group discussion
topic:
Buku & Membaca >
Penerjemah
Comments
(showing 116-165)
post a comment »
soal pencantuman nama penerjemah di cover depan, belum banyak penerbit kita yg rela melakukannya. Kalau ada itu pun karena menyangkut nama beken penerjemahnya yg bukan penerjemah. Misalnya, buku puisi kahlil gibran yg diterjemahkan sapardi. Nama sapardi dicantumkan di sampul depan itu. Atau ada novel vietnam yang diterjemahkan Landung Simatupang. Contoh lain, "La Nuit"-nya Wiesel yang diterjemahkan Marianne Katoppo (eh..apa Maneke Budiman, ya? Agak lupa :D)
James wrote: "hehehe, gue jadiin Quote ya, Tyas? boleh kan? ;)"Huahahaha... ya boleh saja James. Itu seruan pamungkas kami. Lucunya, dari tiga orang editor saat itu, tak satu pun tersisa... stres semua, milih pindah kerjaan lain atau seperti saya, jadi penerjemah lagi dengan antengnya... :D
Oya, saya sebagai penerjemah, juga pernah berpengalaman jadi editor, dan kerjanya memang lebih bikin stres. Apalagi ternyata selalu ada saja orang yang menyatakan sanggup mengerjakan kerjaan terjemahan, ternyata kerjanya amburadul (meskipun waktu tes masuk hasilnya cukup bagus). Sehingga kami di divisi penyuntingan sering terdengar berteriak stres dan memaki-maki penerjemah, seraya berkata "Boleh nggak sih bunuh penerjemah ini!" :P Hehehehe, itu cuma berbagi cerita aja.Jadi penerjemah emang jauh lebih enak, tapi... harus disadari juga bebannya berat, ga bisa dianggap enteng. Ketak-ketik, ga cek lagi, kirim, selesai.
Dan editor memang benteng terakhir kerapian penerjemahan dan tataletak sebelum buku dinyatakan siap naik cetak. Terkadang mereka bikin penerjemah frustasi juga :D
Baru-baru ini saya kesal karena salah satu buku terjemahan saya diterbitkan dengan suntingan dan layout yang tak rapi karena... waktu itu bagian editor sedang bermasalah... yah... intinya... saya sebal.
Femmy wrote: "Endah wrote: "Barangkali ada baiknya jika kita memberikan penghargaan lebih kepada para penerjemah itu. Misalnya dengan mencantumkan nama mereka di sampul depan buku berdampingan dengan nama penuli..."Sebagian penerbit komik Jepang justru meminta pada para penerbit di sini untuk mencantumkan nama penerjemah di sampul.
*waves pada Ronny* saya telah kembali...
Oh, nimbrung meski agak telat. Soal survival of the fittest. Pak Salomo pada dasarnya benar. Kata dasar survive itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, 'sintas'. Jadi ada bentuk-bentuk kesintasan (survival), penyintasan (survive), kepenyintasan (survivorship).
Dan memang banyak orang yang salah mengartikan 'fittest' di situ sebagai yang paling bugar. Jadi bayangannya, cuma makhluk paling kuat atau ganas aja yang bisa sintas. Padahal, seperti yang berhasil diartikan dengan baik oleh Pak Salomo, yang dimaksud dalam biologi adalah 'paling dapat menyesuaikan diri'. Biar makhluknya kayaknya cuma cacing uget-uget aja, jika dia sesuai dengan lingkungannya, dia akan sintas. Biar makhluk ototnya segede-gede gaban, tapi nggak tahan panas tinggi misalnya, lantas mati, ya tidak sintas juga.
'Kesintasan yang tersesuai' mungkin lebih pas daripada 'kesintasan penyesuai'?
Mba Poppy and Rini,
kalo bisa baca message saya bisa tolong info/ anda mungkin bisa bantu saya menerjemahkan puisi-puisi anak smp dan sma tentang kekerasan di sekolah. ke japri aja paulanaji_brata@yahoo.com
@Po (pesan no.152)
Kalau di Serambi, mereka suka mencantumkan juga biodata penerjemah di halaman terakhir sebagai bentuk penghargaan kepada para juru tafsir itu :)
nah. jadi buat yg gak terlalu mudeng buku dunia sophie tsb disini, ya nda papa lah. soalnya saya yakin sudah bukan remaja lagi. :P j/k.*kabur.
