Goodreads Indonesia discussion

176 views
Mengapa Anak Muda Jaman Sekarang Tidak Bisa Menulis?

Comments (showing 1-46 of 46) (46 new)    post a comment »
dateDown_arrow    newest »

Uzie | 14 comments jadi inget jaman sekolah dulu, jarang banget disuruh bikin karangan sama guru, kalaupun iya paling cuma bikin karangan tentang liburan, yang ga berkembang. Apalagi bikin resensi novel, jarang banget. Apalagi anak sekolah jaman sekarang disuruh bikin karangan atau resensi tinggal copy paste.
miris...
Apa karena bahasa indonesia di anak tirikan?


Coqueline | 604 comments Dididik untuk jadi drone, ya jadinya drone...


Uzie | 14 comments Amang wrote: "kenapa gak nulis? kayaknya karena anak muda kebanyakan main sms, twitter, fb dan goodreads. hehehe"

bikin status di twitter, fb n goodreads juga nulis.
:P


© itugitugitu 2012 (ugit_rifai) | 545 comments terlalu asik dengan tulisan informal yang ngga merhatiin kaidah tulisan yang bagus. Bagusnya kita tanya temen kita Fia yang pernah menang lomba karya tulis waktu SMA-nya. Siapa tau kita bisa tau banyak tentang remaja/anak muda yang menulis.. :)


Fadilah (dieloye) | 53 comments karena baca buku pun juga udah males. saya sendiri juga ngerasa tulisan sendiri masih belum bagus, hehehe


Nanny SA | 1332 comments Orang yang suka nulis biasanya pasti suka baca, orang yang suka baca belum tentu bisa nulis, apalagi yang tidak suka membaca seperti kebanyakan orang kita pasti tidak bisa menulis


Andri (ClickAndri) | 665 comments Agak ragu jg gw dengan tulisan ini. Kalau yang dimaksud dengan menulis adalah menjadikan urusan tulis menulis sebagai profesi : novelis, cerpenis, essais, jurnalis, dll.. mungkin ada benarnya.

Sementara kan menulis gak cuma itu, gak cuma profesi yang terkait dengan tulis menulis. Kalau dibalikin ke menulis sebagai kemampuan komunikasi, menurut gw masih ok kemampuan menulis pemuda skrg. Banyak yang reportingnya bagus anak2 buah gw. Meskipun mereka profesinya bukan di urusan tulis. Tapi akuntan.

-andri-


message 8: by Δx Δp ≥ ½ ħ (last edited Nov 25, 2010 01:01AM) (new)

 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2884 comments Uzie wrote: "bikin status di twitter, fb n goodreads juga nulis.
:P"


ini bukannya diketik yah? [image error]


ana (anaazusa) | 572 comments -tertampar_

PLAK!


Uzie | 14 comments Δx Δp ≥ ½ ħ wrote:
ini bukannya ..."

hmmm... kayanya perlu didefinisikan ulang bedanya nulis ama ngetik.. ^.^"


message 11: by [deleted user] (new)

anak muda? banyak orang tua juga kaga bisa nulis kaleee..


Nenangs | 2318 comments rasanya artikel itu terlalu menghakimi...


Wirotomo Nofamilyname | 2298 comments Ini mungkin harusnya bukan soal tua atau muda. tapi mengapa oarang Indonesia tidak begitu pandai menulis.
Itu pun juga masih bisa diperdebatkan hehehe


message 14: by [deleted user] (new)

Menurut gw begini: baca tulisan ini, yg bersumber dari sinyalemen pak tua Taufiq Ismail, gw jadi teringat obrolan dg seorang veteran tua yang menggerundel ttg anak muda zaman sekarang, yang katanya pemalas, hidup nyaman, ga berprestasi dsb. Gw jadi bertanya balik sekalipun tetap hormat pada beliau: "Ga berprestasi? Kayaknya zaman bapak dulu ga ada anak muda menang olimpiade fisika internasional deh."

