembali berdiri di belakang kursiku. Apakah seperti itu?

Tidak salah lagi, suaranya tegas.

Dan bagaimana dengan wajahku?

Ah itu sudah pasti, aku tak perlu menjelaskannya. Wajahmu adalah wajah berandalan yang terlalu berharap. Kurasakan kehadiran Duchenne perlahan memudar. Dinding abstrak itu meluluh dan bingkai imajiner itu memuai. Gambar wanita itu mulai bergerak dan kusaksikan dia membentuk senyumnya lagi kemudian hilang, lalu jendela dan tersisa kabut.

Malam ini aku terbaring di ranjang dan berhasil tidur dengan mata terbuka. Aku beranjak lagi dari ranjang menuju jendela.

Baiklah matahari kau keluarlah. Dan matahari mulai keluar, sinarnya berusaha sia-sia menembus kabur pagi ini. Aku segera mandi dan membuat sarapan, tidak lupa kubuat secangkir kopi. Aku membaca ramalan apa yang akan terjadi hari ini dengan melihat ampas kopi yang tersisa:ngantuk.

Perjalanan ke tempat kerja dan sampai di sana membuyarkan harapan untuk bertemu lagi dengan wanita itu. Begitupula saat pulang kerja, tapi malam ini aku memutuskan makan di sebuah kafe yang tak jauh dari kantorku sambil berharap bisa bertemu dengan wanita kemarin. Setelah semua makanan dan minuman habis bahkan kuhabiskan dengan perlahan sambil menikmati pemandangan indah di jendela:tentu saja kabut, harapanku untuk bertemu lagi tandas sudah. Ada sedikit waktu sebelum kafe tutup dan kugunakan untuk menunggu keberuntunganku.

Kurasakan sosok samar di belakangku, sepertinya Duchenne lagi. Kali ini apa yang akan dia katakan tentang wajahku, mungkin berandalan-putus-asa.

Sepertinya kau menyukai pemandangan kabut di jendela itu.

Suara itu, tidak mungkin si bandot tua Duchenne mempunyai suara indah seperti itu. Aku menoleh dan wajah itu, senyum itu, tampil lagi tapi kali ini nyata. Kabut itu bisa membuat kita membayangkan apapun yang kita suka, jawabku.

Dia kemudian duduk di kursi di sebelahku. Kami mulai berbicara. Yang kuingat dari pertemuan itu, aku membicarakan hal-hal lucu dan konyol seperti menceritakan orang-orang di kutub utara mempunyai kulkas lebih banyak dari pada penduduk dunia, di sana setiap orang mempunyai gigi yang cepat sekali tumbuh sehingga mereka gemar memecah gigi mereka dengan minum kopi kemudian minum es supaya gigi mereka pecah, setiap rumah mempunyai peliharaan berupa beruang. Setiap cerita konyol itu akan membuatnya tersenyum dan itulah yang ingin kulihat.

Kafe akan tutup dan kita berpisah di depannya.

Kau tidak meminta nomer telpone ku? tanyanya saat kami hendak berpisah. Aneh.

Apa karena tidak meminta nomer telpon aku menjadi seperti alien?

Biasanya setiap lelaki yang bertemu denganku selalu meminta nomer telponeku. Dan coba tebak, aku tak pernah memberikan nomerku kepada mereka. Jadi karena kau tidak meminta nomer telponeku aku akan memberikannya kepadamu.

Baiklah

Sepertinya aku baru saja berubah pikiran. Lebih baik aku minta nomermu.

Aku menyebutkan nomerku dan dia mencatatnya.

Aku akan menghubungimu nanti. Bisakah kita bertemu esok malam di sini?

Aku mengangguk.

Kamipun berpisah. Aku berharap dia menghubungiku malam ini dan semoga saja digitalisasi alat komunikasi tidak mendistorsi suara indahnya. Sambil berjalan pulang aku mengira-ngira berapa persenkah pertemuan pertama akan berlanjut dengan hubungan yang lebuh serius, 30%, 20%, ahh..indahnya menjadi minoritas.

Di dalam kamarku aku terus mengingat-ingat pertemuan tadi. Kalau setiap senyumnya adalah sebuah strowberi berati malam ini aku sedang panen besar.

Aku merasakan kehadiran Duchenne di tepi ranjang. Dia mengamatiku dan mencatat sesuatu. Kau sepertinya sakit, katanya. Aku tersenyum. Aku menikmatinya, jawabku. Diapun pergi.

*

Siang hari di tempat kerja suasana semakin sibuk, tapi bukan sibuk pekerjaan. Semua orang mengamati kabut yang berubah menjadi aneh. Kabut yang menyelimuti kota berubah menjadi gumpalan-gumpalan putih dan semakin membulat. Semua orang menahan nafas saat keluar dua buah kaki, kemudian dua buah kaki lagi, terakhir sebuah kepala yang menampilkan wajah tersenyum. Kabut-kabut itu berubah menjadi biri-biri. Sekarang terhampar sebuah pemandangan berupa biri-biri yang melayang menutupi kota. Beberapa orang berusaha memegang biri-biri itu, bulu mereka lembut, mereka tak bersuara dan tubuh mereka sangat ringan. Semua warga kota sepertinya sedang meneliti biri-biri.

Menjelang malam aku menunggu wanita kemarin di kafe. Selama berjalan aku harus menghindari biri-biri yang melayang-layang sepanjang perjalanan. Sebenarnya tanpa menyingkirkan mereka masih bisa berjalan dengan mudah karena mereka tak berbobot, tinggal berjalan seperti biasanya dan tidak akan merasakan benturan keras.

Aku duduk di kursi yang menghadap jendela, di luar terlihat beberapa biri-biri melayang, wajah mereka menghadap ke arahku, wajah itu tersenyum, sepertinya senyum sinis. Kota ini semakin mengerikan. Seperti sebuah cerita Apocalypse atau Post-Apocalypse. Aku teringat novel The Road, tapi novel itu tentang kehidupan setelah kebakaran besar dan semua tertutup debu, mencekam, gersang, mendebarkan. Tapi kota ini, tertutup kabut yang menjadi biri-biri dengan wajah tersenyum dan melayang


Aad (aad_uncu) | 11 comments layang,betapa menyedihkan.

Aku mengeluarkan ponselku dan mendengarkan lagu.

Lama menunggu sambil mencoba menyingkirkan perasaan tak enak dipandangi biri-biri yang sekarang sepertinya mengejekku. Ada tepukkan di pundakku, aku menoleh, kulihat dia tersenyum dan hal aneh terjadi. AC di sisi ruangan dengan kurang ajarnya menerpakan hembusan angin dinginnya ke wajah wanita itu, membuat rambutnya yang hitam, rapi, dan berkilau terawat itu sedikit berkibar-kibar. Seperti sebuah adegan di film saat seorang wanita cantik tampil dan ada angin menerpa supaya tercipta efek mempesona. Ternyata efek itu manjur, wanita di hadapanku terlihat lebih cantik dan senyumnya terlihat manis.

Maaf terlambat, apa kau sudah menunggu lama?

Seperti sebuah peralihan film hitam putih bisu ke film penuh warna dan suara. Suaranya mengisi kekosongan dari ulah kurangajar AC si sutradara gadungan.

Aku melepas earphoneku. Sepertinya aku yang datang terlalu cepat. Dia tersenyum lagi. Aku hanya diam saja, dalam kepalaku ada suara tersenyumlah terus, aku suka melihat senyummu. Dia duduk di kursi seberang meja.

Sudah berapa lama kau menunggu di sini?

Aku baru menyadari bahwa suaranya seperti terucap dengan bibir, lidah, rongga mulut, dan tekanan di pita suara yang dikendalikan dengan cermat. Suaranya jernih. Setiap intonasi saling melengkapi. Seperti sebuah musik morfologi.

Mungkin 23 menit.

Dia tersenyum lagi. Apakah senyum itu sebagai ganti dari keterlambatanmu. Kalau iya, aku menerimanya dengan senang hati. Aku berharap dia terlambat lebih lama supaya dia bisa membayar dengan senyuman lebih banyak.

Boleh aku mendengarkan musik apa kau dengarkan.

Aku menyerahkan earphone dan ponselku. Dia memasangkan dua speaker mungil itu ke telinganya. Saat mendengarkan, dia menatap ke arahku dan masih tersenyum. Lima belas menit, dia menyerahkan ponsel dan earphoneku.

Hanya ada satu lagu. Jadi kau selama 23 menit itu hanya mendengarkan satu lagu itu?

Aku mengangguk.

Humm..Sepertinya kau menyukai lagu itu. Boleh aku tahu kenapa?

Untuk sebuah lagu di sebuah ponsel mungkin itu lagu yang sesuai, sophisticated, ada kata email, ponsel, sms. Lagu yang sesuaikan.

Dia tertawa dan aku semakin menyukai suara dan caranya tertawa.

OK. Aku bisa bahasa jepang, tapi lirik 'Nee hontou ni suki na no?', 'oh dare to iru no? doko ni iru no?' 'Motto motto hoshii Your love, Ima sugu ni dakishimete' sepertinya lebih bertema cinta atau kerinduan dari pada telkomunikasi.

Yah mungkin lebih tepatnya tema telkomunikasi dan dampaknya dalam sebuah hubungan cinta.

Sepertinya cabang baru dalam dunia teknik telkomunikasi, dia tertwa kembali.

Pembicaraan malam itu berlansung menyenangkan. Aku menyadari bahwa apa yang dibicarakannya akan berbelok kalau hal itu menyangkut tentang dirinya. Sepertinya dia menghindari untuk menceritakan hal yang berhubungan dengan dirinya atau kehidupannya.

Kau tahu dari mana datangnya buih-buih itu? dia mengamati gelasku yang diisi ulang oleh pelayan. Aku menggeleng. Dari masa lalu, jawabnya. Aku memperhatikan gelasku dan buih-buih yang bermunculan di dasar dan dinding gelas. Aku memperhatikan gelasnya berisi merah yang tinggal setengah, kemudian ke wajahnya dan dia tersenyum.

Dekatkanlah telingamu.

Aku mendekatkan telingaku. Mendengarkan suara biuh-buih itu.

Apa yang kau dengar?

Seperti suara lagu.

Buih-buih itu adalah lagu dari masa lalu. Sebuah lagu saat menanam anggur. Sebuah lagu lagi saat merawat tanaman anggur. Setelah itu lagu saat memanen anggur, yang paling ceria adalah lagu saat menginjak-injak anggur di sebuah bak kayu besar, lagu itu dinyanyikan para pasangan muda yang sedang jatuh cinta. Kemudian lagu penantian penyimpanan di dalam tabung-tabung kayu ek. Dan lagu yang terakhir dipilih yang paling bagus. Kau tahu lagu apa itu?

Aku menggeleng.

Dengarkan lagi buih-buih itu.

Aku mendengarkan lagi buih-buih itu.

Itu lagu cinta.

Aku memejamkan mata. Dan aku kini bisa mendengar lagu itu. Begitu indah bergitu lembut.

Sekarang minumlah.

Aku minum dan sekarang lagu itu ada di mulutku dan bernyanyi dengan riang. Lagu itu terus masuk ke tenggorokanku dan bergema di perutku.

Menurutmu tempat apa yang memiliki kisah cinta paling indah?

Pantai

Bukan

Stasiun atau kereta

Bukan

Sebuah rumah di tepi hutan, toko buku, perpustakaan...

Cerita cinta paling indah terjadi hanya di kebun anggur. Ada pemuda pendatang yang suatu hari melihat gadis-gadis memanen anggur sambil bernyanyi lagu panen, dia jatuh cinta pada salah satu di antara mereka. Dia jatuh cinta pada wanita berambut paling hitam panjang yang menurutnya seperti anggur kemerahan yang paling merona. Kemudian ada sebuah pernikahan. Ada pesta dihadiri orang-orang dari jauh dan tentu saja wine-wine terbaik. Sebuah keluarga yang bahagia. Suatu hari mereka memiliki anak pertama. Anak itu tumbuh sehat dan suka berlari-lari di antara pohon-pohon anggur muda. Pemuda dan istrinya melakukan piknik kecil-kecilan di bawah pohon ek sambil mengamati anak mereka. Tentu saja cinta paling bahagia pun harus mengalami ujian. Mungkin akan ada pemuda lain atau gadis lain. Ada perselingkuhan. Ada sebuah perkelahian di kebun anggur. Ada tangisan. Ada anak yang ketakutan bersembunyi di balik tanaman anggur yang akan segera ranum. Mungkin akan ada darah. Mungkin juga suara ribut-ribut seperti teriakan diikuti suara tembakan. Tapi akhirnya semuanya berlalu. Kehidupan kembali berjalan seperti biasanya, walau agak berbeda, memiliki makna yang lebih mendalam. Ada dua orang anak yang berlari-lari di antara pohon anggur, mereka menyanyikan lagu panen. Seperti itulah cerita cinta di kebun anggur.

Cheer!

Kampai!

Ada sebuah kebenaran pahit yang kurasakan saat dia menceritakan kisah tadi. Mungkin dia adalah salah satu wanita di dalam ceritanya. Mengingat dia belum menikah mungkin cerita itu berakhir di sebuah hubungan yang kandas karena salah satu dari mereka tidak setia.

Jadi pria itu pergi dengan wanita lain dan meninggalkanmu? tanyaku. Dia mengangguk. Itulah kenapa aku ke tempat ini, aku ingin melupakan masalaluku, aku mencari sebuah tempat seperti Macondo di mana semua orang melupakan segala sesuatu, dan tempat ini sepertinya tempat yang tepat walaupun sekarang kabut-kabut itu berubah menjadi domba-domba melayang dengan senyum anehnya.

Kami berpisah di depan kafe malam itu. Saat berjalan pulang aku merasakan dunia begitu indah dan senyum biri-biri itu menjadi sangat menyenangkan.
Duchenne berkata bahwa sakitku tambah parah. Aku tidur pulas malam itu.

*

Malam berikutnya dia membawa sebuah buku. Saat dia menunjukkan sampul buku itu aku berkata apakah dia yakin akan membaca buku itu. Dia mengangguk dan bertanya kenapa.

Kujelaskan bahwa buku itu walaupun berjudul Le Livre du Rire et de L'oubli dan dia sedang bersedih dan ingin melupakan masa lalunya, tapi buku itu penuh dengan karakter yang tak setia dan akan mengingatkan dia akan masa lalunya. Beberapa bagian dalam buku itu memang lucu tapi itu adalah buku dari pengarang negeri Bohemian di mana humor mereka untuk kita yang tinggal jauh darinya akan kesusahan untuk sekedar ikut tertawa. Selain itu pengarangnya, Kundera, seperti di buku-bukunya yang lain, selalu melakukan kebiasaan buruknya menyela sebuah cerita dengan ceramah filsafatnya.

Dia tetap bersikeras membaca buku itu. Dia membaca dengan pelan dan menerjemahkan artinya untukku karena aku tak terlalu menguasai bahasa perancis. Setelah beberapa jam aku melihat matanya mulai berkaca-kaca, air mata mulai menetes tapi dia terus melanjutkan membaca dengan suara terbata-bata menahan tangis dan dia lupa tidak membacakan terjemahannya untukku tapi aku masih bisa mengikuti cerita itu. Akhirnya dia menutup buku itu dan tergugu.

Aku mengantarnya pulang, menemaninya hingga tertidur dan saat dia tertidur pulas aku baru pulang ke rumah.

Selama tiga hari tak ada kabar darinya. Di malam ke empat dia menelponku. Suaranya sudah ceria, aku tahu bahwa dia sudah menyelesaikan buku itu dan seperti salah satu karakter dalam buku itu, dia membutuhkan telinga orang lain untuk mendengarkannya. Dia ingin esok malam kami bertemu.

Setelah dia menutup telpon aku menuju jendela, memandangi bari-biri yang saat ini ukurannya sudah menyusut dibandingkan hari sebelumnya. Aku merasa seperti Melquíades yang membuat Macondo wanita itu kembali mengingat apa-apa yang terlupa.

Malam berikutnya dia bercerita tentang sochu. Aku selalu menyukai saat dia mengungkapkan sesuatu, dia begitu jeli menggunakan pilihan kata dan perumpamaan.

Aku bertanya apa yang dia lakukan akhir-akhir ini. Dia menjawab sedang membangun sebuah rumah. Rumah, tanyaku tak percaya. Dia mengangguk, nanti akan kuperlihatkan.

*

Kebersamaan kami membuat hari-hari terasa berlalu dengan cepat. Setiap hari kami melakukan hal-hal yang berbeda selain pergi ke bioskop, opera, konser, bermain lempar-lemparan biri-biri yang sekarang ukurannya sebesar buah kelapa. Yang membuatku selalu tertawa adalah saat kami menonton film Going Distant sambil menghitung jumlah ciuman, kemudian kami mengalahkannya.

*

Setiap kali bertemu dengannya aku selalu menemukan sesuatu berwarna merah di pakaian yang dia kenakan. Tapi malam itu aku tak melihat sesuatu berwarna merah.
Aku tak melihat warna merah yang biasanya ada di pakaianmu, tanyaku. Dia menatapku dan tersenyum. Ada, jawabnya sambil mengedipkan matanya. Dia mendekati wajahku lalu berbisik di telingaku, aku mengenakan pakaian dalam berwarna merah. Dia mengedipkan lagi matanya dengan menggoda dan tersenyum erotis. Dan aku mungkin terlihat tersenyum mesum.

Percakapan malam itu yang membahas erotisme di karya sastra membuat senyum mesumku bertambah lebar. Sepertinya kami selalu menemukan tema tidak biasa untuk diobrolkan saat kencan. Aku memulainya dengan membahas The Art of Love,The Exeter Book, Anactoria,The Theogony, Orlando Furioso, hingga The Rape of Lucrece. Berlanjut Lady Chatterley’s Lover, Portnoy’s Complaint, Beloved, Hopscotch, Pan, Le morte d’Arthur, Ironweed, Sexing the Cherry, Giovanni’s Room, Vox, Sexus, Rabbit Redux, The Name of the Rose, Autumn of the Patriarch, diakhiri dengan J-nya Kenzaburo Oe. Bahkan saat berjalan mengatarmu pulang kita masih membahas Child of God. Deretan buku itu membuat malam semakin panas, setidaknya buatku.

Saat di kamarmu kau membisikkan lagi bahwa kau memakai pakaian dalam berwarna merah dan tersenyum menggoda. Sudah bisa ditebak bahwa malam itu berakhir dengan kami tidur di kamar masing-masing.

*

Kau ingin bertemu dan memintaku ke pantai. Biri-biri yang menyelimuti kota tinggal sebesar kelereng tapi wajah tersenyum mereka masih terlihat mengejek.

Kau berdiri di tepi dermaga. Aku mendekatimu dan kulihat bibir indahmu tersenyum dan memperlihatkan bilik-bilik putih indah teratur gigimu. Aku mengalihkan pandangan ke matamu, sepertinya aku mulai kabur di pengelihatanmu. Aku melihat dua garis terbentuk dari matamu, meleleh ke bawah dan membagi wajahmu menjadi tiga bagian yang sama sedihnya.

Aku pernah bercerita bahwa aku sedang membangun rumah dan akan memperlihatkannya kepadamu kan, suaranya bergetar. Itu rumah yang selesai kubangun, dia menunjuk ke sisi kiri dermaga . Sebuah rumah berdinding batu abu-abu beratap merah berukuran kecil, mungkin hanya satu ruangan.

Dia mendekati rumah itu. Aku akan pergi, katanya. Aku pasti akan kembali, aku membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini, aku mengira kota ini akan membuatku bisa melupakan masa laluku tapi ternyata tidak. Kemudian dia menyerahkan sebuah kotak. Jaga ini, aku akan kembali lagi dan mengambilnya nanti kalau aku sudah siap.

Dia mendekati rumah itu dan yang kulihat selanjutnya dia semakin menjauh, jaket merahnya melambai diterpa angin sore. Di hamparan horizontal laut dia semakin mengecil dengan rumah di sisinya yang dia bangun di atas punggung seekor paus. Akhirnya dia hilang, yang terakhir kulihat adalah gerakan ekor paus dan suaranya yang melengking, sebuah perpisahan yang terlalu cepat.

*

Akan kutunggu seratus hari lagi, saat hari itu tiba dan kau belum kembali,aku akan mencarimu.


message 21: by d3pi (last edited Sep 07, 2012 02:05AM) (new)

d3pi (defifreak) | 96 comments Warna Sebenarnya

Aku tercipta dengan begitu kemegahan. Memecah warna biru langit dengan terang dan cemerlangnya warnaku. Aku si Merah, berkibar dengan gagah di langit luas, mengikuti kemana arah angin membawaku.

Tepat di bawahku ada si Putih. Aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga aku bisa bersanding dengannya di langit biru ini. Mungkin inilah keinginan takdir yang menyatukan kita. Bagiku dia terlalu suci, berkibar mengikutiku dengan kelemah lembutannya. Aku dan dia berbeda tapi kehadirannya melengkapi keindahan dari keberadaanku.

