Kastil Fantasi discussion

note: This topic has been closed to new comments.
168 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Februari ’12)

Comments (showing 1-43 of 43) (43 new)    post a comment »
dateDown_arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (last edited Feb 16, 2012 07:18PM) (new)

Fredrik (fredriknael) | 2149 comments Mod
Forum KasFan Mempersembahkan:

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi”


Kegiatan ini diadakan sebagai ajang mengasah piso latihan, sekaligus unjuk kreativitas, buat teman-teman yang suka menulis atau pengen juga mulai-mulai coba menulis.
Lomba ini rencananya akan diadakan setiap bulan, dengan tema-tema berbeda yang telah disiapkan oleh panitia.
Lombanya santai-santai aja, jadi tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan, dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat diharapkan.
Lalu sebagai pemanisnya, setiap bulan panitia akan memilih 1 pemenang yang berhak untuk mendapatkan 1 buku pilihan sebagai hadiah. ^^


Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain tentunya dilarang.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya blog pribadi), dengan catatan: menyertakan keterangan kalau ceritanya sedang dilombakan di sini, disertai link ke group Kastil Fantasi.

4) Panjang cerita maksimal dua post, yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal.
Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di MSWord dan Goodreads bisa berbeda, misalnya tulisan italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh (misalnya dibuat cerpen atau novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Pengomentaran cerita tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, akan di-delete oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapihan.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.


======

[Lomba] CerBul KasFan (Feb ’12)


Soal untuk bulan ini:

Ada sebuah kastil misterius yang membuat siapa pun yang masuk ke dalamnya malah tidak mau keluar lagi dan memilih untuk menetap selamanya di sana.

Ending cerita bebas. Karakter-karakter yang digunakan bebas. Tone cerita bebas; mau thriller, horror, action, romance, drama, apa saja boleh.

Prasyarat khusus: Harus ada adegan yg menggambarkan kondisi di dalam kastil.


Timeline lomba:

Periode posting cerita: 16 - 29 Februari

Periode penilaian: 01 - 14 Maret

Pengumuman pemenang: 15 Maret


Daftar hadiah yang bisa dipilih pemenang (pilih satu):

1) Ther Melian: Genesis – Shienny M.S. + tanda tangan penulisnya (buku upcoming read Maret)

2) The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick (terjemahan; buku upcoming read Maret)

3) Fantasy Fiesta 2011 – Antologi 20 cerpen fantasi + tanda tangan penulisnya (buku currently reading bulan ini)

4) Anak Rembulan – Djokolelono + tanda tangan penulisnya (buku currently reading bulan ini)

5) Mockingjay – Suzanne Collins (terjemahan; buku currently reading bulan ini)

6) The Ambassador's Mission – Trudi Canavan (bahasa Inggris, edisi mass market paperback)

7) Reckless – Cornelia Funke (bahasa Inggris, edisi hardcover)


Genesis (Ther Melian, #4) by Shienny M.S. The Invention of Hugo Cabret by Brian Selznick Fantasy Fiesta 2011  Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2011 by R.D. Villam Anak Rembulan  Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari by Djokolelono Mockingjay (The Hunger Games, #3) by Suzanne Collins The Ambassador's Mission (Traitor Spy Trilogy, #1) by Trudi Canavan Reckless (Reckless, #1) by Cornelia Funke


Komentar tentang cerita dan pertanyaan seputar lomba ini langsung ke:
[Komentar] CerBul KasFan (Feb ’12)


Mari menulis fantasi!
;)


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Mar 15, 2012 06:45AM) (new)

Fredrik (fredriknael) | 2149 comments Mod
Indeks daftar cerita yang sudah di-post dan nama penulisnya:


1. Kastil Misterius - Dewi Kirana (message 3-4)
2. Hunt - Tuinktuink (message 5)
3. Undangan Dallamos - Kiki Avicenna (message 6-7)
4. Tukang Air & Pasukan Revolusi - 8lackz (message 8)
5. Lilith - Ardani Subagio (message 9)

6. Pirate Anne and The Enigmatic Castle - Bisma Indar Ekalaya (message 10-11)
7. Jurnal Dalam Sebuah Kastil - Nodix (message 12)
8. Alice's Wonderland - Katherin (message 13-14)
9. Selamat Datang Di Kastil Kami~! - Arief Rachman (message 15-16)
10. Ferdanoranica - Kristiyana Hary Wahyudi (message 17)

11. Kastil Mimpi Herold - Maxmax (message 18)
12. Kastil - Grande_Samael (message 19-20)
13. Mimpi Kastil Bias - Karina Chandra (message 21)
14. Avatars Last Resort - Shiki (message 22)
15. Kastil Madu Di Padang Bungakaca - Redtailqueen (message 23)

16. Kastil Raja Aramnon - Debrina (message 24-25)
17. Karnaval Sunyi - Zainal Arifin (message 26-27)
18. Dua Takdir dan Satu Keputusan - Defi Freak (message 28-29)
19. Harapan - Shao An (message 30)
20. Kastil Aurora - Lysia Lim (message 31-32)

21. Grim di Kastil Morgan le Fay - Aad Uncu (message 33)
22. AEDI - Giande (message 34-35)
23. Senja Kala - Erwin Adriansyah (message 36)
24. A Danger Tour - Narita Amalia (message 37)
25. Istana Tengah Hutan - Feby (message 38)

26. Bunga Pertama - Ivon (message 39-40)
27. Keraton Langit - Arkden (message 41-42)
28. Ikan Asin Kapten Kucing - Kapten Kucing (message 43)

~

Pengumuman pemenang lomba ini: Pemenang CerBul KasFan Februari


message 3: by Dewi (new)

Dewi Kirana (DewiPutriKirana) | 465 comments Kastil Misterius

Dimas memandangi kastil yang berdiri di hadapannya. Bangunan tersebut terlihat amat tua di mata anak laki-laki tersebut. Bebatuan yang menyusun dinding-dindingnya berwarna abu-abu kotor, diselimuti lumut hijau di sana sini. Menara-menaranya yang tinggi seakan mencakar langit, dan jendela-jendela kastil yang gelap seperti mata yang memelototi siapa pun yang berdiri di hadapannya.

Seperti inikah kastil misterius tersebut? Kastil yang katanya ‘menelan’ siapa pun yang memasukinya, karena orang-orang yang menginjakkan kaki di bangunan tersebut tidak ada satu pun yang kembali?

Untuk ukuran bangunan yang mempunyai reputasi angker, penampilannya tidak terlalu mengesankan.

“Kenapa bengong?” Tanya Yuda yang berdiri di sebelahnya. “Ayo!”

Anak laki-laki bertubuh besar itu melangkah dengan bersemangat ke arah pintu ganda besar yang menjadi jalan masuk ke kastil. Ketika disadarinya Dimas tidak mengikuti, Yuda kembali berbalik. “Kenapa? Takut?”

“Kamu yakin ada harta karun di dalam sana?” Dimas mengabaikan nada mencemooh dalam suara Yuda.

“Tentu saja!” sahut Yuda. “Kalau tidak, kenapa Arjun yang masuk ke sana tidak kembali lagi? Dia pasti sudah jadi sangat kaya, sehingga tidak mau jadi pengemis lagi. Kalau si bodoh itu saja bisa, kenapa kita tidak?”

Tidakkah terpikir olehmu bahwa mungkin saja terjadi sesuatu pada Arjun, sehingga ia tidak kembali lagi ke rumah kumuh yang kita tempati bersama? Namun pemikiran itu tidak Dimas utarakan keras-keras.

Tidak sabar lagi, Yuda menghampiri Dimas dan menggenggam tangan anak itu. “Ayo!” anak laki-laki bertubuh besar tersebut menariknya, membuat Dimas tidak punya pilihan lain selain terseret mengikuti.

Di depan pintu, Dimas memperhatikan Yuda memeriksa kedua gagangnya sejenak. Mungkin ingin mengecek apakah ada perangkap atau tidak. Dengan gumam puas – mungkin karena tidak menemukan jebakan apa pun – Yuda mendorong kedua gagang tersebut. Dimas baru saja berpikir kalau pintu ganda itu tidak mungkin dibuka hanya dengan tenaga Yuda, ketika kedua daun pintu terayun membuka dengan mudah, tanpa suara.

Keremangan menyambut di baliknya. Angin dingin mendadak berhembus, seakan-akan kastil tersebut menghela napas panjang. Namun Yuda seperti tidak mengenal rasa takut. Dengan masih menggenggam tangan Dimas, anak laki-laki bertubuh besar itu berjalan masuk dengan percaya diri.

Sekali lagi Dimas tidak punya pilihan selain tertarik mengikuti.

Bagian dalam kastil tersebut sangatlah luas, berupa sebuah ruangan tunggal yang sangat besar, dengan tiang-tiang batu yang menopang langit-langit nun jauh di atas sana. Tidak ada sumber penerangan di dalam, namun ruangan tersebut tidak gelap. Batu-batu penyusun dinding dan lantainya seolah berpendar, memberikan cahaya yang cukup untuk melihat sekeliling, namun tidak cukup untuk menerangi keseluruhan ruangan, membuat kastil tersebut tenggelam dalam bayang-bayang.

Dimas memandangi sekelilingnya tanpa emosi. Walaupun kastil tersebut tampak menyeramkan, rasa takut tak menyerangnya sedikit pun. Mungkin karena sudah bertahun-tahun bertahan hidup di jalanan, membuat Dimas tidak lagi bisa merasakan apa pun. Rasa takut, senang, maupun sedih.

Yang ada hanya kehampaan, seperti halnya kehidupannya.

“Ayo kita masuk lebih ke dalam!” Yuda kembali menyeretnya, namun kali ini Dimas menyentakkan tangannya sampai terlepas.

Anak laki-laki bertubuh besar itu berbalik, memandanginya marah. “Kenapa kamu lepaskan tanganku?”

“Karena…” karena aku tidak suka kau perintah seenaknya, kata Dimas dalam hati. Namun yang keluar dari mulutnya adalah, “Kita harus berhati-hati. Siapa yang tahu apa isi kastil ini?”

“Aku tahu apa isi katil ini,” sergah Yuda. “Harta karun! Dan letaknya pasti di bagian terdalam kastil. Ayo, kita harus cepat menemukannya. Sebelum keduluan orang lain!”

“Bagaimana kalau ada jebakan?” tanya Dimas.

“Kita pasti bisa mengatasinya,” sahut Yuda. “Ayo. Kalau tidak, kutinggalkan kau di sini.”

Dimas baru akan membuka mulut untuk menjawab ancaman itu, ketika terdengar sebuah suara di samping mereka, “Ah, ada tamu rupanya, mmrraawww.”

Dimas terlonjak kaget. Jantungnya seperti tercabut dari dadanya. Namun instingnya yang tertempa bertahun-tahun cepat mengambil alih, dan Dimas pun melompat menjauh dari sumber suara tersebut. Di seberang sana, ia melihat Yuda juga telah mengambil jarak.

Di tempat suara tersebut berasal, dua buah sinar kuning melayang-layang di sana, tanpa ditopang apa pun. Apa itu? Apakah hantu, yang banyak diceritakan orang-orang di pasar?

“Lho, jangan takut. Maaf, Kapten Kucing tidak bermaksud menakuti kalian, mmrraww.”

Dimas mengerjap. Kapten Kucing? Baru kemudian ia sadari bahwa dua sinar tersebut ternyata adalah dua buah mata. Tepatnya, dua buah mata seekor kucing yang sedang berdiri di antara ia dan Yuda. Berdiri dengan dua kaki seperti manusia. Dan berbicara seperti manusia.

“Kalian pasti pendatang yang ingin dikabulkan keinginannya, bukan?”

“Eh?” Dimas berpandangan dengan Yuda. Anak laki-laki bertubuh besar itu juga terlihat sama herannya. “Maksudnya…?”

“Kastil ini adalah kastil yang dapat mengabulkan keinginan,” jawab Kapten Kucing. “Karena itulah banyak yang datang kemari untuk dikabulkan keinginannya.”

Kastil yang dapat mengabulkan keinginan? Tidak mungkin, batin Dimas. Di dunia ini tidak ada hal seaneh itu.

Dan, kalaupun itu benar, Dimas tahu bahwa hal tersebut tidak akan dilakukan dengan cuma-cuma. Sepanjang kehidupannya, Dimas dengan pahit mempelajari bahwa semua hal ada harganya. Jika permintaanmu ingin dikabulkan, kamu pasti harus membayar harga yang pantas.

Berapa harga yang harus dibayar untuk memenuhi keinginan itu? Apa jiwanya dan jiwa Yuda yang akan diminta? Apa karena itulah tidak ada seorang pun yang kembali dari kastil ini, karena semua orang yang dikabulkan permintaanya akan dicabut nyawanya?

“Bohong,” terdengar suara Yuda. Anak laki-laki memandangi Kapten Kucing lekat-lekat. “Kamu pasti bohong.”

“Kapten Kucing tidak bohong, mmraww,” sahut hewan tersebut, telinganya tertekuk sedikit.

“Kalau begitu, tunjukkan buktinya,” kata Yuda. “Kabulkan permintaanku.”

“Bukan Kapten Kucing yang bisa mengabulkan keinginanmu,” sahut si kucing. “Tapi Kapten Kucing bisa membawa kalian kepada seseorang yang mampu.”

“Kalau begitu, cepat bawa kami!” seru Yuda.

Kapten Kucing mengangguk. “Kemari, mmrraww,” sahutnya seraya mulai berjalan dengan dua kaki, seperti layaknya manusia.

Yuda antusias mengikuti, sementara Dimas masih ragu. Kucing yang bisa bicara? Orang yang bisa mengabulkan permintaan? Semua ini terlalu aneh. Terlalu berkesan seperti jebakan baginya.

“Ayo, mmrraww,” panggil Kapten Kucing. Hewan tersebut melambaikan tangan. “Jangan sampai tertinggal. Kastil ini luas. Tanpa pemandu, kamu bisa tersesat di sini.”

“Sudah, tak usah pedulikan dia!” desak Yuda. Namun Kapten Kucing tetap setia menunggu, ekornya yang panjang bergerak-gerak.

Dimas mengamati binatang tersebut. Tatapan matanya terkesan jujur. Yah, mungkin ada baiknya ia ikuti dulu si kucing. Mungkin orang yang akan mereka temui benar-benar dapat mengabulkan keinginan.

Tapi orang itu tidak akan bisa mengabulkan keinginanku. Tak seorang pun yang bisa.

Kapten Kucing terus memandu mereka. Sambil berjalan, Dimas memperhatikannya. Kucing tersebut mengenakan pakaian pelindung yang sepertinya terbuat dari besi, lengkap dengan topinya. Pakaian tersebut tampak berat, namun Kapten Kucing berjalan dengan ringan, seakan pelindung besi tersebut tak membebaninya sama sekali. Sungguh aneh.

Mereka terus berjalan, melewati lorong-lorong temaram, menaiki dan menuruni tangga. Mau tak mau Dimas mulai berpikir, jangan-jangan si kucing ingin membuat mereka tersesat? Apa mungkin? Padahal tadi tatapan mata Kapten Kucing sangat jujur, tak terlihat niatan mencelakai sedikit pun.

Kemudian terdengar sebuah suara dari sebelah kanan mereka. Dimas menarik napas tercekat. Di sampingnya, Kapten Kucing juga terlihat waspada.

Sesuatu muncul dari balik bayang-bayang. Sebuah sosok berkaki empat, bertubuh ramping, berkepala segitiga. Kemudian sosok itu menjelma menjadi seekor kijang berbulu keemasan. Kepalanya tertoleh ke kanan dan kiri, seolah sedang mencari sesuatu.

“Aduh, aku tersesat lagi!” gumam kijang tersebut.

Kapten Kucing menegakkan tubuh. “Nona Di?” panggilnya pada sosok itu.

Kijang tersebut menoleh. Ketika melihat Kapten Kucing, matanya membulat lega. “Kapten Kucing! Syukurlah!”

“Tersesat lagi, Nona?” tanya si kucing.

“Begitulah,” keluh si kijang, yang dipanggil Nona Di. “Kupikir aku sudah mengambil arah yang tepat, tapi ternyata lagi-lagi aku salah.”

“Nona mau ke mana?”

“Taman Belakang.”

“Kalau begitu, ikutlah bersama kami, mmrraww. Kami juga akan ke sana.”

Nona Di menatap Dimas dan Yuda. “Apa mereka ini adalah anak-anak yang ingin dikabulkan keinginannya?”

“Ya, Nona.”

Nona Di tersenyum. Matanya yang lembut berbinar-binar. “Kalian anak-anak yang beruntung. Ayo, Kapten Kucing, jangan membuat anak-anak ini menunggu lebih lama lagi!”

Mereka pun kembali berjalan. Nona Di di depan bersama Kapten Kucing, Dimas dan Yuda di belakang. Dimas ingin menggeleng-geleng rasanya. Pertama kucing yang bisa bicara. Sekarang kijang yang juga bisa bicara! Apa semua penghuni kastil ini adalah hewan-hewan ajaib seperti ini?

Tanpa Dimas sadari, mereka sudah meninggalkan lorong-lorong kastil yang berbayang, dan keluar ke udara terbuka. Dengan segera napas anak itu tercekat di tenggorokannya. Di hadapannya, terhampar taman yang luar biasa keindahannya. Rumput hijau terhampar sejauh mata memandang. Pepohonan rindang tumbuh di sisi kiri dan kanan taman, menawarkan keteduhan di bawah bayang-bayang mereka.

Rumpun bunga berwarna-warni tumbuh berkelompok, menambah semarak taman. Kemudian agak jauh di tengah taman, terhampar sebuah danau yang cukup luas. Airnya yang berwarna biru memantulkan cahaya matahari. Langit biru, dan bayangan pegunungan nun jauh di latar belakang menjadi pelengkap keindahan taman tersebut.

Baru beberapa saat kemudian Dimas menyadari bahwa taman itu dipenuhi oleh banyak orang. Tua maupun muda, tinggi maupun pendek, besar maupun kecil. Beberapa hewan juga terlihat di sana. Seekor angsa hitam sedang menari dengan anggun, diiringi beberapa anak yang bergerak segemulai si angsa. Seekor bebek kuning sedang duduk di tepi danau, dikelilingi banyak orang. Sayapnya seperti menulisi sesuatu di udara, namun alih-alih tulisan, bentuk-bentuk bermunculan di udara, berlompatan, dan orang-orang yang mengelilinginya pun bertepuk riuh melihatnya. Di dekat si bebek, seekor serigala putih sedang sibuk mencelupkan buah-buahan ke dalam cairan coklat, dan membagikannya pada siapa pun yang meminta, baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Mana orang yang katanya bisa mengabulkan keinginan itu?” tiba-tiba terdengar suara Yuda, membuyarkan kekaguman Dimas akan tempat itu.

Kapten Kucing berpandangan dengan Nona Di. “Jangan terburu-buru, mmraww,” sahut si kucing.

Yuda melipat tangan di dada. “Jangan membuang-buang waktu lagi. Pokoknya aku mau bertemu dengannya!”

“Baiklah,” sahut Nona Di. Tapi bukannya beranjak, ia malah menoleh pada Dimas. “Apa keinginanmu, Dimas?”

Ditanya seperti itu, sontak Dimas gelagapan.

“Kenapa bertanya padanya?” seru Yuda marah.

“Sebelum bertemu orang itu, kalian sudah harus tahu apa keinginan kalian,” jawab Kapten Kucing. “Jika tidak, orang itu tidak akan dapat mengabulkannya. Kami tahu kamu sudah menyadari apa keinginanmu,”kata si kucing pada Yuda. “Namun, apa temanmu juga begitu?”

Tiga pasang mata menatapnya. Dimas menelan ludah. Apa keinginannya? Ia melihat Yuda memelototinya. Harta, mata itu seolah berkata. Katakan kalau kau ingin harta karun!

Dimas membuka mulut. Namun alih-alih menjawab seperti itu, yang keluar dari mulutnya adalah, “Aku tidak punya keinginan.”

Kapten Kucing menggeleng sedih. “Kalau begitu, kalian tidak bisa bertemu orang itu.”


message 4: by Dewi (new)

Dewi Kirana (DewiPutriKirana) | 465 comments “Apa maksudmu kami tidak bisa bertemu orang itu?” seru Yuda geram.

“Seperti yang sudah kukatakan, mrraww,” Kapten Kucing menggaruk telinganya resah. “Kalian sudah harus menyadari apa keinginan kalian sebelum menemuinya. Kalau tidak, orang itu tidak akan dapat mengabulkannya.”

“Kalau begitu, aku saja yang bertemu dengannya! Dia tidak usah ikut!”

“Tidak bisa,” jawab si kucing. “Kalian masuk berdua, maka kalian harus menghadap orang itu berdua pula.”

Yuda berbalik menghadap Dimas. “Kamu kan sudah tahu apa keinginanmu,” sahutnya dengan nada rendah berbahaya. “Kita sudah tahu apa yang kita mau!”

Mendengar ancaman itu, Dimas membuka mulut untuk mengiyakan perkataan Yuda. Namun lagi-lagi mulutnya mengkhianatinya dengan berucap, “Aku tidak punya keinginan.”

Mata Yuda membelalak. Anak laki-laki bertubuh besar itu sudah mulai melangkah maju, namun kata-kata Nona Di menghentikannya, “Sudahlah. Jangan paksa temanmu. Biarkan ia menyadari dulu keinginannya. Tak apa-apa bukan, menunggu sedikit lagi?”

Perkataan itu diucapkan dengan lembut, namun tetap ada ketegasan di baliknya, membuat Yuda terdiam. Setelah lama memandangi Dimas dengan tatapan marah, akhirnya Yuda berbalik dan melangkah kesal ke arah bangku di bawah pepohonan. Kapten Kucing mengikutinya.

Nona Di memalingkan wajah ke arah Dimas. “Benar kamu tidak punya keinginan?”

“Ya,” sahut anak laki-laki itu. “Kabulkan saja keinginan Yuda. Kasihan jika ia harus menungguiku sampai aku memiliki keinginan.”

“Begini saja,” kata Nona Di. “Berbicaralah dengan orang-orang di taman. Tanyai apa keinginan mereka. Mungkin dengan begitu kamu jadi bisa mengetahui apa keinginanmu.”

Sesungguhnya Dimas masih ragu, namun ketegasan Nona Di membuatnya melangkah ke taman. Yah, mungkin saja salah satu dari orang-orang itu bisa membantunya menyadari apa yang ia inginkan.

Dimas melangkah menyusuri taman. Orang-orang yang ia lewati semua tersenyum ramah dan melambaikan tangan padanya. Merasa rikuh, Dimas tetap menatap lurus ke depan, tak mengacuhkan mereka semua. Ia tak tahu harus membalas seperti apa. Sepanjang hidupnya, ia hanya pernah disapa dengan makian, lemparan benda, pukulan, bahkan tidak jarang serangan senjata tajam.

Si angsa hitam menarik perhatiannya. Anak-anak yang tadi menari di sekelilingnya tidak terlihat, namun si angsa masih terus menari anggun. Bintik-bintik putih di punggung dan sayapnya berkilauan terkena cahaya matahari, seperti manik-manik kaca yang indah.

Si angsa menyadari kedatangan Dimas dan menyapa, “Selamat siang.”

Dengan terkejut Dimas mendapati bahwa suara si angsa adalah suara laki-laki, tidak terlalu berat namun tetap berwibawa. “Se… selamat siang.”

“Ingin menari bersama?” tanya si angsa jantan.

“Tidak. Aku… tidak bisa menari.”

“Tidak bisa menari juga tak apa,” jawab si angsa. “Cukup gerakkan tubuhmu sesuka hati. Ayo, cobalah.”

Dimas masih merasa ragu, namun si angsa sudah meraih tangannya dengan sayap-sayap hitam, dan membawanya berputar.

Gerakan mereka tidak bisa disebut tarian, seakan hanya bergerak sembarangan saja. Namun anehnya, perasaan Dimas semakin lama semakin ringan. Seolah-olah setiap gerakan membawanya melayang sedikit demi sedikit ke angkasa.

“Menyenangkan, bukan?” tanya si angsa ketika akhirnya mereka selesai ‘menari’.

Mau tak mau Dimas mengangguk setuju. “Apa keinginanmu yang dikabulkan di kastil ini adalah terus menari?”

“Menari adalah sesuatu yang sudah mampu kulakukan dari dulu,” jawab si angsa. “Bukan, keinginanku yang dikabulkan bukan itu.”

“Apa itu?”

Si angsa menatapnya. “Keinginanku sama dengan keinginanmu.”

Tertegun, Dimas hanya bisa mengangguk ketika si angsa mohon diri darinya.

Masih dengan termangu, Dimas kemudian mendatangi si bebek dan si serigala. Si serigala sedang memanggang roti-roti yang berbau harum,membuat Dimas teringat kalau ia belum makan apa-apa dari kemarin. Mendengar bunyi perut Dimas, si serigala segera memberikan dua buah rotinya, yang segera dilahap Dimas. Roti-roti itu sungguh lezat!

Sementara itu si bebek masih menulisi sesuatu di udara, kata-kata dari cahaya berwarna-warni. Ketika si bebek membubuhkan tanda titik di akhir kalimat, dalam sekejap kata-kata cahaya itu meliuk, bersatu, kemudian membentuk seekor kuda bersayap yang mengentakkan kaki di atas gumpalan awan bergulung-gulung. Sebuah kata berubah menjadi sebentuk istana nun jauh di ujung hamparan awan, dan kuda bersayap itu berbalik, mengibaskan sayap-sayapnya, kemudian berderap mendekati istana tersebut. Semakin lama sosoknya semakin mengecil, sampai akhirnya kuda itu sirna bersama lenyapnya gumpalan awan dan istana.

“Apa keinginanmu adalah menghidupkan kata-kata yang kau tulis?” tanya Dimas kepada si bebek.

Hewan itu menggeleng. “Aku sudah memiliki kemampuan ini dari dulu. Bukan, keinginanku yang dikabulkan bukan itu.”

“Lalu apa?”

Si bebek menatapnya. “Keinginanku sama seperti keinginanmu.”

Lagi-lagi jawaban yang sama. Dimas menoleh ke arah si serigala, yang sedang sibuk melumuri roti-roti panggangnya dengan saus coklat yang menggiurkan.
“Apa keinginanmu adalah memasak makanan yang lezat?”

Si serigala tertawa. “Bukan. Aku juga sudah punya keahlian ini dari dulu. Keinginanku sama dengan keinginanmu.”

“Tapi aku tidak punya keinginan,” kata Dimas.

Si bebek dan si serigala memandanginya. “Kamu punya,” jawab si bebek.

“Kamu hanya takut mengakuinya,” lanjut si serigala.

Dimas tertegun. Benarkah? Benarkah ia sebenarnya sudah punya keinginan, namun takut mengakuinya?

Tiba-tiba lengannya dicekal seseorang. Terkejut, Dimas menatap Yuda. “Sudah cukup mengobrolnya,” kata anak laki-laki itu. “Jangan buang-buang waktu lagi. Kamu sudah punya keinginan bukan?”

“Mungkin…” jawab Dimas ragu.

“Bagus. Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku,” Yuda tersenyum. “Kamu memang sahabatku yang terbaik.”

Dimas terdiam. Yuda sering menyebutnya seperti itu. Padahal pada kenyataannya, perlakuan anak laki-laki itu padanya sama sekali bukan perlakuan seseorang yang menganggapnya sahabat. Seorang sahabat seharusnya membantu sahabatnya yang lain, berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Bukannya memerintahnya, memanfaatkannya, menghinanya.

Yuda bukanlah sahabatnya. Tidak ada seorang pun yang memperlakukannya sebagai sahabat. Tidak ada seorang pun yang memperlakukannya sebagai teman. Tidak ada seorang pun.

Mendadak Dimas tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.

Yuda menyeretnya kembali ke hadapan Kapten Kucing dan Nona Di. Kali ini ada sesosok makhluk lain di sebelah mereka. Seekor panda berseragam resmi, hitam putih seperti bulunya.

“Sepertinya kalian sudah mengetahui apa keinginan kalian, mmrraww,” kata Kapten Kucing.

“Ya!” jawab Yuda mantap, sementara Dimas hanya mengangguk lemah.

“Baiklah,” si kucing melirik ke arah Nona Di. “Silakan, Nona.”

Mata Nona Di menyapu Dimas dan Yuda. “Katakan apa keinginan kalian. Aku akan mengabulkannya.”

Dimas dan Yuda sama-sama terbelalak. “Katamu yang bisa mengabulkan keinginan kami adalah seseorang,” kata Yuda. “Dia kan hanya seekor hewan!”

“Jangan berlaku tidak sopan, graw,” si panda angkat bicara. “Nona Di mampu mengabulkan apa pun keinginan kalian.”

“Tidak apa-apa, Opsir Panda,” kata Nona Di pada si panda.

“Apa pun keinginan kami bisa terkabul?” tanya Yuda.

“Ya,” jawab Nona Di.

“Tapi berhati-hatilah ketika meminta,” sahut Kapten Kucing. “Jangan tertipu oleh kemauan semu. Mintalah sesuatu yang kalian inginkan dari lubuk hati yang terdalam.”

“Keinginanku memang berasal dari lubuk hati terdalam!” sambar Yuda. “Aku ingin keinginanku bertambah menjadi tiga buah. Dan, aku ingin masing-masing dari tiga keinginan itu menjadi tiga buah keinginan lagi. Dengan begitu keinginanku yang dapat dikabulkan tidak akan habis-habis!”

Sesaat tidak ada yang berkata-kata. Dimas menahan napas. Bolehkah meminta seperti itu? Akankah Nona Di mengabulkan permintaan Yuda?

Tiba-tiba Kapten Kucing menggeleng sedih. “Kamu sudah meminta sesuatu yang terlarang. Sebagai akibatnya, kamu akan menjalani hukuman.”

Yuda terbelalak. “Apa?”

“Anak yang serakah adalah anak yang nakal,” kata Opsir Panda. “Dan anak yang nakal harus dihukum, graw.”

“Tidak! Aku…!” Yuda mencoba untuk lari, namun Opsir Panda cepat menangkap dan meringkusnya. Kemudian si panda membawa anak laki-laki bertubuh besar itu ke dalam kastil. Teriakan marah Yuda masih terus terdengar, sebelum akhirnya berangsur jadi samar dan tak terdengar lagi.

“Tidak usah khawatir,” kata Nona Di. Dimas menoleh padanya. “Yuda tidak apa-apa. Ia hanya akan dididik untuk menyadari dan memperbaiki kesalahannya.”

Dimas mengangguk, tak tahu harus berkata apa. Yah, mungkin hal itu adalah yang terbaik bagi Yuda. Namun, tak urung Dimas merasa iba juga pada anak laki-laki itu.

“Sekarang, katakanlah keinginanmu.”

Dimas terdiam. Sanggupkah ia mengatakan keinginannya? Sesuatu yang ia dambakan sedari dulu, namun ia tekan dalam hati karena tahu kemauan itu takkan terkabul sampai kapan pun?

Di luar dugaannya, tubuhnya mulai gemetar. Keinginan itu sudah begitu lama terpendam, sehingga ketika akan dikeluarkan, terasa amat sakit.

“Tidak apa-apa, mmrraww, ”Kapten Kucing meraih tangan Dimas dan menggenggamnya dengan cakarnya yang berbulu lembut. “Apa pun keinginanmu, Nona Di pasti dapat mengabulkannya.”

“Aku…” Dimas menelan ludah. “Aku ingin memiliki keluarga yang menyayangiku. Yang mencintaiku. Yang takkan pernah meninggalkanku seorang diri.”

Sekali lagi tidak ada yang berkata-kata. Kemudian Nona Di tersenyum. “Tidakkah kamu sadar? Keinginanmu sudah terkabul dari pertama kali kau menjejakkan kaki di kastil ini.”

Dimas terperangah. “Maksudnya?”

Kapten Kucing turut tersenyum, dan Dimas menyadari bahwa orang-orang dan hewan-hewan mulai berdatangan menghampiri mereka. Si angsa hitam. Si bebek dan si serigala. Orang-orang yang tadi menyapanya dengan ramah.

“Kami sudah dapat mengetahui keinginanmu sejak kau memasuki kastil ini,” kata Nona Di. “Kami dapat mengetahui semua keinginan yang terpendam dalam hati seseorang. Namun, agar keinginan itu dapat terkabul seutuhnya, si pemilik keinginan harus menyadari dan mengakuinya. Kini, ketika kau telah menyadarinya, keinginan terdalammu terwujud secara sempurna. Memiliki sebuah keluarga yang menyayangimu.”

“Seperti halnya keinginanku,” mendadak si angsa angkat bicara.

“Seperti juga halnya keinginan kami,” kata si bebek dan si serigala.

Semua yang hadir di sana turut mengucapkan hal yang sama. Lalu semua tersenyum padanya. Senyum hangat yang penuh kasih sayang. Senyum tulus yang penuh kegembiraan. Dan Dimas pun turut tersenyum. Dadanya terasa sesak oleh kebahagiaan, karena keinginannya yang selama ini terpendam akhirnya terwujud.

Ia telah memiliki sebuah keluarga.

Ia tak perlu mencari ke mana-mana lagi.

~Fin~


message 5: by Tuinktuink (last edited Feb 28, 2012 01:39PM) (new)

Tuinktuink | 34 comments Hunt

Scott membuka mata dan berusaha bangun perlahan sambil merasakan pusing di kepalanya. “Dimana ini?” Scott bergumam. Dia melihat sekeliling, gelap, hanya sedikit cahaya senja yang masuk melalui celah pepohonan yang menjulang tinggi. Banyak akar pohon menyeruak keluar dari dalam tanah, daun berguguran, juga ranting patah di sekitarnya. Dia tidak ingat apa yang terjadi sebelum dia melihat ke arah belakang. Tebing yang tinggi dan sedikit curam. “Ah, sepertinya aku jatuh saat lari tadi.” Sambil memegang kepalanya yang masih sakit, Scott melihat tangannya yang memar, terantuk batu, juga banyak luka luka kecil dan ada satu yang cukup besar, karena tergores akar pepohonan yang menyembul keluar di tebing itu, di pangkal tangan kirinya.

Scott melanjutkan perjalanannya menjauhi tebing tempat dia jatuh, sambil melihat sekelilingnya seolah mencari sesuatu. Dia melewati banyak pepohonan dan semak semak. Sungguh sunyi saat itu sehingga Scott bisa mendengar suara napas dan detak jantungnya sendiri. Suara angin dingin serta lolongan serigala dari kejauhan membuat bulu halus di leher dan tangan Scott berdiri. Suara ranting patah terinjak, suara langkah berat yang menggores dedaunan kering, juga suara burung hantu yang mulai terdengar bersahut sahutan tanda malam hampir tiba. Semua itu semakin menambah ketakutan Scott hingga membuatnya berlari secepat yang dia bisa tak tentu arah.

Langkah Scott terhenti saat dia melihat sebuah kastil yang dia cari dalam pelariannya. Sesaat dia lupakan perasaan takutnya dan berjalan pelan menuju kastil yang dia lihat. Kastil yang konon membuat orang yang masuk di dalamnya tidak ingin melihat dunia luar lagi, atau mungkin tidak bisa?

Dia berharap dapat menemukan kebahagian yang tidak pernah dia dapat selama ini. Scott tidak memiliki orang tua, yang sudah meninggal sejak dia masih berumur tiga tahun, sudah tiga belas tahun berlalu sejak saat itu.

Dia melakukan pekerjaan berat di desa tempat tinggalnya dengan imbalan sedikit roti dan makanan untuk dia bertahan hidup, dia juga biasa memancing dan menangkap hewan hutan untuk makan. Dia sendiri tinggal di bekas kandang ayam milik seorang penduduk desa yang sudah tidak terpakai. Karena berbagai kegiatannya yang memakai cukup banyak tenaga, tubuhnya jadi tegap berotot. Dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dan rambutnya yang merah kecoklatan membuat dia tidak terlihat seperti anak seumurannya.

Scott menghampiri kastil itu dengan perlahan. Seiring langkahnya yang semakin dekat, dia melihat kastil yang cukup tua dengan empat menara di setiap sudutnya dan satu jendela mungil di setiap menara. Terdapat patung serigala di setiap puncak menara yang ada. Dia berharap bahwa itulah kastil yang dia cari. Dia melarikan diri dari desanya karena akhir akhir ini mulai tersebar isu bahwa ibunya dahulu adalah penyihir, sehingga beberapa orang merencanakan pembunuhan terhadapnya. Beberapa kali terjadi percobaan pembunuhan atas dirinya, gelondongan kayu yang tiba tiba jatuh nyaris menimpanya, sebuah anak panah yang melesat tepat di depan hidungnya, dan terakhir adalah kandang ayam tempat tinggalnya yang terbakar. Semua hal itu membuatnya mengambil keputusan untuk pergi sejauh mungkin dari desa itu. Tidak ada hal bagus juga yang terjadi di sana. Dia hanya menjadi budak untuk orang desa yang tidak menghargainya.

Dia berjalan mendekat menghampiri pintu kastil yang tingginya mencapai tiga meter. Pintu itu terbuat dari susunan balok kayu yang berjajar rapi yang diperkuat dengan kerangka besi. Ada sepasang ukiran kepala serigala dengan mulut terbuka sebagai pegangan pintu tersebut. Tembok kastil tersusun dari batu batu yang tidak rata, ada tumbuh lumut dan akar akar tanaman menjalar di beberapa bagiannya.

Scott tidak terlalu nyaman dengan kondisi yang dia lihat. Dia memutuskan untuk berbalik dan meneruskan perjalanannya. Akan tetapi, langit malam yang sebelumnya cerah tiba tiba mendung dan terdengar suara guntur bersahutan tanpa henti. Hujan deras turun secara tiba tiba sehingga membuat Scott reflek mendorong pintu kastil. Pintu itu tidak serta merta terbuka, butuh perjuangan untuk membuka pintu yang berat itu. Scott mendorong sekuat tenaga untuk membuka pintu kastil itu selebar setengah meter.

“Ada orang di dalam?” teriaknya saat memasuki kastil.

Tepat di depan pintu ada sebuah tangga besar selebar enam meter, yang bercabang di puncaknya menuju tingkat dua kastil tersebut. Di kanan kirinya ada lorong yang terlihat cukup panjang dan tidak terlihat ujungnya karena kondisi kastil yang gelap. Cahaya di dalam kastil itu didapat dari remang remang lampu minyak yang tergantung di lorong dan tiap ruangan yang ada.

Scott berjalan dua langkah menuju arah tangga.

“Ada tamu rupanya.”

Scott terkejut dan menoleh ke arah lorong di sebelah kirinya. Dia melihat seorang tua yang berjalan terbungkuk dengan wajah penuh kerutan dan memegang tongkat untuk membantunya berjalan.

“Anu, maaf saya tidak menunggu jawaban dari dalam. Diluar mendadak hujan sehingga saya mas-“ Scott tidak meneruskan perkataannya saat dia melihat pintu kastil yang sudah tertutup. Dia yakin tidak menutup pintu, terlebih tidak seharusnya dia lupa jika menutup pintu yang berat itu.

“Oh tidak apa apa.” kata orang itu. “Saya justru senang dengan kedatanganmu. Itu suatu tanda akan ada pesta hari ini.”

“Pesta?”

“Ya, pesta. Untuk menyambut datangnya tamu. Seperti kubilang tadi, sudah lama tidak ada orang mampir. Selalu ada pesta setiap ada orang datang kemari.” jelas orang itu.

Saat itu seakan ada angin dingin lewat di belakang Scott membuatnya bergidik dan menelan ludah. Kata kata orang itu membuat Scott ketakutan dan berpikir untuk keluar saja dari kastil itu.

“Hmm, sepertinya saya tidak terlalu tertarik untuk hadir dalam pesta tersebut. Mungkin lebih baik kalau aku kembali ke desaku.” Kata Scott sambil berjalan ke arah pintu dan menarik pegangannya. Pintu itu tidak bergerak sedikitpun. Scott menaruh sebelah kakinya di sisi pintu yg lain dan menarik lagi sekuat tenaga tapi tidak ada tanda tanda pintu akan terbuka.

“Sudah terlambat, sudah terlambat.” Kata orang itu dengan suara yang mendadak berubah serak dan berat.

Scott menoleh dan terkejut karena apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaannya. Sosok tua yang kecil tersebut berubah menjadi sosok serigala setinggi dua meter dengan tubuh tegap, cakar yang terlihat tajam, moncong dengan gigi taring yang siap menerkam juga suara geramannya, menambah ketakutan Scott.

Scott segera berlari ke arah lorong sebelah kanan saat sosok serigala itu melangkahkan sebelah kakinya ke depan. Dia berlari dan berteriak ketakutan. Ternyata di dalam sini tidak jauh lebih baik dibanding dengan di desa, pikirnya.

Serigala itu berlari cepat dan melemparkan cakarnya ke arah kepala Scott. Scott yang merasakan ada bahaya langsung berguling sehingga cakar itu luput.

“Tidak seharusnya kamu lari. Sebaiknya kita selesaikan secepat mungkin. Aku sudah mulai lapar.” Suara seraknya terdengar sedikit marah diikuti dengan tetesan air liur di mulutnya.

Sekali lagi cakar serigala itu menuju kepala Scott. Scott melompat menghindar, tapi tangan kanannya tergores menimbulkan luka yang cukup dalam. Scott hanya bisa berlari menjauh sebelum dia melihat sebuah perisai tergantung di tembok dan mengambilnya.

Grrr…” geram serigala tersebut melihat Scott yang seakan mau melawannya. “Sekarang atau nanti hasilnya sama saja, kau akan mati disini dan menjadi makan malamku setelah sekian lama.” Serigala jejadian itu melangkah pelan sambil membuka kedua tangan dan mulutnya siap menerkam.

“Kalau kau kira aku ingin mati dengan mudah, aku tidak perlu pergi dari desa sialan itu.” Scott memegang perisai dengan tangan kirinya, dan berjalan mundur perlahan sambil mengamati gerakan makhluk itu. Dia takut, tapi dia juga tidak mau mati. Keinginan hidup Scott begitu kuat sehingga dia mampu bertahan dalam tekanan berat di desanya.

“Hoo, sepertinya hidupmu tidak terlalu indah anak muda. Kemarilah, aku berjanji akan mengakhirimu dengan cepat.”

“Kemarilah dan aku yang akan mengakhirimu.” Scott mengatakan hal itu dengan sedikit gemetar dan melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu yang bisa dia jadikan senjata.

Bersamaan dengan lompatan serigala ke arah Scott, dia mengambil lampu minyak yang ada di sebelah kanannya dan segera melempar ke arah serigala kelaparan itu.

Serigala itupun menangkis dengan tangan kanannya dan mengerang kepanasan. Sedangkan sisa dari lampu minyak tersebut jatuh ke atas karpet hitam di bawahnya dan membuat pagar api memisahkan mereka.

Tanpa pikir panjang, Scott lari menjauhinya. Scott lari tunggang langgang sambil menumpahkan dua buah lampu minyak yang ditemui tanpa mempedulikan banyak ruangan yang dia lewati. Dia sampai di ujung belokan dan melihat tangga menara menuju ke atas. Dia tidak melihat ada jendela di sepanjang lorong yang dia lalui sehingga tidak mungkin dia keluar dengan cara melompat dari jendela. Sesaat dia teringat jendela mungil di atas menara. Segera dia naik melalui tangga melingkar ke atas.

Setelah kira kira melalui tiga lantai, dia melihat jendela kecil yang ternyata terlalu kecil untuk dilewati tubuhnya. Dia kembali turun ke lantai tiga dan masuk ke sebuah ruangan pertama yang dia lihat.

Pintu ruangan ini cukup besar, terbuat dari kayu dan dilapisi kain merah terang, dengan pegangan kepala serigalanya berlapis emas. Dia masuk dan segera menutup pintu itu dengan napasnya yang tersengal. Dia seketika terduduk lemas dan melihat lihat ruangan tersebut. Di tiga sisinya ada rak buku, banyak buku yang jatuh berantakan di seluruh ruangan. Meja panjang di arah depannya dengan taplak hitam dan kursi di baliknya. Di kedua sisi pintu tergantung pedang bersilang di kiri dan tombak di sisi kanan. Di atas pintu terlihat lukisan seorang lelaki dengan kemeja putih dan jas hitam. Rambutnya merah kecoklatan sama seperti rambut Scott. Di atas karpet hitam dalam ruangan tersebut terlihat suatu bercak bercak seperti darah menuju ke arah pintu.

Scott yang sudah sedikit tenang segera merobek sedikit ujung bajunya dan mengikat luka di tangan kanannya dengan bantuan mulutnya. Dia berjalan ke arah meja yang berantakan dan menyendengkan perisai yang dia bawa di sampingnya.

Kastil ini bukan kastil yang membuat orang tidak mau keluar lagi. Kastil ini dihuni oleh monster monster yang membuat orang yang masuk tidak bisa keluar lagi. Aku masuk bersama lima orang temanku. Mereka semua menjadi mangsa monster monster itu. Keluarlah jika kamu membaca catatan ini. Jangan dekati kastil ini lagi!
Adam


“Terlambat.” gumam Scott sambil meletakkan secarik kertas yang ternoda dengan darah.

Kini Scott tidak punya pilihan lain. Dia harus bertempur atau mati dimangsa oleh makhluk aneh itu. Dia terduduk di kursi yang ada di tempat itu dan mengamat amati ruangan. Dia menghela napas panjang dan merasa bahwa keputusannya meninggalkan desanya adalah salah. Dia merasa lebih baik melawan sesama manusia daripada serigala jejadian.

Tak berapa lama setelahnya, pintu terbuka perlahan. Serigala jejadian muncul dari baliknya dan mengamat amati ruangan yang terlihat kosong, bekas tempat Scott berada, sambil menggeram. Serigala itu hendak meninggalkan ruangan sebelum melihat tumpukan buku yang tidak wajar di ujung dan ada sedikit cahaya lampu minyak terpantul dari sebuah perisai di baliknya. Serigala itu mendekat perlahan dengan hati hati. Setelah cukup dekat, Dia ayunkan cakarnya sekuat tenaga sehingga membuat tumpukan buku dan benda dibaliknya melayang menabrak tembok. Ternyata hanya ada tumpukan buku dan perisai di baliknya.

Scott melompat dari atas rak buku, dia menutupi dirinya dengan taplak meja, dan menghujamkan tombak yang dia pegang ke arah serigala jejadian. Serigala itu jatuh terkapar berlumuran darah dan mengeluarkan erangan terakhir yang memilukan, tapi itu bukan serigala yang dia temui tadi.

Scott mengambil perisai dan sebuah tombak yang masih tergantung. "Waktunya berburu dan mengambil alih kastil ini." katanya.

-End-


message 6: by [deleted user] (new)

Undangan Dallamos

Ainslie berjalan menerobos hijaunya Hutan Polesie, tanpa peduli lagi akan air dari dedaunan lembab yang meresap ke dalam kaos kaki dan sepatunya. Hujan badai semalam telah merusak tenda satu-satunya yang ia miliki, sedangkan kota berikutnya masih jauh dari tempatnya saat itu. Ia harus mencari tempat bermalam — setidaknya tempat itu harus cukup aman untuk tidur tanpa tenda di malam hari. Ia tentu tak mau gerombolan perampok atau kapsikon — burung merah berjambul yang mengeluarkan gas yang membuat siapapun menangis karena rasa perih di mata — menyerangnya saat ia beristirahat.

Ia terus berjalan, dan semakin jauh ia berjalan dari tempatnya semula, dedaunan yang diinjaknya berangsur mengering.

Mungkin kalau aku terus berjalan, aku akan sampai di tempat yang tak tersentuh badai.

Gadis itu melihat sedikit bukaan yang tampak terang tak jauh di depannya. Ia memutuskan untuk mencoba mendekat, berharap ia akan sampai di suatu bukaan hutan yang aman, kering dan cukup nyaman.

Ia benar. Semakin dekat ia dengan bukaan itu, tanah dan dedaunan yang dilaluinya menjadi kering. Ketika ia akhirnya keluar dari hutan, di hadapannya terbentang padang rumput dan bunga-bunga liar yang bermekaran. Di tengahnya, terletak sebuah danau jernih yang dikelilingi susunan bebatuan.

Semoga tempat ini cukup aman.

Ainslie berjalan ke tepi danau, lalu menyandarkan tas punggungnya pada sebongkah batu yang cukup besar. Ia duduk dan mencelupkan kakinya ke dalam air danau, sembari menatap ke sekelilingnya.

Tidak ada kapsikon. Hanya ada beberapa ekor signoi — sejenis angsa berbulu keperakan — yang sedang berenang tenang di kejauhan, juga ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang lincah mengitari kedua kakinya. Terkadang, kupu-kupu beraneka warna terbang melintas.

Meskipun demikian, ia tahu itu bukan berarti tidak mungkin ada perampok yang sedang bersembunyi di sana. Untuk menjaga tingkat kewaspadaannya, ia mulai menyenandungkan rangkaian nada-nada tanpa lirik.

Tak jauh dari sana, Alvar nyaris saja tertidur di atas susunan batu yang cenderung landai ketika ia mendengar senandung itu. Ia bergegas bangkit dan menutup buku kecil yang terbuka di sampingnya.

Siapa?

Dicarinya asal suara lembut itu, dan ia menemukan seorang gadis berkulit cokelat yang sedang merendam kaki di danau sambil sedikit bermain-main dengan airnya. Di dekatnya, sebuah tas punggung yang terlihat lembab tersandar pada batu besar. Terlihat sebuah biola dan busurnya mencuat dari dalam tas itu.

Ia mendekat perlahan, mencoba untuk tidak mengejutkannya.

“Halo,” sapanya ramah.

Rupanya, Ainslie menyadari kedatangan Alvar. Cepat-cepat dikeluarkannya kedua kakinya dari air, dan ia bangkit berdiri.

“Halo,” jawabnya, sedikit tertahan. Ia mencoba untuk berhati-hati. Gelagat itu tertangkap oleh Alvar, yang sudah terbiasa dengan sikap orang yang baru pertama kali melihatnya di sekitar danau itu.

“Tenang saja, aku tak bermaksud buruk,” Alvar terkekeh, lalu menunjuk biola di dalam tas Ainslie. “Apa kau juga pemusik?”

“Eh… ya, bisa dibilang begitu.”

“Hmm… melihat dari barang bawaan dan gaya berpakaianmu, apa kau berkelana dari kota ke kota?”

Ainslie takjub mendengar pertanyaan pria itu. “Ya, aku mulai berkelana sejak akhir musim dingin tahun lalu. Tapi, dari mana kau tahu?”

“Mudah saja,” Alvar tersenyum. “Aku juga pemusik, tetapi aku hanya berkelana di musim panas. Sama sepertimu, aku suka bernyanyi dan bermain biola. Aku juga bisa sedikit bermain harpa — teman ayahku pernah mengajariku saat liburan musim panas beberapa tahun lalu.”

Tatapan Ainslie menelisik, memastikan dia memang benar-benar orang baik. Ia sering mendengar kisah tentang orang-orang yang terlihat baik, tetapi ternyata memiliki jutaan trik untuk menipu.

Alvar membaca tatapan tajam sepasang mata cokelat itu. Ia segera mengulurkan tangannya dan menatapnya balik — hanya saja tatapan pemuda itu hangat dan tulus.

“Oh, kita belum berkenalan, bukan? Namaku Alvar.”

“Ainslie,” gadis itu menyambut uluran tangan pria itu, berharap itu bisa membuatnya terlihat sedikit lebih percaya diri.

“Nama yang terdengar manis,” puji Alvar. “Kau terlihat kusut — pasti karena badai di tengah hutan semalam. Kaisa dan Megan juga semalam melintasi daerah itu saat kembali dari kota, dan sesampainya di rumah mereka terlihat berantakan!”

“Kaisa? Megan?”

“Kaisa dan Megan… mereka anggota ensembelku. Kau lihat kastil putih di sana? Itu kastil tempat tinggal kami — aku dan ensembelku. Sebaiknya kau ikut aku ke sana sekarang. Mereka pasti senang mengenalmu.”

Ainslie belum memberikan jawaban, masih bersikap waspada.

Bagaimana aku bisa yakin dengan orang ini?

“Hayden, Enora, kemarilah! Aku ingin pulang sekarang.”

Sebuah kereta segera datang menghampiri. Di depan, duduk seorang pria berpakaian hitam-putih, didampingi seorang wanita yang bergaun dengan warna senada.

Alvar bergegas menaiki kereta, diikuti Ainslie yang masih tampak ragu dan memeluk tasnya erat-erat.

“Perkenalkan, dia Ainslie. Ia juga pemusik, seperti kita.”

Kita? Dua orang ini juga…?

“Oh, halo, Nona Ainslie. Aku Hayden, dan ini istriku, Enora. Kami bekerja di Kastil Dallamos milik Tuan Alvar,” Hayden berbalik sesaat untuk menyalami Ainslie.

“Sesampainya di kastil nanti, Enora, tolong siapkan pemandian dan pakaian yang pantas untuknya. Kurasa beberapa hari lalu Megan baru kembali dari penjahit dengan beberapa potong pakaian baru,” Alvar tersenyum.

“Baik, Tuan.”

Kurasa ia memang berniat baik. Tetapi aku tak akan bisa terlalu yakin.

Kereta itu mulai bergerak meninggalkan danau, melewati jalan di tengah padang rumput yang tampak lembut. Bunga-bunga liar kecil bermekaran di sepanjang tepian jalan. Tak lama, kereta itu melewati gerbang marmer berukirkan motif yang menyerupai not musik — gerbang Kastil Dallamos.

Kastil putih itu berdiri di atas sebuah bukit yang cukup tinggi. Pagi itu, sedikit kabut putih masih mengambang di sekitarnya, membuatnya seperti berada dekat sekali dengan langit. Terkesan indah namun misterius, layaknya gambaran kastil-kastil di negeri-negeri utara yang pernah dibaca Ainslie di buku-buku pelajaran saat ia masih bersekolah.

Kereta itu berhenti tepat di depan pintu kastil — sepasang pintu kayu besar berukiran motif-motif bunga dan dedaunan. Hayden bergegas turun untuk membukakan pintu, sedangkan Enora membawakan barang-barang Alvar dan Ainslie.

Alvar bergegas masuk, Ainslie mengekor di belakangnya. Belum lagi ia sampai di ruang tengah, ia berteriak, “Megan! Manisku, aku pulang!”

Tetapi, entah mengapa, meskipun Alvar berteriak, Ainslie tidak begitu merasa bahwa itu sebuah teriakan. Itu terdengar cukup mirip dengan bagian dalam lagu yang diberi deretan panjang tanda f di lembar partiturnya.

Seorang wanita muda bergaun merah muda pucat berlari menyusuri koridor di arah yang berlawanan, lalu menghambur dan memeluk Alvar erat-erat. Ketika pelukan mereka terlepas, Megan langsung menyadari kehadiran Ainslie di dekat mereka.

“Oh, siapa itu yang kau ajak, Sayang? Apa kau menemukan bakat baru lagi?”

“Begitulah,” Alvar menyeringai jahil. “Kenalkan, Ainslie, ini Megan, istriku. Dia juga pemain biola... dan penyanyi yang sangat berbakat. Megan, ini Ainslie.”

“Senang bertemu denganmu, Ainslie,” Megan menyalaminya hangat. Lalu, setengah bercanda, ditunjuknya Alvar seraya bertanya pada Ainslie, “Bagaimana kau bisa bertemu dengan orang ini?”

“Aku baru saja keluar dari Hutan Polesie pagi ini setelah badai mereda, dan begitu menemukan danau bening di bukaan, aku berhenti sebentar untuk beristirahat. Tadinya aku berniat melanjutkan perjalanan ke Olesia nanti sore, tetapi aku malah bertemu dengannya,” jelas Alsie.

“Olesia? Itu masih jauh dari sini! Apa kau baru saja pergi dari Notabilia sebelum bermalam di Hutan Polesie?”

“Ya, begitulah.”

“Notabilia jauh lebih dekat dari sini dibanding Olesia,” Megan memilin-milin rambut pirang panjangnya dengan jari. “Kalaupun kau terus berjalan, Ainslie, kau baru akan sampai di sana paling cepat dalam tiga hari. Tetapi, aku salut akan keberanianmu. Apalagi kau tak mundur bahkan oleh badai sekalipun.”

“Ia pengelana,” Alvar merangkul Megan dan menatap kedua mata birunya hangat. “Jika ia tak cukup berani, ia tak mungkin mau berjalan jauh seperti itu, Sayang.”

Megan tahu arti tatapan itu. Tatapan yang sama dengan yang didapatnya saat mereka menemukan Ryan, Kaisa dan Genna; juga saat mereka memutuskan untuk mempekerjakan Hayden dan Enora di kastil mereka.

“Hmm… Kurasa kau orang yang cukup menarik, Ainslie. Sepertinya Ryan dan Kaisa juga akan menyukaimu. Oh, dan mungkin kau bisa tinggal di sini… jika kau tak keberatan.”

Eh?

“Setidaknya kau bisa menginap semalam di sini dan membuat keputusan,” Megan tersenyum. Apa kau sudah menceritakan padamu tentang ensembel kami?”

“Eh… ya, ia juga bercerita sedikit tentangmu dan Kaisa,” jawab Ainslie, masih terheran-heran akan reaksi mereka. Baginya, pasangan itu terlalu hangat untuk ukuran orang yang baru bertemu.

“Begini,” Megan mulai menjelaskan. “Alvar mewarisi kastil ini dari orang tuanya. Ayahnya, Voir Dallamos, adalah seorang pemusik handal. Yah, singkatnya, keluarga Dallamos memang dikenal sebagai keluarga musisi. Tetapi, ada sebuah tradisi yang membedakan keluarga ini dengan keluarga lain.”

Keingintahuan Ainslie tergelitik.

“…Tradisi?”

“Pemilik nama Dallamos bukan semata-mata keturunan langsung keluargaku,” Alvar melanjutkan. “Anggota ensembel Dallamos juga biasanya akan mendapatkan nama itu… seperti Ryan, Kaisa dan Genna. Mereka bukan keturunan langsung Dallamos, tetapi mereka — juga semua anggota ensembel di generasi-generasi sebelumnya — mendapat nama itu. Karena bakat mereka yang demikian bernilai, aku dan Megan membentuk ensembel bersama mereka, dan… mereka juga tinggal di kastil ini. Kau juga bisa bergabung, tapi tentu saja kau harus meyakinkan dirimu sendiri untuk benar-benar menjadi bagian dari kami. Aku sendiri sudah lebih dari yakin akan kemampuanmu saat aku mendengar nyanyian kecilmu.”

Ainslie belum sempat bertanya bagaimana ia bisa begitu yakin, tetapi Megan sudah memegang tangannya dan menariknya ke sebuah ruangan berisi arsip sejarah keluarga Dallamos. Alvar mengikuti mereka dari belakang.

Ruangan itu terlihat begitu luas, dengan lampu kristal yang menggantung di langit-langit yang tinggi. Di dinding-dindingnya, tergantung berbagai lukisan potret anggota keluarga Dallamos dari berbagai generasi. Tepat di hadapan mereka, terpampang silsilah lengkap keluarga Dallamos, juga nama-nama anggota ensembel di setiap generasinya.

“Keturunan langsung Dallamos mewarisi kemampuan untuk melihat menembus pikiran seseorang dan langsung membaca bakatnya dari senandung sekecil dan sesederhana apapun yang didengar dari orang itu,” jelas Alvar. “Hanya itu saja yang membedakan keturunan langsung dari anggota ensembel.”

