group discussion
topic:
Klub Buku GRI >
Baca Bareng Buku Puisi "Aku Ini Binatang Jalang" oleh Chairil Anwar
Comments
(showing 90-139)
post a comment »
Whoaaaaaaaaaaaaa....dah lama gak nengok, kok dah selesai saja sih...hehehehe. Oke deh, buat teman-teman yang lain, silakan me-Review yah. Apa kesan dan kesan yang didapat dari Baca Bareng Buku Puisi karya Chairil Anwar ini.
Sesudahnya, Roos ucapkan terima kasih buat teman-teman semua yang sudah membantu mengetik Mia, Mas Ronny, Ayu, dan Panda. Terima kasih juga buat Bung Andri buat tafsiran-tafsirannya.
Ditunggu saja Buku Puisi Berikutnya yah. Semoga Suka.
Terima kasih.
wah ternyata aku masih ingat betul puisi Krawang-Bekasi ini padahal udah lama banget huhuhu baiklah temans puisi ini juga puisi terakhir dari buku kumpulan puisi Chairil Anwar - Aku Binatang Jalang jadi Roos kendali diserahkan kembali padamu hahaha thanks buat yang bantuin ngetik yah :D
Krawang-Bekasi (hal. 88)Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang
berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4 - 5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan
Ataukan jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa.
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan
impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.
1948
Sajak-Sajak SaduranKepada Peminta-Minta (hal. 87)
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Juni 1943
Aku Berada Kembali* (hal. 84)Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;
rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari
lain.
Hanya
Kelenggangan tinggal tetap saja.
Lebih lenggang aku di kelak-kelok jalan;
lebih lenggang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.
Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang
guruh.
1949
___________
*Judul sajak ini berasal dari Editor buku ini; semula sajak ini tanpa judul (Editor).
Derai-Derai Cemara* (hal. 83)cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
____________
*Versi Naskah Asli (Editor).
Yang Terampas dan Yang Putus* (hal. 82)kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru
dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
berlaku beku
1949
_____________
*Versi Naskah Asli (Editor).
Aku Berkisar Antara Mereka (hal. 81)Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa
Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata
mereka
pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
kenyataan-kenyataan yang didapatnya.
(bioskop Capitol putar film Amerika,
lagu-lagu baru irama mereka berdansa)
Kami pulang tidak kena apa-apa
Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga
Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota
Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.
Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji
juga
Sandarkan tulang belulang pada lampu jalan saja,
Sedang tahun gempita terus berkata.
Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.
Ah hati mati dalam malam ada doa
Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta
mereka
Semoga segala sypilis dan segala kusta
(Sedikit lagi bertambah derita bom atom pula)
Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama
Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa
Kualami kelam malam dan mereka dalam diriku
pula.
1949
Buat Nyonya N. (hal. 80)Sudah terlampau puncak pada tahun yang lalu,
dan kini dia turun ke rendahan datar.
Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahu,
Burung-burung asing bermain keliling kepalanya
dan buah-buah hutan ganjil mencap warna pada
gaun.
Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satu
Atas puncak tinggi sendiri
berjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat
kematian
Tapi hawa tinggal hampa, tiba di puncak dia
sugguh tidak tahu
Jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
Selanjutnya tidak ada burung-burung asing, buah-
buah pandan ganjil
Turun terus. Sepi.
Datar-lebar-tidak bertepi
1949
1949Mirat Muda, Chairil Muda (hal. 79)
di pegunungan 1943
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah matanya menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada
mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia
rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati
1949
Judul puisi ini, sangat terbuka. Langsung ditujukan kepada sosok yang dituju dalam puisinya. [Apakah seperti Untuk Yani -nya Iwan Fals ?, yg ini dikupas di forum bang Iwan aja ya.. ;-)..:]
Gadis Rasid itu wartawan. Pengagum Sjahrir.
Puisi ini misterius. Diawali dengan pembukaan yang natural, sejuk, indah. Daun hijau, padang lapang, terang, anak kecil, burung merdu, hujan segar, bangsa muda. Semua menggambarkan sesuatu yang positif.
Lalu masuk ke suasana negatif. Angin kering. Gersang. Tandus. Kosong. Dua kutub berbeda Chairil yang sering tampak dalam puisi2nya.
Sepertinya cinta yg ada dalam kondisi serba salah. Terapit. Dan akhirnya Chairil "menyerah". Lepas jiwa. Sonder ketemu. Tidak mendapat. Penafsiran saya, atas sesuatu yang tidak bisa dilawan, yang bisa kita lakukan adalah "menyerah". Chairil mengulangi makna ini dalam puisi Di Karet.