Di bawah sana, di negeri yang bergejolak ini, ku lihat dia. Selalu ku perhatikan apa yang dia lakukan. Aku heran kenapa dia sekeras itu memperjuangkanku. Banyak prajurit – prajurit tak dikenal yang mencoba untuk mendekati tiang tempatku tertambat, tapi selalu ia gagalkan. Kalau cuma ingin menurunkanku, ya sudah biarkan saja. Toh itu juga tidak akan merubah apapun.

“Tentu saja merubah sesuatu. Merubah banyak hal malah,” kata si Putih menyelaku. Tak heran sama sekali kalau Putih bisa membaca pikiranku. Berkibar bersama dalam teriknya matahari dan dinginnya malam, membuat kita saling memahami.

“Apanya yang berubah?” tanyaku tidak mengerti. Terdengar sedikit rasa tidak terima dalam kata – kataku.

“Keberadaan kita berarti banyak untuk hidupnya. Kita adalah simbol. Simbol hidupnya, simbol kebebasannya, simbol kemerdekaannya.”

Aku berpikir, mencoba untuk mencerna kata – kata Putih yang penuh kiasan.

“Apa benar sepenting itu arti keberadaan kita?!” Aku berusaha menyakinkan diri yang dijawab dengan anggukan penuh kemantapan oleh Putih.

Aku memandang ke bawah. Begitu banyak orang di bawah sana. Dan dalam pertikaian itu kembali aku bisa melihat sosoknya. Sosok kecilnya mencolok di antara manusia – manusia bertubuh kekar dengan wajah beringas.

Aku bertanya dalam hati, apakah masih ada belas kasih dan rasa iba dalam pertikaian berdarah itu. Bukankah ia masih terlalu kecil untuk ikut mengangkat senjata?

Dunia memang kejam kepadanya. Disaat anak lain seusianya sibuk dengan sekolah dan waktu bermain mereka yang menyenangkan, ia malah harus melihat sisi lain dari dunia. Dunia yang kejam, dunia di mana nyawa manusia tidak ada harganya. Saat hilangnya perasaan bersalah karena telah menyakiti sesamanya.

Tak peduli apakah yang dilakukan baik ataukah buruk. Mungkin yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara untuk mempenjuangkan hidup dan hak – haknya.

Seperti pertempuran yang terjadi sebelumnya. Kali ini ia berhasil memukul mundur para prajurit lawan yang hendak menerjang tempatku berdiri. Meski hanya dengan bersenjatakan senjata tradisional, tapi ia tidak pernah gentar. Aku ingin tahu semangat seperti apa yang ia miliki, hingga bisa membuat kemenangan tersenyum padanya.

+++

Aku terlelap dalam gelapnya malam yang hening. Angin seolah mengerti kepenatan yang ku alami hingga ia tidak mempermainkanku malam ini. Tak ada suara serangga yang menghiasi malam. Begitu juga angkasa sana, begitu kelam tanpa ada bintang dan bulan yang menerangi.

Malam yang begitu tenang, bahkan terlalu tenang hingga membuatku merasa khawatir. Ketenangan ini serasa akan ada badai besar yang akan melanda.

Dentuman keras meriam, membangunkanku dengan penuh keterkejutan. Secepat kilat rudal – rudal menghantam bumi, mengkocar – kacirkan para gerilyawan yang lengah. Semua orang berlarian menyelamatkan diri seperti semut yang berhamburan keluar saat sarangnya terguyur air. Gelapnya malam berubah bencana dalam terang nyala api yang berkobar ria.

Beberapa pesawat tempur musuh menyerbu. Memuntahkan bahan - bahan peledak yang dibawanya. Salah satu rudal pesawat itu menggores tubuhku sebelum akhirnya jatuh dan meledak di tanah.

Aku terkoyak, aku juga terbakar. Dalam kepanikan, aku hanya bisa mengibas – ngibaskan tubuhku, berusaha untuk memadamkan api kecil yang menggerogoti tubuhku. Hal yang sama juga dialami oleh Putih, malah bisa dibilang lebih parah.

Dalam kepanikan semua orang, kembali aku bisa menangkap keberadaan sosok kecilnya. Anak itu meronta – ronta dalam dekapan kasar salah seorang prajurit musuh. Tak ada yang melihatnya, tak ada pula yang menyadarinya. Hanya aku yang mengetahuinya, meski begitu aku tetap tidak bisa melakukan apa - apa untuk menolongnya.

Aku menarik kuat – kuat bagian tubuhku yang melekat erat pada tiang. Jika ini adalah hal terakhir yang bisa ku lakukan maka aku akan melakukannya. Aku tahu maksud mereka menyerang, mereka menginginkanku untuk ditiadakan.

“Merah...apa yang kamu lakukan?” tanya Putih tidak mengerti dengan tindakanku. Aku pikir dia tahu apa yang ku lakukan, hanya ia tidak mau percaya saja.

“Putih, ayo bantu aku?!” Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Kamu tidak berniat untuk melepaskan diri, bukan?” tanyanya lagi tidak menuruti permintaanku.

“Kalau hal itu bisa mengakhiri perang ini, kenapa tidak. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuknya,” jawabku mantap meski berat juga untuk melakukannya.

Putih mengikuti arah pandanganku, dan dia akhirnya mengerti alasanku. Tapi mengerti bukan berarti menyetujui.

“Tidak kamu tidak boleh melakukan itu!” protesnya. “Kalau kamu melakukan itu sama saja dengan kamu membunuh semangat dan harapannya.”

“Harapan? Harapan macam apa yang bisa kita berikan untuknya?” Aku tidak menerima penolakan saat ini. “Lihat tubuhku! Aku sudah tidak seindah dan secemerlang dulu. Lihat juga dirimu! Kamu juga tidak seputih yang dulu. Warnamu sudah tercampur dengan debu dan kotoran. Apa yang bisa dibanggakan dari kita yang sudah rusak ini?!” teriakku, berusaha mengembalikannya ke realita yang ada.

“Bukan warna yang paling penting saat ini tapi lagi – lagi keberadaan kita. Kita adalah simbol kemenangannya dan dia akan terus berjuang untuk mempertahankannya. Jika kita bisa bertahan di sini maka itulah kemenangannya, itulah yang menjadi kebanggaan dirinya,” Putih menjelaskan – lagi – lagi secara kiasan. “Tidak peduli seberapa buruk dan pudarnya warna kita sekarang, di matanya selamanya kamu adalah si Merah yang gagah dan aku adalah si Putih yang suci. Warna merah yang mengalir dalam darahnya, dan warna putih dari tulang yang menyokong tubuhnya,” tambahnya lagi. “Kita lebih dari sekedar warna dalam hatinya.”

Ku perhatikan kembali sosok kecil anak itu. Tubuhnya yang mungil mulai kelelahan hingga ia tidak bisa meronta – ronta lagi. Aku berusaha mengibarkan tubuhku, memecah tekanan udara – meski tidak ada angin yang berhembus – untuk membakar kembali semangatnya. Dan itu berhasil, benar seperti kata Putih.

Saat prajurit musuh mulai melonggarkan jeratannya - karena ia sudah tidak meronta lagi – anak itu mengigit kuat – kuat tangan musuh yang menjerat tubuhnya.

Terkejut, secara refleks prajurit itu melepaskan jeratannya, hingga akhirnya anak itu berhasil lepas. Ia berlari sekuat tenaga, menjauh dari kejaran prajurit musuh. Ia menjatuhkan diri dan bersembunyi dalam parit – parit persembunyian para gerilyawan.

Tepat pada saat yang sama, bala bantuan mulai berdatangan. Mereka mengambil alih pertempuran dari para gerilyawan. Pertempuran berlangsung hingga fajar dan berakhir dengan berhasil dipukul mundurnya musuh.

Serangan dadakan dari musuh bisa mereka gagalkan kali ini meskipun meninggalkan banyak korban jiwa. Harga mahal yang harus mereka bayar untuk sebuah kemerdekaan.

+++

Matahari menyinsing, mulai menampakkan sinarnya. Pagi yang cerah setelah malam penuh gejolak yang telah ku alami. Angin bertiup lemah, mempermainkan tubuhku yang penuh sobekan.

Sosok kecil itu berdiri di bawahku. Ia mengangkat tangannya dan memberikan penghormatan kepadaku. Dia tersenyum lebar hingga aku bisa melihat dengan jelas deretan giginya yang tidak rapi. Aku heran setelah malam yang menyedihkan seperti kemarin, masih bisa – bisanya dia tersenyum senang kepadaku.

Aku terkoyak, aku hangus terbakar, warna sudah tidak cemerlang lagi, tapi aku bangga masih bisa berkibar dengan gagah di negeri ini bersama dengan Putih.

Selamanya aku tetaplah si Merah dan dia adalah si Putih.

“Tenang saja. Selamanya akan selalu ada anak – anak bangsa yang tidak akan membiarkanmu diturunkan.” bisiknya penuh kemantapan hati.

+++++++++


message 22: by Kristiyana (last edited Sep 07, 2012 08:35AM) (new)

Kristiyana Hary Wahyudi (dejongstebroer) | 743 comments (KISAH LAIN) BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH


“Apakah tidak terlalu berbahaya, Ahmar?”

“Sepertinya tidak. Lihat, di tempat ini hanya kita yang tersisa. Monster raksasa itu sudah membantai keluargamu dan keluargaku.”

“Tapi bagaimana cara kita keluar dari tempat ini? Monster itu sepertinya masih berada di luar sana. Dia bisa saja menguliti kita dan mencincang kita dengan alat penyiksa itu jika kita ketahuan melarikan diri seperti yang dilakukannya kepada saudara-saudara kita.”

“Kita sudah berhasil keluar dari kurungan itu, Abyad, sekarang tinggal lari sekencang-kencangnya keluar dari sarang monster ini, dan menemukan tanah yang baik untuk kita bersembunyi di dalamnya. Mari! Aku akan melindungimu.”

Maka Abyad yang bertubuh lebih gemuk daripada Ahmar itu pun bertambah rasa percaya dirinya. Ahmar berlari di belakangnya mencari jalan keluar dari sarang monster raksasa itu.

“Lihat! Itu ada cahaya! Pasti cahaya matahari! Lama aku tidak melihatnya..,”

“AWAS, ABYAD!” seru Ahmar. “MONSTER!”

Tiba-tiba bumi tempat mereka berpijak bergoncang hebat. Monster raksasa itu datang dengan langkah berdebam keras dan bergumam dengan bahasa lain yang tidak mereka kenal. Suara gumamannya pun terdengar bergemuruh memekakkan telinga. Sang monster pun akhirnya menangkap Abyad dalam genggaman tangan besarnya.

Ahmar segera bersembunyi di balik sebuah benda yang terbuat dari kayu. Hatinya semakin pilu mendengar jeritan minta tolong sahabatnya itu. “AHMAR! TOLONG AKU!”

Tanpa pikir panjang ia menghambur keluar dengan maksud menantang monster raksasa itu. “Hai, monster jahat! Ini aku! Tangkaplah aku dan siksalah aku, jangan dia!” Sayang, moster itu tidak mendengar suaranya bahkan sama sekali tidak memerhatikannya.

***

Abyad kembali terkurung, tetapi di tempat yang berbeda, lebih dingin dan lebih gelap daripada tempat ia dikurung sebelumnya bersama Ahmar dan keluarganya.

“Kenapa kamu menangis? Kamu tidak sendiri, ada kami di sini,” kata sosok lain di tempat itu.

“Ya, sadarilah bahwa kita memang ditakdirkan untuk dipotong-potong oleh makhluk monster itu,” sahut yang lain. “Kamu hanyalah sebuah bawang putih dan kami hanyalah sekelompok cabai merah dan cabai rawit yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktunya dipotong-potong oleh monster itu.”

“Sekali kita terkurung di dalam plastik ini dan di lemari pendingin ini, masing-masing dari kita hanya bisa berharap monster itu tidak segera mengambil salah satu dari kita.”

“Perkenalkan kami keluarga cabai merah tinggal empat saja. Aku Adom Alef yang tertua, dan ini kerabat jauh kami, keluarga cabai rawit hanya tinggal berdua saja.. Yarok Alef dan Yarok Bet.”

“Selamat datang, walaupun kamu berbeda tetapi kamu kami anggap sebagai bagian dari keluarga ini,” kata Yarok Alef.

“Semoga kamu betah tinggal bersama kami dan tidak diambil oleh monster jahat itu,” sambug Yarok Bet.

Abyad masih gamang. Sudah lama ia kehilangan saudara-saudaranya sesama bawang putih yang satu per satu diambil oleh monster itu. Ia juga baru saja terpisah dari Ahmar, sang bawang merah yang sudah lama dikenalnya. Dan kini ia disambut oleh sebuah keluarga yang tampak menyerah menghadapi keadaan. Sungguh berbeda daripada sewaktu ia dan keluarganya berada bersama-sama keluarga bawang merah yang selalu berapi-api, selalu berusaha untuk membebaskan diri sekalipun pada akhirnya satu per satu berakhir di tangan monster itu. Dalam hati ia hanya bisa berharap, “Semoga kamu baik-baik saja, Ahmar.”

***

Sementara itu Ahmar kelelahan. Ia gagal menarik perhatian monster raksasa itu. Tetapi ia tidak putus asa. Dikerahkannya otak kecilnya untuk berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Abyad. Suasana di tempat itu menjadi gelap. Mungkin matahari sudah terbenam, aku harus segera menngeluarkannya dari tempat itu, pikirnya menghadap sebuah benda raksasa, tempat sang raksasa mengurung sahabatnya.

Kemudian datanglah sosok monster raksasa lain dengan langkah berdebam membawa setumpuk tomat di sebuah tempat pipih. Tomat-tomat berwarna merah ranum bernyanyi meratapi nasibnya dengan nada sendu menyayat hati.

“Kami tidak akan takut
Meskipun kami dibelah dan direbus dalam air panas
Dan kami tidak akan takut
Meskipun hidup kami berakhir sebagai lumatan

Tetapi...
Apakah kesalahan kami sehingga kami harus mengalaminya?
Apakah kesalahan kami sehingga kami takluk di depan mereka?”

Monster raksasa itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, melihat ke bawah ke arah Ahmar yang setengah mati menahan rasa takutnya. Dengan sekuat tenaga ia menyemburkan nafas apinya, yang merupakan senjata alami keluarga bangsa bawang merah, kepada sang monster, hingga raksasa itu mengerang kesakitan karena matanya perih terkena nafas api itu.

Sang monster meletakkan tomat-tomat di atas kotak putih raksasa tempat Abyad berada – yaitu lemari pendingin – sebelum akhirnya pergi berlalu dari situ. Ahmar berseru-seru dari bawah, memanggil para tomat yang kurang lebih berjumlah sepuluh buah itu. “Hai! Jikalau kalian tidak takut mati, untuk apa kalian meratapi nasib seperti itu?”

Tomat-tomat itu pun menjawab dengan nyanyian, “Siapakah gerangan yang berkata-kata itu?”

“Ini aku, sebuah bawang merah, di bawah sini!”

Para tomat pun terlihat bergerak ke tepi dan mendongak ke bawah. “Hai, kamu bawang merah, apa yang kamu lakukan di bawah sana? Apa kamu terlepas dari kelompokmu? Atau para raksasa itu telah membuangmu?”

“Bukan. Aku melarikan diri dari mereka. Aku ingin hidup bebas. Maukah kalian hidup bebas sepertiku? Kita bisa mencari tanah yang baik untuk tempat kita berlindung, mengistirahatkan tubuh kita dan tumbuh sebagai tanaman yang hidup abadi.”

“Wow! Kalau itu sih kami mau, tapi bagaimana caranya?” tanya mereka kembali.

“Bagaimana kalau kalian membantuku dulu untuk....”

Percakapan mereka terputus, dua sosok monster raksasa datang ke ruangan itu dengan langkah yang menggoncang-goncangkankan bumi. Salah satu monster membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebuah bungkusan transparan berisi beberapa cabai dan...

“ABYAAD! ABYAAD! INI AKU!” teriak Ahmar begitu ia menyadari sahabatnya berada si sana.

Dari kantong plastik transparan itu pun Abyad membuka matanya melihat wujud kecil sang bawang merah sahabatnya itu jauh di bawah sana semakin lama wujudnya semakin mengecil.

“AHMAR!” seru Abyad gembira.

“Oh, itukah sahabatmu, si bawang merah itu?” tanya Adom Alef. Abyad mengangguk. Tetapi kegembiraannya itu hanya sementara karena pasti monster-monster ini pasti akan mengakhiri hidupnya bersama para cabai.

Gawat! Mereka pasti akan membunuh Abyad

Ahmar segera berlari mencoba sekali lagi mengalihkan perhatian kepada sang monster. Tetapi sayang sekali, sang monster malah menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah kemudian menggelontorkan air ke dalam wadah itu hingga Ahmar tak sadarkan diri.

AHMAR!” Terdengar suara Abyad tak jauh dari tempat Ahmar terapung tak berdaya di atas air. Di depan mata Abyad, sang monster dengan tanpa ampun menguliti Ahmar dan mencincang tubuhnya di dalam wadah berisi air itu. Perasaannya sangat terpukul dan tak ada hal yang dapat ia lakukan selain menangisi kepergian sahabatnya itu.

“Mari kita balaskan kematiannya kepada monster-monster itu!” sahut Adom Alef kepada para cabai.

Sementara itu para tomat pun telah menyaksikan semuanya, kebiadaban para monster menghabisi nyawa sebuah bawang merah yang baru saja mereka kenal.

“Mari saudara-saudaraku, kita habisi para monster biadab itu demi kebebasan kita!” kata sebuah tomat kepada kelompoknya.

Kemudian para tomat meluncur ke bawah melalui rak piring di sebelah lemari pendingin itu, memecahkan sebagian besar benda pecah belah yang dilewatinya. Kedua monster itu menjadi bingung melihat tomat-tomat bergelindingan jatuh ke bawah menghancurkan piring-piringnya. Para cabai pun tak tinggal diam. Mereka berhasil merobek plastik. Menyerang para monster yang sedang bingung itu dengan menumpahkan botol kecil berisi bubuk merica ke atas lantai sehingga para monster itu menjadi semakin kewalahan karena matanya terkena serbuk merica, berusaha mencari air untuk menghilangkan perihnya.

Setelah itu dengan membabi buta, para monster berlomba-lomba menangkap para tomat dan cabai. Dan akhirnya terkumpullah mereka semua tanpa terkecuali dalam sebuah wadah yang diisi air, bersama potongan-potongan tubuh sang bawang merah. Salah satu monster mengambil alat pelumat yang sangat ditakuti oleh para tomat.

“Tamatlah riwayat kita di alat itu,” jerit para tomat.

Tanpa basa-basi para monster itu memasukkan semuanya ke dalam alat pelumat itu. Dan di depan mata Abyad, sang bawang putih yang sedari tadi meratapi kematian sahabatnya, tubuh para tomat dan para cabai hancur tanpa bentuk di dalam alat itu.

“Selamat tinggal semuanya! Mungkin sebaiknya aku menunggu kematianku saja di tangan mereka.”

Tetapi para monster itu sama sekali tidak menyakiti Abyad. Mereka menyimpan kembali Abyad di sebuah tempat tertutup, di mana dalam kegelapan, Abyad sendirian meratapi nasibnya.


Anindito Alfaritsi (Alfare) | 379 comments BP

-

Pada suatu malam di tahun 1998, lantai dua rumah tetanggaku terlempar ke dunia lain.

Aku sedang berada di rumah sendirian waktu itu. Tidur-tiduran di depan televisi. Sedang ingin tidur, tapi karena suatu alasan, sedang tak bisa. Lalu tiba-tiba saja, aku merasakan semacam ‘perubahan’ aneh di udara.

Agak susah menjelaskannya.

Kau merasakan suatu hal asing yang tahu-tahu hadir. Tapi kau tak tahu apa.

Lalu detik berikutnya—yah, kita sebut saja begitu untuk saat ini—segalanya tahu-tahu berhenti. Detik selanjutnya yang kunanti tidak pernah terjadi. Maksudku, jarum jam dinding di kamar tengah rumahku tiba-tiba saja berhenti berdetak; namun bukan artian jarumnya tertahan akibat baterenya habis atau apa. Benar-benar berhenti. Terpaku di tempat.

Aku masih belum sepenuhnya menyadarinya waktu itu. Tapi waktu, dalam arti sesungguhnya, pada ‘waktu’ itu, benar-benar seakan terhenti.

Tampilan layar televisi yang sedang kutonton tiba-tiba membeku. Gambarnya berhenti bergerak. Begitu saja. Seakan siaran rekaman videonya secara mendadak… sudahlah, kau tahu maksudku.

Kenyataan membekunya tayangan di layar televisi itu tak sebanding dengan kesunyian yang tiba-tiba berlangsung.

Kesunyian itulah yang sebenarnya paling menyeramkan, apa yang mengindikasikan bahwa suatu hal di luar nalar tengah terjadi.

Tak ada pergerakan semut. Tak ada kelebatan ekor cicak. Bahkan, dengungan nyamuk dan kerikan jangkrik pun sirna. Jangankan mereka, bebunyian lalu lintas yang sebelumnya samar-samar terdengar dari ujung jalanan juga sudah tak lagi ada.

Apa yang… baru saja terjadi? Abnormal. Ini semua terlalu abnormal. Suatu keabnormalan yang berada pada tingkat yang takkan sanggup kubayangkan sebelumnya.