Apa sinyalemen anak muda sekarang ga bisa menulis? Lihat sekeliling bro! Kita hidup di zaman booming buku2 teenlit karya anak SMA, koran2 punya rubrik/halaman khusus buat pelajar, bahkan beberapa penerbit punya lini khusus menampung tulisan anak2 di bawah 10 thn, dan beberapa yg pernah gw baca seperti Dunia Caca, mutunya baik sekali! Zaman dulu sastra anak ditulis oleh org dewasa, sekarang anak menulis buat anak! Masalah kedalaman tulisan bisa kita perdebatkan, tapi anak2 muda ini menulis! Dari mana seseorang bernama Joni Lis Efendi ini bilang anak muda ga bisa nulis? Gw sampe berpikir jangan2 buku2 yang gw sebut itu ga beredar di Pekanbaru sampe dia ga tahu fenomena yang jelas2 ada di depan mata ini: anak muda zaman sekarang menulis, banyak sekali, dalam jumlah yg ga mungkin ditandingi anak muda atau orang2 tua zaman dulu


message 15: by Harun Harahap, Moderator GRI 2014 (new)

Harun Harahap (HarunHarahap) | 2568 comments Mod
Vote message 17!


Nilam Suri (NilamSuri) | 134 comments gue muda,n gue bisa nulis tuh

tapi setuju banget sama mas ronny,bukannya justru sekarang itu malah penulis muda lagi banyak2nya?jauh lebih banyak dibanding masa2 sebelumnnya?atau karya2 sastra populer seperti yang kebanyakan beredar sekarang ga dianggap sebagai 'bisa menulis' kah?
apa hanya setelah seseorang bisa menghasilkan karya sastra serius macam tulisan taufiq ismail saja,baru dia dikatakan bisa menulis?


Nenangs | 2318 comments setuju mas ronny.
& memang distribusi buku2 yang kurang merata ke daerah-daerah bisa bikin orang salah membaca fenomena. :)
berbeda dengan teman2 di kota-kota besar pulau jawa, kami2 yang nguprek di pulau2 lain ini agak kesulitan akses ke buku2.
tetapi, kalau hanya untuk melihat fenomena banjir penulis muda, kan bisa lihat/akses di internet (plus goodreads..hehehe).
so, ada yang mau mengundang mas joni untuk bergabung disini, untuk meluaskan sudut pandang? :)

pertanyaan yang sama dengan nielam berputar2 dalam otak gue sejak baca post amang no 1.
*biar ngga terlalu keliatan ndompleng*

hehehe...


indri (indrijuwono) | 2855 comments Atau mungkin yang diharapkan penulis muda yang menulis sastra melayu ala angkatan Balai Pustaka dan atau Pujangga Baru yang mendominasi sastra lama Indonesia (kalau dilihat2, rata2 memang orang Minang sih..)?
Apa mungkin Joni Lis Efendi ini mencemaskan daerahnya sendiri yang sedikit menelurkan anak muda yang kurang suka menulis, dibanding masa jayanya sastra Balai Pustaka dan Pujangga Baru?

Yang jelas, kalau jumlah anak muda yang menulis itu banyak sekali, bisa dlht dr komunitas tulis menulis yang di FLP, Rumah Dunia, Fantasy Fiesta. Tinggal selera mau membaca yang model apa?


gieb | 743 comments saya kira, judul artikel ini yang provokatif. dan apa yang disampaikan artikel ini di dua paragraf awal, ada benarnya. artikel ini sepertinya mengarah berkurangnya tanggungjawab negara untuk memberikan regulasi untuk membangkitkan semangat membaca dan menulis. tentu, celah perdebatan masih ada di kata 'membaca dan menulis' ini, seperti yang kawan-kawan sampaikan di atas. apakah novel teenlit yang sekarang membanjir itu bukan sebuah karya tulisan? apakah tulisan itu hanya sah jika harus menulis sastra 'berat'? hmm. saya kira, perdebatannya tidak ada di situ. tetapi bagaimana pendidikan di sekolah ternyata mengabaikan semangat untuk membaca dan menulis ini. rasionalnya sudah disampaikan di paragraf awal artikel di atas.

