Goodreads Indonesia discussion

428 views
Klub Buku GRI > Baca Bareng Buku Puisi "Tirani dan Benteng" by Taufik Ismail

Comments (showing 1-50 of 161) (161 new)    post a comment »
« previous 1 3 4

message 1: by Roos (last edited Jul 19, 2009 10:02PM) (new)

Roos  | 2991 comments Hai Temans,

Berhubung Baca Bareng Buku Puisi: Ayat-Ayat Api by Sapardi Djoko Damono sudah dibabat habis oleh Gieb (pengetikannya, Thanks a lot yah Gieb) alias sudah selesai dibaca bareng.
Maka baca barengnya saya mulai lebih awal dikarenakan bukunya yang lumayan tebal dan ada kemungkinan saya akan mengetik sendiri...heheheheeh. Ohya bukunya adalah: Tirani dan Benteng oleh Taufik Ismail.

Jadi buat teman-teman yang mempunyai bukunya kalau berkenan mau membantu mengetik silahkan saja. Dan buat teman-teman juga yang mempunyai informasi mengenai Taufik Ismail ataupun sejarah singkat mengenai buku ini, mohon di share di thread ini. saya ucapkan terima kasih banyak sebelumnya.

Oke Selamat Membaca dan semoga Suka!

Cheers,
Roos

PS: Thanks buat Aldo yang telah meminjamkan bukunya untuk dibaca disini.







message 2: by Bunga Mawar (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Waaah... kereeen!! Nungguin banget puisi2 ini.

Ayo Kak Roos... kamu bisa!!! *soraksorai*


message 3: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng

Bukit Biru, Bukit Kelu (hal.1)

Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahaya dan di mana bertemu
Awan putih yang menghinggapi cemaraku

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
Ketika kota tak bicara dan terpaku
Gunung api dan hama di ladang-ladangku

Lereng-lereng senja
Pernah menyinar merah kesumba
Padang hilalang dan bukit membatu
Tanah airku.


1965


message 4: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Elegi Buat Sebuah Perang Saudara (hal.2)

Dengan mata dingin dia turun ke medan
Di bahunya tegar tersilang hitam senapan
Dengan rasa ingin ditempuhnya perbukitan
Mengayun lengan kasar berbulu dendam

Angin pun bagai kampak sepanjang hutan
Bukit-bukit dipacu diatas kuda kelabu
Dada dan lembah menyenak penuh deram
Di ujung gunung lawannya sudah menunggu

Terurai kendali kuda, merentak ringkiknya
Di kaki langit teja mengantar malam tembaga
Luluhlah senja dalam denyar. Api mesiu
Di ujung gunung lawan rebah telungkup bahu

Angin tak lagi menderu tapi desah tertahan
Dengan kaki sombong dibalikkannya lelaki itu
Ketika senja berayun malam di dahan-dahan

Angin pun menggigiti kulit bagai gergaji
Terlentang kaku di bumi. Telah dibunuh adik sendiri.


1960


message 5: by fRee (new)

fRee (fyanuar) | 28 comments sayang, bukunya ketinggalan di rumah...
:(


message 6: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments @Fridan, salam kenal. Gak pa-pa santai aja...yang penting ikut baca bareng dan sharing disini. Thanks.

Oke lanjut yah teman-teman...

Bilakah Kau Akan Melintas Di Depanku (hal.3)

Kutunggu-tunggu kau melintas di depanku
Begitu benarkah lamanya
Sangat ingin aku menegurmu dalam sapa
Tingkap angin makin ungu dalam nestapa

Fajar pun yang tak kunjung teraih
Begitu benarkah sukarnya
Kemarauku menggigil dalam nyala
Musim tempat berbagi yang perih

Tanganku inikah tangan dukana
menjulur-julur dari kemah berkibar badai
Suara tanah yang hama sepanjang bencana
Warna papa tergapai, sapuan tak sampai-sampai

Kutunggu-tunggu kau melintas di depanku
Begitu benarkah jarak zamannya
Sangat ingin aku menyapamu dalam tegur
Dan kau balas dengan senyum menghibur.


1963


message 7: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Potret Di Beranda (hal.4-5)

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar sulaman ibuku
Dibuatnya tatkala masih perawan

Di dapur rumah nenekku, nenekku renta
Tergolek drum tua pemasak kerupuk kulit
Di atasnya sepasang tanduk hitam berdebu
Kerbau bajak kesayangan kakekku

Kerupuk kulit telah mengirim ibuku
Sekolah ke kota, jadi guru
Padi, lobak dan kentang ditanam kakekku
Yang disulap subur dalam hidayat
Dijunjung dan dipikul ke pasar
Dalam dingin dataran tinggi
Karena ibuku yang mau jadi guru

Dan ibuku bertemu ayahku
Yang dikirim nenekku ke surau menyambit ilmu
Dengan ikan kolam, bawang dan wortel
Di ujung cangkul kakekku kukuh
Yang kembang dan berisi dalam rahmat
Terbungkuk-bungkuk dijunjung di hari pekan
Karena ayahku mau jadi guru

Maka lahirlah kami berenam
Dalam rahman
Dalam kesayangan
dalam kesukaran

Di beranda rumah nenekku, di desa baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar buatan ibuku
Disulamnya tatkala masih perawan.


1963


message 8: by Roos (last edited Jul 21, 2009 07:23PM) (new)

Roos  | 2991 comments Pekalongan Lima Sore

Kleneng bel beca
Debu aspal panggang
Sangar jalan pelabuhan
Terik kota pesisir
Tik-tik persneling Raleigh
Bungkus sarung palekat
Sungai kuning coklat
Nyanyi rumah yatim
Pejaja es lilin
Riuh Kampung Arab
Jembatan loji karatan
Genteng rumah pegadaian
Keringat pasar sepi
Kumis Raj Kapoor
Sengangar lilin batik
Deru pabrik tenun
Bal-balan Bong Cina
Harum tauto Tjarlam
Sirup kopyor dingin
Gorengan kuali tahu
Percikan minyak kelapa
Sisa bungkus megono
Panas teh melati
Tik-tok kuda dokar
Dengung DKW Hummel
Peluit Sepur bomel
Klakson Debu Revolusi.


1961


message 9: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Jam Kota (hal.7-8)

Pada ulang tahun hari jadiku, kukitari kota kelahiranku
Setelah sebelas tahun tak menatap wajahmu
Hutan pinus pada bukit-bukit yang biru
Sekolah lama, gang-gang di pasar, pohon-pohon kenari
Di jauhan jam kota menjulang tinggi

Kotaku yang nanar sehabis perang
Wajah muram dan tubuh luka garang
Detak tapal kuda satu-satu
Wahai, pandanglah mukaku!