Permisi, ikut nimbrung ya, menanggapi obrolan tentang Dunia Sophie.Saya dah lama banget membaca buku ini (versi terjemahan). Waktu itu rasanya ini buku yang cukup menantang untuk diselesaikan. Sesampai di Norway, ternyata buku ini ditujukan untuk remaja (http://www.bokkilden.no/SamboWeb/produkt...) --> Alder: Ungdom . Ungdom=remaja.
Sofies verden: roman om filosofiens historie --> Sophie's World: a novel about the history of philosophy.
Pelajaran filsafat dasar memang pelajaran wajib disini. Entah di sekolah menengah, tapi di perguruan tinggi ini menjadi mata kuliah semacam MKDU yang harus diambil oleh setiap mahasiswa strata 1.
Konon, pak Jostein Gårder ini memang berniat membuat buku pengantar filsafat yang menarik buat remaja.
Aku baca ulang lagi dari nomer 1 sampai 151 dan baca diskusi di http://www.goodreads.com/review/show/128... Sepertinya bisa diupayakan nih, untuk para penerbit dan para penerjemah yang gabung di GRI sini untuk:
*. Menyantumkan nama penerjemah di sampul depan atau belakang. Selain itu bagian penghargaan kerja penerjemah, itu juga dinilai akan meningkatkan kompetisi menerjemahkan karya2 semakin baik lagi. Bagi pembaca, manfaat jelasnya adalah pembaca bisa langsung mengetahui siapa yang menerjemahkan. dan kalau suka, bisa jadi panduan untuk baca karya terjemahan lainnya.
apa lagi ya rekomendasinya?
wah, nanti aku mau tanya2 lagi tentang 'survival of the fittest'. Bahaya kalo ada dua pemahaman berbeda
Ronny, bukankah "the fittest" maksudnya "yang sesuai/dapat menyesuaikan diri", seperti yang diuraikan Bung Salomo di atas? Bukan "terbugar"?
@Femmy. sepertinya maksudnya bukan kesintasannya yang terbugar, tapi "kesintasan dari yang-terbugar" (the fittest)tapi 'kesintasan yang terbugar' memang sangat membingungkan
Nurul wrote: "@Ronny: hehehe.... kalo 'kesintasan yang terbugar' (sintas = survive, bugar = fit) aku dengar waktu seminar 150 tahun 'Letter from Ternate' nya Alfred Russel Wallace di Makasar desember kemarin. ..."Wah, kok bisa keliru begitu ya pemahamannya. Malah jadi bugar :-(
Iya, betul. Emang harus ada Komisi Istilah lagi sepertinya. Pak Liek Wilardjo selalu mengindonesiakan setiap istilah fisika, namun memang belum umum terpakai. Waktu kecil kakakku punya buku bagus soal Energi (sejenis TIME LIFE gitu yg diindonesiakan), dan skrg masih ada bukunya, waktu kubuka2 lagi belakangan ini baru tahu kalau ternyata yg nerjemahin Pak Liek. Buku masa kecil itu skrg jadi referensi yang sangat berguna.
@Ronny: hehehe.... kalo 'kesintasan yang terbugar' (sintas = survive, bugar = fit) aku dengar waktu seminar 150 tahun 'Letter from Ternate' nya Alfred Russel Wallace di Makasar desember kemarin. Keliatannya bakal dipake sebagai istilah baku orang2 Biologi.Emang agak susah cari terjemahan untuk bidang science. Pembakuan kata atau istilah kadang gak disebarluaskan. Musti beli KBBI terus ya...
baca Bung Salomo di Kompas hari ini jadi inget Mb Nurul soal survival of the fittestLengkapnya:
Kesintasan Penyesuai
Jumat, 9 Januari 2009
SALOMO SIMANUNGKALIT
Saya dengar dari seorang kawan, pengajaran fisika di perguruan tinggi di Malaysia berlangsung dalam bahasa Inggris. Dengan mempertahankan istilah dan konsep fisika dalam bahasa Inggris, begitulah tujuannya, mahasiswa dan sarjana mereka dapat serta-merta dengan lekas menyerap perkembangan ilmu ini. Setakat ini gerak maju ilmu alam memang dipelopori fisikawan di negara- negara yang sainsnya berada di garda depan. Amerika Serikat yang berbahasa Inggris boleh dibilang sang jawara sekarang.
