[x] Must be a member!

group discussion


122 views

topic: Buku & Membaca > Resensi "Negeri 5 Menara": Dari Gontor ke Trafalgar Square... -- Damhuri M


Comments (showing 1-46 of 46) (46 new)    post a comment »
dateDown_arrow    newest »

message 1: by Amang, Moderator 2010 (new)

348055
Judul Buku : Negeri 5 Menara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 416 halaman

NEGERI 5 MENARA, novel karya A. Fuadi ini memperlihatkan betapa do­minannya parameter non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Sampul belakang buku itu sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual, hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman tersebut. Tak ada satu pun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteria utama da­lam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi penting?

Berkisah tentang upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Ma­dani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).

Alif tidak pernah mengira bahwa dirinya akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil dia ingin menjadi ''Habibie''. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan, Alif menerima tawaran itu sehingga dia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juz Quran sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga Raja, Dulma­jid, Said, dan Atang.

Hanya beberapa bulan waktu berbicara dengan bahasa Indonesia bagi santri-santri baru di PM, setelah itu mereka wajib berbicara da­lam bahasa Arab atau bahasa Ing­gris. Bila aturan dilanggar, gan­jarannya tidak main-main. Bila tidak digunduli, sekurang-ku­rangnya bakal dapat jeweran be­ran­tai. Bahkan, bila pelanggarannya berat, santri bisa dipulangkan. Sa­king kerasnya kemauan para sa­hibul-menara untuk menguasai per­cakapan dalam dua bahasa a­sing tersebut, igauan dalam tidur me­reka pun terungkap dalam baha­sa Arab.

Dengan deskripsi ruang yang nya­ris sempurna, A. Fuadi berhasil memetakan seluk-beluk dunia pe­santren modern yang selama ini ha­nya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Pahit dan getir, riang dan gamang kaum santri dengan hu­mor khas pesantren ditandaskan dengan modus pengisahan yang menakjubkan. Tengoklah pelbagai alasan yang sengaja dirancang sahibul-menara agar mereka beroleh izin keluar PM, bersepeda mengelilingi Kota Ponorogo, dan tak lupa melintas di pintu gerbang pesantren putri, sekadar ''nampang''.

Begitu pula siasat Dulmajid yang me­mengaruhi ustad Torik agar ber­oleh izin nonton bareng per­tandi­ngan final bulu tangkis di ling­ku­ngan PM, padahal qanun (atu­ran pondok) menegaskan, san­tri PM dilarang menonton TV. ''Us­tad, lob antum itu mirip sekali de­ngan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya, kita tonton siaran lang­sung besok malam.''

Ustad Torik langsung takluk dan ter­jadilah peristiwa bersejarah itu: TV masuk PM. Lewat satirisme khas kaum santri itulah, segi-segi estetik novel tersebut dapat ditandai hingga martabat kenovelannya tidak semata-mata ditakar dengan nilai didaktik dan etik saja. Bukankah jalan sastra adalah ikhtiar merancang sebuah alegori dari pelbagai realitas faktual yang menjadi panggilan penciptaan pengarangnya? Maka, kerja pemaknaan terha­dap teks novel tak segampang sebagaimana yang dilakukan para komentator novel tersebut. Bahwa kemudian ditemukan tendensi-tendensi didaktik, itu kenyataan yang tak bisa dielakkan karena setiap pembaca berhak menafsirkannya sesuai dengan kepenti­ngan masing-masing.

Tak dimungkiri bahwa di balik ki­sah yang digarap A. Fuadi dalam bu­­­ku ini, ada pengalaman empiris, ka­­­takanlah semacam fakta-fakta ke­­ras semasa pengarang mondok di Gontor yang menjadi muasal pe­­ngi­sa­hannya. Tapi, dalam kerja ke­pe­ngarangan, fakta-fakta keras itu digiling sehalus-halusnya oleh ima­ji­nasi sehingga tidak bisa lagi di­lihat de­ngan kacamata hitam-pu­tih, tidak bisa diukur secara positi­vistik. ''Ima­jinasi'' di sini bukan da­­lam pemahaman yang menyehari. Filsuf Arab Al-Farabi (850-950) dalam kitabnya, Ara' Ahl Ma­­dinah Wa Al-Fadhi­lah, me­nye­but­nya quwwatul mutta­khilah, se­macam potensi dalam subjek, yang berpijak pada pengalaman em­­p­iris dan penalaran (reasoning), sehingga ia sangat berbeda dengan ''fantasi'' -yang tidak perlu berangkat dari pengalaman indrawi, apalagi penalaran. Dalam epis­temologi Al-Farabi, ''imajinasi'' dalam batas-batas tertentu bahkan da­pat melampaui pencapaian akal-bu­di dan pengalaman empiris itu sendiri.