fakta bahwa sekarang menjamurnya penulis muda disinyalir hasil dari hobi dan tumbuhnya komunitas tulis menulis. bukan karena sebuah kurikulum pendidikan. artinya pendidikan ternyata tidak berpihak kepada semangat untuk membaca dan menulis ini. dan saya kira, artikel di atas, seharusnya bisa lebih tajam mengkritik pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan untuk mengubah kurikulum yang ada.

btw, saya juga gak suka taufik ismail kok. hehe.


Aveline Agrippina (agripzzz) | 269 comments Amang wrote: "kenapa gak nulis? kayaknya karena anak muda kebanyakan main sms, twitter, fb dan goodreads. hehehe"

Wah, pintah itu! *mewakili anak muda yang gahul*


Aveline Agrippina (agripzzz) | 269 comments *merasa muda*

Sebenarnya, kami -anak muda- ingin sekali menulis. Tapi ada tujuan-tujuan yang absurd di balik itu semua.

1. Ingin populer. Dengan menjadi penulis, kita dianggap bisa menjadi seorang yang populer. Selebihnya tentu bisa ditebak, royalti buku. Maka dihasilkanlah karya yang kurang berkualitas atau setara dengan itu.

2. Hobi dan menjadi keseharian. Meski tak dibayar pun mereka tetap sudi untuk menulis.

Oh ya, sebenarnya kriteria dikatakan "muda" itu usianya berapa? Untuk KLA, 30 tahun masih bisa dibilang muda. Sedangkan untuk beberapa penerbit yang mengadakan lomba, cakupan usia muda antara 16-25 tahun. Ya.... absurd ah!


© itugitugitu 2012 (ugit_rifai) | 545 comments buku2 KKPK (kecil2 punya karya) cukup jadi bukti juga bahkan di usia belia anak2 indonesia sudah menulis dengan bagus. Ya, walaupun saya sendiri blum baca buku2 itu :D.. Atau memang artikel itu sifatnya lokal saja? *sotoy.or.id*


Nissa Mz (Joniz) | 20 comments Jadi inget waktu sma,, pas ujian sekolah disuruh ngarang cerita...gw malah nyuruh adik kelas gw yg sebangku pas ujian bwt bikin karangan cerita,,,
hahahahhahahhaaa.....wkwkwkkwkw..


© itugitugitu 2012 (ugit_rifai) | 545 comments seinget saya jaman SMA, saya cuma sekali disuruh ngarang. Waktu itu habis study tour ke borobudur dan kami disuruh bikin laporan kelompok. Waktu itu saya yang kebagian ngetik laporan. Waktu itulah saya ngarang karena waktu itu saya nggak ikut study tour ditambah lagi saya blum pernah ke borobudur. :)


Lalu Fatah (laluabdulfatah) | 4 comments Hmmm... iya juga sih! Setuju sama Mas Ronny. Message no. 17 :))

Entah sampai kapan, artikel semacam ini - bahwa anak muda tidak bisa / malas menulis - akan tetap digelontorkan oleh para penulis esai atau artikel. Saya sendiri sempat menulis esai untuk lomba dengan judul "Buku Islami: oleh Anak untuk Anak". Dan, saya memasukkan contoh-contoh karya penulis KKPK.

Tapi, mungkin Joni Lis Efendi juga ingin memprovokasi pembaca, khususnya kaum muda yang belum tertarik untuk menulis, agar menulis. Sebab, banyak manfaat yang bisa diperoleh. Jadi, nggak salah juga sih artikel di atas :))


Sweetdhee | 1572 comments wah... beruntung banget waktu saya SMA, guru2 bahasa indo nya cerdas banget buat merangsang anak2 muridnya menulis...
bahkan waktu saya kelas 3, ada satu kliping yang isinya kumpulan puisi2 terpilih dari satu angkatan..
masih ada ga ya kliping itu?