Singkat cerita, sesudah satu sesi ketakutan yang agak… enggan kuceritakan, aku menjangkau pisau dapur yang kebetulan ada di atas meja makan, kemudian dengan berderap, aku bergegas ke pintu depan rumah. Aku memutar kunci, membuka selot rantai yang menahannya, bersyukur masih bisa mendengar bunyi derap langkah kakiku sendiri, bersama setiap helaan nafasku yang dalam, lalu aku bersiap untuk menghadapi apapun yang mungkin kutemui di luar sana.

“Tes tes. Satu dua tiga. Tes tes. Aaa. Aaa.”

Aku mencoba bersuara, hanya untuk sekali lagi memastikan kalau aku masih bisa mendengar.

Bagus, dengan begini, tanda-tanda adanya bahaya masih bisa kurasakan.

Kemudian akhirnya, pintu depan rumahku aku buka.

Tapi sunyi, sepi.

Tetap tak bisa kudengar apa-apa selain segala sesuatu yang berasal dari diriku sendiri. Sekali lagi, tak ada deru mesin mobil yang biasanya mudah kudengar dari kejauhan. Sekali lagi, tak ada derik jangkrik atau serangga. Bahkan udara terasa stagnan. Tak ada angin yang berhembus.

Aku mengernyit. Pemandangan dari teras tempat aku berdiri secara garis besar masih sama.

Dengan takut-takut, aku melangkah keluar dari teras rumah. Kemudian barulah aku menyadari ganjilnya warna langit malam yang bernaung tinggi di atasku. Memandang sekeliling, akhirnya aku melihat penyebab anehnya warna di langit itu.

Ada semacam portal. Sesuatu yang nampaknya tercipta dari salah satu kamar di lantai dua rumah tetanggaku. Semacam portal yang memancarkan sebilah tiang cahaya yang terpancang lurus hingga ke langit.

-

Apa yang terjadi selanjutnya relatif lebih sukar kuceritakan.

Satu hal, yang pastinya mesti kusebutkan: aku mengenal keluarga tetangga yang berdiam di sebelah rumahku itu. Cuma, hubungan yang ada di antara kami saat ini mungkin bisa dibilang agak rumit. Tapi soal kenapa portal itu bisa ada, dan soal kenapa hal seperti ini bisa-bisanya terjadi, seperti orang normal kebanyakan, aku, pada waktu itu, sama sekali benar-benar tak punya bayangan.

“Di dunia ini, masing-masing dari kita berdiri sendiri-sendiri.”

Berdiri sendiri-sendiri?

“Kita tidak lagi tergantung oleh hadir atau tidaknya orang lain.”

Hadir-tidaknya orang lain?

“Toh, lagipula, tak ada orang lain di dunia ini lagi selain kita bertiga.”

Itu… persis dengan apa yang baru saja kutakutkan.

“Karena kita bertiga sama-sama telah mendapatkan kemuliaan untuk mencicipi Obat Dewa.”

Perlu sedikit waktu bagiku untuk mencernanya. Tapi Obat Dewa yang dimaksudkannya belakangan kusadari tak lain adalah Blue Pis.

Ada semacam obat baru yang sedang beredar di lingkunganku belakangan itu. Gosipnya, obat itu merupakan produk percobaan dari sebuah perusahaan farmasi ternama untuk meningkatkan kinerja sistem kekebalan tubuh. Ada beberapa apotek membagikannya secara cuma-cuma dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dulu. Intinya, kami yang mencobanya dijadikan semacam subjek-subjek sukarela untuk pengujian obat. Obat tersebut bernama Blue Pis.

Bagaimana peredaran obat tersebut bisa terhubung dengan apa yang kemudian kulihat di pintu masuk kamar di lantai dua rumah tetanggaku itu, itu fenomena yang benar-benar agak di luar nalar.

Aku berdiri, dengan kecemasan yang seiring waktu perlahan berubah menjadi ketidakpastian.

Apa yang sedang terjadi? Apa yang saat ini berlangsung benar-benar sedang terjadi? Bagaimana nasib orang-orang yang lain? Segala pertanyaan yang sebelumnya menyeruak di dalam kepalaku kini tertahan, karena pemandangan isi kamar itu sudah tidak lagi sama dengan apa yang sebelumnya kukenal.

Andina dan Ikram.

Aku sudah mengenal kedua kakak beradik itu semenjak lama. Ada lumayan banyak anak lain yang dulu tinggal di seputaran kompleks tempat kami dulu biasa bersepeda. Tapi cuma Andina dan Ikram yang… pada akhirnya, kukenal dekat secara benar-benar pribadi. Mungkin karena rumah kami bersebelahan? Tapi sebentar, kalau tak salah, dulu memang pernah terjadi sesuatu yang mendekatkan kami. Semacam insiden. Hanya saja, aku sudah tak lagi mengingat persisnya apa. Mungkin karena memang hal tersebut tak pernah benar-benar penting?

Bagaimanapun, saat kami sama-sama beranjak remaja, hubungan di antara kami mulai agak merenggang. Alasannya terutama karena kami melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda-beda. Tapi, maksudku, mungkin itu pada akhirnya tak lebih dari sekedar alasan. Aku, atau kami semua, mungkin memang sama-sama jadi tidak lagi tertarik untuk meluangkan waktu bersama satu sama lain. Bagaimana ini bisa terjadi? Entahlah. Mungkin kau hanya… terlalu terbiasa dengan keberadaan mereka. Merasa bahwa mereka sesuatu yang tak lagi signifikan dalam kehidupanmu. Bosan, kau akhirnya, secara bawah sadar, merasa tak ada ruginya jika mereka dibuang saja.

Aku tak sepenuhnya merasa bersalah akan hal ini. Tapi belakangan kerap kupertanyakan kembali apa semestinya aku merasa bersalah.

Sebab, kenyataannya, akibat hal ini, Ikram entah bagaimana jadi berhubungan dengan sejumlah orang tak dikenal lewat teknologi internet yang baru-baru itu sedang berkembang. Kemudian entah bagaimana, seperti yang kulihat langsung pada malam itu, dirinya kemudian membukakan sebuah portal ke dunia lain.

Kupikir, seringnya kami bertemu dan berpapasan di jam-jam yang kurang lebih sama, membuat mereka, bagiku, takkan benar-benar pernah menjadi orang asing. Aku selalu mengganggap mereka semacam kerabat. Setidaknya selama ini aku berpikir demikian!

Tapi… apa mungkin sebenarnya ada kesalahan besar yang jadinya kuperbuat? Sebuah kesalahan besar yang bahkan tak kusadari telah aku lakukan?

“Kekuatan portal memang mempengaruhi persepsi orang terhadap realita.”

Demikian Ikram menjelaskan saat aku dengan separuh ragu bertanya apakah dua sosok yang kulihat di hadapanku sekarang sungguh-sungguh adalah mereka berdua. Pisau dapur yang kubawa dari rumah sama sekali tak berani kulepas dari genggaman, sekalipun apa yang tengah kulihat membuat sekujur tubuhku gemetar hebat.

“Yang kamu lihat sekarang tak lain adalah wujud sekelilingmu secara astral. Maknawi! Kandungan segala jiwa yang sungguh-sungguh memiliki arti!”

Ada sesuatu yang… berbeda pada diri Ikram dari saat terakhir aku melihatnya sebelum ini. Bentuk tubuhnya sama. Tapi… bahasa tubuhnya? Raut wajahnya? Aku tak yakin. Aku merasa ada sesuatu pada dirinya yang berbeda. Tapi setiap kali pikiranku mencoba mematikannya, aku tak pernah benar-benar bisa yakin. Rasanya seperti, aku turut jadi mempertanyakan keabsahan ingatanku sendiri.

Hal serupa juga terjadi saat aku menatap sosok Andina.

Ada sesuatu pada diri mereka yang rasanya tak semestinya.

Tapi sesuatu itu apa?

Kamar Ikram yang kumasuki tersebut, pastinya, terlihat jauh berbeda dari yang terakhir bisa kuingat. Ada komputer. Terpasang, dan menyala—sungguh-sungguh menyala, tak ‘membeku’ seperti layar televisiku di rumah—dengan sedikit menakutkan, di atas meja. Terlihat canggih. Benakku tak bisa tak bertanya: sejak kapan dia punya komputer? Sebab dari komputer tersebut, berjuntaian kabel-kabel dalam jumlah tak terhitung. Terjulur ke segala arah. Tersebar di lantai. Terpaku dengan jepit-jepit penahan berbentuk ‘u’ di dinding. Di antara buku-buku di atas lantai dan rak. Naik ke atas, seakan hidup dan membeliti lemari di bawah pencahayaan kamar yang remang-remang. Seakan berusaha menyembunyikan pola kertas dinding yang melapisi tembok-tembok kamar.

Komputer itu seperti monster.

Perlu kusebutkan, sebelum kemari, aku sempat mencoba menyalakan satu per satu lampu dari kamar-kamar di rumahku yang sebelumnya kubiarkan gelap. Tapi setiap saklar yang kutekan tak ada satupun yang menyala. Sebagian diriku sempat coba merasionalisasi: mungkin aliran listrik ke rumahku tengah mati? Tapi kemudian kuingat sebagian lampu yang kubiarkan menyala masih tetap menyala, dan segera kusadari lampu-lampu tersebut yang justru tak bisa kumatikan.

Apa ini? Apa yang sedang terjadi?

Sebab bukankah… waktu tengah berhenti?

Aku memandang Andina. Aku berharap Andina bisa memberiku jawaban. Tapi apa gadis yang berada di hadapanku sekarang sungguh-sungguh adalah Andina? Kenapa benakku tak bisa sepenuhnya yakin? Kenapa?

Apa ada sesuatu yang salah dengan ingatanku? Apa memang sudah selama itu semenjak kali terakhir kami bertemu?

Sosok Andina yang ada di hadapanku memang mirip Andina. Tapi dirinya tampak terlalu sempurna. Seperti boneka. Terlintas dalam benakku, kilasan-kilasan ingatan akan teman sepermainan lamaku yang suka bermain masak-masakan dan rumah-rumahan. Andina yang selalu jadi yang paling lambat dalam mengayuh sepeda. Andina yang lambat laun mulai kehilangan minat soal apa yang aku dan Ikram perbuat. Andina yang sama pula dengan yang pada suatu titik, sepertiku, lambat laun mulai merasakan, akan betapa kakak lelakinya adalah orang yang terlampau biasa.

Insignifikan.

Sekalipun yang dibicarakan di sini tak lain adalah kakak lelakinya sendiri.

Tapi sebelum aku sempat berpikir lanjut tentang hal ini, Ikram, dengan kilatan cahaya entah-dari-mana menghiasi kacamatanya, mulai menyampaikan penjelasannya tentang apa-apa yang sedang terjadi.

Meski, penjelasannya tersebut, terus terang saja kuakui, sebenarnya masih tak menjelaskan cukup banyak hal.

Daftar kata-kata yang berhasil kutangkap darinya adalah sebagai berikut.

‘Dunia yang lama akan binasa.’

‘Dunia yang baru akan diisi oleh kita.’

‘Di dalam kata-kata, terkandung kekuatan.’

‘Kekuatan memudar, seiring berlangsungnya waktu dan berlalunya zaman.’

‘Kekuatan selalu terisi ulang setiap kali zaman berganti.’

‘Ada Nabi yang telah memberikanku kata-kata pengganti.’

‘Ada Nabi yang telah memberikan ‘hak pilih’ kepadaku.’

‘Obat Dewa.’

‘Blue Pis.’


Anindito Alfaritsi (Alfare) | 379 comments (Memandang lagi ke belakang, pada titik ini, aku tak bisa tak berpikir kalau meskipun aku tak hidup di tahun 1960an, mungkin aku akan tetap bisa mengenali seorang hippie seandainya aku berkesempatan untuk melihat salah satunya secara langsung. Tak ada perwujudan yang lebih pantas untuk kata ‘hippie’ melebihi Ikram.)

‘Blue Pis-lah yang akan menentukan segala-galanya.’

‘Hak pilih’ kugunakan buat aku, kamu, dan Andina.’

‘Mulai detik ini, kita bertiga akan bersama-sama menyongsong dunia baru.’

Sewaktu mendengar tentang Blue Pis, daripada obat suplemen, aku membayangkannya sebagai obat penenang. Kukira ditulisnya ‘Peace’ dan bukannya ‘Pis’. ‘Kedamaian.’ Tapi dengan ejaannya yang sebenarnya, ‘Pis’, aku tak bisa tak merasa kalau namanya mengingatkanku akan kata ‘piss’ yang berarti ‘kencing’.

Maksudku, yang ingin kukatakan di sini… apa alasannya sesuatu yang disebutnya Obat Dewa seperti ini dinamakan sebagai sesuatu seperti ini!

Lalu Andina! Ini benar Andina, ‘kan? Dia… dia jadi cantik. Tapi kenapa tatapannya kosong seperti begini? Kenapa dia belum bicara sepatah kata pun tentang hal ini?

Lalu ke mana pula orang-orang lain? Para penghuni kompleks ini yang lain? Bagaimana mungkin mereka semua bisa seakan lenyap begitu saja secara sekaligus tanpa jejak?

“Sudah kubilang, kita bertiga ‘kuangkat’ menuju dunia baru! Kau semestinya merasa terhormat! Sesudah bertahun-tahun pengabaian yang kau lakukan, kau kira mudah bagiku untuk memberimu begitu saja kehormatan ini?”

Mata Ikram melotot dan air liurnya sampai tersembur. Dia tak lagi terlihat seperti hippie. Kini, dia terlihat gila.

“Makanya, ini semua takkan gratis! Ada ujian yang masih mesti kau tempuh!” lanjutnya, dengan suara meraung dan tungkai tubuh bergerak-gerak liar.

Tanpa sadar aku melangkah mundur. Kakiku yang gemetar nyaris tersandung oleh kabel-kabel besar yang memenuhi seisi kamar.

“Cicipilah, sekali lagi, Obat Dewa!”

Dia menyodorkan padaku segenggam kaplet Blue Pis.

“Namun kali ini…” Dia mendekatkan kembali genggaman itu ke rahangnya, seakan hendak menegaskan ucapannya. “…yang potensinya telah sempurna!”

Sempurna? Ap-apa yang dibicarakannya?! Ini semua gila!

Serius, ke mana semua orang? Bagaimana caranya dia melakukan semua ini? Eksperimen fisika macam apa yang sebenarnya telah Ikram lakukan?!

Apa… apa mungkin dia telah melakukan sesuatu pada Andina?

“Kedudukanmu bisa kuterima, dan segala dosamu bisa kuampuni, karena kaulah satu-satunya… satu-satunya! …orang yang bisa kusebut teman.”

Aku ternganga.

“Karena itu, makanlah!”

Di ruangan remang yang kini hanya diterangi cahaya monitor yang berpendar itu, aku tak bisa berbuat lebih selain ternganga.

“Makanlah! Ini ujiannya! Kalau warnanya berubah merah di mulut, itu tandanya kau bisa tetap ada! Kalau berubah putih, itu tandanya kau mesti tiada! Seperti kebanyakan sampah lain yang ada di muka bumi iniii!”

Jantungku berdebar sedemikian kencang saat aku menyadari, bahwa entah bagaimana, entah dengan cara apa, Ikram telah membinasakan (meniadakan?) seluruh orang yang ada di dunia. Dirinya, dengan suatu cara, telah berhasil membinasakan seluruh umat manusia. Tapi kini dirinya menahan apapun yang tengah diupayakannya, semata-mata untuk memberikan satu ujian ini untukku.

Salah. Ini salah.

Aku, dipojokkan oleh panik dan rasa takutku, berpikir untuk menusuknya di tempat dengan pisau dapur yang masih kubawa saat itu juga. Tapi kemudian Ikram berkata kalau aku akan punya hak penuh atas dunia yang baru. Sementara dirinya berpindah ke ‘eksistensi lain yang lebih tinggi lagi’, aku dipercayakannya untuk menciptakan umat manusia baru bersama Andina, dan aku goyah.

Hingga kini, aku masih tak bisa percaya kalau aku goyah.

Tapi, mengingatnya lagi sekarang, memang apa yang bisa aku lakukan?!

Mungkin memang keputusanku lebih dilandasi oleh hawa nafsuku saat aku melihat betapa indahnya Andina pada malam itu. Tapi jika aku memilih sebaliknya pun, bukannya tetap tak ada yang bisa kuperbuat? Hingga kini saja, saat aku berkesempatan mengkaji semuanya kembali secara jernih, aku masih belum berhasil mengetahui apa persisnya yang Ikram lakukan pada malam itu. Jika aku tusuk Ikram saat itu, apa aku akan tahu cara mengembalikan segalanya menjadi seperti semula? Soal semua orang yang hilang. Soal kedua orangtuaku sendiri. Soal portal ini dan lainnya. Apa iya, pengetahuan tentang itu semua semata-mata didapatkannya dari Internet?

Tak masuk akal. Segalanya, sampai akhir, benar-benar tak masuk akal.

“Makanlah! Ayo makan! Merah, kau lulus. Putih, kau sama saja seperti yang lainnya! Tapi pikirkanlah! Pikirkan keberkatan macam apa yang akhirnya akan bisa kau peroleh!”

Ikram kembali menyodorkan kaplet-kaplet Blue Pis itu kepadaku.

Saat itu, baru terpikir kalau dalang di balik penyebaran obat ini mungkin tak lain adalah Ikram sendiri. Bagaimana anak remaja seusiaku seperti dirinya bisa sampai memasarkannya lewat apotek, juga masih jadi sesuatu yang gagal kupahami hingga saat ini.

Tapi aku yang lemah, aku yang galau soal apa yang ingin kulakukan dalam hidup, aku yang resah oleh keadaan orangtuaku yang setiap hari mengeluh soal betapa kurangnya uang kami untuk membiayai ini-itu—sementara ada banyak orang lain yang lebih menderita dan kesusahan di luar sana, tak bisa tak tunduk.

“Jawaban di dalam dirimu akan segera diungkap.”

Saat aku menelan salah satu kaplet biru itu, Ikram dengan menyeringai menyodorkan sebuah cermin kecil ke arah mukaku, agar aku bisa melihat sendiri perubahan warna kaplet itu begitu menyentuh lidahku.

Pada saat itu barulah aku bertanya-tanya apakah Andina menjadi seperti itu karena dipaksa menelan kaplet ini juga. Kalau memang benar begitu, kira-kira warna apa yang akhirnya didapatnya?

Merahkah? Karena sosoknya masih di sini dan Ikram celoteh soal bagaimana aku bisa memilikinya, berarti merah ‘kan? Tapi, bila merah sekalipun, bukankah itu berarti aku… hanya akan berakhir seperti dirinya? Kosong, seperti dirinya? Makhluk hidup dengan jantung masih berdetak tetapi sudah tidak lagi bernyawa?

Namun, saat kengerianku memuncak tersebut, kulihat melalui cermin kalau kaplet yang kutelan ternyata tak berubah warna menjadi putih ataupun merah.

Kaplet itu berubah warna menjadi krem kecoklatan.

-

Apa yang terjadi?

Itulah pertanyaan pertama yang kuajukan saat aku terbangun keesokan hari.

Ada keramaian di kompleks perumahanku. Orang-orang bilang sesuatu telah terjadi di rumah yang letaknya di sebelah rumahku.

Seluruh lantai dua di bangunan rumah itu lenyap, seakan terlepas dan terbawa melayang oleh putting beliung. Namun anehnya, rumah-rumah lain di sekitarnya tak menderita kerusakan sama sekali.

Hanya dalam waktu semalam.

Lalu, yang paling mencengangkan, dan yang paling membuat kedua orangtuaku prihatin, di dua tempat berlainan di lantai dasar, ada mayat yang ditemukan. Salah. Maksudku, jenazah.

Dua orang. Orangtua Andina dan Ikram.

Kondisi keduanya… dalam hal ini, kondisi dari apa yang masih tersisa dari keduanya, benar-benar menyayat hati. Ada… semacam hewan buas, entah berwujud apa, yang kabarnya melahap jenazah keduanya sesudah mereka mati--wafat. Hewan buas yang jejaknya, hingga kini, masih belum juga ditemukan. Suatu kenyataan yang menimbulkan kengerian dan menjadi landasan berbagai cerita seram yang diskeptiskan masyarakat selama bertahun-tahun ke depan.

Aku tahu semua itu dari hasil otopsi yang dilakukan pihak-pihak berwenang. Bukan syok akibat kehabisan darah yang menewaskan keduanya, melainkan kerusakan organ vital akibat luka tusukan di badan yang ditemukan pada diri mereka.

Senjata yang terduga? Pisau berlumuran darah yang ditemukan di tempat kejadian.

Pisau yang segera kukenali sebagai pisau dapur keluargaku sendiri, yang kubawa bersamaku ke sana pada malam itu.

Aku tak tahu. Aku tak tahu bagaimana sidik jari yang semestinya ada di gagangnya bisa terhapus semudah itu.

Aku juga tak tahu dari mana monster yang melahap jenazah keduanya berasal. Mungkin… mungkin itu semacam monster yang didatangkan Ikram dari dunia lain?

Aku tak pernah bercerita soal apa yang terjadi pada malam itu pada siapapun.