Maka, dunia imajiner dalam Ne­ge­ri 5 Menara bukan lagi semata-ma­ta dunia A. Fuadi dan sejawat-se­ja­watnya semasa di Gontor. Kisah yang disudahi pengarang dengan re­uni bersejarah di Trafalgar Square, Lon­don, -setelah 15 tahun masa-ma­sa sulit di PM berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferen­si di London tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara ba­kal menggenggam impian masing-ma­sing. Yang mereka tahu hanya man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses. (*)

Damhuri Muhammad, Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 18 Oktober 2009


message 2: by Fierdus (new)

1850085 Ehmmmmmmmmm boleh juga nih buat dibeli.......


message 3: by Truly (new)

1731272 Harus.... ! Tadinya kirain termasuk novel yang rada berat, makanya pas dipinjemenin paksa bacanya setengah hati. Tapi... malah aku jadi ketawa-ketawa sendiri di busway. Selanjutnya beli......!


message 4: by Abdurrahman (new)

Nophoto-u-25x33 penasaran juga nih, mirip para tokoh indonesia, yang berbasis santri tapi wisudanya di negeri yang bukan santri


message 5: by Nanny (new)

1591889 sejak baca reviewnya Lita pengen baca buku ini lho


message 6: by Novri (new)

1227497 ini bagus nih.. ceritanya mengalir dan tidak perlu memeras otak dengan bahasa yang familar. Serasa membaca Harry Potter (kisah2 di pesantren, reward dan punishmen siswanya) Laskar Pelangi (semangat belajar yang sangat tinggi dari siswa pesantren) dan Ayat-ayat Cinta (perbendaharaan bahasa arab).
Wah pokoknya bakalan jadi best seller buku ini...


message 7: by Ditta (new)

1470392 udah best seller keknya,,udah cetak ulang lagi tuh,,denger2,,,lebih dr 15.000 cetakan pertamanya udah terjual


1618324 dah dapet bukunya. muali dibaca :_)


message 9: by Sam (new)

165573 udah dibaca, udah review n udah dapet ttd author-nya, hahaha..


message 10: by Truly (new)

1731272 Yang enggak ngantor asyik nih..............!


message 11: by Ayu (new)

2627187 udah punya bukunya sejak awal bulan ini, tapi keknya baru bakalan mulai bacanya bulan depan.. :(


message 12: by Friska (new)

2747453 udah baca...


message 13: by Nurul (new)

426137 Mulai baca ah....


message 14: by Hilmy (new)

1662743 udah baca.

keren.

jadipengen masuk gontor!


message 15: by Ganjar (new)

Nophoto-m-25x33 Novri wrote: "ini bagus nih.. ceritanya mengalir dan tidak perlu memeras otak dengan bahasa yang familar. Serasa membaca Harry Potter (kisah2 di pesantren, reward dan punishmen siswanya) Laskar Pelangi (semangat..."

Iya bahasanya mengalir, tidak meliuk-meliuk dan menukik seperti andrea hirata dalam laskar pelangi. Mungkin tipikal kepenulisan wartawan.


message 16: by Devi R. (new)

328981 baru mau baca....tapi dah ketemu authornya...^-^


message 17: by Amang, Moderator 2010 (new)

348055 Sukses dengan "Man Jadda Wajada"
-- Dewi Yuhana


• Judul Buku: Negeri 5 Menara
• Penulis: A Fuadi
• Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
• Tebal: xiii + 416 halaman • Cetakan: 2009
• ISBN: 978-979-22-4861-6


”Man jadda wajada” (siapa yang bersungguh- sungguh, akan berhasil). Mantra berbahasa Arab ini sepertinya akan sering dibaca. Lirih, diam-diam, dirapal dalam hati, atau bahkan diteriakkan dengan kencang oleh jutaan orang yang masih memiliki harapan dan impian untuk berubah menjadi lebih baik, bagi dirinya pun bagi masyarakat.