“Dan kami tak pernah meragukan itu. Pilihan Alvar selalu tepat,” Megan tersenyum penuh arti, “dan ia sudah memilihmu. Jadi, tinggallah setidaknya untuk makan malam. Kaisa akan kembali dari kota nanti sore, dan Ryan seharusnya sudah selesai memancing sejak tadi. Mungkin sebentar lagi ia akan datang.”

Terdengar suara pintu diketuk.

“Masuklah.”

Sesaat kemudian, diiringi derit pintu, Enora memasuki ruangan.

“Nona Ainslie, pemandian wanita dan pakaian Anda sudah disiapkan.”

“Terima kasih, Enora,” Megan tersenyum. “Ainslie, sebaiknya kau mandi dan berganti pakaian dulu. Enora, bisa tunjukkan Ainslie jalan ke pemandian?”

“Baik, Nyonya. Mari, ikuti saya,” Enora membungkuk hormat.

Megan dan Alvar tersenyum dan mengangguk kecil ke arah Ainslie. Ia sudah memutuskan untuk tinggal sampai waktu makan malam.


message 7: by [deleted user] (last edited Feb 17, 2012 07:26PM) (new)

Saat sosoknya dan Enora menghilang di belokan, Megan dan Alvar beranjak keluar dari ruangan itu.

“Aku tak pernah meragukanmu, Sayang, hanya saja mungkin agak sulit untuk membujuk gadis itu agar ia mau tetap tinggal. Tampaknya dia bukan tipe orang yang mudah terpengaruh oleh sihir. Bahkan aku tak yakin laguku akan berhasil membujuknya.”

“Selalu ada cara untuk memikat hati seseorang yang menjejakkan kaki ke kastil ini selamanya,” Alvar tersenyum yakin. “Kau ingat pesan ayahku, kan?”

“Jika seorang solois tak berhasil membujuk bakat baru, bujuklah ia dengan duet. Jika duet tak berhasil, cobalah dengan trio,” Megan mengulangi pesan yang dimaksud Alvar. “Intinya, jangan pernah melepaskan bakat yang begitu berharga.”

“Kau memang Megan-ku tersayang,” Alvar tersenyum, sedikit genit. Megan tertawa kecil.

Terdengar suara nyanyian dari ruang tengah. Pasangan itu berjalan berdampingan menuju asal suara itu, dan mereka menemukan Ryan dengan dua keranjang ikan segar di kedua tangannya sedang melangkah melintasi lantai marmer putih, masih terus bernyanyi. Suara lembutnya menggaung di dinding-dinding kokoh berhias ornamen ukiran motif dedaunan dan lambang keluarga Dallamos.

“Hei, Ryan! Sepertinya kau dapat banyak ikan hari ini,” sapa Alvar hangat.

“Oh, tentu. Aku bisa saja mendapat banyak ikan setiap hari jika aku mau, tetapi ada hal lain yang harus diperhatikan sebelum aku bernyanyi dan mengundang ikan ke dalam jaringku. Aku tak mau menghabiskan semua ikan di Sungai Lyouli dalam seminggu, kau tahu,” Ryan tertawa kecil.

“Untung kau ingat,” canda Megan, diiringi tawa suaminya. “Oya, sebaiknya kau bersiap untuk nanti malam, Ryan.”

Ryan melihat keyakinan di sorot mata Megan dan Alvar saat ia mendengar kalimat itu. Ia teringat ketika Alvar menemukan Kaisa dan Genna, dan ia langsung mengerti apa maksud perkataan Megan. Seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Tentu.”

###

Ainslie melangkah canggung keluar dari koridor pemandian wanita mengikuti Enora sang pelayan. Rambut hitamnya yang berantakan kini tertata rapi, dan ia tak lagi mengenakan setelan celana kulot dan blus pengelananya — ia memakai gaun putih dengan lapisan nuansa cokelat dan krem. Ia menyukai gaun itu, meski ia menganggapnya hanya sebagai barang pinjaman dari Megan.

Mereka berjalan melintasi taman kecil di tengah kompleks kastil. Sebentuk air mancur tepat di tengah taman itu menarik perhatian Ainslie. Di puncaknya, patung kristal seekor signoi terpajang indah. Ia tersenyum sendiri sambil menikmati keindahannya, sampai ia mengikuti Enora masuk kembali ke dalam bangunan kastil.

Hai, bunga musim semi yang bermekaran,
bersama wewangianmu, juga gemerisik dedaunan
Sebarkanlah kedamaian!
Sebarkanlah kedamaian!


Terdengar nyanyian yang belum pernah Ainslie dengar sebelumnya. Suara itu begitu jernih, dan ia merasa jauh lebih nyaman daripada sebelumnya saat ia mendengarnya. Nyanyian itu berlanjut dan semakin keras terdengar seiring mendekatnya sesosok wanita berambut cokelat kemerahan yang memakai gaun yang serupa dengan pakaian gadis itu.

“Selamat sore, Nona Genna,” Enora membungkuk dan menghormat pada wanita itu, yang juga menghentikan langkah dan nyanyiannya sebelum mereka sempat berpapasan.

“Ah, Enora, selamat sore,” wanita yang dipanggil Genna itu menjawab sopan. “Um, siapa itu yang berdiri di belakangmu?”

“Perkenalkan, ini Nona Ainslie,” Enora mundur hingga posisinya selangkah di belakang Ainslie. “Nona Ainslie, perkenalkan, ini Nona Genna.”

“Hai, Ainslie,” Genna mendekatinya. “Apa kau baru saja bertemu dengan Alvar dan Megan?”

“Eh… ya,” jawab Ainslie pelan.

Genna — apa dia juga anggota ensembel Dallamos?

“Sebaiknya kau bersiap-siap kalau begitu,” Genna berjalan ke samping Ainslie dan menggandeng tangannya. “Ayo, ikut aku ke kamarku! Kita bisa menghabiskan waktu di sana sampai waktu makan malam tiba.”

Ainslie menduga, Genna akan mengatakan sesuatu tentang ensembel Dallamos. Ia ingin memuaskan keingintahuannya akan hal itu.

“Eh… ya, baiklah. Enora, apa boleh…?”

“Silakan, Nona Ainslie,” Enora membungkuk sopan. Ainslie pun berjalan bersama Genna menyusuri sebuah koridor panjang yang berakhir di suatu tangga marmer putih berlapis karpet merah, sedangkan sang pelayan berbalik dan berjalan kembali ke arah taman air mancur. Kamar Genna ada di balik pintu pertama yang dilihat Ainslie saat ia dan Genna mencapai lantai dua.

“Nah, Ainslie,” kata gadis itu riang seraya membuka pintu, “anggap saja kamarmu sendiri. Hei, siapa tahu kau juga akan sekamar denganku dan Kaisa nanti!”

Ainslie terpana, menyadari luas kamar Genna. Selain itu, sebuah rak buku dari kayu menjulang di salah satu sudut ruangan. Ia teringat kamar asrama sekolah menengahnya dulu — kurang lebih seperti itu juga, hanya saja satu kamar ditempati sepuluh siswi.

Terdengar suara langkah kaki di koridor.

“Oh, mungkin itu Kaisa. Kau juga sebaiknya berkenalan dengannya, Ainslie. Ia gadis yang sangat menyenangkan!”

Sesaat kemudian, muncul sesosok wanita berkulit gelap dengan rambut ikal panjang berhias bando mutiara.

“Kaisa! Akhirnya kau pulang! Kenalkan, ini Ainslie. Ia pendatang baru,” kata Genna riang.

“Oh, hai, Ainslie! Aku Kaisa,” sapanya ramah, “senang bertemu denganmu!”

“Halo, Kaisa,” jawab Ainslie. Ia mengambil tempat di atas karpet tenun, tepat di depan rak buku, sebelum memberanikan diri untuk bertanya.

“Kaisa, Genna, sebenarnya apa maksud semua ini?”

“Alvar melihat bakatmu,” jawab Genna. “Ia ingin menjadikanmu anggota ensembel, seperti aku, Ryan dan Kaisa.”

“Eh… Bagaimana kalian bisa ada di sini?”

Genna memulai kisahnya, “Aku tersesat dalam hujan badai musim panas tahun lalu, dan saat mencari tempat berteduh, aku tak menyadari aku telah masuk ke dalam taman belakang kastil. Aku ketakutan sekali waktu itu, jadi aku bernyanyi untukku sendiri. Rupanya, Alvar mendengar nyanyianku, dan ia menemukanku di bawah semak mawar.”

Kaisa menimpali, “Aku dulu pemusik di sebuah kedai pantai di Coisto. Saat itu Alvar, Ryan dan Megan sedang berlibur dan mereka kebetulan singgah di kedai tempatku biasa bermain.”

Ainslie bertanya lagi, “Tapi bagaimana kalian bisa percaya padanya?”

“Kau akan tahu nanti, saat jam makan malam,” Genna tersenyum penuh arti.

###

Tirai malam mulai turun di langit, menggantikan kehangatan matahari sore yang baru saja terbenam. Meja panjang di ruang makan kastil telah tertata rapi, dengan berbagai hidangan yang tersaji di piring-piring keramik putih cemerlang dan alat makan perak. Tetapi, ada satu hal yang berbeda di ruang makan itu: di sudutnya, terlihat beberapa dudukan partitur dari kayu, beberapa bangku kayu, sebuah harpa berwarna emas, sebuah seruling perak, ocarina, dan beberapa kotak biola.

Alvar dan Megan memasuki ruangan itu, diikuti Ryan, Genna, Kaisa dan Ainslie. Mereka segera duduk mengelilingi meja panjang, dengan Megan di kepala meja.

“Selamat menikmati, Tuan-tuan… Nyonya, dan Nona-nona,” Enora menyambut hangat sambil membawakan teko berisi sirup berwarna biru.

Makan malam pun dimulai. Alvar menyadari Ryan belum berkenalan dengan calon anggota baru ensembel mereka, mendapati pemuda itu menatap Ainslie sambil terus memainkan pisau dan garpunya tanpa menyadari daging panggang di piringnya telah tercabik menjadi potongan-potongan kecil tak beraturan.

“Ryan, kau belum bertemu dengannya, kan?”

Ryan tersentak. Garpu dan pisau di tangannya terlepas, menghasilkan bunyi dentingan keras.

“Oh… belum. Kenalkan, aku Ryan.”

“Namaku Ainslie,” si gadis pengelana memperkenalkan dirinya. Nada suaranya terdengar jauh lebih siap.

Megan menyadari perubahan itu dan berkata pada suaminya, “Mungkin sekarang kita bisa menjelaskan semuanya lebih rinci, agar ia mengerti.”

Alvar mengangguk dan memulai penjelasannya. “Jadi begini, Ainslie. Kau ingat penjelasan kami soal pemilihan anggota baru ensembel Dallamos, bukan? Kami biasa mengajak seorang kandidat anggota ensembel Dallamos untuk makan malam di kastil ini dan meminta pendapatnya, apakah hatinya yakin untuk bergabung dengan kami. Tetapi, selama ini tak ada yang tak yakin setelah menghabiskan waktu di sini.”

Genna bertanya cepat, “Apa kau sudah memutuskan, Ainslie?”

Ainslie melirik sudut ruangan dengan alat-alat musik. Tampak Hayden, sang pelayan, tengah berdiri di sana sambil memegang ocarina. Segera setelah Enora menyelesaikan tugasnya, ia menyusul ke sudut itu dan mulai menyanyikan lagu yang biasa dimainkan setiap kali seorang anggota baru ensembel dibawa ke Kastil Dallamos, diiringi tiupan lembut ocarina.

“Kau lihat, bahkan pelayan kami pun pemusik berbakat. Mereka kadang ikut tampil bersama kami,” Ryan tersenyum lembut.

Ainslie belum memberi jawaban, setidaknya sampai makanan penutup selesai disantap.

Megan dan Alvar berpandangan, lalu bangkit dari kursi mereka dan beranjak ke sudut dengan alat-alat musik. Dengan sigap, mereka mengambil tempat dan alat musik mereka: Megan menyiapkan biolanya, dan Alvar menarik harpanya. Segera, mereka bergabung dengan Enora dan Hayden. Nada-nada dari suara alat-alat musik berbeda terjalin sebagai harmoni sempurna, mengalir tenang di ruangan itu.

Belum pernah aku mendengar musik seperti ini sebelumnya, batin Ainslie.

Ryan, Kaisa dan Genna juga meletakkan gelas-gelas kristal mereka dan ikut bergabung dalam lagu yang sama.

Ikutilah kata hati,
Jangan pertanyakan lagi,
Ia akan membawamu pergi
Ke tempat di dalam mimpi…


Terbersit ide jahil di benak Alvar. Ia sengaja membuat beberapa nada harpanya terdengar aneh dan melihat reaksi Ainslie — untuk memastikan pilihannya tak salah. Saat ia melakukannya, Ainslie mengernyit, seperti ingin mengatakan “itu bukan nada yang tepat”. Pria itu melengkungkan senyum puas ke arah si gadis dan kembali bermain seperti biasa.

Laksana bunga mekar di musim semi
Biarkan hatimu ikut bernyanyi
Sebarkanlah nada bahagia
Bersama angin dan surya senja!


Itu kali pertamanya mendengar lagu yang dinyanyikan para penghuni kastil, namun Ainslie merasa ia sudah bisa ikut bernyanyi bersama mereka, seolah-olah lirik-lirik lagu itu adalah lirik yang begitu dikenalnya. Dimantapkannya hatinya, lalu ia mengambil salah satu biola di dalam kotak dan ikut memainkan bait itu dua kali bersama mereka semua.

Saat nyanyian berakhir, mereka semua berdiri mengelilingi si pengelana dalam keheningan singkat. Mereka semua tersenyum puas, menyadari Ainslie telah berhasil diyakinkan. Alvar Dallamos pun bergegas memulai pengumumannya.

“Mulai saat ini, Ainslie… siapa nama keluargamu?”

“Dierminos,” jawab Ainslie percaya diri. “Ainslie Dierminos.”

Megan mengangguk kecil. Alvar mengulangi pengumumannya.

“Mulai saat ini, Ainslie Dierminos adalah bagian keluarga Dallamos — Ainslie Dallamos. Apa kau siap menerimanya?”

Ainslie mengangguk yakin. “Ya, aku siap. Aku sudah memutuskan untuk menerima undangan Dallamos dan menjadi anggota ensembel… juga tinggal di sini, selamanya.”

Semua orang bertepuk tangan. Genna dan Kaisa menghambur ke arah sang anggota baru dan memeluknya erat-erat.

Genna berbisik, “Selamat, Ainslie Dallamos — apa kau menyukai kastil ini?”

“Tentu saja, Genna. Aku menyukai kastil indah ini, aku menyukai kalian, dan terutama musik terindah yang pernah kudengar!”

Ainslie lalu tersenyum ramah pada Alvar dan Megan. “Sungguh suatu kehormatan untuk menjadi anggota ensembel Dallamos.”

Alvar membalas, semangat jelas terdengar dalam suaranya. “Kami semua juga merasa terhormat, Ainslie. Aku beruntung bisa menemukanmu — dan semoga kami bisa membuat bakatmu lebih bersinar!”

“Itu benar,” tambah Ryan, ditimpali anggukan Kaisa, Megan dan Genna. “Kami harap Kastil Dallamos bisa menjadi rumah keduamu.”

Sejak itu, Ainslie Dierminos si pengelana menjelma Ainslie Dallamos, pebiola dan soprano ensembel Dallamos yang melegenda. Bakat musiknya semakin terasah bersama mereka. Ia pun tak pernah absen dari setiap penampilan ensembel maupun meninggalkan kastil itu, sebagaimana halnya Ryan sang tenor, contralto Genna, dan Kaisa sang virtuoso seruling.


message 8: by 8lackz (last edited Feb 27, 2012 09:30AM) (new)

8lackz | 58 comments Tukang Air & Pasukan Revolusi

Di negara Willfall ini aku tinggal. Hidup di zaman revolusi membuatku memandang hidup dengan cara berbeda. Ada sesuatu yang aneh, yang bekerja di balik dunia ini. Dengarkan ceritaku ini dan tentu kalian akan mengerti maksudku.

Semuanya dimulai saat raja Willfall meninggal. Dia berkata bahwa yang seharusnya menjadi penggantinya adalah anak sulungnya. Anak dari selir yang telah dibuang, karena sang selir adalah orang asing. Sehingga menurut seluruh isi istana Willfall darahnya sudah tidak murni.

Tanpa adanya tanda-tanda keberadaan dimana sang raja terpilih. Kedua pangeran yang tinggal di dalam istana mulai saling menekan. Kehidupan di luar ibukota seakan terlupakan oleh para pejabat istana. Kurasa inilah yang mendorong revolusi. Ini, atau tulisan dari yang berkehendak di atas dunia.

_-==-_

Perekrutan

Saat itu aku sedang membantu warga desa, mengajarkan cara menyalurkan irigasi terbaik. Rombongan orang asing datang mengunjungi desa kami. Orang asing pasti menjadi pembicaraan di desa yang populasinya tidak pernah bertumbuh ini.

Lalu seakan-akan desa kami kaya. Rombongan orang asing yang selalu kemana-mana bersama itu, mampir ke toko perlengkapan pertualangan dan zirah. Lalu berbicara kepada semua orang yang bisa diajak bicara. Apakah mereka memang tidak punya pekerjaan seperti itu?

Sampailah mereka menghampiriku. Pemimpin rombongan itu berdiri di depanku, dia tidak berbicara apa-apa. Sekelebat pikiran menghampiriku. Dia ingin aku ikut dalam pergerakan revolusinya. Bahkan sampai cerita ini selesai, dia tidak pernah berbicara, namun saat dia menghampiri orang, orang-orang sudah tahu apa yang dia inginkan layaknya seperti tadi. Ini keanehan paling pertama yang terjadi dalam hidupku diantara keanehan lainnya.

Saat aku bertanya mengapa mereka memilih aku. Jawabannya kembali berkelebat, karena kostumku dan wajahku berbeda dengan penduduk sekitar. Dia juga bisa melihat wajahku saat berbicara. Sampai saat ini aku tidak mengerti maksudnya.

Aku tidak tahu bagaimana pendirianku saat itu. dia berbeda, saat melihatnya cukup membuatku ingin berada mendukungnya. Tapi bagaimana kehidupanku seandainya aku melawan kerajaan? Aku rasa aku harus memberinya suatu misi mustahil.

Aku meminta kepada Hiro, ketua rombongan itu, sebotol susu ikan. Cairan yang hanya bisa diambil setelah menangkap dan memeras sisik ikan susu di Plain River. Kenyataan kalau Rombongan Hiro akhirnya membawakanku botolnya. Menyatakan mereka memiliki waktu kosong memeras ikan di tengah peperangan mereka melawan kedua pangeran.

Aku menyerah kepada keinginan Hiro, dan berjuang bersama pasukan revolusi. Sekali lagi dengan melihat wajahnya, aku mengerti keinginan Hiro. Dia ingin aku menunggunya di istana Unsiegeable.

_-==-_

Istananya

Aku menemukan jalanku ke Istana yang baru saja ‘diketemukan’ oleh mereka. Aneh, istana sebesar ini yang selama ini berada di samping Plain river. Kok bisa-bisanya baru saja ‘ditemukan’, aku tidak pernah mengerti pikiran para politikus.

Kata sang pengurus istana, aku bisa mengambil satu tempat di dalam istana untuk dijadikan tempatku mencari penghidupan. Aku memutuskan untuk membuka bisnisku di bawah tanah, letaknya tepat di samping pelabuhan yang terhubung ke Plain River. Di sini aku menemukan aquarium yang bisa digunakan oleh Hiro untuk menitipkan peternakan ikan. Memberikan suplai protein hewani kepada seluruh penduduk kastil.

Selama aku tinggal di dalam kastil ini aku menyadari bahwa kastil ini bisa dibilang ajaib. Pertama, bahwa kastil ini sudah menyediakan semua ruangan untuk semua pekerjaan. Setiap ada pendukung baru Hiro yang datang mereka menemukan ruangan yang memang cocok dengan pekerjaan mereka.

Bahkan yang sempat membuatku merinding. Saat Tuan Wiseman—penasihat pasukan revolusi— mengumandangkan bahwa Hiro adalah Calon raja Willfall yang sah, keesokan harinya kastil langsung bertambah dua lantai dan Kamar Hiro terletak paling atas.

Serius, kadang kalau dipikirkan tidak ada habisnya keajaiban di kastil ini.

_-==-_

Bertualang

Pernah sekali di dalam keseharianku menjaga aquariumku. Barisley sang penjaga bar mengantarkan surat panggilan untuk menemani Hiro masuk ke rombongannya. Aku terkesiap, aku jelaskan kepadanya bahwa aku tidak bisa bertarung sama sekali.

Barisley tahu itu, tapi dia tahu aku bisa menyediakan suplai minuman, dan juga ahli memasak. Aku tidak pernah memberi tahu siapapun kemampuanku mencari air tanah, ataupun kemampuan memasakku, namun bagaimana penjaga bar itu bisa tahu.

Bahkan saat keinginanku kuat untuk menolak ajakan Hiro, aku sudah ditarik Barisley untuk ikut ke rombongan. Aku menyadari rombongan jalan-jalan Hiro tidak pernah lebih dari tujuh orang. Enam petarung dan satu pendukung sepertiku.

Saat berkemah ada beberapa peraturan aneh yang diajarkan oleh Noosy, teman kecil Hiro yang memaksakan dirinya selalu berada di sampingnya. Dia menjelaskan bahwa, kita tidak akan bisa lepas atau bahkan berjalan sendiri di dalam kota selama ‘bukan’ saatnya.

Utamakan selalu sehat, karena kita tidak pernah tahu kapan kita diganggu monster atau bandit selama perjalanan. Untuk nasihatnya yang ini, aku benar-benar menyadarinya, semua monster atau bandit itu benar-benar selalu datang secara ‘poof’ begitu saja entah darimana. Kadang aku merasa apapun yang terjadi kalau bersama Hiro. Semuanya aneh, namun keanehan yang dianggap wajar bahkan oleh aku saat itu.

_-==-_

Ceritaku

Apakah aku berguna, kerjaanku tiap hari hanya menjaga aquarium dan kadang minum-minum bersama sang Penjaga perahu dan Pemancing. Yah dua teman baruku yang juga menghuni lantai bawah tanah yang tersambung ke pelabuhan.

Namun serangan yang dilakukan Oleh Pangeran ketiga akhirnya sampai juga ke istana Unsiegeable. Pangeran kedua terkenal dengan pasukan dan peralatan canggihnya, sedangkan pangeran ketiga terkenal dengan kelicikan dan sihir sejati yang dimilikinya.

Serangan pangeran ketiga sampai ke istana kami dalam bentuk racun. Pihaknya telah meracuni seluruh Plain River, bukan masalah yang berat buat Unsiegable dengan adanya aku yang menciptakan penyulingan, dan tabib Al’eal, hanya sedikit korban yang jatuh di kastil kami. Namun imbasnya terkena kepada semua desa dan kota yang berada di hilir sungai.

Maka Tuan Wiseman memanggilku ke ruang strategi. aku disuruh, untuk menemani tabib Al’eal dan Hiro untuk menaiki bukit Water Source dan menyucikan kembali mata air di sana. Tuan Wiseman sendiri menjelaskan bahwa pasukan pangeran ketiga pasti akan berjaga-jaga di bukit itu akan kedatangan kita. Alih-alih membawa pasukan kesana, ia hanya mengutus kami bertujuh. Huh, dimana logikanya!

Dan entah mengapa logikanya itu malah berjalan dengan baik. Rombongan Hiro bahkan sampai dengan selamat ke puncak bukit. Beberapa langkah sebelum ke sumber mata air, Kami dihadang oleh seorang jenderal bawahan pangeran ketiga.

Saking kuatnya Jenderal itu. Ia bisa bertahan berkali-kali serangan dari keenam orang rombongan Hiro, dan masih sempat membuat dua dari kami kehilangan kesadaran. Namun Hiro tetap memperbaiki keadaan, Bagaimana bisa? Enam orang Rombongan Hiro ini mengalahkan mungkin puluhan prajurit Pangeran ketiga semudah membalik tangan, namun terseok-seok saat menghadapi seorang jenderal seperti ini?

Dimana Logikanya?

Setelah komandan itu ditangkap oleh rombongan kami, aku dan tabib Al’eal mencoba untuk memurnikan kembali sumber mata air Plain River ini. setelah kejadian ini, banyak kota dan desa yang terselamatkan menyatakan dukungan mereka pada Hiro, kepada pasukan revolusi.

_-==-_

Kemenangan

Beberapa bulan setelah kejadian peracunan itu. Hiro mengadakan penyerangan terakhir ke ibukota Willfall. Yah setelah pangeran kedua dan pasukannya ditaklukan Seluruh Willfall akhirnya mengabdi kepada satu raja kembali, Tuan Wiseman. yah bukan Hiro, Hiro hanyalah tampak muka dari pasukan revolusi agar nyawa Tuan wiseman yang memang pangeran pertama tidak dengan mudah diincar.

Setelah kemerdekaan seratus lebih pembesar yang direkrut oleh Hiro mulai kembali ke kerjaan mereka masing-masing. sebagian dari mereka melayani pemerintahan baru, sebagian lagi berkelana ke negeri lain, sedangkan yang seperti aku. Menikmati hari-hari baruku tetap di istana Unsiegeable, ada sesuatu yang damai di sini yang menahanku untuk mengurus istana ini.

Sang penjaga kastil pernah memberikan buku untuk kutulis, dia menyuruhku untuk menuliskan apa yang aku lakukan setelah kemerdekaan ini didapat. Aku menuliskannya

Freid – bintang _ _ _ _ _ _ _
Tetap menjaga akuarium bawah tanah di Istana Unsiegeable.

Saat kutanya kepada sang penjaga kastil apa gunanya buku ini. dia hanya mengatakan bahwa ini akan digunakan di pemutaran kredit. Sampai sekarang aku tidak tahu artinya.

_-= dan Kreditnya pun berputar =-_


message 9: by Ardani (last edited Feb 19, 2012 07:58PM) (new)

Ardani Subagio (AuthorDani) | 149 comments Lilith

Hanya ada satu kata yang bisa menjelaskan keadaan Rioth saat ini; antara sial, atau bodoh. Dan Rioth yakin ia lebih cocok dengan kata yang kedua.

Ia sekarang seharusnya sedang menumpang kereta seorang pedagang, menikmati guncangan kereta dengan santai sementara angin membelainya dalam buaian layaknya bayi yang tertidur. Hingga akhirnya ia sampai di kota Volmeth, tempat akademi Seribu Hari berada.

Entah apa atau siapa yang memulai, Rioth malah terlibat dengan perdebatan seru dengan pemilik kereta. Setelah perdebatan itu berakhir dengan sang pedagang yang tak mau mengalah dan membentak-bentak Rioth, baru Rioth memahami arti peribahasa "Jangan membentak tangan yang memberimu makan". Juga mengingatkan diri sendiri agar menyiapkan peta di tempat yang mudah terjangkau kalau-kalau ia diusir dari kereta secara mendadak.

Kini, tanpa peta dan tanda-tanda peradaban manusia sampai ke ujung cakrawala, Rioth harus mengandalkan ingatannya sendiri tentang arah kota Volmeth, dan berharap ia bertemu pengelana atau pedagang yang lebih baik di tengah jalan. Untunglah buku-buku dan bekal makanannya terikat rapi dalam ranselnya sehingga ia tak akan kelaparan, dan masih punya bahan diskusi bagus dalam akademi. Tapi prioritasnya sekarang adalah mencari tempat bermalam.

* * *

Tiga hari sudah ia lewatkan sendirian di tengah padang. Bekal makanannya habis, bukunya lembab karena hujan, dan pakaiannya lusuh di atas tubuhnya yang tak kalah kumuh. Dalam hati ia mengutuk takdir yang melahirkannya sebagai pelajar, dan bukan pemburu. Ia berjalan terseok-seok mengikuti jalan raya yang menghubungkannya dengan kota Volmeth di balik cakrawala. Jalan yang seharusnya ramai dilewati orang dari berbagai arah.

Persediaan air minumnya pun tak bisa menyokongnya untuk waktu yang lama. Dan ia tak bisa terus-terusan hidup hanya dengan memakan rumput dan jamur yang tumbuh di atas pohon mati. Lemas tubuhnya membuat pandangannya kabur. Ia tak lagi menyadari kapan siang berganti malam, atau kapan punggungnya bertemu muka dengan tanah. Yang ia tahu ia mungkin tak akan bertahan hidup satu malam lagi, dan mimpi menuju akademi tersohor itu pun tinggal mimpi.

Sayup-sayup ia mendengar alunan yang begitu indah di kejauhan. Denting nada piano, menggema penuh kemegahan dan keindahan seakan suara itu berasal dari malaikat yang melayang turun menjemputnya. Rioth memejamkan mata, mendengarkan alunan lagu sepenuh hati setelah menyadari itu mungkin suara terakhir yang akan didengarnya. Tapi nyawanya tidak juga pergi.

Pelan-pelan ia mengintip dari sudut mata yang terbuka, arah asal suara. Ia menatap sebuah kastil megah, dengan dua belas menara menjulang menghiasi dindingnya yang sehitam malam. Hanya ada satu cahaya putih dalam keremangan suasana kastil, membuat Rioth seakan melihat pantulan bulan di tengah malam.

Aneh. Apakah kastil itu ada di sana sebelumnya?

* * *

Rioth terbangun di atas kasur empuk dan selimut hangat.

Jika ini adalah surga, Rioth akan menerimanya dengan suka cita.

Kamar tempatnya berada tak ubahnya kamar untuk raja. Selimut dipenuhi dengan hiasan renda, meja dipelitur halus dengan ukiran yang mempesona mata, bahkan dinding ruangannya pun dipenuhi lukisan yang Rioth yakin lebih berharga dari manusia. Ia sedikit bertaruh dengan diri sendiri apakah Dewa menyelipkan berbagai jurnal penelitian dalam meja.

Ketakjubannya itu tersela sesaat oleh derit pintu yang didorong membuka. Sebuah kereta dorong berwarna perak memutar rodanya di atas karpet kamar. Dan ketika tubuh pendorong kereta itu masuk dalam tangkapan mata, Rioth benar-benar yakin dirinya berada di surga.

Seorang wanita berambut merah yang diikat ekor kuda, mengenakan seragam pelayan dalam warna putih dan hitam. Kaos kaki panjang membungkus kakinya yang ramping, lalu dilanjutkan dengan rok yang hanya sepanjang paha. Sabuk lebar khas pelayan membelit pinggangnya begitu rapat, membuat seragam pelayan itu terkesan terlalu ketat untuk ukuran dada sang wanita.

Dan ketika mata gadis itu bertemu dengan Rioth, wajahnya menampilkan kelegaan seperti orang yang baru bertemu dengan kekasih yang telah lama pergi. Suara yang mengalir dari bibir mungil itu mengantarkan Rioth lebih jauh ke surga.

"Kau sudah tersadar, Tuan? Aku khawatir sekali. Kau hanya sempat mengunyah sedikit bubur semalam dan aku takut itu tidak cukup membuatmu bertahan sampai pagi datang."

Baru dua detik berikutnya Rioth tersadar dari mengagumi wajah sang wanita. Kalimat yang pertama kali ia ucapkan terdengar begitu bodoh.

"Apakah ini surga dan apa kau bidadarinya?"

Tawa sang gadis terdengar lebih indah dari alunan nada piano.

"Bukan, Tuan. Ini hanya kastil tua milik Tuan Besar. Semalam, saya tidak sengaja menemukan Anda tidak jauh dari halaman, dan segera membawa Anda masuk."

Entah mana yang harus Rioth syukuri. Bahwa ia masih hidup, atau ada gadis secantik ini di dunia.

Gadis itu kembali mendorong kereta peraknya. Setiap gerak tubuhnya tidak luput dari mata Rioth yang terpesona.

"Saya membawakan roti dan daging untuk sarapan. Ada pai di ruang bawah jika Anda berkenan. Selain itu, jika Anda membutuhkan saya, Anda tinggal memanggil saja."

Seorang gadis manis, akan datang kapan pun ia memanggilnya. Surga pun tidak bisa menawarkan hal yang setara.

Gadis itu lalu berjalan menuju pintu kamar, meninggalkan harum parfumnya bersama Rioth dan sekereta sarapan. Pada saat itu baru Rioth tersadar sesuatu.

"Tunggu. Aku masih belum tahu namamu."

Gadis itu menoleh menatapnya dan membuat senyum yang bisa membunuh semua pria di dunia. "Panggil saja aku Lilith, Tuan."

* * *

Kastil ini lebih besar dari yang Rioth duga.

Setelah menghabiskan sarapan dan berjalan keluar kamar, ia bertemu lorong panjang dengan dinding yang ditutupi karpet tebal. Menyusuri lorong itu sampai selasar yang terbuka pun, ia masih yakin ia hanya ada di satu bagian kastil yang akan menghabiskan lebih dari sehari untuk dijelajahi.

Sinar matahari menembus kaca warna-warni di puncak dinding, membuat ukiran pada kaca berkilau dengan dua puluh warna berbeda. Rioth menduga ukiran kaca itu mengisahkan tentang pertempuran di masa lalu. Antara sekelompok pria berbaju baja dengan seorang pria yang mengenakan jubah dan kerah tinggi menyentuh telinga.

Di bawah tangga aroma pai lezat mengundang, tapi Rioth merasa masih terlalu cepat menikmati pai setelah sarapan. Ia menyusuri isi kastil lebih jauh dan menemukan dirinya berada di aula utama. Mudah dikenali berkat lukisan raksasa yang menampilkan wajah pemilik kastil dan istrinya.

Di salah satu dinding terpajang lukisan dengan tinggi tiga orang dewasa, menampilkan wajah seorang pria dengan rambut hitam berkilau dan senyum yang menegaskan wibawa pada wajah putihnya. Rioth sempat merasa wajah putih itu lebih tepat dikatakan pucat. Ia mengenakan sebuah tuksedo dengan dasi rumbai merah yang lebih cerah dari hari senja. Kerah bajunya tinggi sampai hampir menyentuh telinga.

Sementara di sisinya, wajah seorang wanita dengan dengan senyum menggoda oleh tambahan gincu merah. Hampir sewarna dengan dasi sang pria. Sedikit kosmetik menghiasi wajahnya yang setengah baya, membuatnya mampu menggoda pria yang lebih muda. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai di atas bahu yang terbuka, dengan hanya beberapa untai menggantung di depan dada dan gaun yang hitam bagai malam.

Rioth memperhatikan kedua lukisan itu dengan seksama, sampai akhirnya Lilith kembali muncul di balik punggungnya. Membawa kemoceng dan peralatan pengusir debu yang lain.

"Itu lukisan Tuan dan Nyonya besar," kata Lilith mengikuri arah pandang Rioth. "Dilukis dengan sangat baik, benar Tuan?"

Rioth terpaksa mengangguk setuju. Detik berikutnya, ia menyuarakan rasa penasarannya.

"Di mana Tuan dan Nyonya-mu sekarang, Lilith?"

"Mereka sedang bepergian. Tuan besar sebenarnya tidak suka bepergian, tapi Nyonya sangat suka. Mereka sedang menuju ke Ablimorth sekarang."

"Ablimorth? Tapi itu dua bulan perjalanan. Mereka akan meninggalkanmu mengurus kastil sebesar ini sendirian selama itu?"

"Saya sudah terbiasa, Tuan. Tidak perlu dikhawatirkan. Lagipula, Tuan dan Nyonya selalu membawa barang-barang indah setiap kali pulang."

Rioth mengangguk mengerti. Pelayan memang tidak punya kuasa atas kehendak tuannya. Tatapan Lilith seakan sedang menunggunya mengucapkan satu pertanyaan lagi, dan melihat Rioth diam, ia berkata.

"Kalau begitu, saya akan melanjutkan pekerjaan saya. Tuan silakan nikmati kastil ini sesuka Tuan."

"Satu pertanyaan lagi, Lilith," desak Rioth. Mungkin ini tidak penting, tapi ia harus tahu. "Apa di kastil ini ada seseorang yang bisa memainkan piano? Aku bersumpah mendengar suara piano ketika ambruk tadi malam."

Lilith memandangnya seakan Rioth bertanya apakah ada kelinci di bulan.

"Mungkin Tuan salah dengar? Tidak ada piano di kastil ini."

Begitukah?

Mungkin ia hanya salah dengar.

* * *

Enam bulan telah berlalu. Kehidupan Rioth semakin tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kastil.

Selama enam bulan ia terus bersama dengan Lilith. Menanam bunga, membaca buku di perpustakaan. Apa pun yang Rioth inginkan selalu dikabulkan. Lilith, entah bagaimana, mampu membuat jus jeruk segar walau Rioth tidak pernah melihat ada kebun di dalam kastil.

Lilith juga selalu menyediakan apa yang diinginkannya. Ia menemani Rioth memandang bulan setiap purnama, menghabiskan anggur setiap malamnya, dan selalu memenuhi panggilan Rioth kapan pun dia membutuhkan. Apa pun yang dia dibutuhkan.

Lilith akhirnya berhasil memaksakan bibirnya menjauh dari bibir Rioth. Ia mengatur nafasnya yang tersela dan berkata di tengah desahannya.

"Saya.. masih punya banyak pekerjaan."

"Aku tahu," tapi Rioth terus mendesak. "Sekali lagi."

Lilith tidak bisa menghindarinya. Sekali lagi Rioth memaksakan bibirnya pada bibir Lilith. Lidah bercampur dengan ludah, dan bayangan yang memanjang seakan membuktikan mereka telah berada pada posisi itu setidaknya satu jam. Lilith akhirnya berhasil melepaskan diri dengan wajah merah membara.

Ia segera pergi sebelum Rioth berubah pikiran. Membetulkan letak ikat pinggang yang longgar dan ikatan rambut di kepala. Rioth terus memerhatikan ketika gadis itu berlari dalam kastil, tidak memedulikan rok yang berkibar memamerkan paha.

Lilith terus berlari hingga ke ruang bawah tanah, satu-satunya ruang dalam kastil yang belum pernah dimasuki Rioth. Ia membuka pintu kayu raksasa seukuran lukisan aula utama seakan itu hanyalah pintu kamar biasa. Di baliknya, Lilith bertemu dengan Tuan dan Nyonya besarnya.

Tuan besar, yang berdiri di samping piano, berkata dengan suara berat dan dalam. "Sudah enam bulan," katanya. "Sudah waktunya ritual dilakukan."

Lilith berlutut di hadapan tuannya. "Semua persiapan sudah berada pada tempat yang semestinya, Tuan. Darah siap diambil dan salib hanya menunggu paku."

Sang tuan besar menggeram seolah beban berat dilepaskan dari tubuhnya. "Akhirnya. Sudah enam bulan aku tidak memainkan piano dan nada-nada indahku, semua demi darah dan jiwa sang manusia," geramannya lalu ditujukan pada Lilith. "Kau sebaiknya benar tentang manusia ini, Lilith."

Tentu saja dia benar. Lilith telah memerhatikan Rioth sejak lama. Sejak sebelum ia jatuh pingsan dua puiluh kilometer dari kastil. Lilith tahu ketika ia melihat manusia bodoh yang bisa dibujuk dengan nafsu. Jenis manusia dengan darah yang mampu memuaskan dahaga ratusan tahun tuannya. Manusia dengan jiwa yang akan menghibur sang nyonya. Dan tubuh yang akan menjadi milik Lilith satu-satunya.

Ketika sang tuan menyuruhnya pergi, Lilith melirik sekilas pada sebuah salib hitam yang seakan dipahat langsung dari batu. Bersama dengan pasak-pasak baja yang akan menembus kulit dan daging Rioth. Ia membayangkan darahnya. Jeritannya. Setiap rontaannya. Suara memohon ampun seperti domba disembelih.

Lilith menjilat bibirnya penuh rasa kemenangan. Laki-laki itu akan menjadi miliknya seutuhnya.


message 10: by Bisma (last edited Feb 28, 2012 09:48PM) (new)

Bisma (BigBee) | 67 comments Pirate Anne and The Enigmatic Castle
Part 1


“Tambatkan jangkar! Kita akan berkemah di pulau ini.”

Aye, kapten!”

Mengenakan topi corsair berwarna merah, lengkap dengan bandana hitam mengitari rambut emas bergelombangnya, kapten Anne dari perompak laut selatan menapakkan kaki di sepanjang bibir pantai pulau yang masih asing bagi mereka ini. Lengkap dengan dua pasang pistol flintlock dan sepasang sabre tajam pada kedua pinggangnya, kapten Anne yang terkenal tanpa takut di empat samudera memperhatikan tiap sudut hutan yang membentang lebat di depan matanya.

Anne sudah memastikan sekali lagi bersama navigator kepercayaannya, bahwa tidak pernah tercatat di dalam jurnal pelayarannya kalau ada pulau di sekitar sini. Begitu pula dengan orang-orang bar di pulau yang sebelum ini mereka datangi.

Tidak jika hanya karena peta mencurigakan yang ia terima dari seorang pemuda misterius itu…

Awalnya Anne belum bisa mempercayai pemuda berambut pirang itu. Tapi ketika mendengar gunungan emas dan harta karun berada di pulau tersebut, birahi bajak laut pemburu harta Anne bangkit ke permukaan. Mengiyakannya, ia merampas peta tersebut, dan bersama dengan seluruh anak buah kapalnya mereka berangkat menuju lokasi yang telah ditentukan.

Karena merasa aneh, Anne kembali mengecek ulang. Tapi, ternyata benar. Ada pulau pada koordinat seperti yang tertera di peta.

Matahari sudah semakin mengantuk, namun menguappun tidak; rasa penasaran Anne malah membuatnya semakin bersemangat. Sebagai bajak laut bereputasi, hal semacam ini adalah tantangan baginya.

Tapi apa tidak apa-apa menembus hutan semak belukar seperti itu malam-malam begini?

“Kapten, kita berburu sekarang?” Anne membalikkan tubuhnya, menatap salah satu awaknya.

“Walaupun bajak laut, aku suka bermusyawarah. Kalian yang menentukannya.” ia memberi isyarat bagi awaknya semua untuk melakukan apapun yang mereka inginkan untuk merundingkan hal ini. Anne duduk diatas kotak kayu, dan mengecek ketajaman sabre. Ia juga menyiapkan amunisi yang cukup untuk kedua flintlock-nya. Karena Anne sedikit banyaknya mengenal para awaknya dengan baik, sepertinya dia sudah tahu jawabannya.

Ini memang bukanlah hutan biasa. Akar belukar merayap kesana dan kemari. Lumut-lumut lembab menempel ditiap pohon, dan itu belum dihitung banyaknya tarantula yang terdeteksi oleh indera Anne yang tajam. Untung saja anak buahnya bukanlah sekumpulan orang tolol. Tak satupun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda bahwa akan mengusik para tarantula tersebut. Tanaman-tanaman karnivora juga cukup banyak yang terlihat. Beberapa dari mereka menangkap hewan-hewan kecil lainnya, terutama laba-laba dan serangga yang salah hinggap.

Tidak hanya Anne. Seluruh anak buahnya juga merasa sedikit gentar.

Bocah pirang kurang ajar. Hutan di Dunia Baru (Amerika) saja tidak seperti ini sekali, pikir Anne, menyumpah.

“HWAAA! KAPTEN!” mendengar teriakkan tersebut, Anne dengan cepat memutar tubuh dan melihat beberapa awaknya dililit ular raksasa.

“P-Pyton?” kejut Anne, terbelakak dan heran. Ular berdiameter gila, yang kurang lebih sebesar satu meter itu tidak perlu ditanyakan lagi panjangnya. “Gunakan pedang kalian, bodoh! Aku tidak ingat pernah mengajak anak-anak TK dalam pelayaranku!”

Belum sempat mengikuti perintah si kapten, ketiga awaknya dilahap dengan mudah kedalam perut hewan melata menjijikkan itu. “Khuh, dasar bodoh!” dengus si kapten, merasakan isi perutnya naik ke ulu hati. “Lari! Lari, kalian anak-anak bodoh! Kalau tidak ingin bertarung, lari!”

Dengan derap kaki yang menggetarkan seisi hutan, kru bajak laut Anne berlari dengan sigap menghindari kejaran reptil pemangsa dibelakang mereka. Namun tidak hanya itu saja. Tarantula yang terganggu, melompat ke bawah dan menggerogoti para awak, membunuh mereka dengan cepat.

“Akh, tolol sekali!” kutuk Anne, saat menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat anak buahnya satu persatu mati dan tergeletak di tanah sebelum diemut dan ditelan si pyton dengan lahap. “Ular brengsek! Mereka anak buahku!” Anne berbalik dan menarik kedua pedang sabre-nya.

“Jangan, kapten!” seru si navigator, mendorong punggung Anne. “Jangan menoleh. Teruslah lari ke depan, kapten. Kita akan keluar dari hutan sebentar lagi!” Anne berdecak, dan terus berlari dengan segala kelincahannya.
Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi.

Anne melompat dari dalam hutan, dan bersamaan dengan itu pagar besi raksasa terjatuh dari batas antara hutan dan tanah lapang. “A-apa yang…!”

“HWOAAA! KAPTEN!” jeritan horor anak buahnya dapat terdengar, meraung ke langit senja nan kelam.
Hanya aku sendiri…?

Anne, yang masih dalam posisi tersungkur tidak bisa mempercayai ini semua. Puluhan anak buah yang ia bawa, seklaigus teman-teman yang sudah menemani pelayarannya harus mati dengan cara seperti ini.

Anne tidak mau menangis. Dia adalah perempuan yang kuat. Dia punya harga diri.

Ia kemudian berdiri, dan mendongakkan kepala menatap kastil yang tingginya bukan main berdiri didepan kedua mata sapphire-nya.

“… ‘Cih, gara-gara ini.” Anne menajamkan kedua matanya secara tidak biasa. Kemarahan? Dendam? Mungkin keduanya. “Akan kubongkar seisi kastil ini. Kalau perlu biar kubawa kastil ini ke lautan. Brengsek.”

Bersambung ke post berikutnya...


message 11: by Bisma (last edited Feb 28, 2012 09:54PM) (new)

Bisma (BigBee) | 67 comments Pirate Anne and The Enigmatic Castle
Part 2


Anne menendang pagar raksasa kastil tersebut, merubuhkannya diantara kepulan asap kering. Sabre ditangan kanan dan Flintlock di tangan kiri, Anne akan menebas siapapun yang dilihatnya.

Sekali lagi Anne mendobrak pintu istana dengan cara yang sama. Anne meringis, memegangi kakinya, melompat-lompat kesakitan. “Dari apa pintu ini dibuat…? Sakit sekali…”

Pintu itu terbuka dengan perlahan. Anne berdiri dengan bangga sambil bertegak pinggang. “Heh, kau lihat kekuatanku?” ujarnya, sombong.

Ia menyodorkan pedangnya sebelum masuk ke dalam. Melangkah dengan hati-hati, Anne tahu ini bukanlah tempat yang biasa dikunjungi orang. Dan pastinya masih banyak hal berbahaya yang akan menyambutnya.

“Selamat datang, madame.”

Diluar dugaan, isi aula utama yang baru saja dimasuki Anne sangat berkilauan. Lampu-lampu hologram menghiasi langit-langit; musik yang belum pernah didengar oleh Anne melantunkan nada-nada asingnya, dan riuh tawa juga sumpah serapah manusia mengelilingi seisi aula. Tidak hanya pria, tapi puluhan wanita juga membanjiri kedua mata biru laut Anne.

“… Apa ini?” kehilangan kata-kata, hanya itu yang dapat diucapkannya saat ini.

“Ini?” si pelayan melayangkan tangannya kearah pengunjung lainnya. “Ini adalah kasino, madame.”

Anne mengencangkan genggaman kepalannya pada kerah leher si pelayan. “Jangan bercanda!” sontak Anne, emosi. “Aku dan rekan-rekanku mempertaruhkan nyawa untuk sampai kesini. Dan kalian disini… berjudi? Apa-apaan ini sebenarnya? Jelaskan!”

Tidak sempat melanjutkan teriakkannya, kedua pergelangannya digenggam oleh sepasang pria yang hampir nampak identik satu sama lainnya. Kedua pria (kekar) itu mengenakan kerah kemeja dan dasi kupu-kupu, namun tidak menutupi tubuh mereka berdua dengan apapun kecuali speedo hitam. “Iyeuww! L-lepaskan, kalian makhluk menjijikan!”

Sekeras apapun ia meronta-ronta, tak sedikitpun genggaman erat itu melonggar. Senjata Anne terjatuh ke lantai kasino, dan iapun semakin tidak kuat melawan. Si pelayang mulai melayangkan tangannya ke wajah Anne, hanya untuk mendengarkan beberapa tepuk tangan dan membuatnya berhenti.

“Cukup, Rutherford.” imbau suara itu. “Lepaskan nona itu.”
“Tuan Edwin. Maafkan saya.” si pelayan membungkuk, dan berjalan menjauh dari Anne. Edwin memainkan jarinya.

“Bawa dia kemari.” kali ini kedua pria itu menggenggam lengan Anne, dan mengangkatnya kearah Edwin yang berdiri di tangga mewah yang melingkar ke lantai dua. Lantai berkarpet merah seolah mempersilahkan Anne untuk mendekatinya.

“Bukankah kau… Bocah waktu itu!” Edwin tersenyum mendengarnya.

“Kehormatan bagiku karena kau masih mengingatku, nona Anne.” Anne semakin naik pitam, meronta semakin keras dan beringas.

“Beraninya kau menipu kami! Hewan-hewan itu nyata! Mereka memakan anak buahku semuanya!”

Edwin menghela napas panjang dan menghembuskannya seraya meletakkan satu tangannya didepan dada. “Aku turut berduka, nona Anne.”

“Jangan meledek kami!”

“Tidak. Aku bersungguh-sungguh.” ujar Edwin. Ia menyapu sisi rambut pirangnya, dan menatap Anne dengan wajah berduka. “Kenapa kau tidak menggunakan pintu kedatangan? Kami menyambut semua tamu disini.”

“Huh?”

Edwin membimbing tatapan Anne dengan jari telunjuknya. Diarah yang diperlihatkan Edwin, sebuah terowongan yang nampak terbuat dari kaca memanjang sampai ke pantai disana. Anne menggemertakkan giginya. “… M-mereka hanya mati konyol…” kutuk Anne dengan semburat merahnya, menahan malu atas kematian anak buahnya.

“Benar, aku berduka untuk mereka semua. Tapi, yang penting kau selamat, nona Anne.” tutur Edwin, menjual senyuman jantan dari fitur bersih wajah modern-nya.
Putus sudah urat pitam Anne.

Ia memutar tubuhnya keatas dengan bantuan genggaman kedua pria abnormal muscular itu. Ketika duo tersebut menyadarinya, kedua kaki Anne sudah menjedutkan kening pria yang satu dengan kening yang lainnya. Meringis kesakitan dan memegangi kening mereka, Anne menyapu kaki dan membuat mereka terjatuh diatas lantai. “Kau mempermainkan kami.”

“Aku tidak,”

“Kau ya.”

Anne mencabut satu lagi sabre dan flintlock-nya, mulai menerjang Edwin. Sabetan pertama dengan mudah dapat dihindari Edwin. “Serangan yang sangat tajam, nona Anne.”

Mengambil kesempatan yang ia dapat, Anne menembakkan pistolnya tepat kearah dada Edwin. “Ups, itu akan menyakitkan,” ujar si pria. BANG!

Sosok Edwin lenyap dari depan Anne, menyisakan jubah putihnya yang kini sudah jatuh ke jalinan tangga. “Gerakan itu tidak normal.” sergah Anne yang menyadari hal itu. “Makhluk apa kau ini?”

Edwin mendarat dibelakang Anne; memasukkan satu tangannya kedalam saku. “Aku tidak berniat buruk padamu, nona Anne.” Anne memelototinya. “Harus kutekankan, tidak – padamu.”

“Kau menjebak kami!” BANG! Sekali lagi flintlock milik Anne mengeker Edwin. Dan sekali lagi itu pula Edwin menghilang.

Dari belakang, Edwin memagut lengan ke lengan Anne hanya dengan satu dekapan lebarnya. “Aku mengundangmu kesini.”

“Ya. Dan kau tahu itu adalah saatmu untuk mati!” Anne melempar sabre-nya kearah wajah Edwin berbisik kepadanya. Namun, dengan mudah masih dapat dihindari si pria.
“Fufu, aku suka wanita aktif sepertimu, nona Anne.” ujar Edwin, melayang seperti hantu ke lantai dua dari aula kasino. “Mari, ikuti aku. Akan kutunjukkan seisi bangunan ini. Kastil yang akan menjadi rumahmu; yang tidak memiliki jalan keluar.”

Anne memungut pedang miliknya yang terjatuh di arah pintu masuk, kembali menyarungkannya. “Ada yang aneh dengan orang-orang disini…”

Anne menebas satu kepala pengunjung. Ternyata benar, batin Anne. Semuanya hanya 'bayangan.' “… Teknologi apa ini…?”

Membiarkan para pengunjung palsu itu, Anne menaiki tangga melingkar dan memasuki lorong tempat Edwin menghilang tadi. Dia masih belum mengerti ada apa ini sebenarnya. Tapi karena ini menyangkut nyawa anak buahnya semua, dia harus bertindak tegas. Seperti memenggal kepala satu hantu keparat.

Anne membuka satu pintu terdekat di lorong. Isinya tidak lebih dari putih benderang yang membutakan. Tak ada dinding, tak ada lantai. Yang ada hanya kehampaan berwarna putih.

“Sekarang kita tes kecerdasanmu.”

“Kau!” Anne berlari kearah asal suara dan sekali lagi menebas leher Edwin.
“Jangan membuang waktumu, nona Anne.” ujar Edwin yang berbentuk bayangan. “Sekarang kau sudah mengetahui rahasia para pengunjung. Aku penasaran, apakah kau bisa sampai ke tempatku berada.”

“Laki-laki lautan adalah orang yang selalu maju menghadapi apapun. Apa kau tidak malu?” Belum juga melepas tatapan penuh racunnya, Anne kembali menghardik.

“Uh… Mungkin ada satu hal yang nona Anne lupa; aku bukan orang lautan. Aku tidak mengerti ideologi konyol macam itu.” ujar si pria, mengejek lawannya. “’Nah, aku menyediakan tiga buah game untukmu. Apabila kau bisa menyelesaikannya kesemuanya, kau berhak mendapatkan hadiahnya. Aku menunggumu di ruangan terakhir.”

“Aku akan membunuhmu karena sudah mempermainkan kami.”

“Terserah saja. Karena kau berhak mendapatkan hadiahnya. Bukan begitu?” lanjut Edwin. “Sekarang ijinkan aku memulai game pertama. Game kali ini berupa pertanyaan. Sebutkan satu saja rahasia sir Francis Drake yang tidak pernah diketahui orang lain.”

“Kau bercanda; Drake mengidap penyakit mematikan turunan orang tuanya. Tentu saja itu akan merusak citra ratu Inggris apabila tersebar ke khalayak umum. Sebuah ironi, karena ratu menjadikannya orang kepercayaan.” Anne mengernyit. “Dia idolaku. Jangan membawa-bawanya kesini, bajingan. Sepertinya kau suka mengintip isi benak orang lain, ya hantu?”

“Selamat. Silahkan ambil tiketmu menuju game kedua, nona Anne.” pintu dibelakang Anne kembali terbuka. Lorong berwarna merah menjadi penuntunnya menuju pintu yang berikutnya.

“Nona Anne, akhirnya datang juga.”

“Aku sudah tidak sabar untuk memenggal kepalamu.”

“Fufu, begitu bersemangat. Aku menyukaimu.” Edwin yang duduk berpangku kaki ditengah udara terkekeh kecil. “Baiklah, game kali ini adalah game penjara batin. Disekelilingmu ini adalah ruangan hitam dan putih dari ‘hatimu.’ Aku penasaran, rasa sakit macam apa yang bisa kau tunjukkan dari hatimu…”

“GYAAA, KAPTEN!!”

“TOLONG KAMI, KAPTEN!!”

“AKU MASIH BELUM MAU MATI!!”

“Jangan menoleh. Teruslah lari ke depan, kapten. Kita akan keluar dari hutan sebentar lagi!”

Kedua mata Anne melebar, dan pupil didalamnya mengecil; menajam akan teriakkan memekikkan telinga itu. Ia mengarahkan kedua tangannya ke topi corsair-nya, melepasnya bersamaan dengan bandana. Anne memegangi kepalanya. Rasanya mau pecah. Rasanya mau pecah…

“Hahaha, inikah bayangan paling menakutkan dari dalam hatimu, nona Anne?” tanya Edwin setelah tertawa lebar, melihat sosok wanita menderita di depannya meringkuk diatas lantai bercorak catur. “Kehilangan teman, ya, yang paling menakutkan bagimu?”

Anne berdiri dengan susah payah, memberikan kekuatan terakhir yang ia punya. “Kau tahu… Apa yang paling membuat mereka sakit dan ketakutan?”

“Hm? Apakah itu kiranya?”

“… Itu karena… Mereka harus mati di tanah terkutuk ini. Mereka seharusnya mati di laut; setelah melewati pertempuran hebat, kembali ke loker Davy Jone bersama-sama denganku. Mereka semua… Karena itu, jangan main-main dengan mereka!”

Khayalan itu terhapus dari dalam benak Anne. Bentuk asli ruanganpun kembali menjadi sedia kala. Namun tubuhnya yang menerima efek tersebut sangat merasa lelah.

“Cepat, nona Anne. Satu stage lagi, dan kau akan sampai di tempatku. Fufu.”

Anne mendobrak pintu terakhir dengan kakinya lagi. Menendangnya sekuat tenaga hingga melayang ke langit. Memang malang, pintu yang melayang itu menabrak satu kepala pelayan berpakaian mesum seperti yang dibawah tadi. Satu jatuh.

“Bwahahahah!” terdengar suara tawa histeris Edwin dari sekujur dinding ruangan. “Belum apa-apa kau sudah mengalahkan satu pengawalku. Kau memang lain daripada yang lain, nona Anne. Majulah. Tantangan terakhirmu adalah ‘Do or Die!’ Kalau kau bisa mengalahkan sisa sembilan pelayan kekarku itu, aku berjanji akan memberikanmu hadiah. Mm… Kepalaku? Ya sudah. Cepat saja, nona Anne.”

Hanya karena dia berhasil mengalahkan Sembilan pengawal itu, bukan berarti dia bisa memenggal kepala Edwin dengan mudah. Dengan ini saja dia sudah hampir tidak memiliki kekuatan untuk berjalan. Ditambah lagi membuka pintu terakhir. Tapi, satu jari saja. Hanya dengan mendorongnya dengan satu jari, ia akhirnya bisa sampai di tempat si bajingan itu.

Anne menggemertakkan giginya, menajamkan pandangannya, dan memburu napasnya dengan liar. Urat pitam bisa kelihatan di sisi keningnya.

Sekali lagi dia memberikan tenaga luar biasa dengan menendang pintu terakhir hingga terpental.

Woah…

Hanya itu yang bisa digumamkan Anne. Tumbukan emas, berlian, segala macam senjata kuno yang terukir dari emas dan platina. Koin-koin emas dari masa ke masa, ditambah dengan mahkota, jubah, dan perabot kuno yang terbuat dari emas.

Ini bukan melebih-lebihkan.

Semua ini nyata. Anne hanya tahu itu. Ditambah lagi…

“Kau lihat, ‘kan nona Anne? Aku tidak membohongimu waktu itu.” Edwin memicingkan kedua matanya dan tersenyum lebar. “Ini adalah hadiahmu. Ambil apapun yang kau mau. Atau… Kau ‘masih’ belum mempercayai kedua matamu?”

