Goodreads Indonesia discussion

301 views
Klub Buku GRI > Baca Bareng Buku Puisi "Nikah Ilalang" oleh Dorothea Rosa Herliany

Comments (showing 1-50 of 182) (182 new)    post a comment »

gieb | 743 comments Setelah membaca diksi dari para penyair laki-laki, tiba saatnya membaca diksi dari penyair perempuan. Dan pilihan jatuh ke Dorothea Rosa Herliany. Buku yang akan kita baca bareng berjudul 'Nikah Ilalang'. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1995 dan diperbarui dengan tampilan yang beda pada tahun 2001.

Dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, tanggal 20 Oktober 1963. Sejak kecil Rosa (panggilan akrabnya) suka membaca, meski ia bukan berasal dari keluarga berada yang mampu membeli buku. Ayahnya, A. Wim Sugito, ayahnya, seorang pegawai negeri sipil di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang. Ibunya, A. Louisye, seorang ibu rumah tangga. Kebiasaan membaca itu timbul karena ia sering main ke rumah tetangganya yang mempunyai banyak buku dan majalah.

“Dari sering membaca kemudian muncullah kemampuan untuk membuat cerita atau puisi,” ujar Rosa. Tulisan pertamanya yang berbentuk opini, dimuat di majalah Hai, ketika ia masih SMP. “Sejak saat itu semangat saya untuk menulis terus menggebu,” kenangnya. Bahkan cita-citanya menjadi psikolog ia tinggalkan.

Tamat dari SMA Stella Duce, Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (Universitas Sanata Dharma). Sewaktu kuliah keinginannya untuk menjadi penulis semakin mantap, apalagi di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, tempat Rosa kuliah, sering dilangsungkan berbagai lomba penulisan, latihan mengarang atau melakukan jenis kegiatan yang bersifat pengemukaan ekspresi. Hal ini membuat Rosa semakin terpacu menulis di media, puisi-puisinya muncul di harian Sinar Harapan dan Suara Pembaruan. “Waktu itu senangnya bukan main, karena itu bagi saya hal yang luar biasa,” tutur pengagum penyair dan penulis Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, dan Arswendo Atmowiloto ini.

Bagi yang mempunyai informasi seputar penyair ini, bisa langsung ikutan sharing di forum ini. Yang punya bukunya juga boleh membantu mengetik.

Selamat menafsir!


gieb | 743 comments /1/ Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh

Nikah Pisau

aku sampai entah di mana. berputarputar
dalam labirin. perjalanan terpanjang
tanpapeta. dan inilah warna gelap paling
sempurna. kuraba gang di antara sungai
dan jurang.

ada jerit, serupa nyanyi. mungkin dari
mulutku sendiri. kudengar erangan, serupa
senandung, mungkin dari mulutku sendiri.

tapi inilah daratan dengan keasingan paling
sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulatulat,
kuabaikan. sampai kurampungkan kenikmatan
sanggama. sebelum merampungkanmu juga
: menikam jantung dan merobek zakarmu,
dalam segala ngilu.

1992


gieb | 743 comments Nikah Ilalang

engkau nikahi ilalang. berumah di negeri
semaksemak. diamlah dalam kemerisik angin
yang mengecoh cakrawala.

tapi orangorang lalu melayat padamu. terasa
kelam perkawinan dan pesta syahwat. engkau
butuhkan bungabunga ditaburkan. doadoa
penghabisan, dan ziarah bertubitubi.

engkau nikahi ilalang. luas kebun luas bumi
luas langit luas jagat batinmu. engkau
nikahi kesunyian yang ditinggalkan abadabad
nanti. berkumur cabikan tanah kering dan
pestisida. berkumur jagat hewankecil yang
mencari rumahrumah dalam tangis dan sekarat.

1992


gieb | 743 comments Nikah Sungai

engkaubawakan aku bungabunga. di sini pasir,
semak dan lumut melulu. kadang bauan busuk
dan bahkan bangkaibangkai. kepiting tak
menyisih menyambutku.

di mana ruang yang kausediakan buatku?
buat percintaan mahadahsyat. buat pertempuran
takusaiusai. nafsu yang senantiasa membuahkan
kebencian dan bencana.

aku rebah di tanah basah. mengandung
racun dan beranak peradaban kering nurani.

1992


message 5: by e.c.h.a, Moderator GRI 2014 (new)

e.c.h.a (rezecha) | 1983 comments Mod
Ikut baca bareng, baca 3 puisi di atas jadi pengen lanjut *langsung duduk sebelah mas amang sambil makan kacang rebus*


Pandasurya | 1363 comments wah dari dulu pengen punya bukunya euy..belom dapet2..
sayah cuma punya buku puisinya yg "Mimpi Gugur Daun Zaitun" dan "Dolly"
puisi2 Dorothea emang bagus2..salah satu penyair paporitlah..:-)



gieb | 743 comments Nikah Perkampungan

dengan sadar, aku kawini rumahrumah kardus.
tanpa cincin kawin, selain kemiskinan dan
ilmudaurulang. tanpa perjamuan, selain wabah
dan ilmutatakota. tanpa nyanyian pengiring,
selain ketergusuran hewanhewan jelata.

dengan sadar, aku nikahi dunia yang gelisah.
sambil kuganti doa jadi harapan. kuganti
janji jadi ratapan.

kunikahi jaman yang sekarat minta susu.
pengantin yang takpernah kunikahi, tapi
minta menetekku dengan bahasa ketakutan.