Tren ini rasanya tidaklah mustahil terjadi. Sejak resmi diluncurkan Agustus lalu di sejumlah toko buku terkemuka di Tanah Air, Negeri 5 Menara (N5M) disajikan sebagai santapan sahur dan berbuka selama Ramadhan. Tampak, man jadda wajada sudah menunjukkan sihirnya. Mantra ini ditulis sebagai ID status di YM, Facebook, atau menjadi kutipan dalam blog oleh siapa saja. Mulai dari anak muda hingga orang dewasa. Baik mereka yang paham bahasa Arab dan sudah mengenal mantra itu sebelumnya ataupun yang baru mendapatkan setelah membaca buku karya A Fuadi ini.

Cerita yang diangkat N5M sebenarnya sederhana dan jamak ditemui. Kisah seorang anak (Alif) yang harus merantau dari tanah Minangkabau ke Jawa (Ponorogo) untuk meneruskan sekolah di Pondok Madani (PM). Di PM, ia berkawan karib dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Keenamnya kemudian dijuluki sahibul menara (orang yang memiliki menara) karena kebiasaan mereka yang sering berkumpul di bawah menara masjid sembari menunggu azan magrib. Saat berkumpul itulah setiap anak berbagi mimpi dan harapan.

Lanjutan kisah N5M bisa ditebak. Sahibul menara akhirnya dapat mencapai impian mereka. Baso yang tidak menyelesaikan sekolah di PM karena harus merawat neneknya yang sakit, bisa kuliah di Mekkah dengan bekal hafalan seluruh isi Al Quran. Atang menjadi mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Raja menetap di London setelah sebelumnya menyelesaikan kuliah hukum Islam di Madinah. Sedangkan Alif, yang merupakan representasi sang penulis, berkesempatan melanjutkan studi di Washington DC. Bagaimana dengan Said dan Dulmajid? Dua sahibul menara itu juga mendapatkan impiannya: pulang ke kampung halaman dan memajukan pendidikan di sana.

Motivasi

Bukan hasil akhir para tokohnya yang membuat N5M menarik dibaca dan menjadi santapan nikmat penyejuk jiwa. Proses, perjuangan, dan ikhtiar mewujudkan impian yang terasa mustahil saat dibayangkan menjadi motivasi bagi siapa pun yang membacanya. Apalagi, selain mantra man jadda wajada, pembaca juga disuguhi kutipan-kutipan penuh motivasi di setiap babnya.

Misalnya, Ustaz Salman sebagai wali kelas membakar semangat anak didiknya agar tetap konsisten dalam belajar (hal 108) mengatakan, ”Pilihlah suasana hati kalian dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses.”

Atau, saat Said, sahibul menara yang paling tua, memotivasi teman-temannya (hal 383). ”Saajtahidu fauqa mustawal al-akhar, aku akan berjuang di atas rata-rata yang dilakukan orang lain. Yang membedakan orang sukses dan tidak adalah usaha. Perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia hanya 0,00 detik. Jarak juara renang dengan saingannya mungkin hanya satu ruas jari. Jadi, untuk menjadi juara dan sukses, kita hanya butuh usaha sedikit lebih baik dari orang kebanyakan”.

Latar belakang cerita, yaitu pondok, juga menjadikan novel ini istimewa. Puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu alumnus pesantren serasa diajak bernostalgia dengan semua aktivitas mereka selama 24 jam dan tujuh hari seminggu dalam suasana kebersamaan yang pernah mereka rasakan dulu. Bila belum mengenal pondok dan hanya mendengar melalui pemberitaan, melalui mata Alif dalam gaya tulisan Fuadi yang detail, pembaca diajak mengetahui kehidupan di dalamnya yang sangat dinamis.

Alih-alih mengenakan sarung seharian, santri PM diajari berpakaian penuh gaya. Sepatu mengilat dan kemeja berdasi yang disempurnakan dengan jas, dikenakan saat berpidato pada kegiatan muhadharah tiga kali seminggu dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Kemampuan verbal mereka dan keberanian berbicara di depan publik diuji dalam sesi ini.

Pendidikan

Pola pendidikan di PM dan semua aktivitas yang wajib diikuti seluruh santri sangat mendukung perkembangan kognitif, afektif, sekaligus motorik. Kognitif mereka tak hanya diasah saat proses belajar-mengajar dalam kelas, tapi juga ketika jam wajib belajar malam serta melalui klub-klub ekstrakurikuler.