Senyum ceria navigator dan seluruh awak kapal bajak lautnya dapat ia jumpai disana. Mereka semua bersenda gurau dengan balutan emas; diantara gunung emas, melambaikan tangannya pada si kapten. Mereka mengimbau-imbau kaptennya sambil mengayunkan tangan kearahnya.

Anne tidak percaya ini, tapi ini ‘nyata.’ Sekeras apapun dia tidak ingin mempercayainya, tapi ini nyata, kata batinnya…

Anne tersenyum. Belum pernah dia sebahagia ini hanya dengan bertemu dan melihat tawa awaknya semua.

“Kau… Mendapatkan yang kau inginkan, nona Anne?”

Anne mengangguk. Edwin ‘pun kembali tersenyum.

“Baguslah. Karena kau ‘pasti’ tidak ingin keluar lagi, selamat datang di rumahku.” ujar Edwin, menapakkan kakinya di lantai. Ia berjalan menghampiri Anne, merentangkan tangannya dengan lebar, seperti akan memagut tubuh kelelahan wanita itu.

“Fufufu, anggap saja rumah sendiri…”


message 12: by Nodix (last edited Feb 27, 2012 11:42PM) (new)

Nodix | 71 comments Jurnal Dalam Sebuah Kastil

Gloria mendorong kedua daun pintu raksasa itu dengan kuat. Suara gemuruh langsung menyambut telinganya ketika engsel pintu yang karatan berdenyit serta kaki pintu kayu yang sungguh berat menyapu lantai kasar di bawahnya. Ia langsung meneliti seluruh ruangan kastil itu, kastil satu-satunya yang menjadi sebuah tempat penaungan di rimba itu.

Ia meneliti detail ruangan kastil itu. Hanya ada satu ruangan kecil di dalam kastil itu. Gloria tak begitu peduli ketika ia melihat hanya ada satu pintu di ruangan kecil itu—pintu masuk kastil. Ada dua jendela yang terbuka di sana menghadap ke luar kastil. Walau dari luar kastil itu nampak megah dan besar. Namun hanya sebuah ruangan kecil yang disuguhkan oleh kastil itu.

Yang menjadi perhatiannya sekarang adalah sebuah anggur yang tertuang dalam sebuah wadah gelas sederhana. Berdiri di atas meja kayu tua berkaki empat dengan luas tak seberapa. Di bawah gelas anggur sederhana itu tertindas sebuah kertas yang kosong di permukaannya, serta ada sebuah buku tua di sampingnya. Empat nyala obor menerangi ruangan kecil itu dengan cahaya jingga remang.

Gloria duduk di kursi meja itu. Rasa haus mendesaknya untuk meneguk anggur sebelum membuka buku tua yang menarik minat untuknya membaca. Ia mencubit pojok sampul buku tua itu kemudian membuka bukunya. Sebuah laman yang hampir kosong, dengan tulisan tangan gagah usai menari lembut tertera di tengah-tengahnya: Red’s Jurnal.

Ia tersenyum ketika memandangi tulisan yang ia kenal. Terlalu indah. Sampai-sampai ia membutuhkan waktu ekstra hanya untuk membaca judulnya yang terdiri dari dua kata itu.

Ia membuka kembali halaman selanjutnya, dan mendapatkan sebuah entri dengan tulisan yang hampir tidak bisa terbaca karena terlalu indah tulisannya.

***
Entri #5
Sudah lama diriku menunggu di sini. Hampir seratus tahun sudah setelah entriku sebelumnya kutulis. Tanpa minum dan makan. Dan akhirnya terbalaskan sudah. Ajalku hampir datang menjemput. Sekali lagi, akhirnya. Aku senang sekali sebab aku akan mati sebentar lagi. Tubuh tua rapuhku sudah tak sanggup lagi duduk di kursi tua bodoh ini. Sepertinya Green akan mengadakan pesta sekarang, karena penantiannya juga sudah terbalas. Kini, dengan meninggalnya diriku ia akan mudah menghisap sisa jiwaku—setidaknya itulah yang ia tunggu sejak puluhan tahun yang lalu.

Dengan berakhirnya entri terakhir ini, aku akan menutup jurnal kecilku untuk selamanya. Dan berharap seseorang membuka jurnal ini dan belajar dari pengalaman pahitku. Semoga saja ia sempat melarikan diri dari kastil sialan ini!
***

Gloria merasakannya. Merasakan rasa takut yang mendalam ketika membaca entri itu. Ia takut, jika ia tak sempat melarikan diri dan merasakan pahit seperti yang dialami Red. Kembali ia meneliti buku itu di laman selanjutnya, dan mendapati setiap entri ditulis terbalik oleh Red—sang pemilik jurnal.

***
Entri #4
Semua jendela dan pintu sudah kututup rapat. Makhluk itu, makhluk bewarna hijau terus membayang-bayangiku dari luar. Berhari-hari sudah. Mungkinkah itu makhluk yang selama ini kucari? Green? Makhluk yang akan menghisap jiwa manusia terlantar ketika mereka mati? Entahlah, namun yang pasti aku tidak boleh melakukan kontak dengan makhluk itu! Ingatlah, Red, kau tidak memiliki teman dan tak akan pernah! Jangan biarkan makhluk-makhluk mitos itu mengelabuimu dan menjebakmu, tetaplah di dalam kastil.

Tetaplah di dalam kastil. Ya, aku tidak akan pernah mau keluar dari kastil. Bukan karena Green. Namun karena kelalaianku sendiri ketika memasuki kastil ini. Pokoknya aku tidak akan pernah mau keluar.
***

Gloria bangkit setelah membaca entri itu, berlari kecil ke arah jendela, menutupnya rapat, juga menutup gordennya, kemudian menghampiri pintu seraya menguncinya dan memastikan tak akan bisa terbuka lagi. Ia terengah-engah ketika membayangi makhluk yang akan membayang-bayanginya, menunggu kematiannya sebelum makhluk itu menghisap jiwanya. Tak sengaja keningnya dibanjiri peluh, ia mengusapnya lembut dengan punggung tangan kiri. Ia pun melangkah pelan kembali ke kursinya, membalikkan lembaran jurnal Red.

***
Entri #3
Ada yang salah dengan tubuh makhluk mungil itu. Tubuhnya menyala ketika terterpa sinar mentari pagi. Jelas aku mendengar suara rintihannya ketika asap transparan membumbung dari dalam tubuhnya, serta jelas kulihat puluhan peluh terjun bebas dari pori-pori kulitnya.

Tunggu, jangan-jangan...
***

Gloria meneguk ludahnya ketika hendak membaca entri berikutnya.

***
Entri #2
Makhluk mungil itu terus memelototiku. Semalaman ia bertingkah seperti itu. Aku mencoba untuk berteman, sebab aku merasa kesepian di sini, di dalam ruangan kastil yang kecil ini. Ia tak merespon perkataanku. Cahaya rembulan menerpa tubuh mungilnya, membuatku rindu ingin mendapat perlakuan yang sama.
***

Gloria merasakan tangannya yang bergetar ketika hendak membalikkan halamannya sekali lagi.

***
Entri #1
Sialan! Aku terperangkap di dalam kastil ini! Bukan, bukannya terperangkap, tapi aku tak bisa memilih pilihan lain. Karena aku tak sanggup menjalani hidupku setelah aku keluar dari kastil ini, tidak akan pernah sanggup!

Green menjebakku. Ia juga memberikan pilihan padaku, pilihan yang sudah jelas jawabannya. Aku akan tetap tinggal di sini, tidak akan memilih pilihan lainnya—keluar dari kastil ini. Saat itu juga aku merobek pesan yang ditinggalkan oleh orang yang menjebakku. Tanpa ampun, seperti aku merobek jantungnya!
***

Gloria tertegun ketika membaca entri itu. Mungkinkah ia juga mendapatkan pesan yang sama dengan Red? Mungkinkah pesan itu adalah kertas kosong yang tertindas oleh gelas anggur sederhana itu?

Ia tak akan bisa mendapat jawabannya jika ia diam saja. Tangannya bergetar ketika hendak meraih kertas kosong itu. Jemarinya menyentuh kertas itu, dan dengan pelan dan gugup ia mengambilnya. Ada sebuah tulisan tangan di baliknya, dengan cermat namun takut Gloria membaca surat itu:

Salam, Manusia

Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah meminum anggur yang kuberikan padamu. Itu berarti, kau memiliki dua pilihan yang akan mengubah hidupmu; tetap diam di dalam kastil itu untuk seratus tahun ke depan atau keluar bersamaku dan bermain serta menari dalam kehidupan yang kekal.

Ya, anggur itu adalah kutukannya, jika kau meminumnya, kau akan kekal. Namun jika kau tidak terkena sinar mentari atau rembulan, kutukannya akan hilang dalam seratus tahun yang akan datang. Jika itu terjadi, kau akan mati. Lain halnya jika kau terkena sinar mentari ataupun rembulan, hmm, kau akan menjadi sepertiku dan harus menunggu orang lain untuk dihisap jiwanya.

Tertanda,
Green.


Mata Gloria langsung terbelalak. Mulutnya menganga ingin mengumpat mahkluk mitos sialan itu. Ia pun lalai sama seperti Red. Lalu, pilihan apa yang akan ia pilih? Hidup kekal untuk seratus tahun ke depan, namun hidup hanya terisi kehampaan? Menunggu hingga ajal menanti? Atau keluar dari kastil dan membaur dalam dunia mitos yang selama ini masih kelabu dalam pandangan masyarakat luas? Namun, yang pasti, tidak ada satu manusiapun yang ingin menjadi Green. Karena, ketika ia sudah berubah menjadi makhluk licik itu, ia bukanlah manusia lagi.

Entri #0
Aku berhasil kabur dari pengawasan istriku. Dan kini aku sudah berada di dunia fantasi itu, aku bebas menjelajah hutan aneh ini. Aneh? Ya. Aku tak melihat adanya tanda-tanda kehidupan—tidak termasuk pohon-pohon yang beragam, tentunya—di sekitarku. Suasananya hampa. Beruntung aku menemukan kastil ini. Tempat berteduh yang bagus untukku kelak. Namun sayang, aku tak mendapati jejak apapun tentang adanya Green. Sepertinya makhluk mitos itu sukar untuk ditemukan. Namun aku harus berhati-hati. Konon ia dapat menjebak manusia manapun untuk dijadikan santapannya. Juga ia sangat lemah, dan tak akan pernah mendekati mangsanya sebelum benar-benar tewas olehnya.

Jika aku mendapatkan jejaknya, atau buktinya, sedikit saja, maka pandangan masyarakat dunia akan fakta mitos ini akan segera berubah. Dan aku akan menjadi peneliti pertama yang menemukannya. Tentu sejarah akan mencatat namaku.

Namun kapan? Ketika aku sudah tua? Ketika aku sudah sangat tua dan keluar dari dunia ini, tentulah Gloria tak mengenaliku. Tentu saja. Waktu berjalan secara paralel antara dunia ini dan dunia asalku. Dan jika menjadi tua yang harus kudapatkan, itulah resikonya.

Gloria, jika kau membaca ini, tentu kau akan maklum jika aku menulis entri terbalik seperti ini. Jika kau ingin aku merubah kebiasaan burukku, maka aku tidak akan pernah merubahnya. Sebab ada satu hal yang didunia ini yang tak dapat diubah oleh pasangan kita, Gloria. Kau harus mengerti itu, sayang.

Omong-omong, aku tak tahu mengapa ada segelas anggur di sini. Kebetulan sekali, rasanya aku haus sekali setelah berjam-jam berjalan dan sepertinya air liurku menetes ketika menatap anggur ini. Haha, aku hanya bercanda.


message 13: by Katherin (new)

Katherin (KatherinHS) | 106 comments ALICE'S WONDERLAND


Collin tidak pernah mempercayai keberadaan penyihir. Selama dua puluh empat tahun hidupnya, tidak pernah sekalipun dia bertemu dengan penyihir asli, hanya para penipu dengan trik-trik sulap untuk memesona korbannya.

Maka saat dia mendengar tentang gadis kecil yang diasingkan dalam kastil di tengah hutan karena dituduh sebagai penyihir, dia langsung berpikir gadis malang itu mungkin anak haram yang tidak diinginkan keluarganya.

Gadis kecil berusia dua belas tahun itu adalah putri keluarga bangsawan Bloodsworth yang menguasai desa ini. Dia diasingkan oleh ayahnya sendiri sejak baru berusia delapan tahun karena ditakuti sebagai penyihir.

Gosip-gosip tentangnya cukup mendirikan bulu roma Collin. Beberapa orang percaya gadis kecil itu membakar pelayan yang tidak sengaja melukainya dengan menatap si pelayan malang. Kemudian cerita tentang kuda kesayangan ayahnya yang mati kejang-kejang saat lepas kendali dan hampir menginjak-nginjak anak itu.

Collin sendiri merasa itu semua hanya gosip yang dibesar-besarkan untuk memberi alasan mengasingkan si gadis kecil. Paling-paling dia adalah anak haram yang keberadaannya mencoreng noda di wajah keluarga Bloodsworth. Praktek seperti itu umum dilakukan untuk menghindari skandal.

Namun setelah menghabiskan berhari-hari mengejar begitu banyaknya petunjuk yang dibuat-buat oleh warga pencari sensasi, hanya tersisa gadis kecil dan pelayannya di kastil yang belum diwawancarainya. Terpaksalah dia harus pergi juga ke kastil terpencil itu. Padahal dia segan berurusan dengan kaum bangsawan.

Collin menghela nafas. Andai dia bisa menolak ketika ditugaskan ke sini, daerah pinggiran yang terbelakang. Namun sebagai anggota junior di Biro Runner, dia memiliki sedikit sekali pilihan. Kasus ini diberikan padanya karena tidak seorangpun mau mengambilnya.

Selama satu tahun terakhir, dilaporkan beberapa kasus orang menghilang dari desa ini. Tercatat sepasang anak kembar, seorang remaja lelaki, dua orang wanita dewasa, dan seorang pria setengah baya menghilang tanpa jejak. Jumlah yang sangat banyak untuk desa kecil tanpa masalah apapun sebelumnya.

Seluruh orang yang hilang itu, menurut kerabat mereka, puas dengan hidup mereka dan tidak mungkin lari dari rumah. Lagipula apa mungkin sepasang anak kembar yang baru berusia sepuluh tahun bisa punya pikiran untuk lari dari rumah.

Kalau mereka tidak hilang atas keinginan mereka sendiri maka alasan lainnya adalah mereka dibuat menghilang oleh orang lain. Dari situ, hanya ada dua kesimpulan yang dapat ditarik oleh Collin. Mereka entah ditangkap oleh pedagang budak atau ada pembunuh berdarah dingin berkeliaran di sekitar desa ini.

Namun tidak ada orang asing yang datang di desa ini dalam dua tahun terakhir. Ditambah lagi, tidak ada yang istimewa dari orang-orang yang hilang dalam hal penampilan.

Anak kembar laki-laki yang hilang pertama bertubuh gemuk pendek. Kecuali orang tuanya, tidak akan ada yang akan tertarik pada keduanya.

Remaja lelaki berusia lima belas tahun yang hilang selanjutnya adalah pengacau yang pekerjaan setiap harinya hanyalah membuat keusilan demi keusilan. Tidak akan ada orang yang mau repot-repot membebani dirinya dengan keisengannya walaupun seringai gembira si remaja saat keusilannya berhasil sangat menular.

Kemudian, pria setengah baya yang berprofesi sebagai tukang jam. Menurut para penduduk dia merupakan jam berjalan di desa. Seluruh jadwal hariannya adalah rutinitas yang selalu tepat waktu. Tidak ada yang menarik darinya kecuali kau membutuhkan tukang reparasi jam.

Hanya dua wanita dewasa dari mereka yang memang memiliki nilai lebih bagi pedagang budak. Yang satu, putri hakim desa yang memiliki kecantikan eksotis yang gelap namun bersifat egois. Yang satunya lagi adalah putri pendeta yang baik hati dan anggun.

Dari enam orang itu, hanya dua yang mungkin perhatian pedagang budak. Fakta itu sudah menghapus dugaan pedagang budak.

Alternatif yang tersisa lebih tidak mungkin lagi. Apabila salah satu warga desa adalah pembunuh, tidak mungkin dia dapat beroperasi tanpa ketahuan selama ini. Desa kecil dengan penduduk yang menghabiskan waktunya dengan mencampuri urusan satu sama lain tidak mungkin tidak menyadari tingkah laku sesamanya yang tidak wajar.

Colllin menghentikan langkahnya. Tanpa terasa dia telah tiba di tujuannya. Dengan cermat dia mengamati kastil.

Kastil itu berdiri sendiri dikelilingi hutan, terpencil dari desa. Walaupun termasuk kecil dibandingkan kastil-kastil yang pernah dilihatnya, namun Collin memperkirakan kastil itu paling tidak memiliki sepuluh kamar. Bangunannya berlantai dua, terdiri dari sebuah bangunan utama yang memanjang ke samping dengan pintu utama sedikit menjorok ke depan dan dua bangunan sayap.

Untuk mencapai pintu utama dari kayu bercat coklat yang kusam, terdapat tangga teras yang cukup tinggi. Dari jendela-jendela kecil di dasar dinding, Collin menduga adanya ruangan bawah tanah. Dindingnya sendiri tersusun dari bata berplester warna krem dengan kombinasi merah yang sudah lusuh termakan usia dan cuaca. Beberapa aksen profil horizontal menjadi bingkai bagi bidang-bidang dinding.

Jendela-jendela kaca dengan kusen kayu bercat putih berbentuk ramping dan tinggi dengan lis melengkung di atasnya. Atap pelananya sangat tinggi dan curam. Tar hitam yang melapisi atap tampak bergaris-garis noda putih oleh erosi air hujan. Dilihat dari jendela-jendela menjorok keluar yang berderet sepanjang atap, area di bawah atap juga dimanfaatkan untuk ruangan.

Tanah di sekeliling kastil itu ditanami dengan berbagai macam pohon hias dan bunga yang terawat baik. Tidak tampak adanya pagar sehingga seluruh hutan yang mengelilingi terasa seakan merupakan bagian dari taman kastil.

Collin mendekati pintu kastil masih sambil mengamati keadaan sekelilingnya. Tidak tampak seorangpun di sekitar kastil. Menurut penduduk desa, hanya ada sepasang suami istri yang tinggal di sini bersama si gadis kecil. Mereka ditugaskan untuk merawat dan menjaga anak itu agar tetap di dalam kastil. Penjaga penjara dalam bentuk terselubung, dengus Collin jijik.

Di depan pintu, Collin merapikan posisi topinya sejenak. Topi adalah salah satu identitas seorang pria sejati, dan Collin sangat menyukai topi. Bahkan dia hampir menghabiskan gaji pertamanya untuk membeli topi.

Setelah puas dengan posisi topinya, barulah dia mengangkat tangan untuk membunyikan gelang besi pengetuk pintu. Gelang besi menghantam pelat dari bahan yang sama. Di dalam kastil, suaranya menggaung dalam gema hening yang mendirikan bulu roma.

Setelah beberapa saat tanpa ada tanda-tanda kehidupan di dalam kastil, Collin mulai merasa ragu akan adanya penghuni. Mungkin kastil itu sudah tidak ditinggali sejak lama. Lagipula para penduduk desa juga hampir tidak pernah melihat penghuni kastil keluar.

Tetapi saat matanya terarah ke tanaman bunga di sekeliling kastil, keraguannya menguap. Tidak mungkin tanaman-tanaman itu merawat diri mereka sendiri, kan?

Collin kembali membunyikan pengetuk pintu. Sekali. Dua kali. Kemudian berkali-kali dengan tidak sabar. Namun keributan yang dibuatnya hanya disambut oleh keheningan dari dalam. Dia menghela nafas panjang dan melangkah mundur.

Saat itulah ekor matanya menangkap sesosok bayangan putih melesat dari sisi bangunan. Collin menoleh, berusaha menentukan apakah sosok itu hanya merupakan bayangan atau kenyataan.

“Boleh saya tahu keperluan Anda, Tuan…?”

Sapaan datar itu membuat Collin terlonjak kaget. Tatapannya melecut kembali ke arah pintu kastil.

Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi yang walaupun sudah tua masih berdiri tegap bagaikan prajurit militer. Jas dan celana yang dikenakannya hitam mengkilat dan tampak sangat kaku sementara kemeja dalamannya seputih salju. Rambut berubannya yang cukup panjang terikat rapi di belakang leher. Pria itu menatap Collin dari atas hidungnya yang bengkok. Matanya yang tajam menatap Collin dengan penuh kecurigaan.

Sejak kapan pria ini membuka pintu?

“Urusan apakah yang membuat Anda sampai berkenan datang ke kastil terpencil ini?” Pria itu kembali bertanya, tanpa emosi.

Collin menarik nafas panjang untuk menenangkan diri lalu mencopot topi sebelum menjawab, “Saya Collin Wright dari Biro Runner. Saya datang berkaitan dengan beberapa kasus orang hilang di desa. Kalau bisa saya ingin menanyakan beberapa hal pada Anda dan penghuni lain kastil ini.”

Tatapan menyelidik pria itu terpaku pada Colllin untuk waktu yang sangat lama. Ditatap seperti itu membuat Collin gelisah. Dia memutar-mutar dan menepuk-nepuk topinya.

Saat akhirnya pria itu mengalihkan tatapan, dia menengok ke salah satu jendela lantai dua di sayap kanan kastil. Collin mengikuti arah tatapannya dan menemukan sosok seorang anak perempuan berdiri di balik jendela. Dari kejauhan hanya warna rambut emas dan gaun biru yang terlihat.

“Saya akan melaporkan kedatangan Anda pada Lady Alicia.” Si pria yang pasti merupakan pelayan lelaki di kastil, membungkuk sekilas sebelum mempersilahkan Collin untuk mengikutinya ke dalam. “Sudikah Anda sekiranya menunggu di ruang duduk.”

Ruangan di balik pintu yang tampak tua dan lapuk ternyata megah walaupun tidak lagi tampak semewah seharusnya. Usia yang tua membuat warna-warnanya memudar namun malah memberi kesan nyaman yang hangat. Lantainya dari marmer krem yang sudah tidak mengkilat. Pelapis dindingnya berwarna serasi dengan motif lambang kebangsawanan dari emas.

Di langit-langit yang setinggi dua lantai, tergantung kandelier berhiaskan kristal. Cahaya matahari yang menembus jendela-jendela kaca direfleksikan oleh kristal sehingga tampak seperti api yang membeku. Di tengah ruangan berdiri meja kecil dengan vas berisi bunga di atasnya.

Sepasang tangga berlapis marmer dengan pegangan tangga kayu berpelitur melingkar ke atas sebelum bersatu di balkon lantai dua. Tatapan Collin mengikuti lengkungan tangga sampai ke atas. Sekelebat bayangan putih melesat dari puncak tangga ke lorong.

Apakah itu pelayan kastil yang satu lagi? Tentunya dialah yang tadi dilihat Collin di sisi kastil.

Collin diantarkan ke ruang duduk yang terletak di belakang kastil. Pintu-pintu kaca yang membuka ke arah belakang memperlihatkan taman bunga mawar yang juga terawat dengan baik. Semerbak keharuman bunga berhembus masuk terbawa angin.

Ruang duduk itu sendiri didominasi warna hijau dan coklat yang memberi kesan alami. Sebuah meja pendek yang berukuran besar berada di tengah ruangan dikelilingi oleh sofa-sofa yang nyaman. Dua buah kursi santai diletakkan di depan perapian granit di pojok ruangan. Karpet tebal yang menutupi lantainya membuat siapa saja akan betah tinggal lama-lama di sini.

Collin mendudukkan diri di sofa yang menghadap pintu. Rasa tidak nyaman karena sendirian di dalam ruangan yang terasa sangat mewah baginya membuat Collin kembali memutar-mutar topinya dengan gelisah.

Tak berapa lama, sang pelayan kembali. Dia membuka pintu dan mengumumkan dengan suara lantang kehadiran Lady Alicia Maria Bloodsworth. Kemudian dengan penghormatan yang setara dengan menyambut seorang Ratu, dia membungkuk sambil menahan pintu untuk memberi jalan bagi tuannya.

Collin buru-buru bangkit begitu Alicia melangkah masuk.

Alicia adalah seorang gadis kecil yang terlihat baru berusia empat belas tahun. Rambut emasnya tergerai dengan hiasan jalinan pita biru sampai ke punggung. Bola matanya sebiru langit, menatap Collin dengan penuh ingin tahu. Wajahnya manis dengan kebeliaan seorang anak yang baru memasuki masa remaja.

Gaun birunya sederhana dengan leher tinggi tanpa terlalu banyak renda. Selayaknya anak gadis yang belum melewati masa remaja, panjang gaunnya hanya mencapai pertengahan lutut.

“Saya diberitahu bahwa Anda ingin bertemu untuk menanyakan beberapa hal.” Tanpa basa-basi Alicia bertanya.

Collin meletakkan topinya di kursi lalu membungkuk memberi hormat. Saat dia menegakkan tubuh, dilihatnya tatapan Alicia tertuju pada topinya. Dalam hati, diam-diam dia merasa senang. Pasti Alicia mengerti keindahan topinya.


message 14: by Katherin (new)

Katherin (KatherinHS) | 106 comments “Nama saya Collin Wright dari Biro Runner. Saya ditugaskan untuk menyelidiki kasus beberapa orang hilang di desa ini. Terima kasih Anda telah mau meluangkan waktu untuk menemui saya. Saya ingin menanyakan beberapa hal pada Anda dan para pelayan Anda.” Collin melirik ke arah pintu dan mengerutkan kening saat menyadari si pelayan pria telah pergi.

“Saya akan memerintahkan mereka untuk menemui Anda nanti. Kebetulan sekarang sudah waktunya minum teh. Bagaimana kalau kita menikmati teh dan kue-kue yang sudah disiapkan sambil berbincang-bincang. Kue buatan juru masak saya sangat enak.” Alicia berjalan keluar dari ruang duduk melalui pintu kaca. “Ah, dan jangan lupa untuk membawa topi Anda. Matahari masih cukup terik untuk membuat kita kepanasan.”

Setelah meraih topinya, Collin mengejar Alicia keluar. Di taman tampak sebuah meja panjang berlapis taplak putih. Di tengah meja tampak sebuah jam antik. Pada satu sisi meja tampak seperangkat poci teh dan piring-piring berisi berbagai macam kue. Dua buah kursi tertarik dari meja, menyambut Collin dan Alicia. Pada kursi yang satu tergantung topi jerami berpinggiran lebar.

Meja itu jelas-jelas dipersiapkan khusus untuk mereka berdua. Kepulan uap dari poci teh, memberitahunya bahwa air panas baru saja dituangkan. Namun tak seorangpun pelayan dilihatnya di taman belakang sejak dia memasuki ruang duduk.

Kapan meja ini disiapkan?

“Silahkan duduk, Tuan Wright.”

Panggilan Alicia memutuskan pikiran Collin. Alicia sudah duduk di kursi kepala meja setelah memakai topi jeraminya, dan sekarang sedang menuangkan teh untuk mereka berdua.

Collin kembali memutar-mutar topinya dengan gelisah. “Pelayan Anda sangat cekatan, Lady Alicia.”

Mengangkat cangkir tehnya, Alicia mengerling singkat pada Collin. Di matanya tampak pengetahuan bercampur ejekan. “Di sini segalanya harus dapat menyesuaikan dengan keinginan saya.”

Alis Collin terangkat. Rupanya walaupun telah mengucilkan Alicia di tempat antah berantah ini, keluarga Bloodsworth tetap memastikan kenyamanannya. Satu cara untuk meringankan rasa bersalah karena telah membuang Alicia?

Collin duduk dan meminum tehnya. Keharumannya membuat Collin menutup mata untuk menikmatinya. Waktu seakan terhenti saat Collin menyesapnya.

“Bagaimana tehnya?” Alicia bertanya.

“Sangat nikmat.” Collin membuka mata dan tersenyum.

“Terlambat, terlambat! Alice, kita sudah terlambat!” Tiba-tiba seorang pria setengah baya berpakaian serba putih dengan rompi hitam melangkah keluar dari dalam kastil. Tangan kanannya membuka jam saku besar yang tergantung di dadanya sementara tangan kirinya menyambar lengan Alicia dan menariknya masuk ke dalam kastil. “Ayo, ayo! Sang Ratu menunggu!”

Dalam keterpanaannya Collin hanya bisa terdiam menatap dua sosok yang menjauh. Setelah sadar, Collin bergegas bangkit untuk menyusul masuk.

“Jadwal minum tehmu belum selesai, kau tahu?” Sebuah suara tanpa wujud terdengar menggema dari sisi Collin.

“Siapa di situ?!” teriak Collin.

Lalu dari ketiadaan muncul dua baris gigi dalam bentuk sebuah seringai mengejek. “Lihatlah jam di atas meja. Sekarang masih waktunya minum teh. Kau tidak boleh meninggalkan jamuan minum tehmu kalau belum waktunya.”

“Tunjukkan dirimu!”

“Apakah ada gunanya aku memperlihatkan diriku?” Perlahan-lahan wujud seorang anak remaja muncul, dimulai dari seringainya, kepala, dan akhirnya tubuh. Rambut pirang kemerahan si remaja menyala di bawah matahari sore.

Saking terkejutnya, Collin sampai mundur dan menabrak meja. Seringai si remaja bertambah lebar. Dia melangkah maju dengan kedua tangan di pinggang.

“Nah, aku sudah muncul. Lalu apa yang kauinginkan?” Si remaja melangkah maju mendekati Collin dengan gerakan malas. “Mau kutemani minum teh? Aku sedang tidak ada kerjaan dan teman-teman minum tehmu belum datang.”

“Teman minum teh?” Collin membeo sementara pikirannya mencatat warna mata dan rambut si remaja. “Kau remaja usil yang hilang dari desa!”

“Usil? Aku lebih suka dipanggil kreatif daripada usil.” Dengan sembarangan si remaja duduk di meja lalu menuang secangkir teh dan meraih kue-kue.

“Apa yang kaulakukan di sini?! Kau dilaporkan hilang setahun lalu. Tahukah kau penduduk desa mencemaskanmu?”

Si remaja menatap Collin dingin. “Aku tidak yakin mereka mencemaskan seseorang sepertiku. Pekerjaanku hanya menyusahkan orang?”

“Itu tidak benar! Seisi desa bilang mereka mencemaskanmu. Mereka merindukan keusilanmu yang membuat mereka tertawa.” Collin menarik lengan si remaja dan menyeretnya menuju ke kastil. “Karena kau ada di sini, apakah semua orang yang hilang juga ada di sini? Antarkan aku pada mereka!”

“Memangnya apa yang akan kaulakukan kalau kau menemui mereka? Membawa mereka kembali ke desa? Tidak akan ada seorangpun yang ingin kembali. Aku sendiri lebih baik mati daripada kembali ke desa.”

Langkah Collin terhenti. Dia menoleh tidak percaya. “Apa? Kenapa?”

Si remaja menepis tangan Collin lalu berjalan mendahului Collin ke arah kastil. “Karena di sini kami dibutuhkan sementara di sana kami tidak dibutuhkan.” Selesai mengucapkan itu, si remaja menghilang dari pandangan.

“Hei! Tunggu! Di mana kau? Di mana orang-orang yang hilang? Bawa aku pada mereka!” teriak Collin sambil berlari mengejar.

Saat Colllin mencapai pintu kaca menuju ruang duduk kastil, dia merasa tubuhnya tertarik kembali ke arah meja perjamuan. Collin berkedip bingung dan menemukan dirinya telah berdiri kembali di sisi meja.

Apa yang telah terjadi?

Lagi, dan lagi Collin mencoba mendekati kastil. Namun setiap kali dia menginjak teras pintu kaca, setiap kali juga dia berpindah kembali ke sisi meja. Sesuatu mencegahnya menjauh dari meja perjamuan. Mata Collin terarah pada jam di meja. Setiap angka jam digantikan oleh gambar cangkir yang mengepul, menunjukkan waktunya minum teh.

Apakah seperti kata si remaja? Dia tidak bisa meninggalkan jamuan minum teh yang belum selesai?

Rasa takut mulai merayapi diri Collin. Penyihir! Apakah Alicia benar-benar penyihir? Dan dia telah menyihir Collin terikat pada meja ini. Kenapa? Untuk tujuan apa?

“Akhirnya Alice mendapatkan teman baru lagi.”

“Sebaliknya, akhirnya seorang teman kembali mendatangi Alice.”

Collin menoleh. Dua orang anak lagi-lagi bertubuh gemuk pendek sedang berjalan mendekatinya sambil asyik berdebat. Keduanya sangat mirip satu sama lainnya dari bentuk tubuh sampai pakaian. Apakah mereka anak kembar yang hilang tujuh bulan lalu?

Kedua anak itu menghentikan perdebatan mereka begitu dekat. Keduanya mengamati Collin dengan gerakan yang sama persis sampai membuat Collin tidak dapat menahan senyum.

“Kita datang untuk memberikan salam pada teman baru kita.”

“Sebaliknya, kita datang agar teman baru kita dapat memberikan salam.”

Kemudian keduanya kembali terlibat dalam perdebatan seru sampai seorang wanita bergaun putih bersulam benang perak dengan pinggiran bulu melangkah keluar dari ruang duduk menghampiri mereka. Rambut perak wanita itu berkibar-kibar ditiup angin. Sebuah mahkota perak tersemat di antara rambutnya.

“Kalian membuatnya bingung,” sapa si wanita pada si kembar.

“Yang Mulia, kami tidak…”

Protes si kembar dihentikan dengan satu jari di depan bibir oleh si wanita. Lalu dengan jari yang sama, dia menunjuk ke arah pintu kaca. Dengan patuh si kembar melangkah pergi, meninggalkan Colllin bersama dengan si wanita.

“Maafkan mereka, ya. Mereka masih kecil dan penuh rasa ingin tahu.” Wanita itu tersenyum pada Collin.

“Kau putri pendeta. Jadi benar kalian semua ada di sini. Kenapa?” Collin berseru kebingungan.

Wajah putri pendeta berubah muram. “Kami ingin merasa dibutuhkan.”

“Ayahmu membutuhkanmu!”

“Yang dia butuhkan adalah pengurus rumah tangga. Setelah dia menikahi janda itu, dia tidak akan lagi membutuhkanku.” Setelah berkata begitu, sang putri pendeta berbalik. Sambil melangkah pergi dia berkata, “Alice membutuhkanku sebagai seorang Ratu.”

Collin mengamati sosok putih yang menghilang ke dalam kastil lalu kembali duduk. Dia meraih topinya dan kembali memutar-mutarnya dengan gelisah. Dia harus menganalisa apa yang sudah terjadi. Bukankah itu adalah keahliannya sehingga dia diterima bekerja di Biro Runner. Bukahkah karena itu dia dibutuhkan?

Benarkah itu?

“Benarkah Anda dibutuhkan?”

Collin menoleh. Alicia sudah kembali. Bersamanya seorang wanita cantik berambut hitam menatap Collin dengan tatapan merendahkan. Gaun merah wanita itu sangat mewah berhiaskan renda dan tila hitam. Sebuah mahkota emas mungil bertengger di kepalanya.

“Sang Ratu?” gumam Collin. “Putri hakim yang egois.”

“Jaga bicaramu di hadapan kami, rakyat jelata. Seorang Ratu tidak memiliki orang tua yang kerjanya marah-marah setiap hari karena dia tidak juga berhasil merayu tuan tanah!” Sang Ratu menjerit marah sebelum berbalik meninggalkan Collin dan Alicia.

Itukah persamaan dari setiap orang yang hilang dari desa? Mereka semua ingin merasa dibutuhkan. Bukan karena mereka membuat orang tertawa atau karena mereka cantik, namun karena diri mereka sendiri apa adanya.

Collin mengalihkan tatapannya kepada Alicia. “Lalu apa yang membuat anak kembar dan tukang jam itu datang ke sini?”

“Salah satu dari kedua anak kembar itu akan ditinggalkan untuk mati di gunung karena orang tuanya tidak mampu menghidupi dua orang anak. Keduanya tidak ingin berpisah,” jawab Alicia ringan. “Sedangkan tukang jam tidak tahan dengan orang-orang desa yang selalu terlambat dan menyalahkannya karena tidak mengingatkan mereka akan waktu.”

“Dan aku?”

Senyum Alicia mengembang. “Anda tidak puas dengan perlakuan para senior di kantor. Mereka selalu memberikan kasus-kasus sepele pada Anda dan memperlakukan Anda layaknya seorang pelayan.”

“Bagaimana kau tahu? Apakah kau benar-benar seorang penyihir?” Collin meletakkan topinya di meja. “Dan apa yang kauinginkan dengan menahanku di sini?”

“Saya hanyalah seorang Alice yang sedang membangun dunianya. Saya membutuhkan Anda, Tukang Topi.” Alicia mengulurkan tangan pada Collin. “Tinggallah di sini. Anda memiliki peran dan dibutuhkan di sini.”

Collin menatap tangan yang terulur itu sambil menelan ludah. Terbayang ucapan selamat penuh ejekan dari teman-temannya saat dia memecahkan kasus. Ragu-ragu diangkat tangannya.

Collin mengangkat wajah, menatap mata biru Alicia. Di sana tampak permohonan. Alicia membutuhkannya! Saat dia meletakkan jari-jarinya di telapak Alicia yang terbuka, tangannya mantap.

Senyum Alicia semakin lebar. “Selamat datang di Negeri Ajaibku.”

-END-


message 15: by Arief (new)

Arief Rachman (red_rackham) | 15 comments SELAMAT DATANG DI KASTIL KAMI~!


“Selamat datang di Kastil kami, wahai pengembara yang tersesat. Silahkan masuk. Kami sudah menunggu kedatangan anda.”

“A....apa? Dimana ini? Apa yang terjadi disini?”
Aku bertanya pada sosok pria yang berdiri di depanku itu.

“Ugh!” aku mengerang.

Kepalaku terasa ringan. Aku juga sulit berpikir dan anehnya aku tidak bisa mengingat apapun. Rasanya seperti ada yang menghapus ingatanku dengan penghapus. Semuanya nyaris putih bersih. Kecuali namaku, aku tidak ingat apa-apa sama sekali. Aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padaku hingga aku sampai di tempat ini. Aku bahkan tidak ingat dimana aku tinggal, siapa nama orang tuaku dan sebagainya.

“Ah. Kulihat anda masih bingung. Tidak masalah. Semuanya juga begitu pada awalnya,” ujar pria misterius itu sambil membungkuk dengan hormat. “Tapi jangan khawatir, saya akan memandu anda.”

Dia lalu mengetuk pintu gerbang raksasa dari kayu yang ada di belakangnya. Ajaib. Hanya dengan ketukan ringan, pintu gerbang itu mengayun terbuka dengan perlahan. Ketika pintu itu sudah terbuka lebar, pria misterius itu membungkuk sekali lagi.

“Sekali lagi. Selamat datang di Kastil kami,” ujar pria itu. “Perkenalkan, nama saya Losta, saya adalah penjaga gerbang Kastil sekaligus pemandu anda.”

Aku tidak bisa berkata apapun lagi karena terpana melihat pemandangan yang ada di balik pintu berat di depanku itu. Sebuah Kastil yang luar biasa megah dan besar tampak berdiri dengan kokoh. Menara-menara Kastil itu tampak menjulang menantang langit dan dihiasi dengan berbagai macam bendera serta umbul-umbul. Di halaman Kastil yang sangat luas, terlihat ada banyak orang berkerumun. Beberapa orang yang mengenakan seragam aneh tampak sibuk, sementara ada lebih banyak lagi orang yang hanya bergerombol sambil mengobrol.

“Nah. Masuklah,” ujar Losta sambil mendorongku dengan lembut.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain melangkah maju dan melewati gerbang Kastil. Tapi ketika aku baru menginjakkan sebelah kakiku di Kastil itu, tiba-tiba saja aku mendengar suara bisikan entah darimana asalnya.

Berhenti!

Seketika itu juga aku berhenti di tempat sambil memandang ke segala arah, berusaha mencari darimana asalnya suara misterius itu. Tapi selagi aku melakukan itu, suara bisikan misterius itu kembali terdengar.

Berbaliklah! Jangan masuk ke tempat ini! Pergilah!

“Hah? Apa?” tanyaku bingung.

“Ada masalah apa?”

Losta bertanya padaku sambil tersenyum. Karena bingung, aku menggelengkan kepala dan terdiam sejenak. Tapi karena suara itu tidak terdengar lagi, aku memutuskan kalau itu hanya khayalanku saja.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.....” gumamku sambil terus berjalan. Namun begitu aku sudah berjalan cukup jauh melewati gerbang Kastil, tiba-tiba saja, pintu berat itu terayun tertutup dengan perlahan. Tentu saja aku kaget dan langsung berbalik.

“Ke.....kenapa gerbangnya tertutup?!” tanyaku dengan suara bergetar.

Aku mulai ketakutan dan itu sebenarnya wajar saja. Saat ini aku terjebak di tempat antah berantah, dengan seorang pria misterius memanduku, dan kini aku berada di dalam sebuah Kastil aneh yang gerbangnya baru saja tertutup. Lengkap sudah.

“Ah. Kita tidak ingin ada tamu tidak diundang datang ke Kastil ini. Lagipula dengan begini sekarang kau aman.” Losta menjelaskan padaku sambil tetap tersenyum. Tapi anehnya, kali ini aku merasa ada yang tidak beres dengan senyuman pria misterius itu.
Aku menelan ludah, lalu memberanikan diri bertanya pada Losta.

“Tempat apa ini? Dimana ini sebenarnya?”

Losta tampaknya sudah menunggu-nunggu pertanyaan itu. Dia langsung menepukkan kedua tangannya dan dengan nada riang langsung menjawab pertanyaanku.

“Ah. Saya senang anda bertanya,” ujar Losta. “Ini adalah Kastil. Tempat para pengembara yang tersesat berkumpul. Tempat dimana anda bisa merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tempat tujuan akhir dari pengembaraan yang anda lakukan seumur hidup anda. Disini hanya ada 1 hukum utama...anda harus tunduk, hormat, dan patuh terhadap titah Yang Mulia Ratu. Selain hukum itu, disini anda bebas melakukan apapun, selama itu tidak mengganggu orang lain. Anda pasti akan menyukai kehidupan anda disini.”

Penjelasan Losta sama sekali tidak menjelaskan apapun. Aku malah semakin bingung gara-gara mendengar ucapannya.

“Aku tidak mengerti...” sahutku spontan.

“Ah. Semuanya begitu pada awalnya. Tapi pada akhirnya anda akan terbiasa dengan tempat ini,” ujar Losta lagi, masih sambil tersenyum. “Ayo. Kita jalan lagi.”

Pada awalnya aku cukup menyukai senyuman pria itu, tapi lama kelamaan senyumannya jadi terasa sangat....menakutkan. Tanpa sadar aku melangkah mundur tapi gara-gara itu aku jadi menabrak seseorang.

“Auw!” seru orang itu.

Aku langsung berbalik dan bermaksud meminta maaf. Tapi aku malah terpaku ditempat dengan mulut terbuka lebar. Memang aku pasti terlihat seperti orang idiot, tapi aku yakin ini reaksi yang wajar. Soalnya orang yang kutabrak tadi itu bukan benar-benar ‘orang’, melainkan seekor panda yang berdiri dengan dua kaki dan mengenakan pakaian layaknya manusia.

“Ati-ati kalau jalan! Dacal manucia!” protes manusia panda itu sambil berlalu.

Aku masih melotot ke arah makhluk aneh itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh lagi ke arah Losta. Pria itu mengangkat kedua bahunya dan tampak biasa saja melihat ada manusia panda lewat di depannya.

“Yah. Panda yang itu memang agak pemarah, walau sebenarnya dia baik hati,” sahut Losta. “Nah. Sekarang biar saya memandu anda ke sekeliling Kastil dan memperkenalkan anda pada beberapa orang penting di tempat ini. Mari.”

Meski masih shock, aku menurut saja dan mengikuti Losta. Sambil berkeliling aku baru menyadari kalau makhluk-makhluk aneh di tempat ini tidak hanya manusia panda saja. Sambil berjalan aku sempat melihat sebuah ‘pohon hidup’, yang tampak sedang mengajari sesuatu pada sekelompok orang yang duduk diam di hadapannya. Selain itu, aku sempat melihat sebuah danau besar di belakang Kastil, yang tampak dipenuhi berbagai jenis ‘manusia ikan’ yang sedang mengobrol sambil berjemur di pinggiran danau. Pemandangan yang sungguh absurd dan tidak masuk akal.

“Te....tempat yang aneh.....” gumamku dengan suara lirih pada Losta.

“Memang. Tapi jangan khawatir. Anda akan segera menemukan ‘tempat’ anda di Kastil ini. Jangan terburu-buru, nikmati saja waktu anda disini,” balas Losta, masih dengan senyuman di wajahnya.

Aku kembali terdiam dan terus bertanya-tanya dalam hati.

Sebenarnya tempat apa ini?!

****

Aku tidak terlalu ingat berapa lama aku berada di tempat ini. Yang pasti rasanya cukup lama. Sebelum aku sepenuhnya sadar, tahu-tahu aku sudah berteman dengan beberapa orang yang mungkin bisa dibilang......aneh. Tapi meskipun mereka dan tempat ini memang aneh, tapi entah kenapa aku merasa nyaman berada di Kastil ini. Meskipun aku masih tetap tidak tahu kenapa dan bagaimana aku bisa sampai di tempat ini.

“Mungkin kau dibawa alien dari planetmu, lalu ditempatkan disini. Tapi sebelumnya ingatanmu pasti dihapus dulu biar tidak bisa macam-macam.”

Tsuki berkomentar sambil duduk di tepian danau. Pemuda yang satu ini memang agak aneh dan sepertinya punya lebih dari satu kepribadian. Yang kali ini ada di depanku adalah ‘Tsuki’, satu dari entah berapa banyak kepribadian yang dia miliki. Meski begitu, Tsuki sebenarnya sangat cerdas.

“Jangan konyol! Tapi ngomong-ngomong teori itu bisa saja benar. Soalnya aku juga tidak ingat kenapa aku bisa ada di tempat ini.”

Kali ini yang bicara adalah Yume, seorang gadis bertubuh mungil yang mengenakan penutup kepala aneh, hingga hanya wajahnya yang terlihat. Diantara orang-orang yang kukenal, Yume adalah yang berpikiran cukup ‘lurus’, meski dia bisa jadi ‘liar’ kalau melihat ada gadis imut lainnya.

“Kalian berdua jangan bicara yang tidak-tidak. Lagipula tidak ada gunanya membahas hal itu. Toh kita sudah terlanjur disini dan tidak bisa kemana-mana....atau lebih tepatnya, tidak mau kemana-mana.”
Aku menoleh dan melihat temanku yang lain. Temanku yang satu ini bernama Rilme dan hampir tidak pernah menujukkan wajahnya. Wajah pemuda itu ditutup oleh topeng tengkorak yang selalu dia kenakan, hingga kadang aku pikir....tengkorak itu memang wajahnya.

“Memangnya kalian tidak pernah memikirkan alasan kenapa dan bagaimana kalian bisa sampai ke Kastil ini?”

Kali ini giliran aku yang bertanya. Anehnya, semua teman-temanku itu tampak memikirkan pertanyaanku dengan serius. Ini membuatku semakin penasaran.

“Tidak,” jawab Tsuki.

“Ehm...dulu sih. Tapi sekarang tidak lagi,” sahut Yume.

“......hmmm......” gumam Rilme.

Aku mendesah. Selalu saja begini. Dari semua orang yang kukenal di sekitar Kastil ini, mereka selalu mengatakan hal yang hampir sama kalau aku mulai bertanya pada mereka: kenapa dan bagaimana merea bisa sampai di sini?

“Tidak perlu dipikirkan dengan serius. Toh disini tidak buruk juga. Walau dari depan terlihat kecil, tapi kalian kan tahu kalau Kastil ini sebenarnya sangat luas. Meliputi juga kota di dan hutan sebelah sana itu.”

Yume bicara sambil menunjuk ke arah kejauhan. Memang ucapannya benar. Sejauh mata memandang, aku bisa melihat kota, hutan dan bahkan padang rumput, yang semuanya berada di dalam lindungan sebuah dinding yang sangat tinggi. Semua tempat itu masih merupakan bagian dari Kastil. Sungguh sebuah ‘kastil’ yang sangat luas sekali.

“Tapi apa kalian tidak pernah benar-benar memikirkan...apa yang akan terjadi kalau kalian keluar dari tempat ini?” tanyaku lagi.

“Emang ngapain aku keluar dari tempat ini?” balas Tsuki dengan nada ketus. Mendengar perubahan nada bicaranya, aku tahu yang ini adalah kepribadiannya yang lain dan kalau tidak salah...yang ini namanya Rai.

“Yah....entahlah,” balasku sambil mengangkat bahu. “Memangnya tidak ada yang rindu dengan tempat asal kalian?”

Sejenak ketiga temanku terdiam. Setelah beberapa lama, akhirnya Rilme yang bicara.

“Memangnya kau masih bisa ingat dimana kau tinggal dulu dan bagaimana kehidupanmu sebelum sampai di tempat ini?”

Ucapan Rilme langsung membuatku terhenyak. Dia benar! Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang kehidupanku sebelum aku sampai di gerbang Kastil. Tapi aku masih merasa kalau aku harus keluar dari tempat ini dan ‘pulang’....meskipun sama sekali aku tidak tahu dimana rumahku berada.

“Mungkin kau benar.....” gumamku pada akhirnya. “Tempat ini telah menjadi segalanya bagiku....tidak mungkin aku keluar dari tempat ini....”

“Nah! Kalau kau sudah berpikiran seperti itu, bagaimana kalau kita pergi ke hutan?” usul Yume sambil tersenyum penuh semangat. “Sudah lama aku tidak mengunjungi Okami atau Kim.”

“Usul yang bagus!” sahut Rilme sambil berdiri. “Dan kalau beruntung, kita mungkin bisa menjumpai Re-α disana.”

“Kalo gitu, ayo pergi! Jangan lama-lama!” timpal Rai sambil ikut berdiri. “Oi. Ikut ga?”

Aku menggelengkan kepala.

“Tidak. Kalian pergi saja. Aku punya urusan lain.”
Aku menjawab sambil berdiri dan meninggalkan teman-temanku itu. Mereka tampak memandangiku dengan tatapan heran, tapi aku tidak peduli. Ada satu hal penting yang seharusnya kulakukan sejak dulu.

Aku harus bertemu Yang Mulia Ratu!

****


message 16: by Arief (last edited Feb 26, 2012 10:56PM) (new)

Arief Rachman (red_rackham) | 15 comments Jantungku berdebar kencang ketika memasuki bangunan utama Kastil, sebuah istana raksasa yang berdiri tepat di depan pintu gerbang. Dari Losta, orang yang memanduku waktu itu, aku tahu kalau di istana itulah Yang Mulia Ratu tinggal. Sebagai tempat tinggal seorang Ratu, istana itu memang dijaga oleh banyak penjaga.....yang sebagian besar bukan manusia. Mereka tampak memandangiku dengan tatapan penuh selidik.

Maklum saja. Walaupun sama sekali tidak ada larangan untuk masuk kesana, tapi selama aku disini, tidak ada orang –ataupun bukan orang– yang masuk ke dalam istana itu. Semuanya terkesan menjauhi bangunan megah itu. Entah apa alasannya.

Ja...jangan-jangan Yang Mulia Ratu itu adalah sosok yang kejam dan....suka memenggal kepala orang........

Tubuhku langsung gemetar ketika memikirkan kemungkinan itu. Tapi meskipun aku takut, aku harus masuk dan bertemu dengan Yang Mulia Ratu. Dari informasi yang kudengar, selain sebagai pimpinan Kastil, aku juga dengar Yang Mulia Ratu punya kekuatan ajaib yang bisa memulangkan orang dari tempat ini. Aku berharap semua informasi yang kudengar itu memang benar dan aku berharap Yang Mulia Ratu bersedia memulangkanku kembali ke ‘rumah’, walaupun aku tidak ingat dimana itu.
Setelah bertanya pada orang-orang di dalam istana, aku tahu kalau Yang Mulia Ratu ada di puncak menara utama. Dengan segera aku berjalan mendaki ribuan anak tangga di hadapanku, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari perak dan dihias dengan ukiran rumit.

Sambil menelan ludah, aku mendorong pintu itu hingga terbuka. Ketika pintu itu terbuka, aku melihat sebuah singgasana tinggi yang berada jauh di seberang ruangan. Di atas singgasana itu, duduk seorang gadis mungil berparas imut bermahkota emas. Di sisi kiri dan kanan gadis itu, tampak berdiri seorang pria berpakaian putih dan seorang wanita berjubah perang. Selain itu sesosok seorang pria transparan tampak melayang jauh di atas singgasana.

Ketika melihat gadis mungil di singgasana itu, aku langsung mendapat kesan kalau dia adalah Yang Mulia Ratu. Walaupun rasanya mustahil kalau pimpinan Kastil ini adalah seorang anak kecil.

“Aku sudah menunggumu. Masuklah.”

Sang Ratu berbicara dengan nada tegas sambil mengacungkan jarinya ke arahku. Sayangnya aku justru terpaku ditempat dan tidak bisa bergerak. Rasanya ada sesuatu di dalam ruangan itu yang menahanku untuk melangkah masuk.

“Aku tahu yang kau inginkan. Jadi mendekatlah kemari. SEKARANG!”

Bersamaan dengan seruan Sang Ratu, tiba-tiba tubuhku melayang masuk seolah ditarik oleh sebuah tangan yang tidak terlihat. Aku langsung mengerang ketika tubuhku jatuh di depan tangga singgasana yang berlapis karpet tebal. Dengan ngeri aku memandang ke arah Sang Ratu yang duduk jauh di singgasananya.

“Y....Yang Mulia....”

“Aku tahu. Aku tahu,” sahut Sang Ratu sambil memandangku dengan tatapan bosan. “Kau ingin kembali ke tempat asalmu kan? Aku sudah tahu itu. Makanya kau kemari. Bukan begitu?”

Aku menelan ludahku.

Bagaimana dia bisa tahu?!

“Be...benar Yang Mulia. Anda benar sekali,” gumamku lagi.

Aku melihat ada kilatan aneh di mata Sang Ratu dan aku langsung berharap, semoga itu bukan berarti kalau dia akan memenggal leherku.

“Membosankan sekali. Kenapa kau ingin keluar dari tempat ini? Apa kau tidak menyukai Kastil ini?” tanya Sang Ratu. “Katakan padaku. Kenapa kau ingin ‘pulang’?”

Aku terdiam. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Jujur saja, tempat ini sangat menyenangkan. Ada banyak keajaiban dan hal menarik di tempat ini. Namun jauh di dalam hati, aku tetap ‘tahu’ kalau ini bukanlah ‘rumahku’.

“Mohon maaf Yang Mulia....hamba juga tidak tahu kenapa hamba ingin pergi dari tempat ini. Kastil adalah tempat yang luar biasa dan disini hamba juga punya teman-teman yang luar biasa. Tapi.....” Aku terdiam sejenak, lalu melanjutkan ucapanku sambil mengepalkan tangannku. “...hamba merasa ini bukan ‘rumah’ hamba. Hamba ingin kembali ke ‘rumah’ hamba yang sesungguhnya.”

Sang Ratu tampak terdiam mendengar ucapanku, lalu mendongak ke atas.

Kau benar-benar ingin pulang?

Tiba-tiba aku mendengar suara aneh dalam benakku. Suara itu sama dengan yang dulu sekali kudengar saat aku pertama kali memasuki Kastil. Aku langsung memandang ke segala arah. Tiba-tiba saja tatapanku terpaku pada si pria transparan yang melayang di atas singgasana. Pria itu langsung tersenyum ketika tatapan kami bertemu.

Ya. Ini aku, Tungie sang Hantu yang bicara padamu, ujar si pria transparan, langsung ke dalam benakku. Kenapa kau ingin kembali ke kehidupan lamamu? Kau sudah susah payah datang kemari dan percayalah padaku....kau tidak ingin kembali ke ‘tempat itu’. Lagipula, setelah mengenal tempat ini sekali, kau tidak bisa sepenuhnya ‘pulang’.

Aku tersentak.

“Apa maksudmu?” tanyaku pada Tungie. “Kalau tidak salah, waktu pertama aku mau masuk ke tempat ini, kau seperti berusaha mencegahku. Tapi kenapa sekarang kau malah melarangku untuk pulang?”

Yah...waktu itu kukira kau tidak benar-benar ingin pergi ke tempat ini. Jadi aku berusaha menghentikanmu. Soalnya orang yang datang kesini biasanya tidak akan mau kembali lagi ke ‘tempat asalnya’ sahut Tungie. Lagipula kau ini kan sebenar.....

“Tungie, berhenti bicara! Nanti dia semakin bingung!” potong Sang Ratu sebelum Tungie sempat menyelesaikan ucapannya.

Begitu mendengar ucapan Sang Ratu, Tungie langsung terdiam. Lalu tatapan mata Sang Ratu Kastil langsung terpaku ke arahku. Tanpa sadar aku merinding ketakutan.

“Kalau dia ingin pulang. Biarkan dia pulang,” ujar Sang Ratu sambil tersenyum penuh arti. “Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menahannya disini. Lagipula, ini keputusannya sendiri. Apapun resikonya, dia akan menanggungnya.”

Baik, Yang Mulia.

Suara Tungie masih dapat terdengar di dalam kepalaku. Aku langsung mendongak dan terkejut melihat sosok pria itu sudah menghilang.

“Nah. Kau ingin pulang kan?” tanya Sang Ratu sambil terus memandangiku dengan tatapan penuh arti. Dia lalu menoleh ke arah pria berbaju putih yang berdiri disamping singgasananya. “Ren! Pulangkan dia ke ‘rumah’nya dan kembalikan semua ingatannya!”

“Siap, Yang Mulia,” sahut pria berbaju putih bernama Ren itu.

Ren langsung berjalan ke arahku. Dia tampak memasukkan sebelah tangannya ke balik bajunya dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah stempel berukuran besar. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibir pria itu ketika dia berjalan mendekatiku.

“Jangan takut. Ini tidak akan sakit,” ujar Ren. “Sepertinya sih begitu....”

Aku langsung ketakutan dan bersiap untuk kabur, tapi tiba-tiba saja tubuhku kaku dan tidak bisa digerakkan. Masih sambil tersenyum lebar, dia mengangkat stempel besar itu tinggi-tinggi, lalu menepukkan benda itu ke atas kepalaku.

Seketika itu juga seluruh dunia jadi terasa berputar dan tubuhku langsung roboh ke lantai. Pandanganku langsung buram dan aku jadi tidak bisa berpikir. Suara Yang Mulia Ratu terdengar bergema dalam kepalaku.

“Nah. Dengan ini kau resmi ‘dipulangkan’ dari Kastil,” ujar Sang Ratu. Sekilas aku melihatnya tersenyum lebar. “Selamat jalan....dan sampai jumpa lagi. Aku yakin kau akan segera kembali ke tempat ini.”

Setelah itu, tubuhku langsung ditelan oleh kegelapan dan aku tidak bisa merasakan apapun.

****

Ketika aku membuka mataku lagi, tahu-tahu aku sudah ada di dalam kamarku sendiri. Dengan bingung aku memandang ke segala arah untuk memastikan kalau aku benar-benar berada di dalam ‘kamarku’. Ketika melihat beberapa benda yang familiar, aku langsung yakin kalau tempat ini benar-benar kamarku. Rumahku. Tempat tinggalku.

Dengan lega aku membaringkan tubuh lagi, tapi kemudian tanganku menyentuh beberapa benda aneh. Aku terkejut melihat sebuah tabung kecil dan pil-pil berwarna putih yang berserakan di samping bantalku.