Saya tau novel Saman aja karena ada tugas buat resensi..
demam Samam satu angkatan..

*berterimakasih pada bu Zur dan Pak kun*

saya rasa artikel itu lebih bertujuan untuk mengkritik pemerintah yang tidak menyediakan tempat dalam kurikulum pendidikan untuk merangsang kegiatan baca tulis di sekolah..

nah... kalo di sekolah tidak disediakan, kita bisa mulai juga dari rumah, khaaan?


Nanny SA | 1332 comments © itugitugitu 2010 wrote: "seinget saya jaman SMA, saya cuma sekali disuruh ngarang. Waktu itu habis study tour ke borobudur dan kami disuruh bikin laporan kelompok. Waktu itu saya yang kebagian ngetik laporan. Waktu itulah ..."

hehe.


© itugitugitu 2012 (ugit_rifai) | 545 comments kalo dilihat di kurikulumnya, anak2 sekolah lebih dituntut mengapresiasi karya sastra. Silakan liat contoh2 soal UN yang kebanyakan menanyakan unsur intrinsik cerpen, novel, dan drama. Dan untuk anak2 remaja yang mungkin masih alergi dengan tulisan baku, boleh dikenalkan dulu dengan tulisan bebas (free writing).


Sakti (saktisoe) | 2 comments Selepas membaca artikel dan 32 comment dibawahnya, saya mendadak geleng-geleng nggak setuju dengan artikelnya.

Anak muda Indonesia senang menulis kok, contoh paling mudah, menulis comment diartikel ini :')

Buat saya menulis itu salah satu bentuk kebutuhan yang sifatnya sunah dalam hidup. Jika mau melakukannya akan baik sekali jika tidakpun tidak apa apa. Beda dengan membaca, membaca itu wajib hukumnya.

Ayo ajak Mas Joni buat blogwalking rame rame, lets make him shocked with how so many young creative writer around! :)


Nadiah (nadnuts) | 3 comments Saya mencatat satu kalimat dalam artikel di atas: Walau akhir-akhir ini banyak bermunculan penulis muda, namun itu tidak berangkat dari basik sekolah.

Jadi, yang diharapkan adalah pendidikan di sekolah juga semestinya bisa membangkitkan semangat menulis pada anak dan remaja.

Kalau tidak salah, sudah ada juga beberapa pelatihan untuk bapak dan ibu guru di sekolah dalam hal tulis-menulis dengan tujuan untuk menularkannya kepada anak murid masing-masing.


message 31: by Ikra (last edited Dec 09, 2010 05:13AM) (new)

Ikra Amesta (IkraAmesta) | 38 comments Artikel yang bagus, dan saya suka dengan para komentator di sini; memberi inspirasi. Terima kasih.

"Ayo anak-anak besok kalian ujian dengan materi dunia alternatif, bahannya dari buku The Lord of the Rings, Harry Potter, dan Alice in Wonderland!"

kan enak dengernya tuh...


Sweetdhee | 1572 comments seru kayaknya, kalo gitu yaaa


message 33: by GungGung (last edited Dec 09, 2010 08:22AM) (new)

GungGung Agung (nyol) | 123 comments IkraAmesta wrote: "Artikel yang bagus, dan saya suka dengan para komentator di sini; memberi inspirasi. Terima kasih.

"Ayo anak-anak besok kalian ujian dengan materi dunia alternatif, bahannya dari buku The Lord of the Rings, Harry Potter, dan Alice in Wonderland!"

kan enak dengernya tuh... "


sayangnya sang guru dan si murid tak pernah membaca buku-buku tersebut, karena mereka lebih suka mengantri karcis premiere di bioskop daripada membaca bukunya walaupun sudah tersedia di perpustakaan.


Ikra Amesta (IkraAmesta) | 38 comments Haha sayangnya begitu... Ya udah diganti deh:

"Ayo anak-anak besok kalian ujian dengan materi dunia dystopia, bahannya Nineteen Eighty Four, Brave New World, sama Fahrenheit 451!"