Bioskop tua. Dindingnya pun retak-retak
Tempatku dulu takjub mengimpikan dunia luar
Jalan kecil sepanjang rel kereta-api. Raung
Beruang es di kebun binatang
Pedati kerbau merambati kota pegunungan
Memutar roda kehidupan yang sarat

Di depan rumah sakit aku berhenti sebentar
Memandang dari luar dindingnya yang putih
Rahim ibuku, di suatu kamarnya, melepas daku
Ke dunia. dan jam kota
Berdentang dini hari

Masih kulihat masjid itu, di tengah sawah
Beberapa surau lereng gunung, beratap seng merah
Gang-gang di pasar, amai-amai pedagang berselendang
Bernaung ratusan payung peneduh matahari
Dataran tinggi. susunan panci nasi Kapau
Kerupuk Sanjai, ikan asin, onggokan lada merah
Toko kopiah sutera, toko-toko emas menutup pintunya
Anak-anak berkejaran di setasiun bus
Wahai, mengapa kalian menundukkan muka?

Kotaku yang nanar sehabis perang
Wajah muram dan tubuh luka garang
Detak tapal kuda satu-satu
Wahai, pandanglah mukaku!


1963






message 10: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Alamat tak Dikenal (hal.9)

Setiap kami tuliskan pesan untukmu
Kami selalu bertanya-tanya
Adakah ia pernah kau terima

Hari ini koran pun memuat iklan-iklan dukacita
Seperti bulan yang lalu dalam bayang abu jelaga
Tahun depan begitu pula, siapa bisa tahu
Robekan penanggalan yang selalu bencana

Randu hutan tak lagi termangu, tapi gundul merunduk
Menahan beban musim sepanjang sejarah
Dan tanah kita adalah bumi semakin melapuk
Gunung api dan gelombang tak kenal istirah

Abjad kehidupan, terlalu keraskah untuk kaueja
Bila sepanjang gang dan di mana-mana orang pada antri
Menadah untuk kutuk apa lagi yang akan menimpa
Sebuah bisik makin tenggelam dalam riuh arena

Ranah mana lagi hilang dari muka bumi
Air bah berpacu mengatasi nyala gunung api
Sementara dunia berjamu dalam pesta ibukota
Beribu balon mengapung menuju mega

Setiap kali kami tuliskan pesan untukmu
Pada iklan duka kantor pekabarab itu juga
Kami bertanya-tanya selalu
Adakah ia pernah kauterima.


1963




message 11: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Percakapan Dengan Zaini (hal.11)

Rendra di muka kaca
Syahwil sedang meriasnya


penyanyi berbagai serenada dalam warna
sedang menatap diri sendiri dalam kaca
Penyair yang meluluhkan jasad dengan garang
Panggilan gong di pentas bertambah lantang

Seribu sajak meleburkan baitnya dalam gerak
Menggelepar manja. Berbulu putih dengan sayap perak
Beterbangan dan hinggap dari dahan ke dahan
Dahan zaitun, dahan pohon utara dan selatan

Seribu gerak kembali lahir jadi puisi
Si pencari yang mendaki tangga zaman Yunani
Kuulurkan tangan padanya: mari kita ngembara
Ke mana saja. Karena sajak ada di sepanjang benua

Penyanyi itu telah mengenakan jas birunya
Kali terakhir menatap dirinya pada kaca
Semakin lama kita ngembara dalam puisi
Mana tanganmu, siapa tak terbawa jauh sekali.


1963




gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments pekalongan jam lima sore: aroma sega megana, soto tauco nya. mak nyuz....


message 13: by Roos (last edited Jul 23, 2009 10:25PM) (new)

Roos  | 2991 comments Hahaha...cedhak yo,Gung? Kapan traktirane kie.
Lanjut ah...

Dalam Gerimis (hal.12-13)

Segugus kapuk randu
Melayang dalam hujan
Menyambung suara bumi berbisik. Tertengadah
Pohon-pohon bungur berbunga ungu
Langit yang mekar dalam hujan pertama

Pohon bungur menyebarkan warna ungu
Sepanjang jalan raya
Angin yang mengetuk mendung. Di atas kota
Menjelang gugus malam
Musim kemarau berbisa
Deretan sedih pohon jeungjing
Sepanjang tebing

Di langit nyaris lembayung. Kawanan
Kelelawar beterbangan ke tenggara
Kawat-kawat telepon berjajaran menghitami
Cakrawala yang retak warna
Kota dalam sayatan jingga
Kelelawar dan kapuk randu
Melayang dalam gerimis
Di atas rimba kotaku

Dahan gladiola telanjang dan menggigil
Memandang padang yang gelisah
Dari selatan seakan ada yang memanggil
Ini hanya sementara, akan membentang
Musim lebih parah

Mendung mengucur pelahan
Dengan kaki-kaki ramping
Dan gerimis berlompatan
Di pipi sungai. sungai pedalaman yang jernih
Kijang-kijang istana berlarian
Berkerisik dalam pusingan dedaun coklat

Tangan yang mengacung ke langit
Dengan jari-jemari mengembang
Meninggi dalam bisa kemarau yang panjang
Sejarah berjalan terbungkuk, di padang ini
Menyalakan kemarau dan gunung api
Kemudian menuliskan namanya
Pada tangga waktu

Di langit sudah lembayung
Kapuk randu melayang dalam gerimis
Dan kelelawar bergayutan di puncak hutan
Jajaran jendela luka
Yang tertutup dan menanti
Suara memanggil. Walau terhenti
Dalam menggigil
Kapuk randu bergugusan
Melayang gerimis malam.


1963


message 14: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Almamater (hal.14-16)

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak tengadah menatap bangunanmu
Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu
Untuk kali penghabisan

Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu
hari-hari kuliah di ruang fisika
Mengantuk pada pagi cericit burung gereja
Praktikum. Padang percobaan. Praktek daerah
Corong anastesi dan kilau skalpel di kamar bedah
Suara-suara menjalar sepanjang gang
Suara pasien yang pertama kali kujamah

Di aula ini. aula yang semakin kecil
Kita beragitasi, berpesta dan berkencan
Melupakan sengitnya ujian, tekanan guru besar
Melepaskannya pada hari-harai perpeloncoan
Pada filem dan musik yang murahan

Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik
Drama Sophocles, Chekov atau 'Jas Panjang Pesanan'
Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan
Tentang filsafat, perempuan serta peperangan
Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini

Di manakah kau sekarang berdiri? Di abad ini
Dan bersyukurlah karena lewat gerbangmu tua
Kau telah dilantik jadi warga Republik Berpikir Bebas
Setelah bertahun diuji kesetiaan dan keberanianmu
Dalam berpikir dan menyatakn kebebasan suara hati
Berpijak di tanah air nusantara
Dan menggarap tahun-tahun kemerdekaan
Dengan penuh kecintaan

Dan kami bersyukur pada Tuhan
Yang telah melebarkan gerbang tua ini
Dan kami bersyukur pada ibu bapa
Yang sepanjang malam
Selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami
Dorongan kekasih sepenuh hati
Dan kami berhutang pada manusia
Yang telah menjadi guru-guru kami
Yang memebayar pajak selama ini
Serta menjaga sepeda-sepeda kami

Pada hari ini di depan gerbangmu tua
Kami kenangkan cemara halamanmu dalam bau formalin
Mikroskop. Kamar Obat. Perpustakaan
Gulungan layar di kampung nelayan
Nyanyi pohon-pohon perkebunan
Angin hijau di padang-padang peternakan
Deru kemarau di padang-padang penggembalaan
Dalam mimpi teknologi, kami kini dipanggil
Untuk menggarap tahun-tahun kemerdekaan
Dan mencintai manusianya
Mencintai kebebasannya.