Soal Ikram… dia menghilang. Sosoknya tak pernah lagi ditemukan. Pertemuanku dengannya pada malam itu, setelah sekian lama kami tak kontak, ternyata merupakan pertemuan terakhir yang pernah kulakukan dengannya seumur hidup. Dia yang berniat membuat semua orang menghilang, ironisnya menjadi orang hilang satu-satunya dalam kasus ini.

Andina? Dirinya ditemukan di ruangan lain. Masih hidup. Tak terluka. Tapi nampaknya menderita semacam trauma syok berat. Sebab saat terbangun, Andina telah kehilangan segala ingatan soal siapa dirinya ataupun hal terakhir yang sedang dilakukannya.

Jadi tak ada jawaban apapun pula yang bisa kukorek dari dirinya.

Segalanya telah berakhir. Tapi hingga kinipun, setiap kali melihatnya, apalagi bila memandang wajah cantiknya saat ia bermain bersama anak-anak kami seperti sekarang ini, aku tak bisa terus bertanya-tanya tentang apa maksudku yang sebenarnya.

Kenapa aku menikahinya? Apa aku sungguh-sungguh mencintainya? Apa aku tak hanya memanfaatkannya di saat ia dalam keadaan kehilangan, karena telah terlanjur terpikat oleh tubuhnya pada malam itu?

Tak pernah ada perempuan lain yang bisa kupandang selain Andina sesudah malam itu. Di sisi lain, tampaknya tak ada lelaki lain yang bisa diterima Andina pula melebihi aku, yang telah terlanjur memiliki start awal dibandingkan seluruh orang lain di dunia untuk memperoleh dirinya.

Konyolnya, Blue Pis pun hilang dari peredaran. Dan saat kuperiksa kandungan dari kaplet-kapletnya yang masih tersisa, isi semuanya sama: cuma gula dan nutrisi suplemen.


message 25: by Blanches (last edited Sep 08, 2012 03:27AM) (new)

Blanches Jeanne (gablessmember) | 6 comments It's just a dream..
---
Aku terbangun tiba-tiba malam itu. Peluh dingin bercucuran membanjiri dahi dan leherku. Kurasakan jantungku berdebar-debar membentur rusukku.

Mimpi itu lagi. Sial.

Entah bagaimana mimpi itu terasa begitu nyata bagiku. Walau hanya sedikit gambaran berkabut yang aku ingat, tapi aku dapat merasakan rasa sakit yang begitu hebat dalam hatiku seakan mimpi buruk itu benar-benar terjadi.

Aku menutup mata sambil mencoba untuk menenangkan nafasku.

Tenang, itu cuma mimpi. cuma mimpi, kataku berulang kali.

Hari masih malam dan angin yang membekukan tulang berhembus kencang lewat jendela yang terbuka. Aku ingat menutupnya sebelum tidur.
Mungkin angin yang membukanya, pikirku. Aku turun dari tempat tidur, dan menutup jendela. Kali ini memastikan sudah menutupnya dengan benar.

Tertidur di sebelahku, kulihat adikku tenggelam dengan tenang dalam mimpinya. Tubuhnya naik turun berirama seiring nafasnya yang lembut. Selalu seperti itu. Mimpi apa yang dialaminya sehingga ia bisa selalu setenang itu?

Aku ingin membangunkannya. Menceritakannya tentang mimpi burukku malam ini. Dan malam sebelumnya. Dan malam-malam yang lainnya juga. Semua mimpi buruk yang selalu ku alami sepanjang hidupku sejak aku bisa mengingatnya. Semua mimpi yang hampir selalu sama walau aku tak dapat mengingatnya.
Sama buruknya.

Tapi wajahnya begitu tenang. Jadi aku hanya memandanginya. Rambutnya yang pirang dan hampir menyerupai putih terurai lembut menutupi wajahnya. Dengan lembut kusingkirkan rambut-rambut itu. Lalu kubelai rambutku sendiri. Beberapa helainya jatuh ke tanganku. Merah. Warnanya begitu merah hingga hampir menyerupai darah.

Mengapa kami terlahir kembar namun begitu berbeda? Pertanyaan itu kembali muncul dikepalaku tanpa disadari. Kenapa?

Lalu kilasan mimpi-mimpi kembali berkelebat di benakku.
Hanya satu hal yang bisa kuingat dalam mimpiku. Ada seorang gadis kecil. Gadis yang sama setiap malam. Gadis itu berbaju biru dengan rambutnya yang pirang kecoklatan. Dan entah bagaimana, aku tahu gadis itu jahat. Gadis itu akan menyebabkan bencana besar untukku dan adikku. Aku mencoba mengingat dimana aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi sekeras apapun aku mencoba, tidak satupun ingatan yang muncul dibenakku.

Aku mencoba mengenyahkannya.
Itu cuma mimpi, cuma mimpi, kataku berulang-ulang.

Aku kembali berbaring sambil menutup mataku kuat-kuat. Mengulangi kata-kata yang seharusnya membuatku merasa lebih baik. Mengulanginya hingga aku kembali terlelap dalam tidur tanpa mimpi.
***

"Boleh aku ikut? Kumohon..kumohon..hanya sekali ini!" Adikku terus saja merengek untuk ikut berburu bersamaku hari ini.

"Kenapa kau ingin sekali ikut hari ini, Mirana? Aku mungkin akan pergi ke bagian hutan yang lebih jauh hari ini."
Memang benar. Musim dingin akan tiba dalam hitungan minggu dan para hewan mulai memasuki bagian dalam hutan untuk mempersiapkan tidur panjang mereka tahun ini.

"Tak masalah!" jawabnya mantap. " Aku sudah mempersiapkan semuanya.Sepatu boot, makanan, minyak untuk lampu..." Ia memeriksa ulang barang-barang dalam keranjangnya.

" Kau bisa terluka ,kau tahu. Hewan-hewan itu jadi semakin buas dan lapar akhir-akhir ini. Mereka butuh persediaan untuk tidur mereka. dan..."

Aku terdiam. Beberapa kilasan hutan berkelebat dalam benakku. Entah mengapa pikiranku mengatakan untuk tidak mengajak Mirana masuk kedalam hutan. Namun aku sama sekali tidak bisa memberikan alasannya.

"Dan... dan apa, irabeth?" tanya Mirana bingung.

"Dan...dan siapa yang akan menjaga kucing jelek itu?" Kataku menunjuk kucing kurus berwarna belang-belang yang sedang menjilati bulu-bulunya yang sudah rontok dimana-mana. Seakan tahu aku menebutnya jelek, kucing itu melihat sinis padaku sambil menunjukkan taring-taring kecilnya. Adikku selalu bilang kucing itu seperti sedang tersenyum lebar, tapi aku tahu itu ucapan perang karena ia mendesis keras padaku.

"Oh, ayolah..sejak kapan kau peduli pada strip?"

"Memang tidak. aku cuma peduli pada tikus-tikus di rumah kita yang malang," jawabku sarkastis.

" Ayolah hanya sekali ini..Irabeth.Kau akan menjagaku kan? Seperti yang selalu kau lakukan.." ia memakai wajah memelasnya padaku.

Aku menghela nafas menyerah, " Cepat ambil jubahmu."
***

Seperti dugaanku, para hewan telah masuk jauh ke dalam hutan. Aku mengutuki diriku sendiri karena tidak menangkap lebih banyak pada perburuan sebelumnya. Jika kami sampai tidak mendapatkan persediaan selama musim dingin yang panjang, hanya akan ada bubur jagung selama tiga bulan yang panjang itu.
Bubur jagung, aku mendengus. Hal terakhir yang ingin kumakan setelah daging burung pelatuk.

Aku dan Mirana berjalan selama 3jam sebelum akhirnya beristirahat sejenak. Sepanjang jalan kami memasang beberapa perangkap sederhana untuk hewan. Berharap jikapun perburuan ini tidak berhasil, setidaknya dalam perjalanan pulang kami akan menemukan ada binatang yang tersangkut.

Berjalan tanpa berhenti selama tiga jam membuat otot-ototku memar. Kulihat Mirana berjalan teresok-esok walau tidak satupun kata keluhan keluar dari mulutnya. Ia tidak terbiasa berjalan sejauh ini.

Kami beristirahat di bebatuan dekat sungai dan mengeluarkan perbekalan kami.

"Kau tahu, jika ayah dan ibu masih hidup.. mereka akan sangat bangga padamu." katanya sembari melanjutkan mengigit rotinya.

Ayah?Ibu? aku terdiam sejenak. Bayangan samar-samar dalam otakku menunjukkan sepasang suami istri. Namun aku sama sekali tak dapat melihat wajah mereka.
Orang tuaku? Orang tua kami? Kenapa aku tidak dapat mengingat mereka?

Bisikan keras Mirana membuyarkan lamunanku.
"Lihat! lihat!" ia menunjuk ke bawah salah satu pohon. Aku mengikuti arah pandangannya.

Kelinci.

Kelinci yang sangat besar. Bulunya begitu putih dan matanya berwarna merah darah. Kelinci itu sedang asik menikmati rumput di bawah pepohonan sehingga tidak sadar akan kehadiran kami. Aku mengambil busurku perlahan. Ia masih dalam jarak tembak.

Aku baru saja mengatur anak panahku saat melihatnya. Sesuatu tergantung pada leher kelinci itu. Sebuah kalung kecil berwarna keemasan. Aku memincingkan mataku untuk melihat benda apa itu. Sebuah jam. Untuk apa kelinci itu memakai jam?

Sebentar.. kelinci dengan jam..Mengapa hal itu terasa familiar di benakku.

"Apa yang kau lakukan Irabeth? cepat tembak!" bisik Mirana.

Aku kembali tersadar lalu mengarahkan panahku tepat ke arah perutnya. Dengan kelinci sebesar itu, satu panah dan kami bisa pulang, pikirku.

Tiba-tiba saja kelinci itu berbalik dan memandang tepat kearahku. Ia seakan terkejut dan tersadar akan bahaya yang tengah mengancamnya. Dalam hitungan detik kelinci itu langsung melompat masuk ke dalam hutan.

" Sial!" teriakku. Dengan cepat aku mengejarnya masuk ke hutan.

" Kak! Tunggu aku!" suara Mirana samar tedengar semakin menjauh.

Tak ada waktu pikirku. Aku harus mendapatkan kelinci itu atau kami akan kelaparan sepanjang musim dingin.

Dengan kecepatan penuh aku berlari mengejar kelinci itu. Tapi entah bagaimana ia selalu satu langkah didepanku.

Kurasakan kakiku mulai lecet akibat terus tergesek rumput yang kasar. Aku terus memaksa berlari hingga tersandung oleh sebuah akar pohon yang menghentikan langkahku. Kurasakan darah mengalir di lututku.
sial, gerutuku dalam hati.

"Hahaha..kau terluka lagi?"

Suara itu mengejutkanku. Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya. Seorang gadis kecil berambut pirang kecoklatan sedang menatapku sambil menahan tawa.
Gadis itu.
Gadis yang selama ini menghantui mimpi-mimpiku. Api kebencian yang entah asalnya dari mana langsung membakarku.

"Kau.."

"Mari kubantu," ia mengulurkan tangannya.

Kutepis tangannya dan mencoba berdiri sendiri. Dengan cepat kuambil busurku dan kuarahkan padanya, Namun ia tetap berdiri dengan tenang sambil melipat tangannya seakan tidak peduli.

"Siapa kau dan apa maumu?" kataku keras.

"Kau tidak ingat aku? Kita pernah bermain catur bersama.. kau ingat?" ia tersenyum mengejek.
"Aku selalu mengalahkanmu."

Aku tetap mengarahkan busurku ke arahnya.
"Dengar gadis kecil, aku tahu siapa kau sebenarnya. Dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu," sahutku lantang.

"Namaku Alice. Bukan gadis kecil. Dasar rambut merah," sahutnya sambil berkacak pinggang.

Alice. Nama itu terasa familiar dan menimbulkan kebencian yang lebih lagi dalam hatiku.

"Dimana adikmu?" tanyanya.

Samar-samar, aku mengingat peristiwa ini. Seakan aku sudah pernah mengulanginya sebelumnya.

Mimpi itu.

Lalu aku tersadar. Semua ini persis seperti yang ada di mimpiku. Gadis ini menginginkan adikku.

" Jauhi adikku. Kuperingatkan kau!" aku mengencangkan busurku siap menembak.

Ia terdiam sejenak menatapku.

"Aku membutuhkan adikmu," ia tiba-tiba bersikap serius.

"Istanaku memerlukan seorang ratu."

Tidak..aku tidak akan membiarkannya. Tidak lagi. Gadis ini tidak boleh mengambil adikku.

"Sudah lama ratuku pergi. Sekarang istanaku mebutuhkan seorang ratu," ia berjalan mendekatiku.

Sekarang. suara dalam benakku berkata.

Aku harus menembaknya sekarang.
****


message 26: by Blanches (last edited Sep 08, 2012 03:23AM) (new)

Blanches Jeanne (gablessmember) | 6 comments ***
Kejadiannya berikutnya berlangsung dalam hitungan detik ,namun aku dapat melihat semuanya dengan jelas seperti gambar yang telah diputar berulang-ulang dalam benakku.

Aku dapat melihat setiap langkah adikku saat melindungi gadis itu. Aku dapat melihat bagaimana panahku tepat tertancap di dadanya. Aku dapat melihat saat tubuhnya ambruk seketika dan tidak bergerak sama sekali setelahnya. Aku dapat melihat saat aku berlari ke arah adikku dan memeluknya dengan erat.Aku dapat melihat saat gadis itu masuk kembali ke dalam hutan sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku karena telah memberikannya seorang ratu.
***

Kurasakan duniaku masih berputar dalam rasa sakit yang tidak tertahankan.

Kau gagal lagi, kata suatu suara dalam benakku. Untuk kesekian kalinya aku gagal menyelamatkan adikku.

Aku masih mendekap tubuh adikku yang kaku saat sebuah tangan menyentuhku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat seorang pria. Ia memakai baju besi khas ksatria yang bergemerincing setiap kali ia berjalan. Di salah satu matanya terdapat penutup mata berwarna merah untuk menutupi matanya yang buta.
Aku mengenalnya.
Javier.

"Sudah waktunya, ratuku.." Ksatria itu mengulurkan tangannya padaku.
Aku menggeleng dan mengacuhkan tangannya.

"Tidak.. kumohon..satu kehidupan lagi. Hanya satu kehidupan lagi," aku mendekap adikku dengan erat. Mataku terasa panas membara.

"Waktu kita sudah habis.. gerbang mimpi akan tertutup sebentar lagi. Kita dapat terjebak dalam dunia mimpi selamanya jika tidak bergegas," katanya.

"Kumohon.." aku tidak dapat menahan air mataku. "Aku masih bisa menyelamatkannya. Ia masih bisa kembali."

Javier lalu duduk disebelahku dan memandang mataku. Ia mengusap air mataku dengan lembut.

"Tidak,ratuku.. ini pilihannya. Adikmu lah yang memilihnya. Untuk melindungi gadis bernama Alice itu, ia mengorbankan dirinya. Bahkan dalam dunia mimpipun, kau tak dapat mengubah kenyataan itu."

"Tidak, ia tidak meninginkan hal ini. Apa itu kenyataan? Apa itu mimpi?"

"Ia telah menjadi ratu di istana putih Alice. Di dalam mimpi Alice. Kalian memang telah ditakdirkan memerintah istana yang berbeda. Kini kembalilah ke istanamu sendiri, ratu merahku. Bangunlah dari mimpimu." ia lalu memelukku. "Kau masih memilikiku."

"Tidak. Satu kehidupan lagi." aku berkeras.
"Satu mimpi lagi.."
****

Aku tersentak dari tidurku. Nafasku saling memburu. Lagi-lagi mimpi buruk, pikirku. Mimpi dimana adikku harus mati di tanganku. Keringat membasahi seluruh tubuhku. Kurasakan tubuhku bergetar hebat. Sudah berapa kali aku bermimpi seperti ini?

Aku merasakan gerakan kecil disampingku. Dengan lega kulihat adikku masih tertidur disebelahku dengan tenang. Kusentuh rambutnya, lalu perlahan adikku terbangun dari tidurnya.

"Ada apa,kak?" katanya setengah tertidur sambil menyentuh lenganku.

"Aku bermimpi sangat buruk. Aku kehilangan dirimu," kataku membelai rambutnya.

"Tenanglah, kak," katanya sambil kembali menutup matanya.
"Itu cuma mimpi..itu cuma mimpi.."
***


Dini Afiandri (Dresco_Alcione) | 314 comments Asylluminoid

“Rave, tahu nggak? Hari ini Alcy sedang sangat benci gargoyle, terutama di talang air sebelah utara. Hm, terus... Rasanya angin di sini semakin membekukan. Aku ingin sekali pindah ke Venice sebelum salju turun dan membuncah. Lalu—”

Sweetheart, aku tahu apa yang hendak kau perbincangkan. Mengapa di Dome ini kau masih bergunjing hal yang tak perlu? Jujur, aku amat cemburu.... Ravealle menghembuskan nafas panjang ke udara subuh negara Italia. Nafasnya mengembun, seperti paru-parunya yang terlalu lama membara dendam akan sebuah kesepian. Gadis kecil di sampingnya terus meracaukan kecemasannya pagi itu. Barangkali karena mereka belum sarapan. Jam menunjukkan pukul 3.30 AM. Rave tak memiliki arloji tapi ia tahu. Sama halnya seperti Dome Presbyterian ini ia kunjungi tiap tahun. Satu-satunya tempat ia tak lagi merasa tua menahun. Haruskah ia menunggu lebih lama, Tuhan? Jerit patung St. Gabriel yang berlumut di sudut ruangan.

Sudut kanan gereja saat itu hanya penuh oleh lilin permohonan. Ada gadis yang mati-matian menyalakan lilin itu demi menghormati kematian. Ada juga borjuis yang menghamba pada harta, pengemis kesakitan yang ternyata pertapa gila, dan macam-macam lagi. Sekali lagi, Ravealle menghela nafas dan meniupkannya lewat bibirnya yang pucat. Senja belumlah tiba, tapi ia sudah mengidamkan cerutu berbisa. Siapa lagi yang salah kalau bukan dia, anak semata wayang yang tak diinginkan oleh sesiapa, termasuk ibunya.

Francesco, sang viscomte de chagne ternyata telah duduk dua baris di depannya tanpa ia sadari. Keberadaan Frans ada di sana pastilah tidak main-main, Rave mengamati dalam hati. Dilihatnya pria tua itu mengeluarkan sigaret sederhana yang menguarkan keharuman madu. Rave berdecak, membuat pemilik gedung opera itu menoleh.
“Hai,” ujar Frans serak.
“Boleh minta rokokmu?”
“Tidak biasanya kau merokok.” “Biarlah.”
“Why...?”
“Give me your damn cigarette, old man!” rutuk Rave. Tanpa membalas hinaan itu, Francesco menyodorkan kotak tembaganya. Rave mengambil sebatang, dan berjalan jauh ke depan, menyalakannya dengan kerlip salah satu lilin permohonan. Jauh di belakang, pria tua itu terbatuk-batuk, tersedak asapnya sendiri.

“Tunggu sebentar, anak muda.” Langkah Rave yang semula hendak lenyap dalam bayangan, terhenti. Tanpa ia ingini, rokok itu membuat hatinya tergerak dan menoleh.
“Kau cari apa, nasehat? Sini, duduk di sampingku. Tak mau? Ya sudah.”
Helaan nafas panjang ke-8 pagi itu membakar habis rokok yang dimintanya, dan mendadak Ravealle ingin menangis darah. Perkaranya bukan pada jenis tembakau, melainkan keharuman itu. Rasa manis di bibirnya menarik sebuah kenangan. Dia benci sekali selai marmalade karena terbuat dari kulit jeruk, bahan ibunya membuat pot pourri saban hari. Tapi rokok pertamanya tahun itu, dan kebaikan pria tua berambut kelabu itu, menghempaskannya ke bumi dengan amat parah.
Gadis cinta pertama Ravealle sudah tak ada di tempat. Salib besar yang hitam membisu, sama saja dengan fresco Perjamuan Terakhir. Pagi itu, Ravealle tak punya tenaga bahkan untuk mengobati luka perangnya.
Terlepas dari agama apapun yang Rave anut, baik Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi, sesungguhnya yang terjadi hanya sebuah ledakan yang menewaskan mereka di ruangan itu. 3 blok kanan dan kiri di Gereja luar biasa yang apa mau dikata, favorit Ravealle selalu. Esoknya, sebuah koran memuat artikel dan kesaksian seorang saksi mata yang melihat sesosok siluman bercahaya keemasan menerjang api itu. Menurut pria itu, dari asap yang menggelegak, samar tercium satu aroma yang lain selain asap.
Aroma ranting lylac.

“Rave, mau karamel apel?”
Yang dipanggil mendengus. Semilir asap berwarna hijau tosca keluar dari sela-sela bibirnya. Tanpa rokok pun, ruangan itu sudah seperti jamur. Lembap, apek, dan tanpa perapian.“Tak berminat.”