1992


gieb | 743 comments Nikah Laut

garamgaram itu kauperas dari keringat
nelayan. akupilih ikanikan dari persetubuhannya
dengan laut. sama asinnya dengan kecemasan
takusaiusai.

kita menunggu di puncak karang. dalam debur
ombak dan nafasnya. menyaksikan pertemuan langit dan laut yang terjaring jalajala.

inilah perkawinan yang sempurna!

1992


Miss Kodok (misskodok) | 203 comments Wuih... puisinya keren2. Ikutan nimbrung ah....
*numpang tikernya Amang and ngutilin kacang rebusnya Echa*
pt_ogahrugi.com


Ari Namidalem (arinamidalem) | 146 comments perlu tafsir..



message 11: by miaaa, Moderator GRI 2014 (new)

miaaa | 1904 comments Mod
waks berat nih keknya buku puisi yang ini
*datang bawa chitato sekontainer*


message 12: by gieb (last edited Sep 29, 2009 11:42PM) (new)

gieb | 743 comments sekedar tafsir:

lima puisi di atas memakai awalan judul yang sama, yaitu nikah. diksi 'nikah' lebih terasa 'feminim' dibanding kata 'kawin' yang cenderung 'maskulin'. tapi lihat apa yang ditulis dorothea tentang nikah ini. larik-larik puisi dorothea penuh dengan diksi laki-laki. ini yang membuat puisi dorothea demikian mengancam. penentangan dorothea pada konvensi-konvensi umum di masyarakat indonesia digambarkan dengan sosok perempuan yang agresif dan predator seksual. sedangkan laki-laki sebagai korban yang pasif yang tak dapat melindungi diri sendiri.

kondisi ini akan tergambar dalam puisi-puisi dorothea selanjutnya. penuh dengan imaji-imaji kelam. terutama berkaitan dengan tubuh manusia. brutal memang. tentu saja brutal untuk melawan doktrin laki-laki.

bagi dorothea, perempuan adalah kehendak. bebas menentukan apa saja yang ada di pikirannya. perempuan itu bukan sekedar makhluk 'dalam rumah'. perlawanan ini diwujudkan dorothea lewat teks maskulin yang berasal dari feminisme perempuan.

membaca puisi dorothea seperti belum menemukan klimaks. sebuah perjalanan yang tak selesai. selalu mendung. menggantung awan. untuk kemudian mengajak kita berkerenyit. memastikan bahwa kita baik-baik saja. sementara banyak hal yang terjadi di sekitar kita. klaim atas budaya patriarki, kondisi sosial politik yang entah kapan selesainya, dan lain-lain.

dorothea hendak melawan itu semua. melawan kematian perempuan dalam sejarah. dalam peradaban. dengan menjadi 'laki-laki'.


message 13: by e.c.h.a, Moderator GRI 2014 (new)

e.c.h.a (rezecha) | 1983 comments Mod
Hmmmm....mulai paham maksud puisi-puisinya. Terima kasih pencerahannya Tuhan :-)

*nyomot chitato mbak mia, melirik bunda*


Ari Namidalem (arinamidalem) | 146 comments matur nuwun tafsirnya.. :)

*chitato dicelup madu+cabe ulek enak Cha*


gieb | 743 comments Nyanyian Anak Anak Bermain

dari sumur yang sama kutimba darah dan
keringat semuaorang. kusaring kebekuan, lalu
kutiup: menjadi bulan.

cahaya menyelinap antara rindangperadaban.
masihkah kaubutuh bayangbayang?

kuikat purnama dengan lidahku, setelah letih
memeras darah dan keringat sendiri. kukembalikan
bagi langitsuwung.

tibatiba mendung. bulan kehilanganbayang.
kupanggil anakanak. biar menadah airmata
sendiri.

1992


gieb | 743 comments Lagu Asing di Sawah Sawah

dari tanah yang sama kugali sumur
yang meluberkan madu. kuhisap dan kukunyah
segalasisa akar segalapohon. kusemburkan
ke langit, menjadi kawananlebah.

sengat dan bisa berlepasan mencari tubuhku
yang bergumpalan asinairmata. tangisan
menggugurkan musim. mengusung angin dan
bautanahrindumusimtanam.

kugali sumur. tempat terakhir bagi petani
membongkar musim yang menetes darah dari
keringat sendiri.

1992


message 17: by gieb (last edited Sep 30, 2009 12:36AM) (new)

gieb | 743 comments Pledoi Ulat

mungkin mesti begini, ulatulat itu membangun
kepompongnya. melipatlipat daun: percaya takakan
direbahkan ke bumi, sebelum segala mimpi usai.

kau sendiri kadang tertawatawa. hidup yang
terlampau sederhana. seperti ulatulat itu
: melipatlipat kitab, mencaricari tuhan
di antara suara dan cahaya!

tapi ulatulat itu, abadi dalam kesederhanaan liur
yang merenda. bertapa dalam kesunyian cahaya.
menuliskan perjalanan tak teraba!