Apa ini? Tanyaku kebingungan. Obat?

Meski penasaran, aku tidak mau banyak berpikir saat ini. Yang penting sekarang aku sudah kembali ke ‘rumah’ dan semoga saja semuanya kembali normal seperti biasa. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku turun dari tempat tidurku dan berjalan ke arah pintu kamar. Aku harus memastikan kalau tempat ini benar-benar rumahku dan aku sudah kembali dari Kastil.

Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja ucapan Tungie si hantu kembali terngiang di kepalaku.

Kenapa kau ingin kembali ke kehidupan lamamu?

Aku terdiam dan berpikir sejenak, tapi entah kenapa ingatanku terasa masih buram. Aku masih tidak bisa mengingat apapun selain masa-masa sewaktu aku tinggal di Kastil.

Aneh sekali.....

Aku bergumam sambil membuka pintu kamarku.

****

Mungkin ini yang dimaksud oleh Tungie waktu itu....
Aku berpikir sambil memandangi pemandangan kota dan orang-orang yang lalu lalang jauh di bawah sana. Saat ini aku sedang berdiri di lantai paling atas sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Semuanya kacau. Semuanya berantakan. Semuanya....tidak normal.

Sejak kembali dari Kastil, perlahan-lahan ingatanku kembali. Lebih tepatnya, ingatanku tidak kembali, tapi aku dipaksa menjalani kembali apa yang ada di dalam ingatanku.

Kehidupanku ternyata benar-benar mengerikan. Lebih mirip neraka. Aku ternyata tidak lebih dari seorang pecundang yang gagal dalam hampir segala aspek kehidupanku. Di sekolah semua orang menjauhiku dan aku selalu dijadikan sasaran bullying oleh para pentolan sekolah. Tidak ada yang berusaha menolongku. Murid-murid yang melihatku disiksa malah tersenyum-senyum, bahkan ada yang terang-terangan tertawa. Di rumah, kedua orang tuaku adalah orang-orang berengsek. Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri dan tidak menganggapku sebagai anak, bahkan mereka menganggapku sebagai beban. Aku sering dipukuli dan tidak jarang aku ditelantarkan tanpa makanan.

Aku muak dengan kehidupanku. Aku muak dengan semua hal mengerikan yang terjadi padaku setiap hari. Aku sama sekali tidak berharga. Tidak akan ada yang merasa kehilangan kalau aku tiba-tiba saja ‘menghilang’ dari dunia ini.

Tanpa sadar air mataku kembali mengalir. Aku akhirnya ingat kenapa ada tabung kecil dan pil-pil aneh ketika aku ‘terbangun’ dari Kastil. Pil-pil itu tidak lain adalah obat tidur yang sengaja kuminum sebanyak-banyaknya, dengan harapan aku tidak perlu bangun lagi dan menghadapi hidup yang mengerikan ini.
Aku mendongak menatap langit. Kali ini aku ingat perkataan Losta, orang yang menyambutku ketika aku muncul di depan gerbang Kastil.

Ini adalah Kastil. Tempat dimana anda bisa merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tempat tujuan akhir dari pengembaraan yang anda lakukan seumur hidup anda.

Mungkin Losta memang benar. Kastil mungkin adalah tempat dimana aku seharusnya berada. Disana aku tidak pernah dianggap sebagai beban. Disana aku tidak pernah dianggap sebagai sosok yang tidak berharga. Mungkin....tempat itulah tempat yang selama ini kucari. Tempat dimana aku bisa hidup dengan tenang dan damai.

Aku sudah tidak punya keraguan lagi sekarang. Aku ingin kembali ke Kastil.

Masih sambil memandangi langit, aku melangkah maju melewati tepian gedung dengan mantap. Hal terakhir yang kurasakan adalah sebuah benturan keras dan tubuhku kembali ditelan oleh kegelapan.

****

Ketika aku membuka mata lagi, aku tahu-tahu sudah berdiri di depan sebuah gerbang kayu besar dan tebal. Seorang pria tampak berdiri di depan gerbang itu sambil tersenyum.

Aku hanya bisa berdiri terdiam dan memandangi gerbang besar itu.

“Apa? Dimana ini?” tanyaku kebingungan.

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi padaku hingga aku sampai di tempat ini. Tapi aku tidak bisa mengingat apapun. Ingatanku nyaris putih bersih. Kalaupun ada yang bisa kuingat, itu hanyalah namaku sendiri.

Melihatku yang tampak kebingungan, si pria misterius langsung tersenyum lebar. Sambil membungkuk, pria itu berkata dengan nada riang.

“Selamat datang di Kastil kami, wahai pengembara yang tersesat. Silahkan masuk. Kami sudah menunggu kedatangan anda.”

****
~FIN??~


message 17: by Kristiyana (last edited Feb 29, 2012 02:39AM) (new)

Kristiyana Hary Wahyudi (dejongstebroer) | 746 comments FERDANORANICA

Ferdanoranica – “Rumah Para Dewa” – begitulah bangsa Gomerr menyebutnya. Adalah sebuah kastil tua dengan menara-menara yang tinggi, yang konon berjumlah tiga belas, sesuai jumlah dewa yang disembah oleh bangsa Gomerr, yang terletak di kaki gunung Andecabora, disebelah utara Gomeria. Menurut cerita bangsa Tarbann, sebelum Tarbania ditaklukkan oleh bangsa Savakk, kastil itu berada di pincak bukit Hastimirr, dan sempat “berpindah” secara misterius ke beberapa tempat sampai akhirnya menampakkan diri di kaki gunung Andecabora yang terletak di wilayah kerajaan Gomeria.

Jika bangsa Gomerr menganggap kastil itu sebagai rumah para dewa karena kehadirannya yang misterius itu, bangsa Tarbann memercayai bahwa kastil itu adalah ciptaan Kierten, dewa tertinggi bangsa Tarbann, yang dengan sengaja mengundang “orang-orang terpilih” ke dalam kastilnya. Kepercayaan ini bermula sejak menghilangnya banyak orang di Tarbania setelah masuk ke dalamnya.

Hantegon, kakek raja Tarbania Hantierenn, bersama lima belas orang prajuritnya menghilang setelah masuk ke dalam kastil misterius itu saat menghadapi serangan bangsa Savakk di atas bukit Hastimirr. Diceritakan waktu itu tanpa diduga sebelumnya, bangsa Savakk telah bersekutu dengan bangsa Gomerr dan menyerang pasukan Tarbania dari dua arah. Hal itu menyebabkan ia bersama para prajuritnya terdesak dan merasa perlu mendapat perlindungan di dalam sebuah kastil tak bertuan di dekat situ. Dan ajaib, begitu mereka masuk ke dalam kastil itu, seketika itu juga lenyaplah kastil itu dari pandangan semua orang di sekitarnya.

Menghilangnya para pahlawan Tarbann itu menjadi salah satu penyebab jatuhnya Tarbania ke tangan bangsa Savakk. Semua keluarga Hantegon dibunuh kecuali putri Hantegon yang sedang mengandung, dibuang ke pulau Lemin. Di sanalah Hantierenn dilahirkan. Dan tiga puluh tahun kemudian ketika bangsa Savakk mengalami kemunduran, Hantierenn kembali ke Tarbania, mengusir bangsa Savakk dari tanah itu.

***

Setelah melakukan perjalanan panjang, tibalah Argen di Medalla, ibu kota Gomeria yang terletak di bawah gunung Andecabora, tak jauh dari lokasi Ferdanoranica. Dari Tarbania ke Gomeria, ia menumpang sebuah kereta seorang pedagang Tarban. Tujuannya hanya satu : menyampaikan sebuah pesan dari gurunya kepada seorang seorang wanita yang bernama Andeverano.

Argen merasa asing dan diasingkan oleh penduduk Medalla, sebab ia tidak fasih berbahasa Gomerr. Apalagi waktu itu timbul sentimen negatif bangsa Gomerr terhadap bangsa Tarbann karena raja Tarbania ingin merebut wilayah kaki gunung Andecabora tanpa alasan yang jelas. Tetapi untunglah pedagang itu baik hati dan menjadi penerjemah bagi Argen di kota itu untuk sementara waktu.

Setelah berhasil mempertemukan Argen dengan Andeverano, pedagang itu pun pergi untuk menjalankan urusannya. Dan benar, Andeverano adalah seorang wanita setengah baya dengan rambut panjang yang berwarna putih sesuai dengan arti namanya dalam bahasa Gomerr, yang menurut cerita berambut putih sejak ia dilahirkan. Mungkin ia bisa disamakan dengan Hantierenn, raja Tarbania yang juga terlahir berambut putih. Tak disangka wanita Gomer itu sangat fasih berbahasa Tarbann, meskipun dengan logat yang terdengar aneh di telinga Argen.

Maka Andeverano membawanya ke sebuah kedai dan mereka bercakap-cakap di situ sambil menikmati Ferdanohevara, bubur sayur berwarna putih khas Gomeria. Baru kali ini Argen menikmati bubur selezat itu, yang kata Andeverano, Ferdanohevara adalah makanan para dewa, sehingga rasanya lebih lezat dari masakan apapun di dunia ini karena resepnya berasal dari Ivendara, dewa masakan bangsa Gomerr.

Selanjutnya wanita itu berkata, “Ketahuilah Argen, bangsaku dan bangsamu, adalah saudara. Jadi tak sepantasnya bangsa kita saling bersengketa. Memang bangsaku pernah bergabung dengan bangsa Savakk untuk menjajah Tarbania, tetapi itu dulu sebelum akhirnya kami tahu bahwa bangsa Savakk-lah yang telah menjajah Gomeria.”

“Aku tahu kepentingan rajamu, aku juga menghargai keinginannya untuk merebut Ferdanoranica atas dasar keyakinannya. Tetapi kami, bangsa Gomerr, percaya bahwa kastil itu adalah tempat tinggal dewa-dewa kami di dunia ini, dan kami telah mensakralkannya. Ferdanoranica dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Gomeria. Kami hanya diperbolehkan berziarah, berdoa di depan pintunya. Tidak ada yang boleh masuk ke dalamnya, bahkan raja kami sekalipun,” kata Andeverano. “Aku harap rajamu juga menghargai kebudayaan kami.”

Argen menjawab, “Aku datang kemari bukan atas perintah raja Hantierenn, melainkan Hibernen, guruku. Bagaimana aku harus mengatakannya kepada beliau nanti? Lagipula jika misi ini selesai, raja Hantierenn berjanji tak akan merebut kastil itu lagi dan tidak akan ada lagi persengketaan antara Tarbania dan Gomeria.”

“Baiklah, akan kuusahakan sebaik-baiknya,” kata Andeverano setelah cukup lama berpikir. “Tetapi aku tidak tahu risiko yang akan kauhadapi apabila kau berhasil masuk ke dalamnya. Bukankah bangunan itu pernah beberapa kali menghilang dan berpindah tempat setelah ada orang yang masuk ke dalamnya?”

Ya. Menurut cerita yang berkembang di Tarbania, setelah menghilangnya raja Hantegon dan kelima belas prajuritnya, kastil itu muncul di tepi danau Erennoat. Beberapa orang yang tinggal di tepi danau itu takjub melihatnya dan dengan penuh penasaran masuk ke dalamnya. Kemudian mereka lenyap bersama kastil itu.

Beberapa tahun kemudian kastil itu muncul di tengah Tornen, menyebabkan kegemparan di kota kecil itu. Hantierenn yang saat itu sedang memimpin pemberontakan terhadap bangsa Savakk, mencium berita keberadaan kastil misterius itu, percaya bahwa kakeknya masih berada di dalamnya. Ia berusaha mencapainya tetapi terlambat, bangunan itu sudah berpindah tempat lagi bersama dengan orang-orang Tornen yang masuk ke dalamnya. Keberadaan kastil itu di wilayah Gomeria pascakemerdekaan Tarbania membuat ia berusaha dengan segala cara mengklaim kastil itu sebagai wilayahnya.

Argen menutup hari itu dengan bermalam di rumah Andeverano. Di situ ia berkenalan dengan seorang pria berewok gemuk bernama Sendasarra yang merupakan suami dari Andeverano. Sendasarra adalah seorang buruh tambang perak di kaki gunung Andecabora.

Andeverano dan suaminya berdua tampak bercakap dalam bahasa Gomerr. Argen hanya terdiam mendengarkan kata-kata asing yang keluar dari mulut mereka karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan. Setelah itu Andeverano berkata kepadanya bahwa suaminya mengetahui jalan pintas tercepat mencapai Ferdanoranica sebelum tengah hari, yaitu melewati pertambangan perak. Sendasarra bahkan sanggup mengantarkan Argen pergi ke sana esok hari. Dan ia mempunyai sebuah recana cemerlang yang bisa dilakukan untuk mendukung misi tersebut.

“Oh, Ves-ta-ranu,” kata Argen mencoba mengucapkan terimakasih dalam bahasa Gomerr.

“Vesta-ranu?? Yang benar 'vahistarano', Argen,” sahut Andeverano tersenyum.

“Oh, maafkan aku. Va-hista-rano, benar?” Argen membalas senyum untuk menutupi rasa malunya. Kemudian tawa kebahagiaan pun memecah di rumah kecil itu.

Keesokan harinya setelah sarapan mereka bertiga berangkat meninggalkan Medalla. Berjalan beriringan melalui jalan raya, di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan banyak peziarah yang juga menuju Ferdanoranica untuk berdoa. Perjalanan itu normalnya ditempuh selama satu hari penuh menyusuri kaki gunung itu, yang oleh bangsa Gomerr disebut sebagai “raksasa putih”, tetapi Sendasarra mengambil jalan berbelok yang lebih berliku dan cukup terjal yang menurutnya bisa memotong setengah dari perjalanan normal.

***

Di depan mata Argen berdiri sebuah kastil megah dengan menara-menaranya yang tinggi menjulang sampai ke langit. Cukup lama Argen memanjakan matanya dengan pemandangan indah itu. Sendasarra berkata bahwa pada tengah hari, para penjaga akan beristirahat sejenak. Dan sesuai rencana yang disusun semula, Andeverano, Argen dan Sendasarra akan menyamar sebagai para peziarah yang berdoa di depan ‘rumah para dewa’ itu. Dililitkannyalah tali yang cukup panjang pada masing-masing perut mereka dan disembunyikan di balik pakaian mereka.

Dengan jantung yang berdetak kencang Argen sudah berada di depan sebuah lengkungan raksasa yang berukir indah, dengan gambar-gambar relief yang kurang jelas terlihat, cemerlang keemasan diterpa cahaya matahari. Itulah pintu masuknya. Dua orang penjaga berseragam dan berpedang berdiri tak jauh dari situ masing-masing di sudut kanan dan kiri untuk mencegah orang melewati sebuah ‘garis pembatas’ yang disebut ‘garis kesucian’.

Sudah tengah hari. Dan benar, penjaga-penjaga itu meninggalkan tempatnya berdiri untuk beristirahat, berjalan semakin menjauhi para peziarah. Sambil berpura-pura memanjatkan doa, Argen berbisik kepada Andeverano di samping kirinya dan Sendasarra di samping kanannya “Sekaranglah saatnya.”

“Kau yakin?”

Argen mengangguk. “Aku akan membawa keluar Hantegon. Aku akan keluar bersamanya.” Kemudian dengan cepat ia bertolak melintasi garis itu dan selangkah kemudian ia tiba di sebuah dunia lain.

Argen tercengang. Didepannya terhampar sebuah taman yang indah, dan entah mengapa ia merasa berpadu dengan tempat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira merasuk ke dalam jiwanya. Bunga-bunga indah berwarna-warni, dengan kesejukan angin semilir menebarkan aroma semerbak tercium oleh hidungnya. Kupu-kupu menari-nari di atasnya dan terdengar pula kicauan burung yang merdu oleh telinganya. Beberapa air mancur berdiri di sana sini di antara rimbunan bunga semakin menghiasi taman itu. Dan tampak sungai kecil mengalir jernih di ujung sana, dengan sebuah air terjun di sisi lain. Ini Surga. Ini benar-benar 'rumah para dewa'.

Argen berlari lebih jauh ke arah padang rumput hijau di depan sana, di mana ada sebuah istana kristal berdiri dengan kilau-kemilau. Di padang rumput itu terlihat ada sekelompok orang yang menari-nari dengan riangnya dengan iringan nyanyian akapela yang menentramkan hati. Bahkan kuda-kuda yang merumput di situ ikut riang menikmati syair dan iramanya.

Sungguh menyenangkan tinggal di sini,
Negeri kebahagiaan, di mana rumput menari-nari.
Cemerlang bagai permata, menghilangkan kesah di hati
Duka dan lara pergi, mari nikmati damai abadi.


Tampak seorang tua berbaju zirah Tarbania di antara yang hadir di situ, berdiri melambaikan tangannya kepada Argen, seolah mengajaknya turut serta dalam kebahagiaan mereka. Tak mampu menolak ajakannya, Argen terus melangkah dan melangkah.

***

“Kembalilah! Kau terlalu jauh,” seru Andeverano dari luar, kuatir melihat tali yang semakin lama semakin tertarik ke dalam. Tali pun semakin menegang, “Argen! Kembalilah!” Semakin lama tali itu menjerat perutnya hingga wanita itu tak kuasa menahan sakitnya. Sendasarra berusaha dengan sekuat tenaganya menarik kembali talinya, mempertahankan supaya istrinya tidak ikut tertarik masuk ke dalamnya.

Melihat ada masalah, seorang penjaga datang berlari kecil mendekati mereka dikuti oleh penjaga lainnya. Tanpa pikir panjang salah seorang penjaga itu mencabut pedangnya memutuskan tali itu.

“ARGEN!!!!”

Mendengar suara Andeverano, Argen menoleh ke belakang, tetapi ia menjawab, “Maafkan aku. Aku tidak mau kembali.” Bersama itu pula putuslah tali yang menghubungkannya dengan Andeverano.

Sekonyong-konyong bangunan megah itu lenyap dari tempatnya berdiri. Para penjaga, serta para peziarah berdiri termangu-mangu, kebingungan melihat peristiwa itu. Tiada lagi kastil megah untuk dijaga. Tiada lagi “rumah para dewa” untuk diziarahi.

Wanita berambut putih itu berlutut menangis, meratapi Argen yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, yang datang dan pergi begitu saja. Kakinya lemas dan perutnya sakit. Rambutnya yang putih panjang itu terurai hingga menyentuh tanah, menampung air mata yang tertumpah dari kedua matanya. Ia menyesal telah membawa Argen ke Ferdanoranica. Sendasarra berusaha menenangkannya dengan memberikan pelukan kepadanya. Hiburnya kepada istrinya, “Ia sudah memilih jalannya sendiri.”

-selesai-


message 18: by MaxMax (last edited Feb 28, 2012 08:00PM) (new)

MaxMax | 64 comments Kastil Mimpi Herold

Aku berada dalam sebuah kastil. Sebuah kastil milik negaraku yang besar, dimana Ayahanda menjadi raja dan Ibunda ratunya. Kastil dibangun untuk melindungi sekaligus tempat tinggal Raja dan keluarganya dari serangan musuh, namun bagiku, kastil ini adalah rumah terbaik dan halaman bermainku. Adikku, Helmea, masih senang mencoret-coret dinding kastil yang dianggapnya kanvas untuk lukisan pribadinya. Ibunda berulang kali memarahinya, namun dia tak jera juga. Ketika Ibunda sedang memarahi Helmea, aku selalu menonton dari samping sambil tertawa.

Kastilku sangat megah dan indah. Dibangun diatas bukit yang tinggi dengan lantai dinding pualam, bendera yang berkibar dengan gagah di ujung tertinggi menara utama. Siapapun yang berusaha menyerang negara kami, bila melihatnya, pasti langsung ciut nyalinya. Karena kastil ini terlihat sangat kokoh dengan tembok besar dan tebal dan banyak sekali pemanah yang selalu siap sedia mengawasi sekitar kastil dari ancaman musuh. Meriam disetiap sudut kastil tampak sangat sangar dan mengintmidasi. Aku sangat bangga dengan kastilku.

*******

“Herold, bangun! Sudah pagi! Sapu halaman depan dan jangan lupa beri makan ayam!”

Sebuah suara kasar yang sangat familiar membangunkan Herold dari mimpinya. Dia melihat kearah pemilik suara itu. Wajah bundar dan mata galak seorang ibu-ibu gemuk yang selalu dilihat Herold setiap pagi.

“Masih belum mau bangun juga?!”

PLAK!!!

Sebuah tamparan sangat keras kearah pantat Herold membuat anak berumur 11 tahun itu terlonjak dan kemudian meringis kesakitan.

“Kamu tidak di kastil kebanggaanmu lagi. Kamu tidak boleh bermalasan dan manja disini. Kau sudah bukan pangeran lagi”

Herold turun dari kasur jeraminya sambil mengelus-elus pantatnya yang terasa sakit. Dia kemudian menatap tajam kearah ibu galak tadi.

“Apa lihat-lihat?! Mau ditampar lagi?!” kata ibu tadi sambil mengangkat tangannya. Refleks, herold segera meringkuk dan melindungi kepalanya.

“Dasar anak tidak tahu diuntung. Kalau bukan janji suamiku pada raja yang sudah terguling, sudah kubuang kamu!” kata ibu galak sambil melangkah keluar.

Kenapa bisa seperti ini? Pikir Herold. Ayahanda, Ibu, Helmea, kenapa kalian meninggalkanku sendiri? Tanpa terasa, air mata menitik dari ujung mata bocah itu. Dia menggengam kalung peninggalan ibunya dengan erat.

“Kau menangis lagi?” terdengar suara cempreng dari langit-langit. “Kau selalu tersenyum dalam tidurmu, dan selalu menangis ketika terbangun”

Herold mendongak dan mendapati laki-laki kecil hijau yang nyaris transparan melayang di atasnya. Besar kepala dan badannya sama, dengan telapak kaki yang selebar daun. Telinganya tajam, dan matanya hijau. Peri mimpi.

******

Di kastil, aku sedang menjelajah menara. Aku dan Helmea berlomba lari mencapai puncak menara dan yang pertama memegang bendera kerajaan di puncaknya, dialah yang menang. Seperti biasa, Helmea tidak pernah mau kalah. Dia berlari dengan ngototnya. Kadang aku sebagai kakaknya membiarkannya menang karena melihat semangat adik laki-lakiku itu. Hey, sebagai kakak aku harus mengalah sesekali kan?

Kami mendaki genting menara yang berwarna merah menyala. Aku terus mengawasi Helmea dari belakang takut-takut kalau dia terpeleset dan jatuh, jadi aku bisa bersiap dan menangkapnya. Semakin lama kemampuan mendaki genting menara Helmea semakin baik. Jika dulu dia masih sering sedikit terpleset dan tidak stabil, sekarang dia bisa berpijak mantap.

Kali ini Helmea lagi yang menang. Dia tertawa dan berteriak mengumumkan kemenangannya diatas menara sekeras mungkin,seakan berusaha memberi tahu seluruh kastil. Namun ketika kami turun dari menara, Ibunda telah menunggu kami dengan wajah marah. Jeweran mendarat di kuping kami berdua. Sakit sekali, tapi kami sudah terbiasa. Setelah itu Ibunda mengurung kami dalam kamar dan kami tidak akan mendapat makan siang sebagai hukuman. Didalam kamar kami tertawa terkikik dan berjanji mengulanginya lagi kapan-kapan.

*******

“Lihat itu” kata seorang anak kepada anak yang lebih besar sambil menunjuk Herold yang sedang berbelanja di pasar. “Dia itu ‘Si Mantan Pangeran’” anak itu kemudian tertawa.

“Hey, mau tahu rasanya menonjok pangeran tidak?” tanya Anak yang lebih besar tadi. Anak yang lainnya mengangguk dengan semangat. “Aku juga mau tahu rasanya. Ayo!” ajak si anak yang lebih besar.

Mereka berdua mendekati Herold, menyeret anak itu ke sudut pasar yang sepi. Herold memberontak dan berteriak memohon, tapi kedua anak itu tidak peduli. Mereka menyeringai jahat kearah Herold. Kemudian Herold tahu apa yang akan terjadi padanya.

Sepulangnya di rumah si ibu galak, Herold kembali mendapat omelan dan pukulan. Ibu galak marah karena Herold pulang telat dan menghilangkan belanjaan sekaligus dompet beserta seluruh uang didalamnya. Tanpa mempedulikan wajah Herold yang sudah babak belur, ibu galak terus memukuli kepala dan punggung anak itu. Teriakan dan tangisan Herold tidak membuatnya berhenti. Semakin keras herold menangis, si Ibu galak malah terlihat makin bersemangat memukuli Herold. Setelah puas memukuli herold, ibu galak meyuruhnya masuk kekamar dan melupakan makan malamnya sebagai hukuman.

“Kau menangis lagi” sambut Peri mimpi didalam kamar Herold. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku menawarkan sebuah mimpi tanpa henti. Sebuah mimpi bahagia yang akan terus kau alami selamanya. Kau bisa bertemu dengan Ayahanda, Ibu, dan Adikmu. Kau tidak perlu lagi mengalami hal-hal yang menyedihkan seperti di alam nyata. Alam mimpi adalah pilihan terbaik untukmu. Sebagai gantinya, aku hanya akan mengambil kesadaranmu. Toh dalam alam mimpi kau tidak butuh kesadaran, jadi kau tidak akan rugi sama sekali.”

Herold tidak menjawab. Dia langsung merebahkan diri di atas kasur jeraminya dan menutup kedua matanya. Seakan tahu apa yang harus dilakukan, Peri mimpi mengambil segenggam serbuk mimpi yang berkilauan dan melemparkannya ke arah Herold.

******

Aku berkuda bersama dengan Ayahanda. Ayahanda adalah penunggang yang hebat. Kemampuannya bisa disejajarkan dengan penunggang kuda terbaik di negeri ini. Sekali seminggu, ketika pagi, Kami berdua selalu berkuda mengitari danau di belakang kastil kami. Tanpa penjagaan dan menikmati pemandangan pagi. Aku dibonceng di depan ayahanda dan diperbolehkan memegang tali kekang kuda, meskipun aku tahu jika ayahanda tetap mengendalikan kudanya dengan kaki. Aku punya keinginan dapat berkuda sehebat ayah sebelum aku genap berusia 17 tahun. Ketika aku mengutarakannya kepada Ayahanda, Beliau beliau malah tertawa mengejek. Kadang Ayahanda benar-benar tidak dewasa.

Setelah puas mengelilingi danau, kami duduk di samping danau sambil merendam kaki. Ayahanda sangat suka bicara. Beliau biasa bercerita tentang hal-hal besar mengenai pemerintahan hingga hal-hal remeh seperti rasa masakan yang dibuat oleh koki istana atau tikus di dapur. Lucunya semua orang suka mendengarnya bercerita. Aku sendiri tidak pernah bosan mendengar ceritanya.

Biasanya Ibunda dan Helmea yang tidak pernah bisa bangun pagi menyusul kami berdua dengan membawa pengawalan lengkap dan makan siang kami. Disamping danau itu, kami makan bersama dengan para pengawal, melihat kastil kami dari luar, tertawa bersama Benar-benar hari yang menyenangkan.

******

“Herold!” Panggil ibu galak. “Kita kekurangan uang untuk membeli makanan. Kau punya sesuatu yang berharga untuk dijual?”

Herold menggeleng ketakutan.

“Kamu kan dulu pangeran?! Masa tidak punya peninggalan dari ayahmu?! Tunggu apa itu?” Ibu galak melihat kalung yang melingkar di leher Herold.

Dengan cepat dia merebut kalung itu hingga talinya putus. Herold berusaha merebutnya kembali, namun tamparan keraslah yang didapatinya.

“Sepertinya berharga. Sangat berharga” Kata ibu galak sambil mengamati bandul kalung milik Herold. Bandulnya berbentuk persegi dengan lambing kerajaan terukir di kedua sisinya. Di tengahnya terdapat permata yang berkilauan.

“Ini aku ambil. Ini bisa membuat kita bertahan hidup selama seminggu”

Herlod menatap Ibu galak dengan penuh rasa benci. Sadar dengan tatapan herold, Ibu galak berkata,”Berhenti menatapku seperti itu bocah! Seharusnya kau berterima kasih padaku karena mengijinkanmu makan dan tidur di rumahku” sambil keluar dari kamar herold.

Herold berteriak dan menangis sekerasnya. Peri mimpi melihatnya sambil melayang.

Setelah puas menangis, Herold duduk diatas kasur jeraminya dan si Peri mimpi mendekatinya.

“Tawaranku masih berlaku” kata Peri mimpi
Herold mengangguk dan membaringkan tubuhnya diatas kasur.

“kau yakin?”

Sekali lagi Herold mengangguk.

“Baiklah kalau begitu. Tidur, dan bermimpilah” Peri mimpi melemparkan serbuk mimpi kearah Herold. “Sebagai gantinya, akan kuambil kesadaranmu untuk selamanya”

Herold tertidur. Dia sekarang berada di dalam kastil mimpinya. Dan dia tidak akan meninggalkan kastilnya lagi.


message 19: by Grande_Samael (new)

Grande_Samael | 508 comments Kastil

Di suatu tempat yang jauh, di pedalaman hutan yang lebat, di puncak gunung tertinggi, terdapat sebuah kastil misterius. Orang bilang kastil ini adalah kastil terlarang, karena semua yang pernah datang ke sini tidak kunjung kembali. Sebagian menyebut kastil ini sebagai kastil iblis. Konon hanya makhluk-makhluk neraka yang berpesta pora di dalamnya. Dan semua orang yang masuk ke dalamnya akan dijadikan hidangan pesta para iblis.

Tetapi aku tidak percaya. Aku adalah seorang petualang yang telah mendaki 7 puncak tertinggi, menyelami 7 palung lautan terdalam, dan menjelajahi 7 hutan paling liar di muka bumi ini. Dan semuanya itu kulakukan seorang diri. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa kembali setelah memasuki kastil batu bodoh ini.

Jika dilihat dari luar, kastil bodoh ini begitu besar dan memiliki desain yang aneh. Kastil ini hanya terbuat dari tumpukan batu yang tidak teratur tetapi mampu berdiri kokoh menjulang tinggi ke angkasa. Jutaan burung walet selalu terbang mengitari puncak-puncak kastil ini sepanjang masa. Tidak peduli siang atau malam, panas atau hujan.

Aku heran. Siapa yang membuat desain kastil seperti ini. Ini sama sekali bukan desain kastil abad pertengahan. Lebih mirip bangunan yang dibuat sejak zaman batu. Tapi orang-orang zaman batu ini sangat pintar, dapat membuat desain yang begitu kokoh.

Tapi siapapun orang yang membuatnya, apapun yang ada di dalamnya, kurasa semua rahasia itu akan segera kuketahui. Tinggal selangkah lagi sebelum aku memasuki kastil ini. Tapi bukan pintu megah yang berada di depanku, melainkan sebuah lorong gelap layaknya goa.

Aku ragu, tapi ini satu-satunya jalan masuk. Aku menyalakan GX-400 ku, obor khusus hasil penelitianku selama bertahun-tahun. Penemuan hebatku ini mampu menyala 24 jam, bahkan di dalam air. Mungkin obor ini adalah salah satu kunci sukses dalam tiap petualanganku.

Aku mulai melangkahkan kakiku dengan hati-hati. Dengan perlahan aku menyusuri lorong kastil yang lebih mirip dengan goa ini. Siapa orang aneh yang menyebut tempat ini sebagai kastil?

Namun semakin dalam kutelusuri lorong ini, suasananya semakin berubah. Semakin lama lorong ini semakin lebar. Sedikit demi sedikit cahaya mulai tampak berkilauan dari ujung sana. Cahayanya warna-warni seperti pelangi. Aku tidak tahu dari mana cahaya aneh ini berasal, tapi yang jelas aku sudah hampir sampai pada sesuatu.

Samar-samar aku mendengar suara kegaduhan dari ujung sana. Kurasa ada banyak orang yang sedang berpesta. Semakin dekat suara gaduh itu terdengar makin jelas.
Dan tidak lama kemudian aku sampai pada ujung lorong ini. Namun aku tidak keluar begitu saja. Aku bersembunyi sejenak dan mengintip apa yang menungguku di sana.

Lalu aku melihat suatu ruangan yang luar biasa besar hingga membuatku terperangah. Ketika aku melihat ke atas, aku tidak dapat melihat langit-langitnya. Yang terlihat hanyalah cahaya menyilaukan yang begitu tinggi. Cahaya ini begitu indah dan memberikan kehangatan.

Permukaan lantai maupun dinding di sekelilingku terbuat dari marmer yang menyala kelap-kelip karena memantulkan cahaya dari langit-langit. Pantulan cahayanya begitu indah dan seperti menciptakan pelangi-pelangi di udara.

Tempat seindah ini, sama sekali tidak pantas jika disebut kastil iblis.

Lalu terakhir aku memperhatikan sekelompok orang yang sedang berpesta pora di ruangan ini. Ah tidak, aku salah. Mereka sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai manusia. Mereka adalah iblis! Ya, iblis. Bentuk mereka sangat beraneka ragam. Ada yang berukuran sebesar gajah, ada pula yang sekecil tikus. Ada yang memiliki sepasang tanduk pendek, ada yang hanya memiliki 1 namun panjangnya hingga 2 meter. Ada yang berwarna merah, biru, hijau. Jadi seperti inikah perwujudan dari makhluk penghuni neraka?

Kelihatannya mereka sedang terlalu asyik berpesta pora hingga tidak menyadari keberadaanku. Mereka makan dan minum ditemani alunan lagu yang aneh, mengerikan, namun rasanya membuatku tidak bisa berhenti mendengarnya. Tawa terbahak-bahak mereka begitu membahana hingga menggema di seluruh ruangan. Dan di atas meja-meja tempat diletakkannya makanan ada puluhan gadis cantik yang sedang menari-nari untuk menghibur para iblis ini. Inikah suasana pesta para iblis? Kurasa tidak terlalu jauh beda dengan pesta yang sering kali kami lakukan.

Baiklah, ini sudah cukup. Aku sudah mengetahui jawaban dari misteri yang menyelimuti kastil ini. Kastil ini memang dihuni oleh iblis, dan semua orang yang pernah memasukinya pasti ditangkap dan dijadikan santapan mereka. Sebaiknya aku keluar sekarang sebelum mereka menyadari keberadaanku dan menjadikanku santapannya.

Namun ketika aku berbalik sesuatu yang aneh terjadi. Tiba-tiba seluruh kegiatan pesta berhenti. Alunan musik tidak terdengar lagi. Tidak ada suara gelak tawa yang membahana. Aku menoleh ke arah mereka. Mereka segera meletakkan gelas-gelas anggurnya, potongan daging yang belum habis, mangkuk-mangkuk berisi sup berwarna merahnya. Kemudian hal berikutnya yang mereka lakukan adalah menatapku dalam-dalam.

Celaka, keberadaanku telah diketahui!

Lalu iblis yang berukuran paling besar, jauh lebih besar daripada gajah, berdiri lalu berjalan ke arahku. Sosok wajahnya benar-benar jahat. Matanya menyala bagaikan bara api. Kaki raksasanya membuat tiap langkah begitu menggetarkan. Untuk sesaat kukira nasibku akan berakhir hanya sampai di sini. Tapi ternyata aku salah. Ia malah memberi sambutan yang penuh kehangatan. Dadaku langsung terasa mencelos. Tak kusangka ia begitu sopan. Akupun meminta maaf telah menerobos masuk ke dalam acara pesta mereka. Ia menerima permohonan maafku begitu saja. Aneh.

Kemudian ia mengajakku berpesta bersama mereka. Aku tahu, ia pasti bermaksud menjebakku. Mustahil ia akan membiarkan penyusup meloloskan diri begitu saja. Tujuan aslinya pasti untuk menjadikanku santapan mereka. Itulah perbuatan dan tipu daya yang biasa dilakukan iblis.

Tapi kurasa aku tidak bisa menolak. Jika aku menolak, iblis raksasa ini bisa saja meremukkanku dalam sekejap. Maka aku menerima tawarannya dengan senang hati. Aku akan mencoba mencari jalan keluar nanti, ketika ada kesempatan. Untuk saat ini aku harus bisa membawa diri guna membodohi iblis-iblis laknat ini.

Iblis raksasa itu mempersilakanku duduk di sebelahnya. Akupun duduk, tapi tidak langsung makan. Aku curiga makanan itu beracun. Atau mereka hanya ingin membuatku cukup gemuk agar aku bisa menjadi hidangan yang nikmat. Namun iblis raksasa di sebelahku mulai memperhatikanku dengan tatapan aneh. Ia pasti mulai curiga akan kecurigaannya. Terpaksa aku mulai menyantap makanan yang ada di hadapanku.

Aku mencoba satu gigitan, dan... Lezat! Aku yakin makanan ini beracun, tetapi kelezatan makanan ini membuatku tidak bisa berhenti. Aromanya membuatku air liurku terus menetes biarpun aku sedang mengunyah makanan ini. Lalu aku melirik ke arah iblis raksasa itu. Ia sedang tersenyum sambil memandangiku! Celaka. Aku sudah masuk ke dalam perangkap.

Akhirnya aku merasa kenyang. Aku memutuskan untuk berhenti makan. Setelah itu rasa kantuk yang teramat sangat menyerangku. Gawat, ini pasti efek obat tidur yang sudah mereka masukkan ke dalam makananku.

Iblis-iblis yang berada di sekelilingku tersenyum dan menatap ke arahku. Iblis raksasa di sebelahku menanyakan apakah aku mengantuk. Aku ingin sekali pergi dari sini, tetapi rasa kantuk ini bahkan membaut malas bicara dan bergerak. Iblis raksasa itu tersenyum lalu mengangkatku. Ia bilang akan membawaku ke kamar untuk beristirahat. Ia bilang begitu, tapi aku tahu, ia pasti akan membawaku ke dapur untuk direbus! Sial, aku harus... Ah, aku sangat mengantuk...

***

Aku terbangun di sebuah kamar yang luar biasa besar. Ranjang tempatku berbaring ukurannya seperti lapangan basket. Ini pasti ranjang tempat tidur iblis raksasa itu. Untunglah aku belum direbus dan dijadikan santapan mereka.

Aku segera turun dari ranjang itu. Aku berlari ke arah pintu dan membukanya. Aku bersyukur pintu itu tidak dikunci. Hahaha, iblis ini hanya wujudnya yang menyeramkan, tapi benar-benar bodoh.

Namun sebelum aku melangkah keluar, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah peti kayu yang dari celah-celahnya keluar cahaya indah berbinar. Aku memutuskan untuk melihat isi peti itu, dan benar saja. Ada sebuah batu permata merah delima yang luar biasa indah. Batu milik iblis pasti bernilai jual tinggi. Aku akan kaya raya! Tidak ada salahnya juga mencuri batu ini, toh mereka hampir saja mencuri nyawaku...

Akupun berjalan mengendap-endap menyusuri lorong yang begitu besar. Jika ada kesempatan untuk keluar dari sini, maka sekaranglah saatnya.

Tapi ternyata lorong-lorong ini sangat panjang dan berliku-liku. Butuh waktu yang lama untukku mencari jalan keluar. Terkadang aku akan berpapasan dengan iblis yang lewat, dan saat itu aku harus bersembunyi.

Tapi sungguh, iblis-iblis ini begitu bodoh. Tidak satupun yang menyadari keberadaanku. Aku hampir tertawa karena kebodohan mereka. Tapi kutahan itu. Tidak boleh aku membuat pelarianku gagal.

Tidak berapa lama aku sudah sampai di ruangan tengah tempat mereka berpesta. Tinggal mengendap-endap melewati tempat ini, maka aku akan berada di luar. Yah, iblis-iblis rakus itu terlalu sibuk berpesta, mereka tidak akan menyadari keberadaanku yang kecil ini.

Maka aku berjalan mengendap-endap menyusuri dinding. Benar saja mereka masih tertawa-tawa dan berbincang-bincang tanpa menyadari keberadaanku.

Yes, tinggal beberapa langkah lagi dan aku akan keluar dari sini!

“Sudah mau pulang?”


message 20: by Grande_Samael (new)

Grande_Samael | 508 comments Tiba-tiba aku mendengar suara iblis raksasa itu menggema begitu keras. Aku menoleh dan aku kaget bukan main, semua iblis di tempat itu sudah menghentikan kegiatan pestanya dan semua diam menatap ke arahku. Celaka, aku sudah membuat kesalahan fatal. Dan iblis raksasa itu, ia masih duduk di tempatnya, memandang ke arah daging yang ia pegang, namun berbicara kepadaku.

“Mengapa tak berpamitan pada kami?” tanya iblis raksasa itu lagi.

“Ma.. Maaf, Aku hanya sedang berjalan-jalan”, kataku berdalih.

“BOHONG!” teriak iblis raksasa itu tiba-tiba “Dasar manusia, setelah semua yang kami berikan, kini kau akan pergi begitu saja? Setelah semua perlakuan baik kami ini?”

Kata-kata iblis raksasa itu membuatku marah. Bagaimana bisa ia menghinaku seperti ini? Sudah jelas semua yang mereka lakukan ini semata-mata hanya untuk menjebakku. Sial. Setelah ini mereka pasti akan merebusku hidup. Aku harus melakukan sesuatu.

“Dasar iblis! Makhluk terkutuk! Kehidupamu terbuat dari dosa-dosa! Aku tahu, sejak awal kau ingin menjebakku, mengurungku di sini, merebusku, dan menjadikanku santapan pesta! Kau pikir aku bodoh? Hahahahaha. Aku akan keluar dari sini dan kau tidak akan bisa menangkapku!”

Iblis raksasa itu terdiam, lalu meminum sesuatu dari gelas emas raksasanya. Mungkinkah ia sedang terkejut karena seluruh rahasianya telah kuketahui?

“Itukah yang kau pikirkan?” tanyanya tiba-tiba.

Apa maksudnya ini? Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Hei manusia, kau tahu apa saja kesalahnmu?” tanyanya lagi.

Apa kesalahanku? Sombong sekali dia, untuk ukuran makhluk penghuni neraka. Aku diam saja tidak menjawab, tetapi ia mulai berbicara.

“Manusia, kau punya kebiasaan buruk untuk memasuki kediaman orang lain tanpa permisi”.

“Pintu tempat ini tidak ditutup dan sangat gelap”, aku berusaha membela diriku “Bagaimana aku tahu apakah ada orang di dalam?”

“Tapi kami masih mengampunimu”, tanpa mempedulikan pembelaanku ia melanjutkan tuduhannya “Bahkan mempersilakanmu untuk makan bersama kami”.

“Yah, dan kau ingin menjebakku. Aku tahu semua tipu daya iblis. Ada racun di makanannya”.

“Kalau ada racun, maka kau sudah mati sekarang!”

Benar juga. Jika makanannya diracuni aku pasti sudah mati. Tapi aku tidak mau kalah begitu saja.

“Yah, mungkin itu hanya bumbu agar tubuhku terasa nikmat saat kalian santap?”

“Cih. Aku tahu kau terus mencurigai kami, tapi kau munafik! Tetap saja kau memakan makanan yang kami berikan dengan lahap”.

Dasar iblis, jika makanan itu tidak kumakan kau pasti akan membunuhku. Aku harus terus membela diri!

“Ya, tapi setelah itu aku menjadi sangat mengantuk!” jawabku.

“Dasar manusia rakus!” hardiknya sambil menggebrak meja “Setelah makan langsung tidur. Maka aku membawamu ke kamarku untuk beristirahat. Jangan bilang saat itu kau berpikir bahwa aku akan merebusmu?”

“Ya, kurang lebih...”

“Setelah cukup istirahat, bukannya berterima kasih dan pamit baik-baik pada kami, justru kau keluar mengendap-endap. Dengan sebuah pikiran busuk mengenai kami. Dan yang terparah, KAU MENCURI BATU PERHIASAN MILIKKU!”

Aneh. Entah mengapa segala keyakinanku mulai memudar. Tidak, tidak. Bertahanlah. Semua yang ia katakan hanyalah tipu daya iblis!

“Dan jangan bilang setelah ini kau akan memberitahu raja dan meminta agar tempat ini dihancurkan?”

Bagaimana ia mengetahui itu? Aku yakin, kali ini aku akan benar-benar direbus. Jadi di sinilah akhir hayatku sang petualang hebat. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Sekarang aku hanya bisa pasrah dan ber...

“Pergilah!”

“Apa?” aku merasa seperti salah mendengar “Kau memperbolehkanku pergi? Kau tidak ingin merebusku?”

“Untuk apa? Kau hanya manusia kecil yang tidak bisa mengenyangkan kami”.

Apa ini tipu daya iblis? Apa ia membiarkanku keluar dan menyerangku saat aku berbalik? Entahlah, tap kurasa lebih baik aku keluar dari sini. Dengan perasaan yang mengganjal akupun berbalik dan mulai berjalan menyusuri lorong menuju pintu keluar. Ah, semakin lama semakin gelap. Aku lupa di mana oborku berada. Tapi tiba-tiba cahaya menerangi lorong ini.
Aku menoleh, dan seekor iblis kecil sebesar kunang-kunang terbang menghampiriku.

“Aku akan mengantarmu keluar”.

Apa maksudnya ini? Ia adalah bagian pengantar tamu?

“Umm, terima kasih...” kamipun berjalan menyusuri lorong dengan iblis kecil itu sebagai sumber cahaya.

“Ternyata manusia masih bisa berterima kasih”, katanya tiba-tiba.

“Uh, ya. Tentu saja, manusia itu punya akal budi”, jawabku sekenanya.

“Akal budi ya”.

“Iya”, tiba-tiba saja aku jadi merasa tidak enak hati.

“Setelah ini kau mau ke mana? Mengapa tidak tinggal bersama kami?”

Terdengar menyenangkan. Ah, apa yang kupikirkan? Mungkin ia sedang menggodaku...

“Ah, aku tahu kau ingin mengurungku di sini bersama kalian?” tanyaku penuh selidik.

“Bukan begitu, tapi aku tak habis pikir. Jika manusia itu memiliki akal budi. Apa semua manusia sepertimu?”

“Yah, kurang lebih”, jawabku sambil memahami maksud pertanyaannya.

“Hahaha, kurasa akan mengerikan tinggal bersama orang-orang yang suka saling mencurigai sesamanya. Berbohong, memasuki kediaman orang lain begitu saja, lalu mencuri milik sesamanya. Menukar susu yang diberikan dengan air tuba”, katanya sambil lalu.

Aku mencoba membantah kata-katanya barusan, tapi entah mengapa aku sama sekali tidak memiliki argumen yang cukup kuat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa? Mengapa?

Lalu aku menghentikan langkahku secara tiba-tiba. Tubuhku bergetar hebat. Aku menelan ludah, kemudian memandang ke arah iblis kunang-kunang yang ikut berhenti dan menatapku dengan heran.

“Menurutmu, kehidupan di sini lebih baik?”

***
***

Aku melanjutkan pesta ini. Terkadang aku heran, apakah perutku ini tidak akan pernah merasa puas? Hahaha, tetapi tidak apa selama makanan yang kumakan ini bukan hasil curian.

“Lord, menurutmu bagaimana manusia barusan?”

Kamel, bawahanku yang bertubuh bulat seperti ibu hamil 10 bulan bertanya padaku sambil sibuk mengunyah makanannya. Tingkah lakunya membuatku tersenyum.

“Makanan yang datang menyerahkan dirinya sendiri adalah yang paling nikmat. Dan yang paling penting, itu bukan makanan curian”, jawabku sambil mengunyah makanan juga, lalu memandang ke arah lorong yang menghubungkan tempat ini dengan dunia luar “Lihat, makanannya sudah datang menyerahkan diri”.

===
END


message 21: by Karina (new)

Karina Chandra (Riesling) | 79 comments Mimpi Kastil Bias

Yang pertama runtuh adalah kandil emas raksasa yang jatuh dari langit-langit ruang takhta. Ukiran malaikat yang menghiasi plafon penahannya retak mulai dari wajah, begitu juga malaikat batu lainnya yang bertengger di puncak pilar-pilar yang memagari jalan dari pintu masuk menuju takhta tempat kau duduk dengan kaki tersilang dan kepala terangkat congkak. Dentang logam yang membentur marmer meraung keras, memantul-mantul di keenam sisi dinding kristal yang masih berkilauan di tengah kekacauan itu.

Bau amis bercampur gosong membumbung bersama asap dari api lilin-lilin yang berserakan dan mencium permadani merah yang bersimbah darah. Patung-patung naga, kuda bersayap, gadis-gadis ikan—semua mahakarya yang menambah megah ruangan itu retak serempak dan runtuh menjadi bongkahan-bongkahan tak berbentuk. Lukisan-lukisan surgawi yang terpampang di seribu koridor dan seribu ruangan kastil itu terlepas dari penyangganya, jatuh begitu keras hingga bingkainya yang bersepuh emas patah. Beludru dan brokat nan mewah pun tak mampu melindungi sisa ornament yang belum hancur menjadi serpihan bebatuan mulia dari guncangan yang makin lama makin menggila.

Tak lama lagi dinding-dinding dan pilar-pilar yang menjaga kastil itu tetap berdiri akan menemui takdir yang sama—luluh lantak hingga rata dengan tanah. Belum lagi api yang menari-nari di hadapanmu, yang tadinya hanya berupa nyala malu-malu terus melahap benda di sekelilingnya, mengganas seolah tak bisa puas tak peduli berapa banyak reruntuhan dan kain-kain hiasan yang ditelannya.

Semua itu seolah terjadi di luar duniamu dan takhtamu, karena kau bergeming dalam dudukmu dan memandangi kemewahan luruh menjadi neraka seolah itu adalah tontonan terhebat sepanjang masa. Padahal api sudah mulai membakar daging mayat yang bergelimpangan di bawah kakimu dan tak lama lagi akan menangkap ujung jubahmu. Kubah marmer yang membentuk kanopi indah di langit-langit mulai berderak-derak, menunggu waktu yang tepat untuk runtuh dan menimpa tubuh kurusmu. Singgasana emasmu yang mengembang laksana bulu burung merak tujuh warna pun sudah mulai berayun-ayun bersama gempa, ujung-ujung sandarannya yang lebih tipis dan rapuh mulai meluruh.

Kau masih berdiam di sana laksana raja dunia.

Padahal mudah saja mencegah kehancuran total yang makin mendekat itu. Kau tinggal menyatukan dua pecahanan kristal yang cahaya magisnya menyangga seluruh kastil impian itu—kristal yang hancur akibat sihir yang kaulepaskan untuk menghabisi semua pesaingmu untuk memperebutkan singgasana merak itu. Semua itu terlambat ketika kau memilih untuk merasakan duduk di takhta yang baru saja kaumenangkan. Kau jadi takut kalau kau beranjak dari takhta itu, sesuatu akan merebutnya darimu. Kau pun tak rela meninggalkannya hingga penyangga kristal itu runtuh dan batu itu pecah seribu dan kehilangan nyalanya, ketika kastil itu kehilangan penyokong dan mulai runtuh, kau tak mau beranjak walau itu demi menyelamatkan nyawamu sendiri.

Sebagian orang menyebut kastil mimpi itu Kastil Bias, sebagian lagi menyebutnya surga dunia. Kastil itu hanyalah legenda, namun kau dan kawan seperjalananmu beruntung dan berhasil menemukannya. Begitu menginjakkan kaki melewati gerbangnya yang terbuat dari mutiara, kau tahu kau ingin tinggal di sana selamanya. Kalian masuk dan menjelajah, menemukan makanan lezat sudah tersaji di ruang makan megah dengan peri-peri yang memainkan nada-nada ceria, menemukan ranjang seempuk awan di bawah kanopi bertatahkan lapis lazuli di kamar-kamar nan mewah. Kalian menyusuri seribu lorong dan menemukan keajaiban dalam seribu ruangan Kastil Bias hingga kalian tiba di ruang singgasana tempatmu kini berada. Dan ketika kalian terkagum-kagum di hadapan takhta merak yang menyala dengan sinar nan agung, kalian tahu hanya satu orang yang berhak mendudukinya dan merajai surga itu.

Kalian beradu mulut, lalu kalian beradu sihir dan beradu senjata. Tak ada yang sudi mengalah, begitu juga dirimu. Kalian bertarung sampai lantai marmer sewarna pelangi itu tergenang darah yang juga menambah gelap permadani yang tergelar. Darah juga memercik menodai hiasan-hiasan tak bercacat. Perabot dan ornament jatuh berserakan.

Kalian terus bertempur. Terus hingga tinggal kau seorang yang belum menjadi jasad.

Singgasana itu jadi milikmu, tapi kau tak puas juga.

Kau masih takut. Takut peri-peri dan pelayan-pelayan yang menghuni surga itu mencoba merenggutnya darimu.

Namun mereka terlalu banyak, tersebar di seribu ruangan dan seribu lorong kastil itu. Karena itulah kau melepaskan sihir terkuatmu. Kau mulai merapal, melebarkan jangkauanamu hingga ke seluruh pelosok Kastil Bias. Sihirmu memburu dan laksana iblis mencabut nyawa makhluk-makhluk suci itu satu demi satu, sementara kristal cahaya di ruang singgasana itu berjuang agar bisa bersinar seterang mungkin, sekuat mungkin agar kastil itu tak cacat oleh sihirmu.

Kristal itu tak sanggup dan akhirnya terpecah dua sementara kau baru saja duduk di atas singgasana merak dan tertawa.

Mestinya kau masih sempat mempertemukan dua kepingan kristal itu, membiarkan cahayanya menyatu sebelum kastil itu mulai berguncang, namun hatimu dan benakmu masih dibiaskan oleh sihir keserakahanmu akan Kastil Bias itu, digerogoti rasa takut ada makhluk lain yang bisa merenggut dan menikmati kemewahan dalam cengkeramanmu.

Kau mencengkeram Kastil Bias itu terlalu kencang hingga surga itu remuk dalam genggamanmu, dan menyeretmu menuju akhir dari mimpi ‘indah’-mu.


message 22: by Shiki (last edited Feb 29, 2012 03:51AM) (new)

Shiki (Noirciel) | 772 comments AVATARS LAST RESORT

Era para Dewa akan berakhir – tidak ada Dewa yang keberatan dengan kenyataan itu. Mereka sudah tahu sejak awal penciptaan dunia oleh Dewa Pencipta, akan tiba saatnya mereka ‘pensiun’ dan menyerahkan dunia pada manusia. Tidak ada tanggal yang mutlak, tapi semua Dewa akan mengetahuinya jika kelak masa itu tiba. Dan sekarang, sekalipun para Dewa tiada dan digantikan oleh para Avatar – manusia-manusia terpilih yang mewarisi kekuatan para Dewa – sistem itu tetap ada.

Para Avatar yang menyadari ‘masa pensiun’ mereka telah dekat berkumpul di sebuah dimensi buatan yang tidak akan terusik oleh apapun – kecuali si pembuatnya menginginkan. Dimensi itu terasa sangat luas, terutama karena Avatar yang hadir tidaklah banyak; Penjaga Waktu, Penjaga Pengetahuan, Penjaga Perubahan, Penjaga Nadi Energi Planet, Penjaga Peradaban dan Penjaga Makhluk Liar. Setelah masa penciptaan dan awal dunia, memang cuma unsur-unsur itulah yang dianggap butuh perhatian lebih, sehingga tetap memiliki ‘Penjaga’, hingga saat ini.

Avatar tidak punya tetua atau pimpinan, sehingga pertemuan itu lebih seperti reuni dengan teman lama. Mereka juga tidak terlalu memusingkan hari-hari terakhir sudah mendekat. Toh tidak ada yang mengatakan mereka akan mati merana. Mungkin mereka cuma benar-benar pensiun, dalam arti kehilangan kekuatannya, dan kembali jadi manusia. Itu bukan hal buruk – setidaknya Seo, si penjaga perubahan beranggapan demikian. Semua rekan-rekannya mengangguk setuju, dan menyetujui ide Seo untuk menghabiskan waktu ‘terakhir’ bersama-sama. Jadi, kalaupun yang terburuk terjadi, setidaknya mereka tidak sendirian. Seo masih beruntung punya beberapa kenalan, tapi para Avatar lainnya rata-rata sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

“Tapi, kalau cuma pensiun begitu saja, rasanya sayang sekali...” Kyuo, Avatar Penjaga Pengetahuan mendesah setelah keheningan sesaat.

“...Jangan bilang kau mau melakukan hal-hal yang biasa dilakukan para tokoh Dewa antagonis di buku-buku bergambar itu...” Nao, sang Penjaga Waktu yang duduk di dekat Kyuo menanggapi pernyataannya. Di antara para Avatar, Nao termasuk veteran yang telah melalui banyak hal, sehingga tahu bahwa ‘kekuatan Dewa’ bisa jadi sangat menyusahkan jika sampai jatuh ke tangan yang salah.

“Apa, apa? Ada yang tidak setuju?” suara penuh antusias Seo langsung teredam oleh bunyi keras yang berasal dari sepatu salah seorang Avatar lain.

“Tutup mulutmu, bodoh. Biarkan Kyuo bicara dulu.” ucap Sylvio, si pemilik kaki dengan kalem.

“Adudu...” Seo meringis kesakitan. “Kan nggak perlu menendangku segala...”

Sylvio melengos, seolah berkata ‘salahmu sendiri’ dan berbalik untuk menatap Kyuo. Walau tidak seperti Seo, dia juga penasaran. Sebagai Penjaga Makhluk Liar – makhluk selain manusia dan ras-ras lain – dia memang sedikit meyayangkan jika kelak ada makhluk yang punah, dan terlupakan sama sekali keberadaannya dari Elda Rune.

“Jadi, kita kumpulkan kekuatan kita...sebagian saja, jangan sampai bisa dipakai untuk menghancurkan dunia – di satu tempat. Lalu... kekuatan itu kita atur sedemikian rupa sehingga bisa digunakan oleh orang yang menemukannya.”

“Kalau kau lupa,” Nao kembali menyela, “setitik kekuatan kita sudah bisa mengacaukan dimensi, lho. Kau ingat kan terakhir kali aku ikut campur, apa yang terjadi pada ras yang seharusnya kujaga?” Sulit diduga apakah dia masih berduka akibat insiden yang bersangkutan karena Nao mengucapkannya dengan wajah dan suara datar khasnya, tapi Seo yang sejak akrab dengannya tahu benar, peristiwa itu membuat Nao cukup trauma untuk ‘membantu’ manusia.

“Bukan, bukan. Bukan kekuatan dalam bentuk mentah. Tapi... dalam bentuk yang lebih bisa disentuh...dilihat, dan dipelajari...seperti...sebuah museum!” Kyuo berkata penuh semangat. Kemudian, tanpa diminta dia menjelaskan apa itu ‘museum’, bahkan menunjukkan proyeksi kenangan-kenangan museum yang dimilikinya pada rekan-rekannya. Para Avatar menyimak dengan tenang, sedikit antusias. Apalagi setelah Kyuo menunjukkan rancangan ‘museum’ yang telah disiapkannya.

Kristalisasi ide Kyuo berbentuk sebuah istana di tengah danau. Istana yang dikelilingi tembok bagaikan benteng pertahanan, namun begitu menginjakkan kaki ke dalam, pengunjungnya akan disambut oleh proyeksi hewan-hewan dan makhluk liar yang ada di dunia, dalam taman yang diatur sedemikian rupa agar menyerupai habitat mereka. Untuk para hewan airnya, bagian bawah tanah istana tersebut akan menjadi sebuah ruangan raksasa dengan dinding kaca, seperti sebuah aquarium raksasa. Peristiwa-peristiwa bersejarah akan menjadi lukisan-lukisan yang menghiasi setiap dinding istana, sementara semua yang dimiliki Kyuo bisa ditemukan dalam bentuk tulisan di perpustakaan istana, yang terletak di sayap barat. Tempat itu akan menjadi inti dari seluruh istana, karena bisa dibilang, semua yang pernah terjadi di Elda Rune akan tercatat di sana. Karena itu, ruang bacanya harus dibuat senyaman mungkin, dengan kursi dan meja, serta sofa yang bisa digunakan untuk mereka yang ingin beristirahat di sela-sela membaca.

