Goodreads Indonesia discussion

412 views
Buku Berbau Radikalisme Dilarang Masuk Perpustakaan

Comments (showing 1-12 of 12) (12 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

ijul (yuliyono) (ijul) | 1189 comments PAMEKASAN, KOMPAS.com - Perpusatakaan Daerah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, melarang masuknya buku-buku berbau radikalisme. Pelarangan itu, setelah banyaknya buku-buku tersebut dikirim melalui alamat yang tidak jelas. Buku-buku tersebut hanya disimpan di bank buku dan tidak untuk dikonsumsi publik.

Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pamekasan, Luqman Hakim menjelaskan, jika buku bertema radikalisme menjadi referensi dan bacaan pengunjung, dikhawatirkan hasil bacaan akan berpengaruh kepada yang bersangkutan. "Sengaja memang kita sweeping semua buku yang berbau aliran keras karena kita berfikir dampak negatifnya," kata Luqman, Senin (6/2/2012).

Luqman mengakui, banyak kiriman buku yang disumbangkan oleh beberapa penerbit kepada perpustakaan daerah. Namun pihaknya tidak serta-merta menaruhnya di rak-rak buku. "Kami tentukan dulu melalui tim seleksi buku, mana buku yang layak untuk konsumsi publik dan mana yang tidak layak menjadi bahan bacaan publik," katanya.

Dijelaskan Luqman, di antara buku berbau radikalisme yang dilarang adalah buku-buku yang mengarah kepada tindak kekerasan dan terorisme. "Tidak perlu saya sebutkan satu-satu bukunya. Tapi kalau sampulnya saja soal ledakan bom, sambil mengacungkan senjata dan pedang, sudah bisa diprediksi isinya," ujarnya.

Tidak hanya buku, tetapi beberapa majalah dan buletin yang menyebarluaskan semangat terorisme juga tidak luput dari sasaran. "Dari 80 persen pengunjung yang datang ke perpustakaan adalah pelajar dan mahasiswa. Jika otak mereka sudah terisi dengan bacaan yang ekstrem, radikal dan sebagainya, pengaruh jangka panjangnya sulit untuk merubah pola fikirnya," imbuhnya.

Ditegaskan Luqman, buku-buku berbau radikalisme jika dibandingkan dengan jumlah buku yang lainnya jauh lebih sedikit. "Puluhan saja jumlahnya. Tetapi yang sedikit dan berbeda dengan buku lainnya itu yang kecenderungannya dicari oleh pembaca," ungkap Luqman.

sumber: Kompas.com


message 2: by ana (new)

ana (anaazusa) | 572 comments ini apa deh. kayaknya kok merendahkan tingkat intelektualitas para pengunjung perpusnya ya (yang mayoritas pelajar dan mahasiswa).

*sok-sok tersinggung*


message 3: by Coqueline (new)

Coqueline | 607 comments ijul (yuliyono) wrote: "Pelarangan itu, setelah banyaknya buku-buku tersebut dikirim melalui alamat yang tidak jelas."

Bisa dimaklumi sih. Buku2 garis keras yg dikirim antah berantah biasanya sih propaganda dari grup grup tertentu (bisa dibayangin deh grup yg kayak mana). Ngapain juga sih bantuin nyebarin buku2 gak jelas. Kalo gue yg punya perpus juga males deh.


ijul (yuliyono) (ijul) | 1189 comments iya sih ya, semoga saja sistem penerimaan buku-buku yang masuk ke perpustakaan gitu sudah ada SOP-nya yang salah satunya pemberi hibah buku harus jelas...:)

setuju juga sih pendapat ana kecil, ya, akhirnya pembaca sendiri donk yang nentuin mau gimana nyikapi buku yang dibacanya kan....


message 5: by Marchel (new)

Marchel | 1640 comments kenapa ga perpusnya aja yang dilengkapi dengan sni ?
Distandardisasi gitu (eh bener kan istilahnya itu?)

ada untuk perpustakaan desa/kelurahan, khusus instansi/pemerintah, perpus perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, perpus umum kab/kota.

sumber? klik SNI, masukin keywordnya perpustakaan. Dapet deh SNInya. Unduh gratisan kok :D

Terus terapkan deh. Langkahnya cuma itu.
Masalahnya niat dilaksanakan nda ???


message 6: by Citra (new)

Citra  | 64 comments Baguslah, daripada perpus dipenuhi buku2 gajebo. Kasian generasi penerus, mereka kan masih muda, masih labil, jangan sampe deh terpengaruh hal begitu.


message 7: by indri (new)

indri (indrijuwono) | 2860 comments Marchel wrote: "kenapa ga perpusnya aja yang dilengkapi dengan sni ?
Distandardisasi gitu (eh bener kan istilahnya itu?)

ada untuk perpustakaan desa/kelurahan, khusus instansi/pemerintah, perpus perguruan tinggi,..."


wah linknya penuh info furnitur. thanks yaa.. :D


message 8: by Aditya, Moderator (new)

Aditya Hadi (adityahadi) | 298 comments Mod
sebenarnya gw kurang suka sama yg namanya pembatasan ... tapi klo buat instansi semacam perpustakaan daerah dan semisalnya, mereka emang harus membatasi buku2 apa aja yang boleh masuk koleksi mereka

*asal jangan dibakarin aja yah bukunya, separah apapun, setiap buku pasti ada manfaatnya*

:)


Chiquita Pasaribu (chiquitapasaribu) | 33 comments aku sih setuju ya kalau buku2 berbau radikalisme dilarang masuk apalagi di pedesaan.
perbanyak dl perpustakaan yg isinya buku2 pelajaran.
menurutku sih, tingkat pendidikan yg udah tinggi baru bisa mengerti dan tak terbawa arus setelah membaca buku2 berbau radikalisme gitu. IMO. :)


message 10: by Ursula (new)

Ursula Florene (ursulaflorene) | 9 comments Tapi bagus sih perpustakaan ini, dia punya kesadaran untuk menjaga stabilitas keamanan *wetsah*

Masyarakat Indonesia kan sbgian besar mudah dipengaruhi...


message 11: by Helvry (new)

Helvry Sinaga | 363 comments ya kalau sampai buku bagaimana membuat bom sampai beredar di perpustakaan, siapa yang menjamin tidak berdampak berbahaya. ya wajar juga buku seperti itu difilter.


message 12: by Idan (last edited Mar 11, 2015 04:10PM) (new)

Idan (idanalhadjri) | 157 comments Saya enggak setuju sih sebenernya..sensor dalam bentuk apapun. Itu malah bikin orang makin penasaran n curiga sama buku2 seperti itu. Akhirnya mereka malah baca diam2. Padahal yg kl beneran mau mendidik ya yg paling efektif itu dilakukan dlm kondisi yg open n demokratis. Gak ada yg ditutup2in apalagi sengaja disensor atau difilter. Ayolah mempromosikan gerakan membaca yg pintar, yg gak cuman dari satu pihak atau satu bentuk wacana aja. Jadinya informasi enggak berat sebelah. Jadi menurut aku, harusnya kalo perpustakaan itu punya koleksi buku2 radikal (entah apa n bagaimana yg dimaksud radikal dan siapa yg berhak menentukan limitasi konsep radikal/liberal/moderat dll) sebanyak 100, maka koleksi buku2 yg berlawanan dengan itu harus diperbanyak dua atau tiga kali lipat. begitu caranya mendidik, bukan membodohi...menurut saya sih..


back to top

unread topics | mark unread