Jakarta's Bookworms discussion

135 views
Rumpi > Benarkah ada Piramida di Indonesia?

Comments (showing 1-25 of 25) (25 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments wow, menarik!menarik!. Smg penelitiannya terus berlanjut dan bisa semakin meneguhkan Oppenheimer yang dlm bukunya menyebutkan bahwa Sundaland sebagai ibu peradaban dunia, tanah terindah di planet bumi, tanah tempat diturunkannya Nabi Adan dan Hawa.


message 2: by Adi_Toha (new)

Adi_Toha (jalaindra) | 1 comments wiwww.. bikin penasaran, jgn2 gunung geulis di jatinangor juga piramid!

saya malah membayangkan kalo gunung geulis itu bekas pesawat alien.


message 3: by Silvana (last edited Mar 17, 2011 07:41PM) (new)

Silvana (silvaubrey) kalo piramida sih fine, tapi klo atlantis? :D

@htanzil: eh sundaland? ga nyambung sama fakta pergerakan manusia yg mulai dari afrika dong. asia tenggara termasuk yg terakhir ditempati dibanding benua lain selain amerika

anyway, IMO sih jangan terlalu excited dulu sama klaim2 fantastis hanya krn di negara kita. let science (inc. scientists, and organization of scientists) do the work.


message 4: by Tyler (new)

Tyler @silvana: ehh mentang2 dari afrika, gw cium jg lw...,hhhaaa


message 5: by Silvana (new)

Silvana (silvaubrey) Flagged.


message 6: by Silvana (new)

Silvana (silvaubrey) Terima kasih, Mang ;)


message 7: by Marchel, Tukang Kompor (new)

Marchel | 136 comments Mod
oh, ini kasus na ya. Tadi sempet baca sekilas,lalu mati lampu dengan sukses. Jadi nda sempet apa-apa.

Omong-omong tentang piramid, kenapa baru sekarang rame na ya?


message 8: by Marchel, Tukang Kompor (new)

Marchel | 136 comments Mod
Mungkin, tapi bentuk-bentuk itu kan sudah lama ada dan bukan baru-baru aja dibentuk. Aneh kalau baru diteliti sekarang.

Trus sumber lokal, dalam hal ini penduduk lokal yg lama berdiam di situ, tidak dimasukkan sama sekali. Padahal itu kan sumber utama. Penduduk lokal yg biasanya lebih tahu sejarah atau asal-usul tentang daerahnya. Dan ini tidak ada satu pun.

Just curious...


message 9: by Marchel, Tukang Kompor (new)

Marchel | 136 comments Mod
Idem Mang.

I'm always based on science.

Jika bisa dibuktikan secara nyata hipotesis mereka, dan orang lain bisa mengulangnya dan mendapatkan hasil yg kurang lebih sama. Itulah sains. ^^


message 10: by Silvana (last edited Mar 20, 2011 10:35PM) (new)

Silvana (silvaubrey) Sayang ini yg suka terjadi di situs2 atau tempat2 di Indonesia. Demi meningkatkan hype daerah2 tertentu (biasanya utk promosi turisme), maka banyak tempat yg dibilang bekas/masih ada/berkhasiat sesuatu. Di goa A bekas pertapaan B yang keturunan C (tokoh sejarah terkenal) yang asalnya dari D (biasanya luar negeri). Ohya dan kalau ada orang yang menyentuh batu berbentuk D bakal bisa enteng jodoh/rezeki/punya anak.

Well, kebanyakan masyarakat Indonesia memang suka sama yg mistis2 ga jelas gitu sih dari sononya :D

Back to pyramid, bisa aja sih baru 'nyadar' sekarang. Asal jangan keburu ditangkep sama pers yg lebay dan diretweet/forward sama org2 yang lebay dan ga bother ngecek aja apa si berita itu sedang dicek sama ilmuwan atau udah clarified sama independent global organization soal situs purbakala aja (UNESCO? apa lagi ya?)


message 11: by Marchel, Tukang Kompor (new)

Marchel | 136 comments Mod
yup, kebudayaan urusannya UNESCO; ga peduli dari jaman kapan aja.


message 12: by Silvana (last edited Mar 20, 2011 11:23PM) (new)

Silvana (silvaubrey) Marchel wrote: "Idem Mang.

I'm always based on science.