Psikomotorik mereka dilatih melalui kewajiban mengikuti kegiatan pramuka dan klub olahraga. Perhelatan Liga Madani, sepak bola antar-asrama, yang selalu ditunggu menunjukkan betapa olahraga sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi para santri. Bahkan, sang kiai pun tak canggung berganti pakaian dengan kostum sepak bola dan menyepak si bulat bundar itu ke gawang. Lalu, afektif? Secara otomatis terasah ketika setiap santri harus berinteraksi dengan ribuan teman yang datang dari berbagai daerah berbeda di Tanah Air. Berinteraksi dan bersosialisasi dengan mereka, 24 jam sehari.

Jadi, ketika saat ini perguruan tinggi beramai-ramai menunjukkan dan mempromosikan program soft skills yang diberikan untuk menarik minat mahasiswa, PM sudah memberikannya secara berkesinambungan selama empat hingga enam tahun untuk setiap santri. Kepemimpinan mereka dilatih melalui kegiatan organisasi, mulai dari yang terkecil di lingkup kelas, kamar, klub, hingga organisasi di asrama dan pusat. Kesenian digembleng dan ditunjukkan melalui pergelaran seni akbar untuk kelas lima dan enam. Sebuah proses pembelajaran yang menggabungkan kinerja otak kiri dan kanan, menyelaraskan antara intelligence quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ).

Tanggung jawab ustaz (guru) berkelanjutan, tak hanya mengajar di kelas, tetapi juga siap ditanyai apa pun di luar jam pelajaran. Bahkan menyediakan waktu khusus menjelang ujian membantu para santri saat belajar. Metode ini bisa menjadi referensi bagi para guru dalam mendidik siswa-siswinya bahwa menjadi pendidik tak otomatis berhenti ketika bel pulang sekolah dipukul dan ruang kelas ditutup.

Membicarakan novel fiksi yang ditulis berdasarkan kisah nyata dan yang rencananya akan dibuat trilogi ini memang tak ada habisnya. Bisa ditinjau dari berbagai aspek, seperti hubungan orangtua-anak, pendidikan, spiritual, olahraga, psikologi, seni, jurnalistik, motivasi, dan banyak lagi.

Yang pasti, novel yang bisa membawa pembacanya menangis terharu dan tertawa terbahak karena humor-humor ala pondok yang khas ini, mengajak Anda berani bermimpi dan memperjuangkannya. Jangan pernah meremehkan mimpi, walau setinggi apa pun. Karena, sungguh Tuhan Maha Mendengar (hal 405). Selamat bermimpi dan man jadda wajada.

* Dewi Yuhana, Alumnus Pondok Modern Gontor Putri, Direktur Nyiru Savira Consulting & Training

Sumber: Kompas, Minggu, 1 November 2009


message 18: by Truly (new)

1731272 Ak dapet ini nih dari mils pasar buku td pagi. Opini terserah masing2 yah, cuman mau berbagi aja. Tp kalo ak sih tetap suka sama buku ini


[PasarBuku:] kisah lima menara nyontek abis laskar pelangi
...
Sen, 2 November, 2009 22:01:42
Dari:
rustam mahani <rustammahani@yahoo.com>
Kepada: pasarbuku@yahoogroups.com


Salam,

saya menulis ini karena menyayangkan potensi penulis Fuadi. Saya yakin dia bisa menulis tanpa harus menyontek gaya, struktur cerita, bahkan tema seperti laskar pelangi karya andrea hirata. Sebagai wartawan senior harusnya fuadi bisa menemukan jati diri sendiri dan tinggal menampilkan skill menulis yang sudah terasah dan berpengalaman selama bertahun-tahun.

Fuadi dengan jelas telah menganalisis laskar pelangi secara mendalam dan dengan cerdik menyontek cara-cara andrea hirata membangun cerita dan menyusun drama, sangat disayangkan.

Dan seperti kebanyakan karya yang menyontek, tulisan fuadi pada negeri lima menara itu rasanya indah ketika di depan lalu mulai di tengah sudah hancur dan ke belakang gak karu-karuan, sangat dangkal dan semakin tidak menarik karena mulai kehilangan gaya andreanya. Ini yang saya maksud dengan disayangkan, karena anda telah kehilangan anda sendiri.