1989


erry | 266 comments puisinya keren. ikutan nimbrung ah *ikutan nimbrung di tikar po sambil nyomot chitato*


Pandasurya | 1363 comments jadi makin pengeeennn euuy..
adakah yg bisa kasi tau di mana masih bisa sayah dapatkan buku puisi ini?

*gelar tenda sambil bawa bekel nasi timbel..dan bikin api unggun..biar menghangatkan suasana..*:-p


message 20: by indri (last edited Oct 02, 2009 09:25PM) (new)

indri (indrijuwono) | 2855 comments wah kalian smua...
ada makan2 gak ngajak2 gue... gue suka Pledoi Ulat
*nyomot nasi timbel*

eh.. kenapa banyak kosakata "nyomot" disini?


gieb | 743 comments Kematian Kepompong

engkau ikut dalam arakarakan itu. menuju
rumahcinta yang tak berpintu. aku yang mengusung
dan kitagali liang buat dirisendiri. doadoa lupa
dibacakan: tibatiba terucapkan amin yang
berkepanjangan.

engkau melayat: tubuhmu sendiri, tersesat, saat
bertapa. tetapi pesta memang teramat sederhana.

kita berdua minggir ke sudutsudut, dan bercakap
entahapa. tibatiba kita bercinta. bersetubuh
dengan kekosongan, alangkah siasia. kubelit
nafasmu dengan juntaianrambut dari ludahku.
tetapi kita bercinta: melengkapkan kenikmatan
senggama. sebelum musim berziarah keburu tiba.

kita berdua minggir. sampai tepi yang paling tepi.
dan engkau tersesat saat bertapa. tibatiba. tapi,
sungguh, kita sempat bercinta: dalam temparatur yang gila!

1991




gieb | 743 comments Lagu Asing dari Desa ke Desa

di atas gerobak kuhitung mesin dan listrik
yang membagibagikan kekosongan kepada
semuaorang
malaikatmalaikat menyebarkan kebencian. sawahsawah
dan gubukgubuk tibatiba berubah gumpalan kertas.
kubakar: jadi tanahair bagi bayangbayang.

sepanjang gang orangorang berjaga. tangantangan
kurus mencabikcabik tanah bagi jantungnya sendiri.
sebuah semesta: jutaan rumah tanpapenghuni.

kubakar kesedihanku. kertaskertas mengetik
sendiri hurufhuruf melulu tanda. melulu segala
tandabaca. kubakar kesunyian ruhaniku.

di gerbanggerbang desa kuhitung bayangbayang
yang terpatahpatah. kusihir: menjadi jarijari
yang selalu ingin menuliskan ribuan kalimat
tak terbaca.

1992


message 23: by gieb (last edited Oct 06, 2009 05:56AM) (new)

gieb | 743 comments Metamorfose Kekosongan

seperti inilah, aku letakkan ranjang dalam dadamu.
kujadikan ronggarongga sempit itu kamarcintaku.
suatu hari nanti, akan berjejal lagulagu dan tangisan.
rintihan kecil dan jeritan tibatiba. dan kaukirim aku
ke tanahasing: dengan dentum dan suaraangin dari
nafasmu.

seperti inilah, aku letakkan tempat sampah dalam
otakmu. kujadikan gumpalan zat itu suduttakberguna.
suatu hari nanti, akan berjejal entahapa. telah sesak
ruang sempit itu oleh rencanarencana dan bencana.

tadi, kita telah berkhianat dengan cinta. kau ledakkan
aku dengan zakarmu. kuletakkan ulatulat di sana.
sampai
saatnya nanti, siap memangkas daunhatimu.

seperti inilah kita: merenda kemungkinankemungkinan.
suatu hari nanti -dalam otakmu, dalam dadamu,
dalam perutmu- kutanami bangkaibangkaiulat. suatu
hari nanti, akan kaupanen kupukupu.

1993


gieb | 743 comments Tidur Berdiri di Sebuah Plaza

bunga yang kutanam dalam tidurku, tumbuh
dalam potpot yang takjadi kulukis, daundaunan
mengembang. halaman semaksemak telah berubah
taman. rumahku dalam etalase.

berpasangmata mengancamku! kemudian seseorang
mengguyurkan hujan dari sebotol vodka. mabukmu
mendidih. mengucapkan katakata sampah, dan
berubah peradaban!

1993


message 25: by gieb (last edited Oct 07, 2009 05:06AM) (new)

gieb | 743 comments Stasiun Tak Bernama

akhirnya kita akan bertemu di garis yang sama.
di lengkung langit hitam dan bukitan berkabut.
di tanahtanah bergelombang, dan gurun yang
berhutankan epitafepitaf. engkau ukur
seberapa jauh yang sudah kita tempuh dengan doa
dan dosa, seperti keledai yang kecapaian, merangkak
dalam dengus dan mata terkatupkatup.
tubuh yang payah ini meneteskan keringat dan darah.
membasuh wajah letihmu. seperti matahari, mengucak
cahayanya dari mega yang usil!