Anak-anak: "???"

Hahahahaha


Marchel | 1640 comments Agung wrote: "sayangnya sang guru dan si murid tak pernah membaca buku-buku tersebut, karena mereka lebih suka mengantri karcis premiere di bioskop daripada membaca bukunya walaupun sudah tersedia di perpustakaan.
"


Iya, walau menurut gw jauh lebih seru baca bukunya. Dijabarkan secara lengkap di bukunya. Semua cerita latar belakang tokoh, penggambaran suatu tempat, dll lebih lengkap di buku. N enaknya baca buku, gw bisa mengembangkan fantasi gw sebebas-bebasnya.

Dan kayaknya anak gw yg pertama mempunyai "bakat" ini. Belum dicoba ke arah penulisan, masih SD dan belajarnya masih kacau.


 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2884 comments Agung wrote: "sayangnya sang guru dan si murid tak pernah membaca buku-buku tersebut, karena mereka lebih suka mengantri karcis premiere di bioskop daripada membaca bukunya walaupun sudah tersedia di perpustakaan.
"


saya yakin kok banyak banget guru dan murid di indonsia yang sudah membaca trilogi LOTR, serial Harpot, dan setidaknya menonton film Alice.

Dan bukan salah mereka jika tak diajarkan di sekolah. Alasannya satu, kurikulum.
Bagaimana bisa ngajarin yg di luar kurikulum seperti itu jika hantu Ujian Nasional mencekik waktu dan kegiatan KBM? nekat ngajarin yang gituan, ntar bisa-bisa dituduh bid'ah.

Lagian, kalau emang niat, karya sastra Indonesia pun masih teramat luas. Gak mentok di karya Balai Pustaka saja yang itupun lum tentu dibaca sendiri bukunya, cuma sekedar data nama tokoh, tema, nama pengarang, dan sinopsis ala kadarnya [image error]


Raiya | 4 comments di Kalimantan banyak sekali guru bahasa Indonesia SD-SMP yg ga bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. dan sangat langka sekali ada guru bahasa Indonesia yang benar-benar mengerti kaidah-kaidah penulisan. penyetaraan kompetensi guru cuma formalitas. klo gurunya aja ga bisa nulis, gimana mau ngajarin muridnya?


Astrid (astridw) | 20 comments seperti yang sudah disebutkan beberapa teman-teman di atas, artikel di atas tampaknya lebih bermaksud utk mengkritik pemerintah dan tidak bermaksud utk menekankan bahwa 0% dari pemuda Indonesia dapat menulis (yang pastinya sama sekali tidak benar dong :] ).

mungkin ada satu cerita yang bisa saya bagikan di sini , (saya tinggal di Buenos Aires,Argentina sejak tahun 2008) .
tentu teman-teman sekalian tahu bagaimana kondisi pendidikan sekarang di negara-negara Amerika Selatan.
maka dari itu tidak heran seiring dengan kepindahan saya ke sini , saya tdak berharap banyak terhadap apa yang akan saya hadapai di SMA setempat (selain kesempatan untuk bisa belajar bahasa setempat pastinya ;] ) .
kenyataannya ? Buenos Aires termasuk salah satu kota paling melek akan membaca dan menulis se Amerika Selatan (atau bisa dibilang se-dunia menurut beberapa orang-orang asing lainnya). dan semua ini tercermin sekali di dalam sekolah-sekolahnya ..
di SMA , kelas 1 , 2 dan 3 , pelajaran bahasa Spanyol sudah tidak diarahkan untuk belajar gramatikal atau teori.
Setiap 2-3minggu murid-murid diberi satu buku (bisa buku dari negara manapun) yang pada akhirnya , mereka akan diberikan ujian tentang buku yang bersangkutan. Dengan berakhirnya tahun ajaran , mereka sudah membaca sekitar 8-9 buku dan menulis 8-9 essay tentang buku-buku tsb (ujiannya memang tidak hanya sekedar tanya-jawab ttg detail buku , tapi lebih ke 2-3 pertanyaan , yang jawabannya harus dijabarkan alias essay).