Contekan yang paling kasar adalah gambaran persahabatan dan tujuan akhir beasiswa sesama sahabat itu dan gaya bertutur. Aduh anda menyontek laskar pelangi sekaligus sang pemimpi dan edensor karya andrea.

Namun sebaiknya anda belajar bagaimana tulisan andrea bisa tetap powerful sampai akhir dan mulai di tengah semakin lama semakin powerful, semakin mengikat dan memukau. anda bisa belajar dari bagaimana andrea menggambarkan ketika arai mendapat surat pemberitahuan beasiswa di akhir sang pemimpi. Membaca paragraf terakhir itu berkali-kali tetap membuat saya merinding dan tak bisa membendung air mata. Arti semua itu adalah sehebat apapun anda menyontek, menganalisis tulisan orang dan dan sehebat apapun anda mencoba menirunya anda tetap akan kehilanagn diri anda sendiri dan jiwa tulisan seperti andrea itu tidak akan pernah dapat anda pindahkan.

Saya berjanji akan membaca lagi tulisan anda jika anda tidak mencoba menyoktek-nyoktek tulisan orang, dan sangat sedih jika anda melakukan itu agar buku anda laku.

salam

R Mahani .


message 19: by Truly (new)

1731272 Aku cuman copypaste, enggak ada yang aku edit. Jadi apa adanya...


message 20: by Amang, Moderator 2010 (last edited Nov 03, 2009 06:29AM) (new)

348055 Menarik, tapi pendapatmu sendiri gimana mbak? Nyontek kah?


message 21: by Nurul (new)

426137 kalo buatku sih buku ini ttp inspiratif dgn gaya yg lain dgn Laskar Pelangi.

Btw, saya dah kontak penulisnya lwt FB dan kayanya sudah tergabung juga dgn GRI. Mas Ahmad ini kepingin bikin thread diskusi, tapi kayanya kesulitan. Sudah coba kasih petunjuk sih, tapi kayanya blm bisa tuh. Barangkali Amang bisa bantu dia


message 22: by Truly (new)

1731272 kalau buat ak sih enggak. Soalnya justru pas kebelakang (katanya enggak karu-karuan) ak makin suka. Aku ketawa tanpa malu-malu di busway ( yang lihat yang malu kali yah...)Justru yang di depan (yang katanya indah) membosankan buatku. Ak baca dengan perasaan malas sambil ngedumel " apa serunya buku ini...."

Mungkin gaya penulisan mereka ada kemiripan, lalu ada yang menyatakan Fuadi menyontek. Kalau tema yang mirip dijadikan alasan menuduh seseorang menyontek, bisa-bisa kreatifits para penulis mandek!
Mungkin ada yang berniat bikin cerita tentang seoarang pemuda yang cinta alam, nanti dikira meniru Mas Gola Gong. Mau bikin cerita tentang sekolah berasrama khusus perempuan, dianggap nyontek Enid Blyton (Malory Towers). Padahal mungkin yang sama hanya latar belakangnya saja, tp kejadiannya atau ceritanya kan bisa beda.

Sejujurnya aku jadi rada takut baca opini beliau! Soalnya aku dan beberapa temen didaulat untuk bikin tulisan tentang kelakuan kita (yang imut2) dalam bentuk buku, yang dibagikan sebgai souvenir saat reuni SMP. Ntar dikirain nyontek lupus yang isinya tentang remaja SMU. Padahal bukan mau nyontek, hanya sayang jika cerita-cerita lucu yang terjadi tidak dibagi. Kita dipilih bukan karena penulis, hanya kebetulan dianggap lebih pintar berkata-kata.Kalau ada gaya bahasa atau apalah yang mirip-mirip pengarang X atau W, itu karena kami suka membaca karangan mereka hingga tanpa sadar terpengaruh dengan gaya bercerita, walau pastinya ada gaya kami sendiri.

Buat aku, si mas boleh berpendapat apa saja, asal bisa dipertanggungjawabkan. Ak, tetap dengan pendirianku, BUKU INI ASYIK!