Semakin misterius, ketika Gadis Rasid ternyata berpulang pada tanggal yang sama dengan Chairil, 28 April. Dan mereka pun dimakamkan di tempat yang sama.. di Karet.
Hanya Tuhan yg tahu.
-andri-
miaaa wrote: "Buat Gadis Rasid (hal. 77)
Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"
Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku
- mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
- the only possible non-stop flight
Tidak mendapat ..."
Selama Bulan Menyinari Dadanya* (hal. 78)Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Aku bulan lagi si cilik tidak tahu jalan
di hadapan berpuluh lorong dan gang
menimbang:
ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan "pas
bebas"
Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Juga ibuku yang berjanji
tidak meninggalkan sekoci.
Lihatlah cinta jingga luntur:
Dan aku yang pilih
tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi
pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang
Gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan di
zaman kanak.
Lihatlah cinta jingga luntur:
Kalau datang nanti topan ajaib
menggulingkan gundu, memutarkan gasing
memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan
aku sudah lebih dulu kaku.
1948
_____________________
*Judul sajak ini berasal dari Editor buku ini; semula sajak ini tanpa judul (Editor).
Buat Gadis Rasid (hal. 77)Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"
Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku
- mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
- the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.
1948
Puncak (hal. 76)Pondering, pondering on you, dear ...
Minggu pagi di sini. Kekerasan ramai kota yang
terbawa
tambah penjoal dalam diri - diputar
atau memutar -
terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjang
Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata
sekarang
Berada 200 m. jauh dari muka laut, silang siur
pelabuhan,
jadi terserahlah pada perbandingan dengan
cemara bersih hijau, kali yang bersih hijau
Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu
mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di
balik rupa.
Kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap yang
masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana,
bahwa antara
cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau
mengembang juga tanya dulu, tanya lama, tanya.
1948
Tadinya gw kira akan banyak yg menimpali puisi ini. Karena puisi ini salah satu puisi Chairil yg lumayan mudah dicerna. Meski temanya berat. Sangat berat. Berat banget. Nggak kuwwadt..
Kesedihan. Patah hati. Is it ? gak bisa juga dibilang patah hati, karena ibu Sri Ajati di satu wawancara pernah bilang bahwa Chairil tidak pernah menyatakan cintanya. Tapi Chairil hanya menuliskan satu puisi yang penuh nuansa kesedihan.
Ternyata Chairil mengambil kesimpulannya sendiri. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tidak ada yang mencari cinta. Mungkin ungkapan rasa ketak berdayaan. Gudang, rumah tua, tiang, temali.. menggambarkan suasana yg diam. Paused life. Perahu tidak berlaut.
Lalu gerimis. Yang pasti tipis. Membawa kelam. Imaji gw melayang ke suasana di pelabuhan kecil. Menjelang malam. Saat lembayung datang, kaki langit berganti warna. Twilight zone. Simak, Chairil pakai kata "kelam". Bukan gelap. Tentu terkait dengan kata berikutnya, muram.
Ahh.. suasana hati yang murung. Karena cinta yang tak bersambut. Kembali paused life diangkat. Tidak bergerak.
Rasa itu tak ada lagi. Tinggal Chairil sendiri. Berjalan membawa sisa harapan, untuk menuju ke satu kesimpulan. Penghabisan. Selamat jalan. Kepahitan.. yang harus didekapnya.
***
Puisi kebangsaan buat yg lagi patah hati, cinta ditolak, cinta yang tak bersambut, cinta yang tak terucapkan...
Ubiet dan Riza Arshad, menafsirkan puisi ini secara musikal lewat komposisi di album Keroncong Tenggara. Meski gw masih berat menikmatinya...
-andri-
Ayu wrote: "Senja Di Pelabuhan Kecil (hal.58)
buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus..."
Kalo dia masih ada di jaman sekarang.. langsung Chairil akan dituding sebagai islam liberal..
-andri-
"kangen susu"
Pandasurya wrote: "Sajak Buat Basuki Resobowo (hlm. 66)
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bias mengatakan pasti
di situ memang memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati.."
miaaa wrote: "Ayu wrote: "Ina Mia (hal.73)ini ditulis beliau untukku yah huehuehue :D"
keknya iya, mi, pas gw baca juga gw pikir ini puisi buat dirimu gt..
dan ternyata bener, CA tadi sms gw, katanya emang bener begituh..:-p
jadi kapan nih kita makan2nya??:-p
Ayu wrote: "Ina Mia (hal.73)Terbaring di rangkuman pagi
-- hari baru jadi --
Ina Mia mencari
hati impi,
Teraba Ina Mia
kulit harapan belaka
Ina Mia
menarik napas panjang
di tepi jurang
napsu
ya..."
ini ditulis beliau untukku yah huehuehue :D
Perjurit Jaga Malam* (hal.75)
pro Bahar + Rivai
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam,
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama kau menjaga daerah yang mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, berlucut debu....