1963




message 15: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Oda Pada Van Gogh (hal.17)

Pohon sipres. Kafe tua
Di ujung jalan
Sepi. Sepi jua

Langit berombak
Bulan di sana
Sepi.Sepi namanya.

1964


message 16: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2011 comments Mod
udah ganti ya roos? waduh maaf baru tuning sekarang :p



message 17: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Hehehehe...


message 18: by Pandasurya (last edited Jul 24, 2009 09:07PM) (new)

Pandasurya | 1363 comments boleh ikut nambahin, Roos?
puisi favorit nih, ngambil dari blog tetangga:-)

Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi

(Taufiq Ismail, Tirani, 1966)



message 19: by fRee (new)

fRee (fyanuar) | 28 comments hmmm...almamater...

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak tengadah menatap bangunanmu
Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu
Untuk kali penghabisan...


mengingat kembali ruang fisika, ruang kimia, ruang botani, mahatani, taman koleksi...

untuk yang mau kopdar bogor di taken & takol, bisa disempetin nengok ruangan-ruangan tersebut...
sambil membayangkan taufiq ismail lagi kuliah di sana...
:)


message 20: by Famega (new)

Famega Syavira (cyapila) | 33 comments kakak roos, ikut nyimak ya.
salam kenal, saya baru gabung hari ini. ^^


message 21: by Famega (new)

Famega Syavira (cyapila) | 33 comments menambahkan, dari arsip majalah Tempo

Denyut Demonstran dalam Puisi

Sebuah kumpulan puisi mengobarkan semangat mahasiswa melawan pemerintah pada akhir masa Orde Lama.

Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani

—Salemba, Taufiq Ismail, 1966

SEBAIT sajak dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng itu menyeruak di tengah pergolakan politik 1966. Penyair Taufiq Ismail menulis puisi itu tatkala suhu politik negeri ini memanas. Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia, Kabinet Dwikora, dan penurunan harga—dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat—sedang marak-maraknya.

Ketika itu Jakarta membara oleh lautan demonstran. Di jalanan Ibu Kota, di tengah ingar-bingar pengunjuk rasa, puisi-puisi Taufiq hadir dalam bentuk stensilan bersama ratusan pamflet dan spanduk, yang meneriakkan protes terhadap pemerintahan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno.

Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial itu berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, cita-cita, dan tekad. Taufiq baru saja dua tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, dan langsung berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi. Ia mengabadikan momen bersejarah itu melalui puisi-puisi yang ditulis sepanjang Februari-Maret 1966.

Taufiq menuliskan baris kata-katanya pada tumpukan kertas yang dijepit rapi dalam map merah cokelat. Ke mana-mana ia membawa map yang ditaruh dalam ranselnya. Menurut Taufiq, hampir setiap hari ia mengikuti demonstrasi mahasiswa. Ia merekam denyut demonstran. ”Biasanya puisi saya tulis malam hari di asrama mahasiswa Pal Putih 6,” katanya mengenang.

Tirani dan Benteng pertama kali diterbitkan di majalah Gema Psychologi Universitas Indonesia atas upaya sahabat Taufiq, Arief Budiman. ”Ketika terbit, sebetulnya saya waswas juga, karena setiap saat tentara bisa menangkap,” ujarnya. Makanya, waktu itu ia memakai nama samaran Nur Fadjar.

Boleh jadi, kalau tak ”diselamatkan” Arief, puisi-puisi Taufiq akan ikut hilang bersama catatan hariannya di dalam tas ransel hijau kumal yang dicuri di halaman stasiun kereta Gambir, Jakarta Pusat, pada suatu pagi. Naskah yang selamat itu kemudian diterbitkan Penerbit Faset. Selain memuat Tirani dan Benteng, Faset menambahkan 32 puisi lagi, yang ditulis Taufiq sepanjang 1960-1965. Karya-karya yang melengkapi itu diberi subjudul: Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng.

Melalui 73 sajaknya dalam Tirani dan Benteng, Taufiq telah membangun tonggak penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Penyair kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 itu turut berkontribusi mengobarkan semangat melawan penguasa pada masanya.

Selain menyebar di jalanan Ibu Kota, puisi Taufiq dalam bentuk stensilan juga diperbanyak mahasiswa dari luar Jakarta, yang saat itu ikut berdemonstrasi di Jakarta. Merekalah yang menyebarkannya ke kota asal masing-masing, seperti Bandung, Bogor, dan Yogyakarta.

Di Jakarta, gaung Tirani dan Benteng kian bergema karena kerap dibacakan di radio Ampera. Ini stasiun radio bawah tanah milik mahasiswa yang getol menyiarkan berita demonstrasi. Menurut Taufiq, salah satu yang sering membacakan puisinya di radio itu adalah Salim Said.

Taufiq menyatakan, ketika menulis puisi-puisi itu tak sedikit pun berniat membakar militansi demonstran. ”Waktu itu mengalir saja,” katanya. ”Situasi dan kondisi sungguh luar biasa. Itulah yang menginspirasi saya untuk menuliskannya”. Dengarkan ini:

Kami tidak bisa dibubarkan Apalagi dicoba dihalaukan Dari gelanggang ini

Karena ke kemah kami Sejarah sedang singgah Dan mengulurkan tangannya yang ramah

Tidak ada lagi sekarang waktu Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu Karena jalan masih jauh Karena Arif telah gugur Dan luka-luka duapuluh satu

—Horison, Taufiq Ismail, 1966




message 22: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Wah...ditinggal dua hari dah rame yah...kupikir sepi penggemar nih...hehehehe.

@Pandasurya: ehhhmmm favorite yah?
@Gonk: ayo dong ikutan ke Bogor biar ikut sekalian reunian...heheheh.
@Cya: Salam kenal dan terima kasih dah mau sharing disini...Ayo Teruskan!!!...hehehehe.



message 23: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1363 comments yup, one of my paporit, Roos:-)
pokonya gw selalu terpukau, terpesona, & salut dengan mereka yg bisa membangun suasana lewat kata-kata..seperti puisi Karangan Bunga itu..:-)

@Cya
wah rajin juga nyari dan ngumpulin arsipnya..met gabung:-)



message 24: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Aku Belum Bisa Menyebutmu Lagi (hal.19)

Ya, aku belum bisa menyebut namamu lagi
Dalam surat, buku harian dan percakapan sehari-hari
Kembali seakan sebuah janji diikrarkan
Apa lagi yang dapat kita ucapkan

Seperti dulu, namamu penuh belum bisa kusebut kini
Jauhkan daku dari kekhianatan, doaku setiap kali
Daun-daun asam mulai bermerahan dalam gugusan
Bara kemarau, lunglai dan teramat pelahan

Di atas hutan kelelawar senja beterbangan
Beratus sayap berombak-ombak ke selatan
Menyebar di atas baris-baris merah berangkat tenggelam
Dan sekian ratus senja yang kucatat jadi malam

Kabut pun bagai uban di atas hutan-hutang
Uap air tipis, merendah dari tepi-tepi
Tak sampai gerimis hanya awan berlayangan
Duh namamu penuh, yang belum bisa kusebut kini

Pada suatu hari namamu utuh akan kusebut lagi
Di titik senyap kekhianatan doaku setiap kali
Di atas baris-baris merah yang berangkat tenggelam
Sekian ribu senja kucatat jadi malam.