Gladys tercenung, tampak murung seperti prenjak yang kehilangan selembar bulu sayapnya. “Hmmm, baiklah... Tadi tetangga kita Ameera mengantarkan ummu ali sisa syukuran. Itu juga gak doyan?” Kedua kalinya berespon negatif, Ravealle mencetus, “Singkong! Aku tak lapar. Nanti sajalah.” Lalu ia membalik lipatan korannya. Koran kekuningan pasca Perang Dunia II. Wanita di ambang pintu itu menyerah kemudian berlalu. Malam kian larut, dan ia sendiri juga belum mengisi perut.
Di dapur, Gladys Annabelle menghentak-hentakkan kakinya dengan keras ke atas buah-buah anggur chardonnay. Ingin sekali rasanya dia menginjak punggung pria hatinya hingga melengkung serupa lavender di musim itu. Tapi apa mau dikata, sudah kepalang tanggung jatuh hati, pemujaannya yang setinggi Olympus kepada Ravealle du Lac tak membuahkan hasil yang berarti. Jadi tak ada gunanya ditangisi. Bukankah sebentar lagi high season dan tamu-tamu akan datang ke kediaman mereka? Bukankah khamr juga sudah semakin tipis beda halal dan haramnya? Mereka berdua tak ubahnya dua persona; Itik buruk rupa H. C Andersen yang dipasangkan dengan Hellboy.
Gladys mendesah pelan. Sambil menghirup aroma anggur percobaan di gudang tua, dagunya menengadah. Tangannya menggenggam sumbat gabus yang entah sudah keberapa malam itu. Ya, ia hanya mengecek hasil fermentasi, bukan bersenang-senang sendiri. Tak lama kemudian, ia berbisik dengan khusyuk pada siapapun yang mau mendengarnya di dini hari itu, di kota Brno :
“Tuhan, kalau begini terus, kapan aku bisa lupa?”
“Hei, Rave! Alcione hari ini lagi benci gargoyle lho,” bisik sang gadis cinta pertama. Sayup semilir angin pagi membelai cambang Ravealle. “Terus... Ngg, Zierre bilang, kalau kita tidak bekerjasama bikin sesuatu yang indah di pagi yang cerah ini, Semesta bertasbih di bebung—”

Stop sayang. Aku tahu semua itu, dan aku tidak lapar. Gladys, aku sayang sama kamu. Ga ada hubungannya sama nama anakmu, kenapa mengelirukan aku dengan kolega kita? Aku cemburu sekali....
Ingatan demi ingatan kala Ravealle di RSJ Bandung itu menguat, menarik benaknya dalam lindap, lalu mengenyahkan segala kebusukan pagi buta. Rave telah membunuh tidurnya, sama seperti tahun-tahun yang sudah. Bedanya, mimpi itu masihlah indah. Barangkali Rave harus berterima kasih pada Quelline...

Rei artinya api dalam bahasa Jepang. Sama seperti Sailor Mars dengan nama asli, aku yakin menautkan api dengan api hanya akan membuat bencana. Sailor Jupiter dulu adalah favoritku, Sayang sekali Sailor Pluto yang notabene Penjaga Pintu Waktu sudah meninggal karena memaksakan diri menghentikan waktu yang padahal adalah satu-satunya nyawa dalam hidupnya. Aku benci kekerasan layaknya Dewa Nakal Loki dibantai-bantai oleh seorang samurai bernama Mitsurugi. Boleh saja tuh Sailor pemilik planet terbesar sejagat jago Judo. Tapi kalau menyangkut makanan, kan berabe urusannya. Tak ubahnya aku mengemis pada kucing preman yang kerjanya makan dan malas-malasan setiap hari Minggu, lalu memuntahkan bola bulu super besar beserta semua isi perutnya. Mendingan juga menamatkan Time Zone, deh. Pasti menang semua yang versi simulator. Sudah begitu, tinggal minum soda pop yang meruap deh di kafe dekat situ. Hhhhh.... Hidup itu perjuangan terbesar sepanjang hayat. Tak bisa tawar menawar lagi, tahu. Sama saja kamu masak tofu udang dengan brokoli dan jamur, tapi ga pake saus tiram. Aku ga akan pernah mau makan di Rice Bowl apalagi Sushi Tei. Mahal sekali, juragan. Lebih baik aku memuaskan diriku dengan nasi kepal saja... Bukankah merek Tae kae Noi itu masih melimpah ruah..... Untuk pertama kalinya hari ini, tanggal 5 Mei 2012, aku ingin membuang segala kenangan buruk tentang keluargaku yang tidak pernah memuaskan. Ayahku sudah meninggal tahun 2005. Aku mau memendam rasa pada siapa lagi? Ibundaku meninggal karena kanker getah bening, pneumonia, sekaligus pada hari ini juga. Tuhan, aku salah apa? Kenapa cinta selalu kucari namun berujung pada sebuah sepi belaka? Aku mau buang-buang jauh semua negatifitas itu. Benci! Segala jenis yoga, musik, dan olahraga juga ga pernah membantuku. Sama sekali. Apakah tepukan di bahu itu tak cukup? Apa kuasaku sebagai pemegang jantung kandrakar masih kurang? Aku ga kuat lagi, Allah. Aku ga kuat lagi Allah. Aku ga kuat lagi Allah. Sampai kapan sih derita ini berkelanjutan? Apakah sampai aku mati kelak sebuah penyatuan di ranjang takkan pernah kuraih? Aku sudah lelah menangisi namaku sendiri... Nama yang kuhapus hanya demi sebuah kesepian seperti naik perahu pisang di lautan lepas tapi tiada ombak ataupun terumbu karang untuk temaninya. Sulak, aku capai kalau begini terus. Anom, tak ada gunanya juga kamu menasihatiku panjang kali lebar kali tinggi. Aku ga dan ga akan pernah mau menangis hingga muntah darah lagi. Aku mengidap kanker otak akut. Cabut nyawaku sekarang juga. Biar saja aku bunuh diri dengan sarung ataupun tambang sabut itu seperti Lenka. Aku tidak tahan lagi, Tidak, dan tidak akan pernah biasa diair-keraskan seperti membalurkan formalin pada ayam utuh. Aku harus mengaduh pada siapaaaaaaa! Oh ya, by the way anyway busway bin lebay, namaku Aires Salshabilla Siregar. Kenalkan. Selamat menikmati akhir pekanmu, kawan.

Alcione sendiri telah menenun mahar yang paling luar biasa untuk pernikahan Ravealle dan Quelline. Satin Lombok itu telah ia tenun sendiri, tanpa sihir, selama Tahun-Tahun Panjang Penantian dirinya di pelosok kerimbunan bambu Cadas Pangeran.
“Ambillah,” dia tersenyum. “Quelline, aku rasa semua akan baik-baik saja. Oh, tidak. Jangan mengisak. Tengadahkan dagumu....”
Ravealle yang kini ganti berlutut di tanah.
“Kumohon jangan, Yang Mulia Ratuku. Mengapa—aku bahkan tak sanggup menatapmu lagi. It’s heartbreaking. Aku....”
“Kuucapkan selamat sentausa pada kalian berdua, bukan lagi sebagai kolega apalagi pencinta, Ravealle Lylac. Tersenyumlah, jangan pernah kehilangan hati nurani untuk mencintai.”
Kedua sejoli itu tak sanggup lagi menahan onak duka yang menjalari tubuh mereka. Bagi Rave, yang kaki-kakinya telah tertempa baja selama 4 tahun pengembaraannya bersama wanitanya, ia jelas takkan mampu merasa sebersahaja sekarang. Cepat direngkuhnya Quelline, hingga detak serta derak tulang kekasihnya itu seolah terburai, terjuntai... Habis sudah segala kata. Sukma mereka tak lagi merogoh asa tak berkesudahan.
“Inikah.... Surga, Ra? Inikah akhir segala penantian kita?”
Ravealle melolong perih. Alcione masih di sana, di hadapan mereka, tak beranjak barang senadi pun. Mungkin wanita itu tak lagi bermandikan cahaya bulan, cahaya putih keperakan miliknya telah berubah menjadi uban, namun kebaikannya tidak pernah membebani rekan-rekannya sejenak pun.
Mata Alcione, yang luput mereka perhatikan, ternyata telah mengembara lebih jauh dari fana... Ia telah melepas dunia, ia juga yang mendoakan mereka berempat untuk Nirvikalpa. Kelopak mata itu memejam.
“Zierre-ku terkasih...”
Ya, sayang. Aku di sini.
“Sudah tercapaikah? Ataukah kisah ini telah jadi usang? Aku masih ingin bersandar padamu. Bolehkah aku menjadi diriku, melepas semua beratnya rasa, dan akhirnya kembali mencinta?”
Ada deham parau 1 kali.
“Buka matamu, manisku.”
Jangan takut, tambah Ravealle.
Maka, Quelline membuka mata dan mengerjap karena tak ingin ketinggalan menyaksi. Suaminya, yang baranya telah padam seluruhnya, tersenyum dengan sedikit endapan kristal garam di pelupuk mata, juga bahunya.
Detik itu, ada yang terpana, ada yang terpesona, ada pula tawa membahana dari arwah Hutan tempat mereka memijak. Semua memilih untuk mengabaikannya, mulai mendengar serta merasa sejauh mata fisik mereka saja. Tidak jauh, hanya 5 depa.
Frollo Contrazierre berdiri di sana, diapit lembayung pohon flamboyan yang memerah karena senja nyaris telah tiba.
Alcione terperangah. Hendak menghambur ke pelukannya, ia melangkahkan kaki—dan sekali lagi, atas seizin Sang Maha Segala, keajaiban terjadi. Pelan tapi pasti, gadis itu kembali muda. Frollo, bola matanya sederhana dalam dua warna dasar, tersenyum bahagia. Penuh makna. Semesta bersorak. Begitulah akhir dongengku.


Katherin (KatherinHS) | 104 comments SPARK

Serigala itu menatapku dan aku langsung tahu bahwa dia bukan hewan biasa. Bukan karena ukuran tubuhnya yang sebesar kerbau. Bukan pula karena bulu seputih saljunya yang tampak bersinar di bawah sinar bulan. Namun karena mata emasnya yang mengawasiku dipenuhi kecerdasan dan spekulasi.

“Selamat malam, Putri kecil.”

Sebuah sapaan mengalun lembut di keheningan malam. Untuk sesaat, aku mencari-cari asal suara itu. Sampai kulihat gerakan halus moncong serigala yang masih duduk dengan tenang di hadapanku.

“Beast?” cetusku tanpa dapat ditahan.

“Benar sekali.” Kali ini terdengar tawa penuh rasa terhibur dalam suaranya.

Tubuhku langsung menegang. Serigala ini adalah salah satu dari sedikit hewan yang terlahir dengan kemampuan menggunakan kekuatan Elemen dan akal pikiran setara manusia.

Aku pernah mendengar dari para prajurit yang bergosip di sela-sela latihan tentang seekor Beast serigala berbulu seputih salju. Namun bulu putihnya hampir selalu diselimuti darah sehingga orang-orang memanggilnya Scarlet, merah yang sangat pekat.

Tak seorangpun tahu dari mana Scarlet berasal. Dia muncul tiba-tiba lebih dari seabad lalu di Zara. Dia memperlakukan Negara ini seperti taman bermain pribadinya. Setiap beberapa waktu, dia akan mengacau untuk menciptakan pertempuran.

Orang-orang mengatakan, Scarlet hidup hanya untuk menghancurkan, hanya untuk peperangan. Di Negara Zara yang memuja api dan dikuasai oleh emosi ini, dia dapat memuaskan dirinya dengan konflik melawan pasukan militer.

Apa yang diinginkan Beast ini sampai menculikku dari Istana berpenjagaan ketat?

Harus kuakui juga kalau dia melakukannya dengan sangat baik. Entah bagaimana caranya, dia berhasil membawaku ke reruntuhan ini. Aku bahkan tidak terbangun dari tidurku. Padahal selelah apapun aku sehabis latihan, biasanya tidak ada seorangpun dapat mendekat tanpa membangunkanku.

“Kau menginginkan pertempuran besar. Jadi kau menculikku untuk menarik perhatian prajurit militer Zara.” Aku mengambil kesimpulan dengan cepat.

“Kau sangat cerdas untuk anak yang baru berusia empat belas tahun.” Scarlet bangkit dari duduknya dan mendekat. “Benar. Aku bosan dengan pertempuran kecil-kecilan yang semakin jarang terjadi. Sudah saatnya untuk menaikkan skala permainan.”

Instingku berteriak untuk menjauhi Scarlet. Namun kebanggaanku sebagai seorang Putri, tidak mengijinkan gerakan yang menunjukkan kelemahanku. Aku menegakkan tubuh dan mengawasi gerakan Scarlet dengan waspada.

“Kau juga pemberani…” Scarlet menghentikan langkahnya dan mengamatiku.

Tiba-tiba kurasakan hawa dingin merambati tubuhku diikuti tarikan-tarikan halus dalam pikiranku. Di hadapanku, bulu putih Scarlet perlahan merona merah.

Aku mengedipkan mata, tidak percaya. Saat aku membuka mata, bulu Scarlet tampak putih seperti sebelumnya.

Ilusi?

Apakah karena cerita tentang bulu putih Scarlet yang selalu berselimut darah dalam pertempuran, aku jadi membayangkan rona merah tadi?

“Tapi, aku tidak menyangka harus mencarimu ke dalam barak pelatihan prajurit,” Scarlet bergumam, menyentakkanku kembali ke kenyataan.“Apa yang dilakukan seorang Putri di tempat sekotor itu?”

Aku membuang muka dan menukas ketus. “Bukan urusanmu.”

“Dan aku penasaran.” Tanpa memperdulikan kekasaranku, Scarlet kembali bergumam. “Bagaimana tubuhmu bisa penuh luka-luka dan memar seakan kau habis berkelahi habis-habisan?”

Kali ini aku hanya membisu. Lagi, kurasakan tarikan-tarikan halus dalam pikiranku. Kali ini lebih mendesak dengan rasa ketidaksabaran.

Mata emas Scarlet menyipit. “Aku tidak akan pernah menyangka…”

Scarlet tidak menyelesaikan ucapannya. Matanya terfokus ke hutan di belakangku. Mata emasnya berkilat sementara moncongnya tertarik membentuk seringai yang mendirikan bulu roma.

Intensitas perhatian Scarlet pada apapun yang berada di belakangku membuatku penasaran dan ikut menoleh. Karena aku tidak dapat melihat apapun, aku kembali berbalik ke arah Scarlet.

Namun sosok Scarlet tidak tampak di manapun. Entah sejak kapan, dia sudah menyelinap pergi. Kenapa?

Pertanyaanku terjawab sekejab kemudian. Gemerisik suara sesemakan mengikuti belasan langkah-langkah berat yang mendekat.

“Di sini!”

“Tuan Putri!”

“Periksa daerah ini! Cari Beast itu!”

Aku mengenali suara Kapten yang bertugas mengawalku di Istana. Sepasukan prajurit menyingkap sesemakan dan berlari mendekat dengan pedang-pedang terhunus. Di belakang mereka sang Kapten mengikuti.

Beberapa dari prajurit langsung sibuk memeriksa sesemakan dan reruntuhan bangunan di sekeliling. Kulihat juga beberapa prajurit lain berdiri menyebar dengan tangan bersiaga di gagang pedang mereka.

“Tuan Putri, Anda tidak apa-apa?” Sang Kapten berlutut di sisiku. Matanya mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Apakah Anda terluka?”

Aku mengeleng. Mataku mengawasi tindak-tanduk prajurit yang tidak ikut memeriksa keadaan. Kenapa mereka seakan memisahkan diri?

“Sayang sekali.”

Di saat aku masih berusaha memahami perkataan sang Kapten, tiba-tiba dia mengangkat tangannya. Beberapa prajurit yang sedari tadi memang sudah bersiaga, langsung menghunus pedang mereka dan menodongkannya pada rekan mereka yang tidak siap.

“Kami berharap Anda akan tewas di tangan Beast itu. Segalanya akan lebih bersih dengan cara itu. Namun tampaknya, kami terpaksa tetap mengotori tangan kami.” Sang Kapten menghela nafas penuh sesal.

Kemudian dia berseru kepada para prajurit yang berada di bawah todongan pedang bawahannya, “Sekarang saatnya kalian menentukan kepada siapa kalian akan bersumpah setia! Siapa yang ingin selamat, bersumpah setialah pada Putri Alexa!”

Sebagian besar prajurit langsung menjatuhkan senjata mereka menyerah. Hanya sebagian kecil yang berusaha melawan dan berakhir tewas di ujung pedang prajurit lain. Apa yang sudah terjadi? Kutatap sang Kapten dengan bingung.

“Maafkan kami, Tuan Putri. Tetapi Keluarga Claerence ingin Putri Alexa naik sebagai Putri Mahkota.” Sang Kapten menghunus pedangnya. “Kemampuan Beliau di bidang militer memang tidak sebaik Anda. Namun Anda tidak bisa menggunakan kekuatan Elemen sedangkan Putri Alexa sudah mengikat Perjanjian dengan Beast burung api sejak kecil.”

Aku terpaku menatap kilau bilah pedang yang terhunus. Alexa? Mereka menginginkan Alexa. Setelah segala perjuanganku di tempat pelatihan militer selama ini? Ternyata kegagalanku untuk menggunakan kekuatan Elemen Api tetap membuat orang-orang meragukanku.

Sebenarnya ketidakmampuan menggunakan kekuatan Elemen bukanlah sesuatu yang aneh. Hanya sebagian kecil orang yang terlahir dengan bakat tersebut. Namun sebagai Putri yang terlahir dengan darah murni keluarga penguasa Zara, aku diharapkan untuk memiliki kemampuan itu.

Sebagai usaha untuk menutupi kekuranganku, aku menjalani pelatihan militer yang sangat berat. Aku berharap usahaku dalam bidang militer akan membuat rakyat tidak lagi ragu.

Sayangnya… Itu bukan kekuranganku satu-satunya. Seberat apapun aku berlatih, sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan pernah dapat menutupi satu kelemahan fatal yang menggerogoti jiwaku.

Sang Kapten mengangkat pedangnya.

“Tampaknya segala perjuangan sampai tubuhmu dipenuhi luka-luka dan memar di tempat pelatihan militer selama ini dipandang sebelah mata.”

Suara Scarlet tiba-tiba menggema di kepalaku, menyentakkanku kembali ke kenyataan. Ketika Sang Kapten menebaskan pedangnya, aku sudah cukup sadar untuk berguling menghindar. Pedang sang Kapten menghantam tanah.

Dia menarik nafas penuh sesal dan menatapku. “Lebih baik Anda tidak melawan, Tuan Putri. Saya akan memastikan kematian Anda cepat dan tidak menyakitkan.”

Aku menggeretakkan gigi. Dia pasti bercanda! Orang bodoh mana yang akan diam saja menunggu dibunuh. Aku kembali menghindar saat sang Kapten menebaskan pedangnya.

“Berhenti, Putri sialan!” Wajah sang Kapten merah padam oleh rasa kesal. Kemudian dia mencengkram pedangnya dengan dua tangan.

Itu petunjuk bagiku bahwa sang Kapten tidak lagi menganggapku remeh. Dia memberi sinyal kepada anak buahnya untuk membantu menangkapku. Namun dibandingkan gerakan bela diri yang terbiasa kuhadapi saat latihan, gerakan mereka canggung dan lambat. Dengan mudah aku dapat berkelit menghindari mereka.


Katherin (KatherinHS) | 104 comments “Berhenti!” Scarlet menghardik tiba-tiba, membuatku langsung menghentikan langkahku.

Pedang sang Kapten menebas setipis rambut jauhnya dari leherku. Rupanya aku terlalu percaya diri untuk menghindari para prajurit dan melupakan sang Kapten.

Aku berjumpalitan ke belakang, menghindari tebasan demi tebasan yang ditujukan padaku. Memanfaatkan laju tubuhku, aku meloncat ke arah semak-semak.

Di balik semak-semak, kutemukan sesuatu yang sangat besar berbulu dan hangat menghadang. Kemudian kurasakan kerah pakaianku tertarik dan tubuhku melayang. Saat kembali dari rasa kagetku, aku sudah berada di punggung seekor hewan besar.

“Pegang erat-erat! Dan bungkukkan tubuhmu serendah mungkin.” Gumaman Scarlet membuatku sadar kalau aku berada di punggungnya.

Aku langsung menuruti perintahnya. Scarlet bergerak merayap dengan gerakan begitu halus tanpa suara. Dalam kegelapan, aku tidak dapat melihat apapun. Namun sepertinya Scarlet dapat melihat dengan baik, karena tidak sekalipun cabang pohon maupun dedaunan menyapu kami.

Suara-suara sang Kapten yang memerintahkan anak buahnya untuk mencariku terdengar jelas. Berarti Scarlet tidak membawaku menjauh. Memang tidak dapat kubayangkan kalau dia melarikan diri. Scarlet ingin berburu.

Tapi kenapa dia menyempatkan diri untuk menolongku?

“Kenapa kau menolongku?” bisikku, “Kalau aku tewas di tangan Kapten itu, kau akan diburu sebagai pembunuhku. Bukankah itu yang kaucari? Konflik tanpa henti.”