kesabaran kita membeku di pintu peron. relrel
memanjang dan dingin. seperti itulah waktu yang
mengurungmu dalam lantunan lagulagusumbang.
tembang perkutut dan desis ularular melata di hatimu.
mengelupas sisiksisik dan bisa yang mengerak
di dindingdinding hati. waktu dan ruang yang
berdesakan dalam menunggu. barisbaris gerimis
di kaca dan suram cahaya menembus kesunyian
yang kita dekap.

di atas rel yang hitam itu kerandakeranda diusung
ke rumahrumah yang tak kitatuju. kubayangkan para
gembala menggiring dombadomba hitam,
pulang senja.
mereka mengurai syairsyair kesedihan dan lagulagu
kehilangan. pulang, entah ke mana.

dan di sini kita mengukur waktu, sebelum
lokomotif itu menyeretmu. gerbonggerbong
berderit dalam ngilu. lalu
mendadak kita tergagap: tibatiba menemu jalanbuntu.
kita sampai pada dindingwaktu
yang tak bosan menunggu.

1993


message 26: by e.c.h.a, Moderator GRI 2014 (new)

e.c.h.a (rezecha) | 1983 comments Mod
Berhutankan epitaf-epitaf itu artinya apa ya?


message 27: by gieb (last edited Oct 07, 2009 09:09PM) (new)

gieb | 743 comments epitaf itu tulisan yang ada di batu nisan. biasanya bisa berupa petikan satu ayat dari kitab suci atau kata-kata bijak. kira-kira begitu.


owl (buzenk) | 1635 comments suka ngiler deh kalo liat buku puisi yang bagus2...
hiks..


message 29: by e.c.h.a, Moderator GRI 2014 (new)

e.c.h.a (rezecha) | 1983 comments Mod
@ mas gieb...whoooaaa terima kasih banyak. Namabha satu kosa kata bahasa indonesia lagi deh :-)

Jujur baru tahu..kalau yang di atas batu nisan itu di namai "epitaf"




kinu triatmojo | 27 comments *salah satu buku yang dibawabawa kalau bepergian, sayang bukunya tertinggal di sekitar pasar festival*


indri (indrijuwono) | 2855 comments Epitaph tuh kayak judul album grup band mana gitu ya??


aldo zirsov (aldozirsovlibrary) | 371 comments ada album group band King Crimson berjudul Epitaph..
*dasar jadulers...*


gieb | 743 comments Misa Sepanjang Hari

setelah letih merentang perjalanan, kita sampai
di perempatan sejarah. menghitung masasilam
dan merekareka masadatang. segala yang telah
kita lakukan sebagai dosa, berhimpithimpitan
dalam album. berebut di antara mazmurmazmur dan
doa. dan kita pun belum putuskan perjalanan atau
kembali pulang.

katakata gugur jadi rintihan. percakapan berdesis
dalam isakan. keringat anyir dan darah bersatu
menawar dahagamu yang terlampau kental.
engkauimani
taubatku yang mengering di antara dengkur dan
igauan.
tubuh beku di antara altaraltar dan bangkupanjang.
di antara mazmur dan suara anggur dituangkan.
di seberang mimpi, pancuran dan sungai mati dengan
sendirinya. tibatiba kaupadamkan cahaya itu.

ruang ini gelap. aku raba dan kucaricari tongkat
si buta. kutemukan cahaya dalam fikiranku sendiri.
pejalan beriringan di antara gang dan musim yang
tersesat. kunyalakan cahaya dalam hatiku. biarlah
jika akhirnya membakar seluruh ayat dan syair yang
lupa kukemasi.

1992


gieb | 743 comments Ibadah Sepanjang Usia

kalimatkalimat yang kauucapkan
berguguran dalam sahadatku. inilah
kidung yang digumamkan!

berapa putaran dalam sembahyang langit.
tengadah di bawah hujan yang menaburkan
ayatayat tak pernah dibaca.

aku tak menemu akhir sembahyangku
yang gagap. lilinlilin tak menyala
dalam ruangan tanpa cahaya. gema mazmur
yang disenandungkan dari ruang mimpimu
beterbangan dalam tidurgelisahku. dan
kotbah yang sayup, bertebaran dari
mulutmulut kesunyian.

telah kautabuh loncengmu? sembahyangku
takjuga menemu akhir.

1992


gieb | 743 comments Para Pengembara

kutempuh perjalanan dalam lagulagu dan
notasi-notasi bungkam: dalam kegagapan. setelah
lelah kita berdesakdesakan. berderetderet menunggu
di depan loket. begitu setia menunggu.

kau tak henti mengurai senandung kecemasan. dalam
gerit pintu yang tak terkunci. sampai jam dan
dindingdinding mengetukkan panggilan. kita masih
menghitung beban dan panjang igauan.

1992


indri (indrijuwono) | 2855 comments aku baca beberapa karya Dorothea ini di Selendang Pelangi milikku. justru karena aku mungkin belum mengendap maknanya tapi aku perhatikan Dorothea ini sering sekali memakai kata ulang tanpa tanda hubung '-'.

hal ini yang malah terbentuk di kepalaku ketika membaca karyakarya Dorothea.. tapi dari yang dituliskan gieb, aku suka yang 'Nikah' macammacam itu..