Jika bisa dibuktikan secara nyata hipotesis mereka, dan orang lain bisa mengulangnya dan mendapatkan hasil yg kurang lebih sama. Itulah sains. ^^"


setuju.

btw di Indonesia bukannya sudah banyak punden berundak ya? Gue barusan baca disitus ini: http://www.wacananusantara.org/2/450/...

disitu disebutkan bahwa: "unden berundak merupakan contoh struktur tertua buatan manusia yang tersisa di Indonesia, beberapa dari struktur tersebut beranggal lebih dari 2000 tahun yang lalu. Punden berundak bukan merupakan "bangunan" tetapi merupakan pengubahan bentang-lahan atau undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu;menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak."

Salah satu contohnya ya Lalakon itu.

Seharusnya di berita2 diatas jangan terlalu sering menyebut kata piramida ya, walaupun ada bbrp embel2 "mirip" atau "berbentuk" krn jadinya kan salah konteks/pengertian dan yg terpatri di benak itu kata "piramida"-nya.


message 13: by Silvana (new)

Silvana (silvaubrey) Tergantung piramidnya dimana. Kalau di Mesir, bahkan pemikiran bahwa piramid = kuburan firaun pun masih ada celahnya. Setau gue sampai sekarang tidak satu pun mumi firaun (kalo mumi lain sih ada) pernah ditemukan di dalam piramid tapi di dalam struktur/bangunan lainnya. Makanya ada yg bilang bahwa piramid hanya jadi simbol makam firaun, tapi makan sebenarnya ya di tempat lain. Kalau di film Stargate ya beda lagi tentunya. Tapi itu topik lainnya ;p

Kalau di daerah lain fungsinya bisa macam2, seperti yg di Tenochtitlan itu kan untuk upacara2, tmsk diantaranya pengorbanan manusia, dan yg di Mesopotamia, zigguratnya berfungsi sebagai kuil. Kalau di Cina, ya memang untuk burial mound ya. Sayang sekali pemerintah China menolak eskavasi mound yg diyakini sbg makamnya Kaisar Qin (kaisar pertama Cina). Padahal menurut tes2nya para ilmuwan, katanya dibawah mound itu ada replika wilayah Cina lengkap dg sungai2 air raksa, bintang2 dari permata, miniatur2 bangunan dan tengah2nya kuburan si kaisar. Duh jadi kangen nonton Natgeo :(


message 14: by Harun Harahap (new)

Harun Harahap (HarunHarahap) | 22 comments Jangan-jangan piramida di Cina itu tiruan? namanya jadi piramidi seperti sony menjadi suny.. :p


message 15: by Harun Harahap (new)

Harun Harahap (HarunHarahap) | 22 comments Amang wrote: "Harun Harahap wrote: "Jangan-jangan piramida di Cina itu tiruan? namanya jadi piramidi seperti sony menjadi suny.. :p"

hehehe. bukan tiruan sih, tapi KW. Kalau mau piramida KW1 sampai KW5 ada semu..."


*ngakak guling-guling*


message 16: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments Artikel terbaru mengenai Gunung Lalakon yang diduga mrp piramida

"Lalakon" Gunung Lalakon

Diduga Merupakan Piramida Peninggalan Prabu Langgadarma

Kamis, 31/03/2011 - 02:37

SOREANG, (PRLM).- Gunung Lalakon yang terletak di Kec. Kutawaringin, Kab. Bandung, akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian bagi para pelaku sejarah dan para arkeolog. Bagaimana tidak, Gunung Lalakon saat ini dihebohkan dengan dugaan keberadaan situs mirip piramida dengan ketinggian mencapai 300 meter.

Keberadaan Gunung Lalakon itu, menurut tokoh masyarakat setempat, Ayi Iskandar, merupakan sebuah gunung yang sampai sekarang konon suka digunakan untuk kegiatan mistik seperti meminta rejeki dan sebagainya. “Kata orang tua jaman dahulu, ada seorang manusia sakti mandraguna. Konon untuk membunuhnya, badannya harus dipisahkan menjadi tujuh bagian. Dan, salah satu bagian tubuhnya dimakamkan di Gunung Lalakon. Orang itu yakni Eyang Jagaraksa,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, kampung yang berada di dekat Gunung Lalakon diberi nama Kampung Badaraksa, Desa Jelegong, Kec. Kutawaringin, Kab. Bandung, mengambil nama dari Eyang Jagaraksa.

Dani Subrata, salah satu Tim Turangga Seta Bandung menuturkan, Gunung Lalakon tidak terbentuk secara alamiah. Menurut dia, Gunung Lalakon merupakan sebuah piramida peninggalan kerajaan zaman dahulu.