“Isi ruangan-ruangan lain itu jatahmu, Vino,” Kyuo menatap si Penjaga Peradaban penuh harap. Kyuo tidak memberikan gambaran jelas, karena merasa Vino yang agak angin-anginan itu lebih suka jika tidak dikekang.

“Nggak salah,” Vino terkekeh.

“Kau mau?” tanya Kyuo. Pria berambut merah itu mengangkat bahu.

“Nggak masalah. Satu kamar satu Peradaban, cukup? Beri tahu kapan aku bisa mulai bekerja.” katanya sambil memukulkan kepalan tangannya ke telapak tangan satunya.

“Hei hei, kita ini mau membuat istana impian lho, bukan menghajar preman, jangan salah, ya.” kata Seo memperingatkan. “Dan sekedar meyakinkan, tugasku membangun istana itu, kan?” pria berambut perak itu menoleh pada Kyuo sambil menghindari sambitan sepatu dari Vino.

Kyuo mengangguk. “Tolong, ya? Aku tidak pintar mendesain. Lagipula, yang lebih sering berkeliling dan melihat yang unik-unik sebenarnya kan kamu.”

“Siap! Kalau begitu, ayo, siapa ingin dibuatkan apa, katakan padaku. Nao?” dia langsung menoleh pada pujaan hatinya.

“...Menara penuh roda gigi.” jawab Nao singkat. Sebelum dan sesudah menjadi Avatar dia menghabiskan waktunya di sebuah menara jam, dimana ratusan roda gigi adalah pemandangan sehari-hari. Seo tertawa meringis, ingin sekali mengomentari sikap datar Nao itu, tapi tidak ingin diberi jawaban yang lebih ketus lagi. Jadi, dia mengiyakan permintaan temannya, berjanji akan membangun sebuah menara jam yang indah di kastil, di belakang bangunan utama. Tempat yang pasti akan terlihat dari perpustakaan, karena pengunjung sebaiknya bisa mengetahui waktu pula.

“Tunggu,” suara itu menyela suasana riuh nan girang para Avatar. Seo menoleh dan tersenyum pada Jio, gadis bertubuh mungil yang sejak tadi membisu di pojokan. Seperti halnya Nao, Seo juga sangat menyukai si kecil ini. Terutama karena rambut merahnya yang mengingatkan Seo akan seorang teman lama.

“Kau mau request sesuatu, Jio?” tanyanya. Jio tidak mengindahkannya dan menatap Kyuo.

“Idemu bagus. Tapi, sekarang ada masalah. Memangnya membuat, lalu mempertahankan fungsi tempat dengan fasilitas seperti itu tidak butuh energi? Anggaplah kita menggunakan energi dari planet, memanfaatkan tempat yang ada, memangnya boleh!? Tempat-tempat dengan energi planet sebesar itu biasanya kan sudah digunakan untuk fasilitas atau sumber energi manusia.” ujarnya. Sebagai Avatar Penjaga Nadi Energi, dia tidak akan membiarkan ada penyimpangan alokasi energi seperti itu.

“Lho, justru disitu kan, giliranmu beraksi.” Seo membalas seolah dialah si pemrakarsa ide.

“Ha?”

“Begini, memang, biasanya jalur energi itu sudah pasti. Tapi ada pengecualian!” dengan gaya dramatis, Seo mengacungkan jarinya ke arah Jio. “Kamu itu kan selalu tersambung ke jalur utama energi. Jadi, asal kamu mau, bisa langsung bikin jalur baru! Jalur yang tidak mengganggu kehidupan makhluk lain – jadi, kalau bisa, buat di tengah gunung, ya?”

Jio melongo menatap Seo demi mendengar penjelasan ngawur itu sementara para Avatar lain pasang wajah seolah baru mendapat pencerahan luar biasa. Jio langsung merasa sewot untuk hal lain.

“Jadi kalian sejak tadi nggak mikirin sumber energinya!?”

“Lupa,” semua menjawab tanpa rasa bersalah.

“Dan kalian menyebut diri Avatar!?”

“Maaf, khilaf,” Kyuo tertawa.

“Jangan tertawa, bodoh!”

“Tapi kamu mau membantu, kan?”

“Memangnya kalian mau terima jawaban ‘tidak’?” Jio merutuk panjang-lebar, mengeluh tentang rekan-rekannya yang ngawur, termasuk dirinya sendiri yang memang tidak akan menolak permintaan mereka.

***
Segera setelah pembangunan usai, Seo dan Jio terkapar keletihan, tapi puas karena setidaknya mereka dapat kesempatan tidur berbantalkan paha Nao, yang memang tidak ada kesibukan seperti rekan Avatar lainnya yang tengah mengisi istana.

“Omong-omong...” Jio bergumam sambil menatap wajah Nao, yang sama sekali tidak mengubah paras sekalipun pahanya sedang ditumpangi dua kepala. “Kyuo bilang, ini mau diperuntukkan bagi manusia kan? Kelanjutannya bagaimana, tuh?”

“Maksudmu, promosinya?” tanya Seo tanpa membuka mata.

“Memangnya ini taman bermain! Tapi, begitulah... Maksudku, sudah jadi sebagus ini, sedih sekali kan kalau tidak ada pengunjungnya... Apalagi setelah kita...tidak ada nanti.”

“...Sebarkan kabar angin,” Nao, tanpa diduga, memberi usul.

“...Ide bagus, tapi... di tempat terpencil seperti ini...” Jio memilih sebuah pulau di tengah danau raksasa, yang terletak jauh di pegunungan untuk membuat jalur energi baru guna pembangunan istana. Peradaban terdekat mungkin sekitar 100 kilometer jauhnya dari sini. Bisa dipastikan tidak ada orang yang kemari selain penjelajah, atau memang tahu apa yang dicarinya.

“Serahkan padaku,” Seo membuka mata dan menunjukkan cengiran bodohnya. Walau tidak bisa melihatnya, Jio langsung dapat firasat kurang enak.

“Akan kusebarkan cerita seperti ini...” dia berdehem. “Tersebutlah sebuah kastil misterius yang membuat siapa pun yang masuk ke dalamnya tidak mau keluar lagi dan memilih untuk menetap selamanya di sana...”

“Stooop!” Jio memotong, bangkit dari pangkuan Nao. “Kenapa jadi kayak pembukaan cerita horor begitu!? Itu sih yang ada orang malah takut dan menghindar terang-terangan, kan!?”

“Tenang. Justru karena pembukaannya seperti horor itulah, orang pasti akan datang kemari! Sudah naluri dasar manusia, dilarang malah datang, kan? Lihat saja di cerita-cerita horor itu. Semua pasti malah akan tertarik datang kemari. Aku jamin.”

“...Terserah deh,” Jio menyerah, kembali merebahkan diri di pangkuan Nao. Tangan sang Avatar Waktu terulur untuk mengelus rambut merahnya yang halus, tampaknya bermaksud menghibur. Jadi, dia memejamkan mata dan berkata pada Seo,

“Kau yang urus semuanya, ya. Awas kalau gagal.”

“Setuju.” ucap Nao.

“Naooo!?” jerit Seo memelas. Tapi, tentu saja, gadis itu sama sekali tidak menanggapinya.

Jio terkekeh kecil mendengar percakapan keduanya, dan menyadari, pembukaan cerita Seo tidak sepenuhnya salah. Setidaknya, bagi dirinya dan Avatar lain yang tengah menunggu ‘hari akhir’ mereka. Tidak ada tempat sebaik ini untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir sebagai para ‘Penjaga’.


message 23: by Redtailqueen (last edited Feb 29, 2012 03:05AM) (new)

Redtailqueen | 90 comments KASTIL MADU DI PADANG BUNGAKACA



Sebentar lagi desa Firrentar akan mengadakan pesta Kabitsha, pesta untuk merayakan hasil panen Sarikristal yang melimpah setiap malam 444. Harusnya semua makhluk bersayap cahaya yang menghuni desa itu sedang sibuk mempersiapkan pesta. Tapi ternyata ada sekelompok remaja Firrentar yang menyelinap ke arah Hutan Semakduri. Salah satu di antara mereka tampaknya berusaha mencegah niat kelompok itu.

"Jangan Kak. Bagaimana kalau kita ketahuan? Kita pulang saja Kak. Nanti ibu akan mencari kita." Beeliza, remaja betina bersayap cahaya itu merengek pada kakaknya.

"Ssstt! Kalau kau tak berisik kita tidak akan ketahuan." Ferillo menegur adiknya.

"Jangan khawatir Beel, kita sudah membawa tombak kait dan memakai aroma Sarikristal. Kita akan aman di sana." Teman Ferillo yang bernama Kritto ikut menimpali.

"Benar. Aku yakin keluarga kita akan bangga saat kita pulang membawa Sarikristal yang banyak." Uranggo yang memimpin kelompok penyelinap itu membuat lorong dengan tombaknya sehingga mereka bisa masuk ke Hutan Semakduri. Teman-temannya terbang mengikutinya sambil berusaha menghindari duri yang bisa merusak sayap mereka. Beeliza masih merasa khawatir, perasaannya tidak tenang.


Bagi makhluk bersayap cahaya, Sarikristal yang disaring dari Bungakaca adalah makanan pokok mereka. Sejak dulu mereka berkelana mencari cairan manis itu sampai akhirnya mereka menetap di desa Firrentar dan mulai menanami Bungakaca mereka sendiri. Desa itu adalah tempat yang paling subur untuk pertumbuhan Bungakaca karena sinar Balonlangit paling terang di sana. Apalagi saat malam 443, Balonlangit akan bersinar 2 kali lebih terang dan pertumbuhan Bungakaca jadi melimpah. Itulah sebabnya makhluk bersayap cahaya membuat pesta Kabitsha untuk merayakannya pada malam 444.

Namun tadi pagi, tepat sebelum Balonlangit bersembunyi di ujung daratan, Uranggo yang sedang mengusir Kumbangtanduk dari perkebunan Bungakaca tak sengaja mencium aroma manis dari Hutan Semakduri. Setelah bersusah-payah membuat lorong pada duri untuk mengikuti aroma itu, akhirnya dia sampai di sisi lain Semakduri. Di hadapannya membentang padang luas dipenuhi ratusan Bungakaca!

Uranggo sangat gembira. Dia segera memetik beberapa Bungakaca cantik yang dipenuhi Sarikristal. Tapi dia harus waspada karena banyak Kumbangtanduk berterbangan di sekitarnya. Maka remaja jantan bersayap cahaya itu memutuskan akan kembali ke sana bersama teman-temannya saat malam ketika Kumbangtanduk beristirahat. Sekarang dia tahu mengapa orangtuanya selalu melarang mereka mendekati Hutan Semakduri.


"Kak, kita belum sampai?" Beeliza mulai mengeluh karena sayapnya sudah pegal.

"Bersabarlah sebentar lagi. Pegang ekorku saja supaya kau tidak jatuh." Ferillo yang juga lelah ikut merasa kesal mendengar keluhan adiknya.

"Bagaimana kalau Kumbangtanduk belum tidur Kak? Bagaimana kalau nanti turun badai air? Bagaimana kalau di sana ada Manusia?" Remaja betina bersayap cahaya itu tak diam, malah makin menyuarakan kecemasannya.

"Kau terlalu banyak mendengar dongeng, Manusia itu tidak nyata!" Kemarahan Ferillo meledak.

"Jangan khawatir Beel, aku akan melindungimu." Kritto yang terbang paling belakang mencoba mendamaikan mereka berdua.

"Ssstt! Kita sudah sampai." Uranggo menyibak lapisan cabang duri terakhir untuk membuka jalan keluar mereka dari Hutan Semakduri.

Kini empat remaja bersayap cahaya itu melayang di atas padang Bungakaca yang ditemukan oleh Uranggo. Ferillo dan Kritto sangat takjub melihat semua Bungakaca itu berkilauan di bawah sinar Balonlangit malam 444. Udara menari menyebarkan aroma manis Sarikristal di antara sensor penciuman ketiga remaja jantan bersayap cahaya. Hanya Beeliza yang tidak bisa mencium aroma itu karena sensor penciumannya tak berfungsi sejak menetas.

Tiba-tiba mereka diserang oleh puluhan Kumbangtanduk yang ganas! Beeliza yang tidak membawa senjata segera menelungkup ke darat sambil menutupi tubuhnya dengan kelima kelopak sayapnya. Sementara kakak dan temannya berusaha melawan Kumbangtanduk dengan tombak kait di udara. Desingan pertempuran mereka bergema hanya untuk beberapa saat. Secepat datangnya, para Kumbangtanduk juga cepat melarikan diri kalau pangkal tanduknya tergores. Setelah merasa cukup aman Beeliza pun keluar dari persembunyiannya.

Untunglah ketiga remaja jantan bersayap cahaya selamat, tapi sayang salah satu sayap Kritto terluka. Terpaksa mereka memapah Kritto ke sisi padang dekat lorong masuk dari Hutan Semakduri, Beeliza tinggal untuk menjaganya, sedangkan Uranggo dan Ferillo pergi mengumpulkan Sarikristal.

Cukup lama Beeliza dan Kritto menunggu, tapi teman mereka belum juga kembali. Padahal keadaan Kritto makin parah karena serbuk perak terus menyebar dari sobekan sayapnya. Beeliza sangat cemas, ramuan sisik api yang dibawanya tak cukup untuk mengobati luka Kritto. Maka remaja betina bersayap cahaya itu memutuskan untuk mengantar Kritto pulang ke desa, barulah dia akan kembali mencari dua remaja Firrentar lainnya yang masih tersesat di padang Bungakaca penuh bahaya.


Sekarang Beeliza terbang di atas padang Bungakaca, mengorbankan keinginannya untuk mengumpulkan Sarikristal demi menemukan kakak dan temannya. Perlahan suhu angin meningkat, Beeliza memutar matanya ke atas dan melihat Balonlangit telah tertutup kabut badai air! Satu per satu tetesan serat air berputar dan jatuh pecah di darat. Dengan panik Beeliza terbang rendah di antara pucuk daun Bungakaca untuk menghindari percikan pecahan badai air.

"Beel!" Tak disangka Uranggo muncul sambil membawa pucuk daun Bungakaca yang telah dipotong sebagai perisai.

"Kakak di mana?" Beeliza menanyakan keberadaan Ferillo.

"Entahlah. Tadi dia pergi ke arah sudut terbit Balonlangit. Ini, pakailah." Uranggo menyerahkan pucuk daun yang dibawanya pada Beeliza lalu memotong pucuk daun baru untuk dirinya sendiri.

"Ayo, kita pulang." Uranggo mempererat ikatan enam tabung penuh berisi Sarikristal manis berbagai warna yang membebani sayapnya.

"Tapi aku mau mencari kakak." Beeliza membantah.

"Mungkin dia juga sudah pulang ke desa. Berbahaya kalau kita tetap di sini."

"Tidak! Aku tak mau kembali sebelum bertemu kakak!" Remaja betina bersayap cahaya itu bersikeras.

Uranggo menghela napas. "Baiklah. Pegang ekorku."

Beeliza dan Uranggo terbang beriringan di antara badai air yang mulai berkurang. Sensor penciuman Uranggo mengikuti sumber aroma manis Sarikristal yang semakin wangi ke arah sudut terbit Balonlangit. Ketika kabut badai air mulai menipis, mereka berdua bisa melihat rumah madu bertingkat yang sangat besar dan berkilauan! Rumah madu bertingkat itu serupa Bungakaca raksasa dengan kelopak menjuntai mengelilingi tangga tangkainya. Sungguh mewah dan megah, seolah sinarnya bukan berasal dari Balonlangit di atasnya.

"Mungkin kakak ada di dalam sana." Beeliza menyuarakan firasatnya, namun Uranggo hanya diam tak menanggapinya.

Mendadak sesosok Kumbangtanduk melintas cepat di atas kepala mereka. Lalu bertambah satu lagi, dan tiga lagi, dan lima lagi, dan makin banyak Kumbangtanduk berkumpul memasuki celah merekah di puncak rumah madu bertingkat. Selain itu makhluk-makhluk lain juga bermunculan dan bergegas masuk ke sana. Ada Ulatlompat, Belalangkupukupu, Capungtornado, Kutilangkapas, Kadalbelang, Labalabakaret, dan masih banyak lagi makhluk yang pernah dan belum pernah dilihat Beeliza. Dia menarik Uranggo terbang lebih rendah agar mereka tak bertabrakan dengan makhluk-makhluk itu.

Entah kenapa Beeliza merasa ada yang aneh. Dia heran bagaimana semua makhluk itu bisa terbang dengan tertib ke dalam rumah madu bertingkat. Dia tak mengerti kenapa mereka semua tidak saling menyerang meskipun beberapa di antara makhluk-makhluk itu adalah musuh. Sepertinya ada kekuatan gaib yang menarik pergerakan mereka menuju rumah madu bertingkat.

Saat Beeliza membuka mulut untuk mengungkapkan kecemasannya, terdengar desingan teredam di belakangnya. Dia memekik, beberapa Ulatlompat dan Capungtornado baru saja dilahap Kembangtangkup! Kembang jelek beracun itu memanjangkan tangkainya dan menangkup makhluk apa pun yang terbang di atasnya lalu kembali masuk ke darat. Banyak makhluk yang belum masuk ke rumah madu bertingkat telah ditangkapnya. Beeliza berusaha terbang sejauh mungkin dari jangkauan Kembangtangkup, tapi Uranggo malah tertangkap!

"Uranggo! Uranggo!!" Seruan Beeliza sia-sia karena makhluk bersayap cahaya yang telah ditelan Kembangtangkup tak mungkin bisa kembali lagi.

Beeliza menangis. Dia tak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya. Sekarang dia sendirian tersesat di padang berbahaya itu. Kemudian dia ingat bahwa dia harus mencari kakaknya. Remaja betina bersayap cahaya itu menguatkan hatinya lalu terbang masuk ke dalam rumah madu bertingkat.

Meskipun rumah madu bertingkat itu tak punya jendela, tapi setiap dindingnya berpendar dalam sinar pelangi yang lembut. Beeliza terbang berputar menuruni tingkatan kelopak menuju pangkal bersama makhluk lainnya. Dia mulai mengerti, tampaknya semua makhluk itu tertarik memasuki tempat ini karena aromanya. Dia yakin Ferillo juga pasti ada di dasar rumah madu bertingkat ini.

Semakin dalam tingkatan kelopak semakin meluas hingga akhirnya berujung pada ruangan terang penuh berisi berbagai makhluk. Ada makhluk terbang yang punya paruh, ada makhluk merayap yang punya sisik, ada makhluk aneh lain yang berjalan dengan empat kaki, bahkan ada Manusia!

Sebuah bola gas bercahaya terletak tepat di pusat pangkal ruangan itu. Berbeda dengan Balonlangit yang berwarna pucat keperakan, bola ini berwarna merah cerah. Sinarnya terang namun tidak menyilaukan, begitu hangat sekaligus mengagumkan. Semua makhluk di dalam ruangan terpesona menatapnya. Beeliza tersadar dari hipnotis sesaat bola merah itu. Dia segera berkeliling mencari Ferillo. Remaja jantan bersayap cahaya itu berada di antara sekelompok Kumbangtanduk.

"Kakak! Syukurlah Kakak baik-baik saja. Ayo kita pulang Kak. Tempat ini aneh, aku takut." Beeliza memeluk kakaknya. Tapi Ferillo tak bereaksi, dia terus menatap bola merah tak berkedip.

"Kakak? Ada apa? Kakak bisa mendengarku? Apa yang terjadi padamu Kak?" Beeliza mulai menyadari keanehan pada kakaknya. Separuh tubuh Ferillo telah mengeras menjadi madu!

"Kakak! Jawablah aku Kak! Kritto sakit parah dan Uranggo dimakan Kembangtangkup. Pulanglah bersamaku Kak! Kakak!!" Serbuk tangisan Beeliza mengalir deras.

Tiba-tiba seluruh ruangan bergemuruh dan bergetar hebat. Beeliza masih menangisi kakaknya ketika tingkatan kelopak dan tangga tangkai perlahan tenggelam dalam darat. Setiap kelopak rumah madu bertingkat itu mengangkasa melingkupi rekahan di puncaknya. Sampai akhirnya Balonlangit bersembunyi di ujung daratan, rumah madu bertingkat itu telah terbenam sepenuhnya bersama semua makhluk di dalamnya.


Sementara itu di desa Firrentar, Kritto dimarahi oleh para tetua karena sudah melewati Hutan Semakduri yang terlarang. Mereka bercerita bahwa sebenarnya pesta Kabitsha hanyalah pengalih agar tidak satu pun makhluk bersayap cahaya mendekati hutan itu. Setiap malam 444, sebuah kastil madu misterius yang bersinar akan muncul bersama padang Bungakaca disertai badai air. Siapa pun yang masuk ke sana tidak akan mau keluar lagi karena tertarik pada aroma manis dan sinar bola merah di dalamnya. Tapi itu adalah jebakan, wujud sebenarnya adalah Kembangtangkup Raksasa! Itu artinya semua makhluk yang masuk ke sana akan menjadi santapannya.

Kini mereka menyesal tidak memberitahu kebenaran itu sebelumnya. Desa Firrentar berduka, mereka kehilangan tiga remaja bersayap cahaya. Sejak saat itu pesta Kabitsha menjadi peringatan kematian Uranggo, Ferillo, dan Beeliza. Mereka semua berharap pada malam 444 berikutnya kejadian ini tidak akan terulang lagi.[]


message 24: by Debrina (last edited Feb 28, 2012 03:07PM) (new)

Debrina | 13 comments KASTIL RAJA ARAMNON (A)

“Anak muda, kudengar kau cari jalan ke kastil terkutuk itu.” Sambil menyapaku, pria brewok dan gendut ini langsung duduk di kursi kosong seberang mejaku. Suaranya yang kasar terdengar keras walau di tengah Bar yang ramai. “Kusarankan kau pulang saja!! Harta kastil itu milik kami!!”

Si brewok ini memang sedari tadi memperhatikanku dari meja besar di ujung bersama gerombolannya. “Aku tidak tertarik dengan harta.” jawabku singkat

“Gwahahaha !! Omong kosong !! Untuk apa lagi pergi ke kastil terkutuk itu kalau bukan untuk harta!” Sambil menuang minuman dari botol anggurku ke gelasnya “Asal kau tahu, kastil itu peninggalan Raja Aramnon, Raja terkaya sepanjang sejarah di benua ini. Ketika Raja Aramnon mati di medan perang, kerajaannya hancur tapi tidak ada musuh yang dapat keluar hidup-hidup dari kastil itu....demikian juga harta miliknya.”

“Aku sudah tahu sejarah kastil Raja Aramnon.” Aku segera berdiri meninggalkannya, si brewok mulai bertingkah menyebalkan.” Dan seperti yang sudah kukatakan, aku tidak berminat dengan harta.”

“Hei mau ke mana kau? “ Kawan – kawan si brewok menghalangi langkahku.

“Pelayan ! Ambilkan lagi anggur !” katanya kepada para pelayan bar yang terlihat cemas.

“Tapi Tuan....anda belum membayar.. anggur kemarin” kata seorang pelayan kecil yang memberanikan diri melawan.

“Hei kau ! berani melawan Gerombolan Kain Merah. Cari mati ya !” tangannya hendak memukul pelayan kecil itu tapi berhasil kutahan.

Segera tangan kanan si brewok kupuntir ke belakang badannya dan si brewok berteriak kesakitan. “Aaaah Lepaskan !! Ampuuun ...”

Tentu saja tidak kulepaskan. Aku giring dia sebagai tameng di depanku. Gerombolan kain merah yang hanya 5 orang itu terlihat terkejut dan mundur sesaat.

Pengunjung bar lainnya segera berlarian keluar karena tak ingin terlibat. Dari sudut mataku kulihat salah seorang anggota gerombolan mengambil kursi dan mengayunkan ke arah kepalaku, segera kuhindari dan kursi itu menghantam telak kepala si brewok.
Kulepaskan si brewok yang pingsan dan kutendang perut si pelempar kursi yang lengah. Ia membungkik kesakitan sementara 2 orang lainnya berusaha memukulku. Dengan sigap kuhindari dan kubalas pukulan mereka. Dan teman satunya .... tentu saja kabur sekuat tenaga ke luar bar. Tak percuma aku menjadi preman di desa, skill bertarung memang bermanfaat saat berpetualang seperti ini.

“Maaf ya dik, bar ini jadi kacau.” Kataku pada pelayan cilik yang gemeter itu.

“ANDRI !! Apa yang kau lakukan !” Aku segera menoleh ke arah pintu masuk dan Yuda teman seperjalananku sudah berdiri di pintu masuk dengan wajah cemas.

“Oh .. hai Yuda, ke mana saja kau?” jawabku santai.

“Apanya yang ‘hai’!!, baru juga kutinggal sebentar kau sudah bikin kekacauan!” Kata Yuda sambil marah-marah seperti biasa. Kadang aku kasihan melihatnya, sepertinya dia sakit darah tinggi padahal usianya masih belum 25 tahun. “Aku sudah bilang, kau tunggu di sini sambil minum anggur sementara aku cari info ke penduduk kota ini. Kenapa kau malah menghancurkan Bar dan membuat pengunjung lain kabur.”

“Om ! Jangan marahi Tuan ini! Dia menolong aku.” kata pelayan kecil itu membelaku

“Aku baru 22 tahun tauuu !! Siapa yang Om !!” Yuda semakin emosi.

“Hush ! ngapain sih kamu marah sama anak kecil. “kataku menenangkan “Sudah, kita pergi saja balik ke losmen. Besok kita coba lagi tanya di tempat lain”

“Dik, ini uang ganti rugi untuk kekacauan di bar ini ya” Aku meninggalkan sekantung uang perak pada pelayan kecil lalu meninggalkan bar yang mulai ramai kembali.

Kota ini tidak terlalu besar, tapi sangat ramai. Karena kastil terkutuk Raja Aramnon dekat sekali dari kota ini. Para petualang dan pemburu harta banyak sekali yang singgah di kota ini sebelum berusaha menjarah kastil itu. Banyak dari mereka yang gagal mencapai kastil, karena hutan ilusi yang mengelilingi kastil itu tak mudah ditembus. Dan yang berhasil masuk ke kastil itu tidak pernah kembali untuk bercerita.

“Tuaan ......tunggu !!” dari kejauhan pelayan kecil itu berlari-lari mengejarku dan Yuda.

“Ada apa nak?” tanyaku heran.

“Tuan mencari jalan menuju ke kastil ya?” kata pelayan kecil sambil berbisik

Aku mengangguk

“Aku tahu jalan menuju ke sana. Karena tuan sudah menyelamatkanku, aku akan antar tuan ke sana.”

***

Kami bertiga mulai berjalan memasuki hutan. Aku dan Yuda yang membawa ransel mengikuti pelayan kecil menembus hutan. Semakin lama suasana semakin gelap, pepohonan semakin banyak. Sambil berjalan, Yuda berusaha menginterogasi anak kecil ini. Terus terang kami curiga, kenapa anak kecil ini bisa tahu jalan menuju ke kastil terkutuk.

“Hei nak, benar nih kamu pernah berhasil menembus hutan ini sampai ke kastil ?” tanya Yuda.

“Iya om, sebenarnya ... semua penduduk asli kota tahu jalan untuk menembus hutan ilusi menuju ke kastil Raja “ jawab pelayan kecil itu sambil tersenyum. “Dan kami diperbolehkan memberi tahu pada orang yang pantas.”

“Ooh ..hahaha” Yuda terkagum dan tertawa senang. “Hey Andri, mungkin dengan begini aku bisa menemukan Yudi, adikku”

“Menemukan adiknya om ?”

“Hei, anak kecil ! Sudah kubilang aku bukan Om!!” kata yuda mengomel.

“Ya, kami ke kastil mau mencari adik Yuda yang 5 bulan lalu pergi dari desa.” jawabku “Ia pergi ke kastil untuk mencari obat untuk ayah mereka. Di desa, tersebar berita di dalam kastil itu tumbuh pohon ajaib yang buahnya mampu menyembuhkan segala penyakit.”

“Tapi adikku tidak kembali ...” kata Yuda dengan sedih. “Ayahku juga sudah meninggal sebulan yang lalu.”

“Wah..saya ikut sedih, om. Semoga om bisa menemukan adiknya.”

“Heii!! Siapa yang Om !!” Yuda tidak terima dan berusaha menangkap pelayan kecil yang lari sambil tertawa. Bisa – bisanya dia digoda anak kecil. Kuperhatikan Yuda yang kejar-kejaran sambil geleng geleng kepala.

“Hei Andri !! Cepat kemari !” Yuda memanggil dari kejauhan “Kita sudah sampai di depan kastil.”

Kastil Raja Aramnon. Kastil itu kini berdiri di hadapan kami. Dindingnya yang putih menjulang tinggi, halamannya yang luas dilapisi Sandstone terbaik . Taman depannya dihias oleh pohon yang rindang dan penuh dengan semak bunga berwarna warni. Benar benar indah dan tak terlihat seperti bayanganku akan istana yang ditinggalkan oleh Rajanya 50 tahun yang lalu.
Jendela kaca nya tak ada satupun yang pecah, tidak ada tanaman liar yang merambati dindingnya, bahkan air mancur yang barusan kulewati di halaman depan ini juga tidak berlumut dan memancarkan air yang jernih.

Sayup sayup terdengar suara tawa yang ceria dan obrolan orang dari balik pintu gerbang.

Yuda dengan bersemangat segera berlari menuju ke pintu gerbang kastil yang terbuat dari kayu jati yang besar, sambil memanggil nama adikknya “Yudi ! Yudi! Aku datang menjemputmu!! “

Yuda segera mendorong pintu besar , tetapi ketika kami memasuki hall utama kastil ternyata ruangan itu kosong... sunyi .. suara ramai yang tadi kami dengar lenyap dalam sekejap.

“Dri .. ta..tadi kan ada suara ...kok sekarang .... “katanya sambil gemetar ketakutan.

“Hei nak ...” tapi pelayan kecil itu tidak tampak di manapun. Ketika aku menoleh ke belakang untuk mencarinya tiba-tiba pintu gerbang kayu itu tertutup sendiri dengan keras.

“HEI, BUKA !! KELUARKAN KAMI !!” Dengan ketakutan Yuda menarik dan menggedor pintu. Tapi pintu itu begitu kokoh dan tak bisa dibuka dengan tenaga kami berdua.

“Kita coba jendela di lantai dua?” aku memberi usul, mungkin kita bisa lompat dari jendela, dan di hall lantai satu ini tidak ada jendela. “tapi kita harus menaiki tangga utama itu dan masuk ke dalam istana.”

Yuda yang ketakutan terduduk lemas di karpet merah hall dan bersandarkan pintu. Aku tahu ia pasti tambah takut memasuki istana lebih dalam lagi. Tapi kalau tetap diam di sini kita juga tak bisa keluar dan tak bisa menemukan Yudi.

“Kemana perginya bocah pelayan itu ya?” tanya Yuda

“Entahlah” jawabku “Kupikir dia tadi mengikuti kita masuk ke dalam kastil ini.”

“Apakah ia menjebak kita?” kata Yuda semakin cemas “Kau ingat, cerita di kota soal orang orang yag tidak kembali setelah memasuki kastil ini.Di sini pasti ada ‘sesuatu’ yang berbahaya”

Aku tidak menjawabnya. Suasana yang sunyi sudah cukup membuat merinding.

“Andri, apa kau tahu kenapa Yudi yang pergi mencari obat untuk ayah? Padahal aku anak yang tertua.” tanya Yuda sambil berdiri.

“Hm, karena kau gampang ketakutan?” jawabku.

“HUH ! Aku benci, kalau kau terlalu terus terang begini !”kata Yuda sambil tersenyum dan memukul pundakku “Sudah ! Kau yang di depan ya.”

Kami segera naik melalui tangga utama yang beralaskan karpet merah yang lembut. Sebenarnya interior istana ini tak kalah indahnya dengan suasana halaman depan. Lampu gantung kristal dan lukisan mural yang indah menghiasi langit – langit setinggi 12 meter, lukisan potret yang dilukis pelukis terkenal dengan bingkai emas di sepanjang dinding, railing tangga yang diukir oleh ahli tembaga pilihan, hiasan bunga segar yang harum di sudut ruangan. Sinar matahari senja yang masuk lewat kaca jendela di lantai dua membuat ruangan ini sama sekali tidak terlihat seperti kastil yang telah ditinggalkan. Tapi suasana sunyi dan hawa yang dingin membuat bulu kuduk berdiri.

Jendela di lantai 2 yang pada awalnya kusangka dapat menjadi jalan ke luar ternyata dilindungi dengan teralis berukir yang kokoh, kami berdua tidak dapat menariknya.

“Bagaimana ini Andri “ kata Yuda sambil tersegal segal kepayahan “ Hari semakin gelap dan di sini dingin sekali”

“Hah .. hah ....bagaimana kalau kita coba cari selimut atau mungkin ada perapian di salah satu ruang ?”

Yuda mengangguk pasrah. Kami segera menuju ke salah satu ruangan di dekat tangga, ketika kubuka, ruangan itu berupa ruang tunggu yang mewah. Ketika kami hendak memasuki ruangan itu tiba-tiba pintu depan terbuka dengan keras dan terdengar suara ribut.

Aku dan Yuda segera mengintip ke hall bawah sambil berlindung di balik dinding. Siapakah yang datang memasuki istana.

“Gyahahaha !!” aku melihat si brewok bersama sekitar 10 orang yang memakai kain merah di kepalanya datang memasuki kastil dengan wajah penuh nafsu “Gerombolan Kain Merah datang untuk mengambil harta !!”

“Hahaha !! Benar bang ! Harta kastil ini semuanya milik kita!” kata anggota gerombolan yang giginya ompong. Di pelukan si ompong aku melihat pelayan kecil pemandu kami sedang meronta-ronta.

“Huh! Tidak rugi kita mengikuti si brengsek.” kata anggota gerombolan yang kurus. “Awas saja Kalau ketemu akan kubalas tendangannya.”

Sepertinya akulah si brengsek yang mereka maksudkan. Karena terlalu bernafsu mencari harta mereka tidak menyadari bahwa pintu depan menutup dengan sendirinya.

“Hei anak kecil!” kata si brewok pada pelayan kecil yang terikat “Capat tunjukkan kami kamar harta!”

Pelayan kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. “Aku tidak tahu”

“Jangan bohong kau !! Cepat katakan !” BUGH ! si ceking memukul pelayan kecil itu dengan kasar sambil menodongkan pisau lipatnya.

“Heei, kau pukul dia sampai pingsan begini. Mana bisa dia menjawab.” kata anggota yang gondrong.

“Kak, kita cari sendiri saja, toh istana ini kosong.” usul anggota kain merah lainnya.

“Ya sudah. Dasar anak kecil nggak berguna.” kata si brewok lalu menunjuk salah satu temannya untuk diam di hall menjaga pelayan kecil sementara yang lain pergi menyebar ke dalam kastil mencari harta yang entah ada di sisi mana.

Salah satu dari mereka naik ke atas menuju ke arah kami. Aku dan Yuda segera masuk ke dalam ruang tunggu untuk sembunyi. Yuda bersembunyi di balik tidai jendela yang tebal sementara aku bersembunyi di sofa yang membelakangi pintu. Sebelumnya kami sudah membawa tongkat yang kami temukan di samping perapian. Lebih baik mereka diserang dengan gerilya saja, kami kalah jumlah.


message 25: by Debrina (new)

Debrina | 13 comments KASTIL RAJA ARAMNON (B)

Setelah melumpuhkan satu orang, Aku dan Yuda segera turun ke bawah dan menghajar anggota Gerombolan untuk membebaskan pelayan kecil.

“Hei ! Kau baik-baik saja nak?” tanya Yuda.
Tapi pelayan kecil itu tidak menjawab, rupanya ia masih pingsan.

AAARRGHH!! GRUBAAK!! BRAAK!! TOLOONG!

Dari kejauhan terdengar suara yang amat ribut dan teriakan anggota Gerombolan kain Merah dari kejauhan. Sepertinya mereka sedang dalam kondisi bahaya.

BRUK! AAAHHH!! TIDAAK!!BRAK!

Setelah beberapa saat tiba tiba keadaan sunyi senyap kembali.

Aku dan yuda berpandang-pandangan. Apakah sebaiknya kita pergi memeriksa atau tidak. Karena kami tidak bisa membayangan ada bahaya apakah di depan yang menyerang Gerombolan Kain merah itu.

Tiba tiba dari kejauhan terdengar suara musik.

“Hiii ......ka ... kau dengar itu?” Kata Yuda ketakutan “Sepertinya dari lantai atas”

Aku mengangguk “Beethoven – Fur Elise, musik ini sering didengarkan oleh Raja Aramnon ketika bersantai di ruang baca. Raja Aramnon meletakkan Grand Piano di ruang bacanya dan pasti ada orang yang memainkan lagu ini di sana. Kita harus mencari ruang baca”

“Kau tahu darimana?” tanya Yuda kagum

“Aku kan suka sejarah. Dan aku mendengarkan Pak Guru sementara kau tertidur” jawabku sambil tersenyum. Lalu segera menuju ke sisi barat kastil untuk menuju perpustakaan. “Raja Aramnon sangat suka membaca dan seluruh area barat kastilnya adalah perpustakaan. Terbesar di seluruh benua”

“Bagaimana dengan sejarah tentang pohon ajaib yang buahnya bisa menyembuhkan segala penyakit?” tanya Yuda
“mungkin kita bisa temukan Yudi ada di sana !”

“Tidak ada.”jawabku “Di sejarah tentang kastil ini, tidak pernah ada cerita soal pohon ajaib. Itu hanya rumor.”

Kami segera menuju ke area barat kastil sambil menggendong pelayan kecil yang masih pingsan. Musik terdengar makin terdengar jelas seiring langkah kami mendekati area barat dan akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu besar dari kayu berukir.

Sambil berdebar kudorong pintu itu dan kami terkagum dengan pemandangan di hadapan kami.

Cahaya rembulan yang menembus langit langit yang terbuat dari kaca dengan frame besi berukir menyinari seorang putri cantik berambut pirang panjang yang memainkan piano sambil tersenyum lembut. Beratus ratus rak buku berjajar rapi menjulang sampai ke langit langit yang tinggi, dan beribu ribu buku tersusun rapi di masing masing rak. Semua mengelilingi piano yang terletak di tengah ruangan. Perapian menyala dengan api yang hangat, beberapa orang dengan jubah panjang duduk di sofa dekat perapian sambi membaca dengan tenang, beberapa orang berjubah lainnya sedang menikmati suara piano yang mengalun lembut.

“Selamat datang, pengembara.” Sapa salah seorang berjubah kepada kami.

Aku dan Yuda yang termenung keheranan tidak segera menjawabnya. Ia segera mempersilahkan kami duduk di sofa yang dekat dengan piano dan merebahkan pelayan kecil yang pingsan di dekat perapian.

Setelah putri cantik itu menyelesaikan satu lagu, salah seorang berjubah menggantikannya bermain piano. Putri itu mendatangi dan duduk di sofa di seberang tempat kami duduk.

“Selamat datang di istana pengetahuan, wahai pengembara.” Salam sang putri dengan suara lembut “Saya Magnolia. Penjaga Istana ini.”

“Putri Magnolia ? Yang Mulia Magnolia Sersis Emeraldine Aramnon ? Bukankah anda putri pertama Raja Aramnon.” tanyaku.

“Sudah lama tidak ada yang memanggilku dengan nama lengkapku.” kata sang putri sambil tersenyum senang. “Andrian Duvis, anda pengembara terpelajar yang luar biasa.”

“Da..darimana anda tahu nama saya?”

“Ya. Ini aneh sekali.”kata Yuda “Ada apa dengan kastil ini? Mengapa kami tidak bisa keluar dari sini dan apa yang terjadi dengan Gerombolan itu?”

“Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang ingin kau tanyakan padaku , Pengembara Yuda.” Jawab sang putri.
Yuda terdiam.

“Kastil ini dibuat oleh seorang magician dengan perjanjian dengan ayahku. Istana ini hidup dan memiliki cara sendiri untuk melindungi apa yang berharga bagi pemilik istana ini. Apa yang terjadi dengan orang – orang yang menerobos masuk dan berusaha mengambil yang bukan bagiannya pun tak ada faedahnya bagimu bila kau mengetahui nasib mereka.”

“A..adikku.” Yuda bertanya tapi tak berani menatap wajah sang putri “Apakah adikku bernasib seperti mereka? “

Sang putri hanya tersenyum. Dari belakang pundak Yuda ditepuk oleh salah satu orang berjubah dan ditunjukkannya pelayan kecil yang telah tersadar dari pingsannya dan pelayan itu tidak kecil lagi. Ia menjadi besar dan Yuda pun mengenali wajahnya

“Yudi ...” Yuda segera menghampiri dan memeluk adiknya.

“Kau telah menyelesaikan tugasmu, wahai pengembara Yudi.” kata sang putri.”Sebagai ganti obat yang tidak pernah ada, kau memohon harta. Persyaratan untuk membawa seorang pengganti juga telah engkau penuhi.”

“Seorang pengganti?”tanya Yuda kebingungan.

Putri Magnolia tersenyum menatapku. Sepertinya ia mengetahui apa isi hatiku dan tujuanku mendatangi kastil ini sejak semula.

“Bolehkah aku tinggal di istana pengetahuan ini, Yang Mulia?” tanyaku

“Apakah engkau telah siap dengan harga yang harus engkau bayar?” tanya sang putri. “Menjadi penghuni istana pengetahuan berarti mengabdikan seluruh hidupmu bagi pengetahuan untuk selamanya, meninggalkan keluargamu, meninggalkan temanmu, dan meninggalkan dunia.”

“Aku tidak punya keluarga. Dan Yuda teman baikku pasti mengerti.” jawabku tanpa ragu. Aku sudah tahu, putri Magnolia seharusnya sudah berumur lebih dari 70 tahun, tetapi ia masih terlihat seperti berumur 20 tahun, seperti saat meninggalnya Raja Aramnon. Menjadi penghuni istana ini berarti menjadi abadi bersama pengetahuan dan selamanya tinggal di sini.

“Yah, aku sudah tahu. Kau tidak tertarik dengan harta.” kata Yuda maklum “tapi kau tertarik dengan buku-buku dan pengetahuan ini.”

Kemudian aku menghantar kepergian Yuda dan Yudi yang pulang ke desa sambil membawa beberapa emas sampai ke halaman depan kastil.

“Selamat tinggal, kawanku.” Kata Yuda sambil tersenyum “Aku ikut senang kau mendapatkan apa yang kau impikan. Semoga kau bahagia di sini dan aku sangat berharap kita dapat bertemu lagi. Akan kutunjukkan sawah luas yang kubangun dengan emas ini, sehingga tidak ada lagi orang desa kita yang mati kurang gizi seperti ayahku.”

“Ya. Mungkin suatu saat aku akan datang ke lahan pertanianmu yang baru.”jawabku sambil tersenyum “Tapi mungkin dengan wujud lain.”

Lalu aku memperhatikan mereka yang berjalan ke arah matahari terbit. Dan aku pun memakai jubahku dan memasuki rumah tinggalku yang baru dengan langkah penuh semangat.

~FIN~


message 26: by Zainal (last edited Feb 29, 2012 12:12AM) (new)

Zainal Arifin | 2 comments Karnaval Sunyi

Hidup ini seperti perputaran menjemukan terkadang. Kau menjalani hidup yang sama dan sama lagi, sekalipun harinya berbeda, sekalipun tanggalnya berbeda. Itulah yang dialami oleh Erda Curve sang pewaris kekayaan dari keluarga Curve. Hidupnya penuh dengan keteraturan dan segala manner. Seperti pagi ini, dia telah siap di meja makannya dengan hidangan pagi. Bisakah kalian mencium aroma makanannya? Hmm..hidangan yang disajikan di atas meja kayu jati tersebut sebenarnya merupakan kuliner dengan citarasa yang sukar dicarikan padanannya dalam kata. Tapi Erda Curve sedang tidak berselera untuk menyantapnya. Sensasi keengganan yang sama selama 5 hari terakhir.

Kentang, kambing guling, telur, kacang, dan susu panas merupakan menu yang tersaji tepat jam 7 pagi ini. Matahari telah memberkas membentuk spektrum diantara kaca pantri kastil tua ini. Erda Curve dengan mata jengah menatap pisau dan garpu di piring porselen bersama dengan kuliner yang terhidangkan. Dengan wajah canggung Aldredo si pelayan pribadi dari Erda Curve berdiri tidak jauh dari kursi kayu berukiran rumit yang ditempati anak berwajah pucat itu.

“Katakan kepadaku Aldredo, apa agendaku hari ini?” tanya Erda sembari memukulkan garpu ke piringnya pelan.

“Hari ini, jadwal Anda adalah belajar ilmu sejarah jam 8 pagi, lalu jam 10 pagi belajar ilmu ekonomi. Pada jam 12 siang, Anda makan siang, lalu berburu dari jam 1 siang hingga setengah tiga. Pada jam tiga, ada pertunjukan musik di taman kastil hingga jam 4. Sisa hari Anda boleh memanfaatkan waktu sesuka Anda. Begitulah jadwal Anda hari ini tuan Erda Curve,” tutup Aldredo dengan arah mata yang tertuju pada bayangan sang tuan.

“Kelihatannya membosankan,” muram suara dari Erda.

“Tapi Anda harus menjalani jadwal-jadwal tersebut. Anda adalah pewaris tunggal dari keluarga Curve dengan segala kemegahan dan tanggung jawab di belakangnya,”Aldredo mengkonfirmasi gulana dari anak bermata cokelat ini.

“Ya, aku tahu itu Aldredo. Bisakah kau tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sarapan tanpa diganggu.”

“Baik tuan,” jawab Aldredo sembari membungkukkan badan.

“Dan Aldredo…, tolong tutup pintunya, aku membutuhkan lebih kehangatan di ruang ini.”
***

Rinkel adalah guru sejarah yang linglung. Dia kerap lupa tentang segala detil dari pelajaran sejarah. Sebagai gantinya dia malah lebih banyak menarasikan kisah sejarah seperti kisah dongeng. Rinkel seperti si penutur dongeng yang akan dengan mata lahap didengarkan oleh anak-anak yang merindukan kisah-kisah mitologi. Tapi tidak dengan Erda Curve, dia adalah seorang yang senantiasa skeptisme dan satire. Menanggapi kisah-kisah dari Rinkel, dia akan mengkonfrontirnya dengan tumpukan buku sejarah yang pernah dibacanya. Dan Rinkel akan mengelus-elus janggutnya pertanda dia bingung tentang keluasan pengetahuan dan daya jangkau bacaan dari anak berumur 12 tahun ini.

Kesne adalah guru ekonomi yang praktis. Erda sering bertukar pendapat dengan Kesne tentang rupa-rupa permasalahan. Erda si kutu buku kerap menyanggah pendapat Kesne tentang segala varian ilmu ekonomi. Kesne biasanya tersenyum dan berkata, “Tak semua kebenaran ada di buku yang ditulis itu. Para cendekia harus sering-sering turun dari menara gadingnya dan menapak ke bumi.”

Setelah makan siang, Erda pun bersiap untuk berburu. Seperti biasa mereka berburu dalam kelompok. Segala macam persiapan berburu telah siap. Tombak, panah, kuda, jaring, teropong, pedang, baju pelindung – kau harus bersiap dengan segala kemungkinan. Total ada 5 orang yang bergabung dalam kelompok berburu. Pimpinan berburu adalah Torva. Perawakan Torva sendiri tidaklah tinggi besar, dia adalah sosok yang malahan kurus. Tapi jangan kalian tanyakan kecepatan, kegesitan, dan naluri membunuhnya. Dia akan merubuhkan binatang buruan bahkan ketika kalian masih berpikir langkah apa yang tepat untuk menghadapinya.

Area buruan sendiri berada di hutan Fangeon yang berada di sisi utara dari kastil. Di hutan Fangeon sendiri masih terdapat banyak satwa dan pohon-pohon tinggi yang seakan menghalau sinar matahari. Seperti semesta yang asing, begitulah hutan Fangeon.

Mereka berlima pun memacu kudanya cepat-cepat. Memukulkan debu ke udara, melewati padang rumput yang menghijau. Binatang yang akan mereka buru ialah kijang. Kijang adalah binatang yang cepat dan jika kau dapat, maka dagingnya akan dapat menjadi hidangan makan malam yang lezat. Erda Curve sendiri merupakan seorang pemburu yang menurut Torva terlalu percaya diri. “Kau harus mengecilkan kepalamu untuk menjadi pemburu yang hebat, begitu yang diujarkan Torva menyikapi sombongisme yang menyembul di diri Erda.

“Kau harus tahu hewan pun memiliki intelegensi. Hewan juga akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Bukankah semua makhluk hidup akan berdaya upaya untuk tetap hidup? Dengan segala cara, dengan segala upaya. Sekalipun langkah yang ditempuh ialah cara pengecut dan anomali,” Torva dalam salah satu sesi perburuan pernah bernarasi seperti itu.

Kuda-kuda yang memasuki hutan Fangeon telah memasuki bagian lebih dalam dan sunyi dari hutan tersebut. Hal itu dapat dilihat dari semakin pekatnya cahaya yang terberkas. Sementara mereka belum mendapatkan buruannya.

Torva turun dari kudanya dan mencoba untuk melacak jejak kemana kiranya kaki kijang melangkah. “Aku rasa cukup untuk hari ini tuan Erda. Ada kalanya keberuntungan tidak berpihak kepada panah-panah kita,” Torva membujuk untuk menghentikan perburuan dan kembali ke kastil.

“Baiklah kita kembali,” ujar Erda dengan nada pelan.

“Tapi jika kalian bisa mengejar laju kudaku haha..,” tantang lantang Erda kepada empat orang kawanannya.

“Bagaimana ini?” tanya seseorang dari kawanan itu.

“Tentu saja kita harus mengejar dan mendahuluinya,” ungkap Torva lalu meloncat ke kudanya dan memacunya keras-keras.

Angin, udara, sejenak kebebasan ini. Sensasi itulah yang dalam waktu sekejap dirasakan oleh Erda Curve setelah melepaskan diri dari empat rekan pemburunya itu. Kehidupan di kastil dengan segala ritme dan keteraturannya telah mengantarkannya semenjak 5 hari terakhir pada limit kejemuan. Dan disinilah dia. Memacu kuda di hutan Fangeon. Merasakan kebebasannya. Berada pada chaos. Memberontak dari sistem yang selama ini mengatur pola hidup kesehariannya. Tawanya belum pernah selepas ini. Ada letupan kebahagiaan yang menyeruak.

Sampai dia tidak tahu dimana posisinya kini berada. Sialnya hutan Fangeon ialah seperti labirin enigma. Hutan ini seperti memiliki intelegensi tersendiri. Dan menolak tunduk pada hukum alam yang berlaku. Dan kini Erda tersesat. Apa pilihan yang dimilikinya? Meminta tolong dengan berteriak, bukan opsi yang akan ditempuhnya. Dia akan menemukan jalan keluarnya sendiri. Maka Erda pun melajukan kembali kudanya sembari mengingat segala lekuk tanda dari pepohonan yang dilewatinya.

Pada bukaan jalan menurun ia bertemu kijang dengan mata tajamnya. Paling tidak aku akan pulang dengan kejutan menggotong kijang ini, pikirnya. Maka dia pun dengan gerakan perlahan turun dari kudanya. Merayap mendekat seolah tanpa jejak di tanah. Dalam jarak pandang yang dekat, Erda bersiap dengan panahnya. Busur yang siap untuk dilepaskan, berhitung, sensasi adrenalin. Semua itu langsung buyar ketika sebuah batu kerikil dilemparkan oleh seseorang hanya 50 cm dari kaki depan si kijang. Kijang pun berlari dengan cepat membuyar dari pandangan.

“Kau tak seharusnya membunuh disini. Hanya untuk kesenangan. Bukan untuk bertahan hidup. Dunia ini punya keseimbangan.”

Kata-kata itu keluar dari mulut anak berwajah jenaka yang rupanya melempar kerikil ke arah kijang itu.

“Siapa kau? Aku Erda Curve pewaris kastil keluarga Curve,” kata Erda dengan mata mencemooh. “Oh dan kau tidak berhak menceramahiku tentang apa tadi kau bilang? Keseimbangan alam?”

“Oh pantas saja kau Erda Curve si pewaris tunggal kastil beserta meter demi meter yang mengelilingi wilayah kekayaanmu,” kata anak bertampang jenaka itu sembari melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala sosok Erda. “Tapi kuberitahu kau Erda satu hal, wilayah kekuasaanmu tidak sampai hutan Fangeon. Kekuasaan dan uangmu memiliki batasan. Dan kau tidak dapat menyentuh wilayah ini dengan semena-mena.”

“Dan kau belum memberitahu namamu bocah nakal sok tahu,” ujar Erda sembari berkacak pinggang.

“Namaku Rudovo.”

“Hmm..Rudovo, terdengar seperti nama jelata. Omong-omong Rudovo bisakah kau tunjukkan jalan keluar dari hutan ini? Anggap saja sebagai membayar hutang kaburnya binatang buruanku. Aku harus kembali ke kastilku, matahari telah sampai di penghujung hari.”

“Haha..tampaknya Erda yang terhormat tersesat di hutan ini. Mari ikuti aku,“ tutur Rudovo sembari menatap mata Erda lekat-lekat.
***

Kembalinya Erda Curve ke kastil disambut dengan kebimbangan dan kesunyian. Erda yang tiba-tiba ngeloyor hilang entah kemana di hutan untuk kemudian kembali. Aldredo, Rinkel, Kesne, berdiri beriringan di depan pintu kastil yang tingginya 5 meter. Di bawah penerangan obor yang ditiup angin, wajah cemas mereka kentara.

“Tuan kemana saja? Kami disini khawatir,” ungkap Aldredo sembari menatap tanah. “Torva dibantu rekan-rekannya yang lain masih mencari tuan di hutan karena tuan tiba-tiba terpisah dari kelompok.”

“Kau kirimkan pesan pada Torva bahwa aku telah kembali dengan selamat tanpa kekurangan apapun juga,” titah Erda jelas.

Sunyi sesaat, Erda seperti berputar konsep di kepala untuk mengutarakan kata bertanya.

“Apa ada pesan lain lagi tuan Erda?” gugup tanya Aldredo.

“Bukan pesan, aku hanya ingin bertanya, apakah kalian tahu ada anak bernama Rudovo yang tinggal di sisi utara kastil ini, tidak jauh dari hutan Fangeon?” tanya Erda mengungkap penasarannya.

Seketika kekikukan, kegugupan, kebingungan tanpa suara menyeruak diantara Aldredo, Rinkel, dan Kesne. Namun nuansa itu tidak ditangkap oleh anak berwajah pucat itu karena dia sedang berputar dengan laju pikirannya sendiri tentang anak seumurannya yang begitu getas mengutarakan pemikiran dan berani bertukar pendapat serta menentangnya.

“Kami tidak mengetahui tentang anak bernama Rudovo itu tuan,” Kesne akhirnya memecah hening dan menjawab tanya.

“Oh baiklah. Kenapa bergetar begitu Aldredo. Apa kau sakit? Sebaiknya kau beristirahat saja kalau begitu. Biar Rinkel yang mengerjakan tugasmu,” kata Erda yang tak habis pikir dengan lompatan bahasa tubuh dari Aldredo yang seperti menyimpan sesuatu. Tentunya Erda tidak memiliki kepentingan dan keinginan untuk mengetahui musabab perubahan Aldredo tersebut.
***

Kastil ini kini sepi
Ditinggal warna cerianya
Semua tentang kebersamaan yang sirna
Permutasi tawa menjadi setangkup luka

Kastil ini kini muram
Dindingnya tertunda terlunta
Atapnya meringkuk takluk
Bias takjub mentari terusir pergi
Takut melihat bayangan sendiri di cermin
Hilang dipeluk hampa

Kastil ini kehilangan jamuannya
Panganan kreasi cinta
Minuman mengepul di kala dingin menelusup tulang
Canda dan cerita bersama hidangannya
Kini hanya meja makan megah tanpa menu, tanpa kehangatan

Kastil ini megah dalam kesunyiannya
Membusuk digerogoti kenangan terkuatnya

Dan Aldredo pun membenahi pena dan tinta di waktu dinihari. Dia beranjak menuju peraduannya.
***

Dari tingkat tertinggi kastil kau dapat melihat sejauh mata memandang: horizon. Wilayah ini seakan menjadi titik-titik kecil dimana kastil ini menjadi jangkar sekaligus episentrumnya. Ruang-ruang di dalam kastil ialah keindahan dalam sunyi. Maka akan kau dapati ruang-ruang luas dengan atapnya yang tinggi. Kau akan menemukan ukiran-ukiran rumit ketika mendongakkan kepala. Patung-patung juga mengisi pojok-pojok kastil ini. Ada yang hanya sekepala, ada yang seukuran badan, beberapa juga memperlihatkan keelokan tubuh manusia yang tersembunyi.

Namun semua keindahan itu terasa sunyi bagi Erda dalam 6 hari terakhir ini. Dia kini telah kembali berada di meja makannya siap jam 7 pagi.

“Siapkan kudaku Aldredo,”perintah Erda sembari memotong kentangnya, tanpa melihat wajah pelayan pribadinya.

“Tapi, jam 8 Anda?” jawab Aldredo meragu


message 27: by Zainal (last edited Feb 28, 2012 03:51PM) (new)

Zainal Arifin | 2 comments “Aku tahu jadwalku. Aku akan kembali tepat waktu. Kalaupun tidak, hei..aku pewaris segala ini. Jadi keinginanku adalah hukum, perintahku adalah kepastian.”

Selepas sarapan pagi, Erda memacu kudanya. Dia pergi sendiri.

“Rudovo..Rudovo.. ini aku Erda,” teriak Erda ketika berada di dalam hutan Fangeon. Sialnya dia tidak ingat persis dimana tempat pertemuan terakhir kemarin. Hutan ini seperti bergerak.

“Kau tak perlu berteriak seperti orang kalap begitu Erda,” derai jenaka dari Rudovo. “Ini tangkap!”

“Suling?” tanya Erda sembari mengamati ukiran kasar dan tidak rata dari suling tersebut.

“Kau bisa memanggilku dengan suling itu, ketika berada di hutan Fangeon,” kata Rudovo seolah hal itu telah jelas.

“Bagaimana bisa..”

“Haha..di dunia ini banyak keajaiban. Anggap saja itu sebagai keajaiban. Tanya ditutup,” putus Rudovo.

“Tapi…

Rudovo pun berlari cepat diantara pepohonan. Segera Erda mengikutinya. Merasakan bumi merangkul erat anak manusia.

Sungai. Rudovo berenang-renang di dalamnya dengan berbagai gaya. Ia menyelam, ia timbul. Ia menggoda Erda untuk lebur di air.

“Kenapa kau takut tenggelam?” tanya Rudovo lalu kembali menyelam cepat-cepat.

Erda pun langsung terjun ke sungai dengan busana lengkap. Membiarkan tiap jengkal tubuhnya dialiri kemurnian. Merasakan tiap jengkal dari denyar-denyar kemerdekaan. Setelah puas bermain 1 jam di air, Erda pun beringsut naik ke daratan, pamit dan menunggangi kudanya kembali ke kastil. Ia terlambat mengikuti sesi pelajaran. Tapi siapa peduli. Sementara fisiknya berada di ruang perpustakaan kastil, pikiran dan jiwanya berkelana lepas ke hutan Fangeon sana.
***

Pada keesokan harinya ia baru pergi ke hutan Fangeon ketika matahari telah menjelang senja. Kali ini mereka bermain panjat pohon.