“Karena setelah ratusan tahun, akhirnya aku dapat menemukanmu! Aku tidak akan lagi menjadi tahanan kehampaan ini.” Scarlet menjawab dengan suara rendah yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kepuasan. Tawanya memang tidak terdengar, namun membahana dengan keras dalam pikiranku.

Luapan emosi Scarlet membuatku menegang ketakutan. Beast ini gila!

“Aku tidak gila, Putri kecil. Tidak lagi. Dengan kau, aku tidak akan lagi merasakan kegilaan rasa sepi.”

Dia bisa membaca pikiranku!

“Aku adalah Hampa, kehancuran, elemen perusak tanpa kawan dan lawan. Aku selalu mengambil apa yang ada di sekelilingku untuk memberikan identitas bagi diriku sendiri. Aku juga dapat mengambil apa yang ada dalam pikiran makhluk hidup lain.”

“Jangan macam-macam dengan pikiranku!” jeritku murka. Berani-beraninya dia mengintip ke dalam pikiranku.

Teriakanku membahana di tengah hutan, memberitahukan posisi kami. Tak butuh waktu lama bagi sang Kapten dan anak buahnya untuk bergegas mendekat. Namun Scarlet dengan tenang kembali bergerak menyelinap pergi, meninggalkan hanya kekosongan bagi mereka.

“Aku selalu melakukan apapun yang kuinginkan.” Sambil bergerak, Scarlet kembali bergumam. “Dan kali ini, aku menginginkanmu.”

“Kenapa?”

Scarlet tetap bergerak untuk beberapa saat. Ketika dia menghentikan langkahnya, suara-suara para prajurit masih terdengar walau kejauhan, menandakan posisi kami berada cukup jauh dari mereka.

Dengan sedikit kibasan badan, Scarlet menjatuhkanku ke tanah. Dia berbalik dan menatapku tajam. “Karena kau sama sepertiku.”

“Siapa yang sama denganmu?!”

“Kau. Kau dilindungi Elemen Hampa. Sama sepertiku. Kau adalah Master yang kutunggu selama ini. Master yang hanya ada untukku!”

“Elemen pelindungku adalah Api!” jeritku dengan nafas memburu.

Dalam hati kuulangi kata-kata itu, lagi dan lagi, bagaikan doa. Elemen pelindungku Api. Elemen pelindungku Api! Mana mungkin seorang Putri Negara Zara yang memuja Api, tidak dilindungi oleh Api.

“Benarkah?” Scarlet hanya tertawa. “Ataukah itu adalah ilusi yang ditanamkan oleh orang-orang di sekelilingmu?”

Aku menutup telinga dengan kedua tanganku. Aku tidak mau mendengarkannya!

“Kau percaya kau dilindungi Elemen Api karena orang-orang di sekelilingmu menginginkan begitu. Lagipula entah keributan apa yang akan terjadi kalau rakyat Zara tahu kalau calon Ratu mereka tidak dilindungi Elemen Api.”

Isakanku meluap tanpa dapat ditahan. Rona merah yang ditanamkan dalam diriku sejak lahir perlahan terhapus. Rona merah yang setengah mati kupertahankan sebagai identitasku ditimpanya dengan warna putih yang dipenuhi kekosongan.

“Dapat kubayangkan beban harapan yang kauterima sampai kau menghancurkan dirimu dalam latihan keras yang brutal. Sayang, pengorbananmu tampaknya masih juga tidak cukup. Mereka tidak akan pernah menerimamu.” Bisikan Scarlet kali ini terdengar penuh rayuan. “Manusia memang tidak akan pernah puas.”

Lalu Scarlet meloncat menerkam. Aku terhempas ke tanah, terperangkap oleh berat tubuh Scarlet. Ketakutan membuatku memberontak. Sekuat tenaga aku memukul dan menendang, berusaha membebaskan diri.

Namun apapun yang kulakukan tampaknya tidak berpengaruh pada Scarlet. Dia menunduk dan menancapkan taring-taringnya di leherku. Rasa sakitnya membuatku menjerit.

Kemudian kurasakan Scarlet menjilati leherku dengan lembut sebelum dia mengangkat kepalanya. Mata emasnya menatapku, seakan menelanku. “Aku Hampa, seperti kanvas putih yang belum pernah disapu kuas. Warnai aku, Putri kecil. Atau kehampaanku akan menelanmu.”

Bisikan lembut Scarlet membelai pikiranku sebelum cahaya putih membutakan mataku. Dapat kurasakan pikirannya menyusup, meraba-raba, dan menggali ke kedalaman jiwaku. Satu persatu pintu ingatanku dibuka dan diobrak-abriknya.

Tidak! TIDAK! Aku menjerit sejadi-jadinya.

“Bukankah lebih baik kalau kau menjadi dirimu sendiri. Berhentilah berusaha untuk orang lain.Telan saja seluruh harapan itu dalam kehampaan untuk memuaskan dirimu sendiri. Bawa saja segalanya ke dalam kehancuran.”

Samar-samar kurasakan Scarlet meninggalkan tubuhku. Namun walaupun berat tubuhnya tidak lagi menyelimutiku, aku tetap tidak dapat bergerak. Pikiranku masih terpaku pada kehampaan yang menelanku.

Menggantikan Scarlet, kurasakan suara langkah-langkah kaki mendekat. Sang Kapten dan anak buahnya telah menemukan lokasi kami. Begitu melihatku, mereka langsung bergerak mengelilingi.

Pedang-pedang mereka terhunus ke arahku. Setelah keberhasilanku melarikan diri tadi, mereka pasti tidak akan memberikan kesempatan sekecil apapun bagiku untuk kembali menghindar.

Perlahan-lahan aku bangkit. Kutatap mata setiap orang. Tidak tampak penyesalan ataupun rasa sedih karena mereka harus membunuhku. Yang ada hanyalah tekad mereka untuk menjalankan misi. Bagi mereka, aku hanyalah penghalang yang harus disingkirkan.

Karena aku tidak mampu menggunakan kekuatan Elemen.

Padahal, aku bukannya tidak mampu menggunakan kekuatan Elemen. Aku tidak mampu menggunakan kekuatan Elemen Api, karena Elemen yang melindungiku bukan Api.

Karena Elemen yang melindungku adalah Hampa.

Bersamaan dengan penerimaanku, lenyap pula rasa tercekik yang selalu kurasakan mengganjal tenggorokanku. Pikiranku terasa jernih. Dengan setiap tarikan nafas, isakanku menyurut.

Seperti yang dikatakan oleh Scarlet. Apapun yang kulakukan, mereka tidak akan pernah menerimaku.

“Jadi apa warnamu, Putri kecil? Apa warna yang akan kau terima?” Suara Scarlet tiba-tiba menggema dalam pikiranku. “Putih yang hampa sepertiku? Merah membara yang diberikan padamu? Atau...”

“Hampa selalu menerima apa yang tersedia di sekelilingnya. Karena kita berada di Negara yang dikuasai Api, kita dapat mengambil warna di sekitar kita sebagai milik kita,” jawabku tanpa keraguan. “Aku dapat menyapukan sendiri warna merah pada kanvas putihmu yang hampa.”

Perkataanku membuat sang Kapten dan anak buahnya terperanjat. Mereka saling bersitatap dengan bingung. Beberapa menatapku dengan rasa iba, mengira aku berbicara sendiri karena histeris.

“Benar.” Tawa Scarlet membahana dalam pikiranku.

Cahaya putih yang sebelumnya menutupi pikiranku perlahan menipis menjadi rantai yang mengikat pergelangan tangan kananku. Entah bagaimana, aku tahu kalau ujung lain rantai itu akan melilit leher Scarlet, wujud perjanjian Master dengan Beast-nya. Rantai itu lenyap sebelum keberadaannya disadari orang lain.

Sekejab kemudian, kurasakan tubuhku kembali dapat bergerak bebas. Saat aku berkedip, kulihat pemandangan lain membayang di mataku. Sosok-sosok para prajurit dari antara celah pepohonan. Inikah yang dilihat Scarlet?

Kegelapan perlahan menyapu saat awan bergerak menutupi cahaya bulan. Teriakan ketakutan menggema diikuti jeritan kematian. Sang Kapten menurunkan pedangnya dan menatap berkeliling. Jeritan demi jeritan terdengar sambung menyambung. Tangisan ketakutan berkumandang. Rasa takut menggantung begitu pekat di udara malam.

Namun yang kurasakan hanya desah kenikmatan dan dengus kepuasan menggema dalam pikiranku. Rasa hangat darah yang menyembur saat taring-taring mencabik daging tercecap di bibirku.

Sang penghancur sedang berburu dan sangat menikmatinya.

“Apa itu?” Sang Kapten bertanya dengan suara gemetar.

Aku tertawa sambil bangkit berdiri. “Tidakkah kau tahu?”

“Beast itu!”

“Scarlet sedang mewarnai dirinya.”

Seakan menyetujui perkataanku, cahaya bulan kembali menerangi. Di tengah cahaya perak, Scarlet berdiri. Bulu putihnya berselimut merah. Taring-taringnya meneteskan darah. Mata emasnya berkilat-kilat dengan puncak kenikmatan.

Pedang sang Kapten jatuh berkelontang. “Scar... Scarlet...”

Bola-bola api biru bermunculan di sekeliling Scarlet, menerangi dengan cahaya biru yang mistis. Apa saja yang tersentuh oleh bola-bola api itu langsung terbakar hangus menjadi arang. Sang Kapten terpaku menatap bola-bola api yang perlahan bergerak mendekatinya.

Sebelum bola-bola api Scarlet bergerak lebih dekat, aku meraih pedang di tanah. Tanpa berpikir, aku menusukkannya menembus dada sang Kapten. Darah segar menyembur. Cipratannya membasahiku.

Suara degukan di kerongkongan sang Kapten memberitahuku bahwa dia sedang meregang nyawa. Kugenggam erat gagang pedang sebelum kuputar pedang itu dan menariknya ke samping.

Tubuh sang Kapten merosot jatuh dalam kubangan warna merah. Sejenak kutatap hasil perbuatanku. Kemudian aku mengalihkan tatapanku pada Scarlet. Tanpa kusadari, bola-bola api milik Scarlet sudah lenyap. Namun bukan itu yang menarik perhatianku.

Bulu Scarlet tidak lagi berwarna putih. Bahkan walaupun darah masih menyelimutinya, dapat kulihat helaian-helaiannya berwarna merah membara dengan kilatan emas. Warna lidah api yang menari-nari.

“Kuterima warna yang kauberikan untuk dirimu sendiri. Merah untuk keberanian dan emosi.” Scarlet menggeram penuh kepuasan.

Aku mengangkat bahu. “Hanya warna itu yang tersedia di tempat ini.”

“Menurutku, hanya warna ini yang ingin kau lihat.” Tawa Scarlet penuh ejekan.

Karena merasa kalau Scarlet bukan bertanya, jadi aku hanya diam, memperhatikan warna bulu Scarlet dengan puas. Dengan bulu merah dan api birunya, tidak akan ada orang yang mempertanyakan Elemen Scarlet. Kebetulan sekali nama Scarlet juga bercirikan Elemen Api.

Aku tersenyum kecil. Kini tak akan ada lagi yang meragukanku. Yang perlu kulakukan hanya menunggu. Menunggu sampai saatnya bagiku untuk berdiri di puncak tiba. Saat itu, akan kuseret semuanya ke dalam kehampaan.

Kemudian Scarlet kembali bertanya, “Aku belum menanyakan namamu, Putri kecil.”

“Aku Chispa. Chispa Baldr Claerence Zara.”

“Bunga api dan perdamaian?” Tawa Scarlet meledak. “Sebodoh apa orang tuamu sampai menyandingkan dua nama yang saling berlawanan begitu sekaligus?”

“Orang tua yang penuh kehangatan dan harapan.”

~END~


Ardani Subagio (AuthorDani) | 149 comments Urat Naga


Hari itu adalah hari yang cerah di awal musim gugur. Ketika langit memerah oleh daun-daun yang hanyut oleh angin yang bersenandung. Aku suka sekali dengan saat-saat itu, berlarian di antara daun yang berjatuhan bagai salju. Menikmati alunan nada dan lagu di tengah kota yang aku yakin tak ada orang lain yang tahu.

Hari itu, aku bermain bersama ayah seperti biasa. Ayahku memiliki dojo kung fu kecil di sudut kota, dan aku adalah salah satu murid andalannya. Tapi ayah tidak mau memujiku di depan orang lain. Ia tidak ingin aku terlalu congkak, ia bilang unsur merahku akan bertambah pekat. Aku tidak terlalu mengerti maksud ucapannya, dan aku tidak bertanya. Aku tidak tahu kalau nanti aku sama sekali tidak akan bisa menanyakannya.

Hari itu, sungai kecil dekat rumahku memerah karena hujan daun setiap waktu. Sewaktu ayah memintaku membeli makan malam di toko kecil di ujung jalan. Dalam perjalanan pulang, aku mendengar bisik-bisik orang. 'Ada orang penting yang datang,' kata seorang tetangga, 'Seorang bangsawan dari marga Gacho datang ke kota," kata yang lainnya. Aku tidak tahu siapa dia dan tidak peduli. Mungkin aku harus. Dengan begitu rasa penasaranku selama bertahun-tahun tidak akan sesakit sekarang.

Lalu aku melihatnya. Berdiri di depan pintu rumahku yang terbuka, bersama ayahku yang tersungkur jatuh penuh luka. Aku berdiri terpaku, tak percaya. Ayahku tumbang seperti anak kecil, di hadapan seorang pria tinggi dengan pakaian bersulam emas. Sulaman yang membuat corak seperti seekor angsa.

Pria itu lalu melirik ke arahku, terdapat nada puas ketika matanya melihat kedatanganku. Setelah itu ia berbalik, lalu pergi berlalu. Menghilang di balik bayangan tanpa ada seorang pun yang menghentikan.

Untuk sesaat aku berharap bahwa ini hanya mimpi. Ketika aku membuka mata, pandangan ini akan kabur dan aku bisa melihat wajah ayahku lagi. Memegang makan malam yang baru kubeli. Tapi dengung orang-orang dan mereka yang mencoba menolong ayahku memastikan semuanya bukan sekedar mimpi.

Aku berjalan, masih terguncang, dan kulihat wajah ayahku dari balik bayangan orang-orang. Memintaku menghampiri, sedikit lagi. Sebelah tangannya mengulurkan topi. Topi kecil yang tak sempat kupakai pagi ini. Rasa lembut kain itu mengelus kulit kepalaku, dan kulihat wajah puas di raut ayahku.

Raut itu juga yang terus terpatri dalam kepalaku dalam minggu-minggu berikutnya. Dalam upacara pemakaman, dalam semua kesibukan dan gumaman berbagai orang. Juga ketika aku dan adikku harus pindah ke rumah paman. Aku mencoba bertanya kepada paman, siapa sebenarnya si laki-laki berbaju angsa. Tapi sekeras apa pun aku meminta, ia tetap tidak menjelaskan siapa dia.

Hari-hari terus berlalu, dan aku masih menyimpan kejadian waktu itu dalam kenangan. Seiring dengan turunnya putih salju, dan tahun yang berganti baru, paman mendadak mengajakku pergi ke tempat yang tidak aku kenali. Sebuah kuil, itu aku tahu pasti. Tapi kenapa paman mengajakku ke tempat ini?

Paman memperkenalkanku kepada seorang tua. Kepala pendeta, kurasa. Dari jubah merah dan kain putih yang membelit tubuhnya, aku rasa itu mudah diterka. Dari pembicaraan mereka berdualah kudapatkan jawabanku. Paman tidak cukup mampu membiayai dua anak baru. Ia mampu menanggung adikku, tapi aku harus hidup dalam kuil ini.

Aku pun menerima syarat yang diberikan kepala pendeta, setiap anak baru harus melewati masa inisiasi bersama seorang biksu. Aku akan dijauhkan dari dunia luar, dan harus belajar selayaknya para biksu muda yang lain. Hingga nanti aku dianggap mampu untuk menjalankan semua ritual rutin.

Selama waktu itu, aku tidak pernah melupakan apa yang terjadi di bawah daun yang gugur. Walau kuil ini selalu mencoba menghapus kenanganku. Mengisi hidupku dengan masa tenang dan kehidupan penuh senyum riang. Mencoba membuatku lupa atas satu kejadian yang membawaku ke halamannya. Terkubur dalam hujan salju dan tawa.

Tanpa dendam, hidupku di sini akan nyaman. Tanpa dendam, aku akan bisa menikmati setiap ritual, lantunan doa, dan pelajaran dari semua biksu tanpa perlu memikirkan masa depan. Tapi dendam itu selalu ada. Bersembunyi dari jangkauan ketika aku sibuk dengan pekerjaan, lalu mengintip perlahan ketika aku tertidur sendirian.

Semua yang aku pelajari di sini sama sekali tidak membosankan. Ritual agama tidak terlalu sulit kupelajari. Lantunan doa kuterima seperti makanan sehari-hari. Semua meditasi dan latihan bela diri menempa tubuh dan mentalku bagaikan palu besi. Kepala pendeta berkata aku harus mempelajarinya, karena ketika aku pertama datang kondisiku tidak seimbang.

Ia mengatakan sesuatu seperti yang pernah ayah katakan. Bahwa unsur merah dan putih dalam diriku tidak seimbang. Kepala pendeta berkata unsur merah adalah unsur yang mempengaruhi tubuhku untuk berinteraksi kepada orang luar. Marah kepada orang lain, bahagia bersama orang lain, memendam dendam kepada orang lain. Terlalu banyak hal seperti itu akan membuat unsurku tidak seimbang.

Sementara unsur putih adalah unsur yang kuperlukan untuk berinteraksi dengan diriku sendiri. Tenang, rendah diri, memahami alasan dari setiap tindakan dan ucapan. Terlalu banyak unsur putih juga akan membuat tubuhku tidak seimbang. Mengacaukan kesehatan tubuh dan pikiran.

Aku tidak tahu apakah aku mampu. Terlebih lagi, aku tidak tahu apakah aku mau.

Setiap beberapa bulan sekali paman dan adikku akan datang mengunjungiku di sini. Paman senang melihat aku mengikuti pelajaran dengan rajin. Aku pun senang dengan sedikit waktu yang mereka habiskan di sini. Aku dan adikku memiliki sedikit waktu ketika paman harus bertemu dengan biksu kepala, dan dari sini aku mengetahui sesuatu tentang hari di musim gugur itu.

Adikku tidak sengaja mengetahuinya ketika salah satu saudara seperguruan ayah dan paman datang berkunjung. Mereka tidak hanya datang untuk berkabung, adikku tidak sengaja mendengar kalimat yang dibisikkan di antara mereka. Kalimat tentang sebuah gulungan kitab yang seharusnya masih ayah simpan erat.

Tapi aku tidak sempat bertanya lebih jauh lagi. Paman dan kepala pendeta memanggil, menandakan bahwa adikku harus pergi, juga aku masih memiliki tugas membersihkan satu ruang doa. Kami pun berpisah hari itu, tapi aku dan adikku tahu arti kalimat yang dibisikkan paman dan temannya penuh rahasia.

Setelah waktu itu, paman dan adikku semakin jarang berkunjung. Kesempatanku untuk menanyakan tentang gulungan kitab itu juga semakin berkurang. Tapi tidak sekalipun pikiran itu menghilang. Sepanjang tahun berlalu, dalam setiap upayaku memadukan unsur merah dan putih dalam ragaku, bayangan simbol angsa bersulam emas itu tidak akan pernah menghilang.

Hujan dedaunan kembali memenuhi halaman dengan warna merah kuning serupa senja. Tepat hari ini, umurku menjadi delapan belas tahun. Bulan depan, adalah ulang tahun adikku keenambelas. Jika ayah masih ada, tentu kami akan pergi berpesta, entah di mana. Tapi, untuk yang kesekian kalinya, aku melewati hari istimewa ini bersama teman-teman sesama biksu.

Bulan-bulan setelah hari ulangtahunku berjalan dengan muram. Bukan karena aktifitas kuil, tapi lebih karena keadaan di dunia luar. Menjadi salah satu biksu di kuil ini, aku menjadi semakin peka akan perubahan unsur alam melalui garis chi dalam bumi. Urat naga, nyaris serupa dengan chi milik manusia. Dan aku merasa unsur merah dalam urat naga lebih pekat daripada seharusnya.


Ardani Subagio (AuthorDani) | 149 comments Kekacauan dan kegelisahan merebak di mana-mana. Aku merasakan apa yang terjadi dalam urat naga setiap kali aku bertapa, dan aku yakin semua biksu yang lain juga. Unsur merah semakin kental di tiap sudut negeri. Gumaman gelisah dan kabar burung yang menghampiri pun semakin meresahkan hati.

Lalu tiba-tiba, di tengah pagi buta, biksu kepala membangunkan kami semua. Memerintahkan kami untuk seghera turun ke desa, mengungsikan semua penduduknya. Seekor naga yang mengamuk sedang menuju tempat ini, dan entah apa yang akan terjadi.

Kami menuruti tanpa banyak tanya. Api kecil cahaya lentera membimbing seraya kami bergegas menuju desa. Tapi sebelum kami sempat membangunkan penduduk yang masih terlelap, sebuah raungan memecah malam gelap.