Saya tidak setuju dengan kebijakan pengajaran ala negeri jiran itu. Fisikawan-fisikawan terbaik kita seperti Achmad Baiquni, Moehammad Barmawi, Tjia May On, Pantur Silaban, Hans Jacobus Wospakrik, Erwin Sucipto, hingga Laksana Tri Handoko dulu menyerap berat jenis, gaya tarik-menarik, lintasan peluru, perpindahan panas, dan sebagainya—yang sebagian merupakan ciptaan Komisi Istilah pada akhir 1940-an—ketika memahami ilmu alam di masa-masa pertama. Mereka toh tak canggung belajar fisika lanjut di bawah bimbingan fisikawan sekelas pemenang Nobel.
Dalam mempelajari ilmu apa pun, sikap utama yang perlu dianut adalah cari dahulu ilmu dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Yang utama adalah pemahaman, bukan istilah yang dipertahankan dalam bahasa sononya. Kegenitan seperti yang dilakukan jiran kita hanya memiskinkan lumbung bahasa setempat menampung segala gagasan cemerlang membongkar rahasia semesta.
Maka, ketika membaca Jaya Suprana membahas ungkapan terkenal survival of the fittest gubahan Herbert Spencer yang dikait-kaitkan dengan Teori Evolusi Charles Darwin, sedikit terganggu saraf kebahasaan saya. Bahwa sahabat dekat Gus Dur ini menjelaskan dengan jitu asal-usul slogan itu dan mengartikannya dengan jelas, tentu saja kabar baik bagi sebagian orang Indonesia yang salah memahaminya sebagai ’si kuatlah yang dapat bertahan’. Fit dalam konteks ini bukan kuat, melainkan sesuai, selaras, pas, atau cocok. Makna yang betul dari ungkapan itu tentulah ’yang mampu bertahan hidup adalah yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya’.
Sepanjang artikelnya, Jaya membiarkan slogan itu tanpa terjemahan: survival of the fittest. Kok tak ada versi bahasa Indonesianya, ya?
Kamus Besar Bahasa Indonesia susunan Pusat Bahasa baru di dalam edisi ketiga memunculkan lema sintas. Makna kata berkelas adjektiva ini: ’terus bertahan hidup’ atau ’mampu mempertahankan keberadaannya’. Yang menyanyi adalah penyanyi; yang menyesuaikan diri, ya, penyesuai. Maka, survival of the fittest bisa direkayasa dalam bahasa Indonesia sebagai kesintasan penyesuai.
Menerjemahkan istilah atau ungkapan ilmiah, bahkan slogannya, dalam bahasa setempat perlu sekali membantu seorang pelajar dan terajar yang tersesat memahami dengan tepat sebuah gagasan dalam ilmu pengetahuan. Tak semua memang harus diterjemahkan. Ada istilah ilmu yang punya latar sejarah kuat yang tak perlu dialihbahasakan. Spektrum (Newton) dan quark (Gell-Mann). Ini hanya secuil contoh.
di tiap kisah kan selalu ada tokoh2 comic yang memeriahkan suasana. hehe. biar imbang, man. jadi ya abis pening2, tawa saja..what do u think...hik*udah ah. cari minum dulu. cape neh cegukan terus
ini ya postingan sampe ratusan... secara kebetulan tadi pas bincang2 sama erie, dapat link ini:http://www.goodreads.com/review/show/128...
rasanya disana banyak mewakili juga.
Kang Isman, Sebagai pembaca, aku ngerasa humor permainan kata di sini jadi beban bagi pembacanya. Padahal humor menurutku sebaiknya jadi bonus. Apresiasi pada pembaca, "Terima kasih telah memerhatikan." Bukannya malah ngasih beban, "Ayo pikirin makna kalimatku. Ntar kalau ngerti, lucu lho." kayaknya pernah nemu yang kayak itu di sebuah buku. Nice tips untuk melucu juga. :D
Ah, berarti ada juga yg terpaksa pakai catatan kaki ya? Betul, tergantung konteks, aku sudah pakai dua cara: mengubah 'pun' sama sekali, dan mengorbankan kelucuannya. Karena dalam menerjemahkan novel sedapat mungkin tidak ada catatan kaki dari penerjemah/editor.
wah, 5 jam tidak buka goodreads, topik ini sudah keisi 45 komentar baru. gagal deh posting ke-100 lagi, keduluan james. gak jadi dapat payung dan mug cantik ketiga nih. he...he...he..
Memang, penerjemahan itu sangat tergantung konteks. Ngga bisa satu strategi dipukul rata dipakai untuk semua kasus.