*sambil mbuka kue coklat sisa lebaran..*


gieb | 743 comments dorothea seperti ingin membentuk kata baru dengan pengulangan yang tak lazim ini. tentu saja merepotkan bagi yang tak terbiasa membaca bentukan seperti itu. [apalagi yang mengetik puisinya. hehe:].

atau bisa jadi, dorothea memang sengaja menghindari bentuk pragmatisme puisi. ia dengan sadar menambah 'kerumitan' dari puisinya sendiri yang cenderung tidak sederhana.

lingkungan teks cenderung dikacaukan lewat pemotongan sintaksis ke baris bukan bagian dari barisnya sendiri, contoh: tidurgelisahku, melalui tipografi yang terpotong-potong.


indri (indrijuwono) | 2855 comments oh iya selain dari kata berulang itu juga ada kata yang digabungkan : masasilam, masadatang, bangkupanjang, tidurgelisahku, seolah dia memang tidak berniat untuk memisahkan kedua kata itu karena melihat jiwa yang dibangun dari penyatuan keduanya, kata kedua menjelaskan kekhususan kata pertama, dan digabung.

kutempuh perjalanan dalam lagulagu dan
notasi-notasi bungkam: dalam kegagapan. setelah
lelah kita berdesakdesakan. berderetderet menunggu
di depan loket. begitu setia menunggu.


nah yang 'notasi-notasi' itu bener begitu??


gieb | 743 comments benar.


message 40: by e.c.h.a, Moderator GRI 2014 (new)

e.c.h.a (rezecha) | 1983 comments Mod
Aku ngeliat penggabungan kata-kata tanpa tanda "-" unik. Awal memang ribet bacanya, lamalama jadi suka dengan caranya. Jadi seperti menemukan kosakata baru :-)


message 41: by gieb (last edited Oct 08, 2009 01:02PM) (new)

gieb | 743 comments Dorothea Rosa Herliany: Puisi Itu Pukulan Bersarung Tinju Beludru

Jawa Tengah wajib bangga memiliki penyair Dorothea Rosa Herliany yang mengagumkan. Sebab, selain buku puisinya, Santa Rosa, memenangi Khatulistiwa Literary Award 2005-2006, jauh sebelumnya kumpulan puisinya yang lain, Kill the Radio, masuk sebagai lima besar penghargaan paling bergengsi dalam dunia kesusastraan di Indonesia pada 2001. Setelah itu, Pusat Bahasa juga memilih dia sebagai pengarang terbaik 2003. Setelah itu, pada akhir 2004, Dorothea menerima “anugerah seni” dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Apa makna penghargaan-penghargaan itu bagi perempuan yang pada 1995 pernah mendapatkan Anugerah Seni dari PWI Jawa Tengah ini?

Berikut petikan perbincangan Suara Merdeka dengan Dorothea Rosa Herliany di Magelang tidak lama setelah ia menerima Khatulistiwa Literary Award 2005-2006.

Apa makna Khatulistiwa Literary Award bagi dunia gagasan Anda?

Ini adalah semacam pengakuan dari banyak orang terhadap puisi-puisi saya. Ini berarti puisi-puisi saya dinikmati dan dipahami oleh banyak orang. Tentu sangat menggembirakan karena selama ini puisi dianggap terpencil, jauh, dan berada di awang-awang. Ya, dengan penghargaan ini, saya telah bisa membuktikan betapa puisi sebenarnya adalah sesuatu yang sangat dekat dan peduli pada masyarakat dan kehidupan. Puisi, jika saja mereka tahu, sesungguhnya hal yang pasti membicarakan sesuatu yang ada di masyarakat.

Apa sesungguhnya gagasan-gagasan saya? Barangkali memang sesuatu yang sangat abstrak. Ya, saya memang selalu tergugah atau gelisah oleh hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah kemanusiaan. Karena itu, yang saya tulis adalah kesedihan saya melihat betapa dari waktu ke waktu masyarakat lebih tidak memedulikan dunia ruh, dunia yang lebih dalam pada kehidupan. Manusia hanya mengejar sesuatu yang fisikal, permukaan, kulit, atau gemebyar di luar. Kita tidak lagi ngopeni sesuatu yang lebih berada “di dalam”. Perjuangan manusia untuk menjadi manusia yang lebih baik kemudian tidak dipedulikan lagi. Hal-hal yang bersifat keduniawian memang diperlukan, tetapi jika ia sudah menjadi tujuan, manusia akan hidup dalam dunia yang sangat menyedihkan. Jadi, sekali lagi penghargaan ini kian membuktikan gagasan-gagasan saya tentang hidup yang lebih baik dibaca orang.

Tentu tidak. Kemenangan saya ini juga kemenangan “dunia tafsir”. Setiap kali menulis puisi saya senantiasa menafsirkan nilai-nilai dalam masyarakat dengan cara baru. Saya selalu bertanya, “Apakah nilai ini sudah benar?” Saya juga bertanya, “Apakah sesuatu yang sudah dianggap benar itu tidak bisa diberi penafsiran baru?” Ya, menjadi penafsir segala sesuatu saya kira merupakan tugas utama penyair. Saya tidak ingin sesuatu itu diposisikan sebagai hal yang mutlak. Saya tidak ingin segala hal menjadi dogma atau nilai yang dimutlakkan. Hidup harus ditafsir ulang secara terus-menerus.