Sempet berpikir yang aneh2, tp biarlah buku ini teruji oleh para pembaca.


message 23: by Prince Manoharun, Moderator 2010 (new)

2109023 Kalaupun fuadi mencontek, mudah2an fuadi tidak mencontek maryamah karpov

*peace ah*


message 24: by Truly (new)

1731272 Why Prince Manoharun tersayang....? Aneh, heboh, atau apa? Mbok yah jangan nanggung kalo komen... jadi menebak-nebak nih!


message 25: by Wirotomo, Moderator 2010 (new)

697401 Tuduhan yg aneh (dari Rustam Mahani), karena menurut saya justru Laskar Pelangi lah yg memburuk di akhir cerita (bahkan walau masih di buku pertama ya). Sedang buku ke-4 Maryamah Karpov (MK), katanya banyak orang malah disaster ya ... cerita yg lebay. Jadi memang bener si Harun sih, paling nggak Pak Fuadi ini nggak mencontek MK, karena pas aku mbaca sekilas, Negeri 5 Menara ini oke kok... :-)

Rustam Mahani ini siapa sih? jangan2 Andrea Hirata sendiri hahaha.... :-)


message 26: by agie (new)

2887064 N5M bagus ah. sejujurnya aku lebih suka ini daripada tetralogi LP. Bahasanya lebih simpel dan ceritanya ga lebay.


message 27: by Indira (last edited Nov 03, 2009 04:31PM) (new)

1614557 Emang diakui awal Laskar Pelangi hadir cukup memukau para pembacanya. Tapi selanjutnya OMG koq saya jadi klop sama statementnya Mas Tomo di atas. MK terlalu lebay, dan judulnya bagiku gak connect sama isi bukunya. Isi buku MK gak jelas apa yg dibahas.... Bagiku MK itu seperti buku harian anak kecil, segala macam masalah masuk dan ditulis dibuku itu. Huh..... inget MK daku jadi Bete karena tidak sesuai dengan harapan, malah harganya mahal pula !!!

Denger2 Andrea mau buat seri ke 5 dari Laskar Pelangi. Katanya di seri terakhir ini akan menjawab semua pertanyaan pembacanya dari seri MK... ow...ow...owwww... apakah ini semacam permintaan maaf Andrea krn MK tidak seperti apa yg diharapkan pembacanya ?? Wallahu alam .. tapi klo sampe kluar klanjutannya MK kayaknya aku gak akan beli. Kapokkk dweeeehhhh !!!

Klo negeri ke 5 memang aku belum baca, meski udah punya bukunya..tp sejauh ini temen2ku yang sudah baca dan beberapa ulasan ttg buku ini aku tidak melihat adanya kemiripan dengan MK.

So apa bedanya MK, negeri ke 5 dan Negeri Van Java?? Semuanya tetap mengambil setting persahabatan 5 orang manusia yang sama2 berjuang untuk meraih cita2nya....


message 28: by Prince Manoharun, Moderator 2010 (new)

2109023 @indi: Negeri van oranje kali maksudmu,kak.

y udahlah,kenapa kita jadi bahas andrea dan MK nya itu sih, gw sih biar ajalah orang mo ngomong apa. Anjing menggonggong, gw berlari.

*baca 5menara dulu deh, maap giganto, kau kutinggalkan dulu*


message 29: by Truly (new)

1731272 Wirotomo wrote: "Tuduhan yg aneh (dari Rustam Mahani), karena menurut saya justru Laskar Pelangi lah yg memburuk di akhir cerita (bahkan walau masih di buku pertama ya). Sedang buku ke-4 Maryamah Karpov (MK), katan..."

Aduh Mas aku sempet berburuk sangka
Buat menaikann ranting sinetron, para pemain sering diminta berbuat sensasi seperti terlihat akrab di luar lokasi, biar dikira ada hubungan spesial.

jangan2 novel ini juga sengaja dikritik biar pada heboh lalu naik deh peminatnya=jumlah penjualan bertambah. Cuman ak jd ingat, kalau novel ini sudah cetak ulang dalam waktu yang relatif cepat. Jadi kayaknya enggak butuh sensasi seperti itu.

Kayaknya ok tuh usul Mbak Nurul buat thread diskusi.


message 30: by Amang, Moderator 2010 (new)

348055 Tanpa terasa, kita baru saja mulai diskusi buku ini bukan? Mbak Nurul, silakan undang Rustam untuk ikutan di sini...