“Aku berani bertaruh kau belum pernah naik ke pohon setinggi ini,” tantang Rudovo sembari menepukkan tangannya ke pohon yang diameternya kurang lebih sama dengan meja di kastil Curve.

“Aku pernah kok melihat dari ketinggian,” jawab Erda tak mau kalah.

“Ketinggian dari atas kastilmu. Terlindung. Ketinggian palsu,” rentet Rudovo mengutarakan fakta.

Pohon-pohon yang menjulang itupun mereka panjat. Perlahan bagi Erda, cepat bagi Rudovo yang begitu piawai menempatkan kakinya dan berpijak satu dua langkah.

“Kau tahu ketinggian ini dapat membunuhmu Erda. Lihatlah ke bawah dan bayangkan tubuhmu menemui gravitasi di bawah sana,” girang Rudovo yang telah tiba di tempat tertinggi pohon itu.

“Tutup mulutmu Rudovo, aku akan sampai di atas segera.”

Tantangan naik pohon ini sejatinya benar-benar melelahkan. Bahkan mengandung ancaman kematian, sekurangnya patah tulang. 206 tulang dalam tubuh manusia, dan rentetan numerik itu bisa tiba-tiba brak patah dari ketinggian seekstrem ini. Namun senyuman jailnya, siulan yang makin tak karuan, keberhasilan Rudovo sampai di puncak tertinggi, dan tantangan ini- benar-benar membuat Erda Curve merasa harus menuntaskan naik ke titik tertinggi pohon ini. Ketika akhirnya sampai di cabang tertinggi, Erda pun telah kelelahan.

“Lihatlah Erda bodoh. Kau tidak membuang tenagamu dengan percuma.”

Hamparan alam yang membentang. Sungai, hijau, sunyi alam, misteri, horizon, kesemuanya berpadu dalam sensasi berada di cabang tertinggi. Untuk kali pertama Erda Curve benar-benar merasakan memiliki sahabat.
***

Hari ini Erda Curve bertekad untuk mengajak Rudovo ke kastil. Dia akan menunjukkan koleksi lukisan keluarga Curve, keluasan ruang demi ruang – mulai dari lantai bawah tanah hingga titik tertinggi bangunan ini. Dia juga akan mengajak Rudovo ke perpustakaan kastil ini yang koleksinya memuat buku-buku tua dan tebal, tentu saja buku terbaru juga ada. Berani taruhan si berandal Rudovo bukanlah pembaca buku yang handal. Tahu apa dia tentang puisi Sarve, teori titik kulminasi, sejarah jatuh dan cemerlangnya peradaban, dan banyak lagi damparan ilmu lainnya.

Semenjak pagi, Erda telah tiba di hutan Fangeon. Kali ini dia cukup memainkan suling kayu pemberian Rudovo. Tak berapa lama kemudian Rudovo datang dengan wajah jenakanya seperti biasa.

“Aku ingin mengajakmu ke kastilku,” ajak/perintah dari Erda.

“Kastilmu?” tanya Rudovo.

“Ya kastilku, aku ingin memperlihatkan tempat tinggalku. Anggap saja sebagai sinyal agar kau lebih mengerti aku,” kata-kata yang sebisa mungkin diintonasikan dengan rendah hati.

“Pertanyaannya Erda, apakah kau mengenal aku?” tangkas tanya dari Rudovo.

“Apakah kau mengenal dirimu?”

“Siapakah dirimu Erda?” tutup tanya dari Rudovo dengan mata tertuju tepat ke wajah pucat anak berusia 12 tahun tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan mendamparkan Erda Curve pada keterusikan memori. Dia seketika mencoba untuk memutar waktu, menggali sejarah. Ya dia belum mengenal Rudovo secara lebih jauh, siapa orang tuanya, dimana letak rumah tepatnya. Dia hanya mengenal Rudovo sekilasan dan dirinya telah menempatkan Rudovo sebagai sahabatnya. Lalu, siapakah diriku, tanya Erda dalam hati. Ia mencoba mengingat keras, tapi memorinya seketika hampa. Hanya ada rol 8 hari terakhir yang diingatnya. Ingatan ke hari yang lebih jauh lagi seperti berkabut, labirin, remang-remang.

“Siapa aku?” tanya Erda lebih kepada dirinya sendiri. Dan dia pun tak sadarkan diri dengan impresi terakhir yang diingatnya seutas senyum tipis dari Rudovo.

Waktu telah berdetak ke malam hari. Erda Curve akhirnya ditemukan oleh Torva dan dibawa kembali ke kastil. Dia kini telah kembali pulih dari pingsan dan memanggil Aldredo, Rinkel, Kesne dan Torva ke perpustakaan baca. Dari balik cahaya lilin yang digoyang-goyangkan angin, wajah Erda lebih pucat dan kali ini seperti ada aura berbeda yang terdapat pada dirinya.

“Ceritakan padaku siapa diriku?” Erda bertanya dengan nada tegas kepada keempat orang di hadapannya.

Sunyi menggantung di udara.

“Anda adalah Erda Curve, pewaris tunggal dari kekayaan trah Curve,” jawab Kesne mantap.

“Katakan yang sebenarnya,” kata Erda bengis.

Sunyi merayap di udara.

“Kau ingin yang sebenarnya tuan Erda?” pecah kata dari Aldredo memberanikan diri.

“Ya yang sebenarnya. Kata demi kata.”

Aldredo tersenyum tipis dalam ironi. Entah kenapa senyum itu mengingatkan Erda pada senyum seseorang.

“Kau adalah monster tuan Erda,”Aldredo menjatuhkan definisi pertamanya.

Sontak Rinkel, Kesne, Torva merepet dan bersiap untuk menerima perlakuan yang kejam.

“Aku ingin kau berjanji terlebih dahulu. Sebelum kuceritakan kebenarannya. Bahwa kau tidak akan membunuh kami,” kalimat tawaran dari Aldredo.

“Aku berjanji dengan jiwaku takkan menghabisi kalian,” dingin kata dari Erda.

“Kurasa merapuhnya ingatan Anda diawali 9 hari yang lalu. Ketika itu Anda entah melakukan apa di kamar Anda. Hanya ada suara-suara keji yang kami dapati dari luar pintu. Kami ketakutan semua. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mendobrak pintu. Anda pingsan tak sadarkan diri. Diantara tubuh pingsan Anda ada kapur, dupa, dan buku tua yang kami tak mengerti bahasanya. Anda baru sadarkan diri keesokan harinya dan ajaibnya Anda lupa pada beberapa fragmen penting dalam hidup Anda. Anda bahkan memiliki beberapa konsep baru dalam kepala Anda yang diutarakan kepada kami.”

“Anda menamakan diri Anda sebagai Erda Curve. Anda berpendapat sebagai pewaris tunggal kekayaan dan kekuasaan trah Curve,” ujar Aldredo senyap.

Erda mendengar tanpa bersuara sedikit pun. Bahkan ekspresinya enigma.

“Dan Anda tanya siapa Anda sebenarnya?” tanya Aldredo retoris.

“Kami pun tak tahu siapa Anda sebenarnya. Yang kami tahu Anda datang pada suatu pagi 3 tahun yang lalu. Anda datang ke desa tempat tinggal Rinkel, Kesne, Torva yang berada di sisi utara dari kastil ini,” lanjut Aldredo pahit.

“Anda mengatakan bahwa Anda adalah penyihir dan akan membunuh semua warga desa tanpa kecuali. Aku, Rinkel, Torva, tertawa dengan keras ketika Anda mengatakan itu di tugu tengah desa,” ungkap Kesne mengurai hampanya.

“Anda hanya tersenyum sekilas. Lalu mulai merapal mantra terkutuk entah apa. Kilatan cahaya terang. Aku, Rinkel, Torva pingsan dan ketika terbangun seluruh warga desa tanpa perlu kuperiksa denyut nadinya, aku telah tahu mereka telah meninggal dengan cara yang menyakitkan,” Kesne berujar dengan pedih tertahan.

“Kau lihat kastil disana, kata Anda. Disanalah kita akan menuju. Sekali kalian memilih untuk masuk ke dalamnya, maka takdir kalian selanjutnya akan terkait disana. Kalian akan menetap selamanya di kastil itu.

Torva membuka kata,”Pilihan apalagi yang kami punya. Kami baru saja dikejutkan dengan kematian serempak yang melanda desa. Dan kami memiliki pilihan untuk hidup dan bertahan di bumi ini. Maka kami pun mengambilnya.”

“Kita pun berjalan seperti karnaval sunyi kematian, aku di yang paling depan,” ungkap Erda tiba-tiba seperti mulai mendapatkan ingatannya pulih kembali perlahan.

“Di kastil inilah tempat tinggalku, beserta putra tunggalku yang berani,” ucap Aldredo menyambung cerita.

“Hmm..anak yang menolak tunduk pada kuasaku, anak yang memilih untuk melawanku,” kata Erda dengan petah yang semakin mantap.

“Rudovo,” kata Erda.

“Rudovo Curve,” imbuh Aldredo. “Dan nama lengkapku Aldredo Curve.”

“Akulah pewaris dari trah Curve untuk kemudian seharusnya kuwariskan kepada anakku Rudovo,” ujar Aldredo Curve hampa.

“Sebelum menghabisi nyawanya, aku menyadap semua memori yang pernah dimilikinya,” urai kata dari Erda tanpa rasa penyesalan.

“Memori itulah yang kurasakan dan mengapung ke permukaan dalam 8 hari terakhir,” tambah Erda.

“Rudovo membenci semua kekangan ini Aldredo. Dia muak dengan segala aristokrat dan upaya Anda menjadikan dia manusia unggul dalam berbagai bidang. Dia muak harus hidup dengan pola yang Anda diktekan,” pungkas Erda seakan menjadi penyambung lidah Rudovo.

“Dan lihatlah kalian para pengecut yang takut mati. Memilih untuk menetap hingga membusuk di kastil ini,” ungkap Erda dengan mata mengejek melihat keempat sosok di hadapannya satu demi satu.

“Bagaimana kau bisa mengingat kembali tuan Erda?” tanya Aldredo dengan luka yang semakin membuncah di jiwanya.

“Aku tidak tahu persisnya. Itu sama misteriusnya dengan saat aku kehilangan ingatan temporer ketika mencoba melakukan eksperimen sihir. Bukankah hidup terkadang tak perlu terjelaskan dan biar menjadi enigma abadi?” Erda balik berfilosofi.

“Aku ingat kalian -Kesne, Torva, Rinkel, kalianlah yang tertawa ketika kukatakan aku seorang penyihir dan akan membunuh semua warga desa tanpa kecuali. Maka aku menghukum kalian sebagai abdiku. Sebagai pengingat bahwa kekuatanku nyata dan kejam. Jengkal demi nafas kalian kini adalah pengabdian bagiku.”

Erda menambahkan dengan warna suara keji,”Kau dulunya adalah pendongeng antar desa, benar begitu Rinkel? Kau dulunya adalah pedagang, benar begitu Kesne? Dan kau dulunya adalah pemburu yang handal, benar begitu Torva?”

“Karena itu saya tak dapat mengingat detil tanggal sejarah,” Rinkel berargumen lemah.

“Karena itu aku mengetahui pengetahuan praktis di lapangan ekonomi dibandingkan teori kaku di literatur,” pungkas Kesne.

“Karena itu saya pernah berkata bahwa bukankah semua makhluk hidup akan berdaya upaya untuk tetap hidup? Dengan segala cara, dengan segala upaya. Sekalipun langkah yang ditempuh ialah cara pengecut dan anomali,” renung kata dari Torva.

“Dan kau memilih untuk tetap hidup di kastil ini Aldredo Curve. Sekalipun anakmu telah meninggal, sekalipun kastil ini kini menjadi milikku, sekalipun kau hanya menjadi abdiku,” ujar Erda dengan tatapan muak.

“Ya aku memilih untuk hidup dengan segala nelangsanya. Meski kastil ini megah dalam kesunyiannya. Membusuk digerogoti kenangan terkuatnya.”

Erda menepukkan tangannya dua kali.

“Kalau begitu semua sudah jelas. Kalian boleh istirahat malam ini.”

“Dan Aldredo.. ambilkan aku susu panas dari dapur, ada desa yang harus kubantai besok pagi.”

-Fin-


message 28: by d3pi (last edited Feb 29, 2012 12:49AM) (new)

d3pi (defifreak) | 96 comments Dua Takdir dan Satu Keputusan

Aku jatuh tersungkur di tanah yang basah ini. Tidak tersisa lagi sedikit tenaga untuk menggerakkan tubuh, bahkan untuk menjaga kesadaranku saja aku hampir tidak mampu. Yang aku tahu tanah tempatku tersungkur basah oleh cairan berwarna merah semerah darah. Darahku yang terus mengalir deras merubah warna coklat tanah di sekitarku menjadi semerah darah.

Aku tidak bisa lagi berteriak maupun menangis. Rasa sakit yang ku rasakan sebegitu hebatnya hingga otakku tidak mampu merasakan rasa lain selain rasa sakit. Darah yang terus mengalir ke luar dari luka cabikan yang terbuka tidak kunjung berhenti, dan mungkin tidak akan berhenti sampai semua darahku mengering.

Dalam cengkraman rasa sakit, aku berharap agar aku bisa segera mati dan tidak merasakan sakit ini. Aku tidak takut mati. Sekalipun aku mati, tidak akan ada yang mau menangis untukku. Aku bingung kenapa takdir membuatku harus merasakan sakit sehebat ini sebelum kematianku. Kenapa mereka tidak langsung saja menyabut nyawaku.

Aku menutup mata, berharap rasa yang menyiksa ini akan lenyap saat aku menutup mata. Tapi cara itu tidak berhasil. Aku tetap bisa merasakan jutaan jarum tertancap keras ke dalam tubuhku yang kurus hingga terasa sampai tulang. Rasa sakit itu semakin menjadi saat serigala-serugala siluman itu berhasil menemukanku dan membuat luka cabikan baru di tubuhku yang terbujur tak berdaya.

Aku bisa merasakan moncong-moncong serigala kelaparan itu berusaha mengoyak dagingku yang liat, menambahkan rasa sakit yang ku rasakan. Darahku mewarnai moncong-moncong serigala-serigala itu. Aku sadar kalau aku sudah tidak bisa mempertahankan hidupku lagi. Detak jantungku melambat seiring dengan mulai habisnya darah yang mengalir dalam tubuhku. Aku tidak pernah menyesal harus mati saat ini, hanya saja aku tidak menyangka akan berakhir sebagai santapan serigala siluman yang kelaparan.

Dalam kesadaran yang semakin menghilang, aku melihat sesosok bayangan putih yang semakin lama semakin mendekat. Sosok seorang laki-laki yang berada dalam balutan jubah berwarna putih itu, langsung mengayunkan pedangnya di atas tubuhku. Entah mengapa, rasa sakit yang semakin terasa akhirnya mereda untuk sesaat. Dengan perlahan sosok itu membungkukkan badan dan menjulurkan tangan ke arahku. Aku ingin sekali melihat dengan lebih jelas wajah dari orang yang menolongku, tapi kesadaranku sudah tidak mampu lagi bertahan sebelum aku sempat meraih uluran tangannya.

***

Orang bilang, kita akan mengingat kenangan masa lalu kita saat kita akan mati, dan begitulah yang kurasakan sekarang. Dalam kehangatan yang menenangkan aku memimpikan hari-hari menyenangkan yang kujalani dengan Bibi Lin dan penduduk desa lainnya.

“Bibi, biar aku yang bawa belanjaannya?!” Tangan kecilku bersiap membawa satu keranjang penuh sayur dan buah. Bibi Lin hanya tertawa kecil saat melihat antusiasme anak kecil berusia delapan tahun.

“Boleh saja. Kalau begitu mohon bantuannya ya..Haru?!” jawab Bibi Lin ramah sambil mengacak-acak rambut ikalku.

Sosok Bibi Lin di mataku sudah seperti sosok seorang ibu yang tidak pernah ku miliki. Dengan membantu membawakan belanjaannya, Bibi Lin akan menghadiahiku sebuah apel sebagai imbalannya.

Tidak mudah memang hidup seorang diri sebagai anak yatim piatu. Hal itulah yang mungkin menyebabkanku menjadi lebih dewasa melebihi anak-anak lain seusiaku. Meskipun begitu tak pernah sekalipun aku bersedih. Semua penduduk desa memperlakukanku dengan baik. Mulai dari paman penjual ikan, ibu pemilik kedai dan juga penduduk yang lain terutama bibi Lin. Kepadanyalah aku menanyakan banyak hal yang ingin ku ketahui terutama soal Kastil Kristal yang menjulang tinggi hingga bisa dilihat dari desa.

“Bi, kenapa kita harus menjauhi temapt itu?” tanyaku polos suatu ketika saat aku membawakan barang belanjaan bibi Lin.

“Itu karena temapt itu adalah tempat yang sangat berbahaya,” jawab bibi Lin cepat. “Di sana terdapat penyihir jahat yang bisa menyebarkan wabah penyakit kepada warga desa. Konon katanya, ia sering mengambil jantung dan organ tubuh manusia untuk dijadikan bahan ramuan sihirnya,” tambah bibi Lin, semakin membuat bulu kudukku berdiri. “Karena itu kamu jangan pergi terlalu dekat dengan tempat itu, apalagi sampai membuat penghuninya marah.” Nasihat bibi Lin yang langsung terpatri kuat dalam pikiranku.

Pandanganku tertuju pada kemegahan dan keindahan kastil Kristal yang berada di balik hutan. Kastil itu memancarkan warna kemerahan matahari sore yang semakin menggelap. Jujur, aku sangat senang mengamati perubahan warna kastil yang bergantung pada pancaran cahaya matahari. Salah satu favoritku adalah saat hujan di siang hari. Aku bisa melihat pelangi di dalam dinding kastil seakan pelangi tersebut terjebak dalam dinding kastil. Rasanya aneh saja saat membayangkan tempat seindah itu menjadi tempat tinggal seorang penyihir jahat.


Sedikit demi sedikit kesadaranku kembali pulih. Aku bisa merasakan jari-jari tanganku yang bergerak lemah. Tidak ada lagi darah yang mengalir keluar dari tubuhku - meski rasa sakitnya masih tertinggal – membuatku mengernyit saat aku berusaha untuk bangkit. Mulai detik ini, aku baru percaya kalau aku belum mati.

Saat terbangun, aku mendapati tubuhku berada di sebuah peti kaca yang entah mengapa terasa sangat hangat. Ruang tempatku berada penuh dengan tupukan buku-buku tebal. Banyak specimen aneh yang tergeletak tidak rapi di atas meja dalam ruangan yang sama. Saat mataku menelisik satu persatu specimen itu, ada segumpal darah yang terus berdetak di dalam tabung kaca tertutup, membuatku bisa menebak dimana aku berada sekarang, kastil Kristal.

Aku berusaha beranjak dari peti kacaku dengan tergesa-gesa. Tidak, aku tidak boleh berada disini. Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhku. Aku tersungkur di lantai saat aku mulai memaksa kakiku yang lemah untuk berdiri. Aku bertanya dalam hati berapa lama aku berada dalam kastil ini.

Kriekk….

Terdengar suara pintu besar ruang kamar tempatku berada bergerak. Sebelum aku bisa mengenali apa dan siapa yang masuk, aku memacu tubuhku untuk berlari keluar dari pintu yang sama. Aku berlari sekuat tenaga, berusaha untuk tidak memperhatikan apapun. Tapi semakin aku tidak memperhatikan, semakin aku terperangah dengan hal-hal aneh yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Mulai dari tangga kristal yang otomatis bergerak sendiri saat kakiku menyentuhnya sampai pintu-pintu kaca yang terbuka otomatis saat aku menginginkannya.

Di bawah tangga terlihat sekelompok hantu yang sibuk bermain poker sambil sesekali melayang di udara. Seekor induk kelinci raksasa yang sibuk memasak hingga membuat berantakan dapur yang penuh dengan perabot dari kristal. Seorang pria yang penuh bekas luka di wajah dan tubuhnya sedang asyik mengelis pedang panjangnya. Melihat besarnya pedang pria tersebut, mebuatku berlari semakin kencang. Saking kencangnya sampai-sampai aku tidak melihat sebuah cermin besar di depanku dan aku tidak tidak bisa menghindar untuk tidak menabraknya. Tanpa kusadari cermin ini tiba-tiba bergerak menyamping dengan sendirinya, sedangkan tubuhku jatuh terpental ke lantai marmer putih kastil ini tanpa menabrak apapun. Rasa sakit saat terpental jatuh tidak ku hiraukan sedikitpun, apalagi saat tahu laki-laki yang kutemui di ruang atas itu berhasil mengejarku hanya dengan derap langkah santainya.

Aku menguatkan tubuhku untuk segera bangkit dan berlari kembali, dan kali ini jauh lebh cepat. Nafasku memburuh seiring dengan semakin cepatnya jantungku berdetak. Bingung, itulah yang ku rasakan di tengah kecemasan akan dibunuh oleh penyihir itu saat aku merasa tidak bisa menemukan jalan keluar. Semua pintu dan lorong yang berliku sekan hanya membawaku berputar-putar dalam kastil membingungkan ini. Semua pintu, ruang dan lorong identik satu sama lain, dan aku tidak punya waktu untuk memperhatikan satu-persatu. Dalam keputus asaan, akhirnya aku menemukan pintu yang benar-benar ku inginkan. Aku berhasil menemukan pintu keluar kastil Kristal ini yang mungkin sudah ku lewati beberapa kali dalam pencarianku.

Aku tidak memperlambat langkahku sedikitpun meski aku bisa keluar dari dalam kastil. Aku baru memperlambat lariku saat aku sudah berada di tengah desa. Tubuh kecilku yang belum pulih benar, terasa sangat lelah. Aku menyeret langkahku agar aku bisa segera sampai dan istirahat di rumah.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, aku merasa seakan semua mata tertuju padaku. Aku mencari tahu apa yang menarik perhatian mereka.

“Apa karena baju bagus yang ku kenakan?” gunamku sendiri. Mereka pasti heran melihatku yang anak yatim piatu ini memakai pakaian bagus. Aku sendiri juga baru menyadarinya saat aku telah keluar dari kastil itu. Seutas kain berbahan sutera halus berwarna biru menggantikan baju lusuhku yang tercabik-cabik.

Dukk…

Tanpa kutahu dari mana asalnya, sebuah batu kecil melayang ke arahku dan berhasil melukai pelipis kananku. Belum hilang keterkejutanku, sebuah batu kembali mengarah kepadaku. Aku berusaha melindungi kepalaku dengan kedua tangan, dan seperti sebuah permulaan, seakan-akan semua benda mulai melayang ke arahku.

“Bunuh saja dia. Dia pasti sudah dikutuk oleh penyihir jahat itu!” teriak ibu-ibu dari pinggir jalan sambil terus mengacungkan sapu dan balok-balok kayu ke arahku.

“Siapa yang dikutuk? Apa maksud kalian?” Aku mencoba mencari pembelaan untuk diriku sendiri. Aku memang tidak tahu apa yang sudah dilakukan penyihir itu kepadaku saat aku berada di kastil kristal, tapi aku tidak merasakan sesuatu yang aneh ya…kecuali luka ditubuhku yang mulai sembuh.

“Iya…kita bakar saja dia,” tambah salah seorang laki-laki. Kali ini dia tidak segan menyeretku ke tanah lapang. Aku merontah sekuat tenaga, tapi tenaga seorang anak kecil tidak bisa mengalahkan besarnya tarikan laki-laki itu.

Mereka mengikatku pada sebuah kayu, dengan banyak ranting kecil yang mengeliliku. Aku yakin mereka akan melakukannya.

“Bibi Lin………tolong aku?!” teriakku pada bibi Lin yang hanya menonton sambil menangis di tepi lapangan. “Sungguh Bi, aku tidak melakukan apa-apa?” ratapku memelas agar bibi Lin mau menolongku. Tapi pertolongan yang ku harapkan tak kunjung ku dapatkan.

Penduduk desa mulai menyalakan api melalui ranting-ranting kecil yang mengelilingiku. Rasa panas yang semakin lama semakin terasa menyakitkan kulit sudah tidak bisa ku hindari lagi. Api ini bukan hanya membakar tubuhku tapi juga membakar hatiku.

Aku tidak mengerti mengapa mereka marah padaku. Aku tidak melakukan apapun yang merugikan mereka. Tubuhku gemetar, rasanya jauh lebih sakit dari pada tercabik-cabik oleh serigala kelaparan. Air mataku mengalir keluar saat mengetahui orang-orang yang dulu baik padaku sekarang malah menginginkan kematianku.

Dalam kesendirian dan ketakutan, sebuah jubah menyelubungiku dari atas. Aku terhenyak saat merasakan kesejukan dan ketenangan dari jubah itu. Aku mendongakkan kepala dan mendapati sosok – yang beberapa menit yang lalu berusaha untuk aku hindari – laki-laki dari kastil Kristal berdiri di depanku. Semakin memandangnya semakin aku mengenali sosok itu. Sosok laki-laki jangkung berambut panjang terikat dengan wajah sempurna yang menjulurkan tangannya padaku saat aku akan mati di hutan.

Kemunculannya sontak membuat para penduduk desa ketakutan dan menghentikan teriakan-teriakan kasarnya. Semua penduduk mundur dari tempat kita berada.

“Jadi diakah penyihir jahat itu?” tanyaku dalam hati.


message 29: by d3pi (new)

d3pi (defifreak) | 96 comments Tanpa sepatah katapun, penyihir itu melepaskan ikatanku dan mengendong tubuhku keluar dari lingkaran api. Ia bisa memindahkan api hanya dengan kibasan tangan hingga api itu membakar lumbung gandum desa. Penduduk desa segera berhamburan, berusaha memadamkan api yang berkobar dan membakar persediaan makanan mereka. Mereka sudah tidak memedulikan keberadaanku dan penyihir itu. Orang dewasa memang egois. Mereka hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.

Penyihir itu mengandeng tanganku dan mengajakku pergi. Dia bahkan tidak mempedulikan sedikitpun penduduk desa yang kelabakan memedamkan api. Tanpa berani melawan – setelah tahu siapa sebenarnya dia – aku berjalan dengan rasa putus asa. Aku meyakinkan diriku untuk tidak bersedih. Berada di desa atau di kastil sama saja akhirnya, aku juga akan mati.

“Apa kamu akan mengambil jantungku?” tanyaku memberanikan diri. Aku hanya ingin tahu apa yang akan dia lakukan padaku, meski apapun jawabannya aku tetap tidak akan bisa lari.

“Untuk apa aku harus melakukan itu?” Penyihir itu malah balik bertanya. Ketenangannya tak pernah beranjak dari dirinya, membuatnya semakin terlihat keren meski aku tidak menyukainya.

“Lalu untuk apa kamu menyelamatkanku kalau kamu tidak membutuhkanku untuk percobaan anehmu itu?” tanyaku marah. Aku merasa seakan-akan aku hanya dipermainkan saja.

“Aku melakukannya karena kamu mirip dengan adik nakalku yang tidak pernah pulang,” jawabnya sambil menempelkan tanganya ke pelipis kananku. Rasa hangat dari tanganya berangsur-angsur menutup lukaku. “Lagi pula, aku tidak suka mereka mengambil mainanku. Kau adalah milikku. Jadi mulai saat ini hanya aku yang berhak melakukan apapun padamu,” tambahnya. Aku bisa melihat kehangatan dari dua bola matanya yang berwarna zamrud itu. “Ayo kita pulang, masakan Doly – kelinci raksasa yang membuat berantakan dapur – sangat enak loh,” ajaknya sambil mulai berjalan mendahuluiku yang masih bingung.

Jujur, aku terperanjak mendengar jawabannya. Bukan itu jawaban yang aku harapkan dari seorang penyihir yang konon terkenal kejahatannya. Aku mengandeng tangannya tiba-tiba dan mengikuti langkahnya kembali ke kastil Kristal. Terlihat seutas senyum indah terhias di wajahnya yang sempurna saat aku memutuskan untuk tinggal bersamanya.

Aku tidak peduli dia jahat atau tidak, yang terpenting dia baik padaku. Itu sudah cukup bagiku yang sebatang kara ini. Aku tidak peduli dengan perkataan atau pandangan orang lain tentangnya. Aku hanya akan melihatnya dari mataku sendiri.

Dia adalah keluargaku dan kastil Kristal itu sekarang menjadi rumahku.

Memang takdir yang mempertemukanku dengannya, takdir juga yang membawaku ke tempat itu. Tapi yang membuat diriku kembali ke tempat itu adalah keputusanku sendiri.

***


message 30: by Shao (last edited Feb 29, 2012 12:38AM) (new)

Shao An (ShaoAn) | 165 comments HARAPAN

"Hei, apa kau akan ikut hari ini?" tanya teman sekantorku sambil duduk di atas meja kerjaku ketika jam pulang kantor tiba.

Aku menggeleng. "Sepertinya tidak," kataku sambil menghela nafas. "Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."

"Lembur lagi? Ayolah. Ini kan akhir pekan," kata temanku yang lain dengan mimik tak percaya. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kerja juga ada batasnya. Lebih baik kau ikut kami sekarang. Kita pergi minum-minum ke bar lalu pergi ke tempat disko untuk mencari wanita."

"Ya. Apalagi kau juga sekarang sudah bisa dibilang jadi bujangan lagi, iya kan?"

"Lain kali saja deh," kataku sambil tersenyum menanggapi gurauan mereka. "Bos bisa marah besar kalau laporannya tidak selesai hari ini."

Selain karena pekerjaanku belum selesai, aku juga sebenarnya tidak terlalu nyaman berada di tempat-tempat seperti itu. Aku lebih senang menonton televisi sampai larut malam untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.

Setelah beberapa kali gagal membujukku, temanku itu akhirnya menyerah dan menghela nafas. "Ya sudahlah kalau begitu. Sampai jumpa lagi hari Senin," katanya sambil melambaikan tangan.

"Ya. Kalian pergilah bersenang-senang."

Satu per satu temanku yang lain mulai berpamitan dan meninggalkan kantor, hingga akhirnya tanpa kusadari hanya aku yang masih berada di sana. Jam di layar monitor menunjukkan pukul 19:42 ketika akhirnya pekerjaanku selesai. Aku menyandarkan punggungku ke kursi, lalu meregangkan otot-ototku yang kaku sambil menguap. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, pikirku.

Kadang aku juga merasa letih dan jenuh dengan semua ini. Rasanya setiap hari aku hanya hidup untuk bekerja. Tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya orang biasa. Kepandaianku biasa-biasa saja, dan aku juga tidak punya kemampuan menonjol di bidang tertentu. Ada banyak orang sepertiku di luar sana. Satu-satunya cara mempertahankan pekerjaanku adalah dengan bekerja lebih keras dari yang lain. Datang ke kantor lebih awal, pulang lebih malam. Jangan melakukan kesalahan. Mengambil lembur lebih sering. Lembur juga memberiku tambahan penghasilan yang lumayan. Untuk pergi ke Hawaii.

Hawaii ...

Rasanya aneh jika sampai sekarang aku masih saja berpikir untuk mengumpulkan uang agar kami bisa pergi ke Hawaii. Pikiran itu muncul begitu alami dalam benakku, begitu otomatis, seolah hanya itulah alasanku bekerja. Padahal ia sekarang juga sudah meninggalkanku.

Sambil menghela nafas aku bangkit dan membereskan tas kerjaku, lalu berpamitan pada petugas kebersihan dan satpam yang bertugas, meminta maaf karena lagi-lagi aku harus lembur, dan kemudian pergi meninggalkan kantor.

Tapi aku juga tidak menyalahkannya. Orang bilang, jika kau benar-benar mencintai seseorang maka kau harus rela melihatnya bahagia sekalipun itu menyakitkanmu. Jika ia masih bersamaku, mungkin ia tidak akan pernah bahagia. Ia tidak akan bisa membeli barang-barang yang ia inginkan, tidak bisa menyewa apartemen yang lebih luas, juga tidak bisa pergi mengunjungi tempat-tempat yang ia impikan. Jadi aku bisa mengerti keputusannya. Walaupun mungkin aku masih belum bisa menerimanya.

Aku mampir ke kedai langgananku untuk mengisi perut. Aku makan seorang diri dan minum bir seorang diri. Dan ketika aku mengalihkan pandangan ke sekelilingku, hanya aku yang makan sendirian di sana. Semua orang datang bersama teman dan pasangan mereka masing-masing, dan tiba-tiba aku merasa kesepian. Aku merasa terasing berada di tempat itu.

Yang paling menyedihkan hidup sendiri adalah kau harus menghadapi semuanya seorang diri, dan ketika kau pulang, tidak ada yang menunggumu pulang di rumah. Tidak ada yang menyapamu dengan senyuman hangat atau membuatkanmu makan malam. Tidak ada teman mengobrol, tidak ada teman berbagi. Hanya kau seorang diri.

Aku sedang dalam perjalanan pulang ke apartemenku, ketika tanpa sengaja aku melihat papan nama Dream Castle Co. di antara deretan toko di sisi jalan. Seorang gadis berwajah manis di depan pintu tampak sedang membagi-bagikan selebaran pada setiap orang yang lewat.

Aku berhenti. Aku melewati jalan ini dua hari yang lalu dan rasanya tempat itu masih berupa proyek bangunan yang belum selesai, tapi sekarang sudah berdiri bangunan yang begitu megah. Gadis itu kemudian memberikan selebarannya padaku.

"Silahkan mampir," katanya. "Kami sedang promosi. Anda boleh mencobanya gratis selama sepuluh menit."

"Tempat apa ini?" kataku sambil membolak-balik selebaran itu. "Baru buka?"

"Ya. Kami baru saja buka tadi pagi," kata gadis itu. "Silahkan masuk saja ke dalam jika anda ingin mencoba atau bertanya lebih lanjut, salah satu staf kami akan menjelaskannya."

Tidak ada apapun di selebaran itu kecuali tulisan:

DREAM CASTLE CO.
KAMI MEMBAWAKAN ANDA MASA DEPAN.

Karena ingin tahu dan tidak punya sesuatu untuk kukerjakan di akhir pekan, aku pun masuk ke dalam. Tapi begitu membuka pintu, aku langsung merasa telah memasuki tempat yang salah.

Bagian dalam tempat itu tampak seperti klinik kecantikan tempat istriku membuat kulitnya berwarna lebih cokelat. Sepuluh mesin berbentuk kapsul, dengan orang-orang berbaring di dalamnya, tampak berjajar di samping kananku. Penataan ruangnya bergaya minimalis dan didominasi warna putih dan metalik, dengan garis lampu berwarna biru di sepanjang dinding.

Seorang wanita berjas putih menghampiriku sambil membawa komputer tablet di tangannya. "Selamat datang di Dream Castle Co.," katanya ramah. "Sebelum kita mulai, saya akan mencatat data pribadi anda untuk arsip kami."

"Tunggu sebentar," kataku memotong perkataannya. "Tapi sebenarnya ... tempat apa ini?"

Wanita itu sudah tampak lelah mendengar pertanyaan itu, tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan tersenyum. "Intinya, kami mengembangkan sebuah dunia simulasi dimana anda bisa masuk dan berinteraksi di dalamnya."

"Seperti dunia simulasi dalam permainan konsol?" tanyaku.

"Ya. Bisa dibilang seperti itu. Hanya saja kami menggunakan teknologi yang jauh lebih canggih, dan kami mempunyai visi yang jauh lebih ke depan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan teknologi ini. Salah satunya, yang coba kami tawarkan dalam promosi kali ini, adalah program relaksasi."

"Relaksasi?"

"Benar sekali. Kami akan membawa anda ke sebuah tempat dimana anda bisa sejenak melupakan semua beban dan masalah anda, dan ketika anda selesai menjalani program itu kami berharap anda kembali dengan keadaan yang lebih segar," kata wanita itu sambil tersenyum. "Jika sudah mencobanya sendiri, anda akan mengerti maksud saya."

"Bagaimana cara kerjanya? Apa ada efek sampingnya?"

"Tidak. Sama sekali tidak ada efek samping. Yang perlu anda lakukan adalah berbaring di kapsul itu, dan kami akan membantu anda memasangkan peralatannya," katanya. "Jadi, bisa kita mulai sekarang?"

Kupikir jika hanya relaksasi tidak ada salahnya aku mencoba. Lagipula ini gratis. Jadi aku kemudian mengangguk.

Wanita itu menanyakan beberapa pertanyaan singkat mengenai data diriku, lalu mengantarku ke kapsul yang masih kosong. Ia membantuku memasangkan perangkat kepala semacam helm yang dilengkapi kacamata khusus, dan kemudian memintaku berbaring.

"Apa anda merasa nyaman?" tanya wanita itu.

"Ya."

"Apa anda bisa melihat layar biru melalui kacamata itu?"

Aku mengangguk.

"Baiklah. Kalau begitu kita akan segera memulai simulasi dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga ...."

Sebuah cahaya putih tiba-tiba membutakan pandanganku, mengejutkanku. Dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di sebuah hutan.

Ini tidak mungkin, pikirku.

Terdengar suara serangga dan kicauan burung di suatu tempat, tapi selain itu tidak ada suara apapun lagi yang terdengar. Udara terasa sejuk dan menyegarkan, dan tercium aroma basah yang pekat. Ketika aku mengalihkan pandanganku ke atas, cahaya matahari merembes masuk melalui celah dedaunan.

"Selamat datang di dunia simulasi Dream Castle Co.," terdengar suara seorang wanita, tenang dan menenangkan. "Dream Castle Co. adalah perusahaan terdepan di bidang teknologi simulasi komputer yang menggabungkan berbagai teknologi paling mutakhir ...."

Aku mulai berjalan menyusuri hutan, daun-daun kering yang berserakan di atas jalan mengeluarkan suara gemerisik ketika terinjak. Aku menyentuh satu per satu batang pohon-pohon itu, merasakan permukaannya yang kasar di ujung jariku. Jadi semua ini hanya simulasi? Ini benar-benar menakjubkan, pikirku. Pohon-pohon itu, batu-batunya, semuanya terasa begitu nyata.

".... kami merancang segalanya dengan tingkat akurasi tinggi dan detail mengagumkan. Dan dengan teknologi revolusioner ini anda dapat melihat, mendengar, mencium, merasakan, dan menyentuh ...."

Tidak jauh di depanku terdapat sumber mata air kecil, dan aku berjalan mendekatinya. Aku berjongkok dan menjulurkan tanganku, merasakan air dingin mengalir melalui sela-sela jemariku. Aku kemudian mengambil setangkup air dan mencoba meminumnya. Air itu terasa begitu manis dan menyegarkan.

Aku benar-benar tidak bisa mempercayai semua ini.

"... Waktu anda dalam simulasi ini akan segera berakhir. Untuk pertanyaan dan informasi lebih lanjut, anda bisa menanyakannya kepada pelayanan pelanggan kami di kantor Dream Castle Co. terdekat. Terima kasih atas kepercayaan anda."

Lalu tiba-tiba cahaya menyilaukan itu muncul kembali, dan dalam sekejap yang kulihat hanyalah layar biru itu lagi.

Wanita itu membantuku melepas perangkat di kepalaku dan ia tersenyum. "Bagaimana perasaan anda? Merasa lebih segar?"

"Ya. Ini luar biasa. Aku belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Rasanya seperti benar-benar berada dalam hutan," kataku sungguh-sungguh. "Bagaimana kalian melakukannya?"

"Pada prinsipnya, yang kami lakukan adalah mengirim sinyal 'palsu' pada otak untuk memanipulasi indera anda, sehingga dalam persepsi anda semua itu nyata," kata wanita itu. "Masih banyak yang bisa kami tawarkan dengan teknologi ini. Dalam waktu dekat, kami akan meluncurkan program perjalanan wisata maya. Dengan biaya yang sangat terjangkau, tentunya."

Aku mengangguk-angguk. "Apa kalian juga bisa menciptakan manusia di dunia simulasi itu? Misalnya seseorang?"

"Secara teori kami bisa menciptakan apa saja dan memasukkannya ke dalam simulasi," kata wanita itu sambil tersenyum penuh arti.

Dari wanita itu juga, aku tahu bahwa Dream Castle Co. juga melayani pembuatan program pesanan khusus. Umumnya sebagai program terapi untuk mengatasi fobia atau gangguan kesehatan tertentu yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien, tapi wanita itu bilang mereka juga tidak menutup kemungkinan untuk membuat program khusus untuk keperluan lain.

Beberapa minggu kemudian aku kembali ke Dream Castle Co. setelah mendapat kabar bahwa program pesananku telah siap digunakan. Aku menguras hampir seluruh tabunganku untuk program itu, hasil kerja kerasku selama sepuluh tahun terakhir, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin berada di sana secepatnya.

Wanita itu membawaku ke ruangan khusus di belakang yang hanya berisi sebuah kapsul di dalamnya. Ia membantuku memasangkan perangkat kepala itu lagi, dan dalam sekejap mata aku sudah berada di sebuah pantai.

Matahari bersinar hangat di langit yang biru cerah, angin bertiup membawa aroma garam. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan pasir putih dan laut yang membentang luas. Ombak bergulung perlahan dari tengah laut, terhempas ke tepian, hingga akhirnya mencapai kakiku. Dan ketika aku menoleh ke samping, ia ada di sana. Duduk di atas pasir sambil memandang laut di kejauhan. Memakai bikini.

Ini bukan Hawaii, dan aku tahu ia tidak benar-benar nyata. Ia hanyalah bagian dari simulasi ini. Tapi hanya melihatnya saja di sana sudah membuatku merasa tidak kesepian lagi. Aku berharap bisa berada di tempat ini selamanya.

Seandainya kami juga bisa melakukannya di kehidupan nyata.

***


message 31: by Lysia (new)

Lysia Lim | 6 comments "Hah..hah..hah", suara hembusan nafas Oliver yang susah payah yang berhenti dari pelarian mereka sejenak., "..masih ..jauhh??", lanjut Oliver setelah dia sempat menarik nafas sebentar. "Tinggal 3 km lagi, ayo kita harus bergegas sebelum Aldric berhasil menangkap kita ", ajak Howard kepada Oliver seraya membetulkan letak tas punggung nya. "Ayo.", jawab Oliver .Ia dan Howard berlari kembali melalui jalan setapak diselimuti semak belukar dan pohon - pohon tinggi.

Hari pun semakin malam, 5 km ke belakang dari mereka, langkah kaki itu makin cepat. Merusak setiap semak yang terlewati, dengan nafas teratur, Aldric mencari setiap keberadaan manusia di dalam hutan itu dengan penglihatan tajam nya. Tak lama , ia berhenti sejenak , mengambil segenggam tanah kemudian menciumnya, di wajahnya tampak seringai kecil, ia pun melesat kembali untuk mengejar pemilik jejak di tanah itu tadi.

"Cukup…!! kita berhenti saja disini untuk istirahat, seperti nya dia sudah kehilangan jejak kita", keluh Oliver yang berhenti dari pelarian nya lalu merebahkan diri di atas bukit rumput , "Yang benar saja, tinggal sedikit lagi kita sampai , kau sudah gila kalau kita istirahat disini, dia pasti akan menangkap kita ", jawab Howard dengan tergesa-gesa sambil menarik tangan Oliver untuk membangunkannya segera.

"Lihat itu, sudah didepan mata kita, tinggal sedikit lagi sebelum dia menangkap kita", lanjut Howard seraya menunjuk kepada Kastil yang berjarak 500 meter . "Baiklah, ayo jalan lagi, jangan sampai kita salah kastil", jawab Oliver untuk menuruti Howard.
Lalu ia pun mulai bangun dan mengikuti Howard yang sudah berjalan lebih dahulu , dengan langkah gontai.

Tak lama kemudian, mereka mulai melihat siluet bangunan besar dan megah. Tampak dari kejauhan bangunan besar itu diselimuti cahaya warna warni bak aurora di langit malam. Mereka lebih semangat berjalan bahkan separuh berlari sebab mereka yakin bangunan itu merupakan kastil yang dicari.

Berada didepan kastil,mereka seakan berada dijaman yang jauh lebih tua dari umur mereka sekarang ini. Kastil tua namun megah dan berwibawa layaknya kastil kerajaan , dan disamping sisi kastil terdapat benteng penjaga yang masing-masing mempunyai menara pandang dan lonceng , namun terlihat ganjil tanpa ada nya penjaga itu sendiri. "Kau yakin, ini kastil tempat kakek mu berada? Tempat harta itu berada?", tanya Oliver dengan keraguan yang jelas nampak pada wajahnya yang lelah. "Iya, aku yakin, sama seperti yang yang kakek ku gambarkan di peta ini", jawab Howard sambil menunjukkan secarik kertas kulit yang bergambar peta dan kastil kepada Oliver. "Baiklah, kalau memang ini kastil nya, lalu bagaimana kita masuk? Tidak ada seorang pun di kastil ini",kata Oliver terheran-heran.
"Sebentar..", jawab Howard sambil mengeluarkan kompas dan cermin bulat dari dalam tasnya,
Howard memegang kompas itu di depan cermin bulat itu seakan-akan kompas itu dapat bercermin sendiri, dan tak lama, cermin itu menampilkan bayangan kastil itu dalam bentuk yang sama sekali berbeda, berupa kastil megah yang berhiaskan kristal dan emas pada pintu kastil serta terdapat beberapa penjaga di samping pintu kastil itu yang memegang trisula yang terbuat dari titanium dan mengenakan pakaian perang yang kokoh, serta didampingi anjing penjaganya. "Ya ampun, kau benar, ini kastil nya", seru tertahan Oliver, "..tapi, bagaimana kita dapat masuk?kastil itu dijaga ketat, kau lihat sendiri kan.", tanya Oliver kembali.
"Berdasarkan petunjuk, kakek masuk melalui pintu belakang kastil, dan kita dapat memasuki kastil yang ada di bayangan cermin itu setelah lepas tengah malam, pada saat aurora kastil berwarna biru", penjelasan Howard sambil menunjuk ke kastil di hadapan mereka, kastil yang sepi dan tak berpenghuni itu. "Sekarang kau yang gila, kita sudah berlari cepat sampai sini, lalu kau bilang kita baru bisa masuk ke istana yang nyata itu setelah lepas tengah malam?", protes Oliver sambil menunjuk ke bayangan kastil yang ada didalam cermin itu."Lalu buat apa aku lari setengah mati seperti tadi?", geram Oliver.
"Dengar dulu, kita memang harus sampai di kastil ini secepat nya, kita dapat bersembunyi di kastil depan kita ini dahulu sambil menunggu waktu", jelas Howard.

Oliver kesal karena tidak segera menyelesaikan perjalanan ini untuk mendapatkan harta agar bisa segera menikahi Victoria, gadis yang dicintainya dan sekaligus gadis yang dapat direbut oleh Aldric jika ia tidak bisa mendapatkan harta itu. Victoria sudah lama berhubungan dengan Oliver, namun kedua nya tidak direstui oleh ayah Victoria, yang merupakan pemilik ski resort terbesar di Switzerland,dan lebih menyebalkan bagi Oliver, ia tidak bisa bersatu dengan gadis yang dicintainya karena satu hal saja, kemiskinan. "Namanya saja sudah menunjukkan dia orang miskin,dan benarkan, dia sangat miskin, tidak pantas untuk anakku", perkataan ayah Victoria itu masih tergiang di telinga Oliver.

"Hei,tentu saja aku tidak senekat itu,ayo ikut aku", kata Howard lalu mereka bergegas ke arah belakang kastil lalu, Howard mengambil kunci pintu belakang kastil dari dalam tas nya, lalu membuka pintu tersebut."Heh, aku heran, kenapa kita tidak masuk dari pintu depan saja? kan intinya kita akan berlindung di kastil ini", protes Oliver. "Pintu depan kastil justru akan mengarahkan pengguna nya kembali ke tempat mereka berasal, tetapi pintu belakang ini yang akan mengarahkan penggunanya ke tempat yang aman untuk berlindung", begitulah penjelasan singkat Howard seraya mengajak Oliver bersamanya untuk masuk ke dalam kastil tersebut.

Kemegahan yang sunyi,itu yang dipikirkan Howard ketika baru masuk, kastil itu dibangun dari bata serta batu sungai yang besar dan kokoh namun telah tersusun dan terpahat rapi sebagai dindingnya, lalu terdapat beberapa pintu di sisi kanan dan kiri kastil yang menandakan adanya beberapa ruangan disana, di dekat masing-masing pintu terdapat sebuah tongkat obor di sisi kanan dan kiri pintu , namun tanpa nyala api. Semua pintu tersebut nampak sama dan tak ada yang istimewa di kastil itu,"Hei, di ruang mana kita akan sembunyi?", tanya Oliver sambil melihat disekeliling aula kastil itu untuk mencari tempat persembunyian.

Di kejauhan, Aldric berhenti sejenak,lalu menghirup udara dalam-dalam, seraya menutup matanya sebentar dan berkonsentrasi, tak lama ia membuka matanya dan senyum kemenangan itupun muncul. Kekuatan yang ia dapatkan 4 jam lalu sangat membantunya, ia tidak perlu takut akan kalah bersaing dengan Oliver untuk mendapatkan Victoria, gadis yang dicintainya serta gadis yang juga dapat menguntungkan dirinya dalam bisnis. "Apa kau yakin, formula ini dapat meningkatkan kemampuan ku?",tanya Aldric dengan ragu kepada ilmuwan yang telah dipekerjakan nya sejak 8 tahun lalu." Tentu saja. Formula sudah diuji, dan ternyata berhasil, namun formula ini akan bekerja membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam",jawab ilmuwan itu dengan yakin. "Baiklah kalau begitu,suntikkan itu ke tubuhku",permintaan Aldric itu lalu prosedur penyuntikkan pun dilakukan. Dan sekarang formula itu menunjukkan khasiatnya, ternyata usaha nya mempekerjakan ilmuwan itu tidak sia sia. Ia pun melanjutkan pengejaran nya.

"Disini saja" jawab Howard, lalu ia segera duduk dan menurunkan tas nya. "Kenapa kita tidak masuk saja ke salah satu pintu itu?", tanya Oliver ke Howard yang baru dikenalnya 10 jam lalu.
Ia bertemu Howard dengan awal pertemuan yang tidak mengenakkan, ia mencuri tas Howard pada saat di pasar. Ia sebagai penduduk Bern asli, menyadari kalau Howard adalah turis yang mungkin sedang berwisata ke kotanya itu. Dan terlihat dari penampilan Howard yang sederhana namun elegan, serta pakaian yang dikenakan, menunjukkan Howard bukan sekedar turis pada umumnya. Ia mengamati Howard yang kala itu sedang melihat secarik kertas tua dan bertanya arah jalan di suatu toko kelontong, dan mengikutinya. Saat itu Howard melepas tas punggung nya dan meletakkannya di lantai toko itu, tak melepas kesempatan begitu saja, Oliver langsung memasuki toko itu dan menyambar tas itu lalu lari secepat mungkin. Yang terpikir di kepala nya hanyalah ingin mendapatkan uang yang banyak, Oliver berlari cukup kencang menyusuri jalanan di pasar itu, kemudian ia membelok kearah kanan memasuki gang kecil,namun "Dug..arghhh", seru sakit tertahan Oliver sambil memegangi hidungnya yang berdarah kemudian terduduk, "Ini milikku.", kata Howard sambil merebut tas miliknya dari Oliver, lalu ia pergi sambil membuang batang kayu yang digunakannya untuk memukul Oliver tadi.

"Tunggu,tuan. Eh, apa yang sedang tuan cari di kota kecil ini?", tanya Oliver sambil bangkit berdiri dengan susah payah. "Kenapa kau ingin tahu?", tanya Howard yang kemudian berbalik, dengan heran. "Karena tadi aku sempat melihat kertas yang tuan pegang tadi, peta itu sepertinya aku kenal", jawab Oliver dengan sedikit segan. "Oh ya?",tanya Howard dengan semangat."Ya tentu saja, ini adalah kastil yang sering diceritakan kakekku dulu sewaktu aku kecil, aku kira itu cuma dongeng saja, namun begitu aku lihat peta itu mirip dengan yang digambarkan kakekku,aku yakin itu kastil yang sama", jelas Oliver dengan yakin."Baik, kalau memang itu kastil yang kamu maksud, bisa kah kau antarkan aku kesana?", tanya Howard dengan ragu. Tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan usaha pencarian kakeknya yang hilang selama 5 tahun.

Albert Rowan , kakeknya merupakan peneliti sejarah , yang sedang berada dalam pencarian kastil di suatu daerah di Swiss, kastil itu dikenal sebagai kastil aurora, karena ia bersinar bak aurora, cahayanya berubah-ubah setiap waktu,namun keberadaan kastil ini tidak banyak yang tahu, kastil ini hanya dikenal dalam dongeng anak-anak saja.
Albert pun awalnya tidak percaya dengan keberadaan kastil ini tetapi berbagai benda yang disebutkan dalam dongeng,mulai bermunculan satu persatu, dimulai dari cermin yang ditemukan oleh biarawan di gereja tua kemudian biarawan itu menyerahkannya padanya sebagai perwakilan dari pihak universitas untuk kepentingan ilmu pengetahuan, serta ditemukannya kompas emas di toko kelontong barang kuno di London,dan peta kastil yang berada dibagian belakang kompas yang berukuran diameter 5 cm itu. Albert pun menemukan kastil itu namun setelah kepulangan Albert dari perjalanannya itu,Albert dinyatakan hilang dari ruang kerjanya, seperti hilang ditelan bumi.
Pihak universitas tempat Albert bekerja sebagai peneliti dan dosen,kemudian memberikan kompas, cermin, peta serta jurnal catatan yang ditinggalkan kakeknya di ruang kerja, kepada Howard. "Kami sungguh menyesal atas apa yang terjadi, tetapi kami sudah melakukan penyidikan dan tidak ada jejak atau bukti apapun tentang keberadaan Tuan Albert Rowan", itulah yang masih terngiang di benak Howard. Orang ini, orang yang hampir mencuri tasnya malah bisa jadi menjadi peta hidup dari kastil itu. "..tapi ada bayaran nya tuan", ucapan Oliver itu memecah keheningan Howard.

"Berapa yang kau mau?", tanya Howard dengan sedikit kesal."Yang ku dengar, didalam kastil itu ada harta karun, aku ingin harta itu sebagai bayaranku",begitulah tawaran Oliver kepada orang yang baru dikenalnya itu. "Serakah juga orang ini", itulah yang ada dibenak Howard, "Baiklah, kalau begitu kau antarkan aku kesana, dan apa yang ada disana, kau boleh mengambilnya", jawab Howard dengan tegas, lalu mereka pun segera pergi.

"Informasi apa yang kau tahu?", tanya Aldric kepada bawahan nya itu."Dia sepertinya bertemu turis asing yang sedang mencari kastil, dan kastil itu mempunyai harta karun.", jawab bawahan Aldric yang juga menjadi mata-mata yang mengawasi Oliver selama ini. "Jadi itu caranya", komentar Aldric sambil tersenyum dingin dan misterius. "Kejar dan bawa mereka kesini", perintah Aldric lalu ia menuju lab nya untuk melakukan prosedur penyuntikan formula peningkat panca indranya.
"Hanya ini daerah yang aku tahu, tapi sepertinya daerah di peta yang kau tunjukkan ini, aku tidak pernah melihat atau mendengar sebelumnya", kata Oliver sambil minum.


message 32: by Lysia (new)

Lysia Lim | 6 comments "Hmm, sebentar ku lihat di jurnal dahulu", kata Howard sambil merogoh tas nya . “ Awas… dibelakangmu…!" Howard pingsan dipukul orang asing dari belakang, Oliver pun bergegas menghampirinya tapi bernasib sama dengan Howard. Orang asing itu bersama dua orang lainnya menggotong mereka ke dalam sebuah mobil, dan segera pergi.

Howard pun tersadar, seketika itu juga ia menyadari kalau ia terikat dikursi yang ia duduki, dan Oliver pun demikian. Ruangan kedap suara berukuran 3 x 4 meter yang penerangannya hanya berasal dari kedua lampu bohlam yang berada tak jauh dari atas kepalanya. Diluar ruangan itu terdapat penjaga pintu yang terlihat dari jendela pintu.

Namun tak lama, penjaga kedatangan tamu,kemudian penjaga membukakan pintu,tamu itu memasuki ruangan itu serta mengunci pintu itu kembali , “Selamat datang Oliver dan kelihatannya kau mempunyai majikan ya ? “, tanya tamu itu sambil berjalan masuk. “Aldric, jadi kau yang menculik kami , kenapa? “, tanya Oliver. “Aku sudah lama tahu kalau kau ingin mencari harta di kastil itu. Kau ingin menggunakannya agar kau bisa merebut Victoria dari ku, tentu saja tidak akan kubiarkan”, kata Aldric lalu ia mengambil sebuah tabung kaca kecil berisikan cairan berwarna biru tua, pekat sekali. “Bagaimana kalau kalian lupakan saja niat kalian untuk ke kastil itu ?”, tawaran Aldric itu dengan ramah. “Aku tidak akan mau, aku ingin harta itu, aku ingin menikahi Victoria”, jawab Oliver dengan ketus. “Lalu kau ?”, tanya Aldric kepada Howard , “Aku harus menemukan kakekku disana, hanya kastil itu yang menjadi jawaban dimana kakekku berada selama ini”, jawab Howard sambil berusaha melepaskan diri dari ikatannya itu.“Baiklah, kalian yang memaksaku melakukannya, “, sesal Aldric lalu secara cepat ia membuka penutup tabung kecil itu dan meminumkannya pada Oliver, namun Oliver bersikeras menutup mulutnya, saat itulah dimanfaatkan Howard menendang punggung Aldric dari belakang dengan kedua kakinya yang tak terikat. “Argh….kau kurang ajar”, seru tertahan Aldric, yang segera menghajar Howard . Oliver tidak tinggal diam,ia menjatuhkan dirinya beserta kursinya menimpa Aldric yang saat itu lengah, hingga kursi itu patah, dan Oliver dapat dengan segera melepaskan tali ikatannya, sementara Aldric mengaduh dan sempat tidak sadarkan diri. Oliver segera membantu Howard melepaskan diri dari ikatannya.

“Bagaimana kita bisa pergi dari sini ? “, tanya Howard dengan bingung. “Aku kenal tempat ini, ini adalah gudang penyimpanan jam milik Aldric, biasanya gudang ini tidak terlalu banyak orang, kita hanya perlu menyingkirkan penjaga di pintu itu”, jawab Oliver lalu ia mengambil beberapa potongan kursi yang patah tadi, sebagai senjatanya dan Howard, “Pada hitungan ketiga, kita pukul penjaga itu dengan sangat keras”, perintah Oliver sambil mengendap-endap ke dekat pintu, lalu mengetuknya sementara Howard berada disisi yang lain dengan posisi sejajar dinding agar tidak terlihat penjaga, kemudian “tiga…”, bisik Oliver saat pintu terbuka dan secara cepat Howard memukul penjaga itu dengan sangat keras hingga penjaga itu tersungkur dekat Oliver berada.

“Wooww, rupanya kau belajar dengan cepat”, kagum Oliver sambil menyingkir dari penjaga itu, lalu mereka pun berlari keluar gudang. 15 menit berlalu dan Aldric pun tersadar, keadaaan sekelilingnya yang kacau dan musuhnya pun sudah menghilang. “Sial, mereka kabur disaat kekuatanku belum muncul”, serapah Aldric, perlahan tapi pasti daya penglihatannya menjadi sangat jernih, pendengarannya menjadi tajam, senyumnya pun mulai terbit di bibirnya. “Sudah waktunya , Oliver. Kau tidak akan kulepaskan”, ucap Aldric sambil berlalu dari ruangan itu dengan cepat.