Anda ternyata juga melawan tafsir tunggal terhadap berbagai hal yang dijejalkan oleh negara atau agama? Dalam bentuk apa perlawanan Anda?

Aduh! Ini masalah yang sangat sensitif. Saya misalnya pernah menggugat mitos-mitos dalam dunia perkawinan. Dalam dunia perkawinan, selalu ada kewajiban “menikah itu untuk setia”. Dalam kenyataan, komitmen semacam itu, hanya berada di permukaan, tidak berada di hati. Karena itu, ketika saya menulis: ketika menikahimu tak kusebut keinginan untuk setia, banyak orang kaget. Mereka shock. Saya kira puisi memang harus seperti itu. Tugas puisi harus memberi kejutan. Kejutan yang lembut. Puisi itu harus menonjok. Puisi itu harus seperti tinju dengan sarung yang lembut. Jadi, dalam berpuisi dan mengkritik nilai-nilai yang sudah mapan atau dimutlakkan, saya memang memukul dengan lembut. Puisi itu pukulan bersarung tinju beludru.

Ada juga contoh lain. Saya pernah menulis puisi bertajuk “Elegi Sinta”. Dalam puisi itu saya membuat tafsiran kembali terhadap cerita Rama-Sinta. dalam versi lama Rama digambarkan sebagai sosok yang suci dan tak pernah salah. Masyarakat Jawa, kita tahu, sangat memihak kepada Rama. Sebaliknya Sinta digambarkan sosok lemah yang membutuhkan perlindungan Rama saat hendak “diperkosa” oleh Rahwana. Ia, pendek kata, berada di bawah tekanan Rama, karena sebelum membakar Sinta, lelaki itu bilang, “Kalau kamu setia akan begini, kalau tidak setia akan begitu”. Ini membuat posisi Sinta menjadi sosok yang terpinggirkan. Dalam puisi saya, saya menghadirkan Sinta sebagai sosok yang kuat menempatkan Rama sebagai sosok peragu. Saya lebih menempatkan Sinta sebagai tokoh yang keras hati dan mampu berjuang.

Di negara kita, hal-hal semacam itu masih dipandang dengan sebelah mata. Negara memang sedikit peduli. Akan tetapi dalam keseharian negara belum secara ikhlas menerima perempuan sebagai sosok yang berpikiran lebih hebat dan berposisi lebih kuat. Ketika Megawati mau jadi presiden masih saja terjadi pro-kontra. Ini menunjukkan negara masih memihak laki-laki. Dengan berkata semacam ini, saya tidak ingin dianggap membela perempuan. Yang, saya lakukan saya membela manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan.

Saya juga tak sepakat pada cara-cara mutlak-mutlakan memperjuangkan keyakinan tetapi dengan menghancurkan kemanusiaan dan manusia lain. Saya tak habis mengerti kok ada orang-orang yang merasa lebih benar daripada Tuhan. Lebih parah lagi mereka menyatakan tindakan-tindakan yang dilakukan itu dipersembahkan kepada Tuhan. Kemutlakan semacam ini harus ditentang. Saya punya harapan puisi atau sastralah yang bisa menyentuh dan mengingatkan betapa kemanusiaan kita memang terkikis.

Oke… tapi para pengamat kerap menyebut Anda sebagai perempuan yang menggunakan diksi laki-laki untuk mengungkapkan gagasan. Apakah ini tak bertentangan dengan keinginan Anda sebagai manusia yang ingin memperbaiki kualitas kemanusiaan siapa pun tanpa mempersoalkan jenis kelamin?

Saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan mengambil metafor dari dunia pertanian. Jika hendak bertani, tentu kita butuh cangkul. Cangkul apa pun. Sebagaimana petani, saat menulis puisi saya membutuhkan berbagai diksi. Diksi apa pun. Tak peduli diksi laki-laki atau perempuan. Diksi yang bergunalah yang saya pakai. Kalau diksi-diksi yang menonjok dianggap sebagai diksi laki-laki, itu kesalahan tafsir laki-laki terhadap puisi-puisi saya. Yang saya inginkan sebenarnya sederhana saja. Saya ingin tujuan saya tercapai.

Nah, kalau begitu, Anda sebenarnya lebih ingin disebut sebagai feminis atau humanis sih?

Humanis! Saya kadang-kadang keberatan jika disebut sebagai feminis. Meskipun demikian, orang selalu bilang, “Kamu menulis tentang perempuan. Itu berarti kamu feminis!”. Terus saja saya menolak anggapan itu. Yang saya perjuangkan bukan persoalan keperempuanan, tetapi lebih kepada kemanusiaan. Laki-laki juga perlu ditolong jika dia lemah. Jadi saya ini lebih baik disebut sebagai pejuang humanisme, bukan feminisme.

Jika bisa distrukturkan, apa saja sih dunia gagasan Anda?

Saya berharap manusia menemukan kembali sisi baik kemanusiaannya. Ini suatu keinginan yang sedehana, tetapi hasilnya masih sayup-sayup.

Anda melihat kemanusiaan kita kian terkikis Lalu dengan cara apa Anda mewartakan kepada publik bahwa situasi kemanusiaan kita berada dalam situasi yang membahayakan?