1964


message 25: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Jun Takami, Berkatalah Dengan Jelas*) (hal.20-21)

Kau, seorang penyair, baru sejurus bicara padaku
Pada pertemuan jarak jauh, mungkin tak berarti
Tapi mengapa justru, di saat ada bagiab dunia tersedu
Ketika bayang terlamun pada mimpi demi mimpi

Layar kabut yang ungu pada kata-katamu
Tatkala pedang tiran mengilat dalam barisan
Dan seluruh penguasa menyeru
Nyanyi kaum puritan

Apa yang kau tuliskan, apa
Kita simpankah pena lalu baca sajak-sajak tua
Atau kita tulis puisi atas pesanan
Dalam bahasa yang disamun slogan demi slogan

Slogan-sogan peperangan dengan nyanyi keangkuhan
Dalam anacaman suara yang mendustai diri
Semboyan-semboyan penguasa atas nama pemerintahan
Adakah kekhianatan lebih dari ini

Karena keranda nestapa telah diusung ke luar pertempuran
Diiringi nyanyi duka bukitmu, pohon-pohon kastanye
Akhir para tiran dalam upacara bunuh diri
Seraya menuliskan nama mereka dalam naskah sejarah

Takami. bahwa puisi telah memanggil kita dari pagi
Dalam suara-suara surgawi
Panggilan yang tak bisa didiamkan
Ke mana pun kita akan pergi


1963
*) Jun Takami adalah seorang penyair Jepang anti perang di waktu Perang Dunia II


 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2909 comments Pandasurya wrote: "
Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam p..."


huhu... ni puisi paling populer di buku2 teks buk pelajaran SMP/U :D
jadi inet masa lampaw. tengkyu dah postingin :)

buat Mbak Roos, ayo, Lanjutkan!


message 27: by Roos (new)

Roos  | 2991 comments Bosan ah Y!p...ma Lanjutkan...mending TERUSKAN!!!...hehehehe, sama gak seeh?


message 28: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments nambahin info dikit biar rada OOT soal Van Gogh.

Van Gogh yang gue suka itu dari lagunya Don McLean

Stary, Stary Night

Starry, starry night.
Paint your palette blue and grey,
Look out on a summer's day,
With eyes that know the darkness in my soul.
Shadows on the hills,
Sketch the trees and the daffodils,
Catch the breeze and the winter chills,
In colors on the snowy linen land.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they'll listen now.

Starry, starry night.
Flaming flowers that brightly blaze,
Swirling clouds in violet haze,
Reflect in Vincent's eyes of china blue.
Colors changing hue, morning field of amber grain,
Weathered faces lined in pain,
Are soothed beneath the artist's loving hand.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they'll listen now.

For they could not love you,
But still your love was true.
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night,
You took your life, as lovers often do.
But I could have told you, Vincent,
This world was never meant for one
As beautiful as you.

Starry, starry night.
Portraits hung in empty halls,
Frameless head on nameless walls,
With eyes that watch the world and can't forget.
Like the strangers that you've met,
The ragged men in the ragged clothes,
The silver thorn of bloody rose,
Lie crushed and broken on the virgin snow.

Now I think I know what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they're not listening still.
Perhaps they never will...


dulu taunya cuma itu lukisan Van Gogh Stary2 Night (bisa di-googling kalo mau tau lukisannya kayak apa). tp ternyata syair ini ada yang memperbandingkan dengan kehidupan Van Gogh. Cek di sini

Kalo Van Goghnya Pak Taufik ini ditulis dalam konteks apa yah?


 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2909 comments wew... bener, yg starry night mang keren bgt...
yg bunga Iris juga bagus kok. saia suka :)
*ikut komen, gak ikut jawab*

teruskan! :D


message 30: by [deleted user] (new)

ini masterpiece Van Gogh yang jadi inspirasi puisi Taufiq Ismail:

Image Hosted by ImageShack.us


message 31: by gieb (new)

gieb | 743 comments Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya
Oleh Hudan Hidayat

Jawa Pos 06/05/'07

Nakal” dan” santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua.”

PIDATO Kebudayaan Taufik Ismail di depan Akademi Jakarta pada 2006, bukan hanya menyerang sendi sastra dan seni, tapi telah memporandakkan hidup itu sendiri. Dengan pidato itu Taufik telah meringkus kompleksitas dunia pada satu ruang. Yakni, ruang agama formal.

Kalau diumpamakan sungai, maka sungai kehidupan yang memantulkan warna-warni nasib manusia dan takdir dunia, akan mengering diisap cara kerja Taufik yang ingin memasung kreativitas, membelenggu kebebasan berpikir, serta menciutkan imajinasi. Akibatnya, kehidupan akan kehilangan terang dan gelapnya sendiri. Kehendaknya, alih-alih membawa suara moral dalam sastra, tapi justru akan membawa sastra menjauh dari Tuhan-nya.

Bagaimana menyikapi penyair yang kondang di luar publik sastra Indonesia ini? Adalah dengan mengikuti cara berpikir Taufik sendiri. Yakni, suara moral agama. Dan apakah kata agama pada bidang yang diteriakkan Taufik Ismail?

Sesungguhnya serangan Taufik Ismail masuk dalam kawasan tafsir. Pertanyaan yang muncul: siapakah yang berhak menafsir? Dan tafsir siapakah yang paling hebat?

Mungkin tak seorang pun yang tahu. Mungkin hanya Tuhan yang tahu. Sebab, kebenaran seolah roh dalam badan. Makin kau genggam makin ia menyuruk ke dalam badan. Atau kebenaran mirip menggenggam air dalam tangan. Makin kau genggam makin merucut dari balik tangan.

Saya ingin menafsirkan kehidupan dari aras penciptaan. Kalau Taufik Ismail menafsirkan Serat Chentini sebagai teks yang porno, menganjurkannya agar dilarang dibacakan di depan publik, saya tidak menganggap teks itu sebagai pornografi. Karena tidak ada “bau burung” dan” dengus nafsu” di situ. Hanya penggambaran biasa, di mana seorang pembantu rumah tangga menunggu sepasang pengantin di kamarnya. Mengira-ngira apakah sudah terjadi “permainan burung”.

Suasananya mirip dengan seseorang bertamu di rumah teman. Sang tamu menunggu di ruang tamu. Tuan rumah masih di dalam kamar. Apa yang terjadi di dalam kamar tuan rumah?