“Gunung Lalakon merupakan peninggalan Prabu Langgadarma. Kerajaan ini berdiri jauh sebelum Majapahit. Berdasarkan hasil geolistrik yang dilakukan LIPI, menunjukkan ada sebuah terap-terap piramida di dalam gunung itu,” katanya kepada "PRLM", Rabu (30/3).

Menurut dia, piramida itu sengaja ditimbun sekitar 500 tahun yang lalu, setelah rubuhnya Kerajaan Majapahit sekitar abad 15. “Piramida itu ditimbun sengaja untuk menghindari penguasaan manusia saat ini yang cenderung mengejar harta, tahta, dan kekuasaan,” ucapnya menambahkan.

Sebelumnya, sejak Rabu (16/3) lalu komunitas Pecinta Sejarah Nusantara Turangga Seta melakukan penggalian di Gunung Lalakon sebagai salah satu upaya guna menindaklanjuti hasil temuan uji geolistrik yang telah mereka lakukan sebelumnya bersama tim peneliti.

Belasan anggota tim Turangga Seta dibantu oleh belasan warga sekitar, melakukan penggalian di titik koordinat 6° 57,5' Lintang Selatan, 107° 31,239' Bujur Timur, dan ketinggian 986 meter di atas permukaan laut. (A-194/das)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/13...


message 17: by htanzil (last edited Mar 30, 2011 09:33PM) (new)

htanzil | 23 comments piramid?

DUA warga dari bukit Pasir Odah melihat Gunung Lalakon yang bentuknya seperti piramid di Kampung Badaraksa, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Rabu (30/3). Warga menolak adanya galian kembali yang dilakukan di puncak gunung tersebut untuk membuktikan kemungkinan adanya bangunan piramid.

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/13...


message 18: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments Bupati Bandung akan Bantu Penelitian di Gunung Lalakon
Jumat, 08/04/2011 - 03:13

Photobucket

SOREANG, (PRLM).- Bupati Bandung Dadang M. Nasser mempersilahkan kepada komunitas pecinta sejarah Nusantara Turangga Seta untuk melakukan penelitian lebih lanjut di Gunung Lalakon, di Desa Jelegong, Kec. Kutawaringin, Kab. Bandung yang diduga tertimbun sebuah piramida dengan ketinggian hingga 300 meter itu. Dadang pun mengatakan, pihaknya akan mengijinkan kepada Turangga Seta untuk melakukan penggalian apabila memang memerlukannya.

“Silahkan saja, mudah-mudahan memang ditemukan piramida di Gunung Lalakon itu. Kalau memang memerlukan ijin penggalian kami siap bantu,” katanya kepada “PRLM”, Kamis (7/4).

Menurut Dadang, pihaknya juga bersama kepolisian resor (Polres) Bandung akan saling koordinasi apabila Tim Turangga Seta memerlukan pengamanan pada saat melakukan penelitian itu. Namun, untuk bisa menindaklajuti penelitian itu, pihaknya mengaku kesulitan karena anggaran untuk melakukan hal itu sangat minim.

“Kalau kita melihat dari sisi anggaran, tidak mungkin untuk kita melakukan penggalian karena pengesahan APBD 2011 sudah lewat, sehingga kita tidak bisa mengganggarkan untuk hal itu,” katanya.

Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Bandung, Dedi Sutardi mengatakan, mendukung penuh dengan adanya pihak lain yang peduli dengan kepurbakalaan di Kab. Bandung. Ia pun terus menunggu hasil selanjutnya dari penelitian yang dilakukan Turangga Seta.

“Mendukung sekali dengan penelitian uji geolistrik itu, karena dengan alat tersebut kita bisa mengetahui serta memfoto kondisi di dalam tanah. Dan, jangan lupa hasilnya seperti apa tolong dikasih tahu ke kita juga,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk sekadar penelitian uji Geolistrik, Tim Turangga Seta tidak perlu membuat perijinan seperti penggalian yang dilakukan mereka pada beberapa waktu lalu. “Kalau sekadar menguji dan tidak berdampak buruk pada lingkungan sekitar, tidak perlu ada ijin-ijin segala. Yang harus ada ijin itu penggalian di Kab. Bandung. Ijin itu bukan hanya dari RT, RW, dan Pemerintah Desa Setempat, melainkan harus ke Pemkab Bandung juga,” katanya.