* siap2 gelar perkara macam MK *


message 31: by Truly (new)

1731272 Hi hi hi serasa jadi provokator nih


message 32: by Vera (new)

1007892 *siap2 dengerin rekaman telepon hasil sadapan, eh siarannya amang*


message 33: by Nurul (new)

426137 wah, bukan Rustamnya yg aku udah kontak, tapi Ahmad Fuadinya. Kalo Rustam sih blm kenal


message 34: by Amang, Moderator 2010 (last edited Nov 03, 2009 11:20PM) (new)

348055 O penulisnya to. Coba penulisnya diundang ke sini baik-baik untuk kasih tanggapan. Ini sidang pembaca sedang menunggu tanggapan dari penulisnya.

Diskusinya kita lanjutken, sudara-sudara?


message 35: by Prince Manoharun, Moderator 2010 (new)

2109023 LANJUTKAN!!!!!!


message 36: by Indira (new)

1614557 OK LANJUTKANN!!!!... *gelar tiker + bawa bantal + kopi*


message 37: by Nurul (new)

426137 Sudah diundang, mudah2an cepet ditanggapi


message 38: by Ahmad (new)

2086390 Salam buat teman-teman GR semua. Sebelumnya mohon maaf, saya sedang traveling ke Afrika dan Eropa selama sebulan ke depan, jadi gak selalu bisa cek internet. Maaf sekali lagi kalau nanti saya lama menanggapi pertanyaan lain.
Saya sangat berterima kasih untuk semua komentar tentang N5M. Pujian apalagi kritik, semuanya berguna buat orang yang baru belajar bikin novel seperti saya. Semoga dengan masukan ini novel selanjutnya bisa lebih baik. Sekarang sekuel sedang saya tulis. Per minggu lalu, sudah sekitar 20-an halaman.
Sebetulnya, niat menuangkan pengalaman belajar yang sangat inspiratif di Gontor sdh ada sejak saya lulus Gontor tahun 1992. Tapi selalu ada excuse sampai kemudian merasa punya waktu tahun silam.
Awalnya saya bingung bagaimana menuliskan cerita tentang murid yg tinggal 24 jam di pesantren (dormitory system) Apa genre yang sudah ada? Setelah saya riset, ternyata di barat ada yg menyebut genre “school story”. Isinya cerita tentang dinamika murid dan guru di sebuah dorm atau asrama, persahabatan yang kuat, kehormatan, loyalitas, sport, disiplin dan kenakalan murid. Uniknya kebanyakan buku genre ini ditulis pada abad ke 19 dengan latar belakang boarding school di UK. Misalnya Tom Brown’s Schooldays (Thomas Hughes) dan buku-buku Louisa may Alcott spt little men dll. Yang lebih baru ada buku Enid Blyton spt Malory Towers. Untuk mengerti genre ini saya memesan buku-buku ini di amazon. Ternyata tidak gampang mencari buku ini krn ada yg sdh tidak dicetak dan harus dicari sebagai used books. Selain buku-buku itu, saya juga membeli buku yang masih ada kaitannya dengan cerita masa kanak-kanak spt tom sawyer, lima sekawan, harry potter, kite runner dan laskar pelangi. Singkatnya, sebelum dan selama menulis N5M, di meja saya ada berbagai novel di atas sebagai referensi genre. Kalau tertarik, bisa cek juga di http://en.wikipedia.org/wiki/School_stor...
Sedangkan sebagai referensi isi cerita, di meja tulis saya bertumpuk diari yang saya tulis sejak SD, foto-foto waktu masa kecil di maninjau dan masa sekolah di gontor, buku-buku catatan dari sejak kelas 1 di gontor. Semua document penting ini dengan luar biasa mengembalikan semua kenangan dan ingatan masa lalu, sehingga proses menulis menjadi sangat mudah dan deras. Hampir tidak ada writer’s block, semuanya mengalir. Kalau bingung menulis apa, tinggal buka diari, buku pelajaran lama, atau lirik foto zaman dulu. Alhamdulillah, kapan saya mau menulis, hampir selalu bisa. Tidak perlu menunggu mood datang.
Nah waktu naskah separo jalan, saya pulang ke padang menjenguk amak saya. Surprise! Amak menunjukkan setumpuk tebal surat. Diurut berdasarkan tanggal dengan sangat rapi, bahkan dinomerin! Itulah semua surat2 saya sejak tahun pertama sampai tamat di gontor. Ini menambah sumber penting buat kandungan N5M. surat masa lalu.
Kebetulan pula, tokoh inspirator sahibul menara bertemu dengan sengaja dan tidak sengaja di jakarta. Semua terasa telah diatur Tuhan, stars aligned, saya punya semua bahan, punya tokoh inspirator karakter, punya memori yg indah tentang gontor, dan penulisan berjalan lancar. Kalau butuh waktu 14 bulan, itu karena saya ngantor dari pagi sampai sore, baru lah malam atau subuh menyiapkan waktu 1-2 jam mengangsur menulis.
Saya kira wajar aja kalau ada yang membandingkan. Saya sendiri suka membaca LP. Menurut saya spirit N5M mungkin mirip dengan LP. Ini cerita anak daerah yang hanya bermodalkan inspirasi, mimpi, kerja keras dan doa untuk maju. Dan Tuhan sungguh Maha Mendengar. Kami bahkan bisa kuliah ke negeri barat. Saya berumur 37 tahun, mungkin dekat-dekat dengan umur Bang Andrea. Mungkin setting historis dan suasana masa kami beranjak besar juga ada yang mirip sehingga terlihat di buku.
Tapi yang jelas, ide cerita ini terinspirasi pengalaman nyata pribadi saya dengan teman-teman. Setting juga sangat unik, yaitu area pesantren seluas 15 hektar di jawa timur. Dan latar budaya adalah minangkabau.
Yang lebih penting lagi, misi saya menulis untuk berbagi pengalaman sekolah di pesantren yg sangat inspiratif. Kalau saya terinspirasi, mungkin orang lain juga bisa mendapat manfaatnya. Jadi saya menulis bukan untuk sama/menyamai orang lain, juga bukan untuk berbeda dengan orang lain. Yang saya lakukan adalah menulis cerita saya sendiri, writing my own story.
Jika orang lain terinspirasi, saya akan sangat bersyukur dan semoga menjadi ibadah jariyah saya. Bila berhasil secara komersil, saya juga bersyukur karena saya ingin menyalurkan sebagian hasilnya untuk membuat “Yayasan Komunitas Menara”, organisasi social berbasis volunteerism untuk membantu orang tidak mampu khususnya di bidang pendidikan. Semoga niat saya ini dimudahkan Allah.
Nah, apa tulisan ini menjawab beberapa pertanyaan yang ada di pikiran teman-teman? Saya tidak tahu, tapi semoga bisa membawa kebaikan buat kita semua. Man jadda wajada!
Nb: oya, terima kasih untuk semua teman yang membeli juga, karena dalam 3 bulan terbit, telah cetak 3 kali dengan total copy sebanyak 50 ribu. Alhamdulillah.