Bisa apa saja. Seseorang yang “nakal” akan membayangkan tuan rumah dengan istrinya sedang “bermain burung”. Tapi seseorang yang “santun” mungkin’ punya bayangan lain: tuan rumah sedang becermin. Maka muncul pertanyaan: siapakah yang “nakal” di sini? Siapakah yang berpikir dalam term pornografi?

Tuhan lebih “nakal” dari Taufik Ismail. Dalam sebuah ayat dari surat-Nya (QS 7 ayat 22), Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar “aturan main”. Tidak ada kamar seperti di Serat Chentini. Pembaca bebas berimajinasi, perihal aurat yang ditutupi daun surga itu. Akankah kita mengatakan kitab suci sebagai teks yang porno? Tidak. Sebab, ketelanjangan Adam dan Hawa ditempatkan sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya: sebagai sampiran untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. Ketelanjangan, dalam upaya meraih makna lebih luas, dibuat Tuhan melalui peristiwa dan kata-Nya.

“Nakal” dan”’santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua dalam scenario nasib manusia dan takdir dunia. Budaya “kekerasan” itu telah ditandaskan Tuhan sebagai nasib manusia dan takdir dunia. Turunlah kamu semuanya. Sebagian dari kamu akan berbunuhan satu sama lain…(QS 2 ayat 30). “Berbunuhan”, bagi saya adalah nasib manusia dan takdir dunia. “Berbunuhan” bisa dirujuk pada semua yang diteriakkan Taufik Ismail.

Kata-kata saling “membunuh” ini, dalam sastra, menemukan bentuknya pada pelbagai cerita yang seolah “menjauh” dari Tuhannya. Sastrawan akan membuat kisah, dengan “pornografi” sebagai sampiran, bukan inti cerita. Pornografi diletakkan sebagai pintu ke dalam makna yang lebih luas, di mana keluasaannya akan mengatasi scene pornografi. Cerita bergaya Nick Carter, kata Taufik Ismail, telah meruyak ke dalam sastra Indonesia? Tapi, saya belum pernah menemukannya. Lagi pula, apa yang salah? Bukankah “pembaca” dewasa akan menerobos “ketelanjangan” Adam dan Hawa di surga, dalam dua versinya.

Versi pertama, itulah metafora Tuhan yang menggambarkan telah terjadi persetubuhan. Versi kedua, itulah metafora Tuhan yang menceritakan ketelanjangan sebagai hal yang memalukan. Karena memalukan, nenek moyang kita menutupi tubuhnya dengan daun-daun surga. Ketelanjangan ditempatkan sebagai sesuatu yang salah. Tapi ia diperlukan sebagai penggambaran suara moral bahwa “ketelanjangan”‘tidak boleh terjadi. Karena itu, penceritaan, sebagai motif penciptaan, menjadi sah adanya.

Tidaklah fair untuk mengatakan seorang pengarang yang menceritakan “ketelanjangan” sebagai” pencari tepuk tangan”, seperti dituduhkan Taufik Ismail. Sebab, pengarang menceritakan ketelanjangan sebagai fungsi pencerahan. Setidaknya pencerahan sejauh yang bisa ia capai.

Berhadapan dengan teks yang “telanjang”, kita harus mengejar maknanya. Apakah ia inheren demi makna yang lebih luas atau semata demi ketelanjangan itu sendiri? Kalau ia berada dalam makna yang lebih luas, maka “pornografi” adalah bagian dari budaya “kekerasan” sebagai takdir dunia yang telah diintrodusir’sang Pencipta. Kehadirannya menjadi sah.

Menjadi jelas, “permusuhan”dan”berbunuhan” yang dikabarkan Tuhan itu adalah penyimpangan laku, dengan segala variannya. Varian yang terpenting adalah seks dan kekerasan, kesakitan dan kegilaan, yang memuncak pada satu titik: mati. Karena itu, dunia adalah latar bagi pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Dijejalkan-Nya sifat-sifat baik dan buruk pada manusia. Dia menunggu dengan takdir di tangan-Nya.

Saya ingin masuk pada aspek lain dari “budaya kekerasan”, sebuah varian yang menjadi fenomena dari abad-abad yang berlangsung. Yang telah pula dijadikan bahan oleh Taufik Ismail. Yakni, kekerasan yang dilancarkan oleh seseorang atau negara terhadap orang lain. Kekerasan yang masuk dalam frame “berbunuhan”, seperti “pornografi” masuk dalam’kotak yang sama. Aspek negatif dari kekerasan bisa menjelma sebagai perilaku seks bebas atau narkotika, di mana seseorang tidak mencelakai orang lain secara langsung, tapi mencelakai diri sendiri. “Berbunuhan” terhadap diri sendiri.

Di sini pula kita melihat dengan jelas makna yang dikehendaki Tuhan: janganlah “berbunuhan”, meski permintaan ini pada akhirnya dapat kita tafsirkan sebagai “permainan” Tuhan yang lain. Permintaan yang tidak mungkin. Sebab. bukankah “berbunuhan”’sudah menjadi takdir dunia? Di dalam takdir mustahil manusia bisa masuk ke dalam arus yang sama atau sebaliknya. Tetapi untuk sampai kepada jangan “berbunuhan”, sekali lagi, adalah melalui’ penceritaan. Persis seperti penceritaan Kabil dan Habil-dua saudara kandung yang saling membunuh itu.

Jadi, apa yang salah? Tidak ada. Manusia memainkan perannya dan semua manusia akan menuju Tuhannya. Permainan yang membuat dunia hidup. Seolah taman dunia, segenap kekayaan makna ada di dalamnya. Tetapi, permainan dengan nafsu hendak meringkus kompleksitas dunia, sama dengan kehendak menelan Tuhan ke dalam diri. Bukan Tuhan di dalam diri, tetapi kita berada di dalam diri Tuhan, yaitu dunia.

Tuan Taufik Ismail, sajakmu “tiga anak kecil yang datang ke Salemba dengan malu-malu”, bukankah termasuk juga’ke dalam nilai-nilai yang Tuan keluhkan itu? Di mana saya sebagai pembaca bisa menerobosnya: di balik puisi itu terbentang sebuah kisah “pornografi”: kekerasan negara terhadap warganya. Kebusukan manusia terhadap sesama. Sesuatu yang hendak Tuan salahkan pada orang lain.

Karena itu, tidakkah yang “tertusuk padaku, berdarah juga padamu”, Tuan Ismail.



message 32: by Famega (new)

Famega Syavira (cyapila) | 33 comments Pohon sipres. Kafe tua
Di ujung jalan
Sepi. Sepi jua

Langit berombak
Bulan di sana
Sepi.Sepi namanya.


liat lukisan itu emang rasanya sepi ya.


message 33: by gieb (new)

gieb | 743 comments HH dan Gerakan Syahwat Merdeka
Oleh Taufiq Ismail

Jawa Pos, 17/06/'07

“Para penulis berpaham neo-liberalisme merupakan bagian dari Gerakan Syahwat Merdeka, yang mendapat angin sejak masa reformasi 1997 di Indonesia.”