Dari unsur inilah saya terkesima dan menyadari betapa menyedihkan pengetahuan saya tentang sastra Indonesia kalau harus mengandalkan apa yang sekolah saya berikan.

Tapi memang , pada saat yang bersamaan,kemampuan membaca dan menulis orang-orang Buenos Aires yang menggembirakan ini tidak beriringan dengan kemajuan pendidikan setempat.
Mengapa ? sepertinya kecintaan mereka terhadap sastra dan sejarah menjadikan mereka lupa akan kepentingan dari matematika, fisika, kimia, biologi, teknik dsb. Ini terlihat sekali dari jumlah mahasiswa antara jurusan ilmu pasti,teknologi,dkk yang jauh lebih sedikit daripada jumlah mahasiswa jurusan sastra,sejarah,psikologi dan filsafat.

Dari unsur inilah(kemajuan yang pesat dan signifikan dalam ilmu pasti,teknologi dkk)yang saya banggakan dari Indonesia dibandingkan dengan Amerika Selatan . :) tapi memang utk hal membaca dan menulis, Amerika Selatan khususnya Buenos Aires lebih menggembirakan daripada tanah air tercinta :(

terima kasih yang sudah sempatkan baca komentar panjang saya ini :] bagi yang merasa terganggu , saya mohon maaf sebesar-besarnya ya :)

cheers! ;)


Sweetdhee | 1572 comments wah, info yang keren, Astrid..
terimakasih sudah berbagi


Astrid (astridw) | 20 comments Amang wrote: "seru banget bacanya trid. refleksi yang dalem soal bangsa kita dan juga buat masy di amlat. pertanyaan langsung muncul di kepala: buku di sana murah2? gampang diakses kah? artinya ada ..."

jumlah toko buku di sini juga lebih banyak daripada jumlah perpustakaan. mungkin karena selain toko buku besar ternama (yang ternama aja ada lebih dari 6 nama toko buku), bertebaran toko buku independen dimana-mana, yang jual buku baru maupun bekas (kebanyakan yang punya toko buku dan penjaganya sendiri adalah bapak-bapak pensiunan atau mungkin masih aktif usaha kerja lainnya tapi memilih toko buku sebagai usaha sampingan :D).
untuk kebutuhan akademik pun mudah sekali aksesnya ,
contohnya buku utk jurusan hukum dan buku utk jurusan kedokteran , ada komplek atau area nya sendiri-sendiri.

tapi senangnya , perpustakaan di sini selain di universitas,sekolah, atau institut lain,yang sering dikunjungi justru perpustakaan pemerintah (perpustakaan umum). Ada Perpustakaan Nasional pastinya dan cabang-cabangnya di berbagai penjuru kota , total ada 26 perpustakaan umum(di kota Buenos Aires sendiri). Layanannya juga termasuk bagus sekali. Kita bisa pilih buku lewat internet , reservasi bukunya lewat internet dan kemudian telpon,sekaligus janjian hari & jam utk mengambil bukunya.

untuk harga, ya sama lah ya, yang di toko-toko buku ternama , harga termasuk mahal. kenaikan harganya yang suka cepat sekali , saya pernah ngincer satu buku harga 90 peso , 1 bulan kemudian sudah 110 peso . :D (usut punya usut , karena peminat bukunya sedikit , maka naik lah harganya , aneh ya ? saya juga heran :D)
tapi di sini memang gak pernah kehabisan alternatif , toko-toko buku independen itu lah yang menjadi pelarian semua pencinta buku yang ingin berhemat :)

wah mudah-mudahan menjawab pertanyaannya Amang ya :D


message 41: by [deleted user] (new)