Sementara itu, Anggota Tim Turangga Seta, Dani Subrata mengatakan, saat ini timnya sedang menampung berbagai pendapat dan asumsi dari para geolog-geolog Nasional mengenai Gunung Lalakon itu. “Dan semuanya menyatakan memang di Gunung Lalakon strukturnya tidak alamiah,” tambahnya.

Timnya pun terus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak termasuk dari salah satu keluarga Wakil Bupati Bandung Deden R. Rumaji. “Keluarga Wakil Bupati sangat mendukung sekali penelitian yang kami lakukan. Intinya sesegera mungkin uji geolistrik akan kita lakukan bersama salah satu universitas ternama di Indonesia,” pungkasnya. (A-194/das)***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com


message 19: by Marchel, Tukang Kompor (new)

Marchel | 136 comments Mod
mantap.

Nda sabar menunggu hasil eskavasinya.


message 20: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments sudah adakah buku ilmiah populer yang mencoba mengungkap adanya piramida di Indonesia?


message 21: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments “Piramida” Bukti Peradaban Maju Nusantara?

Arysio Santos bahkan menunjuk Indonesia sebagai lokasi Kota Atlantis yang hilang.

Rabu, 14 Desember 2011, 06:38 WIB

Elin Yunita Kristanti


VIVAnews – Penemuan gunung piramida di sejumlah daerah, termasuk di Garut, Jawa Barat, kini menjadi kontroversi. Tim Bencana Katastropik Purba meyakini di balik timbunan tanah itu terdapat piramida buatan manusia, yang bahkan berusia lebih tua dari Piramida Giza di Mesir. Di sisi lain, sejumlah ahli mengatakan tak ada sejarah piramida di Indonesia.

Dimintai tanggapan soal kontroversi piramida, pakar kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Lily Tjahjandari mengatakan berdasarkan tinjauan akademis, keberadaan piramida di Nusantara dimungkinkan.

“Sangatlah mungkin, bahkan Borobudur dulu pun tertimbun,” kata dia saat dihubungi VIVAnews.com. Letak Indonesia yang berada dalam cincin api menjadi faktor mengapa bukti-bukti keberadaan peradaban itu menghilang.

Lily menambahkan, hipotesis keberadaan piramida harus dilihat dari berbagai sisi. Diperlukan sinergi ilmuwan dan peran badan terkait, terutama arkeologi untuk menguak misteri itu. “Memang perlu kecurigaan menyikapi temuan ini, dalam arti harus dibuktikan kebenarannya.”

Sebelumnya, tim bencana katastropik memprediksi “Piramida Garut” berusia 10.000 tahun sebelum Masehi, itu artinya lebih tua dari Piramida di Mesir. Jika terbukti ada piramida di perut Gunung Sadahurip atau Gunung Putri–ini adalah bukti Nusantara memiliki peradaban maju di masa lalu.

Soal keberadaan peradaban maju di Indonesia, Lily juga menyebut, mungkin. Hal tersebut didukung sejumlah hipotesa yang dikeluarkan para ilmuwan. “Ada satu disertasi dari Gorys Keraf yang menyebut, bahasa Asia pasifik , termasuk Asia Tenggara, adalah bahasa tua dunia,” kata Lily. Dia menambahkan, kebudayaan tidak hanya ditandai oleh keberadaan situs, tapi juga bahasa.

Hipotesa lain, Lily menambahkan, juga diketengahkan oleh Stephen Oppenheimer, ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris. Ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara.

“Apa yang diungkap Oppenheimer berbasis temuan dan wacana yang mengarahkan ke sana (peradaban maju termasuk di Indonesia),” kata dia. “Juga ada hipotesa dari Santos (Arysio Santos).”

Seperti diketahui, dalam buku “Atlantis the Lost Continents Finally Found”, Santos menunjuk Indonesia sebagai lokasi Atlantis yang hilang--kota kuno berperadaban maju--berdasarkan definisi yang disebut Plato dalam 'Lost Civilization'.

Lily berpendapat kontroversi boleh-boleh saja terkait klaim penemuan piramida. Namun, aksi nyata harus dilakukan untuk membuktikannya. “Temuan ini harus diungkap tahap demi tahap oleh ilmuwan, juga bersinergi dengan media. Pertimbangkan dampaknya yang akan sangat baik–bagi indentitas bangsa, juga dari sisi pariwisata dan perkembangan perekonomian daerah. Lihat sisi positifnya.”