Bahkan tanpa cahaya lentera, atau bintang di atas sana, sosok tubuh sang naga masih jelas tertangkap mata. Berkilauan seakan tiap sisiknya berhias sebutir bintang, meliuk panjang dan penuh kuasa seakan langit adalah takhtanya. Sang naga langit berputar dan mengaum, begitu kentara rasa amarah dan murkanya atas tindakan manusia. Entah siapa, entah di mana, telah membangkitkan amarah seekor naga.

Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghentikan seekor naga yang mengamuk. Aku berteriak memanggil para penduduk, membawa dan membimbing mereka keluar desa. Selama waktu itu, rasa takutku sendiri nyaris membuatku ikut menjerit dan berlari. Sang naga kembali meraung, setengah desa hancur luluh seakan terkena air bah yang menggunung. Aku terus menjerit dan membawa para penduduk lari, sementara di balik punggungku, kematian merajalela.

Sang naga segera pergi setelah matahari menunjukkan diri. Kami berusaha sebisa mungkin menyelamatkan mereka yang tersisa dan merawat semua yang terluka. Rasa sakit dan sedih menggantung di wajah para penduduk desa, tapi sesuatu yang lain berputar dalam kepalaku. Apa yang membuat sang naga bertindak seperti itu? Sementara penduduk desa tidak pernah melakukan sesuatu yang mengganggu arus urat naga.

Alasan untuk itu baru kuketahui dua bulan kemudian, ketika paman dan adikku kembali datang. Paman akhirnya memutuskan bahwa sudah waktunya membuka rahasia yang lama ia simpan. Di ruang utama kuil, bersama dengan kepala pendeta, paman mengumpulkan kami semua. Setelah lama ia menunggu aku dan adikku cukup dewasa untuk mendengarnya. Dengan kalimat yang datar dan jelas, seakan ia telah lama mempersiapkan kata-kata, kami mendengar jawabannya.

Sang bangsawan berlambang angsa adalah biang di balik semua ini. Ia, paman, dan ayah dahulu adalah saudara seperguruan. Paman meninggalkan dunia kung fu di tengah jalan, meninggalkan mereka berdua sebagai murid terbaik perguruan. Dan ketika sifu akhirnya meninggal, masing-masing ayah dan sang bangsawan mewarisi sebuah gulungan, kitab yang telah diturunkan kepada penerus perguruan.

Ayah dan sang bangsawan Gacho bersumpah akan menjaga kitab warisan dengan taruhan nyawa. Sumpah yang terus mereka jaga selama sepuluh tahun, hingga hari ayah dan sang bangsawan kembali bertemu. Tapi kali ini, salah satu dari mereka dipenuhi ambisi yang menggebu. Begitu bernafsu mendapatkan separuh salinan kitab yang seharusnya tidak menjadi miliknya.

Bangsawan itu membunuh ayah dan merebut bagian kitab yang ia simpan. Ketika aku bertanya apa isi kitab itu, paman tidak bisa menjawab. Ia tidak pernah membaca isi kitab itu, walau ia mengingat ekspresi ayah sesaat setelah membaca isinya. Pada saat itu ayah bergumam, pengetahuan dalam kitab itu bisa membuat orang mengendalikan urat naga sesuka hati. Entah untuk melindungi dunia, atau kepentingan pribadi.

Kepala pendeta menambahi kalimat paman, berkata bahwa ia juga mengetahui kitab yang dimaksud. Dan segera mengerti alasan kekacauan dan kegelisahan yang melanda seluruh negeri akhir-akhir ini. Jika urat naga dimanfaatkan bukan untuk menjaga keseimbangan dunia, maka yang akan terjadi adalah bencana. Naga yang muncul beberapa bulan yang lalu adalah usaha alam untuk membawa keseimbangan.

Kepala pendeta berkata bencana yang serupa akan terus terulang, jika urat naga tidak dibiarkan berjalan sesuai seharusnya.

Paman melanjutkan bahwa ia sudah berusaha merebut kembali gulunga kitab itu selama ini, tapi semua usahanya tidak ada yang mencapai hasil. Paman berulangkali nyaris tewas berusaha mendapatkan kitab itu kembali, dan banyak saudara seperguruan yang bernasib lebih tragis lagi. Bahu adikku bergetar menahan emosi mendengar semua ini. Ia lebih sering berada bersama paman, mungkin ia bisa menebak apa yang paman lakukan. Tapi mendengarnya langsung sepertinya terlalu berat. Terlalu keras.

Walau meditasi dan lantunan doaku selama ini berhasil menjaga emosi dan unsur putih dalam diriku tetap seimbang, aku tidak bisa menyangkal ada sebagian diriku yang ingin meledak keluar. Mengamuk dan melampiaskan semua dendam. Unsur merah dalam tubuhku berusaha membujukku melakukan apa yang selama ini ingin kulakukan. Membalas dendam.

Kepala pendeta tentu menyadari pergolakan kedua unsur dalam tubuhku, karena ia menyarankan agar kami berdua beristirahat setelah mendengar kenyataan ini. Bagiku, itu berarti bersemedi. Bagi adikku, ia dan paman bisa tinggal di sini untuk semalam. Aku nyaris mengangguk, tapi kalimat adikku menghentikan semua niatku.

Dia lelah, katanya. Dia tidak ingin hanya paman yang terus menerus menanggung beban selama ini. Berusaha menyelamatkan dunia sembari mengurus dirinya. Hingga meninggalkanku dalam pelayanan kuil dan biksu. Ia ingin juga bisa membantu. Membantu paman menghentikan semua niat bangsawan itu, menyeimbangkan kembali unsur dalam urat naga. Dan, entah mendapat dorongan dari mana, aku setuju.

Kalimat yang kuutarakan kepada mereka sama sekali tidak beraroma dendam. Tidak berasal dari ledakan unsur merah yang tak bisa dikendalikan. Aku merasa seimbang. Aku sedang seimbang. Keseimbangan urat naga harus dikembalikan. Dan sebagai anak penjaga kitab yang sah, kami pun memiliki kewajiban untuk menjaga keseimbangan.

Kejadian setelah aku mengatakan itu tidak terlalu jelas dalam kepalaku. Tapi sang kepala pendeta tidak marah, itu aku tahu. Aku tidak tahu pasti ekspresi apa yang ia ukir dengan senyumnya. Mungkin kepuasan? Atau kesadaran? Apa pun itu, aku dan adikku bebas beristirahat untuk satu malam, sementara biksu kepala tinggal bersama paman. Aku punya firasat aku tahu apa yang akan mereka bicarakan, dan dari ekspresi wajahnya, adikku juga sudah tahu.

Keesokan harinya, kepala pendeta kembali memanggil kami. Aku duduk bersimpuh dengan rapi bersama adikku di sisi. Kepala pendeta memasang senyum itu lagi. Senyum yang tidak berada dalam unsur merah, atau pun unsur putih. Tenang, seimbang, dan seolah puas melihat yang telah kulakukan. Ia berdehem sebentar, sebelum mengucapkan kalimat seperti yang telah aku dan adikku duga.

Kepala pendeta memberi sebuah tugas kepada kami. Tidak, bukan tugas. Lebih seperti amanat. Sesuatu yang ia percaya mampu kami lakukan, dan ia menunggu kabar kami berhasil melakukannya. Ia meminta kami mengembalikan keseimbangan urat naga seperti seharusnya. Menghentikan apa pun yang ingin dilakukan sang bansawan, sekaligus memastikan kitab itu tidak pernah lagi disalahgunakan. Kami berdua mengangguk, sama-sama paham. Ini adalah tugas kami, melanjutkan kembali semua perjuangan paman dan saudara seperguruan. Memastikan semua yang mereka lakukan tidak sia-sia.

Dan kami berdua pun berangkat, mengikuti energi urat naga yang telah rusak, menuju kediaman sang bangsawan Gacho. Bahkan sebelum melangkahkan kaki, terdapat tekad yang kuat dalam dada kami. Kami pasti akan berhasil. Urat naga akan kembali seperti sedia kala.


message 32: by Shelly (last edited Sep 08, 2012 08:25AM) (new)

Shelly (shelly_fw) | 83 comments Tentang Kami

Ini hanyalah permulaan. Awal, dalam bahasa manusia. Nol, jika diibaratkan dengan angka. Ya, segala hal mempunyai permulaan; begitu pula dengan kami.

Bisa dibilang kami kembar; atau setidaknya menurut sepengetahuan kami meskipun secara harfiah kami jauh dari kata identik. Awalnya kami tidak tahu, tapi kemudian sebuah pernyataan menjawab pertanyaan kami. Yang Maha Kuasa. Sang Pencipta. Ia jelas mengetahui semuanya. Bagaimana seharusnya semuanya berjalan dan bekerja, membiarkan keajaiban diluar logika terjadi, menciptakan pasangan agar tercipta keseimbangan, dan lain sebagainya.

Pasangan. Betapa gagasan itu menggugah kami. Setidaknya cara kerja kami. Seakan sesuatu menyadarkan kami bahwa tugas kami saling melengkapi; kami juga tidak sendirian.

Kami diciptakan untuk menjalankan tugas. Setiap individu disini (tempat kerja kami) memang mempunyai tugasnya masing-masing sesuai bagian tempat kami bekerja. Ada yang bekerja sepanjang waktu dan ada juga yang tidak. Setiap masing-masing dari individu juga membutuhkan klien, termasuk kami—diriku dan pasanganku—tentunya.

Bagi kami jalanan adalah salah satu fasilitas yang utama. Sebenarnya semua jalanan sama, hanya saja jurusan kemana kami akan diarahkan adalah satu-satunya perbedaan.

Namun itu semua masih belum lengkap. Bagaimanapun juga setiap individu disini membutuhkan interaksi. Kalau manusia mempunyai mulut untuk berbicara, kami mempunyai sinyal. Kalau manusia mempunyai kaki untuk berjalan, kami mempunyai semacam aliran.

Ya. Kami. Aku dan pasanganku. Aku yang biasa dipanggil Merah dan pasanganku yang biasa dipanggil Putih. Kami termasuk pekerja sepanjang waktu. Silakan saja mengibaratkan kami dengan mesin. Atau secara spesifik, kami adalah unit-unit yang bekerja demi kelangsungan makhluk hidup. Tanpa kami, makhluk tersebut tak bisa disebut sebagai makhluk hidup. Oh, tentu saja makhluk hidup yang dimaksud adalah manusia.

Namun bukan berarti hanya kami yang memegang peranan penting di tempat ini, melainkan kami semua. Sulit untuk menjelaskan tentang kami semua satu per satu. Terlalu banyak. Apalagi ini baru permulaan. Suatu saat nanti tempat ini toh akan dipenuhi dengan populasi yang lengkap yang akan bekerja dengan sempurna. Yang jelas, setiap individu disini memiliki tugasnya masing-masing. Entah itu bagian respirasi, pencernaan, ekskresi, dan lain sebagainya. Para pekerja paruh waktu bahkan tidak pernah membuat kami iri. Yang terpenting adalah kinerja kami semua yang maksimal karena dengan begitu manusia hanya perlu memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan kami ya kebutuhan manusia juga. Begitu pun sebaliknya.

Awalnya kami mengira pekerjaan ini akan membosankan karena selain bekerja sepanjang waktu kami juga mempunyai rute dan siklus yang sama bahkan setiap detiknya. Kenyataannya? Kami jatuh cinta pada pekerjaan kami.

Hari pertama, misalnya. Layaknya tur, kami diberi kesempatan untuk mulai mengenal habitat serta individu-individu lain berhubung kami belum bekerja dengan mandiri—fase kandungan, dalam bahasa manusia. Selain itu rute yang kami harus lalui pun masih pendek dan cenderung lambat. Bukan hanya itu, kami juga tak perlu mengatur suhu tubuh—tempat kami menjalankan tugas.

Kenyataan bahwa bukan hanya kami yang bekerja sepanjang waktu memang terdengar klise namun mendapati fakta bahwa pekerja sepanjang waktu ternyata lebih banyak dari yang kami kira sungguh mengejutkan kami. Sebut saja Otot, Jantung, Paru-Paru, Otak, Syaraf, Kelenjar Air Liur, Sanggurdi, Pembuluh Darah, Kelenjar Keringat, dan masih banyak lagi. Begitu juga pasangan-pasangan lain seperti Dua Ginjal, Otak Kanan dan Otak Kiri, Usus Besar dan Usus Dua Belas Jari, dan lain-lain.

Setelah melalui penantian yang cukup panjang akhirnya hari H pun tiba. Klien resmi pertamaku kusambut dengan hangat. Aku bahkan mengikat klienku terlalu erat.

“Kuhargai semangatmu.” katanya.

“Belum pernah sesemangat ini, Ok.”

“Itu artinya ini awal yang bagus, Mer.”

“Bagaimana pertemuanmu dengan Paru-Paru?” tanyaku.

“Menyenangkan. Aku tidak sabar menemui yang lainnya.”

Jadi aku mulai dari bagian yang paling vital. Tidak diragukan lagi, Otak menyapaku bahkan sebelum aku sempat menyapanya duluan.

“Ini dia. Hendak mengantarkan klienmu?” tanyanya kemudian.

“Tentu. Katanya ia sudah tidak sabar.”

“Senang menjadi klien pertama kalian.” kata Oksigen.

“Kaupikir kami tidak?” Otak mulai bergurau.

Lalu aku kembali mengedarkan klienku pada jaringan tubuh yang lain. Tugas adalah tugas; kelangsungan hidup tubuh mungil ini harus terus berlanjut. Jadi aku beralih pada tugas lain. Oh, mungkin sebenarnya bukan beralih, karena toh aku dapat melakukan beberapa tugas dalam satu waktu. Lebih tepatnya : memusatkan perhatianku pada sekitar area puncak dari tubuh ini.

“Selamat bekerja, kawan.”

“Tidak, belum. Mata ini masih belum dapat bekerja dengan sempurna di hari pertama. Mungkin kau bisa tanyakan hal ini pada organ-organ bagian pendengaran atau Syaraf.” usul Retina.

“Baiklah. Apa yang kaurasakan, Raf?” tanyaku.

“Orang asing. Kulit ini sedang disentuh orang asing sementara aku ingin merasakan sentuhan Si Ibu.” jawab Syaraf.

“Kau perlu bersabar.”

“Benar. Bagaimana denganmu?”

“Aku terlalu bersemangat.”

“Sepertinya semangatku baru akan muncul jika tubuh ini disentuh oleh Sang Bunda.”

“Dan untuk sementara aku akan memusatkan perhatian pada klienku.” kataku pamit.

Pada detik berikutnya aku baru saja menyerahkan Karbondioksida pada Paru-Paru saat pasanganku memanggilku.

“Kerja yang bagus.”

“Eh?”

“Yayaya. Aku belum terlalu sibuk jadi aku bisa mengamatimu bekerja sampai sejauh ini.”

“Terima kasih. Sebarkanlah dirimu.”

“Akan kulakukan.”

Setidaknya itulah dialog-dialog pada hari pertama. Hari pertama bukan berarti pengalaman pertama namun justru hal itulah yang membuat kami semua saling berbagi. Bercerita, bertanya, dan menjawab. Aku termasuk tipe yang selalu bertanya, tapi juga tak pernah keberatan untuk menjawab apalagi bercerita. Sesekali kami semua saling memuji. Aku memuji pasanganku dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembunuh kuman. Disisi lain aku salut dengan caranya bekerja sama dengan bakteri baik. Tidak mau kalah, ia juga memuji keramahanku terhadap klien. Syaraf memuji kegesitanku setiap kali ia memanggilku jika ada sesuatu yang salah. Bahasa manusianya adalah luka. Jika terjadi luka khususnya pada lapisan kulit maka Syaraf, aku, pasanganku, serta beberapa kawan kami yang lain akan menjadi satu regu. Kami melakukan tugas kami masing-masing hingga lapisan kulit baru terbentuk kembali. Tentunya aku takkan pernah bosan menceritakan hal itu. Kegesitan kami, kekompakan kami, serta kerasnya usaha kami selalu menjadi kenangan sekaligus pelajaran.

Omong-omong soal pelajaran, aku jadi teringat pada mata pelajaran Biologi. Pelajaran ini memang bukan untuk kami, melainkan untuk tubuh selaku habitat kami. Untuk Sang Otak. Namun tetap saja selalu ada hal menarik untuk dibahas kami semua.

Menjelang usia tiga belas tahun. Pelajaran sudah menjadi ‘makanan’ bagi Otak namun terkadang kami semua juga menyimak apa yang sedang dipelajari oleh Otak karena sepertinya Otak selalu fokus dalam mencerna pelajaran sekolah, termasuk berhitung.

Aku suka cara Otak menjelaskan kembali apa yang diketahuinya pada kami hingga setiap individu disini mengerti apa yang dimaksudnya. Tanpa mengeluh sekalipun. Inilah salah satu keahlian Otak yang kami semua kagumi—satu dari sekian alasan kami semua berpendapat bahwa manusia ini termasuk manusia pintar.

Jadi ia memanggilku dan pasanganku karena kebetulan hari itu pelajaran Biologi sedang membahas tentang kami. Katanya nama lengkap kami adalah Sel Darah Merah dan Sel Darah Putih. Otak juga menjelaskan bahwa itu berarti kamilah yang berperan besar dalam metabolisme tubuh. Tidak ada fakta yang mengejutkan karena kami sudah tahu persis segala hal yang berhubungan dengan tugas kami. Tapi ada satu hal dalam pelajaran itu yang membuat kami heran; kanker darah.


message 33: by Shelly (last edited Sep 08, 2012 08:26AM) (new)

Shelly (shelly_fw) | 83 comments Kemudian Putih meminta kami agar tidak mengkhawatirkan apapun. Katanya ia sudah menanyakan hal ini pada Gen juga Kromosom dan memang tidak ada penyakit semacam ini dalam diri mereka.

Penyakit. Betapa kata itu mengerikan bagi kami semua. Bisakah tubuh ini terbebas dari penyakit—mati tanpa harus menderita?

“Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Sang Pencipta akan selalu memberi yang terbaik. Yakinilah itu.”

Ini bukan yang pertama kalinya Putih menghiburku. Aku ingat ketika pertama kali ia melakukannya saat aku ditarik keluar secara paksa tanpa dipanggil oleh Syaraf. Katanya mimisan tidak perlu dikhawatirkan karena bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak-anak. Atau ketika aku terpanggil karena tubuh Sarah—nama pemilik tubuh ini—menyentuh benda yang sangat panas yang menyebabkan pembuluh darah mengerut. Meski ini sempat mengkhawatirkanku namun Putih berhasil menghalau rasa itu. Selalu. Begitu pula saat Limpa menukarkan sel-selku yang lama dengan sel-sel yang baru. Putih tidak pernah lupa mengingatkanku. Singkat kata, ia memang pasangan yang patut kuhargai.

Itulah mengapa kami sangat senang ketika mengetahui bahwa seluruh jagad raya di dunia ini mengakui kami sebagai pasangan. Sebut saja buah apel, buah naga, bendera, hingga bubur pun berwarna Merah-Putih!

“Mer?” Putih mengaburkan ingatanku.

“Ehm, ya. Tapi tetap saja...”

“Lagipula menurutku Sarah akan panjang umur.”

“Benarkah?” tanyaku heran.

“Tubuh ini termasuk vegetarian, bukan?”

“Ya.”

“Pola makannya selalu sehat, bukan?”

“Ya.”

“Dia juga tidak sering mengonsumsi junk food atau soft drink, kan?”

“Benar.”

“Dia juga mendapat asupan gizi, protein, dan kandungan lain yang dapat mempertahankan kesehatan tubuh ini bukan?”

“Ya.”

“Satu lagi. Ia juga memudahkan pekerjaanku, Mer. Betapa ia tidak pernah membuatku kewalahan dengan segala kuman, bakteri jahat, lemak jahat atau apapun yang mengancam kesehatannya. Nah, lantas apa yang harus dikhawatirkan? Kalaupun tubuh ini mati, setidaknya itu semata-mata karena usia. Yah, setidaknya tubuh ini tidak akan mati dengan sia-sia. Kita tidak akan mati dengan sia-sia. Bukankah begitu?”

Tiba-tiba aku merasa sangat bodoh.

“Aku tahu. Memang tidak ada salahnya mengkhawatirkan hal itu, tapi coba pertimbangkan lagi. Bukankah kita—semua yang bekerja dalam tubuh ini—sangat beruntung mendapat tempat seistimewa ini?”

Putih benar. Tempat ini sangat istimewa. Gadis ini. Sarah. Aku tidak dapat membayangkan jika kami semua bekerja di dalam tubuh seseorang yang tidak peduli dengan kesehatannya. Seakan ia punya banyak nyawa. Dan gadis ini lain. Belasan tahun berada dalam tubuh ini rasanya seperti baru beberapa hari. Terasa cepat, terasa menyenangkan. Tidak ada yang sia-sia.


***

Sudah berminggu-minggu. Belum pernah kami semua sepanik ini. Kacau sekali. Awalnya aku dan Paru-paru kekurangan klien kami. Entah apa yang terjadi, aku tak bisa lagi membawa cukup banyak Oksigen ke seluruh bagian tubuh terutama Otak. Syaraf yang tinggal di sumsum tulang belakang juga jadi lebih sering bekerja karena rasa sakit yang ia rasakan secara konstan. Belum lagi pembengkakan pada kelenjar limpa. Kata Retina, wajah Sarah semakin pucat saja. Itulah alasan mengapa Retina selalu sedih setiap kali Sarah bercermin.