Disaat yang lain, “Kau ini, selalu protes”, komentar Howard sambil membaca jurnal milik kakeknya, “ Tenang saja, percayalah padaku, kalau kita akan aman walaupun berada di aula ini”, sambung Howard. “Jadi disini kalian berada”, gumam Aldric ketika telah berada di depan kastil yang sama tempat Howard dan Oliver berada pada malam itu. Aldric konsentrasi mendengarkan setiap suara yang ada malam itu, namun anehnya ia tidak mendengar suara nafas manusia sedikitpun di dekat maupun dari dalam kastil itu. Kemampuan pendengaran Aldric menjadi 100 kali lebih tajam dari biasanya, seharusnya ia dapat mendengar suara apapun sebagai pertanda keberadaan Oliver dan Howard. Ia pun menjadi kesal dibuatnya lalu dengan cepat, ia memasuki pintu depan kastil dan…hap….ia muncul kembali di gudang tempat ia tadi menyekap Howard dan Oliver. “Argghhh…..apa-apaan ini?”, teriak Aldric dengan putus asa, yang membahana ke seluruh area itu.

“Kastil ini akan muncul sebagaimana kastil yang sudah tidak berpenghuni, ia tidak akan memunculkan tanda-tanda keberadaan apapun yang ada didalamnya kepada seseorang, selama seseorang itu tidak membawa cermin dan kompas kuno itu.”, ucap Howard yang membacakan sebagian isi jurnal milik kakeknya. “Dan apa yang akan kita lakukan sekarang ?”, tanya Oliver kembali. “Baiklah karena ini sudah tengah malam, cahaya aurora yang kebiruan akan menyelimuti kastil ini dan seisinya. Pada saat itulah kita memasang cermin dan kompas bersamaan, kemudian kita berdiri di hadapan cermin ini.”, jawab Howard seraya melihat jam tangannya, tak lama cahaya kebiruan mulai muncul menyelimuti kastil dan mereka juga.
Oliver yang melihat cahaya itu langsung beringsut ke dekat Howard yang sedang meletakkan cermin dan kompas bersamaan. Mereka lalu berdiri di dekat cermin dan kompas itu, tak lama sebuah cahaya putih muncul dari dalam cermin itu, dan dalam sekejap mereka menghilang dari kastil sunyi itu. Yang tersisa hanyalah angin dan debu saja, sementara cermin dan kompas itu kembali ke meja kerja Albert Rowan di universitasnya.

Oliver membuka mata dan tersadar bahwa ia tiba didepan kastil bersama Howard berdiri disampingnya. Kastil megah yang disinari cahaya matahari , berhiaskan panji kerajaan berlambangkan burung phoenix, dengan beberapa penjaga yang berdiri di benteng , sambil berjaga-jaga dengan gagahnya. “Kalian tiba disini juga akhirnya”, kata Verena, wanita muda yang bersayap dan mengenakan gaun putih panjang, yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Oliver dan Howard, namun keberadaan wanita tersebut tidak mengejutkan orang-orang sekitar yang lewat maupun penjaga kastil itu. “Siapa kau?”, tanya Howard dengan kewaspadaan.
“Aku , Verena, salah satu penjaga kastil ini”, jawab Verena diiringi senyum simpul. “ Kalian telah tiba di kastil ini. Dengan tujuan kalian masing-masing, kalian mampu menghadapi semua rintangan yang ada untuk mencapai kastil ini.” ucap Verena, “Kau , Howard Rowan, dengan kegigihan untuk menemukan kakekmu , Albert Rowan. Kemudian kau, Oliver Sebastian , dengan kegigihan untuk menemukan harta agar kau bisa menikahi kekasihmu yang kau cintai.”, sambung Verena sambil menatap Oliver yang sedikit malu-malu karena wanita ini mengetahui semuanya. “Dimana kakekku ? “, tanya Howard. “Kakekmu kini berada didalam kastil, tapi sayang, jika kau ingin membawanya keluar dari kastil ini, kau tidak bisa melakukannya.”, jawab Verena dengan penyesalan.

“Kenapa ? Apa kakekku tidak pantas untuk pulang ke dunianya, dunia kami sebagai manusia.”, tanya Howard lagi dengan kecewa. “Perlu kau ketahui, kakekmu memang orang baik, namun ia menemukan kastil ini dengan motivasi ingin memberitahukan keberadaan kastil ini kepada manusia yang lain, demi apa yang disebutnya dengan pengetahuan, karena itu ia tidak bisa kami kembalikan ke dunianya”, begitulah penjelasan Verena. “Apa? Kalian tidak bisa seperti itu, kami juga manusia, kami juga datang kesini dan mengetahui keberadaan kalian, apa kalian akan memperlakukan kami seperti kakekku disini ?”, tanya Howard lagi , dan ketakutan pun mulai muncul dibenak Howard dan Oliver, ketakutan akan tidak kembalinya mereka ke dunia nyata. “Asalkan dengan kondisi yang aku inginkan, kalian dapat kembali ke dunia kalian”, jawab Verena dengan bijak. “Kalian dapat kembali ke dunia kalian jikalau kalian memusnahkan semua benda yang berhubungan dengan keberadaan kastil ini, dengan membakarnya hingga habis”, itulah tawaran Verena. “Apa dengan demikian kakekku bisa kembali juga ?”, tanya Howard, “ Apakah aku juga dapat membawa sebagian harta dari sini ?”, sambung Oliver, Howard pun langsung melirik ke Oliver dengan sinis. “Keinginan mu Oliver, dapat kukabulkan namun tidak untuk mu, Howard, kakekmu bersikeras pada prinsipnya , yaitu ingin membeberkan keberadaan kastil ini dan kami kepada manusia” , jawab Verena. Howard sangat kecewa mendengarnya, “Baiklah, kami turuti keinginanmu. Apakah aku bisa bertemu sejenak dengan kakekku? Aku ingin mengucapkan perpisahan padanya”, itulah permohonan dari Howard kepada Verena. “Baiklah, hanya sebentar saja. Mari ikut aku”, Verena pun mengabulkan permohonan Howard.

Ketiganya berjalan ke arah pintu depan kastil, “Aku , Verena, dan dua orang manusia hendak masuk. Ijinkan kami masuk untuk sebentar saja.”, perintah Verena kepada seorang penjaga yang bertubuh kekar. “Silakan masuk, Verena”, jawab penjaga itu lalu ia membukakan pintu depan kastil itu. Nampaklah kastil itu bagi Oliver dan Howard juga, kastil megah nan ramai dengan orang-orang istananya, dinding kastil dihiasi berbagai macam hiasan, dari lampu hias hingga panji-panji kerajaan. Lantai kastil yang terbuat dari marmer alam berwarna krem muda, dihiasi berlian di setiap tepian potongan marmer. Oliver melihatnya dengan sangat terpana, namun Howard tetap mengalihkan pandangan keseluruh ruangan kastil untuk mencari sosok kakeknya disana.

Sampailah mereka di sebuah ruangan kecil , di ujung kastil, ruangan kamar tidur yang mewah, dan terang diselimuti cahaya yang matahari, duduklah disana Albert Rowan di kursi dekat tempat tidurnya, membelakangi mereka, yang kemudian menyadari kedatangan beberapa orang ke kamarnya, lalu begitu ia melihat bahwa cucunya datang ke hadapannya, ia segera memeluk Howard dengan erat, untuk melepas rasa rindunya kepada cucu kesayangannya itu. “Kakek, apa kabar ?”, tanya Howard setelah ia melepaskan pelukan kakeknya itu terlebih dahulu. “Aku baik-baik saja disini, cucuku. Maafkan aku karena aku tidak pernah memberitahumu sebelumnya”, jawab Albert dengan guratan penyesalan di wajahnya yang masih tetap sama seperti 5 tahun lalu sebelum ia menghilang.

“Apa yang kau lakukan disini , kek ?”, tanya Howard dengan heran, lalu kakeknya itu mengajak ia duduk di tepi ranjang miliknya. “Aku disini sebagai penulis kerajaan ini”, jawab Albert sambil memberikan secarik kertas kepada Howard, “..ini adalah surat wasiatku kepadamu, aku tidak bisa kembali ke dunia kita, jadi relakan saja aku disini. Satu hal yang perlu kau ingat, aku selalu menyayangimu , cucuku. Jaga dirimu baik-baik, nak”, permintaan kakeknya itu membuat Howard tertegun, “Yah, aku mengerti, kek. Aku juga menyayangimu.” , jawab Howard dengan berat hati. Lalu Howard memeluk kakeknya itu dengan sangat erat, pelukan itu merupakan kontak terakhir Howard dengan kakeknya, setelah muncul cahaya putih yang melingkupi Howard ,dan Oliver yang ketika itu berdiri di pintu kamar Albert.

Tiba-tiba Howard terjatuh dari kursi di kereta apinya, ia pun tersadar dan seketika ia masih menggenggam surat wasiat pemberian kakeknya, dan saat itu pula ia tersenyum kecil.

Di lain tempat, Oliver jatuh dari tempat tidurnya, ketika tersadar, ia menemukan dirinya berlimpahan uang yang sangat banyak, ia sangat terkejut, apalagi ketika terdengar ketukan di pintu kamar tidurnya. “Oliver, bangunlah, ini sudah pagi, saat nya kau harus ke pasar untuk menjual hasil kebun”, teriak ibunya dari balik pintu. “I..iya bu, sebentar”, jawab Oliver dengan panik lalu ia segera merapikan uang-uang yang ada dipangkuannya itu, dan memasukkannya kedalam tas miliknya.

Tamat


message 33: by Aad (last edited Feb 29, 2012 04:37AM) (new)

Aad (aad_uncu) | 11 comments Grim di Kastil Morgan le Fay


Sebuah hari yang cerah di bulan yang hangat. Tapi untuk Grim hari itu adalah hari yang aneh di bulan yang ganjil dan mungkin di tahun yang mengubah hidupnya. Hari itu dia sedang mengayuh sepedanya di jalanan sempit di kotanya yang kecil menuju sebuah teater. Dia memerankan seorang raja di pertunjukan hari ini, walaupun raja itu akhirnya mati, tapi tak apalah. Ini adalah kali pertama dia mendapatkan peran.

Berbelok ke kanan melewati toko buku tua, berbelok ke kiri melewati kafe Adelmaire, berbelok ke kanan lagi dan dia berpapasan dengan seseorang. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan topi bulat hitam. Dan Grim tahu bahwa dia baru saja berpapasan dengan Kematian. Dia menghentikan sepedanya dan menoleh ke belakang. Kematianpun berhenti dan membalikkan badannya dan menatap langsung ke arah mata Grim dan dia tersenyum. Grim hanya diam saja, dia membalikkan badannya dan mengayuh sepedanya lagi. Dia menoleh dan melihat Kematian mengikutinya. Dia mengayuh sepedanya semakin cepat dan dia merasakan bahwa Kematian mengikutinya dengan berlari. Dia kayuh sepedanya semakin cepat dan Kematian mengikutinya dengan larinya yang semakin cepat.

Grim mengerem sepedanya dan meningkalkan sepeda itu di tepi jalan, lalu dia berlari. Saat dia menoleh ke belakang dia melihat Kematian mengabil sepedanya, mengendarainya dan mengejarnya. Sial, pikir Grim. Tapi gedung teater sudah dekat dan dia segera memasuki gedung itu, berharap Kematian tidak megikutinya lagi. Dia bergegas memasuki ruang ganti dan memakai pakaian raja. pertunjukan segera akan dimulai.

Penonton memenuhi ruangan teater itu. Grim memerankan perannya dengan baik. Di akhir cerita seorang penghianat di kerajaanya menghianati sang raja dan dia meracuni makanan sang raja. Grim memakan makanan beracun itu dan kemudian tergeletak di lantai, wajahnya menghadap ke arah penonton, mati. Penonton berdiri sambil bertepuk tangan, di antara para penonton Grim melihat Kematian dan dia berdiri sambil bertepuk tangan dengan bersemangat.

Mulai saat itu ke manapun dia pergi dia pasti akan melihat Kematian di sekelilingnya. Saat mengendarai mobilnya dia melihat Kematian selalu di tepi jalan memperhatikan laju mobilnya atau terkadang menyeberang jalan saat dia berhenti di lampu merah. Saat di kafe, Kematian duduk di salah satu kursi tidak jauh darinya, terkadang dia mengangkat gelasnya seakan-akan mengajak bersulang. Saat di perpustakaan Kematian berdiri dan bersandar di salah satu rak buku sambil membaca sebuah buku berjudul “Kehidupan Setelah Mati”.

Grim sudah tidak tahan lagi. Dia membawa beberapa pakaian dan bekal kemudian pergi ke pelabuhan untuk meninggalkan kotanya. Saat kapal hendak berlayar, dia melihat Kematian berdiri di tepi pelabuhan memandangi dirinya yang semakin menjauh. Dia merasa lega, setidaknya Kematian tidak akan bisa mengikutinya lagi.
Saat pelabuhan kota seberang sudah tampak, luapan kegembiraan Grim semakin besar. Dia akan tinggal di kota itu untuk beberapa hari supaya merasa tenang. Di pelabuhan itu berdiri orang-orang yang akan menyambut kedatangan orang-orang di kapal. Grim pun disambut oleh seseorang, yaitu Kematian, yang berdiri dingin di tepi kerumunan orang. Grim tidak jadi turun dari kapal. Dia tetap di kapal itu dan memutuskan untuk kembali lagi ke kotanya. Di pelabuhan kotanya Kematian sudah menunggunya dengan pandangan misteriusnya.

Grim memutuskan untuk pergi, tapi kali ini dia akan berjalan kaki. Dia melewati jalan-jalan sempit di kotanya, jembatan, ladang, kebuh jeruk dan anggur, beberapa bukit kecil, padang rumput. Grim terus berjalan sambil sesekali menengok ke belakang dan dia melihat Kematian masih mengikutinya.

Dia memasuki kota tetangga dan terus berjalan, melewati kebun gandum, sungai kecil, padang bunga, hutan. Grim ingin melewati segalanya untuk bisa terlepas dari kejaran Kematian. Dia terus berjalan. Kini dia melewati padang pasir. Dia terus berjalan. Melewati semak-semak. Melewati deretan pepohonan pinus. Dia terus berjalan hingga kelelahan menderanya saat dia mendekati hutan. Dia berhenti, mengatur napasnya dan dia menengok ke belakang, Kematian sudah tidak terlihat lagi. Dia berbaring di bawah sebuah pohon rindang dan tertidur pulas.

Di kejauhan terlihat sosok hitam, Kematian menghentikan langkahnya dan dia berbalik, meninggalkan Grim yang tertidur pulas.

Sebuah tangan mengguncang tubuh Grim. Saat membuka matanya dia melihat sosok perempuan mengenakan jubah besar berwarna biru dan kuning.

“Kenapa Anda tidur di sini, apa Anda tersesat?”

“Aku sama sekali tidak tersesat, aku hanya kelelahan. Apa kamu tinggal di sekitar sini?”

“Aku tinggal di kastil tua dekat hutan”

“Bisakah aku menginap malam ini di sana? Aku butuh tempat berteduh malam ini.”

“Dengan senang hati, mari ikut saya.”

Grim mengikuti wanita itu. “Siapa namamu?”

“Panggil saja saya Shah”

“Apa kastil itu punyamu?”

“Bukan. Kastil itu milik Nyonya Morgan le Fay”

“Apa dia ada di sana sekarang?”

“Dia punya banyak kastil, mungkin kastil ini sudah dia lupakan.”

Di halaman kastil itu terhampar sebuah labirin rumit terbuat dari sejenis pepohonan setinggi dua meter. Wanita yang mengajak Grim mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“Ini gulungan benang emas penuntun jalan, dia akan mengelinding dan kita tinggal mengikuti benang yang terurai supaya kita tidak tersesat di labirin ini.”

Memasuki kastil yang tidak terlalu besar itu, Grim merasakan bahwa dirinya memasuki sebuah masa yang sudah sangat lama, kastil itu seperti berada di waktu yang berbeda. Dinding batu terlihat kusam. Beberapa perabot sepertinya dari masa yang sudah lewat, tapi semuanya terawat. Tirai-tirai jendela menampilkan motif-motif kuno.

“Apa Anda hendak pergi ke sebuah tempat?”

“Sebenarnya aku tak tahu mau ke mana, aku hanya ingin pergi ke sebuah tempat saja, tapi aku masih tak tahu di mana itu.”

“Tinggallah di sini kalau anda mau.”

“Baiklah aku akan tinggal di sini beberapa hari.”

“Akan saya jelaskan apa yang perlu Anda ketahui kalau mau tinggal di kastil ini. Pertama kalau anda mau makan sesuatu anda tinggal masuk ke ruangn itu, ruangan yang pintunya berukir sebuah pohon. Di dalam ruangan itu anda akan menemukan banyak lukisan pohon yang sedang berbuah. Anda bisa memetik buah di lukisan itu. Tapi hanya satu buah setiap harinya. Ada juga lukisan makanan, anda juga hanya bisa mengambilnya sekali sehari. Di ruangan ujung kalau anda suka membaca anda akan menemukan banyak sekali buku. Tapi buku-buku itu hanyalah buku-buku yang telah dilupakan. Kalau buku itu masih ada yang membaca atau mengingatnya maka buku itu tidak akan ada di ruangan itu. Di ruangan bawah tanah ada banyak sekali minuman kalau anda merasa haus. Tapi minuman itu bukan minuman biasa, minuman-minuman itu adalah lagu-lagu yang di cairkan, kalau anda meminumnya anda akan mendengar sebuah lagu. Mungkin hanya itu saja yang bisa saya beritahu, selebihnya anda bisa mencari tahu sendiri. Ini kamar anda. Untuk beberapa hari saya akan pergi, jadi anda akan tinggal sendiri di sini, apakah anda tidak keberatan?”

“Oh, baiklah, saya tidak keberatan.”

“Kalau begitu saya akan pergi sekarang. Kalau anda perlu pakaian anda bisa memakai pakaian yang ada di lemari kamar Anda.”

“Terimakasih banyak sebelumnya.”

Wanita itu pergi dan Grim memasuki kamarnya. Dia membuka lemari pakaian dan yang dilihatnya adalah tumpukan pakaian, beberapa ada yang digantung, dan semuanya berwarna hitam. Grim mengambil satu stel pakaian dan mengenakannya.

Hari-hari di kastil itu dijalaninya dengan tenang, terutama karena dia tidak terganggu lagi oleh sosok Kematian yang selalu mengikutinya. Saat membaca buku-buku di ruangan buku, betapa beruntungnya dia, pikir Grim, karena di dunia hanya dialah yang tahu buku-buku itu. Rasa minuman di ruangan bawah tanah sangat lezat dan lagu-lagu yang terdengar sangat merdu walaupun sepertinya lagu-lagu itu dari masa lalu.

Sudah satu minggu dia berada di sana, wanita yang mengajaknya ke kastil itu belum kembali juga. Dia akan menunggu sampai wanita itu kembali.

Satu tahun berlalu. Grim masih di kastil itu dan wanita itu belum kembali.

Aku akan tinggal di kastil ini selamanya, pikir Grim.

Ada hari-hari saat dia merasa bosan berada di kastil itu. Beberapa kali dia menyempatkan untuk pergi menjelajah hutan kecil di dekat kastil, terkadang dia bisa melihat beberapa rusa di sana.

Suatu hari Grim memutuskan untuk pergi ke kotanya dahulu. Saat sampai di sana tidak banyak perubahan yang terjadi di kotanya, semuanya masih sama seperti dahulu. Menyusuri jalan-jalan sempit dan barisan toko-toko adalah hal yang paling dirindukanya. Berbelok ke kiri dia melewati toko permen, berbelok ke kanan dia melewati toko bunga, berbelok ke kiri kembali dan dia berpapasan dengan seorang anak muda yang mengendarai sepeda. Ada perasaan aneh yang Grim rasakan. Dia berhenti dan membalikkan badannya. Anak yang mengendarai sepeda itu juga berhenti dan membalikkan badannya. Mereka saling menatap beberapa lama. Anak itu membalikkan badannya dan mengayuh sepedanya. Grim hendak menanyakan sesuatu ke anak itu, tetapi anak itu mengayuh sepedanya. Grim mengejarnya dengan berlari, anak itu mengayuh sepedanya semakin cepat. Mendadak anak itu menghentikan sepedanya dan meletakkannya begitu saja, kemudian dia berlari. Grim berdiri di dekat sepeda itu kemudian mengambil sepeda itu dan mengayuhnya, mengejar anak itu. Anak itu memasuki sebuah toko dan Grim menghentikan kayuhan sepedanya. Dia meletakkan sepeda itu di dekat tembok tepi jalan dan berjalan pulang ke kastil.

Aneh, kenapa anak itu lari dariku, pikir Grim.

Grim tinggal di kastil itu selama satu tahun lagi.

Ada saat-saat ketika dia berdiri di jendela memandang ke pepohonan hutan dan melihat ada beberapa orang yang sedang lewat di jalan berbatu dekat hutan, pada awalnya orang-orang itu berjalan biasa, tetapi ketika mereka melihat Grim berada di jendela mereka langsung mempercepat langkah mereka.

Dan Grim terus tinggal di kastil itu. Karena tidak ada alasan baginya untuk pergi.

Saat sore dia akan menulis beberapa cerita. Tanpa disadarinya semua tokoh di ceritanya berakhir dengan kematian, atau setidaknya ada sebuah kematian di setiap ceritanya.

****

Yang tidak diketahui oleh Grim adalah ada kabar yang tersebar di sekitar desa dan kota dekat kastil itu bahwa ada sosok yang mengenakan pakaian serba hitam yang sering terlihat di jendela kastil kosong. Mereka percaya bahwa sosok serba berpakaian hitam itu adalah Kematian.


message 34: by Giande (new)

Giande | 2 comments AEDI part 1

Matanya terbuka, dia tersadar dari tidurnya. Matanya mencari tahu dimana dirinya berada, pemandangan yang ia dapatkan adalah sebuah ruangan yang luar biasa besar, dengan perabotan yang sedikit.Dia hanya bisa melihat ruangan kosong dengan sebuah lemari besar di pojok, dan tentunya kasur tempat ia berbaring. Langit – langit yang tinggi, tergantung lampu hias yang terisi dari belasan lilin di setiap rangkanya menerangi kamar itu.

Dimana aku? Dia bergumam dalam hatinya, ingatannya seakan berkabut..

Didalam kamarmu terdengar suara lain, yang tidak lain adalah suaranya juga.

Ia memutuskan untuk bangun dan melihat – lihat sekitar kamar itu. Ia berjalan mendekati satu – satunya lemari yang berada dalam kamar itu. Saat itu juga terdengar suara ketokan dari balik pintu kamarnya.

“Permisi !” Suara wanita terdengar, tanpa ada persetujuan, pemilik suara itu langsung masuk.

“Yang mulia, anda sudah bangun? “ Wanita itu bertanya walaupun ia sudah melihat satu – satunya orang dalam kamar itu selain dia telah berdiri di hadapannya.

Siapa?
Telli

Lagi – lagi pertanyaan dalam kepalanya dijawab oleh dirinya sendiri.

“Eh tunggu dulu.. aku? Yang mulia? “

Wanita itu tidak bereaksi banyak, hanya memainkan kacamatanya yang besar lensanya sekitar 3 – 4 kali besar matanya. Selain kacamata yang besar, ia juga menggunakan setelan gaun yang tampak kebesaran, sangat tidak cocok. Ia terlihat konyol.

“Telli?”

“Ya? “ Jawab Telli

“Makan sudah tersedia yang mulia.” Telli langsung membalik tubuhnya untuk menuntun

Siapa aku? Yang mulia? Aghhh siapa namaku?
Aedi….atau biasa dipanggil raja Ed…saat ini

Kembali Ed mengalami hal yang sama, pertanyaan yang dijawab oleh dirinya sendiri secara tidak sadar. Ed memutuskan mengikuti Telli. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, Telli jatuh tanpa ada sebab, kelihatannya dia salah langkah, ceroboh.

“Kamu tidak apa – apa?”
“Tentu aku ada apa – apa, tapi tidak masalah. Ini hal biasa saat ini.”Jawab telli langsung bangkit berdiri lagi.

Ed berjalan melewati lorong cukup panjang, tidak ada hiasan apapun di lorong, hanya barisan tembok yang putih bersih. Setelah melewat sebuah sebuah tikungan mereka tiba di sebuah ruangan yang ukurannya lebih besar dari kamar. Sebuah meja dan sebuah kursi terletak di tengah ruangan itu. Sama seperti ruangan lain, ruangan ini jug aterlihat polos, tidak ada barang lain selain meja dan kursi.

Tampak wanita lain berdiri di tepi meja. Wanita itu gemuk, dan menggunakan baju warna putih, dan topi khas koki.

Siapa dia?
Tacre

“Selamat pagi yang mulia, makan sudah siap.” Kata Tacre,” Ah terima kasih penasehat Telli.Aku merepotkan kamu seperti biasa,”

Telli tidak menjawab, dia hanya pamit untuk kembali ke tugasnya, tapi sebelum keluar dari ruangan ia kembali terjatuh.

Makanan yang disajikan tampak lezat, tapi saat Ed mulai mengunyah ia langsung menyadari kalau makanan itu tidak seenak yang tampak dipermukaan. Dagingnya terasa hambar, sayurannya masih mentah, ditambah lagi sup yang luar biasa pahitnya.Ed tidak protes, karena ia merasa itu tidak berguna. Ia berusaha menghabisi makanan yang disajikan dengan susah payah. Setelah semua selesai tacre langsung meninggalkannya sendiri.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Kali ini tidak ada jawaban dari dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk berjalan – jalan mencari tahu dimana sebenarnya dia berada. Ia telusuri lorong demi lorong. Tidak ada ruangan yang benar – benar menarik perhatiannya. Semua tampak polos dan minimalis. Ia menemukan ruang yang hanay berisi sebuah karpet warna merah dan sebuah kursi besar di ujungnya, kemudian di ruang lain ia mendapati kumpulan lemari tanpa ada isi.

Ini kastil? tapi tidak ada isinya gumamnya

Ia terus berjalan menelusuri lorong yang putih, menuju ke halaman. Tidak beda jauh, halaman itu tampak polos, tidak ada hiasan hanya lapisan batu hanya menutupi. Seorang wanita berdiri di tengah halaman itu mengangkat sebuah pedang kecil,, ah bukan pedang tapi sebua pisau. Wanita itu tampak lemah, tubuhnya kurus.

Tiva

Belum sempat Ed bertanya pada dirinya sendiri, jawaban sudah muncul di kepalanya.

“Jendral Tiva melapor yang mulia!”
“Apa yang sedang kamu lakukan?”Tanya Ed
“Melihat pisau!”
“Hanya itu?”
“Hanya itu” Jawab Tiva berdiri tegak, walaupun terlihat agak malas.

Ed tidak meneruskan pertanyaannya, dia merasa ini sudah biasa dan harus seperti ini. Ia kembali berjalan tanpa tujuan, dan kakinya mengantar dia pada sebuah ruang lain. Ruang yang hanya berisi meja kerja, Telli tampak duduk di atas meja itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“tidak ada.”

Ed diam, tidak melanjutkan pertanyaannya. Seakan dirinya sudah tahu kalau memang seperti ini keadaannya. Ed berjalan lagi, membiarkan kakinya membawanya ke ruangan lain. Kakinya membawa dirinya ke puncak menara. Sebuah ruangan kecil tidak ada isi, hanya sebuah jendela. Dari situ Ed hanya melihat jauhnya cakrawala. Dia merasa tenang, waktu berlalu tanpa ia sadari. Apa yang dia lakukan itu seakan hanyat itu tugasnya.

Saat siang tiba, ia berjalan kembali ke ruang makan, setelah itu ia kembali ke puncak menara dan melihat cakrawala. Malam tiba , ia kembali ke ruang makan dan menyantap makanan yang tidak lezat lagi, dan kemudian kembali ke kamarnya untuk tidur.

Hari berganti, tapi Ed masih melakukan kerjaan yang sama, demikian juga dengan ketiga orang yang dia temui. Telli yang hanya duduk di meja, Tacre yang menyajikan makanan tidak enak, Dan Tiva yang hanya melihat pisau di halaman. Dia merasa ada yang salah, banyak yang salah tapi apa itu? Ed belum bisa mendapat jawabannya. Dia adalah raja di kastil ini, ataukah dia terperangkap dalam kastil ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Setiap hari ed menghabisi waktunya melihat cakrawala, mencari tahu apa yang salah, tidak … banyak yang salah tapi yang mana inti permasalahannya?

Apa yang salah? Kenapa aku ada disini? Kenapa ?
Kamu Aedi, kamu harus mendapatkan sendiri jawabannya

Ed hanya mendapat pertanyaan sebagai sebagai jawaban.

Kenapa ada suaraku yang menjawab?Apa aku bukan aku yang sekarang?

Tidak ada jawaban, tapi Ed merasa ia mulai mendapat jawaban.

Hari tersu berganti, Ed masih terkurung dalam “aku bukan aku yang sekarang”. Dia merasa masih ada yang kurang. Kastil yang besar, tidak ada hiasan, semua ruangan berbentuk pesergi yang sederhana. Tidak ada ukiran, tidak ada benda – benda berharga.

Di suatu hari, ed mulai merasa tidak nyaman lagi. Ia ingin keluar dari kastil ini. Tapi kakinya tidak bisa membawanya keluar.

Aku ingin keluar aku ingin keluar aku ingin keluar aku ingin keluar

“Tidak bisa yang mulia” Itu suara milik Telli
“Kamu masih belum mendapatkan jawabannya.” Tambah Tacre
“Jawaban itu ada dalam dirimu” Kali ini suara milik Tiva yang berkata

Tapi sosok mereka tidak terlihat, hanya terlihat bayangan putih seperti kabut asap. Walaupun demikian Ed melihat kalau ketiga sosok bayangan itu mempunyai penampilan yang berbeda. Tidak ada bayangan yang kurus seperti Tiva, gemuk seperti Tacre, ataupun bayangan dengan siluet kacamata besar.

“Ka..kalian?” Ed masih tergagap.

Mereka orang yang sama dengan yang kamu kira

Kembali Ed mendapatkan jawaban melalui dirinya sendiri.

Saat itu juga bayangan itu menghilang berubah menjadi kabut tipis. Ed masih terdiam di puncak menara yang kosong, jendela yang masih menampakan cakrawala. Perlahan dia mulai mendapatkan jawabannya. Jawaban itu ada pada dirinya

Aku punya jawaban dan jalan keluarnya

Ed yakin dengan hal itu.

Yang perlu kulakukan sekarang adalah menggalinya dalam diriku

Ed berusaha tidak tenggelam dalam kebengongan seperti hari – hari yang dia lalui. Ia berusaha berpikir, dan berpikir.

Penasehat yang tampak konyol, koki yang masakan tidak enak, Seorang prajurit atau mungkin jendral yang malas berlatih. Kalau aku bukanlah aku yang sekarang, pasti mereka juga bukanlah mereka yang sekarang.

Hari kembali berlalu

Ed kembali terbangun melakukan rutinitasnya. Kembali ia mendapatkan kalau makanan si koki tidak enak, dan yang terparah makanan yang disajikan hanya itu – itu saja.

“Kenapa kamu tidak memasak jenis lain? Harusnya koki mempunyai banyak kreasi masakan.” Protes Ed. Akhirnya ia mengatakan uneg – unegnya. Selama ini dia hanya bisa menerima dan mengurungkan niat untuk protes.

Tecra tersenyum

“Hampir.” Katanya sambil berlalu, ia tidak mengatakan apa – apa lagi.

Ed berpikir dia semakin dekat dengan jawaban yang dia cari.

Secara refleks kakinya kembali membawanya ke halaman menemui Tiva. Wanita kurus itu masih tetap melihat pisau yang dia punya tanpa berbuat apapun. Biasanya Ed membiarkannya, tapi tidak kali ini.

“Kenapa kamu hanya melihat? Harusnya kamu melakukan sesuatu untuk dengan pisau itu. Carilah sesuatu alasan untuk menggunakan pisau itu.” Kata Ed protes.

Tiva tersenyum sama seperti Tacre

“Hampir.”

Jawaban yang sama. Tiva meletakan pisaunya, dan berjalan menjauh, tidak seperti biasanya.

Ed merasa ini sudah cukup untuk sementara, dan kakinya kini membawanya ke ruang penasehatnya. Dan kembali dia melihat penasehatnya duduk diatas meja. Penampilan yang konyol itu membuat pensehat seperti orang bodoh.

“Sebagai penasehat harusnya memperlihatkan kemampuanmu, jangan hanya diam seperti itu.” Lagi – lagi Ed melakukan protes, suatu perubahan yang besar.

Telli masih diam bengong di atas meja.

“ Jangan diam seperti orang bodoh. Buktikan kamu itu adalah seorang penasehat.” Kata Ed tiba – tiba. Entah darimana dia mendapatkan kalimat seperti itu. Padahal dia sama sekali tidak berpikiran demikian, dia hanya merasa kalau harusnya seperti itu yang terjadi. Ia merasa dirinya yang dulu sebelum dia sadar beberapa waktu yang lalu akan melakukan hal seperti ini.

Telli tersenyum.

“Hampir. Kita ada untuk yang mulia, sama seperti yang mulia membutuhkan kita.”

Telli kemudian turun dari atas meja dan untuk pertama kalinya ia duduk di kursi, dan mengeluarkan sebuah cacatan kecil. Ed merasa sudah cukup. Ia melangkahkan kakinya menuju menara. Dan kembali ia melihat cakrawala yang luas.


message 35: by Giande (last edited Feb 29, 2012 07:39AM) (new)

Giande | 2 comments AEDI part 2

Aku merasa hari ini jauh lebih bersemangat, aku merasa semakin dekat. Aku rasa jawabannya sudah mulai terlihat.

Ed merasa jika ia menemukan jawabannya ia dapat menemukan jalan keluar dari kastil yang monoton seperti ini.

“Siapa nama sejati mereka!” Suara ini, suara yang tidak pernah Ed dengar, suara yang berat dan berwibawa.

Ed membalik badannya, tampak sosok besar seperti kabut tapi mempunyai warna – warni yang indah. Ia membawa tombak besar. Ah tidak kalau dilihat lebih jelas.

“Itu kunci?”

Tombak itu berbentuk seperti kunci.

Sion
Tubuhku memberitahu nama sosok itu. Dan dalam pikiranku dia juga penghini kastil ini, hanya tidak pernah kutemui. Ed merasa sosok didepannya ini adalah penentu jawabannya.

“Apa kamu tahu nama sejati mereka?”
“Maksudmu Telli, Tacre, dan Tiva bukanlah nama sejati mereka?”

Sion hanya diam tidak menjawab, membiarkan Ed berpikir sendiri. Saat yang bersamaan muncul lagi ketiga bayangan yang kemarin dia lihat.

“Hampir hampir hampir” Ketiganya mengeluarkan kata – kata yang sama.

Ed berpikir dan berpikir, perlahan tapi pasti ingatannya yang tertutup terbuka. Ia mengingat semua kejadian yang dia alami. Semua kata – kata yang dia ucapkan semua yang membuat ketiganya mengatakan hampir, semua tindakan mereka. Nama sejati mereka tersimpan dibalik semuanya itu.

“katakan katakan katakan!”

“InTELLIgent, CREATivity, moTIVAtion !! “ Seru Ed

Sinar terang terpancar dari ketiga bayangan itu. Bayangan itu terbentuk terlihat sosoknya lebih jelas. 3 wanita yang sama tapi berbeda. Wanita yang sama tapi tidak terlihat bodoh ataupun konyol, melainkan terlihat sangat pandai, matanya bulat besar tanpa kacamata memperlihatkan pandangan lurus yang penuh kepintaran. Wanita yang sama tapi tidak gendut sama sekali, rambutnya dikuncir kuda, terlihat banyak sekali alat masak yang di sandang di belakangnya seperti akan adanya kreatifitas tanpa batas. Wanita yang sama tapi tidak telrhat kurus, sangat tegap berotot, tidak ada aura malas dalam dirinya melainkan terpancar aura keinginan yang kuat untuk mengalahkan semua yang menghadang.

“Dan kamu sang penjaga gerbang…sion atau kupanggil saja deciSION.”

Sion tersenyum, tubuhnya pun berubah menampilkan sosok sejatinya. Tubuh pria yang besar dengan pakaian perang lengkap dan sebuah kunci besar menjadi tombaknya.

“Kamu sudah sadar siapa kamu yang mulia Aedi?” Tanya Telli
“Sebutkan sebutkan nama sejatimu “ Tambah Tacre penuh semangat
“Atau perlu dorongan pisaku ini?” Tiva memberi saran

Aedi atau Ed tersenyum kecil. Ia sudah kembali mendapatkan dirinya sendiri. Ia sudah mengetahui kembali kenapa dia berada di dalam kastil ini. Bukan karena dikurung, bukan karena terpaksa, tapi

“Akulah IDEA , dan inilah kastil imajinasiku.” Seru idea penuh dengan semangat.

Ini adalah kastil imajinasi idea, kastil ini adalah dia. Kastil ini akan selalu ada selama idea ada, dan idea tidak akan bisa meninggalkan kastil ini.

Seluruh kastil berubah, kastil yang tampak monoton tidak terisi apa – apa mengeluarkan cahaya terang. Seluruh bagian yang dulunya berwarna putih polos diganti warna – warni cerah, hiasan – hiasan dinding menghiasi seluruh ruangan. Rak yang kosong terisi buku – buku imajinasi tertinggi. Lemari – lemari bertambah dan terisi bermacam – macam pakaian. Ruangan dapur yang penuh dengan berbagai bahan masakan. Lapisan batu dinding kastil pun ikut berubah, membentuk berbagai ukiran indah sesuai dengan imajinasi sang raja.

Idea sadar dari semua kabut dalam pikirannya, setelah lama tidak menghasilkan perlahan ia melupakan dirinya. Kini dia merasa jauh lebih segar karena ia sudah beristirahat cukup waktu, dan sekarang saatnya ia kembali pada menjadi dirinya yang sejati.

“Saatnya kita bekerja lagi, Telli berikan kepintaranmu untuku berpikir, Tiva berikan aku motivasi untuk bekerja, dan Tacre berikan aku kreatifitas dalam semuanya. Mari kita lahirkan seluruh buah ide yang akan kita sebarkan pada semua orang.”
“Dan Sion siapkan kuncimu buka gerbang pengiriman, akan ada ribuan ide yang akan kita salurkan hari ini, langsung dari kastil imajinasi ini.”

“Keinginanmu adalah perintah bagi kami yang mulia IDEA.”


message 36: by Erwin (last edited Feb 29, 2012 07:36AM) (new)

Erwin Adriansyah | 418 comments SENJA KALA


Mata Soma mengerjap membuka. Pandangannya seketika disambut senyuman penuh kasih seorang gadis ayu. Wajahnya tampak bugar berkat pipi segar berisi, mata ambar yang berkilau serta rambut belah pinggir yang bagian belakangnya digelung mungil dan dihias rangkaian bunga ros putih. Kulitnya sendiri cerah, halus mulus tanpa noda barang setitik.

Merasakan belaian lembut lagi hangat di keningnya dan mendapati langit-langit limasan kecokelatan di atas sana, si pemuda sadar untuk kesekian kalinya dia tertidur di pendopo, tepatnya di pangkuan Andani.

Mimpi, tanpa membuka mulut, Soma melaporkan peristiwa yang dialaminya selagi terlelap. Lagi-lagi aku bermimpi.

Andani mengangguk khidmat, Mimpi adalah anugerah dunia, sudah sewajarnya disyukuri.

Bagaimana aku bisa bersyukur kalau semua orang yang kukenal tak pernah mengalaminya? Abimanyu malah tak tahu apa itu mimpi. Aku orang aneh,
jejaka itu mendengus.

Tawa sang dara mengalun tertahan, Aku tidak bisa memahat sebagus Abimanyu atau menembang semerdu Saraswati, apa itu berarti aku juga aneh? Karena Soma menggeleng enggan, Andani melanjutkan, Mimpi, bakat, kemampuan, harapan, semuanya berkah karena tak semua insan memilikinya. Tapi bukan berarti apa yang kita miliki atau tidak miliki menjadikan kita lebih baik atau lebih buruk dari insan lain, kan?

Menyadari niat juitanya, Soma terkekeh, Terima kasih.

Keduanya kembali terdiam. Pembicaraan sejenis ini bukan kali pertama dan jelas takkan jadi yang terakhir. Intinya pun sama saja, hanya berbeda penyampaiannya.

Si pemimpi sebenarnya mengharapkan lebih dari sekadar pelipur lara. Sejauh yang bisa diingatnya, sejak dulu dia ingin membahasnya lebih lanjut, lebih jauh, walau cuma sekadar menumpahkan unek-unek berikut luapan pemikiran. Di sisi lain, dirinya segan membebani pasangannya dengan hal-hal yang sulit dimengerti.

Sayangnya atau untungnya, tipisnya sekat sanubari antara keduanya sepertinya membuat Andani menyadari kegalauan kekasihnya, Jika berkenan, ceritakanlah mimpimu padaku.

Malang, tawaran itu justru mengingatkan Soma bahwa Gusti Kanjeng Ratu Sekartaji, penguasa Keraton Alas Wanamarta tempat mereka berdiam sekarang, menyarankannya menjaga ucapan serta menyimpan rahasia kalbu. Tentulah tujuannya mencegah Soma berkoar-koar soal mimpinya.

Di sisi lain, pria belia tersebut sangat mengenal lawan bicaranya. Andani tahu soal anjuran pemimpin tertinggi, artinya si gadis siap menanggung segala risikonya. Seandainya Soma menolak, kemungkinan besar tawaran ini takkan datang lagi.

Alhasil keraguannya muncul, Entahlah, nanti Kanjeng Ratu marah.

Andani mengerling, Aku pun tadinya berpikir begitu, lantas bibir merah mudanya membentuk seringai liar, tapi setelah kupertimbangkan matang-matang, kurasa beliau takkan keberatan. Bukankah Kanjeng Ratu yang mempersatukan kita?

Argumen sahih, diam-diam Soma mengakuinya. Kanjeng Ratu memberkahi hubungan keduanya, bahkan sampai menahbiskan bahwa suka duka Andani adalah suka duka Soma, begitu pula sebaliknya. Masuk akal bila pada akhirnya rahasia Soma pula merupakan rahasia Andani.

Diperkuat nalar tersebut sekaligus didorong hasrat terpendam, mata pria belia itu memejam sementara benaknya mengingat adegan-adegan kabur yang kerap menyambangi tidurnya, Di mimpi itu aku kakek-kakek, sekarat. Pelupuknya membuka, pandangannya menerawang, Sepanjang hidupku aku selalu berusaha melakukan hal yang benar, yang baik. Tapi saat maut menjelang, aku ingin tahu untuk apa semua itu. Maksudku, aku ingin tahu apa makna hidupku.

Begitu, ya?
pemudi berbisik lemah.

Saat inilah Soma menyadari betapa muramnya wajah belahan hatinya, Maaf.

Kenapa?
Andani tersenyum, namun gagal menghilangkan kesan terpaksa.

Sudah kuduga aku seharusnya tidak membebani pikiranmu dengan kembang tidur yang belum tentu harum.

Tidak, aku malah bersyukur kau mau jujur padaku.

Kita sejiwa, sudah sewajarnya, kan?
Soma bangkit duduk, Lupakan soal mimpiku. Itu bukan sesuatu yang bermanfaat karena aku sudah tahu makna hidupku. Diusap-usapnya dagu sang pujaan, Aku ada hanya untuk mendampingimu. Melihat pipi Andani merona, penuh kelegaan Soma menambahkan, Aku sudah tahu itu sejak dulu.

Sontak paras Andani mengeras, Sejak kapan?

Soma tersentak, ada sesuatu dalam pertanyaan itu yang mengusiknya, Sejak dulu, waktu kita masih kecil.

Lekas-lekas diabaikannya kecemasan yang mendadak melanda dengan mencari-cari topik pengalih perhatian lain. Mujur, dia langsung menemukannya ketika memandang ke Bangsal Pagelaran nun jauh di seberang alun-alun. Di sekitar bangunan besar beratap joglo tanpa dinding itu, orang-orang mulai berkumpul.

Si jejaka berdiri, Ayo, sebentar lagi pertemuan keluarga besar dimulai, lengan kanannya terulur.

Tapi Andani bergeming, Sejak kita kecil? Kau yakin?

Ya.

Apa kau yakin kau benar-benar mengenalku sejak kecil?

Dasar konyol,
gusar, Soma berbalik dan melangkah walau sebenarnya dia sangat ingin lari, Tentu saja aku mengenalmu, ayunan kakinya terhenti, lalu dia pun menghadap pasangannya. Dipandangnya sosok mungil berbusana kemben dipadu kain jarik yang duduk bersimpuh dalam pendopo, Kau temanku, kau sahabatku, kau kekasihku, kau ... pemuda tersebut melongos, lantas berlalu, Andani.








Setelah Soma menghilang di tengah keramaian di sekitar Bangsal Pagelaran, Andani mendesah, Bukan. Bibirnya bergetar, “Je m'appelle Jeanne,” suaranya tegas, lamun rapuh di saat yang sama. “J'ai été brûlé sur le bûcher.”

Bak dikomando oleh sesuatu, lingkungan keraton mulai bergolak, cepat dan keras, diiringi deram laksana instrumen kiamat berikut getaran bagai gempa penghabisan. Semesta seolah berpusar mengitari sang dara dan di hadapannya, bangkitlah bangunan putih bersih bertingkat-tingkat megah bergaya barok Prancis beratapkan timah kebiruan. Struktur tadi memanjang, hingga akhirnya berdirilah sepasang gedung tambahan yang menjadi sayap-sayapnya.

Gemuruh serta guncangan mereda, menyisakan gemercik kolam pancuran tak jauh di samping kanan dan kiri wanita yang kini sendiri. Matahari pun telah tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan lembayung sendu pada cakrawala.

Tanpa beban atau tujuan, perempuan itu bangkit ditemani suara gesekan zirah yang mengikuti tiap gerakannya. Tiada tergesa sosoknya mengarah ke ujung halaman, meninggalkan puri yang baru saja terbentuk di belakangnya. Entah ke mana kakinya akan melangkah, dia sendiri tak tahu.

Satu hal yang diketahuinya, bahwa seperti Soma takkan bisa terbebas dari Keraton Alas Wanamarta, dirinya pun mustahil terlepas dari belenggu Château de Saint-Cloud. Tapi biarlah, toh pemandangan Sungai Seine yang membentang di depannya cukuplah untuk sekadar mengobati duka.

Ya, biarlah semua larut dalam senja kala yang telah tiba.


message 37: by Narita (last edited Feb 29, 2012 08:15AM) (new)

Narita | 281 comments A DANGER TOUR

Sebuah perumahan kecil bernama Fantasy Cluster, terletak di Negara Indonesia, Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung. Di dalam perumahan tersebut terdapat sebuah lahan kosong yang tidak terpakai, terkadang dimanfaatkan sebagai tempat olahraga atau tempat bermain anak-anak di kala Raja Surya tengah bersiap kembali ke peraduannya.

Suatu hari, ketika seluruh penghuni Fantasy Cluster tengah terlelap dibuai sejuknya udara malam, sebuah kastil berwarna hitam kelam tiba-tiba muncul secara misterius di lahan kosong tersebut.

Suara seruling terdengar merdu dari dalam kastil, menghipnotis seluruh manusia yang mendengarnya. Mereka berjalan berbondong-bondong keluar dari dalam rumahnya yang terkunci rapat, mengikuti alunan merdu sang Peniup Seruling Harlet. Begitu tersadar mereka tengah berdiri di depan gerbang sebuah karnaval, lengkap dengan piyama yang mereka kenakan.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh tidak gemuk. Ia mengenakan jas bewarna ungu dan pita besar warna kuning di lehernya. Celana hitam sepanjang lutut dilengkapi kaos kaki putih dan sepatu pantofel hitam, menyempurnakan penampilannya. Rambutnya yang di cat kuning menarik perhatian pengunjung. Topi tinggi bewarna hitam menutupi sebagian rambutnya yang bewarna nyentrik. Pria itu berjalan mendekati gerbang utama, lalu ia mempromosikan karnaval yang dipimpinnya dengan suara lantang. “Selamat datang di Blue Pearl! Nikmatilah, hiburan-hiburan yang kami sajikan!” Tangannya terbuka lebar menyambut tamu yang masuk.

Jiwa yang haus akan hiburan terpancar dari wajah mereka yang diliputi nafsu. Keinginan yang dibimbing rasa ingin tahu melupakan realitas sesungguhnya. Dibalik nikmatnya canda dan tawa tidak ada yang sadar akan kejanggalan yang terjadi. Rasa manisnya racun menutup kedua bola mata dan hati mereka, tidak terkecuali seorang pemuda remaja tanggung, Asep.

Asep berjalan menikmati keramaian yang dipenuhi tawa dan canda. Telapak kakinya terlihat kotor, ia tidak memakai alas kaki saat keluar tadi. Ujung celana piyamanya terlihat lusuh terkena tanah yang ia lewati. Dari sekian banyak warna dan kesenangan yang disuguhkan, kedua bola mata Asep tertuju pada sebuah kastil berwarna hitam dengan beberapa cahaya terlihat menembus jendela. Ia berjalan menjauhi hiruk pikuk manusia, mengikuti jeratan benang iblis.

Kastil itu terletak dalam sunyi dan keheningan malam. Jalan yang berkelok dan terjal terlihat sulit untuk dilewati. Namun ternyata hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai di depan pintu masuk. Asep mendorong pintu masuk kastil tersebut, walaupun pintu itu terlihat baru tetapi suara yang dihasilkan dari gesekannya terdengar mengerikan layaknya dalam rumah hantu. Dilihatnya sebuah ruangan yang dipenuhi cermin. Ia melihat banyak pantulan bayangan dirinya dengan wajah bingung bercampur rasa penasaran. Asep menutup pintu kastil kemudian menelusuri labirin cermin yang membingungkan.

Sudah hampir satu jam Asep berputar-putar di ruangan yang sama. Rasa lelah memaksanya untuk berhenti di hadapan cermin yang memantulkan bayangannya dengan sempurna. Tiba-tiba muncul sebuah suara yang mirip dengannya. “Tidak kah, kamu merasa kesal?” Asep memandang sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa di sana. “Aku adalah dirimu.” Betapa kagetnya Asep, ia melihat bayangannya tersenyum sinis padanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi yang pasti seluruh tubuhnya merinding, warna wajahnya memudar menjadi putih pucat, dan keringat mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

Remaja yang memiliki warna kulit sawo matang itu berteriak, kemudian berlari. “Kenapa? Apa kamu merasa takut?” Bayangan dirinya yang berwajah dingin terus bermunculan. Ia mengepalkan jari-jarinya, lalu meninju satu per satu cermin yang menghalangi langkahnya. Darah menetes meninggalkan jejak rasa perih, tetapi Asep tidak peduli. Suara tawa menemani langkahnya yang ketakutan. Ia terus berlari ke depan, tidak ada jaminan ia dapat kembali bila mengambil jalur yang sama.

Sebuah pintu kayu muncul pada pecahan cermin terakhir, Asep segera memutar daun pintu dan mendorong dengan sekuat tenaga. Ia ingin segera keluar dari kastil itu, tapi Asep tidak melihat jalan keluar melainkan seorang butler yang berpakaian serba putih menyambut kedatangannya. “Selamat datang Tuan Asep.” Rambut pendek seleher berwarna putih keperakan terlihat lembut. Bunga mawar merah menghiasi dadanya yang bidang.

“Ah, uh, iya.” Asep terlihat canggung. Rasanya baru kali ini ia melihat seorang yang begitu tampan dan sopan. “Bagaimana kamu bisa tahu namaku?”

“Majikan saya yang memberitahukannya. Kata beliau, kastil ini akan kedatangan seorang tamu, jadi saya harus bersiap menyambutnya. Perkenalkan nama saya Charles. Saya menawarkan tour singkat untuk mengenal kastil ini. Apa Anda tertarik?” Tanyanya sopan.

“Iya boleh, lagipula aku sudah terlanjur masuk.” Jawab Asep sambil memperhatikan ruangan utama di kastil itu.

“Ah, ya. Jika boleh saya ingin tahu nama majikanmu.”

“Di akhir tour ini, Anda dapat bertemu dengannya, silakan ikuti saya.” Charles berjalan di depan memimpin, namun ia segera memberhentikan langkahnya. Matanya yang berwarna merah memandang langsung kedua bola mata Asep. “Tapi Anda jangan sampai kehilangan diri Anda sendiri. Bisa-bisa Anda terjebak selamanya di dalam kastil ini.” Jelasnya singkat, ia kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.

Karpet panjang berwarna merah dengan hiasan benang emas pada kedua sisinya terlihat sangat mewah di atas lantai marmer. Asep memperhatikan lukisan-lukisan yang digantung di kedua sisi lorong yang mereka lewati, menggambarkan sejuknya pemandangan di pagi hari. Daun telinganya menangkap penjelasan Charles dengan baik, walaupun ia tengah berkonsentrasi mengamati keadaan kastil yang sedikit modern itu. Bohlam-bohlam lampu menyala menyinari lorong dan setiap ruangan yang mereka lewati. Tidak terdapat lilin pijar yang biasa terdapat dalam cerita yang sering ia dengar.

Samar namun terasa jelas, sebuah suara Organ yang dimainkan dengan lembut dari ruangan yang terletak beberapa langkah di depannya. Charles terus berjalan meninggalkan Asep yang terpaku di depan pintu kayu yang terbuat dari potongan Pohon Mahoni. Urat kayu yang hanya dilapisi plitur terlihat begitu anggun. Asep membuka perlahan, jantungnya berdegup keras seolah ia akan bertemu dengan seseorang yang didambakan hatinya.

Sorot matanya menyapu seluruh ruangan itu, ternyata di dalam sana hanya ada seekor anak bebek yang tengah berlatih balet, diiringi denting Organ yang mengalun secara otomatis. Asep terpesona dengan gerakan balet anak bebek tersebut. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di atas lantai kayu. Ia mengamati dengan tenang, gerakan-gerakan balet anak bebek itu. Walaupun terlihat kaku tetapi anak bebek itu melakukannya dengan sepenuh hati.

Anak bebek kecil itu menghentikan gerak tarian baletnya. Sepertinya ia menyadari kehadiran Asep di ruang latihan tersebut. Kemudian ia berjalan mendekati Asep, ia menyentuh punggung tangan Asep yang dipenuhi luka. “Ah, ini. Tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Asep tersenyum lembut. “Silakan teruskan latihanmu.”

Anak bebek itu tidak mengatakan apapun, tetapi ia paham apa yang dikatakan oleh Asep kepadanya. Anak bebek itu menari di sekitar Asep, keelokannya terasa hingga ke lubuk hati, begitu tenang. Benang-benang tipis berusaha merekatkan goresan-goresan luka yang tertoreh di punggung tangannya.

Asep menundukkan pandangannya, memperhatikan tarian iblis yang dilakukan oleh salah satu pion bidak permainan. Ia tidak tahu, tarian itu membawa kesadarannya jauh ke dalam kegelapan. Bagi Asep tarian itu sudah seperti candu, kedua bola matanya yang berwarna coklat tidak ingin lepas dari bayang anak bebek tersebut. Ia terhanyut dalam aliran sungai kematian yang bermuara pada keabadian semu.

Fin


message 38: by Feby (last edited Feb 29, 2012 09:31AM) (new)

Feby (anggra) | 725 comments Istana Tengah Hutan

Gadis kecil itu kelihatan bingung.

Entah sudah berapa kali ia mondar-mandir di depan gerbang istana dengan tas ransel besar di punggung. Beberapa kali juga bolak-balik melihat ke arah jendela tempatnya berdiri dan langit yang semakin lama semakin malam.

Memangnya ada istana di sini?

Suaranya hatinya kedengaran jelas, seakan sedang berbicara dekat telinga Thomas.

Aneh.

Gadis itu pun terdiam. Nampak menghela nafas panjang, kemudian dengan mengeraskan hatinya yang sesungguhnya takut, dibukanya perlahan gerbang istana itu.

Dari balik jendela bergordin kusam, Thomas tersenyum.

Harapannya terkabul.
***

Namanya Lucia.

Thomas bergidik kesenangan saat menyentuh tangan mungil itu sebagai tanda perkenalan. Entah sudah berapa lama, ia tidak merasakan kehangatan tangan seorang manusia. Bagi makhluk seperti dirinya, rasa hangat itu bak narkoba bagi pecandu. Apalagi yang berasal dari seorang gadis berusia sepuluh tahun.

Diajaknya segera tamunya masuk. Ah, ia agak malu dengan tempat tinggalnya yang kotor ini. Lantai marmernya penuh debu, tiang pualamnya kusam, anak-anak tangganya berlubang dimana-mana, begitupun dengan karpet merah yang seharusnya mewah. Dan bila menengadahkan kepala ke atas, akan terlihat keberadaan laba-laba yang bersarang di langit-langit dan lampu hias yang berukir.

Tetapi nampaknya gadis itu sama sekali tidak merasa terusik dengan semua hal itu.

“Apa kau hantu?” Itulah pertanyaannya yang pertama setelah menyebut nama. Matanya menatap Thomas dengan pandangan polos. Tak ada rasa takut di sana. Hanya penasaran.

“Bukan,” jawab Thomas. “Aku lebih dari sekedar hantu.” Ia berharap jawabannya tidak membuat gadis itu takut, dan nampaknya ia terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting. Alih-alih takut, mata gadis itu malah semakin berbinar senang.

“Apa kau peri? Atau mungkin elf?” Tangan Thomas digenggamnya erat penuh girang. “Oh, sudah lama aku membaca tentang makhluk ajaib seperti dirimu, senang sekali akhirnya aku bisa bertemu!”

Senyuman Thomas tersungging. Terbawa oleh rasa girang itu. “Jadi pelarian diri dari rumahmu itu tidak sia-sia?”

Gadis itu pun terdiam tiba-tiba.

Oh, oh! Thomas merasa amat sangat panik, melihat kesedihan menggantikan kegirangan itu. Ia salah bicara! Sialan! Ia sudah salah bicara!

Cepat-cepat ia mengajak Lucia duduk di bawah tangga ruang utama istana itu.

“Ibuku sudah meninggal,” gadis itu berkata pelan, “Kemudian ayahku menikah lagi setahun yang lalu.”

“Apa ibu tirimu jahat?” Thomas sudah tahu cerita yang sebenarnya dari benak gadis itu, tetapi tetap saja ia merasa perlu bertanya.

Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan. “Ibu tiriku sangat baik. Tetapi kemudian adikku lahir...” Ia menghela nafas panjang. “Seharusnya aku turut senang, tetapi... ketika aku melihat ayah, ibu tiri dan adik bayi dalam gendongan mereka, aku merasa tersisihkan...”

Matanya nampak berkaca-kaca.

Keheningan pun hadir untuk beberapa lama, hingga akhirnya Thomas memutuskan untuk memecahnya.

“Bagaimana kalau kau tinggal di sini?”

Gadis itu mengerjap bingung. “Apa?”

Thomas tersenyum penuh semangat. Ia bangkit berdiri, lantas merentangkan kedua tangannya. Sinar kehijauan muncul di sana, lantas menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Bintang-bintang beruliran bak angin kecil, dan membuat keajaiban pada setiap benda yang dijejaknya. Lantai marmer dan tangga utama mengkilap, tiang pualam putih bersih seperti habis dibangun, ukiran indah di langit-langit dan lampu gantung pun kini bisa dinikmati.