Barangkali satu-satunya cara penyair untuk bisa “mengingatkan” mereka adalah dengan menulis. Dengan tulisan itu orang digiring memiliki ruang dan waktu untuk berpikir. Dengan tulisan-tulisan itulah, saya mencoba membuat puisi sebagai sesuatu yang menyentuh. Tentu dengan berbuat semacam itu, saya dan penyair lain tidak harus dianggap sebagai satu-satunya sosok yang mengansumsikan diri sebagai pengingat zaman.

O, cukupkah Anda mengubah dunia dengan puisi?

Tentu saja tidak. Dalam kehidupan kita itu banyak hal yang harus dipecahkan dengan hal-hal lain di luar puisi. Dunia indah itu tidak bisa dicapai hanya dengan puisi. Karena itu, saya juga melakukan berbagai tindakan lain. Saya bergerak menjadi penerbit dan melakukan gerakan sosial lain. Termasuk melakukan hal-hal kecil yang saya lakukan di rumah. Perjuangan saya bukan berupa tindakan-tindakan besar. Tindakan-tindakan besar baru terlihat justru ketika kita juga melakukan tindakan-tindakan kecil.

Anda mendidik anak Anda juga dengan cara melakukan tindakan-tindakan kecil yang bermakna?

Tentu. Saya selalu memberi pengertian: sekolah bukan satu-satunya tiket kita untuk menjadi manusia yang baik. Tujuan kita tidak untuk menjadi manusia sukses, tetapi manusia yang baik. Untuk menjadi manusia sukses harus belajar matian-matian menjadi ranking satu di sekolah. Ukuran keberhasilan manusia itu tidak harus menjadi dokter, insinyur, arsitektur, tentara, atau yang lain-lain.

Anda juga bergerak di dunia bacaan. Anda menjadi penerbit dan melakukan gerakan sosial yang mengajari publik untuk hidup dalam budaya baca. Inikah yang juga Anda sebut sebagai tindakan kecil yang penuh makna?

Ya. Membaca dan menulis itu sangat dekat dengan dunia pikir dan rasa. Jika orang tak hidup dalam dunia pikir dan rasa, mereka harus didekati dengan dunia baca dan tulis. Karena kita masih juga hidup dalam budaya lisan, maka perjuangan membawa orang ke dunia baca-tulis-rasa-pikir, masih harus dilakukan secara intens. Itulah yang saya lakukan agar kita semua berada dalam peradaban yang kian maju.

Kini kecenderungan buku Anda muncul dalam dua bahasa. Mengapa Anda tak menulis langsung dalam bahasa Inggris?

Saya punya kepekaan terhadap nuansa bahasa. Saya tahu dengan menulis dalam bahasa Indonesia akan lebih in dan tepat mengutarakan gagasan-gagasan saya. Ada sesuatu yang tertinggal kalau saya langsung menulis dalam bahasa Inggris. Tujuan saya menerbitkan puisi dalam dua bahasa lebih dipicu oleh pertimbangan pasar. Selain itu, saya ingin gagasan-gagasan universal tentang kemanusiaan saya lebih terdistribusi ke masyarakat yang lebih luas tanpa dibatasi oleh bahasa.

Apa sih perjuangan terberat Anda saat mendistribusikan gagasan?

Yang paling berat adalah saat berproses mewujudkan gagasan. Saya selalu berpikir bagaimana agar gagasan-gagasan saya itu mudah diterima tetapi tidak wantah dan dalam balutan keindahan. Ya, buat apa kita menulis jika gagasan-gagasan itu tak sampai di hati orang?

*Triyanto Triwikromo-35/SuaraMerdeka/2006


message 42: by gieb (last edited Oct 08, 2009 01:10PM) (new)

gieb | 743 comments untuk teman-teman yang ingin kontak langsung dengan penyair kita yang satu ini, bisa kunjungi: http://www.dorothearosaherliany.com


message 43: by Roos , Moderator GRI 2014 (new)

Roos  | 2986 comments Mod
Doh ketinggalan banyak nih...Thanks yah Gieb!
Besok lagi yah....hehehehe.


message 44: by gieb (last edited Oct 15, 2009 03:03AM) (new)

gieb | 743 comments Nelayan Tersesat

"sampanku tersesat di sebuah negeri terbuka,"
jerit seorang nelayan kecil dan papa.
"di manamana pintu. siapa pun bebas memasukinya."
(ikanikan merubung dan ternganga).

nelayan kecil itu bagai telah terbebas
dari sebuah lorong tertutup dan gelap.
dindingdinding memantulkan sakit
dan nestapa.

"berkatalah, dan mereka akan mendengar," ia
berkata. "bukalah mulutmu, dan tangantangan
tergapai menyalammu." (ikanikan merubung
dan ternganga).

"sampanku tersesat di sebuah negeri terbuka.
mereka akan mendengar harapan dengan tegursapa.
untuk apa kail, sebab banyak mulut yang sedia
menjadi wakil untuk membunuh rasalapar kita."
(ikanikan merubung dan ternganga).

seorang nelayan kecil dan papa. matanya tak
cukup tajam untuk merabaraba. hatinya terlalu
teduh buat keisengan tegursapa. dadanya terlalu
terbuka buat harapanharapan.

kebisuan dindingdinding langit yang dingin
mendesis dan meronta. derita terkibas
sayapsayap emasnya.