Terkait dengan kajian budaya Indoensia, Lily mengatakan, Universitas Indonesia akan menyelenggarakan seminar, salah satu tamunya adalah Oppenheimer. Acara digelar pada 9 Februari 2012 di Bali.

Kajian tersebut penting berkaitan dengan masa lalu – identitas kita sebagai bangsa , juga mempengaruhi cara pandang kita ke depan. “Dalam frame besar wilayah kajian Indonesia, perspektif kebudayaan. Sub temanya sangat luas, termasuk budaya ekonomi, budaya politik, dan birokrasi. “Kami berusaha mengembalikan kajian tentang Indonesia ke tanah air, selama ini kajian tentang Indonesia yang besar justru di Australia atau Amerika Serikat,” kata Lily.

Ditaksir ilmuwan asing

Tak hanya menjadi perhatian di kalangan nasional, wacana penemuan piramida juga menarik sejumlah ilmuawan asing. “Oppenheimer yang menulis buku peradaban nusantara, melalui pendekatan DNA, juga asisten Santos (Arysio Santos) sudah menghubungi tim,” kata anggota tim Anggota Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Iwan Sumule, Selasa 13 Desember 2011 malam.

Pertemuan rencananya akan dilakukan Oppenheimer-tim katastropik saat ilmuwan itu menghadiri acara UI di Bali.

Soal kontroversi piramida, Iwan menambahkan, itu bukan fokus pihaknya. “Orang mau bicara apapun, silakan, kami nggak mau berpolemik. Apa yang kami sampaikan telah memenuhi standar internasional,” kata dia.

Iwan menambahkan, pihaknya tak mau berdebat. “Saat ini kami jalan terus, memberikan sosialisasi, menuju proses eskavasi,” kata dia.

• VIVAnews

sumber : http://nasional.vivanews.com/news/rea...-


message 22: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments Gunung Sadahurip Bukan Piramida!

sumber : http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmanty...

Ini adalah versi uncut dari opini oleh Sujatmiko yang dimuat Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) Sabtu, 14 Januari 2012, lengkap dengan foto hasil observasi lapangan pak Sujatmiko (Sekjen KRCB). Selamat membaca.

Harian Umum PR dg opini Pak Miko

DARI PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN :

GUNUNG SADAHURIP BUKAN BANGUNAN PIRAMIDA

Oleh : Sujatmiko

Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang 1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.

Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat antara lain G. Kaledong dan G. Haruman , keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.

Walaupun demikian , berkat semangat dan kemahiran Yayasan Turangga Seta dalam menyosialisasikan hipotesanya dan memanfaatkan nama besar dari beberapa pakar ilmu kebumian yang di awal penelitian mereka ikut berpartisipasi, maka akhirnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Binagraha terpancing untuk ikut nimbrung melalui tim bentukannya yaitu Tim Bencana Katastropik Purba. Tim inilah yang beberapa waktu lalu mengklaim telah menemukan Piramida Sadahurip, yang selain tertinggi dan terbesar di dunia, juga tertua yaitu lebih dari 6000 tahun sebelum Masehi.

Pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah kontroversialnya kemudian dilemparkan ke masyarakat luas antara lain tentang temuan pintu masuk ke ruang piramida di perut G. Sadahurip , dan yang terakhir tentang kehebatan para pendiri piramida yang diyakini telah mampu memindahkan seluruh kandungan batuan yang sebelumnya menyusun lembah Batu Rahong untuk dijadikan bahan bangunan Piramida Sadahurip.

Pernyataan terakhir ini yang sebetulnya dapat dijelaskan dengan konsep ilmu rupa bumi atau geomorfologi mengindikasikan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba tidak dilengkapi dengan tenaga ahli kebumian yang mumpuni, yang selain dapat membaca dan menerjemahkan gejala alam yang telah dan sedang terjadi, juga dapat menjaga martabat dan kehormatan institusi kepresidenan yang seharusnya selalu kita junjung tinggi.

Gunung Sadahurip asli bentukan alam

Kepastian bahwa G. Sadahurip merupakan bentukan alam murni tanpa campur tangan manusia, apalagi tenaga ghoib, didapat setelah penulis melakukan pengamatan geologi langsung di lapangan pada tanggal 8 Januari 2012. Dalam kegiatan ini tim penulis didukung dan dikawal oleh Dan Ramil 1103 Wanaraja Garut, Kapten TNI Didi Suryadi beserta beberapa orang anggotanya , dan Sekretaris Desa Sukahurip, Bapak Syarip Hidayat. Target pengamatan pertama adalah morfologi G. Sadahurip yang tampak simetris sempurna dari arah Wanaraja, tetapi ternyata menjadi tidak simetris dari arah selatan / Kampung Cicapar.

G. Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar

Pengamatan selanjutnya difokuskan kepada fenomena geologi yang ditemukan di sepanjang perjalanan , dari mulai Kampung Cipacar sampai ke puncak G. Sadahurip dan kemudian turun ke Kampung Sokol. Singkapan batuan yang ditemukan berupa batuan beku andesit dalam bentuk aliran lava dan batuan intrusif yang masif , yang di beberapa tempat melapuk meninggalkan struktur kulit bawang atau kekar tiang.

Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis

Selain dari itu, ditemukan juga batuan piroklastika hasil kegiatan gunung api yang kebanyakan telah lapuk . Dengan variasi batuan semacam ini yang sangat umum ditemukan di morfologi gunung berbentuk piramida, maka dapat disimpulkan bahwa G. Sadahurip adalah sebuah gunung api kecil yang utuh dengan bentuk menyerupai piramida. Fenomena semacam ini oleh van Bemmelen disebut sebagai lava dome (The Geology of Indonesia, 1949) dan oleh Arthur Holmes sebagai cumulo dome (Principles of Physical Geology, 1984).

Metode penelitian geologi sederhana yang penulis uraikan ini sebetulnya merupakan materi kuliah Geologi Dasar di seluruh Fakultas Geologi di Indonesia yang seharusnya dipertimbangkan oleh Tim Bencana Katastropik Purba dalam melaksanakan penelitiannya. Dengan demikian maka pemakaian beragam peralatan super canggih seperti geolistrik superstring, georadar, foto satelit 3 D – IFSAR resolusi 5 meter, dan bahkan penentuan umur dengan metode Karbon C-14 atau radiocarbon dating yang tentunya telah menguras dana dan tenaga yang tidak kecil akan dapat dihindari.

Antara bisikan ghoib dan pertimbangan ilmiah

Dalam wawancaranya dengan VIVAnews pada tanggal 15 Februari 2011, Yayasan Turangga Seta yang didirikan sekitar tahun 2004 mengakui bahwa metode penelitian yang mereka terapkan banyak didasarkan atas kepekaan beberapa anggotanya terhadap kehadiran ghoib yang mereka sebut sebagai parallel existence (penulis menyebutnya sebagai bisikan ghoib). Mereka terkesan bangga menyebut timnya sebagai MIT atau Menyan Institute of Technology dengan argumentasi bahwa dalam melakukan perburuan situs prasejarah , yang mungkin dengan ritual pembakaran kemenyan untuk mengundang roh, mereka kadang-kadang mendapat sokongan informasi lokasi dari informan tak kasatmata (VIVAnews, 17 Maret 2011).

Dengan keyakinan semacam itu maka dapat dimengerti mengapa dalam sosialisasi pertamanya di hadapan Wagub Jabar tanggal 3 Maret 2011, Yayasan Turangga Seta terkesan kurang senang ketika penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum., pakar arkeologi dari Balar Bandung, memberikan masukan ilmiah , padahal maksudnya agar Yayasan Turangga Seta yang sebagian besar anggotanya masih muda-muda dapat lebih berhati-hati , baik dalam melakukan penelitian ataupun dalam prosedur dan perizinannya (sesuai dengan isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010).

Masukan serupa tetapi sedikit lebih keras diberikan lagi kepada perwakilan Yayasan Turangga Seta ketika memperkenalkan hipotesanya di Jurusan Tambang ITB pada tanggal 6 Mei 2011 yang dihadiri juga oleh penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum. Pernyataan mereka ketika itu cukup tegas bahwa mereka lebih percaya kepada bisikan ghoib atau parallel existence dari pada pertimbangan ilmiah.

Selain peringatan secara langsung, sanggahan melalui media internet dan media cetak dilayangkan juga antara lain oleh Mang Okim (milis IAGI 20 Maret 2011 : Piramida G. Lalakon di Bandung, Akhir Sebuah Harapan), Dr. Ir. Budi Brahmantyo M.Sc. (PR 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam), dan lain-lain. Artikel dan tulisan berikut lampiran gambar-gambar yang menjelaskan dan menyanggah hipotesas piramida tersebut dan telah dikutip oleh Google, dipastikan telah dibaca juga oleh Yayasan Turangga Seta.