Betapa senang hatinya, melihat Lucia ternganga kagum.

“Di sini, kau tidak akan disisihkan. Di sini, kau mendapatkan apapun yang kau inginkan.”

Thomas menjentikkan salah satu jemarinya. Bunga mawar putih muncul dan disodorkannya pada gadis kecil yang menatapnya berbinar.

“Aku tahu kau memang seorang peri.” Kemudian Lucia mendekat dan memberikan Thomas sesuatu yang hangat di pipi.

Dada Thomas terasa hendak meledak saking senangnya. Akhirnya, ia mendapatkan seorang teman.
***

Sean menatap bangunan tua di hadapannya entah sudah berapa lama.

Aneh. Mungkin benar, keberadaannya tertutup oleh ilalang yang meninggi. Tetapi Sean tahu persis, dirinya mengenal daerah ini. Hutannya. Padangnya. Tetapi tidak pernah ia melihat keberadaan bangunan tua mirip istana ini sebelumnya. Mendadak, cerita yang pernah didengarnya bertahun-tahun yang lalu dari seorang kakek tua di pinggiran kota.

“Bila kau melihat istana di tengah hutan, jangan pernah masuk! Sebab itu adalah istana penguasa waktu. Kau akan diiming-imingi segala mimpimu yang tergila. Tetapi gantinya tidak sebanding...”

Keringat dingin membanjiri tengkuknya. Sesuatu dalam diri Sean memperingatkannya supaya jangan masuk. Jangan mendekat.

Tetapi perasaan itu berperang dengan rasa penasarannya.

“Masa iya sih?” Sean memaksakan dirinya mendengus, menertawai dirinya sendiri karena mempercayai cerita konyol macam itu. Tetapi toh, tidak ada salahnya mencegah dirinya terlibat pada masalah gaib. (Bukan berarti ia takut, tentu saja.)

Sean menghela nafas panjang, menatap istana itu sekali lagi, kemudian berbalik pergi. Sekejap, pikirannya sudah teralih pada bayangan pai apel buatan istrinya, Helen.

Namun pada detik itu juga, suara gemerisik yang ganjil merebut perhatiannya dan membuatnya mengarahkan sendi lehernya pada apapun yang membuat suara itu.

Seorang gadis kecil. Duduk di antara ilalang dekat dengan istana.

Dan Sean merasakan jantungnya berdebar kencang. Begitu kencang hingga rasanya hampir saja meledak. Entah berapa lama ia terpaku di sana. Berkali-kali mengerjap, takut salah lihat.

Ia mengenali wajah itu. Bentuk mata bulat besar, rambut merah, pakaian yang dikenakannya.

Bagaimana tidak? Bertahun-tahun ia melihat ayah dan ibunya menangisi foto bergambar wajah itu.

Wajah kakak perempuannya.
***


message 39: by Ivon (new)

Ivon (nagabenang) | 570 comments Bunga Pertama

Pria itu melangkah lambat dan menyeret-nyeret sambil mendaki bukit. Ia sering jatuh akibat sulur-sulur tanaman rambat dan akar-akar pohon yang tersembunyi semak-semak belukar. Pakaiannya compang-camping, sepatunya hilang sebelah dan keadaan fisiknya tidak lebih baik. Malah cenderung lebih buruk. Begitu buruk sehingga tanpa senapan yang ia pegang, sudah dari tadi ia tewas oleh sergapan serigala-serigala yang kelaparan.

Tapi bukan mereka ancaman terbesarnya. Seringkali, ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah ia sudah jauh. Apakah ia sudah aman dari mereka. Tapi semakin lama ia berdiam diri dan melihat ke kegelapan rimba hutan, malah muncul hasrat yang bertolak belakang dari akal sehat dan instingnya untuk selamat dan hidup.

Ia ingin kembali.

Ia ingin ke sana.

Ia ingin kembali ke sana.

Mereka memanggilnya. Mereka membutuhkannya. Mereka akan menjemputnya untuk kembali.

Sejak kapan? Tanpa suara dan tiba-tiba mereka datang. Dewi-dewi cantik berkulit jernih sehalus sutera dan rambut-rambut panjang meraba pinggang mereka yang telanjang.

Mereka menginginkannya. Mereka memanggilnya. Mereka ingin dia kembali untuk tinggal selamanya bersama mereka.

Langkah pria itu berbalik. Satu demi satu dari dewi-dewi itu meraih tangannya, membuatnya menjatuhkan senapan dan mencoba mengingat kenapa ia tadi berlari dan merasa amat ketakutan.
Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah mereka. Dewi-dewi yang menggenggam tangannya, dan membawanya masuk ke dalam rimba yang gelap.

~

“Dan ia terakhir terlihat dua hari lalu?”

Tangan pria itu tetap bergerak menulis sesuatu di buku catatannya walau matanya fokus pada gadis yang ia ajak bicara di depannya. Kegiatan yang aneh itu menyita perhatian si gadis, tapi ia berusaha mempertahankan topik pembicaraan mereka agar tidak melenceng.

“Memang benar. Mereka tidak membuat nisan untuknya karena takut paman akan kembali sebagai setan dan membawa pergi keluarganya agar masuk ke liang kubur bersama-sama.”

Pria itu berhenti menulis. “Itu ta- ah, kepercayaan desa ini, ya? Menarik.”

Cara pria itu menyebutkan “kepercayaan” membuat gadis itu kesal. Tangannya bergerak, menggenggam jimat berwarna merah yang menjadi kalungnya, dan ia membalas dengan nada sengit, “Coba saja kalau suatu hari kau melakukannya dan besoknya kau hilang, dan tidak seorangpun yang peduli siapa atau apa yang telah membawamu pergi. Tidak ada yang bahkan cukup berani untuk membuatkanmu sebuah nisan paling murah sekalipun. Itulah yang terjadi. Itulah yang paman lakukan. Itulah sebab sekarang ia ...” gadis itu terpekur sejenak sebelum akhirnya berkata, “hilang.”

Pria itu menghela nafas dan menutup buku catatannya, kemudian menyerahkan tiga keping perunggu pada gadis itu. “Terima kasih untuk cerita anda. Sekarang kalau boleh saya mau permisi dulu ....”

Si gadis menatap koin di atas meja, lalu kepada si pria yang sudah hampir keluar dari pintu utama kedai.

“Tunggu dulu.”

Pria itu berhenti dan menoleh.

“Apa kau benar-benar akan mencarinya?”

Pria itu hanya mengangguk sopan dan melangkah keluar dari kedai tanpa menjawab apa-apa.

~

Subuh baru saja merebak dan bukit di dekat desa itu tampak biru dan kabur oleh kabut. Pria itu sedang berdiri di atas sebuah jalan setapak, mengunyah roti yang ia potong-potong sendiri sebab koki penginapannya bahkan baru selesai mandi ketika ia sudah bersiap-siap berangkat dengan kudanya.

Penampilan pria itu biasa saja. Ia berambut hitam, dengan panjang sebahu yang ia ikat bentuk ekor kuda; walau tingkat kekeritingan rambutnya malah membuatnya lebih menyerupai ekor domba. Bawaannya standar: ransel sadel yang selalu ia pasangkan pada kudanya dan sebuah tas lebar yang ia jinjing di sisi kanan tubuhnya. Mantel perjalanan menutupi bajunya yang sederhana, rapi dan bersih. Ia mengatakan pada para penduduk bahwa ia sedang mengunjungi banyak desa untuk menulis buku tentang perjalanannya. Tapi tidak ada yang tahu tema apa yang ia tulis. Laporan ilmiah? Novel? Kumpulan cerita rakyat?

Namun manapun yang benar, tidak ada lagi yang tertarik begitu tahu si pria akan pergi hari itu juga. Desa itu kecil, tapi penuh kesibukan. Tidak ada yang mau menghabiskan waktu cukup lama untuk pendatang asing yang hanya sehari menetap di sana.

“Udaranya dingin ya, Dietrich.”

Si kuda hanya menjawab dengan mengaiskan satu kaki depannya pada tanah. Tampaknya Dietrich si kuda juga kedinginan dan ingin segera bergerak untuk mengembalikan kehangatan tubuhnya.

Segera, pria itu naik ke atas sadel Dietrich dan menghela tali kekangnya. Perlahan mereka bergerak maju, ke arah bukit yang masih biru oleh pendar lemah matahari subuh itu.

~

Tak sampai kemudian, pagi benar-benar datang. Kini hutan kembali pada warna aslinya, hijau, dan kemilau oleh sinar matahari yang jatuh pada setiap titik embun yang kabut tinggalkan pada segala benda: rumput liar, lumut batu, lumut kayu, dan dedaunan pada pohon-pohon yang menaungi jalan setapak yang curam itu.

Dietrich tampak bersemangat dan melangkah lebih cepat daripada sebelumnya. Mereka telah meninggalkan persimpangan dan kini mengarah pada jalur yang tua, dan hampir tak terlihat oleh sebab lamanya tak dipakai, dan kini ditumbuhi rumput-rumput liar. Pria itu mengatur arah ketika Dietrich tampak bimbang harus melangkah atau berhenti, dan tak lama mereka telah sampai pada kanopi hutan yang lebih lebat lagi.
Keadaan mulai sepi dan mencekam. Dietrich mungkin merasakan bahaya, sebab ia mulai rewel dan menolak jalan beberapa kali. Terakhir kalinya si pria mencoba menyuruhnya terus, Dietrich malah meringkik dan melonjak pendek. Sikap itu jelas mengatakan: Tidak, aku tidak mau terus!

Akhirnya si pria mengalah dan turun dari Dietrich, yang sibuk menatap ke sana kemari seolah sedang memperhatikan sesuatu yang hanya bisa ia lihat. Si pria mengambil tali kekangnya dan mengikatnya pada batang pohon terdekat yang kokoh. Kemudian ia ambil sesuatu dari dalam ransel sadel dan memakaninya pada Dietrich. Seketika, nafas Dietrich menenang dan kuda itu tampak kembali pada sikap kudanya yang biasa.

Pria itu menepuk-nepuk leher Dietrich dan bersama ranselnya kembali berjalan seorang diri menelusuri jalan setapak. Semakin dalam, semakin jauh ke kegelapan hutan.

~


message 40: by Ivon (last edited Feb 29, 2012 08:52AM) (new)

Ivon (nagabenang) | 570 comments Saya akui, temuan kali ini melebihi dugaan saya semula.

Awalnya saya mengira akan menemukan sarang perampok atau sebuah tempat yang dipenuhi jebakan-jebakan alam yang penuh hewan buas yang berbisa, dan apa yang gadis itu ceritakan hanyalah mitos desa biasa. Betapa saya salah saudara-saudara, dan perbolehkan saya cerita tentang perjalanan saya setelah menambatkan Dietrich -kuda saya- sendirian.

Tak lama berjalan, saya mencium bau yang manis dan tajam. Bau yang begitu mirip dengan manisan gula-gula bercampur wangi kembang merah. Segera saya keluarkan masker dan memakainya cepat-cepat. Mungkin saya beruntung, sebab tak berapa lama saya melangkah, saya menemukan salah satu kuncup yang sudah setengah merekah di dekat kaki saya dan bila saya menginjaknya, surat ini sudah pasti tidak akan pernah sampai pada tangan anda-anda sekalian-

Ah, maafkan lanturan saya. Mari saya lanjutkan.

Tak lama kemudian, saya mulai melangkah di tempat datar. Saat saya singkirkan daun-daun yang setengah membusuk di kaki saya, saya melihat sebuah papan tebal, yang rupanya rebah horizontal sepanjang lantai hutan. Namun dugaan saya segera muncul: bahwa rebahan papan kayu itu adalah sebuah gerbang, dari sebuah kastil yang menurut cerita dimusnahkan oleh tentara kerajaan oleh sebab ritual satanik yang pimpinan kastil itu adakan. Cerita yang menarik, walau keabsahan fakta sejarahnya pun masih saya ragukan.

Langkah pada lantai papan membawa saya pada sebuah bukaan, yang jelas sudah, walau tertutup oleh sulur-sulur rambat dan akar-akar pohon dan tidak akan terlihat oleh mata yang tidak jeli, adalah gerbang masuk kastil tersebut.

Darah saya bergejolak. Sudah sejak lama saya mendengar tentang spesimen yang kabarnya tidak ada lagi di muka bumi itu, dan mendapat kesempatan melihatnya sendiri membuat saya hampir membuka masker untuk melap keringat saya. Untung akal sehat saya masih bekerja.

Segera saya keluarkan sebuah lampu minyak kecil dan nyalakan apinya. Agak sulit, mengingat betapa lembab keadaan gua itu.

Namun akhirnya api menyala.

Ketika saya melihat sekeliling ....

Maaf. Saya masih merasa takjub hingga saya bingung harus menulis apa.

Saudara-saudara, ingatkah anda pada lukisan Hiermonus Bosch? Yang terkenal dengan lukisan-lukisannya yang menggambarkan berbagai siksaan neraka? Nah, coba ingat pada lukisan yang berjudul “Belenggu Keputusasaan”.

Itulah keadaan tempat itu.

Berbagai jenis mayat binatang bercampur mayat manusia saling kait-mengait pada dinding-dinding. Tubuh mereka entah bagaiman bersatu, tercampur-aduk, tertempel erat pada dinding oleh sulur-sulur tanaman yang membelit mereka kuat-kuat, dan menanamkan diri pada nadi-nadi utama tubuh mereka. Banyak yang sudah separuh tengkorak dengan sisa-sisa daging yang melembek. Tempat itu bagai neraka saja, tuan-tuan sekalian; hanya saja bau yang mengedar adalah wangi manis yang tajam, bukannya busuk belerang.

Saya memberanikan diri dan sempat mengambil sebuah kain dan menyentuh dinding tempat itu, dan apa yang saya rasakan membuat kulit saya merinding seketika:

Dinding itu hangat, dan berdetak.

Hampir saya pontang-panting lari dari tempat itu, tapi pikiran saya bekerja cepat untuk menghalangi kaki saya bergerak kabur.

Ini teori saya saudara-saudara:

Anda sekalian pasti tahu tentang tanaman yang menarik serangga untuk masuk ke dalam kuncupnya, dan kemudian menjebaknya dengan lendir lengket dan akhirnya menenggelamkan serangga itu, memangsanya pelan-pelan?

Saya yakin tempat ini sama seperti itu, hanya, alih-alih dalam skala kecil seperti serangga, tempat ini menarik hewan berdarah panas. Itulah sebab banyak legenda penculikan oleh setan, dan banyak dari penduduk yang menghilang ketika mengikti jejak buruan ke tempat ini. Binatang-binatang, yang duluan tertarik oleh wangi yang tempat ini pancarkan, dan berakhir di dalam sini: mati oleh kepekatan wangi racun yang tempat ini sebarkan.

Bagaimana? Sungguh sistem digestasi yang kompleks dan menarik, bukan? Tapi satu pertanyaan tetap tidak berhasil saya bayangkan jawabannya: makhluk jenis apakah tempat ini? Binatang? Tumbuhan? Parasit? Ratusan bakteri yang berkumpul dan bermutasi menjadi satu organisme raksasa yang membuat batu-batu mati ini seolah hidup dan berdetak oleh jantung dan nadi-nadi darahnya sendiri?

Sungguh misteri yang sangat menarik untuk kita cari tahu jawabannya, saudara-saudara.

Tapi sayang, sayang, sungguh sayang!

Dengan sangat menyesal saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda-anda sekalian.

Kenapa? Karena ternyata seseorang mengikuti saya, dan tebak saudara-saudara, dia adalah si gadis yang terakhir membagi ceritanya tentang korban yang hilang! Dan ia datang sendirian, tanpa memakai masker sama sekali.

Jelas sekali ia telah mabuk oleh wangi racun tempat ini. Saya dekati dan bicara padanya. Ia bergeming. Matanya pada bukaan gua, dan ia tersenyum, seolah sedang menyambut surga yang tinggal beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

Tidak bisa saya biarkan ia terus lagi, maka saya segera keluarkan cairan pembius dan saya hirupkan banyak-banyak pada gadis itu. Ia pingsan seketika, dan selamat, namun saat itulah segalanya jadi kacau.

Lampu minyak yang saya pegang menjadi tak stabil, dan jatuh ke lantai yang penuh daun-daun kering. Dan isi minyaknya penuh, saudara-saudara, bayangkan betapa paniknya saya; betapa saya ingin menginjak-injak kobaran api yang merayap seperti ular tanah itu. Tapi terlambat. Api itu mengalir cepat bagai sungai lava dan yang malah harus saya lakukan adalah kabur secepatnya dari tempat itu. Seketika seluruh tempat itu terang dan membara oleh api, sehingga yang bisa saya pikirkan hanyalah betapa tololnya saya; telah terburu-buru dan tidak berhati-hati, dan memusnahkan temuan abad ini untuk mengharumkan nama kelompok kita!

Maaf, saudara-saudara, saya agak terbawa emosi.

Sebenarnya saya ada satu berita bagus; dan anda-anda sekalian tidak perlu merasa sia-sia telah membaca surat panjang saya sampai di sini.

Mungkin sekarang sudah sampai, tapi akan saya jelaskan sekalian bersama surat ini:

Dalam hari yang sama saya mengirimkan surat ini, saya juga menyertakan pengiriman sebuah peti berukuran besar. Saya tulis di kotak pengirimannya sebagai bibit dan contoh tanah untuk usaha perkebunan kita, tapi saya yakin anda lebih bijaksana dan dapat menemukan rongga memanjang di dasar peti tersebut.

Apakah anda ingat pada kuncup yang saya temukan di tengah jalan saya ke tempat itu? Kuncup itu berisi sesuatu yang mirip buah berri hitam, hanya saya yakin, benda itu adalah bibit dari spesimen yang telah musnah itu.

Dan tebak apa yang saya lakukan saudara-saudara?

Saya makankan bibit itu pada si gadis desa.

Ia masih tak sadar, dan dosis bius yang saya berikan pada tubuhnya, pasti cukup untuk membuatnya tetap diam hingga sampai ke tempat yang saya alamatkan untuknya. Saya yakin anda-anda sekalian tahu apa yang harus dilakukan begitu paket peti bibit-bibit perkebunan saya tiba, bukan? Tidak perlu menunggu saya pulang. Saya baru akan kembali empat bulan lagi, jadi mungkin saya akan kembali tepat pada saat bibit bunga kiriman saya mulai bertunas. Tolong jaga ia baik-baik.

Itulah akhir laporan perjalanan saya kali ini. Semoga laporan saya berguna untuk mengharumkan nama kelompok kita, dan memajukan ilmu alkimia hingga melebihi batas imajinasi yang terliar sekalipun.

Sudah saatnya saya melanjutkan perjalanan. Dietrich, kuda saya, sudah menapak-napak, tampaknya tak sabar untuk pergi dari daerah perbukitan ini ke tempat yang lebih hangat. Akan saya kabari lebih lanjut begitu saya tiba di kota berikutnya.

Salam hangat dari saya, dan kejayaan kekal untuk kelompok kita selamanya.

F.D


message 41: by Arkden (new)

Arkden | 4 comments Keraton Langit

“Kau yakin mau ke sana, Fei?”.
Sambil berpijak pada rantai raksasa yang mengikat pulau keraton di langit, aku mencoba memastikan bahwa rantainya cukup stabil untuk dipanjat.

“Hei Fei… jawab dong…”.
“Iyaa… kita kan sudah susah payah sampai di sini, masak datang cuman melihat-lihat doang”, sahutku dengan kesal.

“Tapi Fei... kau tahu legenda yang diceritakan kakek bah...”.
“Iya tahu-tahu, gw sudah hapal legenda itu. Katanya ada banyak hantu penghuni keraton gitu kan? Masa bodoh, yang penting gw harus bisa melihat isi keraton kosong itu. Ren, lo klo takut ga usah ikutan deh”.
“Fei... dengarkan dulu Fei...”

Hm... kelihatannya rantai berkarat ini cukup kuat untuk dinaiki, tinggal perlu menggunakan sarung tangan magnet maka aku bisa mencapai tanah keraton itu.

“Fei!!”.
“Ren, klo lo balik ke kampung jangan bilang-bilang kakek klo gw mo masuk ke keraton itu ya. Nanti gw foto-foto isi keratonnya jadi lo ga penasaran, oke ya Ren”.

Diam terdiam.
“Ren... mengertilah....”.
Akhirnya gadis itu mengangguk. Tampak di matanya berkilauan. Sepertinya air mata akan tumpah.

Ren, kuharap kaumengerti. Sudah merupakan impianku untuk bisa memasuki keraton langit itu, penasaran dengan cerita-cerita legenda Keraton Langit. Mengapa bisa kosong padahal keraton itu mempunyai teknologi dan sihir yang berkelas tinggi sehingga mampu terbang seperti itu. Mengapa pula keraton ini terikat dengan tanah bumi padahal bisa berjelajah mengelilingi dunia. Dan masih banyak pertanyaan yang kupikirkan. Sekarang saatnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saat ini dan sekarang inilah waktunya.

Sambil menghapus air matanya, gadis itu mulai berusaha untuk tersenyum. “Fei... hati-hati... berjanjilah kau harus kembali. Janji ya! Aku tunggu di kampung. Kau harus kembali!”.

Aku mengangguk dan melihatnya berlari kecil menuruni bukit. Reni teman kecilku. Aku tahu Reni sedikit menangis gara-gara kata-kataku tadi. Tapi mengertilah Reni, karena inilah waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku tentang Keraton Langit ini.

Sekarang waktunya untuk membuktikan kekuatan... hei dimana sarung tangan magnet itu? Kucari-cari dalam ransel kok ga ada ya? Jangan-jangan ketinggalan?? Aduh... eh tunggu dulu... Ada! Ada! Siplah sudah kubuat sarung tangan ini sejak seminggu lalu demi bisa memanjat rantai besi ini. Jangan sampai sia-sia usahaku itu. Semoga kuat. Semoga selamat.

Sambil menapakkan kaki, kutapakkan tangan. Uh hei ini bekerja! Magnetnya cukup kuat menahan tubuhku agar tidak jatuh. Dengan tombol on-off yang ada di pangkal telunjuk sarung tangan, hanya perlu jempol untuk menyentuhnya. Yup, jempol ini tidak mengandung magnet sehingga bisa fleksibel untuk bergerak.

Ukh... ketinggian memang menakutkan walau dibawahnya ada sungai Rein yang biru indah dan hutan Borneo yang hijau zamrud namun itu semua membuatku bergetar. Tidak boleh. Aku harus melihat keraton itu. Harus bisa mencapai keraton itu!

Akhirnya. Sedikit lagi sampai. Impianku akan menjadi kenyataan. Aku bisa melihat keraton dari dekat! Keraton Langit dalam legenda Ngatreb! Keraton yang katanya dibangun oleh bangsa Ngatreb dengan teknologi dan sihir yang dimilikinya. Dahulu mengelilingi dunia sampai kemudian diikat rantai-rantai ke bumi lalu tiba-tiba Keraton Langit kosong. Katanya penghuninya habis disapu wabah penyakit sehingga menjadi hantu yang bergentayangan di seluruh penjuru pulau terbang itu. Apakah legenda itu benar? Akan kubuktikan.

Akhirnya sampai! Kujejakkan kaki ke tanah Keraton Langit. Hahaha.. aku adalah orang pertama yang menjejakkan ke pulau keraton terbang! Hm... Keraton Langit ini berwarna biru, persis pas dilihat dari bawah sana. Hm.. klo dipegang temboknya sepertinya bahannya sejenis kaca khusus sehingga memantulkan warna biru langit. Kaca masih terlihat mengkilap padahal usianya sudah ratusan tahun. Teknologi bangsa Ngatreb memang hebat, sayang mereka musnah ditelan wabah... Mengapa bisa musnah padahal teknologinya tingkat tinggi tentunya teknologi kedokteran pun juga tinggi. Wabah apa yang bisa menyapu mereka ya?

Kulangkahkan kaki bergerak mencari pintu gerbang masuk. Seharusnya ada di sekitar sini. Sengaja memilih rantai ini daripada rantai-rantai lain agar bisa langsung memasuki Keraton Langit. Hm.. tampaknya aku salah perhitungan karena gerbang pintu yang kulihat dari bawah sana sebenarnya hanyalah reruntuhan gazebo keraton.

Rumputnya begitu tinggi dan tebal sehingga menyulitkan untuk berjejak. Dimanakah letak pintu masuk keraton itu ya...? Kuberjalan terus sehingga tersandung sesuatu. Apa itu ya? Aku coba memeriksa sesuatu yang membuatku tersandung. Berupa bebatuan persegi panjang berwarna hitam. Kelihatannya tidak asing, kulihat sekelilingnya.

Ternyata ada banyak bebatuan persegi panjang disekitarnya. Namun warnanya berbeda-beda, ada yang hitam, putih, adapula abu-abu. Jangan-jangan... aku memeriksa apakah ada gundukan di batuan persegi panjang yang membuatku tersandung... Tepat yang seperti kupikirkan. Ini adalah kompleks kuburan!!

Cepat-cepat aku bangun dan beranjak dari kompleks itu. Kuatir kalau hantu itu benar ada terus marah karena kuburannya diusik-usik. Kuberlari menuju tembok keraton. Lebih baik menyusuri tembok ini sampai ketemu pintu masuk. Sedikit lagi sampai tembok namun saya jatuh terperosok ke dalam suatu jurang yang tak terlihat karena tertutup rerumputan tinggi.

***

Duh.. aduh. Pantatku sakit. Ah... dimana aku? Begitu gelap tak ada cahaya yang masuk. Sepertinya aku jatuh di jurang yang sangat dalam. Eh tidak terlalu dalam sebab aku masih hidup. Duh iyung... senter.. senter... dimana kau. Kuperiksa ransel sembari berbisik senter... senter...

Terdengar suara seperti tepukan tangan lalu tiba-tiba cahaya muncul dimana-mana sehingga menerangi tempat dimana aku jatuh. Oh cahaya lilin. Tapi siapa yang menyalakannya? Hawa dingin mulai meyergapku. Keringat mulai berbulir, bulu kuduk berdiri. Reflek memundurkan badan sehingga menabrak sesuatu dibelakangku. A..ada sesuatu dibelakangku! Ingin menoleh namun leher terlalu tegang sehingga sulit menoleh.

“krs... SELAMAT DATANG krs KE KERATON krs...”.
“NAMA krs....”.
Suaranya keras membahana, seolah-olah hendak membangunkan para hantu dari kompleks kuburan tadi.

“Aa.... sii... si... siappaa...”, dengan susah payah saya mengucapkan kalimat. Mulut terasa kelu karena rasa takut yang akut. Sosok itu berpakaian besi berkemilau keoranyean. Bermuka helm berteralis lengkap dengan jambul di ujung helmnya. Tangannya menghunuskan pedang. Ke arah... aku.

“SELAMAT krs... DATANG KE KERATON krs...”.
“NAMA krs...”.
Se...selamat datang? Dengan mengacungkan pedangnya ke aku? Ap.. apa maksudnya ini??

“krs... NAMA krs...”.
“Iy.. iiyaa... nama gw”.
Belum sempat menyebutkan nama, ada api yang membakar mahluk itu. Apa yang terjadi?

“Feiii...!!!”.
Terdengar sayup sayup seseorang memanggil namaku. Suara itu. Logat itu. Tak salah lagi!

“Fei... jangan sebut namamu!!”.
Ingin kumemanggil namanya namun rasa takut masih menghinggapku. Lagipula pedangnya masih menghunus.

“This setsize 150, 150. This set attack true!!”.
Api membakar mahluk berbaju besi itu sekali lagi. Namun ukuran api membesar daripada sebelumnya.

“Feiiii... bergeraak.. jangan diam saja...”.
Terdengar suara engah-engahan. Suaranya sudah didekatku.

“Re.. Ren... gu... gue ga bisa ber... bergerakkk”, susah payah kuucapkan kata demi kata. Aduh kenapa aura ketakutan mesti menghinggapku di saat genting seperti ini!

“Public FeiWheel. This set size 300, 300. This set who Fei. This set where leg. This set vehicle fourwheel. This set move true!!”
Seiring kata-katanya, kakiku muncul dua roda di kedua kakiku. Apa ini, kenapa muncul roda-roda di kakiku? Eh... eh... keempat roda di kedua kakiku ini bergerak!

“Rr... reen... a... apa ini??!!”.
“Ayo bergerak Feii!!”, sahutnya sambil menggamit pundakku. Aku ikut bergerak dengan keempat roda di kakiku seiring berlarinya Reni ke arah yang tak kutahu ke mana. Merasa aneh dengan roda-roda yang ada di kedua kakiku ini. Apakah ini? Mengapa benda ini muncul di kakiku!!? Apa yang Reni lakukan padaku?

***

Setelah bersembunyi sekaligus menenangkan diri, aku akhirnya bisa menguasai diriku sendiri. Keraton Langit ini sudah lama tak dihuni bertahun-tahun. Terlihat dari bau debu. Adanya jaring-jaring tebal laba-laba. Serta tampak kotor.

“This set move false. FeiWheel false”.
Bulatan roda-roda di kakiku mencair dan melebur ke dalam kakiku. Tak meninggalkan bukti bahwa pernah ada roda-roda yang tumbuh di kakiku.

“Ren, apakah itu... mantera sihir?”.
“Hm... entah bagaimana menyebutnya... itu adalah bahasa kuno yang digunakan bangsa Ngatreb untuk mengendalikan lingkungan ini. Bahkan dunia”.
“Bahasa kuno? Maksudmu Ren.... bahasa... Java?”.

Reni mengangguk.
“Tapi bagaimana bisa...”.
“Sudah lama diajarkan oleh kakek”, potong Reni sambil tersenyum sinis. Sepertinya aku tahu arti senyumnya itu. Jangan lagi, Reni... jangan....

“Kau tahu mengapa hanya aku yang diajarkan?”. Ah.... mulailah keluar Reni sang sinister. “Itu karena kau tidak pernah mau belajar! Inilah akibatnya klo tidak serius belajar dan mendengarkan kakek!”.

“Habisnya bahasa itu sulit... lebih praktis klo...”.
“Sudahlah”, sergah Reni sambil membuka suatu buku, Eh buku itu... sepertinya familiar... itu kan jurnal punya kakek!

“Ren...”.
“Fei aku tahu apa yang kau tanyakan. Tentang kenapa aku berada di sini, kan? Itu karena ada pintu teleportasi di gudang rumah kakek. Nah teleportasi itu menuju ke keraton tua ini”.

Sebetulnya saya ingin menanyakan kenapa Reni ke sini. Dengan niat apa gadis kulit putih ini ke sini? Bukankah dia katanya tadi akan menunggu di kampung? Tapi demi melihat raut mukanya... lebih baik tidak berdebat.

“Fei. Jangan berdiam di situ saja. Bergerak. Menuju ke portal itu, menurut buku kakek ini seharusnya ada portal terdekat di kamar ini”.
“Eh... tapi tapi...”.
“Klo berdiam lama-lama di sini, mahluk itu akan melacak kita”.

Akhirnya aku ikuti saja apa maunya. Mungkin akan terjawab saat menuju ke portal telemorasi.. atau apalah itu. Setelah memastikan keadaan aman, Reni memegang tanganku seraya berkata, “Ohya saya lupa Fei. Kau pasti akan membutuhkan ini”.
Oh ternyata gadis biasa -yang ternyata tidak biasa!- memberikan aku sebuah pistol.

“Kau hanya perlu berkata FeiGun true. This setShoot true. Itu saja!”, katanya sambil berkacak pinggang.

“Hm... ah... eh ga hapal! Gw ada pistol mekanik di ransel”, sahutku canggung, tak terima pemberiannya dengan cara seperti itu.
“Klo gitu kenapa ga dikeluarkan Fei? Hm?”, ketus Reni sambil mengacuhkan kepala.

“Tadinya mo dikeluarkan tapi lo malah memegang tanganku jadi yaa gimana mau ambil?”, sahutku membuat alibi atas kealpaan mengeluarkan pistol dari ransel. Sial. Gara-gara ketakutan itu aku jadi lupa tentang pistol di ransel.

“Ohya Fei, satu hal lagi. Jangan pernah menyebutkan namamu sekali saja di sini. Atau mereka akan menguasaimu dengan bahasa Java-nya”, katanya sambil menatap mataku lekat-lekat. Matanya berbicara meminta persetujuan tanpa ditolak.

Tertegun. Gadis ini menjadi pribadi yang berbeda. Tak seperti Reni yang biasa. Iya ini Reni Radalfai yang keluarganya termasuk biasa tapi tatapan ini, tatapan yang tampak seperti srikandi dalam legenda. Eh? Srikandi? Kenapa aku meracau?

“Fei!”, lamunanku membuyar.
“I.. iya Ren. Ren, tadi lo sudah nyebut namaku di depan mahluk itu. Bukannya mahluk itu jadi tahu klo namaku adalah...”.
“Fei, jangan sebut namamu!”
“Ups...”.
“Sebab mahluk itu hanya bertanya kepadamu Fei, bukan padaku. Fokus mahluk itu hanya padamu”.
“Tapi... kenapa dia mengucapkan selamat datang? Padahal dia mengacungkan pedangnya ke hidungku? Apa itu gaya bangsa Ngatreb?”.
“Tidak tahu. Menurut kakek, ucapan selamat datang itu adalah trik mahluk itu agar kau mengucapkan nama. Itu adalah jebakan agar orang menyebutkan namanya sehingga mahluk itu menguasai dirinya.”


message 42: by Arkden (last edited Feb 29, 2012 08:57AM) (new)

Arkden | 4 comments Keraton Istana -part 2-

“Sudahlah Fei, jangan sekali-kali sebut namamu. Ayo berjalan melalui lukisan di aula tengah. Di balik lukisan itu ada portal tersembunyi. Lokasinya semestinya berada di atas tangga ini”.

Sambil menyusuri area remang-remang yang diterangi lilin, aku mencium udara. Udara tercium pengap. Area ini sempit, hanya bisa dilalui satu orang. Namun ketinggian area ini lumayan tinggi. Di ujung ketinggian bertengger lilin yang menari bergoyang-goyang. Entah ruang apakah ini. Ohya aku teringat sesuatu.
“Ren, tadi gw jatuh ke sini. Tempat ini sepertinya cukup dalam sebab melihat ketinggian area ini lumayan tinggi. Tapi kok gw bisa hidup?”.

“Itu karena sesampainya aku ke sini, sudah kurapal bahasa Java untuk melindungi dirimu. Agar kau tidak kenapa-kenapa”, sahutnya tanpa menoleh. Reni masih berjalan menyusuri area sempit ini.
“Bagaimana bisa?”.
“Karena aku menyebutkan namamu”, sahutnya ketus.
“Oh... itu sebabnya kau sebut namaku dalam bahasa Java itu”, sahutku sambil menunjuk-nujuk ke ketiadaan. “FeiWheel, FeiGun!”, ujarku senang setengah teriak.

“Stt... diamlah Fei!”, akhirnya Reni menoleh juga kepadaku. “Karena itulah jangan sekali-kali menyebutkan namamu atau kau akan dikuasai oleh mahluk-mahluk itu”.
“Lalu gimana lo bisa menemukan gw di bawah ini?”
“Huh, kau seharusnya tahu jawabannya Fei. Bahasa Java”.
“Oh... ya ya... jadi lo panggil namaku dalam bahasa Java ya”.
“....”.
“Kalau begitu kaukah yang menyalakan semua lilin-lilin ini?”.
“Tidak”.
“Hah? Lalu...”.
“Waktu aku tiba disini, lilinnya tiba-tiba menyala sendiri. Flop. Begitu saja. Lagipula aku tidak tahu nama lilin apa yang ada di sini. Sayangnya tidak ada keterangan lebih lanjut dari jurnal kakek ini. Hanya dikatakan bahwa sepertinya lilin ini hidup jika ada orang yang masuk”.
“Waah... bukankah itu hebat Ren!”, girangku ceria.
“Apa? Aduh... Fei... kita di Keraton Istana yang angker. Kenapa kau malah antusias? Kita dalam bahaya, Fei!”, sahutnya gusar. Alis matanya hampir bertemu di kedua sisi belahan alisnya.

“Justru itu, Keraton Istana ini harus dipulihkan kembali ke kejayaannya! Teknologi ini jangan sampai disia-siakan”, ujarku. Klo aku bisa menguasainya lalu bisa berpetualang mengelilingi dunia menggunakan Keraton Istana ini. Ha... ha... ha...

Duk. Rasa sakit menimpa kepalaku. Aku mengaduh kesakitan.
“Fei! Kita harus kembali, jangan sampai usahaku untuk ke sini menjadi sia-sia karena antusias sintingmu itu. Aku tahu kalau kamu senang dengan petualangan. Tapi mohon Fei, kembalilah dulu oke. Oke. Lupakan tentang menguasai istana ini atau apalah. Dan lagi sebentar lagi kita akan sampai di aula tengah”. Tercium udara yang agak lebih baik daripada bau udara pengap yang dibawah di sana.

“Ah udah mau sampai?”, aku merengut. Aku dipelototi. Padahal petualanganku baru saja akan dimulai. Tapi biarlah, mungkin sebaiknya mundur dahulu toh persiapan agak kurang. Pahlawan dalam sejarahnya selalu kalah dan mundur untuk kemudian menang. Ada portal teremoter atau apaan itu jadi bisa kembali lagi ke sini untuk menguasai Keraton Istana ini. Hehehe... okelah.

“Fei, itu lukisannya. Tadi aku keluar dari situ”.
Kulihat lukisan besar yang tertempel di aula. Lukisan yang menggambarkan sesosok seorang yang sedang berdiri. Sepertinya penguasa istana ini. Ada sobekan disana-sini. Bagian wajahnya tersobek sehingga muka persisnya seperti apa tak diketahui. Tangan kanan tokoh itu menunjuk ke bawah. Di bawahnya ada apa ya?

“Fei, lukisan ini hendak memberitahu sebuah lokasi rahasia. Aku rasa kau pasti tahu apa yang dimaksudkan Fei?”, ujarnya sambil melihat ekspresiku. “Tentu saja, pasti portal teremoler kan? Tempat untuk pelarian diri para penghuni Keraton Istana ini”.
“Ralat Fei, portal te-le-por-ter. Te-le-por-...”.
“Iya ya, teleporter!”, ujarku kesal dengan kejahilan Reni. Kutarik bagian lukisan yang diarahkan tangan itu.
“Hm.. loh? Ga bergeming?”.

“Hh... kau memang tak bisa diandalkan dalam hal ini Fei. PortraitOpen true!”. Seketika debu-debu yang menempel di lukisan itu seperti berterbangan lepas. Aku terbatuk mencium debu-debu itu.

“Nah sesaat lagi kita pulang Fei. Aku lelah dengan semua ini”, sahutnya membuka lukisan besar itu. Sambil batuk-batuk aku melihat sebaris tulisan dibawah lukisan yang tadi tak terbaca karena tertutup debu-debu. Debu-debu itu sendiri terhapuskan karena batukanku. Ini?

“Reni, lihat ini! Orang yang di lukisan ini bernama Feihong Long . Itu kan suatu nama suku Timur Jauh!”. Teriakanku menggema aula.
“Eh masa? Seharusnya nama dalam bahasa Java bukan seperti itu”, nongolnya dari balik lukisan. Dia pun ikut memperhatikan deretan tulisan di bawah lukisan itu.
“Jadi sebenarnya penguasa Keraton Istana ini adalah dari suku Timur Jauh! Jadi fakta ini akan....”.

Terdengar getaran gemuruh di seluruh aula tengah keraton itu. Gantungan lilin bergoyang-goyang. Di langit-langit bertaburan debu-debu dan kotoran.

“Apa... apa... yang terjadi padaku?”, tanganku terasa membatu. Seluruh tubuhku terasa kaku. Sulit digerakkan. Apa yang terjadi???
“Oh aduh Fei, kau menyebutkan namamu!!”, sahutnya terkejut seraya menyadari bahwa ada yang salah. “Kau menyebutkan namamu secara tidak langsung dengan membaca nama tokoh lukisan ini!!”.

“Tap..tapi... namaku buk..buk...an”, sahutku dengan susah payah. Lidahku rupanya tidak mau diajak kerja sama. Namaku bukan Feihong Long tapi Feinardo Larkisas!! Itu yang ingin kukatakan padanya.
“Fei! Cara kerja bahasa Java adalah mencari nama yang mirip! Biarpun namamu bukan itu tetapi karena ada sebutan Fei maka itu disematkan padamu. Karena kau yang menyebutkan namamu sendiri!”, isak Reni. Kepanikan melanda dirinya. Juga diriku.

“Kucoba batalkan.... Public FeiRecover. This set size 800, 1.000. This ... aduh apa bahasanya ya!!!”, panik Reni yang telah dikuasai kekalutan.
“Ng... ng....”, lirihku sia-sia. Sudah tak ada suara yang dikeluarkan. Aku akan membatu gara-gara mahluk sinting itu! Cepatlah Reni! Kau benar, tempat ini berbahaya!
“This leg... this leg... eh.. this set leg... this set leg free... This... set mouth free... this...”.

Terdengar suara langkah berat. Suara kaleng besi. Dengan keremangan cahaya lilin yang bergoyang-goyang. Tampak mahluk berpakaian besi berwarna oranye. Bukan. Tepatnya warna hitam oranye. Bekas terbakar dari serangan Java-nya Reni. Dia berjalan sambil mengacungkan pedang pendek ke arahku, persis seperti pertemuan pertama.

“FEISTONE krs... TRUE krs... FEISTONE TRUE krs...”.
“Krs... FEISTONE TRUE krs... FEISTONE krs.. TRUE krs...”.
Mahluk itu mengucapkannya berulang-ulang. Mungkin untuk memperkuat mantra Javanya ke arahku. Tangan dan badanku sudah mengeras. Kakiku masih bisa kugerakkan. Mataku mulai merabun. Sudah tak ada harapan untukku. Reni...

Reni? Reni...? Reni harus selamat dari mahluk itu! Tapi bagaimana caranya?? Hanya kaki yang bisa kugerakkan. Dengan cara apa bisa menyelamatkan Reni? Tak tahulah. Kutendang-tendang Reni semampuku, kakiku ini sudah mulai mengeras.

“Fei, tenanglah...”. Dia melanjutkan, “this set body... this set body free. FeiRecover true!”, teriaknya. Sekujur tubuhku mulai melunak kembali. Tanganku mulai mengendurkan genggaman. “Java ini bekerja! Kualihkan perhatian mahluk itu. Selagi kau sempat, masuklah ke dalam lukisan itu ya. Fei. FeiRecover true!”, seraya mengacungkan tangannya ke helm berteralis itu sambil berseru, “This set attack true!”.

Reni menyerang mahluk besi berjambul itu dengan apinya. Kekuatan Reni memang bekerja. Namun tidak begitu kuat menahan serangan Java kaleng rombengan itu. Di bagian tangan dan badan memang melunak namun kembali mengeras. Sepertinya ada pertarungan kedua kekuatan di dalam tubuhku.

Entah mengapa aku merasa mual dengan pertentangan kedua kekuatan Java ini. Aku tak kuat lagi menanggung rasa ini. Kekuatan ini... entah mengapa terasa kenal. Bulir-bulir keringat muncul di sekujur tubuhku. Pengelihatanku menghilang. Sepertinya kekuatan Java jahat telah menguasaiku. Kegelapan menjangkiti duniaku.

Tapi apa ini? Mengapa aku pernah merasakan kegelapan ini di suatu tempat? Rasanya...

Familiar?
Siapa itu? Siapakah yang berbicara?
Aku yang baru menguasai dirimu.
Ah kau kekuatan jahat! Enyahlah dari diriku ini!
Hahaha aku disebut begitu ya?
Hentikan ini. Bebaskan aku!
Mengapa? Apakah kau lupa?
Lupa? Apa yang kau bicarakan?
Bahwa kau adalah bagian dari kami.

Ka... mi? Apa... maksudmu?
Kau dahulunya adalah bagian Keraton Istana ini.
A...apa? Itu...? Yang benar...?
Hm hm hm... ingatanmu terkunci ya. Baiklah kubuka ingatanmu!

Sesuatu bergerak di otakku. Setitik cahaya muncul. Seperti semua dunia kegelapan musnah disapu cahaya kecil itu. Pikiranku mulai blank. Muncul bayangan-bayangan yang tak kukenal di sekelilingku.

“Fei”.
“Ibu”.
Apa? Aku menyebutnya ibu?

Sekelilingku mulai terbentuk jelas. Segalanya penuh cahaya. Dinding berlapiskan putih gading. Gantungan lilin yang bergoyang-goyang. Kali ini tampak ceria, tidak terlihat suram. Lantai terlihat jelas. Kristal bening berwarna kebiruan. Sungguh tampak indah ruangan yang pernah kulihat.

“Fei, cepatlah pergi ke lukisan itu. Dan jangan sekali-kali menyebutkan namamu di istana ini”.
“Tapi ibu, aku tak ingin terpisah!”.
Orang ini... ya... dia...

“Fei pergilah, biar ibu yang akan menahan robot-robot itu. Kau harus selamat!”.
“Ibu... jangan pergi! Jangan...!”.
“Fei... maafkan ibu!”, sahutnya sambil mendorongnya ke dalam lukisan. “PortraitOpen false”.
“Jangan ibu, jangan tutup pintu ini! Ibuuu.....!!”, isak aku.
Iya itu aku... aku yang terpisah sejak beribu-ribu tahun yang lalu....

“Ibu... hiks..hiks... Ibuu....”.
Itu aku yang berusia 3 tahun pada saat itu. Karena tak ingin berpisah dengan ibu dan juga Keraton Langit ini maka saat itu aku mengucapkan....

“This myBodyStone true!”.
Aku yang waktu kecil hanya tahu kalimat itu. Entah dari mana.

Iya betul. Akhirnya kau ingat.
Kalau begitu. Keraton ini adalah milikku.
Hahaha betul hahaha....
Tak seharusnya aku pergi dari keraton ini.
Hahahaha....
Aku akan menetap di keraton ini bersama ibu.

Sayup-sayup kudengar....
Fei!! Jangan dengarkan dia!!
Reni....
Fei!!
Maafkan aku Reni... aku harus di sini...
Tidak Fei, jangan!!!
Ini adalah tempatku. Tempat dimana rumahku berada....
Hahahahah....

.
.
.

-Fin?-


message 43: by Fredrik, Momod Galau (new)

Fredrik (fredriknael) | 2149 comments Mod
Sebagai pemanis, Kapten Kucing yang baru belajar nulis juga menitipkan cerita autobiografi-nya ke Momod supaya ditampilkan pula di sini.
xD

Silakan di- cakari nikmati. Mraaaw!

======

IKAN ASIN KAPTEN KUCING

Kapten Kucing suka sekali ikan asin.

Dulu, Pa dan Ma bilang tak ada ikan asin yang bisa bertahan di rumah lebih dari satu hari karena Kapten Kucing pasti bisa mengendus aromanya. Tentu saja tak ada gunanya menyembunyikan karena Kapten Kucing pasti akan menemukannya.

Maka ketika Kapten Kucing memutuskan untuk berkelana, Kapten Kucing dibekali banyak sekali ikan asin oleh Ma, di dalam buntelan kain. Pa memberi Kapten Kucing sebilah pedang baru yang sangat tajam. Lalu mereka memberi nasehat sebelum Kapten Kucing berangkat. Kapten Kucing berjanji akan segera pulang setelah berhasil mengumpulkan banyak uang. Ah iya, nama Kapten Kucing saat itu belum ‘Kapten’, tapi ini cerita lain. Kapten Kucing akan fokus cerita tentang ikan asin dahulu.

Kapten Kucing berkelana dari satu desa ke desa lain mencari pekerjaan dari manusia.

Ada yang minta Kapten Kucing menangkap tikus. Itu hama paling menyebalkan di ladang dan gudang-gudang makanan.

Ada yang minta Kapten Kucing menjaga rumah yang sementara ditinggalkan penghuninya.

Bahkan ada yang memberi uang pada Kapten Kucing karena Kapten Kucing mengizinkannya menggelitik perut Kapten Kucing. Yang ini pekerjaan paling mudah, tapi Kapten Kucing tidak mau lagi. Berguling-guling di tanah karena geli tidak terlihat jantan.

Selama di desa biasanya Kapten Kucing tinggal di salah satu gudang milik manusia. Tidak membayar. Mereka senang karena Kapten Kucing selalu patroli setiap malam. Gudang aman karenanya. Setelah tak ada pekerjaan lagi Kapten Kucing meneruskan perjalanan ke desa berikutnya. Melewati padang rumput, bukit dan lembah.

Kalau malam Kapten Kucing menggelar selimut di bawah sebuah pohon. Lalu memanggang makanan. Dan barangkali membuat minuman panas. Lalu tidur di bawah langit berbintang. Sebenarnya tidak terlalu jelas. Langit agak tertutup dedaunan jauh di atas kepala Kapten Kucing. Tapi tetap saja menyenangkan.

Kalau bertemu sungai Kapten Kucing biasanya berhenti untuk mengisi botol air dari kulit milik Kapten Kucing. Lalu membersihkan diri. Lalu duduk memancing! Ini yang Kapten Kucing paliiiingg suka! Setiap ikan yang Kapten Kucing peroleh akan disisihkan satu-dua ekor lalu Kapten Kucing masukkan ke dalam kotak khusus. Tak lupa diberi banyak garam. Lalu kotak ditutup rapat-rapat dan disimpan di dasar buntelan. Setelah beberapa hari ikan akan berubah menjadi ikan asin yang lezat! Kotak itu kotak ajaib, peninggalan Kakek. Dan Kapten Kucing sangat sayang pada kotak itu.

Suatu hari Kapten Kucing tiba di satu desa. Ketika Kapten Kucing memasuki pasar untuk membeli garam, seekor kucing bau menyambar buntelan Kapten Kucing dan lari menjauh. Kapten Kucing marah sekali! Di dalamnya ada kotak ajaib. Kalau tidak segera dikejar Kapten Kucing tidak akan bisa membuat ikan asin lagi!

Maka Kapten Kucing mengejar kucing sialan itu. Dia berlari di antara kaki-kaki manusia yang terkejut, Kapten Kucing kejar! Dia meliuk dan berbelok, Kapten Kucing kejar! Dia melesat keluar di gerbang desa, Kapten Kucing kejar! Tak sekalipun Kapten Kucing kehilangan jejak, karena bau kucing belang hitam dan abu-abu itu sangat menyengat dan mudah diikuti.

Si kucing asing itu berlari semakin kencang ketika melewati ladang, menuju hutan. Jarak antara Kapten Kucing dan dia semakin jauh. Kapten Kucing semakin marah! Lekas Kapten Kucing menambah kecepatan dan tahu-tahu pohon-pohon habis. Kalau tidak cepat berhenti Kapten Kucing pasti menabrak tembok batu tinggi.

Kapten Kucing mengendus udara dan menengok, lalu melihat ujung ekor si kucing menghilang di sudut. Kejar!

Setelah berbelok Kapten Kucing harus menyusuri dinding batu yang panjang sebelum akhirnya menemukan pintu raksasa yang terbuat dari kayu sangat tebal. Di salah satu sudut ada pintu kecil setinggi lutut manusia. Pintu terbuka. Rupanya kucing asing tadi lupa menutup. Kesempatan, pikir Kapten Kucing. Lalu Kapten Kucing masuk ke dalam.

Ternyata tembok batu tadi mengelilingi sebuah kastil besar.

Eh, salah.

Ternyata tembok batu tadi mengelilingi sebuah kastil yang AMAT SANGAT BESAR.

Kapten Kucing ternganga melihat kastil. Kastil itu besar. Terletak di tengah taman yang luas. Ada banyak sekali bunga. Dan tanaman kecil-kecil. Lalu pepohonan di balik istana! Ada yang besar, tapi lebih banyak lagi yang tidak terlalu besar.

Ada enam menara setinggi langit. Atau barangkali tidak setinggi itu, tapi dari tempat Kapten Kucing berdiri itu amat sangat tinggi. Puncaknya tertutup awan. Atau awannya saja yang terbang terlalu rendah? Kapten Kucing tidak yakin.

Semua menara itu berdiri kokoh di tempat-tempat yang tidak simetris. Tapi anehnya terlihat bagus sekali. Satu menara ditumbuhi tanaman rambat sampai ke atas, tapi jendela-jendelanya tidak. Satu menara berwarna merah keemasan, berkilauan ditimpa cahaya matahari. Yang satu lagi dipenuhi sisik menyerupai sisik naga, berwarna hijau kebiruan.

Menara keempat terlihat seperti terbuat dari kue, berwarna merah muda dan di sana-sini Kapten Kucing melihat serbuk putih mirip gula halus. Di sebelahnya, menara kelima berbentuk spiral yang mengerucut, dengan puncak tertutup atap seperti jamur. Tapi yang terakhir yang paling aneh. Menara ini kadang terlihat dan kadang menghilang, membuat Kapten Kucing berkedip berkali-kali, barangkali salah melihat. Dinding kastil sendiri terbuat dari batu berwarna kelabu tua. Tapi … kadang berubah jadi biru tua. Aduh, Kapten Kucing jadi bingung. Tempat apa ini?

Kapten Kucing telah kehilangan jejak kucing belang sialan! Mengesalkan!

Sekarang apa yang harus Kapten Kucing lakukan? Kapten Kucing tidak bisa kembali. Bisa-bisa arwah kakek menghantui Kapten Kucing terus karena telah menghilangkan kotak ajaib!

Maka meskipun sedikit gentar Kapten Kucing memberanikan diri menghampiri pintu gerbang. Pintu itu luar biasa besar. Terbuat dari kayu hitam. Dan juga logam, mungkin besi. Pintu itu tertutup rapat. Kapten Kucing berpikir bagaimana cara membukanya. Lalu Kapten Kucing melihat kalau pegangan pintunya tinggi sekali!

Kapten Kucing melompat setinggi mungkin. Melompat lagi. Dan lagi. Ketika Kapten Kucing mengambil ancang-ancang untuk keempat kalinya, terdengar suara eongan menertawakan Kapten Kucing. Seekor kucing betina cantik tahu-tahu sudah duduk di rerumputan, tepat di belakang Kapten Kucing.

Kapten Kucing bertanya siapa dia, tapi dia hanya terkikik sambil melirik. Lalu berjalan ke arah pintu dan mendorongnya dengan satu cakar. Lalu pintu itu terbuka! Kapten Kucing tiba-tiba merasa bodoh sekali!

Si kucing betina melangkah masuk. Kapten Kucing menyusul masuk. Lalu Kapten Kucing berada di sebuah ruangan sangat gelap, yang di ujungnya ada cahaya putih. Terdengar suara eongan si kucing betina lagi, jadi Kapten Kucing berjalan masuk. Tapi pintu besar itu tiba-tiba menutup! Kapten Kucing terkejut. Mengeong marah. Lalu mencakar-cakar pintu. Tapi tidak terbuka.

Suara eongan lagi. Lalu ada cahaya-cahaya biru kecil di kejauhan, empat buah. Kapten Kucing menatap lantai yang dipijak. Ternyata cahaya biru berasal dari bawah kaki Kapten Kucing. Kapten Kucing berjalan selangkah. Cahaya itu berpindah. Ooooh … Kapten Kucing paham! Kalau lantai dipijak, akan bercahaya. Dan empat cahaya di kejauhan itu berasal dari kucing tadi! Dia menunjukkan jalan pada Kapten Kucing! Miaauuuww!

Kapten Kucing cepat berlari mengejar. Lalu Kapten Kucing akhirnya sampai di ujung. Di sebuah kebun sayur. Ada banyak sekali sayur mayur dan semuanya siap dipetik. Tomat, kacang, jagung, gandum, semuanya! Tapi kucing tadi tak ada.

Tiba-tiba Kapten Kucing mencium wangi yang sangat mengundang. Oooooohh ini ikan asin! Agak beda sedikit, tapi ini benar ikan asin! Pasti kucing sialan itu! Dia memakan persediaan ikan asin Kapten Kucing! GRRRRAAAWWW!!

Kapten Kucing menajamkan pandangan dan mengendus lagi. Lalu melihat asap tipis mengepul dari balik semak-semak. Di ujung kebun. Dikelilingi pohon-pohon rimbun. Kapten Kucing berlari ke arah sana dengan marah! Lalu melompat menerjang semak-semak! Dan tersangkut di sana. Miauuwwww! Tolong Kapten Kucing!

Di balik semak itu ada sebuah danau. Juga ada kucing betina cantik tadi, duduk di depan api unggun yang aneh. Apinya berwarna hijau tua. Banyak ikan asin ditusuk dengan ranting lalu dijajarkan mengelilingi api unggun. Baunya membuat perut Kapten Kucing langsung berkeriuk.
Tapi ada kucing belang itu di sana! Dia melihat Kapten Kucing yang meronta-ronta di antara ranting semak, lalu berjalan menghampiri. Tapi dia berubah! Tubuhnya membesar dan ketika sampai di tempat Kapten Kucing, ia telah menjadi manusia laki-laki berbadan tinggi. Dengan mudah ia mengambil Kapten Kucing dan meletakkan Kapten Kucing di tanah.

Ini aneh sekali! Kenapa manusia bisa berubah jadi kucing? Eh, maksud Kapten Kucing, sebaliknya. Aduh, bingung.

Kapten Kucing menoleh ke kucing betina tadi untuk bertanya. Tapi dia juga berubah! Menjadi manusia perempuan! MRRAWWW!! Ini benar-benar aneh! Kapten Kucing harus siap bertempur kalau-kalau mereka mau mencelakakan Kapten Kucing!

Tapi kucing beti--eh perempuan itu menenangkan Kapten Kucing. Katanya tak perlu takut. Mari makan bersama. Si laki-laki kembali ke api unggun, mencabut salah satu ikan dan menyodorkannya pada Kapten Kucing. Ayo dimakan selagi hangat, katanya.
Apa boleh buat. Kapten Kucing paling tidak tahan melihat ikan asin. Jadi Kapten Kucing duduk di depan api unggun dan mulai mengunyah … eh … sebentar … ini …

Ikan asin ini enak sekali! Luar biasa! Belum pernah Kapten Kucing memakan ikan asin seenak ini!

Perempuan tadi tertawa melihat Kapten Kucing makan dengan sangat lahap. Katanya ikan asin itu bisa enak karena dibakar di api unggun tersebut. Api itu takkan mati, meski disiram air atau ditimbun pasir. Manusia laki-laki menyodorkan buntelan Kapten Kucing dan minta maaf karena sudah mencurinya. Ia melihat Kapten Kucing tadi dan merasa mencuri buntelan adalah satu-satunya cara untuk membuat Kapten Kucing mengikutinya sampai di kastil fantasi. Ih, namanya aneh.

Kemudian Kapten Kucing ditawari tinggal di dalam kastil. Tugas Kapten Kucing adalah menjaga supaya kastil tetap aman. Kapten Kucing akan dibayar banyak! Banyak sekali! Dan boleh mengambil ikan di kolam sepuas hati. Juga boleh membuat ikan asin bakar yang lezat di api unggun hijau! Mereka bilang Kapten Kucing akan mendapat teman yang banyak setiap tahun. Teman akan datang membawa hasil karya mereka. Lalu Kapten Kucing boleh menjamu mereka dan berteman dengan mereka.

Wah! Ini pasti menyenangkan! Terutama di bagian ikan asin berlimpah sepanjang tahun. Mrrrr … Kapten Kucing mau, miaww!

Lalu mereka bergantian memeluk Kapten Kucing. Dan sejak saat itu, Kapten Kucing tinggal di kastil.

~


back to top
This topic has been frozen by the moderator. No new comments can be posted.