Ga heran lah kalo sastra begitu hidup di sana dibanding ilmu-ilmu teknik. Buenos Aires gitu lho, yg pernah dijuluki "ibukota budaya" Amerika Latin, kotanya Borges, Cortazar, dan Mafalda. Tahun 1960an, penulis Amerika Latin kalau pengen bukunya diterbitin, kalau ga ke Spanyol ya ke Buenos Aires. Jumlah penerbit sastra bejibun. Kritikus David William Foster sampai menulis khusus tentang itu Buenos Aires: Perspectives on the City and Cultural Production


Oge Bual | 1 comments Artikel di atas membawa pembacanya utk melihat refleksi si penulis kepada dua hal, dimana kegagalan pendidikan atau ketidakmampuan anak muda skg mrupakan kenyataan yg patut disesalkan karena tidak sesuai dengan yang semestinya, atau sekedar karena lebih buruk dari kondisi silam di Indonesia maupun keberhasilah negara-negara maju saat ini. Di Indonesia, satu-satunya negara moderen di dunia yg--hebatnya--tidak mempunyai kebijakan utk menerapkan mata pelajaran sastra di sekolah sbg wajib, maka keadaan pemuda itu pada gilirannya terkondisikan. Demikianlah sehingga menulis pun bahkan tidak dipahami sebgai keahlian berarti--oleh mereka yg tdk punya impian jadi penulis. Padahal penyuguhan wacana bahwa menulis adalah 'permainan' yg ketika dimainkan, kita akan terseret utk melakukan kajian, atau mengeksplorasi keadaan batin dan rasa. Menulis pun setidaknya menjadi kendaraan pengembangan diri. Ketika saya ber-SMA, tak seorang pun pernah mengatakan itu pada saya. Namun memang tak seorang pun!


Felly (Flasmana) | 104 comments very nice article!

menulis itu esential bagi para peneliti apapun genre penelitiannya. jadi bukan milik satrawan aja :)

jangan kalah sama anak SD di inggris yaa....
http://sains.kompas.com/read/2010/12/...

mari menulis temans! ;)


Rima Muryantina (midorima) | 6 comments Menulis yang dimaksud di sini apa sih?
Perasaan dulu waktu SMA saya banyak banget tugas menulis dari guru bahasa Indonesia. Di perguruan tinggi juga masih diwajibkan banyak tugas menulis (makalah, dsb).

Sebenarnya saya menyayangkan pernyataan-pernyataan Pak Taufiq Ismail (tidak hanya yang ini) yang cenderung meremehkan anak muda. Itu pernyataan-pernyataan yang terlalu klasik yang selalu dikatakan generasi yang lebih tua pada generasi yang lebih muda. Suatu hari generasi yang lebih muda akan bilang begitu pada generasi yang lebih muda lagi dan begitu seterusnya.

Kalau gaya menulis anak muda agak berbeda dengan gaya menulis generasi tua, tidak berarti langsung dapat ditarik kesimpulan bahwa "semua anak muda tidak bisa menulis."

Kalau soal sistem pendidikan, saya akui memang tidak sebagus di luar negeri (khususnya untuk pemicu minat baca/tulis). Akan tetapi, ini pun tidak dapat digeneralisasi untuk semua institusi pendidikan. Ada juga sekolah-sekolah yang guru-gurunya memberi alternatif tertentu untuk memicu minat baca/tulis murid2nya.


R.D. Villam (Villam) | 601 comments ah bagus kok ada yang mau berpendapat dan menulis artikel soal tulis menulis. artinya ada yang peduli, ada yang sayang. :-)

mari menulis. jawab saja dengan tindakan.


nurediyanto | 5 comments pola hidup instan dan laju modernisasi yg kian kencang mjd slh satu faktornya. mnulis bg sbagian dunia anak muda masa kini mjd sbuah aktivitas yg kurang 'mengenakkamn' plus membosankan. 'mending OL drpd nulis', itulah gaya anak muda masa kini. mereka tidak tahu bahwa dg menulis kita bisa mensejarah :D


back to top

unread topics | mark unread


Books mentioned in this topic

Dunia Caca (other topics)
Buenos Aires: Perspectives on the City and Cultural Production (other topics)