Poppy D wrote: "Gimana dengan 'pun'/permainan kata? Apakah ada rekan penerjemah yg membiarkan saja 'pun' aslinya (dengan catatan kaki), atau diganti dengan permainan kata yg sama sekali lain dalam bhs Indonesia ta..."Agh. Aku ketemu bejibun permainan kata saat menerjemahkan buku Sun Tzu Was a Sissy: Conquer Your Enemies, Promote Your Friends, and Wage the Real Art of War oleh
Stanley Bing. Awalnya masih menantang. Terutama karena ini buku humor. Lama-lama eneg karena terkesan pamer. Suatu hal yang bisa ia sampaikan dengan sederhana malah sengaja njelimet. Karena dengan begitu, ia bisa menyelipkan sejumlah permainan kata di dalamnya.
Sebagai pembaca, aku ngerasa humor permainan kata di sini jadi beban bagi pembacanya. Padahal humor menurutku sebaiknya jadi bonus. Apresiasi pada pembaca, "Terima kasih telah memerhatikan." Bukannya malah ngasih beban, "Ayo pikirin makna kalimatku. Ntar kalau ngerti, lucu lho."
Mengenai pilihan terjemahan, tergantung konteks permainan katanya, Mbak Pop. Kalau konteksnya lebih ke arah humor, aku memilih mengganti dengan permainan kata yang sama sekali lain dalam bahasa Indonesia. Kalau konteksnya lebih ke arah menyampaikan satu pesan dengan humor sebagai bonus, saya cenderung mengutamakan pesan itu, dan mengorbankan humornya. Kalau dua-duanya sama penting dan berkaitan (misalnya: permainan kata yang mengarah ke nama perusahaan yang nggak bisa diganti), ya aku biarkan dengan memberi catatan kaki.
Uci wrote: "Enakan nulis daripada ngedit ya Rin... ? :)"
Sebetulnya ngedit itu ada seninya juga, dapet ilmu banyak. Tapi yah..kalau mengurusi naskah yang penulisnya bersetia pada ketidakmasukakalan, atau struktur yang bikin keriting..dan jelas-jelas tidak mau nerima input apa pun, rasanya bagai itik melahirkan kambing.
Poppy D wrote: "Gimana dengan 'pun'/permainan kata? Apakah ada rekan penerjemah yg membiarkan saja 'pun' aslinya (dengan catatan kaki), atau diganti dengan permainan kata yg sama sekali lain dalam bhs Indonesia ta..."Gw jarang bertemu 'pun' (nggak ngarep juga sih..hush hush hush sana pergi hihihi)
Tapi pernah bertemu dan gw bikin permainan kata dalam bahasa indonesia saja. Soalnya masih baik sih 'pun'nya, nggak galak :)
Rini Nurul wrote: "James wrote: "Poppy D wrote: "As for editing, lebih baik menerjemahkan daripada ngedit...suerrrrr!"iyah, setujuh. yang ini bener bangeth."
Ini juga berlaku untuk naskah asli, menurutku..
"
Enakan nulis daripada ngedit ya Rin... ? :)
Gimana dengan 'pun'/permainan kata? Apakah ada rekan penerjemah yg membiarkan saja 'pun' aslinya (dengan catatan kaki), atau diganti dengan permainan kata yg sama sekali lain dalam bhs Indonesia tapi masih bisa nyambung, atau membiarkannya lost in translation? Aku sering sekali dapat naskah asli penuh dengan 'pun', dan biasanya berusaha keras menjadikannya plesetan juga. Tapi beberapa kasus tidak bisa dikompromi, maka akhirnya lost in translation, meski udah berunding kanan-kiri sama editor lain.
James wrote: "Poppy D wrote: "As for editing, lebih baik menerjemahkan daripada ngedit...suerrrrr!"
iyah, setujuh. yang ini bener bangeth."
Ini juga berlaku untuk naskah asli, menurutku..
Poppy D wrote: "As for editing, lebih baik menerjemahkan daripada ngedit...suerrrrr!"
iyah, setujuh. yang ini bener bangeth.
iyah, setujuh. yang ini bener bangeth.
Poppy D wrote: "As for editing, lebih baik menerjemahkan daripada ngedit...suerrrrr!"
Sepakat, Mbak. Suer tekewer-kewer lah.
Rini Nurul wrote: @Mbak Pop, walah..!! Ntar dikurung di rumah angker kayak Century yak.
BTW apakah sudah ada thread mengenai editor? Sepertinya akan jadi diskusi mena..."
Halah...dikutuk gak bisa lihat matahari seumur hidup. As for editing, lebih baik menerjemahkan daripada ngedit...suerrrrr!
unread topics | mark unread