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu
*Versi TMT (Editor)
Perjurit Jaga Malam* (hal.74)
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam,
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu....
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
1948
*Versi KT (Editor)
Ina Mia (hal.73)
Terbaring di rangkuman pagi
-- hari baru jadi --
Ina Mia mencari
hati impi,
Teraba Ina Mia
kulit harapan belaka
Ina Mia
menarik napas panjang
di tepi jurang
napsu
yang sudah lepas terhembus,
antara daun-daunan mengelabu
kabut cinta lama, cinta hilang
Terasa gentar sejenak
Ina Mia menekan tapak di hijau rumput,
Angin ikut
-- dayang penghabisan yang mengipas --
Berpaling
kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah di tekongan.
1948
Sudah Dulu Lagi* (hal.72)
Sudah dulu lagi terjadi begini
Jari tidak bakal teranjak dari petakan bedil
Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini
Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisan
Yang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menara
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil.
1948
*Judul sajak ini berasal dari Editor buku ini; semula sajak ini tanpa judul (Editor)
Iya deh, aku ikutan ngetik lg...
1948
Persetujuan Dengan Bung Karno (hal.71)
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948
hihihi..iya nih, yu, kmaren sempet mudik dulu dan ngambil bukunya..:-p sok atuh..ayu ikutan ngetik jugaa..:-)
Tuti Artic (hlm. 70)Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar ciuman, ada goresan tinggal terasa
--ketika kita bersepeda kuantar kau pulang—
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi..hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.
1947
Malam Di Pegunungan (hlm.69)Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin Dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
Dua Sajak Buat Basuki Resobowo (hlm. 68)I
Adakah jauh perjalanan ini?
Cuma selenggang!—Coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Pada daun gugur Tanya sendiri,
Dan sama lagu melembut jadi melodi!
Apa tinggal jadi tanda mata?
Lihat pada betina tidak lagi menengadah
Atau bayu sayu, bintang menghilang!
Lagi jalan ini berapa lama?
Boleh seabad…aduh sekerdip saja!
Perjalanan karna apa?
Tanya rumah asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di situ!
Ada yang menggamit?
Ada yang kehilangan?
Ah! jawab sendiri—Aku terus gelandangan…
II
Seperti ibu + nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidari beribu
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bias mengatakan pasti
di situ memang memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati?
Malang, 28 Februari 1947
Sajak Buat Basuki Resobowo (hlm. 66)Adakah jauh perjalanan ini?
Cuma selenggang!—Coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Pada daun gugur Tanya sendiri,
Dan sama lagu melembut jadi melodi!
Apa tinggal jadi tanda mata?
Lihat pada betina tidak lagi menengadah
Atau bayu sayu, bintang menghilang!
Lagi jalan ini berapa lama?
Boleh seabad…aduh sekerdip saja!
Perjalanan karna apa?
Tanya rumah asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di situ!
Ada yang menggamit?
Ada yang kehilangan?
Ah! jawab sendiri—Aku terus gelandangan…
28 Februari 1947
*Versi TMT; bandingkan juga dengan sajak “Dua Sajak buat Basuki Resobowo” di halaman 67 (Editor)
ikutan bantuin ngetik..1947
Sorga* (hlm.65)
buat Basuki Resobowo
Seperti ibu + nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidari beribu
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bias mengatakan pasti
di situ memang memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati?
Malang, 25 Februari 1947
*Versi DCD; bandingkan juga dengan sajak “Dua Sajak buat Basuki Resobowo” di halaman 67 (Editor)
miaaa wrote: "Pemberian Tahu (hal. 64)Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
"
ah lagi2 kutipan favorit nih..:-)
kesannya jadi murung ya..:-(
Pemberian Tahu (hal. 64)Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!
1946
Kepada Kawan (hal. 63)Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,
mengcengkam dari belakang 'tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah
serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, 'kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
30 November 1946
Dari Dia (hal. 62)buat K.
Jangan salahkan aku, kau kudekap
bukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!
Sebab perempuan susah mengatasi
keterharuan penghidupan yang 'kan dibawakan
padanya...
Sebut namaku! 'ku datang kembali ke kamar
Yang kautandai lampu merah, kaktus di jendela,
Tidak tahu buat berapa lama, tapi pasti di senja
samar
Rambutku ikal menyinar, sau senapsu dulu kubela
Sementara biarkan 'ku hidup yang sudah
dijalinkan dalam rahsia...