Keluhan primer berasal dari Kelenjar Keringat yang semakin keras bekerja meskipun sebenarnya Otot tak melakukan banyak pergerakan. Sebaliknya, Otot malah semakin lemah. Berikutnya yang paling vital, yaitu Paru-Paru. Kerjanya yang melamban menyebabkan pertukaran antara Oksigen dan Karbondioksida membutuhkan waktu yang lebih lama.

Jadi aku tanyakan hal ini pada Otak. Jawabannya mencengangkan karena menyangkut pasanganku sendiri.

Kanker darah.

Tanpa perlu bertanya lebih banyak aku pun mulai mencari pasanganku itu. Kupanggil dia, namun tidak ada jawaban; aku tak bisa merasakan kehadirannya.

“Apakah kau mencariku, Merah?” kata suara asing tiba-tiba.

“Siapa kau?”

“Kawan barumu. Mulai sekarang akulah yang akan menggantikan pasangan lamamu. Ha!”

“Siapa kau ini?”

“Sudah kubilang, aku pengganti pasanganmu. Aku adalah anak buah dari Sel Leukimia dan aku akan menghabisi seluruh sel-sel pasanganmu itu yang ada di dalam tubuh ini tanpa ada yang tersisa!”

“TIDAK! Itu tidak mung—” tiba-tiba aku merasakan sinyal lemah dari Putih. Lirih, dalam bahasa manusia…

“Mer,”

“Putih! Dimana kau?” karena aku masih tidak bisa merasakannya.

“Ma-maaf. Aku sudah…tidak sanggup…lagi.”

“Jangan menyerah! Kumohon, Sarah membutuhkan kita!”

“Tidak…bis-a.”

“Ini tidak mungkin terjadi!”

“Ini sah—lahku. S..harusnya aku memberitahumu dari awal. –ku yang menutupi hal ini.”

“Tidak! Kumohon, bertahanlah!”

“T—dak bisa. Lagipula, penyakit ini a... bawaan.”

“Apa?”

Meski sinyal dari Putih terputus-putus tapi setidaknya aku bisa menangkap pesan yang ia coba kemukakan padaku.

“Leukimia –ni…bawaan, Kupikir tidak akan…segawat ini.”

“Penyakit keturunan?”

“Ya. Benar. Penyakit keturunan. Penyakit keturunan. Penyakit keturunan. Penyakit keturunan…”

Aku tak tahu apa yang terjadi pada pasanganku. Sinyalnya mengirim pesan yang berulang-ulang, semakin kuat, semakin terdengar ke segala penjuru tubuh ini sebelum akhirnya lenyap seketika.

Menghilang. Aku tak merasakan lagi kehadirannya. Kucoba untuk memusatkan perhatian ke segala arah dari puncak hingga aliran bagian tulang sekalipun namun hasilnya nihil. Yang ada malah ratusan sinyal benar-benar mengusikku. Membuatku semakin kehilangan orientasi. Bingung…

Jalanku terputus sebelum aku menyadarinya. Yang selanjutnya terjadi aku mulai kehilangan arah saat mulai mencari pembuluh darah yang masih utuh. Sulit. Terlalu banyak jalanku yang terputus. Syaraf memanggilku dimana-mana. Aku bahkan hampir bisa menembus lapisan kulit.

Aku kehilangan arah. Benar-benar kehilangan arah. Ratusan sinyal berisikan pesan tertuju olehku tanpa dapat kutangkap maknanya. Mungkin Retina, atau Otak, atau Syaraf. Ah, aku tidak bisa membedakan masing-masing sinyal itu.

Tapi Sarah masih hidup; aku masih mengantarkan klienku. Untungnya jalanku dari paru-paru menuju pembuluh darah halus di hidung masih terbilang lancar; sedikit pendarahan setidaknya masih memberikan peluang.

Kemudian, sekira sepersekian detik lagi aku tiba untuk mengikat kembali klienku, rasanya seperti ada yang menghalangi. Tapi aku punya banyak sel, jadi kukerahkan sel sebanyak-banyaknya yang kubisa untuk mengikat Oksigen kembali.

Brap! Dalam satu detik yang sama selku melakukan kegiatan mengikat secara bersamaan. Aku tak tahu apakah ada Oksigen yang terikat, tapi aku masih bisa bergerak sesuai jalur menuju Paru-Paru. Pertukaran lagi, masih diiringi sinyal yang terus menerus mengusikku hingga aku sendiri tak dapat membalas sinyal mereka. Detik berikutnya sel-sel kami berpencar untuk mengangkut karbondioksida dan sebagian lagi menghantarkan Oksigen yang tersisa ke seluruh tubuh.

Hening. Tak ada sinyal sama sekali selama sepersekian detik sebelum sinyal berikutnya mengirim pesan secara serempak dan bersamaan.

“Selamat tinggal,”


Jovyanca | 131 comments E L I

Pintu itu berhasil kudobrak hingga terbuka. Aku menemukannya sedikit terkejut dengan kehadiranku di pesta kecilnya yang agaknya amat pribadi, mengingat aku harus mengorbankan bahuku dan sebuah kursi dari lorong tadi.

Melihatku, ia tersenyum, agak tersipu. Raut wajahnya seolah berkata, “Ups. Aku ketahuan.” Namun senyum pada paras cantik itu menghilang secepat ia muncul.

Gadis itu kini memalingkan wajah pada sosok yang diam bergeming di atas lantai. Tubuh tambun Bu Lisa, terbaring tengkurap di dekat kakinya.

Ia langkahi tubuh itu, menunduk dan menarik sebentuk rantai dengan kasar. Dalam satu sentakan, benda itu lepas dari leher wanita paruh baya itu. Liontin di ujung rantai ia angkat hingga setinggi wajah. Batu bulat itu sedikit terayun, berkilau kemerahan di bawah sinar lampu. Sejenak ia pandang dengan rindu benda itu, lalu ia kalungkan pada lehernya sendiri.

Kembali padaku, ia lempar pandangan manjanya yang biasa. Entah seperti apa tampangku yang penuh kengerian ini di matanya. Satu hal yang pasti, aku tidak dapat bergerak. Aku terpaku di ambang pintu dengan daun pintu yang setengah terlepas engselnya, hanya dua meter dari monster kecil berambut merah yang tengah menatapku dengan polos.

***

Hari itu cerah. Hujan lebat semalaman menghasilkan langit biru yang luar biasa memanjakan mata. Tapi ketenangan di pagi itu tidak berlangsung lama.

“Dokter!”

Pak Widi yang jangkung berlari kikuk ke arahku yang sedang berdiri di teras depan klinik kecil milik desa yang damai ini. Napasnya pendek-pendek ketika ia akhirnya tiba di hadapanku.

“Kami menemukan seorang anak gadis di dekat sungai, Dok. Sepertinya ia terhanyut dari dalam gua. Aneh sekali, Dok.”

“Lalu di mana anak itu sekarang? Apanya yang aneh, Pak Widi?”

“Mereka sedang membawanya ke sini. Dokter tunggu saja. Rambutnya, Dok. Putih, seperti rambut nenek-nenek. Itu aneh, kan? Padahal wajah dan badannya jelas-jelas masih remaja.”

Aku tertegun. Terlebih lagi ketika benar-benar melihat sendiri sosok itu.

Kulitnya, serupa rambutnya, daripada putih, lebih tepat jika dikatakan tidak berwarna. Ia tampak pucat dengan kelopak mata dan bibir yang kebiruan. Hal pertama yang terbersit dalam pikiranku adalah gadis ini mungkin sudah mati. Namun hangat pada tubuhnya menyatakan sebaliknya.

Setelah dua hari, ia terbangun.

Pembawaannya mengejutkan setiap orang, tenang dan dewasa. Walaupun tidak pernah berbicara, ia selalu tersenyum ramah. Ia tidak terluka sedikit pun tapi tidak dapat mengingat asal usulnya. Penduduk desa merasa kasihan padanya. Mereka menerimanya seperti saudara jauh mereka sendiri.

“Eli.” Begitulah Pak Kepala Desa menamainya. Nama yang sederhana, mudah diingat, dan disetujui oleh yang lain.

Banyak orang menyukainya. Ibu-ibu sering berkunjung ke klinik untuk sekedar menyapa atau melihatnya. Anak-anak suka mengajaknya bermain.

Agak ganjil melihat bagaimana orang-orang desa begitu gampang mengganggap gadis asing tanpa kejelasan identitas itu sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Sulit diterima oleh logikaku. Aku sebenarnya memiliki rencana lain yang lebih masuk akal. Seperti misalnya membawanya ke kota dan mencoba menemukan sedikit informasi tentang jati dirinya. Mencarikannya bantuan medis dari rumah sakit yang lebih besar mungkin. Atau meminta bantuan para polisi dan penyelidik.

Namun semua itu ditampik oleh penduduk desa. Mereka seolah tersihir oleh keindahan paras dan kehangatan senyumnya. Mereka menyayanginya, sangat.

Karena ia masih tampak labil, paling tidak dari segi ingatan, ia dititipkan padaku. Sebagian besar waktunya ia habiskan di sisiku; membantu membersihkan klinik, merapikan kartu-kartu pasien, merawat tanaman, hingga membuatkan makan malam sederhana. Ia seperti seorang asisten yang handal.

Harus kuakui, ia cakap, jarang mengulang kesalahan yang sama. Ia bahkan lebih cekatan daripada perawat desa yang sudah lama bekerja sama dengan dokter-dokter di klinik, termasuk yang terbaru, yaitu aku. Dan aku mengaguminya untuk itu. Ah, sepertinya aku dan logika kecilku juga sudah ikut tersentuh oleh kekuatan magisnya yang tak kasatmata.

Dan itu adalah awal dari semua bencana ini. Trik-triknya yang halus berhasil menipu kami semua. Dan sekarang aku juga ikut terjebak.

Aku menghela napas berat dan berkata pada diriku sendiri, di dalam hati tentunya. “Apa kubilang. Tidak ada yang semudah itu. Seorang gadis manis tiba-tiba muncul dan menjadi bidadari bagi semua orang dan berharap kisah ini akan berakhir dengan hidup bahagia selama-lamanya.”

Aku jadi ingin tertawa, tapi situasi setegang ini membuat hal itu sulit dilakukan. Jadi aku hanya menelan ludah dan meneruskan terpaku di tempat dengan tenggorokan yang tiba-tiba gampang mengering.

“Eli.” Ucapku akhirnya, setelah suaraku kembali.

“Ya, Dokter.”

Astaga. Ia bisa berbicara!

Kurasa wajah terpanaku pastilah sangat lucu hingga ia tertawa segembira itu.

“Kukira kau tidak bisa berbicara.” Kalimat spontan ini mendahului kecepatan berpikirku untuk pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih krusial.

Ia kembali tertawa, kali ini terlihat lebih geli daripada sebelumnya. Sial. Aku benar-benar merasa tertipu.

“Jangan, Dok. Jangan merasa tertipu. Bukan maksudku ingin menipu Dokter. Aku tulus ingin membantu di klinik kok.” Seulas senyum malaikatnya ia tambahkan di akhir kalimat itu.

Tidak hanya bisa berbicara, tapi juga bisa membaca pikiran. Luar biasa! Aku benar-benar marah sekarang.

“Kau keterlaluan, Eli. Kalau bukan penipuan, lalu apa namanya ini? Lalu ke mana semua penduduk desa? Kenapa hanya ada kau dan…”

Rentetan kata-kata itu berhenti ketika ketakutan kembali menguasaiku. Pandangan mataku jatuh pada tubuh Bu Lisa yang tergeletak di belakang Eli.

Ketika aku kembali melihatnya, gadis itu menatap dingin padaku.

“Apa yang kau inginkan? Kau apakan para penduduk desa?”

Ia mendengus dan memasang tampang penuh cemooh.

“Aku bosan, Dok.”

Ia berbalik, melangkahi Bu Lisa sekali lagi, dan berjalan pelan ke arah jendela. Ruang kecil ini adalah ruang kepala sekolah. Dan sang kepala sekolah tak lain tak bukan adalah sosok yang baru saja ia langkahi, yaitu Bu Lisa itu sendiri.

“Kenapa kau membunuhnya?”

Aku tidak tahu mengapa aku tidak ikut berbalik dan berlari saja. Mungkin sebagian besar otakku mengerti kalau aku tidak akan bisa lolos. Namun sebagian sisanya masih optimis bahwa aku mungkin akan selamat dari makhluk apa pun ini.

Ia mengabaikanku dan membuka jendela lebar itu. Angin siang yang kering berhembus masuk.

“Hei!” Aku sudah mulai tidak sabar.

“Sstt.” Ia membalas hampir seketika itu juga.

Ini gila. Aku pasti sudah gila, masih berdiri di sini dan meladeninya. Kenapa aku tidak berlari saja. Lagi-lagi keinginan itu muncul, begitu kuat. Tapi kakiku tidak mau beranjak.

“Dokter.” Suara bening itu menyela kekalutan pikiranku.

“Apakah Dokter tahu kalau dulu, dulu sekali, desa ini jauh lebih indah dari ini?”

Apa?

“Iya. Desa ini indah, Dok. Hutan-hutan jauh lebih lebat. Ikan-ikan di sungai jauh lebih banyak. Gunung jauh lebih hijau. Dan desa ini juga jauh lebih ramai.”

Kali ini ia berbalik menghadapku. Tetap menyandar pada jendela, seperti anak kecil yang sedang menceritakan kisah seru petualangannya hari ini, dengan mata yang berbinar ia menuturkan semuanya.

Bagaimana dulu, dulu sekali, ia tinggal di desa ini. Ayahnya seorang petani kaya. Ibunya cantik, tapi tidak secantik dirinya. Dan ia memiliki seorang saudara kembar. Mereka sepasang kembar identik yang dicintai semua orang. Sampai pemuda itu datang.

Seorang pemuda berdarah biru, keturunan bangsawan asing yang tengah berlibur dan sampai di desa mereka yang kaya akan hasil pertanian yang berkualitas tinggi, pemandangan alam yang memikat dan dua gadis kembar yang tersohor kejelitaannya.

Maka persaingan itu pun dimulai. Tidak ada lagi kata damai dan tentram di desa itu. Kedua putri bertanding memperebutkan hati sang pangeran tampan. Semua cara dilakukan, dari yang paling konyol hingga yang terlicik.

Kedua orang tua tidak dapat bertindak banyak, bahkan tidak mampu menghalangi salah satunya menggunakan ilmu hitam terlarang yang sudah lama diharamkan di sudut desa mana pun. Ia mengutuk saudaranya sendiri dengan mengorbankan seluruh warna pada dirinya untuk membangkitkan roh jahat yang bersemayam dalam sebongkah permata keramat yang tersembunyi di sebuah gua terdalam, di dalam gunung tertua yang menaungi desa.

Hasilnya, rambut merahnya yang tergerai indah memutih dan menjadi kusam. Wajahnya, walau tetap berparas sama seperti sebelumnya, tidak lagi memiliki cahaya dan rona cerah. Kulitnya mengering dan tubuh sehatnya menjadi keriput. Semua warna kehidupannya terisap ke dalam batu.

Batu itu menjadi hidup. Sejalan dengan napas gadis itu, permata itu berdenyut dan berpendar kemerahan. Dengan batu itu, pemakainya mendapatkan kekuatan. Ia menyerap habis tetes demi tetes sari kehidupan saudarinya, melihatnya memudar menjadi abu putih di tangannya sendiri dengan tatapan kemenangan. Nah, lenyap sudah satu-satunya saingan.

Namun di hadapannya, pemuda itu mengungkapkan isi hatinya. Ia tidak pernah mencintainya, katanya. Ia telah tertarik pada sang saudari yang bersikap lebih sederhana sejak pandangan pertama, katanya. Ia sudah bersumpah bahwa jiwa dan raganya hanya milik kekasihnya, katanya. Dan pemuda itu pun mencabut nyawanya sendiri, menyusul sang gadis pujaan.

Gadis berambut putih yang tenggelam dalam kagetnya lengah dan berhasil dilumpuhkan. Di tengah kesedihan yang memilukan, kedua orang tua hanya bisa berpasrah, kehilangan kedua buah hati mereka sekaligus hari itu.

Batu dikembalikan pada tempatnya, berikut sang pemakai yang ikut ditanamkan di sana. Demikianlah tampaknya gua itu akhirnya ditimbun dan ditutup selamanya, sampai sekarang. Beberapa ratus tahun kemudian mungkin, alam berkehendak lain. Pergeseran tanah membuat mulut gua kembali terbuka, dan gadis itu, beserta permatanya kembali ke permukaan.

“Selesai.” Ia membungkuk dengan dramatis seolah sebuah sesi pembacaan dongeng telah ia rampungkan.

Aku hanya bisa melongo, pastinya terlihat seperti orang yang menderita keterbelakangan mental.

“Kau pasti bercanda.” Seandainya aku sendiri bisa mempercayai kata-kataku barusan, tentunya hal yang terjadi berikutnya akan terasa lebih mencengangkan.

Batu itu mendadak bersinar, seakan ingin membuktikan keberadaannya, sangat menyilaukan. Rambut Eli yang entah sejak kapan kembali berwarna merah, ikut berkilauan olehnya. Rona pada wajah dan kulitnya menjadi sempurna. Ia cantik, luar biasa mempesona.

Bodoh sekali pemuda itu dulu, mengapa tidak memilih dia saja. Ya, awalnya aku berpikir begitu. Tapi bila sang saudari kenyataannya juga sama cantiknya, dengan sifat yang bertolak belakang dengan monster ini, yah, hanya orang tolol yang akan salah memilih.

Lagi-lagi aku menghela napas. “Baik. Kau sudah menunjukkan maksudmu. Kau. Si kembaran jahat yang membunuh saudaramu sendiri demi seorang laki-laki yang bahkan tidak mencintaimu. Dan hidupmu berakhir dengan tragis. Oke. Aku menyesal mendengarnya. Sungguh.”

Bukan perkataan yang cerdas. Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi otakku benar-benar buntu. Tidak ada penjelasan yang masuk akal untuk perubahan fisiknya yang terjadi hanya dalam waktu setengah hari, karena tadi pagi ia jelas masih Eli yang sama seperti tujuh belas hari yang lalu, pucat dan berambut putih. Dan kelihatan jauh lebih bersahabat tentunya.

Aku bergeleng. Kenapa setelah satu sesi tidur siang yang nyaman, aku malah terbangun dalam mimpi seburuk ini? Awalnya klinik yang sepi. Lalu jalanan yang kosong; bahkan seekor ayam pun tidak terlihat. Dan terakhir, jeritan Bu Lisa dari ruang kepala sekolah, yang membawaku kemari.

“Jadi, apa maumu sekarang? Lalu di mana semua penduduk desa? Kau tidak membunuh mereka semua, kan?”

Senyum itu dingin. “Kesimpulan yang bagus, Dok.”

Sial. Ini buruk. Tapi penasaranku belum terpuaskan. “Bagaimana caranya? Bukankah permata itu sumbernya? Bagaimana kau melakukannya tanpa itu?” Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja. Aku pasti sudah kehilangan akal sehatku.


message 35: by Jovyanca (last edited Oct 13, 2012 05:57AM) (new)

Jovyanca | 131 comments Ia menelengkan kepala dan tampak berpikir keras hingga keningnya berkerut dan bibirnya mengkerucut. Tapi ia tidak berlama-lama membiarkan pertanyaan-pertanyaanku.

“Kau memang berbeda dari mereka, Dok.” Lagi-lagi ia tersenyum.
“Yah, kau benar. Batu ini memang sumbernya, tapi aku tidak harus selalu memegangnya. Aku hidup kembali darinya, ingat? Berkah kecil itu ada di dalam diriku.

Dan tentang orang-orang desa yang polos-polos itu, semuanya mati seperti saudariku. Seperti ini.”

Ia menghampiri Bu Lisa dengan langkah ringan, dan menyentuhnya. Di bawah telapak tangannya yang mungil, tubuh besar dan padat itu terurai menjadi debu halus berwarna keputihan setelah sebelumnya mengempis dan mengering seperti sebuah pelampung yang diisap anginnya.

Aku lagi-lagi tercengang. Mudah sekali. Apa jadinya bila gadis ini bebas berkeliaran di dunia luar sana. Tapi daripada mencemaskan penduduk dunia, mungkin akan lebih normal jika aku mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini.

“Tidak perlu cemas, Dok. Jika aku ingin membunuhmu, Dokter pasti sudah lama mati.”

Ucapan itu hampir terasa menentramkan. Ya, hampir. Jika saja tidak ia ucapkan sambil menyeringai penuh arti begitu.

“Jadi, apa maumu? Kau tentu tidak akan melepaskanku begitu saja, kan?”

Ia terkekeh. “Jika Dokter bersedia, aku ingin berbagi keabadian ini.”

Tangan dengan jari-jari lentik itu terulur menunggu jawabanku. Dan logika kecilku yang akhirnya membantuku berkata, “Kurasa aku tidak punya pilihan lain.”

S E L E S A I


back to top
This topic has been frozen by the moderator. No new comments can be posted.