DI Jawa Pos, Ahad (6/5/2007) Hudan Hidayat (HH) menulis artikel “Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya”. Susah saya memahami tulisan itu. Jalan pikirannya melompat-lompat dengan alur logika yang ruwet. Cerpenis ini tidak setuju dengan isi pidato kebudayaan Taufiq Ismail, “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka” pada 20 Desember 2006. HH menyebut saya menafsir Serat Centhini dan mengutip Nick Carter. Padahal sama sekali saya tak menyebut keduanya. Dalam pidato itu saya menyebutkan tentang kecenderungan penulis fiksi akhir-akhir ini yang suka mencabul-cabulkan karya.

Daripada merespons tulisan yang susah dibaca itu, ada serangkaian rencana kegiatan menarik yang saya sarankan dilaksanakan HH sebagai seorang penulis fiksi. Rangkaian kegiatan ini merupakan suatu bentuk sosialisasi karya ke masyarakat, terdiri dari empat tahap. Tujuannya adalah untuk memperjelas posisi sebagai penganut paham neo-liberalisme dari HH dan kawan-kawannya. Para penulis berpaham neo-liberalisme ini bagian dari Gerakan Syahwat Merdeka, yang mendapat angin sejak masa reformasi 1997 di Indonesia.

Perlu dijelaskan bahwa tentulah pelaku kegiatan ini langsung penulisnya, berhadapan dengan masyarakat. Penulis yang saya maksud terdapat di dalam naskah pidato 20/12/06. Mereka kelompok pengarang SMS (Sastra Mazhab Selangkang), yaitu sastrawan (atau setengah sastrawan) yang asyik dengan masalah selangkang dan sekitarnya. Kelompok SMS ini, yang berkembang subur sejak 1997, lebih tepat disebut sebagai kelompok penulis Fiksi Alat Kelamin (FAK), karena mereka gemar dan asyik menulis mengenai alat kelamin dan fungsinya di dalam karya cerpen dan novel mereka. Alat kelamin laki-laki dan perempuan dikisahkan dengan detil cara bekerjanya, yang berserakan di dalam karangan mereka. Dengan jalan pikiran serupa dan jumlah aktivis lebih dari lima orang, dapatlah mereka menyebut diri sebagai sebuah angkatan penulis.

Tahap pertama, sosialisasi awal adalah penulis Angkatan FAK mengumpulkan keluarga terdekat mereka, yaitu suami atau istri, anak-anak, ayah kandung, ibu kandung, mertua lelaki, mertua perempuan, ipar, keponakan, sepupu dan pembantu rumah tangga di ruang tamu. Lalu dia membacakan karyanya di depan seluruh keluarga. Karya yang dibaca tentulah yang paling banyak menyebut alat kelamin. Lalu catatlah bagaimana reaksi keluarga terdekat ini. Lakukan evaluasi.

Tahap kedua, sosialisasi berikutnya dilakukan di lingkungan RT-RW, dengan tetangga dekat, sekitar 5-10 rumah, 20-30 orang. Lakukan berbarengan dengan arisan atau acara ulang tahun. Undang Pak Camat. Supaya ada variasi gaya, dua penulis Angkatan FAK membacakan karya mereka. Untuk pengeras suara pakai alat karaoke. Yang ideal dua penulis FAK ini satu laki-laki, satu perempuan, sehingga dalam dramatic reading bisa melakukan simulasi. Catatlah bagaimana reaksi para tetangga itu. Lakukan penilaian.

Tahap ketiga, sosialisasi dengan mengambil tempat di sekolah atau di kantor. Supaya relevan, sebaiknya dikaitkan dengan suatu hari penting seperti Hari Pendidikan Nasional atau sebagai selingan hiburan acara halal bihalal atau perayaan Natal. Tamu utama adalah guru (SMP atau SMA) dan teman sekantor. Undang juga kawankawan lama alumni SMA atau universitas. Hadirin 40-50 orang. Sediakan ilustrasi musik. Yang membaca karya 6 penulis FAK, dan usahakan agar berimbang 3 jantan 3 betina (agak susah karena penulis FAK terbanyak perempuan). Kalau bisa, bagus, karena bisa demonstrasi orgy. Luangkan waktu untuk acara tanya jawab. Catat pula bagaimana reaksi guru-guru sekolah atau rekan kerja sekantor itu. Bikin evaluasi.

Tahap berikutnya berbentuk sosialisasi besar-besaran, yang lebih merupakan unjuk kekuatan agar penulis neo-liberal tidak diremehkan secara nasional. HH dkk. sebagai komponen Gerakan Syahwat Merdeka tidak akan sukar mendapat penyandang dana untuk kegiatan ini. Paling mudah, mintalah sponsor perusahaan penyebar penyakit akibat nikotin.

Tahap keempat, undanglah seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka berkumpul melakukan show of force seminggu di ibu kota. Komponen itu terdiri dari pembajak-pengedar VCDDVD porno, redaktur majalah cabul, bandar-pengguna narkoba, produsen distributor-pengguna alkohol, penulis pengguna situs seks di internet, germo pelaku prostitusi, dokter spesialis penyakit kelamin, dokter aborsi, dan dokter psikiatri. Bikin macam-macam acara sosialisasi. Penulis FAK beramai-ramailah baca karya di depan publik dengan peragaannya. Mintakan pelopor penulis Angkatan FAK Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu tampil lebih dahulu baca cerpen. Lalu adakan promosi buku kumpulan cerpen dan novel FAK dengan diskon 40 persen. Catatlah bagaimana reaksi publik. Tarik kesimpulan.

Dalam evaluasi terakhir sehabis tahap keempat, tim dokter psikiatri akan menentukan diagnosis terhadap para pasien penulis Angkatan FAK, sampai seberapa parah sindrom patologis kejiwaan mereka. Terutama dalam kasus klinis nymphomania, overproduksi kelenjar hormon kelamin dan obsesi genito-philia, yaitu cinta berlebihan pada alat kelamin, termasuk adiksi pada onani-masturbasi. (*)

Taufiq Ismail, penyair Angkatan 66



message 34: by gieb (new)

gieb | 743 comments Nabi Tanpa Wahyu
Oleh Hudan Hidayat

Jawa Pos, 1 Juli 2007

Dalam upayanya meredam filsafat dan ideologi penciptaan yang saya ajukan, yakni keyakinan saya bahwa penceritaan ketelanjangan dibolehkan oleh kitab suci, dan kitab suci pun telah mendemonstrasikannya melalui kisah Adam dan Hawa, Taufiq Ismail melancarkan serangan balik dengan menggesernya ke dalam sebuah upaya stigma akan tendensi sastra: sastra SMS (sastra mazhab selangkangan) atau sastra FAK–fiksi alat kelamin–(Jawa Pos, 17 Juni 2007). Inilah upaya yang mengingatkan saya akan cara-cara Lekra menggempur lawan-lawannya dulu, dengan menyebut mereka “Manikebu”.