Cirebon 1946
Situasi (hal. 61)..............................
Tidak perempuan! yang hidup dalam diri
masih lincah mengelak dari pelukanmu gemas
gelap,
bersikeras mencari kehijauan laut lain,
dan berada lagi di kapal dulu bertemu,
berlepas kemudi pada angin,
mata terpikat pada bintang yang menanti.
Sesuatu yang mengepak kembali menandungkan
Tai Po dan rahsia laut Ambon
Begitulah perempuan! Hanya suatu garis kabur
bisa dituliskan
dengan pelarian kebuntuan senyuman
Cirebon 1946
"Betina"-nya Affandi (hal. 60)Betina, jika di barat nanti
menjadi gelap
turut tenggelam sama sekali
juga yang mengendap,
di mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati.
Matamu menentang - sebentar dulu! -
Kau tidak gamang, hidup kau sintuh, kau cumbu.
sekarang senja gosong, tinggal abu...
Dalam tubuhmu ramping masih berkejaran
Perempuan dan Laki.
1946
Cintaku Jauh di Pulau (hal. 59)Cintaku jauh di pulau,
Gadis manis, sekarang iseng sendiri.
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan olé-olé buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."
Amboi!! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
Senja Di Pelabuhan Kecil (hal.58)
buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk paangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tidak lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa tersekap
1946
Kabar Dari Laut (Hal.57)
Aku memang benar tolol ketika itu,
mau pula membikin hubungan dengan kau;
lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,
berujuk kembali dengan tujuan biru.
Di tubuhku ada luka sekarang,
bertambah lebar juga, mengeluar darah,
di bekas dulu kau cium napsu dan garang;
lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.
Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.
Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang.
Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.
Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,
Atau diantara mereka juga terdampar,
Burung mati pagi hari di sis sangkar?
1946
Cerita Buat Dien Tamaela (hal.56)
Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
Beta Pattiradjawane
Kikisan laut
Berdarah laut.
Beta Pattiradjawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.
Beta Pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...
Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
1946
Nocturno(fragment) (hal. 55)
...............................
Aku menyeru - tapi tidak satu suara
membalas, hanya mati di beku udara.
Dalam diriku terbujur keinginan,
juga tidak bernyawa,
Mimpi yang penghabisan minta tenaga,
Patah kapak, sia-sia berdaya,
Dalam cekikian hatiku
Terdampar ... Menginyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu.
Ingatan pada Ajal yang menghantu.
Dan demam yang nanti membikin kaku ...
..................................
Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan!
1946
Buat Album D.S (hal. 54)Seorang gadis lagi menyanyi
Lagu derita di pantai yang jauh
Kelasi bersendiri di laut biru, dari
Mereka yang sudah lupa bersuka.
Suaranya pergi terus meninggi,
Kami yang mendengar melihat senja
Mencium belai si gadis dari pipi
Dan gaun putihnya sebagian dari mimpi.
Kami rasa bahagia tentu 'kan tiba,
Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan
Dan di negeri kelabu yang berhiba
Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan.
Lagu merdu! apa mengertikah adikku kecil
yang menangis mengiris hati
Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,
Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali?
1946
Catetan Th. 1946 (hal. 53)Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucinta 'kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
Kita - anjing diburu - hanya melihat sebagian dari
sandiwara sekarang
Tidak tau Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau
di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak
lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering
sedikit mau basah!
1946
Dengan Mirat* (hal. 52)Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas
Aku dan dia hanya menjengkau
rakit hitam.
'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran pitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu?
8 Januari 1946
__________________
* Dalam Deru Campur Deru sajak ini berjudul "Orang Berdua" (Editor).
Kepada Pelukis Affandi (hal. 51)Kalau, 'ku habis-habis kata, tidak lagi
berani memasuki rumah sendiri, terdiri
di ambang penuh kupak,
adalah karena kesementaraan segala
yang mencap tiap benda, lagi pula terasa
mati kan datang merusak.
Dan tangan 'kan kaku, menulis berhenti,
kecemasan derita, kecemasan mimpi;
berilah aku tempat di menara tinggi,
di mana kau sendiri meninggi
atas keramaian dunia dan cedera,
lagak lahir dan kelancungan cipta,
kau memaling dan memuja
dan gelap-tertutup jadi terbuka!
1946
1946Sebuah Kamar (hal. 50)
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
"Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!"
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan: Kamar begini,
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!
1946
unread topics | mark unread
Books mentioned in this topic
Aku Ini Binatang Jalang (other topics)Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi (other topics)
Derai-derai Cemara (other topics)
Authors mentioned in this topic
Chairil Anwar (other topics)Taufiq Ismail (other topics)