Selain dari itu, beberapa pakar geologi terkemuka di Indonesia yang pada awalnya mendampingi dan mendukung secara sukarela penelitian mereka, kemudian menarik diri setelah menyadari adanya penyimpangan metode dan arah penelitian mereka dari kaidah-kaidah ilmu kebumian yang baku (pengakuan Dr.Ir.Danny Hilman M.Sc. di Nasional, 4 April 2011, dan bantahan keras Dr.Ir. Andang Bachtiar M.Sc. di FB karena nama dan reputasinya dimanfaatkan secara tidak benar). Dengan adanya sanggahan dan bantahan dari para pakar tersebut, maka sungguh sulit dimengerti bahwa Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana justru terpengaruh dan bahkan mendukung penuh kegiatan eksplorasi dan penggalian arkeologi yang di beberapa lokasi diketahui melanggar ketentuan dan prosedur yang digariskan dalam Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 .

Pelajaran berharga bagi kita semua

Gencarnya issue tentang Piramida G. Sadahurip ini , yang oleh masyarakat Garut diartikan sebagai adanya bangunan piramida dan/atau kandungan harta karun di perut G. Sadahurip, membuat aparat Kecamatan Pangatikan dan Desa Sukahurip di Garut menjadi sibuk luar biasa. Selain karena membanjirnya para pengunjung ke puncak G. Sadahurip sejak sekitar 6 bulan terakhir , yang ketika penulis mendaki gunung ini pada tanggal 8 Januari 2012 jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang, beberapa instansi terkait dan Pemkab Garut tentunya tak kalah sibuknya melayani permintaan dan pertanyaan para pejabat di Jakarta tentang issue piramida tersebut.

Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis

Hikmah dari semua itu adalah meningkatnya minat masyarakat dan para pelajar untuk mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip melalui jalan setapak dan lereng terjal yang tidak ringan. Untuk melayani pengunjung, paling sedikit tiga warung jajanan telah dibangun mendadak oleh penduduk setempat di lereng G. Sadahurip. Hal ini memberikan indikasi bahwa masyarakat sangat mendambakan sarana wisata minat khusus yang sebetulnya bisa diciptakan oleh para pemangku kekuasaan kalau mau.

Sehubungan dengan itu, maka walaupun G. Sadahurip bukan bangunan piramida budaya, alangkah baiknya kalau minat masyarakat khususnya para remaja dan pelajar yang dengan semangat pantang menyerah mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip dapat dipertahankan. Dengan anggaran yang tidak seberapa dan bahkan melalui kerja gotong royong, jalan ke puncak G. Sadahurip dapat diatur dengan membuat tangga-tangga sederhana. Pemandangan alam dilihat dari puncak G. Sadahurip sungguh luar biasa antara lain G. Kaledong dan G. Haruman serta beberapa gunung lainnya yang bentuk piramidanya tak kalah indahnya dari G. Sadahurip.

Kerucut G. Kaledong dan G. Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida. Segede ituuu?

Dan kepada Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, pesan moral yang kiranya perlu disampaikan adalah agar tidak terjun terlalu jauh dalam masalah-masalah yang sebetulnya dapat dilakukan oleh lembaga dan instansi serta institusi pendidikan terkait. Alangkah ironisnya bahwa hilangnya bangunan sangat penting di puncak G.Sadahurip yaitu beton Trianggulasi T 74 yang dibongkar karena dikira mengandung harta karun, lepas dari perhatian, padahal hukuman bagi pencurinya di zaman kolonial Belanda begitu berat.

Bandung, 12 Januari 2012,

Sujatmiko ( Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI )


message 23: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments Stephen Oppenheimer: Indonesia Mungkin Benua Atlantis yang Hilang

Hery Winarno - detikNews

Kamis, 02/02/2012 14:46 WIB

Jakarta - Ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer mengatakan bahwa Asia Tenggara merupakan pusat peradaban di masa lalu. Namun apakah benar Indonesia dan kawasan Asia Tenggara merupakan benua atlantis yang hilang, Oppenheimer belum berani memastikan.

"Saya belum melihat piramida di Garut, saya tidak mengomentarinya. Saya belum melihatnya. Tapi mungkin bahwa Indonesia adalah atlantis yang hilang, tapi saya tidak tahu bukti yang kuat untuk itu," ujar Oppenheimer usai bertemu presiden SBY di kantor presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (2/2/2012).