1992


Aisyah Maulidina (odiy) | 43 comments ada yg tau harga buku ini nggak .?
d gramedia ada gg ,yya .?
hhhmm ,,


gieb | 743 comments Requiem Bagi Kepompong yang Tak Sempat Bisa Terbang

di sinikah tepi bagimu, ketika segalanya berubah
abu. tinggal asap. kau tak mampu menyingkapkan tirai
tipis itu. debur laut makin jauh. melongokmu.
di sinikah tepi bagimu?

mulutmulut masih bercerita: apa arti kenangan bagi
benang yang tak rampung kaupintal? semua
menyisipkan bungabunga pada katakatanya. masih
kebohongan dan kepalsuan yang melepaskanmu.

di sinikah tepi bagimu, laut tak memberikan garam.
tapi matahari menyebarkan asing siang yang terik.
keringatkeringat pertentangan. tendangmenendang
kehidupan yang disyahkan. sebuah kota sebelum ajal.
di sinikah tepi bagimu?

sebuah stasiun bisu. gerbonggerbong jadi keranda.
bergerit dalam ngilu. kehitaman lokomotif dan dengus
: batuk dalam darah di dadamu! kehidupan inikah
tepi bagimu.

tilgram tak terbaca di mejaku. kadokado
belasungkawa tak pernah dikirimkan. duka sudah
habis. juga pada tokotokoswalayan. tinggal harapan
pada pantat lalat yang terpeleset kilau keangkuhan lelaki
di belakang loket.

menontonlah kita di kejauhan!

1992


gieb | 743 comments Pengantin yang Terbaring

kaubaringkan diriku di atas tanah. betapa
fana gairah yang meletupkan kebencian. dan
aku mabuk bercumbu dengan pikiran sendiri.

seperti inikah kenikmatan senggama?
kita tebar ribuan benih yang menjamurkan
kebencian dan kecewa. gemeretak bunyi tulang
yang membajak tanah kering dan batu bebukitan.
kecipakair dalam sungai tanpa arus. tak
ke manamana.

seperti inikah? kaubaringkan diriku di atas
tanah. dan nafasku menyebarkan aroma yang
dihirup para serangga. dan mengembunkan uap
yang menyejuki cacingcacingtanah dan ulatulat.

1993


message 48: by gieb (last edited Oct 18, 2009 09:49PM) (new)

gieb | 743 comments Mereka Membangun Sungai

mereka membangun sungai pada kepalanya, kata
seseorang, agar hanyut kalimatkalimat dalam
fikirannya menuju bendunganbendungan yang
ditunggui orangorang kosong. untuk memperebutkan
rumusrumus dan kesimpulan yang mengasingkannya
dari kemanusiaan, kata yang lain. agar tercipta
makhlukmakhluk baru yang pongah dengan
hurufhuruf dan angkaangka membungkus
harinurani. sehingga bumi yang purba membangun
kepompongnya pada kanvas sunyi, kata seseorang.

agar orangorang meninggalkan arti debu, kata yang
lain. agar orangorang meninggalkan arti hujan dan
matahari. agar orangorang tak paham bunyi angin.
agar orangorang tak tahu kediaman batu. agar
orangorang ...

mereka membangun sungai, membangun
bendunganbendungan,
membangun orangorang kosong, muara, air, dan
kebisuan suarahalus dari mulutmulutnya, kata
seseorang yang menamakan dirinya nabi. orangorang
telah meninggalkan kefanaan, desahnya.

mereka membangun sungai dalam fikirannya. dalam
hatinuraninya. agar orangorang tak paham kediaman
ayatayat yang terbaca. agar orangorang ...

1991


gieb | 743 comments Aku Mengandung Puisi yang Tak Jadi

aku menciptakan surga kecil pada rahimku.
penghuninya: sebuah puisi tanpa judul tanpa
rima dan irama. tapi ia mengalun disiulkan
anakanak bermain yang menunggu dengan rindu
malaikat kecilnya.

anakanak menyenandungkannya, sebab
hurufhuruf hanya lambanglambang yang tak
tereja. telah bertahuntahun kita menciptakannya.
hayatilah perjalanan panjang itu. tanpa menunggu
ia bersenandung sendiri, ketika anakanak letih
mengenangkannya.

1991


gieb | 743 comments Burung Lepas Sangkar

kicau perkutut berhenti saat kaulepaskan
dari sangkarnya. para pencari menyulut obor
lalu menghitung perdu demi perdu, dahan demi
dahan pohon. senja demi senja yang merah.

: sudah kauterimakah tilgram pada sehelai
bulu itu?

sebuah dunia lepas, adalah sangkar baru, katanya.

lalu setelah melipat tilgram itu : kaubayangkan
rumahrumah yang tak pernah dihuni. halaman
dengan rumputrumput dan belukar yang tinggi.
di luar jendela: cuaca makin purba dan
menggigilkan!

1993


« previous 1 3 4
back to top

unread topics | mark unread


Books mentioned in this topic

Selendang Pelangi (other topics)