Terasa bagi saya serangan balik Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya dengan tinju “kalang-kabut”. Atau seolah banjir bandang yang menyerbu permukiman manusia tanpa nurani-nurani sastra. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang “kebakaran budaya”, yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK, yang “bersama VCD porno dan situs seks internet… ikut merangsang perkosaan, menyebarkan penyakit kelamin menular, aborsi dan (minimum) masturbasi”.

Begitulah serangan balik Taufiq Ismail yang mematikan itu. Dan, saya merasa terkunci: saya mewacanakan kemungkinan melukiskan ketelanjangan dalam sastra, sepanjang ketelanjangan itu berfungsi untuk sesuatu yang lebih tinggi. Tetapi Taufiq berkelit akan kemungkinan sebuah tafsir. Ia lebih suka berteriak seolah nabi tanpa wahyu, yang mengacukan kepalannya pada fenomena sastra yang berseberangan dengan dirinya. Maka, bagaimana bila Taufiq malas berpikir akan kemungkinan tafsir, tapi serentak dengan itu gemar menghujat fenomena sastra yang disebutnya sastra SMS atau sastra FAK?

Kategori yang dibuat Taufiq dengan menstigma sastra SMS atau sastra FAK, menimbulkan persoalan dalam cara kita memandang dunia sastra. Termasuk cara kita berlogika dalam dunia sastra. Seperti SMS Goenawan Mohamad kepada saya, “Akan lebih berharga jika polemik yang timbul bukan seperti teriakan ‘copet!’, ‘lonte lu!’, atau ‘babi!’. Serangan terhadap satu tendensi dalam sastra akan lebih berharga jika dikemukakan dalam cara kritik sastra: dengan telaah, argumentasi, penalaran yang kuat, gaya menulis yang meyakinkan atau menggugah.” Karena itu, bagi saya, mematahkan kecenderungan sastra tanpa telaah sastra, tampak seakan “tujuan menghalalkan cara”.

Pertanyaan untuk Taufiq, sudahkah dia membaca buku-buku penulis yang diserangnya dengan gencar itu? Apakah boleh pelukisan ketelanjangan di dalam buku-buku itu? Apakah ketelanjangan di sana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? Di sinilah Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan yang saya ajukan. Menghindarinya sambil memukul langsung fenomena itu sebagai sastra FAK adalah ibarat hakim tuli dalam satu sidang.

Sang hakim tidak mau mendengar alasan mengapa sang terdakwa “melakukan persetubuhan”. Sang hakim hanya berpegang pada saksi-saksi, yang mungkin dirinya sendiri. Saksi yang tidak melihat keseluruhan rangkaian kejadian. Saksi yang hanya melihat scene persetubuhan. Dan, kemudian mengatakan telah terjadi persetubuhan. Padahal yang terjadi sebaliknya: bukan persetubuhan tapi pemerkosaan. Di mana sang wanita diperkosa, bersetubuh bukan atas kemauannya. Inilah prototipe sang hakim otoriter. Dia sudah bukan hakim lagi. Tetapi menjadi pemerkosa juga. Pemerkosa terhadap hak korban untuk berbicara.

Saya berpendapat, sastra yang disebut Taufiq sastra FAK itu, bukan sastra FAK atau sastra SMS. Sebutlah novel Saman karya Ayu Utami atau cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu. Mereka bukan sastra FAK. Tokoh Saman memang bukan karya sastra sekuat klaim tokoh di sampul belakang buku Saman. Tetapi bukan sastra FAK. Di sana, tubuh diangkat mengatasi tubuh. Meski tak terlalu meninggi. Karena itu menyebutnya sebagai sastra FAK adalah ibarat memandang malam tak bercahaya. Padahal di angkasa ada juga cahaya. Sebuah generalisasi yang menyesatkan.

Demikian juga dengan cerpen-cerpen Djenar. Ambillah contoh cerpen Menyusu Ayah di Jurnal Perempuan atau Melukis Jendela di majalah sastra Horison. Di kedua cerpen ini Djenar memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga.
Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks “sastra mazhab selangkangan” yang dituduhkan Taufiq.

Lihatlah, betapa mengharukan bagaimana seorang anak di dalam cerpen Menyusu Ayah harus memetamorfosakan dirinya menjadi lelaki, demi terhindar dari kekerasan kaum lelaki. Atau lambang “jendela” dalam cerpen Djenar Melukis Jendela. Sebuah kehendak untuk berpindah dari kehidupan kini yang menyesakkannya. Tapi jendela yang dibayangkan itu pun menelan dirinya. Dengan hasrat berpindah dan hilangnya tokoh Mayra ke dalam jendela lain, seolah Djenar hendak mengatakan, “Dengarlah, tak ada yang sempurna di bumi!” Jadi cerpen itu sebuah metafora (dan karena itu para redaktur Horison yang muda-muda dan cerdas itu memuatnya). Maka, di mana FAK atau “sastra mazhab selangkangan” di kedua cerpen itu?

Demikian juga kalau kita membaca cerpen Mariana Amiruddin, Kota Kelamin, yang timbul bukan hasrat seks tetapi simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, yang selalu ditutup rapat seolah kelamin yang dibalut pada tubuh manusia.



message 35: by gieb (new)

gieb | 743 comments Taufiq menyebut Ayu dan Djenar sebagai pelopor sastra FAK. Definisinya sederhana. Yakni, sastra yang ada atau berputar pada kelamin. Tanpa mau melihat ada transendensi. Tetapi Taufiq a historis. Sebab, kalau seperti itu definisi sastra FAK, mengapa Taufiq tidak menggugat novel Belenggu (yang ditolak Balai Pustaka karena moral selingkuhnya), atau novel Telegram dan Olenka. Bahkan puisi-puisi Rendra (yang memuja genital wanita) dan puisi Amuk Sutardji Calzoum Bachri –sebuah pencarian ketuhanan dengan lambang kucing, tetapi tak juga bisa menghindar dari menyebut nama alat kelamin laki-laki di dalam baris-barisnya.

Khusus novel Telegram Putu Wijaya dan Olenka Budi Darma, baik tokoh “aku” maupun Fanton bertindak gila-gilaan dengan hidup. Fanton bahkan merebut istri orang (Olenka) dan menidurinya tiap ada kesempatan. Olenka diperlakukannya seolah peta. Tangannya menyusur ke segenap tubuh Olenka dan kemudian berhenti di satu lubang: “Ini jalan ke surga!”

Tokoh “aku” lebih gila lagi. Dia membayangkan bersetubuh dengan ibunya yang “telah” mati. Sambil mereguk bir, dia menyetubuhi ibunya dalam mimpi. Tetapi toh nasib kedua novel ini mendapat tempat terhormat dalam sastra Indonesia. Mengapa? Karena ada transendensi. Walau pada Olenka, hemat saya, transendensi di sana terkesan takluk pada “dunia”. Dengan lanturan yang bersandar pada “dunia”, meski berhasil pada bentuk, membuat Olenka seolah inlanderisasi dalam sastra Indonesia. Olenka tak mampu mencari sumber orientasi sendiri.