message 39: by Prince Manoharun, Moderator 2010 (new)

2109023 Selamat bergabung uda Ahmad.
Terima kasih atas tanggapannya, postingan anda tidak hanya menjawab pertanyaan kami tapi juga membuat saya langsung ingin membaca 5menara *pegang bukunya n membaca*

Salam Kenal


message 40: by Indira (new)

1614557 Hohoho... salam kenal Uda Ahmad... dan slamat bergabung


message 41: by Indri (new)

1610985 kemaren2 sih saya blm tertarik, msh trauma baca soal pesantren gara2 bc bukunya Abidah el Khaleqi, Geni Jora dan nt Perempuan berkalung Sorban.., jadi males gt karena ceritanya ato gaya penulisannya ya?

karena Harun kekeuh pengen baca, jadinya saya koq kepingin juga..
LP dan NVO jg saya baca tuh..


message 42: by Ditta (new)

1470392 bagus kok mba,,beda genre dengan buku2nya Abidah


message 43: by Nurul (new)

426137 Ayo Indri, baca deh. Saya tertarik karena baca resensi di awal thread ini, dan ternyata mampu membuat saya occupied. Ide sistem pendidikan yg tdk hanya bhs arab, ttp juga inggris juga sgt menarik


message 44: by Amang, Moderator 2010 (new)

348055 Wah, gak percuma gelar perkara macam MK. hehehe.
Ada tanggapan/sanggahan lain? monggo...


message 45: by Friska (new)

2747453 Berat bgt tread ini..
*ngeloyor pergi*


message 46: by Nanny (new)

1591889 baru dapet nih bukunya, siap2 baca...


back to top


unread topics | mark unread