Dalam bukunya Eden in The East, Oppenheimer seolah memutar sejarah dunia. Bila selama ini sejarah mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia, maka Oppenheimer punya tesis sendiri.

Hasil penelitiannya, nenek moyang dari manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan sundaland atau Indonesia.

"Poin saya adalah, tanpa pertanian, domestikasi dan tanaman tumbuh dan peternakan, anda tidak akan memberi makan banyak orang. Kota ini tergantung pada petani, Indonesia memiliki banyak petani. Anda perlu banyak petani untuk memberi makan orang-orang di kota untuk membangun monumen besar, dasar peradaban di ladang, peternakan. Buku saya benar-benar adalah tentang bukti awal domestikasi atau akar peradaban ketimbang monumen," jelasnya panjang lebar.

Menurut Oppenheimer, di masa lalu Asia Tenggara merupakan sebuah benua yang solid dan tidak tercerai berai seperti saat ini.

"Jika Anda membuka Atlas, anda akan melihat laut dangkal. Jika anda melihat Laut Cina Selatan, Laut Jawa, itu lahan kering yang menghubungkan Kalimantan, Jawa, Bali, Sumatera, semenanjung Malay sekaligus dalam satu benua," tuturnya.


message 24: by htanzil (new)

htanzil | 23 comments Arkeolog: Silakan Digali, Tak Akan Ada Makam di 'Piramid' Gunung Padang

Sumber : http://news.detik.com/read/2012/05/23...

Jakarta Situs megalitik Gunung Padang menjadi kontroversi sejak mencuat kabar adanya piramid yang berada di lapisan bawah punden berundak berteras 5 di Gunung Padang. Namun, seorang arkeolog sekaligus ahli Efigrafi membantah bila di bawah lapisan tanah Gunung Padang terdapat piramid laiknya sebuah makam Firaun di peradaban Mesir Kuno.

"Silakan digali, tidak ada itu namanya piramid seperti di Mesir," kata Arkeolog Dr. Hasan Djafar, saat berkunjung ke Situs Megalitik Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jabar, Selasa (22/5).

Hasan yang pernah mengajar di Universitas Indonesia (UI) ini juga pernah melakukan penelitian di sejumlah situs kepurbakalaan.

Baginya, walau dirinya belum pernah meneliti secara langsung situs tersebut. Informasi mengenai keberadaan situs yang pertama kali ditemukan NJ Krom, WN Belanda, tahun 1914 itu didapatkan dari pertukaran informasi antar arkeolog Indonesia.

Hasan sendiri pernah menggeluti temuan situs komplek candi Budha di Karawang yang ternyata dibangun 200 tahun terlebih dulu daripada Candi Borobudur, yaitu abad ke 600 SM.

Menurut Hasan, peradaban purbakala di nusantara tidak semaju di Mesir saat piramida berdiri tegak dan telah mengenal teks sebagai medium komunikasi.

"Kalaupun ada piramid, bukan artinya piramid budaya mesir yang mengenal teks. Ini (situs Gunung Padang) adalah punden berundak yang dibangun tinggi, tidak ada ruang kosong atau makam seperti di Mesir," katanya.

Punden berundak jaman megalitik sengaja dibangun tinggi oleh kehidupan purbakala. Karena saat itu peradaban mengenal konsep reliji menyembah alam yang diyakini memiliki kekuatan bernyawa, seperti angin, matahari, gunung, dan lautan.

"Lantas, mengapa harus tinggi?" Tanya detikcom sambil menikmati panorama hamparan pegununhan di utara puncak Gunung Padang.

"Karena mereka menganggap dewa-dewa berada di tempat tinggi," katanya.

Senada dengan muridnya, Ali Akbar, Hasan tidak menampik bila konsep reliji masyarakat dahulu, khususnya yang hidup di zaman pra sejarah, menggunakan Gunung Padang sebagai medium untuk memuja Gunung Gede.

"Bisa dilihat dari arah beberapa ruangan yang ada dan artefak yang bersisa seperti kursi batu yang menghadap ke Gunung Gede, atau pendaringan (peristirahatan) yang menghadap posisi sama," ujar Doktor yang saat ini mengabdi di Universitas Indraprasta untuk program studi Pendidikan Sejarah.

(ahy/ndr)


message 25: by aldo zirsov (new)

aldo zirsov (aldozirsovlibrary) nyambung lagi berita perihal Gunung Padang Cianjur di artikel ini:
http://www.newdawnmagazine.com/articl...


back to top

unread topics | mark unread