Fenomena penulis “tubuh” ini sudah dibelokkan kapitalisasi pasar, dengan menggesernya ke soal seolah melulu seks dalam blow-up opini. Konon karena begitulah rating yang disukai masyarakat: seks. Dan, orang seperti Taufiq, yang seharusnya melawan kapitalisasi opini sastra seperti itu, dengan menunjukkan bahwa substansi sastra mereka bukan melulu seks, malah ikut-ikutan menunggang gelombang. Dunia sastra yang pernah membesarkannya, “diselewengkannya” ke dalam arus besar yang disebutnya “Gerakan Syahwat Merdeka”. Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata “syahwat merdeka”. Tetapi “syahwat” sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia. Kemuliaan manusia. Persis seperti novel Sendalu yang bertaburan alat dan nafsu kelamin yang ditulis Chavchay Syaifullah, tetapi dengan motif memperjuangkan perempuan sebagai korban perkosaan. Atau tokoh pelacur dalam cerpen Ahmadun Pintu, yang mengoyak-ngoyak pakaiannya sendiri di dalam masjid demi kehendak untuk telanjang (suci) saat menghadap Tuhannya.

Saya disebutnya sebagai komponen sastra FAK (pastilah Mariana Amiruddin juga). Apakah dasarnya? Karena kami menulis novel Tuan dan Nona Kosong? Karena saya dan Mariana melepaskan payudara, vagina, dan penis dari tempatnya dan benda-benda itu berkitar-kitar mengunjungi penonton?

Memang benar kami melukiskan hal-hal yang demikian. Tetapi, sastra FAK-kah itu? Tengok sekali lagi: betapa benda-benda itu cara kami menghampiri Tuhan. Seperti dalam irama lain (cerpen Lelaki Ikan dan Tongkatku, Musa) saya menyapa Tuhan. Lihatlah seorang lelaki di dalam novel itu melompat ke udara sambil berteriak, “Tuhan tidak seperti kita kira. Jadi mari kita rayakan hidup ini. Jangan benci kami!”

Tuan Taufiq, barangkali seniman memang mengidap kegilaan. Tetapi kegilaan yang meninggi untuk menjangkau Tuhan. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia. Duh, nasib seekor hh.




 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2909 comments wahhh.. polemik ternyata...
^.^


message 37: by Irwan (new)

Irwan | 75 comments Good thread! Makasih Roos yg sudah ngetikin puisi2nya, dan Gieb dengan posting tulisan2nya HH.


message 38: by Irwan (new)

Irwan | 75 comments "Adalah kemarau dalam sengangar berdebu"

Ada yang tahu arti kata "sengangar"?
Website KBBI tak kunjung bisa dibuka nih...

:-)

Roos wrote: "Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng

Bukit Biru, Bukit Kelu (hal.1)

Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahaya dan di mana bertemu
Awan..."





message 39: by Δx Δp ≥ ½ ħ (last edited Jul 27, 2009 03:21AM) (new)

 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2909 comments di Kamus bahasa Indonesia-nya Pusat Bahasa Depdiknas 2008 cuma ada tulisan ini,
sengangar petir n pancaran petir; kilat petir



message 40: by Irwan (new)

Irwan | 75 comments oic... kalo gitu jadinya:
"Adalah kemarau dalam 'pancaran petir' berdebu"

tadinya saya menduga "sengangar" itu ada unsur bahasa jawanya, mungkin dari kata "sangar" hehehe..

teuteup gak nyambung ;-p

maklumlah awam banget dalam berpuisi, walaupun termehek-mehek baca untaian kata sapardi :-)


QuiGenusHumanumIngenioSuperavit wrote: "di Kamus bahasa Indonesia-nya Pusat Bahasa Depdiknas 2008 cuma ada tulisan ini,
sengangar petir n pancaran petir; kilat petir
"





 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2909 comments kayaknya kata petirnya boleh dihilangkan coz dalam kamusnya ditulis serangkai.

sengangar petir = pancaran petir
sengangar debu = pancaran debu (?)

hehe.. maksa. entar ajah tunggu pakar yang bicara :)


message 42: by Irwan (new)

Irwan | 75 comments @Gieb: Tulisan ini ditanggapi lagi gak sama Taufik Ismail?


gieb wrote: "Nabi Tanpa Wahyu
Oleh Hudan Hidayat

Jawa Pos, 1 Juli 2007

Dalam upayanya meredam filsafat dan ideologi penciptaan yang saya ajukan, yakni keyakinan saya bahwa penceritaan ketelanjangan dibolehkan..."





message 43: by gieb (new)

gieb | 743 comments sepengetahuanku sudah tidak ada tanggapan secara tertulis. tapi via sms.


message 44: by Lamun (new)

Lamun Lamuna | 27 comments Back to lap top

HORISON


Kami tidak bisa dibubarkan
Apalagi dicoba dihalaukan
Dari gelanggang ini



Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah
Dan mengulurkan tangannya yang ramah



Tidak ada lagi sekarang waktu
Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
Karena jalan masih jauh
Karena Arif telah gugur
Dan luka-luka duapuluh satu

1966




message 45: by gieb (new)

gieb | 743 comments Testimoni Ode Kampung ini tidak bertautan langsung dengan polemik antara Taufik Ismail dan Hudan Hidayat.

Artinya keluar konteks dari thread ini. Thread ini diharapkan dapat menjadi usaha bagi kita untuk mengenal -setidaknya- penyair yang kita baca bareng puisinya. Jadi tidak sebagai ajang 'politik sastra'.


message 46: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2011 comments Mod
nah gieb, apakah pernyataan sikap itu ditujukan terutama untuk komunitas utan kayu waktu itu? atau itu insiden yang berbeda? katanya kan pernah rame juga di media


message 47: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1363 comments hemm..spakat gieb. kayanya thread ini memang bukan ajang yg tepat utk polemik sastra ya. dan polemik itu jg udah pernah dibahas di media2 lain.
klo sekadar berbagi info terkait sang penyair/penulis bolehlah..:-)

lebih sejuk kiranya klo thread ini khusus hanya jadi ajang kita utk lebih mengapresiasi, menghargai karya2 sang penyair/penulis..:-)


message 48: by lita (new)

lita Ini puisi Taufik Ismail yang aku suka:

Kupu-kupu dalam Buku

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang
Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang
Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang
Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keingintahuan puterinya, kemudian
katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang
Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di stasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

Taufik Ismail, 1996


message 49: by gieb (last edited Jul 28, 2009 12:38AM) (new)

gieb | 743 comments @mia
kira-kira begitu.

@pandasurya
selama polemik-nya masih bertautan langsung sama penyair-nya, aku pikir tak masalah. karena teks itu akan membantu kita mengenal pemikiran sang penyair.

@lamun
posting testimoni Ode Kampung, aku hapus ya. alasannya: tulisan itu sudah diposting di GRI (thread yang lain) beberapa waktu lalu.


message 50: by Lamun (new)

Lamun Lamuna | 27 comments Ok I'm sorry


« previous 1 3 4
back to top

unread topics | mark unread